Naruto tertidur terlentang di sofa ruangannya.
Setelah mendiskusikan misi baru yang diberikan oleh The Order dengan Sakura, ia mengajak Sakura kembali ke Hogwarts karena ia masih harus membuat perhitungan mengenai medan yang ada di sekitar Hogwarts agar barrier pelindung buatannya dapat berfungsi maksimal. Ia mengamati medan sepanjang perjalanan mereka kembali ke Hogwarts, lalu membandingkannya dengan peta yang ia dapatkan dari Profesor Dumbledore sebelumnya.
Karena rasa lelah yang menghampirinya, ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak di sofa sambil membuat beragam perhitungan di benaknya.
"Apakah kau masih bingung untuk menggunakan segel pelindung apa untuk protokol keamanan Hogwarts?" Tiba-tiba saja, Kurama berceletuk di dalam benaknya.
"Yah ... begitulah." Naruto menghela nafas lelah. "Jika saja kita tahu semua letak pintu tersembunyi yang ada di Hogwarts, kita bisa membuat segel pelindung dan juga alarm apabila ada penyusup yang masuk ke Hogwarts. Sayangnya masih banyak pintu tersembunyi yang tidak aku tahu," ujarnya.
Mereka berdua terdiam. Hanya ada bunyi derak kayu yang terbakar di perapian. Malam juga semakin larut dan mulai terasa dingin, pertanda kalau musim dingin akan segera tiba.
Tiba-tiba saja, Kurama kembali berkata, "Entah mengapa firasatku mengatakan kalau kau janganlah membuat pertahanan yang terlalu rapat untuk Hogwarts."
Naruto berkerut heran. "Mengapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?" tanyanya.
"Sekarang begini, kita tidak tahu siapa saja yang kini berafiliasi secara langsung dengan Pelahap Maut atau perkumpulan 'itu'. Jika tiba-tiba saja mereka berhasil menguasai Hogwarts, entah bagaimana caranya, aku rasa itu akan menjadi pilihan yang bijak untuk membuat celah agar kita bisa menginfiltrasi Hogwarts dan mengubah keadaan," saran Kurama.
Naruto menyentuh dagunya seraya berpikir. Saran yang diberikan Kurama tidaklah salah, bahkan bisa jadi senjata yang tepat dalam situasi saat ini. "Itu bisa saja, tapi bagaimana kalau kunci yang kita buat untuk segel pelindung ini hanya dimiliki oleh diriku dan juga Sakura? Untuk sementara, aku masih belum bisa mempercayai staf lain di Hogwarts. Tapi jika suatu saat, aku dan Sakura dikeluarkan dari Hogwarts serta mereka berhasil mengambil alih Hogwarts, maka kunci segel itu bisa menjadi celah untuk mengambil kembali Hogwarts."
Setelah berkata demikian, Naruto mengambil beberapa buku catatan miliknya. Ia membuka buku-buku tersebut sambil mencoba untuk membandingkan kembali dengan catatan mengenai medan di sekitar Hogwarts.
Tak lama kemudian, ia berceletuk, "Sepertinya aku tahu segel apa yang kuperlukan."
Kurama yang mendengarnya hanya menaikkan alisnya. Ia melihat melalui visualisasi penglihatan Naruto dan menemukan sesuatu di balik catatan milik Naruto. Kemudian ia berceletuk, "Jangan bilang ... kau ingin menggunakan segel empat belas pilar surgawi?"
Naruto mengangguk. "Hanya segel itu yang bisa kita gunakan untuk situasi saat ini. Jika kita hanya menggunakan segel empat pilar api atau empat pilar matahari, aku takutnya penyesuaiannya dengan medan di sekitar Hogwarts membuat efektifitasnya berkurang," jelasnya.
"Bukankah masih ada segel delapan penjuru dan juga segel enam pilar kehidupan? Kenapa kau malah memilih segel empat belas pilar surgawi yang sangat rumit?" tanya Kurama.
"Kunci utama dari segel empat belas pilar surgawi adalah sebagian inti kekuatan elemen dan juga sebagian inti kekuatan para Guardian Spirit dengan intimu yang menjadi porosnya. Bukankah dengan ini, kunci utama untuk segel ini hanya bisa digunakan oleh diriku dan orang yang kupercaya karena harus memiliki sebagian kekuatanmu." Naruto menjelaskan dengan nada serius.
Kurama terdiam dengan penjelasan Naruto. Ia berpikir kembali sambil mencocokkan fakta-fakta mengenai medan dan juga penjelasan yang Naruto berikan. "Lalu bagaimana peletakan formasi empat belas pilar itu? Apakah kau akan membuat lima pilar elemen di bagian luar dan setelah itu delapan pilar roh di bagian dalam, kemudian pilar milikku di bagian tengah atau malah sebaliknya?" tanyanya.
"Aku akan memakai formasi yang pertama kau sebutkan." Naruto membalas dengan mantap. "Formasi lima pilar elemen akan kuletakkan di beberapa medan sekitar Hogwarts, sedangkan delapan pilar roh akan kutaruh tepat di dinding Hogwarts. Hanya saja, aku sedikit bingung dimana aku meletakkan pilar milikmu."
Keduanya kembali terdiam sambil mengamati denah ruangan di Hogwarts. Tak lama kemudian, Kurama berkata, "Lebih baik kau meminta terlebih dahulu sebagian inti dari kedelapan Guardian spirit lainnya. Dibandingkan dengan inti kelima elemen, inti para Guardian spirit agak sulit dipecah sehingga kau harus memintanya terlebih dahulu untuk mendapatkan bahan segel itu."
Naruto mengangguk pelan. Ia mengambil alat FCNP miliknya dan menekan beberapa tombol. Setelahnya ia menutup alat itu dan mulai membereskan peralatan miliknya. "Sekarang ... mari kita laporkan hal ini ke Profesor Dumbledore."
.
MAELSTROM AND THE ORDER OF ELEMENTAL
Let the fire of my soul burn until it lights up my path.
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Harry Potter by J. K. Rowling
.
.
Summary : Ketika api perang mulai bergejolak karena kecelakaan di turnamen sihir, Naruto dan The Order of Elemental mulai bergerak untuk mengantisipasi kedatangan dua pangeran kegelapan dan para pengikutnya. Bagaimana cara mereka untuk memadamkan pergerakan dari sang kegelapan?
.
.
V
Harry's Misery and Hogwarts New Defence Protocol
.
.
Kesengsaraan Harry terus berlanjut.
Semua berawal ketika ia dan kedua sahabatnya baru saja selesai mengikuti pelajaran Penelitian Mantra yang diajarkan oleh Profesor Naruto Namikaze. Lagi-lagi ia diganggu oleh Draco dan komplotannya tentang apa yang ia sampaikan setahun yang lalu.
Semua orang telah menganggap dirinya gila dan berbahaya karena telah menyatakan kebangkitan Sang Pangeran Kegelapan, berterimakasihlah kepada Daily's Prophet yang membuat ulasan seolah-olah ia dan Profesor Dumbledore tengah menciptakan konspirasi untuk menggulingkan Kementerian Sihir.
Mereka, Malfoy dan gengnya, sama sekali tidak mengganggunya saat pelajaran Profesor Namikaze karena mereka sibuk bersungut-sungut dengan pelajaran yang mereka terima. Namun hal itu tidak berlaku di setelah pelajaran Peneltian Mantra dan keesokan harinya, hampir di sepanjang pelajaran ramuan, Malfoy dan gengnya terus-menerus membully Harry.
Harry dan kedua sahabatnya memutuskan untuk segera masuk ke kelas berikutnya. Sayang sekali bahwa pelajaran berikutnya adalah Pertahanan Terhadap Sihir Hitam yang diajar oleh Profesor Dolores Umbridge, seseorang yang diutus oleh Kementerian Sihir.
Ketika ia mengingat pembicaraan antara dirinya dan kedua sahabatnya di saat Dolores Umbridge mengeluarkan pidato kedatangannya, mereka sempat menduga bahwa Kementerian Sihir ingin menguasai jalannya pendidikan di Hogwarts melalui Dolores Umbridge.
Ia dan kedua sahabatnya segera duduk di kursi masing-masing. Semuanya hampir berjalan seperti biasa. Ia bisa melihat beberapa teman-temannya asyik bercanda sambil memainkan kertas lipat berbentuk burung yang diterbangkan dengan sihir. Tapi tiba-tiba saja, mainan itu terbakar habis di udara. Ketika ia menengok ke belakang, ia melihat Profesor Umbridge menodongkan tongkat sihirnya ke arah mainan tadi.
Sambil berjalan pelan menuju ke meja pengajar, Dolores Umbridge menggerakkan tongkat sihirnya, menulis sesuatu di papan tulis dengan kemampuan sihirnya, dan berkata, "O ... W ... L ..., Ordinary Wizarding Level atau biasa disingkat dengan sebutan O.W.L. Sebuah ujian yang diberikan kepada murid tahun kelima sebagai acuan bagi pengajar untuk mengetahui apakah murid tersebut mampu belajar ke tahap berikutnya."
Kemudian ia berbalik ke arah murid-muridnya dan berkata, "Seperti yang kalian tahu, ujian ini sangat penting bagi kalian karena hasil ujian ini akan menjadi bahan acuan untuk pekerjaan kalian nanti. Jadi, aku ingin kalian mempersiapkan diri kalian dengan baik."
Ia kembali mengayunkan tongkat sihirnya dan buku-buku berukuran tebal mulai melayang ke arah murid-murid itu. Masing-masing mendapatkan satu buku tebal itu. Tak lama kemudian, Profesor Umbridge kembali berkata, "Selama ini, Hogwarts telah menerapkan standar sendiri dalam setiap pelajarannya. Namun sayangnya, Hogwarts beberapa tahun ini menurunkan standar sehingga Kementerian sihir ikut kewalahan. Hal ini membuat Kementerian Sihir memutuskan untuk memberikan perhatian lebih kepada sistem pembelajaran di Hogwarts."
"Ada beberapa peraturan yang ingin kuterapkan di kelasku. Yang pertama adalah singkirkan tongkat sihir kalian dan keluarkan pena bulu," lanjut Umbridge. "Agar kalian memahami pelajaran mengenai 'Pertahanan terhadap Ilmu Hitam', kalian harus kembali memahami prinsip-prinsip dasar pertahanan tersebut sehingga aku memberikan kalian buku tersebut."
"Jika kalian ingin bertanya, kalian bisa menanyakannya kepadaku," ujar Profesor Umbridge. Beberapa murid tampak membuka buku yang diberikan oleh Umbridge, namun Hermione menemukan suatu kejanggalan di buku itu.
Ia pun langsung mengangkat tangannya dan berkata, "Maafkan saya, Profesor. Namun di buku yang anda bagikan, tidak ada petunjuk mengenai cara penggunaan mantra pertahanan terhadap sihir hitam. Kalau boleh saya tahu, mengapa demikian?"
Dolores Umbridge memasang senyum di wajahnya. "Menggunakan mantra pertahanan?" ujarnya dengan senyuman. "Untuk apa kalian belajar merapalkan mantra pertahanan di kelasku? Kalian hanyalah pelajar. Memangnya akan ada seseorang yang akan menyerang kalian saat pembelajaran?"
Ron yang mendengar hal itu sontak berkata, "Kita sama sekali tidak akan menggunakan sihir di pelajaran ini?"
"Murid harus mengangkat tangan kalau mereka ingin berbicara di kelasku, Tuan ...?"
"Weasley." Ron membalas sambil mengangkat tangannya. Tidak hanya dirinya, Hermione dan juga Harry ikut mengangkat tangannya. Tetapi Dolores Umbridge hanya mengarahkan atensinya kepada Hermione. "Bagaimana Nona Granger? Apakah masih ada yang ingin kau tanyakan?"
"Iya Profesor. Saya ingin bertanya, sebenarnya apa tujuan diadakannya mata pelajaran Pertahanan terhadap Ilmu Hitam jika pada akhirnya kami tidak dapat mempelajari mantra-mantra pertahanan dalam menghadapi sihir kegelapan tersebut?" tanya Hermione.
"Apakah kau ahli pendidikan hasil didikan Kementerian Sihir, Nona Granger?" Sekali lagi, Dolores Umbridge berkata sambil terus mempertahankan senyumnya yang terlihat sedikit dipaksakan.
"Tidak, tapi -"
"Kalau begitu, kau tidak memenuhi syarat untuk menentukan 'tujuan' pembelajaran apapun. Para penyihir yang lebih berkompeten dan tentu saja lebih pintar darimu telah menyusun program pembelajaran yang baru sehingga kalian semua dapat mempelajari mantra pertahanan dengan aman dan bebas resiko," balas Umbridge.
"Apa gunanya itu!?" Harry berseru dengan suara nyaring. "Kalau kami diserang, itu tidak -"
"Tangan, Tuan Potter!"
Harry langsung mengacungkan tangannya dan berkata, "Kalau kami diserang, itu tidak akan membantu sama sekali dalam melindungi kami. Tidak ada pemelajaran mantra yang bebas resiko!"
"Sekali lagi aku ingatkan kepada kalian semua, tidak akan ada yang menyerang kalian selama kalian berada dalam pembelajaran. Apakah kalian memang berharap untuk diserang saat pembelajaran berlangsung?" kata Umbridge yang masih bersikeras.
"Tidak, tapi-"
"Aku tidak ingin mengkritik cara pengelolaan sekolah ini, namun saat aku melihat dengan benar keadaan sekolah ini, bisa dibilang aku kecewa. Kalian telah dihadapkan dengan beberapa penyihir yang tidak berkompeten dan tidak bertanggung jawab dalam pelajaran ini. Malah sangat tidak berkompeten." Dolores Umbridge menyunggingkan senyum yang Harry rasa memuakkan. "Belum lagi turunan-campuran yang luar biasa mengerikan dan berbahaya pernah menjadi pengajar kalian."
Beberapa murid yang paham akan maksud perkataan Dolores Umbridge sontak menggertakkan gigi mereka, berusaha untuk menahan amarah yang ingin bergejolak di dalam hati mereka.
Salah seorang murid dari Gryffindor bernama Dean Thomas langsung berkata dengan nada marah, "Jika yang anda maksudkan adalah Profesor Lupin, maka anda salah." Mata Dean terlihat sedikit berkilat-kilat. "Beliau merupakan guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam terbaik yang pernah -"
"Cukup, anak muda!" Dolores Umbridge mulai ikut merasakan amarah menguasai dirinya. Namun perlahan, ia menghembuskan nafas dan kembali mempertahankan senyumnya. "Kalau boleh tahu namamu adalah?"
"Dean Thomas."
"Ah, Tuan Thomas. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, kalian telah diajari mamtra-mantra yang tak pantas kalian pelajari. Bahkan kalian ditakut-takuti dengan kepercayaan bahwa kalian akan diserang kapan saja. Siapa yang kau bayangkan akan menyerang anak-anak manis seperti kalian?" kata Umbridge dengan nada yang semanis madu namun mengandung sedikit bahaya dibaliknya.
Harry yang sudah tidak tahan dengan perkataan Umbridge pun langsung berkata, "Hmm ... coba saya pikir baik-baik, barangkali ... Lord Voldemort?"
Wajah Umbridge mulai sedikit kehilangan senyumannya. "Potong sepuluh poin dari Gryffindor, Tuan Potter."
Harry mulai kembali kehilangan kendali atas amarahnya. Tangannya mengepal erat dan matanya terlihat berkilat-kilat karena kemarahan namun terselip juga kesedihan di balik sorot matanya. Hermione berusaha untuk menahan Harry, "Harry, jangan-"
"Jadi menurut anda, Cedric Diggory meninggal karena kemauannya sendiri, huh?" Habis sudah kesabaran Harry dan ia pun kembali melontarkan kalimatnya dengan suara nyaring.
Umbridge kembali mencoba untuk mempertahankan senyumnya. "Kematian Cedric Diggory setahun yang lalu memang merupakan pukulan telak bagi pihak Kementerian. Kecelakaan tragis yang ia alami saat lomba membuat kita harus kehilangan salah seorang penyihir muda yang berbakat. Namun kami tidak menemukan adanya indikasi yang kau sebutkan saat penyelidikan kematian Cedric Diggory."
"Kau berbohong! Aku yang berada di sana dan melihat langsung bagaimana Cedric kehilangan nyawanya. Dan sekarang anda berpikir bahwa tidak akan ada lagi orang yang akan menjadi korban!?" seru Harry.
"Cukup, Tuan Potter," desis Umbridge, suaranya mulai terasa sinis dan berbahaya. "Selepas pelajaran selesai, aku ingin kau menemuiku di kantorku. Sebaiknya kita sudahi saja sesi tanya jawab kita kali ini dan kembali pelajari buku yang telah kuberikan kepada kalian."
Tidak ada satupun yang membantah kembali perkataan Umbridge. Harry yang sedari tadi meledak karena amarah, kini mencoba untuk meredam amarahnya. Dan pelajaran kelas itu mulai berakhir dalam diam.
.
~Maelstrom and The Order of Elemental~
.
Malam menjelang musim dingin mulai melingkupi Hogwarts.
Kini Ruang Rekreasi Gryffindor tampak masih dipenuhi oleh murid-murid yang tengah bersenda gurau ataupun mengerjakan tugas yang diberikan oleh para profesor. Begitupula dengan Ron dan Hermione yang tengah berdiskusi mengenai tugas yang diberikan oleh Naruto kepada mereka.
"Kira-kira apa yang perlu divariasikan sih mengenai mantra Protego?" gumam Ron yang masih sedikit berkutat dengan buku-buku Penelitian Mantra miliknya.
Hermione yang duduk di sebelahnya juga sibuk membolak-balikkan buku miliknya. "Aku juga masih bingung dengan hal itu. Setelah membaca beberapa halaman di buku, aku juga masih belum menemukan jawabannya," keluhnya.
Keduanya masih sibuk berkutat dengan buku-buku mereka hingga mereka menyadari bahwa Harry baru saja masuk ke dalam ruang rekreasi. Harry memang datang terlambat ke dalam ruang rekreasi karena ia masih harus menemui Umbridge untuk melakukan detensi atas perbuatannya di kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam tadi siang.
Ketika mereka melihatnya, mereka merasakan ada yang aneh pada Harry. Raut kesakitan sedikit terukir di wajahnya, namun ia berusaha untuk menutupinya. Dengan raut cemas, Hermione langsung bangkit dan menghampiri Harry.
"Apa yang terjadi denganmu, Harry? Apa yang dilakukan Umbridge kepadamu?" tanya Hermione secara bertubi-tubi.
Harry tampak berusaha untuk menutupi sesuatu. Ia hanya menaruh tangannya ke dalam saku sambil berkata, "Aku baik-baik saja." Lalu, ia melihat ke arah Ron. "Sepertinya kalian tengah mendiskusikan sesuatu. Kalau boleh tahu, apa itu?"
Ron langsung menyahut, "Kami tengah mendiskusikan tugas yang diberikan oleh Profesor Namikaze. Ayo sini ... aku masih bingung dengan tugas yang beliau berikan."
Harry pun menghampiri Ron dengan diam dan Hermione mengikuti di belakangnya. Raut cemas masih terukir di wajah sahabat perempuannya itu. Harry sedikit tidak mempedulikan kecemasan sahabatnya itu. Ia hanya duduk sambil menyambar buku Penelitian Mantra yang ada di atas meja.
Tapi ia tidak mengetahui bahwa secara sekilas, Hermione sempat melihat bercak biru kehitaman ada di punggung tangan kirinya. "Harry, kenapa dengan tanganmu?" tanya Hermione lagi.
Harry kembali mencoba untuk menyembunyikan tangan kirinya. "Tidak ada apa-apa, Hermione," ujarnya mencoba untuk menyakinkan sahabatnya. "Aku baik-baik saja."
Hermione, yang masih tidak percaya dengan perkataan Harry, langsung memegang tangan kiri Harry dan membalikkan telapak tangannya. Hermione dan Ron melihat sebuah luka yang aneh terukir di punggung tangan sahabat mereka itu. Sebuah luka yang membentuk kalimat 'Aku tidak akan pernah mencoba untuk berbohong lagi' tercetak jelas di sana. Selain itu, bercak-bercak berwarna biru kehitaman juga mengelilingi luka berbentuk tulisan itu.
Sontak mereka berdua pun terkejut dengan luka yang terukir di punggung tangan Harry itu. "Ya ampun," tukas Ron, wajahnya sedikit menunjukkan kengerian ketika melihat luka itu. "Apakah Umbridge yang melakukan hal itu kepadamu?"
"Sudah kubilang aku baik-baik saja, Ron," kata Harry. "Kau tidak perlu berlebihan seperti itu."
"Tapi ini sudah termasuk kekerasan terhadap murid, Harry." Kali ini Hermione yang berkomentar, "Profesor Dumbledore harusnya mengetahui tentang hal ini."
"Jangan beritahu Profesor Dumbledore,' pinta Harry. "Beliau sudah sibuk mengurusi Kementerian Sihir yang terus-menerus mengawasi dirinya melalui Umbridge. Aku tidak ingin menambah beban beliau, lagipula ini hanya luka kecil."
"Tapi ..." Hermione hanya bisa diam ketika melihat Harry terus menatapnya dengan pandangan memohon. "Hah ... baiklah. Tapi lebih baik, kita temui Profesor Haruno saja kalau begitu. Meski bagi dirimu itu hanyalah luka kecil, tapi infeksinya cukup parah sehingga kita harus menemui beliau."
Harry sebenarnya ingin kembali membantah perkataan Hermione, namun melihat kecemasan yang timbul di raut wajah kedua sahabatnya, ia memutuskan untuk mengikuti saran sahabatnya itu. Mereka bertiga pun segera menuju ke Hospital Wings dan menemui Sakura Haruno.
Setibanya di Hospital Wings, mereka bertiga melihat bahwa Profesor Haruno tengah berbicara serius dengan Profesor Naruto Namikaze di sana. Mereka bertiga memutuskan untuk menunggu hingga mereka berdua selesai berbicara.
Tak lama kemudian, mereka melihat Profesor Namikaze tengah melihat ke arah mereka. "Ah ... The Golden Trio, untuk apa malam-malam kalian berkunjung ke mari? Apakah ada sesuatu?" tanyanya.
Hermione dan Ron pun menjelaskan apa yang terjadi tadi siang di kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Naruto hanya bisa menghela nafas mendengar hal itu. Ia memang sudah memiliki firasat yang kurang enak ketika melihat Umbridge di Hogwarts. Setelah melihat gelagat yang ia tunjukkan di Wizengamot saat sidang Harry, ia sudah menduga bahwa Umbridge merupakan tipe orang yang akan mengorbankan banyak orang hingga tujuannya tercapai. Oleh karena itu, ia membutuhkan bidak yang bisa ia kendalikan.
Naruto pun menghadap ke arah Sakura. "Lebih baik kau segera menyembuhkan Harry, Sakura," ujarnya. Sakura mengangguk. Ia pun membawa Harry ke salah satu bilik dan berusaha menyembuhkannya. Hermione dan Ron hanya bisa menunggu bersama dengan Naruto.
"Apakah kita harus memberitahu kepala sekolah mengenai hal ini?" tanya Hermione. Ron malah berkata lain, "Tapi Harry mengatakan untuk tidak memberitahu kepala sekolah tentang hal ini. Ia tidak ingin membebani beliau dengan masalah ini."
"Aku juga setuju dengan pendapat Harry." Naruto ikut berkomentar, "Umbridge masih berkeliaran di Hogwarts dan kita juga tidak tahu bagaimana pergerakan Kementerian kali ini. Firasatku mengatakan bahwa Kementerian perlahan akan memberikan posisi penting untuk Umbridge di Hogwarts dan kekuasaan Dumbledore akan semakin berkurang."
"Lalu, apa yang harus kami lakukan?" tanya Hermione dengan nada merana.
"Bersikaplah seperti biasa dan kalau bisa jangan buat keributan terlebih dahulu. Kita perlu melihat kondisi yang terjadi di Hogwarts maupun komunitas sihir sebelum akhirnya kita memutuskan untuk bertindak. Aku yakin pergerakan Kementerian akhir-akhir ini ke Hogwarts juga menandakan pergerakan Pelahap Maut secara tidak langsung, entah memang mereka yang benar-benar berada di balik ini atau tidak," ujar Naruto dengan panjang lebar.
Ron dan Hermione hanya bisa diam setelah mendengarkan ujaran Naruto. Tak lama kemudian, Harry dan Sakura keluar dari bilik pengobatan. Ron dan Hermione melihat kalau bercak memar yang ada di tangan Harry mulai memudar diikuti dengan luka berbentuk tulisan yang telah menutup sempurna.
"Bagaimana dengan keadaan tangan Harry, Sakura?" tanya Naruto.
"Entah sihir apa yang digunakan oleh profesor utusan dari kementerian itu. Kutukan yang diberikan melalui tulisan itu cukup kuat, mungkin hampir sama seperti Crucio tapi versi yang lebih lemah. Aku bisa menghilangkan luka bakar berbentuk tulisan di tangannya tapi memar-memar hasil infeksi luka itu tidak bisa kuhilangkan sepenuhnya, jadi kubiarkan saja ia sembuh secara alami," jelas Sakura.
Sakura pun menghadap ke arah Harry dan berkata, "Mungkin ada baiknya untuk tidak memberikan beban yang berat di tangan kirimu, agar tidak memperburuk keadaan tanganmu. Kalau kau masih ingin berpartisipasi dalam pertandingan Piala Quiditch tahun ini, kau harus mengikuti saranku."
Harry mengangguk. "Terimakasih atas bantuan anda, Profesor Haruno."
Sakura tersenyum. "Sama-sama, lagipula ini memang pekerjaanku sebagai salah satu staf Hospital Wings."
Naruto yang merasa kalau semuanya baik-baik saja langsung berkata kepada ketiga muridnya itu, "Lebih baik kalian segera kembali ke asrama kalian. Aku takut kalau Argus Filch menangkap kalian dan kalian harus berurusan lagi dengan Umbridge."
"Kami berharap hal itu tidak akan terjadi." Setelah berkata demikian, Hermione mengajak kedua sahabat laki-lakinya untuk segera kembali ke asrama. Sakura melihat kepergian ketiga muridnya itu sambil tersenyum.
"Seperti melihat kita bertiga ketika baru saja masuk ke Task Force #7. Bukan begitu, Naruto?" tanya Sakura sambil tertawa kecil.
Naruto hanya bisa terkekeh. "Yah begitulah ... tapi dibandingkan kita, mereka sudah mengalami hal-hal yang sangat sulit padahal mereka belum berumur dua puluh tahun," komentarnya, matanya tidak lepas dari punggung Harry yang telah menjauh dari pandangannya. "Terutama Harry. Peristiwa terbunuhnya kedua orangtua Harry saat kecil ditambah serangan kutukan yang diberikan Kau-Tahu-Siapa itu menandakan kalau Kau-Tahu-Siapa telah menandainya dalam pertarungan hidup dan mati sesuai dengan ramalan itu."
"Apakah kita perlu melaporkan hal ini ke The Order?" tanya Sakura.
Naruto menggeleng. "Untuk sementara, kita lihat dulu situasi dan kondisinya. Aku tidak ingin menambah hal-hal yang tidak perlu dan malah menambah peluang musuh untuk menduduki Hogwarts sebelum rencana perlindungan yang kubuat selesai," ujarnya.
Lalu, Naruto melihat ke arah arlojinya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Naruto pun berpamitan pada Sakura karena ia masih harus menyelesaikan persiapan untuk pembuatan rune untuk segel perlindungan bagi Hogwarts. Sakura hanya mengangguk saja dan kemudian, Naruto pun meninggalkan Hospital Wings.
.
Bersambung
.
Halo semuanya, kembali bersama saya FI. Antonio no Emperor. Kali ini saya membawakan chapter singkat mengenai rencana Naruto yang akan menggunakan formasi segel yang rumit, yaitu segel empat belas pilar surgawi. Mungkin bagi pembaca sekalian agak kurang familiar dengan deretan segel-segel yang saya ceritakan di awal chapter kali ini.
Segel empat pilar api dan segel empat pilar matahari mengacu pada segel Shisienjin yang pernah dipakai oleh Orochimaru saat ujian Chuunin di Konoha dan Shigekiyojin yang pernah dipakai keempat hokage terdahulu dalam Perang Dunia Shinobi ke-4. Lalu segel delapan penjuru mengacu pada segel Hakke no Fuin yang kubuat menjadi segel pelindung, begitupula dengan segel enam pilar kehidupan yang mengacu ke Rikudo fuin.
Chapter berikutnya akan mulai merambah ke Laskar Dumbledore atau LD. Apalagi setelah melihat Dolores Umbridge yang malah tidak mengajar secara praktek tapi malah hanya teorinya saja. Di sini, Naruto juga telah memutuskan untuk mengawasi dalam diam pergerakan Kementerian Sihir dan Pelahap Maut melalui Umbridge.
Ah ya, saat bagian kepulangan Hagrid nanti, akan ada karakter tak terduga akan muncul di Hogwarts bersamaan dengan pulangnya Hagrid setelah bernegosiasi dengan bangsa Raksasa.
Mungkin itu dulu dari saya, semoga pembaca sekalian menikmati chapter kali ini dan bisa meninggalkan ulasan kalian di kolom review.
Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya.
