Anda yang terhebat!

Pagi cerah itu Naruto berjalan-jalan di sekitar desa tanpa tujuan. Hokage memberi libur tiga hari kepada anggota tim Kakashi setelah misi Kannabi. Shiba yang biasa mengeluh karena terlalu lama libur, diam begitu juga Yukino masih membawa wajah pucat sejak pertempuran dengan duo Akatsuki. Kakashi dengan segudang pengalaman dan tugas seorang Jounin baik membantu motivasi ketiga genin. Setidaknya misi pertama keluar desa mereka tidak berakhir dengan salah satu anggota tim pensiun. Kadang banyak kasus dimana anak-anak mengalami trauma dan kurangnya lembaga profesional dalam urusan itu membuat mereka terpaksa undur atau orang tua mendapatkan getah kosong tanpa ada keuntungan apapun.

Naruto berjalan seorang diri memutari daerah pasar lalu lanjut ke kompleks Akademi. Jam sudah bergeser delapan lewat sedikit dan para calon ninja sudah duduk manis di kelas masing-masing mendengar ocehan guru sambil berusaha keras tidak mengantuk. Kini usia Naruto sudah sepuluh, tak terasa setahun terlewat begitu saja. Anak-anak yang seusianya dan seharusnya menjadi ninja bersama-sama, masih berjibaku dengan kebosanan akademi. Kaki genin bocah sepuluh tahun itu kembali berjalan tanpa tujuan dan berhenti ketika menemukan dinding tanda Klan Uchiha terkelupas di depan matanya.

Kompleks itu kosong sejak insiden genosida dan tak seorangpun dari penduduk desa yang mau dekat-dekat tempat ini. Selain Naruto yang menyukai ketenangan dan kadang menyusup untuk mencari tempat membaca buku, Sasuke juga sering datang kemari dengan tatapan kosong dan perlahan-lahan wajah dendam dan dingin merenungi nasib dan takdir kelam Uchiha. Naruto tidak pernah membiarkan Uchiha kecil tahu ada orang lain datang kemari. Ketika dia merasakan kedatangan bocah itu, Naruto akan bersembunyi. Kadang pergi begitu saja, kadang menikmati apa yang sedang dilakukan bocah Uchiha itu. meski kebanyakan Cuma meratapi rumah lamanya dan duduk lama di kuil Uchiha.

Kemudian Naruto melanjutkan perjalanan dan menemukan sebuah toko buku yang belum dia datangi. Tempatnya terapit dua rumah penduduk biasa sehingga toko itu terlihat sangat mencolok. Letaknya tidak jauh dari kompleks Uchiha yang menandakan itu adalah daerah terpencil dan sedikit kumuh. Naruto ragu sejenak, tapi kemudian dia membuka pintu toko tersebut.

Di dalam tidak ada seorangpun pengunjung, hanya ada seorang perempuan penjaga toko yang sedang duduk sendirian di konter. Dia sedang memeriksa setumpuk kuitansi dengan wajah bosan sambil minum jus jeruk kalengan. Setelah melihat-lihat rak buku selama beberapa saat, Naruto baru sadar jika perempuan itu adalah teman Ayame yang sering menjemputnya untuk pergi ke pachinko. Naruto hanya sekali bertemu, tapi tidak menegur. Namun dia paling baik dalam mengingat wajah. Naruto menyapa dan perempuan itu memandang wajahnya dengan sedikit kaget. Naruto sudah bersiap pergi jika perempuan itu sama seperti penduduk lain yang bertemu dengan iblis rubah, tapi kata-katanya membuat Naruto kaget.

"Kamu adik kecil Ayame bukan?"

Naruto tidak tahu harus menjawab apa, memilih mengangguk.

"Sial! Bagaimana dia tahu rumahku disini. Padahal aku susah-susah sewa tempat ini dan hidup dengan hantu Uchiha agar dia tidak mencariku. Katakan padanya aku belum punya uang," dia berkata dengan wajah seolah-olah putus asa.

Naruto tidak mengerti cuma memasang wajah bingung.

"Tunggu, kamu ke sini bukan menagih uang?"

"Bukan."

"Lalu apa?"

"Membeli buku?"

"Buku apa?"

"Kappa karya Akutagawa Ryunosuke."

Dengan penuh curiga dia mengangguk lalu bangkit dan berjalan menuju rak buku sebelah kanan mejanya dengan langkah-langkah lebar kemudian kembali sambil mengepit buku bersampul plastik yang kelihatannya masih baru.

"Yang ini?"

Naruto mengangguk lalu menebarkan pandangan ke sekeliling toko dengan tangan tetap tersimpan dalam saku.

"Lalu apa ada Noragami karya Adachitoka versi novelnya?"

Sejenak perempuan itu terdiam dan kali ini kembali dengan membawa dua buku yang masih disampul. "Disini ada volume 10 dan 11."

"11 saja."

Dia meletakkan volume 11 ke atas konter sementara yang volume 10 dia kembalikan ke tempat semula.

"Jika ada Erimonoke yang versi gold itu juga boleh."

Kali ini perempuan itu mencari buku pesanan Naruto cukup lama, tapi akhirnya kembali juga sambil membawa buku yang kali ini tidak di sampul. "Cuma ada versi yang sudah dibaca, kamu tidak keberatan kalau sedikit lecek?"

"Tidak masalah."

"Ada lagi?"

"Sudah, cukup. terimakasih."

Dia menjejerkan ketiga buku di atas konter. "Kamu masih umur sepuluh kan? Apa kamu akan baca semua novel ini?"

"Ya."

"Cara bicaramu aneh untuk anak-anak."

"Banyak orang bilang begitu."

Perempuan itu mengangkat bahu dengan wajah seperti orang yang tertekan lalu berkata, "Seribu lima ratus enam puluh Ryo."

Naruto mengambil uang dalam dompet dan membayarkannya dengan jumlah pas. Dia megambil buku yang disimpan dalam kantung plastik hitam. Perempuan itu menghitung uang dengan hati-hati sebelum memasukannya ke dalam laci meja. "Kamu pembeli pertama hari ini."

"Baguslah."

"Kamu sudah jadi ninja bukan? Bagaimana enaknya jadi ninja?"

"Kami bisa pergi keluar desa, ke tempat-tempat yang tidak pernah terduga dan bertemu dengan orang-orang baru. Mendapat uang dari misi yang kami kerjakan, tapi bisa bertemu dengan musuh kuat dan mungkin mati disana."

Perempuan itu memandang Naruto dengan tatapan aneh dan ada ejekan disana. Tapi dengan cepat perempuan itu menghilangkannya dan duduk kembali di balik meja dan bersiap-siap menghitung kuitansi. "Banyak orang yang bilang kamu monster, tapi menurutku kamu cuma anak aneh dengan cara bicara aneh."

Naruto tersenyum, "Kamu perempuan aneh yang tidak takut kalau aku monster."

Dia mengangkat bahu dan meminta dengan nada ketus untuk pergi jika tidak ada lagi yang perlu dia beli. "Jangan bilang pada Ayame aku tinggal disini."

Naruto tidak bilang apa-apa, meninggalkan toko dengan menutup pintu pelan-pelan.

.

Saat masuk ke kedai Ramen Teuchi, Ayame sedang membaca majalah perempuan yang biasa dibeli gadis-gadis muda untuk berburu beberapa tips seputar kecantikan, diet dan hal-hal semacam itu yang belum tentu benar apa adanya. keponakan Teuchi itu begitu tekun membaca sampai mengerutkan dahi dan bertelekan siku di atas konter. Pagi itu tidak ada pembeli dan rupanya paman sedang pergi ke suatu tempat.

"Menarik nggak?"

Ayame mengangkat wajahnya dari majalah lalu menggelengkan kepala. "Tidak ada baju bagus yang obral bulan ini. Semua modelnya seperti Ibu-ibu tua norak. Eh, kamu tahu artis terkenal bernama Shion? Kabarnya dia menghilang sejak setahun lalu dan baru kali ini beritanya dirilis."

"Pastinya mereka tidak ingin penggemar tahu artis mereka menghilang."

"Film-filmnya bagus sih, Cuma entah kenapa dia selalu memerankan tokoh antagonis. Jadinya orang lebih menyukai si jahat daripada di baik. Kamu pernah nonton filmnya?"

"Enggak."

"Lain kali aku ajak kamu nonton kalau rilis film barunya."

"Kalau artisnya juga kembali."

Ayame tersenyum kecut lalu membuat ramen seperti biasa. Tanpa perlu Naruto memberitahu, Ayame dan Pamannya sudah hapal betul jenis ramen yang Naruto makan dan berapa porsi yang dipesan. Bocah Uzumaki duduk dengan tenang sambil menunggu, dia memainkan jari-jari tangannya memandang satu persatu kaligrafi kanji di dinding seakan itu sesuatu yang menarik.

"Aku dengar kamu bertemu lawan kuat dari misi kemarin," kata Ayame sambil membuat pesanan ramen Naruto.

"Dari mana dengarnya?"

"Desa ini tidak pandai menyembunyikan rahasia."

Naruto berpikir sejenak memandang wajah Ayame telaten meracik kuah ramen, "Ya. Kami bertemu lawan tak terduga. Tapi berkat Kakashi sensei, semua baik-baik saja."

"Pastinya. Dia Jounin terbaik di Konoha. Oh, ngomong-ngomong ini buatmu," Ayame melempar senyum kedipan kecil, mematikan kompor dan buru-buru mengelap kedua tangannya lalu masuk sebentar ke ruang belakang. Begitu kembali sebuah bungkusan tebal seukuran buku ada di tangannya dan menyerahkannya kepada Naruto.

"Apa ini?"

"Hadiah ulang tahunmu."

"Tapi ulang tahunku bulan depan."

"Kamu seorang ninja sekarang. Bisa jadi saat tanggal 10 nanti kamu ada di luar desa mengerjakan misi jangka panjang."

"Kami cuma genin. Paling lama misi kami mungkin cuma dua minggu."

"Jangan remehkan kehidupan. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan."

Naruto paham sekali maksud perkataan Ayame barusan. Meski dia sudah melihat banyak kehidupan, kehidupan sendiri sesuatu yang tidak akan pernah bisa dia kendalikan sepenuhnya. Bahkan Penguasa Limbo sendiri hanya mampu mengendalikan sebagian kecil dunia. Tidak seperti manusia biasa yang mengenal konsep dewa penguasa semesta, begitu Naruto menjadi mahluk Limbo, konsep dewa hanyalah kepercayaan yang dimiliki manusia. Jauh di luar sana ada kekuatan lain yang dianggap dewa oleh manusia, tapi juga bukan dewa oleh orang-orang Limbo.

"Begitu ya," kata Naruto sambil membuka bungkusan, mengeluarkan buku setebal catatan utang rentenir. Dia memandangnya dengan tatapan terkejut, memandang Ayame yang dibalas cengiran.

"Taiko karya Eiji Yoshikawa. Cuma ada 100 buah di dunia ini."

"Ba-bagaimana bisa?" Taiko sendiri adalah cerita yang ditulis seorang samurai di masa desa shinobi belum terbentuk, sebuah kisah zaman kuno tentang pertikaian klan-klan ninja. Buku itu termasuk jenis novel sejarah dan karena jumlahnya terbatas, Cuma kalangan tertentu yang memilikinya.

"Paman orang hebat, berkat bisnis ramen banyak pejabat tinggi yang suka dan jadi teman dekatnya. Salah satunya pembesar di negeri salju, aku tidak tahu banyak. Nanti berterima kasih dan tanyalah pada paman. Oke?"

"Terima kasih," mukanya memang begitu datar dan dingin. Tapi saat itu, bocah Uzumaki Naruto benar-benar berterima kasih dan Ayame bisa melihat ketulusan seorang anak sembilan di depannya untuk pertama kali.

Ini hanya sekilas teaser, untuk melihat apakah masih ada peminat untuk fic ini :) berikan ulasan kalian untuk membuatku semangat menggarapnya lagi!