Anda yang terhebat!

Shiba duduk termenung di depan gundukan tanah di bawah pohon perm di pekarangan rumah keluarganya. Itu bukan sekedar gundukan tanah tanpa arti, ada tongkat kayu setinggi 30 senti tertancap di atasnya. Disana terkubur anjing ninja pertamanya, sekaligus mungkin yang terakhir. Tidak akan pernah digantikan oleh apapun. Hari dimana anjingnya mati, adalah malam terakhir dia menjadi anak-anak. Tiga hari lagi Shiba akan memulai kehidupan akademi dan ayah serta Pamannya memutuskan untuk mengajaknya berburu di hutan yang membutuhkan waktu setengah hari dari desa.

Sebenarnya Shiba tidak melihat sendiri anjingnya mati. Makhluk berkutu itu tiba-tiba menggeram lalu masuk ke dalam hutan dan tidak pernah kembali.

Ayah dan Pamannya pergi ke danau selepas makan malam dengan membawa lampu senter. Jaraknya tidak terlalu jauh dari tenda, tapi meski tidak diberitahu, Shiba tahu berjalan sendirian di hutan gelap adalah tindakan bodoh. Sebelum mereka berpisah, Pamannya berpesan bahwa jika terjadi sesuatu saat mereka tidak ada, dia harus menembakkan suar asap dan mereka akan segera kembali. Dibanding ayah kandungnya sendiri, Pamannya jauh lebih memperhatikannya. Shiba mungkin masih kecil, tapi dia paham betul perbedaan rasa perhatian itu.

Shiba masih berdiri di depan tenda bersama aka, anjingnya yang berkutu. Mereka baru bertemu tiga bulan dan tidak seperti anak-anak Inuzuka, Shiba tidak langsung akrab dengan aka. Anjing itu juga aneh, dia tidak banyak menggonggong, lebih suka diam dan menegakkan telinga. Tatapan jelas tidak menyukai Shiba, tapi seolah anjing itu mengerti, makhluk itu mencoba memahami tuan barunya dan Shiba memilih untuk hubungan yang tidak terlalu dekat.

Dia bisa mendengar langkah kaki kedua laki-laki dewasa berjalan masuk ke hutan, lalu suara sesuatu masuk ke air dan kayuhan dayung perahu dalam kegelapan. Kata Pamannya Shiba istimewa karena dia sudah memiliki pendengaran tajam, sedangkan ayahnya berharap Shiba memiliki penciuman setajam anjing.

Baru saja masuk ke dalam tenda, berganti baju lalu berbaring diam tak bergerak terbungkus selimut, Shiba merasa ketakutan melewati pepohonan. Di luar api dibiarkan menyala, mereka masih ada di dalam jangkauan radar ninja daun, jadi tidak masalah menyalakan api. Shiba masih bergolek berusaha untuk tidur. Kesunyian melingkupi suasana sekeliling, tanpa terdengar suara apapun. Menurut Shiba, dia akan merasa lebih baik jika hanya mendengar lolongan anjing hutan atau suara burung hantu atau suara apapun. Shiba bisa melihat bayangan Aka dari luar dan anjing itu tetap tenang, jadi Shiba bisa tenang.

Shiba bukan anak yang cengeng, dia bahkan mungkin belajar terlalu dewasa lebih cepat sejak ibunya meninggal setahun lalu mengikuti adiknya yang baru lahir. Dia tidak takut terhadap sesuatu yang dikenalnya. Namun, malam itu dia semakin ketakutan. Kemudian dia mendadak takut meregang nyawa. Hanya sepakan lalu, Shiba masuk tanpa sengaja ke kantor ayahnya dan membaca laporan misi ninja milik ayahnya tanpa ijin. Dua anggota tim mati, seorang perempuan dari klan Yamanaka yang baru lulus ujian chunin dan laki-laki berusia tiga puluh enam. Mati bukan sesuatu yang asing sejak Shiba melihat bagaimana ibunya menutup mata dan tidak pernah bangun. Lalu dia juga melihat beberapa anggota klan menangis saat seseorang tidak kembali dengan selamat dalam sebuah misi. Shiba mungkin masih empat tahun, tapi dia menyadari bahwa suatu hari dia akan mati. Pikiran itu membuatnya mual. Itulah kali pertama dia benar-benar menyadari suatu saat dia akan mati.

Shiba masih membaca isi laporan ayahnya karena tertarik bagaimana dua anggota tim dalam misi itu tewas. Dalam laporan itu dijelaskan jika mereka bertemu tidak sengaja dengan seorang buronan bernama Kakuzu, belum sempat tujuan misi dijalankan, tim terpaksa mundur ketika bentrok terjadi dan dua anggota tim tewas. Shiba masih ingin terus membaca ketika sepupunya Hana masuk lalu memergokinya membaca sesuatu yang harusnya tidak boleh dia baca. Itu untuk pertama kali Shiba melihat Hana marah. Dia pun pergi ke kamar, tapi tidak bisa tidur. Dia nyaris terjaga semalaman dan membayangkan pria tidak dikenalnya bernama Kakuzu membunuh dua rekan tim ayahnya.

Lalu anjingnya menggeram. Menyalak dengan suara keras. Shiba belum memahami situasi, tiba-tiba anjingnya keburu masuk ke hutan dan itu adalah terakhir kalinya dia melihat aka. Kejadian itu berujung pada ketakutan dan munculnya begitu cepat setelah bayangan anjingnya kabur dan pikirannya yang pergi ke malam dia menyelinap masuk ke kantor ayahnya. Shiba mengambil pistol suar dan menjulurkan moncongnya ke luar tenda lalu melepaskan tembakan. Tembakannya tidak karuan, asap suara menabrak ranting pohon yang sedikit pendek, tapi cahaya suar tetap muncul. Segera setelah melepas tembakan, perasaannya pun membaik, dia berbaring menunggu Pamannya datang.

Di waktu yang sama, kedua pria Inuzuka dewasa melihat cahaya dari arah tenda. Laki-laki lain yang datang untuk memberi mereka gulungan terkejut, tapi Paman Shiba buru-buru menenangkan mata-mata mereka. Ayah Shiba mengutuk kebodohan anaknya.

Baru ketika mata-mata mereka pergi, ayah Shiba bicara. "Anak tolol! Kenapa kau kasih tahu dia untuk menembakkan suar? Mungkin dia cuma takut mendengar suara burung hantu!"

Ayah Shiba bernama Inuzuka Kome, dia adik kepala klan yang sekarang Inuzuka Tsume. Di sampingnya paman Shiba adalah suami Tsume, Kaminari Toshio. Meski paman Shiba orang luar klan dan lahir dari sipil, dia sederet dari ninja yang mencatatkan namanya dalam sejarah perang ketiga. Meski tidak seperti setenar mendiang Yondaime sebagai Kiiroi senko, Fugaku si mata iblis atau bocah murid Yondaime berambut perak, Kaminari Toshio memiliki jutsu unik yang berpadu dengan Kuchiyose-nya, unagi.

"Maklumlah dia masih anak kecil," ujar Toshio.

"Tidak ada alasan membawanya ke hutan dalam misi ini."

"Kamu menginginkan anak yang kuat bukan? Kenapa tidak menunjukkannya kehidupan yang sebenarnya sejak muda?" ujar Toshio, "Aku tidak bermaksud menilai cara mendidik anakmu Kome-san, tapi kamu harus melihat Shiba sebagai dirinya sendiri… dia tidak akan pernah sama seperti kamu."

Kome bukan orang yang mudah tunduk, apalagi di hadapan pria asing yang jelas bukan sedarah. Tapi Toshio kuat dan Kome sendiri sudah melihat seperti apa kekuatan suami kakaknya itu. "Anak itu sulit di atur."

"Lupakan saja… jika kamu keberatan, aku akan mengajarinya sendiri. Kupikir Kiba akan senang punya kakak laki-laki yang hebat," Toshio teringat anak laki-laki pertamanya yang baru lahir.

Mereka berdua kembali ke daratan dan Kome menyorotkan senter ke wajah anaknya.

"Ada apa Shiba?" Tanya Toshio. Shiba bangkit dari tempat tidurnya.

"Tadi kudengar suara campuran anjing hutan dan serigala, rasanya seperti serigala… tapi mungkin campuran keduanya," Shiba tidak suka buku, tapi dia mudah mengingat kata-kata sekali baca dan kemarin dia menemukan arti 'campuran'.

"Tidak ada serigala di tanah Konoha, kamu cuma bermimpi," ujar ayahnya.

"Diaman aka?"

"Aku tidak tahu… dia menyalak galak lalu pergi ke hutan. Apa dia belum kembali?"

Ayahnya mendengus, "Anjing itu lebih cerdik darimu."

"Kita akan mencarinya besok. Anjing tahu jalan kembali," ujar pamannya menenangkan. "Sekarang sudah terlalu larut. Ayo kita tidur."

Pagi harinya ayahnya tidak ikut sarapan bersama, kata pamannya dia harus kembali ke Konoha segera karena tugas mendadak. Jadi sia dua hari seperti rencana, Shiba akan bersama pamannya yang jauh lebih disukai oleh Shiba. Kedua Inuzuka masuk ke hutan mencari beri liar. Dalam perjalanan mereka menemukan pohon saru besar yang salah satu cabangnya merunduk dan saling bersentuhan sehingga akan bergesekan saat tertiup angin.

"Apa menurut mu suara gesekan cabang itu yang terdengar tadi malam, Shiba?" pamannya bertanya.

"Mungkin," jawab Shiba. Dia tidak mau lagi memikirkannya.

"Kau tidak perlu ketakutan di dalam hutan, Shiba. Tidak ada yang menyakitimu."

"Tidak juga petir?" tanya Shiba.

"Ya, tidak juga petir. Kalau ada guntur, larilah ke tempat terbuka. Atau bersembunyi di bawah pohon beech, pohon itu tidak akan tersambar."

"Tidak pernah?"

"Tidak pernah kudengar satu kalipun."

"Hmm… aku senang mendengar soal pohon beech."

Hingga hari terakhir mereka berkemah, Aka tidak kunjung kembali. Shiba sedih, tapi dia juga tidak merasa kehilangan. Pamannya mengatakan mungkin anjing itu tidak beruntung. Setahun setelah masuk akademi, pamannya mengajak Shiba mencari anjing baru, tapi Shiba tidak menginginkannya dan berbohong jika aka tidak bisa digantikan. Kematian partner anjing bagi anggota klan Inuzuka sangatlah berarti, rasa kehilangan seperti kehilangan anggota keluarga. Tapi klan dikenal sebagai partner anjing sehingga anjing pengganti adalah suatu keharusan.

"Tapi kau akan sulit untuk masa depan ninjamu," kata pamannya memberitahu. Ayahnya marah dan mengatakan dengan lantang di depan banyak anggota klan lainnya jika Shiba tidak punya masa depan.

"Aku punya raiton dan aku suka pedang. Paman mau mengajari ku kan?"

"Kamu yakin?"

"Iya!"

"Itu akan sulit."

"Aku tidak keberatan."

Pamannya mengurus sisanya. Dia memalsukan kematian aka, dengan membuat kematian anjing itu karena sakit dan Shiba sangat sulit menemukan pengganti. Apakah sebegitu buruknya seorang Inuzuka tanpa anjing? Shiba tidak memikirkannya, dia berlatih antusias sebagai pengguna pedang di bawah bimbingan Pamannya. Toshio menyanggupi dan melatih Shiba selama dua tahun, ketika Shiba berusia sembilan, Pamannya tewas dalam misi. Itulah untuk kali Shiba benar-benar merasa kehilangan. Sebagai bocah laki-laki dari Klan Inuzuka, cengeng adalah kata-kata terakhir dan jika orang-orang klan melihat bocah laki-laki Inuzuka bersikap lemah apalagi mempermalukan nama klan. Meski tidak sedingin Uchiha, Inuzuka punya cara untuk melatih pribadi lemah dan seperti hukum rimba, yang lemah akan jadi makan pihak yang kuat.

Saat Shiba tahu Uzumaki Naruto akan menjadi rekan satu tim, dia tidak berpikir macam-macam dan melihat bocah itu sebagai rintangan yang harus dilewati. Dia tidak peduli, omong kosong siluman rubah seperti penduduk desa lain. Pertama ketika bocah itu ditempatkan di kelasnya setelah lompat kelas. Shiba tahu Naruto adalah anak yang kuat.

Shiba tidak mengambil cara seperti anak-anak kelas lain yang menggoda bocah rubah. Bukan rumor buruk tentang pembawa sial, sekali lagi dia tidak percaya omong kosong seperti itu. tapi tatapan dingin menilai dari bocah itu. Shiba tahu arti tatapan itu. tatapan predator yang menunggu mangsa lengah. Bahkan jika Enma, Tokuone, dan Hajiro mati mengenaskan gara-gara rumor buruk pembawa sial itu. Shiba hanya melihatnya sebagai model kehidupan dimana yang lemah selalu dimangsa yang kuat. Ketiga orang bodoh itu si lemah yang kalah dari si kuat, Uzumaki Naruto.

Ayahnya kuat dan selalu bertahan hidup di setiap misi. Meski pamannya tidak senasib seperti itu. Shiba memahami jika kematian bukan pertanda lemah. Dia sendiri tahu pamannya mati sebagai ninja Konoha yang memegang tekad api. Kabar kematian pamanya adalah dorongan Shiba untuk terus berjuang dengan caranya sendiri. Dia akan jadi kuat, dia menolak orang menilai dirinya. dia tidak mau ada di posisi lemah yang dimakan oleh ketakutan.

Tapi misi kemarin. Shiba belajar jika tidak hanya ketakutan yang membuat seseorang lemah. Rasa tidak berdaya karena tahu seseorang menjulang tinggi di hadapannya adan perasaan baru bagi Shiba untuk melihat bahwa dirinya masih jauh untuk disebut sebagai orang yang kuat.

Dirinya tidak mau mengakui, tapi keberadaan Naruto adalah perasaan familiar yang membawa Shiba ke dalam kenangan di dalam hutan saat dia berusia empat tahun.

"Rupanya kamu disini," Shiba menoleh dan melihat kakak perempuan Kiba, Hana muncul dari ruang tengah. Dari pakaiannya, Shiba menebak sepupunya itu baru dari klinik hewan. "Sedang sibuk atau ingin menemaniku istirahat?"

Sejujurnya Shiba tidak menyukai anggota klannya sama sekali. Menurutnya orang-orang Inuzuka terlalu percaya diri tanpa melihat posisi mereka tak lebih dari sekedar partner anjing. Dibanding orang-orang Aburame yang menarik diri dari keramaian dan bekerja dibalik layar, orang Inuzuka kebanyakan berpikir mereka tidak kalah hebat dibanding ninja lain atau beberapa orang bodoh sesumbar bisa sekuat Uchiha atau Hyuga. Mereka lupa kekuatan tempur berasal dari ikatan dengan anjing, dan jika anjing mereka mati, hanya sedikit kemungkinan orang Inuzuka bisa bertahan jika bukan rekan tim yang memadai.

"Tidak bersama bibi?" sejak kematian sepupu mudahnya, bibinya lebih menarik diri dari misi dan lebih menyukai rumah dan bir. Jika bukan desakan Hana dan orang-orang klan yang peduli, perempuan itu mungkin akan benar-benar mati dalam derita bersama bir. Dan bila itu terjadi, ayahnya akan menggantikan posisi kepala klan seperti ambisinya sejak lama.

"Dia sedang ada misi, kamu tidak tahu?"

"Maaf, sibuk dengan misi sendiri."

Hana terkekeh, "Keren ya? Katanya kamu bertemu buronan Uchiha Itachi."

Shiba memandang curiga, "Darimana kamu tahu?"

"Aku tidak pernah cerita ya kalau Chio dari departemen misi ninja adalah teman dekat?"

Shiba bangkit dari batu duduk dan masuk ke dalam rumah, "Aku tidak berperan apa-apa disana."

"Bohong, detail misi bilang, kamu maju menerjang sendirian dengan teknik pedang barumu itu kan?"

"Itu rencana Naruto."

Hana merubah emosi cerianya sedikit tertekan, tidak seperti bibinya yang percaya jika anaknya Kiba di bunuh monster rubah. Hana tidak serta merta setuju, tapi juga tidak membela jika Naruto tidak bersalah sama sekali. Shiba sendiri sudah melihat kematian teman sekelasnya karena mengganggu anak itu. Dia tidak menyalahkan bibinya jika berpikir Naruto adalah pelaku utamanya. Hanya saja Shiba tidak peduli dan menganggap sepupunya Kiba kurang beruntung, sama seperti anjingnya yang dulu aka.

"Tapi tetap kamu berani maju ke depan melawan Itachi. Jangan rendahkan dirimu seperti itu. Inuzuka bukan orang-orang merendah diri."

"Dan berkat itu juga klan kita kelihatan bodoh."

Hana mengingatkan Shiba dengan sosok Toshio, sehingga dia muda dekat dengan sepupu perempuannya secara alami. Dibanding ayahnya, Shiba lebih terbuka dengannya. Itu berkat dia dititipkan bersamanya dan sejak kematian Kiba, hubungan mereka semakin dekat. Hana jika tidak mengurus ibunya, akan mampir ke rumah Shiba yang selalu sepi. Ayahnya lebih suka tinggal bersama istri barunya yang tidak pernah Shiba sudi melihatnya.

"Jangan bicara begitu! Seekor anjing tidak pernah menjelek-jelekan kawannya sendiri."

"Tapi kita bukan anjing."

"Memang, tapi klan adalah tempat dimana kamu kembali dan alasan kamu berjuang. Desa memang segalanya, tapi pada akhirnya kamu akan kembali ke klanmu dan di sanalah kamu diterima."

"Tidak. Di keluarga ini aku bukan siapa-siapa, kecuali anak aneh yang tidak mau bersama anjing."

"Tapi di mataku, kamu adik kecil yang perlu diberi pelajaran," Hana menarik Shiba dan menjitak kepalanya. Dia juga menggelitiknya dan Shiba tidak punya kekuatan apapun untuk melawannya, dia hanya bisa memohon ampun.

"Sudah enakkan?"

"Ya…Terima kasih?"

"Mau cerita masalahmu?"

Shiba diam sejenak, memikirkannya cukup lama sebelum membuka mulut, "Apa aku harus bersama anjing?"

"Kenapa tiba-tiba kamu berubah pikiran? Dulu kamu selalu menolak sejak kematian Aka."

"Aku berpikir dibanding Naruto, aku tidak ada apa-apanya."

"Apa dia sehebat itu?"

"Ya, dia seperti segalanya. Otak encer, tenang dan bakat ninjanya alami. Seakan dia memang ditakdirkan jadi ninja. Dia selalu membuat rencana untuk kami berdua sejak tim ini terbentuk dan semuanya nyaris berhasil."

"Dan kamu bukan?"

Shiba terdiam lama lalu kepalanya dipukul. "Untuk apa itu!"

"Sejak kapan Shiba adik kecilku pesimis? Kamu menolak ayah ketika Aka mati untuk dicarikan yang baru, kamu belajar sendirian ilmu Kenjutsu, bahkan setelah ayah tidak ada… kamu terus berjuang meski di Inuzuka tidak ada satupun yang bisa mengajarimu. Aku juga tahu, akhir-akhir ini kamu malam-malam pergi ke rumah Kakashi dan meminta untuk diajari teknik raiton, kemana semua sikap bodohmu itu huh!"

"Sikap bodoh?"

"Dengar Shiba, ada kalanya kamu akan bertemu orang kuat dan mungkin orang itu benar-benar kuat. tapi yang lebih penting dari segalanya adalah tekadmu tidak mau menyerah untuk melawan orang kuat itu. aku tidak tahu seberapa kuatnya Naruto ini, tapi aku kenal Kakashi dan dia bukan laki-laki baik yang memberi belas kasih. Apa kamu tahu sudah banyak genin yang dikembalikan, gara-gara tidak sesuai dengan standarnya?"

"Tapi itu berkat Naruto, dia yang membuat rencana sehingga kami lolos tes Kakashi sensei, tanpa itu kami pasti sudah gagal."

"Dan jika kamu benar-benar lemah, Kakashi akan membuangmu. Apa aku pernah cerita kalau dua rekan Angko dibuang oleh Orochimaru karena tidak sesuai standarnya, kecuali Angko. Kamu dan Yukino tidak, karena Kakashi melihat potensi dalam dirimu, bahkan kamu akhirnya diajari beberapa tekniknya. Itu artinya kamu diakui, kamu kuat."

Shiba diam, lalu memandang tempat Aka dikubur. Jika dia mengingat semua kejadiannya sejak dia bergabung dalam tim, ada sesuatu yang Shiba tidak perhatikan sebelumnya. Itu adalah ketika Shiba pada akhirnya melihat orang yang dianggapnya kuat. tidak seperti ayahnya yang merendahkan, Naruto mendengarnya.

Shiba bangkit dan mengambil sepatu.

"Mau kemana kau?"

"Lari! Hari ini aku belum lari sama sekali.

Jika dipikir baik-baik, Shiba sejak awal tidak menyukai anjing, termasuk Aka. Tidak Cuma kutu, dia benci liur anjing.

AoN

terlalu tidak masuk akalkah anak 4 tahun berpikir seperti itu? well Itachi juga tumbuh dengan caranya yang unik bukan?

Aku penasaran apakah di zaman naruto kecil, pistol suar sudah ditemukan? mengingat ada negeri besi yang terkenal dengan perajin besinya, kupikir itu bukan sesuatu yang sulit dibuat bukan? misal mereka punya ide untuk itu ha ha ha...

And... Next adalah bagian kunoichi dari tim Kakashi!

suka? tidak suka? menemukan salah ejaan? berikan ulasan anda, karena itu sangat berharga bagi penulis!