Reviewer andalah yang terhebat!

Naruto menemukan ide ini ketika salah satu versi dirinya bertualang di dunia yang dipenuhi bangunan tinggi serta teknologi modern. Konoha disana, bukan rumah-rumah kecil di tengah hutan seperti banyak versi, tapi sebuah bangunan kompleks yang disebut 'Ibukota'. Tidak ada ninja, di dunia itu ninja hanyalah legenda dan cerita. Orang-orang tidak pergi ke misi mengantarkan maut, tapi melakukan sesuatu untuk mencari uang. Itu adalah dunia paling membosankan karena sedikitnya kematian, tapi paling berkesan karena banyak hal baru yang belum pernah Naruto lihat.

Dan salah satu hal baru yang Naruto temukan adalah benda yang disebut CCTV.

Hanya dengan dua alat sederhana dan sistem yang masih rumit di kepalanya, sebuah 'kamera' akan memantau objek yang kamu inginkan dan 'televisi' untuk melihat hasi pantauan kamera itu.

Naruto duduk di kursi dan melihat cermin di depannya. Lebarnya sekitar satu meter dan tidak menampilkan wajah Naruto, seperti fungsi cermin. Tapi gambar dari dataran jauh. Sebuah pemandangan padang rumput yang ditiup angin, menunjukkan itu bukan hanya sebuah gambar diam.

Pemandangan itu begitu indah, seakan sebuah lukisan mahal sedang ada di depannya. Matahari sore yang membuat langit memerah. Tidak ada pohon sejauh Naruto lihat dari cermin. Suasana yang sama saat pertama Naruto datang ke dunia ini dan melihat Uchiha Shisui bunuh diri.

Naruto meraih cermin itu lalu mengusapkan tangan kanannya, gambar dalam cermin kemudian berubah. Benda ini memiliki sistem kerja seperti 'CCTV' dari dunia itu. Berfungsi untuk melihat keadaan di tempat lain. Berkat bantuan Da Vinci—makhluk sesama Limbo, cermin itu tercipta. Setelah terkagum-kagum pada CCTV, Naruto pikir dia baru saja menemukan cara untuk memantau sesuatu demi kepentingannya sendiri. Apakah itu hanya main-main, atau urusan serius. Cermin itu membuatnya bisa melihat sesuatu yang letaknya jauh dari posisinya. Lebih hebat dari Byakugan karena tidak terhalang jarak, selain itu. gambar yang dihasilkan berwarna, sedang Byakugan hanya gambaran hitam putih saja. Namun benda itu hanya mampu melihat objek yang sudah dikenali cakra Naruto, jadi dia tidak akan bisa melihat sesuatu yang belum pernah dia temui. Bahkan ketika berpindah universe, Naruto tetap tidak bisa melihat semua orang meski sekian panjang masa hidupnya, dia sudah bertemu dengan orang-orang yang sama. Seakan tiap universe, meski orangnya sama, ada yang berbeda dari cakranya.

Namun, meski kelihatan tidak praktis, benda itu berguna untuk memantau orang.

"Kelihatannya Jinchūriki Kokuo baik-baik saja. Dia tidak menetap di desanya, memilih membangun kemah kecil di pinggiran hutan."

Panel berganti, dia menemukan Han sedang mengumpulkan kayu bakar. Sikapnya tenang, santai, seakan itulah kehidupannya sehari-hari. Naruto memandangi lama layar itu sebelum menggeser panel dengan sapuan tangan. Kini adalah gambar kemah yang tadi di bangun olehnya. Karena bosan, dia menoleh ke wujud 'bunshin' dirinya yang sekarang dirasuki cakra Isobu.

Itu bukan wujud anak laki-laki berambut pirang sama seperti dirinya. tampaknya cakra bijuu telah membuat sendiri tampilan sesuai keinginannya. Alih-alih seperti bunshin Naruto, Isobu kini berpenampilan seperti remaja delapan belas berambut pasir pucat. Mata hitam dengan pupil merah yang tinggal separuh karena satunya buta akibat luka di masa lalu. Tingginya lebih pendek dan kulitnya seperti manusia yang terlalu lama berendam dalam air. siapapun yang melihat pertama kali, akan melihat wujud Isobu sebagai remaja sakit-sakitan yang tidak mungkin melakukan aktivitas berat, bahkan mungkin untuk pergi keluar rumah lebih dari jarak sepuluh meter.

Tapi oh, siapa yang duga jika remaja berpenampilan lemah ini salah satu makhluk ratusan tahun yang ditakuti dan betapa tidak cocoknya remaja ini bermain-main dengan pedang yang hidup.

Samehada, pedang rampasan dari pertarungan sebelumnya tampak menyukai Isobu. Bahkan benda itu seperti hiu seukuran anjing besar yang menggigit tuanya karena gemas.

Atau tepatnya pedang itu menyedot cakranya pelan-pelan.

Setidaknya, pilihan memberikannya pada Isobu tepat, pikir Naruto.

"Oh, apa kamu sudah menemukan Kokuo?" tanya ekor tiga riang masih dengan Samehada menggigit lengannya.

"Ya. Dan Han sama sekali tidak melakukan apa-apa, sejak lima belas menit lalu."

Belajar dari insiden Kakashi yang suka mengamatinya diam-diam, akhirnya Naruto memasang semacam kekkai yang menghindari orang luar mendeteksi cakra dari dalam dengan mudah. Naruto juga menambah beberapa formula agar orang luar hanya bisa mendeteksi cakra miliknya, dengan begitu dia bisa mengijinkan para bijuu keluar dari mindscape menggunakan perantara bunshin atau wujud lain sesuka mereka. Isobu menyukai ide itu, Kurama tidak.

"Sejak dulu Koukuo selalu yang paling tenang," ujar Isobu. "Harusnya kamu mengambilnya waktu itu."

"Itu bukan ide bagus. Kalau terjadi sesuatu dengan shinobi Iwa, bisa-bisa perang baru akan muncul. Meski bukan masalah bagiku, untuk saat ini aku tidak ingin terlalu mengambil tindakan yang menarik banyak perhatian. Apalagi kita sudah lebih dini berkonfrontasi dengan Akatsuki lebih cepat."

Isobu memasang wajah bingung, tapi bocah sepuluh tahun tidak menjelaskan lebih detil.

Naruto akhirnya serius untuk ikut campur dalam dunia ini.

Ketika dia memutuskan menyelamatkan Isobu, itu adalah kejadian yang sama seperti yang terjadi ketika Naruto asli memohon di ujung penderitaannya. Entah karena bijuu pada prinsipnya sudah menjadi satu dengannya di kehidupan lalu, ketika Isobu dihadapkan pasukan pengejar Kiri dan nyaris ditangkap, jeritan bijuu itu sampai ke Naruto dan tanpa menunggu waktu para serangga itu mati mengenaskan tanpa ampun dari amukan makhluk setingkat dewa.

Lalu ada masalah lain soal Akatsuki lebih cepat mengejar Bijuu (meski dia tidak tahu apakah itu wajar).

Apakah karena bijuu sudah bagian dirinya dan sifat Limbo miliknya muncul, dia tidak suka asetnya diganggu. Tapi yang jelas jika para Bijuu tidak dimiliki Akatsuki, hampir total kejadian di masa depan akan berubah.

Naruto menyalurkan cakranya ke cermin. Begitu dia memastikan Han baik-baik saja dia beralih ke tempat lain. Tampaknya, dalam dunia ini dia bisa mengakses cakra bijuu lain selama tidak dalam kurungan Jinchūriki. Meski tidak bisa dipakai, berkat itu dia bisa mengawasi Jinchūriki lain dengan cermin di depannya.

Gaara masih seusianya dan tampaknya dia sudah menjalani fase-fase tidak stabil akibat bisikan bodoh Shukaku. Anak itu diam saja di pinggiran, mengawasi orang-orang dengan maksud membunuh.

"Anak malang, kenapa Shukaku tega melakukan itu?"

"Tanuki itu memang sesuatu bukan?"

Tapi Isobu merasa kasihan pada Jinchūriki kecil. Lalu pemandangan beralih ke Nibi, Nii Yugito sudah menjadi Jinchūriki, tapi sekarang masih berusia belasan dan belum dewasa ketika dibantai sepihak oleh Kakuzu dan Hidan. Saat ini dia berlatih dengan seorang pria yang Naruto anggap gurunya. Yonbi dan Rokubi dalam keadaan baik, mereka dalam pelarian masing-masing menghindari kejaran.

Ketika gambar akhirnya beralih ke Nanabi. Pandangan Naruto mengernyit.

Banyak ninja berpakaian siap tempur melempar shuriken, kunai dan beberapa mengayunkan pedangnya ke arah penduduk yang jelas merupakan warga sipil. Itu adalah sebuah pembantaian. Seorang penduduk desa jatuh setelah ayunan pedang salah satu ninja. Sebagian tidak bisa melawan sehingga mereka hanya bisa berlarian, tapi sia-sia ketika ninja musuh dengan mudah mampu mengejar dan membunuh mereka dengan mudah.

"Wow… lihatlah manusia bodoh itu, mereka dengan begitu mudah saling bunuh. Jiji pasti menangis melihat semua ini."

Naruto mengejek, manusia tidak pernah berdamai. Bahkan dia sampai sekarang tidak mengerti dengan jalan pikiran versi dirinya yang naif soal saling memaafkan dan saling memahami.

Naruto menebak Amegakure mungkin masih dibawah kendali Hanzo. Jika ini perburuan bijuu, Pain sendiri yang akan membantai desa Taki. Setidaknya itulah yang Naruto pikirkan. Memang ada kemungkinan garis waktu dunia ini kacau, dan Pain versi dunia ini melakukan cara yang berbeda. Andai pun Nanabi berhasil dicuri, Ame atau Akatsuki ada proses ekstrak yang memakan waktu dan Naruto akan memakai cela itu untuk mencuri Nanabi.

Gadis Fuu mungkin tewas. Tapi itu bukan urusannya. Dia hanya ingin menyelamatkan anak-anaknya, bukan inang manusianya.

Naruto masih terus memandangi pembantaian. Pertunjukan soal hukum rimba, dimana yang kuat makan yang lemah. Apakah Taki tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Konoha? Itu bisa membuat alasan Ame berani menyerang Taki, tapi kenapa? Jika ini ulah Pain alasannya jelas. Tapi Hanzo? Seingat Naruto karakter pria satu itu tidak memperdulikan kekuatan semacam itu. dia meski kejam, adalah laki-laki terhormat yang mengandalkan kekuatan sendiri. Jadi jika ini Hanzo, apa yang sebenarnya terjadi?

Ada beberapa kemungkinan. Hanzo bisa saja mungkin dalam posisi rentan akibat ulah Pain dan terlalu lemah untuk terus percaya pada tekadnya. Seorang yang di ujung tanduk biasanya tidak lagi bisa berpikir rasional. Apalagi bagi seseorang yang memiliki harga diri tinggi, kalah bukan jawabannya.

Jika Ame mendapatkan bijuu, bukannya itu mempermudah Akatsuki untuk memiliki Chomei?

Naruto melambaikan tangannya lagi, menunjukan bagian lain dari desa itu.

Ada dua orang ninja Ame yang mencoba menghabisi penduduk desa yang sedang berusaha melawannya. Si pria desa, mendorong ninja itu dengan lengannya lalu menguncinya sehingga dia sendiri tidak bisa bergerak, tapi kecerobohan itu pada akhirnya hanya membuat dia mati ketika rekannya maju dan menusuknya dengan padang. Di depan mata Naruto, orang tersebut ditusuk dengan pedang sampai menembus tubuhnya keluar dari sisi lain. Itu luka fatal dan, cukup sekali, manusia pasti mati, tapi ninja Ame tampaknya menikmati aksi pembunuhannya dan berkali-kali menikam pria desa itu meski jelas sudah mati.

Pada akhirnya tubuh pria itu jatuh dengan kepala nyaris putus dengan penuh luka tusuk, sampai usus terburai keluar dan darah menggenang seperti kolam.

Lalu seakan wanita yang mencoba dilindungi pria itu tahu sedang dilihat Naruto. Dia berbalik berteriak dalam bisu sebelum darah keluar dari mulutnya. Cermin itu tidak bisa dideteksi oleh lawan, hanya sisa cakra Chomei yang ada disana. Ini pasti kebetulan. Tapi kata-kata terakhir perempuan itu….

'Lari Fuu!'

Jinchūriki Nanabi dalam masalah.

"Kenapa manusia-manusia ini selalu bertempur… Apa yang harus kita lakukan?" tanya Isobu menatap Naruto.

Bahkan jika Fuu mati itu adalah skenario paling mudah. Tapi tatapan Isobu mengingatkan pada Naruto kecil. Sebuah tatapan belas kasih yang aneh. Naruto menghela nafas dengan lembut, lalu tersenyum. Dia mungkin sudah sedikit kembali merasakan emosi lamanya.

"Kita cari Fuu. Kurasa menyelamatkan Chomei saat ini bukan masalah. Lagipula aku ingin sekali bertarung dengan kekuatan maksimal. Bagaiman menurutmu Isobu? Ingin mengamuk sesekali?"

"Ya!"

Naruto menunggu respon Kurama, tapi rubah itu diam seribu bahasa. Naruto mencari penduduk desa yang masih hidup dan menemukan seorang gadis sedikit tua darinya yang melayangkan pukulannya ke arah ninja. Gadis berambut hijau mudah itu kabur setelah menjatuhkan musuh dan mengambil kunainya. Setidaknya Nanabi masih selamat.

Naruto mengambil gulungan dari sakunya. Dan membuka segel dengan darah. bayangan keluar seperti makhluk hidup lalu melahap Naruto kecil bagai hewan buas. Lalu dari amukan bayangan hitam, alih-alih anak berumur hampir sepuluh kini berdiri Remaja di akhir usia delapan belas dengan tubuh tegap berbalut mantel biru gelap dengan hiasan bulu serigala di karahnya. Itu masih Naruto, tapi inilah bentuk sejati dari wujud Limbo yang ditekannya agar menyesuaikan dengan kondisi dunia ini. Sebuah topeng putih kitsune menyembunyikan identitas aslinya (tampilannya sama dengan Menma dalam Road to Ninja)

"Wow itu tampilan yang keren,"

"Isobu pakai ini," Naruto mengeluarkan topeng yang sama dari udara kosong dan memberikannya pada ekor tiga. "Benda ini akan membuat orang sulit mendeteksi cakra pemakainya. Kamu juga tidak diperbolehkan membawa Samehada. Jika ini ulah Akatsuki, musuh akan berpikir kita punya hubungan dengan Konoha."

"Dimengerti."

Baiklah… ayo kita berdansa

AoN

Segala bentuk ninjutsu ruang dan waktu selalu menghasilkan seni ninja yang paling indah. Tidak hanya memberi kekuatan dan kemudahan pengguna, hampir banyak pengguna ninjutsu ruang dan waktu adalah orang-orang yang ditakuti dan membuat nama mereka terkenal dalam buku sejarah. Minato adalah sedikit dari orang-orang beruntung ini.

Naruto sendiri memiliki teknik ruang dan waktunya sendiri. Bentuknya hampir sama persis dengan teknik yang dipakai Sasuke dewasa dengan Rinnegan. Perbedaannya Naruto disini bisa memakai teknik ini untuk pergi ke dimensi lain, sejauh apapun jarak ruang dan waktunya. Tentu konsumsi cakranya adalah bayaran paling utama. Tapi jika untuk berpindah dari Konoha ke Taki, Naruto tidak merasakan sama sekali cakranya terkuras. Bahkan hampir mendekati zero.

Gadis yang ketakutan yang bernama Fuu dan memiliki Chomei di dalam perutnya.

Lalu Naruto menatap dingin pada ninja Ame yang berdiri di belakang Fuu. Mungkin ninja itu kaget oleh kemunculan tiba-tiba Naruto, dia menatap Naruto dan lupa mengayunkan pedang yang dipegangnya. Sejak menjadi makhluk Limbo, emosi seperti keraguan menghilangkan nyawa atau lainnya ditekan. Memang masih ada jejak sisa-sisa, tapi begitu kecil dan nyaris tidak ada.

Manusia cepat berkembang, maka nyawa juga akan cepat lahir meski dibunuh berapa kali.

Naruto ingat beberapa kata bijak orang itu.

Bibir di balik topeng kitsune membentuk senyum tipis.

Lalu berkat Limbo pula, dia tidak perlu membuang-buang waktu. Sama seperti cup ramen disiram air panas.

Satu jutsu yang memberikan kematian tanpa rasa sakit.

Jutsu ini mampu membuat Naruto mampu membunuh musuh tanpa perlu adanya kontak fisik, setidaknya jika itu dilihat mata normal. Namun dengan Rinnegan, bayangan semu itulah yang bekerja. Tapi meski mampu terdeteksi Rinnegan, bayangan Naruto bergerak lebih cepat berkat percampuran teknik Hiraishin yang lebih disempurnakan sehingga musuh dengan Rinnegan masih kesulitan untuk menghindari.

Naruto menatap bisu ke arah ninja Ame yang terjatuh. Membunuh dengan mudah tanpa memikirkan sesuatu. Ini menyenangkan. Sudah lama bukan?

Jadi ketika bayangan itu menyerang jantung dengan kecepatan super, di dunia nyata Naruto hanya bersandiwara membentuk kepalan tangan, seolah meremas jantung. Padahal bayangannya yang bekerja.

Di waktu yang sama gadis Jinchūriki pingsan. Mungkin kelelahan, pikir Naruto. Tapi lebih baik dia tidak melihat apa yang terjadi selanjutnya. Lalu Naruto menghadapi musuh Ame yang lain.

"Jadi… kamu lebih mengejar wanita ketimbang aku? Sungguh harga dirimu sudah hilang."

Si ninja Ame melihat Naruto dan mundur karena ketakutan.

"Isobu? Mau tunjukan sedikit kekuatanmu. Cukup yang bisa membunuh orang ini."

"Oke," Isobu tertawa keji.

Lalu ketika ninja Ame itu lari, sesuatu yang mengerikan terjadi. Tubuhnya meledak dan darah keluar kemana-mana. Naruto kagum, inilah kenapa dia menyukai anaknya yang satu ini. Dia memang tidak sekuat enam ekor lebih tinggi, bahkan soal stamina masih lebih baik Matatabi. Tapi dalam teknik paling brutal, Isobu paling jago.

Naruto menamainya Boomer, sebuah jutsu yang menciptakan ledakan darah diakibatkan darah memompa begitu cepat sehingga tubuh tidak bisa menahan dan akhirnya pecah menjadi serpihan kecil.

"Ups… Apa aku berlebihan Na-Menma-kun?"

"Tidak… itu jutsu yang indah," puji Naruto dengan tulus.

Ekor tiga berseri-seri lalu melirik ke arah gadis yang terjatuh pingsan.

"Apa yang kita lakukan dengannya?"

"Kupikir untuk saat ini, kita biarkan saja Chomei tetap disini. Sebagai jaga-jaga aku pasang teknik seperti yang aku lakukan pada Han."

"Kamu yakin?"

"Ya. Lagipula suatu saat nanti Chomei tetap akan kembali pada kita."

"Lalu apa yang harus kita lakukan pada orang-orang ini. Gadis itu masih dalam bahaya."

"Kalau begitu kita tinggal bunuh semua ninja Ame ini. Isobu? Mau kamu lakukan itu untukku?"

"Dengan senang hati Naruto-kun!"

"Isobu?"

"Ups… maksudku Menma-kun."


Silahkan kunjungi profilku dan baca Another Story, spin off yang masih berhubungan dengan Another Naruto.

beberapa adalah kunci garis besar cerita ini.

suka? tidak suka? berikan ulasan kalian