FINAL FANTASY VERSUS


084


Suara terompet berbunyi panjang dan lantang ketika ia menampakkan diri pada formasi tentara kekaisaran yang membentuk setengah lingkaran di balai Leville. Tanpa perlu memperkenalkan diri, tentu saja wajahnya telah dikenal oleh semua Niff. Ia bisa membayangkan foto wajahnya disiarkan di TV atau ditempel di poster-poster bertuliskan DIBURU DENGAN HADIAH SERATUS JUTA GIL di Gralea. Toh kematian dirinya adalah salah satu ambisi terbesar kekaisaran di samping penjajahan dunia.

Noctis tidak menyusun strategi mendetail sebelum berhadapan dengan Verstael. Ia hanya meminta Prompto untuk menjaganya lima meter di belakangnya sembari terus mengacungkan senapan agar setidaknya mereka bisa tampak agak mencekam. Namun ia tahu itu usaha yang sia-sia karena apa daya dua orang lelaki di hadapan puluhan tentara kekaisaran?

Empat orang tentara membuka formasi untuk memberi jalan bagi seorang kakek berjubah merah dan seorang petinggi militer yang mengenakan armor keemasan serupa dengan Caligo.

Verstael tampak lebih tua ketimbang hologram biru yang dipancarkan drone. Dan tentunya lebih pendek─tingginya hanya kisaran 165 sentimeter sehingga dia nyaris tenggelam dalam jubah merah panjangnya. Sedangkan ia baru pertama kali melihat lelaki berdahi lebar yang berdiri menjaga Verstael lima meter di belakang sama seperti Prompto. Sebenarnya ada berapa petinggi militer Niff? Ia sudah melihat empat: Glauca, Loqi, Ravus dan Caligo. Dan sekarang ada orang kelima yang perlu ia ingat wajahnya. Seolah-olah kekaisaran tidak pernah kehabisan personil militer, tak peduli seberapa banyak pihak Lucian membunuh mereka.

"Kehadiranmu sudah amat dinantikan, Pangeran Noctis," sapa Verstael, suaranya serak dan bergetar seperti kambing. "Kurasa kau dan temanmu di belakang itu telah melewati petualangan yang amat mendebarkan di dalam EXINERIS. Mohon maaf jika rekan kami Caligo telah menyebabkan begitu banyak kesulitan bagimu."

Meskipun kakek itu meminta maaf, parasnya menunjukkan kebalikannya─kepuasan tak terhingga tampak nyata dari senyumnya yang culas.

"Aku telah menepati janji untuk bertemu langsung denganmu," Noctis mulai berkata. Ia terus mengingatkan diri bahwa kekaisaran pandai bersilat lidah; ia harus berhati-hati dalam memilih kata-kata yang tepat sebelum lepas dari lidahnya. "Meskipun nyawaku adalah taruhannya. Aku telah menunjukkan itikad baik padamu, dan aku berharap kau juga bisa berperilaku sama denganku selama proses negosiasi ini."

"Tidak perlu takut. Aku menjamin kami tidak akan menyakitimu selama kita bernegosiasi," balas Verstael sambil melangkah mendekati Noctis. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah… Jarak di antara mereka semakin menyempit hingga menyisakan tiga meter.

"Berhenti mendekat!" seru Prompto. "Kembali mundur dan jaga jarak aman minimal lima meter dari Pangeran! Atau aku tak akan segan-segan menembakmu!"

"Sanggupkah kau menembak seorang kakek lemah sepertiku?" Verstael maju selangkah lagi.

DOR!

Sebuah peluru mendarat di lantai, dua sentimeter di samping sepatu Verstael.

"Aku tidak main-main. Maju selangkah lagi, peluruku akan melubangi kakimu," ancam Prompto. "Sekarang mundur!"

Verstael mengangkat kedua tangannya membentuk sudut 45 derajat. "Yah, yah, apa boleh buat jika kau meminta demikian. Untuk sekarang kubiarkan kau bebas mengendalikan tubuh dan pikiranmu sendiri."

"A-Apa maksudmu dengan 'mengendalikanku'?" Suara Prompto kini kehilangan intonasi mengancamnya karena bergetar. "Sewaktu di dalam EXINERIS, kau juga berkata demikian. Kau tidak akan pernah bisa mengendalikanku!"

"Omong kosong." Verstael mundur perlahan tanpa membalikkan badan, kedua tangannya telah diturunkan. "Bagimana kau bisa begitu percaya diri di saat kau bahkan tidak tahu dari mana asalmu─rumah sesungguhnya tempat kau dilahirkan."

"Kau… kau…" Prompto kehabisan kata-kata.

"Prompto, berhentilah berbicara!" perintah Noctis. Ia tidak bisa membiarkan kepercayaan diri Prompto terus digoyahkan oleh racun yang dilontarkan Verstael. "Jangan lupa bahwa negosiasi ini adalah antara aku dan Verstael. Kau hanya berperan sebagai penjagaku, seperti lelaki di belakang sana yang menjaga Verstael."

"Ma-Maafkan aku, Noct. Lagi-lagi aku terpancing oleh perkataan kakek itu."

"Benar sekali. Biarkan aku dan Pangeran berbicara empat mata," Verstael mengelus jenggot putihnya. "Bisakah kita mulai negosiasi ini? Aku telah menunggumu terlalu lama sejak kami tiba di kota ini. Nah, bisakah kau mengeluarkan Cincin Lucii untukku?"

Saatnya masuk ke menu utama. "Perlihatkan Luna dan Talcott padaku sebelum aku membiarkanmu melihat cincin itu."

Verstael mengangkat tangan kanannya dan lelaki berarmor di belakangnya mendekatinya. "Wakil Komandan Luche, atas perintah Pangeran Noctis, bawa keluar Nona Lunafreya dan bocah itu dari dalam hotel kemari."

Luche? Rasanya aku pernah mendengar nama aneh itu entah di mana. Berarti dia pengganti Ravus yang telah dipromosikan menjadi Komandan Tertinggi dari Wakil Komandan setelah Glauca tewas.

"Laksanakan!" sahut Luche. Dia pun segera berjalan cepat diiringi sepasang tentara ke dalam hotel.

Tak lama kemudian, Luche kembali bersama Luna dan Talcott yang dihimpit di tengah olehnya dan sepasang tentara di belakang.

Melihat Luna kembali dengan mata kepalanya sendiri menimbulkan sensasi rindu yang memilukan hati Noctis. Mereka terpisah tidak lebih dari setengah hari, tetapi rasanya seperti bertahun-tahun telah berlalu. Ia ingin mendekap Luna erat-erat dan bersumpah untuk yang terakhir kalinya bahwa ia tidak akan pernah lagi melepaskan kekasihnya, tak peduli apa pun yang terjadi. Melepaskan Luna terbukti malah menenggelamkan mereka ke dalam marabahaya. Jika mereka terus berdekatan, tak akan ada seorang pun yang mampu memisahkan mereka berdua lagi.

Luna tampak baik-baik saja dalam balutan T-shirt dan celana jeans; dia telah melepaskan topi sebagai alat bantu penyamarannya. Sedangkan Talcott tampak merana; kedua mata anak lelaki itu bengkak karena telah menangis berjam-jam.

"Luna, Talcott. Kalian baik-baik saja?" tanya Noctis.

"Tentu mereka baik-baik saja. Kami telah menepati janji kami untuk tidak menyakiti sang Oracle dan bocah itu," kata Verstael. "Kami bahkan tidak menyentuh sehelai pun rambut sang Oracle karena dia adalah aset dunia yang amat bernilai. Sedangkan bagi bocah itu, kami sangat menyesali perbuatan kami yang telah merenggut kakeknya."

"Itu hanya kecelakaan kecil yang tidak disengaja," kata Luche.

Kecelakaan kecil katamu? Jelas-jelas dia sengaja membunuh Jared jika perkataan Iris dapat dipercaya. Dan aku tidak pernah meragukan Iris. Sungguh biadab lelaki berdahi lebar ini!

Namun meskipun amarah membuncah dalam hatinya, Noctis berusaha tetap bersikap tenang.

"Tak perlu berlama-lama. Mana Cincin Lucii yang kau janjikan itu?" pinta Verstael, mengulurkan telapak tangannya yang terbuka seperti pengemis koin, matanya terbakar oleh nafsu memiliki benda sakral itu.

Noctis mengeluarkan Cincin Lucii dari saku jaketnya. Ia mengamati objek kecil yang telah mengundang banyak kesulitan dalam lini keluarganya. Ayah, Luna, Nyx, dan mayoritas Insomnian tewas atau nyaris tewas hanya karena sebuah objek sekecil ini. Mungkin melepaskannya untuk selamanya akan memusnahkan kutukan yang membelenggu ia dan orang-orang yang dikasihinya untuk sekarang dan selamanya.

"Kita akan melakukan pertukaran secara serempak, seperti yang telah kita diskusikan. Ketika cincin ini ada di tanganmu, Luna dan Talcott harus segera diserahkan kepadaku," kata Noctis tegas. "Jika kau berbohong padaku dengan tetap menyekap mereka, Prompto akan segera menembakmu."

"Noctis, jangan lakukan itu!" teriak Luna. "Cincin Lucii harus senantiasa berada di tanganmu. Nyawaku tidak sebanding dengan cincin tersebut. Kumohon jangan sia-siakan pengorbanan ayahmu yang tewas karena melindungi cincin tersebut."

"Tck tck tck. Ternyata tebakanku benar. Itulah alasan mengapa kami tidak bisa menemukan Cincin Lucii pada jasad Raja," Verstael menggeleng-geleng kepala. "Tentu saja sebelum tewas, Regis menyerahkan cincin itu pada sang Oracle, satu-satunya penghubung antara sang Raja di balik Tembok dan putranya yang telah diutus keluar kota."

"Aku harus melakukan ini, Luna. Bagiku nyawamu lebih berharga daripada cincin ini." Noctis mengepalkan tangannya yang memegang cincin sampai memutih. Aku rela kehilangan Cincin Lucii. Tetapi aku tidak mampu jika aku kehilangan dirimu. Kumohon mengertilah meskipun aku tidak bisa mengatakannya di hadapan kekaisaran.

"Kau dengar kekasihmu, Nona Lunafreya? Dia tidak ada pilihan lain untuk menyelamatkanmu dan bocah itu. Kecuali kau menginginkan kami membunuhnya? Itu juga salah satu hasrat terbesar Kaisar." Verstael terkekeh-kekeh.

"Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti Noctis! Kau─" Sebelum Luna sempat berkata-kata lagi, Luche membekap mulut wanita itu.

"Lepaskan tanganmu dari Luna, brengsek!" jerit Noctis.

"Wanita ini terlalu cerewet. Sebagai sandera lebih baik kau diam saja dan dengarkan Tuan Verstael dan Pangeran berbicara dengan manis," kata Luche.

"Ayo, serahkan cincin itu padaku dan kau bebas memiliki Nona Lunafreya dan bocah itu kembali." Verstael kehabisan kesabaran, jari-jemari tangan kanannya menggeliat-geliat seperti ulat kepanasan. "Tunggu apa lagi? Semakin lama aku menunggu, semakin besar kemungkinan aku meminta lebih dari Cincin Lucii sebagai harga pertukaran mereka berdua."

"Baiklah," kata Noctis. "Aku akan maju hingga tersisa jarak setengah meter darimu. Di saat bersamaan giring Luna dan Talcott dalam jarak yang sama sehingga aku bisa segera menarik mereka dari kalian."

"Segera laksanakan permintaan Pangeran, Wakil Komandan Luche," perintah Verstael.

Noctis maju selangkah demi selangkah. Begitu pula Luche yang menggiring Luna dan Talcott mendekatinya. Ketika tersisa setengah meter, Noctis mencermati Cincin Lucii untuk terakhir kalinya. Untuk kali ini aku akan melepaskan cincin ini. Tetapi aku bersumpah akan merebutmu kembali secepatnya dengan cara apa pun. Ia menyerahkan cincin itu ke tangan Verstael yang terbuka lebar. Luche membebaskan Luna dan Talcott. Kedua sandera itu langsung berlari mendekati Noctis. Tanpa diduga, Luna memeluk Noctis dengan erat.

"Oh, Noctis, kenapa? Kenapa kau menyerahkan Cincin Lucii ke tangan kekaisaran?" Luna menekankan kedua tangannya di dada Noctis, tampak hendak menangis. "Tidakkah kau paham betapa pentingnya cincin itu demi keselamatan dunia?"

Aku tidak peduli akan keselamatan dunia. Dunia tak berarti bagiku jika aku kehilangan dirimu.

"Aku paham sekali," Noctis mengelus rambut pirang Luna yang kusut. "Aku benar-benar tidak ada pilihan lain untuk menyelamatkan kalian. Tetapi saat ini nyawamu dan Talcott adalah prioritasku."

"Ma-Maafkan aku, Pangeran Noctis," kata Talcott, terisak-isak. "Semua ini gara-gara aku. Aku nggak sengaja mengumbar-umbar kalau Pangeran ada di sini… Dan pria bernama Luche itu datang… Dan dia membunuh─"

"Sudahlah, Talcott. Kau tidak perlu terus menyalahkan dirimu." Noctis menepuk pundak Talcott yang kecil. Anak lelaki itu bergetar karena ketakutan dan trauma akibat kematian Jared. Mungkin memang musibah ini tak akan terjadi apabila Talcott lebih berhati-hati, tapi Noctis tidak dapat menyalahkan kepolosan seorang anak lelaki berusia dua belas tahun. Ia pun seringkali lepas kendali saat kecil dulu jika dihadapkan pada sesuatu yang amat digemarinya, meskipun ia cenderung pendiam. "Semua ini terjadi karena aku tidak mengantisipasi kehadiran kekaisaran terlebih dahulu sejak kami sampai di Lestallum." Noctis mengelap pipi Talcott yang basah karena air mata. Talcott masih tampak berdosa, tapi setidaknya getaran di pundaknya sudah berhenti.

Luna menarik diri dari pelukan Noctis, memandang Noctis lekat-lekat dan berkata, "Meskipun kau kehilangan Cincin Lucii, aku tidak mampu berbohong bahwa aku sungguh-sungguh bersyukur bisa bertemu denganmu lagi. Aku berharap kita bisa terus bersama dari detik ini sampai selamanya. Aku berjanji tidak akan menjadi beban bagimu lagi. Izinkan aku menjadi penopangmu. Kau bisa senantiasa mengandalkan kekuatanku. Aku tidak ingin berjalan di depan atau belakangmu. Aku ingin berjalan tepat di sampingmu dan berjuang bersamamu."

"Aku juga berpikir serupa denganmu," kata Noctis, menggaruk-garuk kepala belakangnya. Mendengar pernyataan tulus dari Luna menghangatkan hatinya, sampai-sampai jantungnya berdebar-debar. Barangkali sekarang wajahnya memerah. "Luna, sekarang aku butuh bantuanmu untuk menjaga Talcott. Diamlah bersama Prompto di belakang. Prompto akan menjaga kalian berdua sampai aku selesai berbicara dengan Verstael."

"Aku mengerti," Luna mengangguk, berpaling dari Noctis dan menuntun Talcott kepada Prompto. Noctis memperhatikan saat sang penembak mengecek Luna dan Talcott untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja. Lalu Luna dan Talcott berjaga-jaga di belakang Prompto yang senantiasa mengacungkan pistol ke arah Verstael. Ia percaya bahwa Prompto mampu menjaga Luna dan Talcott.

Aku tidak ingin berjalan di depan atau belakangmu. Aku ingin berjalan tepat di sampingmu dan berjuang bersamamu.

Pernyataan Luna terngiang-ngiang dalam benaknya. Ia tidak menyangka Luna dapat mengatakan isi hatinya yang terdalam semudah itu. Seorang Luna yang kerap lebih mementingkan keselamatan Noctis daripada dirinya sendiri. Seorang Luna yang selalu memikul bebannya sebagai Oracle seorang diri. Mungkin egonya sebagai seorang pria menyebabkan ia selalu menganggap Luna sebagai wanita lemah yang harus selalu ia lindungi. Namun kenyataannya Luna adalah wanita yang kuat─bahkan lebih kuat dari dirinya. Mulai saat ini ia bersumpah tidak akan mengenyampingkan Luna lagi dari misi-misi berbahaya seperti mengumpulkan Royal Arm. Jika ia menyatukan kekuatan bersama Luna dan para sahabatnya, tak akan ada seorang pun yang mampu menghancurkan mereka.

"Akhirnya! Cincin Lucii yang selama ini telah kami idamkan berpuluh-puluh tahun kini ada di dalam genggamanku!" Verstael mengamati cincin di tangannya dengan mata yang mengobarkan nafsu posesif yang abnormal.

"Sekarang pergilah kalian semua dari Lestallum ini dengan tenteram," perintah Noctis. "Negosiasi ini telah berakhir. Kau sudah memperoleh benda yang kau inginkan."

Verstael memalingkan wajah dari Cincin Lucii dan menyimpan cincin itu dalam saku jubah merahnya. "Oh, tapi urusan kami denganmu belum selesai. Dengan ini, kami telah memiliki dua dari tiga objek yang Kaisar Iedolas kehendaki: Kristal Agung dan Cincin Lucii. Kami membutuhkan satu objek terakhir. Ketika kami telah memperolehnya barulah kami beranjak dari sini."

"Apa maksudmu dengan satu objek lagi?" Ada yang tidak beres. Noctis dapat merasakannya, rasa was-was yang membuat bulu kuduknya meremang. "Aku tidak lagi memiliki benda apa pun yang kau inginkan itu."

"Tapi kau sungguh-sungguh memilikinya," balas Verstael. Kakek itu mengangkat telunjuknya setinggi bahu. Refleks Noctis memasang kuda-kuda bertempur. Telunjuk Verstael bergerak ke kanan dan berhenti tepat di tempat Luna berjaga bersama Prompto. "Objek ketiga itu adalah sang Oracle. Kristal Agung dan Cincin Lucii tidak akan pernah lengkap tanpa kehadiran Oracle."

"Apa kau gila?! Aku sudah menyerahkan Cincin Lucii, tetapi kau masih meminta lebih?" protes Noctis. "Aku tidak sudi menyerahkan Luna lagi padamu. Dan Luna bukanlah sebuah 'objek'. Dia adalah seorang manusia yang hidup dan bernapas sepertimu."

"Manusia yang kubutuhkan sebagai prasyarat penelitianku tidaklah berbeda dari sebuah 'objek'," bantah Verstael. "Aku tahu kau tidak akan bersedia menyerahkan sang Oracle, jadi kami bersiap-siap untuk mengajukan negosiasi tambahan. Wakil Komandan Luche! Bawakan sandera itu kemari!"

"Baik, Sir!" sahut Luche, yang berlari ke kiri balai Leville, menerobos formasi tentara yang berjaga-jaga di sekeliling area ini.

Sandera? Siapa lagi yang mereka sandera? Apakah Cor yang terperangkap di lantai bawah tanah EXINERIS? Atau apakah Ignis dan Gladio gagal melaksanakan misi mereka sehingga mereka disekap kekaisaran?

Luche kembali sambil menggiring seorang gadis di depannya, kedua pergelangan tangan gadis itu diborgol di belakang pundak. Gadis itu meronta-ronta, berusaha sekuat tenaga untuk membebaskan diri, tapi upayanya tidak berguna.

"Iris!" teriak Noctis. "Bagaimana… bagaimana kalian bisa menemukannya?"

Verstael terkekeh-kekeh lagi. "Bagaimana kami bisa menemukan gadis ini, katamu? Kami telah memata-matai pergerakan kalian selama di EXINERIS. Sangatlah bodoh jika kami berhenti memata-matai kalian sejak kalian keluar dari sana dan menginjakkan kaki di dalam Lestallum."

Tapi aku dan Prompto sudah memastikan bahwa tidak ada tentara kekaisaran yang mengawasi kami dari kejauhan. Noctis meremas kepalan tangannya, berusaha untuk tidak mematerialisasikan senjata dan langsung membunuh si kakek licik ini.

"Pasti kau berpikir bahwa kalian tidak menemukan tentara kami yang berhasil melacak kalian di dalam kota, bukan? Begini, oh pangeranku yang lugu, faktanya kami memiliki metode lain yang lebih efektif dan hmm… lebih modern dari Lucis untuk memata-matai seseorang," balas Verstael. Dia menunjuk langit yang kian menggelap. Hari semakin malam. Terdengar bunyi seperti sepasang roda mekanis yang berputar. Noctis menengadah dan melihat sebuah drone yang sama yang dilihatnya di EXINERIS terbang bebas di langit. "Sepertinya kau mengerti. Ya, kami telah meletakkan drone-drone di seluruh penghujung kota. Dengan ukurannya yang jauh lebih kecil dari tentara kami, tentu saja kau tidak bisa menemukan mereka dengan mudah. Sungguh sebuah keberuntungan bahwa satu drone kami berhasil menangkap momen ketika kau bertemu dengan gadis ini. Kubiarkan kalian melakukan reuni kecil yang mengharukan sebelum gadis ini pergi meninggalkan kau dan teman penembakmu itu. Lalu saat itulah kami menangkap dia dan menjadikannya sandera tambahan kami."

"Tolong aku, Noctis. Aku benar-benar takut," lirih Iris, memberontak maju, tapi ditarik mundur dan terbenam dalam pelukan Luche yang membelenggunya.

"Bertahanlah, Iris. Berikan aku waktu untuk berpikir sebentar. Aku berjanji akan membebaskanmu," sahut Noctis, sengaja berbohong agar gadis itu merasa tenang, tetapi sejujurnya saat ini ia tidak mampu memikirkan satu cara pun untuk menolong Iris kecuali menukarnya dengan Luna.

"Noctis!" sahut Luna. Noctis memalingkan wajah ke belakang. "Serahkan saja aku pada Verstael. Iris tidak ada kaitannya sama sekali dalam urusan kerajaan dengan kekaisaran. Seharusnya dia tidak perlu mengalami kesukaran ini."

"Aku tidak bisa melakukan itu!" bantah Noctis. "Bukankah aku baru saja berkata bahwa aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi?"

"Aku juga ingin terus bersamamu," Luna mengakui. "Tetapi jika takdir tidak mengizinkan kita untuk terus bersama, maka tanpa ragu aku akan menerimanya dengan lapang dada."

"Persetan dengan takdir!" teriak Noctis frustasi. "Bukankah Bahamut telah menentukan takdir bagi kami untuk bersatu? Mengapa Dia tidak memudahkan jalan kita menuju takdir tersebut alih-alih terus menimpakan rintangan demi rintangan sampai kita kehilangan harapan?"

"Manusia fana tidak akan pernah memahami jalan pikir sesosok dewa. Aku yang seorang Oracle pun selalu bertanya-tanya setiap kali memperoleh ilham dari-Nya. Aku terlalu malu untuk mengakui padamu bahwa aku tidak pernah benar-benar paham ketika mendengar pesan dewa yang diucapkan Gentiana padaku. Aku hanya berusaha menginterpretasikannya selaras mungkin dengan jalan pikir manusia sesuai dengan hukum Tenebraean yang diturunkan dalam keluargaku sejak dulu."

Mendadak seolah ada lampu yang menyala dalam otak Noctis. "Tunggu sebentar. Tadi kau bilang apa, Luna?"

"Aku tidak paham ucapan Gentiana?"

"Bukan itu, tapi setelahnya."

"Aku berusaha menginterpretasikan pesan dewa sesuai dengan hukum Tenebraean?"

"Ya, hukum. Kau hebat, Luna. Aku bisa menggunakan itu untuk menolong Iris tanpa harus menukarnya denganmu."

"A-Apa maksudmu, Noct? Aku tidak mengerti."

"Biarkan aku menyelesaikan negosiasi ini dengan menggunakan posisi istimewaku sebagai pangeran… bukan, maksudku raja. Keadaan akan jauh memburuk setelah aku melayangkan gugatan pada Verstael. Dan skenario terburuk adalah mungkin nyawaku pun bisa terancam."

"Aku… tidak… Oh, Noctis, aku tidak mampu berkata apa-apa lagi…"

"Percayalah padaku. Aku akan mengembalikan Iris tanpa perlu kehilanganmu lagi. Sekarang aku butuh kekuatan doamu agar strategiku berjalan sesuai kehendakku."

"Aku akan selalu mendoakan keselamatanmu."

"Terima kasih. Doamu sungguh berarti bagiku." Noctis tersenyum, berpaling ke depan dan berjalan menuju Verstael.

"Sudah selesai mengucapkan salam perpisahan dengan kekasihmu, Pangeran?" ejek Verstael.

"Tidak. Luna tetap bersamaku dan kau akan menyerahkan Iris padaku," kata Noctis percaya diri.

"Memangnya kau punya apa yang bisa kau tawarkan untuk ditukarkan gadis ini?"

"Meskipun kau mendeklarasikan Lestallum sebagai wilayah kekuasan Niflheim, itu adalah maklumat sepihak darimu. Aku sebagai Raja Lucis yang sah menolak tuntutanmu itu. Akulah yang berkuasa di tanah yang aku dan kalian pijak sekarang."

Verstael terperanjat untuk sesaat melihat kesigapan Noctis yang menyebut dirinya "Raja Lucis yang sah". Siasat Noctis tampaknya berhasil menggoyahkan kakek itu yang berpikir bahwa kedudukannya lebih tinggi daripada dirinya.

"Oh, kau bisa saja menyebut dirimu sebagai Raja Lucis yang sah, tetapi itu hanya omong kosong belaka. Apalah artinya titel raja jika dia tidak memiliki takhta kerajaan untuk didudukinya?"

"Untuk saat ini, aku memang tidak bisa menduduki takhtaku karena kalian telah merebut Citadel beserta kota tempatku memerintah. Tetapi kau tidak bisa membantah darah Lucis Caelum yang mengalir dalam nadiku. Aku bisa membuktikan keabsahanku dengan mengenakan Cincin Lucii tanpa terbakar seperti yang terjadi pada Ravus. Dan coba saja kau atau kaisarmu mengenakan cincin itu, jika kalian berani, karena kalian akan turut terbakar."

Verstael tampak gusar. "Cincin Lucii telah menjadi properti kekaisaran. Aku tidak akan mengembalikannya padamu."

"Itulah kesalahanmu, Verstael. Kau sendiri yang menentang pembuktianku sebagai Raja Lucis yang sah. Oleh karena itu, aku berhak menjalankan hukum yang ditetapkan kerajaan Lucis di tempat dan momen ini juga. Dan kau wajib untuk mengikuti hukum Lucis tersebut."

"Jangan bertele-tele! Hukum Lucis apa yang kau ajukan padaku?"

Skak mat. Ia tidak percaya bahwa ia bisa bertutur kata dengan lancar dan mantap di depan Verstael yang kumulasi umurnya menjadikan dirinya jauh lebih berpengalaman dalam bernegosiasi ketimbang Noctis yang masih daun hijau. Mata pelajaran cara bernegosiasi yang efektif (namun membosankan) yang diajarkan Ignis padanya sedari kecil ternyata bermanfaat di saat yang tak terduga.

"Pertarungan yudisial. Dalam negosiasi, jika tidak ada sesuatu yang nilainya setara dengan objek yang dipertukarkan, maka pihak penawar diizinkan untuk mengganti upah tersebut melalui pertarungan satu lawan satu. Jika sang penawar menang duel, yang berarti tetap hidup, maka dia berhak untuk menerima objek yang dipertukarkan tersebut tanpa gugatan apa pun. Sebaliknya, jika sang penawar kalah atau mati, maka dia berhak memberikan apa pun yang dituntut pihak lawan tanpa menerima objek yang dipertukarkan tersebut."

Verstael mengelus-elus janggutnya, berpikir keras, menimbang-nimbang perkataan Noctis. Lalu setelah dia selesai menyanjung janggut kambingnya, dia pun berkata, "Hukum Lucis yang menarik. Bagaimana bisa aku baru mendengarnya sekarang? Jika pihakku menang, maka aku boleh mengeklaim Oracle juga gadis Lucian ini menjadi objek penelitianku. Yang paling menguntungkan adalah aku tidak perlu bersusah payah membunuhmu karena kau sendiri yang telah menjurumuskan dirimu ke dalam maut."

Noctis paham betul bahwa pertarungan yudisial ini adalah pedang berkepala dua. "Ya, logikanya memang begitu. Tapi aku tidak akan kalah darimu." Noctis mematerialisasikan Engine Blade dan mengacungkan mata bilahnya kepada Verstael. "Dengan senjataku ini, aku akan menghabisimu dan mengusir kalian semua dari tanahku."

"Khu khu khu… Kuakui aku mengagumi kepercayaan dirimu. Pastinya kau tidak akan menyuruh seorang kakek uzur sepertiku untuk turun tangan langsung berduel denganmu, bukan?"

"Kau bebas mengutus siapa pun untuk menggantikanmu, asalkan dia memang berasal dari tanahmu."

"Baiklah kalau begitu. Wakil Komandan Luche, kau kuperintahkan untuk berduel dengan 'Raja' Noctis. Seperti yang telah kau dengar, kau bebas untuk membunuh 'Raja' Noctis dalam duel ini. Aku akan duduk di kursi penonton dan bersantai sambil menikmati duel berdarah di antara kalian."

"Baiklah, Sir!" Luche menyerahkan Iris kepada seorang tentara, lalu berjalan cepat dan menggantikan tempat kakek itu tadi berdiri. Verstael berbalik menjauhi Noctis dan digiring sepasang tentara bersama Iris ke sebuah kursi yang tadinya adalah kursi untuk pengunjung kafe di balai hotel.

Dipilihnya Luche sebagai lawan duelnya sesuai prediksi Noctis. Meskipun ia tidak tahu sehebat apa kemampuan bertarung Luche, ia percaya bahwa dengan Engine Blade yang telah diperkuat Randolph dan kemampuan sihirnya, ia mampu menghabisi pria berdahi lebar itu.

Luche berdiri lima meter di hadapan Noctis, lalu berteriak, "Tentara! Bentuk formasi arena bertarung!"

Para tentara kekaisaran yang tadinya berjaga dalam formasi setengah lingkaran di balai hotel mulai bergerak serempak mendekati Nocis dan Luche. Mereka membentuk lingkaran sempurna berdiameter kurang lebih tiga puluh meter, mengurung kedua peduel.

Noctis tidak sempat bergerak membebaskan diri dari formasi lingkaran tersebut. Formasi lingkaran itu menyebabkan ia tidak dapat mengawasi Luna, tetapi ia memercayakan kekasihnya itu sepenuhnya ke tangan Prompto.

Luche memperhatikan Noctis dari ujung kaki ke ujung rambut, kemudian berbicara dengan senyum pahit, "Aku benar-benar tidak menyangka bahwa aku akan berduel denganmu secepat ini. Tapi dari dulu aku memang ingin menguji sebenarnya seberapa hebat kemampuan seorang Raja Lucis. Aku tidak memiliki kesempatan untuk bertarung dengan ayahmu karena mendiang Jenderal Glauca memerintahku untuk tidak ikut campur dalam pembalasan dendam kami kepada ayahmu. Padahal aku punya banyak sekali kesempatan untuk membunuh ayahmu ketika berjaga di Citadel. Pada akhirnya aku malah kebagian bertarung dengan seorang Glaive tolol yang telah kehilangan kekuatan sihirnya karena kematian Raja."

Noctis terkejut mendengar pernyataan Luche. "Bagaimana bisa kau berjaga di Citadel? Siapa kau sebenarnya?"

Luche menahan gelak tawa, tapi setelah berlalu tiga detik dia melepas tawanya yang mengerikan hingga membahana di balai hotel. "Kau bilang 'Kau bebas mengutus siapa pun untuk menggantikanmu, asalkan dia memang berasal dari tanahmu'. Asal kau tahu, aku tidaklah berasal dari Gralea, tetapi Galahd."

"Kau seorang Galahdian?" Noctis ternganga tak percaya.

"Keputusan kami untuk meninggalkan Raja dan Pangeran yang bahkan tidak mengenal anak buahnya memang benar. Kami para Glaive tidak lebih dari pion yang bisa kalian buang begitu kami mati karena kami berjuang mempertahankan Tembok kota kalian yang konyol. Aku adalah Luche Lazarus, mantan Tangan Kanan mendiang Jenderal Glauca. Ya, aku terlibat langsung dalam rencana terselubung penginvasian Insomnia oleh kekaisaran."

Api kemarahan memercik dalam hati Noctis. Lelaki ini dulunya adalah seorang Glaive? Pantas ia merasa pernah sekilas melihat Luche di lorong Citadel. "Kau mengkhianati sumpah suci Insomnia dan Galahd. Kau tidaklah lebih dari seonggok sampah, dasar pengkhianat! Kenapa kau mengkhianati Lucis?"

Luche kemudian menghapus senyumnya, dan matanya yang berwarna kelabu mulai memancarkan energi yang meluap. Terintimidasi, tanpa sadar Noctis mundur selangkah. Noctis merasakan sesuatu yang bisa dikatakan kegilaan murni, yakni niat membunuh setaraf binatang buang.

"Karena Lucis terlebih dahulu mengkhianati Galahd! Apa kau tidak mengerti betapa kecewanya kami ketika mendengar kabar bahwa ayahmu yang dungu itu menyerahkan kampung halaman kami kepada kekaisaran tanpa syarat?"

"Aku memang setuju bahwa ayahku mengambil keputusan yang salah. Aku juga akan merasakan kekecewaan yang sama jika aku berada di posisi kalian. Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan kalian menghancurkan kota yang telah menjadi rumah kalian bertahun-tahun lamanya dan membunuh Ayah yang telah memberi kalian harapan baru setelah kalian meninggalkan Galahd yang tenggelam dalam kemiskinan."

"Cukup bicaranya! Kau dan ayahmu sama-sama keras kepala! Lepaskanlah seluruh kemarahanmu padaku karena aku pun akan melakukannya. Aku gagal membunuh Raja Regis, tetapi aku akan memastikan bahwa aku bisa membunuh putra semata wayangnya dengan tanganku sendiri!"

Pikiran Noctis pindah ke keadaan bertarung, dan matanya menerima tatapan haus darah Luche secara langsung. Sebelum ia menyadari, adrenalin telah terpompa, mengubah kegelapan malam menjadi berwarna-warni di sekitarnya.

Luche memalingkan tatapannya dan berjalan ke tempat sekitar tiga meter jauhnya dari Noctis. Dia kemudian memasang kuda-kuda untuk bertarung, kedua tangannya masih kosong.

Darah Noctis mulai memompa lebih cepat. Ia menaklukkan sedikit ragu yang tersisa dan melepaskan seluruh kemampuannya untuk bertarung. Lawannya bukanlah orang yang bisa ia kalahkan kecuali kalau ia serius dari awal. Mau bagaimanapun, sebagai mantan Glaive, kemampuan bertarung Luche pasti telah terasah tajam.

Dengan magitek, Luche mematerialisasikan pedanggah sepanjang kurang lebih 1,5 meter dengan gagang berwarna kirmizi di tangan kanannya. Dia berdiri dengan pedanggah teracung kepada Noctis dan sisi kanan tubuhnya menghindari jangkauan pedanggah Noctis.

Noctis menyadari bahwa mencoba untuk memprediksi gerakan Luche hanya akan membingungkannya lebih jauh sehingga memutuskan untuk menyerang dengan kekuatan penuh.

Mereka berdua langsung menerjang secepat kuda.

Noctis menurunkan posisinya saat berlari; tubuhnya hampir menggores lantai saat meluncur. Ia memutar tubuhnya tepat sebelum mencapai Luche dan mengayunkan pedanggah yang ada di tangan kanannya ke kiri atas. Serangan itu ditahan oleh pedanggah Luche dan menghasilkan beberapa percikan api. Tetapi serangannya adalah bagian dari dua serangan beruntun. Nol koma satu detik setelah serangan pertama, Noctis memindahkan Engine Blade dari tangan kanan ke tangan kirinya. Ini adalah sihir perpindahan instan materialisasi senjata yang hanya bisa digunakan oleh mereka yang terikat pada Kristal Agung.

Luche terkejut ketika menerima sabetan pedanggah Noctis yang mengenai pinggang kanan armornya. Ia melompat tiga kali dengan lincah ke belakang, lalu memeriksa sabetan dalam di armornya.

"Sudah lama sekali aku bisa bertempur dengan seseorang yang layak," puji Luche. "Tapi jangan anggap remeh keahlianku berpedang!"

Seperempat detik kemudian, tiba-tiba saja Luche sudah melesat begitu cepat seperti bertelepotasi ke hadapan Noctis. Wajah mereka saling berdekatan sampai-sampai Noctis bisa merasakan deru napas dari hidung lawannya. Luche meluncurkan pedanggahnya lurus ke jantung Noctis, tapi untungnya Noctis sigap menyilangkan Engine Blade untuk memblokirnya.

Luche berlari menjauhi Noctis dan menggenggam gagang pedanggahnya dengan kedua tangan. Noctis berpaling dan membentuk kuda-kuda serupa dengan Luche.

Noctis mengganti Engine Blade dengan tombak, melemparnya ke dada Luche, lalu langsung mengganti tombak itu dengan Engine Blade lagi ketika dirinya telah berteleportasi tepat ke depan targetnya. Ia mengerahkan serangan kombo kepada lawannya, namun Luche juga sama cepatnya dengan Noctis. Satu, dua, tiga, hingga sepuluh sabetan pedanggah berhasil ditangkis Luche.

Pada kombo kesebelas, Noctis menghantamkan Engine Blade secara vertikal. Namun Luche berguling ke kanan sehingga pedanggah Noctis mengenai lantai. Luche menusukkan pedanggahnya vertikal ke jantung Noctis, tapi beruntung Noctis sempat merapalkan sihir bola pelindung sehingga ia terhindar dari serangan fatal tersebut.

Tidak memedulikan ketika sihir bola pelindung pecah berkeping-keping, Noctis berguling dua kali ke belakang, lalu cepat-cepat berlari ketika Luche mengejarnya sambil menusuk-nusukkan pedanggah dengan liar.

"Jangan lari dariku! Hadapilah aku dengan jantan layaknya seorang lelaki!" seru Luche.

Noctis berputar cepat, lalu merapalkan Firaga di tangan kirinya yang bebas dan meluncurkan bola api kepada Luche.

Luche tampaknya tidak menyiapkan diri untuk menerima serangan sihir. Bola api meledak ketika mengenai armornya, suaranya begitu lantang hingga memekakkan gendang telinga Noctis, lidah-lidah api melebar hingga satu meter dari titik Luche menapakkan kaki, bau gosong tercium di hidung Noctis.

Ketika lidah-lidah api padam, tampaklah Luche yang terombang-ambing hingga nyaris terjatuh. Banyak noda kehitaman menghiasi armor emasnya. Noctis mengira ia nyaris menang, tapi nyatanya Luche bisa mengembalikan keseimbangannya, lalu merapatkan kedua kakinya dan menatap pedanggahnya yang terangkat tinggi ke udara.

"Hahaha! Aku jadi merindukan kemampuanku menggunakan sihir. Ternyata begini rasanya terbakar oleh Firaga!" ucap Luche.

"Kalau kau tidak terlibat dalam konspirasi pembunuhan ayahku, kau akan tetap bisa menggunakan sihir," kata Noctis. "Tapi pengkhianat sepertimu tidak layak menerima kekuatan Kristal Agung."

"Aku memang kehilangan sihir Kristal Agung, tapi sebagai penggantinya aku memperoleh energi magitek!"

Tiba-tiba saja Luche melesat begitu kencang sampai timbul aura kemerahan menyelimuti tubuhnya. Dalam satu tapak kaki, dia seolah berteleportasi tiga meter. Dengan tubuh besarnya, Luche menubruk Noctis hingga ia terempas jauh ke belakang. Engine Blade terlepas dari genggaman Noctis dan berputar-putar hingga menancap di lantai.

"Rasakan kekuatan energi magitek!"

Belum sempat berdiri, Luche kembali melesat ke hadapan Noctis dengan aura merah menyelimuti tubuhnya. Noctis terburu-buru mematerialisasikan perisai untuk memblokir tusukan pedanggah Luche, tapi efek tabrakan itu membuat kepalanya tersentak dan tubuhnya terpental jauh hingga menubruk seorang tentara Niff yang berdiri di belakangnya. Tentara itu mendorong Noctis dengan kasar hingga ia limbung ke depan. Sebelum terjatuh, Noctis menancapkan ujung perisai ke lantai untuk menjaga keseimbangannya.

"Noctis!" teriak Luna.

"Aku baik-baik saja, Luna!" sahut Noctis. Tes, tes, tes… Ia merasakan ada cairan menetes dari hidungnya, mengalir ke bibirnya. Rasanya asam bercampur manis. Ia menyeka hidungnya dengan punggung tangan kanan dan melihat darah menempel di sarung tangan hitamnya. Hidungnya berdarah akibat terjangan keras Luche.

"Segitu saja kemampuanmu? Aku sungguh kecewa pada 'Raja Lucis yang sah'", ejek Luche.

"Aku belum mengerahkan seluruh kemampuanku," sanggah Noctis, tidak memedulikan hidungnya yang berdarah.

Hidungnya berdenyut-denyut sampai membuat kepalanya pusing. Akibat pertempuran demi pertempuran yang telah dilaluinya sepanjang hari, Noctis mulai merasakan kelelahan bukan kepalang. Otot-otot kakinya berat sekali, menolak untuk bergerak lincah mengikuti kehendaknya. Pandangannya juga mulai kabur.

Sial. Aku tidak boleh ambruk sekarang. Pertarungan ini akan menentukan segalanya. Aku tidak boleh kehilangan Luna dan Iris. Ayo, bergeraklah kakiku! Tinggal sedikit lagi dan seluruh urusan terkutuk dengan kekaisaran ini akan berakhir.

Noctis mengganti perisai dengan Engine Blade. Ia berusaha sekuat tenaga untuk berlari ketika Luche menggunakan kemampuan menerjangnya lagi dan lagi.

"Mau apa kau hanya terus menghindari seranganku seperti anak kucing?" Luche berseru sambil terkekeh-kekeh.

Aku tidak boleh membiarkan ketenanganku terprovokasi oleh hinaannya.

Dalam larinya, Noctis mengamati pergerakan Luche. Serangan terjangan berenergi magitek secepat kilatnya memang amat menyakitkan jika berhasil mengenainya. Dan seolah-olah Luche menjadi tak tersentuh ketika dia mengaktifkan energi magitek itu. Namun ia teringat akan satu petuah Gladio: tidak ada satu pun pola serangan yang tidak mampu ditembus─pasti ada satu titik dalam serangan yang menjadi kelemahan yang mampu kita eksploitasi untuk menumbangkan lawan.

Luche menerjang lagi dengan ujung mata pedanggah teracung lurus. Noctis berguling ke kanan, lalu langsung berdiri dan kembali berlari sambil terus mengamati pola serangan lawannya.

Dan setelah mengamati kurang lebih tiga menit yang terasa seperti tiga jam, akhirnya ia melihat titik kelemahan Luche.

Dengan sengaja, Noctis berhenti berlari dan berdiri bergeming.

"Hah! Apa kau sudah menyerah sehingga kau pasrah menerima seranganku ini?" sahut Luche.

"Datanglah kemari dan serang aku!" tantang Noctis.

"Dengan senang hati aku akan memotong lehermu!"

Luche menerjang Noctis secepat deru angin. Hanya berselang seperempat detik ketika Luche nyaris menubrukkan tubuhnya dan menusukkan pedanggahnya ke leher Noctis, Noctis memindahkan kaki kanannya lima senti ke kanan dengan sihir teleportasi instan tanpa senjata hingga tubuhnya meninggalkan partikel-partikel cahaya biru dan berputar tepat ke belakang Luche.

Pastilah Luche mengira partikel biru itu adalah tubuh Noctis yang sesungguhnya. Inilah titik kelemahan serangan Luche. Luche tidak mampu bergerak ke titik lain selain titik yang menjadi lokasi pendaratan terjangan kilatnya. Ada jeda kurang dari sedetik di mana Luche terbuka lebar untuk menerima serangan balasan. Dan mata Noctis telah melihatnya dengan jeli.

Cepat-cepat Noctis menyabetkan Engine Blade secara horisontal ke perut Luche.

"Apa?!" seru Luche ketika serangan Noctis mengenai armornya. Timbul garis lurus yang dalam pada permukaan armor Luche, yang menjadi awal retakan-retakan yang melebar ke seluruh penjuru armornya. Dan kemudian armor Luche hancur berkeping-keping, menyingkapkan kaus merah di baliknya. Sabetan Engine Blade yang telah diperkuat mampu menembus armor Luche yang tebal hingga memotong kaus dan melukai daging perutnya. Darah menyembur dari perut Luche yang terluka lebar. Luche limbung, dia berusaha menopang beban tubuhnya dengan lutut kanan, tapi pada akhirnya dia terjerembab ke permukaan.

"Sudah puas?" tanya Noctis, menenteng Engine Blade di satu bahunya.

"Aku… masih bisa… bertempur…," rintih Luche. Darah segar dari perutnya mulai menggenangi lantai.

"Kau sudah kalah, Luche," kata Noctis. "Akui kekalahanmu dan aku akan mengampuni nyawamu."

"Aku… belum… KALAH!" Napas Luche megap-megap. "Junjunglah… kekaisaran… selamanya!"

"Verstael!" seru Noctis. "Tunjukkan dirimu. Aku telah mengalahkan utusanmu."

Verstael menampakkan diri ketika sepasang tentara memberi jalan baginya. Di sampingnya seorang tentara menggiring Iris. Dia terus berjalan sampai berhenti tepat di dekat Luche yang terbaring.

"Huh, sungguh memalukan bagi seorang wakil komandan, kalah dari seorang pangeran bau kencur." Verstael memandang penuh kejijikan kepada Luche seolah Luche tak lebih dari seekor kecoak. "Aku terlalu tinggi memandang kemampuan bertempurmu. Ternyata Tangan Kanan Jenderal Glauca benar-benar tidak dapat diandalkan seperti ekspektasiku."

"Berikan… aku… kesempatan… kedua…," kata Luche, yang kini tampak tak berkutik di depan Verstael.

"Kau sudah tidak ada gunanya lagi bagi Kaisar. Kematianmu akan lebih berarti daripada kami membiarkanmu hidup untuk melayani kekaisaran lagi."

"Tidak…! Jangan… buang… aku!" Luche memohon. "Aku masih bisa… melayani Kaisar!" Dengan susah payah Luche menyeret tubuhnya seperti ulat, lalu menggapai dan memeluk kaki Verstael.

"Kekaisaran bisa dengan mudah mencari penggantimu yang lebih andal, wahai mantan Wakil Komandan Luche." Dengan kaki kiri yang dipeluk Luche, dia melepas pelukan tersebut lalu menendang wajah Luche sekuat tenaga hingga leher lelaki itu tersentak dan menyebabkannya kehilangan kesadaran.

"Kau benar-benar tidak punya hati memperlakukan bawahanmu seperti itu," komentar Noctis.

"Rasa belas kasihan tidaklah berguna bagi kekaisaran," balas Verstael.

"Sekarang serahkan Iris padaku seperti yang telah kita setujui," pinta Noctis.

"Yah, kuakui kekalahanku. Sebagai seorang lelaki yang memiliki integrasi akan kubayar imbalan atas kemenanganmu." Verstael mengangkat satu tangan tinggi-tinggi ke langit. "Oke, para tentara! Kerahkan seluruh kekuatan kalian! Rebut sang Oracle dan bunuh Pangeran!"

"A-Apa?!" Noctis langsung memasang kuda-kuda bertempur ketika para tentara membongkar formasi lingkaran mereka dan mulai berlarian sambil mengacungkan tombak, kapak, dan pedang mereka menghampiri Noctis. Beberapa tentara diam di tempatnya sambil menodongkan senapan kepada Noctis. "Dasar brengsek! Kau sudah bersumpah akan mengikuti hukum Lucis."

Verstael tertawa terbahak-bahak. "Hukum Lucis apanya? Dari awal aku menganggapnya sebagai tipu muslihatmu saja. Kami tidak akan pergi dari sini tanpa Oracle. Tetapi mengetahui kau yang tidak ingin menyerahkan Oracle dengan sukarela, kami terpaksa membunuhmu!"

Verstael berbalik, begitu pula dengan tentara yang menggiring Iris. Iris berteriak meminta tolong pada Noctis, namun ketika Noctis hendak mengejar, para tentara telah mengerumuninya. Noctis berusaha membuka jalan dengan menebaskan pedanggahnya kepada para tentara, tetapi jumlah mereka terlalu banyak sehingga ia terperangkap.

"Lepaskan aku!" Terdengar suara Luna dari balik kerumunan tentara.

"Luna!" teriak Noctis ketika dia membunuh seorang tentara yang hendak menancapkan tombak kepadanya. Tumbangnya tentara itu membuka celah kecil bagi Noctis untuk melihat apa yang sedang terjadi pada Luna.

Lima orang tentara mengelilingi Prompto, Luna dan Talcott. Prompto susah payah menghindari tembakan beruntun dari para tentara itu sehingga dia tidak mampu melindungi Luna dan Talcott. Seorang tentara menyeret Luna menjauhi Prompto. Di saat bersamaan, seorang lelaki berjas hitam tak dikenal yang entah muncul dari mana mendekati Talcott. Luna memukul-mukul dada si tentara sebagai bentuk pemberontakan. Sedangkan Talcott dibawa pergi dengan damai oleh lelaki berjas hitam tersebut seolah-olah Talcott memang ingin pergi bersama lelaki itu.

Tidak mungkin Noctis memerintah Prompto untuk menolong Luna dan Talcott di saat sahabatnya itu tengah memperjuangkan nyawanya sendiri. Noctis harus mengandalkan dirinya sendiri untuk menolong mereka.

Sial, sial, sial! Akan kubunuh si bajingan Verstael itu!

Tetapi semangat belaka tidak ada gunanya ketika dirinya dikerumuni oleh kurang lebih tiga puluh tentara. Dia terus menebaskan Engine Blade dan menghindari serangan yang tiada hentinya. Satu per satu tebasan pedang tentara berhasil mendarat di setiap jengkal tubuhnya; kepala, punggung, perut, tangan, kakinya diiris berulang kali hingga ia merintih kesakitan dan darah menetes dari luka-lukanya. Ia menebaskan Engine Blade selebar mungkin hingga merobohkan lima tentara. Namun lima tentara itu kembali digantikan oleh tentara lainnya yang lagi-lagi mengerumuninya seperti lalat.

Dari celah kecil, ia bisa melihat Luna sudah digiring kepada Verstael. Ia tidak dapat menemukan Talcott lagi─anak lelaki itu hilang seperti asap dibawa pergi oleh lelaki berjas hitam. Pada taraf ini jika ia tidak melakukan sesuatu, ia akan kehilangan Luna dan Iris.

Lalu ia teringat akan satu kemampuan khusus dirinya yang mampu menyelamatkan mereka.

Wahai Titan, pinjamkanlah kekuatanmu padaku!

Serta-merta lonjakan kekuatan yang dahsyat memenuhi sel-sel tubuh Noctis. Ia mengulurkan tangan kanan, jaring-jaring kilatan energi berwarna ungu seperti petir menyelimuti telapak tangannya. Kedua mata birunya berubah menjadi ungu mengilat.

"Titan, hancurkanlah mereka!" perintah Noctis.

Sebuah tangan berwarna coklat tua raksasa timbul dari dalam tanah, melontarkan puluhan tentara yang mengerumuninya ke udara. Tentara-tentara yang membawa senapan spontan menembaki tangan raksasa itu, tapi mereka langsung diremukkan dengan himpitan telapak tangan Titan yang terbuka lebar.

Kurang dari semenit, para tentara kekaisaran berhasil dilumpuhkan. Rasa letih luar biasa menguasai Noctis hingga rasanya ia bisa pingsan sekarang juga. Memanggil dewa menguras energinya yang tersisa sedikit. Imbasnya ia hanya bisa memanggil satu tangan Titan, tidak seluruh tubuhnya. Berlama-lama membiarkan tangan Titan tetap berada di balai Leville yang telah luluh lantah akan membuatnya pingsan sehingga ia mengembalikan Titan kembali ke liangnya. Tangan raksasa Titan menghilang meninggalkan jutaan partikel cahaya biru.

Tersisa dirinya dan Prompto di sana, begitu pula Luche yang pingsan. Noctis mencari-cari keberadaan Verstael dari balik reruntuhan ubin. Ia menemukan kakek itu sejauh tiga puluh meter bersama tiga orang tentara yang menggiring Luna dan Iris sedang berusaha masuk ke dalam salah satu kapal kekaisaran yang kapnya terbuka.

"Jangan kabur, Verstael!" teriak Noctis. Ia melemparkan Engine Blade jauh-jauh ke arah pesawat kekaisaran, lalu berteleportasi hingga mendarat dekat dengan Verstael. Kakek itu tampak dihantui ketakutan yang luar biasa ketika bertatapan empat mata dengan Noctis. Barangkali kemunculan Titan yang telah menghancurkan bala tentaranya menjadi alasan kuat di balik ketakutan dia.

"Lepaskan Luna dan Iris!" Noctis mengacungkan Engine Blade hingga ujungnya nyaris menyentuh hidung Verstael. "Aku bisa membunuhmu sekarang juga dengan pedanggahku ini."

"Khu khu khu." Tawa Verstael terdengar dipaksakan, tapi tetap menimbulkan aura kelicikan yang tak terhingga. "Kau pikir kau sudah menang dengan menggunakan kekuatan dewa untuk menghancurkan kami? Aku masih punya satu cara terakhir untuk membungkammu." Dia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah detonator yang sama dengan yang dimiliki Caligo. "Dengan detonator ini, aku bisa meledakkan reaktor EXINERIS dari kejauhan. Apa kau siap mengorbankan rakyatmu hanya demi dua perempuan ini?"

Meskipun terkejut bahwa Verstael menyembunyikan detonator itu, Noctis sudah kehabisan kesabaran menghadapi satu demi satu trik kotor kekaisaran. "Katakan padaku. Kenapa kau bertindak sampai sejauh ini hanya demi merebut Cincin Lucii dan Luna? Jika kau mau membunuhku, kau tidak perlu mencelakakan orang lain yang tidak berdosa."

"Kau ini sungguh-sungguh naif!" Verstael membalas dengan murka. "Apa kau tidak tahu fungsi Kristal Agung yang sesungguhnya?"

"Kau merebut Kristal Agung untuk menguasai kekuatan sihir demi menguasai dunia. Tak perlu diberitahu pun, ambisi kotor kalian sangatlah kentara."

"Kau keliru! Sepertinya ayahmu tidak pernah memberi tahumu kebenaran ini. Kristal Agung dapat digunakan untuk memberantas Starscourge dari Eos. Tapi kami memerlukan Cincin Lucii dan Oracle untuk mengaktifkan potensi Kristal Agung yang tersembunyi tersebut. Ayahmu dan Raja-Raja Lucis hanyalah sekelompok orang tua egois yang mengurung Kristal Agung dan Cincin Lucii di balik Tembok. Jika mereka tidak ingin menyelamatkan dunia, maka kekaisaranlah yang akan melakukannya, meskipun kami harus menumpahkan darah dalam prosesnya."

"Kau berbohong!" tolak Noctis. "Ayah dan para leluhurku tidak mungkin melakukan hal itu. Kami, para keturunan Lucis Caleum, adalah pihak yang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia ini. Kekaisaran tak lebih dari sekedar pengganggu."

"Terserah kau ingin percaya atau tidak. Aku tidak peduli. Sekarang tinggalkan kami atau akan kutekan detonator ini! Jaga jarak aman lima meter dariku!" Verstael berpaling kepada para tentara. "Giring para sandera ke dalam kapal sekarang juga."

"Noctis!" jerit Luna ketika dia ditarik menaiki kapal.

"Noct!" Iris turut menjerit. Bahkan Noctis tak dapat melihat wajah gadis itu lagi karena sudah berada di dalam kapal.

Mendengar kedua wanita itu membutakan Noctis. Ia tidak lagi memedulikan ancaman Verstael. Seolah kesadarannya semakin menipis, ia spontan menerjang Verstael.

Diiringi jeritan, Verstael tergelincir ketika menghindari serangan mendadak Noctis. Dan tak sengaja dia menekan detonator di tangannya.


Dua chapter lagi menuju akhir Buku 3...