KACAMATA HANJI (4)

[1 tahun setelah pertempuran di Shiganshina]

Disclaimer :
Shingeki No Kyojin © Hajime Isayama
All characters belongs to Hajime Isayama.

Warning:
Typo(s), OOC, etc

latar terinspirasi dari salah satu smartpass au


Hanji menjatuhkan tubuhnya pada sofa empuk, kemudian merentangkan kedua lengannya lebar-lebar sambil merenggangkan. Sepagian penuh berkutat dengan pekerjaan membuatnya pegal.

Levi datang sambil membawa secangkir teh, untuk dirinya sendiri, tentu saja. Rekan perempuannya yg melihat cangkir dengan asap yang mengepul diatasnya seketika mencebik.

"Kupikir kau akan membuatkanku juga."

"Buat sendiri sana. Aku bukan pembantumu." balas Levi sambil mendudukkan diri pada salah satu kursi, meletakkan cangkir pada meja, kemudian memeriksa lembaran dokumen yang terhampar dihadapannya.

Hanji mengerucutkan kedua bibirnya, lalu beringsut menuju pantry ruang. Membuat secangkir teh untuk dirinya sendiri.

Tak lama, Hanji kembali. Sebagaimana Levi, ia kembali bergumul dengan berkas-berkas dihadapannya. Berkali-kali ia memijat pelipisnya, pusing memilih kata saat menulis laporan perkembangan divisi mereka.

Hingga satu jam kemudian, hanya suara cangkir berdenting dan kertas-kertas yang terdengar. Mereka berdua benar-benar fokus sampai tak sempat mengobrol.

Namun, hal itu pula yang membuat Hanji bosan. Amat bosan. Setidaknya, untuk sedikit menghibur diri dari kebosanan ia beberapa kali melirik pada Levi. Wajahnya yang serius dengan dahi berkerut serta gaya khasnya saat memegang cangkir teh entah kenapa menjadi hiburan tersendiri buat Hanji.

Ah, ngomong-ngomong Hanji amat suka memperhatikan gaya khas Levi saat memegang cangkir itu lalu menyesap isinya. Unik. Menarik. Sayangnya susah ia praktikan. Nyaris ia pernah menjatuhkan cangkir saat mencoba meniru gaya Levi itu. Saking tak tahan pada panas di ujung cangkir yang ia pegang.

"Memangnya tidak panas ya ditangannya? Atau tangannya memang tahan panas?" bisik Hanji tanpa sadar.

"Kau bicara apa, huh?"

"Heh?" respon Hanji bingung, kemudian menepuk dahinya sendiri saat menyadari bahwa lelaki itu sedang mempertanyakan 'igauan'nya.

"Hehe, abaikan saja, Levi."

"Tch. Kau akhir-akhir ini sering mengigau, Hanji." balas lelaki itu, kedua tangannya merapikan kertas-kertas, meletakannya di sudut meja kerjanya. Tak lama ia bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju pintu.

Semua itu tadi tentu tak lepas dari perhatian Hanji.

"Kau sudah selesai, Levi? Sekarang mau kemana?" tanya perempuan itu penasaran.

Levi melirik sekilas pada Hanji. Lalu matanya kembali mengarah pada pintu. "Aku sudah selesai. Sana selesaikan pekerjaanmu." Entah efek lelah, lelaki itu lebih ketus, terus berjalan keluar.

Hanji hanya bisa mengedikkan bahu dan meneruskan pekerjaannya.


Jam makan siang sudah lewat, tetapi lelaki itu masih juga tak terlihat setelah tadi meninggalkan ruangan lebih dulu. Hanji jadi penasaran sendiri, kemana perginya lelaki bersurai hitam itu? Apalagi sampai melewatkan jam makan siang, tak biasanya.

Sambil membawa nampan berisi makanan untuk Levi, Hanji menuju lokasi biasanya lelaki itu mendekam bila lelah mengurus tugas 'kantoran'. Sebuah ruangan berisi beberapa samsak tinju yang biasanya digunakan prajurit untuk melatih fisik mereka saat musim gugur dan musim dingin tiba.

Mereka sebut ruang latihan.

Benar saja, saat ia membuka pintu ruangan, ia langsung mendengar suara pukulan-pukulan keras pada samsak. Tak ada prajurit lain yang bisa memukul sampai bersuara keras seperti itu selain Levi. Yha, tentu saja faktor darah Ackerman-nya membuat kekuatannya dalam memukul dan sebagainya menjadi amat kuat.

"Levi..." panggil Hanji pelan, sambil mengintip pada ruangan. Dan yang ia lihat adalah lelaki bersurai hitam yang sedang bertelanjang dada, kini menendangi samsak tanpa ampun.

Hanji seketika membeku, meneguk ludah kasar saat melihat penampilan lelaki itu. Shirtless, dengan keringat yang membasahi tubuh bagian atasnya. Jangan lupa pahatan otot, terutama otot perutnya yang eightpack, nyaris sempurna pada sepanjang tubuh lelaki itu, membuat Hanji berteriak gemas,

"Levi! Buruan pakai baju!"

Seketika lelaki itu menghentikan kegiatannya sambil mendecih. Seperti tak suka ada yang mengusik kegiatannya siang itu.

Sedangkan Hanji, mati-matian menahan agar wajahnya tidak memanas dan terlihat tersipu. Meski sering, bahkan nyaris tiap hari melihat Levi bertelanjang dada, tapi ia tetap saja tak bisa menyangkal bahwa tubuh Levi terlalu indah untuk dilewatkan.

"Berisik kau." desisnya sambil menatap Hanji yang tengah meletakkan nampan pada meja dekat pintu (padahal sebenarnya sedang menyembunyikan raut wajahnya dari pandangan Levi).

"Habisnya, setelah ini giliran junior putri memakai ruangan ini dan kau masih disini, telanjang dada pula."

"Memangnya masalah, huh?" balasnya sambil menatap Hanji dalam-dalam.

Hanji mendecih. "Kau tau kan junior-junior putri baru kita masih sibuk membicarakan ketampananmu-lah, tegapnya tubuhmu-lah, sangarnya dirimu-lah, sampai muak aku mendengarnya. Ditambah, kau sendiri yang mengomel saat tak sengaja mendengar mereka menggosip tentang dirimu. Jadi, aku cuma ingin mengantisipasi sebelum mereka datang kau sudah berpakaian lagi." cerocosnya sambil menyedekapkan tangan.

Sambil melepas perban yang melingkari kedua tangannya, alis lelaki itu terangkat sebelah. Kemudian melirik Hanji.

"Hoo. Jadi kau cemburu?"

Hanji melirik malas pada Levi. "Aku? Cemburu? Hahaha." ia tertawa datar.

Perempuan itu berjalan mendekati Levi, lalu melemparkan kemeja putih pada lelaki itu, bergestur menyuruhnya segera memakai kemejanya itu. Levi segera menangkapnya dan memakainya cepat.

"Apa kau tak lelah habis mengurusi tugas di kantor langsung melatih kekuatanmu disini? Sampai melewatkan makan siang pula." tanya Hanji sambil mengambil duduk pada lantai dekat Levi berdiri. Lelaki itu kembali melirik rekannya sambil menggeleng.

"Duduk berjam-jam di ruangan membuat tubuhku kaku, kau tau. Menyebalkan. Aku perlu melatih tubuhku lagi supaya tidak kaku."

Hanji mengangguk-angguk pelan. Kemudian mendangak memandang Levi yang masih berdiri sambil merapikan pakaiannya.

"Buruan makan. Setelah ini kita harus segera berangkat. Kuharap kau tidak lupa."

"Hmm. Undangan dari Historia itu ya?"

Hanji mengangguk cepat. "Tepat! Kita harus sampai sebelum matahari terbenam."


Mentari belum sepenuhnya terbenam saat mereka berdua turun dari kuda tunggangan. Setelah mengikatkan tali kekang kuda pada kandang, mereka bergegas masuk ke bangunan yang menjadi tujuan mereka.

Sebuah panti asuhan yang dahulu digagas oleh Historia.

Letaknya berada di tengah-tengah lahan pertanian subur yang cukup luas, didesain begitu agar nantinya anak-anak panti bekerja di ladang untuk mencukupi kebutuhan makanan di dalam panti.

Sore itu, anak-anak panti yang berumur belasan sibuk mengangkati peti-peti berisi kentang dan sayur lainnya menuju salah satu kereta kuda. Kemunculan Hanji dan Levi tentu saja menarik perhatian mereka.

"Sshh... Bukannya itu Komandan Hanji dan Kapten Levi?"

"Wah, iya! Itu mereka!"

"Aku baru pertama kali ini lho melihat mereka!"

"Wah, ada acara apa? Kenapa mereka berkunjung kemari?"

"Hm, kudengar, akan ada pertemuan antara mereka dengan pengurus panti, juga dengan Yang Mulia Ratu!"

"Hah? Yang Mulia Ratu juga kesini? Aku mau lihat nanti!"

Bisik-bisik antusias mereka terdengar sampai telinga Hanji dan Levi. Hanji mengulum senyum senang, lalu menoleh pada anak-anak itu sambil melambaikan tangan.

"HAAAAIIII!" teriak Hanji, sambil terus melambaikan tangan ke arah mereka.

Senyum bahagia merekah seketika dari anak-anak itu. Sontak mereka membalas lambaian tangan dengan semangat sambil ikut berteriak memanggil-manggil Hanji dan Levi. Jarang-jarang kan ada orang militer yang seramah Hanji?

Sedangkan Levi terus berjalan sambil sesekali melirik pada Hanji yang antusias dan pada anak-anak disana. Tentu saja tanpa ada seulas senyum.

Langkah kedua orang itu makin mendekati pintu utama panti. Disana terlihat dua orang dewasa yang siap menyambut mereka, bersama dengan beberapa bocah berumur lima tahunan yang menempel pada dua pengurus panti itu.

"Selamat datang, Komandan Hanji dan Kapten Levi. Silahkan masuk!" sambut seorang pengurus perempuan bersurai pirang panjang, sambil menyunggingkan senyum hangat. Disamping kiri kanannya ada dua bocah yang memperhatikan Hanji dan Levi bergantian dengan pandangan penasaran.

"Terima kasih sudah mau menerima kami!" balas Hanji sambil kemudian mengelus kepala salah satu bocah itu, membuat bocah itu tersipu malu.

"Tentu saja! Sebuah kehormatan besar menjamu petinggi militer seperti Anda berdua. Mari saya antarkan ke ruangan." ucapnya sambil mengajak Hanji dan Levi. "Ruangannya ada di pojok kanan sana. Tapi tidak terlalu besar, semoga Anda tidak keberatan."

Sepanjang langkah mereka, berkali-kali beberapa bocah muncul sambil memandang penasaran pada Hanji dan Levi. Seakan melihat orang asing (tentu saja!) juga melihat dua legenda hidup perang Shiganshina. Sepanjang langkah pula Hanji menyunggingkan senyum ramah pada anak-anak itu, sambil menatap gemas. Berkali-kali pula ia ingin sekedar menjawil pipi anak-anak itu, kalau tidak ditahan Levi.

Sampai mereka mendengar suara tangis bayi pada suatu ruangan, yang membuat Hanji penasaran.

"Kupikir kalian tidak menerima bayi."

"Memang. Hanya saja, khusus yang ini pengecualian." jawab perempuan pirang itu.

"Begitu ya?"

"Kalian mau melihatnya? Sambil menanti Yang Mulia Ratu datang." tawarnya kemudian. Seketika bola mata Hanji membulat. Senang. Antusias.

"Bolehkah?"

"Tentu saja."

Kemudian, mereka bertiga menuju satu ruangan lengang. Hanya ada satu ranjang bayi disana dan satu set meja kursi sofa, dengan seorang perempuan muda bersurai pirang juga yang sedang menggendong bayi.

Hanji nyaris terpekik saat melihat perempuan itu.

"Bianka!"

"Eh? Komandan Hanji?"

Levi dan pengurus tadi menatap mereka berdua bergantian.

"Kalian sudah saling kenal?" tanya perempuan pirang itu memastikan. Bianka dan Hanji mengangguk cepat.

"Kami pernah bertemu di pasar kota, beberapa bulan lalu." jawab Hanji cepat.

Perempuan pirang mengangguk-angguk. "Kalau kutinggal Anda berdua disini dengan Bianka, boleh kah? Sebab saya harus menyambut Yang Mulia Ratu."

"Tak masalah. Terima kasih sudah menemani kami." balas Hanji sambil tersenyum, diikuti anggukan kepala Levi. Kemudian perempuan pirang itu pamit.

Perhatian Hanji lalu tertuju pada bayi dalam gendongan Bianka. Bayi yang masih amat mungil, terpejam seakan menikmati ayunan pada gendongan Bianka.

"Berapa bulan?" tanya Hanji, sambil menyentuh jemari bayi itu hati-hati. Seketika ia merasakan kelembutan pada kulit halus itu. Begitu lembut, hingga Hanji merasa gemas sendiri. Levi sendiri memilih memperhatikan mereka dari dekat pintu. Sedikit tidak tertarik. Ia malah lebih tertarik pada antusiasme Hanji saat melihat makhluk mungil itu.

"Baru 3 bulan."

Hanji mengangguk-angguk sambil terus menyentuh jemari lembut itu. Tak kuasa menahan gemas, ia kemudian menjawil pipi si mungil, membuat bayi itu membuka matanya pelan. Hanji makin antusias melihat mata bulat itu.

"Sekecil ini, sudah ditinggal ibunya?" tanya Hanji penasaran.

"Hu-um. Ibunya pergi meninggalkannya, bahkan kami belum sempat memberitahukan jenis kelamin si kecil ini pada ibunya." jawab Bianka sambil menatap sendu pada bayi di gendongannya. "Ibunya meninggal karena pendarahan hebat setelah melahirkan."

Mata Hanji dan Levi sama-sama membulat. Nyaris kehilangan kata-kata.

"Ibunya seorang, maaf, pelacur di kota. Entah bagaimana ia hamil, dan sialannya rumah bordil tempat ia bekerja mengusirnya begitu saja. Sampai ia datang ke panti ini, tentu saja saat itu kami ragu menerimanya. Tapi, karena kehamilannya yang sudah besar, kami menerimanya. Yang kami salut, meski sudah hamil besar ia masih memaksakan diri untuk membantu kami. Terutama memasak." kisah Bianka sambil terus mengayun-ayunkan gendongannya pada si kecil. "Sayang, dia sejak awal sampai disini memang sudah kurang sehat. Sepertinya faktor kurang gizi saat masih berada di rumah bordil. Saat melahirkan, dia pendaharan hebat. Kami tak bisa menyelamatkannya. Hanya bisa menyelamatkan si kecil ini."

Hanji, menatap sendu pada bayi itu. Sedangkan Levi membeku sejenak di tempatnya. Mendengar cerita Bianka, tiba-tiba saja ia teringat ibunya sendiri. Kuchel...

"Namanya Nardo," Bianka melanjutkan. "ibunya berharap ia menjadi lelaki kuat."

Hanji tersenyum lembut sambil menatap bayi itu. "Ya. Dia pasti akan jadi lelaki kuat."

Tiba-tiba seorang anak berumur enam tahunan merengsek masuk ke dalam ruangan dengan wajah bingung.

"Mama Bianka! Leo jatuh dari ranjang atas!"

"Astaga! Mama kesana secepatnya." kemudian Bianka jadi bingung sendiri, apalagi Nardo masih berada di gendongannya dan sedikit rewel karena ada yang berteriak tadi. Bianka memandang Hanji sekilas. "Maaf merepotkan, tapi bisakah saya minta tolong menggendong Nardo?"

"Tentu saja. Biar ku gendong si kecil ini." balasnya senang. Tak lama, Nardo sudah berpindah pada gendongan Hanji, dan Bianka keluar menyusul anak tadi.

Levi melirik pada Bianka yang keluar sekilas, lalu beralih pada Hanji yang menimang-nimang Nardo dengan lembut.

"Hei, Levi. Sini. Lihat deh." bisik perempuan bersurai coklat itu dengan wajah berbinar. Dengan sedikit malas, Levi melangkah mendekati Hanji. Berdiri tepat disampingnya.

"Lihat! Warna rambutnya coklat, dengan warna mata dan bentuk hidung yang mirip denganmu!" ucap Hanji antusias. Levi mengerutkan dahi. Apa maksudnya sih?

"Lucu ya?" ucap Hanji lagi, sambil membiarkan tangan Nardo meraih wajahnya, dan menyentuh sembarangan. Levi hanya memperhatikan tingkah makhluk mungil itu, sambil menahan diri untuk tidak ikut-ikutan menyentuh kulit bayi itu.

"Eits, Nardo Sayang, jangan ambil kacamataku dong." kekeh Hanji kemudian saat jemari mungil itu meraih kacamatanya dengan susah payah, sampai benda bergelas itu miring dan nyaris terjatuh dari Hanji. Levi segera membenarkan letak kacamata pada wajah Hanji, dengan perasaan sedikit kesal dan ... cemburu? Tapi, cemburu pada bocah bayi? Yang benar saja!

"Tch. Baru berumur dua hari, dan kini nyaris hancur lagi?"

"Hehe, maklumi Nardo, Levi. Dia hanya penasaran dengan benda di sekitarnya." jelas Hanji, kini menyentuhkan hidungnya pada hidung Nardo.

Levi hanya bisa memandang heran pada Hanji, kenapa dia bisa seantusias itu pada makhluk yang bahkan belum bisa berbicara?

"Jangan memainkan dia terus, Hanji. Dia bukan mainan."

"Ya ya, aku tau Levi. Tapi, aku tak tahan dengannya. Lihat! Dia begitu menggemaskan bukan?" sahutnya riang gembira. Levi mendecih.

Kemudian, Nardo menguap pelan, dan gerakannya melambat. Matanya tiba-tiba sayu.

"Mengantuk ya?" tanya Hanji sambil menatapi wajah Nardo. Perempuan itu membenarkan gendongannya, kemudian menyentuhkan pipinya sendiri pada pipi gembil (tembem) Nardo.

Levi, karena mulai bosan, nemilih duduk di salah satu kursi sambil memandang Hanji, lagi. Entah kenapa ia jadi suka melihat Hanji versi seperti ini. Lembut, anggun, dan keibuan. Tidak seperti biasanya yang rusuh dan berisik.

GutenAbend, gute Nacht

"Hoi, Hanji, ini belum malam, kau - " protes Levi, namun saat ia melihat Hanji lagi, ia terenyuh.

Hanji sedang me-nina bobo-kan Nardo, menyanyikan lagu pengantar tidur dengan suara yang lembut dan menenangkan. Hingga si kecil dalam gendongannya mulai terpejam dengan wajah tenang.

Levi menatap Hanji yang memunggunginya dengan takjub. Tak pernah ia melihat sisi Hanji seperti ini. Apalagi menyanyikan lagu dengan nada yang tepat dan suara lembut. Selama ini Hanji selalu sembarangan saat menyanyi, semua nada salah dibuatnya, membuat kuping siapapun yang mendengarnya sakit.

Tapi, ini berbeda. Sisi Hanji yang membuat Levi diam-diam menyunggingkan senyum amat tipis.

Mit Rosen bedacht
MitNägleinbesteckt
Schlupfunter die Deck

Morgen frühwennGott will
Wirst du wiedergeweckt
Morgen frühwennGott will
Wirst du wiedergeweckt
(Guten Abend Gute Nacht - Johannes Brahms's Wiegenslied/Brahms Lullaby, 1868)

Saat Hanji selesai bernyanyi, Nardo sudah benar-benar pulas, membuat Hanji memutuskan untuk membaringkannya pada ranjang bayi di sudut sana.

"Kau sepertinya sangat senang." ucap Levi sambil memandang Hanji yang kini melangkah mendekati kursi seberang tempat ia duduk.

"Tentu saja! Jarang-jarang aku bisa menimang bayi. Dan tadi itu rasanya menenangkan."

"Begitu ya?"

Hanji mengangguk mantap.

"Eh, ku pikir sebaiknya aku mengecek ke depan. Mungkin saja Yang Mulia Ratu sudah datang. Kau ikut, Levi? Atau mau langsung ke ruang pertemuannya?"

"Hm, kupikir aku ke ruangan saja." balas Levi.

"Kalau begitu, aku ke depan dulu ya! Daah!" pamit Hanji sambil bergegas keluar ruangan. Sementara Levi, entah kenapa masih bertahan di ruangan itu.

Tepat saat ia berdiri dan bersiap melangkah meninggalkan ruangan, suara-suara rengekan kecil terdengar olehnya. Nardo. Si kecil itu menggeliat pelan dengan tak nyaman.

Levi, tanpa sadar mengampiri ranjang bayi itu, memandang penasaran pada Nardo yang kini mulai menangis.

Lelaki itu akhirnya meraih tubuh kecil itu, sambil mengingat-ingat cara Hanji tadi menimang Nardo. Yang kemudian, Nardo berangsur tenang dalam timangannya.

Jujur saja, Levi merasa aneh saat bersentuhan dengan kulit lembut makhluk mungil itu. Tapi kelamaan, seperti kata Hanji, ada sensasi menenangkan yang muncul.

Memberanikan diri, lelaki itu mengelus-elus kepala Nardo selembut mungkin.

Levi tak sadar, saat itu ada sepasang mata yang memperhatikan dengan mata berbinar.

Ya. Hanji. Setelah didesak Bianka untuk menunggu di ruang pertemuan saja, Hanji segera ingin menghampiri Levi. Ia kira lelaki itu sudah di dalam ruangan pertemuan, tapi saat melewati ruangan tempat Nardo tadi ia malah melihat Levi yang menimang-nimang si kecil yang sempat rewel itu. Membuat wajah Hanji perlahan memanas karena tak sanggup melihat lelaki itu menimang bayi.

Takjub, gemas, senang menjadi satu. Levi yang ia kenal tak mau berurusan dengan anak-anak apalagi bayi, kini malah menimang makhluk mungil itu dengan lembut. Entah kenapa dadanya berdesir halus, kemudian seperti ada letupan-letupan kecil mengikutinya.

Sisi Levi yang lembut seperti ini tak pernah ia bayangkan. Seakan seluruh anggapan bahwa ia kasar seketika roboh. Ditambah aura kebapakan yang menguar, membuat Hanji semakin senang.

Perlahan ia memasuki ruangan itu, sambil terus memperhatikan Levi dan Nardo dalam timangannya.

"Kau cocok juga jadi seorang ayah, Levi." senyum Hanji merekah, kemudian mencium kepala si kecil.

Dan Levi mendengus sebal.

"Apa Historia sudah datang?" tanya Levi, mengalihkan topik. Hanji menggeleng.

"Sebentar lagi mungkin." jawabnya sambil asik memperhatikan Levi yang menimang.

Lelaki itu tersadar akan sesuatu, dan setelah memastikan Nardo sudah pulas kembali, Levi membaringkan si kecil pada ranjang lagi.

"Sebaiknya kita menunggu di ruang pertemuan saja, Hanji." ucap lelaki itu sambil melangkah keluar ruangan. Sedangkan Hanji hanya bisa memandang heran rekannya itu.


Malam semakin larut. Levi dan Hanji sama-sama baru keluar dari kamar mandi setelah sampai dari panti asuhan tadi. Ah ya, mereka mandi di tempat yang berbeda kok.

Sejujurnya Hanji sedang malas mandi. Efek lelah, ia tadi benar-benar ingin langsung tidur saja setelah berganti pakaian. Namun, melihat Levi yang siap menyeretnya ke kamar mandi membuatnya buru-buru pergi mandi sendiri. Gawat kalau Levi ikut mandi dengannya. Bisa-bisa tubuhnya terasa remuk sampai besok pagi.

Suara decitan pintu terdengar pelan, membuat Hanji menoleh kearahnya. Levi masuk dengan menyedkapkan kedua tangannya di depan dada.

"Ada apa, Levi?"

"Tak ada. Hanya memastikan kau sudah mandi dengan benar." balas lelaki itu, kemudian beranjak meninggalkan kamar Hanji.

"Eh eh eh, Levi!"

"Hm?"

"Ng, tidur disini saja." ucap Hanji pelan sambil menyengir. "Besok pagi ada rapat, bukan? Sedangkan kau sepertinya akan terkena insomnia parah lagi. Jadi yha tidur disini saja supaya kau nyenyak."

Levi menatap Hanji datar, kemudian melanjutkan langkah keluar. "Baiklah. Aku mengunci kamarku dulu."

Hanji tersenyum senang.

"Bilang saja malam ini kau mau tidur memelukku, Hanji." sindir Levi, berbisik, sebelum ia berbelok menuju kamarnya.

Sudah bukan rahasia lagi diantara mereka, bahwa Levi entah bagaimana bisa tidur lebih nyenyak dan panjang saat seranjang dengan Hanji. Begitu pula dengan perempuan itu. Entah bagaimana tidurnya bisa lebih tenang saat memeluk Levi. Dan akhirnya mereka jadikan itu sebagai hubungan saling menguntungan mereka. Simbiosis mutualisme.

Tak lama, Levi masuk ke kamar Hanji, mendekati ranjang Hanji dan melepas atasannya. Ia lebih sering tidur bertelanjang dada.

Hanji sendiri sudah berbaring diatas ranjangnya, dengan selimut yang menutup sampai sebatas dada.

"Jangan lupa bangunkan aku, Levi." cengir Hanji sambil menggeser tubuhnya merapat ke dinding, memberikan ruang pada ranjang untuk lelaki itu.

"Pilih mana? Ku tendang dari sini atau ku banting?" tanya Levi sambil membaringkan diri diatas ranjang. Sebelah lengan Hanji langsung memeluk tubuh lelaki itu.

"Aku pilih ciuman selamat pagi saja." kekeh Hanji sambil tersenyum simpul.

"Tch, mimpi sana!" dengus Levi sambil memejamkan mata. Tentu saja ia tak langsung tertidur. Butuh waktu sedikit lebih lama agar ia bisa tertidur.

Yang lelaki itu rasakan kemudian adalah wajah Hanji yang menempel pada tubuhnya. Dan lagi-lagi, hangat tak biasa dari wajah itu.

"Hoi. Kau demam, Hanji?"

Hanji menggeleng pelan. Tak lama terdengar dengkuran halus darinya. Ia mulai memasuki alam tidur.

Levi mengerutkan dahinya. Terheran. Namun ia memutuskan untuk tak ambil pusing. Sebelah tangannya terjulur pada kepala Hanji. Mengelus pelan kemudian jemarinya menyisiri surai-surai coklat milik rekannya itu. Sambil menanti ia sendiri terlelap.

Di sela-sela itu, ia merasakan cairan hangat menempel pada kulit tubuhnya. Ia melirik sekilas. Air mata Hanji. Perempuan itu menggumam tak jelas di tidurnya.

Tapi ada satu kalimat yang ia tak sengaja tangkap, membuatnya hanya bisa membelai wajah rekannya itu.

Levi, jangan pergi...

Sebuah kalimat yang terngiang terus di kepalanya.

Dalam gelap ia menatap jauh pada langit-langit kamar, masih dengan jemarinya yang menyisiri rambut Hanji. Matanya terasa berat. Kantuk mulai datang.

Tak lama, ia pun terlelap.

.

.

.

Hai! Terima kasih sudah membaca fanfik "Kacamata Hanji" ini ya! Semoga kalian suka :3
Mungkin kalian ada yang pernah membaca fanfik ini di platform oren (watty) wkwk Tenang aja, pemilik akunnya orang yang sama kok hehe

Oke! See you on the next next chapter ya! Luv luv yu all!