FINAL FANTASY VERSUS
086
Berkontak mata dengan Verstael ketika Prompto berada di EXINERIS menyadarkan sesuatu yang telah lama lenyap, yaitu ikatan batin alamiah antara anak dengan orangtuanya. Prompto tumbuh besar bersama ayah dan ibu angkatnya, yang selalu meninggalkannya seorang diri di rumah di Insomnia karena "urusan pekerjaan". Saking lamanya Prompto ditinggal oleh mereka, ia lupa bagaimana sensasi berada dekat dengan orangtuanya sendiri. Mungkin sebagai anak, ia berhak bermanja-manja atau bersikap egois meminta perhatian dari orangtuanya dan mereka akan membalas dengan memberikan kasih sayang yang berlimpah. Kini semua kenangan orangtua angkatnya telah memudar dari benaknya. Itu bukan masalah besar baginya karena ia puas telah memiliki keluarga baru bersama Noctis, Gladio dan Ignis. Tak pernah terpikir olehnya bahwa kontak batin antarkeluarga akan terajut tak terduga dari Verstael Besithia, petinggi kekaisaran yang merupakan musuh bebuyutan keluarga barunya.
Namun bukan kasih sayang yang terpancar dari mata kelabu Verstael, melainkan posesif ekstrem, seakan-akan kakek itu memiliki keseluruhan esensi yang membuat Prompto menjadi Prompto. Kakek itu memanggil Prompto sebagai objek penelitian, cerminan dirinya ketika masih muda, dan dia akan membiarkan Prompto mengendalikan tubuh dan pikirannya sendiri untuk sementara waktu.
Mungkin Noctis benar. Verstael berkata demikian sekedar untuk memprovokasinya, menggoyahkan tekadnya, dan membuatnya tenggelam dalam pikiran-pikiran paranoid.
Tak mungkin bualan Verstael mampu membuat Prompto mengkhianati sahabatnya, bukan begitu?
Ia terus menodongkan senapannya kepada Verstael selama proses negosiasi yang carut-marut berlangsung di balai Leville. Selama negosiasi, ia gagal melindungi Luna yang kini sudah berada di dalam pesawat Niflheim yang diparkir di balai Leville. Ia juga gagal melacak keberadaan Talcott yang menghilang bak asap ketika kerusuhan dengan bala tentara kekaisaran terjadi di sekelilingnya. Jantungnya nyaris melompat keluar dari dadanya ketika Verstael tak sengaja menekan detonator peledak reaktor EXINERIS. Tetapi entah mengapa detonator itu tak berfungsi. Kini Noctis tengah menodongkan Engine Blade ke leher Verstael.
"Prompto, arahkan pistolmu pada kakek ini!" seru Noctis.
"Baik, Noct!" balas Prompto.
"Sekarang kembalikan Cincin Lucii padaku dan bebaskan Luna dan Iris. Kalau kau menolak, peluru temanku akan melubangi tubuhmu," ancam Noctis kepada Verstael.
Yeah, kami menang telak dari mereka! batin Prompto sumringah. Ternyata keberuntungan memang selalu berpihak kepada orang-orang baik.
Ia tenggelam dalam sukacita yang membuat perhatiannya luput dari Noctis dan Verstael. Setelah menendang bokong bos terakhir dalam misi panjang hari ini, ia akan kembali berkumpul dengan orang-orang yang disayanginya. Menggoda Noctis dan Luna yang bermesraan, bergosip ria bersama Iris, menyantap masakan lezat Ignis, melempar ejekan sarat sarkasme bersama Gladio…
Imajinasi menyenangkan itu tiba-tiba terputus ketika ia mendengar Verstael berseru, "Verstael Besithia mengambil alih kendali N-iP01357 unit 05953234! Kunci targetmu pada lelaki di hadapanku dan tembak mati dia!"
SRAAAT.
Seluruh dunia di sekitarnya tiba-tiba membeku. Ia melihat awan tipis di langit malam berhenti bergerak, lalu bulan purnama yang menerangi dunia kehilangan cahayanya. Ia tak dapat merasakan sepatu botnya menginjak ubin balai Leville karena permukaan pun kehilangan warna kremnya menjadi hitam pekat, membuat tubuhnya seolah melayang di dimensi kegelapan.
Panik bukan kepalang, ia berusaha berlari meraih Noctis dan Verstael yang masih tampak di depannya. Tapi Noctis tidak bergerak sesenti pun, begitu pula Verstael. Ia menginjak-injakkan kedua kakinya secara bergantian, tetapi jarak yang terbentang antara ia dan Noctis tak juga memendek. Ia pun menyadari bahwa ia tidak dapat menggerakkan setiap jengkal tubuhnya.
"Noctis! Seseorang, tolong aku!"
Upayanya sia-sia karena kini seluruh pandangannya menjadi gelap gulita.
"Apa yang sebenarnya terjadi…?"
Ia terkejut mendengar suara tawa seseorang bergema dari kejauhan.
"Apa ada seseorang… di sana?"
Tak ada yang menjawab.
"Bagaimana aku bisa berada di sini…?" Temperatur di dunia serbahitam ini tiba-tiba anjlok hingga mencapai temperatur minus. "Astaga… di─dingin sekali… Sialan! Aku… badanku…"
Sayup-sayup seseorang di kejauhan sana membalas, "Kau ini sungguh bodoh."
Prompto menyaksikan siluet seorang pria yang diselubungi cahaya putih temaram berjalan mendekatinya. Penampakan pria itu semakin jelas ketika jarak di antara mereka menyempit. Cahaya putih tersebut sirna dan menampakkan seorang kakek dalam jubah merah dan armor keemasan.
"Verstael? Bagaimana kau bisa berada di sini?!"
Jeda lima detik.
"Kau adalah aku," kata Verstael.
"Apa maksudmu…? Bagaimana bisa…?" Prompto tak bisa memendam rasa takut luar biasa yang serupa saat ia pertama kali bertemu Verstael. "Tidak, aku harus melindungi Noct."
"Kau keliru. Kau tidak didesain untuk melayani Lucis."
"Apa yang kau katakan? Aku adalah seorang Lucian…"
"Biar kupersingkat kegundahanmu." Verstael melambaikan satu tangannya secara vertikal di udara. Serta-merta kedua tangan Prompto seolah bertambah berat sepuluh kali lipat hingga ia tak mampu lagi menahannya dan terjatuh berlutut. Pergelangan tangan kanannya berdenyut-denyut seakan pembuluh darahnya hendak pecah dan sensasi panas luar biasa yang seolah membakar di sana memaksanya melepaskan manset yang selalu dipakainya. Di sana tercetak tato barcode hitam dengan teks N-iP01357 di bagian bawah dan 05953234 di atas. "Apakah sekarang kau mengerti arti dari barcode yang kucetak di pergelangan tanganmu ketika aku menciptakanmu? Seumur hidup kau selalu bertanya-tanya arti dari barcode itu dan menyembunyikannya dari semua orang. Aku sungguh terkejut bisa menemukanmu ketika satu drone-ku memindaimu di EXINERIS dan menyingkapkan barcode itu padaku."
Kepala Prompto pusing sekali, penglihatannya berputar-putar dan kesadarannya menipis. Ia menatap barcode itu dengan jijik, lalu ketika ia meluruskan pandangannya, ia melihat sepatu Verstael telah berada tepat di depannya. Ia ingin berdiri, tetapi seluru energi telah menguap dan ia terkunci dalam posisi berlutut dengan kedua tangan terpaku di permukaan.
"Kau pikir tidaklah aneh kedua orangtua angkatmu tak pernah menceritakan bagaimana mereka mengadopsimu? Tidak pernahkah kau bertanya-tanya asal-usulmu yang sebenarnya?" kata Verstael. "Kuberitahu kau satu fakta: dua puluh tahun lalu kau diculik dari fasilitasku di Niflheim oleh sepasang mata-mata Lucis, lalu mereka kabur ke Insomnia dan mengadopsimu sebagai anak angkat mereka."
"Mu-─Mustahil… Tidak mungkin…" rintih Prompto.
"Meskipun begitu, orangtuamu tidak mencintaimu layaknya sepasang orangtua menyayangi anak mereka. Sebuah hal yang wajar karena seorang Lucian tidak akan pernah mampu mencintai seorang Niff."
"Berhenti mengacaukan pikiranku!" raung Prompto.
"Aku adalah orangtuamu yang sebenarnya, khu khu khu…"
"Brengsek kau! Lalu sebenarnya aku ini apa? Di mana ibu kandungku…?"
Verstael terkekeh-kekeh. "Bukankah sudah kukatakan bahwa aku 'menciptakanmu'? Kau tidak dilahirkan secara natural oleh seorang wanita. Kau adalah produk buatanku."
Aku adalah produk buatan Verstael? Tidak masuk akal. Benar-benar tidak masuk akal! Kakek sialan ini pasti sengaja berbohong untuk menghancurkanku. Tapi kalau semua ini hanyalah ilusi, bagaimana bisa dia membawaku ke dunia antah berantah ini dan mengendalikan tubuhku?
"Apa… apa sebenarnya aku ini jika aku bukan manusia?"
"Terlalu awal untukmu mengetahui seluruh kenyataan di balik penciptaanmu," jawab Verstael. "Tapi satu hal yang pasti: kau tidak akan bisa menjalani hidup normal lagi bersama teman-teman yang kau sayangi seperti keluarga. Karena akulah satu-satunya keluargamu yang sejati."
"Keluarga? Ke─Keluarga?" Sekilas Prompto membayangkan wajah berseri-seri Noctis dan semua temannya. Kebahagiaan yang terbentuk dari persahabatan mereka selama bertahun-tahun, terutama Noctis. Begitu terbukanya Noctis menerima dirinya yang bukan seorang bangsawan, bertubuh gempal dan buruk rupa ke dalam Crownsguard. Ia tidak rela melepaskan ikatan yang telah terjalin erat bersama Noctis. Karena Noctis bukanlah sahabat baginya; dia adalah keluarganya yang amat berharga. "Tidak! Noct! Aku harus… melindungi… sahabatku!"
"Kau tidak memiliki kekuatan untuk melindungi Pangeran ketika aku berada di dekatmu, oh anakku yang durhaka. Sudah cukup basa-basinya. N-iP01357 unit 05953234, kuperintahkan kau untuk berdiri dan tembak jantung Pangeran Noctis!"
Seluruh saraf dan otot Prompto sekejap bereaksi mengikuti perintah Verstael untuk berdiri. Setelah berdiri tegap, ia melihat Verstael menunjuk Noctis yang muncul kembali dari kegelapan dalam keadaan masih membeku, sedang menghunuskan Engine Blade. Ia meraih senapan dari sarung di pinggangnya dan mengarahkannya kepada Noctis. Matanya memicing dan ia mengunci targetnya tepat ke jantung Pangeran.
"Tidak! Aku… tidak akan mengikuti perintahmu….!" Prompto berjuang sekuat tenaga melawan kontrol Verstael. Tubuhnya adalah miliknya, bukan kakek bajingan itu. Ia tidak akan melukai, bahkan membunuh Noctis. Sebagai seorang Crownsguard, seharusnya ia melindungi Noctis.
"Dasar keras kepala! N-iP01357 unit 05953234, tembak mati Pangeran sekarang juga!" bentak Verstael.
Telunjuk kanan Prompto telah berada di pelatuk. Dengan sedikit dorongan saja, peluru akan melesat dan melubangi jantung Noctis. Terjadi pertarungan mental yang intens antara Prompto sang pemilik tubuh dan Verstael sang pencuri kendali tubuh Prompto.
"N-iP01357 unit 05953234: SEGERA TEMBAK NOCTIS!" Verstael kehabisan kesabaran, jelas murka akan kekeraskepalaan Prompto yang menentang kehendak sang pencipta.
Perintah tersebut semakin terngiang-ngiang di dalam otaknya. Ia telah kehabisan tenaga melawan alih kendali Verstael. Sebelum ia menekan pelatuk, ia berhasil mengendalikan tubuhnya hanya setengah detik lamanya.
DOR!
Senapan meluncurkan peluru, namun tekad terakhir Prompto membuat peluru pencabut nyawa tersebut meleset dari jantung Noctis dan mendarat di bagian dada yang tidak melindungi organ-organ vital.
Mendadak ia kembali ke dunia nyata yang hanya berlalu tidak lebih dari dua detik semenjak ia terlempar ke dimensi serbahitam tadi. Kini ia telah berada di balai Leville yang porak-poranda. Verstael berpindah ke posisi awal di kejauhan lima meter darinya, pontang-panting berlari masuk ke dalam pesawat di belakangnya.
Meskipun pengalaman Prompto berada di dimensi lain tersebut dapat disetarakan sebagai ilusi, momen ketika ia menembak dada Noctis adalah kenyataan. Napas Prompto megap-megap, jantungnya berdebar-debar, keringat dingin membanjiri punggung dan wajahnya, akalnya berusaha memproses pemandangan yang mengerikan: sepasang mata biru Noctis menatap Prompto─ekspresi sang Pangeran dipenuhi keterkejutan dan ketidakpercayaan─lalu dia pun ambruk dengan darah menggenang dari dadanya yang berlubang karena tembakan senapan miliknya.
Luna dan Iris digotong paksa ke dalam kapal kekaisaran oleh sepasang tentara. Luna berusaha memberontak, namun apa daya kedua tangannya dikunci di balik punggung. Iris juga melakukan hal serupa, tapi berbeda dari Luna yang tenang, dia tampak ketakutan bukan kepalang. Hal yang lumrah karena Iris belum pernah berhadapan langsung begitu dekat dengan kekaisaran. Luna amat menyesal telah melibatkan Iris seperti ini, padahal ia telah menyuruhnya untuk bersembunyi sejauh mungkin. Apa yang bisa ia lakukan untuk membebaskan Iris? Ia telah kembali menjadi sandera karena kelicikan Verstael dan ia tidak tahu apa yang akan dilakukan kakek itu kepada mereka berdua.
"Duduk di sini!" perintah tentara yang menggiringnya di belakang. Terpaksa Luna duduk di kursi panjang di sisi kiri ruang penumpang. Iris duduk berdampingan dengannya, badannya bergetar dan rambut hitamnya berantakan. "Jangan mencoba-coba kabur atau kami akan melakukan kekerasan pada kalian!"
Sepasang tentara itu berjalan menjauh ke kap belakang pesawat yang masih terbuka. Angin dingin malam hari berhembus kencang ke dalam, menyebabkan kulit Luna menggigil. Ia bisa melihat uap tipis berhembus dari hidungnya ketika ia bernapas. Ia menoleh ke arah kap, bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang terjadi di antara Noctis dan Verstael. Dari dalam pesawat, Noctis berada di luar jangkauan penglihatannya; ia bahkan tak dapat mendengar suara Noctis lagi karena teredam dinding pesawat yang tebal.
"Maafkan aku, Luna," gumam Iris, suaranya sarat akan penyesalan. "Gara-gara kecerobohanku, aku telah menjebloskan kau dan Noctis ke dalam bahaya lagi. Seharusnya aku lebih berhati-hati…"
Luna memaksakan senyuman tipis, menyentuh punggung tangan Iris dengan telapak tangannya untuk menghibur gadis itu. Dengan suara setipis bisikan, ia berkata, "Kau tidak perlu meminta maaf, Iris. Sebaliknya, aku berterima kasih padamu atas upayamu untuk menyerahkan Cincin Lucii kepada Noctis. Kau telah menyelamatkanku dari tangan kekaisaran dengan menyelesaikan permintaanku itu. Jika ada yang perlu disalahkan, akulah orangnya karena telah memintamu melakukan tugas seberbahaya itu. Aku akan memikirkan cara untuk kabur dari sini."
"Tapi bagaimana? Kita sudah terperangkap di dalam pesawat ini," balas Iris, sama-sama berbisik sehingga percakapan mereka tidak akan terdengar oleh sepasang tentara yang berjaga di depan pintu keluar pesawat. "Kita berdua tidak akan sanggup menerobos penjagaan sepasang tentara itu."
Iris tidak sepenuhnya benar. Luna bisa mematerialisasikan trisulanya dan menggunakan sihir Holy untuk merobohkan sepasang tentara itu semudah menepuk lalat. Tapi ia khawatir pemberontakannya itu akan memicu pertarungan lainnya yang berpotensi melukai Iris.
"Noctis pasti mampu menyelamatkan kita," kata Luna. "Dia tidak akan membiarkan kita seperti ini. Kita tidak boleh kehilangan harapan atas Noctis."
"Walaupun kau berkata begitu, kita sudah melihat betapa liciknya Verstael. Noctis telah berusaha semampunya untuk mengungguli trik Verstael, tetapi kakek itu selalu berhasil membalikkan situasi. Pada taraf itu, kita tidak dapat berharap kepada Noctis terus. Kita membutuhkan sebuah keajaiban untuk menyelamatkan diri."
Keajaiban? Keajaiban seperti apa pastinya? Jika mendengar kata 'keajaiban', pikirannya langsung terarah kepada para dewa. Namun Hexatheon jarang turut ambil andil dalam urusan manusia. Hanya pada saat nyawa Raja Sejati terancam, barulah mereka akan menjawab doa manusia. Seperti ketika Titan membantu ia dan Noctis di Costlemark Tower. Dan baru saja Noctis meminta bantuan kedua dari Titan untuk menghancurkan para tentara kekaisaran di balai Leville. Noctis tak akan mampu memanggil Titan lagi dalam waktu dekat karena energinya sudah terkuras banyak sekali.
DOR!
Tiba-tiba terdengar suara tembakan nyaring yang mengembalikan Luna dari renungannya.
"Suara tembakan apa itu?" tanya Iris.
"Aku tidak tahu," jawab Luna. Entah mengapa firasatnya memberitahu bahwa sesuatu yang amat buruk telah menimpa Noctis di luar sana. Berselang lima detik, Verstael muncul, tergopoh-gopoh masuk ke dalam pesawat sambil bercucuran keringat.
"Pergi. Pergi! Bawa pesawat ini mengudara sekarang! Sebelum Pangeran sialan itu sadar kembali untuk menyerbu kita," perintah Verstael.
Satu dari sepasang tentara yang berjaga segera memencet tombol merah besar yang menempel di dinding. Rotor pesawat mulai menyala, debu berhembus ke dalam pesawat dan suara bising rotor memenuhi pendengaran Luna.
"Tunggu! Apa yang kau lakukan pada Noctis?!" seru Luna, spontan bangkit dari duduknya. Kap pesawat mulai terangkat sedikit demi sedikit. Ia harus bergerak cepat sebelum benar-benar terkurung dalam pesawat. Ia menerobos paksa sepasang tentara seperti banteng, kepalanya membentur armor dada mereka. Ia pusing sejenak, tetapi segera berusaha mengembalikan kesadaran totalnya karena kini jalan telah terbuka baginya untuk keluar dari pesawat. Verstael menarik lengan Luna untuk menahannya, tapi Luna melepas genggaman kakek itu dengan kasar.
Berada di tepi kap pesawat, akhirnya balai Leville berada dalam jangkauan matanya. Sekitar setengah meter dari pesawat, terbaring Noctis yang pingsan dan bergenang darah segar. Di kejauhan lima meter, tampak Prompto yang membeku dengan senapan teracung kepada Noctis.
"NOCTIS!" seru Luna. Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak mungkin Prompto menembak Noctis, bukan? Tapi seberapa besarnya ia menyingkirkan pemikiran tersebut, pemandangan mengerikan yang terpampang di depannya seolah mengisyaratkan bahwa itulah skenario yang terjadi: Prompto telah menembak Noctis.
Ketika ia hendak berlari lebih jauh untuk mendekati Noctis, lengannya kembali ditarik oleh seorang tentara.
"Lepaskan aku!" pekik Luna.
"Kembali ke dalam pesawat sekarang juga!" perintah tentara itu.
Luna tidak memedulikan tentara itu. "Bangunlah, Noctis! Ini aku, Luna. Apa kau bisa mendengarku?"
Tentara itu menampar wajah Luna begitu keras hingga lehernya terasa nyaris putus. Dampak dari tamparan itu menyebabkan ia kehilangan kesadaran.
Ketika ia siuman, ia mendapati dirinya berbaring telentang di kursi pesawat. Ia hendak menggerakkan lengan kanannya, tapi tidak bisa karena diborgol ke dinding pesawat. Kap pesawat telah tertutup rapat, terdengar bunyi berisik dari rotor pesawat yang berputar kencang, menandai bahwa pesawat telah mengudara sepenuhnya.
"Luna, syukurlah kau sudah sadarkan diri," terdengar suara Iris menyapanya.
Luna mengangkat diri dari tidurnya hingga ke posisi duduk tegap. Tangan kanannya yang diborgol menggelayut di udara. "Berapa lama aku pingsan?"
"Sekitar lima belas menit," jawab Iris. Lengan kanan gadis itu juga telah diborgol dengan posisi serupa dengan dirinya. "Apa yang terjadi di luar sana barusan?"
Pemandangan Noctis yang bergenang darah muncul dalam benaknya. "Oh, tidak… Suara tembakan nyaring yang kita dengar sebelumnya… Itu Noctis… dia terluka amat parah… Sepertinya dia tertembak…"
Pintu yang memisahkan ruangan penumpang dan pengemudi pesawat terbuka. Verstael muncul dan berkata, "Oh, Nona Lunafreya, kupikir kau tidak akan bangun sampai kita tiba di Gralea. Aku meminta maaf sedalam-dalamnya karena tentaraku telah melukai wajahmu yang cantik. Kaisar Iedolas tidak suka apabila mengetahuinya, jadi mari kita rahasiakan kejadian tersebut. Akan kupastikan bahwa memar di wajahmu itu tak akan terlihat oleh Kaisar sebelum kau bertemu dengannya."
Pipi kiri Luna berdenyut-denyut nyeri. "Apa… apa yang sebenarnya terjadi pada Noctis? Apa kau telah membunuhnya?"
Verstael melangkah mendekatinya. "Tolong jangan menuduhku sembarangan. Ya, bisa kupastikan Pangeranmu terkasih telah tewas setelah menerima tembakan fatal dari pengawalnya."
"Apa maksudmu dengan 'pengawal'?" tanya Iris.
"Teman Pangeran yang selalu mengekorinya seperti seekor anjing. Prompto-lah yang telah membunuh Pangeran," jawab Verstael, tersenyum sinis.
"Tidak mungkin. Kau pasti berbohong!" jerit Iris. "Prompto tidak akan pernah melukai, apalagi membunuh Noctis."
"Tapi begitulah kenyataannya. Nona Lunafreya telah menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri. Kalau kau tidak memercayaiku, kau bisa bertanya kepadanya."
Iris menatap Luna, tampak ingin menangis. "Luna, apa benar Prompto membunuh Noctis?"
"Aku… Aku tidak bisa mengingatnya dengan baik…" Luna berbohong. "Aku yakin bukan Prompto yang menembak Noctis."
"Tentu saja Nona Lunafreya tidak ingin mengatakan yang sebenarnya untuk melindungi perasaanmu," balas Verstael seraya melirik Iris. Gadis itu bungkam seribu bahasa. Verstael merogoh saku celananya dan mengeluarkan Cincin Lucii. "Kini kami telah memiliki Cincin Lucii dan Oracle untuk melengkapi Kristal Agung. Dan Pangeran Noctis telah tewas jadi tak ada lagi yang dapat mengganggu kekaisaran. Tak lama lagi ambisi Kaisar akan segera tercapai. Misi kami hari ini sukses total."
"Apa yang akan kau lakukan dengan semua itu?" tanya Luna. Verstael mengembalikan cincin ke dalam saku celananya. "Kau telah menjebloskan dunia ini ke dalam bencana yang lebih besar. Tak ada lagi yang dapat menyelamatkan Eos dari kiamat dengan tewasnya Raja Sejati."
"Sepertinya kau menelan perkataan Hexatheon bulat-bulat. Sang Raja Sejati dengan Oracle di sampingnya, sambil mengenakan Cincin Lucii di jarinya dan Kristal Agung, ditakdirkan menyelamatkan Eos dari Starscourge, bla bla bla. Omong kosong! Para dewa bajingan itu tidak peduli akan nasib Eos. Mereka sengaja berbohong pada kalian demi memuaskan hasrat egois mereka sendiri. Lucis telah dikendalikan oleh titah Hexatheon yang terus bersembunyi di balik tirai selama dua ribu tahun lamanya. Dua ribu tahun, kau dengar? Selama itu Klan Lucis Caelum dan Fleuret telah dikendalikan seperti boneka. Manusia yang berakal sehat seharusnya sadar bahwa nasib Eos tidak ditentukan oleh Hexatheon, melainkan manusia itu sendiri. Klan Aldercapt-lah yang pertama kali menyadari hal tersebut. Sejak dua ribu tahun lalu pula, di bawah panduan Kaisar satu generasi demi generasi lainnya, kami tidak akan pernah tunduk pada perkataan para dewa. Kamilah yang bertindak mandiri─seberapa pun tangan kami harus dikotori─untuk menyelamatkan planet ini dan membebaskan para manusia dari jeratan Hexatheon!"
"Walaupun begitu, Kaisar tidak akan pernah mampu mengenakan Cincin Lucii. Api suci akan membakarnya seperti yang telah terjadi pada Ravus," kilah Luna.
"Ya, aku tahu. Sungguh malang nasib kakakmu itu," Verstael mengangguk-angguk. "Oleh karena itu, kami membutuhkanmu untuk mencegah hal serupa menimpa Kaisar. Sama dengan Raja-Raja Lucis, Oracle sangat terikat pada kekuatan sihir yang ditampung oleh Kristal Agung dan disalurkan melalui Cincin Lucii. Dengan memilikimu, aku bisa melakukan penelitian untuk menyingkap misteri di balik ikatan tersebut dan memotongnya sehingga para dewa tidak akan mampu melakukan apa-apa ketika Kaisar mengenakan Cincin Lucii."
"Kau berniat menggunakan Luna sebagai objek penelitian?" tanya Iris. "Sebagai sesama manusia, tidakkah kau memiliki simpati kepada Luna?"
"Sebuah pengorbanan kecil demi mencapai tujuan yang lebih besar," jawab Verstael. "Akan kupastikan pengorbanan Nona Lunafreya setimpal dengan hasilnya nanti."
"Dasar monster tak berhati nurani!" seru Iris.
Verstael tidak peduli mendengarkan hinaan itu. Dia menggapai wajah Iris, lalu satu tangannya menjepit dagu gadis itu. "Daripada mengkhawatirkan Nona Lunafreya, tidakkah kau memikirkan apa yang akan kulakukan padamu?"
"Singkirkan tanganmu dari Iris, Verstael!" bentak Luna.
"Jangan bergerak dari kursimu, Nona Lunafreya, atau wajah cantik gadis ini akan terluka sepertimu!" seru Verstael. Dia menatap wajah Iris begitu dekat hingga hidung mereka nyaris menempel. Iris bergetar ketakutan. "Kuberitahu satu rahasia besar padamu. Sudah puluhan tahun kami melakukan penelitian rahasia untuk memperpanjang usia atau bahkan menganugerahi keabadian pada Kaisar. Untuk itu, kami memerlukan manusia untuk sebagai bahan uji coba di laboratorium kami. Pernahkah kamu bertanya-tanya apa yang terjadi pada para Lucian yang tidak sempat melarikan diri ketika kami menghancurkan Insomnia? Kami menangkap mereka semua dan menggunakan mereka sebagai bahan uji coba. Banyak yang mati dan banyak pula yang bermutasi menjadi monster yang kehilangan akalnya. Berharaplah dirimu tidak akan menjadi salah satu dari mereka."
Semenjak Luna melarikan diri bersama Nyx dari Insomnia, ia bertanya-tanya bagaimana nasib para Lucian yang terjebak di balik Tembok. Sekarang ia telah memperoleh jawabannya, dan ia berharap bisa melupakannya. Mereka semua dijadikan objek penelitian kekaisaran. Kekaisaran telah melakukan banyak sekali tindakan kriminal, tetapi mempermainkan nyawa manusia tak berdosa demi Kaisar sudah melewati batas toleransi. Menjadikan Kaisar Iedolas abadi… Kekaisaran sungguh telah kehilangan akal sehat mereka. Dengan kemungkinan Noctis telah tewas, apa yang bisa ia lakukan untuk membebaskan para Lucian yang dikurung di dalam laboratorium kekaisaran mengingat dirinya juga akan dijadikan objek penelitian Verstael?
Ia tahu ia harus segera bertindak sebelum pesawat tiba di Gralea. Perlukah ia menggunakan trisulanya dan membunuh Verstael sekarang juga? Tapi ia tidak mampu bergerak bebas karena diborgol. Iris benar. Satu-satunya yang bisa membebaskan mereka hanyalah keajaiban.
Wahai para dewa, seandainya kalian bisa mendengarkanku, aku memanjatkan doa kepada kalian untuk membantu kami pergi dari situasi ini. Aku tahu bahwa aku, seorang manusia fana yang hina, telah bertindak lancang dengan memohon kepada kalian. Tetapi aku tidak tahu harus bertindak bagaimana lagi…
BRAK!
Tiba-tiba pesawat berguncang kencang. Pundak Luna bertubrukan dengan kepala kursi di balik punggungnya. Verstael terlempar beberapa senti ke belakang, nyaris menubruk pintu ruangan pengemudi pesawat.
"Apa yang terjadi?" Verstael bertanya-tanya. "Prajurit, segera periksa sumber suara tersebut!"
Sepasang tentara keluar dari balik pintu.
BRAK! BRAK! BRAK!
Pesawat kembali berguncang tiga kali dengan keras.
"Asalnya dari kap pesawat!" seru seorang tentara.
Luna menoleh ke arah kap pesawat dan melihat ada empat lekukan sedalam kurang lebih sepuluh senti di sana. Siapa yang mampu mencapai pesawat yang tengah mengudara tinggi di langit?
"Kalau dibiarkan, pesawat ini bisa jatuh!" seru tentara satunya.
"Kalau begitu, cepat hentikan apa pun yang menyerang pesawat ini, dasar idiot!" bentak Verstael, sambil menunjuk-nunjuk ke arah kap.
Sepasang tentara tersebut mengacungkan senapan dan mengendap-endap hati-hati menuju kap pesawat.
BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! BRAK!
Apa pun di luar sana semakin agresif menyerang pesawat seakan menandakan bahwa dia hendak menjebol masuk ke dalam pesawat.
"Hentikan penyerang itu!" seru tentara di kiri.
"Tembak mati penyerang itu!" seru tentara di kanan.
Mereka melepas rentetan tembakan ke arah kap pesawat. Bau mesiu berhamburan di dalam ruangan penumpang yang kecil.
BRAK! BRAK! BRAK! BRAK! BRAK!
"Sialan, dia tidak mau berhenti menyerang!" seru tentara di kiri, terus menembak dengan membabi buta.
"Kap pesawat ini tidak akan mampu menahan lagi serangan dia!" seru tentara satunya. "Bersiap-siap untuk menerima dampak perbedaan tekanan udara begitu kap itu jebol!"
BRUUUAAAGGG!
Sebuah bola tornado yang berputar-putar berhasil menjebol kap pesawat hingga menyisakan lubang besar. Alarm peringatan berbunyi NGUING NGUING NGUING, lampu merahnya berputar-putar menyinari ruangan penumpang pesawat seperti ambulans. Perbedaan tekanan udara menyebabkan pesawat terombang-ambing. Luna bisa mendengar Iris berteriak histeris. Rambut pirangnya menyibak-nyibak wajahnya hingga ia tak mampu melihat dengan jelas kerusuhan yang tengah terjadi di hadapannya. Tornado itu berbentuk bulat sempurna, dinding angin menyelimuti siapa pun yang bersembunyi di baliknya.
"Prajurit, hentikan bola tornado itu!" Verstael berteriak ketakutan. "Bunuh dia!"
Meskipun sulit untuk berdiri tegap, sepasang prajurit itu menembaki bola tornado, tetapi usaha mereka sia-sia karena seluruh peluru tidak mampu menembus dinding angin, malah terpental tak beraturan ke seluruh penjuru ruangan pesawat.
"Hentikan tembakan kalian! Bisa-bisa peluru itu mengenaiku!" seru Verstael, berjongkok seperti kura-kura di ujung pesawat untuk melindungi diri. "Gunakan senjata lain untuk menghentikan dia!"
Dua orang tentara itu melempar senapannya dan menggantinya dengan tombak, lalu berlari menuju bola tornado yang melayang di tengah ruangan. Ketika mata tombak sepasang tentara tersebut nyaris menyentuh dinding angin, pusaran angin berbentuk seperti jarum panjang dan lebar meluncur dan mengenai mereka. Kedua tentara tersebut terpental melewati kap pesawat yang telah jebol bak dua helai daun yang terbawa angin ke luar pesawat.
"Siapa yang tersisa di dalam pesawat ini?" tanya suara seorang lelaki yang tidak asing di telinga Luna. Bola tornado itu bergerak ke dekat Verstael. "Apa ada tentara lainnya di ruangan pengemudi?"
"Tidak ada! Pesawat dikendalikan dengan mode otomatis," jawab Verstael, suaranya melengking ketakutan. "Hanya kami bertiga yang tersisa di sini. Siapa kau? Tunjukkan dirimu!"
Pusaran angin pada bola tornado itu berangsur melambat. Dinding angin semakin tipis dan tipis dan lenyap. Pada akhirnya Luna bisa melihat dengan jelas sosok yang berada di baliknya.
"Nyx!" seru Luna, sekejap hatinya dibanjiri oleh kebahagiaan tak terduga.
"Nyx!" Iris juga berseru kegirangan. Luna bertanya-tanya bagaimana bisa gadis itu mengenal Nyx.
"Maaf membuatmu menunggu lama, Putri," balas Nyx diiringi oleh senyuman lebar. "Dan senang bertemu denganmu lagi, Iris."
Doa Luna telah terjawab. Keajaiban mendatanginya dalam sosok Nyx Ulric.
"Ke mana saja selama ini kau pergi?" tanya Luna. Sebuah pertanyaan standar ketika seorang yang kau kenal tiba-tiba memutuskan untuk menghilang dan muncul kembali.
"Simpan pertanyaanmu untuk lain waktu. Ada urusan yang lebih penting yang harus diselesaikan sekarang," sahut Nyx. Dia kembali merapat kepada Verstael. "Kuasumsikan kau adalah petinggi Niff yang telah mengakibatkan segala kekacauan di Lestallum. Aku tidak akan membiarkanmu membawa pergi Putri dan Iris. Kau tidak punya siapa-siapa lagi untuk melindungimu. Aku bisa membunuhmu dengan mudah sekarang juga."
"Jangan bunuh aku!" Verstael memohon, kedua tangannya diangkat ke udara. "Kau boleh menginterogasiku, menawanku, atau lainnya asalkan kau mengampuni nyawaku."
"Nyx, lepaskan Verstael. Dia tidak ada gunanya dalam keadaan mati," kata Luna.
"Apa kau serius, Putri? Dia telah melukaimu dan Iris dan seluruh warga Lestallum. Dia seorang penjahat kelas kakap."
"Ya, aku serius. Kita boleh melepaskan dia asalkan dia mengembalikan Cincin Lucii kepadaku."
Nyx menghela napas panjang. "Selalu saja cincin terkutuk itu membawa masalah pelik. Nah, kakek Verstael, kau sudah dengar persyaratan Putri. Serahkan Cincin Lucii kepadaku dan aku akan membiarkanmu pulang ke Gralea dalam keadaan utuh."
"Aku menolaknya! Setelah bersusah payah, cincin itu ada dalam genggamanku. Aku tidak akan mengecewakan Kaisar Iedolas!"
"Kalau kau berkata begitu…" Nyx mengeluarkan sebilah kukri dari sarung di kakinya, lalu berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan Verstael. Di luar dugaan Luna, Nyx menarik jenggot putih kakek itu dan memotongnya dengan kukri. Verstael melengking ketika Nyx melepaskan segumpal janggut itu ke lantai kapal. "Selanjutnya aku tidak akan segan-segan memotong bagian tubuhmu yang lain jika kau tetap keras kepala. Kali ini kupastikan kau akan merasakan sakit yang tak tertahankan sampai membuatmu menangis darah."
"Oke, oke, baiklah. Dasar brengsek! Kuikuti kemauanmu," balas Verstael, merogoh saku celananya dan mengeluarkan Cincin Lucii. Nyx mengambilnya dan mengamatinya sejenak. Mau bagaimanapun, Nyx pernah memegang cincin itu dengan tangannya sendiri, jadi dia tak mungkin salah mengenalinya apabila Verstael menyerahkan cincin palsu padanya.
"Berikan juga kunci borgol padaku," perintah Nyx, kukrinya masih teracung ke leher si kakek. Verstael mengikuti perintah Nyx tanpa berkomentar apa-apa.
Nyx berdiri dan menghampiri Luna. Dengan satu tangan terbuka, Luna menerima Cincin Lucii yang diserahkan pria itu padanya. Luna merasa amat lega dan gusar ketika memperoleh kembali cincin tersebut. Lega karena telah berhasil menggagalkan ambisi kekaisaran. Gusar karena lagi-lagi ia harus menampung tugas berat untuk melindungi benda sakral tersebut agar tidak lagi jatuh ke tangan pihak yang salah. Setelahnya Nyx membuka borgol Luna. Kemudian dia berpaling kepada Iris di kursi seberang dan membuka borgol gadis itu juga.
"Sekarang berdirilah, kalian berdua," kata Nyx. "Kita akan meninggalkan Verstael dan pesawat ini sejauh mungkin."
Luna dan Iris merapat kepada Nyx. Mereka bertiga berdiri menjulang di atas Verstael yang masih berjongkok di sudut ruangan kapal.
"Bagaimana cara kita pergi dari pesawat ini?" tanya Iris. "Kita berada ratusan meter di atas permukaan."
"Sama seperti caraku naik ke pesawat ini." Nyx membuka kedua tangannya dan pusaran angin berputar-putar di sana, semakin lama semakin besar. Angin bersentuhan dengan kulit Luna, entah mengapa terasa hangat seolah tangan besar Nyx yang menyentuhnya. Lambat laun mereka bertiga berada di dalam bola tornado. "Kakek gila, pergilah kau sejauh mungkin dari Lucis. Kau hanya perlu duduk manis di pesawat auto pilot ini sampai tiba di Gralea. Jika aku melihat pesawat ini keluar jalur sedikit saja, aku akan menghancurkan pesawat ini berkeping-keping. Dan kau akan tewas bersamanya."
"Aku mendengarmu, Glaive bajingan! Pergi kalian semua dari hadapanku! Aku muak melihat wajah kalian yang mengasihaniku seperti ini. Tapi kupastikan aku akan kembali membalaskan dendamku kepada kalian di lain waktu!" seru Verstael.
"Kutunggu pembalasan dendammu. Lakukan yang terburuk," tantang Nyx. "Tapi kau tidak akan mampu melukai Putri untuk kedua kalinya karena aku tidak akan pernah meninggalkannya lagi." Nyx menoleh kepada Putri dan Iris. "Pegang tanganku erat-erat agar kalian tidak jatuh."
Luna menggapai lengan Nyx yang besar dan kasar─lengan lelaki yang telah melewati latihan keras dan pertarungan sengit bertahun-tahun lamanya. Menggenggam lengan pria lain selain Noctis terasa salah, namun untuk kali ini ia mengabaikannya.
Tubuh Nyx diselimuti cahaya biru. Luna terkesiap ketika kakinya terangkat dari permukaan. Keseimbangannya goyah, tetapi Nyx langsung menangkapnya ke dalam pelukannya. Kemudian angin bertiup ke belakangnya, dan ia dapat merasakan embusan angin kencang di balik punggungnya, mendorong mereka bertiga keluar lubang besar yang menganga di kap pesawat.
Berada di langit malam hari yang terbuka, dengan ketinggian ratusan meter dari permukaan spontan membuat Luna ketakutan. Ia melirik ke bawah dan memekik pelan ketika melihat kedua kakinya berada jauh sekali dari daratan.
"Oh, Nyx, kurasa aku fobia ketinggian. Aku benar-benar takut," lirih Luna.
"Apa kita sungguh-sungguh terbang?" tanya Iris takjub.
"Jangan takut. Selama kita berada di dalam bola tornado ini, kau tidak akan jatuh. Dan ya, bisa dibilang kita sedang terbang di langit," jawab Nyx. "Terus genggam tanganku. Kita akan terbang untuk waktu yang cukup lama. Kubawa kalian sejauh mungkin dari pesawat Verstael sampai dia tidak lagi bisa melacak keberadaan kita."
Jadi terbanglah mereka selama kurang lebih lima belas menit dalam kecepatan tinggi. Lambat laun Luna merasa terbiasa terbang begitu tinggi dari daratan. Yang mengganggunya hanyalah perasaan berdosa kepada Noctis karena ia merasa aman berada di dekat Nyx. Sebagai kekasih Noctis, sepantasnya ia hanya boleh merasa demikian jika berada di dekat Noctis.
Setelah pesawat Verstael hilang dari jarak pandang mereka, Nyx bertanya, "Sejujurnya aku tidak tahu kita harus mendarat di mana. Apakah sebaiknya kita kembali kepada Pangeran dan teman-temannya di Lestallum?"
"Tidak," tolak Luna, "kita boleh mendarat di mana pun selain Lestallum."
Nyx memasang tampang keheranan.
"Maksudku, bisa jadi sisa-sisa tentara kekaisaran masih berada di sana dan itu hanya akan membahayakan kita lagi," imbuh Luna. Ia tidak sanggup mengungkapkan alasan yang sebenarnya. Tidak sekarang.
"Jadi, apa kau punya ide ke mana tujuan kita pergi?" tanya Nyx.
"Kalau bukan Lestallum, mungkin Hammerhead? Kita bisa meminta bantuan Cindy untuk menyembunyikan Luna." Iris memberi ide.
"Kita tidak boleh melibatkan warga biasa lagi dalam urusan kita. Kita harus mendarat di tempat yang tersembunyi," tolak Luna. Ia berpikir untuk beberapa saat, lalu ia teringat sebuah cerita Ibu yang didengarnya ketika ia masih kecil. "Ada sebuah vila milik keluargaku di Cape Shawe. Kita bisa singgah di sana."
"Aku baru pertama kali mendengar bahwa Klan Fluret memiliki tempat tinggal di Lucis. Cape Shawe, huh? Berdasarkan pengetahuan geografisku akan Lucis, lokasi itu cukup tersembunyi. Baiklah, kita akan menuju ke sana. Toh kita tidak punya pilihan lain," komentar Nyx.
Bola tornado bergerak kencang menuju selatan Cleigne, melewati Coernix Bypass, hutan Secullam Pass, menyeberangi lanskap luas yang diapit sungai panjang Dynneldale dan Maidenwater, lalu hutan hujan tropis eksotis Malmalam Thicket.
Setelah tambahan setengah jam lamanya mereka terbang, akhirnya mereka tiba di tujuan. Nyx mengendalikan bola tornado untuk melandas. Luna bersyukur ketika kedua kakinya menginjak daratan lagi. Nyx melepaskan genggaman tangannya pada Luna dan Iris, lalu pusaran dinding angin yang menyelubungi mereka menciut dan seakan terisap kembali ke kedua telapak tangan lelaki itu. Dari mana Nyx memperoleh sihir berelemen angin ini? Bahkan Noctis tidak memiliki sihir angin; dia hanya bisa menggunakan sihir api, es dan petir.
Vila terbengkalai peninggalan keluarganya di Cape Shawe berada di tepi samudera yang dikenal sebagai The Cygillian Ocean, yang memisahkan benua Lucis dengan Accordo. Untuk mencapai vila tersebut, seseorang harus melewati hutan lebat yang panjang dan medan pegunungan yang terjal sehingga cocok untuk dijadikan tempat persembunyian. Ia sendiri belum pernah mengunjungi vila ini─sepengetahuannya hanya Ibu dan Ayah yang pernah tinggal di sana sebagai tempat menghabiskan bulan madu setelah pernikahan mereka─jadi ia tak dapat memastikan apakah vila tersebut masih layak untuk ditinggali.
Nyx telah mendaratkan mereka di tepi pantai. Daratan berupa pasir putih yang tipis dan halus. Pantai tersebut terbilang kecil dan masih asri karena jarang didatangi manusia lainnya. Lautan yang disinari cahaya rembulan terlihat sejernih kristal, diiringi suara deburan ombak kecil. Ketika ia melihat ke arah utara, ia dapat melihat puncak Rock of Ravatogh yang berbentuk seperti tanduk raksasa. Tak perlu susah payah mencari, ia langsung menemukan sebuah rumah kecil di tepi pantai. Ia yakin bahwa rumah tersebut adalah vila keluarganya.
Mereka bertiga berjalan pelan menuju vila itu. Dilihat dari luar, vila tersebut tampak sederhana─bahannya kayu jati berpelitur putih, hanya satu lantai dan dibangun sekitar dua puluh meter lebih tinggi dari permukaan untuk menghindari luapan air dari lautan. Mereka mendaki sekitar sepuluh anak tangga untuk tiba di teras vila. Kemudian Luna mendekati pintu vila satu-satunya dan mendorong tuas. Pintu itu ternyata tidak dikunci karena langsung terbuka.
Ia masuk duluan ke dalam vila, diikuti oleh Nyx dan Iris. Setelah menyalakan lampu, ia dapat menyaksikan bahwa vila tersebut seperti apartemen tipe tiga kamar tidur yang dihubungkan oleh ruang tamu yang menghadap ke arah pantai dan sebuah dapur kecil. Walaupun perabotan-perabotan di dalamnya tampak berdebu karena telah ditinggalkan belasan tahun, semuanya masih layak pakai. Dibersihkan sebentar saja, vila ini sempurna untuk ditinggali mereka bertiga.
Selesai mengamati interior vila, Luna berkata kepada Nyx dan Iris ketika ia berada di ambang salah satu pintu kamar tidur. "Teman-teman, selamat datang di rumah kita yang baru. Kita akan tinggal di sini untuk sementara waktu sampai situasi kembali normal. Dengan lokasi yang terpencil, aku dapat memastikan bahwa kita aman dari pengawasan kekaisaran di sini. Kuharap kalian dapat menikmati masa tinggal kalian. Silakan pilih kamar tidur yang kalian inginkan. Aku akan mengambil kamar yang satu ini. Selamat beristirahat. Kita layak menerima tidur yang panjang dan lelap setelah melalui hari yang berat."
Luna membuka pintu, masuk ke dalam kamar lalu menguncinya. Di dalam ada sebuah ranjang berukuran Queen, dua meja kecil di samping ranjang, lemari baju tiga pintu, sebuah cermin panjang setinggi 180 senti, sebuah sofa putih yang tampak empuk, penghangat ruangan berbahan kayu, sebuah lukisan bunga sylleblossom yang digantung di dinding berwarna putih dan pintu kaca yang menghadap ke arah pantai yang ditutupi gorden putih.
Ada rasa rindu ketika ia menjejakkan kaki di sini. Meskipun ukurannya jauh lebih kecil daripada kamarnya di Fenestala Manor, ia tidak akan mengeluh. Interior kamar telah didesain semirip mungkin dengan kastilnya yang identik dengan warna putih.
Ia lelah sekali dan ingin langsung membenamkan tubuhnya di atas ranjang, tetapi ia mencium aroma tak sedap dari tubuhnya yang dekil. Ia pun memaksakan diri untuk mandi di kamar mandi yang menyatu dengan kamar tidurnya. Selesai mandi, ia mengganti T-shirt dan celana jinsnya dengan sebuah gaun putih yang mirip dengan pakaian yang dikenakannya sehari-hari, yang disimpan di dalam lemari.
Ia pun berbaring di ranjang, tak peduli rambutnya yang basah bersentuhan dengan bantal. Ia kira ia tidak dapat tidur, namun baru berlalu tiga puluh detik, ia langsung terlelap.
Namun yang menantinya di dalam tidur adalah mimpi buruk.
Pemandangan Noctis yang tidak sadarkan diri di lantai balai Leville dengan darah segar menggenang dari dadanya yang tertembak menghantui tidurnya.
"Noctis!" seru Luna, yang tengah berdiri di samping pria itu. "Bukalah matamu, Noct."
Noctis tak menjawab.
Luna pun menggapai Noctis, lalu membalikkan tubuhnya dan ia pun bisa melihat wajah sang Pangeran. Luna tersentak ke belakang karena terkejut, kedua tangannya tertangkup di mulutnya yang hendak berteriak. Mata Noctis terbuka lebar, namun warna birunya yang cantik telah memudar menjadi hitam total. Seperti mayat. Ya, Noctis telah tewas.
Dengan tubuh bergetar, Luna meraih wajah Noctis, menyandarkannya di pangkuannya dan memeluknya. "Oh, Noctis… Kumohon, bukalah matamu. Kau tidak bisa mati seperti ini. Masih ada aku dan sahabat-sahabatmu yang menantimu. Demi para dewa, aku rela menukarkan nyawaku demi Noctis. Nyawaku tidaklah seberharga Noctis sebagai Raja Sejati… bukan… oh, pantaskah aku mengatakan ini? Aku menghargai Noctis sebagai kekasihku, pria yang kucintai sepenuh hati."
Aku mendengarkan permohonanmu, wahai Oracle.
Sebuah suara lelaki yang berat dan penuh kuasa beresonansi. Cukup kuat hingga mendetak eksistensi Luna. Tiba-tiba dunia sekelilingnya menjadi gelap. Ketika ia membuka matanya, ia mendapati dirinya berada di sebuah dunia yang dipenuhi oleh warna biru dan merah muda seperti aurora. Ia menoleh ke segala arah, namun tidak menemukan sumber suara tersebut.
"Di mana aku berada?" tanyanya. "Siapa kau?"
Beyond, dunia perantara jiwa-jiwa yang tewas sebelum mencapai alam baka. Akulah Bahamut yang berbicara padamu.
Bahamut, sang Draconian, pemimpin Hexatheon. Selama ini aku tidak pernah mendengarkan suaranya secara langsung karena ada Gentiana yang menyampaikan titah Bahamut kepadaku.
"Mimpi burukku tadi… apakah Noctis sungguh-sungguh telah mati?"
Raja Sejati luput dari cengkeraman kematian. Namun dia terluka amat parah sehingga aku membawa engkau kemari untuk menyampaikan titah baruku pada engkau. Raja Sejati tidak boleh tewas sebelum memenuhi panggilannya sehingga aku menenggelamkannya ke dalam tidur panjang.
"Aku siap mendengarkan titah-Mu, apa pun demi keselamatan Noctis."
Raja Sejati belum memiliki cukup sumber yang diperlukan untuk mempertahankan nyawanya yang berada di ujung tanduk. Dia berada sangat jauh dari Kristal Agung dan Cincin Lucii. Satu-satunya sumber energi yang dia miliki hanyalah kekuatan Raja-Raja Lucis, tetapi dia baru mengklaim lima Royal Arms. Raja Sejati memerlukan sekurang-kurangnya sepuluh Royal Arms untuk kembali hidup.
"Tetapi bagaimana cara Noctis mengklaim lima Royal Arm lainnya jika ia sedang tertidur?"
Selama dua ribu tahun lamanya aku telah membuat peraturan bahwa kekuatan Royal Arms hanya dapat digenggam oleh Raja-Raja Lucis. Namun untuk saat yang kritis ini, aku membuat pengecualian. Aku akan memberikan kuasa bagi engkau, sang Oracle, untuk membantu Raja Sejati mengklaim Royal Arms yang tersisa untuk membangunkannya dari tidur. Tetapi ada bayaran darah yang besar untuk mengklaim kekuatan Royal Arms. Engkau akan menanggung bayarannya menggantikan Raja Sejati.
Luna teringat Noctis yang selalu mengeluhkan sensasi sakit setiap kali dia mengklaim Royal Arms dan senjata itu menusuk jantungnya sebelum terburai menjadi partikel cahaya biru. Ia telah memperpendek usianya untuk membantu Noctis memperoleh berkat dari para dewa. Apabila ia ditugaskan untuk mengumpulkan lima Royal Arm, maka usianya yang tersisa akan semakin cepat terkuras dan kematian akan menjemputnya dalam waktu dekat.
Oracle telah ditakdirkan untuk menuntun Raja Sejati dalam memenuhi panggilannya. Meskipun itu berarti engkau akan mati dalam prosesnya. Bergeraklah dengan cepat, wahai Oracle, karena hanya tersisa tujuh hari bagi engkau untuk menuntaskan tugas engkau. Jika melebihi tujuh hari, maka nyawa Raja Sejati tidak akan tertolong lagi.
Suara Bahamut lenyap dan dunia sekeliling Luna berubah menjadi hitam lagi. Tiba-tiba ia terbangun seolah ada yang mengejutkannya dengan arus listrik. Napasnya terengah-engah, jantungnya berdetak kencang dan wajahnya dipenuhi peluh ketika kepalanya telah terangkat dari bantal dan tubuh bagian bawahnya masih terbungkus selimut. Ia menoleh ke arah jam dinding dan melihat baru pukul empat subuh. Kepalanya masih pusing dan tubuhnya sangat lelah, tetapi setelah pertemuannya dengan Bahamut, ia tidak berani untuk kembali tidur.
Luna turun dari ranjang, mengambil jaket panjang dan keluar dari kamarnya. Ia mengendap-endap keluar dari vila menuju teras, tak ingin mengganggu Nyx dan Iris yang sedang tidur di kamar mereka masing-masing. Udara dingin pantai menyerbunya ketika ia menginjakkan kaki di teras. Matahari belum bangun dari liangnya sehingga segalanya tampak temaram. Hanya suara ombak yang silih berganti yang menemaninya duduk di sebuah kursi panjang yang sengaja diletakkan di teras untuk menikmati pemandangan laut.
Ia merenungkan titah Bahamut. Hanya tujuh hari tersisa untuk mengumpulkan lima Royal Arm demi membangkitkan Noctis. Lebih dari itu, maka kematian Noctis tak lagi terelakkan. Nyawa Noctis bergantung padanya, tetapi ia tidak yakin dapat melakukan tugas seberat itu sendirian. Selama ini, ia selalu ditemani Noctis dan teman-temannya untuk mengumpulkan lima Royal Arm pertama. Kini ia tidak memiliki siapa-siapa untuk meminta bantuan.
Pengalaman pahit ketika ia menjadi sandera kekaisaran mengajarkan kebenaran bahwa ia tidak bisa bersenang-senang melewati hari demi hari tanpa adanya gangguan bersama Noctis. Memang benar berada dekat Noctis bagaikan impian masa kecil yang terkabul setelah mereka terpisah belasan tahun lamanya. Tetapi kebersamaan itu telah membuatnya lengah dan melupakan bahwa ia adalah seorang Oracle, bukan wanita biasa yang bisa menjalani harinya sesuka hati. Ia memiliki tugas penting demi keselamatan Eos. Dan semakin lama ia membuang waktu, semakin dekat pula Eos kepada kehancuran mutlak. Ia bahkan telah mengabaikan tugasnya untuk menyembuhkan para pasien yang terjangkit Starscourge.
"Kau bangun pagi sekali." Suara Nyx mengejutkan Luna. Lelaki itu berjalan mendekatinya dan duduk di kursi di samping Luna. "Tidak bisa tidur?"
"Lima jam tidur sudah lebih dari cukup bagiku untuk beraktivitas normal," jawab Luna. Ia tidak berani menatap langsung mata Nyx. Wajahnya sebangun tidur pasti tampak kusut. "Bagaimana denganmu?"
"Setelah melalui huru-hara di dalam pesawat dengan kakek tua itu, otakku tidak bisa tenang. Rasanya adrenalin masih bergejolak sehingga aku tidak bisa tidur lelap. Dan aku juga ingin bercakap-cakap empat mata denganmu."
Sejujurnya Luna tidak dalam mood untuk mengobrol panjang. Apalagi berdua saja dengan pria selain Noctis.
"Kita mulai dari mana pembicaraan kita? Apa ada yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya Nyx.
"Ya. Ke mana saja kau pergi selama ini?"
"Sudah kuduga kau akan menyinggung hal itu. Maaf aku tidak sempat berpamitan langsung denganmu. Aku pergi ke Galahd untuk bertemu dengan teman masa kecilku. Kau ingat sihir angin baruku? Teman lamaku itulah yang memberikannya padaku."
Luna bertanya-tanya teman seperti apa yang bisa menganugerahi Nyx kekuatan sihir karena tidak sembarang orang (selain mereka yang terhubung ke Kristal Agung seperti Raja Lucis, Crownsguard dan Kingsglaive, dan secara khusus Oracle) yang dapat menggunakan sihir. "Padahal kau bisa meminta bantuan padaku atau Noctis dan teman-temannya untuk menemanimu ke Galahd. Terlalu berbahaya jika kau melakukan perjalanan jauh sendirian."
"Aku tidak ingin merepotkan kalian. Dan aku juga tidak ingin mengganggu momen-momen bahagiamu bersama Pangeran. Semenjak aku tidak dapat menggunakan sihir, aku merasa tidak berguna dalam kelompok itu. Aku hanya menjadi beban bagi mereka. Dan aku kesal karena aku tidak mampu melindungimu."
"Oh, Nyx, kau tidak perlu bersusah payah melindungiku lagi. Noctis telah bersumpah akan terus melindungiku. Tidak, lebih tepatnya aku bisa melindungi diriku sendiri. Aku mampu bertempur selihai Noctis dan kau."
"Aku tidak rela menyerahkan tugasku untuk melindungimu kepada Pangeran. Sekarang Pangeran tidak ada di sisimu. Izinkan aku untuk melindungimu menggantikannya."
Luna terkesiap ketika tangan Nyx menggenggam tangannya. Nyx berlutut di hadapannya, mata birunya menatap Luna tajam. "Aku… aku tidak layak menerima bantuanmu, Nyx…"
Nyx menarik lengan Luna dan memeluknya erat. Luna bisa mendengar degup jantungnya dan Nyx berdetak kencang. Wajah Luna menjadi panas.
"Aku telah bersusah payah memperoleh sihir baru ini hanya untukmu, Luna." Mendengar Nyx memanggil dengan nama akrab ketimbang 'Putri' mengisyaratkan bahwa pria itu serius dengan pernyataannya. "Hanya untukmu. Kuharap kau benar-benar paham bahwa aku benar-benar ingin melindungimu. Aku tidak akan kalah dari Pangeran. Karena aku… aku mencin─"
"Tidak, kumohon jangan katakan itu!" Luna melepaskan diri dari pelukan Nyx. Pria itu mengernyitkan dahi, tampak terluka. "Kau tidak boleh memiliki perasaan semacam itu padaku karena aku telah dan akan selalu mencintai Noctis."
"Apa kau benar-benar tulus mencintai Pangeran? Atau kau terpaksa mencintainya karena para dewa telah menakdirkan kalian untuk bersatu?"
Tanpa sadar Luna menampar pipi kanan Nyx. "Lancang sekali perkataanmu itu, Nyx. Kau tidak mengenalku sebaik Noctis mengenalku. Dan aku bukanlah wanita murahan yang mencintai seorang pria hanya karena takdir."
Nyx mengggit bibirnya. Ketika dia hendak menggapai lengan Luna lagi, ia segera berdiri dan berlari menuruni tangga menuju pantai. "Luna, mau pergi ke mana kau?" Nyx berlari mengejar Luna.
"Jangan ikuti aku! Biarkan aku sendirian!" teriak Luna. Spontan Nyx menghentkan langkahnya dan membeku di tepi tangga.
Luna terus berlari tanpa menoleh ke belakang sampai tiba di ujung pantai. Ia duduk di atas pasir putih, membiarkan gelombang air membasuh kakinya. Sambil menatap cakrawala, ia merenungkan pernyataan Nyx. Hatinya terasa kacau balau dan ia tidak dapat menjernihkan isi kepalaya.
Apa aku benar-benar tulus mencintai Noctis atau aku terpaksa mencintainya karena para dewa telah menakdirkan kami untuk bersatu?
Pertanyaan Nyx tersebut terngiang-ngiang dalam benaknya. Tidak mungkin ia memalsukan cintanya kepada Noctis. Meskipun awalnya ia memang tidak mencintai Noctis, sejak pertemuannya kembali dengan Noctis, ia telah belajar mencintai lelaki itu sedikit demi sedikit. Dan pada akhirnya perasaan cinta itu telah tumbuh dan merekah bagaikan kuntum bunga yang membuka mahkotanya. Ia sungguh-sungguh mencintai Noctis sebagai seorang wanita dan tak ada celah di antara mereka untuk dimasuki pria lain.
Ia tidak tahu berapa lama ia berdiam diri di tepi pantai memandangi lautan. Ia bisa melihat matahari mulai menampakkan kepalanya. Pagi telah tiba dan temperatur telah terangkat sehingga ia melepaskan jaketnya.
"Sudah kusangka kau berada di sini, Adikku." Luna menoleh sekilas dan melihat Ravus berjalan cepat ke arahnya. "Berapa kali perlu kukatakan padamu untuk menghentikan kegilaan ini? Bocah itu tidak akan pernah menjadi Raja. Kau hanya membahayakan dirimu jika kau berada di dekatnya."
Luna terlalu lelah untuk menjawab ocehan serupa kakaknya yang berulang-ulang. Setiap kali ia bertemu kakaknya, hanya ada pertengkaran mulut yang terjadi. "Noctis telah terpilih. Takdir menasbihkannya. Kau dari semua orang seharusnya paling memahami hal ini."
"Aku telah mendengar dari Gentiana kalau Draconian telah memberimu tugas berat untuk menghidupkan kembali Pangeran yang koma, tetapi kau harus membayar harga darah. Aku tidak akan membiarkanmu membuang nyawamu lagi demi bocah itu!"
Luna berdiri dan berpaling kepada Ravus, kini wajah mereka saling berhadapan. "Mungkin saja!"
Ada jeda beberapa detik yang menggantung di antara mereka. Angin pagi hari bertiup, membawa partikel-partikel kecil pasir ke udara. Suara ombak yang saling bergulung mengisi keheningan.
"Tetapi… ini adalah pilihanku." Dilema, patah hati dan keputusasaan telah membuat bendungan air matanya hancur. Air mata mulai menggenangi sudut matanya. "Kalau saja… Kalau saja aku bisa mendengar suaranya sekali lagi… Kalau saja kami bisa tertawa lepas tanpa perlu diteror kekaisaran lagi…" Ia membalikkan wajah memunggungi kakaknya. Ia tak tahan lagi dan membiarkan air mata mengalir melalui pipinya, menangis tersedu-sedu. "Kalau saja kami bisa… menjalani hari-hari kami bersama-sama seperti yang kami impikan…"
Ravus hendak menyentuh pundak adiknya, tapi menarik diri. "Tidak ada lagi yang bisa kukatakan padamu. Kau tinggallah di sini dan lakukan apa yang menurutmu benar. Ada urusan penting yang harus kuselesaikan di Gralea. Aku akan pergi untuk sementara waktu sehingga aku tidak bisa menjengukmu." Lalu ia meninggalkan Luna sendirian.
Sepeninggalan Ravus membawa kedatangan seorang wanita yang amat dikenalnya. "Mengapa sang Putri menangis?"
Luna mengenal suara lembut itu sebagai Gentiana. Sepertinya Gentiana datang bersama Ravus kemari. Ia mengangkat kepala dan melihat sang Messenger berdiri tiga meter di dekatnya.
"Maafkan aku. Aku bersumpah untuk menangis hanya ketika tidak ada mata-mata yang dapat mengintai air mataku."
"Namun manusia-manusia lainnya tidak perlu menyembunyikan kesedihan mereka. Apakah sang Putri sangat berbeda dari mereka?"
Luna menggeleng. "Tidak… Dia tidak berbeda sama sekali. Dia mengingingkan hal yang sama persis dengan yang mereka inginkan: bersama-sama dengan orang yang dicintainya. Tetapi meskipun demikian, dia tidak akan pernah memperolehnya."
Gentiana berjalan anggun mendekati Luna. Syal putih yang menggantung di pundaknya tertiup angin sepoi-sepoi. "Permohonan sang Putri telah terdengar." Jemari dingin Gentiana menyapu bulir air mata terakhir yang tersisa di sudut mata Luna. "Cinta yang dia tanamkan kepada sang Raja tidak akan pernah padam─dan sang Messenger akan menyampaikan permohonan tersebut kepada sang Draconian."
"Gentiana…"
"Jika sang Putri tak bisa bersatu dengan sang Raja dalam kehidupan, maka sang Messenger akan memastikan bahwa mereka akan bersatu dalam kematian. Dengan demikian, berkat para dewa dan cinta sang Putri akan bersama sang Raja dalam keabadian." Gentiana membuka matanya yang hitam legam bak berlian, lalu menangkupkan kedua telapak tangannya pada telapak tangan kanan Luna. "Maka dari itu, terjalinlah janji antara sang Oracle dan sang Messenger."
Pernyataan Gentiana menjadi pelipur lara bagi Luna. Ia menangkupkan tangan satunya kepada sang Messenger dan tangan mereka saling bertautan. Ia tersenyum sambil berkata, "Aku tidak layak memperoleh kebaikan hatimu…. Terima kasih."
Gentiana balas tersenyum. Tanpa diduganya, sebulir air mata mengalir di pipi sang Messenger. Selama ini Gentiana hanya bertindak sebagai penyalur pesan Bahamut kepada Luna, tak lebih dari itu. Namun pada momen ini, Luna percaya bahwa ucapan Gentiana murni berasal dari lubuk hati wanita itu yang terdalam. Gentiana adalah satu-satunya sahabat wanita yang dimilikinya, yang telah setia menemaninya sejak ia dilahirkan ke dunia ini dan memahami kepedihan yang dialaminya.
Gentiana telah melenyapkan dilema Luna. Ia tak lagi takut menghadapi prospek ajal yang kian menggerogoti remah-remah daya hidupnya yang tersisa di dunia ini. Jika ia harus mati demi menuntaskan tugasnya bagi Noctis, maka terjadilah. Ia akan mengumpulkan lima Royal Arm dan berkat Hexatheon yang tersisa untuk memenuhi panggilan Raja Sejati. Ia akan merasakan setiap utas benang usianya yang pendek dipotong darinya ketika ia menjalankan tugas tersebut. Ia tidak lagi merasa takut membayangkan dirinya sekarat tak berdaya, lalu mati tanpa keberadaan Noctis yang dicintainya di sisinya.
Ia tahu bahwa hari-hari bahagianya yang pendek, yang telah dihabiskan bersama Noctis sebagai seorang Luna telah usai. Kini ia harus kembali menjadi seorang Lunafreya Nox Fleuret, sang Oracle.
Noctis, maafkan aku. Aku telah memutuskan bahwa aku tidak akan pernah menemuimu lagi. Jika aku berada di sisimu, aku hanya akan membahayakanmu. Kuharap kau bisa mengerti bahwa aku menjauhimu bukan karena aku membencimu. Aku benar-benar mencintaimu. Dan karena itu, aku melepaskanmu demi kebaikanmu. Ketika kita bertemu kembali, barangkali aku telah berada di ambang kematian atau telah tiada. Tetapi janganlah kau bersedih karena aku akan menunggu kehadiranmu di alam baka. Pada akhirnya, kita akan bersatu di dalam kematian seperti yang telah diguratkan oleh takdir.
Selamat tinggal, Noctis.
AKHIR BUKU TIGA
FINAL FANTASY VERSUS -BETA EDITION-
TAMAT
