Name: Heroes From Another World
Author: The World Arcana
Genre: Friendship, Adventure
Rating: M
Summary: Peperangan sudah akan dimulai. Pertumpahan darah tidak akan bisa dihindari lagi. Apakah Naruto dan Shin Akatsuki sekaligus Team DxD akan berhasil mengalahkan Khaos Brigade yang dipimpin oleh Hinata Hyuga? Ataukah mereka akan kalah dari sosok yang memiliki dendam kesumat pada Naruto Uzumaki dan bertekad melakukan fatwa Hamura yang telah dirubah oleh Kuro Zetsu?
Pair: Naruto Uzumaki x Rias Gremory x Sara x Himejima Akeno, Sasuke Uchiha x Sona Sitri x Tsubaki Shinra, Toneri Otsutsuki x Ophis, Issei Hyoudou x Irina Shidou x Asia Argento x Xenovia Quarta x Ravel Phenex x Koneko Toujou, Gaara x Reya Kusaka, Kakashi Hatake x Rossweisse, Obito Uchiha x ?, Rock Lee x Tsubasa Yura, Shikamaru Nara x Seekvaira Agares, Vali Lucifer x Kuroka Toujou x Lavinia Reni, Arthur Pendragon x Coriana Andrealphus, Sairaorg Bael x Kuisha Abaddon, etc.
Disclaimer: Highschool DxD dan Naruto bukanlah milik saya.
Warn: Typo, alur gaje dan kebencian kalian kepada saya karena telah membuat Hinata menjadi antagonist busuk nan biadab akan bertambah besar
.
.
.
Chapter 31: Before The War
Naruto dan yang lain pun melakukan rapat dan membicarakan tentang kematian Issei. Asia, Irina, Xenovia bahkan Ravel menangis tiada henti setelah tahu seseorang yang mereka cintai kehilangan nyawa mereka terutama Xenovia yang juga kehilangan sosok ayah bagi anak yang dikandungnya. Pikiran Xenovia pun kalut dan dia ingin sekali menyalahkan Naruto akan hal itu, tapi dia tidak jadi melakukannya karena melihat tatapan kosong milik Naruto sama sepertinya karena kematian Issei juga berefek pada Naruto yang merupakan sensei dari Issei dan juga sosok yang menganggap Issei sebagai adik itu.
"Jadi kau bilang kalau Great Red bisa membantu kami untuk mendapatkan Issei kembali, Ophis. Bisa kau jelaskan?"
"Seperti yang kita tahu kalau tubuh Hyoudou Issei itu hancur melebur karena kutukan Samael. Tapi jiwa dia masih ada dan terperangkap dalam Evil Pieces miliknya." Balas Ophis dan kemudian dia melanjutkan "Aku yakin baka-Red bisa membantu kita untuk membuatkan tubuh baru untuk Issei. Tapi—"
"Tapi apa Ophis?"
Mendengar pertanyaan kekasihnya, Ophis pun melanjutkan "Rumah kami, Dimensional Gap bukanlah sembarang area yang bisa dimasuki siapapun. Tempat itu akan menghancurkan siapapun yang menginjakkan kaki di sana. Bahkan iblis, malaikat, atau malaikat jatuh akan mati tanpa bekas disana."
"Aku dan Sasuke akan kesana."
"Naruto-kun!"
"Apa yang kau pikirkan ini?"
"Jangan bercanda, Naruto-kun."
Tapi teriakan Sirzech, Rias dan yang lain tidak dihiraukan Naruto. Dia malah berkata "Aku memang iblis, bahkan hanyalah seorang iblis reinkarnasi yang kebetulan diberikan kepercayaan langsung untuk menjadi High Class Devil karena pemimpin kalian respek pada kekuatanku. Tapi aku percaya pada perlindungan yang diberikan beliau, perlindungan yang diberikan oleh Rikudou Sennin."
"Aku sependapat dengan Naruto. Kekuatan yang diberikan beliau tidak akan mungkin mudah membuat tubuhku dan Naruto hancur begitu saja. Karena kami adalah reinkarnasi dari putra beliau yang dia sayangi sampai akhir hayatnya."
"Jadi bagaimana Ophis?"
"Kalau begitu ikuti aku. Dan jangan lupa bawa Evil Pieces milik Issei, Uzumaki." Balas Ophis yang langsung keluar dan mulai membuatkan portal untuk menuju ke rumahnya dan Great Red, Dimensional Gap.
Setelah itu semua anggota fraksi iblis mulai menghampiri tempat Ophis berada dan bisa dilihat kalau banyak orang terlihat khawatir pada keselamatan Naruto dan Sasuke terutama Rias, Akeno, Sara, Sona dan Tsubaki.
"Jangan khawatir, semuanya. Aku dan Sasuke akan baik-baik saja."
Mereka langsung memasuki portal yang dibuat Ophis dan sampai di Dimensional Gap, tapi tiba-tiba saja dada mereka seperti terbakar dari dalam dan tubuh mereka kesakitan di beberapa bagian.
"Ugh, Ophis benar-benar tidak bercanda. Bahkan kekuatan jiji tidak bisa membantu banyak disini."
"Gah, kau ada benarnya Naruto. Lebih lama disini, kita berdua bisa tamat."
"Jadi kau sudah menyerah, Uzumaki, Uchiha? Kalau kau sudah tidak kuat lagi, lebih baik kita kembali saja. Aku tidak mau diriku disalahkan kalau kalian berdua mati sia-sia, kita punya perang yang sedang menunggu kita lagipula."
"Kami akan menahan rasa sakit yang kami terima Ophis. Bimbinglah jalannya."
Ophis pun membimbing mereka ke tempat biasa Great Red terbang tanpa memperdulikan tubuh mereka yang semakin lama semakin sakit karena efek korosif dari Dimensional Gap. Saat mereka sampai, mereka bisa melihat sosok naga yang ukurannya bahkan lebih besar dari ukuran Kurama yang sudah menyatukan raga Yin dan Yang mereka.
"Aku terkejut melihatmu datang kemari dan tidak mencoba mengalahkanku untuk merebut rumahmu dariku ini, Ophis." Balas Great Red yang mengabaikan tatapan tajam yang diberikan Ophis, dan dia pun menatap Sasuke dan Naruto "Kalian berdua sosok yang menarik. Aku tidak menyangka kalau kalian bisa bertahan berada disini meskipun aku bisa melihat kalian tengah menahan rasa sakit kalian sedari tadi, iblis."
Great Red menggunakan kekuatannya dan itu membuat Naruto dan Sasuke memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak, tapi setelah itu tubuh mereka tidak merasakan rasa aakit tiada tara seperti tadi "Jadi katakan apa yang kalian inginkan dariku, iblis?"
"Aku ingin meminta bantuanmu untuk membuatkan tubuh baru untuk Hyoudou Issei, Great Red."
"Untuk apa aku melakukan itu? Tidak ada untungnya bagiku jika aku melakukan itu."
"Aku akan bilang kalau akan terjadi peperangan antara 3 fraksi dengan Khaos Brigade yang dulu dipimpin oleh Ophis, dan kami membutuhkan bantuan dia sebagai seorang Sekiryuutei." Balas Naruto dan kemudian dia melanjutkan "Tapi tidak... Alasan sebenarnya aku memintamu melakukan ini karena aku tidak bisa membiarkan dia berakhir seperti ini, mati karena seseorang yang dendam padaku. Dia punya masa depan yang cerah, Great Red. Jalannya untuk menjadi seorang High-Class Devil terbuka lebar, dia sebentar lagi juga akan menjadi seorang ayah. Sebagai sensei-nya yang juga mengganggapnya sebagai putra dan saudara, aku tidak bisa membiarkan Issei berakhir seperti ini. Jadi kumohon Great Red, bantulah aku!"
Semua orang terkejut saat melihat Naruto bersujud pada Great Red, sama seperti yang dia lakukan pada Raikage di Tetsu no Kuni supaya dia memaafkan Sasuke yang dia pikir waktu itu membunuh adiknya yang merupakan seorang Jinchuuriki sepertinya.
"Naruto! Kau tidak harus bersujud seperti ini. Ingat dengan harga dirimu."
Ucapan Sasuke tidak terdengar oleh Naruto. Persetan dengan harga diri! Menurut dia, hal itu tidak akan membantu mereka bertiga untuk menghidupkan Issei. Sosok penting yang sudah dia anggap keluarga sendiri. Melihat itu Great Red langsung berubah menjadi wujud manusia-nya dan menghampiri Naruto yang masih bersujud padanya.
"Bangkitlah gaki..." Ucap Great Red dan Naruto pun bangkit dari sujudnya dan menatap Great Red. Setelah itu, dia pun memberikan sesuatu ke tangan Naruto dan dia pun berkata "Aku akan memberikan sebagian daging milikku padaku, gaki. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan. Sisanya aku serahkan padamu, gaki. Kau mempunyai Power of Creation seperti Hagoromo lagipula."
Naruto dan Sasuke cukup terkejut saat mendengar nama Rikudou Sennin dari Great Red. Saat mereka ingin menanyakannya, Great Red seolah mengerti apa yang mereka pikirkan dan menjawab "Dia adalah teman lamaku. Saat dia dan saudarinya bertarung dengan ibunya yang bernama Kaguya, dia dikirimkan ibunya ke sini untuk membunuhnya. Tapi beruntungnya aku ada disini dan membantunya keluar dari sini dan persahabatan kami pun tumbuh sampai-sampai aku pun bersedia untuk membuat portal yang menghubungkan dunia ini dan dunia kalian sebelum dunia itu hancur."
Saat Naruto melihat Great Red berubah wujud kembali menjadi naga dan menjauhi mereka, Naruto pun berteriak "Kau mau kemana, Great Red? Kau tidak bisa meninggalkan kami begitu saja. Aku bahkan tidak yakin kalau aku bisa melakukan hal yang kau katakan itu."
"Percayalah pada dirimu sendiri, Uzumaki Naruto. Kalau Hagoromo bisa melakukannya, maka aku yakin kau bisa melakukannya."
Naruto yang mendengar itu pun menghela nafas dan berkata "Baiklah, Great Red. Aku akan melakukannya semampuku dan terima kasih telah mempercayaiku."
Great Red yang mendengar itu tersenyum tipis dan berkata "Dan Ophis..."
"Ada apa, Baka-Red?"
"Aku tahu hubungan kita tidak baik. Kita selalu bertengkar karena merebut wilayah di Dimensional Gap, tapi aku masih peduli padamu Ophis."
"Jangan basa-basi, Great Red. Katakan apa yang kau inginkan sebenarnya dariku?"
Great Red menghela nafas dan berkata pada mantan rivalnya itu "Dalam perang kalian melawan Khaos Brigade, jangan memaksakan dirimu. Aku tahu kalau kau sudah kehilangan sebagian kekuatanmu dan kau juga sedang mengandung anak dari keturunan saudara Hagoromo tersebut."
Naruto dan Sasuke terkejut saat mendengar perkataan Great Red. Sedangkan dengan Ophis, wajahnya memerah seperti warna rambut Rias dan Sara "Bagaimana kau bisa tahu tentang itu Baka-Red?"
Bukannya menjawab, Great Red malah pergi dan meninggalkan mereka dan itu membuat Ophis terlihat jengkel dan malu karena rahasianya telah dibongkar oleh Great Red, padahal dia berencana untuk memberitahu Toneri setelah semua ini berakhir.
"..."
"..."
"Jika kalian ingin mengatakan sesuatu! Katakan sekarang!?" Teriak Ophis dengan nada marah saat melihat tatapan Naruto dan Sasuke yang diberikan di belakangnya.
"A-Ah, tidak... Hanya saja aku tidak pernah menduga kau bisa memiliki anak, Ophis... Kupikir kau itu genderless..." Balas Naruto yang terlihat menahan tawa dan itu membuat Ophis menahan jengkel "Kau itu produktif juga ya, Ophis."
"Maaf jika aku hamil!?" Balas Ophis dengan dengusan dan saat dia melihat tatapan Sasuke, dia kembali marah kepada sang Uchiha terakhir itu "Dan kau, Uchiha! Jika kau memiliki sesuatu yang ingin dikatakan, cepat katakan sekarang!?"
"Ah, Uhm... Selamat?" Balas Sasuke dengan nada kikuk.
"Terimakasih! Tapi aku tidak ingin mendengar itu sekarang!" Balas Ophis dan kemudian dia pun mengutuk Great Red yang keberadaannya sudah tidak ada disana sejak tadi "Dasar baka-Red sialan, akan kubalas rasa malu yang kudapat hari ini, kau tunggu saja..."
"Errr, Naruto..."
Naruto yang mendengar Sasuke pun berbisik di telinga-nya "Sasuke... Aku tahu apa yang ingin kau katakan, tapi lebih baik kita diam, daripada kita terlibat masalah nanti. Perempuan yang hamil pasti akan mengalami sesuatu yang bernama mood swing dan akan merepotkan nantinya. Beruntungnya saat Sara dan Rias hamil dan mengandung, aku tidak ada disana. Jadi aku aman dari mood swing mereka."
Sasuke terdiam menatap Naruto, lalu menatap kearah Ophis yang masih marah-marah kepada Great Reddan menyumpahi naga besar berwarna merah itu, padahal dia sudah tidak ada disana dari tadi.
Sasuke kemudian menghela nafas dan berkata "Oke, mari kita diam kalau begitu."
-Line Break-
Mereka bertiga kembali ke markas sementara fraksi iblis di Island of Whirlpool, meskipun Xenovia, Irina, Asia dan Ravel harus menahan kecewa karena tidak adanya Issei di rombongan mereka.
"Jadi kalian gagal untuk membujuknya memberikan tubuh baru untuk Issei-kun, Naruto-san?"
"..."
"Naruto-san, kumohon katakan sesuatu... Jangan buat kami penasaran seperti ini."
Naruto menghirup nafas dalam-dalam dan berkata "Kami sudah membicarakannya pada Great Red, tapi dia hanya memberikan ini."
"Apa itu?"
"Itu adalah sebagian daging dari tubuh Great Red." Balas Naruto dan itu membuat banyak iblis yang haus kekuatan terlihat tertarik untuk mengambilnya dari tangan Naruto dan itu membuat Naruto menatap mereka semua dengan tajam "Aku tahu apa yang kalian ingin katakan? Kenapa dia malah memberikan dagingnya bukan membentuk tubuh Issei sendiri? Dia bilang dia mempercayakannya padaku untuk membentuk tubuh Issei dengan kekuatanku sendiri yang aku pelajari dari leluhurku yang bernama Rikudou Sennin. Tapi kalau hal itu tidak bisa aku lakukan, aku mohon maafkan aku. Aku tidak sehebat beliau lagipula."
"Lakukan apapun yang kamu bisa, Naruto-kun. Kami semua percaya padamu." Balas Rias yang ditanggapi oleh anggukan kepala oleh Sara dan Akeno.
"Aku juga mempercayaimu, Naruto-san. Karena kalau aku jadi Issei-kun, dia pasti juga seratus persen."
Mendengar ucapan Xenovia dan orang yang dicintainya, Naruto pun berkata "Kalau begitu, Toneri, Sasuke, Sirzech, dan Ajuka ikuti aku. Yang lain tunggu saja disini."
-Line Break-
"Jadi kau akan menggunakan kekuatan yang kau gunakan untuk memodifikasi Evil Pieces milikmu, Naruto-kun?"
"Itu benar nii-sama. Tapi aku tidak yakin bisa melakukannya sendiri karena kekuatan yang aku terima dari Rikudou-jiji hanyalah setengahnya saja."
"Jadi kau ingin meminta bantuanku, Naruto? Karena aku juga mempunyai setengah kekuatan dari Rikudou?"
"Itu juga kalau kau tidak keberatan."
Sasuke yang mendengar itu mendengus dan berkata "Aku tidak akan keberatan untuk membantumu, Naruto."
Melihat Sasuke terlihat siap untuk mentransfer chakra-nya pada gumpalan daging yang diberikan oleh Great Red, Toneri pun menambahkan "Aku juga akan membantu kalian. Aku harap dengan chakra yang aku miliki karena statusku sebagai salah satu keturunan Hamura-sama, aku bisa membantu banyak. Lagipula dosaku yang telah ikut andil dalam penghancuran Elemental Nation sudah tidak bisa dihitung lagi. Kalau hal ini bisa membantu orang lain dan bisa meringankan dosaku, akan aku lakukan semampuku."
"Arigatou, minna... Banbatsu Sozo!"
Naruto pun menggunakan handseal dan menggunakan teknik yang dipakai oleh Hagoromo Otsutsuki untuk memecahkan chakra Juubi menjadi sembilan dan kemudian chakra itu terbentuk menjadi makhluk lain yang bernama Bijuu. Berkat bantuan Toneri dan Sasuke, bisa terlihat gumpalan daging itu mengembang dan membentuk tubuh baru untuk Issei. Setelah tubuh baru Issei terbentuk, Naruto langsung memasukkan 8 Evil Pieces milik Issei ke dalam tubuh barunya.
"Apa berhasil?"
Naruto melihat tanda-tanda kalau Issei akan terbangun atau tidak, tapi nihil. Tidak terjadi apapun dan itu pun membuat Naruto memukul lantai di bawahnya dengan kesal dan berkata "Sial! Aku gagal... Great Red sudah sangat mempercayaiku, tapi aku masih saja gagal. Chikuso!"
'Naruto... / Naruto-kun...'
"Kita sudah berusaha Naruto..." Balas Toneri yang menepuk pundak Naruto dan kemudian melanjutkan "Sepertinya kita harus merelakan dia, Naruto."
Naruto hanya terdiam, tapi ada suara yang membuat mereka semua terkejut "Dimana aku? Bukannya aku saat ini harusnya telah meninggal?"
Mereka terkejut saat melihat mata Issei telah terbuka dan dia juga memegang kepalanya yang terasa pening "Issei, apa ini benar-benar kau?"
"Tentu saja ini aku sensei. Kau pikir siapa lagi?" Balas Issei, tapi Issei dibuat terkejut saat sang guru tiba-tiba memeluknya 'Sensei...'
"Aku pikir aku akan kehilangan dirimu sama seperti saat aku kehilangan Natsumi dan orang-orang berhargaku dari Konoha, Issei."
"Jujur saja, aku belum siap untuk meninggalkan kalian semua terutama kau, Xenovia-chan, Irina-chan dan Asia-chan."
"Kalau begitu, siap untuk menemui mereka semua Issei?"
"Tentu saja sensei."
Naruto terlihat membantu Issei berjalan untuk membiasakan diri dengan tubuh barunya. Setelah itu, muncul sinar berwarna keputihan di tangan kirinya, dan dia pun terkejut saat melihat sumber dari cahaya itu dan membuat Toneri bertanya kepadanya "Ada apa, Sasuke?"
"Segel Yin milikku yang diberikan oleh Rikudou."
"Memangnya kenapa dengan segel itu?"
"Segel itu telah kembali."
-Line Break-
"Issei-kun!"
Melihat Xenovia berlari ke arah-nya, Issei pun memeluk Xenovia dengan erat dan dibalas dengan erat oleh Xenovia. Irina, Asia dan Ravel terlihat cemburu tapi mereka mengerti kalau di antara mereka semua, Xenovia lah yang sangat terpukul karena kematian Issei yang merupakan sosok ayah bayi di dalam kandungannya.
Setelah itu dia melepaskan pelukannya dari Xenovia dan dia mendapatkan pukulan telak yang mendarat di pipinya dan pelakunya adalah Xenovia "Xenovia, kena—"
"Kumohon jangan tinggalkan aku sendirian lagi, hiks."
"Aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji." Balas Issei yang kembali memeluk Xenovia dan itu membuat banyak iblis yang berada disana tersenyum.
"Issei, aku tahu kau baru saja bangkit kembali dari tidur panjangmu dan melepaskan rindu bersama dengan Xenovia dan anggota harem-mu yang lain, tapi ada yang harus kita semua sebagai anggota fraksi iblis bicarakan dengan fraksi malaikat dan fraksi malaikat jatuh. Jangan lupa dengan semua anggota Team DxD juga." Ucap Naruto yang melihat Issei telah melepaskan pelukannya pada Xenovia.
"Apa itu sensei kalau kau boleh tahu, sensei?"
"Masalah tentang perang antara 3 fraksi supernatural dan juga Khaos Brigade."
-Line Break-
"Mah... Aku sangat benci dengan peperangan, tapi yang dilakukan mereka sudah melewati batas." Ucap Azazel yang ikut dalam rapat 3 fraksi supernatural, Team DxD dan juga Shin Akatsuki di dalam Great Hall yang berada di Island of Whirlpool. Meskipun bisa terlihat kalau fraksi malaikat tidak terlihat dalam rapat tersebut dan yang terlihat hanyalah Dulio dan Irina saja "Jadi Dulio-san, dimana Gabriel dan Michael? Tumben sekali mereka tidak ikut dalam rapat kali ini?"
"Aku mohon maaf, Azazel-dono, Sirzech-dono. Tapi kita harus memulai perang ini tanpa bantuan fraksi malaikat."
"Memangnya kenapa?"
Melihat Sirzech dan Azazel yang terlihat kebingungan, Dulio pun membalas "Heaven saat ini sedang menghadapi gempuran dari pihak Khaos Brigade yang dipimpin oleh mantan exorcist bernama Masaomi Yaegaki. Dia juga dibunuh karena telah mencintai salah satu gadis High Class Devil yang pernah menguasai daerah Kuoh sebelum Gremory-san dan Sitri-san oleh ayahmu, Irina-chan."
"Kalau begitu kita harus membantu mereka minna!"
Mendengar ucapan Issei, Naruto yang mendengar itu berkata "Aku tidak setuju..."
"Tapi kenapa, sensei? Mereka adalah rekan dari kita, kenapa kita tidak bisa membantu mereka?"
"Karena Issei, musuh yang akan dihadapi oleh kita semua lebih sulit dibandingkan dengan musuh yang memimpin penyerangan ke Heaven." Balas Naruto dan kemudian dia melanjutkan "Kau tahu teknik Hiraishin milikku kan Issei? Ayahku yang telah dipanggil kembali dengan Edo Tensei bisa menggunakan Hiraishin lebih baik dariku, bahkan dia bisa menghabisi ratusan ribu pasukan dengan teknik Hiraishin-nya kalau dia mau. Dan saat ini dia dibangkitkan dengan teknik Edo Tensei... Walaupun kita bisa menghancurkan tubuhnya, dia akan tetap beregenerasi kecuali kalau disegel."
"Jadi kita harus membiarkan mereka memenangkan peperangan di Heaven sendirian?"
Naruto yang merasakan kemarahan di diri Issei berkata "Jangan khawatir Issei. Aku sudah mengurusnya. Aku sudah mengirim Vali dan tim-nya kesana bersamaan dengan Sai. Dengan kemampuan Fuinjutsu milik Sai akan sangat membantu melawan pasukan Edo Tensei yang berada disana."
"Baiklah sensei." Balas Issei yang kemarahannya telah mereda dan dia pun melanjutkan "Maaf sensei. Hanya saja aku khawatir pada Touji-ossan. Dia sudah seperti ayah bagiku saat dia dan Irina-chan masih tinggal di Jepang."
"Sirzech-sama..."
"Ada apa Diehauser-kun?"
"Kalau bisa, aku ingin pergi ke Heaven untuk membantu fraksi malaikat. Masaomi-san pasti melakukan ini karena kematian sepupuku, Cleria. Kalau ada yang berhak untuk membuat jiwanya tenang, itu adalah aku."
"Baiklah, aku akan mengijinkanmu Diehauser-kun."
Diehauser terlihat meninggalkan ruang rapat, tapi dia dipeluk oleh seseorang gadis cantik yang ternyata adalah peringkat kedua turnamen Rating Games yang bernama Roygun Belphegor "Berhati-hatilah, Die-kun?"
"Tentu saja Roygun." Balas Diehauser yang melepaskan pelukan Roygun dan pergi menemui tim Vali dan Sai.
Setelah kepergian Diehauser bersama dengan tim Vali dan Sai, kemudian rapat pun berlangsung kembali. Setelah rapat itu berakhir dan mereka sepakat untuk mempersiapkan diri untuk bertarung dan merebut Underworld, Sara pun mencari Naruto yang tidak terlihat dimanapun dan itu membuat dia, Akeno, dan Rias cemas.
Sara akhirnya menemukannya terlihat sedang duduk dan bersender di pohon besar di belakang tubuhnya "Aku adalah ayah yang buruk, iya kan Sara?"
"Kenapa kau berkata seperti itu?" Tanya Sara yang memutuskan untuk duduk di sebelah Naruto.
"Saat aku dikendalikan oleh Juubi dan menyerang semuanya. Aku melihat sesuatu Sara." Balas Naruto yang terlihat meneteskan air mata-nya "Aku melihat kematian putri kita berdua, kematian Natsumi-chan. Saat dimana dia mengatakan kalau dia membenciku karena telah meninggalkan Elemental Nation dan membiarkannya dihancurkan oleh Toneri dan Hinata. Melihat dimana Hinata dengan keji-nya membunuh putri kita. Menghancurkan jantung putri kecil kita dengan tangannya sendiri. Seharusnya aku disana! Seharusnya aku menghentikan Toneri dan Hinata terlebih dahulu! Tapi aku malah meninggalkannya, membiarkannya mati dengan tragis. Ayah macam apa aku ini? Pilihannya untuk membenciku adalah pilihan yang tepat."
Slap
"Sara, kenapa kau?"
"Dasar bodoh!" Teriak Sara yang memukul-memukul perut Naruto, membuatnya sedikit kesakitan "Dia tidak akan pernah membencimu, Naruto-kun. Kecewa dengan keputusanmu untuk pergi, tentu. Tapi dia tidak akan benar-benar membencimu, karena putri kecil kita sangat respek dan mengidolakanmu, Naruto-kun."
"Tapi—"
"Aku adalah sosok yang mengandung dia selama sembilan bulan dan aku juga yang melahirkannya ke dunia ini, Naruto-kun. Kau masih tidak percaya pada perkataanku?"
"Maaf atas kebodohanku, Sara." Balas Naruto yang memeluk Sara dengan erat dan Sara ikut membalas pelukan kekasihnya itu.
"Jadi katakan, Naruto-kun. Apa ada hal lain yang mengganggumu selain hal ini?"
Mendengar perkataan Sara, Naruto melepaskan pelukannya dan berkata "Aku yakin Hinata akan menggunakan Natsumi sebagai pasukan Edo Tensei-nya, sama seperti yang dia lakukan pada kedua orang tua-ku."
"Naruto-kun..."
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tahu kita harus memenangkan perang ini apapun yang terjadi, tapi aku tidak ingin melukai putriku sendiri."
"Aku juga sama Naruto-kun. Apalagi dia adalah sosok yang aku kandung selama sembilan bulan, aku lahirkan dan aku jaga sampai kematianku di Elemental Nation karena usia." Balas Sara yang kemudian melanjutkan "Tapi apa kau pikir putri kita menginginkan hal ini terjadi? Melukai banyak orang terutama kita, kedua orang tua-nya sendiri?"
"Jadi maksudmu kita harus melawan dia dan menyegelnya, Sara?"
Mendengar nada bicara Naruto yang terlihat kesal serta frustasi, Sara pun membalas "Lebih baik seperti itu daripada melihat dia menjadi boneka orang jahat seperti Hinata Hyuga, Naruto-kun. Kalau begitu aku istirahat dulu, Naruto-kun."
Sara pun pergi meninggalkan Naruto dan lalu dia dihampiri Toneri "Benar-benar hal yang merepotkan, huh. Melawan putrimu sendiri, pasti akan sulit."
"Ya begitulah..."
Mendengar respon Naruto, Toneri hanya berkata "Maafkan aku, Naruto. Kalau saja aku tidak salah kaprah mengartikan amanat dari Hamura-sama, semua ini tidak akan terjadi."
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri Toneri. Aku akui kalau aku juga bersalah disini." Balas Naruto yang kemudian melanjutkan "Aku sudah tahu perasaan Hinata sejak aku melawan Pain. Harusnya aku jujur kalau dia tidak pernah ada tempat di hatiku, tapi aku malah mempermainkan perasaannya dan membuatnya menjadi seperti itu."
"Itu bukan sepenuhnya salahmu tapi." Ucap Toneri yang kemudian melanjutkan "Ini adalah masalah perasaan. Kau tidak bisa memaksakan perasaanmu untuk menerima dia sama seperti perasaanmu pada Rias-san, Sara-san dan Akeno-san. Jujur saja pada awalnya aku juga merasakan rasa suka pada dia, tapi perasaan itu lama kelamaan memudar dan kemudian menghilang sepenuhnya setelah aku bertemu dan semakin dekat dengan Ophis. Intinya masalah perasaan memang tidak bisa dibohongi. Tapi ini sungguh ironis huh, hal yang bisa membuat hati berdebar-debar seperti cinta malah bisa membuat hal besar seperti ini."
"..."
"Naruto, jika aku bisa membayar semua atas apa yang aku lakukan padamu dan teman-temanmu, itu semua akan aku lakukan. Walaupun aku harus membayarnya dengan nyawaku sendiri."
"Jangan bercanda Toneri!" Teriak Naruto yang tiba-tiba mencengkram kerah baju Toneri dan berkata dengan nada marah "Jangan mengatakan hal seperti itu lagi! Kau itu sudah jadi bagian dari kami sekarang, aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan dirimu demi kami. Lagipula, apa kau yakin akan meninggalkan Ophis saat dia sedang—"
Naruto tersadar atas apa yang akan dikatakannya dan membuatnya langsung menutup mulutnya dengan diam, dan itu membuat Toneri cemas karena dia khawatir kalau Ophis sedang dalam masalah dan dia tidak mengetahuinya "Apa yang terjadi pada Ophis, Naruto? Kau tahu sesuatu kan?"
"Aku minta maaf, Toneri. Tapi kau harus bertanya sendiri pada orangnya." Balas Naruto yang kemudian melanjutkan "Aku tidak punya hak untuk mengatakan ini tanpa izinnya.'
Naruto pun pergi dan meninggalkan Toneri, membuatnya berfikir keras atas apa yang terjadi pada kekasihnya itu 'Apa yang terjadi padamu sebenarnya Ophis? Kenapa kau tidak cerita padaku? Jangan buat aku cemas seperti ini, kumohon.'
Toneri kemudian pergi dan menemukan Ophis di kamarnya, membuat dirinya terkejut dan panik harus mengatakan apa dia pada Toneri tentang kehamilannya. Dia cemas kalau Toneri akan menolak eksistensi janin yang sedang dikandungnya itu, karena kondisi mereka saat ini memang tidak memungkinkan untuk memiliki seorang anak. Di saat perang yang akan terjadi tidak lama lagi.
"Ketuk pintu sebelum seenaknya masuk ke kamarku, idiot." Ucap Ophis yang kemudian terlihat cemas pada Toneri yang hanya diam mematung dan tidak berkata apa-apa sedari tadi "Apa ada sesuatu yang salah Toneri?"
"Apa yang kau sembunyikan dariku Ophis?"
'Sial! Kenapa dia bisa tahu? Dasar keparat. Ini pasti ulah si Uzumaki dan Uchiha itu.' Batin Ophis dengan kesal pada reinkarnasi Ashura dan Indra itu "Aku tidak mengerti atas apa yang kau katakan, Toneri."
"Bukannya kita berdua telah janji untuk saling terbuka dan tidak merahasiakan apapun lagi? Tapi kenapa kau malah diam saja. Katakan... Apa kau masih mempunyai keinginan untuk merebut rumahmu dari Great Red? Aku sangat yakin kalau kekuatanku tidak cukup kuat untuk melawan dia, tapi bukan berarti kau harus merahasiakan ambisi atau keinginanmu itu dariku Ophis."
"Bukan itu masalahnya, idiot!" Teriak Ophis mengejutkan Toneri "Aku tidak peduli dengan Dimensional Gap dikuasai selamanya oleh Great Red. Aku sudah cukup puas di bumi bersama denganmu, tim Vali, semua anggota Shin Akatsuki yang sudah menjadi teman-temanku, dan calon anak kita ini."
"Hah!"
'Sial, aku keceplosan. Apa yang harus aku lakukan?'
"Kau hamil, Ophis?"
"Tentu saja aku hamil, idiot. Kau pikir dengan genital wanita yang aku punya lalu aku berhubungan intim denganmu, maka aku tidak akan hamil?"
"Tapi kenapa kau tidak menceritakannya padaku sejak awal?
Mendengar pertanyaan Toneri, Ophis pun menjawab "Karena aku takut kau menolak dia, Toneri. Apalagi aku memilih waktu yang kurang tepat untuk hamil."
"Jangan bodoh, Ophis. Yang ada aku malah sangat senang untuk mendengarnya." Balas Toneri yang memeluk Ophis dengan sangat erat "Sejak awal aku bergabung dengan Shin Akatsuki, aku selalu saja berusaha untuk melakukan apapun untuk membayar dosaku bahkan mengorbankan diriku sendiri tanpa memikirkan perasaanmu yang merupakan cinta dan harapanku di dunia ini, Ophis. Tapi sekarang tidak lagi... Aku akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk melindungi sekaligus menjaga kau dan Lilith dengan segenap jiwa dan ragaku."
Wajah Ophis memerah dan kemudian dia menjauh dari pelukan Toneri dan berkata dengan kesal "Hei! Aku ini ibu yang mengandungnya. Jangan seenaknya memberi nama untuk calon anak kita. Lagipula, kenapa kau sangat yakin kalau calon putri kita ini perempuan, sampai-sampai kau memberi nama calon anak kita dengan nama Lilith."
"Instingku mengatakan kalau calon anak kita adalah perempuan dan dia akan tumbuh menjadi gadis yang cantik seperti ibu-nya."
Wajah Ophis memerah dengan hebat karena hal itu, dan dia bertanya "Kalau calon anak kita ini laki-laki?"
"Aku akan memberi nama dia Hamura."
Mengetahui nama siapa yang di maksud kekasihnya itu, Ophis terlihat mendengus dan berkata "Payah... Tidak bisakah kau memberi nama yang lain?"
"Hei! Dia itu leluhurku, Ophis. Aku tidak akan membiarkanmu menghina nama baik, Hamura-sama. Hei, apa yang kau—"
Toneri terkejut saat melihat Ophis menariknya dikasurnya dan Ophis berkata dengan wajah yang memerah "Kau boleh tidur denganku saat ini, Toneri."
"Hohoho, jadi kau ingin melanjutkan permainan kita ya, hime. Aku tidak—Ughh..."
"Berisik..." Balas Ophis yang melemparkan bantal tepat di wajah Toneri "Cepat tidur! Sebelum aku berubah pikiran dan menendangmu keluar dari kamarku."
Toneri pun tersenyum melihat kekasihnya itu tertidur duluan. Kemudian dia mengecup kening Ophis dan memegang salah satu kelopak mata Tenseigan miliknya 'Terima kasih telah memberiku cinta dan harapan pada seseorang yang keji sepertiku ini, Ophis. Aku tidak akan mengorbankan nyawaku untuk menebus dosaku dan meninggalkan kau dan calon anak kita berdua. Tapi... Aku rasa aku akan melakukan sesuatu untuk menebus dosaku, walaupun itu akan mengorbankan salah satu mata milikku sendiri.'
-To Be Continued-
