Dengan lengan yang bergerak lemah, jemari Hanji membuka satu per satu kancing kemeja. Melemparnya sembarang arah. Bodo amatlah. Diteruskan dengan membuka celana panjangnya dengan susah payah.
Levi melihat itu semua sambil meneguk ludah berat. Sebab, dibalik kemeja Hanji, tak ada penutup dada sama sekali. Apalagi bra.
Maka tonjolan dada yang tak seberapa itu, langsung menyembul menyapa penglihatan lelaki itu.
SPECIAL MISSION : MAKE HANJI TAKE A BATH (2)
featuring Levi, Hanji
Disclaimer : Shingeki No Kyojin © Hajime Isayama
All characters belongs to Hajime Isayama.
maybe a little out of character
Dengan gerakan ogah-ogahan, Hanji melempar celana panjang beserta celana dalamnya ke arah Levi. Lelaki itu menghindar cepat dengan wajah jijik.
"Tch! Kau makhluk paling menjijikkan yang pernah ku temui."
"Dan kau laki-laki paling mesum yang mau menonton tubuh telanjang tapi dengan modus memandikannya. Menjijikkan." cibir Hanji.
Levi mendecih lagi.
"Lalu, apa lagi?" tanya Hanji dengan gestur malas, berpose santai di dalam bathub. Mulutnya mengerucut. Levi menghampiri dengan membawa semangkuk berisi air sabun dan sebuah luffa yang berfungsi sebagai spons.
"Berbalik." titah Levi, mengambil bangku kecil lalu duduk disana.
"Berbalik?" sebelah alis Hanji terangkat. "Untuk apa?"
Levi mendecih untuk kesekian kali. "Kau mulai pikun, ya? Kau pikir aku akan melakukan apa selain memandikanmu?"
"Menonton tubuh telanjang seperti ini, secara cuma-cuma." cibir sang surai cokelat. "Benar kan?"
Entah berapa kali Levi mendecih hari ini. Yang jelas, Ia mendecih terlalu banyak selama berada di kamar mandi Hanji. Jangan salahkan, toh kelakuan Hanji membuatnya menahan emosi sepanjang waktu.
Lelaki tak semampai mulai tak mempedulikan omongan Hanji. Lebih memilih menyelesaikan tujuannya hari ini, di kamar mandi itu. Ingin sekali Ia menyelesaikan acara memandikan Hanji itu secepatnya, lalu pergi ke dapur untuk menenangkan diri dengan secangkir teh hitam premium.
Tanpa basa-basi, tubuh Hanji diputar paksa. Memunggungi lelaki itu. Lantas Ia meraih luffa dari satu mangkok kayu, lalu mencelupkannya pada mangkok lainnya berisi sabun dan air.
Acara memandikan dimulai. Dengan tega Ia siram Hanji dengan seember air bersih.
"SIALAN KAU! TEGA SEKALI!"
Levi memilih tak mengindahkah omelan dan lengkingan Hanji. Menulikan telinganya sendiri.
Lantas lelaki tak semampai mulai menggosok punggung perempuan di depannya dengan air sabun. Menggosoknya keras-keras sampai Hanji menjerit tertahan dan mencipratkan air sebanyak mungkin pada lelaki itu.
Namun Levi bergeming. Tetap menggosok kulit yang penuh daki itu dengan tatapan jijik. Untung saja Ia sudah memakai sarung tangan tahan air, agar daki-daki itu tak menyentuh kulitnya.
Punggung telah selesai digosok. Jauh lebih bersih dibanding tadi.
Seketika Levi terenyuh. Ternyata warna kulit Hanji lebih muda dibanding yang selama ini Ia lihat. Dan lebih halus dibanding yang Ia kira.
Jemarinya nyaris menyentuh kulit itu, saat menyadari nafas Hanji yang terengah. Sepertinya lelah menahan jeritan tertahan.
Buru-buru Ia mengalihkan atensinya. Memindahkan kedua tangannya ke arah pundak, mulai menggosok disana. Hanji kembali mengomel dan menjerit tertahan. Tentu saja karena Levi yang tak tau kasihan saat menggosok. Sekali gosok, kulit itu seketika bebas daki.
Selesai menggosok pada pundak, lalu apa lagi?
Levi melirik pada bagian bawah tubuh Hanji.
Area pinggul, pinggang, apalah itu.
Awalnya, dengan santai saja Ia meletakkan luffa pada pinggul itu,
"A—apa yang mau kau lakukan, Cebol Mesum? K—au mau menggosok bagian—ah, lupakan! Sana pergi!"
Levi terperanjat. Ditambah suara Hanji yang terdengar lebih serak daripada biasanya.
Seketika kedua tangannya bergetar hebat. Tremor. Dan nafasnya menjadi tak karuan.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Kacamata Sialan! Aku masih mengerti batasan!" ucap lelaki itu cepat.
"Batasan?"
Levi buru-buru memalingkan wajah. Melemparkan luffa pada perempuan itu.
"Sana, gosok sendiri yang lainnya."
Hanji meraih luffa dengan ragu.
"Yang bersih." Levi menghela nafas tertahan. "Aku akan mengawasimu dari pintu."
Hanji mendecih. "Kenapa tidak sekalian saja kau keluar, hah? Aku bisa mandi sendiri, Cebol!"
"Apa kau bisa menjamin kau menggosok dengan benar setiap jengkal tubuhmu, huh?"
"Tingkat kebenaranku dan kebenaranmu beda, Cebol! Tak perlu mengguruiku!" omel Hanji. Levi mendecak.
"Sama saja kalau kau tak menggosok dengan benar hingga bersih. Kau akan sama baunya dengan yang tadi." desis Levi.
Hanji menahan nafas sebal. Mengerucutkan bibirnya sambil memaki-maki Levi tanpa suara.
"Baiklah, Cebol! Baiklah! Sana ke pintu!" usirnya sambil menghempaskan air ke arah Levi.
Lelaki itu lantas melangkah ke arah pintu. Berdiam disana.
Dan memperhatikan Hanji menggosok tubuhnya...
...dengan nafas tertahan.
Levi, tentu saja masih normal. Mana mungkin Ia tak terpancing melihat makhluk berbeda kelamin darinya, hanya berjarak sekian sentimeter, bertelanjang, dan sedang menggosok tubuhnya sendiri?
Sialnya, Levi yang selama ini melihat Hanji sebagai makhluk absurd dengan tingkah macam titan abnormal, tiba-tiba saja melihat perempuan itu sebagai sosok yang punya gerakan sensual.
.
.
.
(Bersambung)
