Disclaimer : Masashi Kishimoto & Ichie Ishibumi

"Talking"

'Thinking'

"Monster Talking"

'Monster Thinking'

"Technique"


Tangisan bayi terdengar bertanda munculnya kehidupan baru, harapan baru, dan kebahagiaan tidak bisa di gambarkan oleh imajinasi manapun. Sirzechs tersenyum lembut dari balik setiap luka yang Grayfia berikan, ia menitikan air mata bahagia, kekhawatiran wajar seorang suami mendengar sang istri yang terkenal ketabahannya menjerit tidak tertahan demi calon buah hati mereka, kebahagian kecil yang Sirzechs impikan.

Bahkan Sirzechs merasa Tuhan pun mendengar tangisan itu.

Ini adalah momen terindah bagi Sirzechs Lucifer, meskipun jantung kecilnya beberapa kali hampir offside dari tempat, tapi itu sebanding dengan apa yang ia rasakan. Ia menjadi seorang ayah, Grayfia istrinya melahirkan seorang anak laki laki lucu tepat 5 bulan setelah Rias di lahirkan ke dunia. Ia sangat bahagia meskipun Grayfia selalu menarik rambut merah nya itu dan meremas tangan nya hingga ia pikir ada keretakan di sana.

Sirzechs tidak kuasa menahan senyum lebar. Putranya memiliki ciri khas penuh terhadap dirinya, ia memiliki kebanggan untuk itu. Ada sedikit rambut berwarna merah di kepalanya yang kecil hampir di kategorikan botak. Matanya terpejam, saat ini ia tengah tertidur nyenyak di pelukan hangat ibunya.

Meskipun sangat melelahkan, Grayfia memaksa dirinya untuk tersenyum cantik ke arah suaminya. Yang sangat Grayfia harapkan hanyalah dia tidak akan menjadi seorang idiot, kekanak kanakan yang terlihat sangat memalukan ketika dia tumbuh besar seperti Sirzechs.

"Naruto, pusaran kecil ku." bisik Grayfia. Ia semakin mendekatkan putra kecil itu ke dalam pelukannya.

Untuk pertama kali Sirzechs tersadar, ia mengerjapkan matanya berkali kali bingung. Naruto? Nama putra mereka? Bukankah sebelumnya mereka sepakat untuk memberikan nama Milicias? Tapi itu tidak penting karena apapun nama yang di berikan seorang ibu pasti yang terbaik. Lagipula Grayfia memiliki hak atas itu, dia ibunya.

Sirzechs memegang dagunya, "Aku pikir di banding pusaran, nama Naruto memiliki arti perkedel ikan?"

Si Lucifugeus terdiam beberapa saat, sebelum melemparkan bola es ke wajah suaminya. Jangan meremehkan Queen the Destroyer! Ia masih bisa menghajar High Class Devil di kondisi sekarang.

"Aku rasa anda pantas mendapatkannya."

Pray for you, Sirzechs...

..

..

..

Naruto 6 tahun.

"N-Naruto, bagaimana ini?"

"Meski kau tanya bagaimana, aku sama sekali tidak tau jawabannya."

" Okaa-sama akan sangat murka mengetahui ini, aku akan di marahi."

"Apa tidak sebaliknya kita memberitahu saja? Aku yakin Obaa-sama akan mengerti."

"Lelucon apa yang kamu bicarakan itu? Okaa-sama tidak akan senang vas favorite nya hancur, dan aku yakin, koleksi anime ku sebagai gantinya." Rias, gadis kecil dengan warna rambut merah mencolok nampak frustasi dan panik. Sebenarnya bukan hanya Rias yang merasakan itu. Anak kecil lainya, Naruto Gremory justru merasakan hal lebih, meski sudah berusaha menenangkan bibinya yang ingin menangis itu.

Dalam hati Naruto, ia berpikir, 'ibu akan membunuhku, ibu akan membunuhku.' batin nya berulang kali tak kenal lelah. Naruto tau seperti apa ibunya, dan jika ia tahu masalah ini, itu tidak lebih dari akhir seorang Naruto Gremory. Pikirnya murung.

Benar, itu masalah. Di Mansion Gremory, ada aturan bagi siapapun untuk tidak berlarian di lorong, namun kedua anak kecil aktif ini mengabaikan itu dan berakhir kecelakaan kecil. Dalam kejar kejaran itu, Rias tanpa sengaja menghancurkan vas favorit ibunya, dan sudah pasti Naruto akan terseret.

Naruto memasang wajah ngeri, Grayfia Lucifuge adalah wanita yang menakutkan, bahkan ayah nya tidak berkutik ketika melakukan kesalahan.

Belum sempat Naruto menjawab protes Rias, suara langkah kaki datang, seperti dua orang berjalan menghampiri mereka. "Apa yang terjadi di sini, anak anak?" itu suara Venelana Gremory.

Kedua anak bermasalah itu berbalik, menghadapi dua wanita yang menakutkan, insting Naruto dan Rias mengatakan untuk segera berlari, tapi aura Venelana dan Grayfia seakan membekukan tubuh mereka. Keduanya menelan ludah kasar.

Rias yang menjadi tersangka utama tentu tidak bisa mengelak lagi, otaknya bekerja maksimal mencari alasan supaya ia tidak di hukum. Ketika Rias ingin menjelaskan, suara lain mendahului.

"Aku memecahkan vas ini, aku mengejar bibi Rias namun karena keteledoran ku, bencana ini tidak bisa di hindari." Naruto cepat memotong dengan kepala menunduk, abaikan tatapan tidak percaya Rias.

"Apakah benar begitu ada nya?"

"Tidak ada kebohongan, aku menyesal telah nakal seperti itu, aku siap menerima hukuman apapun, Obaa-sama." Meskipun menunduk, Naruto masih merasakan tatapan ibunya, sungguh demi apapun ibunya sangat mengerikan.

"Naruto-kun, ayo pergi ke kamar mu dan setelah ini tidak ada pelayan untukmu." Selesai sudah, saat Grayfia mengatakan itu tak ada yang bisa di bantah lagi. Naruto mengangguk lesu, ia berjalan meninggalkan tempat kejadian bersama ibunya.

Meskipun begitu, ia senang Rias tidak di hukum, ia terkekeh pelan. Rias itu cerewet, Naruto tidak yakin bisa terhindar dari omelan bibi nya itu setelah ini. Ketika ia asik memikirkan berbagai kemungkinan, belaian lembut ibunya menarik Naruto kedunia nyata, ia sudah berjalan cukup jauh, Rias dan Venelana sudah tak terlihat lagi.

"Memikirkan nasib orang lain memang baik, tapi jika itu membuatmu mengalami hal buruk, ibu tidak akan pernah mengizinkan mu." Grayfia berjongkok, menyamakan tinggi dengan putera nya.

"Ibu melihat itu?" tanggap Naruto, terkejut.

"Semuanya," Naruto hanya bisa tersenyum gugup mengetahui ini. Mau siapapun yang mengaku bersalah, tidak akan mengubah situasi saat ini. Sekalipun Rias mengaku, Naruto akan tetap di hukum begitupun Rias.

Naruto menundukan kepalanya lebih dalam, "Maaf sudah membuat ibu marah."

"Ibu akan marah jika kau kenapa napa, sayang ku. Ibu akan lebih senang jika kau mementingkan dirimu sendiri di atas orang lain." Untuk sekarang, keberanian untuk menatap mata ibunya bangkit. Ia menikmati usapan lembut di kepala nya seperti anak kucing. Sangat nyaman, Naruto seperti melupakan kejadian barusan setelah melihat senyum lembut yang sangat Naruto sukai itu.

"Sekarang dengarkan ibu, Naruto-kun. Kamu laki laki bukan?" Kilatan tekad begitu saja mengambil alih mata bocah 6 tahun itu. Tanpa ragu dan berpikir, jawabannya sudah ada di kepalanya.

"Aku laki laki sejati tentu saja, ibu."

"Jawaban bagus, maka belajarlah bertanggung jawab atas semua hal yang kau perbuat, mengerti?" Naruto mendengarkan dengan baik, "tidak peduli apapun alasannya, kebohongan tetap kebohongan, itu tidak bisa di benarkan meskipun kamu berpikir itu hal baik. Mungkin kamu berpikir tidak ada yang di rugikan, tapi pemikiran seperti itu tidak baik untuk dirimu di masa depan."

Grayfia menanam mindset tentu saja untuk kebaikan anaknya. Kejadian tadi adalah pelajaran, Grayfia tidak mau anak nya di masa depan lebih mementingkan ego nya, dan berpikir "tolong menolong" selamanya tindakan bagus. Ada batas untuk berbuat baik tanpa merugikan apapun, seperti hal nya tadi. Kebohongan Naruto untuk melindungi Rias sekilas tidak berdampak apapun, namun Naruto tidak berpikir jika tindakannya justru membuat Rias tambah bersalah, itulah yang coba Grayfia perbaiki.

"Orang lain tidak membutuhkan alasan atas apa yang kamu perbuat, Naruto-kun. Mereka butuh bukti, kamu harus bertanggung jawab dan memperbaiki kesalahanmu, kau mengerti itu bukan? Ibu mengharapkan perkembangan itu di masa mendatang."

Di luar prediksi Naruto, ia tidak di marahi justru sebaliknya. Ibunya khawatir, saat itu juga sebuah janji mengikat hatinya, ia tidak ingin membuat ibunya khawatir lagi, dengan yang seperti itu, tidak ada jalan untuk ingkar.

Naruto memeluk ibunya, mengalungkan tangannya erat. "Aku sayang ibu."

"Ibu lebih dari itu, sayang." Grayfia membalas pelukan anaknya. Kenakalan anak seusia Naruto memang masih di batas kewajaran, Grayfia mengerti itu, ia tidak pernah menuntut Naruto untuk berperilaku baik namun penuh pengekangan. Ia memberikan kebebasan Naruto melakukan apapun, namun dengan catatan Naruto bisa berpikir apa tindakan yang menurutnya tepat dan bertanggung jawab atas kesalahanya.

Naruto terbebas dari tuntutan seperti kebanyakan anak anak bangsawan, pada dasarnya belajar untuk menjadi hairess Pillar selanjutnya tidak cukup efektif. Grayfia membuang pemikiran seperti para bangsawan dan membesarkan Naruto secara normal. Meski begitu, Grayfia tidak lupa memberikan Naruto pelajaran hidup dari setiap kesalahan Naruto.

Alhasil, Naruto tumbuh menjadi anak yang bebas. Hal yang tidak di miliki oleh anak anak bangsawan manapun.

"Nanti minta maaf ke Obaa-sama, mengerti? Meminta maaf juga bentuk dari pertanggung jawaban."

"Aku mengerti, Ibu."

"Anak pintar, sekarang masuk ke kamar mu, kamu ibu hukum." Begitu saja, tekanan batin Naruto terbebas. Walaupun ia di hukum, tidak ada kecemasan ataupun hal hal yang membuatnya tidak senang. Ia menerima hukuman itu setelah mengerti kesalahannya.

Sepeninggalnya Naruto, seseorang datang menghampiri Grayfia. Dia terlihat seperti versi dewasa Naruto, berperawakan tegas dengan balutan armor kebangsawanan. "Apa itu tidak terlalu berlebihan, Grayfia? Mau bagaimana pun Naruto-kun masih terlalu kecil untuk sekedar mengerti suatu lingkungan."

Sirzechs melihat kejadian itu secara lengkap, "Jadi anda menganggap saya keras dan pengab?" Di tanya seperti itu, apalagi nada nya yang tidak bersahabat membuat Sirzechs sedikit takut.

"Sumpah, ini bukan niat ku mengatakan itu. Grayfia."

"Itu saya lakukan karena tidak semua dari karakter anak kecil harus bersikap kekanak kanakan dan tidak bertanggung jawab seperti anda." Balas nya sarkastis, menohok hati Sirzechs.

"T-t-tunggu tunggu aku mengerti aku terlalu memanjakan Naruto-kun. Tapi kejadian ini aku tidak salah apa apa, Grayfia." Ucapnya takut takut, hei dia membolos pekerjaan nya karena dia tidak mau di cap sebagai ayah buruk yang hanya mementingkan pekerjaan.

"Anda membawa banyak dampak buruk pada Naruto-kun. Saya tidak bisa membiarkan nya terlalu banyak belajar dari anda, Sirzechs-sama. Anda harus bisa merubah kebiasaan buruk itu, anda juga harus bisa berpikir sebelum berbicara." Nada formal itu adalah ke profesional Grayfia sebagai kepala maid bukan istri Sirzechs Lucifer.

'Kenapa malah aku yang di marahi?' batin Sirzechs sedih, dan niatnya menggunakan jam istirahat untuk bermain, justru yang ia dapatkan pidato indah istrinya.

..

..

..

Naruto 10 tahun

"Kenapa aku harus berpenampilan serapi ini?" Kedutan kecil muncul di pelipis kanan Naruto, ia menatap cermin kesal. Tangan dan kakinya di ikat, sehingga mustahil bagi Naruto memberontak. Pelaku dari penyiksaan ini tidak lain dan tidak bukan, Ibunda tercinta Grayfia Lucifuge.

"Karena ini hari pertama mu sekolah, kau harus berpenampilan sebaik mungkin." komentar Grayfia, sembari merapikan pakaian dan rambut Naruto memastikan penampilan anak nya sempurna.

"Aku selalu berpenampilan terbaik ku, aku tampan, bahkan tanpa menggunakan pakaian aneh seperti ini pesonaku tidak terhindarkan." balas Naruto dengan ekspresi puas menganggumi fisiknya sendiri, agak sedikit ekspresi sombong di wajahnya.

Tidak lama, ekspresi itu di gantikan ekspresi horor melihat perubahan senyum ibunya, tatapan itu membuat nya diam tidak berkutik. Dari dulu, ia selalu merasa ngeri dengan kilatan berbahaya penuh ancaman dari ibunya.

"Setidaknya biarkan aku bebas."

"Itu tidak akan terjadi, Naruto-kun. Ibu tau akal bulus mu. Menyerah saja oke, biarkan pekerjaan ibu jadi lebih mudah."

"Naruto Gremory tidak kenal kata menyerah, ibu akan menyesal tidak mendengar kata kata ku." Naruto kecil mulai merengek lagi, mencoba sekuat tenaga meloloskan diri, dan hingga langkah terakhir selesai. Ikatan nya semakin kuat, dan Naruto tidak bisa mengelak untuk menggunakan pakaian yang bukan selera nya. Dari dulu ia selalu anti dengan pakaian formal.

"Yups selesai. Ini tidak terlalu buruk bukan? Kamu 200% lebih tampan. Sudah ibu duga pakaian itu cocok." Dengan anggukan, Grayfia tersenyum puas oleh karya nya. Abaikan wajah jijik Naruto menatap pantulan dirinya menggunakan pakaian formal para bangsawan.

"Apa aku harus menggunakan ini setiap hari?"

"Itu hal yang pasti tentunya."

"Yang benar saja, aku harus menahan malu selama masa sekolahku? Meskipun aku tahu ibu kejam, tapi aku ini anak mu kan bu?" Dengan derai air mata palsu.

"Itu tidak akan berhasil, sayang, sungguh. Coba lain kali oke." Dengan begitu, tidak ada ruang bagi Naruto untuk menolak.

..

..

..

Naruto, 12 Tahun.

Hari di mana Naruto merasa bebas telah di depan mata. Ia memperoleh status nya sebagai iblis kelas atas dan bebas menentukan jalan kebangsawanan nya. Bersama dengan itu, satu set Evil Pieces adalah hasil yang ia dapat setelah dua tahun menjalani study nya.

Sebuah perangkat bahkan sama sekali tidak membuat nya tertarik. Bagi Naruto, waktu luang sepanjang apa yang bisa ia lakukan adalah hadiah nya. Meskipun begitu, untuk terbebas dari jangkauan ibunda tercinta, menjadi pengawas Kuoh City ia rasa tidak begitu buruk. Ibunya yang sering mengeluh betapa malas nya Naruto tidak akan tahu segala aktifitas di dunia atas.

Naruto membayangkan betapa damai nya itu, namun kemudian, kata kata Grayfia datang. "Tentu saja, kau harus sekolah. Itu wajar untuk anak seumuran mu." Dengan senyum seolah olah kata kata itu sangat mutlak. Tidak terbantahkan oleh apapun.

"Oh tentu aku tidak mendengar ibu mengatakan aku harus sekolah LAGI. Ha ha ha Aku rasa telinga ku bermasalah." Tawa kering itu sama sekali tidak mempengaruhi tekad Grayfia.

"Dengar, anak nakal. Sekolah ini penting, kau harus membentuk karakter mu sendiri, lagipula kau butuh ijazah meskipun ibu rasa bagi kita tidak perlu. Kau perlu pendidikan untuk masa depan mu!" Grayfia mulai menekankan. Namun, keras kepala nya Naruto adalah warisan sifat Grayfia, Naruto tidak bisa di salahkan mengingat siapa ibunya.

"Aku bisa pintar dengan cara ku sendiri, ibu. Ijazah? Itu hanya sebuah kertas omong kosong yang hanya membuktikan bahwa kau pernah sekolah, lagipula ada banyak tempat untuk mencari ilmu, bukan?"

Merinding...

Sekejap saja rona wajah Naruto memucat. Bagaimana menyeramkannya tatapan Grayfia. Meski Naruto merasa argumen nya menang, ia masih tetap salah menentang kata kata ibu nya.

Tapi suara lain menyelamatkannya, itu adalah Sirzechs. Tanpa tau situasi, ia memasuki ranah yang tidak seharusnya ia masuki. "Naruto-kun. Ada yang ingin Ajuka berikan padamu, kau bisa menemui nya sekarang."

Itu penyelamat! Tentu saja untuk menghindari ibunya, ia sangat bersemangat untuk pergi. Setelah menghilangnya Naruto, bagian dari derita Sirzechs di mulai, kurikulum tambahan tentang sikap seharusnya seorang Raja Iblis menjadi hal mengerikan bagi Sirzechs. Selama beberapa jam, ia hanya duduk dan mendengarkan Grayfia-sensei mengajari nya.

..

..

..

Naruto menatap sebuah perangkat yang mengambil bentuk sebagai papan dalam permainan catur, tatapan itu tidak ada apa apa selain tanpa minat. Namun meski begitu, dia menerima apa yang telah di berikan Ajuka Beelzebub pada nya.

'Anak mu lebih merepotkan dari dugaan ku, Sirzechs.' Ajuka tersenyum seadanya.

Kedatangan Naruto atas permintaan Ajuka adalah untuk penyerahan Evil Pieces. Normal nya, upacara penerimaan hanya ada di saat upacara kelulusan, entah apapun alasan Ajuka memberikan suatu pilihan istimewa ini, masih belum terpikirkan oleh Naruto.

Naruto membungkuk setelah menegakan tubuh nya. "Terima kasih paman Ajuka. Meskipun aku tidak ingin, tapi aku rasa apa yang paman berikan adalah suatu keharusan. Jadi aku tidak memiliki alasan untuk menolak."

"Pada dasar nya tidak ada suatu keharusan untuk dirimu menggunakannya, Naruto-kun. Ini hak milik mu seutuhnya, namun harapan ku adalah yang terbaik untuk mu." Naruto tertawa lucu, merasa kata kata itu membawa banyak gelombang nostalgia. "Paman Ajuka seperti ayah ku. Aku senang paman memperlakukan ku sebagai anak baptis mu, tetapi jangan berharap banyak pada ku, karena aku bukan harapan itu sendiri."

Kata kata nya menunjukan perbedaan antara Naruto dan Iblis kelas tinggi pada umum nya. Naruto adalah suatu perbedaan, dari segala ambisi dan keinginan, Naruto menyukai sesuatu yang biasa di sebut sebagai kesederhanaan. Untuk mencapai hal itu, Naruto mengambil kepribadiannya dan memikirkan segala hal di luar lingkaran kebiasaan.

"Tidak apa, jawaban itu sangat memuaskan dan ada hal lain ingin aku berikan untuk mu Naruto, jadi tunggulah sebentar." Tatapan Naruto menunjukan kebingungan ketara, niat nya untuk pergi terpaksa tertunda demi memenuhi rasa penasarannya.

Kemudian cahaya hijau memudar setelah bersinar dalam beberapa detik, sesuatu hal asing keluar namun cukup familiar. "Tangkap!" Secepat kilat, benda itu telah beralih tangan. Ajuka menanggapi kebingungan Naruto hanya dengan senyuman. "Itu adalah Bidak raja."

"Sebuah keistimewaan?"

"Lebih dari itu. Bidak raja hanya ada satu di dunia, aku telah memikirkan banyak kemungkinan jika benda ini ada dalam kuantitas berlebihan. Dampak buruknya lebih dari manfaat itu sendiri." Ajuka menyesuaikan posisi nyaman di tempat duduk nya. Dia menatap Naruto masih dengan senyumannya. Penantian menunggu apa reaksi Naruto sama sekali tidak membuahkan hasil, Naruto seakan tidak peduli dengan apapun.

"Aku tidak tahu mengapa, tapi ku rasa memang merepotkan."

"Dalam sebuah video game, bidak raja memiliki peran sebagai cheat engine. Sebuah kegilaan di mana memungkinkan untuk seorang Iblis kelas tinggi tanpa berusaha apapun, sekejap saja berada di jajaran Satan kelas rendah. Meningkatkan 100 bahkan lebih dari semua aspek kekuatan, jadi meskipun aku tahu kau tidak akan tertarik, Sirzechs dan aku ingin kau menyimpannya. Kau akan membutuhkan suatu saat nanti."

Akhir dari penjelasan Ajuka membawa satu kesimpulan bagi Naruto. Bukan apa yang bisa di lakukan oleh Bidak raja, tetapi pada keinginan Ajuka. "Bagaimana dengan keamanannya?" Firasat Naruto semakin tidak enak, bagaimana senyum ramah Ajuka beralih menjadi misterius. "Ini tidak pernah teruji sebelum nya, jadi jawaban atas pertanyaan mu ada setelah kau mencobanya."

"T-Tunggu! Apa ini, Ayah menjadikan anak nya sebagai tikus uji coba? Sungguh lelucon ini buruk sekali. Bagaimana jika anak nya kenapa kenapa? Apakah otak kecil ayah sama sekali tidak memikirkan ini? Orang tua itu—" Naruto terus memprotes tidak mengenal lelah bagaimana mungkin seorang Ayah tega menjadikan anak nya eksperimen. Ayolah ini dunia di mana kehidupan segalanya berjalan realistis, bukan dunia hasil karya seorang seniman. Sifat kejam seperti itu, meskipun mereka Iblis terasa susah di terima oleh Naruto.

"Hahaha sungguh menarik. Di saat semua orang berlomba lomba menggali kekuatan dan potensi mereka, kau justru berpikir egois untuk dirimu sendiri. Ini tidak pernah di temukan dari belahan dunia manapun, Naruto-kun."

"Aku tidak peduli, aku akan membalas ini ribuan kali lipat." ujar Naruto cemberut. Ajuka sadar jika ia tidak bergerak cepat, keadaan akan berakhir di mana Naruto akan menolak apa yang ingin ia berikan. Mau bagaimanapun, ini untuk kebaikan Naruto.

"Ini aman. Bidak raja adalah salah satu karya terbaiku. Aku memerlukan hampir seluruh waktu hidup ku untuk meneliti nya dan untuk itulah, bayaran atas segala hal telah terjadi adalah ada pada dirimu, Naruto-kun." Naruto terdiam beberapa saat. Naruto bukan orang bodoh tidak mengerti maksud dari Ajuka, ia baru saja menerima suatu kepercayaan di mana ada kerja keras di dalam nya. Ajuka seolah olah mengatakan bahwa Naruto adah satu satu nya orang paling tepat atas kepemilikan Bidak raja.

Tidak ada pilihan untuk mundur, Naruto menganggukan kepalanya. "Aku akan menggunakan ini untuk melindungi apa yang berharga bagiku, paman Ajuka tidak perlu khawatir lagi sekarang karena Naruto Gremory tidak akan menodai kepercayaan ini." Ajuka tersenyum puas, ia sangat menyukai tekad Naruto. Anak dari sahabatnya itu memiliki sesuatu yang mengatakan 'tolong andalkan aku' hingga ia pikir, siapapun bisa bergantung pada nya. Bercermin dari sifat Naruto 180 derajat berbeda dari kharismanya.

Setelah kepergian Naruto. Kata kata Ajuka berikutnya adalah niat sesungguhnya Ajuka mempercayakan kekuatan itu. "Ayah mu memiliki banyak sekali musuh, terlepas dari kepribadian mu, ini adalah jalan paling aman untuk melindungi mu dari segala bahaya, Naruto-kun... "

..

..

..

Naruto 15 tahun.

Sona Sitri. Pada pandangan pertama, kau akan mengira ia hanya gadis polos biasa. Itu suatu kekeliruan dalam batas wajar. Tidak ada yang menyalahkan matamu, karena kau bukan satu satunya yang mengharapkan itu.

Ia bukan gadis biasa, di usianya yang ke 15 pertumbuhan pikiran Sona tidak normal, namun ini hal biasa bagi Pillar Sitri. Mereka jenius, usia bukan patokan untuk mengukur seberapa luas jalan berpikir seseorang. Sona pun tau point ini, tapi begitu Sona mendalami kepemahaman itu, Sona tumbuh menjadi gadis yang luar biasa, di mata beberapa orang tentu saja.

Namun di luar itu semua, Sona sama sekali tidak merasa ia sama dengan teman satu angkatan dengannya. Dalam permainan pikiran, Sona unggul di atas teman temannya, tanpa pengecualian apapun. Sona bagaikan karakter tanpa celah dalam suatu cerita, namun bagi Sona, ia memiliki satu kelemahan dalam hidupnya, ini hal paling di sesali oleh calon Hairess Sitri itu.

Tahun ini adalah tahun terakhir ia duduk di sekolah menengah pertama. Ia belajar giat, melupakan segala misi membersihkan hama di kota teritori nya. Lagipula ia memiliki rekan dan bawahan yang mampu mengambil alih tugas itu, ia tidak perlu khawatir dan memfokuskan segalanya pada kelulusannya.

Itulah apa yang Sona pikirkan. Ia terlalu naif jika berpikir seluruh rencananya akan berjalan seperti yang ia kira. Sona melupakan kelemahan nya, melupakan jika ada satu parasit yang selalu menyita waktu berharga nya.

Itu adalah keberadaan makhluk tidak tau diri, yang beberapa saat lalu hampir saja menghancurkan pintu apartemen nya. Kini makhluk itu seenak jidat duduk di sofa empuk nya. Pelipis Sona berkedut, namun tetap ia melayani sosok penggangu itu.

Kini Sona duduk berhadapan, dua cangkir coklat hangat menemani sesi obrolan tak ia inginkan ini. "Uwaaa coklat hangat, tidak perlu repot repot, Sona-chan, aku jadi enak hehe." Tanpa peduli reaksi dan balasan Sona, sosok itu mulai dengan tingkah laku tidak tau malu dan setengah isi cangkir tuntas.

"Baiklah kau ingin menyusahkanku kan? Lakukan dengan cepat lalu segera angkat kaki dari Apartemen ku." Sona berusaha memangkas momen. Bukan karena ia tidak menyukai sosok ini, tapi karena ia merasa apa yang terjadi kedepannya sangat konyol. Ia belajar banyak dari masa lalu dan memang, itu sifat alami sahabat nya.

"Sona, kau memang sangat mengerti aku."

"Itu bukan apa yang harus kau banggakan, Naruto. Kami semua mengerti itu." Naruto Gremory, ketika para angkatan seusianya mendengar itu, tidak ada yang lebih baik menjelaskan Naruto sebagai iblis tersantai dalam sejarah, reputasi itu satu tingkat di bawah kemalasan Maou Asmodeus. Point ini memang buruk, namun kepribadian lain menutupi itu semua.

"Baiklah, Sona-chan memang orang sibuk, aku mengerti jadi akan ku katakan sejelas jelas nya." Sona, sejenak ia berpikir. Sejak kapan kepekaan Naruto setajam itu? Ketika ia sibuk memikirkan banyak kemungkinan, Naruto mengeluarkan sebuah kertas dari balik kaos nya.

"Aku ingin meminta referensi dari mu, Sona-chan. Aku memiliki kandidat terkuat untuk menjadi anggota kebangsawanan ku." Kilatan antusias begitu saja mengambil alih daya tarik Sona.

"Baiklah, aku mengerti konteks nya. Apa yang ingin kau dengar dari ku?"

"Semuanya."

Jawaban Naruto cukup memuaskan hati Sona. Jika sejak awal Naruto mengatakan tujuannya, Sona tidak perlu mengalami penurunan mood seperti tadi. Perlu di ketahui, sejak awal Naruto sama sekali tidak memiliki ketertarikan apapun terhadap Evil Pieces, Sona tahu itu. Bahkan setelah beberapa tahun, Sona tidak pernah mendengar niat Naruto mencari bawahan.

Namun mengingat kepribadian Naruto, Sona hanya bisa memaklumi itu.

"Sebelum itu, mari kita lihat apa yang kau tulis disini." Tangan mungil Sona mengambil secarik kertas tersebut. Ia berekspetasi tinggi dengan selera Naruto memilih budak.

Naruto tersenyum percaya diri. Namun yang tidak ia sadari, Naruto baru saja menghancurkan hari hari seseorang yang tidak seharusnya ia usik. Kesadaran Naruto untuk mengerti hal hal sepele di lingkungan sedari dulu memang buruk. Seharusnya Sona mengerti itu, namun apa? Ia termakan oleh keinginan yang bukan Naruto sekali.

"Naruto... "

"Bagaimana, Sona-chan? Itu menarik bukan? Kau tahu kau tahu, aku butuh banyak waktu menulis ini. Aku bekerja sangat keras, itu yang harus kamu kagumi dariku." Senyum sumringah berbeda 180 derajat dari ekspresi penyesalan Sona.

"Kau tahu, daftar ini berisikan orang orang fiksi. Apa yang kau pikirkan hah, dengan otak minusmu itu?" Benar, ekspetasi besar Sona hancur lebur, mood nya bertambah buruk, dan rasa ingin menendang Naruto dari Apartemen nya makin besar.

"Apa yang salah? Mereka semua hidup, aku pikir akan sangat menyenangkan memiliki peerage dengan kekuatan maha dahsyat." Komentarnya tak terima. Meskipun ia menyadari yang ia lakukan konyol, tapi Naruto tidak mau jadi pihak yang di salahkan.

"Otakmu yang salah, bodoh. Aku sudah bilang sejak dulu jika kebiasaanmu menonton kartun berlebihan tidak baik. Itu yang terjadi padamu dan Rias." Sona hanya mampu menahan kekesalan nya. Ia memijit pangkal hidung nya, menanggapi komentar tak masuk akal sahabatnya.

"Ini bukan kartun, tapi Anime." Protes Naruto tambah tidak masuk akal.

"Yeah terserah apapun kau menyebutnya. Grayfia-sama akan sangat malu mengetahui anak nya tambah gila."

"Hei... "

Mengabaikan protes Naruto. Diam diam Sona merasa jika malam ini lebih baik dengan datang nya Naruto, meskipun bagi Sona itu tidak lebih dari kutukan. Naruto, meskipun tingkahnya begitu, tapi bagi Sona Naruto adalah warna bagi sahabat angkatan mereka. Naruto definisi sahabat sempurna bagi Sona, ketika teman temannya menganggap Sona sebagai orang terlalu serius, tapi Naruto tidak. Naruto justru memandang Sona sama, berbagi kata seakan Sona gadis normal pada umumnya.

Tidak ada perbedaaan Naruto berinteraksi dengan teman temannya. Entah itu Sona, Sairaorg, Rias, atau bahkan yang terburuk Diodora sekalipun. Itulah sejarah awal bagaimana mereka menganggap Naruto sebagai warna.

"Aku memiliki alasan untuk itu, Sona-chan. Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan."

"Tentu, itu hal yang pasti untuk seseorang berlabel normal seperti ku. Otakmu sudah koslet, sama seperti bibimu, Rias. Tolong menjauh dari ku, virus seperti itu tidak di ketahui seberbahaya apa efeknya." Bukan kesal yang Naruto alami, lengkungan tipis timbul di sudut bibir nya. Untuk beradu argumen dengan orang seperti Sona, pikiran liar Naruto tentu saja unggul.

"Hei apa kau tidak berpikir jika kita sebenarnya sebuah karakter dalam cerita, dan seorang pria menyedihkan di luar sana mengatur jalan cerita seperti ini?"

"Ini pernyataan terbodoh yang pernah aku dengar. Naruto, kau sudah gila. Pikiranmu terkontaminasi banyak hal fantasy Manusia, seperti badut yang lupa akan jati dirinya." Jari telunjuk Sona mengarah pada pelipis Naruto. Di sebut badut seperti itu, lagi lagi tidak ada alasan Naruto tersinggung. Sedari dulu ucapan Sona memang pedas, lagipula Naruto setuju.

"Benar, karakter fiksi yang aku nikmati juga merasa mereka hidup seperti kita. Mereka tidak menyadari jika mereka tidak lebih dari sebuah karya digital. Mereka menikmati hidup yang di berikan sang creator tanpa berpikir, 'apakah aku tokoh utama dalam cerita? Dan orang lain hanya NPC?'"

Argumen itu membuat Sona terdiam. Bukan karena tertegun, tapi ia merasa jika pembicaraan ini selesai. Jika ia terus meladeni tingkah bodoh Naruto, banyak waktu berharga yang bisa ia gunakan dengan produktif akan sia sia dan ia juga merasa ikut bodoh.

Ruangan itu spontan sunyi.

Untuk sekarang, secepat kilat Sona mengambil alih pembicaraan. Telinga nya tidak cukup kuat mendengar ocehan Naruto yang tak kenal lelah. Pertama tama, Sona menyesap coklat nya dan menatap Naruto. Tampak nya Naruto paham Sona ingin berbicara.

"Pembicaraan berakhir, pintu keluar ada di sebelah sana."

" ... "

Sona memejamkan matanya sembari menunjuk ke belakang. Merasa ucapannya tidak di tanggapi, Sona segera membuka mata. Perasaan nya mulai tidak enak, Sona mulai mempercayai firasatnya.

"Sementara aku berjalan tanpa tujuan tadi, aku tiba tiba memikirkan solusinya. Aku memiliki sahabat terbaiku, yaitu Sona-chan. Oke aku di usir bibi Rias, jadi aku akan menginap di sini ya." Berbeda dari ekspresi senang Naruto, Sona kembali menekuk wajahnya.

Sona mengerti. Omong kosong tadi tidak lebih dari pengalihan. Namun sekarang, Naruto mulai berbicara berlahan dan mulai menyerah dengan kepura-puraan nya. Sona agak bisa bernafas lega, Naruto tidak bodoh, tapi terlalu cerdik bisa menipu dirinya. Meskipun begitu, ini sama sekali tidak mengembalikan mood belajar Sona.

"Jadi, hal bodoh apa yang terjadi antara kau dan Rias?" Pertanyaan ini ada dasarnya. Sejak awal mereka bertiga menjaga Kuoh, banyak kejadian bodoh antara Naruto dan Rias. Sona seperti kakak perempuan bagi dua Gremory merepotkan itu.

"Aku memergoki bibi Rias menonton konten dewasa. Aku mengancamnya dengan mengadu ke Obaa-sama supaya bibi Rias menjadi alat ku. Itu sama sekali berbeda dengan Anime, bibi Rias sama sekali tidak menurut, dia justru mengusirku." Pada saat itu juga, Sona menarik pujian tentang ketidakbodohan Naruto.

"Itu sudah cukup. Aku menolak!"

"Eh—"

"Apa?"

Ruangan itu kembali sunyi.

Naruto jelas terkejut Sona menolaknya. Terlebih dengan alasan naif seperti itu, meskipun jauh di dalam diri Sona ia terkekeh lucu. Lagipula Sona sangat mengenal Naruto, nalurinya berkata jika ia menerima permintaan itu, ia hanya merawat bayi besar pemalas yang tak mau berkerja sama sekali.

"Tunggu sebentar, apa ini? Kau ingin membiarkan aku mati kelaparan di jalanan?" Raut wajahnya nampak shock, tapi itu tidak berhasil untuk Sona.

"Kau bisa bekerja. Ada banyak peluang bagus untuk pemalas sepertimu."

"Tolong jangan mempersulit, Sona-chan. Bergerak berlebihan itu merepotkan. Dunia ini terlalu indah untuk di abaikan." Benar benar definisi beban orang tua sesungguhnya. Sona langsung menjatuhkan pikirannya seperti itu.

"Itu mengesankan. Silahkan pergi setelah kau menghabiskan coklatmu. Selamat malam."

"T-t-tunggu Sona, Sonaaaaa—" Abaikan jeritan pilu sahabatnya. Sona menghilang dari balik pintu kamar, pundaknya bergetar dan suara tawa lepas terdengar. Suara tawa itu tidak sampai ke luar, salahkan desain kamar yang menyerap suara.

Sona mengusap setitik air mata di ujung mata. Ia menghela nafas lega setelah menahan tawa beberapa menit, ia menutupi itu semua dengan ekspresi pura pura kesal nya. Kini Sona merasa sangat puas, tidak akan ada momen seperti ini lagi. Sona puas bisa membalas dendam karena biasanya, Sona lah korban kejailan Naruto.

Mood belajar Sona hancur, ia terlalu banyak tertawa. Sekarang ia tidak tahu harus melakukan apa untuk menghabiskan sisa malam nya.

Beberapa menit berlalu, Sona sengaja mengintip dari balik pintu. Ekstensi Naruto tidak di temukan, yang artinya pemalas itu sudah pergi.

Tak perlu khawatir bagaimana kehidupan Naruto di jalan, ibunya teratur memastikan Naruto hidup nyaman di dunia atas. Bagi manusia, nominal itu cukup untuk membuatmu tidak bekerja selama masa hidupmu.

Sona meskipun orang nya begitu, ia masih gadis normal, syarat dan ketentuan berlaku. "Tadi... menyenangkan sekali."

Definisi karakter tsundere sesungguhnya. Itulah Sona Sitri.


Mendapatkan penolakan dari Sona. Yang perlu Naruto lakukan saat ini tidak lebih dari menunggu mood bibi nya baik dan ia bisa pulang. Atau mungkin tidak, Rias pasti sangat malu, seseorang mengetahui kebiasaan aneh nya sebagai seorang perempuan, Naruto mengambil kesimpulan ini tanpa berpikir lebih jauh.

Sembari menendang udara, tidak ada aktifitas umum di tengah kota Kuoh. Itu hal wajar, jam telah menunjukan pukul 23:00. Mulut nya masih sibuk mendumel berapa buruk nya Sona, dan juga kenapa Rias harus mengusirnya kan?

Kini langkah kaki membawa nya di sebuah minimarket. Aktifitas di sana menunjukan tanda jika toko hanya menunggu menit untuk tutup. Naruto mengambil apapun, asalkan bisa di makan dalam jumlah besar dan membayarnya. Dari dulu Naruto selalu suka makanan ringan, meski ibunya selalu mengomel sana sini tentang kesehatan.

Pintu minimarket terbuka, Naruto keluar dengan dua kantong standar berisikan berbagai makanan instan. Menit berselang, dan Naruto kini menghentikan langkah kakinya, tatapan remaja itu jatuh kepada orang tua berpakaian lusuh, duduk di depan teras toko, terlebih mata tajam Naruto menangkap hal menarik. Naruto tidak menyadari jika langkah kakinya membawa ke kawasan distrik pinggiran.

Naruto mendekat, ketika jarak antara kedua nya terpisah setengah meter, ia mulai membuka kata. "Paman, bermasalah kah jika aku bergabung denganmu?"

Merasa di panggil, orang tua itu memberikan pandangan menilai, tak lama anggukan Naruto terima. "Tidak masalah, jangan malu malu. Ini bukan toko ku."

"Toko ini terlalu bagus jika kau pemiliknya, paman. Tanpa kau bilang pun aku tahu."

"Sedangkan kau... penampilan mu sama sekali tidak memiliki kharisma sebagai gelandangan. Ah aku tidak keberatan untuk meminjamkan mu beberapa setel baju." Naruto menanggapinya dengan cengiran.

Setelah menjatuhkan pantat nya di lantai dingin dan kotor. Naruto mulai berbicara, "paman sudah makan?"

"Kau menanyakan itu tanpa kau menawarkan makanan? Etika mu tidak baik, apa anak muda jaman sekarang selalu seperti itu?" Orang tua, tak lebih dari 30 tahunan itu menggelengkan kepala nya heran.

Sedangkan Naruto, ia sama sekali tidak menanggapi sindiran itu. Dari dalam plastik, Naruto mengeluarkan beberapa roti dan biskuit tak lupa minuman ringan sebagai pelengkap. "Nih makan, paman menyebalkan dengan mulut kosong itu."

"Apa apaan itu? Kau sama sekali tidak rela? Lagipula aku sudah makan."

"Terus kenapa kau tidak bilang dari tadi?" Urat kekesalan Naruto mengambil alih. Ia menunjuk nunjuk orang tua tanpa tau kesopanan.

"Jika kau menawari ku makanan lebih baik, aku tak menolak?"

"Contoh nya?"

"Pizza, Burger, makanan barat berbintang lalu hmph... "

"Jangan banyak protes, nih telan." Merasa sebal dengan permintaan tidak tau malu itu, dengan acak Naruto merobek roti dan memasukan nya paksa. Sementara si korban dari ketidaksabaran Naruto, terpaksa menelan bulat bulat apa yang ada di mulut nya.

"Bocah sialan... " Hanya jari tengah yang Naruto berikan. Setelah satu minuman ringan selesai, orang tua tersebut memberikan death glare yang sama sekali tidak menakuti Naruto.

"Paman ini gelandang ya?"

" ... "

Tanpa mendengar jawaban, ekspresi Naruto dari jail berubah kasihan. "Jangan katakan, paman gak punya rumah?" Tepat sebelum ada protes, kecepatan Naruto memotong pembicaraan tak memberikan celah sedikitpun untuk orang tua melawan.

"Paman lumayan tampan, masih muda, tubuh bagus, kesehatan tidak perlu di pertanyakan, kau 100 persen bisa bekerja dan kaya, kenapa jadi gelandangan?" Tanpa peduli dengan situasi, mulut Naruto terus tancap gas, rem seakan tidak akrab dengan mulut keturunan Gremory itu.

"Jika bisa, aku ingin mengajarimu apa itu cermin, anak muda. Apa yang kau lakukan malam malam begini? Terlebih ini bukan jam bagus untuk remaja seusiamu berkeliaran, kecuali jika kau gembel." Menanggapi itu, Naruto hanya menunjukan cengiran bodoh. Kejadian memalukan itu tak perlu di ceritakan kepada orang lain.

"Pertanyaan ku pun sama, paman. Kau sama sekali tidak terlihat seperti gelandangan. Kau tampak bagus dengan setelan jas di balik pakaian lusuh itu?" Inilah yang menarik perhatiannya. Naruto menangkap ekspresi orang tua tersebut seolah olah berkata, 'mata mu merepotkan.'

"Apa dengan aku mengatakan kau salah lihat, kau akan percaya?" Gremory itu hanya menaikan kedua bahunya. "Hahaha oke oke, aku ini mata mata, apakah kau puas dengan jawaban ini?" Sembari menunggu jawaban Naruto, pria itu menengguk sekaleng soda, berpura pura tampak nya pekerjaan melelahkan.

"Pengakuan yang mengejutkan. Aku terkejut kau mau mengaku semudah itu. Bahkan aku tidak pernah menduga jika kau mata mata." Karena ini semua berawal dari iseng dan penasaran sesaat.

"Aku payah dalam penyamaran. Jika bukan karena permintaan seorang teman dan sedikit kebebasan, aku tidak mau melakukan ini." Naruto tidak menanggapi itu serius.

"Aku tidak akan bertanya lebih jauh." Merasa ini bukan urusan nya, Naruto lebih memilih untuk tidak bertanya. Kemudian suasana hening, Naruto mengeluarkan lebih banyak makanan ringan dan keheningan malam itu sedikit berwarna dengan suara suara gesekan mulut dan makanan.

Sembari menikmati makanannya, iris mata Naruto tanpa di sengaja menangkap suatu objek dari samping gang tidak begitu jauh darinya. Tentu saja, tatapan Naruto di ikuti pria misterius di samping nya.

"Hm aku tidak sendirian, apa paman mengenal gadis itu?" tanya Naruto, di sela sela kunyahannya.

"Jangan tanya aku, seolah olah aku tau." Naruto menyadari jika jawaban pria itu belum lengkap, jadi dia lebih memilih untuk tidak menyela, "Kecuali nama dan ciri ciri fisik nya."

"Untuk ukuran seorang mata mata, kau sama sekali tidak bisa di andalkan."

"Itu bagus, jadi aku tidak perlu repot di andalkan oleh mu." Itu tanggapan atas sindiran Naruto. Pada awal nya, Naruto ingin menjawab dengan sindiran lain. Namun sesuatu terjadi menahan kata kata nya, Naruto menaikan sebelah alis nya, keberadaan gadis di perkirakan berusia 15 tahun menghilang dalam kegelapan gang. Sesuatu pasti sedang terjadi, pikir Naruto.

Karena penasaran, keputusan untuk mencari tahu menjadi hal pertama bagi Naruto. Langkah pastinya membawanya ke tempat di mana rasa penasaran itu timbul.

"Oy bagaimana dengan makanan ini?"

"Lakukan sesuka mu." ucapnya, tanpa menoleh sedikitpun.

Sementara punggung Naruto menjauh setelah semakin banyaknya detik berlalu. Pria mengaku sebagai mata mata gadungan itu tersenyum simpul, sepertinya keputusan untuk menjadi mata mata ini tidak begitu buruk. Dia menemukan hal menarik di kota ini.

"Aku beruntung, pekerjaan ku selesai lebih cepat dari rencana. Sekarang putri mu aman, Baraqiel." Begitu saja, bagi mereka memiliki banyak pengetahuan supranatural, bukan hal sulit menebak identitas pria ini. "Sekarang apa yang aku lakukan? Memancing? Mengintip wanita? Aku tidak sabar." Sembari memikirkan banyak hal, pria itu sama sekali tidak menyadari jika ekspresi aneh itu memberikan kesan najis bagi wanita.

"Sisa nya, aku serahkan padamu. Akuma-kun."

Kemudian tempat itu kosong, seolah olah tak pernah ada entitas sebelum nya, kecuali sehelai bulu hitam pekat, itu menjadi tanda jika apa yang pria itu akui memang benar.


Ini adalah tempat umum namun menakutkan bagi manusia biasa. Tentu saja, banyak hal kurang mengenakan terjadi di banyak tempat seperti ini. Di dukung dengan pencahayaan minim bahkan hampir tidak sama sekali, sangat sempurna untuk melakukan kejahatan.

Bau apek dan pemandangan tak enak di mata tidak membuat Naruto menghentikan langkah nya. Gang hanya di bekali pencahayaan alami dari rembulan bukan masalah bagi mata iblis nya. Naruto, masih bisa melihat hal tidak mengenakan dari ujung gang.

Seorang gadis muda dan pria asing kaya raya. Kondisi gadis itu tidak mungkin untuk di katakan baik, pakaian tak layak pakai, banyak luka menyakitkan untuk di alami seorang gadis kecil, dan hal yang tidak bisa Naruto tolerir adalah perlakukan pria kekar itu.

Langkah nya yang pasti, tanpa menunjukan hawa permusuhan, ia mulai memangkas jarak, Naruto tak perlu menyembunyikan apapun. Menyelamatkan gadis itu hanya sepotong kue baginya.

"Hei bisakah kita bicara sejenak? Kau memiliki sesuatu yang bagus."

.

.

.

Nama gadis itu adalah Himajime Akeno.

Sekuat apapun Akeno berlari, gadis itu masih seorang anak remaja biasa, kecuali kemampuan nya sebagai pengusir roh jahat. Tenaga gadis itu tidak sebanding dengan pria kekar yang saat ini menyeretnya.

Akeno pasrah, tentu saja ini sebuah pilihan tunggal. Ia hanya pasrah ketika rambut panjangnya di jambak, ia terlalu lemah hanya untuk sekedar menangis, meraung atas ketidakadilan ini. Ia tidak memiliki banyak tenaga hanya untuk sekedar melakukan hal tidak perlu itu.

Tatapan kosong nya tidak normal, meski jauh menembus iris violet itu, terdapat rasa takut yang ia pendam sejak lama. Jika pun ia bisa, ia ingin berteriak meminta pertolongan, terserah kepada siapapun, teriakan itu hanya untuk mengobati rasa frustasi nya.

"Dengar baik baik anak kurang ajar. Keluarga mu telah menjual mu, itu fakta tak terbantahkan. Aku memberimu segala hal yang kau butuhkan untuk hidup. Sekali saja kau membawaku dalam situasi merepotkan seperti ini, hidupmu terjamin lebih mengerikan dari sebuah kematian, ingat di pikiran tidak berguna mu itu."

Tidak ada jawaban apapun. Namun pria itu puas dengan respon Akeno. Pria itu tanpa belas kasihan menyeretnya terburu buru, hidupnya tamat jika pemerintah setempat mengetahui segala hal yang membuatnya kaya raya. Ia pemilik rumah bordir dan Akeno adalah salah satu pemuas nafsu duniawi meski usianya saat ini tidak lebih dari 15 tahun.

"Ini tidak berguna sama sekali. Bos besar pasti akan membuatku repot dengan ketidakpuasannya." Kaburnya Akeno lah yang membawa gadis itu di kondisi mengerikan seperti ini. Pelanggan itu memperlakukan Akeno buruk, lagipula ia hanya remaja dengan kesabaran terbatas dan untuk itu melarikan diri adalah hal pasti tanpa peduli apa resiko nanti.

Seperti seluruh doa doa nya di kabulkan. Suara lain menghentikan langkah pria itu.

"Hei bisakah kita berbicara sejenak? Kau memiliki sesuatu yang bagus."

"Anak kecil? Apa kau tersesat? Nasib mu sangat buruk berakhir di sini." Tidak seperti anak remaja normal, Naruto sama sekali tidak gentar di tatap sinis.

"Betapa baik nya dirimu peduli padaku dan apa ini, apakah dia budak? Pelacur? Atau kau memperlakukannya seperti barang sewaan?"

"Sebaiknya kau segera angkat kaki dari sini, atau ku lakukan paksa? Kurasa patah dua atau tiga tulang tidak membuatmu dalam masalah kan?" Melepaskan jambakan nya, pria itu seperti kehilangan kesabaran.

"Oopppss~ jangan menendang, jangan memukul atau apapun, aku sama sekali tidak suka kesakitan, aku lebih suka di perlakukan dengan baik." Berekspresi bermain main, Naruto memeluk dirinya sendiri dan mundur beberapa langkah.

"Cara kau berbicara membuat ku kesal." Setelah mood nya buruk dan di tambah permainan ekspresi Naruro, pria berotot itu menggertakan giginya hingga suara gemeletuk tulang terdengar. Bagi manusia dengan nol kemampuan membela diri, hal itu adalah momen horor bagi siapapun.

"Hiiiieeee~ aku mengerti, jangan marah seperti itu oke? Aku tidak bermaksud mempermainanmu kok. Baiklah mari kita bicara serius."

Merasa jika membuang tenaga kepada bocah tidak tau diri ini merupakan hal sia sia, pria itu lebih memilih mendecakan lidah nya meluapkan segala emosi yang menumpuk. "Kalau begitu, jangan membuatku kesal."

"Baiklah baiklah, aku akan bertingkah baik mulai sekarang. Paman, wajah mu menakutiku."

"Cepat katakan tujuan mu!"

"Baiklah jadi kita bisa memulai pembicaraan nya." Naruto tersenyum lebar.

"Singkat saja, paman. Apakah bisa aku membawa gadis ini bersama ku untuk beberapa ketentuan?" Negosiasi di mulai. Di banding melalui jalan kekerasan, meskipun bisa Naruto lebih memilih jalur aman. Bagi Naruto, masalah seperti ini mudah selesai dengan harta duniawi.

Lagipula bertarung itu merepotkan.

Mendengar ucapan tanpa keraguan, ekspresi pria itu sedikit mengendur. "Katakan padaku, bocah. Kau memandang budak ini sebagai barang? Sejujurnya itu bukan tawaran oleh bocah puber seperti mu."

"Apa maksud mu? Bukankah kau juga demikian? Aku tahu dari tatapan mu bahwa gadis ini tidak lebih dari sumur uang bagi mu, kau memperlakukannya lebih buruk dari barang, jadi apa salah nya jika aku menirumu?"

Selesai dengan kata kata nya, sekejap saja suasana jatuh dalam keheningan. Sejujurnya Naruto bukan seorang pandai dalam negosiasi, hal hal yang ia pelajari sebagai seorang bangsawan tak pernah ia serap sedikitpun. Berbeda dari teman teman nya, Naruto sama sekali tidak tertarik dengan status.

Terlebih dengan didikan Grayfia, ibunya sama sekali tidak pernah mempermasalahkan itu, begitupun juga ayahnya. Naruto tumbuh dengan kepribadian terbuka, pemikirannya berbeda, meski negosiasi bukan bukan ahlinya, namun di memiliki sesuatu sebagai ganti. Itu adalah jalan berpikir tidak biasa meski sebagian orang mengatakan itu absurd.

Teman temannya tahu, kelakuan Naruto sedari dulu memang random. Karena itulah ia sulit di tebak.

Pria itu mulai dengan suara berisik di akhir kalimat, "kau... Benar benar mengejutkanku Ghaha." Sekejap saja, suasana hati pria itu menjadi cerah. Ia memberikan tatapan tertarik untuk Naruto, "aku tidak ragu mengatakan, iblis pun akan berpikir jika ia tidak layak sejajar dengan mu."

"Aku sama sekali tidak senang meski kau memujiku. Cepat katakan jawaban mu, kau membuang banyak waktu dengan omong kosong ini." Kini giliran Naruto yang semakin tak sabar. Sesekali melirik ke arah Akeno khawatir, tidak salah lagi, gadis itu sekarat terlalu banyak kehilangan darah. Luka di kepalanya dapat di pastikan hasil benturan keras tak lama ini, kemungkinan beberapa menit sebelum Naruto datang.

Namun kekhawatiran itu tertutup sempurna oleh ekspresi ketidakpedulian. Dalam situasi seperti ini, Naruto benar benar harus bertingkah seolah olah ini bukan kebutuhan dari pihak Naruto.

"Huh baiklah, meski kau menarik. Aku tidak bisa melepaskan anak ini begitu saja. Kau tahu alasannya bukan?"

"Mengapa?"

"Kau meragukanku. Kau tidak memiliki jaminan jika kau mampu, dan gadis ini kualitas premium. Kau tahu kenapa? Karena dia masih suci, ini investasi jangka panjang kau tahu. Aku memiliki peluang bagus untuk menggadakan keuntungan ku." Naruto memancing mata nya, "ketertarikan para konglomerat terhadap mereka yang suci tidak di ragukan membawa ku kaya secara instan. Pengeluaran ku untuk membawa gadis ini ke level atas hanya pengorbanan kecil jika aku bisa membanding kan keuntungannya."

Pria itu mulai tertawa gila. Dia memang tidak waras sejak awal, kecintaan nya terhadap benda kertas kecil itu membutakan akal manusiawi nya. Naruto mendesah prihatin, dia merasa kasihan dengan dirinya sendiri, membuang banyak waktu untuk negosiasi dengan orang bahkan akal sehat pun tidak punya.

"Kau sungguh berpikir seperti itu?"

"Kau meragukan pemikiran ku?"

"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan itu, paman. Tapi jika menurut mu itu benar, aku akan mengambil tantangan mu." Naruto mengambil langkah berani, diam diam ia mengaktifkan sihir penyimpanan dasar dan secarik kertas ia keluarkan dari saku nya.

Pria itu menatap Naruto heran. Naruto melangkah pelan dan ketika jarak kedua nya tidak lebih dari satu meter. Secarik kertas kosong sekejap saja sudah beralih tangan, tanpa bicara apapun lagi, kini Naruto mengangkat gadis telah sekarat itu. Banyak nya darah mengotori pakaiannya ia hiraukan.

"T-t-terima... kasih... "

Suara Akeno terdengar lirih, namun tidak cukup lirih untuk tidak ia dengar. Dan dengan begitu saja, seperti telah terbebas dari sesuatu, gadis itu tak menunjukan pergerakan apapun. Naruto melihat itu diam, melangkah melewati pria itu, tanpa menolah, kata kata Naruto terlontar sungguh mengejutkan.

"Silahkan isi berapapun nominal nya dan setelah ini, jangan ganggu hidup nya. Aku tidak akan main lembut lain kali."

Naruto tidak membutuhkan reaksi pria itu. Kini tujuannya sudah jelas, bibi Rias. Akeno tak tertolong, nafas dan detak nadi nya berhenti, satu satunya harapan Naruto adalah Rias. Naruto benar benar merutuki kebodohannya, Naruto tidak tau jika Evil Pieces yang ia anggap tidak menarik akan sangat di butuh kan saat ini.

"Ku harap bibi Rias memberikannya kesempatan... "

Begitulah pertemuan Naruto dengan Akeno. Naruto tidak memprediksi, jika di masa depan. Akeno akan terus menerus menyusahkan dirinya.

..

..

..

"Yoo bagaimana kabarmu di dunia atas? Kau terlihat sehat sehat saja." Setelah sihir komunikasi terhubung, sosok hologram muncul di meja kerjanya. Anaknya, Naruto Gremory yang saat ini telah berusia 17 tahun, waktu berlalu sangat cepat tanpa bisa di cegah. Iblis memiliki umur yang tak terbatas, jadi 17 tahun tidak lebih dari kemarin.

"Ayah, aku mengerti kenapa kau sangat takut dengan ibu. Aku sungguh mengerti perasaan mu, tapi aku benar benar tidak tau akan seburuk ini."

"Benarkah? Benarkah? Bisakah kau jelaskan lebih terperinci?" Sirzechs menunjukan wajah tertarik. Pesona Naruto di dunia bawah tak terbantah, tapi sedikit wanita yang berani menunjukan ketertarikan mereka terang terangan, jangan tanya kenapa, Grayfia Lucifuge selalu menjadi hal menakutkan untuk siapapun wanita yang mendekati anaknya.

"Wanita itu sama sekali tidak mau lepas dariku, kau tahu aku ini juga laki laki. Sedikit nafsu, status quo tidak mungkin bisa ku pertahankan. Ayah tau maksud ku bukan? Juga, dia masih Bersikeras menjadi Queen ku meskipun dia telah berada dalam perlindungan bibi Rias."

"Hei bukan kah itu kabar bagus? Ayah dengan senang hati memberikan izin membangun kerajaan harem mu sendiri, dulu itu mimpi ayah mu ini, Naruto-kun. Kau bisa mewarisi mimpi itu, tapi masih terlalu dini untuk aku di panggil Kakek."

"Itu kata ternaif pernah aku dengar, lagipula ibu akan mengulitiku, Ayah tahu kan bagaimana menakutkannya dia, Ibu sama sekali tak akan senang aku menanam benih ke sembarang tempat. Lagipula siapa yang peduli tentang impian kekanak-kanakan itu, yang kita bicarakan disini adalah masa depan ku."

"Tunggu Naruto-kun, apa yang kau sebut sebagai impian kekanak-kanakan itu adalah hal paling menyenangkan bagi laki laki, itu tidak berlaku jika kau tidak normal." Seakan tidak mau kalah, berawal dari seorang anak mengadu tentang masalah yang ia alami, sekarang beralih menjadi perdebatan konyol.

"Ayah ini raja iblis, bagaimana mungkin ayah memiliki keinginan seperti itu. Lagipula aku ini lebih tampan dari ayah, aku percaya bahkan menaklukkan hati ibu hanya sepotong kue bagiku." Ekspresi shock dan percaya diri saling berhadapan.

"Itu konyol, jangan seenaknya merubah genre cerita. Terlebih lagi, kau boleh memiliki siapapun kecuali Grayfia, ingat dia itu ibumu kamu paham?" Entah apa dasarnya Sirzechs mengatakan itu, bahkan kata kata nya benar benar tanpa di sengaja. Itu keluar begitu saja.

Seakan tidak percaya dengan kata kata Sirzechs, Naruto membalas, "wow menakjubkan, ayah sungguh berpikir seperti itu? Lagipula aku tak pernah berpikir ingin memiliki istri seperti ibu, akan kasihan nanti nasib anak ku, memiliki ibu mengerikan."

"Untuk siapa keluhan itu, anak nakal? Uang jajan mu Ayah potong!" Tentu saja Sirzechs tidak cukup bodoh untuk tidak memahami kalimat sarkastis anak nya.

"Ayah tidak bisa melakukan Itu!" Karena keterkejutan nya, mata Naruto melebar lebih dari biasanya.

"Mengapa bisa begitu?" Alis Sirzechs terangkat satu, heran.

"Bahkan dengan semua yang ayah kirimkan itu masih kurang, bagaimana mungkin ayah berpikir ingin memotong bagianku, ayah ingin aku mati kelaparan?"

"Apa yang kau pikir kurang itu bukan nominal normal bagi manusia, bagaimana mungkin seluruh kebutuhan mu kurang? Terserah apapun alasanmu, tidak akan mengubah keputusan ayah."

"Ayolah, ini sama sekali tidak lucu. Ayah ini pelit sekali dengan anak sendiri, seluruh nominal itu bukan apa apa lagi, ayah. Itu tidak bisa membeli perdamaian dunia." Saat itu juga, kalimat penuh nada frustasi memaksa Sirzechs mumukul dahinya sendiri. Hei perdamaian juga adalah kebutuhan makhluk manapun, bagaimana mungkin Naruto berpikir perdamaian dunia kebutuhan pribadi nya.

"Jika dunia damai, aku tidak perlu repot repot mengeluarkan banyak energi untuk pertarungan sia sia. Aku bisa menghabiskan sepuluh ribu tahun untuk memanjakan diri, itu beneran, jadi tolong jangan memotong bagian ku."

"Dari siapa kau belajar itu?"

"Paman Falbium." Bertambahlah kadar memusingkan Sirzechs. Seharusnya ia sudah menduga menitipkan Naruto dalam kepelatihan Falbium bukan ide bagus. 'Falbium, setelah ini jangan kau pikir ada jam istirahat untukmu.' batin Sirzechs, kepala nya penuh akan rencana jahat untuk membawa sahabat Maou nya itu ke dalam keputus-asaan setelah memberikan dampak buruk pada anak tersayang nya ini.

Selain Siscon, Sirzechs juga sangat posesif dengan anaknya. Hal tidak di ketahui umum, Grayfia lebih posesif dari Sirzechs, itu di tunjukan untuk waktu pribadi keluarga Lucifer.

.

.

"Jadi ayah ingin merepotkan ku hanya untuk sekedar menghapus seekor iblis liar?" Setelah segala perdebatan konyol selesai, alur pembicaraan kembali ke jalan lebih serius. Meskipun begitu, Naruto benar benar melupakan apa itu formalitas, tidak seperti Grayfia selalu kaku dalam pekerjaan nya, bagi Naruto, sekalipun ia berhadapan dengan Yondai Maou, berbicara santai adalah hal yang sangat ia sukai.

Dari dulu Naruto selalu merasa jijik dengan keformalan, meski begitu tidak ada satu karakterpun mempermasalahkan ini, justru karena kepribadian nya, hampir bagi mereka mengenal Naruto menaruh banyak respect untuk remaja ini.

"Menolak tidak membawa keuntungan apapun, Naruto-kun. Jadi menyerahlah."

"Ayah benar, tapi bukan berarti aku menjadi anak penurut atau apapun. Aku melakukannya karena uang jajan ku." Sirzechs menghela nafas dalam dalam, dirinya tidak menyangka dampak buruk Falbium mendarah daging separah ini, karena hal itu juga, semangat untuk banyak merepotkan Falbium semakin membara

"Baiklah kita beralih ke topik awal, bagaimana kabar Akeno? Apakah mental nya masih tidak stabil?"

"Jika aku membanding kan dengan dirinya dua tahun di masa lalu, akan ku katakan dia baik sekarang. Hanya saja, kemampuannya untuk mempercayai orang lain lebih buruk dari dugaan ku, hal itu akan menjadi jauh lebih buruk jika Akeno hidup tanpa diriku." Entah itu firasat atau ketidaksengajaan dalam berkata, poin terakhir dalam keluhannya membawa rasa heran untuk Sirzechs, namun Maou Lucifer ini lebih memilih melupakan nya dan memikirkan alasan Naruto mengatakan itu.

"Akeno tidak mempercayai siapapun selain dirimu?"

"Poin nya di sini, namun kabar buruknya, kepribadian Akeno di luar pengawasan ku 180 derajat berbeda. Itulah yang bibi Rias katakan, aku tidak mengerti mengapa namun aku rasa, Akeno berusaha menekan seluruh perasaan nya akan masa lalu."

Sirzechs menekan dagunya, berpikir. "Tapi ayah rasa itu masih berada dalam batas kewajaran. Traumatik gadis itu membawa ke dirinya dalam situasi sekarang. Menyembuhkan mental tidak cukup setahun dua tahun, akan lebih baik kau tidak memaksakan apapun, mengerti?"

"Akeno adalah tanggung jawab ku, meskipun bisa, aku tidak ingin Akeno melupakan masa lalunya meski itu lebih baik. Akeno memiliki hak atas kebahagiaan nya di masa depan dan aku ingin ikut campur dalam proses nya, terlebih, Akeno berharap banyak pada ku."

"Tidak satupun dari kita berhak untuk itu selain dirimu, ingat jangan memaksakan diri, lakukan apa saja selama dalam batas kemampuan mu, terlebih kau tahukan apa yang akan ibumu lakukan jika saja kau melanggar ucapan ibumu?"

"Maka masa depanku menjadi patung taman." Keringat dingin menjalar di punggung nya. Naruto sadar jika ibunya tidak akan pernah mengizinkan Naruto merepotkan dirinya sendiri atas alasan apapun. Bagi Naruto, kemarahan seorang Grayfia adalah hal pertama paling ia hindari.

"Itu pasti." Sirzechs tertawa ringan, "Ibumu lebih menakutkan saat dia merasa putra nya tidak cukup baik atas perilaku nya."

"Tapi ibu lebih cocok memainkan peran ibu tiri. Aku merasa simpati pada mu, ayah. Hidup mu pasti sangat di sulitkan." Kata kata nya di serta bumbu ekspresi simpatik atas kepura-puraan nya.

"Meski kata kata mu palsu, ayah setuju."

.

.

.

Tidak di ketahui seberapa banyak waktu telah berlalu. Sirzechs dan Naruto terlalu banyak menikmati waktu santai mereka, membicarakan banyak hal berguna dan tidak berguna sama sekali. Obrolan ringan antara ayah dan anak itu cukup jarang terjadi, pekerjaan Sirzechs setiap harinya makin tidak tahu diri dan kesibukan Naruto selama di dunia atas, bermalas malasan tentu saja.

Seakan akan waktu berhenti berputar. Suara ketukan pintu datang, Naruto dan Sirzechs untuk sesaat menghentikan obrolan mereka, menunggu sosok dari balik pintu. Keheningan mereka tidak bertahan lama, sebab alarm berbahaya berdering nyaring secara internal di kepala Naruto.

"T-Tunggu tunggu, apakah itu ibu? Katakan pada nya jika aku selalu makan teratur, mengurus diri dengan baik, dan tidak ada jejak kenakalan apapun. Terserah apapun itu, tolong yakin kan ibu untuk tidak memicu sifat posesif yang menyusahkan itu. Sampai jumpa ayah, aku mengandalkanmu." Setelah berpamitan panjang lebar, di keadaanya yang sudah pucat basi, sihir komunikasi terputus tepat ketika Grayfia datang.

Tepat ketika Grayfia memasuki ruang dengan banyak tumpukan kertas, sirkulasi sihir komunikasi masih ia rasakan walaupun itu samar samar. Wanita itu menaikan satu alisnya, "Apakah itu, Naru-chan? Anak nakal itu sama sekali tidak menghubungi ibunya meskipun sempat?"

Di tanya dengan tuntutan, yang Sirzechs lakukan cukup dengan tersenyum gugup, "Aku hanya memberikan misi, tidak ada lagi sungguh Grayfia."

"Oh ya? Jadi apa kabarnya? Aku tidak cukup baik untuk senang mendengar kabar tidak menyenangkan dari Naru-chan." Setelah selesai dengan kata kata nya, tatapan Grayfia menyipit, membawa hawa dingin namun justru memberikan banyak keringat untuk Sirzechs.

"Y-yeah Naruto-kun mengatakan ia cukup nyaman dengan dunia barunya, bahkan lebih dari itu, kenyamanan dunia atas dan kesibukannya hampir merenggut waktu nya pulang. Tapi ini bukan berarti dia tidak merindukan ibunya, sungguh. Dia hanya sibuk, Iya itu." Sebagai seorang Maou, sungguh sangat memalukan ketika ketegasannya menghilang.

Tatapan Grayfia kembali normal. Perubahan itu memberikan ruang bagi Sirzechs bernafas lega, tetapi ketika ia merasa situasinya membaik, sesuatu lagi datang dari pernyataan Grayfia. "Ini melegakan, anak nakal itu sangat akrab dengan masalah, jadi ketika aku mengetahui kesulitannya, orang pertama untuk aku datangi itu anda, Sirzechs-sama."

Ancaman terakhir bagaikan menjatuhkan sebuah bom di tengah masalah. Dalam hati nya, Sirzechs banyak meminta maaf telah menjadi ayah yang buruk tidak menepati janji, ini adalah jalan aman. Jadi demi kebaikannya, Sirzechs mulai menjelaskan isi percakapan antara dirinya dan Naruto.

Setelah semenit. Grayfia mengangguk paham. Dan untuk kedua kalinya Sirzechs menghela nafas lega. Mau bagaimanapun, buruk nya mood Grayfia sedari dulu bukan kabar baik.

"Jika kesibukan Naru-chan mempengaruhi waktu nya pulang, aku sendiri akan berkunjung. Itu tidak masalahkan, Sirzechs-sama?" Seperti menerima suatu berkah, kilatan kebahagiaan muncul di mata Sirzechs. Secepat kilat sang Maou mengganggukan kepala penuh semangat. Jika kesempatan itu datang, 100 persen Sirzechs memanfaatkan itu baik baik.

Untuk menghadapi kekesalan anak semata wayang nya, ia akan pikirkan nanti. "Itu bagus, Grayfia. Aku yakin Naruto-kun senang." Meskipun dalam hatinya, 'Aku yang senang!' pikir Sirzechs gembira.

"Keberangkatan saya besok malam, Sirzechs-sama. Saya perlu mempersiapkan beberapa keperluan untuk satu minggu atau lebih, jadi sebelum itu, tolong kerjakan dokumen dokumen ini."

Ada banyak rencana Sirzechs di waktu berharganya tanpa pengawalan ketat Grayfia. Namun ketika segunung kertas tambahan keluar dari penyimpanan Sihir, mimpi itu hancur dalam sedetik. Raut kebahagiaan Sirzechs tanpa syarat luntur tak terkendali, wajah nya menjadi pucat ketika Grayfia menambahkan kata.

"Ini adalah pekerjaan anda dalam seminggu. Saya tidak peduli apapun situasinya, seluruh kertas ini harus selesai setelah saya kembali. Jika anda paham, saya permisi." Di balik perubahan raut datar Grayfia menjadi antusias, ada penderitaan batin yang tidak pernah Grayfia pikirkan sebelum nya.

'T-Tidak mungkin, waktu santai ku!'

Ini contoh sederhana dari instan karma.

.

.

.

"Hei pria tampan, kau tampak hebat dengan penampilan mu saat ini. Tidak ada keraguan jika ketampanan mu berada di tingkat fantasi." Setelah Naruto selesai dengan pembicaraan pagi, di butuhkan belasan menit lebih bagi Naruto untuk mempersiapkan diri. Ini tidak biasa, seperti yang di sebut sebagai hari kebalikan, tidak ada waktu santai bagi Naruto di hari minggu.

Dengan anggukan puas, Naruto meninggalkan kaca nya dan keluar. Sambutan hangat ia dapatkan seperti biasa, "Wow mengejutkan, aku tidak mengira butuh waktu sesingkat ini untuk mu membenahi diri, Akeno-chan. Itu tidak sama seperti karakter perempuan di beberapa komik."

"Ufufu! Aku tidak cukup buruk untuk tidak membuat kekasihku menunggu."

Naruto membalas dengan senyuman, "Aku suka perbedaan nya. Benar benar kekasih pengertian." Tanpa peduli tatanan rambut Akeno, usapan lembut sama sekali bukan suatu alasan untuk gadis itu menolaknya. Ia justru menerima itu dengan hati berbunga bunga, tangan Naruto adalah salah tempat ternyaman di dunia baginya.

Seperti sadar akan sesuatu, kekecawan tak terbantah namun terobati setelah kata kata Naruto berikutnya, "Meskipun aku tahu Akeno-chan bukan perempuan berkemauan tinggi, untuk hari ini kau boleh meminta apapun. Kita akan pergi sepuasnya oke." Itulah janji nya.

"Cukup berada dekat dengan mu sudah menjadi kebahagiaanku, Naruto-kun. Tetapi karena itu permintaan kekasihku, senang rasa nya jika bisa memuaskan mu."

"Tentu saja, ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan alasan asalan merepotkan untuk menolak ku, Akeno-chan. Aku bertanggung jawab atas kebahagiaan mu di masa depan dan seterusnya." Tidak ada satu pun keraguan di dalam kata kata nya. Di mata Akeno, kata kata tak terbantahkan itu adalah semangat baru hidup nya, karena kata kata itulah, kehidupannya berlahan pasti menunjukan perubahan lebih cerah.

Senyuman tulus, hanya Akeno berikan pada Ibunya dan Naruto merekah. Momen singkat itu memberikan getaran aneh di dalam diri Naruto, meskipun getaran telah ia rasakan sejak lama, semakin dekat hubungannya, getaran itu semakin besar.

"Teruslah tersenyum, Akeno-chan. Aku tidak pernah berjanji untuk melindungi senyuman mu, tetapi membuatmu tersenyum adalah janji ku." Ketika kata kata nya keluar. Senyum Akeno semakin melebar, kedua tangan sejoli itu saling berkaitan seperti tak terpisahkan oleh apapun. Aroma sampo memasuki rongga hidung ketika bahunya menjadi sandaran, ia tidak mempermasalahkan itu jika Akeno merasa aman.

"Satu untuk selamanya!" Hanya ungkapan lirih menemani setiap langkah keduanya. Kemudian detik semakin menunjukan nominal lebih besar dan ruangan itu tidak menunjukan eksistensi siapapun lagi.

.

.

.

Mengabaikan sebagian tatapan tertarik pada nya, Naruto lebih memilih memperhatikan tingkah aneh Akeno. "Mereka tidak akan mengambil ku dari mu, Akeno-chan."

"Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu, Naruto-kun. Lagipula sangat kasihan bagi mereka memiliki niat buruk itu." Untuk menanggapi senyum aneh Akeno, tatapan menyelidik tak lepas dari matanya, tak lama seringai nakal muncul begitu saja.

"Iyap aku setuju. Mereka tidak memiliki kesempatan apapun bersaing bersama ratu sadis seperti mu. Tapi Akeno-chan, Ayah ingin aku memiliki harem, sebuah permintaan sulit bukan? Bagaimana menurut mu?"

"Itu permintaan aneh, aku yakin Sirzechs-sama tidak serius." Alih alih bersikeras, Akeno justru memberikan jawaban sama seperti apa yang Naruto pikirkan sebelum nya.

"Kau yakin dengan jawabanmu, tidak ada salah nya kau memiliki kecemburuan, Akeno-chan. Lagipula aku ini milikmu kan?"

"Mengapa aku harus cemburu?" Pertanyaan lugu keluar dari bibir Akeno. Gadis itu memiringkan kepala nya ke sisi lain.

"Itu hal wajar dalam sebuah hubungan romantis seperti ini bukan? Maksud ku, aku memberikan kebebasan apapun untuk Akeno-chan berekspresi. Tidak ada hal hal penuh tuntutan di antara kita, itu poinnya."

"Ufufu aku tidak memiliki satu alasan apapun untuk cemburu. Aku mempercayaimu seutuhnya, Naruto-kun. Lagipula aku tahu dirimu, harem atau apapun itu sungguh merepotkan bukan?" Naruto cukup merespon dengan senyum gugup. Seperti yang ia katakan pada Sirzechs, kepercayaan Akeno terhadapnya dirinya tidak biasa. Akeno percaya apapun yang Naruto katakan itu benar. Dan ketika kepercayaan itu terkhianati, kerusakan mental Akeno tidak lagi mungkin untuk sembuh.

Sebelumnya tidak ada rencana apapun jika kedekatan antara kedua nya menjadi suatu hal spesial. Naruto hanya ingin mengobati mental Akeno, dan gadis itu hanya merasa nyaman jika ia bersama Naruto. Tidak ada perasaan apapun sebelumnya, hingga ketika dua tahun berlalu, berawal dari benih kecil, tanpa di sadari oleh siapapun benih kecil ini tumbuh menjadi hal mengejutkan.

"Jadi aku sama sekali tidak memiliki apapun untuk menggodamu bukan? Masih sangat di sayangkan, namun jika Akeno-chan berkata seperti itu, artinya aku tak memiliki kesempatan." Garukan di kepalanya yang tak gatal cukup sinkron dengan wajah gugup.

Akeno tertawa, menutupi mulut menggunakan punggung tangannya. "Nfufufu~ kekasih cantik mu ini bukan type perempuan terbelit belit. Jika sederhana lebih menyenangkan, kenapa aku tidak memilihnya."

"Woww kepercayaan diri itu menakutkan."

"Nfufufufu~"

Kemudian berjam jam selesai, begitu banyak waktu untuk bersenang senang, tanpa sadar perubahan pada warna langit memberikan tanda jika akhir pekan hampir menemui akhirnya. Naruto tidak bisa mengatakan itu kencan sempurna, namun ia percaya diri jika kesempurnaan itu ada pada senyum menyenangkan Akeno.

Itu menjadi sumber kesenangannya tersendiri. Akhir pekan yang ia pikir melelahkan pun berlalu. Dan kini, berdiri berhadap hadapan pada sebuah bangunan klasik futuristik internasional. Mata nya menangkap pergerakan cepat ke arah nya.

Naruto melambaikan tangan, menunggu beberapa detik, pelukan tiba tiba membungkus tumbuh nya.

.

.

.

Pada awal nya Rias Gremory merencanakan penutupan akhir pekan dengan melakoni hobi nya. Namun ketika keberadaan sangat ia kenali memasuki kawasan terotiral nya sebagai pengawasan Kuoh Academy bersama sahabatnya, Sona. Hal itu ia urungkan, senyum nya semakin melebar ketika eksistensi tak asing memasuki area yang dapat di lingkup oleh mata.

Kemudian jarak terpaut 0 meter, mengabaikan reaksi keponakannya, sekejap saja ia membawa tubuh Naruto ke dalam pelukannya. Di mana tinggi keduanya hampir tidak ada perbedaan, indra penciuman Rias mendeteksi bau antara parfum dan keringat yang aneh nya sangat menggairahkan.

Wajah nya terlihat senang, berbeda dimana ada raut bosan Naruto di sana. Sedari dulu Rias memang selalu seperti ini, kedua nya hampir tidak pernah di pisahkan. Tetapi saat perpisahan sedikit saja di lalui antara mereka, Rias hampir selalu bersikap sebagai orang dewasa, memeluk nya seperti Naruto hal kecil baginya.

"Apa kabar, Rias-nee?" Panggilan kakak hanya berlaku ketika ada obrolan pribadi di antara keduanya. Alih alih menjawab, Rias justru semakin menekan wajah keponakannya di antara bahu dan leher jenjangnya.

"Beberapa menit yang lalu, aku merasa sedikit buruk. Tapi sekarang sudah ok. Keponakan kecil ku datang berkunjung itu menyenangkan." Rias masih enggan melepaskan tangan saat ini masih membungkus Naruto. Tetapi melihat keadaan sekarang, cukup untuk memberikan rasa penyesalan bagi Rias, tatapan pejalan kaki seperti keduanya menjadi objek drama jalanan murahan.

Naruto berpikir ini telah berakhir. Tatapan aneh orang lain sama sekali tidak mempengaruhi Rias, langkah berani berikutnya membuat Naruto sedikit melompat. Tak ada jarak wajah antara Rias dan Naruto, kedua bibir saling bersentuhan, menarik banyak tatapan horor bagi siapapun melihatnya, termasuk Naruto sendiri, tanpa menyadari tatapan tajam dari dua iris violet, lalu tak lama suara suram datang.

"Nfufufu... "

Beberapa kecupan, Rias tertawa senang menerima ekspresi shock keponakannya. "Hanya ciuman, jangan terlalu di pikirkan."

"Aku tidak mengerti harus berekspresi apa, tapi hei itu keterlaluan, Rias-nee. Ada banyak kesalahpahaman untuk kebiasaan mu itu." Meski wajah nya telah memerah, Naruto masih menyempatkan untuk memprotes keras, namun tampak seperti bukan apa apa. Rias hanya menunjukan senyuman nakal, namun menggoda bagi sebagian pria.

"Ada apa dengan reaksi mu? Kita sering melakukan itu dulu, bukan?"

"Itu tidak berlaku setelah kita beranjak dewasa. Meskipun itu menyenangkan, tapi ku rasa akan terlalu kekanak kanakan mengingat berapa usia kita."

Rias tidak langsung menjawab, ia terlihat seperti terkejut meski nyata nya tidak. Rias menutup mulut menggunakan punggung tangannya, "Ara~ itu mengejutkan, Naruto kecil dengan segala tingkah laku merepotkan nya telah merasa dirinya dewasa. Bibi merasa waktu berlalu begitu cepat, meski begitu kau masih tetap sama, Naru-chan kecil ku." Bagaikan sebuah drama, Rias mengambil banyak air mata dramatis.

Ada kedutan imajiner di sudut pelipis nya, "Jangan berbicara seolah olah Rias-nee ibuku, kita hanya terpaut beberapa bulan ingat?"

"Fufufu~ itu hanya perasaanmu. Lagipula usia tidak menunjukan karakter seseorang, dan ingatkah kau bahwa ibu mu menitipkan Naruto kecil nya pada ku? Ini sedikit bukti bahwa kau dalam pengawasan ku, Naru-chan." Rias menunjukan ekspresi bangga. Hal itu adalah kebenaran, Grayfia secara total memberikan hak bagi Rias mengontrol hidup Naruto selama berada di dunia atas.

"Aku tidak percaya Rias-nee se-totalitas itu."

"Yah karena aku ingin yang terbaik untuk keponakan manis ku. Kau tahu kan, keputusan mu untuk pindah membawa dampak buruk untuk ku. Aku merasa kesepian, apalagi kau sangat jarang mengunjungi ku, jadi saat aku melihat mu, perasaan senang ini tidak lagi bisa ku bendung." Ada banyak perubahan ekspresi setiap kali Rias berbicara, itu memberikan banyak keraguan bagi Naruto apakah ekspresi itu sepenuh nya asli atau hanya drama murahan. Tetapi apapun itu, Naruto merasa bibi nya benar.

"Tetapi ku rasa kau ingin menyampaikan hal penting. Tempat ini sama sekali tidak cocok, jadi ayo... "

Akhirnya basa basi selesai. Tujuan mereka sekarang adalah ruangan club penelitian ilmu ghaib. Sungguh sebuah club penelitian abnormal bagi manusia modern.

.

.

.

Tidak sampai semenit Naruto menjelaskan maksudnya. Ia hanya menyampaikan pokok dari pembicaraan antara dia dan ayah nya, plus beberapa kebohongan seperti harus melibatkan Rias dalam urusannya.

"Seseorang menggangu waktu malas ku oke. Jadi aku tidak mau di repotkan sendiri, karena itulah aku mengunjungi mu, Rias-nee. Aku ingin melibatkanmu dalam urusanku, karena aku malas." Itu kata kata nya di akhir penjelasan.

"Tidak masalah, memburu iblis liar bukan? Ini hal sepele. Tetapi jika bukan karena permintaan keponakan manis ku, tentu saja aku akan menolaknya tanpa berpikir."

"Rias-nee selalu pengertian seperti biasa." Dengan begitu saja, raut bosan lenyap seperti tidak pernah ada sebelumnya. Naruto tersenyum lebih cerah, ia sudah menduganya jika dalam urusan menjaga kestabilan lingkup aman Kuoh city adalah milik Rias dan Sona. Ia memiliki banyak waktu berkualitas untuk bermalas malasan.

"Aku rasa menjadi jauh lebih mudah ketika keberadaan Sona ada di antara kita. Aku ingin mengajaknya."

"Sona memiliki kesibukan sebagai pelajar teladan, kau tahu. Meski itu membosankan, aku benar benar tidak berpikir dia nyaman dalam pekerjaan nya." Rias mengeluh seberapa serius nya Sona. Semua orang tau jika apapun yang Sona kerjakan selalu sempurna, type perfeksionis di mana ketidaksukaan itu timbul pada diri seseorang seperti Rias.

"Bagaimana untuk bidak mu?" Satu alis Naruto terangkat satu, heran. Ia sama sekali tidak merasakan keberadaan seorang Nekomata dan pengguna Sacred Gear pedang suci di sekitar wilayah sekolah, karena hal itulah timbul pertanyaan nya.

"Perbedaan sekolah dan tempat tinggal Koneko-chan sedikit membuat kehadiran nya di persulit, aku memerintah kan untuk Istirahat begitupun Yuuto. Mereka bekerja sangat baik akhir akhir ini, aku sedikit baik membiarkan mereka bersenang senang di waktu luangnya." Koneko berada di tahun terakhir menengah pertama, tidak heran jika Rook dari Rias itu menjalani sekolah nya di luar.

"Jadi?"

"Kita tidak ada banyak pilihan lagi. Menurut pengetahuan ku, tidak ada Iblis liar berkekuatan super di Kuoh, jadi aman tanpa membawa bidak lengkap. Lagipula aku memiliki Akeno, dia ratu ku, aku tidak meragukan keterampilannya, bukan begitu, Akeno?"

Akeno dari awal memilih untuk diam, kini membuka suara. Meski tidak senyaman ketika bersama Naruto, tapi Rias adalah King yang baik. Pewaris Gremory itu mengerti dirinya, Rias tidak peduli akan masa lalu buruk Akeno, dia membuka dirinya sebagai keluarga baru bagi gadis Himajime itu.

"Nfufu~ aku tidak menyangkal nya. Itu benar, jadi kekhawatiran Naruto-kun ini sama sekali tidak ada dasarnya."

Naruto merengut, meski ia banyak menghabiskan untuk memanjakan diri, dia masih seorang Highclass Devil, sihir es berasal dari ibunya bukan apa sesuatu yang pantas di anggap remeh. "Hei sejak kapan kalian kompak menganggap ku anak kecil? Itu terasa mulai menyebalkan."

"Fufu! Jadi kesepakan selesai. Kita bisa memulai nya sekarang, Akeno sihir teleportasi tolong ya." Mereka mengakhiri percakapan dengan satu kesepakatan. Lingkaran crimson menyebar dan menyerap ketiga remaja Iblis itu ke tempat di mana, satu tragedi tidak pernah mereka prediksi sejak awal.

..

..

..

..

..

Lokasinya saat ini adalah jauh dari pusat kota Kuoh. Ketiga remaja itu menatap tanpa rasa takut sebuah Laboratorium tidak terawat, namun keberadaan Iblis liar mampu di rasakan bahkan oleh Iblis kelas bawah sekalipun. Yang artinya, sesuatu di dalam belum bisa di sebut sebagai ancaman. Ini makanan sehari hari bagi Rias.

Namun tidak untuk Naruto. Sekalipun perasaan takut tidak menggangu nya, jauh di dalam hati nya ia merasa keganjilan. Naruto percaya pada firasatnya, karena hal itulah kepercayaan diri Naruto sekejap saja mulai terkikis. Naruto sebelum nya tidak pernah merasakan overthinking, dan jujur saja, apa yang baru saja ia alami membuat nya sangat tidak nyaman.

Mata Naruto melirik ekspresi Rias dan Akeno. Tidak ada perubahan apapun, kedua gadis itu masih dengan senyum percaya diri. Butuh beberapa detik bagi nya untuk mengerti situasi, Naruto menghela nafas lelah di saat dirinya mulai tertinggal oleh dua gadis itu.

Perubahan pada ekspresi Naruto rupanya di sadari oleh Rias. Dia menatap keponakannya heran, untuk pertama kalinya Rias melihat ekspresi itu pada diri Naruto. Ia menghentikan langkah, begitupun di ikuti oleh Akeno.

"Apa ada masalah, Naruto-kun? Kau terlihat gelisah, apakah ada sesuatu yang menggangu mu?" Naruto tersenyum meyakinkan, dia pikir ini sensasi pertama ketika menghadapi Iblis liar, Naruto yakin Rias dan Sona pun mengalami nya.

"Tidak tidak, aku baik baik saja. Tapi ada sesuatu yang ingin aku lakukan, bisakah kalian mendahului ku? Ini tak akan lama." Meskipun masih heran, Rias hanya mengangguk. Ia tidak ingin memikirkan yang tidak tidak, jadi tanpa kata kata lagi, punggung kedua gadis itu menghilang dari balik kegelapan bangunan.

Beberapa menit berlalu, dan apa yang Naruto lakukan hanya diam, tidak ada beda nya dengan patung. Lalu di menit berikutnya, nafas berisi keputusan keluar. "Sejujurnya aku tidak ingin menggunakan nya, namun situasi ini memaksaku. Sungguh sialan."

Kini senyuman nya berlahan membentuk garis datar, pandangan itu menjadi kosong, persis ketika Naruto melakukan apa yang sangat tidak ia sukai, keluar dari prinsip bagaimana Naruto hidup.

Naruto merogoh kantung celana, mengambil sesuatu dan butuh beberapa menit lagi bagi Naruto menyelesaikan urusannya.

Entah ini kebetulan atau bukan, namun apa yang Naruto lakukan ini adalah awal dari rentetan peristiwa besar di masa depan, untuk sekarang, keegoisan Naruto Gremory pertama kalinya di tunjukan. Meski Naruto sadar akan tindakan nya, Naruto rasa tidak ada kesalahan untuk berjaga jaga, demi dirinya sendiri.

Sementara itu dari berbagai tempat. Aktifitas beberapa karakter berjalan seperti biasa, tidak ada firasat apapun, terlebih untuk Grayfia, Sirzechs atau siapapun mereka mengenal baik Naruto Gremory. Mereka memiliki beberapa rencana untuk esok pagi, tanpa mengetahui, ketika pagi tiba, muncul kabar mengejutkan bagi mereka.

.

.

.

.

.

.

Bersambung...

Balasan Review :

RushifaID : Apa yang Naruto lakukan di Kuoh, nantikan aja, Senpai :D aku akan membuat karakter Naruto sedikit berbeda, jadi setiap keputusan yang di ambil bener bener mempengaruhi.

FI-Kun-til : Jabatan Naruto sebagai Uzukage apa yang membuat dirinya menjadi sekarang ini. Untuk Flashback akan ku pikirkan Ok!

Hamzah1, Kokonoe201, hamnurhana : Baiklah, akan aku jawab sekalian. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku rasa ketiga akun ini di pegang oleh orang yang sama dan berhubungan Review juga berisi sama, jadi enak kalo aku jawab sekaligus ok. Pertama, fanfic ini bukan hasil terjemah, itu jelas, kalian bisa mencari nya dari platform apapun dan aku jamin tidak ada. Kedua, aku menggunakan beberapa kalimat formal untuk scane yang tepat. Ngomong ngomong, aku bisa nulis dengan 4 gaya, [ Minim Narasi ] seperti yang ada di chapter 4, [ Minim Dialog ] chapter 1 dan 3, [ Campuran ] seperti yang ada di chapter 1 dan 2 dan [ Non Baku ], aku menggunakannya di Wattpad. Oh ya kata kata yang aku gunakan di sini adalah baku, jadi kesannya emang rada rada kaku. Terima kasih kritikannya, senpai. Aku sadar kalo ga semua pembaca ku nyaman dengan aku mengikuti KBBI.

DEMONICHUNTER-9 : Ini persis seperti apa yang aku pikirkan sebelum nya, sungguh. Tapi ada beberapa tahap untuk itu semua, jadi bagaimana di lihat alur kedepannya, sangat mempengaruhi saran dari mu, senpai.

InfiniteGateNoParty : Yeah aku update, seminggu ga ngapa ngapain jadi aku putuskan buat nulis aja wkwk. Ga nyangka juga bisa selesai dalam seminggu. Dirimu juga update lah, udh lumutan itu...

Reyvanrifqi : Wkwk begitukah? Aku seneng kalo apa yang aku suka sama dengan reader. Baiklah, aku memang suka karakter realistis, tanpa memaksakan apapun. Jadi karena kesukaan ku itu, aku benar benar membuat karakter Naruto di sini sama seperti kesukaan ku.

Gede Laba : Yeah di akhir emang sedikit rumit, aku paham kok. Meskipun sudah aku buat sesimpel mungkin, ada orang yang masih ga paham buat aku semangat buat tambah belajar menyederhanakan kata kata. Terima kasih, senpai.

Guest : apakah Naruto akan luluh? Jawabannya ada pada sifat Naruto. Aku sudah memberikan persis gambarannya pada interaksi Grayfia, senpai.

Dan yah satu lagi chapter panjang selesai. Aku tidak mengharapkan itu, namun apa mau di kata ya kan. Sejujurnya dari awal aku berencana membuat [ Naruto Gremory ] menjadi dua chapter. Namun karena keegoisan ku, maka inilah akhirnya.

Chapter ini ada bukan hanya untuk mengenal Naruto Gremory, lebih dari itu, aku membutuhkan suatu hal untuk perkembangan alur di masa depan. Anyway, aku menjunjung tinggi unsur sebab dan akibat, sesuatu pasti ada akar nya.

Dan yah aku rasa ga ada yang bisa ku katakan lagi, semua sudah aku jelaskan di bagian pembalasan Review. Aku Aquila'Theruch pamit, sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Naruto Gremory End, Next Chapter : Gadis Malaikat Jatuh.