FINAL FANTASY VERSUS


085


Talcott menyaksikan kelicikan kekaisaran dalam bisu. Pangeran telah menukarkan Cincin Lucii demi dirinya dan Putri. Namun siapa yang menyangka kekaisaran telah menyandera Iris? Kemudian semuanya berputar dengan cepat: Pangeran menantang kekaisaran bertempur sebagai bayaran untuk membebaskan Iris, pertempuran sengit antara Pangeran dan Luche, Pangeran tersudut namun dengan cepat mampu membalikkan situasi dan memenangkan duel. Ia pikir pihaknya telah menang, sampai Verstael mengingkari janjinya dan menyuruh para tentara untuk merebut Putri dan membunuh Pangeran.

Para tentara membongkar formasi lingkaran. Sekitar selusin tentara segera menghampirinya yang bersandingan bersama Putri dan Prompto. Sepasang tentara menarik lengan Putri dengan kasar.

"Lepaskan aku!" teriak Putri.

"Luna!" teriak Pangeran. Talcott bahkan tidak bisa melihat batang hidung Pangeran dari balik kerumunan tentara yang mengerumuninya.

"Dasar brengsek! Aku tidak akan membiarkan kalian menyandera Luna untuk kedua kalinya!" Prompto menembakkan senapannya yang bersarang di kepala seorang tentara yang menarik Putri, secara instan membunuhnya. Sayangnya Prompto tidak berkutik ketika dia dikerumuni enam orang tentara lainnya. Dalam jarak sedekat ini, Prompto tidak dapat berbuat banyak untuk menyelamatkan Putri.

Talcott berusaha membebaskan Putri yang diseret paksa menjauhi dirinya dan Prompto. Ia hendak menerjang seorang tentara dengan menggunakan tubuh kecilnya, meskipun ia tidak yakin bahwa kekuatan liarnya mampu menjatuhkan tentara yang ukurannya dua kali lipat lebih besar darinya. Ketika ia berlari, tiba-tiba seseorang mendekap dan mengunci kedua tangannya ke belakang punggung seperti seorang polisi membekuk kriminal.

"Tidak, tidak, tidak! Lepaskan aku!" Talcott berteriak gelisah. Ia menggoyang-goyangkan tubuhnya, memberontak dari dekapan erat siapa pun di belakangnya.

"Nak, jangan berbuat nekat. Lihat aku dan berhenti memberontak seperti binatang," seru lelaki di baliknya.

Mengenal suara pria tersebut, Talcott berangsur menenangkan diri. Lelaki itu membebaskan kedua pergelangan tangan Talcott dan memutar tubuhnya. Kini Talcott bisa melihat wajah pria yang tak lain adalah Nate.

"Aku harus menolong Putri," seru Talcott, "dan juga Prompto! "

"Apa yang bisa kau lakukan untuk menolong mereka? Apa kau mau mati konyol dibunuh oleh para tentara?" tantang Nate, tapi intonasi suaranya lembut tanpa sedikit pun kemarahan tersirat di dalam kata-katanya.

"Tapi aku tidak dapat berdiam diri saja melihat mereka disakiti…"

"Serahkan saja mereka semua ke tangan Pangeran. Kau sama sekali tidak ada sangkut pautnya dalam konflik Kerajaan Lucis dan Niflheim. Ayo kita segera pergi bersama dari sini sebelum situasi semakin memburuk." Nate mengulurkan tangan kepada Talcott.

Talcott bergeming, tidak yakin apakah ia sebaiknya menerima tawaran Nate. Ia tidak ingin menjadi seorang pecundang dengan meninggalkan Pangeran, Putri dan Prompto yang nyawanya sedang terancam. Tapi Nate benar. Ia tidak dapat melakukan apa-apa untuk menolong teman-temannya. Jika ia berbuat bodoh, bisa-bisa dirinya malah kembali jatuh menjadi sandera kekaisaran dan menambah beban Pangeran lagi.

"Paman mau membawaku ke mana?"

"Tentu saja ke suatu tempat yang aman dan tenteram untuk kita berdua."

"Tempat yang aman seperti apa?"

"Jangan banyak tanya. Sebaiknya kita pergi dulu di saat tidak ada yang memperhatikan kita berdua. Setelah kita menjauhi kota ini, aku berjanji akan menjawab semua pertanyaanmu."

Talcott ragu-ragu sejenak, namun akhirnya ia menerima uluran tangan Nate.

"Jangan lepaskan tanganmu dariku sampai aku mengizinkanmu, oke?"

Talcott mengangguk.

Nate menggiring Talcott menjauh dari balai Leville dengan hati-hati agar tidak terdeteksi oleh para tentara kekaisaran. Setelah meninggalkan balai hotel dengan sunyi bak bayangan, Nate sengaja memilih gang-gang sempit yang kosong dalam kota. Perjalanan kabur mereka terasa panjang sekali karena mereka harus melewati satu demi satu gang yang mirip labirin. Talcott mengikuti semua instruksi Nate sepanjang perjalanan seperti berjongkok, bersembunyi di balik tembok ketika ada tentara yang lalu-lalang melakukan ronda, dan sebagainya. Talcott tercengang melihat kelihaian Nate dalam mengendap-endap dan menavigasi Lestallum. Ia semakin memercayai pengakuan Nate bahwa dia adalah mantan seorang Hunter.

Pada akhirnya mereka berhasil meninggalkan kota dalam kondisi utuh. Talcott terus membiarkan dirinya digiring Nate sekitar sepuluh kilometer menjauhi Lestallum sampai tiba di sebuah lahan kosong yang dipenuhi pepohonan dan semak-semak hijau. Lalu ia terkejut ketika melihat sebuah kapal udara kekaisaran terparkir di sana dengan kap belakang terbuka lebar─sebuah reaksi normal seorang Lucian yang cenderung paranoid menyamai kapal Niflheim sebagai ancaman terorisme.

Nate sepertinya menyadari ketakutan Talcott karena ia berkata, "Tenang saja. Kapal ini beserta semua krunya berada di bawah otoritasku. Aku tidak akan membiarkan tentaraku melukaimu, tidak seperti Verstael atau Luche si sadis yang selalu menyakiti teman-temanmu."

Talcott tidak tahu harus berkomentar apa, jadi ia memutuskan untuk diam saja.

Ketika mendekati kapal udara tersebut, sepasang tentara yang menjaga kapal sambil membawa senapan menghampiri mereka. Ia mengira telah menjerumuskan dirinya ke dalam lubang buaya, namun ia keliru ketika satu dari dua tentara tersebut berkata, "Selamat malam, Tuan Drake. Kami siap menerima perintah Anda." Tentara itu menoleh kepada Talcott. "Tapi bolehkah kami bertanya siapa anak lelaki ini? Kami tidak bisa membiarkan seorang asing menaiki kapal kekaisaran tanpa izin."

"Dia adalah anak kerabat dekatku. Aku yang membawanya kemari," jawab Nate tenang, "jadi aku akan menanggung seratus persen kehadirannya di kota nanti… kau tahu, semua hal administratif seperti pengumpulan dokumen-dokumen registrasi, persetujuan imigran dan sebagainya."

Tentara itu diam sejenak, lalu berbisik dengan rekan di sampingnya. "Baiklah, Tuan Drake. Apa Anda berniat pulang sekarang?"

"Yeah, cepat bawa kami pergi dari sini sekarang juga," jawab Nate. "Oh ya, siapkan kopi hitam panas tanpa gula untukku. Dan untuk anak ini, kurasa kalian harus menyiapkan susu coklat hangat juga selimut tebal supaya dia tidak kedinginan selama perjalanan panjang."

Kedua tentara itu mengangguk patuh, berbalik dan masuk ke dalam kapal melalui kap yang terbuka.

"Ayo masuk ke kapal, Talcott," ajak Nate.

Mereka berdua masuk melalui kap belakang. Ruangan penumpang kapal lebih dari lega untuk disinggahi mereka berdua saja. Ada sofa panjang dan empuk di sisi kiri dan kanan ruangan penumpang. Nate duduk di kursi kiri, sedangkan Talcott di kursi kanan. Tak lama kemudian, kap kapal tertutup otomatis, lalu kapal udara itu lepas landas. Melalui jendela sempit di samping sofa, Talcott melihat langit malam gelap yang tak berbintang dan gumpalan awan setipis kabut.

Seorang tentara keluar dari ruang pengemudi yang berada di ruangan depan kapal yang terpisah dari ruangan penumpang. Dia membawa segelas kopi dan susu hangat, juga selimut tebal sesuai pesanan Nate. Setelah menyerahkan semua benda itu, tentara itu kembali ke ruang pengemudi.

Nate menyerahkan segelas susu hangat kepada Talcott. "Minum ini untuk menenangkan sarafmu yang tegang. Perjalanan ke rumah akan memakan waktu sekurang-kurangnya lima jam dari sini."

"Rumah?" tanya Talcott, menghabiskan susu dalam tiga tenggak lalu membaringkan kepalanya di atas sofa.

"Ya, rumahku."

"Di mana rumah Paman sebenarnya? Apakah Paman punya tepat tinggal di Lucis?"

"Tentu saja tidak. Seperti yang sudah kuceritakan padamu, sekarang aku adalah warga Niflheim. Jadi rumahku berada di Gralea."

Tenggorokan Talcott serasa ditonjok sampai-sampai ia sulit bernapas. "Kita akan pergi ke Gralea?"

"Percayalah padaku. Dalam situasi seperti sekarang, Gralea lebih aman dari seluruh kota di Lucis. Aku tidak dapat menjamin keselamatanmu jika kau berkeras tinggal di Lucis."

"Tapi aku seorang Lucian─"

"Begitu juga diriku dulu. Niflheim tidaklah seburuk pikiranmu. Mereka terbuka untuk menerima seorang Lucian tinggal di Gralea."

"Kenapa Paman repot-repot membawaku pergi dari Lucis ke Niflheim?"

"Apa aku perlu menjelaskannya padamu? Tentu saja karena kau adalah anak satu-satunya Oric, sahabat dekatku. Meskipun kakekmu dibunuh Luche, aku patut disalahkan atas tragedi tersebut karena akulah yang mendatangkan kekaisaran ke Lestallum. Setelah kematian kakekmu, kau tidak punya keluarga lagi yang bisa mengurusimu, bukan begitu? Oleh karena itu, aku merasa bertanggung jawab menggantikan kakekmu untuk mengurusimu."

Talcott merenung. Meskipun pernyataan Nate terdengar pahit, itu adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan. Jika ia tinggal di Lucis, kemungkinan besar ia akan tinggal bersama kelompok Pangeran dan ia akan terus merepotkan mereka. Pangeran sudah menanggung banyak tugas untuk menyelamatkan dunia. Kehadiran dirinya di kelompok Pangeran hanya akan mempersulit keadaan.

"Aku dan istriku belum memiliki anak meskipun kami telah menikah selama tiga tahun. Elena akan senang hati menerimamu sebagai anak angkat kami."

Membayangkan dirinya memiliki seorang ibu angkat membuat hati Talcott berbunga-bunga. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu karena ibunya meninggal ketika melahirkan ia. Ia juga sangat kekurangan kasih sayang Ayah karena beliau terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Hanya Kakek yang senantiasa menyayanginya, namun sekarang beliau telah tiada. Menjadi anak angkat sebuah keluarga kecil tidak terdengar buruk baginya.

Nate bangkit dari sofa, lalu membuka selimut tebal dan membungkus tubuh Talcott di atasnya. "Sebaiknya kau tidur selama perjalanan. Kau pasti amat lelah setelah melalui hari yang panjang."

Talcott belum sepenuhnya mengenal pria asing bernama Nate ini. Namun Nate telah menunjukkan kebaikan hatinya dalam waktu singkat, yang menumbuhkan kepercayaan Talcott pada lelaki itu. Beginikah rasanya memiliki seorang ayah yang menyayangi anaknya? Ketika ia memikirkan jawabannya, tanpa sadar ia pun tertidur dalam hitungan detik begitu menutup katup matanya.

Ia kira mimpi buruk akan menghantui tidurnya setelah melalui tragedi demi tragedi sepanjang hari ini. Untunglah ia keliru karena ternyata ia tidak bermimpi apa-apa. Bahkan ia tidak lagi memimpikan adegan kematian Kakek di tangan Luche. Semuanya menghilang dalam kehampaan alam bawah sadarnya. Ia tidur amat pulas sampai-sampai tidak menyadari bahwa lima jam telah berlalu sejak memasuki kapal udara ini.

Guncangan lembut di pundaknya membangunkan Talcott. Dengan terkantuk-kantuk, Talcott membuka katup matanya dan melihat Nate di hadapannya.

"Bangun, Talcott. Kita sudah hampir sampai di tujuan."

Talcott menyingkirkan selimut dan pelan-pelan mengangkat punggungnya dari sofa. Sambil duduk, ia melirik lagi ke luar jendela. Kapal udara masih melayang di langit subuh hari. Lanskap putih salju terbentang lebar. Ia tahu bahwa nyaris delapan puluh persen wilayah Niflheim adalah lahan salju abadi yang tercipta akibat pembunuhan Glacian oleh kekaisaran berpuluh-puluh tahun silam. Kemudian beberapa kilometer di depan, ia bisa melihat cahaya kemerahan samar-samar menerangi langit, menyingkap kegelapan. Kota tersebut berbentuk lingkaran sempurna. Di tengah kota terdapat sebuah bangunan pencakar langit yang memancarkan cahaya kemerahan ganjil tersebut. Di sekeliling bangunan tersebut tersebar ribuan bangunan yang ukurannya jauh lebih kecil, padat dan nyaris seluruhnya berwarna hitam dan abu-abu monoton.

Talcott menganga lebar melihat desain kota itu dengan mata kepalanya sendiri. Sepanjang hidupnya dulu ia melihat kota ini melalui gambar di buku pelajaran sekolah atau foto di koran yang diterbitkan Meteor Publishing di Insomnia.

Kapal mulai bergerak menurun dan terus menurun hingga mendarat di sebuah lahan parkir pesawat di atap bangunan pencakar langit di tengah kota.

Diiringi pengumuman oleh kru kapal yang menyatakan bahwa perjalanan telah berakhir, kap belakang kapal pun terbuka.

Dengan hati-hati, Nate menuntun Talcott keluar kapal. Udara dingin instan menggigit kulit Talcott hingga bulu kuduknya meremang.

Pria tampan itu tersenyum lebar dan mata birunya berbinar seperti seorang anak kecil. Dia pun berkata, "Kurasa aku perlu mengatakan ini dengan lantang untuk menyambutmu, Talcott. Rumahku adalah surgaku. Selamat tinggal Lucis dan selamat datang di Gralea, ibu kota Niflheim!"


Ignis dan Gladio terus berlari mendaki tangga darurat yang melingkar-lingkar seolah tak berujung. Sisa waktu sebelum Reaktor 4 meledak tinggal setengah jam. Akhirnya setelah mencapai puncak, mereka menemukan sebuah pintu merah. Gladio langsung mendobrak pintu tersebut. Udara dingin berhembus kencang menerpa wajah Ignis yang kini tampak jelas dari balik helm yang kacanya telah pecah.

Pada ketinggian ratusan meter di atas permukaan, mereka seolah bersentuhan langsung dengan langit malam, mengingat EXINERIS adalah bangunan tertinggi di Lucis. Area atap EXINERIS mirip seperti tempat landas pesawat, berbentuk kotak sempurna dengan lantai hitam, pagar besi setinggi paha pria dewasa di sekeliling area, puluhan lampu neon yang menempel di pagar menyala merah dan empat cerobong reaktor yang mengeluarkan asap putih pekat sehingga menjadikan area itu seperti diselimuti kabut.

Di tengah area atap berdirilah Caligo sendirian. Tak ada satu pun tentara yang menjaga komandan itu. Pria itu mendongak ke langit, barangkali dia sedang menunggu pesawat kekaisaran menjemputnya. Beruntung Ignis dan Gladio tiba sebelum Caligo sempat melarikan diri. Mereka berhenti berlari hingga tersisa sepuluh meter dari Caligo.

"Caligo! Kau sudah tidak bisa lari ke mana-mana lagi! Serahkan detonator dan kunci AZ-5 kepada kami! Jika kau menyerah dengan damai, kami berjanji tidak akan melukaimu sama sekali," seru Gladio.

"Kau tidak bisa lari ke mana-mana lagi, Caligo," kata Ignis berdiri bergeming. "Kau sudah kalah."

Tanpa membalikkan badan, pundak Caligo berguncang. Dia tertawa terbahak-bahak seperti orang sinting mengingat mereka baru saja menyuarakan ancaman, bukan lelucon. Tiada indikasi kekalahan dalam tawanya, malah terkesan meremehkan mereka. "Kalah katamu? Aku bahkan belum melayangkan tinjuku sekali pun kepada kalian berdua, dan berani-beraninya kau menyatakan bahwa aku kalah?"

Caligo membalikkan badan dan tawa bahkan senyumannya pudar. Dia melihat Gladio sekilas, lalu menoleh kepada Ignis dan menatapnya lebih lama. Tidak aneh karena wajah Ignis tampak jelas, sedangkan wajah Gladio tetap tersembunyi di balik helm.

"Kuakui bahwa kalian benar. Tidak ada lagi tempat untukku lari dari kalian," kata Caligo. "Aku telah terpojok. Aku bisa berbincang-bincang cukup lama denganmu, hei kalian yang namanya tak kuketahui, jadi aku akan menyebut kalian pria berkacamata dan pria gorila jumbo, sampai pesawatku tiba untuk membawaku pergi dari kota yang akan hancur tak lama lagi."

"Gorila katamu? Namaku Gladiolus dan temanku ini Ignis," seru Gladio sambil mengacungkan telunjuknya. Ignis mendegus kesal karena tidak sempat menghentikan ucapan temannya. Padahal akan jauh lebih aman jika mereka tetap anonim bagi Caligo. "Rencanamu selesai di sini! Atau lebih tepatnya, kami yang akan menyelesaikan rencana kotormu."

Caligo menghembuskan napas panjang. "Tidak pernahkah sekali pun kalian kelelahan menentang kekaisaran? Kalian berdua telah membuatku amat tidak nyaman."

Tiba-tiba Caligo menembakkan senapan yang dimaterialisasikan di tangan kanannya. Senapan itu melontarkan laser merah panjang, bukan peluru timah. Dalam hitungan sepersekian detik, laser tersebut nyaris mendarat di dahi Ignis. Untungnya Gladio bergerak cepat melindungi Ignis dan melompat hingga membuat mereka berdua terjerembab ke lantai.

Belum sempat bernapas, Caligo yang tadinya berjarak sepuluh meter dari mereka secara ajaib sudah berada di hadapan Ignis. Dia menarik lengan Ignis dan melempar tubuh Ignis hingga membentur pintu darurat di belakang. Ketika Gladio berdiri, Caligo menendang perut Gladio, lalu memutar kedua lengan lelaki berotot itu dan membantingnya ke lantai.

"Aku memang penasaran melihat rupa wajahmu, tapi akan lebih baik jika kuhancurkan kepalamu sampai tidak berbentuk, hei pria gorila jumbo!" Caligo mengangkat kakinya untuk meremukkan helm Gladio.

Menyaksikan nyawa temannya dalam bahaya, Ignis cepat-cepat berdiri dan menerjang Caligo. Lelaki berambut ungu tersebut mampu melawan terjangan kasar Ignis; dia hanya mundur dua langkah, lalu sikut tangan kanannya menusuk punggung Ignis. Serangan tersebut amat menyakitkan, seolah mematahkan tulang belakangnya, menyebabkan Ignis tak sengaja memuncratkan ludah. Serta-merta Caligo memutar dan melempar Ignis ke udara, tapi Ignis dapat mengendalikan arus tubuhnya dan mendarat di tepi pagar dengan satu lutut menempel di lantai. Telat sedetik saja, bisa-bisa ia terlempar melewati pagar dan terjun bebas ratusan meter dari awang-awang ke permukaan bumi.

"Gladio, cepatlah berdiri dan jauhi lelaki itu!" Ignis mematerialisasikan sepasang belati di kedua tangannya. Dilemparkannya satu belati itu dengan target dahi Caligo, tapi sang komandan melompat dua kali ke belakang dengan lihai bak pertunjukan akrobat. Ignis melempar lagi sebilah belati yang tersisa, berpikir bahwa ketika berputar di udara Caligo akan lebih mudah menerima tusukan belatinya. Namun kecepatan lelaki berusia kisaran empat puluh tahun tersebut amat menakjubkan. Caligo bisa melihat pergerakan belati Ignis di udara dan alih-alih menghindar, dia menangkapnya dengan tangan kanan.

Gladio, yang kini sudah berdiri di belakang Caligo, menyabetkan mahapedangnya. Tapi lagi-lagi Caligo telah mengantisipasikan serangan itu; dia memutar lengan kanan Gladio, lalu mendekap leher Gladio ke sikutnya, menjepit leher Gladio dengan belati Ignis.

"Brengsek! Lepaskan aku! Kalau kau pria sejati, kau tidak akan bertempur dengan menyandera seseorang," Gladio memberontak, tetapi Caligo tidak bersedia membebaskannya.

"Menyandera seseorang adalah salah satu strategi untuk memenangkan pertempuran. Itu tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kejantanan seorang pria," bantah Caligo, terus menekan belati sampai ujung bilahnya nyaris menembus seragam EXINERIS Gladio.

Ignis tahu ia harus berpikir cepat untuk menyelamatkan temannya dari situasi tidak menguntungkan ini. "Kenapa kau lakukan semua ini? Apa yang kau capai dengan meledakkan reaktor EXINERIS?"

"Setiap hari manusia melangkah lebih dekat ke dalam kehancuran, terima kasih kepada Starscourge untuk itu," jawab Caligo, spontan mengendorkan ujung belati dari leher Gladio. "Atas mandat Kaisar Iedolas, Kekaisaran Niflheim tidaklah bermaksud menghancurkan dunia, melainkan menyelamatkan dunia!"

"Aku tidak bisa menerima omong kosongmu," bantah Ignis. "Bukanlah kekaisaran yang dipilih untuk menyelamatkan Eos, melainkan Noctis, sang Raja Sejati yang ditakdirkan melakukannya!"

Mengamati Caligo yang perhatiannya teralihkan dari Gladio kepada Ignis, ia mengedipkan mata kanannya, mencoba mengirimkan sinyal tak bersuara kepada Gladio: Sekarang saatnya kau membebaskan diri!

Memahami sinyal Ignis, Gladio cepat-cepat menyentakkan kepalanya hingga membentur kepala Caligo. Caligo terhuyung-huyung ke belakang sambil menekan dahinya yang bengkak akibat benturan keras tersebut. Gladio segera membebaskan diri dari dekapan sang komandan dan berlari hingga tiba di samping Ignis.

"Kau tidak apa-apa, Gladio?"

"Aku baik-baik saja. Tapi aku tidak menyangka Caligo yang selalu bertingkah idiot ternyata memiliki kekuatan sebesar ini dalam bertempur. Aku salah karena telah meremehkan pria tua itu."

"Aku juga sependapat denganmu."

"Sepertinya kita perlu usaha ekstra dalam merebut detonator dan kunci AZ-5 darinya."

"Tinggal berapa menit tersisa sebelum Reaktor 4 meledak?"

"Aku tidak tahu. Kutebak baru sepuluh menit berlalu sejak kita meninggalkan ruang kontrol primer. Jadi tersisa sekitar dua puluh menit."

Jantung Ignis berdegup kencang mendengar fakta tersebut. "Dikurangi waktu untuk menuruni tangga darurat menuju ruang kontrol primer, kurang lebih hanya lima belas menit tersisa─"

"Lima belas menit lebih dari cukup kalau kita mengerahkan segenap kekuatan kita untuk mengalahkan lelaki brengsek itu. Aku akan menggunakan kekuatan baru yang kuperoleh di Taelpar Crag. Kalau kau masih memiliki kartu AS lainnya seperti belati sihirmu, sekarang adalah saat yang tepat untuk mengungkapkannya."

Masih ada satu kartu AS terakhir yang belum pernah digunakan Ignis sepanjang petualangannya di luar Tembok. Namun sihir tersebut memiliki efek samping yang parah sehingga ia hanya akan menggunakannya jika benar-benar tidak ada trik lain yang tersisa. Sepertinya sekarang memang waktu untuk menggunakan kartu AS terakhirnya.

"Mau sampai kapan kalian berbincang-bincang santai?" Caligo menginterupsi, lalu membuang belati Ignis ke lantai seperti sampah dan sekejap saja belati itu berpindah ke tangan Ignis. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan detonator di tangan kanan. Selanjutnya tangan kirinya melepas benda yang dikalungkan di lehernya. Benda tersebut adalah sebuah kunci kecil berwarna silver. "Kalian mengejarku sejauh ini untuk merebut kedua benda ini, bukan begitu? Bayangkan skenario ini: kau menyimpan dua benda kecil yang mampu menentukan nasib satu benua besar. Oh, aku merasa penuh kuasa bisa menggenggam mereka. Oleh karena itu, jangan harap aku akan menyerahkan kekuasaan sebesar itu dengan gratis kepada kalian."

"Aku mengerti. Kau tidak ingin menyerah dalam damai. Kami tidak akan segan-segan melukaimu, bahkan membunuhmu untuk merebut kedua benda tersebut," kata Gladio.

"Kalau kau menginginkan pertempuran, kami bersedia melakukannya," tambah Ignis.

"Tidakkah kalian pikir pertempuran ini tidak adil? Dua lelaki dewasa melawanku seorang diri?" Caligo mengelus dagunya yang plontos.

"Kalau kau berharap satu dari kami mundur dari pertempuran, kau bisa jilati bokongku," seru Gladio.

"Amit-amit. Aku tidak rela merendahkan derajatku dengan menjilati bokongmu yang hina itu." Caligo mengangkat lengan kanannya sejajar dengan bahunya. "Baiklah, aku punya solusi untuk membuat pertarungan ini adil. Datanglah kemari, wahai hewan peliharaan kesayanganku!"

Sebuah portal lingkaran merah antardimensi terbentuk di udara kosong dari kenihilan. Dari sana muncullah figur yang diselimuti cahaya merah, yang mendarat di permukaan hingga menimbulkan suara gaduh. Ketika balutan cahaya merah tersebut sirna, figur tersebut berupa robot yang bentuknya seperti kodok; dia berkaki empat pipih, tubuhnya gempal dengan ukiran garis-garis emas, kepala kecilnya menyatu melalui leher kurus dengan tubuhnya, dan dia memiliki satu mata yang bercahaya merah mengilap. Berbeda dari varian MA-X yang telah mereka hancurkan dalam seminggu terakhir, robot kodok tersebut memiliki desain yang jauh berbeda.

"Omong kosong antardimensi macam apa ini?!" keluh Gladio, sama terperanjatnya dengan Ignis. Baru pertama kali mereka melihat bahwa kekaisaran memiliki teknologi seperti portal ajaib yang mampu memindahkan barang lebih cepat dari cahaya. Apakah ini salah satu trik baru di balik teknomagitek?

"Omong kosong antardimensi yang buruk, kuakui," jawab Ignis.

"Izinkan aku bercerita singkat sebagai intro, oke? Dahulu kala warga kuno Solheim menciptakan sebuah senjata untuk menentang para dewa, yakni Omega. Kalian dengar? O-M-E-G-A," Caligo mengelus-elus kepala robotnya seperti majikan mengelus seekor anak kucing. "Senjata teknomagitek ini tidak mengenal kasih sayang, melainkan hanya kehancuran. Kekuatan Omega tidak ada bandingannya. Mereka yang berakal sehat akan berharap untuk tidak bersilang jalan dengannya atau mereka akan binasa." Caligo memalingkan wajah kepada kedua lelaki di hadapannya. "Dengan begini, pertempuran kita menjadi dua lawan dua. Tapi sejujurnya, aku bisa hengkang dari pertempuran dan menyerahkan seluruhnya kepada Omega saja. Toh kalian tidak ada tandingannya di hadapan Omega."

"Strategi apa yang kau pikirkan untuk mengalahkan mereka?" bisik Gladio.

"Caligo telah membuktikan diri sebagai petarung yang andal. Sedangkan aku tidak tahu sehebat apa Omega itu. Karena itu, jika kau berkenan, aku akan melawan Caligo dan kau Omega," jawab Ignis.

"Yeah, ide yang brilian. Serahkan robot yang kelihatannya mematikan itu padaku."

"Kalau kau keberatan, kita bisa bertukar lawan."

"Terima kasih atas tawarannya, tapi aku menolak. Biasanya melawan robot lebih mudah daripada manusia."

"Kali ini aku tidak percaya seratus persen akan dogma tersebut, tapi kurasa lebih baik kau berpikir begitu agar kepercayaan dirimu tidak merosot." Ia memasang kuda-kuda menyerang dengan sepasang Spelldagger di kedua tangan. "Kau siap, Gladio?"

Gladio mematerialisasikan Hyperion yang menyemburkan aura kebiruan. "Ayo kita selesaikan pertempuran ini!"

Dalam satu sentakan, Ignis dan Gladio melaju kencang menuju Caligo dan Omega.

Ignis berlari memutari Caligo, yang juga telah menerima Ignis sebagai lawannya. Ketika ia hendak menusukkan belatinya ke dada Caligo, Omega menghalanginya dan menembakkan laser dari mata merahnya. Gladio memblokir laser itu dengan Kite Shield ketika Ignis berlindung di balik tubuh temannya, lalu kembali berlari sambil terus mengunci penglihatannya pada Caligo.

Di saat Omega sedang disibukkan Gladio, Ignis melesat hingga hanya tersisa lima senti antara ia dan Caligo. Ignis melancarkan serangan kombo dari sepasang belatinya secara ke berbagai sisi Caligo yang terbuka. Dengan gesit, Caligo menghindari rentetan serangan tersebut. Tetapi satu sayatan diagonal berhasil memotong beberapa helai poni Caligo.

"Berani-beraninya kau memotong rambutku yang indah! Caligo membelai poninya yang tergantung ke belakang, jelas marah besar melihat helai demi helai rambutnya bertebaran dan tersapu angin. "Makan ini!" Tiba-tiba Caligo bersiul seperti seorang polisi memanggil anjing pelacaknya. Omega memindahkan targetnya dari Gladio ke Ignis; robot itu melompat tinggi lalu hendak mendarat di atas kepala Ignis.

Sebelum dilumatkan Omega, Ignis berguling ke kanan. Saat hendak melakukan serangan balik terhadap robot itu, Caligo bersiul kembali dan Omega melompat tinggi ke belakang, kembali melawan Gladio yang menyabetkan Hyperion kepadanya.

Dalam sekali kedipan mata, Caligo melesat kencang dan kembali menembakkan laser merah dari pistolnya. Serangan menyakitkan itu nyaris mengenai dadanya di saat Ignis memblokirnya dengan kedua belati yang disilangkan di depan dadanya. Sayangnya Spelldagger tidak mampu menahan tekanan energi senapan Caligo sehingga mereka terpental dari genggaman Ignis.

"Argh!" Pergelangan tangan kanan Ignis berdenyut-denyut ketika ia menggerakkannya. Dampak dari serangan laser itu menyebabkan lengan kanannya keseleo.

Aku harus segera menyembuhkan luka ini atau aku tidak dapat bertempur dengan maksimal.

Ignis berlari menjauhi Caligo yang mengacungkan mulut senapan kepadanya. Syut. Satu tembakan laser merah mendarat satu senti di samping sepatu Ignis. Syut, syut. Dua tembakan lainnya melewati pundak Ignis. Cepat-cepat ia mematerialisasikan sebotol Potion dan meremasnya menjadi ratusan partikel cahaya biru. Rasa nyeri di pergelangan tangan kanannya mereda.

Aku harus lebih berhati-hati sebelum menyerang Caligo lagi. Walaupun Gladio sedang menyita perhatian penuh Omega, setiap kali aku hendak mendekati Caligo, Omega akan menghalangiku mengikuti siulan Caligo yang kutebak adalah cara dia mengendalikan Omega sesuai kehendaknya.

"Ada apa denganmu, Ignis? Kau tampak kewalahan," seru Gladio ketika menyabetkan Hyperion ke satu kaki Omega. "Pusatkan perhatianmu pada Caligo!"

"Gladio, mundurlah dan berdiri di sampingku!" seru Ignis.

"Kau menyuruhku mundur dari pertempuran?"

"Ikuti saja perintahku!"

"Uh, baiklah." Gladio menghantamkan mahapedangnya tepat ke kepala Omega, tetapi robot itu melompat tinggi menghindari serangan dan mendarat di samping Caligo.

Ketika Ignis telah berdiri berdampingan dengan Gladio, ia berkata, "Kita tidak bisa melawan mereka sendiri-sendiri. Sebaliknya, kita harus memusatkan kombinasi kekuatan kita berdua ke satu target dalam satu waktu."

"Maksudmu kita perlu menghancurkan si robot kodok itu sebelum mengurusi majikannya?"

"Tepat sekali. Omega berfungsi sebagai pertahanan Caligo. Jika Omega hancur, maka akan jauh lebih mudah untuk menyerang Caligo."

Mendadak Caligo bersiul kembali.

Omega melesat sambil berputar-putar seperti mesin pengebor menuju Ignis dan Gladio.

"Awas!" seru Gladio seraya mendorong Ignis sehingga Omega berhasil menyeruduknya dengan begitu keras.

Setelah memutar tubuh sekali, Ignis melihat Omega membuka mulut robotiknya dan memunculkan dua pasang taring runcing metalik, hendak merobek perut temannya.

"Gladio, bertahanlah!" Ignis mematerialisasikan Spelldagger dan menyihirnya dengan Thunder─ia menyebut sihir ini sebagai Stormbind. Ia melempar satu belatinya hingga menancap di leher Omega. Muncullah ledakan listrik kecil yang menyebabkan seluruh tubuh Omega korsleting. Sebelum Omega menimpa Gladio, Ignis menyeret temannya menjauhi si robot kodok.

"Terima kasih atas bantuannya," kata Gladio seraya menerima uluran tangan Ignis untuk berdiri. "Sihir Thunder-mu sepertinya ampuh untuk melumpuhkan Omega."

"Ya, kupikir semua robot produksi kekaisaran memang lemah terhadap sihir Thunder, sama seperti para MT," simpul Ignis. "Tetapi cukup basa-basinya. Omega sedang tidak mampu bergerak. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menyerang Caligo."

Gladio mengangguk. Mereka segera menerjang Caligo yang berdiri sendiri.

"Rasakan bilah mahapedangku ini!" seru Gladio, mengayunkan senjatanya.

Caligo menyunggingkan senyum di satu sudut bibirnya dan bersiul panjang.

Tiba-tiba Omega telah melompat tinggi dan hendak mendaratkan tubuh logam beratnya di atas Ignis dan Gladio. Sepasang lelaki itu menghindar ke samping dan terpaksa menjauhi Caligo.

"Hmph. Ternyata kalian tidak buruk juga," sindir Caligo, melihat Omega yang masih korsleting.

"Gladio, laksanakan strategi yang kita susun tadi!"

"Roger!"

Mereka melesat ke arah lawan… tepatnya ke Omega, tidak menghiraukan Caligo. Sepertinya Caligo mengira dirinya akan diserang karena dia melompat jauh ke belakang. Ignis melancarkan kombo Stormbind ke seluruh jengkal tubuh robotik Omega. Si robot bergerak-gerik tak karuan menerima sengatan listrik tersebut.

"Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan hewan peliharaan kebanggaanku!" Caligo bersiul panjang, pertanda bahwa dia menginstruksikan Omega untuk datang kepadanya.

"Jangan harap aku akan membiarkanmu kabur dari kami!" teriak Gladio. Bilah Hyperion bersinar terang kebiruan. Dia menusukkan mahapedangnya ke dahi tengah kepala kecil Omega, membelahnya menjadi dua seperti semangka. Meskipun menerima serangan fatal tersebut, Omega tetap bersikeras hendak melompat tinggi untuk kembali kepada majikannya, tetapi Gladio mendekap leher kurus si robot sehingga menahannya tetap di posisi sekarang.

"Gladio, menjauhlah dari Omega. Dia akan meledak sebentar lagi!"

"Biarkan aku menahan robot sialan ini di sini. Kuserahkan Caligo kepadamu!"

"Tapi kau bisa mati jika terkena ledakan tersebut─"

"Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mati semudah itu. Pergilah, Ignis. Tuntaskan misi sialan ini. Aku percaya kau dapat melakukannya."

Benak Ignis terbagi antara menyelamatkan temannya atau menghancurkan lawannya. Namun mengingat mereka sedang dikejar waktu, akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Gladio dan secepatnya mengalahkan Caligo.

Ignis berlari ke tengah area untuk berhadapan dengan Caligo. Di saat ia berlari, ledakan besar terpentik di belakangnya. Ia melirik sesaat ke belakang dan melihat Omega telah hancur berkeping-keping. Seragam EXINERIS Gladio terkoyak-koyak hingga dada bidang lelaki itu di baliknya, helmnya yang pecah menampakkan wajah Gladio yang dipenuhi peluh. Asap mengepul dari sekujur tubuh Gladio yang terbakar. Setelahnya Gladio terjerembab ke lantai, pingsan akibat efek ledakan itu.

Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbananmu, Gladio.

"Brengsek! Kau menghancurkan karya agungku! Tidakkah kau tahu berapa besar biaya untuk mengembangkan Omega?" keluh Caligo.

"Sekarang hanya tinggal kita berdua." Ignis mengangkat Spelldagger setinggi hidungnya, satu kaki didorong ke belakang.

"Maksudmu tiga?" Tanpa diduga, Caligo memunculkan satu lagi pistol di tangan kirinya. Kini kedua tangan Caligo menggenggam sepasang pistol. "Sepasang belati melawan sepasang pistol. Mari kita lihat siapa yang lebih unggul."

Caligo melesat kencang. Pistolnya beradu dengan belati Ignis, memercikkan bunga api. Lalu aksi selanjutnya berlangsung cepat sekali: punggung mereka saling berlawanan, mereka berputar cepat, Caligo menembakkan laser dari satu pistolnya, Ignis memblokirnya dengan belati dan terdorong beberapa meter ke belakang, jarak mereka terbentang sepuluh meter.

"Ayo kita jadikan malam ini sebuah kenangan baik untuk diingat," ujar Caligo, memutar-mutar pistol di tangannya dengan lihai.

Ignis berlari ke kanan, sedangkan Caligo melesat kencang ke kiri. Lengah sedetik saja, Ignis bisa kehilangan posisi Caligo.

"Apa kau sudah serius sekarang?" tanya Ignis.

"Yeah. Kau seharusnya merasa terhormat membuatku sampai perlu menggunakan sepasang senapan untuk membunuhmu." Caligo menembakkan kedua pistolnya ke lantai, menimbulkan asap yang menyelimutinya hingga Ignis tak dapat melihatnya lagi.

Pergi ke mana dia?

Syut, syut, syut, syut, syut. Lima tembakan laser mendarat di perut Ignis.

"Uagh!" teriak Ignis kesakitan.

"Aku belum selesai!"

SYUT.

Tembakan besar mendarat di dahi Ignis hingga lehernya tersentak kasar ke belakang.

Aku harus segera menyembuhkan diri.

Cepat-cepat Ignis menggunakan sebotol Potion lagi untuk meredakan rasa nyeri di tubuhnya.

"Dasar cecunguk keras kepala! Kenapa kau tidak mati-mati juga setelah menerima seranganku bertubi-tubi?" gerutu Caligo. "Kau membuatku berkeringat. Dan aku amat benci berkeringat karena itu membuat aroma tubuhku menjadi bau."

"Aku tidak akan menyerah sampai kau menyerahkan detonator dan kunci reaktor kepadaku. Karena kau sangat menjaga kebersihan tubuhmu, aku akan mengakhiri pertempuran ini sekarang juga."

Sekarang saatnya Ignis menggunakan kartu AS terakhir. Ia mengerahkan seluruh kekuatannya hingga tubuhnya meledakkan jutaan partikel cahaya biru. Sepasang bilah Spelldagger diselimuti percikan sihir campuran Thunder, Fire dan Ice; warna kuning, merah dan biru bercampur menjadi satu, begitu indah seperti pelangi. Sihir ultimatum ini disebutnya sebagai Overlimit. Seperti istilahnya, sihir ini akan membuat penggunanya mengerahkan kekuatan di luar kapasitas normal tubuh untuk melancarkan serangan superdahsyat dengan bayaran tubuh si pengguna akan sangat kelelahan hingga bisa menyebabkan pingsan dan butuh waktu panjang untuk memulihkan diri. Ia tahu bahwa ia akan melewatkan berhari-hari ke depan dengan tidur dan ia membenci gagasan ini. Akan tetapi, istirahat panjang terdengar tidak begitu buruk setelah ia menjadi pahlawan yang menyelamatkan Lucis dari ambang kiamat.

Ignis melesat sangat kencang sampai Caligo tidak sempat menghindar. Ia menyayat armor Caligo puluhan kali kurang dari satu menit. Caligo tidak berkutik sama sekali. Dan dengan satu tusukan terakhir, Spelldagger menembus lapisan pelat armor Caligo hingga menusuk dada tengahnya.

"Berhenti! STOP! Kau bergerak terlalu cepat! Kau menyakitiku! Uagh! TIDAAAK!" Caligo memuncratkan darah lalu ia nyaris terjatuh, tapi lutut kanannya menahan beban tubuhnya.

Ignis menarik Spelldagger dari dada Caligo, darah menyembur bak air terjun. Ia menyentak senapan di tangan kiri Caligo hingga terlepas. Caligo tidak diam saja meskipun ia telah terluka parah. Dia berdiri dan mengunuskan mulut pistolnya ke kepala Ignis. Namun belum sempat Caligo menekan pelatuk, Ignis menebaskan belati satunya dan senapan terakhir Caligo terpental jauh ke udara. Kini Caligo telah kehabisan senjata untuk melawan.

"Aku bisa membunuhmu di sini sekarang juga, kalau aku bersedia," kata Ignis, mengacungkan belatinya ke leher Caligo.

"Jangan bunuh aku! Aku punya istri dan dua anak yang menungguku pulang di rumah. Kumohon ampuni aku! Kau mau uang? Aku bisa memberimu kekayaan tak terbatas jika kau mengampuni nyawaku!" pinta Caligo seraya berlutut memohon ampun padanya, menampakkan wajah memelas dan menarik-narik celana seragam EXINERIS Ignis. Pria yang tadinya arogan kini tampak seperti pengemis tua yang menyedihkan. Ignis tak habis pikir menyaksikan perubahan sikap Caligo yang begitu drastis seolah lelaki itu memiliki kepribadian ganda.

Ignis menarik lengan kanan Caligo, pria itu menjerit ketakutan, lalu ia berkata, "Berikan detonator dan kunci itu padaku. Hanya itu syarat yang kuajukan untuk tidak membunuhmu."

Caligo melepas lengan kanannya, sedangkan lengan kirinya menekan dadanya yang terus mengalirkan darah. Dia mengangkat lengan kanannya setinggi kepala sebagai tanda menyerah. "Oke, itu syarat yang mudah." Dia merogohkan lengan kanan ke balik jubah, mengeluarkan detonator dan menyerahkannya kepada Ignis. "Ambil ini. Toh detonator ini tidak ada gunanya kalau tegangan Reaktor 4 masih berada dalam batas aman."

"Serahkan juga kunci AZ-5 padaku."

Caligo melepas kalung yang dijadikan gantungan kunci di lehernya. Ignis mengambilnya dan menyimpan kunci beserta detonator di dalam kedua saku celananya.

"Aku sudah menyerahkan semua yang kau minta dariku. Sekarang lepaskan aku atau aku bisa mati kehabisan darah."

Terdengar deru bising kapal udara di atas kepala Ignis. Dari jarak pandang dua puluh meter di langit, sebuah kepala udara kekaisaran sedang menghampiri atap EXINERIS.

"Pesawatku telah tiba untuk menjemputku. Bisakah aku pulang ke rumahku tanpa perlu terus ditodong belati seolah-olah kau tidak akan puas jika belum menggorok leherku?"

"Berdiri dengan kedua tangan disilangkan di balik punggungmu," perintah Ignis. Caligo menurutinya. "Aku akan menggiringmu sampai kau berada di tepi pintu pesawat. Sebelum masuk pesawat, perintahkan para tentaramu untuk tidak menyerangku."

"Banyak sekali permintaanmu. Seharusnya kupungut biaya ekstra untuk menyanggupi seluruhnya," keluh Caligo. Dia berdiri dan berjalan menuju pesawat yang sekarang telah mendarat di atap EXINERIS.

Ketika pesawat udara melandas, kap belakangnya membuka perlahan. Dua orang tentara segera menampakkan diri sambil menodongkan senapan kepada Ignis.

"Komandan Caligo! Apa Anda baik-baik saja?" tanya tentara yang berdiri di kanan.

"Baik-baik saja bokongmu! Apa aku terlihat baik-baik saja ditodong senjata seperti ini, otak dungu?"

"Maafkan aku, Komandan," kata tentara satunya di kiri. "Perintahkan kami untuk mengeliminasi lelaki itu."

Ignis merasa terancam. "Jangan berpikir kau bisa lepas dariku, Caligo. Lakukan perintahku tadi. Suruh mereka untuk menurunkan senapannya dariku."

"Kalian dengar perkataan pemuda Lucian ini? Buang senapan kalian dan biarkan aku masuk ke dalam pesawat tanpa ada kerusuhan yang tak diperlukan," kata Caligo.

Awalnya sepasang tentara di dalam pesawat tampak kebingungan. Mereka saling beradu pandang dalam beberapa detik. Kemudian mereka pun akhirnya melemparkan senapan ke lantai pesawat.

Ignis melepaskan Spelldagger dari leher Caligo. Sang komandan berlari sambil menutupi luka tusuk di dadanya dan mendaki kap belakang pesawat. Seorang tentara memapah Caligo untuk berjalan ke dalam area penumpang. Setelahnya Caligo menyandarkan punggungnya di sofa.

"Bawa aku kembali ke Gralea. Urusan kita di sini sudah selesai," seru Caligo. "Aku sudah melakukan tugasku. Biarkan Verstael yang menyelesaikan misi dari Kaisar." Dari dalam kapal, dia menoleh kepada Ignis yang berdiri di tepi kap belakang pesawat. "Namamu Ignis, bukan? Aku mengakui kekalahanku untuk sekarang, tetapi ketika kita bertemu lagi, aku bersumpah akan membalas perlakuanmu seribu kali lebih kejam!"

Ignis tak terpancing oleh gertakan sambal Caligo, jadi ia diam saja.

"Oh, ya, sebelum aku pergi kuberitahukan satu rahasia padamu," kata Caligo. Senyuman piciknya kembali merekah. "Ada detonator kedua yang bisa kami gunakan untuk meledakkan Reaktor 4. Detonator itu dipegang oleh Verstael. Jadi jangan bergembira dahulu sebelum kau atau temanmu merampas detonator cadangan tersebut dari Verstael yang berada jauh di dalam kota saat ini."

"Kalian memiliki detonator kedua?" Jika ada dua detonator, maka ia belum menang total dari kekaisaran. Ia berharap-harap cemas Noctis dan Prompto bisa merebut detonator kedua dari Verstael sebelum terlambat. "Kalian memang benar-benar licik."

"Terima kasih atas pujiannya. Ya, kami memang licik. Dan kelicikan selalu mendatangkan kemenangan," sahut Caligo. "Yah, selamat tinggal karena kau dan teman-temanmu toh akan terdampar dan mati di Lucis yang tak lama lagi akan binasa!"

Kap pesawat tertutup seluruhnya dan pesawat udara kekaisaran terangkat ke udara dan melaju kencang di langit, menjauhi EXINERIS hingga hilang dalam kegelapan malam.

[Hei, apa kau bisa mendengarkanku?]

"Ya, aku bisa mendengarmu, Jeanne."

[Aku harus memperingatkanmu bahwa tersisa lima menit sebelum Reaktor 4 meledak. Cepatlah kembali ke ruang kontrol primer dan serahkan kunci pemadam reaktor kepada Bu Holly.]

"Lima menit lebih dari cukup. Aku akan segera turun ke ruang kontrol primer."

Ketika berada di ambang pintu darurat, Ignis menoleh sebentar kepada Gladio yang masih pingsan. Untuk saat ini, ia memutuskan untuk membiarkan Gladio dalam kondisi demikian. Ia berlari menuruni tangga darurat yang memutar-mutar. Pada setiap langkah yang diambilnya, ia menghitung mundur lima menit dalam kepalanya.

Empat menit…

Tiga menit…

Dua menit…

Satu menit…

Tiga puluh detik…

Dua puluh detik…

Ia segera mendobrak pintu darurat yang langsung terhubung ke ruang kontrol primer.

Holly, yang tadinya sedang duduk di depan panel reaktor, segera berdiri menyambut kedatangan Ignis. "Syukurlah kau baik-baik saja. Ke mana temanmu? Apa kau berhasi merebut kunci tombol AZ-5?"

Ignis melangkah cepat, merogoh saku celananya dan menyerahkan kunci tersebut kepada Holly. "Lupakan Gladio untuk saat ini. Bergeraklah dengan cepat. Kita hanya punya lima belas detik untuk memadamkan Reaktor 4."

Tanpa berkata-kata, Holly langsung bergerak ke panel dekat jendela, memasukkan kunci tersebut ke lubang kunci panel Reaktor 4, memutarnya dan memasangnya ke arah ON. Ditekannya tombol AZ-5. Lantas suara robotik wanita terdengar di dalam ruangan itu melalui sistem pelantang suara, "Memadamkan seluruh reaktor dalam hitungan mundur. Lima… empat… tiga… dua… satu. Mengonfirmasi bahwa Reaktor 1, 2, 3 dan 4 telah padam seluruhnya."

Holly bersujud penuh syukur, lalu segera berpaling pada Ignis yang berdiri di belakangnya dan berseru, "Sepatutnya kau bangga atas pencapaian luar biasa ini karena telah berhasil menyelamatkan nyawa jutaan Lucian. Kami semua berutang budi padamu."

"Akhirnya selesai juga…" Tiba-tiba Ignis terasa amat lelah sampai ia tidak mampu menyusun kalimat yang hendak diucapkannya. Tubuhnya limbung ke depan, tapi ia menahan beban tubuhnya di kepala sebuah kursi putar, lalu tangannya pun terasa luar biasa lemas sehingga genggamannya terlepas dan ia pun segera terjatuh ke lantai. Efek samping penggunaan Unlimit telah timbul dengan penuh dendam dan ia tidak mampu menahannya lebih lama lagi.

"Demi para dewa!" seru Holly, berusaha memeriksa kondisi Ignis. "Apa kau baik-baik saja? Bisakah kau mendengarkanku…? Apa yang kau─"

Suara Holly terputus seiring dengan memudarnya kesadaran Ignis. Keberadaan detonator kedua bukanlah sebuah ancaman lagi karena seluruh reaktor telah berhasil dipadamkan. Misi bagian dirinya dan Gladio telah tuntas. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah menyerahkan sisa misi kepada Noctis sebelum pergi ke alam mimpi selama tiga hari lamanya.


Karena kecerobohannya, Verstael tak sengaja menekan detonator. Noctis mengira riwayatnya beserta seluruh Lucian telah tamat karena meledaknya Reaktor 4 EXINERIS.

Dengan tertatih-tatih, Verstael bangkit dari jatuhnya, lalu masih menggenggam erat detonator, dia berseru, "Lihatlah akibat perbuatanmu, Pangeran. Kaulah yang menyebabkan kehancuran Lucis. Sungguh ironis mengetahui bahwa Raja Sejati yang ditakdirkan menyelamatkan dunia malah berakhir membinasakannya!"

Noctis tidak menerima dirinya disalahkan, tetapi kenyataan tersebut juga tidak sepenuhnya keliru. Apabila ia tidak mendadak menerjang Verstael, kakek itu tidak akan tidak sengaja menekan detonator pembawa maut tersebut. Tak tahu apa yang mesti diucapkannya, Noctis diam seribu bahasa. Ia menunggu ledakan dahsyat akan terdengar tak lama lagi. Dan itulah akhir dari misi panjang hari ini: ia dan teman-temannya telah kalah. Sedangkan kekaisaran menang mutlak karena telah memperoleh Cincin Lucii, menyandera Luna dan Iris, dan menghancurkan Lucis.

Namun semenit berlalu, tak terdengar ledakan apa pun.

Verstael keheranan. "Mustahil. Kenapa reaktor itu tidak meledak? Apa detonator ini rusak?" Dia memencet detonator itu sekali lagi. Tetap tak terjadi apa pun. Lalu dipencetnya lagi dan lagi dan lagi. Situasi di balai Leville, yang tak begitu jauh dari EXINERIS, tetap sunyi. Hanya suara deru mesin pesawat terbang kekaisaran yang mengisi udara. Dia pun membuang detonator itu ke permukaan. "Barang tidak berguna! Apa yang sebenarnya telah terjadi di dalam EXINERIS?"

Noctis lega bukan kepalang. Barangkali detonator itu memang rusak. Atau kemungkinan yang lebih pasti adalah Ignis dan Gladio telah berhasil menuntaskan misi mereka dengan mencapai ruang kontrol primer dan memadamkan seluruh reaktor.

"Sepertinya kau telah kalah, Verstael," kata Noctis, menghunuskan Engine Blade tepat ke batang hidung si kakek, menyadari bahwa kini Verstael tidak memiliki apa pun untuk melindungi diri. Ia berseru kepada Prompto yang sudah mengatasi serangan para tentara dan kini kembali berjaga di belakangnya. "Prompto, arahkan pistolmu pada kakek ini!"

"Baik, Noct!" balas Prompto sigap.

"Sekarang kembalikan Cincin Lucii padaku dan bebaskan Luna dan Iris. Kalau kau menolak, peluru temanku akan mendarat di tubuhmu," kata Noctis.

Tersudut, Verstael bukannya ketakutan, melainkan tersenyum sinis. "Khu khu khu… Jangan kira aku sudah kalah, Pangeran yang naif. Aku masih menyimpan satu trik terakhir untuk membalikkan posisi kita." Lantas dia berteriak sekeras-kerasnya, "Verstael Besithia mengambil alih kendali Magitek Trooper model N-iP01357 unit 05953234! Kunci targetmu pada lelaki di hadapanku dan tembak mati dia!"

Apakah kakek ini sudah kehilangan akal sehatnya? Bualan macam apa yang dia serukan? Atau lebih tepatnya, kepada siapa dia menujukan instruksi ganjil tersebut? Hanya ada aku, dia dan Prompto di sini─

DOR!

Terdengar suara tembakan nyaring di balai Leville yang porak-poranda. Awalnya Noctis tidak merasakan apa-apa, tetapi lambat laun dadanya terasa panas. Darah merah nan segar merembes ke kaos Crownsguard-nya. Dan seperti tersambar petir, rasa sakit luar biasa mulai menjalari saraf-saraf motoriknya, membuat ia mati rasa dari ujung rambut ke ujung kaki.

Sakit… sakit sekali…! Apakah aku telah… tertembak? Siapa… siapa yang menembakku…?

Diiringi tawa keji Verstael, Noctis menoleh ke belakang, ke arah bunyi tembakan itu berasal, sebelum ia ambruk. Ia terkejut bukan kepalang, otaknya tak dapat menerima kenyataan pahit ketika ia menyaksikan bahwa sosok yang menembaknya tidak lain─dan jauh di luar dugaannya─adalah Prompto.


Revisi untuk A/N di chapter 84. Chapter 85 ini adalah dua chapter terakhir untuk menutup Buku 3. Chapter 86 alias chapter final akan dirilis tanggal 31 Agustus 2021 sebagai penutup akhir tahun!