Chapter sebelumnya :
.
"Sekarang kau sudah lebih baik, Uzumaki-san," ucap Asia sambil tersenyum lalu melepaskan tangan Naruto. Lalu Naruto pun melihat tangannya yang sempat terluka karena menahan pedang perempuan bernama Xenovia dan benar saja luka di tangannya telah menghilang.
"Arigato, Argento-san," ucap Naruto berterima kasih, Asia yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, lalu Naruto pun menatap dua perempuan yang tampaknya mengenal Asia "lalu... Mereka siapa, Argento-san?"
"Ah, maafkan aku, Namaku Shidou Irina, murid kelas 1-B sekaligus satu team dengan Asia-chan, salam kenal, Uzumaki Naruto-san," ucap perempuan rambut cokelat bernama Irina memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Namaku, Xenovia Quarta, kelas 1-B, aku juga satu team dengan Asia-chan," ucap Xenovia memperkenalkan dirinya, Irina yang mendengar itu menyenggol Xenovia lalu memberi sebuah tanda yang membuatnya mendecih pelan, "serta... Maafkan aku karena menyerangmu tiba-tiba," lanjutnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Naruto yang mendengar itu hanya menghembuskan nafasnya pelan, "Ya... tidak apa...," balas Naruto, "tapi lain kali, akan lebih baik kau memastikan apa yang kau lihat dulu, Gorilla-Onna," lanjut Naruto membuat sebuah perempatan di kening Xenovia.
"Siapa yang kau panggil Gorilla-Onna, Hah?!" tanya Xenovia dengan wajah kesal. "Kau kira siapa lagi? Tiba-tiba datang melayangkan serangan dan berteriak seperti kera besar?" balas Naruto yang juga menatapnya dengan kesal.
"Katakan itu sekali lagi kuning atau aku potong leher kau!" ucap Xenovia bersiap mengeluarkan pedangnya kembali. "Oho, coba saja Gorilla-Onna," balas Naruto yang juga mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Hey! Hey! Kalian berdua tenanglah, kalian menarik perhatian tahu!" ucap Irina membuat Naruto serta Xenovia saling menoleh sekitar lalu mendecih pelan bersama.
"Kali ini aku maafkan kau, dasar kuning sialan," ucap Xenovia kembali ke posisi santainya. "Aku juga, aku tidak ingin ada kabar berita seekor Gorila betina, jatuh pingsan hanya dengan satu bogeman," balas Naruto, Xenovia yang mendengar itu mengepalkan tangannya kuat, dirinya ingin sekali menghajar pemuda di hadapannya ini.
Walau dia tahu mengenai rumor tentangnya, dia tidak peduli dengan hal itu dan ingin sekali memberikannya sebuah bogeman atau pun sebuah sayatan di tubuhnya karena menghinanya.
"Hah... Sudahlah, dari pada kita berdebat di sini, lebih baik kita secepatnya ke Akademi untuk mengambil misi sebelum kehabisan," lanjut Naruto setelah menghela nafasnya lalu melanjutkan perjalanannya ke akademi dengan di ikuti Michella serta Inori. "Ayo, kita juga harus ke akademi," ajak Asia mengikuti Naruto di susul Irina lalu Xenovia dengan wajah kesal.
"Bukankah kau sedikit berlebihan, Nii-chan?" tanya Michella dengan wajah canggung, sementara Naruto yang mendengar itu menghela nafasnya kembali. "Itu tidak berlebihan, itu memang kenyataannya, dia secara tiba-tiba datang dan ingin menyerangku... Yang benar saja," balas Naruto masih kesal dengan kejadian tadi, Michella yang mendengar itu hanya tertawa kecil ketika melihat wajah kesal Naruto.
.
.
Chapter saat ini :
.
Tap! Tap!
Dalam perjalanan menuju akademi, Naruto kembali membaca buku milik Ophis mengenai [Unique Magic] yang tidak dia ketahui, serta cara menggunakannya, beberapa [Unique Magic] ada yang simpel, cukup rumit dan ada juga yang memiliki tingkat kesusahan yang tinggi, bahkan ada juga yang bisa membahayakan nyawa si pengguna.
Asia yang ada di belakang Naruto melihatnya tampak asyik membaca buku pun penasaran dan mulai bertanya, "Uzumaki-san, apa yang kau baca?" tanya Asia, Naruto yang mendengar itu menoleh sesaat lalu kembali melihat ke arah bukunya. "Oh, Aku hanya membaca sebuah buku tentang [Unique Magic]," jawab Naruto sambil membalikkan halaman bukunya.
"Heh, untuk apa seorang yang tanpa [Mana] seperti dirimu membaca sebuah buku yang menggunakan [Mana]?" ujar Xenovia meledek Naruto, Irina yang ada di sampingnya langsung menyiku temannya itu. "Xenovia-chan, jaga cara bicaramu itu," bentak Irina menatap kesal temannya.
"Apa? Aku benar kan?" balas Xenovia merasa tidak bersalah. "Terserah apa katamu, Gorilla-onna. Aku tidak peduli dengan itu, lagi pula tidak ada larangan di dunia ini seseorang tanpa [Mana] tidak boleh mempelajari buku tentang [Magic] bukan?" balas Naruto sambil tetap membaca bukunya.
"Mungkin saja seseorang tanpa [Mana] mendapatkan sebuah [Mana] hasil dari melakukan kontrak dengan seekor [Beast] atau [Wild Beast] yang bisa menjadi [Sacred Beast]," lanjut Naruto membuat Xenovia menahan tawanya sesaat lalu tertawa lepas dengan ucapan Naruto. "Hahahaha, apa kau bergurau? Hal seperti itu tidak ada," balas Xenovia membuat Asia menggelengkan kepalanya.
"Tidak... apa yang di katakan Uzumaki-san itu bisa terjadi, Xenovia-chan," balas Asia membuat Xenovia terdiam sementara Narutolah yang saat ini menahan tawanya. "Hahaha, tampaknya temanmu lebih pintar darimu, Gorilla-onna," balas Naruto membuat Xenovia menggeram marah.
"Orang-orang yang melakukan kontrak dengan [Beast] yang bisa berubah menjadi [Sacred Beast] akan mendapatkan [Sacred Beast], sementara orang yang melakukan kontrak dengan [Wild Beast] akan mendapatkan [Cursed Sacred Beast]," jelas Naruto, Xenovia serta Irina yang mendengar itu sedikit tersentak. "Hehhh... Aku baru pertama kalinya mendengar ini. Asia-chan, apa kau sudah mengetahui soal ini?" gumam Irina lalu bertanya kepada temannya, Asia yang mendengar itu menganggukkan kepalanya.
"Aku sudah tahu," jawab Asia sambil tersenyum kecil, Naruto yang mendengar itu kembali melanjutkan membaca buku. Membahas hal ini membuatnya teringat saat dirinya mendapat kekuatan Jeanne, ia langsung mencari penjelasan bagaimana dia bisa mendapatkan kekuatan dari Jeanne padahal dia sudah di pastikan tidak memiliki [Mana] atau pun [Sacred Beast].
Tapi setelah dia mencari dan membaca buku-bukunya, ia pun mendapatkan apa yang dia cari. Saat diri memegang Jeanne dalam bentuk pedang secara tak langsung ia masuk ke dalam alam bawah sadar Jeanne.
Saat itulah dirinya bertemu dengannya, dan saat akan melakukan kontrak dirinya merasakan sesuatu yang panas memasuki tubuhnya dan ia yakini itu adalah [Mana] dari Jeanne, dan juga dirinya bisa melihat masa lalu dari Jeanne.
Ia yang mengingat itu terdiam, dirinya jadi teringat saat kejadian ratusan tangan yang menariknya ke bawah dan ia merasakan ada seseorang di belakangnya yang berbicara dengan Jeanne, bisa dia tebak itu adalah sisi gelapnya.
Begitu juga dengan Inori, waktu itu dirinya serta Jeanne bertarung dengan sisi gelap Inori, dan setelah menenangkan ia menjadi seperti sekarang, bisa dia simpulkan sisi positif dari [Beast] akan mendapatkan [Sacred Beast] sementara Sisi negatif [Beast] akan mendapatkan [Cursed Sacred Beast].
["Yap, kesimpulanmu itu memang benar, Naruto-kun."] Naruto yang mendengar sahutan Ophis sedikit tersentak, ["[Sacred Beast] di bagi menjadi dua, yaitu [Sacred Beast] di mana jiwa Beast memiliki Energi Positif, sementara [Cursed Sacred Beast] adalah Beast dengan energi Negatif."]
["[Sacred Beast] berenergi positif meliputi dari sifat [Beast] serta Hostnya yang tidak termakan hawa nafsu kekuatan, ingin melindungi orang terkasih, membantu mereka yang kesusahan, persahabatan, serta kebaikan, sementara [Cursed Sacred Beast] berenergi negatif meliputi [Beast] yang termakan hawa nafsu kekuatan, Emosi, Amarah, kebencian, balas dendam."]
"Jadi begitu," batin Naruto melirik Inori lalu bayangan seseorang yang menariknya di alam bawah sadar Jeanne kembali terlintas di kepalanya, "Ne, Ophis," panggil Naruto.
["Ada apa?"]
"Aku ingin bertanya jika host memiliki energi positif, tetapi memiliki [Cursed Sacred Beast] dan menggunakan kekuatannya tetapi Host tersebut masih memiliki energi Positif tanpa terpengaruh Energi Negatif dari [Cursed Sacred Beast] apakah bisa?"
Ophis yang mendengar itu terdiam di dalam alam bawah sadarnya, ia menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya sambil bertopang dagu lalu memejamkan matanya mencoba mengingat-ingat apakah dirinya pernah melihat atau membaca seorang Host yang bisa seperti itu.
["Hmmm... Dari sejauh ini yang aku tahu, belum ada Orang yang bisa melakukan itu,"] jawab Ophis, ["Energi Negatif adalah energi yang susah untuk di netralkan, jika energi Negatif dari [Beast] menguasaimu yang sudah berusaha tidak termakan godaannya, maka kau akan sepenuhnya menggunakan energi Negatif."]
Naruto yang mendengar itu terdiam sesaat lalu menutup bukunya karena dirinya serta yang lain telah sampai di sekolah, "Arigato, Ophis," ucap Naruto lalu melangkah masuk di ikuti yang lainnya.
Tak jauh dari mereka, terdapat seorang perempuan rambut pink panjang dengan mata biru tengah memperhatikan mereka tepatnya ke arah Naruto, ia menatap pemuda cukup lama lalu tersenyum, "Jadi dia orang itu," gumamnya lalu menjilati bibirnya, "Omoshiroi."
.
.
Other Place
.
.
Beralih ke tempat lain, terdapat perempuan rambut merah panjang dengan gaun merah bercorak hitam tengah berjalan di tengah kota sambil menepuk-nepuk perutnya, "Urrrghh! Aahhh! Mattaku daging mereka rasanya sangat hambar dari pada makanan yang di buat oleh para manusia," gumamnya setelah bersedawa.
"Bagaimana caranya mereka membuat makanan seenak itu," gumam perempuan tersebut dengan wajah melamun, tak berselang lama perutnya kembali berbunyi, "Ugh... Padahal aku sudah makan cukup banyak tapi aku masih kelaparan, jika begini aku tidak akan bisa menemukannya," lanjutnya sambil melihat sekitar.
Seketika penciumannya mencium bau menyengat yang mengundang rasa laparnya, ia melihat ke arah bau tersebut berada dengan tatapan kelaparan. "Bau apa ini, enak sekali," gumamnya lalu pergi ke tempat bau tersebut.
Setelah sampai di tempat tersebut ia bisa melihat sebuah dagang kecil yang menjual sosis panggang, Perempuan rambut merah yang melihat itu meneteskan air liurnya menatap sosis-sosis tersebut dengan tatapan Nafsu.
"Uwooohh! Terlihat enak sekali!" gumam perempuan tersebut sambil membersihkan air liurnya. Sang pedagang yang melihat perempuan tersebut menatap makanannya pun bertanya, "Ada yang bisa aku bantu nyonya?" tanyanya dengan sopan.
"Ah, Bolehkah aku meminta semua ini?" tanya langsung dengan tatapan kelaparan, sang pedagang yang mendengar itu terkejut sesaat. Lalu ia pun kembali bertanya untuk memastikan apa ia tidak salah dengar "Maafkan saya, apa ibu berniat membeli semua ini?" tanya pedagang tersebut.
"Membeli? Apa itu?" beonya dengan wajah bodoh. "Jadi kau memintanya secara gratis?!" tanya sang pedagang dengan sweatdrop di kepalanya.
"Tentu saja! Anggap saja ini kopensasiku untuk duniamu ini!" jawab perempuan tersebut sambil mengibaskan rambutnya. Sang pedagang yang mendengar itu menatap aneh perempuan di hadapannya, "Hah? Emangnya kau telah melakukan apa? Aku tidak pernah mendengar tentangmu," balasnya membuat seolah perempuan tersebut terkena panah di dadanya.
"U-Ugh... Kau tidak tahu siapa aku?!" balasnya membuat sang pedagang memasang wajah risih. "Mana aku tahu," jawabnya membuat dadanya tertusuk panah lagi.
"Benar-benar... Benar-benar tidak tahu terima kasih, dasar Ninggen!" geram kesal perempuan tersebut lalu dengan cepat mengambil semua sosis panggang yang ada dan pergi dari sana. "Ah! WOI! PENCURI KEMBALI!" teriak sang pedangan mengejar perempuan tersebut.
"Baka! Inilah akibatnya karena kalian tidak menghargaiku!" Teriaknya lalu memakan satu sosis panggang yang dia curi, dan begitu mengunyahnya pipinya merona karena rasa nikmat sosis tersebut.
"UUUENAAAAAAKKKK!"
.
.
Disclaimer
Naruto © Masashi Kisimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
Summary : Uzumaki Naruto, Sosok pemuda yang tidak harus kehilangan ingatannya akibat benturan keras dari keluarga yang ingin membunuhnya, tetapi dia di selamatkan oleh sebuah keluarga dan membawanya ke kehidupan yang baru, bagaimana kah perjalanan hidupnya yang baru kali ini?
Naruto : The Magical Battle
Pair :
Naruto x ...
Genre : Alternative Universe, Adventure, Fantasy, Romance, Humor, Sci-Fi, Echhi, Incest, Harem, Future!Sett.
Rate : M
Warning : Typo, OC, OOC, AU, Multichap, Jutsu/Magic Buatan sendiri, Alur berantakan dan Lain-lain, Smart!Naru, Friendship!Vali.
"Naruto." berbicara
"Naruto." batin
["Naruto."] Beast/Sacred Beast berbicara
["Naruto."] Batin Beast/Sacred Beast.
.
AliA - Impluse
.
Drum sfx
Gambar memperlihatkan tanah yang bergerak cepat hingga akhirnya muncul sebuah cahaya terang.
Guitar & Piano & Violin sfx
Setelah itu muncul judul cerita Naruto : The Magical Battle
Kusatta
Gambar memperlihatkan team Naruto di mana Naruto berada di tengah dengan Gabriel di sisi kiri dan Michella di sisi kanan serta terdapat lambang Libra di belakang mereka melihat ke arah kemera.
sekai ga boku wo mushibandeita tte
Lalu gambar di ganti dengan Team Sasuke serta Menma dengan lambang ular serta rubah di belakang mereka, dan gambar kembali berubah ke wajah Naruko yang menundukkan wajahnya yang lirih sambil memejamkan matanya.
kattena
Gambar kembali berubah dengan gambar team Kiba dengan lambang anjing menyeringai.
risou dake
Layar berubah kembali dengan Team Neji dengan Neji di tengah, Tenten di sisi kanan dan Rock Lee di sisi kiri yang tersenyum ke arah kamera dengan lambang kepalan tinju di belakang mereka.
nani mo kikazu
Gambar berubah kembali menjadi Team Shikamaru di mana Shikamaru berada di tengah dengan Chouji di sisi kirinya dan Ino di sisi Kanannya serta lambang bunga lotus putih.
oshitsukerarete
Layar kembali berubah dengan Team Uchiha di mana terdapat Shisui di tengah dengan Itachi di sisi kanan dan Naori di sisi kirinya dengan lambang Uchiha di balakang
Boku no nani wo
Gambar kembali berubah dengan Team Tenka di mana Tenka di tengah sambil tersenyum manis serta mengangkat tangannya ke arah kamera, Kyouka yang ada di sisi kirinya serta Arthuria di sisi kanannya dengan lambang Sebuah pedang dengan pusaran di belakang pedang.
shitteiru nda?
Gambar kembali di ganti dengan Team Gremory di mana terdapat Rias berada di tengah, dengan Akeno di sisi kiri dan di sisi kanannya terdapat Shinoa dengan lambang Spirit api membawa Tombak petir serta cahaya merah.
Shinasadame sarete
Gambar kembali berubah dengan gambar ruangan Tsunade dan terdapat pembimbing masing-masing team yang menoleh ke arah kamera sambil tersenyum.
tamaru mon ka?
Lalu gambar kembali berganti dengan kediaman ruang tamu kediaman Michella di mana terdapat Nei yang tersenyum senang ke arah kamera dengan Grayfia di sampingnya.
Nanakorobiyaoki kurikaeshite
Lalu gambar kembali berubah dengan gambar 3 bayangan wanita yang belum di ketahui.
seikai ga nani ka wakaranai
Lalu gambar memperlihatkan gambar Jeanne, serta Inori dan Ophis yang berada di kegelapan dengan wajah kosong mereka lalu mereka menoleh ketika melihat sebuah cahaya terang menyinari mereka.
Damatte itanda hitei sareru no kowaku natte
Mereka pun mulai berdiri dan berjalan mendekati cahaya tersebut.
Boku no hangeki sutoorii
Setelah itu Jeanne menggenggam cahaya tersebut menggunakan tangan kirinya, Inori menggenggam cahaya tersebut dengan tangan kanannya, sementara Ophis menggenggam cahaya tersebut dengan kedua tangannya.
ima ni mitero hora.
Seketika cahaya tersebut pun berubah menjadi sosok Naruto yang tersenyum sambil menarik tangan Jeanne, serta Inori dan Ophis yang memeluk erat leher Naruto dari belakang, Jeanne, Inori serta Ophis yang melihat itu tersentak.
Shoudou? Gensou? stand up right now!
Layar kembali berubah di mana Michella yang terbang dengan sayap apinya mengibas sabit apinya hingga memunculkan tornado api biru,.
Nantodemo ie kimeta no wa boku da
Lalu layar kembali berubah di mana Gabriel yang menyerang musuh dengan secara brutal hingga membuat ledakan besar dan dari balik ledakan keluar Naruto yang datang sambil berputar dan mengayunkan pedangnya ke arah para musuhnya.
we can be the change need it!
Gambar lalu berubah dengan gambar Azazel serta Kakashi yang saling bekerja sama mengalahkan banyak musuh.
Joutou janai kakugo wa dekita!
Gambar kembali berubah di mana Team Sasuke serta Team Menma melawan banyak musuh, lalu di ganti dengan wajah Naruko yang menoleh dengan ekspresi khawatir.
Kanjou kaihou stand up right now!
Lalu gambar kembali berganti dengan gambar seorang perempuan yang melayang di udara melayangkan sebuah serangan berwarna putih ke arah Naruto
Boku wa boku da hai agatteyaru
Gambar kembali di ganti dengan Naruto yang melesat ke arah serangan tersebut dan menerobosnya dengan menggunakan tangan kirinya.
we can be the change need it
Lalu gambar di ganti dengan wajah perempuan yang melayang menyeringai ke arah Naruto Lalu menghentikan serangannya dan melesat ke arah Naruto.
kankaku juushi doko ga waruino?
Layar kembali diganti dengan Naruto yang berhasil menembus serangan perempuan tersebut lalu bersiap beradu tinju dengan perempuan tersebut lalu layar berubah menjadi putih
Zenbu uso ka? Kudaranai
Layar kembali berganti dengan gambar Naruto dari depan yang berjalan tenang
Rikutsudarake tsumaranaina
Lalu gambar memperlihatkan tangan Naruto yang menarik pedang di pinggangnya sambil memutar-mutarnya.
Boku wa boku da
Setelah itu Naruto mengangkat pedangnya setinggi dadanya dengan sisi pedangnya menutupi sebagian wajahnya.
It's none of your business.
Tangan Naruto yang menggenggam gagang pedangnya pun memutar gagangnya
Boku wa Boku da!
Seketika Naruto tertutupi oleh luapan Energi yang sangat terang.
Guitar, Piano & Violin sfx
Layar kembali di ganti memperlihatkan tubuh Naruto yang terlapisi armor putih lalu gambar kembali berubah wajahnya lalu membuka matanya yang berubah menjadi emas.
.
Chapter 18 : Traning with Another Class Part 1
.
.
Tap! Tap!
Selama perjalanan menuju ruang kepala sekolah, Naruto selalu mendapat sapaan dari kalangan perempuan yang ada di sekolah itu.
Naruto yang di sapa oleh mereka membalas sapaan mereka dengan sopan sambil membalas lambaian tangannya pelan serta tersenyum kecil yang membuat wajah mereka merona dan meninggalkan Naruto dengan ekspresi malu-malu.
Michella yang melihat itu terdiam sesaat lalu tersenyum ke arah sang kakak, "Hoho, tampaknya Nii-san mulai populer di kalangan para perempuan," goda Michella sambil menyenggol-nyenggol kakaknya. Naruto yang mendengar itu menatap bingung Michella, "Apa maksudmu?"
"Hm? Jangan bilang Nii-san pikir mereka menyapa Nii-san layaknya memberi salam orang normal?" tanya Michella menyipitkan matanya karena tampaknya Naruto tidak sadar. Mendengar itu Naruto menggaruk pipinya yang tidak gatal sambil melihat sekitarnya di mana para perempuan masih menyapanya.
"Memangnya bukan?" tanya Naruto membuat Michella menghembuskan nafasnya. "Tentu saja bukan, mereka menyapamu karena mereka menyukaimu," jawab Michella membuat Naruto terdiam beberapa saat lalu memasang ekspresi terkejut.
"E-Eh?! Ke-Kenapa?!"
"Hmm, entahlah, mungkin karena Nii-san memiliki daya tarik yang mereka sukai," balas Michella sambil mengendikan bahunya namun dalam hatinya ia tahu kenapa mereka menyukai kakaknya, Naruto yang mendengar itu melirik sekitarnya dan ia bisa merasakan serta melihat banyak perempuan yang melihat ke arahnya dengan pipi merona.
"Ugh... Memangnya apa yang menarik dariku? Padahal wajahku ini tampak seperti orang pasaran," batin Naruto sambil mengelus dagunya, dan saat melakukan itu para perempuan yang melihat itu semakin memerah wajahnya karena di mata mereka Naruto tampak keren dalam pose berpikir.
Sesampainya di depan kantor Tsunade, Naruto pun memutuskan untuk mengacuhkan hal tersebut dan berniat membuka pintu, namun sebelum tangannya mencapai gagang pintu, pintu itu telah terbuka dan mengeluarkan seorang pemuda tampan rambut kuning, berserta perempuan rambut hitam kebiruan dengan model rambut di ikat seperti kupu-kupu dengan ujung menggantung serta perempuan rambut cokelat tergerai panjang.
"Ah, Kiba-kun, Himari-san, Lousia-san! Ohayo Gonzaimasu!" seru Asia menyapa mereka sambil tersenyum akrab, Naruto yang melihat Asia tampak mengenal mereka bisa berasumsi bahwa mereka adalah teman satu kelas.
"Oh, Asia-chan, Xenovia-san, Irina-san, Ohayo," balas perempuan rambut hitam sambil tersenyum kepada Asia. Pemuda rambut kuning yang menyadari bukan hanya ada Asia, Xenovia, serta Irina menoleh dan ia tersentak ketika melihat Naruto serta tiga perempuan yang bisa dirinya asumsikan mereka adalah anggota teamnya.
"Kau... Uzumaki Naruto?" gumam pemuda tersebut membuat Naruto terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya. "Ya, itu aku," jawab Naruto membuat pemuda di hadapannya tersenyum lalu membungkukkan badannya sesaat.
"Salam kenal, Uzumaki-san. Namaku Yuuto Kiba, yoroshiku ne," ucap pemuda rambut kuning memperkenalkan dirinya lalu mengarahkan tangan kanannya ke arah Naruto untuk berjabat tangan. Naruto yang melihat itu terdiam sesaat lalu menerima jabat tangannya, "U-Um, Yoroshiku," jawab Naruto sedikit tergagap.
"Heh... Jadi kau Uzumaki Naruto itu?" gumam perempuan rambut hitam sambil meletakkan tangan kanannya di pinggang dan menatap Naruto dari atas sampai bawah, "hm... dari ciri-ciri yang terdengar, kau memang sangat cocok sekali," lanjutnya lalu berdiri tegak dan meletakkan tangannya di dada.
"Namaku Azuma Hikari, salam kenal Uzumaki-san," ucapnya memperkenalkan diri sambil menatapnya dengan tatapan tajam. Naruto yang menyadari itu sedikit sweatdrop dirinya bisa melihat Himari tampak menatap kesal dirinya padahal ini pertama kalinya dia bertemu, "Aaa... Salam kenal, Azuma-san," jawab Naruto sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Namaku, Louisa, senang berkenalan denganmu, Uzumaki-kun," ucap perempuan rambut cokelat panjang memperkenalkan dirinya sambil tersenyum akrab, Naruto yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya.
"Apa kalian sudah mengambil misi?" tanya Xenovia dan di balas anggukkan oleh Kiba. "Ya, kami baru saja akan berangkat menjalankannya, Jaa... Kami pergi dulu, kami tidak bisa membiarkan sensei kami menunggu," jawab Kiba lalu berpamitan untuk segera mencari pembimbingnya.
"Um, hati-hati," ucap Irina sambil melambaikan tangannya, sebelum pergi Himari melirik Naruto sesaat lalu pergi menyusul yang lainnya.
Setelah kepergian mereka, Naruto pun mengetuk pintu ruangan tersebut, "Masuk!" mendengar itu Naruto pun membuka pintu dan masuk ke dalam. "permisi!" ucap Naruto.
"Naruto, apakah ada team lain yang menunggu di luar?" Naruto yang belum sepenuhnya masuk mendengar itu pun menganggukkan kepalanya. "Um, ada satu team Class B di luar, mereka Argento-san, Quarta-san serta Shidou-san," jawab Naruto, Tsunade yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya pelan.
"Suruh mereka juga masuk."
"Baiklah," balas Naruto lalu keluar sesaat untuk menyuruh mereka masuk, setelah itu Ia beserta Teamnya dan Team Asia pun berdiri secara terpisah. "Aku sungguh minta maaf kepada kalian karena hari ini aku tidak bisa memberikan misi kepada kalian karena kertas misi telah habis," ucap Tsunade membuat mereka terkejut.
"Jaa... Jika kami tidak mendapat kertas misi, kami harus berbuat apa?" tanya Gabriel penasaran. "Jangan khawatir, aku akan memberikan kalian sebuah misi khusus dengan point yang khusus juga," jawab Tsunade lalu melempar dua kertas ke arah Naruto serta Xenovia.
Mereka pun mengambil kertas tersebut dan membacanya, [Daily Quest : Traning Duel Two Team, Point : 300 for two team], "misi khusus kalian adalah sparing team, karena tidak ada misi untuk kalian maka aku memberikan misi khusus ya itu latihan sparing, tentu saja masing-masing team akan mendapatkan point, jika tidak mau itu tidak apa-apa, kalian bisa kembali ke rumah dan bersantai, atau kalian ingin melakukan latihan secara mandiri juga tidak masalah," jelas Tsunade mengenai misi yang dia berikan.
"Sparing kah?" gumam Naruto lalu melirik ke arah Xenovia yang juga meliriknya, "Bagaimana Gorilla-onna? Apa kau berani?" tanya Naruto dengan tatapan mengejek.
Sebuah perempatan muncul di kening Xenovia, ia pun membalas tatapan Naruto dengan tatapan merendahkan juga, "Siapa takut, biar aku belah kau menjadi beberapa bagian!" ucap Xenovia lalu saling melempar glager.
Asia, serta Michella yang melihat itu tertawa canggung, sementara Gabriel serta Inori hanya menatap diam mereka, untuk Irina ia menepuk keningnya melihat tingkah temannya.
Sementara Tsunade, ia sedikit sweatdrop dengan tingkah Naruto serta Xenovia, mereka tampak saling bermusuhan. Apakah terjadi sesuatu di antara mereka, itulah pikirnya, "Jadi... Bagaimana?" tanya Tsunade ingin tahu jawaban mereka.
"Kami menerimanya?!"
.
.
Traning Land 51
.
.
Setelah beberapa menit perjalanan, team Naruto serta Team Xenovia pun sampai di tempat yang di beri oleh Tsunade untuk menjalankan misi khusus mereka, dan mereka bisa melihat masing-masing pembimbing mereka telah menunggu kedatangan mereka.
"Ternyata benar di sini," gumam Naruto ketika melihat Azazel telah berada di sini lebih dulu, dirinya sudah menduga hal tersebut karena ia tidak melihat Azazel setelah keluar dari ruang kepala sekolah. Mata birunya lalu melirik ke arah Seorang perempuan rambut putih panjang, memiliki dua mata warna yang berbeda di mana mata kirinya berwarna biru, sementara mata kanannya berwarna merah serta menggunakan gaun hitam di atas lutut, bisa dirinya asumsikan bahwa dia adalah pembimbing team Xenovia.
"Ohayo Gonzaimasu! Luminas-sensei!" ucap Asia menyapa perempuan tersebut, Perempuan bernama Luminas itu pun tersenyum dan membalas sapaan Asia."Ohayo, Asia-chan, Xenovia-chan, Irina-chan," balas Luminas sambil mengelus rambut Asia dengan lembut.
"Sudah aku duga kau ada di sini, Ero-sensei," ucap Naruto setelah sampai di depan Azazel. "Ugh, bisakah kau memanggilku dengan normal, Naruto," pinta Azazel dengan rona tipis di pipinya, dirinya cukup malu ketika Naruto memanggilnya Ero-sensei di depan Luminas.
"Mustahil, itu sudah menjadi nama yang cocok untukmu karena sifatmu memang seperti itu dan akan aku gunakan selamanya," balas Naruto dengan wajah tidak peduli yang membuat perempatan muncul di kening Azazel.
"Konoyaro," batin Azazel menatap kesal Naruto. "Hahaha, nama itu memang cocok untukmu Azazel, sebaiknya kau terima saja," ucap Luminas sambil tersenyum menyindir Azazel.
"Berisik, sebaiknya kau diam saja, Luminas," balas Azazel sambil mengalihkan pandangannya. "Jadi kau si Uzumaki Naruto itu, dan kalian pasti murid bimbingan si mesum ini ya? Perkenalkan namaku Luminas Valentine, aku adalah pembimbing mereka bertiga, kalian boleh memanggilku Luminas," ucap Luminas memperkenal dirinya.
"Salam kenal, Luminas-sensei. Namaku Uzumaki Naruto, ketua team ini, mereka adalah Michella Watch, Inori Yuzuriha, serta Gabriel," balas Naruto sedikit membungkukkan badannya lalu memperkenalkan dirinya serta teamnya, Inori, Michella serta Gabriel pun membungkukkan badan mereka untuk memberi salam kepada Luminas.
"Aku sudah mendengar banyak hal tentangmu, Uzumaki Naruto," ucap Luminas sambil meletakan salah satu tangannya di pinggang. "Dari rumor-rumor serta gosip-gosip itu kah," gumam Naruto bisa menebak bagaimana informasi tentang dirinya cepat tersebar.
"Benar, karena hal itu aku sangat penasaran apakah yang mereka katakan itu benar serta secara langsung melihatmu, dan sungguh beruntung saat aku berniat menunggu mereka untuk mengambil misi, aku bertemu dengannya dan di panggil bersama oleh Tsunade-sama," jawab Luminas sambil menunjuk Azazel yang menggaruk-garuk kupingnya.
"Tsunade-sama bilang tidak ada misi untuk kita, maka dari itu dia memberitahu kami untuk melakukan misi khusus yaitu melakukan latihan tanding untuk mengasah kemampuan sesama team, mendengar itu adalah sebuah kesempatan emas menurutku karena secara tidak langsung keinginanku terkabul," lanjut Luminas panjang lebar.
"Lalu, kalian pun memutuskan untuk menunggu kami di sini...," gumam Naruto lalu mengelus dagunya, "tapi... Bagaimana kalian tahu bahwa kami akan menerima misi ini? Karena bisa saja kami tidak menerimanya dan memutuskan untuk pulang?" tanya Naruto penasaran karena bagaimana mereka tahu bahwa mereka akan menerima misi ini karena Tsunade sendiri mengatakan tidak apa untuk tidak menerima misi ini.
"Aku tahu kau itu tidak mungkin hanya diam saja karena tidak ada misi dan memilih untuk melakukan latihan, maka dari itu aku yakin kau akan menerimanya," jawab Azazel lalu melirik ke arah Luminas, "dia juga yakin bahwa murid-muridnya akan menerima misi ini karena rumormu itu juga."
"Souka," gumam Naruto lalu melirik ke arah Xenovia, Irina serta Asia, "Jaa kalian bisa memulai latih tandingnya lebih dulu tanpaku," ucap Naruto sambil berjalan ke salah satu pohon.
"Eh? Kenapa?" tanya Irina kebingungan. "Kau tidak sedang ketakutan bukan, Kuning?" tanya Xenovia dengan nada mengejek.
"Takut? Tentu saja tidak, aku hanya ingin melakukan pemanasan lebih dahulu," jawab Naruto menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah Xenovia, "Selain itu, jika aku ikut artinya kau, serta Shidou-san akan melawan kami berempat, dan tentu saja itu tidak seimbang, maka dari itu aku serta Inori memutuskan untuk tidak ikut lebih dulu agar pertarungan kalian menjadi sedikit lebih rata," lanjut Naruto menjelaskan kenapa dia memilih tidak ikut lebih dahulu.
"Jadi latihannya adalah Xenovia serta Irina melawan Gabriel serta Michella, lalu berlanjut ke Xenovia serta Irina melawan Ero-sensei, Gabriel serta Michella melawan Luminas-sensei."
"Lalu setelah itu Inori akan melawan Irina satu lawan satu dan untuk pertarungan aku setelah mereka, nanti aku akan melawan kau serta melawan Luminas-sensei secara bergantian," ucap Naruto dengan santai, Luminas yang mendengar itu sedikit tersentak, melawannya seorang diri? Pikirnya. "Aku akan membiarkan teamku lebih dulu melawan Luminas-sensei, jika aku ikut, diriku merasa latihanku tidak ada sensasinya untuk bertambah kuat."
"Kau yakin ingin melawanku seorang diri? Aku sudah mendengar rumor tentangmu jadi aku tidak akan menahan diri loh untuk melihat kemampuanmu secara langsung berdasarkan desas-desus mu, apa kau yakin?" tanya Luminas memastikan keputusan Naruto. "Dia sudah yakin, Luminas," jawab Azazel membuat Luminas meliriknya.
"Aku peringatkan, kau jangan terlalu meremehkannya, jika aku di suruh melawannya seorang diri apa lagi dengan kemampuan [Beast Breaker] ku, dia bisa menang," lanjut Azazel memberi peringatan, Luminas yang mendengar itu tersentak, ini informasi baru untuknya.
Walau dirinya tahu Naruto mampu menekan kekuatan [Sacred Beast : Kyuubi] yang katanya itu baru tahap awal, tapi mengalahkan seseorang yang sudah dalam tahap [Beast Breaker] adalah sesuatu yang sangat Insane untuk manusia biasa.
Sementara Azazel setelah mengatakan itu, dirinya teringat dengan pertarungannya dengan Naruto di mana dia bisa menghancurkan mode [Beast Breaker] nya hanya dengan tangan kosong dan tendangannya, mengingat itu wajahnya sedikit memucat, bisa dia bayangkan bahwa tubuh Naruto itu layaknya sebuah besi yang tebal.
"Jaa, aku akan melakukan pemanasan, kalian latihan tanding duluan," ucap Naruto lalu melanjutkan langkahnya menjauh dari mereka menuju ke sebuah pohon yang tak jauh dari mereka, lalu ia menjatuhkan tasnya dan mengambil pemberat yang dia gunakan kemarin di tempat latihan Shisui
Setelah memasangnya di kedua tangan ia pun mulai mencoba mengangkat tangannya kembali dan kali ini dia bisa sedikit lebih cepat mengangkatnya dari kemarin karena telah terbiasa, walau dirinya masih merasakan tangannya keberatan.
"Yosh!" gumam Naruto. ["Apa kau yakin memaksakan dirimu lagi?"] tanya Ophis dan di balas kekehan pelan Naruto.
"Hehe, tentu saja, tidak perlu khawatir," balas Naruto lalu menarik pedangnya dan mulai melatih ayunan tangannya kembali. Sementara yang lainnya melihat Naruto melakukan pemanasan terdiam sesaat lalu kembali fokus untuk latihan mereka.
Xenovia serta Irina menyiapkan masing-masing pedang mereka lalu memasang kuda-kuda bertarung, sementara Michella ia telah terbang dengan sayap api pelanginya serta menyiapkan sabit apinya, untuk Gabriel, ia memunculkan tombak cahayanya dan memasang kuda-kuda bertarung.
Tak jauh dari mereka, Azazel, Luminas, Inori serta Asia menonton pertandingan mereka, "Kalau begitu, Sparing pertama! Di mulai!" ucap Azazel memberi tanda.
Mendengar itu, Gabriel menciptakan enam lingkaran sihir di belakangnya dan menembakkan enam buah pedang ke arah Irina serta Xenovia, bersamaan dengan itu Michella langsung terbang ke arah Irina sambil menyiapkan sabit apinya.
Melihat itu Irina serta Xenovia langsung berpencar menghindari serangan Gabriel, begitu menghindar Irina lalu mengayunkan pedangnya menahan sabit Michella.
Tap!
Xenovia yang telah menghindari serangan Gabriel menggenggam erat pedangnya hingga mengeluarkan sebuah aura kuning ["One Sword Style : Light Slash!"] ucap Xenovia lalu mengayunkan pedang besarnya hingga mengeluarkan sebuah gelombang kuning yang berukuran cukup besar ke arah Gabriel.
Melihat musuhnya sesama pengguna [Light Magic], Gabriel lalu mengarahkan telapak kirinya yang awalnya dia arahkan ke Xenovia ke arah atas hingga memunculkan lima lingkaran sihir di bawahnya.
["Light Magic : Light Wall!"] ucap Gabriel dan setelah itu muncul sebuah dinding cahaya yang menahan serangan Xenovia. ["Awas di atasmu!"] Gabriel yang mendengar itu tersentak lalu menoleh ke atas dan ia melihat Xenovia datang dari atas sambil mengayunkan pedangnya.
Tak mau terkena serangan tersebut, Gabriel melipat mundur membuat pedang Xenovia hanya menghantam tanah, namun begitu pedang tanah terjadi ledakan gelombang serta hancurnya tempat berpijaknya sebelumnya.
Gabriel yang terkena hempasan gelombang mengendalikan tubuhnya lalu mengayunkan tombak cahayanya menahan pedang Xenovia.
"Boleh juga," kagum Xenovia sambil tersenyum kecil. "Kau juga," balas Gabriel lalu mendorong tombaknya dan melayangkan serangan bertubi-tubi ke arah Xenovia.
Di sisi Michella, dirinya saat ini tengah melakukan gerakan menghindar sambil menahan pedang Xenovia yang bisa memanjang layaknya sebuah pecut serta mencoba melakukan serangan balasan berupa gelombang api ke arah Irina, namun semua serangannya berhasil di patahkan oleh pedang Irina.
"Pedang itu tampak merepotkan ya, hebat juga kau bisa mengendalikan pedang seperti itu, Irina-san," gumam Michella dengan ekspresi serius, Irina yang mendengar itu tersenyum. "Arigato, seranganmu juga cukup merepotkan, Michella-san dan juga kau tampak cantik dengan sayapmu itu," balas Irina sambil bersiap, Michella yang mendengar itu ikut tersenyum.
"Arigato," balas Michella lalu seketika muncul empat lingkaran sihir berwarna hijau di belakangnya, ["Fire Magic : Green Fire : Balistic Fire!"] ucap Michella lalu mengayunkan tangan kirinya membuat lingkaran sihir di belakangnya menembakkan puluhan bola api hijau yang bergerak ke arah Irina.
Irina yang melihat itu tersentak lalu melakukan gerakan menghindar, namun tetap saja saat dirinya menghindar beberapa bola api hijau masih terus mengikuti gerakannya.
"Masih belum!" balas Michella lalu menjentikkan jarinya dan seketika di bawah Irina tercipta beberapa lingkaran sihir berwarna kuning, ["Fire Magic : Yellow Fire : Dynamite Fire!"] ucap Michella kembali menjentikkan jarinya
Bllaaaarrr!
Seketika terjadi ledakan cukup besar hingga menutupi Irina, tak berselang lama dari balik ledakan keluar Irina dengan sepasang sayap putih di punggungnya.
Michella yang melihat itu sedikit terkejut karena Irina bisa terbang, sementara Irina ia menghembuskan nafas lega karena masih selamat.
"Huft... Syukurlah."
Luminas yang melihat pertandingan mereka menggumam pelan lalu melirik ke arah Azazel, "Hoo... Kau punya murid yang hebat, Ero-Zel," ucap Luminas membuat Azazel melenguh pelan. "Bisakah kau tidak memanggilku begitu?" pinta Azazel dengan wajah memelas.
"Tidak," balas Luminas singkat, "kau sungguh beruntung memiliki murid-murid dengan kekuatan yang hebat, dia memiliki [Sacred Beast : Angel], sementara dia memiliki kekuatan [Fire Magic] tingkat tinggi [Rainbow Fire]," lanjut Luminas sambil melihat Gabriel yang melawan Xenovia serta Michella yang melawan Irina secara bergantian.
Matanya lalu melirik ke arah Inori yang berdiri di samping Azazel, "Lalu kau?" tanya Luminas, Inori yang merasa di tanya pun menjawab. "[Blood Magic]," jawab singkat Inori membuat Luminas tersentak sesaat.
"[Blood Magic] ya... Kau benar-benar beruntung membimbing murid-murid dengan kekuatan langka," ucap Luminas lalu melihat ke arah latihan tanding kembali. "Bukankah kau juga?" tanya Azazel membuat Luminas terdiam.
"Dua pedang itu, bukanlah pedang biasa bukan?" lanjut Azazel membuat Luminas mengepalkan tangannya. "Jangan lanjutkan kalimatku, Azazel," pinta Luminas.
Mendengar itu Azazel pun terdiam dan kembali menonton latihan Xenovia, Irina, melawan Michella serta Gabriel. "Ano... Yuzuriha-san," panggil Asia membuat Inori melihat ke arahnya.
"Ayo kemari," ajak Asia sambil menarik tangan Inori dengan lembut, sementara Inori yang tangannya di genggam oleh Asia tersentak sesaat, setelah sampai di bawah pohon Asia pun mengajaknya untuk duduk, dan Inori hanya menurutinya.
"Kenapa... Kau menarikku kemari?" tanya Inori dengan polos. "Karena yang lainnya sedang berlatih dan kita hanya menonton, aku ingin berbincang denganmu," jawab Asia sambil tersenyum akrab.
Inori yang melihat itu terdiam, tangannya yang menyentuh rumput meremas rumput tersebut, dirinya juga merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya, ini pertama kalinya dirinya berbincang dengan orang lain selain Naruto, Jeanne, Mei serta Michella, bahkan dengan Tsunade serta Grayfia dia jarang berbicara jika perlu.
"Be-Berbincang denganku?" tanya Inori tergagap. Asia yang mendengar nada bicara Inori menatap murung dirinya, "Tidak bolehkah?" tanya Asia dengan nada memelas.
"Bu-Bukannya tidak boleh... Hanya saja... Ini pertama kalinya aku berbincang dengan orang lain, selain Naruto-san, serta Michella-san," jawab Inori sambil mengalihkan pandangannya.
"Eh? Kenapa?" tanya Asia dengan ekspresi penasaran, Inori yang mendengar itu terdiam. "Aku... Memiliki sebuah masalah tidak bisa bersosialisasi," jawab Inori membuat Asia yang mendengar itu terdiam, lalu ia tersenyum dan menyentuh tangan Inori.
"Kalau begitu, aku akan menjadi temanmu selain mereka Inori-san, bagaimana?" tanya Asia membuat Inori terkejut. "Te-Temanku?" gumam Inori tergagap.
"Benar, maukah kau berteman denganku?"
Inori yang mendengar itu tersentak, tanpa sadar ia meneteskan air mata yang membuat Asia terkejut karena melihat Inori menangis.
"E-E-Eh?! I-Inori-san, kenapa?"
"Ti-Tidak... H-Hannya saja... Apa kau tidak masalah... Berteman denganku?" tanya Inori sambil mencoba menghapus air matanya. Asia yang mendengar itu menggembungkan pipinya lalu memasang wajah serius kepada Inori sambil kedua tangannya terkepal di dada, "Tentu saja! Lagi pula Inori-san tidaklah menyeramkan, Inori-san itu Kawaii!" ucap Asia membuat Inori kembali tersentak dengan wajah merona.
"Arigato... Arigato, Asia-chan," lirih Inori, Asia yang melihat itu langsung memeluk Inori dengan erat.
["One Sword Style : King Cobra!"] ucap Irina melesatkan pedang cambuknya ke arah Michella, dari ujung cambuk keluar cahaya yang melimpah dan membentuk kepala ular corba.
Michella yang melihat itu menjentik jarinya hingga di bawahnya tercipta tiga lingkaran sihir biru, ["Fire Magic : Blue Fire : Wall Fire!"] ucap Michella lalu mengayunkan sabitnya hingga muncul dinding api biru yang langsung menahan serangan Irina.
Lalu Michella mengarahkan tangan kirinya ke depan dan di depan serangan Irina muncul lingkaran sihir berwarna oranye, ["Fire Magic : Orange Fire : Divide!"] ucap Michella, seketika lingkaran orang itu pun mengeluarkan api yang langsung melingkup kepala ular cobra Irina lalu menghisapnya dengan kuat.
Irina yang melihat serangannya di hisap mencoba menarik pedangnya, namun pedangnya tidak bisa ia kembalikan dan energinya terus di hisap oleh Michella.
"Energiku... Di hisap olehnya," gumam Irina lalu menoleh ke arah Xenovia yang bertarung sengit dengan Gabriel, "Xenovia! Bantu aku!"
Xenovia yang menghindari serangan hujan tombak Gabriel mendengar teriakan Irina melihat ke arahnya, "Bertahanlah! Irina!" teriak Xenovia menghentikan gerakan menghindarinya lalu menangkis beberapa tombak cahaya yang mengarah padanya.
"Tidak akan aku biarkan!" teriak Gabriel melesat dengan cepat ke arah Xenovia sambil menyiapkan tombaknya. Melihat Gabriel melesat ke arahnya, Xenovia menggenggam erat gagang pedangnya dengan kedua tangan lalu memposisikan pedangnya di atas bahunya, ["One Sword Style : ...,"] gumam Xenovia lalu mengangkat kaki kirinya dan menghentakkan ya dengan kuat.
["Execution Slash!"] teriak Xenovia lalu mengayunkan pedangnya.
Sring! Blaaar!
Seketika terjadi hempasan angin yang sangat kuat hingga membuat Gabriel yang melesat ke arahnya terhenti lalu terpental dengan luka di perutnya. Michella yang melihat serangan Xenovia berskala luas bahkan sampai ke arahnya langsung terbang tinggi membuatnya melepaskan pedang Irina.
Gabriel yang telah berhenti dari terpentalnya menyentuh luka di perutnya lalu mengalirkan sihir pengobatan untuk lukanya, "Kuso...," geram Gabriel pada dirinya sendiri karena membiarkan dirinya menerima luka dari serangan seperti itu dilatihan.
"Gabriel-chan! Kau tidak apa-apa?" tanya Michella setelah mendarat di samping Gabriel. "Ya... Aku tidak apa-apa," balas Gabriel lalu menatap tajam Xenovia yang sudah berkumpul kembali bersama Irina.
"Aku membiarkan diriku menerima luka dari serangan seperti itu, dia bahkan tidak menggunakan [Sacred Beast] sekalipun... Apanya yang kuat diriku ini," batin Gabriel sambil menggenggam erat tombaknya.
["Jangan termakan emosi hanya karena luka sekecil itu, Gabriel. Wajar saja kau menerima luka seperti itu karena yang kau lawan adalah pengguna [Holy Sword]."]
Mendengar itu Gabriel yang mendengar itu tersentak, "Apa?! Kau tidak bercanda bukan?!" tanya Gabriel memastikan bahwa[Sacred Beast]nya tidak berbohong.
["Ya... Yang mereka berdua bawa itu adalah [Holy Sword]."]
"Mereka... Artinya Shidou-san juga," batin Gabriel lalu berdiri kembali setelah lukanya pulih, "Jadi yang kami lawan adalah pengguna [Holy Sword]... pantas saja aku bisa menerima luka."
"Michella, berhati-hatilah... Mereka bukan lawan yang bisa di anggap remeh," peringat Gabriel, Michella yang mendengar itu hanya tersenyum. "Ya, aku juga tahu itu," balas Michella.
"Huft, syukurlah... Arigato, Xenovia-chan," ucap Irina berterima kasih karena di selamatkan oleh Xenovia. "Berhati-hatilah, Irina... Mereka bukanlah lawan sembarangan. Terutama yang bisa terbang dengan sayap api pelangi itu," bentak Xenovia memperingati Irina.
"Dia bisa menggunakan semua jenis [Fire Magic] dalam waktu yang bersamaan, selain itu aku dengar-dengar dialah yang memunculkan matahari di samping sekolah waktu itu," ucap Xenovia menatap Michella hati-hati.
"Eh?! Bohong?!" kejut Irina sambil menatap Michella tidak percaya, "tapi... Dia tidak akan menggunakan [Magic] itu hanya untuk ini bukan?"
"Tapi tetap saja, berhati-hatilah... Dia masih menyimpan kekuatannya."
"Bagaimana ini... Mereka memiliki pertahanan serta mampu menangkis dan mematahkan setiap serangan kami," batin Gabriel memikirkan rencana cepat untuk mengalahkan Xenovia serta Irina, matanya lalu melirik ke arah Michella yang terbang tenang di sampingnya.
"Michella mampu menggunakan segala jenis [Fire Magic] tapi selama dia bertarung dengan Irina, ia telah menggunakan [Yellow Fire], [Green Fire], [Blue Fire], [Red Fire] serta [Orange Fire]... Tidak mungkin Michella akan menggunakan tiga Api lain yang tingkatnya bisa membunuh mereka... Tapi, tadi dia menggunakan [Orange Fire] untuk menghisap energi Shidou-san... Jika kita menggunakan trik yang sama sepertinya tidak akan berhasil... Bagaimana ini...," batin Gabriel berusaha memikirkan rencana, "kuso... Andai saja aku sepintar Naruto-kun yang mampu dengan cepat membuat strategi," geram Gabriel.
"Gabriel-san," panggil Michella membuatnya menoleh ke arahnya, "Aku punya rencana, maukah kau dengar?" tanya Michella membuat Gabriel tersentak.
"Bagaimana ini, Xenovia?" tanya Irina kepada temannya apakah dia telah memikirkan rencana. "Aku sudah punya rencana, dengarkan baik-baik Irina," jawab Xenovia membuat Irina tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Apa kau yakin rencana ini berhasil?" tanya Gabriel ketika mendengar rencana Michella. "Tidak ada salahnya mencoba kan?" tanya Michella sambil tersenyum yakin.
Gabriel yang mendengar itu melihat ke arah Xenovia, beberapa detik setelah itu tubuhnya pun mulai terbungkus aura putih dan seketika di punggungnya mengeluarkan dua pasang sayap putih, tombak cahaya yang awalnya berbentuk biasa pun perlahan memanjang dan ukurannya juga bertambah besar.
"Mari kita lakukan!"
Tap!
["One Sword Style : ..."] Michella serta Gabriel yang melihat Xenovia maju satu langkah sambil menggenggam erat pedang besarnya hingga mengeluarkan aura yang melimpah lalu mengangkatnya seperti posisi sebelumnya. "Itu posisi yang sama seperti sebelumnya, berhati-hatilah!" peringat Gabriel.
["Multipe Execution Slash!"]
Setelah itu Xenovia pun menebaskan pedangnya dan seketika hempasan kuat dengan empat gelombang kuning besar yang menyebar luas melesat ke arah Gabriel serta Michella. "Gabriel!" ucap Michella dan seketika api pelangi yang ada di punggungnya berubah menjadi warna hijau sepenuhnya.
["Light Magic : Divine Light Wall!"] ucap Gabriel sambil mengarahkan tangannya ke depan dan seketika tercipta lingkaran kuning besar di depannya bersama Michella.
Blaaar!
Serangan Xenovia pun menghantam dinding cahaya Gabriel hingga membuat kumpulan asap tebal, Luminas yang melihat serangan Xenovia yang menyebar luas ke arah mereka pun menciptakan lingkaran sihir kuning di depannya dalam ukuran besar untuk melindungi Azazel, Asia serta Inori.
"Cih, dasar tidak sabaran," desis Luminas lalu menghilangkan lingkaran sihir di depannya setelah berhasil menangkis serangan Xenovia. Dari balik asap keluar bola-bola api hijau dalam jumlah banyak yang bergerak cepat ke arah Xenovia serta Irina.
Irina yang melihat itu menyiapkan pedangnya, "Serangan seperti tadi ya," gumamnya bersiap membelah setiap bola api Michella.
Swush! Blaar! Blaar! Blaaar!
Namun secara tidak terduga, bola-bola api hijau tersebut berputar lalu menabrak tandandan meledak bertubi-tubi hingga membuat kumpulan asap tebal kembali.
"Apa yang terjadi," gumam Irina kebingungan, Xenovia yang melihat itu menyipitkan matanya.
Twush! Twush! Twush!
Dari balik kumpulan asap keluar beberapa tombak cahaya yang melesat dengan cepat, Xenovia serta Irina yang melihat itu melebarkan mata mereka lalu memiringkan kepala mereka menghindari serangan tombak cahaya tersebut lalu menangkis beberapa tombak cahaya lainnya dengan pedang mereka.
Blar! Blaar! Blaar!
Ledakan bertubi-tubi pun kembali terjadi namun kali ini terjadi di sekitar mereka hingga membuat kumpulan asap tebal di sekitar mereka.
Xenovia yang tidak tahan dengan serangan dari balik asap yang di lakukan Michella serta Gabriel pun berniat menghilangkan kumpulan asap di sekitar mereka.
Sring! Srash!
Namun Xenovia harus tersentak ketika sebuah tombak cahaya melintas di depan matanya dari samping, sementara Irina terkena sebuah goresan dari sebuah tombak cahaya yang melintas dari belakangnya.
Swush! Swush! Swush!
Tanpa di duga dari segala arah muncul beberapa lingkaran sihir berwarna kuning yang menembakkan tombak cahaya secara bergantian.
Xenovia yang melihat itu pun membatalkan serangannya dan memilih untuk menahan serta menghindari tombak-tombak cahaya yang jumlahnya tak terhitung.
Irina yang juga di serang banyak tombak cahaya berusaha menghancurkan setiap lingkaran sihir kuning di sekitarnya, namun setiap dia menghancurkannya, selalu tercipta lingkaran sihir baru.
Swush! Grep!
Xenovia yang akan menebaskan pedangnya terkejut ketika tangannya terikat sesuatu, dan saat dia melihat apa yang menahan tangannya, ia cukup terkejut ketika sebuah rantai putih menahan tangannya yang menggenggam pedang.
Melihat tangannya tertahan, Xenovia menggunakan instingnya untuk menghindari tombak cahaya yang menyerangnya lalu menggunakan serangan tombak cahaya yang datang dari segala arah untuk menghancurkan rantai yang mengikat tangannya.
Swush! Trank! Swush! Trink! Trank!
Xenovia yang melihat sebuah rantai mulai mengikat tangan Irina pun langsung memotong rantai cahaya tersebut lalu menangkis tombak-tombak cahaya yang mengarah padanya.
Irina yang berhasil di tolong oleh Xenovia pun membantunya dengan menangkis serangan tombak yang datang dari belakang Xenovia lalu menangkis beberapa tombak yang mengarah padanya.
"Arigato, Xenovia!" ucap Irina lalu menundukkan badannya dan memiringkan kepalanya ketika melihat tombak melintas di depan matanya. "Kuso! Jumlahnya terlalu banyak!" desis Xenovia dengan nada kesal sambil terus menangkis tombak-tombak cahaya yang mengarah pada mereka.
"Maaf membuat kalian menunggu!"
Xenovia yang mendengar suara Gabriel tersentak dan ia semakin terkejut ketika melihat Gabriel melesat ke arahnya dari depan selagi dia menangkis tombak cahaya yang melintas di atasnya.
Sring! Blaar!
Dengannl reflek cepat, Xenovia membalikkan posisi pedangnya dan menahan tombak cahaya Gabriel dengan sisi pedangnya. "Akhirnya kau keluar juga," geram Xenovia menatap kesal Gabriel.
"Maaf, aku serta Michella tengah membuat rencana untuk mengalahkan kalian," ucap Gabriel sambil tersenyum dan seketika tombak cahaya Gabriel bersinar terang, seluruh tombak yang telah menancap di sekitar mereka pun tak luput ikut bersinar.
"Eh?!" kejut Irina, Xenovia yang melihat itu juga terkejut. ["Light Magic : Flash!"] ucap Gabriel, dan seketika seluruh tombak cahaya yang ada di sekitar mereka bersinar dengan sangat terang membuat Irina serta Xenovia menutup mata mereka untuk tidak melihat cahaya yang di buat Gabriel.
"Mataku!" teriak Irina sambil menyentuh matanya, sementara Xenovia hanya diam sambil ikut menyentuh matanya. Sementara di luar arena tanding, Luminas telah menutup matanya begitu juga Inori serta Asia, sementara Azazel menutup matanya dengan tangannya dan mencoba mengintipnya dari celah jarinya.
Sementara Naruto yang merasakan ada cahaya terang melirik ke arah dari mana cahaya tersebut dan ia bisa melihat tempat di mana Xenovia, Irina, Gabriel serta Michella latihan tanding bersinar terang.
"Salah satu magic Gabriel-chan kah?" gumam Naruto tersenyum tipis lalu melanjutkan latihannya.
Swush! Grep!
Seketika dari setiap sisi mereka muncul rantai putih mengikat tangan sang kaki mereka, lalu cahaya pada masing-masing tombak pun mulai meredup hingga kembali seperti semula.
Xenovia serta Irina yang masih merasakan efek cahaya dari sihir Gabriel menggelengkan kepala mereka sesaat sambil mengedip-ngedipkan mata mereka untuk menormalkan penglihatan mereka.
"Sudah berakhir."
Xenovia yang mendengar suara Michella menoleh ke sumber suara yang ada di atasnya, dan begitu melihat ke atas, Xenovia melebarkan matanya ketika melihat Michella terbang dengan tombak api hijau yang mengarah ke atas dan di ujung tombak tersebut terdapat lingkaran sihir hijau berukuran besar.
["Unique Fire Magic : Green Fire : Domination Fire Shot,"] ucap Michella sambil menatap tenang Xenovia serta Irina yang melihatnya dengan tatapan terkejut. "Apa-apaan itu...," gumam Irina.
"Dia bisa membuat sihir sebesar itu," gumam Luminas sedikit terkejut dengan kemampuan Michella, "tidak asing dia bisa menurunkan matahari tiruan saat kejadian waktu itu."
"Hoo, boleh juga," gumam Azazel sambil menyentuh dagunya, "mereka membuat kumpulan asap untuk menutupi pandangan murid-muridmu terhadap mereka lalu melakukan serangan secara acak agar mereka kewalahan lalu setelah itu mereka membutakan pandangan mereka, selagi membuat mereka kewalahan Michella mengumpulkan energi yang sangat banyak untuk menciptakan sihir seperti tadi, begitu tombak cahaya membutakan mereka serta Kita, Michella mengaktifkan sihirnya... Jadi begitu."
"Bagaimana? Apakah kalian ingin berhenti di sini, atau...," gantung Michella dan seketika, dua buah api yang bergerak cepat turun dari lingkaran sihir Michella dan melesat melewati masing-masing pipi Irina serta Xenovia hingga membuat mereka kembali terkejut karena tidak melihat pergerakan serangan Michella.
"Melanjutkannya?" tanya Michella, Xenovia serta Irina yang mendengar itu mengeluarkan keringat diri, mereka terdiam beberapa saat lalu menundukkan kepala mereka.
"Kami menyerah."
Mendengar itu, Michella pun menghilangkan lingkaran sihir di atasnya dan seketika sayap apinya yang berwarna api hijau kembali menjadi pelangi lalu turun dengan perlahan. Gabriel yang ada tak jauh dari posisi Xenovia serta Irina pun kembali ke mode awalnya dan menghilangkan seluruh tombak cahayanya serta rantai putih yang mengikat mereka.
"Hoo... Sepertinya sudah selesai," gumam Azazel sambil tersenyum senang, sementara Luminas hanya diam beberapa saat lalu menghembuskan nafasnya.
"Huft," Hela Gabriel, dirinya cukup kelelahan karena harus menggunakan banyak [Mana] untuk melakukan rencana Michella, tapi sejujurnya Michella juga mengeluarkan [Mana] yang sangat banyak untuk menciptakan [Magic] seperti tadi.
Dirinya tidak menyangka, Michella berhasil membuat rencana yang sangat hebat, "Tampaknya Kakak serta Adik sama-sama memiliki kepintaran yang hebat," batin Gabriel lalu mendekati Michella yang di bantu untuk duduk di kursinya oleh Inori. "Kerja bagus, Gabriel-chan," ucap Michella sambil tersenyum lalu mengarahkan telapak tangannya ke arah Gabriel.
Gabriel yang melihat itu ikut tersenyum lalu membalas telapak tangan Michella membuat mereka melakukan 'High Five'. Sementara Xenovia serta Irina mereka melihat ke arah Gabriel serta Michella dengan tatapan sedikit kecewa karena kalah dari mereka, "Ya... Sepertinya kita kalah," gumam Irina dengan nada santai, dirinya tidak masalah kalah dari mereka lagi pula ini hanyalah latihan.
"Ternyata mereka cukup kuat juga," gumam Xenovia menghilangkan pedang besarnya, "tidak aku sangka mereka memiliki rencana seperti itu." Dirinya memang benar-benar tidak menyangka bahwa Gabriel serta Michella memiliki sebuah rencana yang sangat matang dalam waktu singkat.
Awalnya dirinya berpikir bahwa serangan mereka tidak terarah sama sekali, tapi tidak di sangka ternyata semuanya telah di atur sedemikian rupa.
Melihat kemampuan mereka membuat Xenovia menghembuskan nafas berat sambil mengepalkan tangannya, namun seketika ia tersentak ketika merasakan sebuah helusan di kepalanya.
"Jangan di pikirkan... Kalian sudah melakukan yang terbaik," ucap Luminas yang telah di samping mereka sambil memberi mereka semangat kembali. Xenovia yang mendengar itu terdiam sesaat lalu menganggukkan kepalanya pelan.
"Gomenasai, Luminas-sensei."
Beralih ke sisi Naruto saat ini ia telah di banjiri keringat karena telah melakukan latihan ayunan pedang dengan pemberat di tangannya cukup lama, setelah beberapa ayunan Naruto menghentikan ayunannya lalu memasang posisi santai sambil mengatur nafasnya.
["Tampaknya pertarungan mereka telah berakhir."] Naruto yang mendengar Ophis berkata demikian pun menoleh dan benar saja ia melihat Gabriel serta Michella mendekatinya.
"Nii-chan!" panggil Michella dan di balas senyuman oleh Naruto. "Ou! Apakah kalian sudah selesai?" tanya Naruto dan di balas anggukkan oleh mereka.
"Fufu, berkat Michella-san kita bisa menang mengalahkan mereka," ucap Gabriel sambil melirik Michella. "Ah, tidak juga... Itu juga berkatmu, Gabriel-san," balas Michella.
"Souka... Baguslah kalau begitu," balas Naruto sambil ikut tersenyum senang lalu menatap tangannya yang berisi pemberat, walau pun dirinya mulai terbiasa dengan berat pemberat di tangannya, tapi dirinya merasa tetap saja latihan ini masih terasa belum cukup.
Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah pohon besar di sampingnya, dirinya menatap pohon tersebut beberapa saat hingga setelah itu dia pun menyimpan pedangnya ke sarungnya kembali lalu melakukan peregangan tangan.
"Nii-chan, bukankah sebaiknya kau istirahat, kau sudah terlihat kelelahan," ucap Michella menatap khawatir kakaknya yang bermandikan keringat, terlebih ia bisa menebak bahwa kakaknya akan kembali melanjutkan latihannya walaupun dia sudah bermandikan keringat.
"Ya... Aku akan menyusul, aku masih belum merasa lelah, jangan khawatir," ucap Naruto melirik Michella sesaat lalu menatap tajam pohon di depannya, lalu ia pun memasang kuda-kuda bertarung tangan kosong sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Jaa... Mari kita lanjutkan!" ucap Naruto lalu melayangkan tinju ke arah pohon di depannya.
Buagh!
.
.
.
.
.
TBC
.
Note : Yo! Minna-san! Kobanwa!
Kembali dengan saya! Author Newbie yang penuh eksis dan berusaha tetap update!
Hehe #Ehe Nandayo!
Ekhem, well bagaimana kabar kalian minna-san? Aku harap kalian baik-baik saja ya. Bagaimana menurut kalian Chapter kali ini? Memuaskan kah? Aku harap bisa memuaskan kalian walau ceritanya menurut saya Absurd, ahahaha, but bagi saya tidak masalah setidaknya saya bisa menuangkan apa yang ada di kepala saya.
So so... Di chapter kali ini menunjukkan adegan Latihan antara Xenovia, Irina serta Gabriel dan Michella, kenapa tidak secara sekaligus? Nope, saya memang sengaja membuat hal ini secara bergantian, jika secara langsung semua itu akan memberatkan alur saya, jadi saya lakukan bertahap, dan di chapter depan nanti, Gabriel serta Michella akan melawan seseorang yang mungkin memang tak terduga, yaitu Luminas Valentine.
Yap, dia karakter dari anime Tenshura Slime yang terkenal itu, alasan kenapa saya memasukkannya akan terjawab sesuai alur nanti, kekuatannya apakah setara di Canon, saya akan mempertimbangkannya, btw di sini dia bukanlah Demon Lord, Ok.
Lalu perempuan rambut merah? Bagaimana kah kelanjutan perempuan tersebut? Fufufu, tunggu saja saja.
Ok itu saja dari Saya, semoga kalian puas dengan cerita ini dan sampai jumpa di Naruto : The Dragon Future, saa saya 4kagiSetsu, undur diri, Jaa na.
FCI. 4kagiSetsu Out
