Arc III: Ancient Relic


Chapter 16: Naruto and Kaguya


~Opening Song: Diver by NICO Touches the Walls~

Gabriel menatap makam ibunya dengan tatapan sendu. Ia lalu meletakkan sebuket bunga di makam ibunya kemudian berdoa. Mata Gabriel terpejam, perlahan sedikit mengeluarkan air mata. Minato yang melihat itu hanya diam sambil mengepalkan tangannya. Perasaan bersalah selalu menghantuinya sampai sekarang.

Bagi Gabriel, ini adalah pertama kalinya ia mengunjungi makam ibunya. Dari ia lahir hingga sekarang, Gabriel tak pernah melihat wajah ibunya secara langsung. Ia hanya melihatnya dari foto yang diberikan Minato.

"Kaa-san," gumam Gabriel pelan.

Setelah berdoa cukup lama, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari sana. Makam ini terletak di desa terpencil, wilayahnya berada di ujung kerajaan Alvarez. Jika melakukan perjalanan biasa dari Kuoh, akan memakan waktu berhari-hari. Namun, Minato mampu sampai ke sini dengan cepat berkat Hiraishin.

Di perjalanan menyusuri desa terdekat, tak ada yang berbicara. Gabriel masih menundukkan kepalanya. Kesedihan sekaligus rindu bercampur. Sekali saja ia ingin merasakan pelukan ibunya, tetapi apa daya, hal itu tak akan pernah bisa tercapai.

Minato berusaha mencairkan suasana dengan membuka pembicaraan. "Apa kau sudah bertemu dengan adikmu, Naruto?"

Gabriel mendongkak, menatap Minato. Ia kemudian mengangguk singkat. "Sudah."

"Begitu, baguslah. Semoga kalian bisa akur kedepannya." Minato tersenyum tipis.

Gabriel kemudian menceritakan tentang Naruto yang berhasil menduduki bangku The Ten Grace of God sejak pertama kali remaja itu masuk ke sekolah ini. Semua ia ceritakan kepada Minato dengan senyum lebar. Gabriel sepertinya sangat menyayangi adiknya, Namikaze Naruto.


Di ruang UKS, Sirzechs terlihat duduk di samping ranjang yang di atasnya ada Diehauser sedang berbaring. Sirzechs datang ke sini untuk melihat keadaan anak buahnya. Sudah cukup lama ia menemani Diehauser dan banyak terjadi perbincangan ringan.

"Untuk pertama kalinya aku melihat kau melakukan perhitungan yang salah, Diehauser-kun."

Sirzechs sedikit menyinggung dengan mengungkit masalah pertarungan kemarin. Ia tahu tujuan terbesar Diehauser adalah duduk di kursi yang sejajar dengannya. Namun, tujuan itu nampaknya terlalu besar untuk dicapai.

"Apa kau sudah sudah memprediksikan semua ini?" tanya Diehauser yang beberapa bagian tubuhnya diperban.

Sirzechs menggeleng pelan. "Hmm … bagaimana mengatakannya ya, bisa iya bisa tidak."

"Apa maksudmu?"

"Namikaze Naruto itu orang yang tak terduga. Aku tak bisa memprediksi seberapa kuat dia yang sebenarnya," kata Sirzechs membuat Diehauser sedikit tercengang. Baru kali ini ia melihat ketuanya tidak dapat memprediksikan seseorang secara pasti.

"Sirzechs, apa aku akan diturunkan dari jabatanku?" tanya Diehauser. Pertanyannya ini normal saat seseorang yang memegang jabatan tinggi di sebuah guild lalu orang itu kehilangan kehormatan dalam pertarungan.

Sirzechs menggeleng pelan. "Tenang saja. Aku tak akan menggantikan posisimu. Namun, tentu saja kau harus dihukum karena sudah kalah melawan Naruto-kun yang secara tak langsung mencoreng nama baik guild kita."

"Aku akan menerima semua hukuman yang kau putuskan."

"Bagus. Akan aku pikirkan hukuman yang paling pantas untukmu," ucap bangsawan berdarah Gremory itu dengan senyum menawan seperti biasanya.


Pagi hari menjelang, kicauan burung mulai terdengar nyaring untuk membangunkan mereka yang masih terlelap. Di asrama wanita, Kaguya bangun dengan senyum mengembang di wajahnya. Ini adalah hari yang dinantikannya dari kemarin hingga ia tak bisa tidur cepat.

Kaguya memulai aktivitas dengan membereskan tempat tidurnya kemudian membuka jendela untuk merasakan hawa sejuk khas pagi hari. Senyuman indah yang diterpa mentari pagi itu merupakan sebuah keindahan yang tiada tara bagi siapapun yang melihatnya.

"Yosh, aku harus tampil sempurna di depan Namikaze-kun!" ucap Kaguya dengan semangat kemudian mulai masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.

Sementara di asrama lain, lebih tepatnya di kamar Naruto. Terlihat kamar itu kosong, tak ada tanda kehidupan. Detik kemudian, muncul sebuah distorsi aneh yang mengeluarkan Naruto dari dalamnya.

"Tsk, dewi sialan itu selalu memintaku melapisi istananya dengan emas," umpat Naruto kesal.

"Mau bagaimana lagi, dewi yang bernama Ishtar itu sangat tergila-gila dengan emas. Mungkin suatu saat kau akan dijadikan suaminya, dengan begitu dia memiliki stok emas tak terhingga. Hahahaha." Fenrir sedikit mengejek Naruto.

"Ck! Aku tak sudi menikahi wanita seperti dia, Fenrir-san."

Dan percakapan mereka berdua pun berlanjut hingga Fenrir berhenti mengejek Naruto. Remaja pirang itu teringat bahwa sekarang ia memiliki janji dengan Kaguya. Sejak Naruto bangun tadi pagi kemudian memutuskan untuk mengunjungi Gilgamesh yang awalnya akan sebentar malah berakhir dengan tinggal selama satu minggu di sana untuk berlatih. Kemudian Naruto datang lagi ke dunianya satu detik setelah ia hilang. Jadi, bagi Naruto, ia sudah menjalani hidup satu minggu lebih lama dari semua orang di dunia ini.

Naruto masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penuh keringat kering.


Jam sudah menunjukkan pukul 9.30 pagi, Naruto mulai keluar dari asramanya untuk pergi ke bazaar dengan Kaguya. Ia memakai kaos hitam polos yang dibalut dengan kemeja panjang berwarna putih. Untuk bawahannya Naruto memakai celana panjang hitam. Pakaian yang sederhana tetapi sangat cocok digunakan oleh Naruto.

Berjalan sedikit cepat, akhirnya Naruto sampai di tempat janjiannya dengan Kaguya dan sudah melihat gadis berambut perak itu sampai lebih dulu. Ini membuatnya sediki malu. Naruto kemudian menyapa Kaguya yang membelakanginya.

"Pagi, Ootsutsuki." Naruto menyapa dengan suara lembut.

Kaguya sedikit tersentak kemudian berbalik sambil tersenyum manis. "Pagi juga, Namikaze-kun."

Hari ini, Kaguya memakai setelan gaun one piece tanpa lengan berwarna merah muda. Aksesoris yang ia kenakan tidak banyak, hanya choker berwarna hitam yang terkalung di lehernya dan gelang pemberian ibunya saat ulang tahun ke-10.

Dari seluruh penampilan Kaguya, yang paling menarik adalah hari ini Kaguya mengganti gaya rambutnya yang tadinya selalu terurai kini ia memutuskan untuk merubahnya menjadi ponytail. Kaguya terlihat lebih cantik dengan perpaduan pas itu!

"Maaf aku terlambat, kau sudah menunggu lama?" tanya Naruto.

Kaguya menggeleng pelan. "Tidak kok, aku baru sampai tadi, dan juga Namikaze-kun tidak terlambat, mungkin akunya saja yang terlalu cepat. Hehehe."

"Begitu." Naruto tersenyum tipis. "Ngomong-ngomong, kamu cantik dengan gaun itu dan ponytail-mu."

Dipuji seperti itu wanita mana yang tidak bahagia! Kaguya sangat bahagia mendengarnya, tak sia-sia ia berlama-lama memilih pakaian dan duduk di meja rias. Saat ini ia ingin sekali terbang ke langit tertinggi karena saking senangnya.

"Te-terima kasih, Namikaze-kun," ucap Kaguya dengan rona merah tipis menghiasai wajahnya. "Namikaze-kun juga terlihat tampan," lanjutnya tetapi dengan suara yang sangat kecil hingga Naruto tak mampu mendengarnya.

Naruto mengalihkan pandangannya ke sesuatu yang dibawa Kaguya. "Itu bekal makanan?"

"Ah, iya. Aku membuat beberapa roti isi untuk makan siang kita."

"Terima kasih."

"I-ini sudah menjadi kewajibanku."

Setelah perbincangan singkat itu, mereka berdua menuju bazaar yang berada di pusat kota. Waktu yang diperlukan untuk sampai di sana dengan berjalan kaki adalah 30 menit. Mereka memutusan untuk berjalan kaki dan tidak mengandalkan transportasi umum karena ingin merasakan suasana kota Kuoh–mereka bukan asli warga Kuoh, Kaguya telah lama hidup ti Tokyo sedangkan Naruto di Kyoto.

Mata Kaguya berbinar saat melihat pamhlet bazaar di salah satu distrik yang hari ini khusus dijadikan tempat bazaar. Ia lalu berlari kecil memasuki kawasan yang ramai oleh orang-orang. Naruto tak menyusul Kaguya, ia masih berdiri di tempatnya semula sambil melihat punggung Kaguya yang kian menjauh. Sebenarnya, Naruto ingin menghindari hal yang merepotkan seperti … nah, baru saja akan diucapkan malah sudah terjadi.

Orang-orang yang menyadari sang puteri kerajaan berada di antara mereka sontak saja menjadi pusat perhatian. Kaguya dikerumuni banyak orang, ada yang mengungkapkan rasa kagumnya, ada yang ingin bersalaman dengannya, dan masih banyak lagi.

Inilah yang ingin Naruto hindari. Terlalu merepotkan berurusan dengan kerumunan orang. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya orang-orang itu berangsur meninggalkan Kaguya setelah puas melihat sang puteri yang mungkin ini adalah kesempatan satu-satunya bagi mereka untuk memandang langsung kecantikan dari orang yang disebut orang tercantik di seluruh kerajaan.

"Merepotkan juga ya jadi orang terkenal," kata Naruto yang sudah menghampiri Kaguya dengan sebotol air putih.

Kaguya mengambil botol itu dan meminumnya secara perlahan. "Terima kasih, Namikaze-kun."

"Tak perlu sungkan."

Naruto dan Kaguya melanjutkan perjalanan mereka. Mengelilingi bazaar ini dengan melihat benda-benda yang belum pernah Kaguya lihat sebelumnya. Canda dan tawa menghiasi mereka berdua. Sungguh, momen ini adalah momen paling membahagiakan bagi Kaguya. Impiannya untuk mengunjungi bazaar ditemani oleh orang yang disukainya menjadikan kebahagiaannya kian meningkat. Ia ingin selamanya begini.

"Ayo kita main itu!" kata Naruto sambil menunjuk salah satu stand di ujung jalan. Kaguya mengangguk.

Setelah mereka sampai, Paman yang menjaga tempat itu menyambut dengan cerita. "Yo selamat datang pasangan muda."

"Pa-pasangan muda?" Kaguya terkejut dengan warna merah menghiasi pipinya.

Naruto tersenyum kikuk. "Tidak, Paman. Kami hanya teman."

"Benarkah? Tapi kalian terlihat serasi. Ah lupakan, selamat datang di permainan uji akurasi. Atau kalian menyebutnya permainan dart."

"Sepertinya menyenangkan, apa hadiah utamanya, Paman?"

Pria yang berusia lebih dari 40 tahun itu tersenyum lebar. Ia lalu menunjuk sebuah boneka serigala berukuran sedang–ukurannya sangat cocok untuk dipeluk–berwarna biru dengan wajah yang terlihat sangat imut.

"Hadiah utamanya adalah boneka serigala mitos, Fenrir yang sangat langka. Hanya ada 100 buah di kerajaan ini!"

Kaguya menatap boneka itu dengan mata berbinar dan tak sengaja mengucapkan sesuatu. "Kawaii."

"Kau menyukainya, Ootsutsuki? Boneka itu benar-benar imut, kan?"

Kaguya mengangguk. "Aku suka yang imut-imut."

Sementara itu Fenrir yang berada di dalam diri Naruto. "OY AKU TIDAK IMUT! AKU INI KEREN DAN MENGERIKAN!"

"Ahahaha, sudah relakan saja, Fenrir-san. Kamu itu imut dan lucu."

"Jangan meledekku, Naruto! Cepat cari siapa yang membuat boneka nista itu dan akan kuhajar sekarang juga!"

"Kau yang sedang marah seperti ini terlihat imut, Fenrir-chan!"

"DIAM NARUTOOOOO!"


Kaguya tak henti-hentinya menatap kegirangan pada sebuah boneka yang saat ini berada di genggamannya. Ia menatap boneka itu, memeluknya, kembali menatapnya, dan memeluknya lagi. Naruto tersenyum tipis melihat sifat Kaguya yang sangat jarang keluar. Sifat childish.

"Sekali lagi terima kasih banyak, Namikaze-kun."

"Sama-sama."

Tak terasa setelah puas mengelilingi semua sudut bazaar ini, matahari sudah meninggi. Mereka berdua memutuskan pergi ke salah satu taman yang berada di kaki bukit, cukup jauh dari pusat kota. Tempat ini adalah rekomendasi dari Kaguya. Ia tak sengaja menemukan tempat ini sehari setelah pindah dari Tokyo untuk bersekolah.

Mereka telah sampai. Taman ini berukuran sangat luas dengan sebagian besarnya adalah padang rumput. Meski begitu, rumput di sini bukan rumput liar yang tumbuh tak terkontrol, melainkan rumput yang sengaja ditanam dan ditata sedemikian rupa untuk menikmati indahnya alam.

Seperti yang diduga, tempat ini cukup ramai dikunjungi oleh orang-orang. Mereka memutuskan mencari tempat yang cukup sunyi dari keramaian.

Saat mencari tempat yang diinginkan, Naruto dan Kaguya tak sengaja melihat pemandangan yang cukup memprihatinkan.

Terlihat 2 anak kecil sedang menertawai gadis kecil yang menangis dengan sekujur tubuhnya basah kuyup. Dua anak lelaki itu tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk sang gadis kecil yang terisak dengan wajah tertunduk.

Apa yang dikatakan dua anak kecil itu sungguh menyakiti perasaan sang gadis kecil.

"Lihat! Dia basah kuyup seperti kucing yang habis kecemplung!"

"Ahahahah sihir airmu terlalu berlebihan!"

"Biarin! Orang yang tidak punya Mana di dalam tubuhnya sudah sepantasnya menjadi objek uji coba untuk kita yang bisa mengeluarkan sihir!"

"Benar juga sih, AHAHAHA!"

"Hiks, hiks, kalian jahat!"

Kaguya memandang prihatin kejadian yang tidak mengenakkan itu, ia ingin menegur tetapi langkahnya terhenti saat Naruto tiba-tiba berjalan cepat menuju tempat mereka dengan kepala yang tertunduk. Kaguya tak tahu ekspresi seperti apa yang Naruto keluarkan.

Naruto langsung menjewer dua anak nakal itu dengan tangannya. Ia sedikit menambahkan Mana agar rasa sakit yang dihasilkan lebih besar.

"SAKIIIT! Siapa yang berani menjewerku hah?"

Saat dua anak kecil itu berbalik ingin melihat siapa yang menjewer mereka, seketika dua anak lelaki itu terdiam. Kaki mereka berdua bergetar seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan.

"Hora, tak baik mem-bully orang lain yang tidak punya kelebihan seperti kalian. Mengerti?" kata Naruto dengan nada lembut sambil mengelus pucuk kepala mereka.

Namun, dimata dua anak lelaki itu, suara Naruto bagaikan suara malaikat maut yang memanggil. Sangat menakutkan. Mereka lalu mengangguk tanpa sadar kemudian berlari menjauh.

Kaguya menghampiri Naruto sambil melihat dua anak itu yang lari kotar-katir. Ia langsung menenangkan gadis kecil yang masih terisak.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kaguya.

Gadis kecil itu mendongkak dan melihat senyum tulus Kaguya. Ia mengangguk. "Terima kasih, Nee-chan, Nii-chan."

Naruto merendahkan tubuhnya hingga tingginya sejajar dengan gadis itu. Ia menatap lembut. "Meski kamu tidak punya aliran Mana, kamu harus melawan mereka. Buktikan jika kamu kuat."

"T-tapi, Yui tidak akan sanggup melawan mereka. Yui hanya orang biasa."

Naruto mengelus lembut pucuk kepala Yui yang basah itu. "Tidak ada yang tak mungkin selama kita terus berusaha."

Gadis kecil yang bernama Yui itu menatap kagum Naruto, lalu mengangguk dengan senyuman.

"Bagus, sekarang kembalilah ke rumah dan ganti pakaian. Ingat, jika mereka mengerjaimu lagi, lawanlah."

"Umm, terima kasih banyak Onii-chan."

Kaguya tersenyum haru melihat interaksi antara Naruto dan Yui. Baginya, Naruto yang seperti ini terlihat sangat keren. Mereka kemudian melanjutkan mencari tempat yang agak sepi. Tak lama kemudian, akhirnya mereka sampai. Tempat ini berada di ujung taman, dekat dengan hutan. Naruto dan Kaguya memutuskan beristirahat di bawah pohon rindang.

Kaguya membawa alas untuk piknik sehingga pakaian mereka tidak akan kotor. Kaguya menyiapkan makanan yang tadi dibawa olehnya. Beberapa roti isi berbentuk segitiga yang terlihat sangat enak. Juga, teh hangat.

Mereka berdua menyantap makan siang dengan khidmat. Seperti yang diharapkan, makanan buatan Kaguya sangat enak. Jika dipikir-pikir, ia pernah memakan makanan Kaguya saat di UKS setelah kalah bertarung melawan gadis itu.

Setelah mereka selesai makan siang, Naruto dan Kaguya mengobrol ringan sebelum pulang ke asrama.

Remaja pirang itu menoleh ke Kaguya, lebih tepatnya ke rambut Kaguya yang sedikit berantakan. "Ootsutsuki, rambutmu sedikit berantakan."

Kaguya tersentak kecil lalu buru-buru meraba rambutnya. Benar, ponytail-nya sedikit berantakan karena terlalu banyak bergerak. Terlebih ini pertama kalinya ia mengganti gaya rambut.

"Eh, memalukan sekali," gumam Kaguya sangat pelan lalu buru-buru merapikan rambutnya.

Kaguya melepaskan ikatan rambutnya dan ia tahan di mulut. Kedua tangannya merapikan rambut, tatapannya yang lugu dan sedikit menunduk membuat saat ini Kaguya terlihat sangat cantik.

Sebagai lelaki normal apalagi masih remaja, Naruto menatap Kaguya cukup lama. Terpana. Wajah yang cantik, posisi yang membuat wanita mengeluarkan aura paling cantiknya, dan ketiak yang mulus tanpa cacat membuat rona merah menghiasi wajahnya. Naruto buru-buru menatap ke arah lain sebelum Kaguya menyadari ia menatapnya cukup lama.

Setelah Kaguya selesai merapikan rambutnya, barulah Naruto berani menatapnya lagi.

Mereka lalu menatap kerumunan anak kecil yang sedang bermain jauh di depan sana. Senyuman mereka seperti tidak memikul beban yang amat berat. Penuh dengan kebebasan.

"Damai sekali," ucap Kaguya.

Naruto menoleh, kemudian menatap lagi kerumunan anak kecil yang sedang bermain itu. "Kau benar. Tetapi ini hanya kedamaian semu saja, atau … kedamaian sebelah pihak."

Kaguya menatap Naruto. "Maksud Namikaze-kun?"

"Ootsutsuki, apa kau pikir kedamaian sejati benar-benar dapat terwujud?" bukannya menjawab, Naruto malah bertanya balik.

Kaguya tertegun, lalu terdiam dalam kesunyian. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Naruto.

"Dunia ini selalu berperang, selama ribuan tahun, perang selalu berkibar di setiap penjuru dunia. Memang benar beberapa negara telah menghentikan peperangan mereka dan hidup masing-masing dalam kedamaian. Tetapi, apakah kedamaian itu telah didapatkan oleh semua orang di negerinya?"

Masih … Kaguya masih terdiam.

"Bahkan setelah kedamaian tercipta, masih banyak orang yang belum merasakannya. Ootsutsuki, kau sudah melihat sendiri bukan bagaimana hubungan orang yang memiliki Mana dan orang yang tidak memiliki Mana dalam tubuhnya. Hanya karena hal sepele itu, kesenjangan sosial terjadi, mereka yang memiliki Mana merasa lebih unggul dibandingkan mereka yang tidak memiliki. Perundungan adalah hal yang terjadi selanjutnya."

Kaguya masih terdiam dengan kepala tertunduk.

Naruto melanjutkan. "Kau mungkin tidak pernah melihat hal ini sebelumnya karena sejak kau lahir kau sudah dikelilingi oleh mereka yang memiliki derajat tinggi. Kau berteman dengan mereka yang dikatakan orang terpilih. Tapi, bagiku yang terlahir dari keluarga biasa, aku sudah sering melihat perundungan itu."

"Perundungan selalu terjadi. Baik di dunia sekolah maupun di dunia kerja. Ironisnya, di kalangan mereka yang memiliki Mana pun perundungan selalu terjadi. Contoh kecilnya adalah bangsawan yang memandang rendah orang lain."

Kaguya tak mampu berbicara apa pun. Semua yang dikatakan Naruto mungkin ada benarnya. Ia tak pernah melihat sisi lain dunia kecuali dunia para bangsawan. Dunia yang bergelimang harta, tahta, dan derajat. Ia tak pernah sedikit pun tahu atau bahkan merasakan bagaimana dunia yang ditempati orang-orang seperti Naruto.

Warga biasa. Di dunia ini, tidak semua orang memiliki aliran Mana dalam tubuh mereka. Bisa dikatakan bahwa 70 persen populasi manusia di dunia memiliki aliran Mana, sisanya hanya orang biasa.

"Maaf." Hanya itulah yang bisa dikatakan Kaguya.

Naruto tersenyum tipis. "Kau tidak perlu meminta maaf, Ootsutsuki. Kau tidak punya salah."

Kaguya menggeleng. "Maaf karena aku langsung berbicara seperti itu tanpa memandang sisi yang lainnya. Aku mungkin tidak akan menjadi pemimpin kerajaan yang baik."

Gadis berambut perak itu lalu memandang awan yang bergerak perlahan. "Memang terasa mustahil mewujudkan kedamaian sejati. Nyatanya, banyak ancaman yang membahayakan kedamaian saat ini. Sebagai perwaris tahta, aku ingin melindungi kerajaanku, wargaku, dan keluargaku. Tapi, terlalu banyak ancaman dari segala penjuru membuatku berpikir … apakah aku bisa menjadi ratu yang hebat?"

Naruto menepuk pelan bahu Kaguya, ia tersenyum tipis. "Aku yakin kau akan menjadi pemimpin yang baik. Kau kuat dan cerdas, tinggal bagaimana kau melihat sisi lain dari dunia ini. Juga, lelaki yang akan menjadi suami kelak pasti akan membantumu mewujudkan impianmu. Percayalah."

Kaguya terdiam dengan rona merah di pipinya. "Terima kasih." Ia memandang awan yang entah kenapa sekilas terlihat berbentuk heart. Kaguya kemudian menatap Naruto lagi. "Ka-kalau begitu, maukah Namikaze-kun membantu mewujudkan impianku?"

Naruto terdiam sebentar. "Kedamaian sejati ya … orang biasa sepertiku mungkin tak akan bisa masuk ke dunia politik para bangsawan elit. Tetapi, aku akan membantumu mewujudkan hal itu," ucap Naruto dengan senyum mengembang di wajahnya.

Entah sudah berapa kali pipi Kaguya dibuat memerah oleh ucapan Naruto.

Remaja pirang itu bersantai dengan berbaring sambil memandang awan. Embusan angin sejuk menerpa wajahnya dan itu membuatnya merasa nyaman. Tidak ada percakapan lagi di antara mereka, semua menikmati langit biru cerah dengan hiasan gumpalan awan putih tersebut.

Kaguya ingin mengetahui lebih banyak tentang Naruto. Apa yang disukainya, apa yang tidak disukainya, dan masih banyak lagi. Ia menoleh ke belakang, memandang wajah damai itu yang masih asik melihat langit.

"Ne, Namikaze-kun," panggil Kaguya.

"Hmm?"

"Apa kau punya saudara?"

Pertanyaan polos dari Kaguya itu membuat dirinya terdiam sesaat. Matanya terpejam, mengingat seseorang yang sangat dirindukannya sejak dulu.

"Punya, lebih tepatnya saudari."

Satu hal lagi tentang Naruto yang Kaguya baru ketahui. "Begitu? Enak ya kalau punya saudara kandung. Sejak kecil aku ingin mempunyai adik laki-laki, tapi takdir berkata lain. Sampai sekarang aku adalah anak tunggal. Ngomong-ngomong, saudari Namikaze-kun imotou atau onee-san?"

Naruto tersenyum. "Aku mempunyai adik perempuan, Namanya Naruko."

Kaguya terlihat tertarik. "Begitukah? Pasti enak punya adik yang disayang. Berapa umur Naruko-chan sekarang?"

Naruto sedikit berpikir. "Harusnya sekarang dia sudah berumur 12 tahun."

"Harusnya?"

Naruto mengangguk. "Ya, dia sudah mati 5 tahun yang lalu."

Seketika mata Kaguya membulat sempurna, kedua tangannya menutup mulut. "Maaf, aku tidak bermaksud–"

"Tidak apa-apa, Ootsutsuki. Tidak apa-apa …."

Kaguya merasa sangat bersalah. Ia membuka luka lama yang berusaha Naruto pendam dalam-dalam. Kepala Kaguya tertunduk dan tak sanggup memandang wajah Naruto. Ingin sekali ia mengulang waktu walau hanya satu menit.

"Aku terlahir di keluarga biasa saja. Tinggal bersama ayah dan ibu layaknya keluarga lain. Mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuaku. Beberapa tahun kemudian, adikku lahir. Dia sangat cantik dan imut. Sejak saat itu, sebagai kakak aku memutuskan untuk hidup demi kebahagiaan Naruko."

"Waktu kian berjalan, kami tumbuh bersama. Lalu, pada saat aku berusia 10 tahun dan Naruko 7 tahun, sebuah tragedi itu terjadi. Ibuku dan Naruko dibunuh di depan mataku. Aku tidak tahu motifnya apa, tetapi dia meninggalkanku sendirian hidup-hidup."

Kaguya menatap sendu. "Maaf telah mengingatkan luka lama, Namikaze-kun."

"Sudah kubilang tidak apa-apa," kata Naruto lalu memejamkan mata.

Ingatannya kembali pada masa di mana ia dengan Naruko bermain bersama, tertawa bersama, melindunginya saat ada yang menjahilinya, menghiburnya saat ia sedang bersedih. Semakin ia mengingat kejadian itu, kesadarannya semakin menipis dan tanpa disadari Naruto terlelap.

Kaguya memandang wajah Naruto yang sedang tertidur. Tak lama kemudian remaja itu menggumamkan nama adiknya lalu air mata perlahan jatuh. Kaguya mendekat dengan mata yang sudah berair.

"Sekali lagi, maafkan aku, Namikaze-kun." Ia mengelus rambut pirang Naruto dengan lembut dan menyeka air mata yang menyentuh telinga. "Aku tahu seberapa besar kau menyayangi adikmu dan seberapa sakit kau kehilangannya."

Kaguya semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Naruto. "Jika kau ingin seseorang yang mendengarkan curahan hatimu, seseorang yang ingin kau bagi baik kebahagiaan atau kesedihan, maka datanglah padaku."

Lalu, kecupan bibir merah muda itu mendarat di kening Naruto. "Maka aku akan menjadi orang yang pertama peduli padamu."


Sore hari menjelang. Naruto perlahan membuka matanya. Hal yang pertama ia lihat adalah langit berwarna orange. Ia lalu bangkit duduk sambil meregangkan tangannya. "Maaf, aku ketiduran."

Kaguya tersenyum. "Tidak apa-apa."

Naruto menatap senyuman Kaguya cukup lama membuat gadis itu menjadi salah tingkah.

"A-apa senyumanku aneh ya?"

Naruto tertawa ringan. "Tidak. senyumanmu mengingatkanku kepada Kaa-san."

"Begitu ya?"

Naruto mengangguk sebagai jawaban. "Kushina, namanya Uzumaki Khusina. Dia memiliki senyuman yang menyejukkan hati. Tapi kalau sekalinya marah, dia seperti monster yang terbangun dari tidur lamanya. Mengerikan."

"Ahahah, yah begitulah seorang ibu."

Karena sudah sore, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke asrama.


"Terima kasih telah menemaniku pergi ke bazaar, Naruto-kun –ah, maaf aku kelepasan," ucap Kaguya setelah mereka sampai di gerbang sekolah.

"Tidak apa-apa, aku senang dipanggil dengan namaku. Kalau begitu, bolehkah aku memanggilmu Kaguya?"

Gadis berambut perak itu mengangguk dengan senyum ceria.

"Kalau begitu, aku duluan. Ada beberapa hal yang harus dibahas oleh The Ten Grace of God. Sampai jumpa besok di ruang guild." Naruto berkata sambil melambaikan tangannya. Ia lalu pergi menuju asramanya.

Kaguya masih melambaikan tangan hingga siluet Naruto menghilang sepenuhnya. Ia hendak pergi ke asramanya tetapi langkahnya terhenti karena mendengar suara elang. Gadis tersebut menatap ke atas dengan raut wajah serius. Ia merentangkan tangan sebagai tanda, lalu elang itu perlahan turun dan bertengger di tangan Kaguya tanpa melukainya.

Kaguya mengambil gulungan kertas yang terdapat di kaki elang itu, ia kemudian membacanya.

"I-ini …," gumam Kaguya dengan wajah terkejut.

Di waktu yang sama tetapi berbeda tempat, terlihat seseorang berambut merah panjang yang sedang membaca kertas kecil dengan burung elang bertengger di pundaknya. Ia tersenyum misterius.

"Begitu ya, akhirnya dimulai juga."

Bersambung

~Ending Song: Akane Sasu by Aimer~


AN: Satu lagi chapter yang tanpa fight, semoga kalian menikmati hubungan Naruto dengan Kaguya. Mana nih yang setuju Naruto pairnya Kaguya?

Tentang hubungan Gabriel dan Naruto. Aku yakin kalian sudah bisa memprediksikannya. Well, mungkin gk akan semua prediksi benar, tetapi kalian bisa menyimpulkan bagaimana hubungan antara Naruto dengan Gabriel dari clue yang sudah terungkap. Semakin menarik?

Chapter depan adalah titik balik dari semua yang sudah ada dalam fic Golden Magic. Chapter yang akan mengungkapkan tujuan Naruto sebenarnya. Jadi, tunggu saja!

Review dengan akun sudah saya balas lewat PM web, bukan apk (yang perlu dijawab saja). Jadi silahkan cek PM masing-masing menggunakan browser. Di bawah ini adalah balasan review untuk guest.

Arzel: Naruto bukan anak Khusina? Sudah terjawab ya di chapter ini.

Sasa: Palingan sebentar lagi diulang-ulang seperti yang dulu, udah berapa tahun begitu terus buat para pembaca kecewa termasuk saya. Maaf jika membuatmu kecewa. Tetapi saya pastikan ini tidak akan diulang.

Guest: Pak Bos Eins, itu pas scene dialog Coriana ama Naruto ada typo. Wah makasih banget udah diingatkan.

Sarana: Tolong tiap chapter ceritanya agak panjangan dikit. Yah gimana yah, cerita ini words perchapter minimal 3k+.

Sudah segitu saja. Untuk Sevirel Reshi Dashi, terima kasih banyak karena sudah mengkoreksi typo di setiap chapternya. Hmm, saya jadi kepikiran buat ngadain special thanks disetiap chapternya.

Well, chapter 16 ini special thanksnya untuk Sevirel Reshi Dashi.

Segitu saja dari saya. Jangan bosen untuk memberikan review di fanfic ini. Tulis apapun kesan kalian terhadap setiap chapter yang kalian baca.

Jangan lupa tulis hastag.

#FFN2021BANGKIT!

[28/05/2021]