KACAMATA HANJI (3)

[1 tahun setelah pertempuran di Shiganshina]

Disclaimer :

Shingeki No Kyojin © Hajime Isayama
All characters belongs to Hajime Isayama.

Warning:
Typo(s), OOC, etc


(maaf! chapter ini obrolannya berat, tidak disarankan untuk pembaca dibawah umur 13th)


Kedua insan itu berjalan bersisian, tak terlalu lambat namun tak terlalu cepat. Tempo yang tepat.

Langkah mereka lurus, menuju satu pertigaan, lalu berbelok ke kiri. Menuju sebuah bangunan berpintu ayun, yang dari luar terlihat cukup ramai. Beberapa kumpulan manusia terlihat duduk-duduk di bagian teras bangunan, sambil menenggak segelas besar cairan berwarna kekuningan. Bir. Sebagian lagi berbicara keras-keras sambil tertawa-tawa. Sebagian lagi menekuk wajah sambil memperhatikan papan catur yang terhampar didepannya.

Tanpa mereka sadari, di langit sana awan abu berarak beriringan. Berkumpul menjadi satu. Semakin pekat. Semakin gelap.

Levi menatap pada langit sekilas. Lalu menarik tangan Hanji pelan. Menggenggamnya. Mengajaknya untuk berjalan lebih cepat.

"Ada apa, Levi?" Hanji, yang tak menyadari perubahan cuaca akibat penglihatan yang amat buram.

Levi mendengus. "Sebentar lagi hujan. Kita harus bergegas."

"Eh?"

Hanji mendangak. Menatap langit yang amat buram di matanya.

Setetes air menerpa wajahnya. Membuatnya yakin dengan kalimat Levi. Yang kemudian tetesan air semakin banyak, diiringi sayup suara titik-titik air yang menghantam permukaan bumi.

Gerimis menderas, tepat saat mereka berdua sampai di pelataran bangunan bar. Sambil melepas mantel seragam, mereka memasuki bar.

Kedua mata Levi memindai ruangan di dalam bar, kemudian tertuju pada satu pojokan dengan satu sofa memanjang dan satu meja kecil Cukuplah untuk dirinya dan Hanji.

"Oi! Dua teh hitam premium dan dua porsi bratwurst!" serunya pada bartender disana. Si bartender mengangguk cepat. Lalu beralih meracik pesanan.

Hanji menatap Levi sekilas, dengan mata melebar.

"K-kau, apa? Kau memesan teh hitam dibanding bir? Teh hitam premium pula?! Astaga Levi..." keluh perempuan itu dengan wajah sedikit kesal. Levi berdecak.

"Tadi, kau sendiri yang bilang mau mentraktirku."

"Tapi aku mau bir, Levi..."

"Bir? Dengan keadaanmu saat ini, tidak. Kau menyusahkan kalau mabuk. Ditambah kau tak memakai kacamata, aku tak mau kau menabrak orang-orang dengan dalih tak melihat mereka." balas Levi datar.

"Ugh!" keluh Hanji lagi, sambil mengerucutkan bibirnya. Rasanya ingin ia protes pada Levi, tapi kalau dipikir lagi, ada benarnya juga sih kata-kata Levi.

Tak lama setelah duduk, pesanan mereka datang. Dua porsi bratwurst yang masih panas, yang masing-masing berisi dua buah sosis besar dan satu potong roti ditambah saus mustard dan sauerkraut, ditambah teh hitam panas. Benar-benar membangkitkan selera makan, apalagi di suasana hujan seperti ini.

"Aku jadi benar-benar lapar, Levi." ucap Hanji sambil menatap piringnya dengan pandangan lapar.

"Makanlah. Kau terlihat kelaparan." balas Levi, menysep teh hitamnya. Matanya menatap Hanji yang kini menyuapkan potongan sosis ke dalam mulutnya. Entah kenapa, hatinya terasa menghangat.

"Ngomong-ngomong, apa kau tak berpikiran untuk mempunyai keturunan, Levi?" tanyanya ditengah kunyahan.

Lelaki tak semampai menatap Hanji dengan kening berkerut.

"Sepertinya kau ketularan bibimu."

Hanji menyengir. "Mungkin,"

Levi menaikkan sebelah alis, meminta penjelasan.

"Tapi, sebenarnya aku sudah memikirkan ini sejak lama..." Hanji menghela nafas sejenak. "...sejak aku tau kau punya darah Ackerman."

Menyesap tehnya, Levi melirik rekannya dengan pandangan datar. "Memangnya ada apa dengan darah Ackerman ku, huh?"

"Itu..."

"Karena jumlahnya yang sangat sedikit bahkan diambang kepunahan? Begitu?" tebak lelaki itu. Kemudian menyesap tehnya lagi.

Hanji mengangguk pelan.

"Kupikir, kau harus melestarikan darah Ackerman. Mikasa juga."

Levi tak merespon. Diam sambil menyesap minumannya. Dahinya terlihat sedikit berkerut. Seakan memikirkan sesuatu.

"Hmm. Begitu ya?"

"Begitu saja responmu? Kupikir kau akan mendebatku." balas Hanji, sambil memasukkan sejumput sauerkraut ke mulutnya lalu mengunyah pelan.

Levi menatap pada langit-langit bar. Menerawang jauh entah kemana. "Tak ada yang menjamin umurku, Hanji."

"Eh?"

"Lagipula, aku tidak ingin ada lagi korban sepertiku."

Hanji terdiam sejenak. Mencerna kata demi kata dari lelaki itu.

"Bukan, bukan maksduku kau menghamili sembarang perempuan untuk melanjutkan darah Ackerman, Levi." balas Hanji sambil menggeleng.

"Lalu?"

"Yha, kau menikah lalu punya anak. Sesederhana itu."

Levi melirik malas pada Hanji.

"Oke, oke. Iya, gak sesederhana itu." Hanji menghela nafas. Sepertinya dia memang salah, membuka luka lama Levi soal masa lalunya yang tak enak itu.

"Tugas dan permasalahan yang kita hadapi, umur yang tidak terjamin, pasti itu yang kau pikirkan kan, Levi?"

Lelaki itu hanya berdeham, membenarkan tebakan Hanji.

"Memiliki keturunan berarti siap bertanggung jawab atas mereka, Hanji. Dengan keadaan kita yang begini, aku tak yakin bisa bertanggung jawab secara maksimal atas mereka." ucap Levi, dengan pandangan malas pada Hanji.

Ya, dia merasa malas membahas keturunan. Entah dengan siapa itu. Bukan masalah dia tak suka dengan anak-anak - walau baginya anak-anak itu merepotkan - tapi lebih pada pertanggungjawaban yang akan diembannya. Lagipula, masa lalu yang tak enak membuatnya berpikir ribuan kali agar tak ada kejadian seperti masa kecilnya yang terulang akibat perbuatannya.

Di saat begini, Levi berharap Hanji mengubah topik pembicaraan. Meski topik itu akan membuatnya pusing. Bahasan mengenai rencana ekspedisi ke luar pulau Paradis juga tidak buruk, malah jauh lebih baik dibandingkan membahas soal keturunan.

Tapi entah kenapa, Levi tergelitik juga untuk menanyakan hal yang sama pada Hanji.

"Bagaimana denganmu? Tak berminat punya anak?"

Hanji menoleh sekilas pada Levi, lalu terkekeh pelan.

"Sudah ada Eren, Armin, Mikasa, Jean, Sasha, Connie, dan - "

"Tch! Biar ku ganti pertanyaannya!" decih lelaki itu menahan kesal. "Tak berminat punya keturunan?"

"Tidak." balas Hanji cepat. "Dengan umurku dan jabatanku saat ini, aku malah akan merepotkan banyak orang kalau hamil dan melahirkan. Apalagi, kehamilan umur diatas tiga puluh tahun itu banyak risikonya. Contohnya, keguguran dan darah tinggi." oceh Hanji dengan nada santai, meski wajahnya terlihat sedikit sedih.

Levi sedikit terpana dengan jawaban Hanji yang di telinganya terdengar ajaib. Mana dia tau soal risiko kehamilan di atas umur tiga puluh.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau jadi menanyakan itu padaku? Mencoba membalasku ya, Levi?" cengir Hanji tanpa dosa. Lelaki tak semampai kembali mendecih.

"Otak dan pemikiranmu yang terlalu ajaib itu perlu dilestarikan, Hanji."

"Kau menyindirku ya? Dasar."

"Tch. Aku serius." ucap Levi kemudian. "Yang tak kusangka, jawabanmu sematang itu."

"Tentu saja harus matang. Apalagi aku telah memikirkan ini sejak lama." jelas Hanji lalu terkekeh.

Lelaki itu menatap dalam mata coklat rekannya. Yang kemudian ia sadari, ada keindahan tersendiri pada kedua iris disana. Menyihir lelaki itu sejenak, membuatnya terpaku pada pantulan bayangan dirinya pada bola mata itu.

"Levi?"

Lelaki itu terkesiap saat dipanggil. Menatap tajam kembali pada Hanji. Sedangkan perempuan itu memandang heran.

"Kau kenapa sih? Ada semut ya di hidungku?"

Cepat-cepat Levi membuang muka dari Hanji, sambil menggerutu kesal dalam hati.

"Ah! Atau..." Hanji sengaja menggantung kalimatnya, kemudian memandang Levi pandangan menggoda sambil terkekeh senang. "... kau terkesima pada ku ya?"

Sialan! rutuk Levi.

Levi benci, amat benci saat ia ketahuan sedang memperhatikan seseorang dengan seksama. Apalagi kalau itu Hanji. Hanji, perempuan terakhir yang membuatnya yakin bahwa semesta masih menyayanginya.

Yang membuat Levi heran, berkali-kali ia memandang pada Hanji terutama pada kedua matanya, berkali-kali pula ia terkesima. Dan selalu terkesima. Apalagi saat melihat perempuan itu saat masih segar sehabis mandi, atau pada pergumulan panas di malam-maalm dingin.

Padahal, dibandingkan perempuan-perempuan murahan yang sering ia temui semasa muda dulu (sebelum bergabung dengan Chousa Heidan), Hanji tidak ada apa-apanya. Tak ada tubuh molek bak gitar spanyol. Tak ada dada berisi apalagi pinggul montok yang memancing gairah. Sedangkan Hanji, jangankan pinggul montok, berpayudara saja Levi sudah bersyukur.

Entah apa yang membuat Levi terkesima pada Hanji, yang jelas saat ini dia tak ingin kehilangan perempuan itu.

Tak ingin kehilangan, apalagi setelah ia kehilangan Erwin dan yang lainnya.

"Jadi, ku simpulkan kau sebenarnya tertarik punya anak sendiri. Bukan begitu, Hanji?" ucap Levi tiba-tiba, mengabaikan pertanyaan Hanji tadi.

Perempuan itu mendecak. "Huh! Kau pasti pura-pura tidak mendengarku kan Levi?"

Lelaki itu hanya membalas dengan lirikan malas. Kemudian menyesap tehnya yang mendingin.

Hanji menghela nafas, memilih mengalah.

"Ngomong-ngomong soal punya anak, siapa sih perempuan yang berumur diatas tiga puluh tahun yang tidak ingin punya anak? Sepertinya nyaris tidak ada. Begitu juga denganku, Levi. Aku perempuan normal yang kadang iri melihat sesamaku menimang anak-anak kecil. Aku juga ingin seperti itu. Rasanya, melihat dan menimang anak kecil itu membuat hati dan pikiran jadi lebih tenang." jawab Hanji. Levi menoleh sambil mendengarkan penuh minat.

"Bukankah anak-anak itu merepotkan?"

Hanji menggeleng pelan, kemudian menggangguk.

"Ada kalanya anak-anak itu merepotkan. Tapi, tingkah lucu anak-anak pula yang menjadi hiburan tersendiri, Levi." kekeh Hanji sambil tersenyum tipis. Namun kemudian menoleh pada Levi dengan dahi berkerut. "Jangan bilang kau tidak pernah berinteraksi dengan anak-anak kecil?"

Lelaki itu mendecih pelan. "Merepotkan."

"Hah? Ku pikir saat kau membantu Ratu Historia masalah anak-anak dari kota bawah tanah itu kau ikut ke panti asuhan. Ternyata tidak ya? Huh, dasar."

Levi mengedikkan bahunya tak peduli.

"Jadi, sebenarnya kau ingin punya anak atau tidak? Benar-benar labil." decih Levi sambil memandang Hanji.

"Tidak."

Dan Levi memandang heran pada rekannya itu.

Padahal, setelah kupikirlagi, membuat'nya' satudenganmu tak akan jadimasalah. Apalagijikaingatanakitu akan mewarisidarah Ackerman dan otakcerdasHanji, pikir lelaki tak semampai itu diam-diam.

Sedangkan Hanji mengerucutkan bibirnya. Mulai merasa lelah dengan bahasan itu.

"Bisa tidak kita hentikan pembicaraan ini?" desahnya sambil memainkan garpu diatas piring.

"Tch! Kau sendiri yang memulainya."

Hanji kembali mengerucutkan bibirnya. "Baiklah! Aku yang memulainya, berarti aku tutup bahasan kita pada sore hari ini!" ucapnya tegas, kemudian menyenderkan tubuhnya pada sofa.

Rintik air hujan di luar sana masih deras menuju bumi. Membuat mereka terjebak di dalam bar itu. Hanji, yang dengan penglihatannya yang parah, hanya meraba derasnya hujan dari suara-suara dentingan air pada atap bar.

"Hujannya masih lama ya? Aku mulai bosan disini." keluhnya, sambil memindahkan posisi kepalanya pada pundak Levi.

Lelaki itu hanya berdeham ringan, sambil mengikuti arah mata Hanji yang menatap keluar bar melalui jendela kayu disana. Menatapi hujan yang tak kunjung reda.

"Hei, Levi. Tiba-tiba aku teringat Erwin, Mike dan Nanaba, lho." ucap Hanji lagi, sambil menatap hampa. "Aku jadi kangen minum-minum berlima di bar langganan kita dulu."

Levi, diam-diam menghela nafas berat.

Seandainya kau sadarbahwasaatini kita berada di bar langganan yang kau sebutitu, Hanji.

"Kapan-kapan kita kesana ya, Levi. Sekalian nostalgia."

Bisakah kita tidakbernostalgia? Terlalumenyakitkanuntukmengingatkembali orang yang sudahmati. Sialannya, hanya tehhitamdisini yang paling enak. Tehhitamterenak, yang dikenalkan Erwin dan kau, Hanji.

"Untuk apa bernostalgia?"

"Yha, untuk menginga-"

"Untuk apa bernostalgia kalau hanya rasa sakit yang kita dapatkan?"

Hanji menelan ludah berat. Ia kemudian menoleh pada Levi, masih dengan kepala pada pundak lelaki itu. Memandang sedih pada lelaki itu.

Lelaki yang telah kehilangan banyak keluarganya, rekan-rekannya.

Sama sepertinya.

Tiba-tiba Hanji merasa bodoh. Amat bodoh. Dua kali dalam sehari ia membuka luka lelaki itu. Yang parahnya, baru ia sadari kalau luka terakhir milik Levi adalah lukanya juga.

Dan rasa sesak dan sakit menyelimuti dadanya. Rasa akibat sedih dan rindu yang tak tertahankan.

"Maaf." lirih Hanji dengan pandangan memburam.

"Tak perlu minta maaf." balas Levi, berbisik. "Kau tidak salah."

Lelaki itu melingkarkan lengannya pada pinggang Hanji.

Perempuan itu mengangguk pelan, entah untuk apa. Kemudian menegakkan sedikit tubuhnya sambil memaksa senyum.

"Sepertinya kita harus segera kembali ke markas. Berkas-berkas sudah menanti kita." kekehnya. "Terlalu lama disini membuat pikiran kemana-mana."

"Baguslah kalau kau masih ingat betapa menumpuknya berkas yang harus kita urus, Hanji." balas Levi, sambil melepas lengannya dari pinggang perempuan itu.

Lelaki itu memandang pada pemilik surai coklat itu, lalu pada wajahnya yang tak dihiasi kacamata.

" Kapan kacamatamu selesai?"

"Paling lambat seminggu. Tapi Paman mengusahakan agar bisa dikirim lima hari lagi." balas Hanji cepat. "Memangnya kenapa?"

Levi mendecih. "Kau mengerikan tanpa kacamatamu."

Hanji terkekeh mendengar jawaban Levi.

"Oh iya, Levi. Kau tau tidak?" tanya Hanji sok misterius sambil mengulum senyum. Lelaki itu memandang rekannya dengan pandangan horor. Firasatnya cukup buruk sekarang.

"Aku terlupa membawa uangku, lho. Hehehe." cengir Hanji, seolah tanpa dosa. Levi hanya bisa menghela nafas kasar sambil mengumpat dalam hati.

Inilah, Hanji kembali menjadi Hanji yang ceroboh.

Syukurlah tadi ia berjaga-jaga. Membawa uang milik Hanji yang ia raih dari atas meja ruangan perempuan itu.

Kalau tidak, habis sudah reputasi Chousa Heidan!

.

.

Halo! Maaf baru update chapter terbaru (╥﹏╥)
Efek dari kuliah di semester-semester tua bikin aku lupa update fanfik di platform ini :(
Semoga setelah ini bisa rutin update fanfik, terutama fanfik LeviHan lagi mumpung animenya belum tamat.
Oh iya, gimana kesan-kesan kalian sama manga chapter terakhir? Lega? Sedih? Kecewa?

Sampai jumpa di cahpter-chapter selanjutnya, ya! Dadah!