Chaldea Academy
Disclaimer:
Various Animanga and Movies
Genre; Action, Fantasi, Friendship, DLL
Warning: Typo, OOC, School Theme, dan banyak kesalahan lainnya. Multi-Crossover.
Start Story
.
.
.
.
Kini, Naruto tengah bersantai di apartemen barunya hadiah dari Tsunade. Yah, baru 2 Minggu semenjak perang dunia berakhir dan Kaguya berhasil dikalahkan, pemuda itu selama beberapa hari ini hanya kebanyakan bersantai untuk memulihkan luka-lukanya dari perang itu, sejujurnya ia ingin membantu para warga desa untuk melakukan pembangunan. Namun, mereka menolaknya dengan alasan dia adalah pahlawan yang telah berjasa besar bagi semua, tak pantas baginya untuk melakukan pekerjaan ini.
"Huh, entah kenapa rasanya membosankan," ujarnya. Jangan salah, dia memang pencinta kedamaian tapi duduk diam di rumah tanpa diberi pekerjaan benar-benar bisa membuatnya terbunuh. Ia ingin membantu, tapi malah disuruh untuk beristirahat padahal Semua lukanya sudah berada di taraf sehat wal Afiat berkat bantuan Chakra Kurama.
"Merasa tidak berguna, Uzumaki?" Naruto langsung terjungkal dari kursinya ketika merasakan hawa keberadaan yang tiba-tiba di sampingnya.
Di sana, berdiri seorang pria yang tampak tua dan jangkung. Naruto merasa waspada, orang ini entah bagaimana bisa muncul dan melewati penjagaannya. Serius, indranya baru saja dikecoh padahal instingnya yang selalu waspada telah meningkat ke level yang lebih jauh lagi, tapi orang ini dengan mudah menyusup padanya.
"Siapa kau!?" tanya Naruto yang langsung bersiap untuk bertarung dengan memposisikan kunai miliknya di depan. Ia menuntut jawaban!
Namun, orang tua itu sama sekali tidak terintimidasi oleh Naruto malah dengan santainya ia duduk di kursi yang tadi digunakan oleh sang pemilik rumah, bahkan sampai memangku kakinya pula, "Tenanglah anak muda, aku datang ke sini tanpa niat untuk mencari masalah," ujarnya yang tentu saja tidak langsung dipercaya oleh Naruto.
Orang itu hanya menghela nafasnya, "Duduklah, aku punya sesuatu untuk didiskusikan denganmu," Naruto terdiam sesaat memandangi orang itu dengan intens. Namun, pada akhirnya dia menyerah dan mengambil sebuah kursi untuk duduk di depan pria tua ini.
"Baiklah, aku mencoba mendengarkan," jawab Naruto yang sedikit melonggarkan sikap waspadanya, jelas menjadikan orang itu tersenyum padanya.
Si pria tua melambaikan tangannya, dan bersamaan dengan itu pula sebuah kertas melayang ke arah Naruto yang tentunya bisa dia raih dengan mudah, "Chaldea Academy?"ia membaca tulisan yang terpampang jelas pada kertas itu tapi tak mengerti apa semua ini, "Apa maksudnya?"
"Itu adalah sebuah tiket untukmu, tuan Uzumaki. Kau akan berangkat malam ini," jawab pria tua. Oke tahan sebentar, orang asing ini tiba-tiba saja datang menyelinap padanya, dan sekarang anehnya dia memberikannya sebuah tiket dan menyuruhnya untuk berangkat malam ini menuju entah ke mana. Serius, apa-apaan ini?
"Tolong jelaskan apa maksudnya ini padaku?" tanya Naruto.
Raut wajah orang tua itu berubah serius berbeda dengan yang tadi, "Anak muda, ada ancaman di luar sana yang bisa menghancurkan dunia dengan mudah kalau tidak segera cepat diatasi. Asal dari segala ancaman itu berasal dari dunia yang disebut sebagai Reverse side of the world,sebuah tempat yang diisi oleh para monster berbahaya nan kuat,"
Pak tua itu menjelaskan kalau seluruh universe bisa saja dalam kondisi terancam Calamity, hal ini disebabkan karena terkadang adanya portal yang secara tiba-tiba muncul untuk menghubungkan dunia monster itu dengan dunia lainnya sehingga monster yang datang dari sana akan mengamuk dan menciptakan kehancuran yang parah. Dan orang tua ini, telah mendirikan sebuah asosiasi untuk mendidik berbagai orang dari beberapa dunia yang berpotensi untuk bisa menanggulangi ancaman tersebut, dan dia telah banyak melakukan perekrutan untuk itu.
"Kau tidak berharap aku akan percaya ini, kan?" ujar Naruto yang merasa ragu, walaupun dalam hatinya mengatakan untuk percaya pada pak tua ini tapi yang seperti itu jelas terdengar mustahil.
Si pria tua hanya mengangkat bahunya seolah tidak peduli, sepertinya dia tidak akan memaksakan siapa pun untuk percaya pada ceritanya, "Itu terserah padamu. Namun ..." sorot mata yang memandang Naruto itu berubah menjadi dingin bahkan si Ninja pirang bisa merasakan kalau tubuhnya merasa gemetaran untuk sesaat, "... Kuperingatkan padamu, beberapa dunia sudah ada yang hancur dan bisa saja selanjutnya mereka akan datang ke dunia ini. Jika itu terjadi, jangan salahkan aku kalau semuanya sudah terlambat. Bahkan, apa yang Kaguya lakukan hanya akan terlihat seperti sedang berkebun saja," ujarnya yang sepertinya sudah akan beranjak dari sana.
Naruto bisa merasakan tubuhnya mengigil, orang ini dengan mudahnya bisa mengatakan hal mengerikan seperti itu bahkan tanpa indikasi kalau dia sedang berbohong, tapi tetap saja rasanya sulit untuk mempercayai ini semuanya, "Pergilah, Pak tua. Pergilah sebelum aku menganggapmu penyusup yang harus dimusnahkan," ujar Naruto dengan tangan yang terkepal kuat.
Ia merasa sudah cukup untuk mendengar seluruh omong kosong dari orang ini. Memangnya apa yang lebih mengancam dari Kaguya dan Shinju? Walaupun dia terlihat sangat jujur mengatakan itu, tapi bisa saja orang ini adalah sangat ahli dalam mengendalikan ekspresinya sendiri. Naruto juga merasa tak ada gunanya memanggil ANBU dan menciptakan situasi yang tidak perlu, lagian dia juga tak terlihat berbahaya sama sekali sehingga cukup diusir dengan niat membunuh saja akan cukup. Jika dia berniat datang lagi, maka saat itu juga dia akan menghabisinya.
Si pak tua itu hanya bisa memijit kepalanya saja. Sebenarnya, ia sudah bisa menduga jawaban seperti itu dari anak ini. Yah, lebih tepatnya hampir seluruh calon rekrutannya akan memberikan respon yang sama, "Baiklah, aku pergi dari sini," ujarnya seraya mengetuk lantai beberapa kali sebelum dirinya ditelan oleh portal yang terbuat dari kilatan api.
Naruto hanya diam memandangi tempat orang itu pernah berdiri. Ia ingin melupakan semua yang pak tua itu katakan padanya, tapi yang ada ia malah semakin kepikiran tentang ini. Ia menghela nafas, "Sudahlah, lebih baik aku tidur dari pada memikirkan ucapan orang aneh yang tak jelas itu," ujarnya seraya pergi dari sana.
Sementara itu, jauh di dalam hutan bagian bukit sebuah portal kilatan api yang sama juga tiba-tiba saja muncul di sini, dan dari sana keluarlah pak tua yang tadi muncul di depan Naruto. Matanya terus memandang desa Konoha di kejauhan, raut wajah pak tua itu juga terlihat agak gelisah karena suatu hal, "Tidak seperti biasanya aku seperti ini," ujarnya. Sebagai seorang Veteran yang pernah meletakkan nyawanya di setiap pertarungan, instingnya telah terasa akan setiap sesuatu yang berbahaya. Namun, dirinya berharap kali ini instingnya bisa salah, "Semoga kalian baik-baik saja, bangsa Elemental," ujarnya sebelum akhirnya masuk ke kedalaman hutan dan menghilang dalam bayang-bayang.
.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto kini tengah berjalan-jalan di sekitaran pusat perbelanjaan Konoha yang baru selesai dibangun, dan menikmati makanan yang orang-orang berikan padanya secara gratis ... Yah, efek pahlawan perang. Walaupun agak kesusahan dengan satu tangan saja, tapi dia tetap tersenyum dan terus melanjutkan kegiatan jalan-jalannya. Dan sepanjang perjalanan, dia terus membalas sapaan yang orang lain berikan padanya. Beberapa hari juga telah berlalu semenjak pertemuan dirinya dengan si pria tua misterius, dan semenjak itu pula tak ada hal aneh yang terjadi, "Sudah kuduga, sama sekali tak ada gunanya memikirkan perkataan orang aneh itu," ujarnya.
"A-ano!"
Naruto segera menghentikan langkahnya tatkala ia merasakan celananya ditarik dari arah belakang, dirinya seketika menoleh dan mendapati seorang anak yang memandang kagum pada dirinya, "Ada yang bisa aku bantu, Gadis kecil?" ujarnya seraya berlutut untuk menyesuaikan tingginya dengan bocah itu.
Si bocah menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat, ia lalu melepaskan topi musim miliknya yang seharusnya aneh untuk dipakai di sini dan menyerahkannya pada Naruto, "Bolehkah aku meminta tanda tanganmu, Naruto-Sama?!" ujarnya dengan senyum penuh harap agar Naruto mau mengabulkan keinginannya itu.
Naruto hanya tersenyum geli melihat tingkah dan kepolosan anak gadis berusia 12 tahun ini, ia langsung mengambil bolpoin yang secara kebetulan ada di sakunya. Yah, siapa dia yang bisa menolak keinginan gadis kecil semanis dan seimut ini? "Hai', ini sudah selesai," ujarnya seraya memberikan kembali topi itu pada si gadis kecil.
Sontak si gadis kecil tampak sangat bahagia ketika menerima kembali topinya yang kini telah memilki tanda tangan Naruto di atasnya, saking senangnya ia bahkan tak lagi memakainya tapi malah memeluk topinya seolah itu adalah hartanya yang sangat berharga dan takut itu akan rusak, "Terima kasih, Naruto-Sama!" ujarnya penuh kegirangan.
Naruto tersenyum seraya mengusap kepala gadis kecil itu. Yah, beginilah kehidupan dirinya setelah perang dunia Shinobi berakhir beberapa Minggu yang lalu. Ia disanjung, dipuja, dan dihormati selayaknya pahlawan perang. Orang-orang yang dulu mencemoohnya kini telah mencintainya. Kehidupan di sini juga telah menjadi begitu damai walaupun belum sepenuhnya tapi hal ini juga patut disyukuri, ia dan para rekannya di medan perang telah berusaha mati-matian sampai gugur hanya untuk kedamaian seperti ini, dan dia telah berjanji dalam hatinya untuk terus menjaga ini selama dia masih bernafas.
"Yoshino!"
Keduanya menoleh pada asal suara, rupanya ada seorang wanita dewasa yang berlari ke arah mereka dengan raut wajah cemasnya. Si gadis yang bernama Yoshino ketika melihat kedatangan wanita itu langsung terlihat bahagia dan senang wajahnya, ia melambaikan tangan mungilnya tinggi-tinggi seolah sedang memberitahukan keberadaannya di sini pada wanita itu, "Okaa-San, Aku di sini," teriak Yoshino.
Wanita itu dengan cepat langsung berlari arah Yoshino dan Naruto, dengan cepat ia memeluk putrinya sangat erat, "Ya ampun, Yoshino, ke mana saja kau? Ibu mencarimu semenjak tadi," ujar si ibu yang khawatir itu. Menyadari siapa yang berada bersama dengan putrinya, ibu Yoshino langsung tersenyum pada Naruto dan tubuhnya sedikit membungkuk, "Terima kasih, Naruto-San. Aku minta maaf jika putriku membuatmu repot."
Naruto dengan cepat langsung menepis perkataan ibu itu, "Tidak, kok. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan di sini," ujarnya seraya melambaikan tangannya dengan cepat. Lagian, bagaimana mungkin dia merasa direpotkan oleh gadis kecil seimut Yoshino.
Yoshino langsung menyodorkan topi tadi pada ibunya dengan bahagia, ia ingin sekali menunjukkan topi kesayangannya yang kini telah ditandatangani oleh sang pahlawan perang, "Okaa-san, lihat Naruto-Sama memberikan tanda tangannya pada Yoshino," ujarnya yang sangat terlihat senang sehingga membuat ibunya terkekeh.
"Sekali lagi terima kasih, Naruto-San. Putriku adalah penggemar berat Anda, dia pasti senang mendapat hal seperti ini dari idolanya" ujar si ibu membuat Naruto tersenyum. Wanita itu kemudian merogoh sakunya sebelum akhirnya ia mengeluarkan sebuah kertas dari sana dan memberikannya pada Naruto, rupanya itu adalah semacam kupon diskon di sana, "Keluarga kami mengelola toko soba. Jika berkenan, datanglah ke sana dan kami akan memberikan harga spesial untukmu," ujarnya.
"Itu benar, Naruto-Sama. Datanglah ke kedai kami, dan Yoshino akan melayani mu," ucap Yoshino mengangguk dengan cepat.
Naruto langsung memberikan cengiran khas miliknya dan ibu jarinya, "Tentu saja, Yoshino-Chan. Aku akan mampir ke sana, tapi setelah urusanku selesai," ujarnya membuat gadis kecil itu bersorak gembira karena idolanya akan datang ke rumahnya. Sekarang, dia punya sesuatu untuk disombongkan pada teman-temannya, "Dan terima kasih atas tawarannya, Obaa-san," lanjutnya.
"Jaa ne, aku pergi dulu," tanpa menunggu lagi, Naruto langsung pergi dari sana melompat dan berlari di atas rumah para penduduk yang baru saja selesai diperbaiki. Namun, ia tetap menyempatkan melambaikan tangannya pada Yoshino kecil yang terus menatapnya dengan penuh kekaguman.
.
.
.
.
.
.
Skip Time
Naruto menghela nafas kecewa, sebenarnya ia tadi pergi ke kantor Tsunade untuk meminta misi yang bisa dia lakukan tapi sayangnya wanita tua itu dengan tegas menolak permintaannya, wanita tua itu beralibi kalau kondisinya belum sehat sepenuhnya dan masih perlu istirahat untuk memulihkan tubuhnya, dan dia tak bisa bergerak banyak dengan satu tangannya saja. Padahal, Menurut dirinya dia sekarang sudah pulih sepenuhnya dan siap melakukan sebuah misi kembali. Yah, melakukan misi Rank-D akan terasa jauh lebih baik ketimbang hanya menganggur ria di apartemen.
Sekarang, dia benar-benar tak tahu harus melakukan apa untuk mengisi seluruh jadwal kosongnya ini. Jika dia nekat melakukan pekerjaan berat, pasti Tsunade akan tahu lewat ANBU yang mengawasinya dan akan langsung memarahinya atau bahkan langsung menghajarnya lagi. Huft, Kehidupan Shinobi nya saat ini terasa begitu membosankan, "Ayolah, apa saja. Pasti ada yang bisa kulakukan," ujarnya.
Jujur, mungkin saat ini dia merasa iri dengan Sasuke yang telah pergi dari desa untuk melakukan perjalanan penebusan beberapa hari yang lalu, pasti sekarang teman setimnya itu kini sedang melakukan perjalanan yang sangat menarik dan menantang, berbeda dengan dirinya yang harus duduk di rumah terus layaknya seorang yang kurang kerjaan ... Ralat, dia sekarang ini memang tak ada pekerjaan.
Tiba-tiba suara gemuruh terdengar dari perutnya. Bagus, sekarang perutnya keroncong karena merasa lapar. Sebenarnya ia ingin makan Ramen untuk mengisi perutnya, tapi sayangnya toko langganannya kini masih tutup karena harus memperbaiki toko mereka juga. Yah, sangat disayangkan sekali. Naruto mengusap dagunya, berbicara soal toko sepertinya dia ingat sesuatu ketika ia dalam perjalanan ke sini tadi.
Naruto lalu merogoh sakunya dan melihat kupon yang tadi diberikan oleh Ibu Yoshino, "Yah, sesekali ganti suasana sepertinya tidak buruk," ujarnya yang berniat untuk pergi mencoba Soba di kedai gadis kecil itu.
Namun, baru saja melangkah sekali tiba-tiba saja dia merasakan keanehan di mana tanah yang dia pijak tiba-tiba saja bergetar cukup keras, Sehingga membuat orang-orang yang berada di sekitarnya menjadi panik. Tapi tak hanya sampai di situ saja, sebuah gelombang angin berskala besar muncul dan berusaha menghempaskannya hanya saja untunglah dia dengan sigap langsung memusatkan Chakranya ke kaki untuk menguatkan pijakan di tanah. Naruto menggertakkan giginya, kejadian yang barusan itu sepertinya bukan fenomena alam biasa apalagi terjadinya bertubi-tubi seperti ini.
"Naruto!"Suara berat dari sang rubah berekor sembilan bergema di kepala Naruto, sepertinya yang barusan itu juga membuatnya terbangun dari tidurnya,"Apa kau merasakannya juga?!"Naruto mengangguk pada ucapan rekan yang sudah bersamanya semenjak lahir itu, dirinya juga menyadari kalau yang barusan itu bukanlah hanya sekedar hembusan angin biasa, tapi bersamaan dengan itu pula dia merasakan sesuatu yang lain, entah apa itu tapi firasatnya juga tak bagus.
Dengan cepat, Naruto langsung bergegas menuju sumber dari semua ini. Namun, entah mengapa perasaannya menjadi tak enak seketika dan semakin dekat dia ke sana dirinya entah mengapa merasa sedikit gelisah."Bisa saja dunia ini adalah yang selanjutnya,"entah mengapa, tapi kata-kata dari pria tua itu kembali terngiang di kepalanya. Naruto segera menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran itu, sekarang prioritasnya adalah menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi, untuk masalah korban sipil dia yakin Tsunade dan Shinobi lain akan bertindak cepat soal ini.
"Cih, semoga hanya perasaanku saja."
Namun, pandang langsung nanar ketika melihat apa yang ada di depan matanya. Sebuah kawah berukuran cukup besar telah tercipta entah bagaimana, rumah-rumah dan bangunan yang ada di sekitarnya telah mengalami kerusakan yang parah bahkan mungkin beberapa di antaranya hanya tersisa puing-puing saja. Namun, yang paling aneh dan buruk dari itu semua adalah keberadaan seekor makhluk tak dikenal yang berada tepat di tengah kawah. Monster itu memiliki tubuh seekor singa, kaki belakangnya lebih menyerupai kambing serta ekornya adalah ular, dan kepala seekor kambing di bagian belakang juga maka bisa dibilang makhluk aneh ini memiliki 3 jumlah kepala.
"Oi, jangan bercanda. Apa-apaan makhluk ini!?" seumur hidupnya, ia bahkan tidak pernah melihat binatang panggilan seperti ini. Tidak, bahkan dia ragu ini binatang pemanggilan atau bukan. Ia dengan jelas merasakan, kalau monster yang berada di depannya saat ini memancarkan rasa intimidasi yang cukup kuat. Yah, cukup kuat untuk membuat tangannya gemetaran. Fakta dia masih bisa berdiri adalah mungkin berkat Kurama yang melawan rasa intimidasi itu dari dalam.
"Kid, makhluk ini berbahaya, Jang-"ujar Kurama
Ia tak begitu merespon ucapan rekannya itu, Naruto terlalu fokus untuk mengobservasi makhluk yang berada di tengah-tengah. Monster itu menggeram, semua sorot mata dari setiap kepalanya seolah melirik pada Naruto yang berada di atas kawah, sepertinya dia sudah menyadari keberadaan dari si Shinobi.
Monster itu langsung menerjang ke arah Naruto yang membuatnya langsung melompat ke samping demi menghindari taring dan cakarnya, "Sial, walaupun dengan tubuh besarnya dia bisa bergerak secepat itu!?" Namun, sepertinya si Monster tak berniat berhenti sampai di situ, dia berniat untuk kembali lagi melakukan serangan.
Naruto dengan sigap langsung melancarkan serangannya lebih dulu, kini pupil matanya telah berubah layaknya seekor mata katak dengan warna oranye dan di sekitarnya muncul pigmen yang warna senada, suatu pertanda jika sekarang ini sudah memasuki Mode Sage yang merupakan salah satu wujud bertempurnya, di mana dalam fase ini seluruh indra dan aspek fisiknya akan meningkat secara signifikan sehingga berada di atas rata-rata Shinobi normal, untunglah selama ia dalam masa perawatan dia sering bersemedi untuk melakukan latihan penyerapan Chakra alam sehingga masih tersisa sedikit.
Duakh!
Namun, walaupun sudah memasuki Mode Sage sekalipun tetap saja pukulan yang Naruto lancarkan ke kepala makhluk itu seperti tak ada artinya, malahan dia sama tak bergerak karena pukulan itu sehingga membuat Naruto terkejut, "Yang benar saja!"
Apakah dia memang belum pulih benar? Atau makhluk ini memang sangat kuat sampai bisa bertahan dari pukulan bercampur energi alam tanpa merasa apa-apa? Namun, dari pada itu sepertinya Naruto telah melakukan sebuah kesalahan yang bisa berakibat fatal. Dia lupa kalau makhluk ini memiliki 3 kepala. Kepala ular yang bertindak seperti ekor itu langsung menerkam lengan Naruto yang buntung, "AARRRGHH!" Crunch! ... Crunch! ... Crunch!Makhluk itu terus mengunyah sisa lengan Naruto tanpa mempedulikan jeritan kesakitannya, dan yang lebih parah adalah dia menarik lengan itu hingga putus sepenuhnya seolah itu bukan apa-apa padahal saat ini Naruto masih dalam mode Sage.
Hal ini tentu saja membuat Naruto banyak mengeluarkan darah, tapi untunglah dia masih bisa menggunakan tenaganya untuk bergerak mundur. Namun, sepertinya bertarung dengan satu tangan begitu tidak menguntungkannya terlebih lagi dia sedang terluka parah dengan darah yang masih terus mengalir. Naruto mendecih, sebenarnya dia bisa saja menggunakan Bijuu Mode ataupun yang lainnya tapi hal itu justru bisa berpotensi merusak Konoha yang baru saja dibangun.
"Cih, segini saja kah kemampuanku tanpa menggunakan Chakra Kurama?!" rutuknya. Namun, harus diakui kalau makhluk ini memiliki kekuatan yang luar biasa dan sangat berbahaya, apalagi dia sama sekali tidak memiliki informasi apa pun tentangnya yang bisa dia gunakan untuk melakukan counter.
"Kid, Kau baik-baik saja di sana?"tanya Kurama yang jelas khawatir pada keselamatan rekannya itu.
"Apa aku terlihat baik-baik saja, Kurama? Tanganku putus lebih para kali ini!" Naruto menjawab dengan sarkas, sehingga membuat Kurama bingung karena dalam kondisi apa pun bocah ini tak pernah seperti itu sebelumnya. Si rubah langsung melebarkan matanya tatkala menyadari sesuatu, memang ada yang salah semenjak hembusan angin itu muncul.
"Kid, kuperingatkan padamu. Sepertinya ada-"namun, Naruto sepertinya mengabaikan apa yang akan disampaikan oleh rekannya, ia lebih memilih untuk kembali bergerak maju untuk melakukan pembalasan pada makhluk itu. Namun, kali ini dengan Rasenshuriken yang telah berputar di tangannya yang masih tersisa. Yah, mengingat tangannya hanya satu saat ini sehingga dia tidak bisa menggunakan Handseal untuk melakukan jurus lain seperti Kagebunshin, maka sepertinya Rasengan adalah pilihan tepat dan terakhir untuk melakukan serangan dengan demage yang kuat.
" Cih, anak ini benar-benar."
Dengan segenap kekuatannya, Naruto langsung melompat dan menghantamkan Rasenshuriken di tangannya menuju bagian atas makhluk itu ...BLAARR!... sepertinya benturan dari Jutsu kuat ini cukup efektif. Naruto merasa sedikit senang, teknik pamungkas yang dia luncurkan berhasil membuat monster itu terpental beberapa meter jauhnya. Namun, rasa senang itu tak berlangsung lama tatkala ada sesuatu yang berjalan dari debu puing-puing itu. Ya, makhluk itu telah bangkit kembali tanpa mengalami cidera yang serius.
Naruto benar-benar terkejut, ini adalah Rasenshuriken yang baru saja dia hantamkan pada makhluk ini tapi rasanya barusan itu tak memiliki efek yang berarti, padahal seharusnya jutsunya yang satu ini akan bisa memberikan kerusakan pada tingkat sel sehingga musuh yang punya regenerasi tinggi pun tak akan punya kesempatan jika sudah menerima serangan ini. Namun, makhluk yang berada di depannya sekarang sepertinya memiliki sesuatu yang melampaui regenerasi.
Makhluk itu berjalan mendekat ke arah Naruto secara perlahan, sepertinya dia sekarang sudah mulai untuk mewaspadai Naruto. Bersama dengan langkahnya, percikan listrik mulai menyelimuti tubuhnya, sebuah tanduk berbentuk bor panjang juga ikut tumbuh di kepala singa nya, ia merendahkan tubuhnya dan percikan listrik yang berada di sekitar tubuhnya semakin liar ...Bzzt ... Bzzt ... BzztNaruto tak tahu apa yang monster ini lakukan tapi ia yakin berikutnya pasti dia akan kembali melancarkan serangannya yang brutal, sehingga membuat Naruto sekarang ini harus waspada akan segala kemungkinan.
Deg!
Namun, tiba-tiba Naruto merasakan seluruh tubuhnya menjadi kaku dan berhenti bergerak, rasanya sekujur badannya seperti kesemutan, "Kurama, apa yang terjadi?" tanya Naruto, ia sama sekali tak mengerti dengan kondisi tubuhnya sekarang ini. Mode Sage miliknya pun juga ikut menghilang, disertai dengan rasa sakit.
"Kid, aku berusaha memperingatkanmu dari tadi, tapi kau tak mendengarkan,"jawab Kurama seraya menghela nafasnya, tapi selain yang dia deteksi barusan sepertinya memang ada yang aneh dengan Naruto sejak tadi,"Sepertinya ada sesuatu yang asing masuk ke dalam tubuhmu, aku sudah berusaha menetralisir nya tapi sepertinya racun ini bergerak terlalu cepat,"lanjutnya. Tidak, bukan racun itu yang bergerak terlalu cepat, tapi sepertinya ada sesuatu hal yang membuatnya merasa aneh.
"Huh, ini tidak seperti dirimu yang biasa. Ada apa denganmu!?" tanya Naruto.
Kurama kembali menghela nafasnya, jika ditanya seperti itu maka dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya tapi jelas sedari tadi dia merasakan ada sesuatu yang salah di sini, "Entahlah, tapi sepertinya itu mempengaruhi kita berdua,"jawabnya.
Naruto menggertakkan giginya, ia bisa memikirkan hal itu nanti tapi yang lebih penting adalah bagaimana dia bisa lolos dari kondisi seperti, dirinya bahkan sama sekali tidak bisa bergerak. Tatapannya sedari tadi terus fokus pada makhluk yang dia lawan, monster itu tampaknya tidak lagi mewaspadainya tapi listrik yang berada di sekitarnya semakin tinggi intensitasnya. Dirinya seharusnya menyadari kalau memang benar kondisi tubuhnya belum pulih benar, walaupun dia seorang Jinchuriki dan Uzumaki sekalipun tapi tetap saja dia tidak akan pulih terlalu cepat setelah mengikuti perang besar tanpa istirahat dan pertarungan habis-habisan di lembah akhir.
Duakh!
Namun, tiba-tiba sebuah batu yang asalnya entah dari mana meluncur dengan bebasnya dan menghantam wajah Chimera yang tentunya tidak akan berpengaruh sama sekali, "P-pergilah dari Naruto-Sama!" Naruto langsung terkesiap mendengar suara yang dia kenal ini. Matanya langsung melebar tatkala menyadari apa yang sama sekali tidak dia harapkan. Di sana, berdiri Gadis kecil Yoshino yang tadi sempat meminta tanda tangannya, tubuhnya tampak penuh debu dan ada bekas darah yang mengalir di kepalanya, tampaknya dia baru saja selamat dari puing-puing itu.
Monster itu menggeram, tampaknya dia sangat marah dengan batu yang menghantam wajahnya barusan, sehingga membuatnya mengalihkan perhatian ke arah Yoshino dan tentunya ini membuat Naruto takut, "Pergilah dari sana, Yoshino!!" teriak Naruto. Ia sudah sekuat tenaga mencoba untuk bisa bergerak kembali. Namun, seberapa keras itu terjadi dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
Walaupun Yoshino saat ini tampak sangat takut dan kakinya gemetaran, tapi itu sama sekali tidak membuatnya pergi dari sana malahan ia kembali mengambil sebuah kerikil di tanah untuk dilemparkan pada Makhluk itu, "Pergi! Ja-jangan melukai Naruto-Sama," ujarnya tak mempedulikan teriakan Naruto yang menyuruhnya lari.
"Kumohon larilah!" teriak Naruto.
Namun, sudah terlambat. Monster itu dengan cepatnya langsung berlari ke arah Yoshino yang hanya bisa terdiam ketika monster mengerikan datang padanya. Ia berusaha untuk menggerakkan kakinya agar bisa lari seperti yang Naruto perintahkan padanya. Sayangnya, semua itu sudah terlambat tatkala ia merasakan kalau makhluk ini telah menusuk tubuh kecilnya dengan tanduk yang ada di kepala singa.
Naruto hanya bisa menatap nanar pada kejadian yang barusan terjadi itu, waktu terasa lambat dan sulit mempercayai kalau ini semua adalah kenyataan. Ia tak bisa apa-apa, berteriak pun tidak karena suaranya hanya bisa tercekat di tenggorokannya. Dirinya dengan tanpa daya apa pun hanya bisa menyaksikan ketika monster itu menusuk tubuh kecil Yoshino. Tak hanya itu, dia dengan ganasnya merobek tubuhnya menjadi dua sebelum akhirnya membuang jasad Yoshino seolah itu tak berarti.
Tubuh Naruto gemetaran karena sangat marah, dia baru mengenal gadis kecil itu tadi pagi tapi melihat sebuah nyawa yang direnggut dari gadis polos sepertinya tentu saja akan membuatnya sangat marah. Namun apa daya, dia bahkan sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa untuk lepas dari kondisi Stun nya saat ini. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan, rasanya sulit sekali berpikir untuk membuat rencana agar bisa mengatasi seluruh situasi ini.
"BAJINGAN! AKU AKAN MENCABIK-CABIKMU SAMPAI TAK BERSISA DAN MELEMPARKANNYA KE PERUT SHINIGAMI!!" Naruto meraung dengan marah, dan air mata yang mengalir di pipinya. Bagaimanapun juga, perasaannya itu dapat dimengerti jika berada di dalam posisi ini. Bayangkan, seorang anak kecil yang polos dan tak berdosa harus mati dengan cara yang mengenaskan, semua itu terjadi di depan matamu tapi kau sama sekali tak berdaya untuk mencegah itu semua.
Namun, semua itu sama sekali tak ada gunanya jika hanya berteriak saja, monster itu bahkan tidak peduli pada jasad si gadis keci yang bersimbah darah dan kembali berlari ke arah Naruto. Namun, ia hanya bisa melihat datangnya monster itu dengan tatapan penuh amarah dan kebencian. Jika tatapan bisa membunuh, maka sudah pasti monster ini sudah mati.
20 meter ... 10 meter ... 5 meter, dengan cepatnya makhluk itu memangkas jaraknya dengan Naruto yang hanya terdiam tak bisa bergerak. Namun, tatkala monster itu menerjang ke arahnya tiba-tiba saja dengan anehnya dia berhenti tepat 1 meter di depannya seolah-olah ada sesuatu yang sedang menahannya sehingga hanya bisa diam di udara, "Sial, sampai sini saja kah?"
Ya mungkin benar, inilah akhir dari sang pahlawan dunia Shinobi, dia bahkan tidak sempat untuk merasakan impiannya tercapai. Bahkan, kini kilas balik dari hidupnya telah terputar di kepalanya
Namun, walaupun sudah pasrah tapi dia tidak merasakan apa pun yang menikam tubuhnya malahan yang aneh adalah adanya suara benturan keras yang memasuki pendengarannya, "Fiuh~ untung saja itu tadi masih sempat. Hei lihat, dia menabrak, loh," ujar suara seorang gadis dengan santainya. Naruto segera membuka matanya dan menoleh, betapa bingungnya ia tatkala melihat seorang gadis berambut Green Lime yang tersenyum padanya.
Namun, yang paling anehnya adalah ketika dia melihat ke depan dan baru menyadari suatu hal, Monster itu telah tertanam ke sisi kawah. Tampaknya dia seperti dilempar dengan sangat kuat di sana, tapi tak hanya saja karena hal yang juga tak kalah mengejutkannya adalah posisinya yang juga sudah berpindah ke sisi yang lain. Ia tak tahu bagaimana bisa, tapi rasanya ini terjadi tanpa dia sadari.
"Saa~ ... Kau sudah berusaha dengan baik untuk mencegah dia mengamuk lebih jauh. Untuk orang yang tak punya pengalaman, kau boleh juga. Serahkan sisanya pada kami dan beristirahatlah di sini," ujar gadis itu dengan santainya. Dia bahkan melakukan beberapa gerakan kecil seolah sedang melakukan peregangan ataupun pemanasan kecil.
Naruto masih kebingungan, ia tak tahu siapa dan dari mana gadis ini, tapi bukankah bicaranya terlihat ngelantur? Sudah jelas makhluk aneh yang berada di depan mereka ini tidak bisa diremehkan. Oke, mungkin dialah yang 'melempar' makhluk itu dan memindahkannya ke sini, tapi bisa saja itu adalah kebetulan saat monster itu sedang lengah, "Hei apa yang kau katakan, Nona? Makhluk ini berbahaya, tahu! Pergilah dan panggilkan bantuan kemari, mungkin aku masih bisa menahannya lagi.
Namun, sepertinya wanita ini mengabaikannya dan melangkah ke depan Naruto. Ia menunjukkan senyum percaya diri seolah makhluk di depannya itu bukanlah apa-apa, tiga jarinya ia tunjukkan pada Naruto, "Pertama, kau sudah terkena gelombang radiasi darinya yang membuatmu tak bisa berpikir jernih. Lalu, Chimera itu juga berhasil menyuntikkan racunnya padamu, serta kau juga telah kehilangan satu tanganmu," ujarnya gadis itu. Sepertinya memang jelas kalau maksud tiga jari itu adalah dia memberitahu tiga kondisi fatal Naruto.
Naruto hanya menggertakkan giginya, ia memang tak mengerti semua ucapan dari wanita ini, tapi yang jelas dia memiliki point yang benar di sana. Ia tak bisa bertarung lagi, dan hampir saja tewas jika dia tidak ditolong olehnya, "Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Sekarang percayalah padaku," ujarnya seraya tersenyum
Chimera itu kembali bangkit, seperti yang diharapkan dari monster yang bisa selamat dari Rasenshuriken miliknya. Namun, wanita misterius ini tidak menunjukkan ketakutan atau gentar sekalipun, malahan dia tersenyum kecil seolah meremehkan musuh di depannya. Naruto dapat melihat kalau gadis ini melakukan semacam segel tangan, hanya saja dia tak pernah melihat segel yang seperti itu sebelumnya, "Ara, sepertinya kau masih baru, ya. Tapi sayang sekali kau bertemu denganku," ucapnya.
Bersamaan dengan itu pula, dua buah lubang hitam muncul di kepala dan ekornya. Sepertinya setiap lubang itu memiliki daya hisap yang kuat, bahkan Naruto yang berada di jarak yang cukup jauh pun dapat merasakan seberapa kuat itu. Jika saja Naruto dapat dengan jelas merasakan dengan jelas kekuatan lubang hitam itu, maka bagaimanakah dengan Chimera yang berada tepat di tengah-tengah dua lubang hitam? Maka sudah jelas, bukan? Hasil akhirnya adalah ... Kematian. Hisapan angin itu membuat tubuh dari Chimera tercabik-cabik sedemikian rupa, tekanan yang dihasilkan dari saling tarik itu mengakibatkan seluruh tubuhnya terpelintir dan membuat makhluk itu merintih.
Naruto terpana pada kejadian barusan sebelum dirinya menyadari, makhluk yang dia lawan dengan susah payah itu telah mati dengan cara yang mengerikan, tubuhnya dihancurkan sebelum dihisap masuk ke lubang hitam tanpa menyisakan apa pun, "Hai', sudah selesai," ujarnya yang seperti puas akan hasil kerjanya.
Ia terdiam melihat itu semua, kadang dirinya tanpa sadar berpikir kalau dia dan Sasuke adalah salah satu yang terkuat di dunia ini, tapi pada akhirnya pikirannya itu menamparnya hari ini karena pada akhirnya karena tak bisa menggunakan Chakra Kurama dia hampir mati, pada akhirnya kekuatan itu hanyalah milik Kurama. Ia bahkan tak bisa apa-apa dengan menggunakan Basic form nya, Sage mode. Memikirkan itu saja sudah membuatnya kesal hingga giginya gemeretak.
Wanita itu kembali menoleh padanya, matanya melihat pada tangan Naruto yang telah hilang dengan pandangan agak menyesal, "Maafkan aku soal tanganmu, andai saja kami bisa lebih cepat," ujarnya.
Naruto hanya menggelengkan kepalanya dan memasang senyum lemah, "Tidak, ini memang kecerobohan ku sendiri. Lagipula sebelum ini tanganku sudah putus setengah, hilang setengah lagi tidak akan membuatnya terlihat buruk," dirinya sadar betul kalau ini memang dari faktor dirinya yang tak berdaya tadi. Namun, ada juga satu hal yang mengganggunya tadi saat dia bertarung dengan Chimera. Rasanya ... Agak aneh.
"Well, sepertinya kau tidak menyisakan bagian untukku," ujar suara baru dari belakang Naruto, ia tak bisa melihat siapa itu karena saat ini dirinya sama sekali tidak bisa bergerak. Ia hanya bisa jatuh berlutut di tanah.
"Oh ayolah, Ben-Chin. Saat ini kemampuanmu lebih dibutuhkan untuk evakuasi korban," ujar wanita itu seraya menghela nafas. Tampaknya itu adalah nama dari orang yang berada di belakang Naruto saat ini.
Naruto dapat merasakan langkah kaki Ben semakin mendekat ke arah mereka, sampai akhirnya dia berdiri di depan Naruto. Rupanya dia adalah seorang pria berusia sekitar 20an dengan rambut hitam yang mencapai dagu, Ben juga mengenakan semacam Combat Uniform yang sama dengan gadis itu hanya saja berbeda warna, dan juga di pinggangnya tergantung sebuah benda aneh yang mirip dengan gagang.
"Tenka, Ben. Berhentilah ngobrol. Sepertinya dia terluka parah, cepat obati dia," suara baru yang terkesan tegas menginterupsi mereka berdua. Tampaknya kali ini orang itu adalah adalah wanita, tapi sayangnya Naruto juga tak bisa melihatnya karena dia sepertinya hanya berdiri di belakang sebelum Naruto bisa merasakan kalau langkah kakinya mulai menjauh.
"Baiklah, Kaicho," ujar si gadis yang rupanya bernama Tenka. Ia segera duduk berlutut di depan Naruto, tangannya telah memegang sebuah jarum suntik entah dari mana, "Aku tahu raut wajah itu, sepertinya kau memiliki hal dalam pikiranmu saat ini," ucapnya seraya menyuntikkan cairan biru itu di leher Naruto.
Ia sedikit meringis tatkala jarum itu menembus jaringan kulitnya. Namun, hal ini tak berlangsung lama tatkala dia mulai merasakan perasaan seperti terkena sengatan listrik di tubuhnya mulai menghilang, seluruh anggota geraknya pun sedikit demi sedikit mulai bisa kembali berfungsi seperti sedia kala, "Woah, sekarang terasa jauh lebih baik," ujar Naruto sembari mencoba menggerakkan kembali tangannya yang tinggal satu. Sesaat kemudian, ekspresinya berubah.
Ia kembali teringat pada pertemuannya dengan pak tua misterius. Kalau tak sala, dia pernah mengatakan sesuatu hal tentang ancaman dunia atau semacamnya tapi karena itu terdengar aneh jadi ia tak percaya dan lebih memilih mengusirnya. Namun, entah mengapa dia merasa kejadian hari ini ada sangkut pautnya dengan apa yang pak tua ucapkan, " Hei, kalian ..." panggilnya pada kedua orang di depannya, "Apakah makhluk ini datang dari sesuatu yang disebut Reverse Side of The World?" tanya Naruto.
Keduanya sempat tersentak, tapi untungnya dengan cepat mereka bisa memperbaiki raut wajahnya. Jujur saja, mereka tak menyangka jika ada orang awam yang mengetahuinya ketika informasi semacam ini sangat dibatasi karena suatu alasan, apalagi mereka belum menjalin kerjasama dengan para pemimpin berpengaruh di dunia ini, "Dari mana kau mengetahuinya?" tanya Ben dengan mata yang menyipit. Sebenarnya, dia sudah berusaha masuk ke kepala Naruto dengan menggunakan Force miliknya, tapi entah mengapa ada semacam sesuatu yang menghalanginya.
"Rupanya benar, ya?" Naruto menghela nafas, dari pertanyaan balik Ben saja dia sudah dapat mengetahui jawaban pertanyaannya yang tadi. Ia kemudian merogoh sakunya, dan menunjukkan pada mereka sebuah kertas tiket yang sangat mereka kenali, "Beberapa hari yang lalu, itu diberikan oleh pak tua aneh yang jangkung dengan mata merahnya. Aku sudah berulang kali membuangnya, tapi ini selalu kembali ke sakuku," ujar Naruto.
Tenka langsung memandang ke arah Ben sebelum akhirnya memberikan sebuah anggukan, sepertinya dia harus menceritakan hal ini pada kaptennya untuk meminta instruksi dari pihak Akademi. Walaupun deskripsinya samar, entah mengapa dia merasa yakin kalau itu adalah kepala sekolah mereka, "Ben, kau jaga dia. Aku harus bertemu dengan Hinata-Taicho dulu," ujar Tenka sebelum hilang ditelan portal miliknya.
Ben hanya mengiyakan saja, Sejujurnya dia juga sedikit terkejut mendengar cerita Naruto dan agak meragukannya, tapi Force miliknya tidak merasakan kalau anak muda ini berbohong. Tak disangka, kalau orang seperti kepala sekolah mereka akan datang secara langsung untuk mengajaknya bergabung. Sepertinya orang tua itu melihat potensi dari Naruto. Yah, dia harus mengakui kalau Naruto cukup baik untuk bertahan dari makhluk yang dia tidak ketahui kalau itu sangat berbahaya.
"Baiklah, Nak. Mungkin ini akan melibatkan penjelasan yang cukup panjang," ujar Ben seraya menghela nafas. Sialan Tenka, dia seenaknya pergi dan membuatnya harus menjelaskan semua hal merepotkan itu pada bocah ini.
Naruto mengangguk, memang banyak yang ia ingin ketahui tentang semua ini. Mungkin beberapa hari yang lalu semua ini terdengar konyol dan sulit dipercaya. Namun, kali ini ia akan memasang telinganya baik-baik, dirinya ingin tahu makhluk apa sebenarnya ini, apa itu dunia dibalik Layers, Reverse side of The World, dan siapa mereka ini yang dapat dengan mudah membunuh makhluk ini, "Silahkan, aku punya banyak waktu luang untuk mendengar itu semua," jawabnya. Terlebih lagi, dia juga penasaran tentang siapa pak tua itu dan untuk apa sebenarnya tiket aneh ini?
Ben mulai membuka mulutnya dan menjelaskan semuanya pada Naruto. Namun, yang dia tidak tahu adalah; setiap kata dari itu semua akan mengubah seluruh hidupnya di masa depan.
To be continued
Pertama sekali, saya memutuskan untuk Remake cerita ini di akun yang baru. Alasannya? Yah sebenarnya saya hanya ingin memulai sesuatu yang baru saja karena di akun sebelumnya tingkah saya serasa aneh dan kekanak-kanakan. Untuk cerita yang lain seperti The Admiral sudah pasti akan saya bawa ke sini juga untuk dilanjutkan. Mungkin untuk saat ini akan berfokus pada dua Fic dulu. Ya, salah satu alasan saya pindah akun adalah karena banyaknya cerita terbengkalai di sana.
Lanjut ke masalah Story, memang di versi kemarin kesannya agak aneh dan terlalu terburu-buru sehingga saya memutuskan remake saja. Jujur, ini pertama kalinya saya membuat scene action dengan serius. Mau bagaimana lagi, ke depannya pasti akan banyak action.
Lalu ke permasalahan pertarungan di atas yang terkesan Naruto di Nerf, mungkin saya membuat beberapa kondisi yang mempengaruhi itu semua. Pertama ini baru sekitar 3 Minggu setelah pds 4 dan pertarungan habis-habisan dengan Sasuke, pastinya dia tidak akan pulih total secepat itu, terlebih lagi tangan dominannya putus sehingga belum terbiasa dengan bertarung satu tangan saja.
Sebenarnya dia bisa saja menggunakan tembakan bijuudama untuk menghadirkan Chimera tapi itu justru bisa membuat Konoha rusak parah dalam prosesnya. Juga, points ini saya buat demi menunjukkan seberapa saja batas Naruto tanpa Chakra Kurama. Yah ini hanya opini dan saya harap kalian tidak marah soal itu. Jangan lupa kalau Naruto juga terkena racun dari monster dan paparan radiasi aneh yang melemahkan Nya...
Hal di atas juga dibuat untuk membuat Naruto lebih termotivasi untuk mendapatkan kekuatan baru.
Saya juga ingin bertanya pada kalian, mungkin kalian memiliki saran Chara yang pas buat jadi team Naruto nanti atau sekedar Chara yang dimunculkan untuk jadi kameo.
Nah silahkan. Jangan lupa tinggalkan review, Fav dan Follow.
Sekian dari saya.
