Disclaimer : Masashi Kishimoto & Ichie Ishibumi
.
"Talking"
'Thinking'
"Monster Talking"
'Monster Thinking'
"Technique"
Naruto keluar dari ruang kerja Sirzechs di Mansion Gremory. Baru saja ia menutup pintu, seorang maid, berperawakan remaja 17 tahunan menghampirinya. Ia membungkuk sopan, tanpa gugup ia mulai mengatakan tujuannya.
"Grayfia-sama memerintahkan saya untuk melayani segala kebutuhan pribadi anda di sini, Okyaku-sama. Tolong kerja samanya." Setelah mengatakan itu, si maid mulai menegakan tubuh nya.
Satu alis Naruto terangkat, Grayfia? Butuh beberapa detik bagi Naruto untuk menemukan pemilik nama itu. Sudah pasti maid paling mencolok yang dapat ia temukan di sini, Grayfia juga orang yang sama membuatnya berakhir menjadi tawanan rumah, mustahil bagi Naruto melupakannya.
"Ah baiklah, aku dalam perawatan mu kali ini."
"Mari saya antar ke kamar anda dan tolong jangan ragu ragu untuk merepotkan ku." ucapnya di sertai senyum profesional.
Meski cukup tidak nyaman dengan nada formal seperti itu, Naruto masih cukup bermurah hati untuk memberikan kemudahan pelayan ini berkerja. Mungkin budaya berbahasa dunia ini memang seperti itu, Naruto tidak memiliki alasan untuk protes. Ia perlu banyak belajar, begitulah pikiranya.
Sedikit menyinggung apa yang terjadi di dalam ruangan tadi. Setelah Rating game berakhir, Sirzechs membawanya ke ruangan di mana sudah ada empat Maou termasuk Sirzechs dan kepala Pillar Gremory Phenex.
Pembicaraan itu dalam kondisi informal, tidak ada ketegangan apapun, jadi sesi itu bisa di lalui dengan lancar. Pembicaraan di awali dari siapa Naruto. Dalam ingatannya setelah membaca buku, ada berbagai ras yang mewakili beberapa teritorial dari Iblis dan Malaikat jatuh di Underworld ataupun Malaikat di surga.
Itu pertanyaan umum. Naruto tidak mungkin mengatakan ia manusia di mana aura iblis terpancar dari tubuh nya. Perkenalan versinya, ia terlahir di luar kandang iblis, hidup nyaman bersama manusia, karena suatu kecelakaan, ia berakhir di sini. Itu selesai dan bisa di terima oleh semua nya.
Pembicaraan selanjutnya tentang kesepakatan antara Naruto dan Sirzechs. Di sisi lain, Yondai Maou memberikan persyaratan cukup mudah, Naruto menerima itu semua.
Ringkasnya saja, Naruto akan di awasi oleh perwakilan Iblis yaitu Rias dan Peerage nya, segala kebutuhan pribadi Naruto akan di tanggung selama masih di batas kemampuan Sirzechs, pergerakan Naruto selama dalam pengawasan tidak di batasi oleh apapun dengan tanda kutip bukan pergerakan mencurigakan.
Hanya tiga point utama dari syarat dan janji dari kesepakatan Sirzechs dan Naruto. Tidak satupun syarat syarat di atas yang bersifat menekan, meskipun Naruto di awasi ia masih memiliki kebebasan tidak seperti seorang tahanan.
Dengan begitu saja percakapan berakhir, Sirzechs menepati janjinya menjamin apapun hidup selama Naruto di awasi. Otoritas Sirzechs di dunia bawah sangatlah kuat, dengan kekuatan seperti itu mustahil bagi para Pillar menyentuhnya terutama anggota Pillar Phenex yang seperti memberikan sinyal permusuhan meskipun Lord Phenex berjanji itu tidak akan terjadi.
Naruto, benar benar di berikan kemudahan, tapi meskipun begitu tak ada rasa senang di hatinya, ia justru berpikir, 'Mereka tidak akan melepaskanku.' bisa di bilang, syarat dan reward yang di berikan untuk dirinya, tidak lebih dari 'pendekatan secara halus' jadi ia biarkan saja meskipun ia sadar poin itu.
Setelah hening dalam perjalanan di antara lorong lorong Mansion, beberapa menit berlalu. Kini Ia berdiri menatap nalar pintu besar dengan ukiran cantik, kualitasnya tidak di ragukan lagi memberikan kesan mewah luar biasa.
Seperti mengerti arti tatapan itu, si maid membuka kata. "Ini kamar yang bisa anda pakai, Okyaku-sama. Jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa memanggil saya, saya ada di sini.".
" Tidak, bukan itu. Apakah hukum di sini memberikan tahanan kemurahan seperti ini? Sungguh luar biasa, aku terlihat seperti tamu."
"Grayfia-sama yang merekomendasikan ini, saya hanya menjalani perintah nya." Tanpa Naruto ketahui, ini adalah kamar mendiang Naruto Gremory. Semua hal hal yang berhubungan dengan Naruto Gremory telah di bersihkan, jadi ini terlihat seperti kamar biasa pada umumnya.
"Begitu... " Meski berguman kecil, sang gadis masih jelas mendengarnya namun tak memiliki cukup keberanian untuk menjawab. "Baiklah, kau bisa pergi."
"Eh?" Gadis itu terpekik heran. Pandangan lurus menembus mata Naruto membuat nya membeku, mata itu terlihat seperti tidak menerima penolakan tanpa peduli situasinya.
"Tapi—"
"Aku ingin waktu pribadi, ini tugas pertama mu, bisakah kau mengerti?" Satu kalimat, sebelum punggung Naruto menghilang dari balik pintu meninggalkan gadis maid tampak masih baru masih memproses kejadian beberapa detik yang lalu.
Begitu saja, seperti sesuatu yang meledak menjebol pertahanan. Gadis itu tak kuasa menahan beban tubuh dan tertunduk lemas. "Ini tidak baik, jika Grayfia-sama tahu, aku akan di marahi." Wajah nya tampak makin pucat.
Tidak seperti kelihatannya, sejak awal gadis itu menahan gugup mati matian, berusaha bersikap profesional sebagai maid baru dan kini ia terlihat seperti ingin menangis, "Hiks tadi menyeramkan sekali, jika bisa memilih, aku ingin menyapu seluruh Mansion saja." Meski tau dia melanggar perintah Grayfia, ia tetap pergi meninggalkan kamar dengan tertunduk lesu.
Ia akan kembali dalam beberapa jam ketika acara makan malam di mulai, itu yang Grayfia perintahkan. Dengan tekad yang menggebu, ia berjanji akan menyeret Naruto nanti.
Gadis yang malang... Terkadang Naruto bisa bertindak jahil, ia mengetahui sejak awal sifat asli pelayan yang melayani nya, ia hanya tidak tahan melihatnya jadi ia putuskan untuk memberikan pelajaran sedikit.
Dari balik pintu, Naruto terkekeh pelan. "Sangat menyenangkan, aku jadi ketagihan memanfaatkan posisiku sekarang. Tapi sangat di sayangkan, tugas ku hanya sampai di sini." Mengeluarkan satu kunai spesial nya, ekstensi Naruto menghilang di dalam kepulan asap dan kunai spesial itu terjatuh.
Wujud sejati dari Naruto beberapa saat yang lalu, hanyalah Bunshin dengan hak spesial.
..
..
..
Ingatan baru datang, untuk pertama kalinya Naruto membuka mata. Ini cukup membuang banyak tenaga untuk mencari tempat strategis di mana ia bisa memulai rencananya, "Cukup lama hanya untuk menyelesaikan satu pertandingan, buruk sekali." Ini suara dari Kurama. Naruto tersenyum simpul. Jika ia sudah mendapatkan ingatan ini, berarti bunshin nya sudah menyelesaikan tugas dengan baik.
"Aku tidak menyangka Gremory bisa bersikap baik pada siapapun yang asing bagi mereka, tunggu atau memang tidak." Ingatan itu berupa, pertandingan solo vs squad, keputusan Phenex setelah pertandingan di mana Lord Phenex berterima kasih setelah mengenalkan Riser arti sebuah kekalahan, berkumpulnya keluarga Gremory dan obrolan ringan dengan topik utama Naruto.
"Kheh kau masih tidak mempercayai kepala tomat itu? Padahal jelas sekali dia menaruh harapan untuk mu lho, Naruto."
"Terlalu banyak mengikuti alur drama, kemungkinan aku terbawa arus bukan lagi kemungkinan. Kita terjebak di dunia asing . Dengan mempercayai Sirzechs sama halnya kita ikut campur urusan yang sama sekali tidak ada sangkut paut nya dengan kita. Ok masalah Riser kita kesampingkan dulu, ini masalah keluarga tanpa melibatkan ras, masih bisa di terima bukan?"
Kurama memutar matanya bosan, "Apa kau tidak merasa terlalu berhati hati? Kau tidak melihat wanita itu menatap mu, tatapan yang sama seperti mata Kushina. Itu kasih sayang dari ibu untuk anaknya."
"Benar, itu perasaan yang tidak wajar. Setidaknya untuk ku. Perasaan itu muncul tiba tiba, aku tidak cukup egois untuk menebak maksud emosi itu."
Hal tidak masuk akal adalah ketidaktahuan manusia dengan perasaanya sendiri. Kurama tahu satu hal yang tidak di ketahui oleh Naruto, pertemuan dengan putra mahkota Gremory memaksa Kurama untuk menyadari jika takdir antara Uzumaki Naruto dan Naruto Gremory berkaitan. Mereka lahir di tanggal dan bulan yang sama, memiliki keberuntungan bagaikan cermin, dan itu pernah terjadi di peristiwa sebelumnya.
Jika hipotesis Kurama dan Naruto Gremory benar. Maka Kurama hanya bisa diam dan menunggu di mana Naruto menyadari peristiwa ini! Sebuah cerita tidak akan menarik jika kau telah mendapatkan spoiler nya. Kurama hanya perlu menunggu, mau sekuat apapun Naruto sekarang, anak ini masih tetap seorang pemuda naif.
"Tapi lupakan itu dulu, aku yakin tentang bagaimana perasaan ini akan terjawab oleh waktu." Kurama terkekeh lucu, tentu saja karena semua jawaban yang Naruto butuh kan ada pada dirinya sendiri. "Aku tidak ingin terlibat dalam urusan supranatural kecuali jika berhubungan langsung denganku."
"Berhubungan denganmu?"
"Benar, kita tidak tahu dengan masa depan. Informasi berbentuk apapun pasti tidak gratis atau setidaknya membutuhkan usaha, aku yakin, kita pasti mendapatkan kesulitan nanti yang mana memaksa kita untuk terlibat ke dalamnya." Naruto menghela nafas pelan, "Dari kejadian hari ini, kita sudah menarik perhatian para iblis muda. Iblis yang kita kalahkan bukan lah kacung jadi ku pikir wajar."
Mungkin bagi Naruto Riser hanya iblis kelas atas dengan seluruh omong kosong nya. Namun bagi Mekai, Riser adalah prodigy Phenex, catatan Rating Game tidak pernah kalah membawa popularitas cukup baik bagi mata para bangsawan. Terbukti hanya dengan mengalahkan Riser menjadi seheboh itu, Naruto tidak akan terkejut jika bangsawan melirik nya.
Di sela sela obrolan bersama pihak Gremory, kata Sirzechs video pertarungan Naruto vs Riser telah tersebar ke seluruh Mekkai hanya dalam waktu tidak lebih dari 3 jam entah dengan cara yang tidak Naruto mengerti.
"Dan hebatnya lagi, iblis mengaku dirinya abadi itu mengincar mu, Naruto."
"Riser iblis arogan yang cukup cerdas, dia pasti tau di mana batasnya." Terdiam sejenak, Naruto menyeringai tipis. "Mau bertaruh dengan ku? Aku jamin Riser tidak akan melakukan apapun dan jika Riser merasa bodoh dengan menandaiku, aku membebaskan mu untuk melakukan apapun pada Riser."
"Hoo menarik, tapi tidak perlu. Jika kau sudah berpikir seperti itu, tidak ada gunanya kita beradu argumen." Naruto adalah Shinobi bertindak berdasarkan logikanya. Setelah mengetahui musuh yang di incar memiliki potensi di atasnya. Riser hanya memiliki dua pilihan, diam dan menerima harga dirinya di permalukan, atau berlatih seumur hidupnya untuk membalas yang seharusnya tidak di perlukan. Patner nya ini bukanlah sosok pantas di samakan dengan Riser.
Tidak peduli seberapa keras nya Riser berusaha, sulit bagi Riser mencapai tingkat yang sama dengan Naruto.
"Tapi kemungkinan itu pasti ada, Naruto. Dan jika itu terjadi, apa yang akan kau lakukan?" Yang namanya kemungkinan pasti memiliki cukup celah, Naruto bukan Tuhan yang mengetahui jalan berpikir orang lain. Meskipun Naruto mencoba berpikir secara realistis, tapi ego seseorang bisa mendahului logikanya.
Naruto masih tetap tenang. Naruto bukan lah orang yang mau memikirkan hal hal menurutnya sepele menjadi rumit. "Kau masih bertanya soal itu?" Tentu saja ini bukan hal yang harus di pikirkan lebih jauh, "Mengurus Riser hanyalah sepotong kue, aku tidak mau memikirkanya."
"Dan kau akan terlibat ke masalah supranatural, bukan kah kau bilang akan menghindari konflik yang tidak perlu?"
Naruto hanya menghela nafas pelan, "Kau sudah mengenalku cukup lama bukan? Aku tidak peduli dengan apapun selama aku tidak di libatkan, dan Phenex masihlah seorang bangsawan, mereka tidak cukup bodoh melakukan tindakan percuma hanya berdasarkan emosi pribadi."
Berdasarkan perhitungan yang ia buat, menandai Naruto lebih banyak mendapatkan kerugian dari pada untung nya. Jikapun ia terlibat kemungkinan yang tidak di inginkan, bukan hal sulit melawan Phenex secara personal meski Lord Phenex bilang, ini sudah berakhir.
Itu bukan ancaman, tapi sebuah janji. Selama ini Naruto tidak pernah bertindak brutal bahkan di mana ia menjadi selayaknya binatang di Konoha. Naruto masih menganggap seluruh warga Konoha sekutunya sendiri karena ia tahu. Sisi buruk Konoha adalah sulitnya membedakan antara sampul dan isinya. Tapi iblis berbeda, mereka sudah tau namun menulikan pendengaran hanya karena Riser salah satu iblis berdarah murni dan kemudian memburu Naruto atas dasar pembunuhan jika Riser berniat mengincarnya. Meskipun begitu, Naruto masih tetap konsisten dengan tujuannya.
Itupun jika Riser masih bisa menyombongkan regenerasi nya dan datang ke hadapan Naruto dengan niat membunuh. Naruto tidak arogan, tapi ia bersikap sebagaimana yang seharusnya. Ia tidak ingin menundukan kepalanya ke siapapun bahkan jika itu seorang dewa. Naruto akan melawan dengan kekuatannya dan menununjukan bahwa derajat mereka sama. Itulah satu satunya cara Naruto bertahan di dunia abu abu dengan sebisa mungkin tidak terlibat konflik apapun. Naruto akan terlibat, jika memang itu sangat di perlukan.
Jangankan iblis kecil, seseorang yang mengatas namakan dirinya dewi pun ia kalahkan dalam semalam di mana pendahulunya butuh berbulan bulan, itu pun hanya di segel tidak di bunuh sebagai mana Naruto melakukannya. Keberuntungan kecil ketika kebangkitan Kaguya tidak dalam kondisi prima.
Si Uzukage mengigit jempolnya, satu tetes darah jatuh ke tangan Mekkai dan kanji rumit menyebar hingga selebar lima meter. Salah satu kemampuan Naruto yang tidak bisa di gunakan oleh orang lain semudah bagaimana Naruto melakukannya, Bunshin super solid tanpa Naruto harus membagikan cakranya terus menerus.
Dua handseal siap, naga ke ular lalu kepulan kecil tercipta bersama dengan kanji kanji yang menyusut. Kekuatannya menghilang sebagian bersama dengan munculnya sosok baru dari kepulan asap tersebut. Pada dasarnya Chi Bunshin no Jutsu atau blood Clone Technique hampir sama seperti kebanyakan Jutsu Bunshin kebanyakan tapi dalam Jutsu ini doppelganger memerlukan darah pengguna. Chi Bunshin tidak perlu mengambil cakra dari tubuh asli dimana Naruto sendiri telah memberikan sebagian cakranya tapi tidak dengan kesadaran Kurama.
Berdasarkan apa yang telah terjadi, aura tipis Naruto Gremory yang ada pada nya juga terbagi dengan Kage Bunshin nya, itu akan jadi masalah serius ketika ia memutuskan bunshin nya untuk mencari informasi.
Maka dari itulah terpikir oleh Naruto menggunakan Bunshin yang lebih solid, secara harfiah Chi Bunshin hampir seperti membelah diri, namun Bunshin tetaplah Bunshin yang memiliki batasnya sendiri, lalu kemudian Naruto membagi sebagain kekuatannya. Dengan begitu masalah di selesaikan, Chi bunshin itu benar benar tidak memiliki secuil pun aura Gremory hampir seperti dua orang yang berbeda.
"Dengan terpanggil nya aku, sepertinya aku akan di sulitkan oleh mu, bos. Jadi katakan apa yang harus ku lakukan."
"iya, ini salah satu langkah awal untuk bisa bertahan hidup di dunia yang asing bagi kita." Meskipun bunshin termasuk dari dirinya sendiri, mereka berdua tetap saja tidak memiliki link yang menembus dimensi ide antara keduanya.
"Carilah apapun yang bisa kita manfaatkan, sekecil apapun informasi pasti sangat berguna bagi kita. Jangan terlibat ke masalah Supranatural terserah seberapa penting nya itu. Kau bisa melakukan nya dalam beberapa bulan hingga aku bisa memulainya."
"Begitu, bagaimana kau menciptakan ku begitu sempurna sepertinya bisa ku pahami. Aku akan menahan pertanyaan ku, kau bisa sedikit bersenang senang bos."
Dia mengangguk mengiyakan, "benar." Naruto tampak tidak berusaha memberikan bantahan, "Firasat ku mengatakan berada di dekat mereka bisa membawaku ke sesuatu yang kita butuhkan. Tapi ini tidak akan lama, aku tahanan mereka. Sirzechs mengatakan aku bisa bebas setelah mereka yakin aku tidak berbahaya, selama itu tolong gantikan aku ya."
"Sesuai keinginanmu." Bunshin nya menghilang. Naruto sudah menyebar puluhan kunai ke berbagai sudut kawasan Gremory yeng memiliki ukuran sama besarnya dengan Jepang untuk berjaga jaga. Naruto tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan, dia tidak tau tingkat kekuatan di dunia ini dan mencari informasi salah satu tindakan paling rekomendasi.
Cukup dengan Gremory dulu. Bunshin nya bisa berpindah satu tempat ke tempat lainya jika mengalami sesuatu di sini. Meskipun cuman Bunshin, ia yakin tiruannya memiliki kecerdasan seperti tubuh asli. Tanpa Naruto perintah sekalipun Bunshin nya akan melakukan apa yang ia pikirkan dan Naruto hanya perlu bersabar.
Ngomong ngomong, akhir dari percakapan dengan keluarga Gremory adalah, Rias yang akan mengawasi Naruto. Itu pikir wajar, Uzukage muda ini pun sudah menebak itu, Sirzechs seorang Maou dengan jadwal sangat tinggi. Tidak mungkin Maou menangani tahanan secara personal di mana ia bisa memerintah siapapun bawahannya.
Naruto dan Rias akan berangkat ke dunia atas besok. Kalau yang ini di luar prediksi. Siapa yang menyangka ia tidak perlu susah payah merangkai shiki untuk ke dunia atas di mana ia bisa mencari informasi.
Dan lagi, Naruto bukanlah orang bodoh yang mau menerima pekerjaan di mana dia sendiri tidak yakin. Maka dari itulah ia menggunakan Bunshin untuk melakukan pekerjaannya. Untuk berjaga jaga, Naruto memberikan hak untuk Bunshin nya mengambil seberapapun kekuatan yang di butuhkan darinya, ia tidak tau siapa yang hadir di aula, bukan tidak mungkin jika ada satu atau dua iblis yang memiliki type sensor sensitif yang seharusnya ia hindari.
Kesadaran Kurama ada pada dirinya, maka dari itulah selama pertandingan melawan Riser tidak ada satu katapun yang mengomentari setiap tindakan Naruto sebagai mana Kurama biasanya.
Kapan lagi Naruto memiliki kesempatan bebas seperti sekarang. Ia menggunakan itu dengan baik, menyebar seluruh kunai ke penjuru Gremory dengan waktu yang di gunakan Bunshin nya untuk bekerja. Setelah ini, Naruto tidak yakin bisa mendapatkan waktu pribadi tanpa pengawasan Gremory meskipun ia bisa memutar balikan keadaaan kapanpun dia mau.
"Segalanya di mulai dari sini... "
Langit ungu memang fenomena langka bagi manusia. Namun bagi iblis, ini adalah langit tipuan untuk menutupi warna yang sesungguhnya. Tidak ada malam, hanya jam yang menunjukan perbedaan waktu.
Ketika semua yang telah terjadi hanya sebuah takdir menyedihkan, ada janji di mana untuk kesekian kalinya Naruto akan menghancurkan dan membuat ulang takdir nya sendiri.
Tidak ada yang tidak mungkin selama seseorang mau berusaha, begitupun dengan Naruto. Ia tidak pernah menyerah dalam arti yang lebih dalam dan untuk kali ini Naruto tidak akan menyerah dengan takdir yang sudah di tentukan padanya.
Tapi apa benar begitu? Kenyataanya Naruto bukan dewa yang tahu segalanya. Dia hanya manusia lemah, ia hanya berusaha dan tidak tau apa apa. Andai Naruto sadar, mungkin dia akan mengerti satu hal lagi...
Apapun takdir yang dia terima, itu yang terbaik.
..
..
..
Terakhir kali Grayfia mengingatnya, jika ia tidak salah. Ia berniat memberikan waktu istirahat untuk tubuh nya lalu pandangannya gelap. Awalnya Grayfia mengira ia telah tertidur pulas, justru sekarang ia malah kebingungan bagaimana mendeskripsikan situasi sekarang. Ini bukan mimpi juga bukan kenyataan. Seluruh indra nya seperti mati rasa, bahkan ia tak merasakan satupun anggota tubuh nya.
Dalam kegelapan total, hingga bahkan cahaya sekalipun tenggelam di dalam nya. Yang perlu Grayfia lakukan saat ini hanya pasrah atau opsi lain berusaha mencari tahu situasinya. Kesadaran nya masih terjaga namun menggerakan satu jaripun tak mampu. Tidak, bukan karena itu, tapi karena memang saat ini Grayfia tidak memiliki wujud tubuh material dengan kata lain, ini dunia spiritual.
Grayfia hanya menduga duga berdasarkan apa yang dia alami saat ini, tidak ada yang lebih masuk akal dari pemikiranya. Informasi sesingkat itu sangat relevan baginya, tetapi jika ini hanya mimpi, tak seharusnya ia memiliki kesadaran penuh atas dirinya.
Dunia spiritual artinya dunia para roh, dapat di artikan sebagai dunia lain yang sama sekali berbeda dengan dunia material. Di ingatan Grayfia, satu contoh tempat cukup mirip dunia spritual adalah Limbo. Tapi cukup mengherankan, di dunia supranatural yang terpecah menjadi banyak dunia mewakili Underworld, Heaven, tempat tinggal para makhluk Mitologis bahkan celah dimensi yang luasnya tak di ketahui hal seperti yang Grayfia alami saat ini masih sangat misteri.
Namun itu semua adalah dunia material dan semi-material. Pada kenyataannya, ada perbedaan mendasar antara Limbo dan dunia spiritual. Keduanya dapat di bedakan dari bentuk kehidupan penghuni nya. Bagi mereka yang terlahir sebagai makhluk spiritual terberkahi kemampuan untuk eksis tanpa tubuh material namun untuk beroperasi di luar alam mereka, sangat di perlukan pemicu seperti wadah, jadi kehidupan makhluk Spritual di dunia material adalah hal mungkin.
Jadi Grayfia sampai pada satu kesimpulan, Iblis dan makhluk dari dunia material pun bisa melakukan sebaliknya. Untuk hidup di dunia spiritual, hanya di butuhkan roh tanpa wadah. Itu sedikit menjelaskan situasinya saat ini, Grayfia bisa sedikit lega meskipun pertanyaan berikut nya timbul.
Pemicu Grayfia berakhir di sini...
Segala bentuk kekuatan material seperti atribut alam tidak valid, jadi tak ada yang bisa Grayfia coba. Kemampuan yang dapat mempengaruhi jiwa seharusnya bisa berfungsi normal di sini. Kemampuan type seperti itu menjadi hal unik di dunia material. Jika para mahkluk spiritual meninggalkan habitat asli mereka dan eksis di dunia fisik, tak di ketahui seberapa kuat mereka.
Di tengah Grayfia menduga duga, sesuatu yang instan terlahir. Cahaya yang begitu kuat menembus kegelapan yang tidak di ketahui seberapa dalam nya itu, Grayfia tidak bisa menahan diri untuk menutup mata meskipun tidak perlu, keindahan cahaya keemasan itu terkompres hingga berakhir mengambil bentuk bola api besar emas yang aneh nya tak menunjukan kenaikan suhu.
"Apa, apa yang terjadi?" Reaksi wajar makhluk manapun.
Seperti mengerti kebingungan Grayfia, bola api besar itu pecah, membelah dirinya menjadi puluhan bola api berukuran lebih kecil. Namun tetap saja, tak ada jawaban atas situasi aneh ini.
Suasana berubah 180 derajat, tidak ada kegelapan lagi, yang ada hanya ruangan dengan luas tak terbatas di terangi puluhan bola api yang mengambil jarak cukup berjauhan dari satu ke lainnya. Beberapa detik tidak ada reaksi, bola api yang berada tidak jauh dari dirinya mulai menunjukan pergerakan.
Itu hanya gerakan lambat, namun semakin bertambah nya detik, kecepatan gerak dikalikan menjadi ratusan. Kecepatan travel mendekati kecepatan suara itu bergerak tegak lurus menghantam salah satu bola api terjauh dari posisi Grayfia.
Dan hal aneh berikutnya terjadi lagi. Shockwave dari tubrukan itu adalah riak cahaya yang memantul ke penjuru ruang. Hasil dari kejadian itu sedikit di mengerti oleh Grayfia, dua bola api itu menyatu menjadi 2 kali lipat dari puluhan bola api lainya yang artinya jika seluruh pecahan pecahan ini di satukan akan mengambil bentuk sejatinya.
Itulah dugaan lain, Grayfia. Entah itu benar atau tidaknya, bukan masalah. Tetapi akan sangat bermasalah jika kejadian ini memiliki arti buruk untuk sesuatu.
Ketika Grayfia mulai menambah kinerja otak nya untuk memahami keadaan sekarang. Kesadarannya di tarik paksa, jikapun Grayfia bisa memberontak sudah pasti ia akan melakukannya, namun seperti bayi kecil yang tak bisa apa apa, ia pasrah ketika kegelapan mengambil alih penglihatannya secara total.
Dan setelah itu, tak ada ingatan lagi yang mampu di proses.
Entah sudah berapa waktu telah berlalu, kesadaran Grayfia mulai menunjukan keaktifan nya. Hal pertama ketika ia membuka mata adalah kamar nya sendiri. Ketika ia menengok kesamping, sama seperti biasa, suami nya tidak ada, itu sudah terjadi kurang lebih setahun. Sirzechs selalu menghabiskan malam nya di Castile Lucifer lama, tempat ia bekerja sebagai pemimpin iblis.
Grayfia tidak mempermasalahkan itu, ia mengerti jika Mansion ini penuh akan kenangan semakin berusaha melupakannya, kenangan itu semakin kuat. Sirzechs selalu merasa bersalah dan selalu melarikan diri dari berbagai memori indah namun menyakitkan.
Bohong jika Grayfia tidak merasakan hal yang sama. Berbeda dengan suaminya, kenangan selama belasan tahun itu terlalu indah untuk di lupakan, tidak pernah sekalipun terbesit dalam benak nya untuk melupakan apapun tentang anak nya. Itulah yang membuat Grayfia tak pernah berubah, ia masih terlalu terpaku dengan masa lalu.
Wanita itu menghembuskan nafas, tiba tiba ia memikirkan arti mimpi itu. Ya mimpi, spekulasi baru Grayfia saat saat ini. Ia masih memiliki tubuh material, dan tidak ada bedanya dengan ia sebelumnya, yang berarti pengalaman baru nya tadi tidak lebih dari aktivitas otak di saat tubuhnya rilex mengistirahatkan diri.
Jadi Grayfia berpikir, 'Aku terlalu banyak khawatir, mimpi aneh itu ku rasa efek negatif dari stress pikiranku selama ini.' Setidaknya dengan ini, Grayfia bisa merasa lega.
Benar itu mimpi aneh yang tidak di mengerti, namun keringat yang mengalir di punggung dan pelipis nya bisa saja menjadi tanda, jika itu buka hanya sekedar mimpi aneh biasa, Grayfia tidak memperhitungkan kemungkinan ini sama sekali.
Grayfia bangkit dari tempat tidurnya, ia masih menggunakan pakaian maid prancis biru putih namun yang membedakan dia dari biasanya, rambut nya ia biarkan tergerai bebas tanpa headband. Tenggorokan nya kering, dan ia ingin mengambil sesuatu untuk mengobatinya. Sudah pasti langkah Grayfia selanjutnya adalah dapur.
..
..
..
"Kau yang bisa bertarung seharian penuh dengan kelima Kage dan Madara, pucat hanya karena kudapan? Payah!" Suara yang hanya bisa Naruto dengar seperti sebuah ungkapan meremehkan. Tangan Naruto yang masih sibuk dengan kegiatannya berhenti, tidak lama kemudian melanjutkannya kembali.
"Itu terlihat seperti makanan babi dari pada ku sebut sebagai makanan umat manusia, ah... pil penambah energi buatan Sakura kurasa tidak begitu buruk!" Itulah yang ia alami, seorang pelayan kurang ajar menyeret nya ke tengah perkumpulan keluarga Gremory dan menjeratnya pada situasi yang tidak biasa ia tolak.
Makan malam keluarga Gremory, keluarga Gremory menyambutnya hangat bahkan meskipun beberapa dari bawahan Rias memandangnya seperti orang yang bangkit dari kubur. Interaksi pertama dengan keluarga Gremory berjalan normal, Naruto meninggalkan kesan baik di mata Venelana dan Zeoticus meskipun ia harus lari ke toilet dan memuntahkan segala yang ia makan tanpa di ketahui oleh siapapun.
Makanan teraneh yang pernah masuk ke mulutnya, ia tidak mau makan itu meski harus mempertaruhkan nyawanya.
Cup ramen yang ketiga dan terakhir nya selesai dibuka. Matanya menganalisis benda asing di depannya, beberapa kali menyentuh hingga tak butuh waktu lama bagi Naruto untuk pertama kalinya menyerah sebelum bertempur.
Alis nya mengkerut, "Entah kenapa, aku ingin menggunakan Mekkyaku untuk memanaskan air." Semua barang barang di dapur Gremory terasa asing bagi nya. Meskipun Naruto tahu barang baru saja ia sentuh berupa kompor, ia sama sekali tidak bisa menggunakan benda itu sebagaimana mestinya.
"Kau mampu beradaptasi dengan lingkungan, tapi apa kabar dengan lidah dan pencernaanmu?"
"Sungguh, secara pribadi aku tidak membutuhkan komentar apapun dari mu" Mendesah pelan, sepertinya ia harus menahan rasa lapar yang begitu menyiksa hingga besok pagi. Meski langit Underworld tidak memiliki perbedaan antara siang dan malam, namun memiliki penanda waktu sama hal nya dengan dunia manusia pada umum nya.
Karena terlalu fokus dengan kegiatan yang mencoba berkali kali memutar knop kompor hasil nya selalu sama, tidak ada tanda jika benda sialan itu akan bekerja sebagaimana mestinya, abaikan Kurama yang mengejek di kepalanya, Naruto tidak menyadari jika seseorang bediri di belakang nya, menatap punggung sang Sandaime Uzukage bingung.
Naruto menegang, hampir saja Rasengan muncul di tangannya jika saja suara lembut tidak menginterupsi kan jika ini bukan ancaman. "Apa yang kau lakukan di sini, Naruto-kun?" Naruto menaikan alisnya heran dengan panggilan Grayfia yang mencoba akrab, ia mengangkat bahu nya ke udara tidak peduli.
"Mencoba membuat apa yang bisa makhluk hidup normal biasa telan, dan bisakah kau tidak muncul secara tiba tiba? Aku benar benar terkejut di buat nya." Naruto menghela nafas pelan menenangkan jantung nya.
"Aku tidak berniat melakukan itu sejak awal, aku bahkan sudah menghabiskan 2 gelas air tanpa kau menyadari nya, kau hanya terlalu fokus dengan dunia mu, itu saja." Pandangan Naruto jatuh ke gelas yang Grayfia gunakan, sepertinya wanita ini tidak berbohong. Memang jika ia sudah fokus dengan satu hal, Naruto akan terkesan mengabaikan sekitarnya.
Kepala Grayfia bergeser melihat apa yang Naruto kerjakan dari tadi, menemukan beberapa cup mie lezat yang telah di buka hingga Grayfia menyimpulkan jika sosok yang mirip mendiang anak nya itu tengah kesulitan, ia berusaha menahan tawa namun kikikan merdu lolos begitu saja.
"Kau kelaparan?"
"Tidak, ku rasa aku terlalu banyak makan tadi."
Naruto merotasi iris matanya. Sebuah pernyataan yang sudah jelas begitu ada nya tidak perlu di gambarkan lagi bukan? Basa basinya buruk, entah kenapa Naruto tidak pernah merasa sekesal ini bahkan di dunia nya dulu, aneh ia merasa sesuatu yang hilang hampir menunjukan lagi, tapi apa?
"Kalau kau punya nafsu makan banyak, tidak usah malu malu begitu dong, bukankah makanan sisa tadi malam masih ada di meja? Kau tak perlu memasak mie kurang bergizi ini apalagi dengan porsi untuk 3 orang, tidak baik Naruto-kun." Grayfia berkacak pinggang, seperti ibu menceramahi anak nya soal kebiasaan buruk yang perlu di ubah.
Ngomong ngomong, Grayfia juga sering melakukan ini dulu. Namun dengan intonasi nada naik dua oktaf, ia tidak pernah menceramahi Naruto Gremory soal berbahaya nya mengonsumsi mie instan dengan nada sebegini lembut nya. Setidaknya, Naruto Gremory harus terkurung dalam penjara es seharian.
"Aku tidak mau makan itu!"
"Kenapa bisa begitu?"
"Rasa nya seperti memakan kotoran keledai." Mengingatnya lagi, entah kenapa ada sesuatu yang mencoba keluar dari dalam organ pencernaan nya, "Makanan itu berdampak buruk pada kesahatanku"
"Ya ampun kau pernah makan pup nya keledai?"
"Tentu saja tidak, itu hanya perumpamaan!" Hampir saja Naruto keluar dari image nya yang tenang, ia hampir berteriak tadi. Kalau di pikir pikir, sejak Naruto menjabat sebagai Uzukage, dia hampir tidak pernah berinteraksi normal seperti ini, mengherankan.
"Tapi mengumpamakan makanan dengan pup keledai sangat tidak sopan, Naruto-kun."
"Karena hanya ada kau di sini, aku berani bilang jika makanan itu tidak normal bagi ku." Jeda sejenak, kemudian remaja itu kembali mengatakan apa yang ada di ujung lidah, "Aku memuntahkan nya, perbedaan selera kita berbeda, jelas begitu, maaf sudah tidak sopan."
Grayfia mengulum senyum simpul, di sisi lain ia juga merasa bersalah dengan remaja ini. Pantas saja wajah yang biasa tenang tanpa ekspresi menjadi sedikit pucat dan tak bertenaga, pasti banyak sekali cairan yang terbuang. Sekali lagi ia terkikik tak tertahan, ah sudah lama ia tidak merasakan ini, ekspresi di wajahnya seolah olah seperti manusia yang baru saja terlahir kembali.
Grayfia mengambil tempat sampah tidak terlalu jauh dari ia berdiri, dalam sekali sapuan seluruh bungkus cup ramen berakhir di tempat pembuangan sampah.
Naruto mengerjapkan matanya lucu, ia tidak bisa melawan saat wanita itu membuang harta karun nya paling berharga seperti membuang sesuatu yang sangat tidak pantas berada di Mansion ini kecuali tempat sampah, dan apa apaan ini? Kenapa ia tidak bisa bereaksi apapun seperti anak kecil yang hanya menurut pada ibunya?
"O-Oke, kurasa kudapan babi itu tak begitu buruk, terima kasih Grayfia, kau sangat baik."
Segera Grayfia menahan langkah kaki Naruto, ia jadi tidak tega. "Aku akan menggantinya, berikan aku 15 menit, bisa kan?" Ekspresi lesu Naruto dalam sekejap menjadi pandangan penuh keraguan dan Grayfia menyadari itu, wanita itu menyeringai tanpa di sadari oleh Sandaime.
"Memang kau bisa masak?" Dari pandangan Naruto, sosok seperti Grayfia ini type perempuan yang bahkan menyentuh dapur pun tidak pernah. Mungkin iya Grayfia terlihat seperti Maid bagaimana umum nya, dari yang Naruto amati, wanita itu sama sekali tidak pernah mengotori tangannya dengan pekerjaan rumah.
"Untuk apa aku menawarkanmu jika aku tidak bisa masak?"
"Kau benar, tapi aku kenal dengan seorang gadis di kampung halamanku dulu, dia mengaku profesional dalam urusan dapur meski faktanya tidak, meskipun dia sangat baik namun di saat bersamaan ada satu hal yang membuat ku memasang alarm anti dia." Grayfia mendengar cerita dengan seksama, tangannya mulai merapikan seluruh bahan bahan dan alat alat memasak.
"Lalu? Apa dia kekasih mu?" Grayfia melirik Naruto yang saat ini bersender di rak besar berisikan alat alat dapur dan lain sebagainya. Grayfia mulai tertarik, ia merasa Naruto mulai terbuka hanya pada dirinya saja, pikir Grayfia naif.
"Dia satu tim ku... " Karena tidak nyaman dengan posisi nya, pada akhirnya Naruto berjalan lalu duduk di meja makan kecil, jauh lebih kecil dari meja makan utama Gremory. "Di suatu keadaan di mana aku benar benar membutuhkan asupan makanan, dia datang ke tempat tinggal ku, membawa sebuah makanan yang ku pikir sangat lezat dari tampilan nya. Dengan bodoh nya aku tertipu oleh penampilan itu dan berakhir opname di rumah sakit selama 2 minggu!"
Hal ini lah kenapa Naruto hanya mau memakan masakan 'dia' yang saat ini satu satunya harapan Uzushiogakure. Naruto sama sekali tidak percaya dengan hasil tangan orang selain 'dia'. Dengan tatapan yang lebih meragukan, Naruto benar benar akan menolak segala hal yang rumah ini sediakan jika hal buruk itu menimpa dirinya lagi setelah ini.
"Jadi, Grayfia. Ini tidak bikin aku sakit perut kan?" Dengan tatapan sangat serius dan berharap secara berlebihan justru membuat nya terlihat menggemaskan dengan wajah sedatar itu di mata Grayfia. Kali ini Lucifugeus melepas topeng nya, ia tertawa terbahak bahak, kedua tanganya menekan perut nya yang kaku karena terlalu banyak tertawa.
"Hahaha jadi begitu, bukan selera makan mu yang salah dan juga bukan makanan rumah ini yang menyerupai pup keledai, tetapi kau yang mempersulit dirimu dengan mindset yang kau tanam bahwa semua makanan terlihat mencurigakan." Grayfia membersihkan sisa air mata di sudut mata nya, ia tidak menyangka ada hal yang benar benar di takut kan oleh orang yang sama sudah mengalahkan pangeran dari Phenex seperti seorang pecundang.
Naruto menelengkan kepalanya ke kiri, "ada hal yang seperti itu ya?"
"Tentu, di saat pikiranmu menolak makanan yang kau pikir mencurigakan, di saat bersamaan tubuh mu juga ikut menolak nya." Ia terkekeh geli. Senyum sejak setahun tak pernah menampakan dirinya dalam sekejap timbul, tanpa di sadari.
"Karena itu, mungkin dengan ini aku bisa menghilangkan trauma aneh mu."
Sebelah tangan Grayfia yang mengengam pisau koki melengkung ke atas, senyum percaya diri seolah olah meneriaki dirinya sebagai koki kelas atas. Naruto yang melihat itu sedikit memberikan penilaian singkat, wanita ini sangat berbeda dengan saat pertama kali ia bertemu, wanita itu sedikit lebih hidup.
"Percaya diri sekali." cibir Naruto pelan, "Mie tidak bisa matang sendiri bukan?" sindir Naruto yang masih melihat Grayfia tersenyum lebar ke arah nya namun tangan nya tidak bekerja sama sekali.
"Tunggu saja!"
Setelah menghubungkan kompor dengan stop kontak, api transparan biru menyala membuat Sandaime Uzukage itu heran. "Otak nya canggih, padahal aku sudah mencoba nya berulang kali." Naruto mengangguk mantap dengan jalan pikirnya.
"Itu karena kau payah, menyedihkan dalam urusan dapur— ada apa? Kenapa kau menatapku dengan pandangan tak terima itu hah?"
Kurama berteriak mengejek di dalam kepala nya. Hal yang hanya di ketahui oleh Kurama mengenai Naruto adalah, ekspresi. Dalam keadaan jengkel, marah, atau bahagia pun Naruto tidak memiliki perbedaan apapun ekspresi, pemuda ini seperti kebingungan harus menunjukannya seperti apa dan Kurama satu satunya yang mampu membedakan setiap raut wajah inangnya.
"Aku tidak meminta pendapatmu!"
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Kau kan tidak mau makan jika bukan dia yang masak, kekanak kanakan sekali."
Ujar Kurama terkekeh geli. Mungkin iya Naruto adalah Pillar manusia sebagai wadah Jinchuuriki Juubi sempurna, hal yang sangat di takuti oleh kelima negara besar, satu satunya alasan bagi semua desa untuk tidak menyentuh tangan mereka ke Uzushiogakure selama Naruto hidup dan Shinobi paling di hormati oleh penduduk nya sendiri. Namun bagi Kurama, Naruto tetap lah Naruto, seorang bocah labil yang secara kebetulan terpilih sebagai pillar manusia. Naruto kuat dalam fisik namun tidak dengan mentalnya yang masih cukup kekanak kanakan.
"Kenapa akhir akhir ini kau jadi banyak bicara? Tidak seperti biasa nya."
"Hanya perasaan mu."
"Benar, perasaanku bilang kau banyak bicara setelah kita tiba di dunia ini. Jujur itu bukan Kurama yang aku kenal, kau kan maniak bertarung." Tanpa ekspresi apapun, Naruto langsung mengeluarkan unek unek nya. Kurama ini cerewet ketika dalam pertarungan, lalu mengomentari hal hal yang tak ada hubungannya dengan yang Kurama suka seperti ini adalah hal yang sangat menarik membuat Naruto langsung mengambil kesimpulan.
"Mungkin karena pengaruh lingkungan." Hal itu membuat Naruto menyipitkan matanya, namun dengan sabar ia menunggu Kurama yang ingin menjelaskan lebih detail.
"Oh ayolah, apa kau tidak bisa menikmati keadaan sedamai ini? Kita bisa bersantai, hitung hitung libur dari pekerjaan mu. Kau juga butuh istirahat untuk mental mu bocah." Naruto tidak langsung menjawab nya, "Tak usah khawatirkan desa, apalagi 'dia' memiliki kemampuan yang sama dengan mu."
Kali ini, perkataan dari Kurama justru membuat Naruto heran sendiri. "Aku tidak mengerti apa maksud mu, dan tidak Kurama terima kasih, Uzushiogakure membutuhkan ku. Aku tidak peduli dengan hal hal yang menghalangi ku pulang, aku sudah berjanji dengan darah Uzumaki ku bahwa aku akan melindungi, menjaga Uzushiogakure di bawah sumpah Nidaima."
"Naruto, kita tidak sedang dalam masa perang, semua berjalan sesuai rencana mu, perdamaian bagaikan dunia fantasy bagi semua orang sudah ada di depan mata dan semua karena kerja keras mu. Kau MVP nya di sini dan kau berhak mendapatkan reward mu."
Mungkin semua masuk akal bagi Naruto, tapi begitu untuk pertama kalinya Kurama mengatakan sesuatu yang tak pernah ia pikirkan membuatnya spontan berpikir, tak ada yang salah dengan ucapan Kurama, hanya pendirian Naruto yang menolak semua itu. Wajah Naruto tanpa ekspresi terlihat terganggu dengan kata reward, baginya itu bukan hal yang perlu ia banggakan secara berlebihan, apalagi dengan 'jaminan' cukup besar dari yang ia dapatkan, dirinya tidak mengharapkan lebih dari itu.
Naruto memejamkan matanya. Loncat beberapa detik ke masa depan, iris secerah lautan terbuka secara berlahan. Tak ada ekspresi yang mampu Kurama baca, meskipun Naruto menatap rendah dirinya, sang rubah ekor sepuluh hanya menatapnya sabar.
Dalam sekali tarikan napas, akhirnya Naruto membuka mulut dan kata kata yang tak pernah Kurama sangka membuat sang rubah sedikit tersentak. "Kurama, aku mempercayaimu sama seperti halnya mempercayai diriku sendiri. Di saat seluruh dunia memusuhiku, kau justru sebaliknya. Kita melawan seluruh dunia bersama sama, menata dunia seperti yang seharusnya, tidak hanya aku, kau pun memiliki peran penting di dalam nya. Kurama, kau berada di pihak ku kan?"
Begitulah kata katanya, bahkan setelah berselang seperkian detik hanya suara air menetes menggema di ruangan. "Ga-hahaha tentu saja." Pada akhirnya kesalahpahaman yang tidak perlu berakhir. Semua dapat di lupakan hanya dalam satu momen, kepercayaan Naruto terhadap patner nya melebihi apapun dalam hati nya.
Di sisi Grayfia, tanpa menghentikan tangannya, sesekali wanita itu menjatuhkan pandangan melihat apa yang sekarang di lakukan pemuda mirip mendingan anak nya itu. Ia tersenyum teduh, hatinya yang tidak karuan menghangat melihat bagaimana dalam satu momen, Uzumaki Naruto bener bener seperti saudara kembar bagi anak nya walaupun tidak.
"Sangat mirip."
Meski telah satu tahun berlalu, Grayfia masih lah ibu nya. Ia mengenal secara total Naruto Gremory bahkan dari hal kecil sekalipun. Mengalihkan pandangan dan menyangga dagunya menjadi kebiasaan anak nya ketika menunggu sesuatu.
Rasa menyesal sering kali memperlakukan anak nya sedikit keras mulai menganggu Grayfia, namun ia sadar semua hal telah berlalu. Tak ada gunanya meratapi masa lalu yang mustahil untuk di ubah. Sepertinya keberadaan Uzumaki Naruto sedikit mempengaruhi sosok Grayfia, hanya sebentar rasa kehilangan yang begitu dalam sedikit terobati yang justru membuat Wanita itu bingung pada dirinya sendiri.
Grayfia tau dia naif, berfikir bahwa semua berjalan seperti keinginannya. Melupakan fakta bahwa sosok yang hadir mengejutkan itu adalah orang asing, tapi bagi Grayfia tidak ada yang salah, keinginan— tidak maksudku keegoisan dari seluruh dasar tindakannya memperlakukan Naruto istimewa secara tidak sadar mengekang dari satu sisi. Apapun itu, Grayfia hanya melakukan berdasarkan hatinya.
Grayfia, tidak di ragukan lagi berusaha melarikan diri dari perasaan rumit nya. Memang tidak ada yang salah dengan itu, dan Grayfia bebas melakukan apapun meski bagi sebagian orang mengartikan berbeda, begitupun Naruto dan sayang sekali Grayfia tidak memperhitungkan ini.
Beberapa menit berselang, tanpa ada suara, Grayfia tersenyum puas. Masakannya selesai, ia sangat percaya diri dengan hasil nya. Beberapa persiapan selesai dan ia menyajikan tanpa keraguan apapun.
"Jika kau lapar, kau bisa menyajikan nya di dua tempat berbeda, Grayfia-san." Naruto menatap aneh makanan di hadapannya. Meski ia tergoda untuk segera membereskan aksi demo cacing sialan di perut nya, ia tetap memaksakan mengutarakan isi kepalanya.
"Aku tidak mengerti."
"Sungguh, aku tidak makan sebanyak ini. Kau membuat mie dengan porsi untuk dua orang kau tau itu kan?" Begitulah keadaanya. Grayfia juga heran, bagaimana ia membuat keputusan bahwa kapasitas perut remaja ini sama dengan anak nya. Ini positif, Grayfia sama sekali tidak melupakan kegiatannya dulu.
"Begitu, tapi yang sudah biarlah berlalu, kau hanya perlu membuangnya jika perlu." Grayfia tak melupakan senyum kalem nya meski sadar apa yang dia lakukan berlebihan.
Naruto meringis dalam diam, 'Aku akan melupakan sarapan, aku yakin itu.' tanpa suara apapun lagi, pemuda itu memberikan ruang kosong di sisi nya. Grayfia yang melihat itu tentu saja paham atas tindakan Naruto, ia melepaskan segala perlengkapan masak dan mulai duduk tepat di samping Naruto tanpa perlu bertanya lagi.
Dalam diam, kuah kaldu yang sangat Naruto rindukan terkumpul penuh di sendok nya. Tanpa memikirkan apapun, satu suapan membasahi mulutnya. Hingga beberapa kali suapan di selingi mie lembut, ekspresi Naruto tak ada yang berubah. Mau bagaimanapun itu kepribadiannya yang pendiam meski dalam hatinya berpikir 'Aku akan di marahi jika dia melihat ini' dengan senyum getir imajiner.
Dulu, di Uzushiogakure ia memiliki seorang sangat ia percayai dalam urusan memasak. Dalam mengonsumsi makanan seperti ini, kesahatannya masih di pertanyaan, ada batas tersendiri bagi Naruto dan ia tidak membantah apapun. Mau bagaimanapun, perintah nyonya Uzukage mutlak.
Sungguh, belum sepekan ia meninggalkan desa, ia ingin cepat cepat mencari jalan pulang. Dia pasti sangat khawatir, Naruto meyakinkan dirinya.
Merasa di perhatikan, pandangan Naruto berakhir ke samping. Grayfia yang bahkan belum menyentuh mie nya meskipun si Lucifugeus telah mempersiapkan alat makan. Naruto berkedip heran, lalu menatap makananya, kemudian menatap wajah Grayfia lagi seperti menilai sesuatu. Hal itu di lakukan berulang ulang menimbulkan kesan lucu bagi Grayfia.
Menyerah akan penantian, akhirnya Grayfia memutuskan untuk membuka taruhan. "Bagaimana? Apa ini sesuai dengan lidahmu?" Biasanya tak ada yang tidak tergoda untuk mengatakan enak dengan ekspresi berlebihan, tapi Naruto, menurut Grayfia lain.
"Aku tidak terlalu pandai menilai sesuatu. Mungkin kau harus mencoba nya, dan melihat bagaimana pendapatmu, aku akan mengikutinya." Naruto mengangguk mantap, memberikan ruang untuk Grayfia. Alih alih menuangkan nilai, Naruto justru membiarkan Grayfia kesempatan, ia cukup yakin bahwa Grayfia benar dan apapun itu Naruto akan menyetujui nya.
Meski heran, tetapi Grayfia tetap melakukan keinginan remaja itu. Satu suapan, mengubah perspektif Grayfia.
"Ah rasanya lebih mengerikan dari yang aku bayangkan." Grayfia spontan mendepakan lidah nya, "Aku terlalu banyak melamun hingga tanpa sadar memasukan terlalu banyak garam." Ujar Grayfia tersenyum malu, bagaimana ia melakukan kesalahan seperti ini membuatnya jengkel pada dirinya sendiri.
"Hump itu benar, itu benar." Ada senyum jahil di bibir Naruto.
Wanita memiliki julukan Queen of Strongers itu bangkit, begitupun pandangan Naruto yang mengikuti wajah Grayfia. "Aku akan menggantinya, ini tak akan lama, sungguh." Dengan itu, secara tidak langsung Grayfia meminta maaf atas kesalahan nyeleneh itu.
Meskipun Naruto tidak berusaha menghentikan niat Grayfia, pemuda itu dengan tenang mulai memakannya lagi. "Ini tidak terlalu buruk, jauh lebih baik dari hidangan beberapa jam yang lalu."
"Apa itu tidak apa apa? Kau tak perlu memaksakan dirimu, kau tau."
"Selama masih bisa di konsumsi, ini aman sungguh." Jika di bandingkan dengan makanan yang ia makan dulu, ketika ia di tendang dari panti asuhan, ini puluh kali lebih baik. Jelas, keluhan itu Naruto simpan baik baik di pikirannya.
"Tetapi jika kau merasa tidak nyaman hanya karena masalah sepele seperti ini, kau hanya perlu bertanggung jawab, Grayfia-san." Tangan Naruto terulur ke atas, tentu Grayfia mengerti maksud Naruto. Wanita itu tak kuasa menahan senyum, ia meraih sumpit yang di ulurkan Naruto dan mulai duduk.
"Fufufu sepertinya kekhawatiranku sama sekali tidak mendasar, kau terlalu sederhana, Naruto-kun. Baiklah, permisi selamat makan."
Semangkuk ukuran besar untuk berdua. Meskipun sedikit tidak enak, Naruto tanpa peduli apapun, dengan semangat memasukan satu persatu helai mie tanpa merasa terusik oleh segala sesuatu di sekitarnya, total abaikan seseorang tengah memperhatikan-nya sejak lama, ia tak merasakan hawa permusuhan, biarkan saja.
Grayfia pun begitu, ia hanya memperhatikan Naruto, dari dekat dengan sesekali membantu Naruto memakan masakannya yang mengecawakan. Dan Grayfia sadar, ada sedikit perbedaan mencolok yang tidak ia sadari sejak awal, adalah warna bola mata.
Naruto Gremory, anak nya memiliki iris mata biru kehijauan sedangkan remaja ini cenderung biru lebih natural, hal yang membedakan lagi. Mendiang anaknya penuh akan kilauan kebahagiaan yang membuat siapapun menatapnya senang, namun Naruto berbeda, keindahan blue sapphire itu seakan tenggelam oleh berbagai hal menyakitkan yang tak bisa Grayfia pahami.
Bahkan lebih dari itu, Grayfia mulai bertanya tanya, hal menyakitkan apa yang telah di lalui pemuda ini? Seumur Grayfia hidup, ia tak pernah sekalipun melihat seseorang dengan tatapan seperti itu. Kilauan yang membuat siapapun berpikir, orang ini telah mengalami penderitaan melebihi orang orang pada umumnya dan entah kenapa, Grayfia tidak senang dengan bagaimana cara Naruto memperoleh tatapan itu.
Wanita itu menatap Naruto iba, merutuki segala ketidak tahuannya, meskipun ia tahu, dirinya tidak memiliki hak apapun untuk ikut campur, tapi keinginan untuk terlibat dengan Naruto tak bisa membohongi nya, ia ingin memiliki hak untuk itu.
Namun pertanyaan selanjutnya muncul, apa keinginan Grayfia di atas hanya karena Naruto mirip mendiang anaknya? Sebuah alasan klise namun bisa di terima oleh semua orang, Grayfia akan merasa sangat jahat jika ia berpikir seperti itu. Ini sama saja Grayfia tidak peduli dengan perasaan yang bersangkutan, Naruto sendiri.
Terlalu banyak melamun, tanpa sadar beberapa menit telah berlalu. Mie dengan rasa tidak begitu enak kenyataan nya telah tuntas tanpa sisa, Naruto benar benar lapar mengalahkan rasa letihnya dari garam. Tidak begitu buruk ia rasa.
Dan kini, Naruto menatap Grayfia heran.
"Grayfia-san, kau melamun lagi?" Pertanyaan polos dari Naruto menyadarkan Grayfia begitu saja, "Ah aku hanya teringat masa lalu, itu saja."
"Aku baru tahu, kau memiliki hobi melamun, ah maafkan aku. Karena aku mengira kau tidak terlalu menyukai mie, aku sama sekali tidak berpikir untuk menyisakan sedikit untuk mu."
"Fufufu~ kau tak perlu meminta maaf atas hal sepele, bodoh. Tak sedikitpun terpikirkan oleh ku atas niatmu itu, bahkan aku tak menyangka kau bisa menghabiskan dengan rasa hampir bisa ku katakan hancur itu." Grayfia meringis dalam hati, 'Ini sama saja menghina masakan ku sendiri.'
"Bahkan setelah aku sudah meminta maaf, kau masih mengatiku bodoh, itu kejam sekali Grayfia-san." Naruto tak tersinggung, ia hanya bermain bodoh untuk menyesuaikan gelombang pembicaraan.
"Sungguh hati yang jujur." Dengan berkata seperti itu, rasa geli nya tidak bisa di tahan. Ekspresi dan setiap kata kata Naruto sama sekali tidak sinkron, menurut Grayfia itu kepribadian yang unik.
"Meski kau memujiku, aku sama sekali tidak senang."
"Nfufu meskipun kau mengira itu pujian, kenyataan tidak. Ini hanya ungkapan jujur dari ku. Naruto-kun, kau orang yang menarik." Mungkin jika penampilan Naruto seperti orang lain, Grayfia akan tetap mengatakan itu. Lagipula ia sudah cukup lama tidak berbicara santai seperti ini, itu membawa banyak gelombang nostalgia pada dirinya.
"Begitukah?" Ungkap Naruto sedikit terkejut di wajahnya yang datar, "Aku sama sekali tidak berpikir aku orang yang seperti itu."
"Mau bagaimanapun kau menyangkalnya, penilaian orang lain terhadap dirimu tak terbantahkan. Aku penasaran tentang pandanganmu mengenai dirimu sendiri?" Grayfia menatap lekat pemuda itu. Pada titik fokus pandangannya, Naruto seolah olah tidak peduli dengan penilaian orang lain, bahkan pandangannya sendiri.
"Nilai diriku di mata ku sangat relatif. Nilaiku cukup subjektif, aku hanya menduga duga di dukung berdasarkan selera orang dan fakta. Apapun pendapat orang terhadap ku, itulah aku. Tetapi pendapat ku mengenai mu, Grayfia-san. Kau lebih berwarna dari yang ku duga sejak awal, sangat menyenangkan bisa berbagi kata dengan mu." Dengan sedikit lengkungan tipis di sudut bibir nya.
Dengan kata lain, Naruto type orang yang menilai sesuatu dari tampilan dan data informasi yang ia ketahui tanpa memperdulikan backstory, sama ketika ia mengira Grayfia type orang yang suram padahal kepribadian Grayfia yang seperti itu ada sebab nya.
Setelah mengerti situasinya, yang Grayfia lakukan hanya tertawa geli. Itu normal, dan tak perlu di permasalahkan. "Memang normal berpikir seperti itu, lagipula setengahnya nilai benar. Aku akan mengatakan jujur pada mu, Naruto-kun. Kau membawa sedikit perubahan pada diriku, bahkan sesekali aku berpikir, akan sangat menyenangkan jika kau memang anak ku."
"Aku sangat menghargai itu, sungguh. Bisa di hitung dengan satu tangan orang yang mau memperlakukan ku seperti ini dan kau sebagai salah satu nya. Di waktu yang sesingkat tadi, aku tak menyangkal apapun kita seperti sudah kenal sangat lama." Ucapnya, tanpa menyinggung harapan Grayfia sedikitpun.
Keduanya dengan jujur mengungkapkan momen yang tak lama ini. Naruto tak berbohong, begitupun Grayfia. Bisa berbicara santai seperti ini, di mana kepribadian keduanya tak ada bedanya dengan batu hanya dalam satu momen, sangat langka terjadi.
"Sungguh? Sangat sulit di percaya orang seperti dirimu hanya sedikit orang yang menganggapmu normal." Normal di sini dalam arti akrab. Naruto pada dasarnya memang pendiam, tapi menurut Grayfia, cukup asik bertukar kata dengan nya. Satu hal yang bisa mempengaruhi perspektif buruk orang lain, orang pendiam akan banyak bicara dengan orang yang membuat nya nyaman. Itu hal yang pasti.
"Aku lebih senang jika orang lain menganggapku aneh. Tapi meski begitu, aku menghargai pendapat orang."
"Mengapa?"
"Karena itu lah yang biasa nya terjadi. Akan sangat aneh jika ada perubahan nilai di mata meraka terhadapku secara khusus. Aku lebih menyukai mereka yang apa adanya." Sederhana itu. 99% persen orang memandang seorang Jinchuuriki buruk, seperti hama, tanpa ada nya hukum sebab untuk memberi alasan mereka mengubah pandangan itu tak lebih dari mimpi indah seorang Jinchuuriki.
"Naruto-kun. Aku tidak tau apa yang kau lalui di masa lalu. Sebelumnya maaf jika aku sok seperti mengetahui segala nya, tapi pandangan orang lain yang seperti itu tak sehat untuk perasaanmu." Tanpa sekalipun Naruto memberi tahu hal hal pahit di masa lalu, secara spontan Grayfia seperti memahami dirinya. Itu aneh, tambah aneh sekarang ada setitik rasa senang di hati nya meskipun Naruto tak menyadari itu.
Pandangan Naruto tertuju pada langit langit rumah, mengabaikan tatapan lurus penuh kekhawatiran dari seorang yang notabene baru ia kenal. Ia mengingat masa lalu, dan lusinan momen yang ia lalui membentuk kata kata seperti ini.
"Dan tatapan seperti itu, yang Grayfia-san berikan padaku, aku senang menerima nya. Aku sadar diri siapa aku, meskipun aku menginginkan terus menerus di tatap seperti itu, ini tak lebih dari impian kosong orang tak mampu seperti ku." Berikutnya, Naruto membalas tatapan Grayfia.
Meskipun bisa, tak pernah sekalipun Naruto membagikan masa lalu yang tak perlu di ketahui pada orang lain, biarkan saja berlalu sebagai cerita buruk, ia memiliki prolog baru dan akan mendapatkan ending nya sendiri di masa depan. Tidak ada gunanya mengeluh apalagi membandingkan dengan kisah orang lain, kenyataan tak akan berubah, ini doktrin yang Naruto percayai.
"Bagaimana dengan teman teman mu? Orang tua mu? Setidaknya mereka ada di saat kau membutuhkannya bukan?" Begitu saja, Grayfia merasa apa yang ia katakan ada yang salah. Insting itu benar dan kekhawatiran atas kesalahan dalam berkata terbukti.
Masih belum mau berekspresi apapun, ketenangan Naruto untuk menjawab di luar batas normal emosi manusia. "Ikatan pertemanan ada hanya untuk di batas kewajaran, selebihnya akan terlalu naif jika aku mengharapkan lebih untuk ikatan teman." Pada dasarnya, Naruto tak pernah sekalipun menganggap ikatan pertemanan melebihi batas wajar. Bahkan untuk mantan satu tim nya dulu, tak lebih dari orang yang kebetulan setiap hari nya dekat dengan dirinya.
Ketika Grayfia ingin segera membuka mulut, ia merasa Naruto ingin menambahkan jadi ia memilih untuk membatalkan nya.
"Ingatan untuk pertama kalinya aku membuka mata, bukanlah sosok orang tua seperti yang kau tanyakan Grayfia-san. Sejak awal aku aku selalu melakukan apapun sendiri, jangan tanya orang tua ku di mana, aku rasa mereka berdua telah bahagia di tempat yang jauh dan mustahil ku jangkau." Cukup sampai di sini saja, ia tidak mungkin memberikan kisah yang menurut sebagai orang omong kosong yang di lebih lebihan.
Namun Grayfia mengerti, rasa bersalahnya terlalu besar untuk di ungkapkan oleh satu dua kata. "Maaf, sudah pasti pertanyaan ku sangat menyinggung perasaan mu."
"Grayfia-san, aku tidak mengerti kenapa kamu meminta maaf?"
"Eh?"
"Kau bahkan tidak tahu apapun. Lagipula mereka berdua tak lebih dari orang asing yang kebetulan sangat ku hormati. Aku tak mengenali mereka dan itu fakta." Meskipun mengatakan itu dengan acuh tak acuh, tapi Grayfia tak bisa membohongi dirinya jika ia melihat rasa hormat Naruto pada orang tua nya sangat lah tinggi di matanya. "Bahkan sejak awal untuk tau namanya saja, tidak. Kejam sekali bukan?"
"Tetapi meskipun begitu, aku benar benar sangat menyesal mengatakan itu, sungguh. Bahkan aku bersedia melakukan apapun jika kau tersinggung." Bagi Grayfia mengatakan sesuatu yang seperti itu sangatlah tabu, meskipun ia tidak tau kenapa spontan meminta maaf atas ketidaktahuan nya.
"Terkadang ketidaktahuan adalah berkah, aku memiliki pemahaman mendalam tentang itu. Namun, tidak mengetahui apapun sama hal nya dengan masalah." Ketika ia mengungkap itu, pesan nya tersampaikan kepada Grayfia.
"Maaf sudah meragukan mu. Kau itu, kuat ya."
"Senang jika Grayfia-san berasumsi seperti itu. Aku membiasakan hidup ku sejak awal, aku tidak pernah berpikir aku adalah orang paling menderita, di sisi lain kebahagiaan itu seperti tidak pernah akrab dengan ku, jadi aku menganggap hidupku biasa biasa saja. Konyol jika aku tersinggung hanya karena ketidaktahuan mu tentang hidup ku."
Masih tidak ada ekspresi apapun, namun Grayfia melihat senyum penuh syukur di mata nya. Itu membawa sedikit kebahagiaan bagi Grayfia, Naruto mensyukuri hidup berat nya karena suatu alasan, alasan itu lah kebahagian kecil Naruto yang tak pernah di tunjukan kepada dunia. Di balik penderitaan, ada kebahagiaan di dalam nya.
Kecepatan Grayfia untuk mengerti situasinya sangat membantu. Ini bukan waktunya untuk menawarkan hal hal yang tak perlu seperti, "Kalau begitu, aku akan memberikan hal hal yang kau inginkan di masa depan." Atau memberikan kata kata motivasi untuk jaminan masa depan Naruto. Yang perlu Grayfia lakukan adalah, mempercayai jalan yang Naruto lalui saat ini.
"Meskipun aku tahu kamu kuat, tolong jangan ragu ragu mengeluh apapun padaku. Aku akan ada, dan mendengar cerita mu. Aku tahu, aku tidak berhak untuk khawatir, tapi jika itu untuk kebaikan dirimu, kau tidak perlu merasa malu, Naruto-kun." Grayfia tidak perlu Naruto mengerti kekhawatiran nya, cukup dengan mengkhawatirkan kan dirinya sendiri dan mengadu kepada Grayfia, itu cukup baginya.
"Grayfia-san orang baik ya, kau lebih terlihat seperti orang tua ku meskipun nyata nya tidak." Entah sadar atau tidak Naruto mengutarakan itu, cukup membuat Grayfia tertegun. Ini bisa candaan atau mungkin firasat karena Naruto tidak pernah berpikir akan mengatakan itu, hanya ungkapan spontan.
Namun Naruto tidak tau, ucapannya itu bisa saja menjadi tanda, bahkan Kurama yang mulai tertidur di dalam Mindscape nya membuka satu mata dengan seringai mencurigakan, sayang nya Naruto tidak melihat itu.
Mengabaikan terdiamnya Grayfia, Naruto mulai berdiri berniat meninggalkan dapur. Tujuannya sudah tercapai dan ia ingin istirahat, ini bukan jam yang bagus untuk terjaga. Total, abaikan seseorang yang sejak awal mengintai dari balik pintu, meski Naruto merasakan kehadiran nya, ia tidak memperdulikan itu, dan kini sosok nya telah menghilang, keputusannya sangat tepat dengan mengabaikannya.
"Selamat malam Grayfia-san, terima kasih sudah menemaniku, aku akan mengganti makanan itu lain kali."
Tanpa menoleh kebelakang, Naruto melambaikan tangannya singkat. Grayfia tersenyum sebagai tanggapan, "Aku menantikannya, Naruto-kun."
Dialog singkat, namun membekas di hati Grayfia, selesai.
..
..
..
"Jadi Naruto-san seorang petualang? Itu keren, tidak heran kenapa kau begitu kuat." Interaksi pertama Naruto dan salah satukeluarga kebangsawanan Rias. Naruto menolak tawaran untuk sarapan, dengan apa yang di hidangkan di rumah ini, itu hanya mengulangi kesengsaraan baginya.
"Menjadi kuat adalah hal pasti sebagai seorang petualang. Tidak selamanya situasi baik memihak kita." Saat ini Naruto dan Issei hanya bersantai di ruang tamu. Issei secara kebetulan bertemu Naruto dan berakhir dengan obrolan ringan.
"Itu membuatku iri, aku yang mempunyai senjata hebat, justru menjadi sangat tidak berguna."
"Itu kata kata yang sama bagi semua orang pemula. Aku rasa wajar jika kau mengeluh seperti itu."
"Benar, tapi aku hanya heran. Kenapa senjata hebat seperti ini ada di dalam diri orang payah seperti ku? Jika senjata ini di pegang olah orang yang tepat, seharusnya tidak menjadi kesia siaan."
"Aku tidak mengerti apa yang Issei-san katakan. Senjata itu akan berkembang mengikuti masternya, yang perlu kau lakukan hanya menjadi kuat, mengeluh tidak akan membawa perubahan apapun." Naruto tahu jika Iblis di depannya ini miliki senjata yang di katakan sebagai senjata pembunuh dewa, jangan tau dari siapa, Issei yang berbicara blakblakan tadi.
"Ku rasa benar. Aku telah berjanji pada Buchou untuk melindunginya lain kali, aku akan berusaha menjadi yang terbaik dan membuat Boosted Gear bangga menjadi senjataku." Mata Issei berkilauan penuh tekad.
Naruto mengabaikan antusias Issei. Berbincang seperti ini hanya mengulur waktu, Rias dan yang lainnya sedang berbicara di dalam, entah apa topiknya, Naruto tidak peduli. Tapi sepertinya pembicaraan mengenai tugas kelompok Gremory mengawasi dirinya.
"Itu awal yang bagus, Issei-san. Namun jika kau tidak keberatan mendengar satu saran dariku, mungkin bisa mengubah metode yang membuat mu menjadi lebih kuat."
"Benarkah benarkah? Apa kah ini metode latihan super instan yang membuat mu kuat? Aku tidak sabar mendengar nya." Naruto mendengkus pelan, tidak ada metode yang membuat mu kuat dengan mudah, itu yang Naruto ucapkan secara internal di benaknya.
Issei mau bagaimana seorang nol pengalaman. Jika ia tidak berpikir bagus, seluruh metode yang orang lain katakan, tidak peduli itu benar atau tidak akan di serap semuanya. Alhasil perkembangan menguasi kekuatannya terhambat oleh ulahnya sendiri.
Pilihan labil untuk menggunakan metode yang mana tidak baik untuk perkembangan Issei, Naruto ingin sedikit membantu dan hasilnya, tergantung bagaimana Issei merespon, Naruto tidak akan bersikeras dengan apapun. Semua keputusan ada di Issei.
"Jika kau berpikir melatih menggunakan Booster Gear sudah tepat, sebaiknya segera lupakan pemikiran itu. Kau tau, senjata apapun menjadi sangat berbahaya jika kau bisa menggunakannya. Jika aku jadi kau, aku akan meningkatkan keterampilan bertarung ku dari pada melatih kekuatan sebesar itu, semakin kau kuat, mengendalikan senjata akan jauh lebih mudah."
Sederhananya, Naruto tidak pernah sekalipun berlatih menggunakan kekuatan Kurama di masa lalu. Ia mengembangkan keterampilannya sendiri, karena Naruto tahu kekuatan sebesar milik Kurama tidak akan berguna jika keterampilan mu minus.
Dia meningkatkan vitalitas pribadinya, kekuatan murni dan meningkatkan semua yang ia miliki dan untuk sekejap, ia menembus batas dalam dirinya. Keterampilan Naruto, di perkuat berkali kali lipat dengan adanya sosok Kurama, tanpa melatih kekuatan eksternal itu, Naruto bisa langsung menggunakan hanya berbekal ilmu yang ia pelajari selama meningkatkan keterampilan. Itu point nya.
Berdasarkan dari apa yang Issei ceritakan. Boosted Gear hampir tidak ada bedanya dengan ia dan Kurama. Naruto tahu Issei hanya berpikir bagaimana caranya mengendalikan Boosted Gear, dalam waktu panjang perkembangan nya lambat.
Issei saat ini lemah, tapi jika Naruto turun tangan langsung. Dalam waktu sebentar saja, kekuatan Issei mampu melampaui batas nya. Naruto menyamakan dirinya dengan Issei, sama sama memiliki sesuatu yang di namakan, Potensi tak terbatas. Naruto mempercayai instingya.
Jadi yang Issei butuh saat ini hanya panutan yang membuatnya berkembang. Untuk itu Naruto serahkan sisanya pada Issei.
Ketika Issei dengan rasa kagum nya meledak dan ingin mengucapkan kata kata balasan, suara lain mendahuluinya. "Ara ara, kalian terlihat akrab. Sepertinya sangat menyenangkan mengikuti gelombang pembicaraan, tapi maaf ini bukan waktu nya untuk itu."
Seorang perempuan datang dari arah lain. Bagi Issei ia akrab dengan perawakan Yamato Nadeshiko itu. Tetapi Naruto tidak, meski pernah sekali bertemu ia masih merasa asing.
"Akeno-senpai."
"Buchou sudah menyelesaikan pembicaraan nya. Kita akan pulang ke dunia atas sekarang untuk beberapa ketentuan." Tatapan Akeno jatuh pada Naruto, "Naruto-san akan ikut dengan kita, jadi persiapkan dirimu ya."
Akhirnya, ini yang ia tunggu. Tanpa persiapan apapun, Naruto hanya membawa baju yang ia kenakan saat ini, mereka mengikuti Akeno ke ruangan tempat Rias dan lainnya berkumpul. Kini ketiganya sudah bergabung dengan anggota kebangsawanan Rias, tidak lupa hadir Venelana, Zeoticus, Sirzechs bahkan Grayfia di sana.
"Rias, kau harus melapor dengan rutin, mengerti? Aku serahkan sisanya untuk mu."
"Aku mengerti, Onii-sama. Kami berangkat, sampai jumpa."
Naruto menatap pamitan itu tanpa minat. Di detik berikutnya, marmer yang ia pijak bercahaya crimson, kemudian pola hexagram membuat sihir yang di namakan teleportasi antara dua dunia terpisahkan oleh Dimension Gap. Cahaya semakin terang, dan Naruto seperti di sedot oleh sesuatu, di akhir momen itu, tatapannya beralih kepada Grayfia. Yang ia dapati adalah, senyum tulus seolah seolah mengatakan, 'Selamat bersenang senang.'
Dan cahaya membungkus dirinya secara total, pandangannya terhalangi oleh cahaya crimson, di hatinya ia berkata, 'Apa yang pertama kali aku lakukan di sana ya?' lalu lenyap meninggalkan Dunia bawah.
..
..
..
Bersambung...
Balasan Review :
Likiya Jin : Mengenai Naruto menjadi budak sepertinya udh terjawab di chapter ini, Senpai. Dan soal Gabriel, emang benar. Gabriel meskipun Issei memanggilnya "Onee-san" (Volume 13, Life 5 bagian 2 atau 3 aku lupa) bukan berarti tubuh nya bener bener dewasa, tapi ga ada bedanya sama Serafall, berdasarkan Ilustrasi. Aku udh baca LN nya kok, jadi kemungkinan keselirunya penampilan Karakter lebih kecil.
Alix Nostrand : Meski identik dengan Harem, ga semua punya harem kok, aku pribadi ga begitu suka sama harem tapi bukan berarti benci. Pairing Naruto berkembang seiring dengan alur, aku ga akan kasih pairing yang asal 'jebret' kelar wkwk
Wkwkwk (Guest) : Karakter kuat bukan berati bisa segala-galanya, aku tau karakter kuat di salah satu LN yang ku baca. Karakter cukup kuat buat jungkir balikan bumi semau dia, tapi nyatanya malah dia di kendalikan. Tapi jika menurutmu di sini Naruto akan jadi budak, terserah juga sih. Aku memberikan kebebasan untuk pembaca ku mengambil kesimpulan, aku seneng jika hasil tulisanku bisa di terka terka
Bertanya (Guest) : FCI kepanjangan FanficComunityIndonesia.
Nasgor : Ya aku buat Riser begini karena pelampiasan aja sih wkwk. Aku bener bener kesel sama Riser di LN, udh punya gelar bangsawan tapi tetep aja mau di tipu. Aku mengubah jalan berpikir Riser tapi ga mengubah karakter aslinya.
Shirou von Einzbern : Untuk itu ada jawabannya nanti. Aku bener bener akan membuat peran penting buat Grayfia untuk masa depan Naruto.
RushifaID : Maaf kalo boring, senpai. Dari awal memang itu tujuanku, aku membuat prolog cukup panjang untuk membentuk plot di masa depan.
Queen 00001 : kalo udh ngomongin Reinkarnasi sih pembahasan udh lain wkwk, tapi ada kok nanti penjelasannya.
KangNyasar : Malfungsi Jutsu, masih mainstream seperti biasa sih wkwk
Guest : Wkwk aku rasa gitu, emang kurang greget. Mungkin bisa jadi pertimbangan buat lawan lebih kuat nanti, lagipula tujuan Naruto lawan Riser bukan untuk bersenang senang.
FCI. Master Harem : Yeah soal Justru/Skill, memang aslinya aku buat gini. Aku rasa lebih estetik dengan pembawaan seperti ini. Di situ, boro boro mau ngucapin skill, udh di hajar sama si Naruto duluan wkwk.
Kuro no Ecchi : Apa Naruto bisa balik ke Elemental Nation? Waduh berat kalo aku jawab, spoiler keras ini mah hahaha
Aulshi : Permintaanmu sesuai dengan alur yang aku pikirkan lama wkwk. Meski aku ga tau momen itu pas atau malah ancur
Dan untuk review lain, ini udh lanjut, senpai. Terima kasih untuk penantiannya, meski lumayan lama tapi aku ga akan buat alasan apa apa lagi. Aku yakin kalian ga peduli dengan alasanku wkwk
9000 kata, ini jauh lebih banyak dari yang aku duga. Padahal udh ku potong satu scane, tapi seakan ga ada pengaruhnya. Terlalu banyak word, aku merasa ini akan membosankan. Semoga enggak sih.
Oh ya, jika teliti. Aku memberikan satu spoiler ending, jika kalian paham. Akan mudah banget buat nebak alur nya. Ini serius, karena aku akan membuat salah satu karakter DxD punya peran super penting di masa depan.
Prolog sampai chapter 4 seperti yang aku katakan di chapter 3, lumayan panjang sih. Sangat menguras pikiran membuat Naruto dan Grayfia terhubung. Tapi okelah, aku cukup puas dengan hasilnya, tapi selera ku dengan kalian pasti beda, aku menantikan pendapat kalian, senpai.
Aku Newbie, ya mungkin udh ga bisa di bilang gitu juga sih wkwk, penulisanku masih payah, jika kalian memiliki sesuatu yang perlu di share, aku akan sangat senang menerima nya. Aku membuka kebebasan siapapun untuk kritikan, karna sebagian inspirasi fanfic ini berasa dari sana. Aku pamit, sampai jumpa di next chapter.
Prolog end, Chapter 5 : Naruto Gremory
