Naruto memandang ke seluruh penjuru kelasnya.
Ia bisa melihat murid-muridnya telah duduk di masing-masing kursi yang tersedia. Masing-masing meja bisa ditempati oleh tiga murid sekaligus sehingga mereka bisa berdiskusi dengan cukup mudah.
Setelah merasa cukup memandangi murid-muridnya, ia berkata kepada mereka, "Maafkan aku karena terlambat memberikan puzzle bagi kalian di luar kelas sehingga kalian harus menunggu lama di depan pintu. Aku sempat ada urusan mendadak sehingga sedikit terlambat."
"Bagi kalian yang mungkin belum mengenaliku, aku akan berkenalan kembali. Namaku Naruto Namikaze. Aku akan mengajarkan pelajaran Penelitian Mantra dari tingkat dasar hingga menengah dan Sihir Manipulasi Elemen untuk murid tahun kelima. Lalu di tahun keenam, kalian akan belajar tentang Sihir Rune dasar dan Penelitian Mantra tingkat lanjut. Terakhir di tahun ketujuh, kalian akan belajar mengenai Sihir Rune tingkat lanjut dan pengaplikasiannya," jelas Naruto kepada mereka.
Beberapa murid tampak berbisik-bisik ke teman sebangkunya. Naruto menebak beberapa di antara mereka mungkin mengeluh dengan apa yang ia ajarkan. Ia hanya tersenyum tipis melihat tingkah mereka.
"Untuk buku pelajaran yang akan digunakan di pelajaran Penelitian Mantra, aku ingin kalian membeli buku-buku mengenai fenomena ilmiah dan penelitian yang diterbitkan oleh Universitas Oxford serta buku yang diterbitkan oleh Profesor Orochimaru dari Divisi Penelitian Mantra. Untuk buku-buku yang lain, akan kujelaskan nanti saat pelajaran yang lain. Apakah ada pertanyaan?" ujar Naruto.
Ia melihat sosok pemuda yang duduk di pojokan tengah mengangkat tangannya. Pemuda itu memiliki rambut pirang pucat dan tersisir rapi. Wajahnya menampakkan raut wajah sombong dan sinis. Naruto menebak bahwa pemuda itu adalah penerus Keluarga Malfoy, Draco Malfoy.
"Kalau tidak salah, universitas yang anda sebutkan adalah universitas bentukan para Muggle itu 'kan, Profesor? Untuk apa kami, para penyihir berdarah murni, harus membeli dan mempelajari buku-buku yang dimiliki oleh Muggle busuk itu?" tanya pemuda tersebut.
Naruto tersenyum tipis. Ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan merapalkan mantra, "Ferrum pugio!" Seketika itu juga, muncul sebuah pisau dari ketiadaan yang mengagetkan seluruh murid di kelas itu. Naruto tertawa kecil di dalam batinnya melihat reaksi murid-muridnya itu.
"Kalau tidak salah, namamu adalah Draco Malfoy 'kan? Memang benar kalau nama universitas yang kusebutkan tadi adalah universitas yang dijalankan oleh Muggle. Namun aku ingin bertanya, apakah kau bisa menjelaskan mengenai mantra yang aku gunakan ini?" tanya Naruto kepada pemuda itu.
Ia melihat pemuda itu memandangnya dengan tatapan sinis namun juga takut di saat yang bersamaan. Beberapa saat kemudian, Draco berkata, "Bukankah anda yang seharusnya menjelaskan hal tersebut kepada kami dan bukannya malah bertanya kepada murid anda sendiri?"
"Hah ..." Naruto hanya bisa menghela nafasnya. " ... terkadang aku benci dengan tingkah murid Asrama Slytherin yang sombongnya bukan main," gumamnya dalam hati.
Tak lama kemudian, Naruto membalas perkataan Draco, "Aku ingin mengetahui pemahaman kalian tentang sebuah mantra ataupun fenomena dalam sekali melihat. Jika kau memang tidak tahu, tidak perlu sungkan untuk mengatakannya, Tuan Malfoy."
Setelah itu, Naruto memandang ke arah murid-murid yang lain. Ia menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang ia ajukan kepada Draco. Beberapa murid tampak antusias untuk menjawab pertanyaan tersebut, kebanyakan dari mereka adalah murid dari Asrama Ravenclaw.
Kemudian, ia melihat Hermione mengangkat tangannya. Naruto pun berkata, "Iya, Nona Granger. Apakah kau ingin menjawabnya?"
Hermione yang telah ditunjuk pun menjawab, "Iya, Profesor. Menurut saya, mantra yang anda buat itu menggunakan prinsip yang sama seperti mantra Transfigurasi yang telah diajarkan oleh Profesor McGonagall."
Naruto tersenyum mendengar jawaban dari Hermione. "Hampir tepat, Nona Granger. Mantra ini memang memiliki konsep yang sama seperti mantra Transfigurasi, namun kunci utama yang harus kalian miliki dalam melakukan mantra ini adalah pemahaman mengenai atom, unsur, molekul serta kontrol dalam menggunakan energi yang kalian miliki," jelas Naruto.
Naruto menghilangkan pisau yang terbentuk di depan bahunya tadi. "Seperti yang kalian lihat tadi, pisau yang terbentuk ini bisa melayang di udara. Ada dua fenomena utama yang harus diperhatikan dalam melakukan mantra ini, terlebih jika mantra ini dikendalikan dalam kondisi melayang seperti ini."
Naruto kembali mengayunkan tongkatnya. Seketika itu juga muncul sebuah proyeksi yang menampilkan video rincian dari mantra yang telah ia sebutkan. "Fenomena pertama adalah pembentukan pisau itu sendiri. Kalian harus mengubah atom-atom yang bertebaran di udara menjadi molekul besi yang nantinya menjadi satu benda yaitu pisau. Setelah itu, kalian harus membuat ikatan antar molekul yang telah kalian ciptakan dari atom-atom itu. Kesalahan dalam membuat ikatan ini akan menyebabkan kerapuhan dari pisau yang kalian buat."
"Kemudian, fenomena kedua adalah membuat pisau itu melayang dan bisa dikendalikan saat menyerang atau melakukan aktivitas. Fenomena ini menggunakan sedikit prinsip dari mantra 'Expecto Patronum', di mana pisau akan menyerang target yang dimaksud oleh perapal mantra namun kontrol energi dalam melakukan mantra ini juga penting karena sekali kaliam kehilangan konsentrasi, maka selain kalian tidak bisa mengendalikan pisau itu, ada kemungkinan hal tersebut mempengaruhi ikatan molekulnya yang menyebabkan pisau itu memudar," jelas Naruto lagi.
Setelah ia memberikan penjelasannya, Naruto hampir tertawa melihat reaksi murid-muridnya yang tampak tidak terlalu memahami apa yang ia jelaskan. Ah ... mungkin hanya sebagian besar murid dari Ravenclaw ditambah Hermione dan Harry yang sedikit memahami penjelasannya.
Naruto mengayunkan tongkat sihirnya. Proyeksi video tersebut mulai terburai menjadi cahaya keemasan. Setelah melihat proyeksinya menghilang, ia mengangkat tongkatnya kembali dan merapal mantra ke arah buku-buku yang ada di meja, "Geminio!"
Seketika itu juga, buku-buku yang ada di mejanya berlipat ganda hingga menyamai jumlah murid yang ada di kelasnya. Ia kembali mengayunkan tongkatnya dan buku-buku tersebut melayang ke meja murid-muridnya.
"Untuk pertemuan pertama kita kali ini, aku ingin kalian membaca dan mempelajari konsep dasar mengenai fenomena sihir serta fenomena-fenomena ilmiah yang tertera di dalam buku itu. Di dalam pelajaran ini, aku akan memberikan teori-teori yang mendasari fenomena sihir maupun ilmiah yang ada di dunia ini. Namun untuk prakteknya, kalian harus bisa berkreasi sendiri dalam mengaplikasikan teori ang telah kalian terima. Kalian bisa bertanya langsung kepadaku jika kalian merasa ada kesulitan," kata Naruto.
Setelah itu, setiap murid mulai sibuk membolak-balikkan halaman buku yang diberikan oleh Naruto itu.
.
MAELSTROM AND THE ORDER OF ELEMENTAL
Let the fire of my soul burn until it lights up my path.
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Harry Potter by J. K. Rowling
.
.
Summary : Ketika api perang mulai bergejolak karena kecelakaan di turnamen sihir, Naruto dan The Order of Elemental mulai bergerak untuk mengantisipasi kedatangan dua pangeran kegelapan dan para pengikutnya. Bagaimana cara mereka untuk memadamkan pergerakan dari sang kegelapan?
.
.
IV
The Experiment Class and Another Mission
.
.
Sekali lagi, Harry menunjukkan rasa takjubnya terhadap Naruto Namikaze.
Bukan hanya karena kemampuannya dalam merapal mantra, tapi juga pengetahuan serta cara mengajarnya yang mungkin terasa lebih menyenangkan dibandingkan para profesor yang lain.
Ia melihat beberapa murid tampak saling bertukar pendapat hanya untuk membahas tentang teori dari suatu mantra. Beberapa murid mungkin tampak tidak terlalu tertarik, tapi bagi mereka yang memang haus akan keingintahuan atau tertarik dengan sesuatu yang baru langsung secara aktif menanyakan sesuatu, salah satunya Hermione.
"Sepertinya apa yang dikatakan oleh Profesor Namikaze tadi pagi memang benar," gumam Harry.
Ron yang duduk tepat di sebelah kanan Hermione tak sengaja mendengar gumaman Harry. "Perkataan mana yang kau maksud, Harry?" tanyanya.
"Perkataan yang 'bagi mereka yang tertarik dengan sesuatu yang baru, pasti sangat berminat mengikuti pelajaranku'," balas Harry sambil berbisik. "Kau bisa lihat kalau orang-orang yang haus akan pengetahuan seperti Hermione dan juga orang-orang yang memang tergolong nekat untuk mencoba hal-hal baru terlihat antusias dan sesekali bertanya kepada profesor."
"Tentu saja," tukas Hermione yang berada di antara mereka berdua. "Ini pengetahuan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh setiap murid yang belajar di Hogwarts. Dengan ini, kita bisa mencoba untuk membuat mantra-mantra yang berguna untuk menahan atau bahkan melawan pasukan Pelahap Maut yang masih berkeliaran. Mungkin ini yang dipikirkan oleh Profesor Dumbledore saat merekrut Profesor Namikaze dan juga Profesor Haruno."
Harry terdiam. Perkataan Hermione memang masuk akal. Bisa saja ini memang strategi Profesor Dumbledore dalam menghadapi ambang Perang Sihir, dengan cara mempersiapkan murid-muridnya untuk bisa menahan pasukan Pelahap Maut menggunakan mantra yang mereka ciptakan sendiri.
Tiba-tiba, Ron berkomentar, "Kalau memang itu yang diinginkan oleh Profesor Dumbledore, sepertinya hal itu agak riskan. Karena beberapa murid dari Asrama Slytherin bisa jadi berafiliasi dengan Pelahap Maut, contohnya si Draco itu."
Kali ini Harry dan Hermione menyetujui pendapat Ron. Beberapa murid dari Asrama Slytherin merupakan pengagum dari paham supremasi penyihir berdarah murni. Hal itu terlihat pada tingkah laku Draco Malfoy dan gengnya yang terkadang mendiskriminasi atau mengejek penyihir berdarah campuran maupun penyihir berdarah lumpur.
"Itu poin yang masuk akal, Ron." Hermione berkata dengan nada sedikit mengejek. "Tumben sekali kau menggunakan otakmu seperti ini. Mungkin memang cara mengajar Profesor Namikaze sangat efektif untuk merangsang kinerja otak murid yang jarang menggunakan otaknya sepertimu."
"Enak saja," gerutu Ron, "aku tidak sebodoh yang kau pikirkan."
"Hanya saja, kau memang jarang berpikir seperti ini, Ron. Seperti bukan dirimu saja," ujar Harry sambil tersenyum mengejek.
Ketiga sahabat itu malah berakhir saling mengejek satu sama lain. Namun, hal itu tidak terjadi lama karena Naruto sedikit memperingati mereka, "Apakah ada sesuatu yang aneh, Tuan Potter, Tuan Weasley dan Nona Granger?"
Harry, Hermione dan Ron terdiam. "Hehehe ... maafkan kami, Profesor. Kami hanya terlalu bersemangat dalam saling beradu argumen," tukas Harry dengan nada gugup.
Harry bisa melihat Naruto menghela nafas perlahan. "Baiklah kalau begitu. Jangan sungkan jika kalian ingin bertanya kepadaku," ujar Naruto.
Ketiga sahabat itu mengangguk dan kembali membaca buku masing-masing. Selang beberapa lama, Harry menemukan sedikit keanehan antara buku yang tengah ia baca dengan penjelasan yang telah disampaikan oleh Naruto tadi. Ia pun mengacungkan jarinya.
"Ah, Tuan Potter. Ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Naruto dengan nada kalem.
"Menurut buku yang anda berikan ini, salah satu fondasi utama pada suatu fenomena sihir adalah imajinasi karena fenomena tersebut mengubah sesuatu yang tidak ada menjadi kenyataan. Namun, penjelasan anda mengenai cara-cara terbentuknya belati yang anda buat menggunakan mantra termasuk ke dalam fenomena ilmiah yang biasanya dijelaskan di dalam pelajaran fisika dan kimia para Muggle. Bukankah isi buku ini dan penjelasan anda sedikit kontradiksi?" tanya Harry.
"Pertanyaan bagus, Tuan Potter." Naruto menjawab sambil tersenyum tipis. "Seperti yang kau katakan, dasar dari suatu fenomena sihir adalah imajinasi. Namun untuk bisa mendapatkan hasil yang mendetail mengenai mantra yang digunakan, kalian juga memerlukan dasar teori dalam suatu fenomena ilmiah."
"Contohnya mantra yang kusebutkan tadi. Fondasi utama yang berbentuk imajinasi dalam mantra ini adalah terbentuknya sebuah atau beberapa pisau belati di udara. Namun untuk mendapatkan hasil yang maksimal, seorang penyihir tetap memperlukan dasar pemikiran bagaimana cara agar besi itu tercipta, seperti apa atom dari besi, bagaimana ikatan molekulnya agar tidak rapuh, dan sebagainya. Tanpa hal ini, maka percobaan mantramu akan gagal," jelas Naruto.
Kelas itu menjadi sedikit hening setelah penjelasan dari Naruto. Harry melihat kalau beberapa murid-murid dari Asrama Gryffindor ataupun Slytherin terlihat sedikit bersungut-sungut karena susahnya materi yang diberikan oleh Naruto.
Salah seorang muid Slytherin tiba-tiba mengangkat tangannya dan bertanya, "Lalu bagaimana dengan mantra yang telah kami pelajari selama ini di Hogwarts? Apakah maksud anda mantra-mantra yang telah kami pelajari merupakan mantra yang cacat?"
Naruto menghela pelan. "Siapa yang bilang kalau mantra-mantra yang telah kalian pelajari di sini adalah mantra yang cacat? Aku lebih suka menyebutnya mantra dasar daripada cacat. Mantra yang cacat berarti ada kesalahan pada mantra itu sehingga tidak sempurna dalam perapalannya, kalau mantra dasar berarti mantra tersebut masih bisa dikembangkan kembali ke bentuk yang lain dengan konsep yang sama," jelasnya.
Tak lama setelah itu, Naruto kembali mengeluarkan tongkat sihirnya. "Seperti yang kalian tahu, mantra 'Wingardium Leviosa' hanya sering digunakan untuk menerbangkan benda saja. Namun dengan pengetahuan yang lebih, maka kalian dapat melakukan hal seperti ini ..."
Setelah berkata demikian, ia merapalkan mantra ke tubuhnya sendiri, "Wingardium Leviosa!" Beberapa saat kemudian, tubuh Naruto mulai melayang. Setelah beberapa penyesuaian, Naruto melakukan manuver di udara layaknya terbang menggunakan sapu terbang.
Lagi-lagi, murid-murid yang belajar di situ kembali takjub dengan pertunjukan mantra yang dilakukan oleh Naruto. Mereka tidak pernah menyangka bahwa mantra levitasi itu bisa diterapkan seperti itu. Setelah beberapa saat, Naruto melayang turun ke bawah.
"Penggunaan mantra levitasi dengan penerapan seperti ini memerlukan pengetahuan tentang percepatan gravitasi, termodinamika di udara, dan beberapa hukum fisika lainnya. Hampir sama seperti mengendalikan sapu terbang, namun perbedaannya ada pada bagaimana memfokuskan energi pada struktur tubuh agar bisa tetap dalam kondisi terbang," jelas Naruto.
Semua murid mengangguk tentang penjelasan yang diutarakan Naruto, meski beberapa murid dari Asrama Slytherin seperti ingin membantah kembali pernyataan tersebut. Harry bisa melihat kalau murid-murid itu memutuskan untuk tidak mengutarakan pendapatnya.
Kemudian, Naruto kembali berkata, "Untuk pertemuan kali ini, sepertinya akan kututup sekarang. Tapi sebelum itu, aku ingin memberikan tugas kepada kalian. Aku ingin kalian mencoba untuk mengembangkan mantra 'Protego' ke tahap berikutnya. Mungkin beberapa di antara kalian sudah tahu kalau variasi lain dari mantra tersebut adalah 'Protego Maxima', namun mantra itu masih bisa mendapatkan pengembangan kembali."
"Tugas ini akan terbagi dalam beberapa tahap dan tahap pertama harus dikumpulkan pada pertemuan selanjutnya. Tahap pertama adalah mengembangkan konsep mantra tersebut. Jadi, kalian harus membuat laporan mengenai seperti apa konsep yang akan kalian terapkan dalam pengembangan mantra tersebut. Apa kalian mengerti?" kata Naruto.
Seluruh murid mengangguk. Tak lama setelah itu, Naruto membubarkan kelasnya. Hampir seluruh murid mulai meninggalkan kelas itu, tapi Harry dan kedua sahabatnya tampak masih duduk di kursi mereka. Ron tiba-tiba berceletuk, "Bagaimana kalau kita memastikan apa yang tadi kita diskusikan ke Profesor Namikaze?"
"Maksudmu tentang mengapa Profesor Namikaze dipilih untuk mengajarkan mata pelajaran baru itu?" tanya Harry.
'Iya betul," kata Ron, "lagipula kita tidak tahu rencana pasti Orde Phoenix bersama Orde Elemental 'kan?"
"Menurutku itu bukanlah ide buruk," komentar Hermione. "Aku juga masih ingin bertanya tentang pelajaran dan tugas tadi."
Harry pun akhirnya mengangguk dan mereka bertiga mulai berjalan ke arah meja Naruto.
.
~Maelstrom and The Order of Elemental~
.
Naruto tak menyangka kalau pelajarannya mendapatkan banyak respon positif dari murid-muridnya.
Ia bisa melihat hampir seluruh muridnya tampak antusias dengan pelajarannya. Yah ... hampir semuanya. Ia bisa melihat kalau beberapa murid dari Asrama Slytherin memandang sinis ke arahnya atau bahkan terlihat sama sekali tidak tertarik dengan pelajarannya. Terkutuklah paham supremasi penyihir berdarah murni dan para pengikutnya. Ia bisa menebak dengan jelas kalau mereka yang tidak tertarik dengan pelajarannya mempercayai paham tersebut.
Bagaimana bisa dia tahu? Tentu saja karena tadi ia mengatakan kalau mereka juga memerlukan pemahaman terhadap beberapa ilmu pengetahuan dari Muggle seperti Fisika, Kimia dan Biologi. Bagi penyihir yang menganut paham tersebut, ilmu pengetahuan Muggle adalah sampah sehingga mereka tidak akan mau menyentuhnya. Seorang penyihir Muggleborn saja mereka cela habis-habisan, apalagi harus mempelajari ilmu pengetahuan para Muggle.
Kini ia tengah membereskan buku yang ia gunakan untuk mengajar, namun beberapa saat kemudian, saku jasnya bergetar. Naruto merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah gawai berbentuk telepon genggam. Ia membuka benda itu dan tampaklah wajah Orochimaru.
"Sepertinya alat sihir ciptaanmu telah berfungsi dengan baik," komentar Orochimaru dari seberang sana.
"Apakah anda menghubungiku karena sesuatu hal atau anda memang hanya ingin menguji alat ciptaanku ini, Profesor Orochimaru atau boleh kupanggil dirimu Tuan Sephio Slytherin?" tanya Naruto sambil sedikit menyeringai.
Orochimaru hanya memasang wajah datar. "Jangan panggil aku dengan nama itu, Naruto. Sudah kubilang kalau aku tidak ingin ada yang tahu nama asliku. Birokrasi Wizengamot adalah hal yang merepotkan," ujarnya dengan dingin.
Naruto terkekeh pelan. "Aku tahu ... aku tahu ... aku juga sudah sempat merasakannya sebagai seorang deputi dan hal itu merepotkan. Jadi, ada apa sehingga anda menghubungiku?"
"Aku hanya ingin memberitahumu kalau laporan mengenai penemuan Horcrux yang disinyalir sebagai milik Pangeran Kegelapan sudah sampai ke pihak The Order. The Order setuju untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai hal ini dan mengirimkan lima tim terbaik mereka untuk melacak keberadaan wadah lainnya. Kau dan Sakura juga diminta untuk menyelidiki lebih lanjut mengenai orang-orang di Hogwarts yang mungkin terlibat dalam hal ini," ujar Orochimaru.
Lagi-lagi, Naruto menghela nafasnya. Ia sudah menduga kalau para High Counselor akan memberikan tugas tambahan kepada dirinya dan Sakura. "Baiklah. Nanti akan kusampaikan hal itu kepada Sakura, sepertinya ia masih ada jadwal mengajar di jam segini," ujarnya.
"Kalau begitu, aku serahkan kepadamu untuk urusan di Hogwarts, Naruto." Setelah berkata demikian, Orochimaru memutuskan sambungannya. Naruto menutup telepon genggam itu dan kembali membereskan buku-bukunya yang sempat tertunda. Namun ia kembali berhenti ketika melihat Harry dan kedua sahabatnya menghampiri dirinya.
"Ada apa? Ada yang bisa kubantu?" tanya Naruto kepada mereka.
"Begini Profesor, kami ingin bertanya. Apakah Profesor Dumbledore sengaja meminta anda mengajarkan mata pelajaran ini untuk mempersiapkan murid-murid karena kita di ambang perang sihir?" tanya Harry dengan nada penasaran.
Naruto menaikkan alisnya dan memasang raut heran di wajahnya. "Darimana kalian bisa mendapatkan pemikiran seperti itu?" tanyanya.
"Kami tahu bahwa Profesor Dumbledore meminta orde anda untuk mengirimkan orang dan menyusup ke Hogwarts dalam rangka melindungi para murid, namun pelajaran yang anda berikan membuka pikiran kami bahwa penerapan pelajaran anda bisa digunakan sebagai senjata untuk melawan para pelahap maut itu. Jadi, kami menganggap kalau Profesor Dumbledore sendiri yang meminta anda untuk mengajari kami," jelas Hermione dengan panjang lebar.
Naruto terdiam ketika mendengar perkataan gadis muda itu. Tapi tak lama kemudian, ia tertawa kecil. "Aku tidak pernah menyangka kalau kalian bisa berpikir sejauh itu. Yah ... entah memang kenyataan seperti yang kalian pikirkan atau tidak, tapi Profesor Dumbledore tidak memintaku secara langsung. Beliau menghubungi ayahku yang kebetulan merupakan seorang High Counselor di The Order of Elemental. Beliau hanya meminta kepada ayahku untuk mengirim dua orang dan ayahku merekomendasikan diriku dan Profesor Haruno," jelasnya.
Mereka bertiga terdiam mendengar penjelasan dari Naruto. Sepertinya hasrat keingintahuan mereka sudah sedikit terpuaskan. Ketiga sahabat itu kemudian bertanya kepada Naruto mengenai materi serta tugas yang diberikan Naruto kepada mereka. Naruto juga menjelaskan dengan sedikit rinci mengenai apa yang harus mereka lakukan.
Terkadang, Naruto juga bertanya kepada Harry dan kedua sahabatnya mengenai kejadian-kejadian yang terjadi di Hogwarts selama mereka belajar di sekolah ini. Ia bertanya kepada mereka karena mereka bertigalah yang paling banyak terlibat di dalam berbagai misteri yang tersimpan di kastil Hogwarts ini.
Awalnya, Harry dan kedua sahabatnya merasa enggan untuk menjawab pertanyaan Naruto tersebut. Namun ketika Naruto berkata bahwa apapun yang mereka ceritakan akan menjadi sebuah informasi penting sebelum perang, akhirnya mereka pun bercerita. Harry menceritakan tentang batu filsuf, sebuah buku harian misterius dan ruangan rahasia yang dihuni Basilisk, perjalanan mereka ke Azkaban, serta Turnamen Triwizardnya yang terjadi tahun lalu.
Naruto mencoba untuk mencerna informasi-informasi yang disampaikan oleh Harry dan kedua sahabatnya. Ia tidak menyangka kalau anak-anak yang usianya tidak lebih dari dua puluh tahun itu telah mengalami berbagai hal yang tak terduga.
"Terimakasih atas informasi yang kalian berikan. Aku tidak menyangka kalau kalian telah mengalami beragam kesulitan selama empat tahun ini, terutama kau, Harry. Aku akan memberikan informasi ini kepada rekan-rekanku agar mereka bisa menyelidikinya lebih lanjut," ujar Naruto kepada mereka.
Mereka bertiga mengangguk dan mulai beranjak keluar dari kelas itu. Naruto memandang mereka dengan sedikit tersenyum. Tiba-tiba saja, Kurama berceletuk di dalam pikirannya, "Kejadian-kejadian itu seharusnya tidak dialami oleh remaja seusia mereka. Aku heran mengapa Hogwarts yang disebut sebagai sekolah sihir teraman di dunia bisa memiliki kejadian seperti ini."
"Hal itulah yang perlu kita selidiki lebih lanjut. Aku tidak akan heran jika kastil ini masih memiliki beberapa lorong atau ruangan tersembunyi di dalamnya," balas Naruto. "Aku malah takut kalau lorong ataupun ruangan itu bisa menjadi celah bagi para Pelahap Maut serta 'mereka' untuk melakukan invasi ke sekolah ini."
Naruto pun menghubungi Sakura melalui alat FCNP miliknya. Ia ingin mengajak wanita itu berdiskusi mengenai rencana pengamanan Hogwarts yang baru. Setelah menghubunginya, Naruto langsung membereskan buku-bukunya kembali dan beranjak keluar dari kelas itu.
.
~Maelstrom and The Order of Elemental~
.
Sakura merasa lelah beberapa hari ini.
Setelah ia resmi bertugas sebagai seorang profesor sekaligus tenaga kesehatan di Hogwarts, ia langsung mendapatkan banyak PR dari Madam Pomfrey. Mulai dari peralatan yang kurang memadai hingga ramuan-ramuan obat yang ia rasa kurang manjur dalam menangani murid yang masuk ke dalam Hospital Wings.
Wajar jika ia beranggapan seperti itu, karena ia juga memiliki rumah sakit sendiri yang ia jalankan bersama mentornya di Diagon Alley. Terlebih dulu ia juga mengajar sebagai seorang dosen fakultas kedokteran di salah satu universitas ternama di Inggris, sehingga ia mencocokkan standar pengajaran di Hogwarts dengan standar pengajaran yang ia terapkan bersama mentornya.
Hal-hal tersebut membuatnya jarang berkomunikasi dengan rekannya, Naruto, mengenai misi mereka di Hogwarts ini. Maka tidak heran jika ia terkejut ketika tiba-tiba saja suatu benda bergetar di dalam saku celananya saat ia baru saja selesai mengajar. Ia merogoh saku celananya itu dan menemukan alat komunikasi buatan Naruto yang ia minta sebelum berangkat ke Hogwarts.
Ia membuka benda itu dan tampaklah wajah Naruto melalui sebuah proyeksi. "Yo, Sakura. Tampaknya akhir-akhir ini, kau sibuk ya," ujar Naruto melalui proyeksi itu.
"Hah ... begitulah. Proses penyetaraan standar antara Hogwarts dengan rumah sakit bentukanku dan Nona Tsunade membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Banyak alat yang boleh dibilang kurang memadai untuk dipakai di Hospital Wings," keluh Sakura sambil menghela nafas lelah.
Naruto terkekeh pelan mendengar keluhan Sakura. Tapi tak lama setelah itu, ia memasang wajah serius. "Sakura, apakah nanti malam setelah perjamuan di aula, kau bisa ikut denganku ke Hogsmeade? Ada yang ingin kubicarakan mengenai proses pengamanan Hogwarts dan hal 'itu'," ujarnya.
Sakura memasang wajah heran. "Hogsmeade? Apakah kita memang harus ke sana?" tanyanya.
"Ini penting. Aku takut kalau ada pihak luar yang mendengarkan hal ini. Aku masih merasa Hogwarts bukanlah tempat yang tepat untuk hal itu, lagipula salah satu jalan masuk menuju markas Region of Earth berada di Hogsmeade 'kan?" ujar Naruto. "Aku akan meminta izin ke Profesor Dumbledore nanti malam."
Sakura terdiam sambil berpikir. Tak lama kemudian, ia menjawab, "Baiklah. Sepertinya informasi ini sangat penting hingga kau bersikap seperti itu. Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam, Special Agent Fox."
Naruto mendengus. "Tidak usah menyebutku dengan nama itu. Special Task Team sedang vakum saat ini."
Sakura terkikik. "Hihi ... ya sudah. Sebentar lagi aku akan mengajar murid tahun keenam. Sampai jumpa."
Setelah menutup sambungan antara dirinya dengan Naruto, Sakura melanjutkan aktivitas mengajarnya. Ia melakukan segala aktivitasnya hingga malam menyapa. Setelah menghabiskan makan malamnya di aula, ia dan Naruto meminta izin kepada Profesor Dumbledore untuk pergi ke Hogsmeade sekaligus melakukan survey medan di sekitar Hogwarts dan Hogsmeade untuk pengamanan. Hal itu disetujui oleh Profesor Dumbledore dan mereka berdua pun pergi ke Hogsmeade.
Sesampainya di sana, mereka berjalan menuju sebuah kedai yang ada di desa itu. Letak kedai itu berada di pinggir selatan, hampir berbatasan dengan hutan yang melingkupi dataran itu. Mereka berjalan menuju ke belakang kedai, tepatnya ke sebuah bak sampah yang ada di belakang kedai itu. Kemudian, Naruto mencari sesuatu di bak sampah itu.
"Apa yang sebenarnya kau cari, Naruto?" tanya Sakura.
Naruto tidak menggubris pertanyaan Sakura hingga tak lama kemudian, ia menemukan sebuah lambang berbentuk batu di satu sisi bak sampah itu. Ia pun menyuruh Sakura untuk memegang tangannya sementara tangannya yang satu lagi menyentuh lambang itu.
"Bersiaplah, Sakura. Kita akan masuk." Naruto pun menarik lengan Sakura sembari ia berlari menerobos bak sampah itu. Kedua profesor muda itu berlari menembus bak sampah hingga akhirnya mereka berada di sebuah lorong berbatu. Lorong itu tampak seperti lorong pintu masuk menuju Kantor Kementrian Sihir. Beberapa penyihir tampak masih berkeliaran di tempat itu.
Kemudian, Naruto kembali menggiring Sakura ke sebuah laboratorium. Ia membuka pintu laboratorium itu dan menyuruh Sakura masuk. Laboratorium itu hanya terdiri atas satu ruangan, namun ruangannya sangat besar. Di salah satu sudut ruangan, terdapat tempat untuk bersantai. Di sudut yang lain berisi beragam rak buku dan peralatan penelitian untuk membuat alat sihir.
"Apakah ini salah satu laboratorium pribadimu?" Lagi-lagi Sakura bertanya kepada Naruto.
"Yah begitulah. Aku memiliki laboratorium di kelima region The Order dan juga di Namikaze Manor. Tapi aku memiliki asisten yang menjalankan laboratorium ini jika aku tidak ada," balas Naruto.
Mereka berdua pun duduk di sofa pada salah satu sudut laboratorium itu. Setelah sedikit rileks, akhirnya Naruto berbicara, "Aku mendapatkan misi baru dari The Order."
"Misi? Misi apa itu? Apakah misi itu masih ada hubungannya dengan misi kita di Hogwarts?" tanya Sakura.
Naruto mengangguk. "Misi kita adalah menyelidiki Hogwarts lebih dalam lagi. Tadi pagi setelah sarapan, aku dan Kurama menemukan suatu artefak yang ternyata menjadi wadah mantra terlarang Horcrux di salah satu ruangan di Hogwarts. Aku telah melaporkan ini ke pihak The Order dan mereka telah mengirim tim untuk melacak keberadaan Horcrux lainnya."
"Dan kita diminta untuk menyelidiki orang-oramg di Hogwarts yang kemungkinan terlibat dalam menyembunyikan artefak yamg kau temukan itu?" tebak Sakura. Naruto mengangguk.
Melihat respon Naruto, Sakura hanya bisa pasrah. "Masalah ini semakin lama semakin runyam saja," keluhnya.
Naruto hanya tersenyum pahit. "Mau bagaimana lagi? Sekarang kita berada di ambang perang, meski pihak Kau-Tahu-Siapa masih bergerak dengan sembunyi-sembunyi. Yang lebih kutakutkan adalah pihak Pelahap Maut yang bekerjasama dengan 'mereka'. Kelompok itu masih sangat lihai dalam melakukan pergerakan," ujarnya.
"Jadi karena itu, kau meminta untuk bertemu di sini. Kau takut jika salah sati di antara staf yang ada di Hogwarts merupakan mata-mata 'mereka'," ungkap Sakura.
"Itu benar. Daripada menanggung resiko yang menyebabkan The Order dalam bahaya, lebih baik aku membawamu ke sini," ujar Naruto.
Naruto mengatupkan kedua tangannya sambil bertopang dagu. Matanya tak lepas memandang kobaran api yang menyala di perapian. "Semuanya ... dimulai dari sekarang."
.
Bersambung
.
New spell unlocked :
Ferrum pugio (Iron Dagger) : Mantra yang digunakan untuk menciptakan belati besi dari ketiadaan. Termasuk ke dalam mantra yang memerlukan manipulasi elemen dan pengetahuan akan unsur kimia dang fisika.
Wingardium Leviosa : Mantra yang digunakan untuk membuat suatu benda melayang. Namun dengan pengetahuan perapal mantra, mantra ini bisa digunakan untuk membuat diri perapal mantra terbang tanpa menggunakan sapu terbang.
Protego : Mantra yang digunakan sebagai perlindungan dari serangan mantra. Cukup kuat untuk menahan mantra destruktif berskala ringan.
Protego Maxima : Mantra yang digunakan sebagai perlindungan dalam skala yang lebih luas. Biasanya digunakan untuk membuat sebuah barrier pelindung yang melindungi suatu gedung atau tempat beserta orang-orang di dalamnya.
Hai semuanya, kembali lagi bersama saya, no Emperor. Kebetulan sekali minggu ini bisa update cepat untuk fic ini. Chapter kali ini membahas tentang pertemuan pertama di dalam kelasnya Naruto sekaligus hasil dari laporan yang diberikan oleh Orochimaru dan juga Naruto atas penemuan Horcrux milik Voldemort. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, di chapter ini ada identitas lain yang terungkap yaitu Orochimaru yang memiliki nama lain Sephio Slytherin dan juga Naruto yang memiliki codename Special Agent Fox.
Special Agent atau Special Task Team di sini terdiri atas sembilan penyihir yang membuat kontrak langsung dengan sembilan guardian spirit terkuat turunan dari Keluarga Otsutsuki. Yap, mereka adalah para Jinchuuriki. Di sini, jabatan mereka setara dengan Auror khusus yang bergerak hanya berdasarkan keputusan dari kelima High Counselor.
Kemudian identitas Orochimaru sebagai Sephio Slytherin. Di sini, Orochimaru memiliki ayah seorang dari Keluarga Slytherin asli dan ibu seorang Onmyouji. Oleh karenanya, Orochimaru memiliki kemamuan Onmyouji dan juga Parseltongue layaknya para keturunan Slytherin.
Chapter depan akan membahas tentang sistem keamanan baru untuk Hogwarts dan mungkin mulai merambah ke LD (Liga Dumbledore). Alurnya akan benar-benar berubah dari alur canonnya karena salah satu Horcrux sudah ditemukan dan tim besutan The Order of Elemental juga mulai melakukan pencarian.
Mungkin itu saja dari saya, terimakasih kepada para pembaca yang masih setia menunggu cerita yang saya buat ini. Saya harap anda sekalian bisa memberikan kritik dan saran di kolom review.
Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya.
