Hari-hari di Hogwarts mungkin akan menjadi waktu yang tidak menyenangkan bagi Harry kali ini.
Setiap orang di asrama Gryffindor, selain Hermione dan Weasley bersaudara, menganggap dirinya sebagai seorang pembual. Insiden yang terjadi saat turnamen Triwizard menjadi pemicunya. Pada saat turnamen itu dilaksanakan, banyak orang yang menganggap dirinya curang karena ia bisa mengikuti turnamen tersebut meski ia berada di bawah umur (meskipun kenyataannya ia dijebak oleh Crouch Jr yang menyamar sebagai Alastor Moody dan ternyata ia adalah seorang Pelahap Maut).
Selain itu kematian Cedric Diggory, Sang Juara dari Hogwarts yang sebenarnya, ketika turnamen sudah memasuki babak terakhir serta pengumuman yang ia berikan tentang kembalinya Sang Pangeran Kegelapan setelah turnamen berlangsung juga menambah ketidaksukaan teman-temannya yang lain. Seperti yang kini ia lihat, banyak orang dari asrama Gryffindor tampak menghindarinya, bahkan beberapa orang terlihat berbisik sambil meliriknya.
Hermione yang merasa tidak enak dengan pemandangan yang ia lihat sontak memanggil Harry untuk duduk di depannya, "Harry, sebelah sini!"
Harry hanya bisa tersenyum tipis saat sahabatnya Hermione berusaha untuk menghiburnya dengan memanggilnya. Ia berjalan menuju Hermione dan duduk di depannya. "Sepertinya pelajaran tahun ini akan semakin berat ya," ujar sahabatnya itu sesaat setelah Harry duduk di depannya.
"Yeah ... apalagi pelajaran dari Profesor Namikaze mengenai Penelitian Mantra, Rune dan juga Manipulasi Elemen. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya pelajaran yang akan beliau berikan," tukas Ronald Weasley yang ikut duduk di sebelah Harry.
"Kau kebanyakan mengeluh, Ron," komentar Hermione kepada Ron.
"Aku serius ... pasti mantra yang diajarkan olehnya lebih susah dibandingkan mantra yang diajarkan oleh Profesor Flitwick. Jika dilihat dari mantra yang beliau gunakan saat di Grimmauld Place, aku yakin pelajarannya akan sulit, tapi kuharap tidak sesulit pelajaran Arithmancy karena matematika adalah kelemahanku," ujar Ron lagi. "Apalagi aku sempat mendengar rumor kalau OWL diadakan tahun ini, tentunya aku ingin mendapatkan nilai yang baik pada ujian itu."
"Sayangnya keinginanmu mungkin sulit tercapai, Ronald Weasley." Suara seorang pria terdengar di belakang Harry dan Ron. Ketika kedua pemuda itu menoleh, mereka bisa melihat sosok Naruto yang tengah tersenyum ke arah mereka.
"Profesor Namikaze!" seru ketiga remaja itu yang tidak menyangka kehadiran Naruto secara tiba-tiba.
Naruto sedikit menggaruk rambut kepalanya karena canggung melihat reaksi ketiga muridnya itu. "Kenapa kalian sekaget itu? Apa karena kalian tengah membicarakan tentang seberapa sulit pelajaranku nanti?" tanyanya dengan nada canggung.
"T-tidak, Profesor. Kami terkejut karena tiba-tiba anda sudah berada di belakang saya dan Ron," balas Harry dengan nada canggung juga.
"Begitu," ujar Naruto dengan singkat.
Hermione, yang sebenarnya penasaran dengan pelajaran yang akan diberikan oleh Naruto, mencoba untuk bertanya, "Profesor, apakah anda bisa memberikan sedikit gambaran mengenai pelajaran yang akan anda ajarkan?"
"Aku suka dengan semangat belajarmu, Nona Granger." Naruto berkata sambil tersenyum lebar, "Pelajaranku merupakan keseimbangan akan teori dan praktek. Penjelasan lebih jelasnya akan kusampaikan nanti saat pelajaran, namun yang paling penting, bagi mereka yang tertarik akan sesuatu yang baru, pasti akan sangat berminat pada pelajaranku."
Kemudian, ia memandang ke arah Ron dan berkata, "Tapi resiko pelajaranku masih lebih ringan dibandingkan apa yang nanti diajarkan oleh rekanku, Sakura. Ilmu medis, terutama dalam dunia sihir, memiliki tingkat resiko yang sama dengan sekolah kedokteran para Muggle. Jadi mungkin standar pelajaran kalian juga akan disamakan dengan standar sekolah kedokteran ternama kaum Muggle meski kalian seorang penyihir, karena Sakura juga dulunya merupakan seorang profesor muda di Fakultas Kedokteran Universitas Harvard."
Ketiga remaja itu, khususnya Hermione dan Harry, terkejut mendengar pernyataan dari Sang Profesor muda itu. Mereka tidak menyangka bahwa kedua anggota The Order of Elemental yang membantu mereka memiliki latar belakang yang tinggi seperti itu. Beberapa saat kemudian, Naruto melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa banyak staf, guru serta murid telah memenuhi aula makan itu.
Ia pun tersenyum tipis dan berkata, "Tidak usah terlalu dipikirkan. Untuk saat ini, kalian bisa belajar dengan rajin serta berjaga-jaga untuk tidak terlibat masalah kembali. Sampai jumpa nanti di kelas."
Setelah berkata demikian, ia berjalan menuju ke meja para guru dan duduk di sebelah rekannya. Akan tetapi, beberapa saat kemudian ia berbalik kembali ke arah mereka seraya berkata, "Ah ... aku lupa untuk memberitahukan ini kepada kalian. Aku memiliki kejutan nanti saat kalian masuk ke kelasku. Jadi, jangan sampai terlambat."
Tak lama setelah Naruto kembali berjalan ke meja para guru, Ron mulai mengeluh, "Sepertinya tahun ini akan menjadi tahun terberat bagiku."
"Kalau begitu, lebih baik kita mengambil kelas Ramalan milik Profesor Trelawney," saran Harry pada Ron, "Setidaknya untuk sedikit meringankan otak setelah mendapatkan pelajaran wajib milik Profesor Namikaze dan Profesor Haruno."
Wajah Ron mulai tampak sumringah. "Ide yang bagus, Harry!" Ron berseru. "Kau memang jenius seperti biasanya."
"Yah ... yah ... terserah kalian sajalah." Hermione hanya bisa mengangkat bahunya. "Lebih baik kita habiskan sarapannya dan bersiap untuk pelajaran berikutnya. Selain itu, aku malah jadi penasaran dengan pelajaran Profesor Namikaze. Apalagi beliau adalah seorang Unspeakable."
Mereka pun segera menghabiskan makanan mereka dan bersiap untuk mengikuti pelajaran Naruto.
.
MAELSTROM AND THE ORDER OF ELEMENTAL
Let the fire of my soul burn until it lights up my path.
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Harry Potter by J. K. Rowling
.
.
Summary : Ketika api perang mulai bergejolak karena kecelakaan di turnamen sihir, Naruto dan The Order of Elemental mulai bergerak untuk mengantisipasi kedatangan dua pangeran kegelapan dan para pengikutnya. Bagaimana cara mereka untuk memadamkan pergerakan dari sang kegelapan?
.
.
III
Unexpected Discovery and Puzzle Before Class
.
.
Naruto merasa sedikit beruntung kali ini.
Dengan tidak adanya rapat dewan para guru, ia tidak perlu mendengar ocehan dari Dolores Umbridge mengenai metode pengajaran di kelasnya. Meski ia tahu bahwa suatu saat ia akan ditanyai oleh wanita itu karena dialah pengawas yang ditugaskan Kementerian Sihir untuk mengawasi kegiatan pembelajaran di Hogwarts.
Setelah sarapan, Naruto sempat berbincang dengan Sakura mengenai jadwal pengajaran masing-masing. Kemudian di salah satu lorong, mereka berpisah. Sakura pergi langsung ke Hospital Wings untuk membantu Ms. Pomfrey sedangkan dirinya pergi menyusuri setiap sudut Hogwarts untuk mengetahui letak-letak strategis untuk memasang sistem pelindung baru bagi Hogwarts.
Ia melihat banyak murid mulai berbondong-bondong masuk ke kelas mereka masing-masing. Ia bisa santai saja berkeliaran. Toh, jadwal pelajarannya masih agak siang nanti.
Ketika ia sedang melihat Ms. Hooch tengah mengajar murid tahun pertama dan kedua tentang sapu terbang, ia mendengar sebuah suara berbisik di kepalanya, "Hoam ... tidurku lumayan nyaman. Hei Naruto, bagaimana kabarmu?"
Naruto tersenyum tipis dan berkata dalam hatinya, "Kurama ... kau akhirnya bangun juga. Aku baik. Apakah energimu telah terisi sepenuhnya?"
"Tidak sepenuhnya terisi sih, tapi sudah hampir penuh. Kau tengah ada di mana?" tanya suara yang berbisik di kepala Naruto itu.
"Hogwarts ... aku tengah mendapat misi dari The Order of Elemental untuk melindungi Hogwarts dari serangan Pelahap Maut," ujar Naruto.
Suara yang tadi berbisik di kepala Naruto adalah roh suci yang menjadi pelindung Keluarga Uzumaki. Roh itu bernama Kurama, Sang Rubah berekor sembilan. Dikatakan bahwa Kurama dan kedelapan roh pelindung lainnya merupakan pelindung dari Keluarga Otsutsuki yang menjadi keluarga Onmyouji pertama di Jepang.
Namun karena adanya perpecahan di dalam keluarga tersebut, beberapa anggota keluarga menyatakan keluar dari keluarga tersebut dan membentuk keluarga sendiri. Perpecahan tersebut juga menimbulkan rasa ketidakpercayaan kesembilan roh pelindung kepada Keluarga Otsutsuki hingga menyebabkan kesembilan roh itu berpencar dan menjadi pelindung bagi mereka yang pantas.
Oleh karena itu, Kurama akhirnya menjadi roh pelindung bagi Keluarga Uzumaki karena ia menganggap keluarga tersebut pantas untuk mendapatkan jasanya. Ia telah tiga kali menjalin kontrak langsung dengan anggota Keluarga Uzumaki. Pertama adalah Mito Uzumaki, istri dari Pemimpin pertama The Order of Elemental, Hashirama Senju. Kemudian yang kedua adalah Kushina Uzumaki yang kini menjadi Lady of Namikaze setelah menikah dengan Minato Namikaze, The Flame High Counselor. Terakhir adalah Naruto Uzumaki atau memiliki nama lain Naruto Namikaze, Deputi dari Keluarga Namikaze.
Kurama yang baru saja terbangun tiba-tiba sedikit tersentak ketika merasakan sesuatu yang aneh di sekitar tempat itu. Naruto yang menyadari ada yang aneh dengan Kurama langsung bertanya, "Ada apa, Kurama?"
"Aku merasakan hawa sihir hitam di kastil ini. Apa benar kau tengah di sekolah sihir terkenal macam Hogwarts?" Kurama merespon sambil terus memperdalam sensornya.
"Sihir hitam? Aku tidak merasakan apapun." Naruto mencoba untuk memperdalam sensornya. "Kalau yang kau maksud hawa gelap, terkadang ada beberapa hantu di sini adalah hantu yang membawa rasa dendam atau dia dulunya seorang pembunuh. Mungkin itu yang kau rasakan."
"Bukan Naruto. Ini benar-benar jejak sihir hitam." Kurama tetap bersikeras dengan pendapatnya. "Ada jejak sihir hitam yang sangat tipis, tapi aku juga bisa merasakan ada jejak sihir yang cukup kuat."
Naruto berpikir sejenak mengenai pendapat Kurama. "Kalau apa yang kau katakan ini benar, maka tidak ada salahnya aku mencoba menggunakan mantra ini," ujarnya. Ia pun mengangkat tongkat sihirnya dan merapal sebuah mantra, "Casa Trova!"
Setelah mantra tersebut dirapalkan, muncul beberapa garis berwarna biru keputihan, namun diantara garis-garis tersebut ada tiga garis berwarna hitam dengan satu garis sangat tipis dan dua garis lainnya cukup tebal. "Kau benar, Kurama. Mantra ini menemukan jejak sihir hitam yang kau maksud," ujar Naruto.
"Apakah kau akan menyelidikinya?" tanya Kurama.
"Mungkin sedikit menyelidikinya bisa memberikan petunjuk. Lagipula dengan kondisi saat ini yang kemungkinan berada di ambang perang sihir kembali, kita juga harus waspada," balas Naruto.
Naruto memutuskan untuk mengikuti garis hitam yang tipis terlebih dahulu. Setelah berjalan menyusuri beragam koridor dan anak tangga, akhirnya jejak itu berhenti di depan sebuah anak tangga yang menuju ke Ruang Kepala Sekolah. "Jejak tipis sihir hitam itu berakhir di ruangan Albus Dumbledore? Ini sedikit mencurigakan," ujar Naruto.
"Bisa saja seorang murid atau staf menemukan sesuatu yang berhubungan dengan sihir hitam itu dan melaporkannya ke Albus Dumbledore? Mungkin kau bisa menanyakannya kepada staf lainnya," saran Kurama.
Setelah itu, Naruto memutuskan untuk mengikuti salah satu jejak sihir hitam yang cukup tebal. Ia kembali menyusuri setiap lorong dan anak tangga. Tapi jejak itu berhenti di sebuah dinding. "Dinding? Kau pasti bercanda," komentar Naruto dengan nada sarkas.
Tapi tiba-tiba saja, dinding itu bertransformasi menjadi sebuah pintu. Pintu itu sangat besar, layaknya pintu aula besar yang biasa digunakan untuk makan bersama atau pesta. Naruto sedikit terperangah ketika melihat hal tersebut.
"Well ... sepertinya masih banyak keanehan di Hogwarts yang belum pernah aku jumpai," katanya. Ia pun membuka pintu itu dan melangkah masuk. Ribuan benda yang telah sedikit usang atau tidak terpakai menyambutnya di dalam ruangan yang ia masuki. Naruto bisa melihat beragam kursi bertumpuk-tumpuk, sapu terbang berserakan, alat-alat sihir rusak, dan lain sebagainya.
"Kurasa ini adalah gudang milik Hogwarts, tapi entah mengapa pintu menuju ruangan ini seperti tersembunyi," ujar Kurama yang ikut mengamati keadaan sekitar melalui penglihatan Naruto.
Naruto hanya bisa mengangkat bahu. "Entahlah Kurama ... selama aku belajar di Hogwarts, baru pertama kalinya aku menemukan ruangan ini. Mungkin agak memungkinkan juga jika seseorang menyembunyikan suatu benda yang berhubungan dengan sihir hitam di sini," tukas Naruto.
Naruto pun mulai mencari di antara tumpukan benda-benda yang ada di dalam ruangan itu. Dengan bantuan mantra sihirnya yang masih bekerja, ia menemukan sebuah tiara di antara tumpukan kursi yang menjulang tinggi di ruangan itu.
"Sebuah tiara? Mengapa sihir hitam itu berasal dari benda ini?" pikir Naruto dalam hatinya. "Sepertinya membawanya ke Profesor Orochimaru adalah hal yang terbaik."
Ia pun kembali mengangkat tongkat sihirnya dan merapal mantra, "Fulgurationem!" Setelah merapal mantra itu, Naruto menghilang dalam kilatan petir.
.
~Maelstrom and The Order of Elemental~
.
Di salah satu sudut Kota London, muncul kilatan petir yang mengeluarkan sosok Naruto. Ia berdiri di bantaran Sungai Thames tepat di bawah jembatan. Ia meraba dinding di dekat situ sembari berkata, "Patefacio."
Dinding bata itu mulai bergerak pelan membentuk pola seperti mozaik sebelum akhirnya meninggalkan sebuah lorong yang lebar dan lumayan gelap. Ia mengangkat kembali tongkat sihirnya dan berucap, "Lumos." Sesaat setelah itu, muncul cahaya dari tongkat sihirnya dan ia pun melangkah masuk ke dalam lorong itu.
"Aku masih penasaran ... mengapa pria itu suka bereksperimen di tempat gelap dan sempit seperti ini?" Setelah beberapa saat, Kurama mulai kembali berkomentar.
Naruto hanya bisa menaikkan bahunya seraya membalas, "Mungkin untuk mengusir orang-orang yang tidak berkepentingan dan mengganggu dirinya dalam melakukan penelitian?"
Kurama terdiam sejenak. "Masuk akal juga," balasnya. Mereka menyusuri lorong gelap itu. Terkadang suara tetesan air menggema di sepanjang lorong itu. Setelah berjalan cukup lama, Naruto menemukan sebuah pintu besar layaknya pintu yang ada di Hogwarts. Naruto mendorong pintu itu dan menemukan sebuah ruangan layaknya ruang tamu di sebuah apartemen.
Tiga sisi ruangan itu dipenuhi dengan rak-rak buku. Di depan salah satu rak tersebut, terdapat sebuah meja yang dipenuhi dengan beragam dokumen atau berkas penelitian. Di sisi tengah ruangan, terdapat sebuah perapian yang masih menyala sedangkan di depan perapian tersebut terdapat sebuah meja dan sofa santai. Selain itu, ada sebuah pintu yang mengarah ke ruangan lain.
Naruto memadamkan cahaya di tongkat sihirnya, lalu ia memutuskan mencari pemilik ruangan ini. "Profesor ... apakah kau ada di sini?" panggil Naruto. Tak lama setelah itu, pintu yang berada di sudut ruangan tersebut terbuka dan menampilkan sosok pria dengan rambut panjang berwarna hitam dan jubah sihir berwarna putih. Pria itu tampak lebih muda meskipun sebenarnya dia memiliki usia yang sama dengan kakek Naruto maupun mentornya. Pria itu juga membawa sebuah cangkir di tangannya.
Naruto sedikit terkesiap dengan penampilan pria itu. "Ah ... apakah proyek ramuan keabadian anda membuahkan hasil, Profesor Orochimaru?" tanya Naruto.
Pria itu tersenyum tipis seraya berkata, "Dibandingkan ramuan keabadian, aku lebih suka menyebutnya ramuan peremajaan, Naruto. Tidak ada yang benar-benar bersifat abadi selain kekekalan energi."
Setelah berkata demikian, pria itu berjalan ke arah sofa dan duduk dengan santai. Ia mempersilahkan Naruto seraya berkata, "Maafkan aku kalau tidak menjamumu, Naruto. Kedatanganmu ke mari tidak dapat kuprediksi."
"Tidak apa-apa, Profesor. Saya juga tidak akan lama di sini karena saya masih memiliki jadwal mengajar di Hogwarts," balas Naruto. Ia menunjukkan tiara yang ia temukan seraya berkata lagi, "Saya hanya ingin tahu mengenai tiara ini. Saat Kurama baru saja terbangun, ia merasakan hawa sihir hitam di sekitaran Hogwarts. Kami berdua menyelidiki hawa itu hingga akhirnya kami menemukan tiara ini di dalam sebuah ruangan tersembunyi di Hogwarts."
Orochimaru mengambil tiara itu dari tangan Naruto sambil sedikit mengobservasinya. "Aku sepertinya sedikit mengetahui tentang tiara itu. Coba aku lihat dulu di arsipku," ujarnya.
Pria itu berdiri dari tempat duduknya dan mengambil salah satu buku dari dalam rak. Ia membuka lembar demi lembar halaman di buku itu hingga akhirnya ia menemukan halaman yang ia cari.
"Ah ... tiara itu ternyata adalah artefak milik salah satu pendiri Hogwarts, Rowena Ravenclaw. Tapi di buku ini tertulis bahwa tiara itu tidak pernah memiliki atribut sihir hitam," gumam Orochimaru. "Hanya saja di sini juga tertulis bahwa tiara itu telah hilang dan belum pernah ada yang menemukannya. Aku takjub kau yang menemukannya, Naruto."
Naruto tertawa gugup sambil mengusap tengkuknya. "Aku hanya menggunakan mantra pelacak sihir hitam yang kubuat untuk menemukan jejak sihir yang dimaksud oleh Kurama, tidak kurang tidak lebih," balasnya.
Orochimaru menutup bukunya dan berujar, "Kalau begitu ... mari kita cari tahu, mengapa tiara ini memiliki atribut sihir hitam." Ia pun menarik tongkat sihirnya dan merapal mantra, "Observo!"
Tiara itu melayang di udara dan memancarkan cahaya biru. Namun tiba-tiba sebuah cahaya hitam terpancar dari tiara itu, seolah-olah menolak mantra sihir yang dirapalkan oleh Orochimaru. Orochimaru yang rasa penasarannya masih tinggi, akhirnya merapal mantra berikutnya, "Vestigo!"
Cahaya biru kini memancar dengan sangat kuat dari tiara itu. Cahaya hitam yang sebelumnya menolak, akhirnya sedikit teredam oleh cahaya mantra Orochimaru sehingga informasi mengenai atribut di dalam tiara itu masuk ke otak Orochimaru.
Setelah beberapa saat, Orochimaru tersentak dan menghentikan mantranya. Cahaya biru yang sebelumnya memancar langsung lenyap dari pandangan. Tampak Orochimaru juga sedikit terengah-engah karena kelelahan.
Naruto beranjak berdiri dan mendekati Orochimaru. "Kau tidak apa-apa, Profesor?" tanyanya.
"Aku tidak apa-apa." Orochimaru menjawab sembari menghembuskan nafas perlahan. "Tidak kusangka benda itu merupakan media dari mantra terlarang."
"Mantra terlarang?" gumam Naruto penuh tanda tanya.
"Naruto ... apakah kau mengetahui tentang mantra Hocrux?" Orochimaru bertanya dengan nada sedikit ketakutan.
Naruto mencoba untuk menggali pikirannya. "Kalau tidak salah, Hocrux adalah mantra yang membagi-bagi jiwa penggunanya agar bisa mencapai keabadian. Apakah aku benar?"
Orochimaru mengangguk. "Hocrux memanglah mantra untuk membagi-bagi jiwa menjadi beberapa bagian untuk mencapai keabadian. Namun mantra itu memperlukan medium yang nantinya menjadi wadah bagi jiwa yang terbagi itu." Kemudian ia melirik ke arah tiara yang kini tergeletak di atas meja. "Tiara itu merupakan salah satu media atau wadah dari jiwa pengguna mantra Hocrux. Kemungkinan ia dicuri di masa lalu untuk dijadikan wadah itu, lalu ia sembunyikan di Hogwarts sehingga auror tidak akan tahu tentang hal itu."
Naruto mulai sedikit gugup. "Lalu ... apakah anda tahu siapa yang menggunakan mantra ini?" tanyanya.
Orochimaru mengangguk gugup. "Melihat tingkat kelamnya sihir hitam yang ada di dalam benda itu, maka aku dapat menyimpulkan bahwa tiara itu berisi jiwa Sang Pangeran Kegelapan, Voldemort."
Naruto benar-benar terkejut sekarang. Ia tidak menyangka kalau ia menemukan petunjuk mengenai Pangeran Kegelapan. "Anda harus segera melaporkan hal ini kepada The Order, Profesor. Ini bisa menjadi petunjuk sekaligus senjata untuk melawan Pangeran Kegelapan ketika ia melakukan pergerakan," ujar Naruto.
"Aku tahu itu." Orochimaru berkata dengan tegas. "Sepertinya kau juga perlu menyelidiki Hogwarts itu sendiri, Naruto. Tidak mungkin sekolah sihir teraman di dunia, bisa kecolongan dengan adanya benda sihir semacam Hocrux tersimpan di sana."
"Saya akan mencoba untuk menyelidikinya, tapi sepertinya saya harus segera masuk ke kelas karena pelajaran saya akan segera dimulai." Naruto kemudian membungkuk seraya berkata, "Terimakasih atas bantuan anda, Profesor."
Tak lama setelah itu, Naruto menghilang dalam kilatan petir, meninggalkan Orochimaru yang masih sibuk menghubungi The Order of Elemental tentang apa yang ia temui dengan Naruto.
.
~Maelstrom and The Order of Elemental~
.
Harry dan kedua sahabatnya tampak terperangah di depan pintu kelasnya Naruto.
Saat ini, pintu itu tertutup rapat dengan sebuah lukisan seorang pria mengenakan toga dan memegang sebuah gulungan tergantung di atas pintu. Sudah beberapa kali mereka mencoba untuk membuka pintu, tapi tidak pernah berhasil. Beberapa murid lain, seperti Draco Malfoy, mencemooh mereka karena tidak bisa membuka pintu itu, namun di saat mereka mencoba untuk membukanya, mereka juga tidak bisa.
Hal itu terus berlanjut hingga hampir semua murid yang seharusnya masuk ke kelas Naruto hanya bisa menunggu di depan pintu masuk.
"Apakah Profesor Namikaze tengah keluar sehingga beliau tidak bisa mengajar hari ini?" komentar Ron setelah beberapa saat.
"Itu mustahil, Ron. Lagipula tadi pagi Profesor sudah memberitahu kita bahwa ia akan mengajar hari ini," tukas Hermione.
"Mungkin saja, Hermione. Bisa jadi beliau menerima suatu kabar mendesak yang mengharuskan dirinya pergi sebentar dari Hogwarts." Harry mencoba mengutarakan pendapatnya.
Beberapa murid mulai berbisik-bisik dan saling berargumen mengenai ketidakhadiran Naruto di hari pertamanya mengajar. Hal itu sepertinya terdengar di telinga Dolores Umbridge karena beberapa saat kemudian wanita itu muncul di koridor menuju kelas Naruto bersama Profesor McGonagall.
"Aku tidak menyangka bahwa Profesor Namikaze bisa-bisanya tidak hadir pada saat mengajar tanpa pemberitahuan sama sekali," ujar Umbridge dengan nada sedikit angkuh.
"Kupikir Profesor Namikaze memiliki alasan tertentu sehingga ia tidak bisa hadir," ujar McGonagall.
"Apapun alasannya, ia akan menjadi bahan evaluasi langsung dari Kementrian Sihir," balas Umbridge.
Tiba-tiba saja, lukisan yang ada di atas pintu menjadi hidup dan berkata, "Selamat datang para murid di kelas Penelitian Mantra dan Manipulasi Elemen. Sebelum kalian memasuki ruang kelas, Profesor Namikaze ingin sedikit menguji kinerja otak kalian terlebih dahulu dengan sebuah puzzle."
Pria yang ada di lukisan itu kembali berkata, "Setiap kalian ingin memasuki kelas ini, Profesor akan memberikan puzzle yang berbeda setiap harinya. Untuk hari ini, aku akan memberikan puzzle teka-teki. Siapapun yang bisa menjawab maka kalian semua boleh masuk dan yang menjawab akan mendapatkan sepuluh poin bagi asramanya, namun jika tidak ada yang bisa menjawab, maka poin asrama kalian akan dikurangi sepuluh poin dan kalian dianggap tidak mengikuti kelas."
Kemudian, ia mengangkat gulungan seraya berkata, "Aku adalah Kabut dan Persimpangan. Pencipta yang tidak nyata menjadi nyata. Hanya dengan cahaya oborlah, jiwa kalian tidak akan tersesat. Waktu kalian dua puluh menit dimulai dari sekarang."
Semua murid langsung berpikir untuk memecahkan puzzle tersebut. Di antara murid-murid tersebut, hanya Menma yang menghela nafas lelah. "Aneh-aneh saja kau, Kak," gumamnya sambil mengangkat tangannya.
Setiap orang menoleh ke arah Menma, begitupula pria dalam lukisan itu. "Apakah jawabanmu, Anak Muda?" tanya pria itu.
"Jawabannya adalah Hecate, Dewi Ilusi dan Sihir Yunani," jawab Menma dengan nada malas.
Pria dalam lukisan itu mengusap janggutnya, kemudian berkata, "Kau benar, Anak Muda. Sepuluh poin untuk Ravenclaw."
Murid-murid dari Ravenclaw tampak bersorak riang karena keberhasilan Menma. Mereka berbondong-bondong bertanya kepada Menma, "Darimana kau tahu jawaban dari teka-teki itu?"
"Kakakku membaca beragam literatur, salah satunya literatur tentang mitologi Yunani. Hecate dikatakan sebagai Dewi Ilusi karena ia bisa memanipulasi ilusi kabut sehingga banyak menyesatkan mereka yang masih hidup agar tidak pernah menginjakkan kaki di Underworld. Satu-satunya cara untuk bisa melewati ilusinya adalah menggunakan cahaya obor yang menjadi simbol Hecate," jelas Menma dengan malas. "Selain itu petunjuk lainnya ada pada pria di lukisan itu. Ia adalah Socrates, seorang filsuf dari Yunani Kuno."
Setelah Menma menjelaskan jawabannya, pintu ruang kelas tersebut terbuka. Seluruh murid yang menunggu di depan ruang kelas langsung memasuki ruang kelas itu, tak terkecuali Profesor McGonagall dan Profesor Umbridge. Ruangan kelas itu memiliki kursi panjang bertingkat yang berbentuk setengah lingkaran. Meja milik profesor berada di tengah.
Harry memandang ke meja profesor dengan pandangan heran. "Profesor tidak ada di sini. Ke mana ia pergi?" batinnya.
Namun sebelum ada yang membalas komentar tersebut, tiba-tiba muncul kilatan cahaya dari arah meja profesor dan tampaklah sosok Naruto yang muncul di balik kilatan cahaya itu. Ia datang sembari membawa beberapa buku tebal di tangannya. Dengan wajah tanpa dosa, ia berkata sambil menyengir, "Selamat datang di kelasku, Murid-murid sekalian."
Kemudian secara tanpa sengaja, Naruto melihat Profesor McGonagall dan Profesor Umbridge berada di dalam kelasnya. Ia langsung bertanya, "Ah, Profesor Umbridge dan Profesor McGonagall. Ada apa anda sekalian datang ke kelas saya?"
"Kami ingin mengetahui mengapa kau harus mengunci pintu kelasmu dan memberikan puzzle kepada murid-murid agar bisa masuk ke kelasmu?" tanya Profesor McGonagall dengan nada penasaran.
"Ah begitu ..." Naruto meletakkan buku-buku yang ia bawa di aras meja. " ... seperti yang anda ketahui, pelajaran yang saya ajarkan adalah Penelitian Mantra, Sihir Manipulasi Elemen serta Sihir Rune. Untuk senantiasa memahami ketiga pelajaran ini, para murid harus terus memutar otaknya agar mendapatkan hasil yang diinginkan, terlebih Penelitian Sihir yang memerlukan pemahaman tinggi mengenai fenomena alam maupun sihir. Oleh karena itu, aku menggunakan puzzle itu untuk senantiasa merangsang otak tiap murid sebelum masuk ke kelasku," jelas Naruto.
"Apakah itu efektif? Karena kalau tidak, maka itu hanya membuang waktu yang dimiliki oleh tiap murid untuk menerima pelajaran yang mungkin lebih berguna," tanya Profesor Umbridge.
Naruto tersenyum tipis. "Aku hanya bisa bilang hal ini cukup efektif, karena divisi kami selalu menggunakan puzzle untuk bisa masuk ke laboratorium. Anda bisa tanyakan kepada Profesor Orochimaru yang menjadi kepala divisi kami," jawabnya.
Kedua profesor tersebut hanya terdiam mendengar penjelasan profesor muda tersebut. Tak lama kemudian, Profesor McGonagall berkata, "Baiklah kalau begitu, Profesor Namikaze. Mungkin untuk rincian lainnya akan saya tanyakan bersama Profesor Dumbledore setelah jam pelajaran anda nanti. Jadi saya dan Miss Umbridge pamit undur diri terlebih dahulu."
Naruto mengangguk sebagai balasan dan kedua profesor wanita itu pergi meninggalkan kelasnya. Naruto sedikit menghela nafas lega sesaat setelah kepergian kedua wanita itu.
"Kau beruntung kali ini, Naruto." Kurama bersuara di pikirannya.
"Tentu saja, tapi kita tetap harus waspada dengan Dolores Umbridge. Kemungkinan dia berafiliasi dengan Pelahap Maut cukup tinggi, terlebih ia juga pengagum supremasi penyihir berdarah murni layaknya kebanyakan Pelahap Maut," komentar Naruto lewat batinnya.
Setelah sedikit membalas perkataan Kurama, Naruto memulai pelajarannya.
.
Bersambung
.
New spell unlocked :
Casa Trova (Seek and Find) : Pelantun mantra bisa menemukan jejak yang berguna untuk pencarian. Setelah dilantunkan, jejak-jejak mantra akan muncul membentuk suatu garis yang bisa menjadi petunjuk bagi pelantun mantra. Mantra ini diciptakan oleh Naruto Namikaze untuk menemukan jejak atau bekas sihir yang digunakan oleh penyihir kriminal atau pengguna sihir hitam.
Patefacio (Be Opened) : Mantra yang digunakan untuk membuka pintu-pintu yang tersembunyi.
Lumos (Light) : Pelantun mantra bisa menciptakan cahaya di ujung tongkatnya untuk menerangi penyihir di tempat yang gelap.
Observo (Observe) : Mantra yang digunakan untuk mengetahui gambaran umum mengenai suatu benda atau objek sihir.
Vestigo (Investigate) : Mantra yang digunakan untuk mengetahui atribut khusus yang dimiliki suatu benda atau objek sihir.
Hai semuanya, kembali lagi bersama saya, no Emperor. Kali ini ada hal yang sebenarnya terungkap di akhir-akhir cerita Harry Potter namun terungkap di awal cerita ini, seperti Tiara Rowena Ravenclaw yang harusnya muncul saat perburuan Hocrux di akhir cerita. Lalu kemunculan Kurama sebagai Guardian spirit yang nantinya membantu Naruto di sepanjang cerita.
Nantinya di beberapa bagian yang menyatakan pelajaran yang diberikan Naruto, saya akan menambahkan beberapa penjelasan ilmiah juga yang berdampingan dengan fenomena sihir. Di Chapter depan akan terungkap identitas tak terduga dari salah satu tokoh yang telah muncul di awal-awal cerita ini.
Mungkin itu saja dari saya, terimakasih kepada para pembaca yang telah membaca cerita ini. Saya harap anda sekalian bisa memberikan kritik dan saran di kolom review.
Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya.
