DISCLAIMER: MASHASHI KISHIMOTO

WARNING: TYPO DLL

LEMON ANAK KECIL JAUH-JAUH!!!.

Sore itu Sasuke menyandarkan tubuh nya setelah merasa lelah bekerja. Tidak hanya tubuh nya saja yang lelah, tapi pikirannya juga. Kekalahannya oleh Naruto masih terbayang di kepalanya membuat Sasuke merasa stres.

"Yo! Sasuke, bagaimana semalam?, kau menang banyak kan?." Ujar seorang temannya. Dia Inuzuka Kiba yang semalam pergi ke Casino bersama Sasuke tapi harus pulang lebih dulu karena suatu urusan.

Sasuke hanya melirik temannya sebentar lalu kembali menatap lurus ke depan.

"Hey!, kau kenapa? Jangan bilang kau sedang bingung untuk menghabiskan hasil kemenangan mu semalam, haha!." Kiba tidak tau apa-apa karena lebih dulu pulang saat Sasuke sudah menang sekitar dua puluh juta Yen.

"Aku tidak ingin membicarakannya." Jawab Sasuke singkat.

"Kau kenapa? Aku ke sini ingin minta traktiran karena kau menang banyak, hehe."

BRAK!.

"Sudah ku bilang aku tidak ingin membicarakannya Kiba!." Ujar Sasuke lagi sambil menggebrak meja.

Kiba agak terkejut melihat tingkah teman sekantor nya ini. Pasti telah terjadi sesuatu.

"Kenapa kau marah?."

Sasuke mengemas barang-barang nya untuk pulang, tapi sebelum dia pergi, sasuke mengucapkan sesuatu pada kiba.

"Aku kalah, kekalahan yang sangat besar." Ujar Sasuke sambil berdiri lalu berjalan pergi.

Kiba mengerutkan alis nya, kekalahan besar?. Apa maksud nya itu?.

Saat sasuke sampai di rumah, di membuka pintu dan mengucapkan salam, tapi dia tidak mendengar balasan dari ibu maupun istrinya. Sasuke berfikir jika mereka masih marah dan mendiamkannya. Wajar saja sih jika mereka melakukan itu.

Sasuke berjalan masuk rumah. Dia melewati ruang tamu yang kosong dan terus berjalan menuju dapur. Biasanya jam segini istri dan ibunya sedang memasak, jadi dengan alasan itulah sasuke berjalan menuju dapur.

Mikoto tengah memotong sayuran di dapur sampai pada akhir nya fokusnya teralihkan oleh suara langkah kaki. Dia melihat bahwa Sasuke baru pulang tapi dia mengabaikannya dengan kembali fokus memotong sayuran.

"Kaasan, Sakura di mana?." Tanya Sasuke karena ibu nya hanya sendiri di dapur.

Mikoto melirik Sasuke lalu kembali fokus pada sayuran tanpa berniat menjawab pertanyaan anak nya. Dia masih sangat marah karena pada Sasuke.

Sadar sang Ibu mengabaikannya, Sasuke menghelai nafas. Dia pergi meninggalkan sang Ibu dan berjalan menuju kamar untuk meletakan tas kerja nya. Saat Sasuke tiba di depan pintu kamar, dia langsung membuka pintu. Dia berdiri mematung begitu melihat apa yang sedang terjadi di atas ranjang.

Istrinya!, saat ini tengah telanjang bulat sambil menungging di atas ranjang. Di belakang nya ada Naruto yang juga telanjang tengah menggerakkan pinggul nya di belakang Sakura.

"Oh!, Sasuke?. Kau baru pulang?." Ujar Naruto santai sambil terus menggerakkan pinggulnya.

Sakura juga melihat kedatangan Sasuke, dia mengalihkan pandangannya dari sang suami karena merasa malu. Terlebih Sakura masih sangat marah pada Sasuke karena suaminya itulah dirinya harus melayani Naruto di atas ranjang.

"Ahh!, sial!. Vaginamu sangat sempit Sakura." Uhhh..." Ujar Naruto sambil melenguh karena merasa begitu nikmat. Naruto benar benar mengabaikan Sasuke dan terus menggerakan penisnya di dalam vagina Sakura.

"Ahhh... Ahhh... Ahhh... Naruto, tolong lebih pelan. Ssshhh... Ahhh..." Ujar Sakura sambil mendesah. Meski tidak menginginkannya, tapi tetap saja apa yang Naruto lakukan terasa begitu nikmat. Jadi Sakura tidak bisa menahan desahannya.

Apa yang akan kalian lakukan jika berada di posisi Sasuke saat ini?. Mengamuk?, atau menghajar Naruto sampai mati?. Mungkin hal itu akan di lakukan oleh orang lain, tapi Sasuke hanya bisa berdiri sambil menahan emosinya. Dia sangat marah melihat apa yang Naruto lakukan pada istrinya, tapi apa yang bisa Sasuke lakukan jika semua itu berawal dari kesalahannya sendiri?. Jika dia tidak mempertaruhkan Sakura di meja judi, tentunya saat ini Sakura tidak harus melayani Naruto. Jadi di sini Sasuke lah yang paling bersalah dan juga penyebab kenapa saat ini istrinya bercinta dengan Naruto.

"Ahhh... Ku mohon berhenti Naruto!, a-aku keluar!.. KYYYAAAAAHHHHH..."

"Uhh!.. Aku juga Sakura!. GUUHHHH..."

Sasuke dengan jelas melihat bagaimana istrinya mendesah panjang saat orgasme. Dia juga menyaksikan bagaimana Naruto melenguh nikmat sambil menyemburkan spermanya kedalam vagina Sakura.

Tidak betah melihat semua itu, Sasuke menutup pintu dengan cara membanting nya dengan keras.

BRAAKK!!!

"BRENGSEK!!!." ujar Sasuke sambil membanting tas kerja nya di lantai. Dengan perasaan marah, Sasuke kembali pergi ke dapur. Dia butuh minum untuk mendinginkan tubuh nya yang gerah.

Mikoto yang masih berkutat dengan masakannya melihat Sasuke kembali ke dapur. Dia melihat anak nya begitu emosi sambil meminum air putih dengan sembarangan sampai tercecer di lantai.

"Kau melihatnya?, itu adalah hasil dari perbuatan mu." Ujar Mikoto tanpa melihat Sasuke.

Tentu saja Sasuke tau dengan maksud perkataan Ibu nya, dan benar bahwa itu adalah hasil dari perbuatannya.

PYAARRR!!!...

dengan penuh emosi, Sasuke membanting gelas di tangannya ke lantai. Setelah itu dia berjalan keluar.

Mikoto menghela nafas sambil melihat pecahan gelas di lantai. Dia berfikir entah apa yang akan terjadi pada keluarganya jika semua ini terus berlanjut.

Kembali ke dalam kamar. Meski Sasuke baru saja memergoki mereka, tapi percumbuan itu masih berlanjut. Naruto menatap Sakura yang berbaring di bawahnya sambil tersenyum lembut. Dia masih menggerakkan pinggulnya sambil meremas payudara Sakura.

"Uhh!.. Nikmat sekali." ujar Naruto di sela gerakan pinggulnya.

"Ahhh... Naruto!.. Sudah.. Ohhh..." Ujar Sakura di sela desahannya. Ada rasa bersalah di dalam hati Sakura saat tadi Sasuke melihat dirinya tengah di cumbu oleh Naruto. Tapi rasa marah juga masih ada karena suaminya lah yang membuat Sakura harus melayani Naruto. Dalam hati Sakura bertanya. Apa yang akan terjadi setelah ini? Apa Sasuke akan menceraikannya?.

"Sebentar lagi Sakura, uhh... Vaginamu terlalu nikmat. Ahhh..."

Sakura memalingkan wajahnya tidak mau menatap lelaki yang tengah menikmati tubuh nya. Tapi Naruto tidak membiarkan hal itu. Lelaki pirang itu memaksa dirinya untuk melihat ke atas dimana saat ini Naruto tengah memberinya senyum lembut sambil membelai rambut Sakura dengan sayang.

Awalnya saat mendengar dirinya di jadikan taruhan di meja judi oleh Sasuke, Sakura berfikir dirinya akan di perlakukan kasar oleh Naruto. Tapi ternyata pikirannya salah. Alih-alih memperlakukannya dengan kasar, justru Naruto malah bersikap sangat lembut padanya.

"Ahhh... Naruto!, a-aku..,KYYAAAAHHHH..."

Sakura kembali mencapai klimaks. Dia meremas sprei dengan kuat sambil membusungkan dada nya ke atas.

"Ohh.. Sakura!..GUUHHHH..."

Naruto menyusul beberapa saat setelahnya. Dia menancapkan seluruh batang Penis nya pada vagina Sakura sambil menyemburkan spermanya.

Naruto membaringkan tubuhnya di samping Sakura setelah orgasmenya mereda. Dia memeluk tubuh telanjang Sakura sambil tersenyum senang.

"Terimakasih Sakura, barusan sangat nikmat, hehe." Ujar Naruto sambil menyusupkan wajah nya pada leher Sakura.

Istri Sasuke itu tidak berniat menjawab ucapan Naruto. Dia hanya menatap langit-langit dalam diam sambil merasakan pelukan Naruto pada tubuh.

Tepat pukul enam sore, Naruto dan Sakura keluar dari kamar. Mereka melihat Sasuke tengah duduk di ruang tamu sendirian.

"Maaf ya Sasuke, aku pinjam kamarmu tanpa bilang dulu." Ujar Naruto santai sambil memasang kancing bajunya yang belum terpasang.

Sasuke menatap Naruto dengan penuh emosi. Rasanya Ingin sekali dia memukuli lelaki brengsek itu sampai mati. tatapannya beralih pada sang istri yang hanya menunduk tidak mau melihat dirinya. Entah karena malu atau masih marah, Sasuke tidak tau. Tapi yang jelas dia merasa sang istri menghindarinya.

"Ini bukan rumahmu, jadi jangan sembarangan." Ujar Sasuke menanggapi ucapan Naruto dengan kesal.

"Hehe!, yah.. Maaf, habisnya aku sudah tidak tahan. Istrimu terlalu cantik dan seksi soalnya." Ujar Naruto sambil mencium pipi Sakura.

"Brengsek!. Pergi kau dari sini sialan!." Teriak Sasuke marah.

Naruto mengankat bahu nya seakan tidak peduli dengan kemarahan Sasuke. Justru lelaki pirang itu berbuat sesuatu yang malah semakin menyulut emosi Sasuke.

Tiba-tiba saja Naruto menghimpit Sakura pada tembok. Dia tersenyum pada Sakura dan di lanjutkan dengan melumat bibir wanita itu dengan ganas.

Sasuke mengepalkan tangannya dengan marah, Dia menendang sofa lalu pergi dari sana dengan emosi yang meluap.

Setalah Sasuke pergi, Naruto melepaskan ciumannya. Dia menatap Sakura sambil memasang senyum lembut.

"Maaf ya, apa ada yang sakit." Ujar Naruto pada Sakura.

Sakura hanya menggeleng. Memang tadi Naruto cukup kasar saat menghimpit nya di tembok, tapi dia tidak merasakan sakit.

"Syukurlah." Ujar Naruto masih dengan senyum nya. Dia mengangkat dagu Sakura lalu dengan pelan mendekatkan wajahnya untuk mencium Sakura lagi.

Kali ini Sakura merasakan ciuman Naruto lebih lembut. Tapi tetap saja dirinya hanya pasif dan tidak mau membalas.

Biasanya keluarga Uchiha hanya makan bertiga karena memang cuma itu anggota keluarga mereka. Tapi kali ini mereka punya tambahan satu orang yang tentu saja adalah Naruto. Lelaki pirang itu dengan sepihak mengatakan ingin ikut makan malam bersama, dan tentu saja Sasuke menolaknya. Tapi seakan tidak peduli dengan keputusan Sasuke, Naruto tetap ikut duduk di meja makan.

"Wuahh... Kelihatanya sangat enak sekali. Ayo makan..." Ujar Naruto bersemangat. Dia tidak memperdulikan tatapan sinis Sasuke dan memilih mengambil makanan ke atas piringnya.

Mikoto dan Sakura melakukan hal yang sama. Mereka memang sedikit merasa tidak nyaman dengan keberadaan Naruto, tapi karena mereka lapar jadi mereka memilih untuk mengabaikannya dan ikut makan.

"Kau tidak makan Sasuke?." Ujar Naruto santai sambil menatap lelaki di seberang nya.

Sasuke hanya diam. Dia memilih untuk mulai mengambil makanan di atas meja lalu memakannya.

"Masakan mu sangat enak Mikoto, aku jarang makan makanan rumah se enak ini, hehe.." Ujar Naruto sambil menatap sang pembuat makanan.

"Terimakasih." Ujar Mikoto datar.

Tentu saja Naruto merasakan ketidak suka-an mereka semua terhadapnya. Wajar saja kan?, siapa yang akan suka dengan orang asing yang tiba-tiba masuk kedalam keluargamu terlebih lagi, orang itu secara terang-terangan bercinta dengan salah satu wanita nya. Tapi Naruto tidak peduli dengan hal itu, justru bagi dirinya hal ini malah semakin menyenangkan.

"Sakura, buka mulut mu." Ujar Naruto sambil menyodorkan makanan pada Sakura yang duduk di samping nya.

Sakura menatap Naruto lalu beralih pada makanan yang Naruto sodorkan kepadanya.

"Aku bisa sendiri." Ujar Sakura menolak. Bagaimanapun juga, dia merasa sangat tidak nyaman dengan perlakukan Naruto yang terang-terangan itu.

"Aaakk..."

Ujar Naruto sambil masih menyodorkan makanan itu pada Sakura. Tampaknya Naruto tidak ingin ada penolakan.

"Sudah ku bilang Naruto!, aku bisa sendiri!." Ujar Sakura agak keras sambil menatap Naruto sedikit tajam. Tapi apa yang Sakura lihat adalah Naruto yang malah tersenyum. Dan hal berikutnya yang Sakura rasakan adalah Naruto melumat bibirnya dengan cepat.

"Mau ku cium lagi atau ku suapi." Ujar Naruto sambil tersenyum menunjukan deretan giginya setelah mencium Sakura.

Sakura sedikit terkejut dengan apa yang baru saja Naruto lakukan. Dia merasa malu karena dilihat oleh mertuanya dan Sasuke.

"Dengar Naruto!!. Aku- Hemp!..."

Naruto mencium Sakura lagi, kali ini ciuman itu agak lama. Dia menahan tengkuk Sakura agar wanita itu tidak menghindar. Ciuman itu bukan cuma menyentuh bibir Sakura, tapi Naruto juga memasukan lidahnya kedalam mulut Sakura dan memaksa wanita itu untuk saling bersilat lidah.

"Mau ku cium lagi?." Ujar Naruto pada Sakura sambil menyodorkan makanan ke depan mulut Sakura lagi.

Terpaksa Sakura membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Naruto. Dia tidak ingin di cium lagi di depan Sasuke dan Mikoto.

"Nah gitu dong, hehe..." Ujar Naruto sambil mengacak rambut Sakura dengan gemas.

Melihat apa yang baru saja terjadi, Sasuke menggebrak meja makan lalu pergi meninggalkan mereka. Sementara Mikoto memilih fokus menatap makanannya karena tidak mau melihat Naruto dan Sakura yang terlihat seperti bermesraan.

Dan malam itu Naruto menyuapi Sakura sampai kenyang, bahkan dia tidak membiarkan Sakura makan sendiri.

Malam pun tiba, Sakura sudah berbaring di ranjang bersiap untuk tidur. Dia melihat sang suami yang tidak lain adalah Sasuke memasuki kamar dan langsung menaiki ranjang. Sakura langsung mengganti posisinya dari tidur telentang menjadi memunggungi Sasuke.

Melihat sang istri memunggungi nya, Sasuke tentu saja merasa sedih. Dia mencoba mendekat ke arah istrinya lalu memeluk nya dari belakang, tapi apa yang dia dapat adalah Sakura yang menyingkirkan tangannya.

"Jangan sentuh aku!." Ujar Sakura setelah melepas pelukan Sasuke.

Sasuke hanya diam, dia sadar bahwa Sakura sangat marah pada nya. Sasuke menatap langit-langit kamar dan mengucapkan.

" Maafkan aku Sakura." Ujar nya penuh rasa penyesalan.

"Hiks!, apa aku sudah tidak berharga sampai kau mempertaruhkan ku di meja judi.?" Ujar Sakura sambil terisak. Sakura merasa bahwa dirinya tidak lebih dari sebuah barang.

"Aku sangat menyesal Sakura." Jawab Sasuke sambil mencoba memeluk istrinya lagi. Tapi sekali lagi Sakura menyingkirkan tangannya.

"Kubilang jangan sentuh aku!!." Ujar Sakura agak keras.

Sasuke sadar bahwa perbuatannya tidak termaafkan, jadi dia merasa maklum jika Sakura tidak mau dia sentuh. Sasuke kembali menatap langit-langit, dia membayangkan akan jadi seperti apa hubungannya dengan Sakura nanti jika semua ini terus berlanjut. Apa dia bisa tahan melihat istrinya terus bercinta dengan lelaki lain?.

Malam ini, Mikoto tidak bisa tidur. Otaknya memikirkan apa saja yang telah Naruto lakukan di rumah ini. Jika hal itu terus berlanjut, bukan tidak mungkin keluarganya akan hancur. Dia menatap langit-langit kamar seakan bertanya kenapa keluarganya sampai mengalami hal seperti ini.

Setiap kali Mikoto memejamkan mata, dia selalu teringat dengan perbuatan Sasuke. Sebenarnya apa yang anaknya itu pikirkan sampai dengan teganya menjadikan Sakura sebagai taruhan. Dia merasa sangat marah setiap kali mengingat hal itu.

Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah adalah memberi Naruto uang. Tapi mengingat jumlah yang Naruto pernah sebutkan, rasanya itu mustahil. Seratus dua puluh juta yen itu sangat banyak, dan jujur Mikoto belum pernah melihat uang sebanyak itu.

Mikoto sempat berfikir untuk menjadikan rumahnya sebagai jaminan untuk meminjam uang. Tapi jika dia melakukannya bagaimana caranya dia membayar hutang itu suatu hari nanti?. Salah-salah jika dia tidak bisa membayar maka rumahnya akan di sita, jika sudah begitu mau tinggal di mana dia?.

"Hah... Apa yang harus aku lakukan." Ujar Mikoto pada diri sendiri. Dia merasa kasihan pada Sakura jika semua ini terus berlanjut.

TBC.

Pendek aja lah.. Capek gw.

Ada gak fans Sasuke yang baca fic ini?. Kalau ada boleh lak kalian tulis kata-kata mutiara yakan?...

Soalnya jarang banget gw dapet Flame kalo bikin fic ginian. Entah karena Sasuke gak ada fansnya atau mereka gak berani baca, gw gak tau.