Sakura Itsuki Present
...
...
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.
...
...
Summary :
Perang? Apa itu? Bagiku perang adalah Sebuah peristiwa yang menumpahkan darah dan juga air mata dalam jumblah yang tidak dapat di bayangkan. Darah mengalir bagai lautan dan juga mayat berserakan bagai sampah! Kumohon, ini sudah cukup bukan? Kumohon hentikan atau aku akan membantai kalian semua.
...
...
#StayAtHome
[Let's start]
...
...
Arc l : New Day
Chapter 3 : Livanthein
...
...
Namaku adalah Siluca Meletes. Seorang gadis biasa dari sebuah pedesaan namun bakat ku akan sihir berbeda dari kebanyakan orang, seakan-akan sihir adalah temanku. Menguasai sihir pertama kali pada umur 4 tahun menjadi sebuah pencapaian terbesar di kerajaan Foxtrotd bahkan tidak pernah ada bangsawan yang mengukir prestasi seperti itu dalam abad ini.
Pada umur 7 tahun kedua orangtua pergi ke medan perang sebagai pasukan pembantu atas perintah raja. Namun, sebulan kemudian kedua orangtuaku kembali ke kerajaan dengan wajah sangat ketakutan. Entah apa yang di lihat mereka berdua namun aku selalu bersyukur karena keduanya dapat pulang dengan selamat.
Beberapa tahun berlalu hingga aku menginjak remaja. Setiap kali aku melihat keluargaku sebuah senyum terukir di wajah ku. Ayah dan Ibu, Tidak ada yang menbahagiakan di dunia jika tanpa kalian. Dan tidak pernah terbesit sedikitpun dalam benak ku untuk bertanya apa yang terjadi di medan perang pada hari itu. Hingga...
"Record of The Slaughterer?"
Temanku memberikan sebuah buku. Buku itu sangat tebal dan di tulis seorang prajurit yang ikut dalam perang. Entah kenapa setiap kata yang di tuliska prajurit itu sangat menyayat hati dan seakan-akan menjadi tamparan keras bagi kedua raja. Hingga aku mencapai bagian terakhir...
'Seorang anak yang seumuran denganku membantai pasukan dari kedua kerajaan? Apa ini yang di lihat ayah dan ibu?'
Aku tidak dapat berkata-kata dan berkutat dengan semua pikiranku. Bayangkan saja, Seorang anak yang seumuran denganmu dapat membantai puluhan ribu manusia dengan tujuan menghentikan perang!
Namun aku mengucapkan terima kasih kepada orang itu. Jika saja dia tidak menghentikan peperangan mungkin kedua orangtuaku akan tewas, sungguh aku berterima kasih kepadamu. Pahlawanku.
...
...
Di sebuah taman seorang gadis berambut pirang sedang duduk termenung. Pikirannya berjalan entah kemana dengan tatapan mata yang kosong di wajah cantiknya.
'Nii-san...'
Sudah lama dirinya mencari dan mencari keberadaan sang kakak. Saat berumur kurang dari setahun sang kakak di buang karena tidak memiliki sirkulasi mana sama sekali. Mencari dan terus mencari kakak kembarnya dan setelah sekian alam ia mencari dan seiring tumbuhnya pikiran dirinya mendapati kesimpulan sang sangat penting dan merasakan segala sesuatu yang ia lakukan sia-sia.
Tidak seorangpun pada umur kurang dari setahun bertahan hidup di dunia ini
Mulai saat itu dirinya selalu berfikir jika kakaknya sudah tiada. Pencarian yang selalu ia lakukan semenjak berumur tujuh tahun seakan sia-sia saat dirinya beranjak dewasa.
"Hei Jeanne, Kenapa kau termenung?"
Gadis itu mengalihkan pandangannya saat suara seseorang memasuki gendang pendengarannya. Seorang gadis dengan warna rambut yang sama dengan dirinya juga kecantikan yang melebihi dirinya dan seseorang yang dapat ia panggil sahabat.
Keduanya duduk bersama di bangku tersebut. Dirinya sendiri terus menerus terfokus pada alam khayalnya namun tidak untuk sahabatnya. Gabriel, Terus menulis sebuah catatan di dalam bukunya kata-kata yang terus mengalun dari alat tulisnya membuat Jeanne merasakan apa yang sedang di rasakan Gabriel, belum lagi dengan wajah sendu temannya.
"Hei, Kau tau? Tulisan yang kau tulis itu entah mengapa sangat puitis bagiku." Ucapnya dan wajah temannya sedikit menunjukkan wajah tidak suka. Canda tawa terkadang menghiasi kebersamaan keduanya hingga...
Boom...
"Jeanne, Kau dengar itu?"
"Bukan kau saja yang mendengarnya, Lebih baik kita cari pelakunya."
Keduanya pergi dari tersebut dan berlari menuju sumber suara namun keduanya tidak menyangka akan menemukan sosok yang sudah keduanya cari untuk waktu yang lama.
...
...
"Hei, Jadilah bagian dari Harem ku."
Aku tidak menyangka akan mendapatkan permintaan aneh dari orang di hadapanku. Seorang pemuda dengan wajah yang terbilang cukup dewasa namun memancarkan kearoganan yang membuatku muak. Beberapa anak buahnya ada di belakang pemuda itu dan juga beberapa gadis yang berdiri sejajar dengannya.
"Maafkan aku, Aku tidak tertarik dengan harem yang kau maksud." Jawabku namun bukannya menyerah pemuda itu tambah arogan. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan karena jawabanku, jangankan pemuda itu gadis yang di belakangnya saja tidak menunjukkan permusuhan kepadaku.
"Kau harusnya bangga menjadi bagian Harem Raiser-sama!"
"Yubelluna benar! Kau hanyalah rakyat jelata dan tidak berhak menolak!"
Kicauan tidak jelas dari para gadis yang aku asumsikan sebagai haremnya membuatku muak. Merasa tidak nyaman karena terlalu lama berada disini, Aku memutuskan untuk pergi menjauh dan meninggalkan mereka semua.
Grep...
'Ahh...'
Plakk...
Saat aku berjalan dengan niat untuk meninggalkan mereka, Pemuda itu memeluk ku dari belakang dan meremas dadaku membuat desahan kecil lolos dari mulutku. Dan tanpa banyak basa-basi sebuah tamparan berhasil ku daratkan di wajah pemuda itu membuatnya tampak marah.
"Siluca Meletes! Beraninya kau melakukan itu kepadaku. Rakyat jelata seperti mu berani menamparku!"
"Rakyat jelata? Ingat ini, Bangsawan sialan! Jika semua manusia memiliki kesetaraan yang sama, Tidak ada yang namanya kesenjangan antara 'si miskin' dan 'si kaya'. Dan, Aku akan mengubah pemikiran tersebut."
Plak...
Tensi pertemuan itu semakin menegang karena ulah Siluca namun tidak ada seorangpun yang menyangka jika Raiser akan menampar pipi gadis itu. Warna merah menghiasi pipi putih nan bersih membuat Siluca menahan air mata yang sudah terbendung di pelupuk matanya.
"Kau pikir kau sudah hebat?"
Plak...
"Kau pikir karena kau bangsawan kau bisa melakukan segalanya sesuai kemauanmu?"
Plak...
"Dengar ini, Bangsawan sialan! Leluhur mu akan menangis mengetahui keturunannya merupakan sampah!"
"Sudah cukup! Aku akan membunuhmu."
Tamparan demi temparan Raiser layangkan namun amarah memenuhi wajah Raiser. Persetan dengan aturan sebagai bangsawan aku tidak akan pernah di hukum, pikirnya.
"Fire Magic : Ultimate Fire Ball" Ucap Raiser dan seketika hawa panas berkumpul di sekitar mereka hingga mengeluarkan jilatan api yang membentuk sebuah bola berdiameter 10 meter.
Di Akademi ini ada sebuah aturan yang mengatakan bahwa :
"Tidak seorangpun murid diperbolehkan menggunakan sihir terlepas dari jam pelajaran."
Namun...
"Memberi pelajaran kepada rakyat jelata adalah tugas dari seorang bangsawan jadi matilah, Siluca Meletes!"
Boom...
Ledakan yang sangat hebat terjadi di tempat Siluca berdiri. Asap dan juga debu berterbangan menutupi tubuh Siluca namun saat debu yang menghalangi pandangan mereka terangkat, sesuatu membuat mata semua orang terbelalak. Disana, Tepat dihadapkan Siluca, Berdiri sesosok bayangan yang mengarahkan perisai miliknya demi melindungi Siluca. Bayangan itu mengambil bentuk Orc lengkap dengan zirah yang melindungi tubuhnya dan juga perisai besar di kedua tangannya.
"Ku kira ada apa ternyata hanya pertikaian anak-anak."
Raiser beserta pengikut dan juga anggota haremnya mengalihkan pandangannya mereka ke arah belakang dimana para siswa sudah berkumpul bersama dengan seorang Pria berambut merah. Pria itu mengenakan pakaian berupa jas dan juga jubah dengan sarung tangan yang berwarna putih di kedua tangannya.
"Raiser-kun, Dengan wewenangku sebagai Great Master yang mengajar di sekolah ini. Aku mengusulkan untuk mengadakan Grading Match." Ucapnya dan semua orang yang mengikutinya hanya terdiam karena mereka semua tau apa itu Grading Match yang ada di sistem sekolah ini tak terkecuali dua siswi berambut pirang di antara para murid.
Grading Match, Sebuah sistem yang dibentuk oleh kepala sekolah dari sekolah ini. Sebuah sistem yang menunjukkan kalau kekuatan adalah segalanya dengan Rank yang menjadi tolak ukur dalam sistem sekolah ini. Mana yang di miliki setiap orang memiliki karakteristiknya masing-masing, bukan dari banyak atau tidaknya Mana tersebut melainkan dari bagaimana cara mereka mengatur Mana miliknya. Sebut saja orang yang memegang rank ke-20 di keseluruhan pelajar sekolah ini. Orang itu hanya memiliki sedikit mana namun dengan cara yang hebat dalam pengolahan mana, Dirinya berhasil mengalahkan semua pelajar.
"Baik, Aku Raiser Phoenix beserta seluruh anggotaku, Menantang Siluca Meletes dan mempertaruhkan kedudukan beserta hak yang ku miliki sebagai pemilik rank ke sepuluh." Ucapnya dengan lantang dan membuat semua pelajar baru terkejut karena mereka semua tidak menyangka jika salah seorang Top Ranker menantang seorang siswi baru, belum lagi dia membawa seluruh pengikutnya dan jika bisa di perkirakan mereka semua berjumlah 20 orang.
"Apakah tidak ada yang akan membantu Meletes-kun?"
Orang-orang terdiam mendengar pertanyaan pria berambut merah itu. Siapa orang bodoh yang berani melawan seseorang yang memiliki gelar 10 orang terkuat di antara seluruh pelajar di akademi tersebut? Belum lagi dengan bantuan dari pengikutnya, Melawan 20 orang bersama seorang murid tahun pelajaran baru tanpa latar belakang yang kuat? Jawabannya tentu saja tidak ada. Namun...
"Boleh aku membantunya, Sirzech-sensei?"
Tanpa di sangka seseorang di bagian paling belakang mengangkat tangannya. Seorang pemuda berambut pirang dengan wajah yang terbilang tampan, Pemuda itu mengenakan pakaian akademi khusus pelajar laki-laki berupa kemeja dengan jas berwarna hitam dan di bagian dada kanannya tersemat sebuah pin berlambang dua pedang yang saling bersilang. Di bagian pinggangnya ada sebuah Longsword yang menggantung di balut sarung yang terbuat dari bahan kayu.
Semua orang menyayangi tindakan pemuda itu dengan menatapnya menggunakan wajah yang seakan-akan menunjukkan keprihatinan. Seseorang dari kelas knight akan melawan salah satu dari Top 10 Ranker? Semua orang disana hanya bisa diam kecuali seseorang yang sedang menahan air mata di pelupuk matanya.
'Itu dia...'
...
...
Suasana di hari pertama pelajaran baru sangat riuh karena keributan dari seseorang yang tidak tau tata krama. Yup, Tidak tau tata krama karena orang tersebut langsung mengajukan lamaran untuk menjadikan seorang gadis sebagai bagian dari haremnya.
Pertengkaranpun tidak dapat di hindari dan karenanya dirinya sendiri tidak bisa berdiam diri. Naruto atau orang-orang yang mengenal legendanya menyebutnya sebagai The Slaughterer mencoba untuk ikut campur dengan mengirim Shadow Army miliknya untuk melindungi seseorang. Hingga suasana bertambah panas dan akhirnya...
"Bolehkah aku membantunya, Sirzech-sensei?"
Mungkin bagi orang-orang yang ada di tempat kejadian, Kedatangan Naruto dengan maksud untuk menolong bagaikan 'Domba yang senang hati masuk kedalam mulut serigala'. Namun bagi Naruto semua itu pantas ia lakukan mengingat potensi Siluca untuk tumbuh dan setara dengan Merlin, The Great Magician, di benua ini.
"Baiklah, Karena sudah ada orang yang berniat untuk membantu Meletes-kun maka aku sebagai Great Master dari akademi ini menyatakan kalau Grading Match akan dilakukan tepat tengah hari saat semua murid istirahat makan siang." Ucap Sirzech seraya melenggang pergi dari tempat kejadian. Sedangkan untuk Raiser, Pemuda itu tetap tersenyum dengan wajah Arogan dan berkata "Sampai ketemu lagi, Pecundang."
Selepas kepergian semua orang hanya tersisa tiga orang dengan rambut berwarna kuning di tempat tersebut. Orang pertama adalah Siluca, lalu ada Naruto dan seorang gadis dengan rambut panjang yang di kepang dengan mata seperti zambrud. Gadis itu terus terdiam dengan air mata yang keluar dari kedua matanya, wajahnya menyiratkan kerinduan yang tidak pernah usai dan kakinya bergetar seakan tidak mampu menahan tubuhnya.
Greb...
"Nii-chan!"
Tepat! Gadis itu menangis tanpa memperdulikan orang yang sedang ia peluk. Dirinya sendiri sangat bahagia karena orang yang sudah ia cari dulu sekarang tepat berada di hadapannya. Pelukan yang ia berikan semakin erat seakan tidak ingin sosok itu pergi lagi namun tanpa di sangka suara orang itu sangat menusuk untuk dirinya.
"Kamu siapa?" Seakan tersambar petir di siang bolong, Tubuhnya langsung ambruk ke tanah dengan kedua lutut menjadi penahan tubuhnya.
"Nii-chan, Maafkan aku! Apakah kau sangat membenci diriku sampai kau tidak mengingat ku?" Tanyanya. Dirinya sendiri sangat mengenali sosok di hadapannya saat ini bahkan keduanya sudah bersama semenjak di kandungan dan berbagi air ketuban bersama-sama. Hubungan keduanya saling terikat lebih dari sebuah hubungan darah.
"Lihatlah ini!" Gadis itu langsung membuka jas dan juga kemeja yang ia gunakan hingga sebatas dada dan memperlihatkan punggungnya. Punggung yang penuh luka seperti cakaran dan juga beberapa luka tusuk dan bakar menghiasi kulit putih bak susu. Bahkan di bagian dada atas sebelah kanan terdapat luka kecil yang mirip dengan bekas anak panah.
"Luka ini mirip dengan semua luka mu! Kau adalah kakak ku yang hilang. Kumohon kembalilah dan pulang bersama denganku, Nii-chan." Ucap gadis itu namun saat ia melihat wajah orang tersebut dirinya seketika mematung. Sorot mata uang keluar bukanlah keterkejutan melainkan sorot mata yang tidak peduli sama sekali.
"Kau bodoh yah? Semua luka itu pasti hasil kerja kerasmu, bukan? Namikaze Jeanne, Seseorang dengan julukan Priest dan juga seseorang yang di berikan gelar D'Arc oleh yang mulia. Mana mungkin seseorang sepertimu memiliki saudara sepertiku? Kehidupan kita saja bagaikan langit dan bumi yang sangat berbeda."
"Namaku hanyalah Naruto, Aku bukan siapa-siapa dan tidak ingin menjadi siapa-siapa." Ucapnya seraya membuka seluruh pakaian di tubuhnya dan hanya menyisakan celana yang ia kenakan sebagai bagian dari seragam sekolah.
"Aku selalu bertarung dan bertarung hingga setiap luka di tubuhku terbentuk dan menjadi ukiran memorial saat aku menapaki jalanku. Jalan yang kau tapaki sangat berbeda denganku." Ucapnya.
'Mau di lihat bagaimanapun, Letak luka, Kedalaman luka dan juga jumlahnya sama banyak.' Tanpa keduanya sadari ada seorang perempuan yang sedari tadi diam namun dirinya mengamati keduanya belum lagi perhitungan cepat hanya dapat di lakukan oleh segelintir orang.
Dan untuk Jeanne, Dirinya sendiri hanya menundukkan kepala dengan ekspresi sedih. Mereka berdua adalah sepasang saudara kembar, Dua orang yang ditakdirkan berbagi sejak sebelum mereka lahir. Luka yang menghiasi tubuh keduanya adalah bukti jika mereka seakan memiliki satu tubuh yang sama. Meski begitu, Kenapa? Kenapa kakaknya seakan-akan tidak tau dan tidak mengenali dirinya?.
"Sudah cukup untuk saat ini, Aku memiliki praktek pedang saat ini dan setelahnya aku harus pergi melawan bangku ke-10. Jadi, Aku undur diri." Ucapnya dan berjalan menjauh meninggalkan kedua gadis yang hanya bisa diam. Namun, Siapa yang tahu jika Naruto menaruh salah satu dari The Eclipse di bawah bayangan Jeanne.
...
...
Hallo semuanya, Maafkan aku karena terlalu untuk Update.
Pada chapter ini aku meminta bantuan dari temanku, SETSUNAZ1 atau bisa di bilang Author Hode.
Aku tidak bisa banyak menaruh Author Note, Namun aku hanya bisa berdoa dan berharap jika Pandemi Covid-19 dapat selesai secepatnya.
Kenapa? Karena gw gk punya pemasukan asw! Di rumah ada satu mulut yang harus gw kasih makan yaitu istri gw!
Dah lah,
Bye
