Arc III: Ancient Relic
Chapter 17: Secret Society
~Opening Song: Diver by NICO Touches the Walls~
Kuoh merupakan kota yang asri. Oleh sebab itu, setiap pagi pasti terdengar kicauan burung yang menjadi alarm alami warga kota ini. Kita beralih ke asrama wanita Donquixote Academy. Di salah satu kamar, terlihat seorang gadis yang sedang tertidur lelap dengan hanya memakai bra dan CD berwarna ungu. Ia adalah Walburga, siswi kelas 1-C dan anggota dari guild Sacrifice.
Erangan dikeluarkan oleh gadis tersebut saat kicauan burung tak berhenti berbunyi seakan burung itu tahu bahwa masih ada manusia yang belum pergi dari alam mimpinya. Setelah beberapa saat, akhirnya mata Walburga terbuka. Anehnya, kicauan burung itu seketika berhenti.
Gadis itu meregangkan tubuhnya sambil menguap lebar. Mulai dari sini, rutinitas hariannya akan dimulai seperti biasa.
Di asrama khusus The Ten Grace of God, terlihat mereka sedang menyantap hidangan di satu meja besar. Naruto memakan sarapannya dengan tenang sambil melihat satu kursi yang kosong. "Di mana Sirzechs-senpai?" tanya remaja pirang itu.
"Dia ada urusan mendadak. Katanya pertemuan antar bangsawan tinggi," jawab Serafall.
Naruto tak bereaksi lagi. Ia hanya melanjutkan acara makannya hingga habis kemudian pergi menuju bangunan sekolah bersama anggota lainnya.
Seperti biasa, Naruto berada di belakang saat berjalan bersama para anggota pemegang kursi lainnya. Ia seperti mengasingkan diri dan tidak bergabung ke dalam obrolan rekan-rekannya. Lagi pula, ia juga tidak punya urusan dengan mereka.
Saat Naruto memasuki gedung kelas 1, ia berpapasan dengan salah satu anggota guild-nya.
"Naruto-san!" ucap seorang gadis sedikit kaget.
"Selamat pagi, Walburga," sapa Naruto dengan senyum tipis.
Walburga sedikit kelagapan melihat senyuman Naruto yang menurutnya menawan. Ia lalu membalas sapaan ketuanya dengan sedikit gugup. "Se-selamat pagi juga, Naruto-san."
"Bagaimana pagimu?" tanya Naruto basa-basi. Mereka berjalan bersama menuju kelas masing-masing.
"Biasa saja, rutinitas harian," jawab gadis tersebut. Ia kemudian penasaran dengan apa saja kegiatan di asrama The Ten Grace of God. "Kalau Naruto-san? Aku penasaran bagaimana rutinitas para ketua guild di asrama mereka.
Naruto berpikir sebentar sambil mengusap dagunya pelan. "Bisa kubilang lebih ke gaya hidup para bangsawan. Kami bangun seperti biasa, jika telat maka para maid akan membangunkan kami. Setelah itu kami sarapan bersama di satu meja."
Walburga menatap Naruto tertarik. "Berapa maid yang ada di sana, Naruto-san?"
"Kurasa lebih dari sepuluh. Aku tidak pernah menghitung mereka karena para maid bekerja dalam shift."
Walburga membayangkan jika dirinya merupakan salah satu dari The Ten Grace of God dan memiliki kehidupan selayaknya bangsawan. Jujur saja, itu adalah kehidupan yang paling ia idamkan. Menjadi bangsawan adalah cita-citanya.
Tak lama kemudian mereka sampai di depan kelas masing-masing. Pelajaran seperti hari-hari biasanya dimulai. Tidak ada yang spesial dan tidak ada yang menarik.
Uchiha Sasuke. Seorang murid yang digadang-gadang akan menjadi The Ten Grace of God selanjutnya. Ia merupakan salah satu dari beberapa murid angkatan pertama yang diramalkan suatu hari akan memegang tahta tertinggi di sekolah ini.
Untuk ukuran harga kepalanya, ia termasuk ke dalam 10 murid kelas satu yang memiliki harga kepala tertinggi. Tentu saja, Naruto yang menduduki peringkat pertama. Baik kekuatan maupun kecerdasannya, Sasuke berada di peringkat atas. Ditambah wajah tampannya, Sasuke merupakan primadona bagi para siswi.
Rias Gremory. Siapa yang tidak kenal dengan nama itu. Gadis dengan kecantikan luar biasa ditambah asal-usul keluarganya yang bukan biasa-biasa saja membuatnya dijuluki 'The Next Princess' oleh sebagian besar siswi angkatan pertama. Ia juga merupakan target anak-anak bangsawan lain yang ingin memiliki hatinya untuk tujuan mendapatkan posisi lebih tinggi.
Saat ini sedang jam istirahat dan mereka berdua berjalan bersama menuju kantin. Memesan makanan lalu mencari tempat duduk yang kosong. Sayangnya, semua tempat duduk telah diisi penuh kecuali ….
"Ck, apa tidak ada bangku lain selain di sana?" tanya Sasuke sambil mengarahkan pandangannya pada meja yang hanya ditempati oleh satu orang dan terdapat dua bangku kosong di dekatnya.
Rias menatap ke arah yang dimaksud Sasuke dan seketika ekspresinya sedikit kesal. Ia lalu melirik ke arah lainnya berharap ada bangku kosong, tetapi yang diharapkan tidak sesuai kenyataan. "Tidak ada pilihan lain, Sasuke. Aku mulai pegal membawa nampan ini."
Setelah mendecih sesaat, Sasuke dan Rias berjalan menghampiri meja itu. Orang yang lebih dulu mengisi meja tersebut mendongkak saat menyadari kehadiran mereka. Ia lalu tersenyum tipis. "Silahkan duduk, bangku ini kosong."
"Namikaze Naruto," batin mereka berdua lalu duduk di dekat orang yang merupakan ambisinya, tujuannya, rivalnya, dan yang dibencinya.
Naruto melebarkan senyumannya. Tak ia sangka bahwa dua orang bangsawan tinggi duduk semeja bersamanya. Apa lagi, ia tahu bahwa mereka selalu menatap benci kepadanya meski dirinya cukup yakin bahwa ia tidak pernah mempunyai masalah dengan mereka. Well, sebenarnya Naruto tahu alasan kenapa Rias Gremory menatapnya dengan pandangan benci. Namun, untuk Sasuke ia sama sekali tidak tahu.
Naruto menatap langit yang berada di balik jendela kantin. "Hari ini cerah ya," ucap Naruto.
"Hn," balas Sasuke tidak peduli.
"Jangan sok akrab kepada kami, Orang Kampungan," ucap Rias sambil menatap tajam Naruto.
Naruto hanya mengangkat kedua tangannya sambil berucap, "Jangan marah-marah seperti itu. Aku hanya ingin mencairkan suasana."
"Kami tidak butuh itu," balas Sasuke.
Naruto hanya mengangkat bahu. Ia lalu melanjutkan acara makannya tanpa berucap sepatah kata lagi. Rias diam-diam mengamati Naruto. Cara makannya tidak beda jauh dengan bangsawan pada umumnya–Naruto jadi terbiasa menggunakan cara makan bangsawan setelah menduduki tahta The Ten Grace of God–cukup elegan ditambah raut wajah normalnya, pikir Rias.
Sama halnya dengan Rias, Sasuke juga mengamati bagaimana tingkah laku Naruto. Ini adalah momen langka dimana ia bisa mengamati Naruto dari jarak sedekat ini. Apa pun informasi yang ia dapat, pasti akan berguna untuk mengalahkan Namikaze Naruto dan merebut tahtanya. Ia tidak mau menunggu satu tahun penuh saat festival pergantian The Ten Grace of God diadakan.
Ia ingin merebut semua yang dimiliki Naruto kemudian melihat raut wajah putus asanya. Tanpa disadarinya, Sasuke menyeringai tipis. membayangkan itu terjadi membuatnya tidak sabar untuk segera meminta tantangan resmi pada remaja pirang itu dalam Battle of Honor.
Sementara yang diperhatikan hanya tersenyum tipis saja. Naruto tahu dua bangsawan besar ini tengah mengobservasinya. Tujuan mereka bisa ditebak, adalah untuk menggulingkan tahtanya. Mereka adalah tipikal bangsawan pada umumnya, selalu ingin mendapatkan kekuasaan yang berlebih dengan cepat. Apa mereka tidak menyadari bahwa sifat itulah yang akan menjatuhkan mereka? Terlebih lagi mereka menargetkan Naruto. Lawan yang harusnya dihindari.
Setelah selesai makan, Naruto merapikan piringnya kemudian pergi tanpa sepatah kata. Meski dari luar mereka tidak berbicara apa-apa, tetapi dari pertemuan ini mereka mendapatkan petunjuk masing-masing. Kejadian ini hanyalah langkah awal untuk sesuatu yang besar di masa depan.
"Namikaze Naruto."
"Uchiha Sasuke dan Rias Gremory."
"Aku akan menghancurkanmu/Aku akan menghancurkan kalian."
Ketiganya menyeringai secara bersamaan.
Walburga, seorang gadis yang memiliki banyak hiasan pita kecil di rambutnya menguap cukup lebar saat bel tanda sekolah berakhir terdengar. Jam-jam akhir pelajaran entah kenapa selalu membuatnya mengantuk. Namun, saat bunyi bel yang bagaikan lantunan symphony terdengar, tubuhnya kembali bugar seperti semula.
Ia dengan cekatan membereskan buku-bukunya dan tak lama kemudian dirinya merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya. Walburga menoleh dan melihat seorang pria berambut hitam tengah tersenyum kepadanya.
"Yo, Walburga. Apa kau akan langsung ke markas guild?" tanya pria itu dengan sopan.
Walbuga tersenyum hingga menampilkan sedikit gigi putihnya. "Tentu. Kau juga, Tobio?"
Pria yang saat ini berhadapan dengan Walburga adalah Ikuse Tobio. Mereka sama-sama berada di kelas 1-C.
"Ya. Mari berangkat bersama," jawab Tobio. Keduanya pun pergi bersama menuju markas guild. Di perjalanan mereka sedikit berbincang mengenai quest yang mereka kerjakan kemarin. Tobio dan Walburga sepertinya memiliki kedekatan yang cukup intim.
Hari-hari yang sama di dalam guild mereka jalani. Mengambil quest, mengerjakannya, lalu mendapatkan imbalan berupa kenaikan harga kepala. Walburga dan Tobio sama seperti anggota yang lain. Mereka menerima quest dari Coriana kemudian menjalankannya setelah mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan–dan tentu saja memakai pakaian Espada mereka.
Dalam struktur Espada, Walburga menempati urutan keempat yaitu Cuatro yang mana ia termasuk salah satu member terkuat di guild. Hari ini adalah jadwalnya menjalankan quest tingkat A bersama dengan rekannya, Kuisha Abaddon yang satu peringkat di bawahnya.
Dua wanita cantik tersebut keluar dari gedung guild dengan memakai pakaian serba putih khas Espada. Mereka kemudian pergi ke pusat kota di mana quest itu berada. Membunuh beberapa giant rat di saluran pembuangan.
Naruto sedang memeriksa dokumen yang berisikan rincian quest yang sudah dijalankan oleh anggotanya. Sementara itu, Coriana tengah sibuk mempersiapkan quest untuk hari esok. Keduanya berkutat dalam kesibukan masing-masing sehingga tidak ada suara yang terdengar di ruangan ini kecuali bunyi lembaran kertas yang dibolak-balik.
Akhir bulan sudah mulai dekat, Naruto harus memastikan bahwa semua quest yang diterima oleh guild-nya selesai. Lebih baik lagi kalau semua quest tersebut berhasil. Hingga sekarang ia cukup puas karena anggotanya menjalankan tugas dengan baik.
"Coriana-senpai," kata Naruto memanggil nama wakilnya.
"Ya?"
"Berapa banyak quest yang belum dijalankan?"
"Tunggu sebentar," ucap gadis bersurai pirang elegan itu lalu memeriksa ulang lagi lembaran kertas yang menumpuk di mejanya. "10 quest tingkat C, 7 tingkat B, 4 tingkat A, 1 untuk tingkat S dan SS."
"Tidak terlalu banyak. Aku ingin semua quest selesai sebelum tanggal 25. Dari laporan yang kubaca, anggota kita sudah mumpuni untuk menjalankan quest sendirian. Mulai besok, aku ingin tiap quest dijalankan oleh satu orang. Lalu untuk Coriana-senpai dan Kaguya, persiapkan diri kalian untuk menjalankan quest tingkat SS." Naruto memberi arahan dengan cepat.
Remaja pirang itu ingin menyelesaikan semua urusan guild sebelum akhir bulan karena ia berencana untuk mengadakan latihan bersama. Ini untuk meningkatkan kekuatan anggotanya.
Coriana mengangguk mengerti.
Naruto tiba-tiba teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong, aku belum melihat Kaguya hari ini. Dia di mana?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Coriana tersentak sesaat lalu memasang wajah bersalah pada ketuanya. "Ahh … itu, aku lupa memberitahu Naruto-kun kalau Kaguya izin beberapa hari karena ada urusan bangsawan. Maaf."
Naruto menggeleng. "Tak perlu meminta maaf. Terima kasih karena sudah memberitahuku," ucap Naruto kemudian tersenyum seperti biasa. Senyuman yang bisa membuat gadis secantik Coriana tersipu malu.
"Kalau dipikir-pikir, Sirzechs-senpai juga hari ini tidak masuk sekolah karena urusan keluarga. Apa mungkin keluarga kerajaan dan Gremory house sedang mengadakan pertemuan penting? Mengingat keluarga Gremory adalah salah satu pilar utama kerajaan ini." Naruto mulai menebak-nebak persepsinya.
Coriana nampaknya tertarik dengan perkataan Naruto. "Apa mungkin ini ada hubungannya dengan pernikahan antar bangsawan?"
Naruto melirik gadis pirang itu. "Pernikahan?"
Coriana mengangguk. "Dari sejak mereka kecil, banyak orang yang sudah memprediksikan bahwa mereka akan dijodohkan saat sudah cukup umur. Pernikahan politik antar bangsawan memang sudah bukan hal tabu lagi bagi masyarakat. Dan juga nampaknya banyak orang yang mendukung hal itu. Meski memang tidak ada berita resmi kalau mereka berdua telah dijodohkan. Ootsutsuki Kaguya dan Sirzechs Gremory."
Naruto kembali berpikir. "Apa mereka saat ini sedang mendiskusikan hal itu? Jika ini adalah urusan bangsawan pada umumnya maka mereka yang masih berstatus pelajar belum punya hak untuk mencampuri segala urusan bangsawan terutama di dunia politik. Kecuali, urusan ini ada sangkut pautnya dengan mereka."
Coriana mengangguk lagi. "Naruto-kun benar."
Mata Naruto menyipit. "Kaguya, apakah ini langkah awalmu untuk menggapai kedamaian yang kau impikan?" batin Naruto dalam hati.
Sore hari menjelang, anggota yang sejak siang tadi menjalankan tugas mereka kini sudah kembali dengan hasil yang memuaskan. Setelah membersikan tubuh, mereka kemudian pulang menuju asrama masing-masing. Kini di dalam markas guild hanya tersisa Naruto dan Tobio. Mereka berdua sedang duduk di sofa ruangan Naruto.
"Waktunya sudah tiba," ucap Tobio.
Naruto mengangguk. "Aku tahu."
Maksud mereka adalah hari ini jadwal pertemuan para anggota dari kelompok rahasia yang mereka ikuti.
"Kita akan berangkat tengah malam. Temui aku di hutan barat. Ingat! Jangan sampai ada yang tahu pergerakan kita," ucap Naruto dengan nada sedikit berat.
Tobio mengangguk beberapa kali. "Tenang saja."
Malam ini bulan nampak cerah. Bintang-bintang terlihat kerlap-kerlip di langit yang gelap. Tak ada awan yang berani untuk menutupi keindahan dua benda astronoit tersebut. Di sebuah jalan yang menuju kota Tokyo, terlihat mobil berwarna hitam melaju cukup cepat. Setelah cukup lama, mobil itu memasuki kawasan kota Tokyo yang terkenal akan bangunan pencakar langitnya.
Mobil hitam itu tak pergi menuju pusat kota, tetapi berbelok menuju pinggiran kota yang jarang orang lewati. Sebuah distrik 'kota tua' yang sudah tidak dihuni oleh manusia. Mobil tersebut berhenti tepat di depan sebuah motel tak terawat. Pintu belakang terbuka dan menampilkan seorang gadis cantik berambut perak panjang. Ia adalah Ootsutuki Kaguya.
"Tunggu aku di tempat biasa," ucap Kaguya kepada sopir mobil tersebut. Gadis itu kemudian melihat keadaan sekitar. Setelah dirasa aman, ia lalu memasuki motel itu. Saat masuk, Kaguya mendapati seorang pria resepsionis dan orang misterius yang memakai jubah bertudung tengah duduk di salah satu kursi.
Ia menatap cukup lama orang bertudung itu–yang duduk membelakangi dirinya–kemudian berjalan ke arah resepsionis. Kaguya lalu merogoh sesuatu di sakunya lalu memperlihatkan benda yang berbentuk seperti tengkorak elang itu pada resepsionis.
"Selamat datang, Kaguya-sama," ucap Resepsionis tersebut kemudian mengambil sebuah jubah bertudung. "Ini pakaian Anda."
"Terima kasih," kata Kaguya menerima jubah itu kemudian memakainya dan menutupi kepalanya dengan tudung.
Orang misterius yang sedari tadi duduk menoleh setelah mendengar kata 'Kaguya'. Ia bangkit berdiri dan menghampirinya. "Kau telat, Kaguya."
Kaguya menoleh dan melihat seorang pria tampan berambut merah tersenyum kepadanya. "Maaf, persiapanku sedikit lebih lama, Serzechs-san."
Ya, mereka adalah Kaguya dan Sirzechs.
"Kalau begitu, biar saya antar ke ruangan pertemuannya," ucap resepsionis kemudian memandu mereka berdua menuju ruang pertemuan. Mereka telah sampai di jalan buntu. Sang resepsionis menarik lentera di sampingnya lalu dinding yang berada di hadapan mereka bergerak dan menciptakan sebuah tangga untuk masuk ke bawah.
"Yang lain sudah menunggu kalian," ucap resepsionis itu dengan sopan.
"Terima kasih," kata Kaguya.
Mereka berdua kemudian memasuki ruang pertemuan. Apakah hubungan sebenarnya yang terjalin di antara mereka? Siapakah mereka sebenarnya?
Naruto menatap bulan cerah dalam diam. Suara serangga malam terdengar merdu di telinganya. Semilir angin membuat kulitnya terasa sejuk. Saat ini ia berada di tempat yang sudah dijanjikan. Tak lama kemudian Tobio datang menghampiri.
"Maaf agak lama," ucap Tobio.
"Tak perlu dipikirkan," ucap Naruto yang sudah masuk dalam mode seriusnya. Nadanya sudah kembali tenang namun terdengar mengerikan di saat yang bersamaan.
Entah kenapa, bulu kuduk Tobio terasa merinding setiap kali ia mendengar ucapan Naruto yang begitu tenang. Ia lalu memberikan syal berwarna merah dengan logo seperti lambang tambah (+) yang masing-masing sudunya berbentuk runcing dua arah.
Mereka berdua memakai syal tersebut. Tobio membuat sihir teleportasi menggunakan kekuatannya berupa lingkaran hitam di bawah kaki mereka dan keduanya kemudian dilahap oleh lingkaran hitam itu.
Mereka muncul di mulut goa. Di depan mereka sudah terpasang kekkai kasat mata. Naruto lalu memegang kekkai itu dan memasukkan kuncinya agar bisa masuk. Setelah berhasil, mereka memasuki goa.
Naruto dan Tobio masuk cukup dalam ke goa itu hingga akhirnya mereka dapat melihat sinar terang di depan sana. Naruto berhenti setelah memasuki ruangan pertemuan dan melirik sebuah meja besar yang hampir semua kursinya sudah diduduki.
Salah seorang yang duduk di kursi melirik Naruto dengan seringai lebar. "Sampai juga kau ke sini, Pirang."
Naruto balik menatap. "Kau tidak berubah dari terakhir kita bertemu, tetap menyebalkan."
Bola mata yang melebar bersamaan seringai yang kian meruncing adalah ekspresi dari pria itu. Seorang petarung tangguh berambut merah muda, memiliki otot kaki dan tangan yang sempurna. Ditambah tattoo garis-garis berwarna biru di sekujur tubuhnya hingga wajah.
Tanpa sepatah kata, ia menghilang dalam kecepatan yang luar biasa. Detik berikutnya, pria tersebut muncul di hadapan Naruto dengan tangan berkekuatan penuh yang siap meninju.
Tobio tidak tinggal diam. Saat pria tersebut melayangkan tinjunya pada Naruto, ia dengan cepat membut pedang hitam dari bayangan dan menusuk tangan pria itu hingga membuatnya terbelah dua.
Tangan yang terbelah dua tersebut berhenti di depan Naruto bersamaan hembusan angin kuat menerpa wajah sang inang Fenrir. Membuktikan bahwa pukulannya tidak sekedar main-main saja.
Bukannya kesakitan, pria itu melebarkan seringainya dengan wajah yang sumrigah menatap orang di belakang Naruto. "Kau menggangguk kesenanganku, Bocah Bayangan."
Tobio tersenyum tipis. "Sudah sewajarnya aku melindungi rekanku, Akaza."
Akaza, nama dari pria yang menyerang Naruto. Ia melompat ke belakang dan memperlihatkan tangan yang terbelah itu. Lalu dengan singkat tangan tersebut kembali menyatu secara sempurna.
"Sunggung regenerasi super yang mengerikan," batin Tobio menatap serius tangan Akaza.
"Kau sudah mengganggu kesenanganku. Kalau begitu, aku akan menghajarmu juga." Akaza memasang kuda-kuda bertarung. Tubuhnya terselimuti oleh Mana berwarna biru muda.
Naruto memincingkan mata. "Tekanan kekuatannya sudah bukan taraf bercanda. Dia memang menyebalkan."
Sementara anggota lain masih duduk tenang di bangku mereka sambil melihat hiburan yang tersaji di depan. Salah seorang anggota tersenyum lalu hendak berdiri.
"Sampai bertemu di akhirat!" Sekali lagi Akaza melesat cepat dan melayangkan tinjunya. Namun, sebuah tangan menghentikan tinju itu. Akaza tersentak kemudian melihat ke arah samping. "Jangan menggangguku!" kata Akaza dengan nada berat.
Orang yang menghentikan serangan Akaza hanya tersenyum simpul. Ia memakai pakaian serba hitam dengan penutup mata yang hitam juga. Rambutnya berwarna putih jabrik. "Sudahlah Akaza, jangan terus menjahili Naruto-kun dan Tobio-kun."
"Gojo Satoru! Sudah kubilang jangan menggangguku. Kau tahu bahwa hal yang paling aku benci adalah orang lemah!" ucap Akaza.
Senyum Satoru perlahan luntur dan memasang wajah serius. "Sebentar lagi Grand Master datang. Akaza, ini peringatan terakhir. Duduk di kursimu." Seketika semua orang yang berada di ruangan itu dapat merasakan gilanya tekanan kekuatan seorang Gojo Satoru.
Akaza mendecih lalu berjalan kembali ke kursinya. Ia menghela napas lalu tersenyum lagi dan menatap Naruto serta Tobio bergantian.
Naruto tersenyum tipis. "Terima kasih, Gojo-san."
Satoru mengibaskan tangannya seakan memberi isarat bahwa jangan sungkan kepadanya. "Jangan berterima kasih kepadaku, Sudah kewajibanku membantu kalian. Karena …." Satoru menunjuk wajah Naruto. Ia menyunggingkan senyum cerahnya. "Kau itu lemah," ucapnya dengan nada tanpa dosa.
Urat dipelipis Naruto sedikit muncul. Namun, ia abaikan perkataan rekan sesama anggota dan memilih duduk di kursi kosong bersama Tobio. Satoru pun sudah duduk di kursinya lagi.
Tidak berselang lama, suara langkah kaki terdengar makin nyaring. Dari gelapnya lorong yang ada di samping, munculah seorang yang membuat semua atensi tertuju padanya. Hanya ada satu kalimat yang mereka ucap.
"Grand Master."
Sosok pria berumur yang disebut Grand Master itu berhenti di hadapan mereka. Ia menatap satu per satu anggotanya. Ia menghela napas dan membuka suara. "Selamat datang di pertemuan rutin Templar Order."
Kaguya menuruni tangga dengan pelan, di belakangnya ada Sirzechs. Setelah beberapa menit menuruni tangga akhirnya mereka sampai di depan pintu besar. Kalau dihitung saat ini mereka sedang berada di ruang bawah tanah dengan kedalaman 300 meter dari permukaan.
Kaguya membuka pintu besar itu. Terlihatlah ruangan megah khas tempat meeting para dewan rakyat dengan satu mimbar utama di tengah. Mereka berdua lalu pergi ke tribun terdekat dan duduk di bangku yang kosong. Sejauh mata memandang, banyak orang bertudung yang duduk di tribun.
"Anggota organisasi nampaknya bertambah cukup banyak sejak pertemuan akhir dulu," ucap Kaguya.
Sirzechs mengangguk. "Ini hal yang bagus. Untuk mencapai kedamaian, dibutuhkan tenaga yang tidak sedikit."
Perhatian mereka lalu tertuju pada satu orang yang baru masuk ke ruangan ini. Orang yang memakai jubah berbeda dari anggota lainnya. Ia menuju mimbar utama lalu membuka tudungnya. Terlihatlah seorang lelaki dewasa berambut hitam panjang. Kaguya menyunggingkan senyum simpul setelah melihat orang yang ia kenal sejak kecil sekaligus orang yang telah merekrutnya masuk ke organisasi ini.
Pria dewasa tersebut membuka suara dengan intonasi berat. "Bagi yang belum mengenaliku, perkenalkan, namaku Senju Hashirama. Mentor dari perkumpulan rahasia Brotherhood."
Bersambung
Oke, cut sampai di sini dulu. Saya minta maaf karena belum bisa membuat words yang banyak. Satu lagi chapter tanpa fight tetapi mengandung unsur berat di dalamnya. Kemanakah fic ini akan dibawa? Jawabannya ada pada chapter depan. Jadi, tunggu saja!
Satu lagi anggota Naruto yang mendapatkan jatah peran di fic ini, Walburga. Perlahan saya akan menampilkan peran mereka. Sekarang fokus dulu ke Naruto dan Kaguya.
Tentang Sasuke dan Rias, saya berencana bikin arc tambahan khusus untuk mereka. Tapi masih tahap rencana aja. Soalnya takut mengganggu jalan cerita yang sudah dirangkai. Ya kita lihat saja kedepannya.
Segitu saja. Bagi yang belum tahu Akaza, dia dari Kimetsu no Yaiba dan Gojo Satoru dari Jujutsu Kaisen. Terima kasih kepada kalian yang telah mereview, favs, dan foll fic ini. Thank you!
Jangan lupa cantumkan hastag.
#FFN2021BANGKIT!
[05/09/2021]
