Harry tidak pernah merasa sangat takjub terhadap suatu mantra sebelumnya.
Ketika pertama kali ia terjun ke dunia sihir, ia tidak terlalu menunjukkan rasa kagum ataupun ketertarikan berlebihan terhadap suatu mantra tertentu. Bahkan mungkin terbersit di dalam pikirannya bahwa ia lebih memilih menjadi seorang muggle yang bisa hidup dengan normal daripada terlibat ke dalam dunia sihir yang penuh dengan intrik.
Waktu ia pertama kali merapalkan mantra Patronus, yang merupakan salah satu mantra pertahanan tingkat tinggi, ia juga tidak merasa terlalu bangga karena kalau ia tidak bisa merapalkan mantra itu, ia akan mati sejak lama. Tetapi sekarang untuk pertama kalinya, ia menunjukkan rasa kagum dan penasaran mengenai mantra yang dirapalkan oleh Naruto Namikaze, pria yang menyebut dirinya sekutu dari The Order of Phoenix.
Tapi sebelum ia melontarkan komentarnya, Hermione sudah melontarkannya terlebih dahulu, "Mantra apa itu tadi? Aku baru pertama kali mendengarnya."
"'Memoria Proiectura'? Itu adalah salah satu mantra yang dikembangkan oleh divisiku, Divisi Penelitian Mantra, yang tergabung dalam Departemen Misteri Kementerian Sihir Inggris," jelas Naruto. "Kalian tahu mengenai Legilimens 'kan? Jika Legilimens membuat perapal mantra bisa memasuki pikiran dan ingatan target, maka mantra ini memproyeksikannya ke dunia nyata. Kalau kalian mengetahui benda muggle bernama proyektor, ini juga menjadi dasar dari mantra ini."
"Apakah mantra ini hanya bisa memproyeksikan ingatan seseorang saja atau ada prinsip lainnya?" tanya Hermione lagi dengan antusias.
"Dan kini muncul si Charm Freak," gerutu salah satu saudara Ron, George Weasley, "Seperti biasa."
Saudara kembarnya, Fred Weasley, menganggukkan kepalanya. "Aku masih heran kenapa kau malah masuk ke Gryffindor dan bukannya Ravenclaw," ujarnya.
Hermione sedikit merona. "Tutup mulut kalian, Fred ... George."
Naruto hanya terkekeh kecil. "Kau orang yang menarik, Nona. Mungkin kau bisa bergabung dengan divisi kami jika kau sudah lulus dari Hogwarts," ungkap Naruto. "Oke kembali ke pertanyaan, mantra ini tidak hanya memproyeksikan ingatan dari seseorang saja, tapi juga bisa memproyeksikan ingatan atau sejarah dari benda mati. Ruang lingkupnya bisa sangat luas, tergantung bagaimana konsentrasi dari sang perapal mantra."
Mereka semua mengangguk mengerti. Kemudian Harry berkata, "Anda tadi menyebutkan bahwa kami sekarang berada di markas rahasia The Order of Elemental. Bisa anda jelaskan mengenai hal itu?"
Naruto tersenyum seraya menjawab, "Tentu saja. The Order of Elemental merupakan perkumpulan rahasia dari beragam keluarga penyihir yang merupakan pindahan dari negeri timur jauh, Jepang. Kaum penyihir di Jepang disebut dengan sebutan Onmyouji atau Pendeta, mereka yang memiliki kemampuan untuk mengolah energi spiritual mereka dan menyatu dengan alam."
"Karena terjadi konflik yang menyebabkan perang antar klan atau keluarga di Jepang, beberapa keluarga memutuskan berlayar ke arah barat dan akhirnya mereka sampai di Inggris. Kaum kami diterima oleh para penyihir di sini, bahkan beberapa dari kami akhirnya dilatih langsung oleh Sang Penyihir Agung, Merlin," ujar Naruto sambil menjelaskannya melalui proyeksi beragam kejadian yang muncul di sekitar mereka.
Kemudian ruang markas itu diisi oleh beragam orang yang berkumpul. Mereka tampak memperdebatkan suatu hal yang sangat penting. Suara teriakan dan juga seruan saling bersahutan memenuhi ruangan itu. Sirius yang penasaran dengan apa yang dilihatnya langsung bertanya, "Apa yang mereka perdebatkan?"
"Apakah kalian mengingat mengenai perang antara Merlin melawan Morgana Le Fay, Penyihir gelap pertama di dunia? Tanpa yang kita ketahui, ternyata ada salah seorang dari kaum kami yang menjalani hubungan asmara dengan Morgana Le Fay. Orang itu adalah Madara Uchiha, sang Jenius dari Keluarga Uchiha dan juga murid terpandai yang pernah diajar oleh Merlin. Kami tidak tahu kejadian apa yang membuatnya berubah, tapi setelah perang itu, ia menyatakan perang ke seluruh Inggris dan mengumpulkan para pengikutnya," jawab Naruto.
Suasana berubah menjadi sebuah medan perang di abad pertengahan. Tampak sekumpulan penyihir tengah saling merapalkan mantra untuk menghancurkan lawan mereka. "Perang antara The Order of Merlin dengan para pengikut Madara yang menyebut diri mereka Pelindung Fajar menimbulkan banyak kerusakan hingga mendesak pihak The Order of Merlin. Kaum kami pun membuat sebuah perkumpulan rahasia dan ikut berperang di pihak Merlin. Perkumpulan itu dinamakan The Order of Elemental," jelas Naruto.
Mereka kembali ke ruangan besar tadi. Kini di bagian ujung ruangan, terlihat sebuah meja panjang dengan lima kursi berbentuk singgasana. Di setiap singgasana tersebut, terukir lambang-lambang yang menggambarkan kelima elemen. "The Order of Elemental tersebar di seluruh Britania Raya. Karena luasnya persebaran anggota kami, kami pun membaginya menjadi lima wilayah dan setiap wilayah dipimpin oleh seorang High Counselor. Kelima konselor inilah yang menjadi pemimpin dari The Order of Elemental," ujar Naruto lagi.
Lupin yang masih penasaran juga ikut bertanya, "Bagaimana pembagian wilayah dari The Order of Elemental?"
"Pembagian wilayah The Order didasarkan pada kelima elemen. Region of Wind mengawasi wilayah Wales, Region of Water mengawasi wilayah Irlandia Utara, Region of Thunder mengawasi bagian utara Skotlandia, Region of Earth mengawasi bagian selatan Skotlandia dan Region of Flame mengawasi wilayah Inggris," jelas Naruto.
Lima orang pria duduk di kelima singgasana itu. Mereka mendiskusikan mengenai peperangan antara pengikut Madara dengan The Order of Merlin. "Kita harus segera menyelesaikan peperangan ini," ujar pria yang duduk di singgasana berlambang petir.
"Itu benar ... kekuatan para pengikut Madara semakin lama semakin besar. Terlebih mereka memadukan kemampuan turunan Onmyouji mereka dengan kemampuan sihir yang diajarkan oleh para penyihir di negeri ini," balas juga pria yang duduk di singgasana berlambang batu.
Pria yang duduk di singgasana berlambang gelombang angin menatap pria yang duduk di singgasana berlambang api. "Bagaimana pendapat anda, Tuan Hashirama? Boleh dibilang kekuatan anda sajalah yang bisa menandingi kekuatan sahabat anda, Madara," ujarnya.
Pria bernama Hashirama itu terlihat gusar sambil duduk dengan memangku dagunya. Matanya terpejam dengan dahi berkerut-kerut, berusaha untuk memikirkan solusi yang tepat guna memecahkan masalah ini.
Tak lama kemudian, ia berseru, "Persiapkan orang-orang terbaik kita untuk berperang! Kirimkan pesan kepada The Order of Merlin bahwa kita akan ikut dalam perang ini! Karena bagaimanapun juga, masalah ini memang harus diselesaikan oleh tangan kita sendiri."
Perintah dari Hashirama langsung ditanggapi dengam cepat oleh para konselor lainnya. Mereka segera memanggil beberapa penyihir untuk mempersiapkan diri terjun ke dalam perang.
Naruto segera menjelaskan, "Tuan Hashirama Senju merupakan penyihir paling kuat dan juga mulia dari keluarga kuno Senju. Oleh karena itu, apa yang ia perintahkan akan langsung ditanggapi dengan baik oleh para penyihir The Order."
Kemudian, proyeksi tersebut perlahan mulai memudar. Mereka pun kembali ke ruang makan Grimmauld Place. "Itu saja yang perlu kalian ketahui mengenai The Order of Elemental. Sebaiknya kita kembali membahas mengenai apa yang harus kau hadapi nanti, Potter," ujar Naruto.
Dan mulailah pembahasan mengenai persidangan yang akan dilalui oleh Harry karena ia dituduh merapal mantra sihir dengan sengaja di depan saudara sepupunya yang seorang Muggle.
.
MAELSTROM AND THE ORDER OF ELEMENTAL
Let the fire of my soul burn until it lights up my path.
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Harry Potter by J. K. Rowling
.
.
Summary : Ketika api perang mulai bergejolak karena kecelakaan di turnamen sihir, Naruto dan The Order of Elemental mulai bergerak untuk mengantisipasi kedatangan dua pangeran kegelapan dan para pengikutnya. Bagaimana cara mereka untuk memadamkan pergerakan dari sang kegelapan?
.
.
II
Past, Trial and School
.
.
Hati Harry kembali diliputi kemarahan.
Ia merasa bahwa saat ini Kementerian Sihir semakin tidak waras. Ketakutan dan penyangkalan bahwa Sang Pangeran Kegelapan telah kembali membuat Cornelius Fudge menjadi paranoid dan menyangka bahwa Harry dan Dumbledore ingin menggulingkan dirinya dari tahta Perdana Mentri Sihir.
Entah apa yang sebenarnya ada di pikiran kecil Fudge hingga ia terus menyangkal bahwa Sang Pangeran Kegelapan telah kembali. Tapi ia juga sebenarnya tidak bisa menyangkal bahwa ia terpaksa melanggar peraturan dimana 'para penyihir di bawah umur dilarang untuk menggunakan sihir di depan Muggle'.
Tapi hei ... jika ia tidak merapalkan mantra Patronus, maka ia akan melihat sepupunya mati dan mungkin menjadi Dementor (meski dalam hati kecilnya, ia merasa senang bahwa Dudley mendapatkan pelajaran karena terus membullynya). Apalagi ia juga terancam karena serangan Dementor itu menandakan bahwa Sang Pangeran Kegelapan telah mengincar dirinya.
Kini ia bersama Arthur Weasley, ayah Ron dan Kepala Keluarga Weasley, tengah berjalan di jalanan London untuk masuk ke Kantor Pusat Kementerian Sihir. Sesekali beliau bertanya kepada Harry mengenai teknologi Muggle yang ada di sekitar mereka.
Sesampainya mereka di depan sebuah telepon umum, Arthur menarik Harry masuk sambil berkata, "Ayo masuk! Ini pertama kalinya aku menggunakan pintu masuk tamu."
Arthur mengeluarkan sebuah koin, memasukkannya ke telepon umum dan menekan beberapa tombol. Setelah itu, ruangan telepon umum itu bergerak turun layaknya sebuah lift. Tak lama kemudian, mereka berada di sebuah lorong yang padat dengan banyak orang. Beragam penyihir dari seluruh penjuru Britania Raya tengah berkumpul dan berinteraksi satu sama lain.
Harry mengedarkan pandangannya dengan sedikit kagum. Ia bisa melihat berbagai orang tengah berinteraksi mengenai informasi-informasi terkini di dunia sihir. Ketika ia melihat sebuah stand penjual koran, hatinya kembali membara saat membaca judul yang tertera di koran Daily Prophet dimana ia dikatakan sebagai orang gila karena memberi kesaksian bahwa Sang Pangeran Kegelapan telah bangkit.
Saat mereka melewati poster bergerak dari Cornelius Fudge, Arthur memberikan komentar, "Dasar orang tua paranoid."
Mereka pun bergerak menuju ke elevator untuk bisa menuju ke ruang persidangan. Sesekali Arthur juga ikut menyapa orang-orang yang ada di sana. Ketika mereka sudah masuk ke dalam elevator itu, tiba-tiba saja seorang pria berkulit gelap tengah berlari untuk bisa masuk ke dalam elevator itu.
"Kau hampir terlambat lagi, Kingsley?" komentar Arthur.
"Begitulah, Tuan Weasley," balas pria bernama Kingsley itu. Kemudian, ia membisikkan sesuatu ke Arthur.
Arthur sontak terkejut. "Apakah itu benar?" tanya Arthur. Kingsley hanya mengangguk saja dan kembali berdiri di barisan belakang. Harry yang merasa heran langsung bertanya, "Ada apa, Tuan Weasley?"
"Waktu persidanganmu telah dimajukan," kata Arthur.
Harry sedikit terkejut. "Kalau begitu, kapan persidangannya?"
"Lima menit lagi," ujar Arthur, kemudian ia berkata kepada petugas elevator, "Ke Departemen Misteri."
Petugas itu mengangguk dan mengoperasikan elevator tersebut sehingga bergerak turun. Elevator itu sempat beberapa kali berhenti karena beberapa penyihir turun ke lantai yang berbeda. Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah lorong yang dipenuhi batu-batu marmer berwarna hitam. Arthur mengisyaratkan kepada Harry untuk mengikutinya.
Mereka berdua menyusuri lorong itu. Ketika Harry menoleh ke kiri, tanpa sengaja ia melihat dua orang tengah berinteraksi di depan sebuah pintu yang cukup kuno. Orang pertama merupakan seorang pria lansia yang mengenakan seragam semacam toga yang berwarna hitam polos, sedangkan orang kedua merupakan seorang pria paruh baya dengan rambut panjang berwarna pirang pucat, mengenakan kemeja hitam yang terbalut dengan jubah penyihir serba hitam dan memegang sebuah tongkat bertahtakan berlian.
Mereka tampak sedikit berbisik saat melihat Harry tengah menatap mereka. "Apa yang sebenarnya mereka bicarakan?" batin Harry. Lalu, ia melihat sebuah pintu dengan ukiran kuno berada di belakang kedua pria itu. Pikirannya melayang ke arah mimpi yang ia dapatkan semalam, di mana mimpi itu memperlihatkan pintu tersebut selain penglihatan tentang Sang Pangeran Kegelapan. Tiba-tiba saja, Arthur kembali datang menghampiri Harry dan menariknya agar mengikutinya.
Akhirnya mereka tiba di depan sebuah lorong yang mengarah kepada sebuah ruangan luas, namun mereka berdua berdiri terdiam di depan lorong itu. "Nah ... ini tempat persidangannya. Aku tidak bisa membantumu di dalam, yang bisa kau lakukan hanyalah menjawab pertanyaan yang diajukan Perdana Menteri tanpa harus berbicara sesuatu yang akan menambah berat hukumanmu," ujar Arthur.
"Apakah anda yakin, Tuan Weasley?" tanya Harry.
"Jangan khawatir, lagipula ada istilah kalian para muggle yang mengatakan bahwa 'kebenaran pasti akan terungkap'. Kita hanya bisa berharap pada hal itu," balas Arthur. Ia menunjuk ke arah lorong sambil berkata, "Ayo sana masuk dan jangan khawatir!"
Harry mengangguk dan menghembuskan nafas perlahan. Setelah itu, ia segera melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
.
~Maelstrom and The Order of Elemental~
.
Naruto merasa agak risih dengan pakaian seragam Wizengamot yang seperti toga itu.
Ia terpaksa mengenakan seragam itu karena ia secara tiba-tiba diminta oleh sang ayah, Minato Namikaze, untuk menghadiri sidang Wizengamot sebagai Deputi Keluarga Namikaze. Mengapa ia diminta untuk melakukan hal itu? Hal ini dikarenakan ayahnya harus terbang ke Amerika untuk menjalankan diplomasi dengan Kementerian sihir di sana.
"Sudah kuduga kalau kau akan risih mengenakan pakaian itu, Sepupu." Sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakang Naruto. Ketika ia menoleh, ia melihat seorang pria seumuran dengannya dan memiliki rambut jabrik berwarna merah.
"Arashi ... kau juga ada di sini? Kukira Paman Nagato yang akan datang," balas Naruto kepada pria tersebut.
Pria bernama Arashi itu sedikit menaikkan bahunya. "Ayah masih harus mengurusi upacara inisiasi kuno bagi para penyihir muda keluarga Uzumaki untuk bisa memulai pelajaran teknik segel Fuinjutsu ala para Onmyouji. Oleh karena itu, aku yang ditunjuk oleh ayah sebagai Deputi Keluarga Uzumaki untuk sidang Wizengamot kali ini," balasnya.
Naruto mengangguk. "Upacara itu ya ... kalau itu memang tidak bisa diganggu lagi sih," ujarnya.
Mereka berdua terlihat berbincang ketika masuk ke ruangan sidang Wizengamot dan langsung duduk di kursi dewan tersebut. Tak lama kemudian, masuklah seorang pemuda berkacamata dengan rambut pendek berwarna hitam. Pemuda itu langsung duduk di kursi terdakwa yang ada di tengah.
"Jadi dia yang bernama Harry Potter?" tanya Arashi kepada Naruto.
"Yah begitulah," balas Naruto, "bukannya berita tentangnya sudah menyebar cukup luas?"
"Ehm ... kau tahulah kenapa aku tidak tahu berita terbaru saat ini," balas Arashi.
Naruto memutar bola mata malas. Ia tahu sekali apa yang dimaksud oleh saudara sepupunya. Bisa dibilang sepupunya ini juga gila penelitian sama sepertinya. Bedanya, Arashi suka mengutak-atik teknik segel Fuinjutsu milik Keluarga Uzumaki untuk bisa dikembangkan lebih jauh lagi, sedangkan Naruto lebih sering memodifikasi mantra dan juga memadukan sihir rune dengan teknik Fuinjutsu.
Kemudian, mereka mendengarkan Perdana Menteri Fudge yang tengah membacakan dakwaan kepada Harry Potter mengenai kesalahannya merapalkan mantra di depan seorang Muggle. Harry mencoba untuk memberikan pembelaan, "Saya terpaksa melakukan itu. Saya diserang oleh sesuatu."
"Diserang sesuatu? Apa maksudmu? Kami tidak menerima laporan apa-apa mengenai kriminal yang lepas atau makhluk mistik yang menyerang kota," tolak Fudge.
Beberapa anggota dewan tampak berbisik setelah mendengar pembelaan dari Harry. Lalu, Arashi menunjuk tangannya. "Maafkan saya, Perdana Menteri. Bolehkah saya mengajukan pertanyaan?" tanyanya.
Fudge menoleh ke arah Arashi sembari berkata, "Siapa kau? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya."
"Maafkan saya, saya adalah Arashi Uzumaki, Deputi Keluarga Uzumaki. Kebetulan ayah saya tengah memimpin upacara tradisi keluarga yang tidak bisa ditunda lagi sehingga saya diminta untuk menggantikan beliau," balas Arashi.
Fudge mengangguk. "Baiklah kalau begitu, kau boleh berbicara," ujarnya.
Arashi menundukkan kepalanya dengan hormat, kemudian berkata, "Bisakah kau beritahukan kepada kami apa yang menyerangmu pada insiden waktu itu?"
"Dementor ..." Harry menjawab dengan gugup. "Kami diserang oleh dua Dementor."
Fudge tertawa sinis. "Dementor? ... di Little Whinging? ... itu tidak mungkin. Kau ingin bilang bahwa Dementor tersebut keluar dari Azkaban dan menyerang penduduk?" ujarnya.
"Sayangnya itu benar, Fudge." Tiba-tiba saja, seorang pria lanjut usia dengan pakaian cukup eksentrik memasuki ruangan tersebut. Pria itu mengenakan jubah penyihir berwarna biru keabu-abuan, sebuah topi rajut berwarna senada dengan jubahnya berada di atas kepalanya.
"Dumbledore!" seru Fudge. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku yang akan menjadi pengacara untuk anak ini," balas Dumbledore sambil menunjuk Harry, "dan membuktikan bahwa ia tidak pantas untuk dikeluarkan dari Hogwarts."
Fudge menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi. Wajahnya menampilkan raut sinis. "Kalau begitu, coba buktikan bahwa dia tidak bersalah. Aku mendapatkan laporan bahwa tidak ada saksi mata untuk kasus ini selain sepupu dari Harry Potter yang kini terbaring di rumah sakit," katanya.
Dumbledore menampakkan senyuman kecil. "Sebenarnya kawanku, ada satu orang lagi yang menjadi saksi peristiwa itu," katanya dengan nada yakin.
Secara tak disangka, Dumbledore memanggil seorang wanita lanjut usia yang Naruto kenali sebagai Nyonya Figg untuk menjadi saksi. Kemudian, Nyonya Figg duduk kursi saksi dan dicerca beragam pertanyaan oleh Fudge mengenai insiden tersebut.
Nyonya Figg menjawabnya dengan santai sambil memberikan informasi yang akurat mengenai keberadaan Dementor di Little Whinging. Tiba-tiba saja, seorang wanita yang berada di salah satu kursi dewan berkata, "Apakah anda ingin mengatakan bahwa Kementerian Sihir dengan tidak berkompeten membiarkan Dementor berkeliaran dengan bebas?"
Dumbledore langsung menyahut, "Saya tidak mengatakan bahwa Kementerian sihir tidak berkompeten untuk menjaga Dementor agar tidak berkeliaran bebas di luar Azkaban, Nyonya Umbridge, namun saya ingin mengatakan bahwa ada kemungkinan ini merupakan sebuah perintah penyerangan dari seseorang yang kita takuti selama ini."
Ketika Fudge ingin menyangkal kembali pernyataan Dumbledore, Naruto langsung mengutarakan pendapatnya, "Jika apa yang anda katakan ini benar, Tuan Dumbledore, maka ini bisa menjadi alasan mengapa akhir-akhir ini para penyihir dengan status kriminal berhasil membobol keluar dari Azkaban."
Umbridge yang mendengar pendapat dari Naruto sontak berkata, "Siapa kau? Kau tidak memiliki hak untuk berpendapat seperti itu."
"Maafkan saya, Nyonya Umbridge. Saya Naruto Namikaze, putra dari Minato Namikaze sekaligus Deputi Keluarga Namikaze saat ini," sahut Naruto. "Beberapa penyihir pelacak dan juga Auror dari keluarga kami memberikan laporan bahwa akhir-akhir ini beberapa penyihir berstatus keluar dari Azkaban. Mengingat jika Dementor yang seharusnya menjaga Azkaban malah berkeliaran bebas, hal ini menunjukkan bahwa keamanan Azkaban menjadi berkurang."
"Bisa saja mereka keluar karena ajakan Sirius Black," ujar Fudge, "Sirius saat ini juga menjadi buronan karena berhasil membobol keluar dari Azkaban."
"Keluarnya para penyihir kriminal ini tidak ada sangkut pautnya dengan Sirius, Tuan Perdana Menteri. Menurut data yang dimiliki oleh ayah saya, lonjakan kaburnya para tahanan Azkaban terjadi saat setelah turnamen Triwizard diadakan. Jadi setelah Harry Potter dan Tuan Dumbledore mengumumkan kebangkitan kembali dari Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebutkan, para tahanan Azkaban yang berafiliasi dengan Pelahap Maut berhasil lolos dari Azkaban," balas Naruto. "Bukankah begitu, Nyonya Amelia Bones?"
Wanita yang dimaksud oleh Naruto mengangguk. "Apa yang dikatakan oleh Deputi Naruto itu benar, Perdana Menteri. Data-data kami memang menunjukkan adanya lonjakan buronan yang berhasil membobol keluar dari Azkaban setelah Turnamen Triwizard diadakan," jawabnya.
Fudge langsung merasa mati kutu ketika mendengar pendapat dari Naruto dan juga Amelia Bones. Tangannya memegang erat palu hakim untuk menyembunyikan rasa kekesalannya. Kemudian, Amelia Bones kembali berkata, "Maafkan saya, Perdana Menteri. Lebih baik sekarang kita melakukan voting untuk memutuskan perkara Harry Potter."
Lalu, ia memandang seluruh penyihir yang tergabung dalam Wizengamot seraya berkata, "Bagi anda sekalian yang setuju agar Harry Potter mendapatkan hukuman, silahkan angkat tangan anda."
Beberapa orang termasuk Dolores Umbridge mengangkat tangannya. Kemudian, Amelia Bones kembali berkata, "Bagi anda sekalian yang setuju Harry Potter dibebaskan dari segala tuntutan, silahkan angkat tangan anda."
Hampir semua penyihir termasuk Naruto dan Arashi mengangkat tangannya. Melihat hal tersebut, Fudge mengetuk palunya seraya berkata, "Harry Potter dibebaskan dari segala tuntutan."
Semua anggota dewan langsung membubarkan diri setelah putusan diberikan. Naruto sempat melihat raut kekecewaan di mata Harry ketika Dumbledore hanya berlalu keluar tanpa menyapa Harry. Naruto pun mengajak Arashi untuk menghampiri Harry.
.
~Maelstrom and The Order of Elemental~
.
Lagi-lagi hati Harry diliputi rasa kekecewaan.
Awalnya ia tidak tahu bagaimana caranya dia bisa bebas dari tuntutan Perdana Menteri Fudge dan tetap bersekolah di Hogwarts, namun tak dia sangka bahwa Dumbledore datang dan membelanya. Pembelaan yang diberikan oleh Dumbledore, ternyata disambut juga oleh kenalan barunya, Naruto Namikaze, yang ternyata menjabat sebagai Deputi Keluarga Namikaze.
Hatinya diliputi rasa senang karena ternyata ia memang masih dipedulikan oleh orang lain, terutama oleh orang yang sangat ia percayai, tapi rasa itu langsung sirna ketika ia melihat Dumbledore meninggalkan ruang sidang itu tanpa menyapanya sama sekali.
Ketika kekecewaan masih meliputinya, ia melihat kenalan barunya, Naruto Namikaze, menghampirinya bersama seorang pria seumuran dengan Naruto. Pria tersebut memiliki rambut berwarna merah jabrik dan memakai jubah sihir dewan Wizengamot.
"Ada apa, Harry? Kau tiba-tiba melamun seperti itu?" tanya Naruto.
Harry sedikit menggeleng. "Tidak apa-apa, Tuan Naruto. Aku hanya senang karena tidak jadi dikeluarkan dari Hogwarts," balasnya.
Pria berambut merah di samping Naruto ikut berkomentar, "Jika kau ada apa-apa, kau bisa hubungi Naruto. Aku dengar dia akan mengajar di Hogwarts 'kan? Kau bisa curhat ke dia." Setelah itu, pria itu tersenyum. "Ah ... ya, kita belum kenalan ya. Perkenalkan aku Arashi Uzumaki, Deputi Keluarga Uzumaki, saudara sepupu Naruto dan juga anggota dari The Order of Elemental."
"Salam kenal, Tuan Uzumaki," ujar Harry dengan sopan.
"Kau tidak perlu memanggilku dengan nama keluargaku, panggil saja nama depanku," sahut Arashi.
"Baik, Tuan Arashi," ujar Harry.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan rambut lurus sebahu dan memiliki sorot mata tajam datang menghampiri mereka bertiga. "Sepertinya kau memiliki bakat politik yang sama seperti Minato, Naruto," ujar pria itu.
"Anda bisa saja, Paman Fugaku. Bagaimana kabar Sasuke dan Kak Itachi?" kata Naruto.
"Mereka baik-baik saja. Lebih baik kau segera antarkan kembali Harry ke Grimmauld Place. Arthur Weasley masih memiliki beberapa urusan dengan pekerjaannya sehingga ia tidak bisa menjemput Harry," balas pria bernama Fugaku itu.
"Baiklah, Paman. Kalau begitu, aku dan Harry pamit undur diri terlebih dahulu, Paman Fugaku ... Arashi," ujar Naruto sambil mendekat ke arah Harry.
Arashi dan Fugaku mengangguk. Beberapa saat kemudian, Naruto mengeluarkan tongkat sihirnya. Ia memegang pundak Harry sambil memutar tongkatnya dan merapalkan mantra, "Fulgurationem"
Tak lama kemudian, sebuah huruf rune muncul di bawah kaki mereka dan mereka pun langsung menghilang dari ruangan itu. Beberapa saat kemudian, mereka langsung muncul di ruang makan Grimmauld Place serta mengagetkan Molly Weasley yang baru saja selesai memasakkan makan siang. Untung saja panci yang ia bawa tidak terjatuh ke lantai sehingga mereka masih memiliki makan siang mereka saat ini.
Harry tampak memegang keningnya sambil menggelengkan kepalanya. Matanya terasa berkunang-kunang dan badannya mulai sedikit sempoyongan. Naruto membopong Harry untuk duduk di kursi sambil tertawa gugup. "Hahaha ... maafkan aku, Harry. Bagi orang-orang yang pertama kali melakukan perjalanan dengan mantra ini, mereka memang akan merasakan pusing seperti itu."
"Memangnya mantra apa yang kau gunakan, Naruto?" tanya Molly sambil meletakkan panci berisi sup ke meja makan.
"Fulgurationem. Mantra dimana perapal mantra akan berteleportasi ke tempat yang telah ditandai oleh sang perapal mantra. Dasar dari mantra ini adalah penguasaan pada huruf rune dan seberapa hebat seorang penyihir bisa mengontrol sihirnya dan mengaplikasikannya pada rune itu sehingga bisa diaktivasi secara jarak jauh," jelas Naruto. "Perbedaannya dengan Apparate adalah mantra ini tidak akan terpengaruh pada medan Disapparate sehingga ketika aku perlu berteleportasi ke Hogwarts yang notabene menggunakan medan Disapparate, aku bisa berteleportasi langsung ke Hogwarts tanpa harus ke Hogsmeade terlebih dahulu."
Molly hanya mengangguk pelan, lalu ia kembali menyiapkan piring untuk makan siang tersebut. Naruto merogoh sesuatu dibalik jubah sihirnya. Ternyata ia mengambil sebuah permen dan memberikannya kepada Harry.
"Makanlah, Harry. Permen itu berkhasiat untuk mengurangi rasa pusing karena melakukan teleportasi tadi," ujar Naruto.
"Terimakasih, Tuan Naruto." Harry mengambil permen itu sambil mengucapkan rasa terimakasihnya.
"Sama-sama." Naruto lalu melirik ke arah arlojinya seraya berkata, "Sepertinya sudah waktunya aku kembali ke Mansion. Sampaikan salamku untuk yang lainnya ya. Sampai jumpa di sekolah."
Sebelum Harry sempat membalas, Naruto telah menghilang kembali dalam kilatan emas.
.
~Maelstrom and The Order of Elemental~
.
Jika ada hari yang Naruto benci, maka ia akan langsung menjawab senin pagi. Mengapa? Karena hari tersebut menjadi awal segala rangkaian aktivitas sibuknya pada minggu itu.
Setelah kemarin mengantar Harry pulang ke Grimmauld Place, ia langsung bersiap-siap di Namikaze Manor untuk segera pergi ke Hogwarts mempersiapkan segala kebutuhannya dalam mengajar di sana. Bahkan ia membawa beberapa lembar kertas jimat yang telah ia buat dengan kemampuan Onmyoujinya untuk memperkuat barrier perlindungan yang menyelimuti Hogwarts (bagaimanapun juga, itu tercantum di dalam kontrak antara The Order of Elemental dengan Dumbledore).
Kemudian, ia segera berpamitan dengan keluarganya dan langsung melakukan Apparate ke Hogsmeade. Mengapa tidak menggunakan mantra Fulgurationem? Karena mantra itu memperlukan rune penanda dan ia belum menanamkan satupun rune penanda di Hogwarts sehingga ia tidak bisa menggunakan mantra tersebut.
Kedatangannya ke Hogwarts ternyata bersamaan dengan rekannya, Sakura, dan juga seseorang yang paling tidak ia duga, Dolores Umbridge, salah satu penyihir yang menginginkan Harry Potter di hukum berat beberapa waktu yang lalu. Dari dulu, Naruto selalu menatap curiga penyihir wanita yang satu ini. Aura hitam dan juga kelam menyelimuti wanita yang selalu mengenakan pakaian pink itu, bahkan aksesoris berupa liontin yang sering ia pakai mengeluarkan aura hitam yang dingin nan kejam.
Setelah berbincang sejenak dengan beberapa staf, Naruto mempersiapkan dirinya untuk mengikuti perjamuan awal tahun ajaran baru dimana ia dan juga rekannya, Sakura, akan diperkenalkan sebagai staf dan guru baru untuk tahun ajaran ini. Ia mengenakan kemeja berwarna jingga tua dan sebuah jas berwarna pastel. Kemudian, ia segera masuk ke ruang aula besar dan duduk di sebelah seorang pria paruh baya yang selalu memberikan tatapan tajam.
"Tidak kusangka kau akan kembali ke Hogwarts untuk mengajar, Naruto Namikaze," ujar pria itu.
"Aku juga tidak menyangka, Profesor Snape. Mungkin kita bisa sedikit berdiskusi kembali mengenai ramuan atau mantra seperti saat dulu saya belajar di sini, Profesor, " balas Naruto.
Snape atau Profesor Severus Snape hanya memberikan senyuman tipis. "Aku sedikit menantikannya," tukasnya. Tak lama berselang, murid-murid segera memasuki ruangan aula diikuti dengan rombongan murid tahun pertama yang berjalan masuk diiringi tatapan kagum mereka. Naruto melihat adiknya, Naruko, berada di antara rombongan tahun pertama tengah menatap kagum aula tersebut. Ia hanya bisa tersenyum simpul melihat adik perempuan satu-satunya itu.
Tak lama kemudian, Dumbledore memberikan sambutan kepada seluruh murid dan juga staf yang hadir di aula itu. Ia menyambut kedatangan murid-murid baru setelah mereka disortir ke tiap-tiap asrama. Beberapa saat kemudian, ia berkata, "Untuk tahun ajaran kali ini, kita mendapatkan tiga staf baru dengan dua diantaranya akan mengajar kurikulum baru untuk tahun ini. Yang pertama, Sakura Haruno, dia akan mengajar mata pelajaran Sihir Kedokteran yang akan diikuti oleh seluruh angkatan. Kemudian ada Naruto Namikaze, dia akan mengajar mata pelajaran Penelitian Mantra, Rune dan Manipulasi Elemen yang akan diikuti oleh tahun kelima. Terakhir, ada Nyonya Dolores Umbridge yang akan mengajar kelas Pertahanan Terhadap Sihir Hitam."
Semua murid, khususnya tahun kelima, merasa sedikit senang karena mengetahui mereka memiliki guru baru. Hanya sedikit, karena mereka tidak yakin dengan Dolores Umbridge sebagai guru baru mata pelajaran Pertahanan Terhadap Sihir Hitam. Tiba-tiba saja, Dolores Umbridge berdiri dari tempat duduknya dan memberikan beberapa patah kata sambutan dari dirinya sendiri.
Naruto hanya bisa memutar bola matanya bosan. "Bagus ... sekarang aku memiliki seorang rekan guru yang gila kehormatan," batinnya setelah melihat tindak-tanduk Dolores Umbridge. Semua murid terlihat seperti menahan muntah atau memasang wajah bosan ketika Umbridge berbicara kepada mereka. Setelah Umbridge selesai berbicara, Dumbledore akhirnya membuka jamuan makan malam itu dan setelahnya membubarkan mereka kembali ke asrama masing-masing.
.
Bersambung
.
New Spell Unlocked :
Fulgurationem (Lightning Flash) : Pelantun mantra ini bisa melakukan teleportasi ke setiap tempat yang telah ditandai oleh pelantun mantra. Penanda dari mantra ini adalah huruf rune yang dikatakan memiliki hubungan dengan alam semesta. Kelebihan dari mantra ini adalah pelantun mantra bisa melakukan teleportasi ke tempat yang bahkan dilindungi dengan medan Dissaparate sehingga bisa mengecoh lawan.
Hai semuanya, kembali bersama saya no Emperor. Kali ini saya kembali membawakan cerita dari Maelstrom and The Order of Elemental. Untuk timeline dari cerita ini, saya kemungkinan akan menggabungkan keempat film terakhir dari Harry Potter, The Order of Phoenix, The Half-Blood Prince, serta The Deathly Hollow Part 1 dan 2. Tentu saja dengan twist yang akan saya berikan juga mengenai sejarah The Order of Elemental.
Mungkin itu saja dari saya, saya harap pembaca sekalian terhibur dengan chapter kali ini.
Akhir kata, sampai jumpa di chapter berikutnya.
