Chapter sebelumnya :

.

.

["Tadi itu luar biasa sekali, Naruto,"] puji Ophis mengenai pertarungan Naruto serta Shinoa.

Naruto yang mendengar pujian itu tersenyum, "Arigato... Ophis, tapi itu juga berkat Jeanne-chan, Arigato Jeanne-chan," balas Naruto melalui batin. ["Sama-sama, Master,"] balas Jeanne tersenyum.

["Tapi kau sama sekali tidak menggunakan kekuatan dari [Sacred Beast] sedikit pun untuk melawannya."] balas Ophis, ["kau juga mampu mematahkan kemampuan [Sacred Beast] nya dengan cepat, mengimbanginya walau dia sudah memasuki mode [Balance Breaker] dan menekannya agar tidak memasuki mode [Beast Breaker]"].

["melihat kemampuanmu tadi, pantas saja kau bisa menekan kekuatan [Sacred Beast : Kyuubi],"] lanjut Ophis, ["kau benar-benar kuat sekali, Naruto."]

"Arigato atas pujiannya sekali lagi, Ophis," balas Naruto, "ini berkat latihan ku terhadap guru-guruku yang melatihku hingga seperti ini."

"Tapi... kekuatan ini belum seberapa, masih ada yang lebih kuat dariku di luar sana, aku tidak boleh senang dengan kekuatanku saat ini, aku akan berjuang lebih keras agar menjadi semakin lebih kuat," batin Naruto lalu mengepalkan tangannya dengan kuat.

"Agar aku bisa melindungi orang-orang terdekatku."

.

.

.

Chapter saat ini :

.

.

Selasa, 23 Maret 2056 ( masih waktu yang sama dari Chapter lalu )

Secret Shisui Place

16.20 PM

.

Swush!

Di sebuah tempat yang penuh pepohonan di mana tempat tersebut adalah tempat Shisui melatih Naruto, muncul sang pemilik tempat yang tak lain adalah Shisui dengan menggunakan [Unique Magic : Shunshin] nya.

Shisui yang telah sampai menghembuskan nafasnya pelan lalu berjalan ke depan keluar dari hutan untuk menemui Naruto yang pasti telah menunggunya.

Setelah dia keluar dari hutan, dirinya bisa melihat Naruto yang tengah melakukan Push Up dengan satu tangan, sementara satu tangannya lagi berada di punggung dengan memegang sebuah pemberat yang biasanya dia gunakan di kakinya.

Melihat itu Shisui cukup terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Naruto, tapi dirinya langsung bisa mengatasi keterkejutannya mengingat bahkan Naruto mampu bisa mengangkat sebuah batu besar yang sedikit lebih berat dari pemberat yang ada di punggungnya

Naruto yang menyadari ada yang datang menoleh dan ia bisa melihat Shisui yang berdiri tak jauh darinya, "Ah, Shisui-sensei! Kau sudah datang," ucap Naruto lalu mendorong tangannya dengan kuat hingga ia berdiri tegak kembali lalu melepaskan pemberat yang dia pegang dengan salah satu tangannya lagi ke tanah.

Ophis yang melihat kedatangan Shisui dan Naruto tampak mengenal orang di hadapannya pun memutuskan bertanya dengan wajah penasaran, ["Naruto... Siapa orang ini?"] tanya Ophis. "Dia adalah Senpaiku sekaligus guruku namanya Uchiha Shisui, dia datang ke sini untuk melatihku," jawab Naruto melalui batinnya.

["Uchiha Shisui...,"] gumam Ophis, ["dia dari keluarga Uchiha... bukankah mereka itu orang-orang yang berbahaya?"] lanjut Ophis dengan tatapan waspada.

"Tenanglah Ophis, dia bukanlah orang berbahaya seperti yang kau bayangkan," batin Naruto menenangkan Ophis, "ingat... Jaman sudah berubah, mungkin kau teringat dengan sebuah sejarah di mana seorang Uchiha berhasil mengendalikan salah satu beast dari [The Nine Great's Legendary Beast], tapi itu sudah lama sekali... jadi tidak perlu khawatir."

Ophis yang mendengar itu terdiam beberapa saat lalu menurunkan kewaspadaannya terhadap Shisui, ["Jika kau berkata demikian, baiklah."]

"Um, Maaf membuatmu menunggu lama, Naruto," ucap Shisui meminta maaf, lalu ia seketika tersentak ketika melihat terdapat luka bakar di tubuh Naruto karena saat ini, ia tengah bertelanjang dada.

Naruto yang mendengar permintaan maaf Shisui menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak apa, lagi pula aku juga baru sekitar 40 menit di sini, selain itu aku juga tadi sempat melakukan sparing dengan Shinoa-senpai," jawab Naruto membuat Shisui terdiam karena sebelum bertanya dirinya sudah mendapat jawaban dari Naruto atas kenapa ada luka bakar di tubuhnya.

"Shinoa Hiragi, pengguna [Sacred Beast: Shikimadoji] kah?" Naruto yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, "lalu? Bagaimana hasilnya?" tanya Shisui membuat Naruto tersenyum tipis.

"Hasilnya aku berhasil mengalahkan Shinoa-senpai. Maa... Walau sedikit kesusahan di awal-awal karena kemampuan [Sacred Beast] nya, tapi akhirnya aku berhasil mematahkan kemampuan [Sacred Beast] nya itu," jawab Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya, Shisui yang mendengar itu tersentak sesaat.

"Kau berhasil mematahkan kemampuan [Sacred Beast] nya di mana yang memiliki kekuatan untuk melemahkan kekuatan fisikmu jika bersentuhan lalu mengembalikan kekuatan seranganmu dengan menjadikannya kekuatanmu hingga membuat kekuatan serangannya berlipat ganda?" tanya Shisui kembali dan Naruto menganggukkan kepalanya kembali.

Melihat itu Shisui terdiam lalu memasang pose menyentuh dagunya sambil berpikir, Naruto yang melihat itu hanya diam menunggu.

"Kalau begitu, kita lanjutkan latihan kita ke tahap berikutnya yaitu latihan kecepatan, untuk latihan fisikmu kau bisa melakukannya secara mandiri nanti," ucap Shisui setelah terdiam cukup lama.

"Apakah latihan berikutnya melatih kecepatan ayunan pedangku?" tanya Naruto penasaran, Shisui yang mendengar itu menganggukkan kepalanya. "Bukan hanya itu, latihan berikutnya aku juga akan melatih kecepatan instingmu, kecepatan tubuhmu untuk bergerak, menghindari serangan, serta untuk melakukan serangan cepat kepada musuhmu," jawab Shisui memberitahukan apa saya yang akan dia ke depannya.

"Tentu saja, kau juga akan menggunakan pemberat di tangan serta Kakimu dalam latihan nanti untuk membuat tubuhmu lebih ringan lagi," lanjut Shisui, Naruto yang mendengar itu menganggukkan kepalanya pelan.

"Baik!"

Shisui yang melihat Naruto tampak semangat tersenyum lalu mengambil sekumpulan pemberat dalam tas di tempat tersebut dan mengambil dua pemberat tangan dengan berat 80 kilogram

"Baiklah, sekarang gunakan pemberat ini di kedua tanganmu, lalu lakukan latihan ayunan pedang dasar cepat terus menerus," ucap Shisui sambil menyerahkan pemberat di tangannya.

Naruto pun menerima pemberat yang di berikan Shisui lalu memasangnya di kedua tangannya sambil berlutut, setelah memasang kedua pemberat pemberian Shisui di kedua tangannya, dirinya pun berdiri dan saat itu juga dirinya tersentak.

Naruto rasakan tangannya cukup berat untuk di gerakkan atau pun di angkat ke atas, Maksimal berat yang baru bisa dia angkat hanya lah sekitar 60-70 Kilogram yaitu pemberat yang ada di kakinya serta batu-batu berukuran besar dengan menggunakan rantainya, namun kali ini beban pemberat yang dia gunakan lebih berat dari yang sebelumnya.

["Master, sebaiknya kau tidak perlu terlalu memaksakan dirimu, jika tanganmu patah karena memaksakan diri bisa bahaya,"] ucap Jeanne dengan ekspresi khawatir di alam batinnya ketika melihat tuannya tampak kesusahan untuk menggerakkan tangannya.

Sementara Ophis hanya diam ketika melihat Naruto tampak berusaha mengangkat pemberat yang ada di kedua tangannya.

"Tidak perlu khawatir... Aku... Bisa mengatasinya," balas Naruto melalui batin, ia pun mencoba menguatkan kedua kakinya untuk tetap berdiri lalu berusaha menegakkan tubuhnya serta mencoba menggerakkan tangannya ke pinggangnya untuk menarik Jeanne dalam wujud pedang dari sarungnya.

Setelah sampai di pinggangnya, Naruto pun menggenggam erat gagang pedangnya lalu menariknya keluar dan saat menariknya dirinya hampir terjatuh karena berat di kedua tangannya, namun Naruto berusaha menguatkan kuda-kudanya yang membuatnya tidak jadi terjatuh.

Lalu Naruto pun mengambil kuda-kuda untuk melakukan latihan ayunan pedang dasar dengan menggenggam pedang di tangannya dengan kedua tangan dengan mengarah pedangnya ke depan.

Naruto pun menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, setelah itu ia pun mengayunkan pedangnya dan saat dirinya mengayunkan pedangnya ia hampir kembali terjatuh karena berat di tangannya, namun ia berusaha menjaga posisinya lalu kembali berusaha mengangkat tangannya.

Shisui yang melihat Naruto berusaha menjaga posisinya walau dirinya hampir terjatuh karena pemberat di kedua tangannya tersenyum tipis, "Tampaknya Izumo-san benar-benar melatih Naruto, dengan keras hingga membuatnya seperti sekarang," batin Shisui memejamkan matanya sesaat lalu membuka matanya kembali.

"Lakukan latihan itu selama dua jam, Naruto jika kau tidak kuat, katakan padaku maka aku akan menghentikan latihanmu hari ini, dan kau bisa beristirahat untuk latihan besok."

"Baik!"

.

Other Side Konoha City

.

Beralih ke kota Konoha di waktu yang sama, terdapat seorang perempuan rambut merah dengan gaun merah bercorak hitam tengah berjalan dengan tenang sambil melihat sekitarnya, matanya yang hijau terus bergulir ke sana kemari layaknya seperti mencari seseorang.

"Di mana Kau...," gumam Perempuan tersebut sambil mengendus sebuah bau seperti mencari sesuatu, "dari baunya dia sempat melewati tempat ini... tapi aku tidak bisa merasakan kekuatannya, Kuso... Aku harus cepat-cepat mencarinya sebelum..."

Perkataan perempuan itu terhenti ketika penciumannya yang harusnya mencari sesuatu yang sangat penting tergantikan dengan sebuah bau menyengat dan nikmat

Perempuan itu mencium bau tersebut sedalam mungkin lalu melihat ke sumber bau tersebut, "Bau apa ini? Baunya sungguh menyengat dan nikmat," gumam perempuan itu lalu langsung ke sumber bau yang dia cium.

Shhhsss!

Setelah mengikuti bau yang dia cium, ia pun sampai di sebuah kios kecil menjual cumi-cumi bakar, "Jadi baunya dari sini," batin perempuan itu, "tu-tunggu! Apa yang aku lakukan! Aku harusnya mencari dia bukannya ini?!" batin perempuan itu sambil menggelengkan kepalanya pelan berusaha menyadarkan dirinya bahwa ia punya tugas penting.

Perempuan itu seketika tersentak ketika melihat pemilik Kios tampak membersihkan sebuah cumi-cumi yang cukup besar lalu memotongnya menjadi beberapa bagian lalu menusuknya dengan sebuah tusuk sate dan memanggangnya.

Perempuan itu terdiam ketika bau menyengat dari cumi itu semakin keras, pemilik kios pun membalik cumi-cumi yang telah dia panggang lebih dahulu di mana cumi-cumi tersebut telah menjadi berwarna cokelat lalu.

Dia yang melihat itu tidak berkedip sedikit pun ketika melihat hal itu cumi-cumi itu tampak terasa lezat di matanya, setelah membaliknya pemilik kios lalu melumuri sebuah saus yang membuat cumi-cumi itu tampak semakin lezat.

Perempuan itu seketika meneguk ludahnya, cumi-cumi itu tampak terlihat menggoda di matanya, dan ia ingin sekali merasakan cumi-cumi itu. Sang pemilik kios yang merasakan ada tatapan yang sangat tajam ke arah kiosnya menoleh dan ia terkejut ketika melihat seorang perempuan berdiri diam sambil menatap masakannya dengan serius serta sedikit air liur di sudut bibirnya.

"Ny-Nyonya?"

"A-A-Ah! Ha'i!" perempuan itu pun seketika tersadar dari lamunannya dan ia melihat pemilik kios yang menatap khawatir dirinya.

"Kau tidak apa?" tanya sang pemilik kios. "A-Ah, aku baik-baik saja," balas perempuan itu sambil tersenyum canggung.

"Etto... Ojii-sama... Apakah aku bisa mendapatkan itu?" tanya perempuan itu dengan polosnya. "Ah? Ini? Tentu 5 Tusuk Cumi-cumi panggang seharga 500 Yen," balas Pemilik kios membuat perempuan itu terdiam.

"Yen?" tanyanya dengan polos. "Kau tidak tahu? Uang, yang aku maksud itu uang?" balas pemilik kios sambil menunjukkan sebuah koin yen membuat perempuan itu semakin terdiam.

"Ah... tapi... aku tidak memiliki benda seperti itu," balas sang perempuan membuat pemilik kios terdiam sesaat. "Jika kau tidak bisa membayarnya kau tidak bisa mendapatkannya," lanjut pemilik kios lalu melanjutkan memasaknya.

Sang perempuan yang mendengar itu memasang wajah kecewa, lalu ia pun mencoba melangkah pergi dari sana, namun langkahnya terhenti ketika bau tersebut benar-benar sungguh memancing penciumannya, apa lagi dirinya merasa lapar saat ini.

Perempuan itu pun menghadap ke arah kios itu kembali dan melihat sang pemilik kios meninggalkan masakan di panggangannya dan membersihkan cumi-cumi baru.

Sang pemilik kios yang telah membersihkan cumi-cumi serta menyiapkannya untuk di panggang seketika terkejut ketika melihat semua cumi-cumi di panggangnya menghilang.

"Waaarghh! Di mana semua cumi-cumi panggangku!"

Sementara itu di arah lain, tampak perempuan rambut merah sebelumnya tengah berlari dengan puluhan cumi-cumi panggang di tangannya, perempuan itu pun memakan satu sate cumi-cumi itu dan seketika ia tersentak dengan mata membinar.

"UENAKK! INI SUNGGUH ENAK SEKALI!" teriak perempuan itu dengan nada senang, "Tidak aku sangka, dunia manusia mampu membuat masakan seenak ini?!" lanjut perempuan itu terus berlari dan melupakan tujuan utamanya.

.

Disclaimer

Naruto © Masashi Kisimoto

High School DxD © Ichiei Ishibumi

Summary : Uzumaki Naruto, Sosok pemuda yang tidak harus kehilangan ingatannya akibat benturan keras dari keluarga yang ingin membunuhnya, tetapi dia di selamatkan oleh sebuah keluarga dan membawanya ke kehidupan yang baru, bagaimana kah perjalanan hidupnya yang baru kali ini?

Naruto : The Magical Battle

Pair :

Naruto x ...

Genre : Alternative Universe, Adventure, Fantasy, Romance, Humor, Sci-Fi, Echhi, Incest, Harem, Future!Sett.

Rate : M

Warning : Typo, OC, OOC, AU, Multichap, Jutsu/Magic Buatan sendiri, Alur berantakan dan Lain-lain, Smart!Naru, Friendship!Vali.

"Naruto." berbicara

"Naruto." batin

["Naruto."] Beast/Sacred Beast berbicara

["Naruto."] Batin Beast/Sacred Beast.

.

AliA - Impluse

.

Drum sfx

Gambar memperlihatkan tanah yang bergerak cepat hingga akhirnya muncul sebuah cahaya terang.

Guitar & Piano & Violin sfx

Setelah itu muncul judul cerita Naruto : The Magical Battle

Kusatta

Gambar memperlihatkan team Naruto di mana Naruto berada di tengah dengan Gabriel di sisi kiri dan Michella di sisi kanan serta terdapat lambang Libra di belakang mereka melihat ke arah kemera.

sekai ga boku wo mushibandeita tte

Lalu gambar di ganti dengan Team Sasuke serta Menma dengan lambang ular serta rubah di belakang mereka, dan gambar kembali berubah ke wajah Naruko yang menundukkan wajahnya yang lirih sambil memejamkan matanya.
kattena

Gambar kembali berubah dengan gambar team Kiba dengan lambang anjing menyeringai.

risou dake

Layar berubah kembali dengan Team Neji dengan Neji di tengah, Tenten di sisi kanan dan Rock Lee di sisi kiri yang tersenyum ke arah kamera dengan lambang kepalan tinju di belakang mereka.

nani mo kikazu

Gambar berubah kembali menjadi Team Shikamaru di mana Shikamaru berada di tengah dengan Chouji di sisi kirinya dan Ino di sisi Kanannya serta lambang bunga lotus putih.
oshitsukerarete

Layar kembali berubah dengan Team Uchiha di mana terdapat Shisui di tengah dengan Itachi di sisi kanan dan Naori di sisi kirinya dengan lambang Uchiha di balakang

Boku no nani wo

Gambar kembali berubah dengan Team Tenka di mana Tenka di tengah sambil tersenyum manis serta mengangkat tangannya ke arah kamera, Kyouka yang ada di sisi kirinya serta Arthuria di sisi kanannya dengan lambang Sebuah pedang dengan pusaran di belakang pedang.

shitteiru nda?

Gambar kembali di ganti dengan Team Gremory di mana terdapat Rias berada di tengah, dengan Akeno di sisi kiri dan di sisi kanannya terdapat Shinoa dengan lambang Spirit api membawa Tombak petir serta cahaya merah.
Shinasadame sarete

Gambar kembali berubah dengan gambar ruangan Tsunade dan terdapat pembimbing masing-masing team yang menoleh ke arah kamera sambil tersenyum.

tamaru mon ka?

Lalu gambar kembali berganti dengan kediaman ruang tamu kediaman Michella di mana terdapat Nei yang tersenyum senang ke arah kamera dengan Grayfia di sampingnya.

Nanakorobiyaoki kurikaeshite

Lalu gambar kembali berubah dengan gambar 3 bayangan wanita yang belum di ketahui.
seikai ga nani ka wakaranai

Lalu gambar memperlihatkan gambar Jeanne, serta Inori dan Ophis yang berada di kegelapan dengan wajah kosong mereka lalu mereka menoleh ketika melihat sebuah cahaya terang menyinari mereka.

Damatte itanda hitei sareru no kowaku natte

Mereka pun mulai berdiri dan berjalan mendekati cahaya tersebut.
Boku no hangeki sutoorii

Setelah itu Jeanne menggenggam cahaya tersebut menggunakan tangan kirinya, Inori menggenggam cahaya tersebut dengan tangan kanannya, sementara Ophis menggenggam cahaya tersebut dengan kedua tangannya.

ima ni mitero hora.

Seketika cahaya tersebut pun berubah menjadi sosok Naruto yang tersenyum sambil menarik tangan Jeanne, serta Inori dan Ophis yang memeluk erat leher Naruto dari belakang, Jeanne, Inori serta Ophis yang melihat itu tersentak.

Shoudou? Gensou? stand up right now!

Layar kembali berubah di mana Michella yang terbang dengan sayap apinya mengibas sabit apinya hingga memunculkan tornado api biru,.
Nantodemo ie kimeta no wa boku da

Lalu layar kembali berubah di mana Gabriel yang menyerang musuh dengan secara brutal hingga membuat ledakan besar dan dari balik ledakan keluar Naruto yang datang sambil berputar dan mengayunkan pedangnya ke arah para musuhnya.

we can be the change need it!

Gambar lalu berubah dengan gambar Azazel serta Kakashi yang saling bekerja sama mengalahkan banyak musuh.

Joutou janai kakugo wa dekita!

Gambar kembali berubah di mana Team Sasuke serta Team Menma melawan banyak musuh, lalu di ganti dengan wajah Naruko yang menoleh dengan ekspresi khawatir.

Kanjou kaihou stand up right now!

Lalu gambar kembali berganti dengan gambar seorang perempuan yang melayang di udara melayangkan sebuah serangan berwarna putih ke arah Naruto

Boku wa boku da hai agatteyaru

Gambar kembali di ganti dengan Naruto yang melesat ke arah serangan tersebut dan menerobosnya dengan menggunakan tangan kirinya.

we can be the change need it

Lalu gambar di ganti dengan wajah perempuan yang melayang menyeringai ke arah Naruto Lalu menghentikan serangannya dan melesat ke arah Naruto.

kankaku juushi doko ga waruino?

Layar kembali diganti dengan Naruto yang berhasil menembus serangan perempuan tersebut lalu bersiap beradu tinju dengan perempuan tersebut lalu layar berubah menjadi putih

Zenbu uso ka? Kudaranai

Layar kembali berganti dengan gambar Naruto dari depan yang berjalan tenang

Rikutsudarake tsumaranaina

Lalu gambar memperlihatkan tangan Naruto yang menarik pedang di pinggangnya sambil memutar-mutarnya.

Boku wa boku da

Setelah itu Naruto mengangkat pedangnya setinggi dadanya dengan sisi pedangnya menutupi sebagian wajahnya.

It's none of your business.

Tangan Naruto yang menggenggam gagang pedangnya pun memutar gagangnya

Boku wa Boku da!

Seketika Naruto tertutupi oleh luapan Energi yang sangat terang.

Guitar, Piano & Violin sfx

Layar kembali di ganti memperlihatkan tubuh Naruto yang terlapisi armor putih lalu gambar kembali berubah wajahnya lalu membuka matanya yang berubah menjadi emas.

.

Chapter 17 : Let me, Intruduce my self...

.

Kediaman Watch

18.40 PM

.

Malam hari telah tiba, di kediaman Watch bagian ruang tamu, tampak pemilik rumah besar tersebut yang tak lain adalah Michella menatap khawatir ke arah pintu masuk kediaman tersebut.

Pasalnya Naruto pergi berlatih dengan luka bakar bekas sparingnya dengan Shinoa, dan saat ini dia belum kembali juga. Dirinya takut jika Naruto memaksakan dirinya kembali hingga membuatnya belum kembali sampai sekarang.

"Nee-chan," panggil Nei sambil mendekati Michella bersama Inori, "Nee-chan masih menunggu Nii-chan?".

Michella yang mendengar itu mengangguk pelan, Nei yang melihat wajah khawatir Michella menggenggam tangan nya dengan lembut lalu tersenyum.

"Jangan khawatir, Nii-chan pasti baik-baik saja dan akan kembali dengan segera," ucap Nei mencoba membuat Michella untuk tidak khawatir. Michella yang mendengar itu tersenyum lalu mengelus tangan Nei yang menggenggam tangannya, "Um, Arigato telah menghiburku, Nei-chan," balas Michella.

Seketika Nei tersentak lalu tersenyum ke arah pintu, "Dia datang!" ucap Nei membuat Michella juga menoleh ke arah pintu, dan benar saja pintu rumah itu pun terbuka dan memperlihatkan Naruto yang baru saja kembali dari latihannya.

"Okaerinasai! Nii-chan!" ucap Michella serta Nei kompak sambil mendekati Naruto. "Ah! Tadaima! Michella, Nei-chan! Inori-chan!" ujar Naruto sambil memasuki kediaman.

"Um, Okaeri," balas Inori terakhir sambil tersenyum tipis. "Nii-chan! Kenapa kau lama sekali! Apa kau memaksakan dirimu berlatih lagi? Padahal kau itu sedang dalam keadaan terluka? Apa kau tidak bisa beristirahat hingga lukamu sembuh?" ucap Michella panjang lebar membentak Naruto.

"Ah-Ahahaha, Gomen-gomen," balas Naruto sambil tersenyum canggung lalu menyentil pelan kening Michella hingga membuatnya mengaduh pelan, "tapi, di sekolah tadi, Nii-chan sudah bilang bukan? Tidak perlu khawatir, Nii-chan tidak memaksakan diri tadi kok," lanjut Naruto sambil tersenyum.

Michella yang mendengar itu mengembungkan pipinya sambil mengelus keningnya yang di sentil oleh Naruto, "Tapi tetap saja, siapa yang tidak khawatir jika Nii-chan belum kembali dari berlatih padahal Nii-chan masih terluka," balas Michella.

"Eh? Nii-chan, kau terluka?" tanya Nei dengan wajah terkejut serta khawatir. "Ya, tapi luka ini bukan apa-apa, terima kasih telah mengkhawatirkan ku, Nei-chan," jawab Naruto sambil tersenyum lalu mengelus pelan rambut Nei.

"Ah, Naruto-sama, Okaerinasi," ucap Grayfia menyambut kedatangan Naruto, "maafkan aku tidak sempat menyambutmu karena aku harus mengurus makan malam bersama yang lainnya."

"Tidak apa, Grayfia-san," jawab Naruto sambil tersenyum, "apa Kaa-chan belum kembali?" tanya Naruto dan di balas gelengan oleh Grayfia.

"Dia belum kembali."

"Ah! Kaa-chan sebentar lagi sampai! Aku bisa merasakannya!" ucap Nei setelah dirinya tersentak kembali sesaat. "Souka, kalau begitu aku sebaiknya pergi ke kamar dan membersihkan badanku lalu kita sama-sama makan malam bersama," ucap Naruto lalu berlari pelan ke arah kamarnya.

Setelah memasuki kamarnya, Naruto mengunci kamarnya lalu meletakkan tasnya dan mendudukkan dirinya di kasur sambil mengelus pergelangan tangannya.

Yap, tangannya mengalami pegal karena latihan yang ia jalani hari ini, tapi Naruto berusaha menahannya agar mereka tidak mengetahuinya.

["Mou, padahal aku sudah memperingatimu, Master,"] ucap Jeanne perlahan mulai berubah menjadi wujud manusianya. "Ahahaha, Gomen... Aku tidak menyangka akan menjadi seperti ini," balas Naruto sambil tersenyum canggung.

["Jadi... ini tempat di mana kau biasa tidur, Naruto-kun?"] tanya Ophis dan di balas anggukkan pelan oleh Naruto, ["Hehh, tidak buruk."]

Perlahan dari tubuh Naruto pun keluar cahaya ungu yang mulai membentuk Ophis membuat Naruto terkejut karena dia bisa keluar dari dalam tubuhnya.

"Kau bisa keluar dari dalam tubuhku?" tanya Naruto dengan suara yang di kecilkan. "Tentu saja, Aku bisa keluar serta masuk ke dalam tubuhmu kapan pun aku mau," jawab Ophis.

"Kau tidak perlu khawatir, Jiwaku serta Kekuatanku masih berada di dalam dirimu dengan kata lain, bisa di bilang aku yang di luar ini hanya lah wadah kosong saja."

"Ah, Souka," gumam Naruto paham, lalu Ophis pun berjalan ke arah lemari buku di kamar Naruto dan melihat buku-buku di sana.

"Apa semua ini bukumu?" tanya Ophis sambil melirik Naruto. "Ah, Ya, itu semua bukuku, jika kau ingin membacanya silahkan, aku ingin membersihkan tubuhku lebih dahulu," ucap Naruto lalu berdiri lalu mengambil handuknya serta pakaian gantinya dan pergi ke kamar mandi meninggalkan Jeanne serta Ophis yang sedang membaca salah satu buku di kamar Naruto.

Jeanne yang hanya berdua saja dengan Ophis terdiam sambil memandang jelmaan si Naga Tak Terbatas tersebut dengan pandangan gelisah serta takut.

Siapa yang tidak gelisah serta takut ketika bersama seekor [Older Legendary Dragon's Beast] yang memiliki kekuatan sangat besar bahkan bisa saja membunuh dirinya kapan saja.

Tapi mengingat Ophis tampak tidak melakukan niat buruk padanya, serta tuannya. Mungkin saja dia tidak semengerikan yang dia ketahui dulu di mana mereka para [Beast] menganggap bahwa [Ouroboros Dragon] adalah ancaman bagi mereka.

Tapi dirinya tetap meragukan Ophis, apakah dia tidak semengerikan cerita-cerita dulu, atau dia hanya berpura-pura hingga mendapatkan kesempatan untuk keluar dan membuat petaka.

Meneguk ludahnya, Jeanne pun memutuskan untuk bertanya dengan lembut, "Ne, Ophis...-san," panggil Jeanne dengan nada gugup. Ophis yang di panggil menoleh ke arah Jeanne dan menghentikan membacanya sesaat.

"Sebagai [Sacred Beast] Master dan melindunginya dari segala ancaman...," ucap Jeanne dengan wajah gugup, "apa kau benar-benar tidak ada niat buruk pada Master?"

Ophis yang mendengar itu terdiam sesaat, dirinya tahu Jeanne pasti akan meragukannya dan itu adalah hal wajar. Apa lagi dirinya yakin cerita buruk mengenai dirinya sudah tersebar di seluruh dunia, namun berita buruk itu sebenarnya adalah sebuah kepalsuan

"Aku tahu kau akan meragukan ku," balas Ophis sambil membaca buku di tangannya kembali, "tapi kau tidak perlu khawatir, aku tidak ada memiliki niat buruk terhadap Naruto-kun."

"Buat apa aku melakukan niat buruk terhadapnya yang sudah membebaskanku serta mau menjadikan dirinya sebagai wadah untuk diriku sembunyi, tentu saja aku tidak akan melakukan hal itu."

"Aku tidak masalah mengenai dirimu yang memiliki tugas untuk melindungi masterku, karena itu sudah menjadi tanggung jawabmu, dan aku juga tidak akan ikut campur," lanjut Ophis membuat Jeanne yang mendengar itu terdiam beberapa saat lalu menghembuskan nafas lega.

"Baguslah... Jika seperti itu," gumam Jeanne lalu tersenyum kepada Ophis, sementara Ophis hanya diam sambil melanjutkan membaca buku di tangannya.

Tak berselang lama Naruto pun keluar dari kamar mandi dengan keadaan bertelanjang dada serta menggunakan celana santai pendek berwarna orange, "Huft, segarnya," gumam Naruto sambil mengerikan rambutnya dengan handuk.

Jeanne yang melihat Naruto keluar dalam keadaan seperti itu merona pipinya serta jantungnya berdebar kencang ketika melihat Naruto selalu tampak sexy dan tampan begitu selesai membersihkan tubuhnya.

Namun pandangannya seketika berubah ketika melihat luka bakar akibat sparing dengan Shinoa yang masih membekas di tubuh Naruto, ia yang melihat itu pun berjalan mendekati Naruto yang masih mengeringkan rambutnya.

Setelah di dekat Naruto, ia menyentuh luka yang ada di tubuh Naruto membuatnya terkejut karena Jeanne telah di depannya dan menyentuh tubuhnya.

"Je-Jeanne-chan," gumam Naruto dengan nada tergagap, Jeanne hanya diam sambil mengelus luka di tubuh tuannya dengan pelan agar tidak menyakitinya. "Ne, Master... Apa kau yakin tidak ingin menyembuhkan luka di tubuhmu ini?" tanya Jeanne sambil menatap Naruto dengan wajah khawatir.

Naruto yang melihat wajah khawatir Jeanne merona tipis karena wajahnya tampak imut. Berdehem pelan, Naruto pun menatap Jeanne sambil tersenyum tipis, "Um, kau sendiri bisa lihat di beberapa tubuhku juga terdapat bekas luka selain bekas luka bakar ini, jadi tidak perlu khawatir," ucap Naruto menunjukkan beberapa bekas luka latihannya dulu.

Jeanne yang mendengar itu terdiam sambil memandang wajah Naruto serta rambutnya yang masih belum kering, perlahan Jeanne mengambil handuk yang ada di kepala Naruto dengan kedua tangannya menggenggam ujung handuk yang menggantung di sisi kiri dan kanan wajah Naruto.

"Rambutmu masih belum kering, Naruto-kun," ucap Jeanne lalu menarik kedua ujung handuk di tangannya dengan pelan membuat kepala Naruto sedikit menunduk menggunakan kesempatan itu, Jeanne langsung mencium Naruto dengan mesra.

Naruto yang di cium oleh Jeanne melebarkan matanya dengan pipi merona merah, sementara Ophis yang melihat Jeanne serta Naruto berciuman di hadapannya hanya diam dengan pipi merona tipis.

Setelah beberapa detik, Jeanne pun melepaskan ciumannya dan tersenyum manis kepada Naruto yang terdiam dengan wajah memerah, "Je-Jeanne-chan," gumam Naruto sambil menyentuh bibirnya. "Fufufu, Gomen, aku hanya tidak tahan untuk menciummu," balas Jeanne sambil tertawa halus lalu meminta maaf kepada Naruto karena tiba-tiba menciumnya.

"Jika kalian ingin berciuman, lakukan di tempat lain, di sini masih ada orang loh," ucap Ophis membuat mereka berdua tersentak karena lupa ada Ophis di sini.

Jeanne serta Naruto pun menjaga jarak mereka serta mengalihkan wajah mereka yang memerah karena malu, tak berselang lama mereka mendengar suara ketukan di pintu kamar tersebut.

"Naruto-sama, apa Anda sudah selesai? Semuanya telah menunggu Anda."

"Ah! Aku sudah selesai, aku akan turun sekarang," ucap Naruto sambil menggunakan bajunya lalu melihat ke arah Jeanne serta Ophis dan memberi tanda untuk bersembunyi.

Jeanne pun merubah dirinya menjadi wujud pedangnya dan bersandar di sisi kasur Naruto, sementara Ophis mengembalikan buku di tangannya ke lemari buku Naruto lalu masuk kembali ke dalam tubuh Naruto.

Setelah merasa aman, Naruto pun membuka pintu kamarnya dan ia melihat Grayfia yang telah menunggunya di depan pintu.

"Mari, Naruto-sama," ucap Grayfia mengajak Naruto pergi ke ruang makan untuk makan bersama. "Ah, tunggu sebentar, Grayfia-san," panggil Naruto membuat Grayfia menghentikan langkahnya sesaat dan menatap Naruto kebingungan.

"Ada apa, Naruto-sama?"

"Etto... Ne, Grayfia-san... Nanti malam saat jam tidur... Bisakah kau ke kamarku sebentar? Aku butuh bantuanmu," ucap Naruto sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.

Grayfia yang mendengar itu terdiam beberapa saat lalu menganggukkan kepalanya pelan, "Baiklah, nanti aku akan datang ke kamarmu, Naruto-sama."

Naruto yang mendengar itu tersenyum, "Arigato, Grayfia-san," balas Naruto lalu kembali mengikuti Grayfia menuju ruang makan untuk makan bersama yang lainnya. Setelah sampai di ruang makan, Naruto bisa melihat semuanya telah duduk di kursi masing-masing dengan banyak makanan di hadapan mereka.

Ophis yang ada di tubuh Naruto melihat banyaknya makanan di hadapannya terdiam dengan mulut sedikit terbuka, makanan di hadapannya tampak sangat lezat serta menggiurkan, melihatnya saja membuat perutnya berbunyi, dirinya meneguk ludahnya, ia ingin merasakan makanan di hadapannya.

"Oh, Naruto? Apa kau juga baru sampai?" tanya Tsunade dan di balas anggukkan oleh Naruto. "Ya, aku habis berlatih tadi," jawab Naruto sambil mendudukkan dirinya.

["Uhmmm..."] Naruto yang mendengar gumaman pelan Ophis menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa, Nii-chan?" tanya Nei ketika melihat Naruto tampak seperti orang kebingungan.

"A-Ah, Ti-Tidak, bukan apa-apa," balas Naruto sambil tersenyum canggung lalu mengambil sumpitnya. "Jaa, mari kita mulai," ucap Tsunade lalu mengatupkan tangannya bersama yang lain.

"Ittadakimasu!"

Naruto pun menyumpit daging panggang di salah satu piring lalu mencoba memakannya, namun saat akan memasukkan ke mulutnya suara Ophis kembali terdengar di kepalanya.

["A-Ahhhh!"] suara tersebut seperti terdengar tidak rela akan sesuatu, jadi dia memutuskan untuk bertanya. "Ophis, ada apa?" tanya Naruto melalui batinnya.

["A-Anoo... Bolehkah... Aku meminta itu, Na-Naruto-kun?"] tanya Ophis membuat Naruto terdiam sesaat lalu menyadari jika Ophis dan Jeanne juga pasti kelaparan. "Ah, Jika kau ingin, aku akan memintanya untuk menyisakannya untukmu," ucap Naruto melalui batinnya membuat Ophis yang mendengar itu membinar matanya.

["Be-Benarkah?"] Naruto yang mendengar itu menggumam pelan, Ophis yang mendengar itu tersenyum senang. "Etto, ne Grayfia-san," panggil Naruto membuat Grayfia menoleh ke arahnya.

"Ha'i, Naruto-sama?"

"Anoo, bisakah kau menyisakan sedikit semua makanan di sini nanti? Aku mungkin nanti malam akan makan kembali," ucap Naruto sedikit tidak masuk akal di telinga Grayfia dan yang lainnya, namun ia hanya mengangguk dan mengikuti perkataan Naruto.

"Baiklah, Naruto-sama."

"Nii-chan? Kenapa kau tidak memakan sebanyak yang kau bisa sekarang saja?" tanya Michella dan di jawab gelengan oleh Naruto.

" A-Ah, tidak... aku akan makan sedikit saja sekarang... aku kurang nafsu makan... Mungkin nanti malam aku akan lapar lagi jadi aku bisa memakan sisa ini nanti."

Mereka yang mendengar itu terdiam sesaat lalu menganggukkan kepala mereka jika Naruto memang kurang nafsu makan mereka tidak bisa memaksanya.

Naruto pun melanjutkan makannya dan ia berusaha menyisakan sedikit makanan untuk Ophis serta Jeanne nanti. Setelah selesai makan Grayfia, Nei serta beberapa pelayan lain mengambil seluruh perabotan yang ada di meja dan mengumpulkan sisa makanan yang tersisa untuk Naruto nanti.

"Tunggulah nanti malam, Ophis dan kau bisa memakan semua itu," ucap Naruto setelah meneguk minumannya. "Ne, Naruto-kun," panggil Tsunade yang masih duduk di meja makan membuat Naruto sedikit tersentak karena di panggil oleh Tsunade.

"Ha-Ha'i, Kaa-chan?"

"Aku mendapat pesan dari tetua Uzumaki tadi, dia memintaku dalam waktu seminggu lagi untuk mengajakmu bertemu dengannya, dia bilang ingin membicarakan sesuatu denganmu," ucap Tsunade dengan wajah serius membuat Naruto terdiam beberapa saat.

"Membicarakan sesuatu yang penting?" tanya Naruto ingin tahu. "Dia tidak memberitahuku detailnya, jika kau ingin tahu? Kau harus datang menemuinya Naruto-kun," jawab Tsunade membuat Naruto kembali terdiam sambil berpikir.

Tetua Uzumaki ingin menemui dirinya dan membicarakan sesuatu yang penting, mengenai apa? Dirinya benar-benar penasaran. Tapi dirinya juga takut bisa saja ini adalah jebakan dari Minato, jadi dirinya bimbang.

"Sebaiknya Nii-chan menemui mereka, lagi pula dia adalah salah satu bagian dari keluarga asli Nii-chan," saran Michella sambil tersenyum, "tidak perlu khawatir, lagi pula yang mereka mintai itu adalah Kaa-chan Naruto yang mendengar itu terdiam sesaat lalu menghembuskan nafasnya pelan.

"Baiklah... Aku akan mengosongkan jadwalku seminggu lagi," jawab Naruto membuat Tsunade tersenyum tipi. "Baguslah jika begitu," jawab Tsunade lalu berdiri dari duduknya.

"Jaa, aku akan ke kamarku lebih dulu, ada yang harus aku urus," ucap Tsunade dan balas anggukkan oleh yang lainnya. "Etto, Michella-chan...," panggil Inori membuat Michella melihat ke arahnya begitu juga Naruto dengan wajah penasaran.

"Ano... Bisakah kita melanjutkan yang tadi sore?" tanya Inori dengan wajah memohon, Michella yang mendengar itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Ha'i, tentu saja," jawab Michella membuat Inori memasang wajah senang.

"Apa yang ingin kalian lanjutkan?" tanya Naruto ingin tahu. "Inori-nee sedang mempelajari origami kertas, Nii-chan, dari tadi sore dia gagal terus jadi dia ingin belajar sampai berhasil," jawab Nei membuat Naruto tersenyum tipis.

"Souka? Baguslah kalau begitu," balas Naruto lalu berdiri dari duduknya, "Jaa, Aku juga akan ke kamarku, ada buku yang ingin aku baca," ucap Naruto sambil berjalan ke arah Grayfia yang telah mengumpulkan semua sisa makanan yang di minta Naruto.

"Apakah sudah selesai, Grayfia-san?" Grayfia yang mendengar suara Naruto sedikit tersentak membuat Naruto juga ikut tersentak. "Na-Naruto-sama... jangan mengagetkanku seperti itu," ucap Grayfia dengan wajah sedikit kesal.

"Ahahaha, Gomen-gomen," balas Naruto sambil tersenyum dan meminta maaf kepada Grayfia, padahal dirinya tidak ada niat mengagetkannya. "Huft, ya... Aku sudah menyiapkannya," jawab Grayfia sambil menunjukkan makanan sisa yang telah di kumpulkan serta berisi nasi, cangkir minum dan teko air putih, Naruto yang melihat tersenyum lalu mengambil sisa makanan yang di siapkan di bawah nampan.

"Arigato, Grayfia-san, aku akan membawanya ke kamarku sekarang, buat jaga-jaga saja, dan jangan lupa nanti malam datanglah ke kamarku ya," ucap Naruto dan di balas anggukkan oleh Grayfia lalu pergi meninggalkan Naruto untuk melanjutkan tugasnya. Tanpa sepengetahuan Grayfia, Naruto mengambil satu pasang sumpit serta satu gelas untuk Jeanne lalu Naruto pun langsung berjalan menuju kamarnya, setelah sampai di kamarnya Naruto pun mengunci pintu ruangannya.

"Baiklah, kau bisa keluar Ophis, Jeanne-chan," ucap Naruto, dengan cepat Ophis langsung keluar dari tubuh Naruto dan mengambil nampan yang berisi sisa makanan tadi, sementara Jeanne mengubah kembali ke wujud manusianya dan duduk di sisi kasur Naruto.

"Wahhhh! Kelihatannya Lezat sekali! Jaa! Ittadakimaugh!" ucap Ophis dengan tatapan lapar lalu dengan tidak sabar ingin memakan makanan di depannya, tetapi Naruto langsung memukul kepalanya membuatnya meringis kesakitan. "Sabarlah sedikit, Baka! Itu bukan hanya untukmu, berbagilah dengan Jeanne-chan," ucap Naruto membuat Jeanne tersentak.

"Ti-Tidak, itu tidak perlu Naruto-kun," balas Jeanne mencoba menolak, tetapi tiba-tiba perutnya berbunyi membuat wajahnya memerah malu. "Dengar? Perutmu menolak ucapanmu, kemarilah dan makan bersama Ophis," ucap Naruto sambil duduk di kursi meja belajarnya.

"Tapi..."

Ophis yang melihat Jeanne juga tampaknya belum makan seperti dirinya menghembuskan nafasnya pelan, lalu ia pun berdiri dan mendekati Jeanne.

"Sudahlah, aku tidak keberatan berbagi denganmu," ucap Ophis sambil menggenggam tangan Jeanne, "tapi sebagai gantinya...," gantung Ophis lalu menatap Naruto yang juga menatap mereka.

"Besok kau harus memberiku makanan enak dua kali lipat!" lanjut Ophis sambil menunjuk Naruto dengan wajah menuntut. Naruto yang mendengar itu tersenyum lalu mengambil salah satu buku di rak bukunya, "Baiklah, sekarang makanlah bersama dan jangan sampai berantakan, jika sudah letakan di sisi kasurku," balas Naruto lalu mulai membaca bukunya.

Jeanne dan Ophis pun duduk bersama lalu memakan makanan yang telah di sediakan untuk mereka, begitu makanan tersebut masuk ke dalam mulut mereka, mereka berdua langsung tersentak dengan pandangan membinar.

"Uenak!" teriak Ophis dengan nada yang di kecilkan. "Ini enak sekali," gumam Jeanne sambil menutup mulutnya lalu mengambil sesuap kembali. Naruto yang membaca bukunya mendengar nada mereka tampak menyukai makanan yang mereka makan tersenyum lalu melanjutkan membaca bukunya.

Dirinya tengah membaca buku [Magic Element] dari tingkat Dasar hingga tertinggi bahkan hingga tahap [Combine Magic Element] dan dirinya telah berhasil mempelajari satu [Combine Magic Element] berkat Inori serta Jeanne, tetapi setelah menggunakannya dirinya langsung merasa kelelahan.

Baginya itu wajar karena menurutnya kapasitas [Mana] yang ada di tubuhnya masihlah belum terlalu besar, [Mana] nya serta [Mana] yang di miliki Jeanne itu terpisah jadi itulah yang menyebabkannya mudah lelah, maka dari itu dia berniat memulai dari dasar kembali untuk menambah kapasitas [Mana] nya.

Dari yang dia pelajari, semakin sering orang melatih menggunakan [Mana] nya atau pun menggunakan [Magic] maka kapasitas [Mana] yang kita miliki akan semakin bertambah. Tetapi dirinya kali ini belum bisa mempraktikkan [Magic Element] yang dia pelajari, dirinya hanya bisa membacanya, jika dia mempraktikkannya kemungkinan besar Nei dengan kemampuannya menyadarinya.

Ophis yang masih memakan makanannya melihat ke arah Naruto yang membelakanginya serta Jeanne, karena penasaran ia pun bertanya pada Jeanne. "Apa yang dia sedang pelajari?" tanya Ophis, Jeanne yang masih mengunyah makanannya pun menelan makanannya lalu menjawab pertanyaan Ophis.

"Master saat ini tengah mempelajari [Magic Element] dari tingkat dasar hingga tertinggi," jawab Jeanne sambil ikut melihat ke arah Naruto, "dia secara sembunyi-sembunyi tanpa di ketahui siapa pun berlatih [Magic Element], Master memiliki sebuah alasan untuk menyembunyikan kekuatannya dari semua orang untuk saat ini," lanjut Jeanne sambil menundukkan wajahnya dengan ekspresi lirih

Ophis yang melihat itu sedikit kebingungan, "Kenapa?" tanya Ophis, Jeanne yang mendengar itu terdiam sesaat lalu melihat ke arah Naruto. "Master?" tanya Jeanne dan di balas lambaian tangan Naruto tanpa melihat.

"Tidak masalah, kau bisa menceritakannya, Jeanne-chan." Jeanne yang telah mendapatkan Izin menghembuskan nafasnya pelan lalu ia pun menceritakan masalah yang di alami Naruto.

Ophis yang mendengar cerita Jeanne terdiam dengan wajah terkejut, ia tidak menyangka bahwa Naruto memiliki masa lalu yang kelam dan menyedihkan, dirinya juga tidak menyangka orang tua kandung Naruto berniat membunuh anaknya sendiri.

Awalnya dia berpikir bahwa wanita yang di panggil 'Kaa-chan' oleh Naruto adalah ibu kandung Naruto, tetapi dengan cepat Jeanne memberitahu bahwa wanita itu bukanlah ibu kandungnya melainkan ibu angkatnya.

Setelah mendengar seluruh cerita dari Jeanne serta alasan kenapa Naruto menyembunyikan kekuatannya, Ophis berusaha menenangkan emosinya agar tidak mengeluarkan kekuatannya, serta tidak merusak rencana Naruto.

Lalu ia pun menatap Naruto yang masih membaca bukunya dengan tenang sambil sesekali Naruto melakukan sihir kecil dengan jari telunjuknya. "Naruto-kun, jika tidak keberatan aku juga ingin membantumu membalaskan dendam mu kepada orang tuamu," ucap Ophis membuat Naruto menghentikan membaca bukunya lalu melihat ke arah Ophis dengan senyum tipis.

"Arigato, Ophis... Tapi maaf... Aku tidak ingin menggunakan kekuatanmu, aku takut jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak nanti," jawab Naruto, Ophis yang mendengar itu menggeleng pelan. "Aku tidak menyuruhmu menggunakan kekuatanku, tapi aku akan mengajarkanmu berbagai sihir [Unique Magic] yang mungkin kau tidak ketahui," balas Ophis membuat Naruto memasang wajah tertarik.

"Bagaimana?" tanya Ophis sambil tersenyum, setelah menimbang beberapa saat Naruto pun tersenyum. "Baiklah, aku menerima tawaranmu, Ophis," ucap Naruto.

"Baiklah, jadi kapan?"

"Tidak hari ini, mungkin lain hari," jawab Naruto lalu melanjutkan membaca bukunya, "sebaiknya kaliam menghabiskan makanan kalian sebelum ada yang datang kemari."

Ophis serta Jeanne yang mendengar itu tersentak sesaat lalu langsung melanjutkan makan mereka hingga habis.

.

.

Skip time

23.40 PM

.

Waktu pun sudah menunjukkan jam tidur, Jeanne serta Ophis setelah selesai mengisi perut mereka, mereka langsung kembali ke tempat mereka dan beristirahat. Sementara Naruto dirinya juga sudah selesai mempelajari bukunya dan saat ini mendudukkan dirinya di sisi kasur sambil meregangkan pergelangan tangannya yang masih terasa sakit.

Tok! Tok!

"Permisi, Naruto-sama?" Naruto yang mendengar suara Grayfia pun melihat ke arah pintu. "Masuklah, Grayfia-san," ucap Naruto dan pintu kamar itu pun terbuka memperlihatkan Grayfia yang telah menggunakan piyama tidurnya.

Grayfia pun masuk ke dalam kamar Naruto lalu menutup pintunya dan menatap Naruto penasaran, pasalnya kamarnya tampak rapi terkecuali nampan yang berisi perabotan untuk makan yang sudah kosong, tapi dia bisa mengacuhkan hal itu sesaat karena Naruto bilang membutuhkan bantuannya, tapi apa?

"Jadi... Kau membutuhkan bantuan apa?"

Naruto menggaruk tengkuknya sesaat dengan wajah canggung, "Maafkan aku, Grayfia-san, kenapa aku memanggilmu malam-malam begini ke kamarku adalah...," gantung Naruto lalu menyodorkan tangannya, "bisakah... Kau memijit lenganku... Lenganku terasa sakit sekali.".

.

Pada akhirnya, Grayfia pun memijit lengan Naruto yang terasa sakit dengan lembut, tak hanya itu dia juga memijit kedua bahu serta punggung Naruto.

Naruto yang merasa tubuhnya serta tangannya lebih baik dari sebelumnya tersenyum lalu melirik Grayfia yang ada di belakangnya, "Arigato, Grayfia-san, pijatanmu memang yang terbaik.".

Grayfia yang mendengar itu tersenyum dengan rona merah di pipinya, "Tidak masalah, Naruto-sama," balas Grayfia sambil terus memijit Naruto, "Naruto-sama pasti memaksakan diri lagi tadi bukan? Maka dari itu Anda merahasiakannya dari Michella-sama mengenai hal ini," lanjut Grayfia dan di balas anggukkan oleh Naruto.

"Aku tidak ingin dia terlalu khawatir," balas Naruto membuat Grayfia kembali tersenyum. "Dulu, kau juga seperti ini bukan? Kau memaksakan dirimu hingga tubuhmu terdapat banyak bekas luka yang tidak bisa menghilang serta hingga kau merasakan sakit di seluruh tubuhmu membuatku harus memijatmu seperti saat ini," ucap Grayfia sambil mengingat di mana saat Naruto muda dia berlatih keras hingga memaksakan dirinya, pada akhirnya dia pun mengobati luka Naruto serta memijatnya saat tubuhnya terasa pegal.

Naruto yang juga mengingat masa itu tersenyum, "Kau sudah banyak berubah ya, Naruto-sama. Dulu kau tampak seperti anak muda yang biasa saja, tapi sekarang kau telah menjadi pemuda yang tampan dan memiliki tubuh yang luar biasa," ucap Grayfia menghentikan memijatnya lalu perlahan tangan Grayfia mulai bergerak meraba dada berotot Naruto.

Naruto yang merasakan tangan Grayfia meraba dadanya sedikit merona apa lagi dia bisa mendengar suara Grayfia tepat di samping telinganya, "G-Grayfia-san," gagap Naruto. "Panggilan itu juga," gumam Grayfia perlahan mulai memeluk Naruto.

"Dulu kau selalu memanggilku dengan panggilan, Grayfia-nee... Tapi setelah kau besar kau mengubah cara memanggilku," lanjut Grayfia dengan wajah sedikit murung, "aku merindukan panggilanmu yang dulu."

Naruto yang mendengar itu terdiam, memang apa yang di katakan oleh Grayfia memang benar, dulu dirinya memanggil Grayfia dengan panggilan 'Grayfia-nee' tapi setelah dirinya besar dirinya mengubah cara memanggilnya dengan Grayfia-san karena waktu itu dirinya masih polos dan memanggilnya dengan sebutan itu.

Tapi setelah dirinya menyadari statusnya di rumah ini, dia mengubah cara memanggil Grayfia. Dulu dia juga sering meminta Grayfia untuk tidak memanggilnya dengan sebutan 'Naruto-sama' tapi dia terus saja memanggilnya dengan panggilan itu.

"Maafkan aku, Grayfia-san... tapi karena statusku bukanlah anggota keluarga di sini waktu itu... Aku terpaksa memanggilmu dengan panggilan itu, tapi...," gantung Naruto lalu melirik Grayfia sambil tersenyum tipis, "jika kau memang menginginkannya, aku akan melakukannya, Grayfia-nee,"

Grayfia yang mendengar Naruto kembali memanggilnya dengan panggilan itu tersenyum senang, "Ah, Tapi jika kau ingin aku memanggilmu begitu, kau tidak boleh memanggilku lagi dengan sebutan '-sama'," lanjut Naruto membuat Grayfia tersentak.

"E-Eh... Ta-Tapi...," gumam Grayfia tampak ragu. "Tidak apa, dari dulu aku memintamu untuk tidak memanggilmu begitu bukan?" balas Naruto membuat Grayfia terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya.

"Baiklah, Naruto-kun." Naruto yang mendengar itu tersenyum lalu mencoba meregangkan tangannya. "Yosh, aku sudah merasa baikkan, sekali lagi Arigato, Grayfia-nee," ucap Naruto kembali berterima kasih.

"Kalau begitu, Aku akan kembali..." Grayfia yang akan mengambil nampan yang ada di kamar Naruto terhenti ketika Naruto mengambilnya. "Biar aku saja yang membersihkannya, kau bisa kembali ke kamarmu, Grayfia-nee," ucap Naruto membuat Grayfia tersentak.

"Eh... Tapi..."

"Lagi pula akulah yang perabotan ini kotor, jadi akulah yang akan membersihkannya, tidak perlu khawatir," balas Naruto sambil tersenyum, Grayfia yang mendengar itu sebenarnya ingin tetap menolak dan dia saja yang membersihkannya, tapi jika Naruto sudah keras kepala mau tidak mau dia hanya menurut.

"Baiklah... Kalau begitu saya akan ke kamarku," ucap Grayfia sambil keluar dari kamar Naruto dan di susul pemilik kamar, "Jaa Oyasuminasai, Naruto-kun," lanjut Grayfia sambil melambaikan tangannya pelan dan di balas oleh Naruto.

"Oyasumi," balas Naruto lalu berjalan turun menuju dapur untuk membersihkan perabotan di tangannya.

.

.

.

~ Naruto : The Magical Battle ~

.

.

.

Rabu, 24 Maret 2056

Dead Forest

08.00 AM

.

Di pagi yang cerah di sebuah tempat bernama Hutan kematian, terdapat seorang perempuan rambut merah tengah terbaring di salah satu pohon dengan beberapa bekas sisa bungkus makanan di sekitarnya, perempuan itu juga tampak tertidur lelap sekali hingga tidurnya terganggu dengan sebuah cahaya matahari yang masuk melalui celah pepohonan menyinari matanya.

"Ughh... Huaammmm!" perempuan itu pun bangun dari tidurnya sambil menguap lebar, lalu perempuan itu menggaruk belakang kepalanya dengan pandangan ngelantur menatap sekitarnya, "apa yang terjadi?" gumam Perempuan itu lalu menatap diam beberapa bungkus sisa makanan di sekitarnya.

Perempuan itu terdiam sejenak hingga ia teringat kejadian kemarin di mana dia mencuri beberapa makanan di stand yang dia lihat karena dia merasa kelaparan, bahkan dia sempat di kejar beberapa orang dan di tembakkan beberapa sihir, tapi dirinya berhasil melarikan diri hingga berakhir di sini.

Ia yang mengingat itu menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan wajah merasa bersalah, "Apa yang aku lakukan ini... tidak masalah?" gumam Perempuan itu, "aku mencuri makanan mereka, karena aku tidak bisa membayar mereka... tapi jika aku tidak makan, aku tidak bisa mencarinya," lanjutnya lalu seketika tersentak dan berdiri tegak.

"Ah! Benar juga! Kenapa aku sampai lupa! Aku harus mencarinya!" teriaknya, namun seketika perutnya kembali berbunyi membuat sang perempuan melenguh pelan, "Ugh... Kumohon jangan sekarang," gumamnya sambil mengelus perutnya.

Pandangannya seketika teralih ketika merasakan sesuatu dari berbagai arah mendekatinya, dan ia bisa melihat beberapa monster datang mendekatinya. Melihat itu sang perempuan terdiam sesaat lalu menjilati bibirnya, "Tampaknya ada makanan datang kemari," gumamnya dengan wajah senang, "baiklah... Akan aku jadikan kalian makananku!" lanjutnya lalu melesat maju dengan sangat cepat.

.

.

Naruto Side

.

.

Beralih ke sisi lain di mana tempat Naruto, Michella, serta Inori berada, mereka saat ini tengah berjalan bersama menuju Akademi, dalam perjalanan ke sana Naruto menyempatkan dirinya membaca sebuah buku yang ia dapat dari Ophis.

Sementara Michella dirinya berbicara ringan dengan Inori yang mendorong kursi rodanya dengan darah yang keluar dari bahunya sementara tangannya tengah membuat origami dari sebuah kertas.

["Oi! Naruto-kun! Sebaiknya kau jangan lupa dengan janjimu kemarin!"] ucap Ophis, Naruto yang mendengar itu menghembuskan nafasnya pelan. "Iya, aku tahu, tapi sekarang belum saatnya, jika mereka melihat aku membeli banyak makanan bisa-bisa mereka bertanya-tanya padaku," balas Naruto melalui batinnya.

Dengan lincah Inori melipat kertas Origami di tangannya sambil berjalan hingga akhirnya membentuk sebuah kelelawar, Inori yang melihat itu tersenyum senang lalu memanggil Naruto untuk menunjukkan hasilnya layaknya seorang anak kecil.

"Naruto-san! Lihat! Aku berhasil membuat kelelawar!" ucap Inori dengan nada senang, Naruto yang mendengar itu tersenyum lalu mengelus rambut Inori sesaat. "Kerja yang bagus," ucap Naruto lalu kembali melanjutkan membaca bukunya.

Buku yang ada di tangannya adalah buku mengenai [Unique Magic] yang belum pernah dia baca, saat membalik halaman buku di tangannya dan akan melanjutkan membacanya, dirinya terhenti ketika mendengar suara seseorang minta tolong.

"Siapa pun! Tolong!"

Naruto yang mendengar itu menghentikan langkahnya dan mencoba mencari sumber suara. "Ada apa, Nii-chan?" tanya Michella kebingungan ketika Naruto menghentikan langkahnya.

"Aku mendengar ada suara orang minta tolong," gumam Naruto mencoba menajamkan pendengarannya, Michella serta Inori yang mendengar itu saling memandang satu sama lain karena mereka tidak mendengar suara seperti itu.

"Tolong!" Pendengaran Naruto yang mendengar suara itu berasal dari salah satu gang langsung menutup buku di tangannya dan berlari cepat ke sumber suara, Michella serta Inori yang melihat Naruto berlari langsung mengejar Naruto.

Naruto yang sudah berlari masuk ke dalam gang melihat setiap celah gang hingga akhirnya dia menemukan celah gang buntu di mana terdapat beberapa Pria tengah memojokkan seorang perempuan dengan pakaian sekolah sepertinya.

Perempuan itu tampak ketakutan karena tidak bisa pergi ke mana-mana serta tidak bisa melawan mereka. Naruto yang melihat itu mengepalkan tangannya kesal karena mereka hanya berani macam-macam dengan perempuan yang lemah, dan dirinya tidak menyukai hal itu.

["Apa yang sedang mereka lakukan?"] tanya Ophis sambil menyipitkan matanya di dalam tubuh Naruto. "Mereka sedang mencoba melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya, kita tidak boleh membiarkannya," balas Naruto melalui batinnya.

"Hey!" teriak Naruto membuat beberapa pria itu melihat ke arahnya, "lepaskan dia," lanjut Naruto dengan tatapan dingin lalu melangkah ke arah beberapa pria yang menatapnya tidak suka.

"Hah! Apa yang kau lakukan di sini bocah! Sebaiknya kau pergi sebelum menyesal!" ucap salah satu Pria, namun langkah Naruto tidak berhenti sedikit pun.

"Jumlah mereka tujuh orang, jika begini akan lebih baik aku mencobanya mumpung Michella serta Inori belum datang melihat," batin Naruto melirik ke belakang sesaat lalu menciptakan lingkaran sihir berwarna cokelat hingga menciptakan tujuh batu kecil.

["Wahai yang kuasa, ciptakan, bentuklah, serta rubahlah benda di tanganku ini sesuai imajinasiku,"] batin Naruto membayangkan tujuh batu di tangannya berubah menjadi runcing, ["Unique Magic : Crafting"] lanjut Naruto lalu berlari dengan cepat ke arah tujuh pria di depannya sambil melempar tujuh batu yang telah dia ubah menjadi runcing.

Jleb! Jleb! Jleb!

Ketujuh pria yang tidak siap karena kecepatan Naruto yang membuat mereka terkejut harus terkena masing-masing batu Naruto, ada yang tertancap di bahu, lengan, kaki, dada dan pipi.

Selagi mereka merasakan rasa sakit, Naruto mengepalkan tangannya dengan kuat lalu meninju wajah mereka dengan masing-masing satu pukulan hingga membuat mereka terpental melewati perempuan yang dia tolong dan berakhir menabrak dinding hingga retak.

Naruto yang sudah memberi mereka pelajaran menghembuskan nafasnya pelan lalu memasang posisi santai, ["Tidak buruk, kau dengan cepat berhasil menggunakan [Unique Magic : Crafting] dalam sekali coba,"] puji Ophis dengan kemampuan Naruto. "Maa, tapi ini masih kecil... Aku masih belum mencobanya dengan benda yang besar," batin Naruto lalu menatap perempuan yang dia tolong tengah melihat ke tujuh pria yang dia hajar hingga tak sadarkan diri.

"Kau tidak apa?" tanya Naruto membuat perempuan itu tersentak lalu melihat ke arahnya dengan wajah lega. "U-Um, Arigato Gonzaimasu telah menyelamatkanku," jawab perempuan tersebut lalu membungkukkan badannya.

"Tidak masalah," jawab Naruto sambil tersenyum, lalu ia melirik ke belakang karena mendengar derap langkah kaki dan ia melihat Michella serta Inori yang baru saja menemukan mereka. "Akhirnya ketemu juga," gumam Michella lalu mendekati Naruto dengan bantuan Inori.

"Mou! Kau terlalu cepat, Nii-chan! Kami sampai tersesat tadi!" ucap Michella dengan wajah kesal. Naruto yang mendengar itu tertawa canggung, "Haha, gomen-gomen," balas Naruto sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Kau..." Naruto yang mendengar perempuan yang dia tolong ingin berbicara menoleh ke arahnya, "Apakah kau... Si Uzumaki Naruto itu?" tanyanya sambil menatap lekat Naruto.

"Um, itu benar sekali," jawab Naruto sambil menganggukkan kepalanya, sang perempuan yang mendengar itu terdiam beberapa saat lalu sedikit memiringkan kepalanya. "Ternyata benar, kau memiliki kumis kucing di pipimu," ucapnya dengan wajah polos membuat Naruto, Inori serta Michella terdiam sesaat.

"Eh?" beo Naruto membuat perempuan itu tersentak lalu menggelengkan kepalanya. "A-Ah! Maafkan aku! Lupakan apa yang aku ucapkan tadi!" ucapnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan wajah merona karena malu.

"E-Ehem... Maafkan aku karena telat memperkenalkan diri, namaku Asia Argento, murid kelas 1-B, salam kenal Uzumaki-san," ucap Perempuan tersebut memperkenalkan dirinya dengan sopan.

"Ho, kelas B kah? Aku baru pertama kalinya bertemu murid kelas B," gumam Naruto sambil mengelus dagunya menatap lekat perempuan yang bernama Asia di depannya sesaat. "Kalau begitu perkenalkan sekali lagi, Namaku Uzumaki Naruto, dia adikku Michella Watch serta dia Inori Yuzuriha, temanku," ucap Naruto memperkenalkan dirinya lalu memperkenalkan Michella serta Inori.

"Salam kenal, Argento-san," ucap Michella sambil tersenyum sementara Inori hanya membungkukkan badannya sesaat.

"Salam kenal," balas Asia sambil tersenyum juga. "Jaa, mari kita pergi dari sini sebelum mereka sadar, lagi pula kau juga ingin mengambil misi bukan?" usul Naruto lalu bertanya kepada Asia.

"Ha-Ha'i!" balas Asia lalu mengikuti Naruto dan yang lain pergi meninggalkan tempat tersebut. Setelah keluar dari gang tersebut, Naruto, Michella, Inori serta Asia pun pergi bersama menuju Akademi karena mereka memiliki tujuan yang sama.

"Jadi... Bolehkah aku bertanya, Argento-san?" Asia yang mendengar itu menganggukkan kepalanya. "Um, apa yang ingin kau tanyakan, Uzumaki-san?" tanya Asia.

"Etto... Saat kau di hadang oleh mereka? Kenapa kau tidak menyerang mereka dengan [Magic] mu?" tanya Naruto sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal, dirinya cukup penasaran kenapa Asia tidak mencoba melawan mereka dengan menggunakan [Magic] yang dia miliki.

Asia yang mendengar itu menggelengkan kepalanya pelan, "Aku tidak bisa melawan mereka karena aku tidak bisa menggunakan [Magic] tipe penyerang atau pun bertahan," jawab Asia, "tetapi aku hanya bisa menggunakan [Unique Magic : Healling]," lanjut Asia sambil tersenyum.

Naruto, serta Michella yang mendengar itu sedikit tersentak lalu memandang satu sama lain, hanya dengan [Unique Magic : Healling] dia berhasil masuk ke dalam Akademi Magic Konoha, itu artinya dia mempunyai sebuah talenta dengan kekuatannya itu.

"Souka...," gumam Naruto, "tapi bukankah kau pasti pernah mencoba untuk menggunakan [Magic] tipe penyerang atau pun bertahan?"

"I-Itu memang benar... Tapi, aku sedikit kesusahan melakukannya," jawab Asia sambil tersenyum canggung. Naruto yang mendengar itu terdiam beberapa saat lalu tersenyum tipis sambil mengelus rambut Asia, "Kau sudah berjuang keras ya," puji Naruto, Asia yang di elus kepalanya serta melihat senyuman Naruto merona tipis.

Karena tidak melihat jalan, Asia tersandung sesuatu dan hampir terjatuh, namun dengan cepat Naruto menangkapnya sebelum terjatuh.

"Kau tidak apa?" tanya Naruto sambil membantu Asia kembali berdiri. "A-Ah, Ha'i! Arigato, Uzumaki-san," balas Asia berterima kasih kepada Naruto.

"TEME!" Naruto yang mendengar sebuah teriakan menoleh ke sumber suara dan ia terkejut ketika seorang perempuan rambut biru tiba-tiba mengayunkan sebuah pedang ke arahnya, Naruto yang tidak mau Michella, Inori serta Asia terluka langsung melindungi mereka dan menahan serangan pedang perempuan tersebut dengan tangan kosong.

"Nii-chan!" panik Michella menatap khawatir tangan Naruto yang menahan pedang perempuan di depannya hingga mengeluarkan darah. "Apa-apaan ini? Kenapa kau tiba-tiba menyerangku?!" tanya Naruto sambil menatap tajam perempuan di hadapannya.

["Pedang ini...,"] batin Ophis sambil menyipitkan matanya. "Kau... Apa yang kau lakukan terhadap Asia-chan?!" teriak perempuan tersebut juga menatap tajam Naruto.

"Aku tidak melakukan apa-apa terhadapnya!" balas Naruto sambil mendorong pedang perempuan di hadapnya hingga terseret beberapa meter. "Dia... Kuat," batin perempuan tersebut sedikit terkejut karena Naruto berhasil mendorongnya cukup jauh hanya dengan satu tangannya.

"Xenovia-chan! Hentikan! Dia tidak melakukan apa-apa terhadapku!" ucap Asia sambil berdiri di hadapan Naruto. "Tapi, tadi aku melihat dia mencoba mencari kesempatan terhadapmu!" ucap perempuan bernama Xenovia sambil menunjuk Naruto.

"Dia tidak melakukan itu, tadi aku sempat hampir terjatuh dan dia menahanku agar tidak terjatuh," balas Asia dengan wajah serius, Xenovia yang mendengar itu menatap tajam Naruto yang juga menatapnya tajam.

"Xenovia-chan!" teriak perempuan rambut cokelat di ikat Twins sambil berlari ke arah Xenovia. Ophis yang ada di dalam tubuh Naruto melihat perempuan itu kembali menyipitkan matanya, ["Dia juga...,"] batin Ophis.

setelah sampai di sampingnya perempuan itu mengatur pernafasannya yang sedikit memburu, "bukankah... apa yang kau lakukan... sudah berlebihan?" tanya perempuan tersebut.

"Sudah aku bilang, Asia-chan baik-baik saja, apa lagi dia saat ini bersama Uzumaki Naruto," lanjutnya sambil menatap lekat Naruto. Xenovia yang mendengar itu tersentak lalu menatap lekat Naruto yang ada di hadapannya, "Jadi kau si Uzumaki Naruto itu," gumam Xenovia sambil menghilangkan pedang di tangannya.

"Apakah begitu caramu berbicara setelah menyerang orang tak bersalah?" batin Naruto menatap kesal Xenovia yang tampak memasang wajah tak berdosa. "Uzumako-san, kemarikan tanganmu," ucap Asia sambil mengambil tangan Naruto yang mengeluarkan darah.

["Wahai yang para Dewi, berikanlah kekuatan untuk bangkit bagi mereka yang kehilangan kekuatan,"] ucap Asia melantunkan mantranya dan seketika tangan Asia mengeluarkan sebuah cahaya yang perlahan menyelimuti tangan Naruto.

["Ini...,"] gumam Ophis serta Jeanne bersamaan, Naruto yang melihat cahaya yang menyelimuti tangannya terdiam, ia bisa merasakan kehangatan, kenyamanan dari cahaya tersebut serta luka di tangannya perlahan mulai menghilang. ["Unique Magic : Healling!"] lanjut Asia dan setelah itu cahaya di tangan Asia mulai meredup begitu juga cahaya yang menyelimuti tangan Naruto.

"Sekarang kau sudah lebih baik, Uzumaki-san," ucap Asia sambil tersenyum lalu melepaskan tangan Naruto. Lalu Naruto pun melihat tangannya yang sempat terluka karena menahan pedang perempuan bernama Xenovia dan benar saja luka di tangannya telah menghilang.

"Arigato, Argento-san," ucap Naruto berterima kasih, Asia yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, lalu Naruto pun menatap dua perempuan yang tampaknya mengenal Asia "lalu... Mereka siapa, Argento-san?"

"Ah, maafkan aku, Namaku Shidou Irina, murid kelas 1-B sekaligus satu team dengan Asia-chan, salam kenal, Uzumaki Naruto-san," ucap perempuan rambut cokelat bernama Irina memperkenalkan dirinya dengan sopan.

"Namaku, Xenovia Quarta, kelas 1-B, aku juga satu team dengan Asia-chan," ucap Xenovia memperkenalkan dirinya, Irina yang mendengar itu menyenggol Xenovia lalu memberi sebuah tanda yang membuatnya mendecih pelan, "serta... Maafkan aku karena menyerangmu tiba-tiba," lanjutnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Naruto yang mendengar itu hanya menghembuskan nafasnya pelan, "Ya... tidak apa...," balas Naruto, "tapi lain kali, akan lebih baik kau memastikan apa yang kau lihat dulu, Gorilla-Onna," lanjut Naruto membuat sebuah perempatan di kening Xenovia.

"Siapa yang kau panggil Gorilla-Onna, Hah?!" tanya Xenovia dengan wajah kesal. "Kau kira siapa lagi? Tiba-tiba datang melayangkan serangan dan berteriak seperti kera besar?" balas Naruto yang juga menatapnya dengan kesal.

"Katakan itu sekali lagi kuning atau aku potong leher kau!" ucap Xenovia bersiap mengeluarkan pedangnya kembali. "Oho, coba saja Gorilla-Onna," balas Naruto yang juga mengepalkan tangannya dengan kuat.

"Hey! Hey! Kalian berdua tenanglah, kalian menarik perhatian tahu!" ucap Irina membuat Naruto serta Xenovia saling menoleh sekitar lalu mendecih pelan bersama.

"Kali ini aku maafkan kau, dasar kuning sialan," ucap Xenovia kembali ke posisi santainya. "Aku juga, aku tidak ingin ada kabar berita seekor Gorila betina, jatuh pingsan hanya dengan satu bogeman," balas Naruto, Xenovia yang mendengar itu mengepalkan tangannya kuat, dirinya ingin sekali menghajar pemuda di hadapannya ini.

Walau dia tahu mengenai rumor tentangnya, dia tidak peduli dengan hal itu dan ingin sekali memberikannya sebuah bogeman atau pun sebuah sayatan di tubuhnya karena menghinanya.

"Hah... Sudahlah, dari pada kita berdebat di sini, lebih baik kita secepatnya ke Akademi untuk mengambil misi sebelum kehabisan," lanjut Naruto setelah menghela nafasnya lalu melanjutkan perjalanannya ke akademi dengan di ikuti Michella serta Inori. "Ayo, kita juga harus ke akademi," ajak Asia mengikuti Naruto di susul Irina lalu Xenovia dengan wajah kesal.

"Bukankah kau sedikit berlebihan, Nii-chan?" tanya Michella dengan wajah canggung, sementara Naruto yang mendengar itu menghela nafasnya kembali. "Itu tidak berlebihan, itu memang kenyataannya, dia secara tiba-tiba datang dan ingin menyerangku... Yang benar saja," balas Naruto masih kesal dengan kejadian tadi, Michella yang mendengar itu hanya tertawa kecil ketika melihat wajah kesal Naruto.

.

.

.

.

.

.

TBC

Note : YO! MINNA-SAN!

Hohoho! Bagaimana kabar kalian? Hm hm hm, tampaknya baik-baik saja ya? Baguslah kalau begitu, Yap 23 hari berlalu semenjak saya update Fic Zombie saya ya. Hm hm, tampaknya sudah kembali normal jadwal Update saya. Tapi kemungkinan kedepannya bakal lama kembali *Yaoming Face.

Kembali ke topik, bagaimana menurut kalian Chapter kali ini? Menarik kah? Atau kurang? Maa~ ini memang sudah sesuai alur yang aku buat jadi terimalah.

Di chapter kali ini lebih banyak percakapan dari pada aksi, karena yah begitulah, di cerita-cerita komik pasti juga begitu bukan? Untuk Chapter kali ini lebih fokus ke perkenalan karakter baru seperti perempuan merah yang menjadi tukang maling serta Xenovia, Asia dan Irina.

Kali ini mungkin hanya itu saja yang bisa saya katakan, dan juga Kami sebagai Grub FCI masih membuka recuit bagi siapa pun yang mau bergabung, tentunya kami hanya mencari anggota yang benar-benar punya niat, bukan hanya bergabung dan langsung menjadi silent member.

Jaa, itu saja dari saya... Sampai bertemu di Naruto : The Dragon Future. Hm? NKT? Maaf semua, jadwalnya adalah setelah Naruto : The Dragon Future. Kalian memaksaku cepat? Maka akan aku buat lambat. Mwahahaha! Soreja! Matta na!

FCI. 4kagiSetsu Out.