Gureihīrō
Disclaimer: Naruto dan DxD bukan punya saya.
Summary : Dia Pahlawan yang berada disisi Putih, kini dia muncul kembali sebagai Pahlawan Abu-abu yang akan menentukan dirinya sebagai Pahlawan Kedamaian sekali lagi atau Pahlawan yang menghancurkan. Dia dikenal dengan Sebutan Gureihīrō.
Warning!: Author baru, banyak Typo, bahasa kaku.
Shiraki
Rate : M
"Bicara biasa"
'Bicara batin'
"[Bicara Bijuu dan Monster]"
'[Batin Bijuu dan Monster]'
Brak! Bugh! Wush! Blaarrr!
Susano'o yang tidak siap langsung mendapatkan sebuah tendangan lalu disusul pukulan dari Kokabiel yang membuat Susano'o terlempar hingga menghancurkan gedung Sekolah, sedangkan Kokabiel sendiri malah menyeringai senang.
'Jadi ini kekuatan yang Ophis janjikan!? sangat hebat! dengan ini aku yakin bisa membunuh si brengsek itu!' batin Kokabiel dengan senyuman psycho.
Susano'o keluar dari reruntuhan gedung sekolah itu, tampak keadaannya yang cukup mengenaskan karena Kimono yang ia pakai sudah robek parah.
"Sial! aku harus menuntut lebih pada Naruto!" gumam Susano'o sambil meludahkan darahnya, ia menghapus darah disudut bibirnya dengan pandangan kesal.
Kokabiel yang melihat Susano'o mulai bangkit kembali dengan cepat melesat ke arah Susano'o untuk memberikan serangan kembali.
'Tampaknya aku harus mulai sedikit serius,' batin Susano'o sambil melakukan peregangan pada lehernya sesaat, setelah melakukan itu pandangan Susano'o langsung menajam lalu mengayunkan katana nya.
Trank! Blaaar!
Benturan antara senjata Kokabiel serta Susano'o pun terjadi hingga membuat sebuah kawah di bawah mereka.
Trink! Duak!
Melihat senjata mereka beradu, Kokabiel mendorong katana Susano'o lalu melakukan putaran sambil memberikan tendangan pada kepala Susano'o hingga membuatnya terpental kembali.
Tak ingin memberi kesempatan kepada Susano'o, Kokabiel kembali melesat ke arahnya namun tanpa di duga Susano'o menghentikan tubuhnya yang terpental dengan menghentakkan kakinya lalu mengayunkan katananya hingga membuat hempasan angin yang sangat kuat hingga membuat Kokabiel terpental keluar dari reruntuhan sekolah dengan luka di dadanya.
Namun luka di dada tersebut dengan cepat pulih kembali, setelah berhasil berhenti dari terpental nya Kokabiel menyeringai senang karena melihat luka yang dia terima di sembuhkan berkat bantuan kekuatan Ophis.
'Hahaha! Benar-benar kekuatan yang luar biasa?!' teriak Kokabiel dalam hati dengan rasa senang. Kokabiel yang merasakan hawa membunuh dari langit langsung menoleh dan dari langit turun Susano'o dengan sangat cepat di sertai katananya yang di lapisi petir.
Melihat itu, Kokabiel menciptakan dua tombak cahaya lalu menahan serangan Susano'o hingga membuat suara dentuman yang sangat keras.
Kembali Kokabiel mendorong senjata Susano'o dan berniat melakukan serangan yang sama seperti sebelumnya, tapi Susano'o lebih dulu melakukan serangan dengan menendang wajah Kokabiel hingga membuatnya terpental kembali.
Brak! Wushh!
Kokabiel dengan cepat menyeimbangkan badannya agar tidak terlempar terlalu jauh, sedangkan Susano'o yang melihat itu menyeringai.
"Kau hebat dengan kekuatan pinjaman mu itu," Susano'o mengangkat pedangnya keatas, ia menyeringai keji kearah Kokabiel yang juga tersenyum seperti maniak. "Tapi pinjaman tetaplah pinjaman!" lanjut Susano'o yang langsung dengan cepat melesat kearah Kokabiel dengan kecepatan yang lebih cepat dari tadi.
Wushh! Sringg! Srassh! Srassh!
"A-Apa yang terja-Arrrghhhh!"
Susano'o muncul dibelakang Kokabiel yang masih membeku, lalu Kokabiel berteriak kesakitan dibarengi dengan darah yang keluar dari punggungnya dengan deras.
"Hmm? kurasa tadi aku hampir masuk mode True Form?" gumam Susano'o dengan santai, sedangkan Kokabiel entah mengapa merasa terhina dan dia dengan cepat membuat sebuah Light Spear bersiap untuk menusuk Susano'o.
Swuush! Crassh!
Tapi tampaknya itu sudah tidak mungkin, karena dengan cepat Susano'o langsung memotong salah satu tangannya dengan mudah, seolah-olah dia seperti memotong sebuah kertas.
"Mencoba menjadi pengecut heh?" tanya Susano'o menatap Kokabiel yang tampak menyedihkan.
"K-Kau! jika kau sekuat ini! seharusnya kau sudah membunuhku daritadi!"
"Ohh itu? sebenarnya aku ingin membunuhmu, tapi aku tidak diperbolehkan membunuhmu oleh seseorang."
"A-Apa si pengecut Azazel itu yang menyuruhmu!?"
"Kau tidak perlu tau lebih banyak, lagipula aku juga kesini untuk melindungi wilayah kekuasaan Shinto ini." balas Susano'o dengan santai, sedangkan Kokabiel hanya bisa mendecih tak suka.
"Cih! kau berkata seolah kau peduli saja, padahal Fraksi milikmu adalah yang paling pengecut dan tidak peduli dengan umatnya."
"K-Kau!?"
"Apa? itu memang benar bukan? Fraksi mu memang pengecut! hahaha!" ejek Kokabiel yang menghina Panteon Shinto.
Trankk!
Susano'o yang sudah emosi berniat membunuh Kokabiel di tempat sekarang juga, tapi itu tidak terlaksana karena ada yang menahan tebasannya.
Beberapa menit sebelumnya.
Naruto dan yang lainnya yang melihat pertempuran itu dari jauh hanya bisa tersenyum tipis saat pertempuran itu akan selesai, Naruto melihat kearah Amaterasu yang tampaknya tersenyum cerah melihat adiknya itu.
Naruto tersenyum kecil melihatnya, lalu ia melihat kearah Kuoh Gakuen untuk melihat jalan pertarungan itu, tapi tampaknya Susano'o sudah mulai serius, Naruto tau itu karena Susano'o sudah memotong semua sayapnya.
"Hmm tampaknya pertarungan ini sudah selesai?" gumam Naruto pelan, lalu ia melihat kearah Azazel yang sedang menyeringai senang. "Jadi Kokabiel akan sudah dikalahkan bukan? apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Azazel?" tanya Naruto kepada Azazel.
Azazel yang mendengar itu hanya tersenyum kecil, "Kita tak perlu melakukan apapun, Naruto." balas Azazel yang membuat Naruto bingung.
"..."
"Kita hanya menunggu saja, karena Maou Siscon itu yang akan melakukan selanjutnya." lanjut Azazel yang masih melihat kearah pertarungan Kokabiel dan Susano'o, "Oi Naruto, tampaknya sekarang kau harus menghentikan Susano'o," lanjut Azazel membuat Naruto bingung, lalu ia melihat kearah Kuoh.
"Apa maks-!!" ucapan Naruto terhenti saat Susano'o yang ia liat memotong salah satu tangan Kokabiel, tapi ia lebih dikejutkan lagi dengan kuda-kuda Susano'o itu.
"Sial!"
Sringg!
Kembali ke tempat Susano'o dan Kokabiel yang akan dibunuh oleh Susano'o, tapi itu terhenti karena ada yang menahan laju pedang Susano'o yang ingin menebas kepala Kokabiel.
"Hentikan Susano'o! kau akan membuatnya keluar dari rencana kita!" ucap sebuah suara bariton yang khas dan ternyata itu adalah Naruto yang menahan Kusanagi No Tsurugi.
Tentu saja kemunculan Naruto membuat semua iblis muda yang melihat itu terkejut, terlihat ekpresi mereka yang kaget dengan mulut menganga, Naruto yang melihat itu sedikit sweatdrop.
Susano'o yang kesal tapi ia memutuskan untuk menahannya, karena jika ia membuat kesalahan maka itu adalah bencana baginya.
Naruto yang melihat Kokabiel yang memandangnya dengan heran campur terkejut, Naruto langsung memberikan Genjutsu kepada Kokabiel yang langsung membuatnya terdiam dengan tatapan kosong, Naruto melakukan itu karena tidak ingin dia menimbulkan masalah lagi.
"Kau harus mengontrol emosi mu," ucap Naruto kepada Susano'o yang tampak kesal. "Lebih baik kita segera pergi," lanjut Naruto yang menaruh Kokabiel yang pingsan dibahu kanannya, Susano'o sendiri tidak menjawabnya melainkan langsung menghilang pergi meninggalkan Naruto yang hanya bisa terdiam.
'Kamprett! malah ditinggalin,' batin Naruto yang kini gantian dia yang kesal.
"Hah~ lebih baik aku pergi sekarang." hela nafas Naruto, ia berniat pergi tapi itu dihentikan oleh sebuah suara yang memanggilnya.
"Sensei!"
Naruto menoleh kebelakang, ia melihat semua anggota klub penelitian ilmu gaib yang memanggilnya, tampak beberapa dari mereka masih pingsan.
"Ah, aku lupa tentang mereka." gumam Naruto pelan, Naruto dapat lihat wajah bertanya-tanya mereka yang akan memberondong dia dengan banyak pertanyaan.
"Naruto-Sensei! siapa kau sebenarnya?" tanya Rias yang mewakili semua iblis disana akan rasa penasaran mereka.
"Hmm, yang pasti aku manusia untuk hal lainnya kalian akan tau nanti," jawab Naruto tersenyum kearah murid-muridnya itu, "Dan Rias, katakan pada Kakakmu itu jika ini tidak ada hubungannya dengan Azazel."
Rias yang mendengarkan itu entah kenapa hanya bisa diam, entah kenapa mulutnya terasa kaku untuk sekadar memberi jawaban, jadi ia hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Naruto yang melihat itu tersenyum kecil, "Baiklah Sensei pamit dulu, dan juga kalian harus segera pulang kerumah karena jika terlambat di pelajaran Sensei aku tidak segan-segan memberikan hukuman pada kalian." setelah mengatakan itu Naruto langsung menghilang menyisakan sebuah kilat kuning.
Skip Time.
Naruto sedang berjalan dengan langkah santai menuju Sekolah bersama dua wanita didepannya yang sedang asik mengobrol ria, Naruto hanya diam mengikuti mereka dan sesekali menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya seperti sekarang.
"Nee Naru-kun, menurut mu apa kau tidak gegabah menunjukkan dirimu kepada para iblis muda itu?" tanya Gabriel kepada Naruto, sedangkan yang ditanya sendiri menghela nafasnya pelan.
"Hah~ aku tidak berencana untuk menunjukkan eksistensi ku sekarang, tapi mau bagaimana lagi." balas Naruto dengan mengangkat bahunya, Gabriel yang melihat tingkah Naruto hanya tersenyum memaklumi, sedangkan Amaterasu yang dari tadi diam membuat Naruto menaikan alisnya.
"Amaterasu? kau kenapa?" tanya Naruto kepada Amaterasu, tentu saja panggilan Naruto membuat Dewi Matahari itu menoleh kearahnya.
"Eh? apa?" balas Amaterasu bingung, Naruto yang melihat itu menghela nafas pelan.
"Kau kenapa? bukannya masalah keamanan Kuoh sudah teratasi? jadi kenapa kau melamun?"
"Tidak, hanya memikirkan sesuatu." balas Amaterasu ambigu, tentu saja Naruto yang mendengar itu hanya bisa menaikan alisnya bingung.
"Jangan terlalu keras dalam berpikir, atau kau akan keriput." celetuk Naruto tanpa dosa, Amaterasu yang mendengar celetukan Naruto langsung menatap Naruto dengan tajam. Bukannya takut Naruto malah tersenyum kearah Amaterasu yang malah membuatnya malu sendiri.
"Mah mah sudahlah kalian, lebih baik kita bergegas sebelum terlambat untuk mengajar." ucap Gabriel dengan lembut yang membuat Naruto tersentak lalu melihat kearah jam tangannya.
"Sial! aku lupa! aku harus menggantikan Jirei-Sensei sebagai guru olahraga!" ucap Naruto yang langsung berlari dengan kencang meninggalkan Amaterasu dan Gabriel dibelakang, sedangkan kedua wanita itu yang tidak sempat merespon hanya bisa terdiam sambil melihat kearah Naruto dan satu sama lain, lalu mereka berdua tiba-tiba tertawa kecil.
Skip Time
Terlihat Naruto yang mengenakan pakaian olahraga, ia tampak melihat para murid kelas 3 yang semuanya perempuan berlari mengelilingi lapangan.
Naruto mengawasi murid-murid perempuan yang tampaknya mulai kelelahan, dan dari beberapa dari mereka yang berhenti sambil memegangi lututnya.
Naruto yang itu menghembuskan nafasnya, dirinya merasa tidak tega melihat mereka tampak kelelahan, tapi karena dia menggantikan guru olahraganya mau tidak mau dia harus bertindak tegas.
"Hey! Apa yang kalian lakukan! Ayo cepat lanjutkan olahraga kalian!" teriak Naruto sambil mendekati para murid perempuan yang berhenti mengatur pernafasan mereka.
"He-Hehh!!!"
"Y-Yang... benar saja..."
"B-Biarkan... kami istirahat... sebentar!"
"Itu benar... Naruto-kun... Biarkan kami istirahat sebentar... Ya?" ucap Akeno dengan wajah memohon. Naruto yang mendengar itu menatap mereka.
"Kami mohon, Naruto-kun!" ucap para murid perempuan secara serentak
Naruto yang melihat wajah memohon mereka melenguh pelan, tapi dirinyan menggelengkan kepalanya pelan, "Sebenarnya aku mau saja dan tidak tega terhadap kalian, tapi itu sudah perintah dari sang guru, jadi Maaf aku tidak bisa melakukannya," balas Naruto sambil melipat tangannya di dada. Para murid perempuan yang mendengar itu memasang wajah kecewa.
"Ayo! Gerakkan kaki kalian kembali!" Para murid perempuan pun melanjutkan lari mereka dengan wajah kecewa, sementara Rias masih diam di tempat sambil menatap lekat Naruto.
Bayangan kejadian lalu di mana, guru pirang di depannya membantunya mengalahkan Kokabiel terlintas di kepalanya hingga suara pemuda itu menyadarkannya dari lamunannya.
"Ada apa, Gremory-san?"
Rias yang mendengar itu tersentak sesaat lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak...," jawabnya singkat lalu menyusul teman-temannya, sementara Naruto hanya diam menatap Rias lalu berjalan menuju posisi semulanya.
"[Sepertinya dia ingin bertanya tentang kejadian semalam Gaki, kau tau sendiri bukan bagaimana karakteristiknya bukan?]" Ucap Kurama lewat pikirannya, Naruto yang mendengar itu hanya menghela nafas untuk kesekian kalinya.
"Aku tau Kurama, aku tidak sebodoh yang kau kira." balas Naruto sedikit kesal, sedangkan Kurama hanya mengangkat bahunya terserah.
"[Itu bisa terselesaikan nanti, lagipula sebentar lagi si Maou Siscon itu akan mengadakan pertemuan.]" timpal Bahamut dengan nada santai, Naruto yang mendengar itu langsung Sweatdrop karena sepertinya semua pemimpin Fraksi itu aneh semua menurutnya.
"Kau benar," balas Naruto sambil memandang langit biru, lalu ia tiba-tiba teringat sesuatu. "Tunggu, bagaimana dengan para Exorcist itu? sepertinya dia benar-benar menjadi iblis dan bersekolah di kuoh kah? aku ingin tau bagaimana reaksi Gabriel tentang itu." lanjut Naruto sambil melihat kearah gedung sekolah dengan raut wajah masam.
Sementara itu.
Gabriel kini sedang berjalan menuju kelas 2B untuk mengajar, ia kadang juga menyapa para guru yang berpas-pasan dengannya. Gabriel tiba didepan pintu kelas yang akan ia ajar, wanita itu menghela nafas sebentar lalu membuka pintunya.
"Pagi anak-anak!" ucap Gabriel kepada para muridnya, para murid yang awalnya terlihat malas seperti tidak memiliki energi. Tiba-tiba langsung semangat begitu Gabriel memasuki kelas, apalagi para siswa yang tampak membara.
Para murid perempuan juga tampak senang dengan kemunculan Gabriel, tapi ada salah satu murid perempuan yang tampak gelisah saat melihat Gabriel. Murid perempuan berambut biru yang tidak lain adalah Xenovia mantan Exorcist gereja, mata mereka sempat bertemu tapi itu langsung dialihkan karena Xenovia langsung menundukkan kepalanya tidak berani menatap Gabriel.
Gabriel yang menyadari aura gadis itu yang berubah hanya bisa tersenyum kecut, tampaknya karena ucapan Kokabiel tadi malam membuat gadis itu tidak percaya lagi dengan gereja, jadi Gabriel akan memaklumi itu.
"Ara? apa kamu murid baru itu?" tanya Gabriel kepada Xenovia, sedangkan Xenovia yang ditanya seperti itu takut sekaligus bingung karena seolah Gabriel tidak mengenalinya.
Xenovia dengan ragu bangkit dari duduknya, "Sa-Saya Xenovia Quarta, pindahan dari Italia sensei." ucap Xenovia yang sedikit gemeteran, Gabriel yang melihat itupun langsung memasang senyuman cerah.
"Ah souka, kalo begitu perkenalkan nama Sensei Gabriel, Namikaze Gabriel. Kau bisa memanggilku seperti yang lainnya Quarta-san." balas Gabriel dengan senyuman malaikatnya, sungguh ciptaan Tuhan yang paling sempurna, memang tidak mengecewakan.
"H-Ha'i Sensei." balas Xenovia yang langsung kembali duduk.
Gabriel tersenyum mendengar itu, lalu ia menyuruh semua murid untuk membuka bukunya untuk belajar materi kemarin.
Skip Time.
Waktu istirahat sudah tiba, semua murid langsung berhamburan keluar kelas hanya untuk sekedar merilekskan badan atau mengisi perut mereka di kantin sekolah.
Gabriel sendiri sedang membereskan buku-bukunya, sebenarnya Gabriel sudah ditawari bantuan oleh murid-murid laki-laki yang menyimpan maksud tersendiri. Tapi Gabriel menolak mereka dengan lembut dan para murid tidak bisa memaksakan karena mereka tau siapa yang akan berurusan dengan mereka.
"A-Ano..., Gabriel-Sensei." panggil suara feminim, Gabriel yang mendengar ada menolehkan kepalanya ke si pemanggil.
"Hmm? ada apa Quarta-san?" tanya Gabriel kepada gadis berambut biru sebahu itu.
"Maafkan saya Gabriel-sama, saya sudah..." ucap Xenovia sambil menundukkan kepalanya, Gabriel yang melihat itu sedikit terkejut lalu ia melihat kedalam kelas yang sudah kosong tanpa ada orang satupun.
Gabriel kembali mengalihkan pandangannya pada Xenovia yang masih berlutut, "Bangunlah, aku bukan atasanmu lagi." balas Gabriel dengan lembut, Xenovia yang mendengar perkataan Gabriel entah mengapa tiba-tiba merasa bersalah. "Jika kau merasa keputusan mu benar maka lakukan dengan sepenuh hati, lagipula aku juga tidak bisa menyalahkan mu, Heaven juga menyimpan rahasia besar dan jika kau kecewa pada kami juga hal yang wajar." lanjut Gabriel yang berusaha menghibur Xenovia.
"Lagipula aku senang kau baik-baik saja setelah tadi malam," Gabriel berjalan melewati tubuh Xenovia yang terdiam, Xenovia yang mendengar itu tersentak pelan. "Meskipun kau iblis sekarang, tapi aku tetap senang kau baik-baik saja." lanjut Gabriel yang sudah sampai didepan pintu keluar kelas, Xenovia sendiri hanya melihat sosok Gabriel yang membelakanginya.
Tepat saat akan berbelok Gabriel menoleh kearah Xenovia sambil tersenyum tulus, Xenovia yang melihat itu tanpa ia sadari sebulir air mata turun dan meluncur dengan mulus diwajahnya.
Gabriel sendiri yang baru keluar dari kelas melihat sosok Naruto yang tampak menunggu dirinya, Naruto melihat kearah Gabriel dengan sebuah senyuman mentari miliknya yang ia arahkan kepada Gabriel yang juga dibalas senyuman tulus oleh Gabriel.
"Mau pergi makan siang bersama?" tanya Naruto saat Gabriel sudah berada didekatnya, Seraph itu hanya melihat Naruto sebentar lalu menganggukan kepalanya.
"Baiklah, tapi aku akan mengambil bekalnya dulu. Naru-kun kau panggil Amaterasu-chan saja, kita makan siang bersama." balas Gabriel setuju dan menyuruh Naruto untuk memanggil Amaterasu sedangkan dirinya akan pergi mengambil kotak bekal yang sudah dia siapkan.
"Yes Ma'am!" ucap Naruto dengan memberikan hormat, tentu saja kelakuan Naruto membuat Gabriel tersenyum geli.
Malam Hari.
Dirumah Naruto, tepatnya diruang tamu terdapat Naruto dan Kuroka yang sedang dengan santai diruang tamu sambil melihat televisi.
"Hmm? Kuroka? bukankah itu kaos milikku?" tanya Naruto tiba-tiba, karena ia melihat Kuroka yang memakai kaos berwarna oranye yang sedikit kebesaran dan celana hot pans.
"Nyaa?"
"Kenapa kau memakai kaos ku? bukannya kau memiliki baju sendiri?" tanya Naruto sedikit bingung, padahal jika dilihat kaos atau bajunya itu terlalu besar ditubuh Kuroka yang kecil itu. Apalagi Naruto yakin itu pasti sempit dibagian dadanya yang bersize besar itu.
"Hanya ingin saja nyaa~" balas Kuroka dengan nada biasanya, Naruto yang mendengar itu sedikit berkeringat dingin, pasalnya ia tidak memiliki privasi sama sekali dirumah nya sendiri karena tiga wanita itu.
"Hah terserah kau saja," balas Naruto yang sudah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu, Kuroka yang melihat itu hanya memiringkan kepalanya bingung sebelum akhirnya bertanya pada pria pirang itu.
"Kau mau kemana?" tanya Kuroka kepada Naruto yang terus berjalan.
"Kamar mandi, mau ikut?" balas Naruto asal tanpa menghentikan langkah kakinya, andai saja Naruto menoleh maka ia akan melihat wajah Kuroka yang sudah memerah karena jawaban asal Naruto.
"Baka-Naru!"
Naruto sendiri yang mendengar teriakan Kuroka itu hanya cuek bebek, lalu ia berjalan ketempat tujuannya dengan langkah santai.
Naruto yang sudah sampai didepan kamar mandi berhenti sesaat karena ia merasa ada yang menggunakannya, tapi ia yakin itu bukan Gabriel atau Amaterasu karena mereka berdua sedang berada di Fraksi mereka masing-masing.
Naruto yang merasakan hawa kekuatan yang familiar ini hanya menghela nafas. "Kenapa kau ada disini? Tsukoyomi?" tanya Naruto pada sosok wanita dewasa berambut putih didepannya.
"Naru!" tanpa aba-aba wanita berambut putih yang dikenal sebagai salah satu dewa-dewi mitologi Shinto yaitu Tsukoyomi, wanita itu langsung melompat dan memeluk Naruto yang tidak siap yang akhirnya membuat mereka terjatuh dengan Tsukoyomi yang menindih Naruto.
'Bukankah kau terlalu baik? Kami-sama?' batin Naruto sambil melihat ke langit rumahnya.
Other Side.
Disebuah gedung tinggi, terdapat sosok berjubah hitam yang sedang melihat indahnya lampu kota malam hari, sosok itu membuka penutup kepalanya yang ternyata seorang wanita berambut pirang model twintail tersenyum melihat indahnya kota malam.
"Sungguh sangat indah, sangat berbeda dengan tempat ku. Tapi meskipun begitu tempat ini juga berbau busuk karena para ras itu." gumam wanita itu dengan senyuman sedih, Tiba-tiba angin berhembus pelan membuat jubah wanita itu berkibar.
"Apa kau sudah menemuinya?" tanya sebuah suara berat, lebih tepatnya itu berasal dari Katana yang wanita itu bawa.
"Tidak, banyak sekali jejak Chakra di dunia ini." balas wanita itu sambil melihat kearah Katana yang ia bawa.
"Kurasa kau hanya perlu mencari Chakra yang paling murni, Dunia ini sudah tercemar dengan energi gelap." usul suara itu.
"Aku tau, tapi itu bagaikan mencari jarum ditumpukan jerami." balas wanita itu dengan nada lelah, wanita itu lalu duduk dan mengarahkan pandangannya kembali kearah gemerlap kota malam Kuoh. "Lagipula tak perlu terburu-buru, lebih baik kita menikmati pemandangan kota ini dulu." lanjut wanita itu dengan senyuman yang sangat manis.
"Hah terserah kau saja, aku tidak pernah mengerti jalan pikiran mu."
"Hihihi, butuh waktu lama untuk mengerti seorang wanita kau tau?" balas wanita itu sambil tertawa kecil.
"Terserah kau saja,"
Naruto Place.
Naruto sedang duduk di sofa miliknya, tapi dapat terlihat wanita berambut putih yang dikenal sebagai Tsukoyomi dewi bulan duduk disebelahnya sambil memeluk tangan kanan Naruto dan menenggelamkan tangan Naruto ke gunungnya.
Sementara itu Kuroka hanya bisa menatap kesal Tsukoyomi, ia ingin menyingkirkan wanita itu dari Naruto tapi saat tau siapa wanita itu membuat ia harus berpikir kembali.
Naruto memijit pangkal hidungnya pelan untuk meredakan pusingnya, " Sekali lagi ku tanya apa yang kau lakukan disini? Tsukoyomi?" tanya Naruto yang tampak stress.
"Ehh? bukannya sudah kujawab ya?" balas Tsukoyomi dengan menaruh telunjuknya di dagunya.
Naruto yang mendengar itu menghela nafas pelan untuk meredakan emosinya. "Itu bukan jawaban." balas Naruto menatap datar Tsukoyomi, sedangkan Tsukoyomi yang dilihat seperti itu malah tersenyum.
"Ah, tatapan itu, sangat mengintimidasi," gumam Tsukiyomi sambil menjilati bawah bibirnya, "tapi itulah yang aku sukai darimu," lanjut Tsukiyomi.
"Katakan saja, jangan berbelit-belit." ucap Naruto dengan nada kesal, Naruto sendiri memang tidak nyaman dengan Tsukoyomi. Pasalnya jika didepan banyak orang seperti waktu itu di pertemuan Dewa-dewi Shinto ia dulu menganggap bahwa Tsukoyomi adalah wanita tipe seperti Amaterasu tapi lebih dewasa, tapi itu harus ia telan bulat-bulat karena Tsukoyomi memperlihatkan sifat aslinya yang membuat Naruto kaget setengah mati.
"Sudah kubilang aku hanya berkunjung saja, itu tidak adil jika hanya Ane-sama yang tinggal disini!" rengek Tsukoyomi, Kuroka yang awalnya kesal karena Tsukoyomi sang dewi bulan itu terus menempel pada Naruto. Kini ia malah kaget sendiri melihat pribadi Tsukoyomi.
Kuroka pikir jika Dewi bulan Shinto ini adalah sosok yang dewasa dan tenang karena melambangkan bulan, tapi nyatanya kepribadiannya sangat lah berbeda dari ekspetasinya.
"Ano... anda butuh minum?" tanya Kuroka menawarkan minuman, Naruto yang melihat itu memandang Kuroka dengan sebelah alis terangkat.
"Ara kau bisa buatkan aku apa saja kok, Kuro-Neko." balas Tsukoyomi dengan senyuman lembut, sudah Kuroka duga bahwa Tsukoyomi itu wanita yang susah diprediksi, itu terlihat dari ekpresinya yang tadi merengek manja pada Naruto kini malah terlihat seperti wanita anggun berkelas.
Naruto yang melihat ekpresi Kuroka itu hanya bisa memutar matanya malas, "Kau buatkan saja teh, Kuroka." suruh Naruto kepada Kuroka yang hanya menganggukan kepalanya, Kuroka keluar dari ruang tamu meninggalkan Naruto dan Tsukoyomi berdua.
"Jadi ada masalah apa?" tanya Naruto dengan nada datar, Tsukoyomi yang mendengar nada itu langsung mengeluarkan ekpresi yang serius.
"Aku mendapatkan sebuah ramalan," ucap Tsukoyomi dengan nada serius, Naruto hanya diam mendengarkan sampai Tsukoyomi melanjutkan perkataannya. "Jika akan ada sebuah peperangan yang akan terjadi di masa depan," lanjut Tsukoyomi dengan nada serius.
"Hm? lalu apa ada hubungannya dengan ku?" tanya Naruto kepada Tsukoyomi yang terdiam. Naruto melihat kearah luar jendela untuk menunnggu jawaban dari Tsukoyomi, tapi lama menunggu membuat Naruto menaikan alisnya bingung.
Tsukoyomi tampak terdiam tidak membalas pertanyaan Naruto, tentu saja hal itu membuat Naruto bingung dengan kebisuan Tsukoyomi, saat ia melihat kearah Tsukoyomi ia juga melihat ekpresi Tsukoyomi yang tampak sedih entah kenapa.
"Aku melihat kematianmu...,"
TBC?
Author Note : Yoo! Kembali hadir bersama Shiraki Disini! hehe bagaimana kabar kalian? kuharap baik bukan? ah dan juga Author ingin mengucapkan maaf atas keterlambatan update yang hampir 4-5 bulan, maaf udah mulai sibuk di Real life.
Untuk kalian liat diatas itu kini saya menghadirkan Tsukoyomi dan sosok wanita pirang twintail (Ya meskipun pasti pada tau siapa pirang twintail itu.) yang akan meramaikan cerita ini, wanita itu bisa dibilang kisah sosok Alternatif jika mengikuti teori multiverse. Alasannya kenapa saya masukin itu karena musuh Naruto bukan hanya sang 666 dan Khaos Brigade saja, tapi musuh Naruto juga ada yang bisa berpindah-pindah dimensi atau dunia, spoiler Dikit nih ya, sebenarnya Kami-sama dicerita gw sedang sibuk dengan tatanan Dunia yang lebih tinggi jadi ya gitu.
Dah lah cukup sekian aja, toh Author juga gk tau apa yg mau diomongin lagi. Jangan lupa review untuk saran lainnya.
Shiraki Out~
Adieu!!!!!
