Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M for abuse content
Genre : Hurt Comfort, Family, Tragedy, Angst, Romance
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)
Note : Dilarang copy paste baik sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!
Selamat membaca!
Secret
Chapter 20. Cemburu
By : Fuyutsuki Hikari
"Cara kita memandang hidup adalah pilihan masing-masing."
― Devania Annesya, .
.
.
.
Kurama kembali ke rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Niatnya hanya ingin membantu Naruto untuk menemukan kakak laki-lakinya, tapi kenapa malah Kurama merasa emosinya ikut bermain terlalu jauh?
Melonggarkan dasi yang dikenakan, Kurama duduk di atas kursi kerjanya. Masih ada dua operasi yang harus ditanganinya sore ini, tapi pikirannya malah terfokus untuk hal lain. Membuka tutup gelas, ia meneguk air putih di dalamnya dalam satu tegukan besar.
Kenapa Naruto menatapnya seperti tadi? Pertanyaan itu terus berputar di dalam kepala Kurama. Ada rasa sesak menyelinap ke dalam dada saat teringat air mata wanita itu jatuh sebagai menutup percakapa/n mereka tadi.
Kurama meletakkan gelas lalu mengembuskan napas keras sebelum menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Sebelumnya mereka tidak mungkin saling mengenal, kan? Atau dirinya kakak laki-laki yang dimaksud oleh Naruto?
Tapi jika benar, kenapa sikap Naruto saat pertama kali bertemu pun terkesan biasa. Sungguh Kurama tidak habis mengerti.
Ia memang pernah tinggal di Tokyo sebelumnya, tapi setelah itu Kurama tinggal bersama neneknya di London. Neneknya mengatakan dengan jelas asal usul Kurama, serta pengetahuan penting sebelum Kurama hilang ingatan karena kecelakaan. Jadi tidak mungkin ia dan Naruto saling mengenal sebelumnya.
Kurama menyipitkan mata. Kedua tangannya kini saling bertaut di atas meja kerja.
Lalu kenapa tatapan Naruto tadi terasa sangat aneh? Pikiran Kurama lagi-lagi dipenuhi oleh berbagai macam kemungkinan. Bagaimana jika selama ini neneknya berbohong?
Cara cepat untuk mengetahui hubungan mereka sepertinya hanya dengan cara itu. Kurama menyipitkan kedua mata, tapi bagaimana cara mendapatkan benda yang dibutuhkannya itu?
.
.
.
Ada yang berbeda dengan Sasuke hari ini. Naruto bisa segera tahu hanya dengan melihat gestur tubuh pria itu. Sasuke duduk di belakang meja santai, netranya menatap layar televisi yang tengah menayangkan salah satu anime paling popular di Jepang saat ini.
Naruto meletakkan semangkuk besar popcorn di atas meja, lalu meletakkan beberapa bir setelahnya. Ia duduk bersila di samping Sasuke yang masih memusatkan pandangan ke layar televisi di depannya.
"Apa terjadi sesuatu di kantor?" Naruto memaki di dalam hati. Ini hari libur untuk Sasuke. Pertanyaannya pasti terdengar sangat basi.
Sasuke hanya menggelengkan kepala. Tangannya meraup beberapa popcorn lalu memasukkannya ke dalam mulut. Pria itu masih tidak mau menatap Naruto yang kini memandangnya dengan satu alis diangkat naik.
"Apa kau marah kepadaku?"
Lagi-lagi Sasuke menggelengkan kepala. Ah, sepertinya Sasuke memang sedang kesal kepada Naruto, tapi untuk alasan apa?
Naruto terdiam, berusaha mengingat-ngingat apa kesalahannya kali ini? Namun, nihil. Mereka baik-baik saja pagi tadi. Dan masih baik-baik saja saat Sasuke datang ke café sore ini, tapi semua berubah setelah kekasihnya itu bicara dengan Samui.
"Samui bicara apa?" Pertanyaan Naruto membuat Sasuke cemberut dengan ekspresi lucu. Kekasihnya itu sukses membuat Naruto gemas setengah mati. "Apa yang dikatakannya hingga kau merajuk seperti ini?"
Alih-alih menjawab, Sasuke memilih membuka tutup botol bir lalu meneguknya dalam satu tegukan besar. Pria itu menopang wajah dengan tangan kirinya, sementara tangan yang lain membawa botol ke bibirnya.
"Sasuke?" Naruto memanggil dengan nada tertahan. "Bicara atau aku akan menendangmu dari sini!" ancamnya berhasil menarik perhatian Sasuke.
"Pria berambut merah itu, apa yang dilakukannya kepadamu?" Sasuke bertanya dalam satu tarikan napas. Mata tajam pria itu mengamati perubahan ekspresi Naruto yang segera berganti dengan cepat.
Sasuke menjeda, meletakkan botol birnya di atas meja lalu bergerak untuk duduk menghadap kekasihnya. Ada keheningan yang tercipta untuk beberapa saat hingga akhirnya embusan napas Naruto menginterupsi keheningan itu.
"Apa yang Samui katakan kepadamu?" Naruto balik bertanya dengan senyum manis. Wanita itu memutuskan untuk berbohong kali ini.
Takut, Naruto takut jika Sasuke mencari tahu dan kebenaran mengenai hubungannya dengan Kurama akan terbongkar.
Naruto cukup bodoh karena membahas Kyuubi dengan Kurama siang tadi. Beruntung akal sehat Naruto kembali hingga pada akhirnya ia bisa meyakinkan Kurama untuk mengabaikan permintaannya mencari kakak kandungnya.
Sungguh tidak lucu jika pada akhirnya Kurama mendapati jika kakak yang dicari oleh Naruto tidak lain adalah dirinya. Naruto belum siap menghadapi reaksi Kurama jika tahu tentang hubungan mereka yang sebenarnya.
"Apanya yang lucu?" Sasuke melepaskan genggaman tangan Naruto lalu kembali memusatkan pandangan ke layar televisi. "Samui mengatakan jika pria berambut merah itu membuatmu menangis," lanjutnya. Sasuke bahkan tidak repot untuk menyembunyikan kemarahannya dalam nada bicaranya tadi.
Naruto menghela napas panjang. Ia meletakkan kepala di pundak kekasihnya, sementara tangan kiri wanita itu dilingkarkan ke pinggang Sasuke.
"Pria itu memiliki nama," ucapnya, tenang. "Namanya Kurama dan benar dia membuatku menangis."
Naruto menarik kepalanya lalu memukul pelan lengan Sasuke saat pria itu menoleh dan berdesis. "Aku menangis karena dia menceritakan kisah salah satu pasiennya kepadaku. Apa aku tidak boleh tersentuh dan menangis?" Kebohongan itu meluncur dengan mulus dari mulut Naruto.
Dengan sangat mahir wanita itu memasang ekspresi terganggu. Naruto berpura-pura marah saat netranya bertemu dengan Sasuke. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, sementara kedua matanya disipitkan sempurna.
Sasuke menyisir rambut dengan jemari tangannya. Alasan Naruto entah kenapa tidak membuatnya merasa lebih baik. Namun, ia juga percaya jika kekasihnya tidak mungkin berbohong.
"Kenapa tiba-tiba dia menceritakan masalah pasiennya denganmu?" tanya Sasuke. "Bukankah itu melanggar kode etik?"
Naruto mengangkat kedua tangannya ke udara. "Kami hanya mengobrol ringan, dan tiba-tiba perbincangan mengenai pasien itu terjadi."
Satu kebohongan setelah kebohongan lainnya. Naruto ingin menangis saat ini. Kebohongan yang dikatakannya kepada Sasuke membuat dada wanita itu terasa sesak luar biasa.
"Aku tidak suka melihatmu menangis?" Sasuke merengkuh Naruto ke dalam pelukannya. Tangan besar pria itu mengusap lembut punggung kekasihnya berulang kali.
"Tidak ada yang boleh menyakitimu," sambungnya dengan nada lembut. Sasuke mengecup bahu kekasihnya lama lalu kembali bicara, "Jika tadi kau tidak menarikku untuk naik, aku pasti sudah pergi untuk menemui pria itu. Aku benar-benar marah hingga rasanya otakku tidak bisa berpikir."
"Maaf sudah membuatmu cemas!" kata Naruto. Ia mengetatkan pelukannya pada Sasuke. Tanpa disadari air mata wanita itu jatuh. "Maaf!" ucapnya mulai terisak.
Sasuke menjadi panik saat mendengar isakan kecil dari mulut Naruto. Kemejanya terasa basah karena air mata wanitanya. "Kenapa menangis?"
Dengan gerakan lembut Sasuke melepaskan pelukannya. Kedua tangan pria itu menangkup wajah Naruto. "Kenapa menangis?" ulangnya. Ibu jarinya mulai menghapus jejak air mata di kedua pipi Naruto.
Keheningan kembali menyapa.
Naruto terisak hebat. Kebohongan yang dia katakan tadi ternyata mempengaruhinya dengan hebat. Kesedihan tidak bisa ditahannya. Naruto hanya bisa menumpahkan kesedihan itu ke dalam dekapan Sasuke.
"Sasuke?" panggilnya, parau.
"Hm..." Sasuke menjawab. Tangannya masih membelai pelan punggung wanitanya.
"Apa suatu hari nanti kau akan berhenti mencintaiku?"
"Pertanyaan macam apa itu?" Sasuke balik bertanya. Tidak bisa dipungkiri jika dia merasa Naruto bersikap sangat aneh malam ini. Sasuke merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Naruto.
Naruto menarik napas dalam. Kedua tangannya yang gemetar semakin ketat memeluk Sasuke. "Jika suatu hari nanti perasaanmu kepadaku hilang, bisakah kau bicara terlebih dahulu kepadaku?"
Hening.
"Setidaknya beri aku waktu untuk menyiapkan diri," sambung Naruto saat tidak mendapat jawaban dari Sasuke. "Tolong jangan pergi begitu saja!" pinta Naruto, serak. "Jika saat itu datang, tolong bermurah hati, beri aku waktu untuk membiasakan diri tanpamu."
Sasuke tersenyum lembut. Pertanyaan Naruto terlalu tiba-tiba hingga nyaris membuatnya tidak bisa berkata-kata. Namun, satu hal yang pasti, dia tidak ingin kebersamaan ini berakhir.
"Aku tahu jika hubungan kita sangat rapuh." Sasuke bicara dengan nada tertahan. Emosi yang berkecamuk di dalam dada ditekannya kuat. Bayangan kedua orang tuanya melintas di dalam benak Sasuke.
"Aku tahu jika mungkin ke depannya kita tidak akan bisa bersama—"
Sasuke menjeda saat merasakan pelukan Naruto mengetat. "Aku tahu jika aku tidak bisa menjanjikan apa pun kepadamu." Suara Sasuke bergetar saat mengatakannya.
Pria itu tahu ke depannya dia akan dihadapkan pada dua pilihan sulit. Namun, keegoisannya membuat Sasuke tidak mau melepas Naruto saat ini. Bodoh memang, karena keduanya akan terluka.
"Namun, aku bisa memastikan kepadamu jika perasaanku terhadapmu tidak akan berubah," tegasnya. "Sampai kapanpun kau akan menjadi pusat semestaku. Dan suatu hari nanti jika aku tidak bisa berada di sisimu untuk menjaga dan menyayangimu, kau harus mengingat satu hal—perasaanku tetap sama. Tidak akan berubah."
"Sasuke?"
"Jika suatu hari nanti aku tidak bersamamu, cobalah untuk membuka hatimu lagi. Temukan pria lain yang bisa melindungimu. Temukan pria yang bisa membuatmu bahagia dan menghapus kesedihan dari kedua matamu."
Sasuke menjeda. Napasnya tertahan. Entah apa yang merasukinya saat ini? Karena kalimat itu terus meluncur dari mulutnya tanpa terkendali.
"Jika suatu hari nanti aku pergi, doaku akan selalu menyertaimu. Aku akan menjaga hatiku untukmu walau kau telah menemukan pusat semestamu yang lain."
Sasuke tersenyum lembut saat kedua tangannya menangkup wajah Naruto yang berantakan karena air mata. "Maaf karena selama ini aku hanya bisa membuatmu menangis!" ucapnya, parau. "Maaf karena aku belum bisa memberimu kasih sayang yang pantas kau dapatkan," sambungnya.
Naruto terdiam. Air mata jatuh tidak terhentikan.
"Aku mencintaimu Namikaze Naruto, sekarang, nanti selamanya. Dan sampai kapan pun kau akan tetap menjadi pusat semestaku."
.
.
.
TBC
#WeDoCareAboutSFN
