Pagi yang cerah menyelimuti Framingham Pigot, Norwich. Suasana desa yang asri dengan lahan hijau yang luas memberikan rasa tenang dan nyaman di sana. Tepat di depan sebuah mansion besar di pinggir desa, terlihat sosok pria muda dengan pakaian olahraganya memasuki kawasan mansion tersebut. Pria itu memiliki rambut berwarna pirang cerah, wajah yang tampak rupawan dengan mata beriris biru layaknya langit cerah.

Ketika ia masuk ke dalam mansion itu, ia disambut oleh sosok makhluk bertubuh pendek dengan telinga yang cukup panjang, hidung mancung dan memakai pakaian layaknya seorang pelayan. "Selamat pagi, Young Master. Lord Minato dan yang lainnya tengah menunggu kehadiran anda di meja makan," ujar makhluk itu.

Pria pirang itu tersenyum dan berkata kepadanya, "Terimakasih Trent. Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menuju ke ruang makan."

Makhluk itu mengangguk dan berkata, "Baiklah, Young Master. Saya pamit undur diri." Setelah itu, ia langsung menghilang dari pandangan pria pirang itu.

Jika kalian tidak mengerti mengapa makhluk seperti Trent bisa ada di dunia ini, maka jawaban yang tepat untuk pertanyaan itu adalah karena ini adalah dunia sihir. Makhluk-makhluk seperti Peri rumah (layaknya Trent), griffin dan lainnya tetap eksis di dunia ini meski dunia juga sudah memasuki zaman modern.

Ah ... kembali ke pria pirang tadi. Setelah ia membersihkan diri dan berganti pakaian, ia segera menuju ke ruang makan dimana keluarganya telah menunggu kehadirannya. Sesampainya di ruang makan, ia melihat empat orang telah duduk di meja makan. Terlihat sosok pria paruh baya duduk di ujung meja. Pria itu memiliki rambut yang sama sepertinya, wajah yang sedikit memiliki kerutan namun masih terlihat tampan dan mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan dalaman putih.

Di sisi samping kanan, terlihat sosok wanita dengan rambut panjang berwarna merah darah. Wanita itu mengenakan gaun berwarna merah tua dengan tambahan aksesoris berupa kalung berwarna emas berhiaskan ukiran berbentuk pusaran air. Di sebelahnya, terlihat sosok perempuan berusia sekitar sebelas tahun yang mengenakan setelan kaus santai berwarna jingga gelap dan celana jeans berwarna abu-abu.

Di seberang kedua perempuan itu, terlihat sosok pemuda berambut merah darah sama seperti wanita dewasa tadi yang mengenakan kaus santai berwarna senada dengan rambutnya, untuk bawahannya, ia mengenakan celana jeans berwarna biru tua. Tak jauh dari meja itu, tampak Trent berdiri dengan troli berisi makanan di sampingnya.

Pria muda itu tersenyum dan berkata kepada mereka, "Selamat pagi semuanya."

Semua orang tersenyum dan membalas sapaannya. Setelah pria itu duduk di sebelah sang pemuda dan Trent menyajikan makanan kepada kelima orang itu, pria paruh baya yang duduk di ujung tengah meja itu bertanya kepada pria itu, "Bagaimana kabarmu di Kementerian, Naruto?"

Pria muda bernama Naruto itu tersenyum tipis seraya berkata, "Kabarku baik, Ayah. Divisi Penelitian Mantra kini tengah mencoba penelitian baru mengenai Mantra Pelacak Sihir Hitam untuk menanggapi berita baru-baru ini."

Pria paruh baya itu mengangguk seraya menghela nafas perlahan. "Tapi aku tidak menyangka bahwa Pangeran Kegelapan akan bangkit kembali, terlebih ketika mengingat apa yang pernah terjadi di masa Perang Sihir yang terdahulu," ujarnya.

Setelah itu, ia melihat ke arah pemuda yang duduk di sebelah Naruto. "Lalu, bagaimana dengan tanggapan teman-temanmu setelah kejadian di turnamen itu, Menma?" tanya pria itu.

"Cukup buruk, Ayah," ungkap pemuda bernama Menma itu. "Banyak orang yang tidak percaya dengan kabar yang diberikan oleh Bocah-Yang-Hidup itu dan juga Profesor Dumbledore mengenai kecelakaan di dalam turnamen itu. Bahkan banyak orang yang mengira bahwa ucapan Harry Potter dan juga Profesor Dumbledore hanyalah bualan belaka."

Wanita paruh baya yang duduk di seberang Menma mulai menanggapi perkataan itu dengan raut cemas, "Apakah kita harus menunda kepergian Naruko ataupun Menma ke Hogwarts, Minato?" tanyanya kepada pria paruh baya itu

Gadis di sebelah wanita itu malah merengek kepada ibunya, "Tapi bu, ini pertama kalinya aku masuk ke Hogwarts. Aku ingin mengikuti jejak Kak Naruto dan juga Kak Menma untuk belajar di sana."

"Tapi mengingat kondisi saat ini -"

"Jangan khawatir, Kushina," tukas pria paruh baya yang bernama Minato itu. "Mereka pasti akan baik-baik saja. Lagipula, Hogwarts memiliki mantra perlindungan yang kuat dan nantinya beberapa anggota The Order juga akan ikut membantu dalam melindungi tempat itu."

Naruto menoleh ke arah Minato dengan pandangan heran. "Bagaimana caranya anggota The Order bisa masuk ke Hogwarts? Seingatku mereka tidak mengajukan perlindungan tambahan kepada Kementerian," tanyanya.

Minato tersenyum tipis seraya berkata, "Tentu saja dengan cara menyusupkan anggota The Order sebagai guru dan staff di Hogwarts agar kita bisa melindungi para murid dan juga Harry Potter yang terutama."

Sambil melahap makanannya, Menma ikut bertanya, "Lalu ... siapakah yang diutus oleh para High Counselor untuk mengemban misi itu?"

"Dua member dari tim terbaik milik The Order, kakakmu Naruto dan juga Sakura Haruno," balas Minato.

Naruto hampir memuncratkan minumannya ketika mendengar jawaban dari Minato. Ia menatapnya dengan pandangan tidak percaya. "Aku?" gumam pria itu.

"Tentu saja." Minato berkata pelan sambil tersenyum kecil. "Lagipula ketiga anggota timmu yang lain tengah menyelidiki kasus penyerangan yang terjadi setahun yang lalu saat turnamen Triwizard. Jadi hanya kau dan juga Sakura yang akan menyusup ke Hogwarts sekaligus menjaga Bocah-Yang-Hidup itu."

Setelah menyelesaikan makanannya, Minato kembali berkata, "Temui aku di ruang kerjaku. Kita akan membahas mengenai permasalahan ini."

Naruto meminum kembali minumannya dengan pelan. Setelah itu, ia berkata kepada Minato, "Baik, Ayah."

Mereka pun melanjutkan waktu makan mereka. Setelah mereka selesai, mereka mulai melakukan kegiatan masing-masing, seperti Minato yang langsung menuju ke ruang kerjanya, Menma yang langsung menuju ke perpustakaan keluarga, Kushina dan juga Naruko yang tengah bersiap-siap menuju Diagon Alley.

Untuk Naruto sendiri, ia mengikuti ayahnya menuju ruang kerja sang ayah. Setelah masuk ke ruang kerja tersebut, Minato duduk di meja kerjanya diikuti Naruto yang duduk di depannya. Naruto pun langsung berkata, "Ayah ... aku setuju kalau aku harus menyusup ke dalam Hogwarts. Namun, apa yang harus aku dan Sakura lakukan di sana? Tidak mungkin kami menyusup sebagai staf, tapi kami tidak mengetahui deskripsi pekerjaan kami."

"Untuk rinciannya, datanglah ke Grimmauld Place nomor dua belas, tempat kediaman dari keluarga Black. Tempat itu saat ini telah menjadi markas milik The Order of Phoenix besutan Albus Dumbledore dan malam ini mereka akan rapat mengenai bangkitnya Voldemort," ungkap Minato. "Kabari juga Sakura Haruno mengenai masalah ini. Karena nanti malam, kalian harus mengikuti rapat dari The Order of Phoenix sebagai perwakilan langsung dari Order milik kita."

Naruto sedikit membungkuk pelan ketika mendengar perkataan Minato. Tak lama kemudian, ia berucap, "Baiklah kalau begitu, saya terima pekerjaan ini, The Flame High Counselor."

"Bagus kalau begitu." Minato menghela nafas perlahan. "Sebenarnya Kakashi dan kedua sahabatmu yang lain tengah menyelidiki kemungkinan munculnya kembali Para Pelindung Fajar dan juga sang Pangeran Kegelapan dari keluarga sahabatmu itu. Namun hal ini hanya diketahui oleh para petinggi dan juga timmu saja, jadi tolong jangan sebarkan ke siapapun."

"Baiklah, Ayah," balas Naruto. "Kalau begitu aku bersiap-siap terlebih dahulu untuk mengantarkan Naruko dan juga ibu ke Diagon Alley."

Minato mengangguk. Setelah itu, Naruto segera keluar dari ruang kerja itu.


MAELSTROM AND THE ORDER OF ELEMENTAL

Let the fire of my soul burn until it lights up my path.

.

Naruto by Masashi Kishimoto

Harry Potter by J. K. Rowling

.

.

Summary : Ketika api perang mulai bergejolak karena kecelakaan di turnamen sihir, Naruto dan The Order of Elemental mulai bergerak untuk mengantisipasi kedatangan dua pangeran kegelapan dan para pengikutnya. Bagaimana cara mereka untuk memadamkan pergerakan dari sang kegelapan?

.

.

I

The Boy and The Orders

.

.


Harry dilanda kebingungan.

Sepanjang liburan ini, ia tidak mendapatkan kabar apapun dari kedua sahabatnya, bahkan oleh Dumbledore, orang yang dapat ia percayai. Saat ini, ia hanya bisa duduk termenung di sebuah ayunan di pinggiran Little Whinging sambil melihat anak-anak kecil bermain dengan riangnya.

Kesedihan terus melanda dirinya, terlebih karena salah satu temannya harus terbunuh di depan matanya. Ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, karena dirinya, Cedric Diggory harus menerima kutukan kematian dari sang Penguasa Kegelapan.

Saat ia masih duduk melamun di atas ayunan, datanglah saudara sepupunya bersama teman-teman satu gengnya. Mereka tampak tertawa girang karena suatu hal. Harry yang melihat itu berkata kepadanya, "Hei, Big D. Habis menghajar anak usia sepuluh tahun lagi?"

"Dia pantas untuk dihajar," jawab saudara sepupunya itu.

Harry mengedarkan pandangannya ke arah mereka, kemudian berkata, "lima lawan satu? Wah bernyali sekali."

"Kau yang tak bernyali," kata sepupunya itu diiringi tawa teman-temannya, "mengigau waktu tidur tiap malam. Setidaknya aku tak takut dengan bantal."

Mereka tertawa dengan nada mengejek. "'Jangan bunuh Cedric!'" Sepupunya itu kembali berucap. "Siapa itu Cedric? Pacarmu kah?"

Tawa mereka makin lama kian keras. "Diam," gumam Harry dengan nada datar, tapi sepupunya mengabaikannya. "'Dia mau membunuhku, Bu!" ujar sepupunya itu, lalu sambil memasang wajah mencemooh, sepupunya berkata, "Dimanakah ibumu? Apakah dia telah mati?"

Tawa teman-temannya semakin lama semakin keras. Harry yang tidak bisa menahan amarahnya, langsung menerjang sepupunya sambil mengacungkan tongkat sihirnya ke dagu sepupunya itu.

Keempat teman dari sepupunya itu sempat sedikit terkejut, namun tak lama kemudian mereka kembali tertawa keras. "Apa yang kau inginkan dengan sepotong ranting itu, hah!?" ujar salah satu dari mereka.

Tiba-tiba saja, awan mulai menutupi cakrawala dan segalanya menjadi gelap. Angin bertiup dengan kencang menimbulkan kesan mengerikan bagi siapapun yang melihatnya. Keenam pemuda itu mulai menunjukkan raut ketakutan.

"Hei Potter, apa kau yang melakukan hal ini?" tanya sepupunya.

"Tidak. Aku tidak melakukan apapun," balas Harry.

Salah satu teman sepupunya bersiap untuk lari dari tempat itu. "Hei Dudley, kita harus pergi dari sini," katanya sambil berlari dari tempat itu diikuti yang lainnya. Harry dan juga sepupunya, Dudley, hanya terdiam sebentar di tempat itu sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut berlari.

Mereka terus berlari hingga berada di terowongan tepat di bawah jalan layang. Ketika mereka berhenti sejenak untuk mengambil nafas, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mencekik Harry dan mengangkatnya ke atas. Sesuatu yang mencekik Harry itu terlihat seperti suatu makhluk yang datang dari kegelapan. Bentuknya serupa dengan manusia, namun seluruh badannya berwarna hitam dan ditutupi oleh kain layaknya jubah usang.

Makhluk itu tidak memiliki wajah, tapi di dalam mulutnya terdapat beberapa benda seperti gigi yang tajam. Ia membuka mulutnya dan seperti ingin menyerap sesuatu dari Harry. "Dudley, larilah," kata Harry kepada sepupunya itu.

Dudley yang melihat keadaan Harry hanya mengangguk gugup dan langsung berlari ke arah mulut terowongan, namun tanpa sengaja ia terpeleset dan jatuh di dekat mulut terowongan itu. Tak lama kemudian, sosok makhluk yang sama seperti yang mencekik Harry saat ini muncul di hadapan Dudley dan menahan tubuhnya.

Kemudian, kedua makhluk itu menghisap sesuatu dari tubuh kedua pemuda itu. Mereka berdua berusaha mengelak, namun mereka tak berkutik dari genggaman makhluk tersebut. Beberapa saat kemudian, Harry berhasil mengangkat tongkatnya dan menusuknya ke kepala makhluk tersebut agar ia dapat terlepas dari cengkramannya.

Setelah berhasil lepas, ia meraih tongkatnya yang sempat terjatuh dan mulai merapalkan mantra, "Expecto Patronum." Lalu, muncul sekelebat cahaya perak menyerang makhluk itu hingga makhluk itu buyar menjadi bayangan, meninggalkan cahaya tersebut di atas kepala Harry.

Setelah berhasil mengalahkan satu makhluk, Harry mengarahkan tongkatnya ke makhluk yang satu lagi untuk menyelamatkan sepupunya. Makhluk itu terdorong keluar karena terjangan cahaya perak tadi dan menghilang ditelan badai yang melanda.

Harry menghela nafas lelah. Ia langsung menghampiri sepupunya untuk mengecek keadaannya. Ketika merasa bahwa sepupunya masih dalam keadaan baik, tiba-tiba ia mendengar langkah kaki yang membuatnya langsung bersiaga. Tak lama kemudian, ia melihat sosok wanita tua yang terbalut jas hujan tengah berjalan menghampirinya.

"Nyonya Figg?" gumam Harry ketika melihat wanita itu. Wanita itu sedikit tersenyum sambil berkata, "Jangan sembunyikan tongkatmu, Harry, hanya untuk berjaga-jaga jika mereka kembali. Lebih baik kita membawa sepupu pulang ke rumah."

Harry mengangguk dan mencoba untuk membopong Dudley. Setelah itu, mereka bertiga segera berjalan menuju ke kompleks perumahan mereka.


.

~Maelstrom and The Order of Elemental~

.


Di depan sebuah apartemen di pinggiran London, tampak dua orang tengah berdiri menatap apartemen tersebut. Dua orang itu terdiri atas seorang pria dengan kisaran umur dua puluh lima tahun, berambut pirang cerah dan berpakaian setelan jas berwarna jingga gelap dan dalaman kemeja hitam. Di sebelah pria itu, terlihat seorang perempuan yang seumuran dengan pria tersebut, memiliki rambut berwarna merah muda cerah dan memakai setelan kaus santai yang dipadu dengan sweater berwarna merah marun dan celana jeans ketat warna merah.

"Apakah benar ini tempatnya, Naruto?" tanya perempuan itu pada laki-laki di sebelahnya.

"Tentu saja, Sakura. Ayahku telah memberikan alamat pasti kediaman Keluarga Black, tapi sepertinya kediaman itu disihir sedemikian rupa sehingga tidak terlihat oleh para muggle," balas pria yang ternyata adalah Naruto itu.

Perempuan bernama Sakura itu menggerutu pelan. Ia berkacak pinggang seraya mengeluh, "Paling tidak butuh waktu yang lama untuk memecahkan sihir semacam itu, kecuali sihir itu dihilangkan oleh pemilik aslinya."

Naruto berpikir sejenak sambil mencubit dagunya. Kemudian, ia berkata, "Kemungkinan Sirius Black ada di dalam dan tengah mengadakan rapat dengan beberapa anggota The Order of Phoenix. Jika kita bisa menghubunginya, kita bisa memintanya untuk membukakan pintu untuk kita."

Sakura sedikit mengeryitkan dahinya. "Apakah kau tahu cara menghubunginya di saat seperti ini?" tanyanya.

Naruto tersenyum jahil dan berkata, "Kau bertanya pada orang yang tepat, Sakura." Setelah mengatakan hal itu, ia mengeluarkan sesuatu dari kantung jasnya. Ternyata yang ia keluarkan adalah sebuah telepon genggam. Ia membukanya dan mengetikkan sesuatu di telepon genggam itu.

Tak lama kemudian, muncul sebuah proyeksi berwarna jingga dari layar telepon itu dan menampakkan wajah sesosok pria dengan rambut panjang sebahu dan memiliki brewok di wajahnya. "Siapa kau?" tanya pria itu.

"Sirius Black, bukan?" kata Naruto. "Aku, Naruto Namikaze. Kami diutus oleh The Order of Elemental karena mendapatkan permintaan dari Albus Dumbledore untuk datang ke pertemuan kalian."

"Ah ... The Order of Elemental, perkumpulan rahasia tertua yang ada di Inggris. Baiklah kalau begitu, akan kubukakan pintu untuk kalian," balas pria itu. Kemudian, proyeksi itu mulai menghilang ketika Naruto menutup telepon genggamnya.

Sakura yang melihat Naruto telah selesai menghubungi Sirius, langsung mencercanya dengan pertanyaan, "Benda aneh apa lagi yang dibuat oleh divisimu?"

"Oh, maksudmu ini?" gumam Naruto sambil menunjuk telepon genggamnya. "Ini adalah Fireplace Communication Network Portable atau FCNP. Bentuknya aku sesuaikan dengan telepon genggam milik para muggle dan itu bisa terhubung langsung pada perapian sihir dimana pun juga, kau hanya perlu mengetikkan koordinat dari tempat yang kau tuju dan dia akan memproyeksikan wajah yang ada di dekat perapian di tempat yang kau panggil."

Kemudian, ia menyerahkan barang itu kepada Sakura. "Itu untukmu, aku masih memiliki stok benda itu. Oh ya, ia juga bisa digunakan antar FCNP, namun kalau antar FCNP, kau hanya perlu mengetikkan nama dari orang yang kau tuju," ujarnya lagi.

Sakura tersenyum kecil dan menerima telepon genggam itu. "Terimakasih, Naruto. Paling tidak benda ini lebih berguna dibandingkan papan sihir yang kau sebut Zeus itu," katanya dengan sedikit mengejek.

"Hei ... sudah kubilang kalau benda itu masih belum sempurna," sergah Naruto. Tak lama kemudian, perdebatan mereka berhenti ketika mereka merasakan getaran yang cukup kuat di dekat mereka. Ketika mereka melihat ke arah depan, terlihat bahwa gedung apartemen di depan mereka seperti bergeser ke arah kanan. Pergeseran itu memunculkan seperti ruangan atau gedung tersembunyi dari apartemen itu.

Ketika semuanya telah berhenti bergerak, Naruto dan Sakura mulai masuk melalui pagar dan mengetuk pintu sejenak. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan tampak seorang wanita tambun dengan rambut keriting panjang berwarna kemerahan. Wanita itu tersenyum ketika melihat mereka. "Anda, Tuan Naruto Namikaze?" tanyanya.

"Betul, Nyonya. Saya Naruto Namikaze dan ini teman saya Sakura Haruno," balas Naruto.

"Kalau begitu, ayo masuk! Kalian sudah ditunggu sama yang lain," ucap wanita itu.

Mereka pun masuk ke dalam menuju ke ruang makan dimana rapat tengah berlangsung. Terlihat beberapa orang tengah duduk mengelilingi meja sambil sesekali berdiskusi mengenai keadaan saat ini.

"Wah ... inikah putranya si Minato, The Yellow Flash of Ravenclaw?" tanya seorang pria dengan rambut coklat pendek dan berbadan jangkung.

Naruto hanya bisa tersenyum tipis dan sedikit menunduk pelan. "Itu benar, Tuan?"

"Lupin, Remus Lupin. Itu namaku," jawab pria jangkung itu.

Saat ia ingin berkata kembali, tiba-tiba sosok pria tambun dengan rambut berantakan berdiri dari tempat duduknya. "Kingsley, Tonks, Podmore, ikut aku untuk menjemput Potter di Little Whinging. Kementerian sihir telah bertindak terlalu gegabah dalam hal ini," ujar pria itu.

Orang-orang yang disebutkan oleh pria itu segera berdiri dari tempat duduknya. Kemudian, mereka segera keluar dari tempat itu. Naruto dan Sakura hanya berdiri di dekat pintu serta mendengarkan adu pendapat dari para anggota order itu.

"Anu ... sebelumnya aku mau tanya, kami mendapatkan kabar bahwa Profesor Dumbledore meminta anggota The Order of Elemental untuk menyusup ke Hogwarts sebagai staf maupun guru di sana. Tapi kami belum tahu, kami menjadi guru atau staf di bidang apa," kata Sakura yang sedikit menginterupsi perkataan mereka.

Sirius yang mendengar perkataan itu segera menjawab, "Ah ... maafkan kami. Kau, Sakura Haruno 'kan? Dumbledore berkata kalau kau akan ditempatkan di unit kesehatan bersama Madam Pomfrey dan juga ditugaskan sebagai guru mata pelajaran Sihir Kedokteran, sedangkan Naruto akan menjadi guru Penelitian Mantra, Rune dan Manipulasi Elemen."

Naruto sedikit meringis pelan ketika mendengar perkataan Sirius. "Wah ... bahan yang kuajarkan banyak sekali," katanya sambil tertawa gugup.

Sakura yang melihat kelakuan Naruto sedikit menepuk panggungnya. "Inikan keahlianmu, jadi jangan ragu-ragu dan gugup begitulah!" serunya.

Naruto menghela nafasnya. "Ya sudah lah ... jadi bagaimana kabar terbaru mengenai pergerakan para Pelahap maut itu?" tanyanya.

Mereka pun kembali berdiskusi mengenai pergerakan para Pelahap Maut dan juga Kementerian Sihir yang terus menyangkal tentang kebangkitan Pangeran Kegelapan. Tiba-tiba saja, seorang pria paruh baya dengan rambut merah kecoklatan berceletuk, "Lalu bagaimana dengan ramalan itu? Apakah Harry harus mengetahui ramalan itu?"

Remus yang mendengarnya langsung membalas, "Sebaiknya jangan dulu. Ketika ia mendengarnya, maka tanggung jawab yang diembannya akan semakin besar. Lagipula umurnya masih belum mencukupi untuk mengetahui hal itu."

"Aku tidak setuju," tukas Sirius. "Bagaimanapun juga, itu adalah hak lahirnya untuk mengetahui hal tersebut. Lagipula, ia sendiri yang ditandai oleh Sang Pangeran Kegelapan untuk menjadi rivalnya dalam perang berikutnya."

"Tapi ia masih anak-anak, Sirius," sergah wanita yang tadi menyambut Naruto dan Sakura.

"Kita tidak tahu ka-"

"Maaf jika aku memotong perkataan anda, Tuan Black," potong Naruto. "Aku tidak tahu ramalan apa yang kalian bicarakan, tapi jika itu memang ramalan yang menyangkut nasib hidupnya, aku sedikit setuju dengan pendapat Tuan Black. Akan tetapi, Tuan Black, resiko dia dilacak oleh Kementerian Sihir masih cukup besar karena dia masih di bawah usia tujuh belas tahun."

Sakura mengangguk. "Saya juga setuju dengan pendapat Naruto. Apalagi saat ini Kementerian Sihir masih belum bisa kita percayai karena mereka terus menyangkal kebangkitan Pangeran Kegelapan, ada kemungkinan beberapa di antara mereka merupakan Pelahap Maut," katanya.

Tak lama kemudian, keempat orang yang pergi untuk menjemput Harry Potter di Little Whinging telah kembali dan pria tambun dengan rambut berantakan yang memimpin penjemputan tersebut ikut berkata, "Kita tidak bisa mengambil resiko itu, Sirius. Kudengar rumor di antara anggota kita bahwa Lucius Malfoy juga masih terafiliasi dengan Pelahap Maut, jadi masih ada kemungkinan para Pelahap Maut itu berhasil menyusup ke dalam kementerian."

Mereka asyik berdiskusi sampai akhirnya wanita yang tadi menyambut Naruto dan Sakura keluar dari ruangan dan menutup pintunya, sepertinya agar siapa pun tidak ikut dalam pembicaraan tersebut.

"Bagaimana dengan Snape? Apakah ada kemungkinan kalau ia juga berafiliasi dengan mereka?" tanya pria yang mengenakan pakaian ala penyihir dari Timur Tengah.

"Si Snivelius itu termasuk salah seorang kepercayaan Dumbledore di Hogwarts, banyak misteri atau suatu hal yang ia urus atas perintah Dumbledore, jadi ada kemungkinan kalau dia bersih," ujar Remus.

"Bagaimana dengan kabar para Auror? Apakah mereka juga ikut menyusut kasus kebangkitan Sang Pangeran Kegelapan setelah Dumbledore dan Potter mengumumkannya saat turnamen berakhir?" tanya Naruto pada mereka semua.

Pria tambun dengan rambut berantakan itu langsung membalas, "Nyonya Amelia Bones sudah memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengusut kasus itu, tapi saat ini kami teralihkan dengan apa yang dilakukan Potter hari ini."

"Masalah apa lagi yang ia dapatkan?" tanya Sakura, "Sepertinya ia tidak pernah lepas dari masalah, apalagi terlibat masalah dengan kementerian."

"Kami mendapat laporan bahwa Harry Potter telah merapalkan mantra Patronus di depan sepupu mugglenya. Oleh karena itu, Wizengamot akan mengadakan sidang mengenai pelanggaran tersebut dengan resiko hukuman ia dikeluarkan dari Hogwarts," ucap perempuan muda dengan rambut berwarna ungu muda.

"Tunggu ... Patronus? Sejak kapan ia bisa merapalkan mantra itu?" tanya Naruto yang terkejut.

Remus yang mendengar pertanyaan Naruto langsung menjawab, "Kira-kira sejak tahun ketiganya, Naruto. Saat itu, ia dan kedua sahabatnya harus terlibat masalah di Azkaban yang membuat mereka terpaksa melawan para Dementor."

"Kalau begitu, bukankah ada kemungkinan kalau Dementor keluar dari Azkaban dan menyerang Harry dan sepupunya itu?" terka Naruto. "Jika melihat kondisi yang sekarang di mana Ia-yang-namanya-tidak-boleh-disebutkan telah bangkit dan pasukan bayangannya telah mulai bergerak, itu bisa saja terjadi."

Tiba-tiba, pria dengan rambut kemerahan menyela pembicaraan mereka, "Lebih baik kita hentikan untuk sementara pembicaraan kita saat ini. Ini sudah waktunya makan malam dan anak-anak pasti sudah menunggu di atas."

Kemudian, ia menyuruh wanita tambun tadi untuk memanggil anak-anak turun untuk makan malam dan pembicaraan itu berakhir.


.

~Maelstrom and The Order of Elemental~

.


Harry sekarang tampak lebih bahagia meski ia masih dirundung rasa kebingungan.

Ketika ia dijemput oleh Alastor Moody dan beberapa orang Auror dari rumah pamannya, ia mendapati kedua sahabatnya tengah berada di Grimmauld Place, kediaman dari ayah baptisnya. Kedua sahabatnya telah menginformasikan bahwa mereka terpaksa untuk tidak memberitahukan keadaan mereka kepadanya atas perintah Dumbledore, karena bisa jadi adanya sabotase informasi yang dilakukan oleh para Pelahap Maut untuk mencelakai Harry setelah turnamen.

Rasa amarah sempat muncul dalam hati Harry mendengar kabar itu, tapi setelah mendengar juga alasan yang diberikan kepadanya, ia mulai meredam amarahnya. Setelah itu, ia sempat bertanya kepada Hermione mengenai orang-orang yang berkumpul di ruang makan. Hermione menjawab kalau mereka adalah bagian dari The Order of Phoenix, sebuah perkumpulan rahasia yang dibentuk untuk berperang melawan Voldemort sejak Perang Dunia Sihir beberapa dekade yang lalu.

Karena rasa penasaran yang muncul dalam benaknya, ia bersama kedua sahabatnya, Ron dan Hermione, serta saudara-saudara dari Ron mencoba untuk mencuri dengar apa yang mereka ributkan di bawah. Namun naas, kegiatan mereka diganggu oleh kucing peliharaan milik Hermione.

Tak lama berselang, mereka semua dipanggil oleh Molly Weasley, ibu dari Ron, untuk turun ke bawah karena makan malam telah siap. Mereka pun turun dan melihat beberapa orang dewasa tengah berkumpul mengelilingi meja makan. Tapi ada yang janggal di pandangan Harry, Ron serta Hermione karena mereka melihat dua orang asing di sekitar meja itu.

Orang pertama adalah sosok pria muda dengan wajah rupawan, memiliki rambut berwarna pirang cerah yang terlihat berantakan, berpakaian setelan jas berwarna jingga gelap dan dalaman kemeja hitam. Di sebelah pria itu, terlihat seorang perempuan yang seumuran dengan pria tersebut, memiliki rambut berwarna merah muda cerah dan memakai setelan kaus santai yang dipadu dengan sweater berwarna merah marun dan celana jeans ketat warna merah.

Hermione, yang sudah cukup lama berada di tempat itu, tahu bahwa mereka bukanlah orang-orang dari The Order of Phoenix. Oleh karena itu, ia bertanya sambil menunjuk ke arah pria pirang itu, "Maafkan aku. Tapi sebenarnya siapa kalian berdua?"

Pria pirang itu tersenyum. "Kami? ... perkenalkan namaku Naruto Namikaze dan rekanku, Sakura Haruno. Bisa dibilang kami adalah sekutu dari The Order of Phoenix dan berasal dari salah satu perkumpulan penyihir rahasia tertua di Inggris selain The Order of Merlin," jawabnya.

Hermione dan Harry tampak mengernyitkan dahi. "'Perkumpulan penyihir rahasia tertua selain The Order of Merlin'? Aku baru mendengar hal itu," kata Hermione.

Pria bernama Naruto itu sedikit menghela nafas lelah dan mengeluarkan tongkat sihirnya. Tongkat itu memiliki panjang kisaran dua puluh lima sentimeter dengan guratan dan uliran mengelilingi tongkat itu. "Akan terlalu lama jika aku menjelaskannya secara normal, jadi mari aku tunjukkan," ujarnya.

Ia mengayunkan tongkatnya dengan pelan dan mulai merapal mantra, "Memoria Proiectura."

Seketika itu juga, ruang makan itu berubah menjadi sebuah ruangan yang sangat luas, bahkan beberapa orang duduk harus merelakan dirinya jatuh di ke lantai batu. Mereka semua memandang ke arah sekeliling dengan pandangan takjub.

Naruto hanya tersenyum kecil seraya berkata, "Selamat datang di markas rahasia The Order of Elemental pada waktu ratusan tahun yang lalu."


.

Bersambung

.


New Spell Unlocked :

Memoria Proiectura (Memory Projection) : Pelantun mantra bisa memproyeksikan ingatan yang dimiliki oleh seseorang atau benda untuk mengetahui masa lalu atau suatu kejadian secara spesifik. Dikembangkan oleh Divisi Penelitian Mantra dari Departemen Misteri Kementerian Sihir Inggris.

Expecto Patronum (Expecting Guardian) : Pelantun mantra ini bisa mengeluarkan atau memanggil inkarnasi jiwa yang menjadi bawaan mereka sejak lahir. Inkarnasi tersebut berasal dari perasaan positif yang terpendam di hati pelantun mantra ini. Efektif untuk melawan makhluk kegelapan seperti Dementor.


Hai semuanya, balik lagi sama saya, no Emperor. Kali ini, saya membawakan fanfic crossover antara Naruto dan Harry Potter. Kalau kebanyakan fanfic NarutoXHarry Potter, jalan ceritanya terlalu condong pada perjalanan Naruto dari dunia ninja menuju ke dunia sihir. Tapi di fanfic ini, saya menyajikan hal yang berbeda dari yang lain, bahkan di sini Naruto akan menjadi seorang guru di Hogwarts.

Untuk sejarah tentang The Order of Elemental dan bagaimana karakter-karakter yang ada di Universe Naruto bisa berada di cerita ini akan dijelaskan pada chapter yang akan datang. Di sini, Naruto diceritakan sebagai seorang Ilmuwan di bidang sihir, ia banyak menciptakan dan mengembangkan mantra-mantra yang ada di sini.

Mungkin itu saja dari saya, nantikan omake yang akan ada di akhir author note ini.

Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya.


Seorang pemuda berambut cokelat terang tengah berjalan santai di jalanan kota London. Pemuda itu mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan dalaman kemeja berwarna magenta. Sesekali ia memandang ke arah sekeliling sambil memotret menggunakan kamera yang dikalungkan di lehernya.

"London, awal tahun 2000-an," gumamnya sambil menggoyang-goyangkan hasil fotonya. "Sepertinya perjalanan ini akan menarik."

Di saku pemuda itu, sebuah kartu dengan lambang tongkat sihir di bagian depannya tampak bersinar sangat terang.