Hallo2 …. Yang mau ngoleksi versi cetak fanbook Secrets, bisa cari di tokopedia atau Shopee ya, dengan key : fanbook Secrets, atau cari Toko : FuyutsukiHikari. Terima kasih ^^

.

.

.

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M for abuse content

Genre : Hurt Comfort, Family, Tragedy, Angst, Romance

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)

Note : Dilarang copy paste baik sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

Selamat membaca!

Secret

Chapter 21. Bersandar

By : Fuyutsuki Hikari

"Kadang ada fase hidup di mana kita tidak bisa mendapatkan kebahagiaan. Pilihan yang tersisa hanyalah rasa sakit. Maka manusia belajar memilih mana yang tidak lebih sakit daripada lainnya." Devania Annesya

.

.

.

Langkah kaki itu terhenti tepat di anak tangga teratas. Wajah wanita terlihat meragu saat kedua obsidiannya menatap keramaian di kejauhan.

Alunan musik tradisional Jepang terdengar, mengalun, mengiringi tiap langkah kedua mempelai menuju altar.

Sejenak suasana berubah hening. Taman berlatar belakang hutan itu menjadi khidmat untuk beberapa waktu saat pendeta membuka suara. Namun, Naruto masih berdiri di tempatnya.

Kaki indah berbalut sepatu berhak sedang itu enggan untuk digerakkan seolah terpaku di tempatnya. Untuk kesekian kali Naruto meraup udara dengan rakus. Paru-parunya terasa kosong.

Sepertinya dia memang sudah gila. Naruto gila karena berani datang ke tempat ini. Bagaimana jika kehadirannya membuat suasana menjadi kacau?

Menatap sendu langit biru yang menaungi, Naruto akhirnya memilih beranjak pergi setelah sebelumnya meninggalkan sebuah kado tanpa nama di meja penerima tamu.

Ramput pirang wanita itu terayun setiap kali Naruto melangkah. Suara sepatunya teredam oleh rumput yang diinjak. Ah, setidaknya ia melihat kebahagiaan itu di wajah Neji. Walau hanya dari jarak jauh, Naruto bisa merasakan jika kakak sepupunya itu bahagia dengan pernikahannya.

Naruto baru saja akan berbelok menuju gedung utama untuk keluar dari komplek villa saat sebuah suara memanggilnya dari kejauhan. Dengan sikap tenang menakjubkan Naruto membalikkan badan. Tangan lentiknya dengan gerakan anggun membuka kacamata hitam yang masih bertengger di atas hidung mancung.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Pertanyaan itu terdengar sangat menusuk hingga Naruto nyaris memutar kedua bola matanya karena jengah. Wanita muda di hadapannya melipat kadua tangan di depan dada, memasang ekspresi tidak ramah kepada sang lawan bicara.

"Bagaimana kabarmu, Hinata?" Naruto balik bertanya dengan suara ramah. Pengendalian dirinya sangat baik, hingga Hinata berhasil dibuat kesal.

Hinata mengayunkan satu tangan di depan wajah. "Berhenti berbasa-basi!" Ia masih bicara dengan nada tidak ramah. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya. "Kau lupa jika kehadiranmu tidak diterima oleh keluargaku?"

Naruto mengendikkan bahu. Egonya terpancing hingga dengan sinis dia menjawab, "Jika bukan karena undangan Neji, aku tidak akan datang ke tempat ini."

"Neji hanya berbasa-basi, kenapa kau menganggapnya dengan serius?" balas Hinata.

Dua pasang obsidian itu saling menatap dengan ekspresi berbeda. Hinata jelas memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap keberadaan Naruto disekitarnya, sementara Naruto memperlihatkan ekspresi dingin membekukan.

Naruto berjalan mendekat. Wanita itu menaikkan dagunya tinggi lalu mencondongkan tubuh dan berbisik di telinga Hinata, "Kau tahu, sikapmu ini membuatku muak. Seharusnya kau bersikap baik kepadaku karena bagaimana pun hutangmu kepadaku terlalu besar untuk ditukar dengan uang sebanyak apa pun, Hyuuga Hinata."

Senyum Naruto terkembang saat ia kembali menegakkan tubuh. Jemari wanita itu terulur, merapikan sejumput rambut Hinata yang terlepas dari sanggulnya.

"Jaga bicaramu!"

Naruto memiringkan kepala ke satu sisi. Senyum tidak meninggalkan wajah cantiknya yang ber-makeup siang ini. "Bukankah aku yang harus mengatakan hal itu?" Ia balik bertanya dengan ekspresi polos.

Dalam sekejap ekspresi Naruto kembali berubah dingin. Bahkan nada bicara wanita itu pun sedingin lautan beku. "Anggap saja pertemuan kita siang ini sebagai sebuah kesialan, untukku juga untukmu."

"Keberadaanmu sebuah kesialan untukku!" Hinata mengegrtakkan gigi. Kedua mata cantik wanita itu mengisyaratkan kebencian murni yang membara sementara di dalam hati Naruto bertanya—kemana sosok polos Hinata yang dikenalnya pergi?

Melempar tatapan kea rah lain, Naruto mengembuskan napas yang sedari tadi ditahannya. "Sebaiknya kau segera kembali ke tempat upacara," pintanya bernada lebih lembut. "Mereka pasti mencarimu."

Naruto baru saja akan berbalik pergi saat teringat satu hal penting yang hampir saja lupa ia katakan, "Ada noda darah di rokmu," ucapnya lalu berbisik, "Hinata, kau tidak membunuh lagi kan?"

Dan pertanyaan itu pun menguap pergi bersama embusan angin. Naruto hanya bermain-main saat mengatakannya tanpa menyadari perubahan wajah lawan bicaranya yang memucat seputih kapas di belakang punggungnya.

.

.

.

Suasana hati Naruto masih belum membaik saat kembali ke café, siang ini. Mengabaikan siulan kagum Konohamaru, Naruto menarik sebuah kursi kosong membawanya ke belakang meja kasir dan duduk dengan wajah ditekuk.

"Apa pestanya membosankan?" Samui bertanya setelah selesai melayani dua orang pelanggan yang membayar pesanan mereka.

Naruto tidak langsung menjawab. Konohamaru yang mengetahui suasana hati bosnya yang kelabu segera pergi ke dapur dan kembali dengan membawa segelas besar es krim vanilla dan cokelat bersamanya.

"Untuk mendinginkan kepala," ucapnya diakhiri senyuman lebar yang khas. Konohamaru mengacungkan jempol tinggi saat Naruto memberinya ciuman jauh sebagai ucapan terima kasih.

Hening tercipta.

Naruto menyuapkan satu sendok besar es krim ke dalam mulutnya dan berkata, "Andai aku bisa memberitahumu apa yang terjadi," ucapnya. Pikiran Naruto melayang, mengingat pertengkaran kecilnya dengan Hinata tadi.

Ck, dari semua orang di dunia ini, kenapa dia harus bertemu dengan Hinata? Menyebalkan, pikir Naruto.

"Tidak perlu bercerita jika tidak bisa." Samui tersenyum penuh pengertian saat pandangan mereka bertemu. "Bos, tidak semua hal perlu dibicarakan," tambahnya. "Tidak apa menyimpannya sendiri jika menurutmu itu baik."

Naruto mengerubutkan bibir. Hatinya tersentuh. Dengan tergesa ia berdiri, dan merengkuh Samui ke dalam pelukannya. "Terima kasih!" ucapnya.

"Untuk apa?"

"Kau membuatku merasa lebih baik," jawab Naruto. "Walau aku masih memerlukan energi tambahan untuk menyembuhkan suasana hatiku seutuhnya."

"Energi dari sang terkasih?" goda Samui yang dijawab anggukan malu-malu bosnya. Keduanya pun tertawa, hangat mendera Naruto. Wanita itu beruntung karena takdir membawanya untuk mengenal orang-orang baik.

.

.

.

Naruto baru saja keluar dari kamar mandi saat pintu kamarnya dibuka dari luar. Senyumnya mengembang, menatap pria yang dicintainya datang membawa dua kantung belanjaan bersamanya.

Menggantungkan handuk setengah basah di pundak, Naruto bergegas menghambur ke arah Sasuke untuk membantu kekasihnya.

"Kenapa belanja sebanyak ini?" Naruto duduk bersila di depan meja santai, sementara tangannya sibuk membongkar kantung belanjaan Sasuke.

"Kekasihku terlihat sangat kurus," ujar Sasuke. Ia duduk di samping Naruto lalu membuka satu plastik makanan ringan. "Kenapa aku merasa kau tertekan setelah resmi menjadi kekasihku? Kau terlihat semakin kurus setelah bersamaku."

Naruto memutar kedua bola matanya jengah. Kurus? Yang benar saja. Dalam waktu satu bulan sejak mereka bersama, berat badan Naruto sudah naik empat kilogram.

"Kau mau aku terlihat seperti bola bulu?" Naruto berdecak, walau dirinya tidak menolak saat Sasuke menyodorkan makanan ringan yang sudah dibukanya tadi. "Jika terus seperti ini, berat badanku akan naik gila-gilaan," keluhnya.

Sasuke tidak langsung menjawab. Sebaliknya pria itu malah memeluk Naruto dan meletakkan kepala di bahu kekasihnya.

"Bagaimana harimu?"

"Buruk," jawab Sasuke. "Karena itu aku perlu mengisi kembali energiku malam ini."

Naruto terkekeh. Sepertinya dia harus mulai membiasakan diri dengan sikap manja kekasihnya. "Kau boleh memelukku sepanjang malam," ucapnya disambut senyum puas kekasihnya.

"Bagaimana dengan harimu?" giliran Sasuke yang bertanya kali ini. Helaan napas berat Naruto menjadi jawaban tersendiri untuknya.

"Hari ini Neji menikah," terang Naruto. Ia bisa merasakan tubuh kekasihnya menegang di sampingnya. "Aku sedih bukan karena dia menikah," jelas Naruto dalam satu tarikan napas. Ia tahu betul arti ekspresi kekasihnya saat ini. Sasuke cemburu.

Pelukan itu terurai. Sasuke menegakkan tubuh. Netranya menatap lurus layar televisi yang tengah menampilkan sebuah drama popular dari Negara tetangga.

"Neji, dia pria yang berdansa denganmu di café beberapa waktu lalu, kan?"

"Hampir dua bulan yang lalu," sahut Naruto. Hei, kenapa ingatan Sasuke begitu tajam?

"Dia menyukaimu."

"Dia sudah menikah."

"Tapi dia pernah memiliki perasaan untukmu," kata Sasuke tidak mau kalah. "Kenapa aku merasa semua orang ingin merebutmu dariku?"

Naruto berdecak. Tangannya sudah gatal ingin memukul kepala pria di sampingnya. Naruto merasa ada yang salah dengan kepala Sasuke, hingga pria itu bisa cemburu untuk hal tidak penting.

"Aku tidak bisa melarangnya untuk memiliki perasaan terhadapku, tapi satu hal yang pasti, hatiku sudah dipenuhi oleh seorang Uchiha Sasuke. Tidak ada tempat kosong untuk diisi orang lain di sana."

Sasuke terdiam. Untuk beberapa saat mulutnya terasa kelu. Kenapa manis sekali?

Ah, dia pasti sudah gila. Sasuke merasa seperti remaja yang tengah jatuh cinta. Kerabatnya pasti menertawainya jika tahu Sasuke lemah hanya karena penuturan seorang wanita. Namun, ia mengingatkan jika wanita itu bukan wanita biasa. Wanita yang memiliki obdsidian itu adalah rumahnya.

"Aku mencintaimu!"

"Aku tahu," balas Naruto membuat Sasuke cemberut. "Apa?"

"Apa kau tidak bisa membalasnya?"

"Apa kau merengek?"

Sasuke menegembuskan napas berat. "Lupakan saja!" ucapnya kemudian. "Jadi, kenapa harimu buruk jika bukan karena mantan penggemarmu itu menikah?"

Naruto berdecak, tapi memilih untuk tidak mendebat. "Aku tidak memiliki keberanian untuk duduk bersama tamu undangan."

Perubahan nada bicara Naruto tidak luput dari pendengaran tajam Sasuke. "Aku takut hari bahagia Neji menjadi kacau karena kehadiranku, jadi aku memilih berdiri di tempat jauh untuk menyaksikan upacara pernikahan Neji."

"Karena itu kau sedih?"

Naruto mengangguk. Air mata nyaris melaju dari kedua kelopak matanya. "Neji, dia sangat baik kepadaku selama ini. Namun, aku tidak bisa menjadi bagian di hari bahagianya. Aku merasa gagal sebagai seorang adik."

"Bukan salahmu!" hibur Sasuke. "Dan aku yakin Neji tidak akan menyalahkanmu, sebaliknya dia pasti bahagia karena kau sudah meluangkan waktu untuk datang walau tidak menyapanya secara langsung."

Naruto memejamkan mata di dalam dekapan Sasuke. "Sasuke, bagaimana jika aku ingin melarikan diri?" tanyanya tiba-tiba.

"Apa aku boleh ikut bersamamu?"

"Tapi kau memiliki keluarga yang tidak bisa kau tinggalkan," kata Naruto mengingatkan.

"Kalau begitu jangan lari!" balas Sasuke. "Tetap di sini karena kau rumahku."

.

.

.

Hanabi tidak bisa berhenti mengumpat di dalam hati saat melihat perilaku kakak perempuannya saat ini. Malam sudah sangat larut saat mereka meninggalkan venue pesta bersama Hinata yang sudah mabuk berat.

Yang lebih tua terus meracau, mengutuk dan menyalahkan Naruto akan nasib buruk yang menimpanya selama ini. Tubuh Hinata terhuyung, lalu berhenti tepat di depan mobil BMW hitam milik keluarga yang terparkir.

Dengan lancang telunjuk wanita itu diarahkan kepada Hanabi yang berdiri di hadapannya dengan ekspresi kesal.

"Jangan dekat-dekat dengan wanita sial itu!"

Hanabi memalingkan muka, terlihat terganggu oleh bau alkohol yang tercium dari mulut Hinata saat bicara di depan wajahnya. Tanpa banyak bicara Hanabi menarik pegangan pintu mobil, memaksa kakaknya untuk segera masuk.

"Sebenarnya apa yang kauinginkan?" Hanabi tidak bisa menahan amarahnya setelah Hinata membanting pintu mobil dan menolak untuk masuk.

Keheningan meraja untuk beberapa saat. Supir keluarga hanya bisa diam menunggu. Pria paruh baya itu terlihat serba salah, karena untuk pertama kalinya dia melihat kedua saudara kandung Hyuuga itu bertengkar.

Suasana disekitar venue sudah sangat sepi. Membuat Hanabi bersyukur karenanya. Tidak lucu jika tiba-tiba Hinata masuk berita gosip karena perilakunya malam ini. ya, bukannya Hanabi tidak mau memberi kakak perempuannya pelajaran, tapi dia tahu jika kakaknya pasti akan menyalahkan Hanabi untuk itu.

"Kenapa kau selalu membela wanita sialan itu?" teriak Hinata keras. "Aku kakakmu, bukan dia!" tambahnya sembari memukul dadanya sendiri.

Wanita itu mulai menangis histeris lalu duduk di atas aspal sembari menarik rambutnya sendiri. Melihat hal itu Hanabi hanya diam. Yang lebih muda malah menatap kakaknya dengan ekspresi mengejek.

"Wanita jalang itu ingin menghancurkan karirku!" Hinata meraung, tangisannya terdengar menjengkelkan di telinga Hanabi. "Dia akan melakukan apa pun untuk mengganguku!"

"Berhenti bicara omong kosong!" bentak Hanabi kesal. Hinata beruntung karena ayah dan keluarga besar mereka sudah pulang terlebih dahulu hingga tidak melihat perilaku memalukan putri kebanggaan mereka saat ini.

"Masuk! Aku mau pulang!" desis Hanabi. Dia berusaha menarik paksa tangan Hinata, dan terengah karena kakaknya melawan dengan hebat.

Ah, Hanabi hanya ingin segera pulang ke apartemennya. Terjebak bersama Hinata hingga harus mengantarnya pulang ke Kediaman Hyuuga bukan keinginannya. Namun, meninggalkan kakaknya disaat seperti ini juga bukan pilihan tepat.

Gila, rasanya Hanabi bisa gila jika harus bertahan menghadapi sikap dramatis dan drama queen kakak perempuannya.

"Pak, tolong bantu saya!" Hanabi yang kehabisan kesabaran akhirnya meminta bantuan supir keluarganya untuk memaksa Hinata masuk ke dalam mobil.

Perlu usaha keras karena Hinata terus memberontak. Sepatu berhak tingginya melayang entah kemana? Namun, Hanabi tidak peduli karena yang penting saat ini Hinata masuk ke dalam mobil dan mendudukkan pantat sialannya itu di sana.

Namun, sepertinya pemikiran buruk Hanabi terjadi bahkan sebelum rembulan kembali ke peraduannya. Matahari belum terbit saat foto-foto dan video Hinata mabuk tadi malam beredar luas di dunia maya, beserta kepala berita yang menyudutkan tentu saja.

Hanabi menggigit ujung kukunya saat membaca komentar demi komentar yang ditinggalkan di sana. Kolom komentar tidak ada bedanya dengan medan perang. Penggemar Hinata membela sang aktris dengan mengatakan jika aktris pun manusia biasa.

Namun, bukan itu yang menjadi perhatian Hanabi saat ini, melainkan komentar yang kini telah berbalas ratusan komentar lainnya. Komentar itu mengatakan jika Hinata sudah terbiasa mabuk sejak remaja.

Siapa? Yang meninggalkan komentar itu?

Hanabi meletakkan telepon genggamnya di atas ranjang. Keningnya di tekuk dalam. Suasana kamar pribadinya begitu hening dan gelap. Ia nampak berpikir. Hanya ada beberapa orang yang tahu tabiat buruk Hinata saat remaja, dan Naruto salah satunya.

Namun, tentu saja Hanabi percaya jika kakak angkatnya itu tidak mungkin meninggalkan komentar seperti itu. Kakak angkatnya sudah tidak peduli terhadap apa pun yang menyangkut keluarga Hyuuga, terutama Hinata.

Sementara itu di waktu sama dan tempat berbeda, Sasuke menatap telepon genggamnya dengan satu alis diangkat tinggi. Bukan menjadi kebiasaannya untuk melihat akun sosial medianya sepagi ini. Namun, entah kenapa pagi ini ada yang berbeda, tiba-tiba saja Sasuke membuka akun sosial medianya dan berselancar di sana.

Foto-foto dan video Hinata yang mabuk meramaikan timeline akun media sosial Sasuke pagi ini. Pria itu tidak sengaja memutar salah satu video hingga sebuah suara serak menginterupsi, "Suara apa itu?"

Di sampingnya, Naruto yang terbangun karena suara yang dihasilkan video terlihat meregangkan tubuhnya dengan nikmat. Wanita itu melirik ke meja nakas, mengambil telepon genggamnya dan berguman, "Jam lima pagi."

Decakan pelan meluncur halus dari bilah bibir Naruto yang tidak tertutup rapat. "Video apa yang sedang kaulihat?" tanyanya penasaran.

Sasuke mencondongkan tubuhnya lalu memberikan telepon genggam miliknya kepada Naruto yang masih belum sadar sepenuhnya. "Saudari angkatmu membuat skandal."

Naruto mengerjap bingung beberapa kali. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya sebelum duduk dengan wajah ditekuk dalam. Telepon genggam Sasuke berpindah ke tangannya. Video itu memperlihatkan Hinata yang mabuk tengah membentak seorang wanita muda lain.

Hanabi, ia tahu betul jika wanita lain itu Hanabi. Mereka boleh saja menempelkan stiker untuk menutup wajah adik angkatnya, tapi Naruto masih bisa mengenalnya dengan baik.

"Wanita jalang itu ingin menghancurkan karirku!"

Hati Naruto berdenyut sakit setelah telinganya mendengar raungan kasar Hinata yang terekam di dalam video. Menutupi kegetirannya ia memberikan telepon genggam ke pemilik lalu bergegas turun dari atas ranjang setelah mengikat rambutnya asal.

Sasuke menerima telepon genggam itu tanpa bicara. Atensinya kembali tertuju ke komentar yang ditinggalkan pada setiap foto dan video Hinata. "Beberapa komentara mengatakan jika Hinata sering mabuk sejak remaja. Apa kau tahu tentang itu?" tanyanya tiba-tiba.

Andai Sasuke menatap punggung kekasihnya, dia pasti bisa melihat saat tubuh Naruto menegang setelah mendengar pertanyaannya. Dengan susah payah Naruto menelan air liurnya. Setelah merasa nada bicaranya terdengar biasa, ia lantas menjawab, "Aku tidak tahu. Kami tidak sekolah di tempat yang sama dan kami tinggal di asrama berbeda."

"Begitu?" sahut Sasuke. Pria itu menekan rasa ingin tahunya setelah menangkap nada berbeda dalam suara Naruto saat bicara tadi. Terlebih saat kekasihnya seperti melarikan diri.

Sasuke hanya berpikir kekasihnya tidak nyaman saat membicarakan keluarga angkatnya, tidak lebih. Ya, Naruto mungkin merasa tidak nyaan. Namun, tetap saja Sasuke merasa ada sesuatu yang janggal.

Sesuatu mengenai kebiasaan mabuk Hinata dan perilaku aneh Naruto membuatnya berpikir berlebihan. Bagaimana jika sebenarnya bukan Naruto yang menyebabkan kecelakaan itu? Bagaimana jika ternyata Hinata yang menyebabkan kecelakaan itu?

"Mau sarapan apa?" Pertanyaan Naruto menarik Sasuke ke alam nyata. Pria itu hanya menatap kekasihnya dengan ekspresi bingung. "Sasuke?"

Sang pemilik nama tidak menjawab. Sasuke mengusap kasar wajahnya lalu bergerak, beranjak dari tempat tidur dan berjalan pelan menuju kekasihnya yang sudah membersihkan diri dan tengah berdiri di sisi meja televisi saat ini.

Sasuke masih tidak mengatakan apa pun. Pria itu hanya memeluk tubuh kekasihnya lekat dan melayangkan satu ciuman ringan di puncak kepala wanitanya.

"Naruto?" panggilnya serak. Pelukannya berbalas. "Berjanjilah kautidak akan menyembunyikan apa pun dariku!" Kali ini Sasuke bisa merasakan tubuh Naruto menjadi tegang. Napas wanita itu bahkan tercekat untuk beberapa saat.

"Jadi, kau memiliki rahasia yang tidak bisa kauceritakan kepadaku?" Sasuke kembali bertanya dengan nada lebih lembut. Kali ini kedua tangannya mengusap pelan punggung kekasihnya yang terasa kaku.

"Bukankah setiap manusia memiliki rahasia?" balas Naruto. Ia bahkan tidak menyadari jika nada bicaranya terdengar aneh.

Naruto menjeda untuk menarik napas dalam. Susah payah ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Rahasiaku berhubungan dengan masa lalu, dan aku tidak suka saat mengingatnya karena hal itu menyakitiku. Jadi, bisakah aku memohon kepadamu untuk tidak bertanya mengenai hal itu?"

"Kalau begitu aku tidak akan bertanya," sahut Sasuke. Perlahan ia melonggarkan pelukannya. Netra keduanya bertemu. Afeksi dua insan itu saling berbalas dalam keheningan. "Tapi kau boleh bertanya apa pun kepadaku," ucapnya tiba-tiba. "Aku akan menjawab semua pertanyaanmu dengan jujur."

"Kenapa kau melakukan itu?"

Sasuke tersenyum. Satu tangannya mengusap lembut puncak kepala yang lebih muda. "Karena kau rumahku."

.

.

.

TBC

#WeDoCareAboutSFN