Musim dingin perlahan mulai datang.
Banyak murid di Hogwarts sudah mulai mengenakan mantel musim dingin mereka. Meski begitu, mereka masih mengenakan jubah penyihir mereka di balik mantel tersebut. Walaupun musim dingin mulai tiba, tetapi kegiatan pembelajaran di Hogwarts malah semakin sibuk untuk murid tahun kelima.
Terlihat di asrama Gryffindor, murid-murid tahun kelima masih sibuk berkutat dengan tugas-tugas mereka. Ada yang tengah membuat sebuah laporan, ada yang tengah menulis di sebuah perkamen, bahkan ada yang sibuk membolak-balikkan buku sambil merapalkan mantra. Begitupula dengan Harry dan kedua sahabatnya.
Mereka bertiga masih sibuk dalam mengurai tugas yang diberikan oleh Naruto dua minggu yang lalu. Tepat seminggu yang lalu, Naruto mencoba untuk mengetes murid-muridnya mengenai seberapa jauh kemajuan yang telah mereka capai. Namun hasilnya cukup mengecewakan, karena sebagian besar muridnya tampak belum dapat mengurai maksud dari tugas yang ia berikan dan gagal untuk memvariasikan mantra Protego.
Hanya beberapa murid dari Ravenclaw saja yang berhasil menunjukkan kemajuan berarti. Bahkan Hermione, murid terpintar Asrama Gryffindor di bidang mantra, belum juga menunjukkan perkembangan yang berarti. Akhirnya, Naruto memutuskan untuk menambah jangka waktu untuk tugas yang ia berikan. Bagi mereka yang telah menunjukkan hasilnya, Naruto menyuruh mereka untuk menyempurnakan kembali mantra yang telah mereka buat.
"Argh ... mengapa tugas yang diberikan Profesor Namikaze susah sekali?" keluh Ron sambil memegangi kepalanya. Rambutnya terlihat kusut dan matanya menunjukkan beberapa lingkaran berwarna hitam, pertanda bahwa ia sudah beberapa kali bergadang hanya untuk mengerjakan tugas dari Naruto.
Hermione dan Harry hanya bisa menatap sahabat mereka itu dengan pandangan iba. Tidak hanya Ron saja yang mengeluh, mereka berdua juga mulai merasa stres karena belum bisa menemukan jawaban dari tugas Naruto.
"Entah mengapa aku merasa sedikit lega karena aku tidak mengambil pelajaran Arithmancy tahun ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaanku sekarang ketika dijejali oleh dua materi yang super sulit seperti ini," kata Harry sambil sedikit memijit kepalanya, berusaha untuk sedikit menghilangkan rasa pening di kepalanya.
Hermione hanya mendengus kesal. "Jangan katakan itu! Kau membuatku menyesal karena sudah memilih materi itu tahun ini," ujarnya sambil sedikit merajuk. "Apalagi pelajaran yang diberikan oleh Profesor Haruno juga sama rumitnya dengan pelajaran yang diberikan oleh Profesor Namikaze, otakku sudah mulai terasa terlalu panas sehingga aku tidak bisa berpikir jernih."
"Bukankah Profesor Namikaze masih mengajar satu pelajaran lagi untuk tahun kelima?" tanya Ron sambil melihat kembali jadwal milik mereka.
"Kau benar, kalau tidak salah pelajaran mengenai Sihir Manipulasi Elemen." Harry menanggapi sambil menulis sesuatu di atas sebuah kertas.
Ron hanya bisa menghela nafas pasrah. "Semoga pelajaran ini tidak sesulit Sihir Kedokteran maupun Penelitian Mantra, karena lama-kelamaan aku bisa gila jika terus-menerus dijejali oleh materi-materi seperti itu," ujarnya.
"Sebaiknya kita pikirkan hal itu di lain hari. Meskipun pelajaran Sihir Manipulasi Elemen belum dimulai, kita masih memiliki tugas yang harus diselesaikan," ujar Hermione.
Mereka bertiga pun kembali mencoba untuk mengurai mantra Protego sehingga bisa mereka variasikan. Namun tidak sampai satu jam berikutnya, mereka sudah menyerah. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi nih," keluh Ron sambil bergelayut di atas sofa.
"Apakah kita perlu meminta bantuan Menma? Minggu lalu, ia dan sebagian temannya dari Ravenclaw juga sudah berhasil menunjukkan perkembangan di kelas Penelitian Mantra 'kan?" usul Harry.
"Aku setuju dengan idemu. Apalagi ia juga adik kandung dari Profesor Namikaze bukan?" kata Hermione. Ron hanya bisa mengangguk pasrah.
Mereka bertiga pun memutuskan untuk keluar dari Ruang Rekreasi Gryffindor untuk mencari Menma. Awalnya, mereka mencari menuju menara Ravenclaw, tapi Luna (yang mereka temui saat baru saja turun dari kereta pada awal tahun kelima) mengatakan bahwa Menma baru saja keluar dari menara Ravenclaw dan ia tidak tahu kemana Menma pergi.
Harry dan kedua sahabatnya pun mencoba mencarinya di aula besar, namun mereka juga sama sekali tidak melihat Menma di sana. Setelah berjalan kesana-kemari menyusuri setiap lorong maupun koridor, mereka pun menjumpai Menma tengah duduk di sebuah selasar di teras kastil sambil membaca sebuah buku yang dapat Harry asumsikan sebuah novel karangan Muggle.
Mereka pun segera menghampiri Menma. "Permisi, apakah benar kau yang bernama Menma Namikaze?" tanya Hermione.
Menma, yang tengah membaca novel Sherlock Holmes kesukaannya, memutuskan untuk menutup bukunya dan berkata, "Benar ... untuk apa kalian datang menemuiku?"
Harry langsung mengutarakan maksud mereka menemui Menma, yaitu meminta Menma bisa menjelaskan dengan lebih detail cara untuk memvariasikan mantra Protego yang ditugaskan oleh Naruto kepada murid-muridnya. Menma yang mendengarkan jawaban dari Harry pun kembali berkata demikian, "Aku bisa saja membantu kalian, namun aku ada satu permintaan."
"Apa permintaanmu, Menma?" tanya Ron.
Menma tersenyum tipis. "Aku hanya ingin meminta tolong kalian untuk sedikit membantu dan memperhatikan adikku, Naruko, karena ia masuk ke Asrama Gryffindor. Meskipun ia merupakan saudari bungsuku dan Profesor Namikaze, tapi tempramennya sama seperti ibu kami. Paling tidak aku ingin ia terhindar dari masalah saja, apalagi prefek Gryffindor adalah dirimu, Ronald," jelas Menma.
Harry dan kedua sahabatnya mengangguk. "Tentu ... kami usahakan untuk menjaga adikmu agar tidak terlibat masalah yang berarti," ujar Harry.
"Baiklah kalau begitu." Menma pun meletakkan buku novel miliknya di samping tubuhnya. Setelah itu, ia berkata, "Menurut kalian, apa sebenarnya tujuan kalian merapalkan mantra sihir Protego?"
Harry tidak menduga pertanyaan itu keluar dari mulut Menma. Sebelum ia menjawab pertanyaan itu, Hermione sudah menjawabnya terlebih dahulu, "Tentu saja kami merapalkan mantra itu untuk bisa melindungi kami dari bahaya."
Menma mengangguk. "Nah, kata 'melindungi' itu merupakan kata kunci yang bisa kalian jadikan pedoman dalam memvariasikan mantra tersebut. Untuk bisa memvariasikan atau memodifikasi mantra yang tergolong dasar, kalian perlu mengetahui kata kunci dari setiap mantra yang ingin divariasikan," jelasnya.
Ia pun mengeluarkan tongkat sihirnya dan mulai merapalkan mantra, "Tutela Imperialis Romae!" Setelah itu, muncul sebuah formasi perisai berbentuk persegi panjang transparan dengan garis-garis berwarna emas. Perisai-perisai itu tersusun rapat hingga membentuk sebuah dinding setinggi tubuh Menma. Tidak hanya dari depan Menma saja, perisai-perisai itu juga tersusun di atas Menma sehingga membentuk sebuah atap yang terbuat dari perisai.
Harry dan kedua sahabatnya itu hanya bisa kembali menatap Menma dengan pandangan kagum. Walaupun mereka telah melihat sihir itu saat kelas Penelitian Mantra, mereka masih merasa kagum dengan mantra itu. Mereka masih tidak bisa menyangka bahwa sebuah mantra perlindungan bisa divariasikan seperti ini.
"Mantra 'Tutela Imperialis Romae' atau dalam Bahasa Inggris 'The Protection of Imperial Rome' kubuat berdasarkan referensi dari formasi pertahanan yang dimiliki oleh pasukan Romawi. Mantra ini seharusnya memproyeksikan perisai-perisai yang tersusun rapi di berbagai sisi selain di bagian bawah, namun saat ini belum sempurna karena hanya menutupi bagian depan dan atas saja," jelas Menma. Kemudian, ia menonaktifkan mantra tersebut sehingga proyeksi tersebut perlahan menghilang.
"Kalian perlu mencari referensi lain kalau ingin memvariasikan mantra perlindungan itu, tapi jangan lupa kata kunci dari mantra itu. Jika kalian mengerti dan memahami dasar dari mantra itu sendiri, maka kalian bisa bebas memvariasikan mantra itu ke dalam bentuk apapun," jelas Menma lagi.
Mereka mengangguk. "Terimakasih atas penjelasanmu, Menma. Berkatmu, kami memiliki beberapa gambaran mengenai apa yang harus kami lakukan," ujar Hermione.
"Sama-sama, Granger," tukas Menma. "Yang penting, kalian tidak melupakan permintaanku tadi."
"Jangan khawatir, Menma." Kali ini giliran Ron yang berbicara, "Kami pasti tidak akan lupa dengan janji kami. Walau mungkin kami tidak bisa terus-menerus menjaga adikmu karena yah ... kau tahulah."
Menma terkekeh pelan. "Aku tahu ... tapi usahakan saja yang terbaik. Jika kalian perlu bantuan lainnya, datanglah saja kepadaku," ujarnya.
Ketika mereka tengah asyik mengobrol, tanpa sengaja Harry melihat sekelompok orang tengah berlarian menuju koridor utama. Awalnya Harry tidak mempedulikan hal tersebut, namun lama-kelamaan banyak murid yang berlarian ke arah yang sama.
Akhirnya, ia pun bersuara, "Em ... apakah kalian tahu mengapa mereka berlarian seperti itu?" Menma, Ron dan Hermione menengok ke arah yang dimaksud oleh Harry. Mereka pun ikut melihat banyak murid yang tampak berlari ke koridor utama.
"Entahlah, sepertinya ada pengumuman penting," kata Menma sambil terus menatap ke arah itu..
Ron menengok ke arah kedua sahabatnya dan Menma. "Apakah kita harus memperiksanya?" tanyanya. Menma, Harry dan Hermione mengangguk. Mereka berempat pun meninggalkan halaman kastil itu dan berlari ke arah koridor utama.
.
MAELSTROM AND THE ORDER OF ELEMENTAL
Let the fire of my soul burn until it lights up my path.
.
Naruto by Masashi Kishimoto
Harry Potter by J. K. Rowling
.
.
Summary : Ketika api perang mulai bergejolak karena kecelakaan di turnamen sihir, Naruto dan The Order of Elemental mulai bergerak untuk mengantisipasi kedatangan dua pangeran kegelapan dan para pengikutnya. Bagaimana cara mereka untuk memadamkan pergerakan dari sang kegelapan?
.
.
VI
Unexpected Scenario and Newcomer
.
.
Awal musim dingin menjadi waktu yang tidak menyenangkan bagi Naruto.
Beberapa minggu ini, ia sibuk mempersiapkan kurikulum dan juga materi yang tepat untuk murid-muridnya. Setelah melihat sebagian besar muridnya belum menunjukkan kemajuan yang pasti, tentu saja ia perlu memberikan program pembelajaran yang mudah dicerna bagi murid-murid tahun kelima.
Selain itu, ia masih harus sibuk mempersiapkan segel perlindungan untuk Hogwarts. Tepat tiga minggu yang lalu, ia berdiskusi dengan Albus Dumbledore mengenai sistem atau protokol perlindungan yang telah ia rancang dan beliau setuju dengan rancangannya. Ia pun langsung sibuk membuat persiapan dari segel yang telah ia rancang.
Saat ini, ia meletakkan kuas miliknya. Terlihat sebuah batu khusus dengan sebuah huruf rune terlukis di atasnya. Goresan demi goresan yang tertoreh di dalam huruf rune tersebut sangat presisi dan rapi hingga huruf itu terkadang bersinar keemasan.
Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya. Matanya menerawang jauh ke langit-langit ruang kantornya. Pikiran masih terbayang tentang berita yang ia dapatkan semalam. Semalam, ia dihubungi oleh Kakashi Hatake, Komandan dari pasukan Task Force #7 Region of Fire. Kakashi mengatakan bahwa The Order kehilangan kontak dengan ayahnya, Minato, yang tengah menyelidiki sesuatu di Amerika.
Berita terakhir yang ia dapatkan mengenai ayahnya adalah ayahnya tengah melakukan negosiasi dengan Kementerian Sihir Amerika Serikat untuk melakukan penyelidikan mengenai beberapa penyihir kriminal yang berhasil keluar dari Azkaban dan dikabarkan kabur ke Amerika Serikat. Berita itu sudah sebulan lamanya, terlebih berita itu ia dengar saat ia dimintai tolong untuk menjadi Deputi Namikaze saat sidang pelanggaran yang dilakukan oleh Harry Potter di Wizengamot.
Untungnya, ibu dan kedua saudaranya belum mengetahui sama sekali akan hal ini. Ia pun meminta kepada Kakashi untuk merahasiakan hal ini dari ibu dan kedua saudaranya sementara ia akan memerintahkan beberapa penyidik dan pelacak terbaik milik Keluarga Namikaze untuk ikut menyelidiki hilangnya Sang Ayah.
Setelah Kakashi undur diri semalam, Naruto langsung menghubungi ajudan ayahnya, Kirihito Namikaze, untuk segera mengirimkan penyidik dan pelacak terbaik yang dimiliki oleh Keluarga Namikaze serta tetap merahasiakan hal ini dari ibunya. Ia tahu bahwa ibunya akan gampang panik ketika mendengar ayahnya hilang kontak selama sebulan lebih dan akan menyuruhnya untuk turun langsung menyelidiki kasus ini.
Awalnya, ia memang ingin turun langsung untuk menyelidiki kasus tersebut, namun prioritas utamanya saat ini adalah melindungi kedua saudaranya yang masih bersekolah di Hogwarts serta menyelidiki adanya konspirasi atau tidak di kalangan staf Hogwarts setelah ditemukannya salah satu wadah Horcrux milik Sang Pangeran Kegelapan.
Ketika ia masih melamun sambil menyandarkan punggungnya, tiba-tiba ia mendengar sebuah suara ketukan pada pintu kantornya. "Masuk!" perintahnya. Tak lama kemudian, muncullah sosok Sakura, partnernya dalam misi kali ini, dari ambang pintu. Ia tampak membawa sebuah koran di tangannya.
"Kau tampak kusut, Naruto. Apakah persiapannya memang sesulit itu?" tanya Sakura sambil berjalan mendekati Naruto.
Naruto membenarkan posisi duduknya dan menghadap ke arah Sakura. "Memang sulit ... tapi tidak terlalu sulit juga. Fondasi awal untuk segel empat belas pilar surgawi yang kusiapkan kali ini adalah lima pilar elemen dasar. Sesudah itu, baru kesembilan pilar roh pelindung," jelas Naruto. Matanya menerawang ke balik pilar. "Tapi sebenarnya bukan karena itu saja ..."
"Lalu apa yang sedang mengganggu pikiranmu, eh?" tanya Sakura dengan penasaran. Naruto pun menceritakan tentang apa yang ia dapatkan semalam melalui pembicaraannya dengan Kakashi.
Sontak Sakura langsung terkejut. "Flame High Counselor menghilang? Bagaimana bisa?" tanyanya.
Naruto hanya bisa menggeleng. "Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan ayahku. Berita terakhir yang kudengar tentang dia adalah bahwa dia tengah bernegosiasi dengan pihak Kementerian Sihir Amerika mengenai masalah pelarian para penyihir kriminal yang disinyalir berada di Amerika. Aku takut kalau 'mereka' berada di balik hilangnya ayahku," jelasnya.
Sakura sedikit menghela nafasnya. Ia sedikit merasakan apa yang kini sahabatnya rasakan itu. "Lalu bagaimana dengan tanggapan ibumu?" tanyanya lagi.
"Aku meminta Ketua Kakashi untuk merahasiakan hal ini dari ibuku serta kedua saudaraku. Jika ibuku bertanya kepadanya, aku meminta Ketua Kakashi untuk menjawab kalau ayah tengah menyelidiki jalur pelarian yang dilakukan oleh para penyihir kriminal yang berhasil kabur dari Azkaban itu," jawab Naruto. "Lagipula, aku juga sudah menghubungi Tuan Kirihito semalam untuk menyiapkan Auror terbaik milik Keluarga Namikaze agar kita bisa melacak hilangnya ayahku. Dan kemungkinan nanti siang, aku akan mengirimkan surat kepada Nyonya Amelia Bones dari Departemen Auror milik Kementerian untuk ikut membantu dalam penyelidikan."
Sakura hanya bisa tersenyum lega. "Syukurlah kalau kau sudah memiliki rencana mengenai hal tersebut, tapi kau tidak akan bisa menyembunyikan hal ini selamanya," ujarnya.
"Aku tahu ... aku tahu ... aku baru akan bertindak ketika rencana perlindungan yang kubuat untuk Hogwarts berhasil. Kalau aku pergi sekarang, aku takut kalau Pelahap maut tiba-tiba datang dan meneror setiap siswa yang ada di sini, terlebih kedua adikku," tukas Naruto. "Ngomong-ngomong, tidak biasanya kau datang ke kantorku. Apakah ada berita penting yang ingin kau sampaikan?"
Tiba-tiba saja, Sakura menepuk jidatnya. "Haduh, aku lupa ingin memberitahumu. Ini ada berita baru dari Kementerian sihir dan sepertinya hal ini cukup berpengaruh dengan misi yang kita lakukan di sini," ujarnya sambil menyodorkan koran yang tadi ia bawa kepada Naruto.
Dengan rasa penasaran, Naruto mengambil koran tersebut dari tangan Sakura. Ia pun membaca berita itu dengan seksama. Di halaman utama Daily Prophet yang terkenal, tercantum sebuah berita yang membuat Naruto sedikit tercengang :
KEMENTERIAN SIHIR MENCARI PERBAIKAN DALAM SISTEM PENDIDIKAN BAGI PENYIHIR PEMULA
DOLORES UMBRIDGE DITUNJUK MENJADI INKUISITOR AGUNG YANG PERTAMA.
"Sialan! Apa sebenarnya yang dipikirkan oleh Si Tua Bangka itu!?" Naruto berkata sambil menggeram marah, "Sebegitu paranoid kah dia karena merasa kalau Dumbledore berusaha untuk melengserkan dia!?"
Naruto langsung membanting koran itu ke atas mejanya hingga batu-batu rune yang ia buat terjatuh dan berserakan di lantai kantornya. Sakura langsung mendekati Naruto dan mengelus pundak Naruto secara perlahan, berusaha untuk menenangkan emosi milik sahabatnya.
"Tenangkan dirimu, Naruto. Jika kau emosian seperti itu, kau tidak bisa memikirkan rencana dengan lebih jernih," ujar Sakura.
"Bagaimana aku bisa tenang, Sakura? Apakah kau tahu konsekuensi dan resiko dari diangkatnya Umbridge menjadi seorang Inkuisitor?" tanya Naruto yang masih tenggelam dalam emosinya.
Sakura menggeleng. "Memangnya apa yang akan terjadi?" Kini giliran Sakura yang bertanya.
"Jika Umbridge menjabat sebagai Inkuisitor, maka otoritasnya di Hogwarts akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Dumbledore, bahkan memecat Dumbledore sekalipun akan menjadi hal yang sangat mudah bagi dirinya. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi rencana perlindungan yang telah kubuat dan telah disetujui oleh Dumbledore. Karena aku serta Dumbledore perlu melaporkan protokol keamanan yang kubuat ini ke Kementerian Sihir melalui Umbridge," jelas Naruto. "Nah, yang kutakutkan adalah pihak Pelahap Maut serta 'mereka' yang menyusup di Kementerian dapat mengetahui celah dari rencana yang kubuat dan menjadikan hal tersebut peluang untuk menyusup serta menguasai Hogwarts."
Sakura terkesiap mendengar penjelasan dari Naruto itu. Ia tidak menyangka dampak yang diberikan oleh keputusan dari Kementerian Sihir saat ini, bisa memiliki dampak yang cukup besar seperti itu. "Maka dari itu, kau terlihat marah dan panik seperti tadi," katanya.
Naruto mengangguk. Ia kembali menyandar pasrah di kursinya. Kepalanya ia topangkan ke tangannya dan matanya mulai terpejam. Ia berusaha untuk meredam emosi yang terus bergejolak di hatinya karena mendapatkan berita yang sama sekali tidak menyenangkan di waktu yang boleh dibilang hampir bersamaan.
"Kenapa dua kejadian ini terjadi di saat yang hampir bersamaan? Apakah memang ada sesuatu atau seseorang di balik dua peristiwa ini?" gumam Naruto. Sakura hanya bisa menatap Naruto dengan pandangan iba dan berkata, "Sebaiknya kau tenangkan dirimu terlebih dahulu, Naruto. Setelah itu, baru kita sama-sama pecahkan masalah ini."
Naruto hanya bisa menghela nafas pasrah untuk saat ini. Perlahan, ia membuka matanya seraya berkata, "Terimakasih sudah mencoba untuk menghiburku, Sakura. Kalau 'dia' ada di sini dan melihatmu bertingkah seperti itu, mungkin 'dia' akan cemburu. Hehe."
Sakura ikut terkekeh pelan. "Tidak usah kau pikirkan, Naruto. Itu hal yang kecil. Lagipula, kau adalah sahabatku dan 'dia' pasti mengerti," katanya. Kemudian, ia menatap Naruto dengan pandangan serius. "Kali ini, apa yang harus kita lakukan?"
"Pertama, kau laporkan hal ini kepada The Order terlebih dahulu. Bilang kepada mereka kalau situasi misi kali sudah mencapai kategori FUBAR (F*cked Up Beyond All Recognition). Kedua, aku akan mendiskusikan segel baru sebagai perangkap untuk Kementerian dengan kepala sekolah Dumbledore. Ketiga, aku akan tetap membuat surat permohonan ke pihak Departemen Auror untuk menyelidiki hilangnya ayahku karena bagaimanapun juga beliau merupakan salah satu petinggi di Departemen Auror itu," jelas Naruto.
Sakura pun mengangguk. Mereka berdua pun segera mempersiapkan rencana untuk menghadapi skenario yang tiba-tiba saja berubah ke arah yang sama sekali tidak mereka duga.
.
~Maelstrom and The Order of Elemental~
.
Beberapa minggu terakhir ini menjadi minggu-minggu yang datar-datar saja menurut Harry.
Semenjak Dolores Umbridge diangkat menjadi Inkuisitor Agung, banyak sekali peraturan yang diperketat sehingga membuat murid-muridnya tidak bisa bergerak bebas untuk bersenang-senang. Bahkan duo paling jahil di Hogwarts, Fred dan George, tidak bisa bergerak leluasa untuk melakukan kejahilan mereka di sekolah.
Tidak hanya itu, kini setiap pelajaran diawasi secara langsung oleh Umbridge dengan dalih 'Perbaikan mutu pendidikan'. Ia tidak hanya mengawasi para muridnya saja, tetapi juga para profesor yang mengajar kelas tersebut. Terkadang ia menanyai para profesor tersebut dengan pertanyaan di luar konteks pengajaran yang ada
Dalam beberapa minggu terakhir ini juga, Harry dimintai tolong oleh sebagian kawan-kawannya untuk menjadi mentor dalam penguasaan mantra Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Hal ini awalnya dipelopori oleh Hermione yang merasa kalau pelajaran yang diberikan oleh Umbridge sangat tidak efektif sehingga ia meminta Harry untuk mengajari mereka beberapa mantra yang berguna untuk bertahan dari para penyihir gelap itu, terlebih karena ia memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam menghadapi hal tersebut (dan ia sama sekali tidak bangga dengan hal itu karena itu menyangkut masalah hidup dan mati dirinya).
Melalui pertemuan yang bertempat di salah satu kedai di Hogsmeade, Harry dan kedua sahabatnya membentuk suatu perkumpulan yang diberi nama LD atau Laskar Dumbledore. Perkumpulan itu diikuti oleh beberapa murid tahun kelima dan beberapa murid di tahun-tahun ke bawah yang merasa tidak mendapatkan manfaat dari pelajaran Umbridge.
Mereka semua berkumpul dan berlatih secara sembunyi-sembunyi di dalam Ruang Kebutuhan, salah satu dari sekian banyak rahasia tersembunyi yang dimiliki oleh Hogwarts. Di sela-sela ia melatih kawan-kawannya, Harry menuliskan surat kepada ayah baptisnya dan ikut serta mempersiapkan diri dalam menghadapi Piala Quidditch tahun ini.
Hingga pada suatu saat, ia dan Hermione mendengar kabar bahwa Hagrid, guru dalam mata pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib, telah kembali setelah perjalanannya. Mereka berdua memutuskan untuk pergi secara sembunyi-sembunyi untuk menemui Hagrid di pondoknya.
Namun, ternyata bukan mereka saja yang ingin menemui Hagrid setelah ia pulang dari perjalanannya. Ketika Harry dan Hermione sampai di pondok milik Hagrid, mereka menemukan Umbridge sudah berada di pondok tersebut terlebih dahulu. Selain Hagrid dan juga Umbridge, mereka juga melihat sosok lain yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Sosok itu adalah seorang pria muda yang mungkin seumuran dengan Profesor Naruto Namikaze. Badannya tinggi agak jangkung dan memakai sebuah kemeja berwarna pink (?) dan dibalut dengan rompi berburu berwarna hijau tua, sebuah kombinasi yang sangat absurd terutama untuk musim dingin seperti saat ini.
Pria itu memiliki rambut pendek berwarna coklat sedikit keemasan dan sebuah topi safari tampak menggantung di belakang lehernya. Sementara di depan dadanya, tampak sebuah kamera model analog berwarna sama seperti kemejanya terkalung di sana. Pria itu tampak mencermati setiap perkataan yang disampaikan oleh Umbridge. Harry dan Hermione memutuskan untuk sedikit mencuri dengar terlebih dahulu.
"Jadi, Tuan Rubeus Hagrid, saya mendengar kalau anda baru saja pulang dari perjalanan jauh. Bisakah anda memberitahu saya ke mana anda pergi?" Mereka mendengar suara Umbridge bertanya.
Namun bukan Hagrid yang menjawab, melainkan pria muda itu, "Sebelumnya saya minta maaf, Nyonya ..."
"Dolores Umbridge."
"Ah, iya. Sebelumnya saya minta maaf, Nyonya Umbridge. Tapi menurut saya, mungkin seharusnya anda memberikan waktu kepada Tuan Hagrid untuk beristirahat saat ini. Kami baru saja menempuh perjalanan yang lumayan jauh dan anda bisa menanyakannya kepada dia esok hari, bukan?" ujar pria itu.
Harry dan Hermione bisa melihat kalau Umbridge memasang senyum yang memuakkan. "Mohon maaf sebelumnya, tapi saya tidak mengenal anda dan anda sepertinya tidak memiliki hak untuk menjawab seperti itu," kata Umbridge. Kemudian, Umbridge melihat ke arah Hagrid kembali seraya berkata, "Jadi, Tuan Hagrid. Bisakah anda jelaskan langsung kepada saya sehingga saya tidak perlu mengganggu jam istirahat anda?"
Dengan gugup, Hagrid menjawab, "Er ... saya ... saya pergi ke salah satu daerah perbukitan di Wales karena saya mendengar dari kenalan saya kalau ada sebuah satwa gaib langka tengah membuat sarang di sana. Jadi, saya mencoba untuk mengamati dan mungkin mencoba untuk membawa mereka ke mari untuk saya tangkarkan di sini."
"Lalu, mengapa kau tidak berhasil membawa hewan itu ke mari? Dan mengapa kau terluka seperti itu?" tanya Umbridge.
Pria muda tadi kembali berkata, "Untuk itu, biar saya yang menjawab." Ia sedikit membungkukkan badannya. "Perkenalkan, nama saya adalah Tsukasa Kadoya, seorang penjelajah dan pengamat Satwa Gaib di seluruh dunia. Kebetulan saya bertemu dengan Tuan Rubeus ketika dia tengah di serang oleh sekawanan Hippogriff karena tidak sengaja merusak sarang mereka. Saya pun membantu Tuan Rubeus dan sebagai gantinya, saya akan membantu mengajar di sini sebagai Asisten Profesor dalam mata pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib."
Mata Umbridge sedikit terbelalak karena terkejut. Mungkin ia tidak menyangka bahwa pria muda tersebut ternyata akan menjabat sebagai Asisten Profesor dari Hagrid. Sambil terus menebar senyumnya, Umbridge berkata, "Ternyata begitu. Terimakasih atas jawabannya, Tuan Tsukasa. Saya harap anda bisa memberikan materi yang baik saat sesi pembelajaran nanti."
Kemudian, Umbridge mulai bersiap-siap untuk meninggalkan pondok itu. "Kalau begitu, Tuan-Tuan. Terimakasih atas penjelasannya. Saya akan menunggu sesi pembelajaran kalian. Silahkan kalian beristirahat," ujarnya.
Setelah itu, ia beranjak keluar dari pondok itu. Harry dan Hermione langsung menyembunyikan diri mereka hingga Umbridge tidak melihat mereka berada di sekitaran pondok. Setelah merasa kalau Umbridge telah hilang dari pandangan mereka, Harry dan Hermione langsung bergerak masuk ke dalam pondok itu.
Saat mereka memasuki pondok itu, mereka disambut langsung oleh Hagrid. "Harry ... Hermione ..., senang melihat kalian berdua di sini."
"Kami juga senang bertemu denganmu, Hagrid. Tapi sebenarnya mengapa kau tiba-tiba pergi dari Hogwarts? Aku sudah tidak pernah mendengar kabar darimu semenjak peristiwa Triwizard tahun lalu," kata Harry.
Sebelum Hagrid menjawab, pria bernama Tsukasa tadi ikut menyapa Harry dan juga Hermione, "Jadi ini yang namanya Harry Potter dan juga Hermione Granger. Hagrid bercerita banyak tentang kalian. Mari duduk, aku akan menghidangkan teh hangat untuk kalian."
Harry dan juga Hermione tersenyum kaku kepada Tsukasa dan mulai duduk di kursi yang tersedia. Sementara Tsukasa tengah menghidangkan teh untuk mereka berdua, Hagrid menceritakan kepada mereka kalau ia dimintai tolong oleh Dumbledore untuk bernegosiasi dengan Kaum Raksasa agar tidak memihak kepada Ia-yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebutkan yang mulai bangkit dan menghimpun pasukan.
"Sebagian dari kaumku menyatakan setuju untuk tidak memihak, namun sebagian yang lain telah mendeklarasikan diri memihak kepada Pangeran Kegelapan. Aku, yang hanya bisa menarik sebagian dari kaumku, memutuskan untuk kembali ke Hogwarts karena tugasku sudah selesai. Tapi dalam perjalanan pulang, aku disergap oleh sepasukan Pelahap Maut yang bekerja sama dengan kaum Lycan," jelas Hagrid.
Tak lama kemudian, Tsukasa datang sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh. Ia menghidangkan kedua cangkir tersebut ke Harry dan Hermione dan berkata, "Saat Hagrid disergap oleh pasukan tersebut, kebetulan aku tengah beristirahat di dekat situ. Setelah mendengar keributan yang terjadi, aku memutuskan untuk mengecek keadaan dan melihat Hagrid diserang. Aku menolongnya dari pasukan itu."
Hagrid mengangguk. "Betul kata, Su ... su ..."
"Tsukasa."
"Yah ... Tsukasa. Betul kata, Tsukasa. Karena aku melihat dirinya menggunakan pakaian penjelajah dan aku sudah melihat katalog-katalog perjalanannya, akhirnya aku memutuskan untuk menjadikan dirinya Asisten Profesor di kelas Pemeliharaan Satwa Gaib dan hal ini sudah disetujui oleh Profesor Dumbledore," kata Hagrid.
Harry dan Hermione mengangguk saja ketika mendengar perkataan Hagrid serta Tsukasa. Setelah itu mereka berempat tampak bersenda gurau hingga tak terasa malam mulai terlukis di angkasa. Mengingat peraturan mengenai jam malam yang ketat, Harry dan Hermione memutuskan untuk langsung kembali ke Asrama daripada harus berurusan dengan Argus Filch dan Umbridge.
.
Bersambung
.
New spell Unlocked :
Tutela Imperialis Romae (The Protection of Imperial Rome) : salah satu variasi dari mantra perlindungan. Perapal mantra akan memproyeksikan susunan formasi perisai membentuk sebuah dinding di keempat sisi dan juga atap. Dapat digunakan untuk melindungi sepasukan penyihir.
Hai semuanya, kembali bersama saya, no Emperor. Kali ini saya update cepat untuk fic ini. Pada chapter kali ini, banyak sekali detail-detail yang muncul di sini. Pertama, salah satu mantra variasi dari mantra perlindungan dimunculkan di sini. Mantra yang diciptakan oleh Menma ini memiliki konsep yang sama seperti formasi pertahanan yang sering digunakan oleh Pasukan Romawi.
Kedua, Minato menghilang. Setelah di chapter dua diceritakan kalau Minato pergi ke Amerika untuk bernegosiasi agar penyelidikan mereka mengenai kasus kaburnya para penyihir kriminal dari Azkaban dapat berjalan mulus di Amerika. Tapi tak disangka, Orde Elemental kehilangan kontak dengan Minato. Untuk kejelasan mengenai detail ini, akan diceritakan lebih lanjuf ke Arc kedua.
Kemudian yang ketiga, Laskar Dumbledore mulai terbentuk. Meski hanya disebutkan dalam narasi saja, tapi pembentukan laskar ini cukup penting karena menanggapi otoritas Umbridge sebagai Inkuisitor. Keempat adalah munculnya Tsukasa Kadoya sebagai Asisten Profesor dalam kelas Pemeliharaan Satwa Gaib.
Tsukasa Kadoya aka. Mamang Decade memang sudah pernah muncul dalam omake di chapter 1. Sekarang ia mulai masuk ke dalam cerita untuk bisa mendapatkan salah satu pecahan kekuatan Sang Maelstrom seperti yang diperintahkan oleh Zelretch kepadanya (baca fic The Fate : Prologue untuk lebih lengkapnya).
Mungkin itu saja dari saya, semoga para pembaca sekalian semakin menikmati karya yang saya buat.
Akhir kata, sampai jumpa di chapter selanjutnya.
