Untuk Reviewer yang telah mengulas kisah ini, Anda yang terbaik!
Yukino selalu memperhatikan ketepatan waktu, baginya kehilangan se detik tanpa sesuatu yang berguna adalah kesalahan yang membuat perutnya sakit. Keluarganya memiliki pandangan disiplin begitu tinggi yang mungkin terlalu berlebihan untuk sebuah keluarga kalangan pembesar. Dia hidup dalam aturan semacam itu dan begitu dia tinggal di Konoha, seminggu awal Yukino diserang sakit perut luar biasa. Akademinya buruk, hanya sedikit guru yang mematuhi waktu dan lebih banyak dari orang-orang dewasa tidak bertanggung jawab. Sakit perut yang luar biasa dan keterlambatan mempelajari budaya desa karena sering absen akibat perubahan yang dirasakan tubuhnya. Butuh beberapa tahun, sampai Yukino akhirnya beradaptasi (itupun dia harus dengan perjuangan luar biasa), waktu bukan sesuatu yang penting, dia memberi kebebasan kecil (15 menit) dan membawa persediaan obat penenang yang dipesan langsung dari ibukota (berjaga-jaga jika 15 menit tidak cukup).
Tetapi di balik itu semua, Yukino sedikit lebih mudah berbaur dengan lingkungan. Dia tidak akan cemberut ketika teman-teman perempuannya terlambat begitu juga para guru akademi. Dia bisa mentolerir orang lain, tapi untuk dirinya sendiri Yukino tetap seorang yang taat waktu. Jika dia mendapati waktu kosong ketika menunggu sebisa mungkin dirinya akan menyibukkan diri. Membaca buku, berlatih, apapun asalkan tidak diam.
AoN
Kakashi sensei adalah rintangan pertama Yukino tentang rasa gelisah miliknya. Lelaki itu jelas tidak menghargai waktu, tetapi suatu dalam diri Yukino berkata jika semua yang dilakukannya hanya pura-pura. Sama seperti saat ujian lonceng, instruktur Jounin datang begitu terlambat tapi untungnya rekan timnya punya cara membunuh waktu terbuang itu dan menghasilkan sesuatu yang berguna.
"Oh, halo Yukino. Sedang jalan-jalan?" ucap sensei-nya begitu mereka bertemu di toko bahan-bahan makanan. Suaranya kedengaran lelah, tapi wajahnya menampilkan semangat aneh.
"Membeli beberapa bahan makanan. Sensei?"
"Hm… hanya menghabiskan waktu di jalan sambil menghindari seseorang yang terlalu berisik. Oh ngomong-ngomong bagaimana latihan dialek mu?"
"Lancar kurasa."
"Bagus sekali."
"Jadi? Seperti apa teman berisik yang dihindari oleh sensei?"
"Seseorang yang kelewat semangat dan selalu berpikir masa muda tidak pernah berakhir."
"Aku jadi ingat seseorang dari teman akademi… dia juga terlalu bersemangat."
"Sungguh?"
"Ya… kalau tidak salah namanya Lieu? Lee? Entahlah, aku lupa."
Kakashi terdiam. Buku bacaan kesukaannya di angkat sedikit lebih tinggi hingga menutupi sisa separuh wajahnya. "Apa malam ini kamu sibuk? Aku ingin makan malam bersamamu. Kurasa sebagai perempuan satu-satunya dalam tim, sebagai sensei aku harus mengenalmu lebih dekat bukan?"
"Ya… kurasa bisa."
"Oh, jangan memaksakan diri," kata Kakashi, "jika kamu punya rencana lain, kita bisa menundanya."
"Sama sekali tidak keberatan. Tapi aku tidak bisa makan makanan dengan bebas… aku punya perut sensitif."
"Sungguh? Ada restoran yang biasa di datangi pejabat ibukota di sekitar kantor Hokage…"
Kakashi menyebut nama restoran daging yang Yukino tahu cukup mahal, tapi kualitas masakannya tidak perlu lagi tanyakan. Mendengar nama itu, dirinya menahan napas.
"Apa itu tidak terlalu berlebihan?"
"Tidak masalah. Koki sekaligus pemilik restoran itu berhutang banyak hal padaku dan meminta potongan harga tidak akan membuatnya bangkrut… bisa dibilang aku tamu eksklusif di sana."
"Baiklah kalau begitu."
"Santai saja. Pakailah apapun yang membuatmu nyaman."
AoN
Hingga duduk di depan meja sambil membaca menu, Yukino masih belum punya gambaran pembicaraan seperti apa yang ingin dilakukan pria di depannya itu. karena restoran ini sangat berkelas dan untuk kalangan tertentu, Yukino pada akhirnya memakai pakaian yang menurutnya cocok tapi tidak terlalu mencolok. Sebuah gaun oriental berwarna krem yang biasa dia pakai jika ada acara pertemuan pembesar di ibukota. Senseinya juga kelihatan berbeda malam itu, dia memakai dalaman biru yang bisa berbalut haori seputih salju mirip rambut peraknya. Yukino merasa pria di depannya adalah sosok lain bukan Kakashi, seseorang yang memiliki kekuasaan seperti pembesar atau sejenisnya, begitulah yang Yukino rasakan.
Ketika kunoichi meminta pesanan Wagyu terbaik, Kakashi hanya tersenyum dan meminta dua porsi dari menu yang sama kepada koki.
"Beberapa hari lalu ada keluhan dari tamu tentang daging itu, maka kami mengeluarkan daging yang lain. Tapi sebenarnya tidak ada masalah dengan rasanya. Tamu itu pejabat penting dari negeri teh yang di undang langsung oleh petinggi desa. kami bertugas menyenangkan hati tamu agar transaksi berjalan lancar, dia hanya bicara asal agar menyenangkan orang lain. Apa boleh buat bukan? Pejabat kerajaan selalu diutamakan. Toh tagihannya juga dibayar oleh desa bukan saku celananya sendiri, kami naikkan tagihannya untuk menu yang dia tolak."
"Pasti sangat repot…" kata Kakashi dengan maklum.
"Tidak ada yang menyenangkan dari orang kaya, apalagi kalangan pejabat kerajaan."
Koki itu mengedipkan matanya ke Yukino lalu berjalan kembali ke dapur.
Apa gerangan Koki itu menceritakan kisah semacam itu? apa ini sudah direncanakan karena Yukino adalah orang kaya dari kalangan pejabat kerajaan?
"Terkadang banyak orang yang suka mengeluh di dunia ini," kata Kakashi.
Yukino tidak menjawab. Keduanya menunggu ketika satu set teh hijau disuguhkan pelayan perempuan dengan hati-hati. dalam keheningan beberapa menit itu Yukino menangkap sesuatu yang berbeda dari instruktur timnya. Meski baru beberapa bulan, Yukino seorang perempuan peka dengan karakter seseorang. Kakashi yang kelihatan begitu santai, kini beralih menjadi pria kelas atas yang biasa Yukino kenal dalam lingkup keluarganya. Apa ini cara ninja dalam beradaptasi?
Lalu Kakashi mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Awalnya mirip seperti perkenalan awal tim, lalu beberapa sedikit lebih dalam dan Yukino masih belum tahu arah pembicaraan ini.
Saat Kakashi bertanya apa Yukino tahu siapa sensei yang mengajari Kakashi sewaktu genin, dengan sedikit malu Yukino menjawab.
"Mendiang Yondaime-Hokage."
"Hm… itu benar."
Tidak terdengar nada pujian, tetap sama. Apa ini semacam tes? Berapa banyak orang tahu masa lalu sensei? Seingatnya waktu perkenalan, pria berambut perak di depannya ini hanya menyebut nama dan tidak banyak yang di sukai atau tujuan besar yang digapai. Bahkan menurut Yukino terkesan, Kakashi sensei nyaris tidak memperkenalkan apapun. Tapi tanpa anggota laki-laki lain dalam tim sadari, sebenarnya Yukino menjerit keras dalam hati. siapa duga jika instrukturnya adalah seorang dengan sejarah yang terkenal di banyak tempat.
"Aku cukup kenal dengan ayahmu… setidaknya sebelum dia benar-benar berumah tangga. Menjadi duta Daimyo untuk desa, pastinya membuat dia sibuk ibukota-desa. laki-laki arogan jika boleh ku bilang, tapi dia jauh lebih baik dari kebanyakan orang-orang ibukota."
"Lalu apa itu, sensei?"
"Arogan dengan kepala encer serta licik sekaligus rekan yang bisa diajak bisnis menguntungkan."
Apa itu candaan atau sarkasme, Yukino tidak tahu. Dia memilih diam. Dirinya sebenarnya bukan gadis pemalu. Dia bisa keras dan cerewet jika mau. Hanya saja lingkungan Konoha masih asing dan Yukino tidak mau memiliki kesan buruk, apalagi di depan si copy ninja, Hatake Kakashi. Dirinya tinggal di apartemen cukup mewah di pusat desa. Terkadang Yukino merasa kesepian di beberapa waktu. Setidaknya teman-teman timnya menyenangkan. Dia sudah kenal Shiba, mereka ada di kelas yang sama sejak masuk akademi dan Naruto… meski rumor aneh tentang anak itu, Yukino tidak tahu kenapa harus mencemaskannya. Lagipula selama mereka dalam satu tim, ketiganya solid. Bahkan sejujurnya setelah kembali dari misi Kannabi, Yukino mengagumi Uzumaki kuning itu.
Pesanan Wagyu kualitas terbaik yang di masak setengah matang dengan saus penuh cita rasa datang. Mereka berdua makan dengan tenang awalnya. Lalu Kakashi bertanya banyak soal kehidupan Daimyo dan obrolan lalu mengalir begitu saja. Tampaknya gurunya, tipe yang mudah bergaul.
"Nah, aku sebenarnya ingin tanya. Kenapa kamu ingin jadi seorang ninja?" wajahnya tetap santai, tapi sorot mata yang terbuka sebelah itu seperti menusuknya. "Aku sudah membaca profilmu dan kita sudah berkenalan waktu itu… tapi aku ingin tahu apa alasan sebenarnya kamu ingin jadi ninja selain bertualang? Aku sudah mengenal banyak orang dari keluarga Daimyo… dan orang sepertimu… apalagi seorang perempuan. Sangatlah jarang." Lagi-lagi Kakashi tersenyum. "Santai saja, gunakan dialek ibukota juga tidak masalah. Aku bisa memahaminya."
Senyum Kakashi sensei justru membuat Yukino gelisah. Dia terdiam untuk waktu lama.
"Maaf, mungkin ini kelihatan kasar. Tapi aku punya cukup banyak pengalaman dengan macam-macam genin, Kunoichi… Aku juga tipe yang blak-blakan. Jadi aku katakan saja, kamu yang berada paling rendah dibanding dua anak laki-laki lainnya."
"Itu karena aku perempuan?" jawab Yukino dengan dialek ibukota. Meski umurnya baru 13, tapi dia sudah banyak bertemu orang dengan berbagai karakter dan hal yang dia pelajari dari itu semua adalah jangan pernah memperlihatkan sisi lemahmu, meski itu sangatlah sulit.
"Tidak. Banyak Kunoichi berbakat yang sejak kecil sudah menonjol. Rekanku bernama Kurenai terkenal sebagai master genjutsu, tentu saja itu berkat ayahnya yang merupakan salah satu ninja elit di masanya. Ada juga Anko… dia memiliki guru yang bisa melihat potensi dan mengembangkannya… banyak kenalanku yang bisa menunjukkan kemampuannya tidak kalah hebat dibanding laki-laki."
"Lalu apa yang ingin sensei katakan?"
"Kamu sudah tahu seberapa kuat Naruto. Dia terlahir alami sebagai ninja. Ini bukan masalah jenius, tapi bakat yang dimilikinya. Sedangkan Shiba, memang bisa tapi berkat darah klan ninja dan sifat keras kepala, dia bisa menyaingi Naruto jika mau. Sedangkan kamu, sejujurnya tidak memiliki ciri khas apapun untuk menjadi ninja. Kamu memahami genjutsu dengan baik, dan memiliki Katon… itu bagus. Tapi itu semua tidak akan cukup."
"Apa yang ingin sensei katakan sebenarnya?" kali ini Yukino tidak perlu lagi menunjukkan kesopanan. Dia sebenarnya tidak ingin memperlihatkan sisi buruknya ini, apalagi di depan instruktur timnya. Tapi ketika dia marah, dia akan benar-benar marah dan melenyapkan sisi feminin yang diajarkan keras oleh kedua orang tuanya.
"Apa yang ingin kamu pertaruhkan untuk terus bisa menyeimbangi kedua rekanmu?"
"Yang kupertaruhkan?"
Kakashi mengangguk, "aku sudah bilang jika aku sudah melihat banyak jenis genin. Dan alasan dasar kenapa banyak tim tidak solid, bahkan sampai disebut tim genin abadi adalah ketika salah satu anggotanya tidak bisa mengejar, dan itu seperti parasit untuk orang lain.
"Memang kelulusan chunin bisa diberikan tanpa memandang kekuatan anggota rekan lain. Tapi aku bocorkan padamu… 60% kelulusan dinilai dari kerja sama dan kekompakan."
"Apa Kakashi sensei pikir, Naruto dan Shiba sudah lebih baik dariku? tidak akan mengacau satu sama lain?"
Ada gestur perubahan emosi kecil, tapi segera kembali tenang yang Yukino tangkap. "Aku yakin Naruto bisa melaluinya. Shiba dia mungkin akan tersandung, tapi dia punya keluarga yang bisa menopangnya…. Kamu sendirian, latar belakang kelurga Daimyo akan membuatmu kesulitan dalam mencari jalan keluarnya. Jadi sebagai gurumu aku akan melakukan sebaik mungkin untuk membuatmu ada setara dengan dua anak laki-laki lainnya."
Intonasi tajam sebelumnya tiba-tiba pudar begitu saja dan yang di depannya sekarang adalah sosok gurunya yang santai dan menyenangkan. Yukino memerah karena sudah bersikap memalukan.
"Jangan diambil pusing. Aku sedang mengetes kepribadian mu dan boleh ku bilang, kamu lulus dengan pribadi keras kepala."
"A-aku…"
"Apa kamu pikir aku serius?"
Yukino mengangguk, Kakashi tertawa. "Memang kata-kataku serius, tapi aku sama sekali tidak bermaksud meremehkan mu."
Kakashi membuka maskernya dan wajah yang selama ini dicari-cari oleh Shiba dan Naruto terekspos di depannya. Semburat merah membuat Yukino gugup dan salah tingkah. Dengan kedipan kecil, Kakashi menggodanya. "Ini hadiah khusus untukmu, dan rahasiakanlah dari dua anak laki-laki lainnya oke?"
Keduanya melanjutkan makan hingga selesai. Kakashi memesan sake putih, dan bertanya apa Yukino ingin menambah teh. Dia menggeleng dengan sopan.
"Dulu aku punya rekan tim yang menyedihkan meski dia berasal dari klan elit. Bahkan kemampuannya begitu biasa-biasa saja, bahkan masih kalah dibanding Kunoichi tim kami yang berasal dari keluarga bukan ninja. Satu-satunya hal yang menonjol dari rekanku itu adalah dia terlalu berisik, naif, dan percaya diri kelewat batas. Namun, mungkin karena sifat itulah dia juga yang paling spesial. Ninja cerdas bisa ditemukan dimana saja, tim terbentuk dengan kombinasi beragam dan pasti salah satu anggotanya memiliki kecerdasan paling menonjol. Ninjutsu, Genjutsu dan teknik-teknik lain bisa dipelajari semua orang, selama kamu menemukan mentor yang cocok dan tahu caranya. Tapi semangat tidak mau menyerah dan bahkan jika ada resiko buruk di depan mata…. Tidak semua ninja punya semangat semacam itu."
"Tekad api,"
"Benar."
Dari kata-kata Kakashi, meski dia menceritakannya begitu wajar seperti orang yang menceritakan kisah hidupnya. Jelas Sensei memiliki sejarah tragis di masa lalu. Berkat sering berhubungan dengan anak-anak, Yukino berpikir dia punya keahlian dalam membaca perasaan orang lain.
Sebuah tim, kemungkinan itu tim Kakashi sensei sewaktu, masih genin. Dengan pembimbing seorang Hokage. Yukino sudah banyak mendengar kehebatan sannin Konoha. Tiga ninja yang dididik langsung oleh Sandaime Hokage. Sulit membayangkan tim dibawah didikan seorang kage, memiliki anggota lemah dan tidak istimewa.
"Orang yang kamu ceritakan, pasti sangatlah bodoh untuk tidak melihat semua perbedaan itu."
"Ya."
Sambil menusuk-nusuk rebusan sayur di pinggiran piring, Kakashi memandangi sesuatu di belakang Yukino. Perempuan itu menoleh dan melihat lukisan monyet berbulu putih seperti sedang merayakan pesta mengeliingi api unggun.
Jadi Yukino menceritakan alasan dan kenapa dia memilih karir seorang ninja.
"Ibuku tewas dibunuh ninja bayaran yang disewa musuh keluarga kami. Waktu itu ayah menemani Daimyo mengunjungi sebuah desa, sehingga rumah kami hanya ada aku, ibuku dan adikku yang umurnya baru setahun. Semuanya baik-baik saja, sampai penyusup itu masuk. Dengan cepat membunuh pengawal. Ibuku sambil menggendong adikku hendak membawaku masuk ke banker, tapi musuh lebih cepat dan hanya sekali tebas dia menyerang kami. Aku masih umur empat waktu itu… tapi semua begitu jelas. Adikku terkena sabetan pedang dan mungkin mati saat itu juga, ibuku berusaha melindunginya, dia bisa saja melepaskanku hingga aku bisa lari, tapi dia tidak mau dan berkat itu, aku terhindar dari kematian. Ibu dan adikku tersungkur dalam genangan darah.
"Aku berpikir jika semua akan selesai. Pria itu dengan darah ibu dan adikku di wajahnya menatapku dan pedang di tangannya jelas akan membunuhku. Waktu itu aku tidak menangis, tapi aku tahu, aku akan mati dan ketika aku siap, bukan sakit dan kematian. Tapi seorang remaja, mungkin usianya 15, dengan simbol Klan Uchiha di punggungnya berdiri di depanku dan membunuh ninja bayaran itu. aku tidak tahu siapa laki-laki itu, tapi jelas dia penolongku dan aku berhutang nyawa dengannya.
"Aku benci ninja yang telah membunuh ibu dan adikku, merubah ayahku… tapi ketika mengingat penolongku, aku ingin menjadi ninja seperti orang itu," dengan wajah merona, Yukino melanjutkan ceritanya. "Aku tidak ingin anak-anak lain harus kehilangan orang tua gara-gara konflik ninja. Memang menyewa ninja lebih kuat sangat mudah bagi keluarga kami. Tapi menurutku, jika aku mengenal lebih dekat arti ninja itu sebenarnya… mungkin aku bisa memahami ninja itu sendiri."
"Dan alasan kamu ingin bertualang?" tanya Kakashi.
"Ketika aku tahu nasib buruk Uchiha. Kupikir aku tidak akan bisa membalas ucapan terima kasihku pada penolongku, tapi entah kenapa," kata-katanya tenggelam. "Aku merasa pria penolongku itu masih hidup di suatu tempat… mungkin dia selamat dari tragedi Uchiha itu dan sekarang ada di luar sana."
Keluar dari restoran, keduanya berjalan perlahan menyisir jalan di samping sungai dalam suasana malam yang cerah. Karena berjalan bersama-sama, Yukino berandai-andai, jika Kakashi adalah ayahnya dan mungkin seperti inilah punya ayah baik yang mau mendengarkan kata-kata anak perempuannya.
"Tepat dua puluh hari lagi, ulang tahun Naruto… kamu tahu itu?"
"Benarkah?"
"Ya. Aku berencana ingin membuat kejutan… kamu dan Shiba, kita buat anak laki-laki dingin di tim kita terkejut bukan main nantinya," lalu Kakashi tertawa.
Meski sudah hampir setengah tahun, tidak ada perayaan ulang tahun masing-masing anggota tim. Tapi Yukino mulai curiga ketika di beberapa hari tertentu tiba-tiba Kakashi mengajak anggota tim makan enak, dan salah satu harinya jatuh di tanggal kelahiran Yukino. Dia bukan tipe yang membutuhkan pesta perayaan semacam itu, tapi menyenangkan jika berbagi kebahagiaan bersama orang lain. Dia ingat di hari ketika kakashi mengadakan pesta, Shiba terlalu semangat dan besoknya dia memiliki senjata baru. Lalu Naruto… 20 hari… 10 Oktober?
Mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di pusat pertokoan desa. beberapa orang yang tidak Yukino kenal menyapa Kakashi. Disana, mereka memandangi pohon yang ketika musim semi akan melahirkan bunga sakura yang cantik.
"Kamu punya cadangan cakra sedikit, jadi ninjutsu tidak begitu cocok untukmu, meski itu bagus sebagai serangan acak. Dengan kombinasi kamu dengan Naruto, itu bisa jadi teknik yang bagus. Tapi ada waktu dimana Naruto tidak ada dan kamu harus berjuang dengan dirimu sendiri. Sedangkan genjutsu, kamu punya dasar yang kuat disana. Yang paling penting dari genjutsu bukanlah stamina cakra, tapi kontrol cakra," Kakashi melirik ke murid perempuannya yang masih memandang pohon sakura.
"Jadi. Apa yang kamu pertaruhkan untuk tidak menjadi beban rekanmu?
Yukino tidak perlu berpikir dua kali, dia tahu apa yang dibutuhkannya, "Apapun sensei."
Tiga bagian yang sebenarnya satu bab panjang… tapi kupikir membaca sepanjang itu akan sangat melelahkan,
Menyukainya? Tidak? Silahkan tinggalkan ulasan, karena itu sangat berharga bagi penulis!
