Bila aku menggapaimu, apakah nanti aku akan merusakmu?
Isogai termenung, pandangannya tefiksasi pada vas berisi mawar di atas meja, seakan membelai kelopak-kelopak bunganya dengan tatapan kosong setelah menghabiskan setengah jam terduduk di sofanya, tangannya terkulai di samping. Ketika matanya terfiksasi pada duri-duri di mawar itu, rasanya pikirannya teriris-iris, punggungnya seakan-akan merosot ke dalam sandaran. Ia ingin sofa itu memberangusnya, lalu bumi juga ikut menelannya bulat-bulat.
Ia tahu, ia memiliki kebiasaan paling buruk untuk melibatkan perasaannya dalam setiap kasus. Simpati, menjadi empati, kasih melawan antipati, kepekaannya selalu berbalik berlari mengejarnya. Betapa jauh ia mengasah otaknya, hatinya akan mendorongnya jatuh pada lubang yang sama, lagi dan lagi. Demikian, anak itu adalah keberadaan yang tidak pernah luput dari pikirannya. Tidak ada yang merengkuhnya lebih dalam ke pikirannya, lika-liku liar, hutan berduri yang membuat tersesat hati nuraninya. Malaikat menelan kegelapan, lalu memuntahkan harapan-harapan palsu untuk dikejarnya.
"Buat aku bernafas lagi."
Anak itu menggenggam kerahnya, mata mereka saling bertemu, bertukar hal yang lebih dari kata-katanya. Pria itu bergetar, entah itu dari tubuhnya atau kepalan tangan Karma yang melemah, jari-jemarinya mencari sesuatu. Seketika itu, nafasnya begitu dekat, entah itu yang ia andai-andaikan, membuat Isogai menggeleng-geleng kepalanya, memikirkan segala kemungkinannya. Tapi ia mengingat begitu jelas, Karma, bulu matanya menurun, matanya menatap ke bibir pria itu, lalu menatap kembali matanya, seperti hendak mengecup bibirnya.
"Buat aku bernafas-"
Justakposisi kelopak-kelopak mawar di depannya menyatu dengan imaji helai-helai rambut Karma yang merah, nafasnya yang seperti hendak tercabut dari dadanya. Jari-jemari Isogai memegang bibirnya kembali, tersirat air muka Karma yang menyayatnya. Di antara gelapnya ruangan tak disinari lampu, bulan menerangi kamarnya, meniriskan siluet-siluet biru yang merekahkan warna merah mawar, kelopaknya menjadi saksi bisunya yang terduduk di vas bunga.
Sesaat sebelum bibir mereka bertemu, kelopak matanya tertutup, Karma terjatuh kembali ke kasur. Pada saat itu Isogai merasa nafasnya terenggut dan jantungnya seperti terhenti. Perasaan itu begitu familier, meskipun ia ingin menyangkalnya. Cara Karma menatapnya, gesturnya, mengingatkannya pada masa lalu. Matanya terbelalak, hatinya tertusuk oleh hal-hal yang ingin ia lupakan.
"Isogai, aku mencintaimu." Kata-kata pria itu, memori itu merobek lamunannya.
Seperti halilintar menyambar tubuhnya, Isogai meloncat, berdiri. Mata emasnya terbelalak, jari-jarinya menangkup mulutnya.
"Tidak, tidak mungkin.." Isogai berbicara pada ruangan kosong.
Hari-hari bersama anak itu. Karma yang perlahan-lahan mengulurkan tangannya padanya, mempercayainya. Teriakannya yang hilang di tengah kegelapan mencarinya. Lalu tatapan matanya yang hilang dalam menghanyutkannya, mengingatkannya bahwa dunia itu kejam, bahkan pada anak kecil sekalipun. Dunia yang tidak ragu merobek-robek sayap malaikat. Dan ketika bibir Karma hampir bertemu dengan bibirnya, seketika itu Isogai tahu.
Karma menginginkannya.
Pria itu dapat menolak kenyataan, tetapi Isogai tahu. Mata anak itu mengatakan segalanya, bahwa segalanya sudah terjadi, terlambat, terlanjur –anak itu sudah memekarkan rasa padanya. Semakin ia mendekati Karma, ia merasa ia semakin menenggelamkannya dalam perasaan yang tidak anak itu mengerti. Rasa kegagalan besar menghantamnya seperti martil, menggoyahnya lagi dan lagi. Kepalanya serasa ingin pecah.
Akabane. Aragaki.
Namanya seperti kutukan yang mengikutinya, tak luput dari waktu dan tempat. Kini pria itu, anaknya pria itu ditempatkan di sisinya. Pria itu, betapa lama ia mencoba melupakannya ia tidak mampu melakukannya. Dan sebagai hukumannya, kini Karma menggapai kehangatan darinya, kehangatan sama persis yang telah direnggut pria itu darinya.
"Kenapa, kenapa harus begini?!" teriak Isogai, menutup telinganya.
Ia mengingat belaian lembut, tungkai bersemat di atas sprei, suara hujan yang menghanyutkan segala kontrol. Meski bertahun-tahun yang lalu, ia masih mengingatnya begitu jelas. Akabane Aragaki berada di atasnya, warna rambut merahnya persis seperti milik Karma. Mata peraknya menatapnya, mengecup bibirnya. Mengatakannya hal-hal yang begitu manis, memabukkan. Tangannya membelai rambut hitamnya, lalu menciumnya. Bekas-bekas cintanya, bibirnya, belaiannya, bekas-bekas jemarinya yang tidak memiliki tanda. Lalu, gores-goresan, luka bakar, retak tulang, bekas-bekas cintanya yang sembuh namun berbekas, menandainya dari luka di sekujur tubuh Isogai. Lalu kini, orang itu tidak dapat mencintainya melukainya lagi, tidak dapat menggapainya lagi. Ia sudah tiadd, tetapi memorinya menyayatnya. Orang itu sudah tidak ada di dunia ini, tapi kontorsinya begitu dalam hingga darah dagingnya sendiri pun menghabisinya. Tetapi kini anaknya ditempatkan di sisinya, mencari kehangatan sama yang telah direnggut darinya.
Kenapa takdir harus begitu kejam?
Air matanya menetes. Setelah bertahun-tahun lamanya tidak menangis sejak ia bertemu pria itu, Isogai baru menitikkan bulir-bulir kepedihannya. Ia berdiri, terpaku dalam heningnya hembusan angin malam. Air mata panas mengucur tanpa tak berhenti, meski ia mengusapnya berkali-kali, mencoba menyekanya. Mencoba melupakannya, pria itu, Akabane Aragaki.
Bagaimanakah bisa selama bertahun-tahun ia mencintai orang yang begitu keji, begitu terlepas dari moralitas. Tapi meski ia hampir membunuhnya, menyulut tubuhnya dengan gasolin, hal itu tidak meredam hasratnya, mengharapkan orang itu untuk memenuhi kekosongannya.
Tolong Tuhan, semoga aku salah tentang Karma..
Isogai menjerit dalam penuh ketidakberdayaan. Suaranya lantang, tetapi tangannya menutup telinganya sendiri dari kesedihan pada suaranya. Pria yang ia cintai, tetapi kini sudah menjadi ayah Karma. Isogai terjatuh, tubuhnya kembali terkulai lemah terduduk di sofa. Ia menyenderkan kepalanya, pergelangannya menyeka matanya yang basah dan sembap. Sikunya menutup pandangannya, kini hanya kegelapan dan imajinasinya. Antara tangisannya yang kini bisu, ia mengingatkan dirinya bahwa anak itu membutuhkannya lebih dari siapapun. Bahwa hanya ia yang bisa melepaskannya dari belengu masa lalunya. Bahwa hanya ia yang benar-benar mengerti bagaimana Karma, anak itu, sedang menaruh harapannya pada seseorang yang lemah. Seseorang yang amat sangat lemah.
Anak kecil berambut merah itu terbayang-bayang di benaknya. Karma yang ia temui pada hari pertamanya, melepaskan murkanya padanya. Karma pada hari-hari berikutnya yang tersenyum, menjahilinya. Karma dengan permen-permen yang ia beri sebanyak jumlah tamparan yang ia lemparkan padanya. Lalu Karma di balik layar CCTV, tatapannya kosong, menolak segala makanan yang ia terima. Matanya yang coklat terang, menatapnya dengan harapan dan keputusasaan, seperti ombak dalam lautan yang tak berujung. Lalu perkataannya setelah Isogai menyelamatkannya dari membunuh dirinya sendiri.
"Buat aku bernafas lagi."
Isogai merasa nafasnya terenggut darinya.
Bila Karma melihatku seperti itu. Aku tidak bisa Tuhan, aku tidak bisa.
Tidak pernah seumur hidupnya, Isogai merasa begitu rentan.
Selamat datang pembaca lama, pembaca baru. Tak terasa aku hiatus 5 tahun ya, ternyata... Saya cuman bisa berkata maaf dan terimakasih sudah membaca, mereview, dan bersama author selama ini. Review kalian begitu berarti untukku, terimakasih yang sudah pernah review. Your support means alot to me.
.
.
