Guest: wo iya dong. Pastinya back

Yabaidesune: wokeh!

EROstrator: pasti sampai akhir insyaallah XD

alivemikasa1: hehehehe :D

Anastasia-hime: tentunya lanjut, well soal lebih seru, kita lihat saja nanti :D

Guest: siap!

dlucifer35: yah, soal mengapa versi remake karena alur half versi awal agak berantakan(menurut author) makanya dibuat berbeda dari sebelumnya
Wokeh! Udh up ni.

Ashiaap! Kau uga jaga kesehatan :D

Shae Quen: wokeh, udh lanjut ni :)

AnharaYD: terima kasih atas sambutannya :D
selamat datang kembali

Miji695: wokeh! Udh lanjut ni

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 2: Meeting

Half

Summary:

{Dia adalah seorang Devil Hunter, pekerjaannya membasmi makhluk supranatural yang mengincar nyawa manusia. Namanya Uzumaki Naruto. Kegiatan barunya? Melindungi para Spirit dari ancaman yang mengintai mereka.}

Disclaimer:

{Semua yang muncul di fic ini murni milik pemilik aslinya. Kecuali alur tentu saja.}

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

{Chapter 2 : Meeting}

.

.

.

.

.

"Raksasa yang hampir menelan kami tadi itu adalah cacing?"

"Ya, semacam itulah, Tatsuo-san. Namun, kalian jangan khawatir, kemunculannya jarang jadi kita tak akan menemuinya lagi dalam waktu dekat."

"Hmm, begitu rupanya."

Setelah menyelamatkan ketiganya dari Limbo Worm, Naruto membuat keputusan untuk membantu mereka keluar dari dunia ini sebelum kembali ke Kota Redgrave. Dia tak keberatan menolong mereka meskipun tidak termasuk agendanya saat ini, karena membantu sesama bukanlah tindakan yang salah.

Sambil berjalan juga, Naruto sempat menjelaskan tentang Limbo kepada mereka.

Darinya, Haruko dan Tatsuo sadar kalau Limbo merupakan 'cermin' pemisah antara dunia manusia dan 'dunia lain'. Keduanya tidak tahu 'dunia lain' ini apa, tapi dari nada bicara Naruto, kedengarannya itu bukan dimensi yang aman untuk dimasuki bagi manusia.

"Jujur saja, Naruto-kun, kami yang terbiasa dengan era modern sebenarnya terkejut mengetahui keberadaan supranatural rupanya ada juga di dunia ini."

Haruko mengungkapkan pemikirannya. Sebagai bagian dari perusahaan [Asgard Electronic], tepatnya organisasi [Ratatoskr], dia dan suaminya terbiasa berurusan dengan hal logis seperti teknologi modern tiba-tiba mengetahui kehadiran makhluk supranatural merupakan pengalaman baru bagi mereka. Tentunya bukan berarti tidak percaya, akan tetapi sesuatu yang muncul di luar logika cukup sulit untuk diterima pemahaman manusia pada umumnya.

"Aku mengerti. Dari sudut pandang 'normal', hal semacam ini memang sulit dipercaya."

Naruto menggaruk pipinya. "Namun, sebenarnya akan lebih baik dibuat seperti itu. Semakin sedikit yang tahu tentang dunia mistis, itu semakin bagus."

"Oh, benarkah? Kalau begitu apakah kau akan melakukan sesuatu yang ekstrim agar kami tutup mulut?"

Tatsuo terdengar antusias entah karena apa.

"Sesuatu yang ekstrim? Kurasa itu tak per–"

"Oh! Oh! Aku tahu. Ini seperti adegan di salah satu film Twilight di mana Edward tidak mau Bella mengetahui kalau dia itu seorang Vampir hingga ke tahap meninggalkannya!" Haruko sama antusiasnya.

"Kau benar. Haah, romantis sekali seri itu. Jadi ingin menonton ulang."

"Nanti setelah kita kembali ke hotel."

"Tapi jangan lupa popcorn-"

'Haruko-san dan Tatsuo-san benar-benar santai menghadapi situasi ini.' Dia sweatdrop.

Merasakan kain bajunya ditarik pelan, Naruto melirik ke samping dan menyadari Natsumi yang melakukan itu. Naruto kemudian bicara.

"Apa ada yang ingin kau tanyakan, Natsumi-chan?"

Natsumi terdiam, barangkali sedang memikirkan pertanyaan yang ingin diajukannya pada si Dark Slayer. Dia pun bertanya dengan nada gugup.

"Apakah... Pegasus itu nyata?"

Naruto berkedip, sekali, dua kali, lalu senyuman terpoles di wajahnya sebelum dia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Menggeser layar guna membuka kunci, dia mencari foto di galeri sampai menunjukkan itu pada Natsumi.

"Ini maksudmu?"

Terkejut, Natsumi memegang alat elektronik tersebut untuk melihat lebih dekat, tak menyangka bisa melihat hewan ajaib favoritnya meski hanya dalam bentuk gambar. Dia juga menyadari di dalam foto ada Naruto yang berdiri di samping pegasus itu.

"Bagaimana bisa?"

Naruto berpikir tak ada salahnya berbagi salah satu pengalamannya. Tentunya dengan pemilihan kata yang baik dan mudah dimengerti. Hal terakhir yang diinginkan olehnya adalah membuat trauma seseorang dengan kisah aslinya.

"Aku pernah bertemu seekor pegasus, kejadiannya kira-kira satu bulan yang lalu. Waktu itu aku berhadapan dengan sekelompok penyihir yang ingin... menukar, pegasus itu dengan harta yang banyak."

"Lalu, kondisi pegasus itu bagaimana?"

"Dia bersama keluarganya di rumah mereka."

"Di mana?"

Naruto terkekeh. "Rahasia."

"Eh? Ayolah Naruto-nii. Aku mau tahu tempat tinggalnya di mana."

Entah sadar atau tidak, Natsumi cemberut saat mengucapkan kalimat itu.

"Letaknya bukan di dunia manusia jadi aku tidak bisa memberitahumu. Maaf."

"Buu."

Naruto terkekeh dengan sikapnya, menepuk pelan rambut hijau Natsumi.

"Meski tidak tahu apa yang kamu hadapi, kamu tetap mencoba menjaga Haruko-san dan Tatsuo-san dari bahaya. Sungguh perempuan pemberani kamu ini," pujinya tulus.

Natsumi menarik pelan lengan Naruto dari rambutnya, membuang muka tapi semburat merah muda kecil muncul di pipinya.

"Natsumi-chan memang anak pemberani. Benarkan, Takkun?"

"Yap, benar sekali itu."

Keduanya tersenyum lebar pada Natsumi.

"Mama! Papa!" Natsumi malu.

'Hmm, dia pemalu rupanya. Seperti yang diharapkan dari anak kecil.'

Melihat sikap Natsumi mengingatkannya dengan adiknya, Dante, saat ibu mereka Eva masih hidup. Pemalu, tapi selalu yang paling cepat dan sigap bila menyangkut keselamatan keluarganya.

Mengingat masa lalunya, Naruto terkadang penasaran bagaimana jadinya jika dia tidak dibawa Sparda pada saat masih bayi kala itu. Apakah kehidupannya akan jauh lebih baik, atau bahkan jauh lebih buruk dari sekarang? Dia tidak tahu. Namun, satu hal yang dirinya tahu dia sudah puas dengan kehidupannya saat ini.

Walau itu berarti harus memastikan dua adik kembarnya tidak membunuh satu sama lain dalam pengawasannya. Tak lucu jika Dante dan Vergil mati konyol karena pertengkaran sepele.

Sadar dari lamunannya, Naruto mengamati sekelompok makhluk bersayap dan kepalanya burung dengan setengah badannya singa di udara. Mereka tampak terbang menuju arah keempatnya.

'Tunggu, itu kan...'

Naruto tersentak, beralih pada keluarga itu.

"Semuanya. Untuk keselamatan kalian tolong bersembunyi karena ada sekelompok demon yang mengarah kemari," pintanya.

Tanpa pikir panjang ketiganya bersembunyi dibalik salah satu pilar yang besar. Mereka mengamati sang Dark Slayer memegang erat gagang katana-nya.

'Kawanan Griffin rupanya.'

Naruto lenyap dalam kilat biru, muncul di atas salah satu Griffin lalu menusuk lehernya dan melompat ke Griffin lain, memutar tubuhnya menyerupai roda berputar sebelum menebas leher dua itu tanpa ragu. Menyadari dirinya terjun ke bawah, Naruto menciptakan lingkaran sihir di bawah kakinya sebagai pijakan, menghasilkan pasukan pedang mistis biru di punggungnya yang langsung melesat menuju sisa Griffin, sukses mengenai kepala mereka secara bersamaan.

Dia menyaksikan semua mayat Griffin terbakar api biru.

'Selesai juga.'

Menghilangkan lingkaran sihir, Naruto mendarat di tanah dan tak sengaja membuat getaran kecil karena ulahnya. Sang Dark Slayer menatap sekitar lalu menyadari tak ada lagi makhluk yang mendekat.

"Keadaan sudah aman."

Haruko, Tatsuo, dan Natsumi, keluar dari tempat persembunyian lalu menghampiri Naruto.

"Tadi itu ekstrim sekali," ujar Tatsuo.

Naruto tertawa gugup. "Ya, begitulah. Sekarang mari kita melanjutkan perjalanan."

Keempatnya segera bergerak lagi, menyusuri jalan di dunia tak damai itu.

"Kau baik-baik saja, Naruto-kun?" Haruko terdengar cemas.

Naruto berkedip.

"Huh? Oh, aku telah terbiasa dengan kegiatan semacam ini, jadi aku baik-baik saja. Sungguh, tapi terima kasih atas kekhawatiranmu, Haruko-san," sahutnya.

Dia mengerutkan keningnya, mengingat yang dikatakan Naruto sebelumnya.

'Kamu bilang kamu terbiasa melakukan kegiatan semacam ini, apa mungkin...'

"...berapa usiamu, Naruto-kun?"

"Huh? Oh, umurku 19 tahun," jawabnya.

"Maafkan aku atas pertanyaanku ini, tapi... apa kau telah menyelesaikan sekolahmu?" tanya Haruko hati-hati.

Naruto menggaruk pipinya karena canggung. Kenyataannya, dia belum menyelesaikan sekolahnya karena dia sengaja melewatkan beberapa tahun sekolah untuk memastikan saudara kembarnya menyelesaikan pendidikan mereka sebelum dirinya. Selain sebagai Paranormal Investigator, Naruto pernah bekerja paruh waktu demi membiayai sekolah kedua adiknya.

Mengingat dia adalah yang paling tertua, sudah menjadi kewajibannya mengurus Dante dan Vergil walau itu berarti sebagian kebutuhannya ada yang belum terpenuhi. Seperti sekolah contohnya.

Biar bagaimanapun juga, Eva dan Sparda saja sepenuh hati menjaganya, maka tak mengejutkan apabila Naruto dengan sukacita merawat Dante dan Vergil saat mereka tiada.

"Sebenarnya... aku berencana melanjutkan sekolahku tahun ini." Dia mengingat sesuatu. "Ngomong-ngomong, apakah Haruko-san dan Tatsuo-san tahu rekomendasi sekolah yang bagus?"

Tatsuo berkedip, kemudian berseri.

"Ada sekolah bernama Raizen High School yang terletak di Kota Tenguu. Kami bisa mendaftarkanmu di sana."

"Eh? Ah, tidak perlu. Aku bisa mendaftar sendiri jadi-"

"-setidaknya biarkan kami membalas kebaikanmu karena telah menyelamatkan nyawa kami, Naruto-kun," sela Haruko tulus.

Naruto kelabakan karena sepertinya keduanya begitu serius ingin membantunya. Ada kemungkinan itu disebabkan Tatsuo dan Haruko adalah orang tua, jadi secara naluri mereka ingin membantu Naruto yang menurut mereka masih butuh pertolongan orang dewasa. Dalam kasus ini yaitu pendidikan.

"Kurasa tak ada salahnya menerima tawaran mereka, Naru-chan," kata Matatabi.

Sang Gobi setuju. "Yang dikatakan Matatabi ada benarnya, Naruto. Seperti kau yang memiliki pola pikir bahwa menolong orang lain itu tidak salah, dua manusia ini juga berpikir membantumu adalah tindakan yang menurut mereka benar."

"Jangan khawatir. Mereka tak memiliki emosi negatif." Kurama menjawab santai.

"Sudah saatnya kau mempunyai setidaknya kehidupan normal layaknya manusia pada umumnya," tambah Saiken.

"Sesekali beristirahat dari memburu makhluk bukanlah hal buruk." Shukaku merespon.

"Sekolah itu bagus untukmu juga, Naruto-san," sahut Choumei.

"Tepat sekali." Isobu rupanya masih bangun.

"Aku sependapat dengan yang lain," kata Gyuki.

Son Goku terkekeh. "Yeah. Aku jamin kau akan mendapat pengalaman unik semasa menjalani sekolah."

'Semuanya... aku mengerti. Terima kasih atas masukan kalian.'

""Sama-sama.""

Meski para Bijuu sering bertengkar dan membuat kepalanya pusing, terkadang ada momen yang mengingatkan Naruto betapa tua dan bijaknya mereka. Contohnya seperti saat ini.

"Baiklah, jika itu tidak... memberatkan kalian?"

Tatsuo dan Haruko tersenyum.

"Sama sekali tidak/Tentunya kami tidak merasa direpotkan."

Natsumi menemukan sikap Naruto begitu menghibur saat menggaruk tengkuknya.

"Naruto-nii malu?"

"H-Hah? Tidak juga."

Tatsuo, Haruko, dan para Bijuu, tertawa geli melihat perilaku Naruto.

Beberapa saat kemudian, keempatnya tiba di depan dua pilar yang berdiri berdampingan.

Tatsuo menepuk tangannya.

"Ah, benar juga, tempat ini yang kami lihat saat pertama kali masuk ke dunia ini," ujar Tatsuo.

Naruto mengangguk, menarik Yamato dari sarungnya sebelum mengayunkan itu searah jarum jam, dari ketiadaan muncul sebuah portal.

"Di sini kita berpisah. Kalian hanya perlu masuk ke dalam portal yang akan mengantar kalian ke tempat semula di dunia manusia sebelum kalian berada di Limbo," jelasnya.

Ketiganya mengangguk, baru ingin berjalan tapi menyadari Naruto tidak ikut bersama mereka.

"Naruto-kun, kau tidak ikut kami?" Haruko kebingungan.

"Aku akan keluar lewat jalur lain," ujar Naruto.

Mereka paham. Tatsuo lalu menyerahkan secarik kertas pada Naruto dari tasnya.

"Ini nomor telepon kami. Jika sudah sampai di Jepang hubungi saja nomor ini, Naruto," sarannya.

Dia menerima kertas itu.

"Akan kuhubungi nanti jika sudah tiba," jawab Naruto.

Sang Dark Slayer memperhatikan Natsumi mendekatinya.

"Um, Naruto-nii."

"Ya, Natsumi?"

Natsumi nampak gugup, mengumpulkan keberanian sampai akhirnya dapat bicara.

"Aku ingin... minta maaf, atas sikapku padamu sebelumnya."

Naruto terkekeh, mengelus lembut rambut hijau sang Spirit.

"Tak apa-apa, aku paham," katanya.

Natsumi perlahan berseri.

Sementara itu, Haruko dan Tatsuo tersenyum melihat interaksi keduanya, apalagi sikap Naruto mengingatkan mereka pada putra mereka di Kota Tenguu yang sekarang sedang menangani urusan tentang Spirit.

Ketiganya lalu melambaikan tangannya ke arah Naruto. Naruto meniru perbuatan mereka, tersenyum melihat keluarga ini telah masuk portal sebelum itu perlahan mengecil dan akhirnya menutup.

'Huh, benar juga. Aku lupa menanyakan apa itu [Angel] pada Natsumi-chan.'

Naruto menghela nafas kemudian tersenyum simpul.

"Mungkin lain waktu saja," gumamnya.


Bel berbunyi sebanyak dua kali di Raizen High School, salah satu tempat yang juga memiliki sistem shelter untuk menjaga penghuninya dari bencana Spacequake(Gempa Luar Angkasa). Itu pertanda sudah waktunya istirahat.

Sebagian besar murid keluar dari kelasnya dengan tujuan berbeda. Ada yang menuju kantin, pergi ke kamar mandi, atau sekedar bertemu teman mereka dari kelas lain. Sementara sisanya memilih menetap di kelasnya masing-masing.

Di kelas ini, Yatogami Tohka memindahkan bangkunya ke samping bangku Itsuka Shido, tidak lupa mejanya juga.

"Shido! Waktunya makan siang!"

Shido tersenyum simpul.

"Aku tahu, Tohka."

Tohka berseri.

Mereka meletakkan kotak bekalnya ke meja masing-masing, membuka itu lalu sama-sama mengucapkan "Selamat makan!" sebelum menyantap makan siang keduanya. Tohka mengunyah karaage di mulutnya.

"Hm? Rasa karaage ini sedikit berbeda."

"Aku mengubah sedikit bumbunya. Kau suka?" tanyanya.

"Tidak. Rasanya tetap enak!"

"Syukurlah kalau begitu." Shido puas.

Sambil makan, Shido memikirkan kehidupannya yang berubah semenjak kemunculan para Spirit. Hal tersebut terjadi beberapa bulan yang lalu ketika semester awal di tahun keduanya dimulai.

Dia yang awalnya hanya seorang siswa sekolah normal, sekarang menjadi kandidat terkuat untuk membuat Spirit merasa nyaman dan aman hidup di dunia ini. Yaitu dengan mengencani mereka sebelum menyegel kekuatan mereka agar tidak lepas kendali.

Pertemuannya dengan Tohka, Yoshino, Kurumi, Yamai Bersaudara, mengubah kehidupannya menjadi berwarna dan bisa dibilang seru. Walaupun mengalami banyak kejadian yang nyaris merenggut nyawanya, Shido tidak pernah menyesal bisa bertemu mereka.

Pintu kelas dibuka oleh gadis berambut putih mencapai tengkuk dengan iris mata biru. Gadis itu mempunyai penampilan yang mengingatkan seseorang terhadap manekin. Dia nampak membawa plastik berisi tiga botol air mineral.

Tohka melambaikan tangannya ke arah Origami dengan mulutnya nyaris penuh.

"Umari Kurikabi(kemari Origami)!"

Tobiichi Origami melirik ke sumber suara, menghampiri keduanya lalu meletakkan plastik di salah satu meja mereka.

"Aku membelikan kalian minum. Dan Tohka, tolong jangan bicara ketika sedang mengunyah makanan. Itu tidak baik untuk kesehatanmu."

Tohka menelan makanannya sejenak, kemudian tertawa gugup.

"Terima kasih, Origami," kata Shido.

Origami mengangguk, mengambil satu botol dan pindah ke kursinya. Dia mengeluarkan sebuah buku dari dalam tasnya, tapi ukurannya lebih kecil dari buku catatan sekolah. Itu semacam buku harian pribadinya.

Hari ini sama seperti sebelumnya.

Pencarianku belum membuahkan hasil.

Hari berikutnya pasti aku akan mendapatkan informasi tentangnya.

xx-xx-xxxx

Itulah yang ditulis Origami di buku itu dengan diakhiri tanggal, bulan, tahun saat ini.

Shido mengamati kegiatan yang dilakukan sang Ace Fraxinus, mengembangkan senyum kecut di wajahnya. Jika bisa dia sangat ingin membantu Origami menemukan pujaan hatinya yang menyelamatkannya dan orang tuanya pada saat kebakaran Kota Tenguu lima tahun lalu.

Karena bagaimanapun juga Origami telah banyak membantunya, tepatnya menghalangi AST agar tak mengganggu Shido ketika berkomunikasi dengan para Spirit.

Namun, sayangnya ciri-ciri orang yang dicari Origami tidak ada di dunia maya. Itu seperti dia tak eksis di dunia nyata. Meski demikian Origami tak pernah menyerah mencarinya.

Shido mengenal Origami ketika mengencani Spirit pertama yang ditemuinya(Tohka). Dari yang diketahuinya tentang Origami, dia mengikuti jejak kedua orang tuanya sebagai bagian dari [Ratatoskr] dan terus seperti itu walau setelah mereka tewas dalam kecelakaan mobil.

Meski sikapnya agak aneh, Origami adalah orang baik dan memiliki mental yang kuat menurut pemikiran Shido. Terutama saat dia selalu membantunya walau cara yang dipakainya terkadang membuat Shido harus mempertanyakan kewarasannya.

Setelah makan siang habis bersamaan, Shido dan Tohka menyimpan kotak bekal mereka ke dalam tas. Tohka lalu mendengar pembicaraan teman sekelasnya.

"Hey, hey, kalian tahu tidak. Festival Ten-Oh satu bulan lagi loh."

"Eh? Benarkah? Wah! Keren kalau begitu."

Dia beralih pada Shido.

"Shido, festival Ten-Oh itu apa?" tanyanya.

Shido menjelaskan. "Festival Ten-Oh adalah festival bersama yang menggabungkan sepuluh sekolah di Kota Tenguu, dengan satu siswa dari setiap sekolah dipilih untuk menjadi penyelenggara acara sekolah masing-masing. Nantinya setiap sekolah akan menunjukkan acara-acara mereka pada semua penduduk Kota Tenguu."

"Umm, itu maksudnya." Tohka berseri. "Kedengarannya seru."

Shido terkekeh.

"Ya begitulah."

Menengok keluar jendela, Origami memperhatikan sepasang burung terbang bersama di udara secara bebas. Dia menyipitkan matanya dengan raut wajah serius.

'Di mana pun kau berada, aku pasti akan menemukanmu.'


Saat langit mulai petang, di kantor Devil May Cry tepatnya dalam ruang tamu, Naruto mengetik sesuatu di ponselnya sambil duduk di sofa. Dia mendadak bersin lalu mengusap bagian bawah hidungnya dengan tisu.

'Entah mengapa aku merasa seseorang sedang membicarakanku.'

Sang Dark Slayer berharap siapapun yang membicarakannya itu bukan tentang hal buruk.

Tak lama kemudian dua saudaranya datang dari arah dapur. Dante menggigit sebagian sisi buah apel lalu mengunyahnya.

"Kau sedang apa, big bro?"

"Mencari informasi tentang Kota Tenguu."

Vergil mengangkat sebelah alisnya. "Seperti nama daerah di Jepang. Kau akan pergi ke sana?"

Naruto melirik ke arah keduanya.

"Hanya sementara waktu sampai masa sekolahku berakhir," jelasnya.

Dante pindah ke samping Naruto, keheranan membaca website yang dibukanya.

"Ini bukan informasi tentang Jepang. Itu hanya hal dasar yang tampak membosankan."

"Bagimu." Vergil mendengus.

"Bagiku." Dante setuju.

Naruto terkekeh. "Kau pikir aku sedang mencari apa?"

"Entahlah, semacam link, mungkin?"

"Sebenarnya banyak link yang kudapat, tapi sebagian besar tentang youkai. Untuk jaga-jaga jika di sana aku bertemu salah satunya," ungkap Naruto.

Dante menjentikkan jarinya, menepuk pundak saudara tertuanya sambil menyengir.

"Berhati-hatilah dengan Sadako, atau Kuchisake-Onna, jika kau bertemu mereka."

"Aku sangat yakin Naruto tidak akan kesulitan menangani mereka," kata Vergil.

"Aku tidak bicara soal pertarungan. Aku bicara tentang cinta. Siapa tahu ketimbang menjadi lawan, mereka akan mencoba menggoda saudara kesayangan kita yang masih single ini."

Dante menghela nafas. "Yah, meskipun dia sudah tak lagi perjaka karena pernah woo-hoo dengan ps–"

"Tolong jangan membeberkan informasi rahasiaku secara cuma-cuma. Sungguh," kata Naruto getir.

Bukan sebuah rahasia bagi penghuni kantor Devil May Cry bila Naruto telah 'ehem-ehem' karena saking penasarannya dengan aktivitas seksual. Beruntung dia tidak mampu terkena penyakit sebab latar belakang keluarganya yang unik.

Tentunya bukan berarti dia tidak mau hubungan serius. Hanya saja sampai sekarang belum ada wanita yang menarik perhatiannya.

"Santai. Di sini hanya ada kita. Rahasiamu aman dan juga terjaga."

Vergil menghembuskan nafas, memikirkan perkataan yang ingin diucapkan lalu bicara.

"Pekerjaan Personal Investigator serahkan saja pada kami. Kau fokus saja pada pendidikanmu."

Naruto berkedip.

"Kalian yakin? Dengan kemampuan Yamato, aku rasa aku masih bisa membantu kalian," ujarnya.

"Seperti yang dikatakan Vergil, kami bisa menangani situasi hanya berdua saja." Dante menambahkan. "Lagipula, Personal Investigator bukanlah pekerjaan resmi, itu hanya bisnis keluarga kita. Jadi kau tak perlu mencemaskan apapun."

"..."

Naruto mengamati wajah Dante dan Vergil secara bergiliran, menarik nafas panjang kemudian membuangnya perlahan. Sang Dark Slayer pun tersenyum simpul.

"Sepertinya aku kalah vote, eh?" candanya.

Dante terkekeh dan Vergil menyeringai tipis.

"Dan aku berharap kau pulang membawa pasangan. Sungguh, biar aku ada teman dan Vergil jadi jones sendirian."

Vergil mendengus, tapi tidak mengatakan apapun.

Naruto tertawa.

"Kita lihat saja nanti."

"Makanan telah siap!"

Ketiganya melirik satu sama lain, mengangguk dan bergegas ke dapur di mana ada seorang wanita muda mengamati beberapa piring yang diatasnya terdapat macam-macam makanan berbeda, terletak di meja makan. Wanita muda itu menampilkan senyuman ke arah mereka, mengedipkan matanya pada Dante.

"Ya ampun, babe. Kelihatannya kau benar-benar berambisi sekali melengserkan Naruto dari kerajaannya(baca: dapur)," canda Dante.

"Aku tidak keberatan. Setidaknya ini berarti ada seseorang yang dapat memastikan kalian makan menu yang sehat." Dia berseri.

Vergil tidak merespon apapun, hanya duduk diam diikuti tiga lainnya.

"Kau bisa tinggal di sini selama aku pergi, Lady. Jika kau mau itu pun."

Lady, atau nama aslinya Mary, merupakan teman satu sekolah Dante dulu. Alasan mengapa namanya berubah karena dia tidak suka nama pemberian ayahnya yang telah meninggalkannya saat ibunya meninggal dunia.

Sama seperti ketiganya, dia juga menekuni bidang membasmi makhluk supranatural, tetapi tidak seintens para keturunan Sparda.

Lady menggeleng. "Terima kasih atas tawaranmu, Naruto, tapi aku ada kesibukan lain jadi itu mustahil. Tentunya aku akan sempat kemari untuk membuatkan makanan."

Naruto mengangguk, menerima alasan teman adiknya itu tanpa bertanya lebih lanjut.

Mereka lalu menghabiskan makanan dengan tenang.


Terletak di Kota Tenguu, Jepang, terdapat sebuah rumah sederhana yang merupakan kediaman Keluarga Itsuka. Shido saat ini terlihat menyiapkan hidangan makan malam di meja makan.

"Shido! Makan malam hari ini apa!"

Yatogami Tohka datang bersama Yoshino, Yamai Bersaudara, Itsuka Kotori(pita hitam) ke meja makan. Mereka mengenakan baju tidur sesuai dengan warna rambut masing-masing.

"Hamburger dengan tambahan telur, Tohka," katanya.

Yoshinon, sebuah boneka kelinci dengan penutup mata menyelimuti salah satu indra penglihatannya, angkat bicara.

"Hmm, dari penampilannya kelihatannya enak sekali. Seperti biasa masakan buatanmu selalu menggugah selera, Shido-kun."

"Um, hidangan buatan Shido-san selalu enak," ujar Yoshino pelan.

"Pujian. Shido selalu hebat bila di dapur." Yuzuru tersenyum tipis.

"Ka, ka, seperti yang diduga dari properti Yamai." Kaguya menyengir.

"Ma, Shido memang jagoannya di dapur," kata Kotori santai.

Shido menggaruk pipinya dan tertawa kecil.

"Kalian ini bisa saja."

Mereka mengisi kursi yang kosong sebelum mengucapkan "Selamat makan!" dan perlahan memakan hamburgernya dengan tenang dan teratur. Semua kecuali satu orang.

"Shido! Aku ingin tambah!"

"Siap!"

Kaguya, Yuzuru, Yoshino, dan Kotori menyaksikan Tohka rupanya telah menambah hamburger lebih dari sekali. Beruntung Shido membuat banyak, karena jika tidak maka semua hamburger akan habis dimakan oleh rekan Spirit mereka yang rakus itu.

"Pengakuan. Yuzuru kagum dengan tekad yang ditunjukkan Tohka dan mau mengikutinya."

"Kalau begitu aku juga akan makan banyak!"

Akhirnya terjadi perang tiga kubu yang melibatkan Tohka dan Yamai Bersaudara. Mereka yang tidak ikutan hanya bisa memperhatikan dengan senyum canggung.

"Yaah, nasib baik Yoshino tidak makan banyak. Benarkan, Yoshino?" tanya Yoshinon.

Yoshino mengangguk sebagai responnya.

"Aku rasa akan lebih kita membiarkan mereka bersikap sesuka hatinya saja."

Kotori berbicara, beralih pada Shido.

"Ngomong-ngomong, kau sudah membeli keperluan sekolah untuk kenalan ayah dan ibu?" tanyanya.

Setelah waktu sekolah berakhir, Shido mendapat panggilan dari kedua orang tuanya yang masih berada di luar negeri dan mendapat amanat untuk membeli beberapa hal yang dibutuhkan siswa baru. Dua di antaranya seragam dan dasi.

Awalnya dia bingung, sampai Haruko dan Tatsuo menjelaskan itu untuk kenalan mereka yang akan bersekolah di RHS. Remaja laki-laki yang hanya dua tahun lebih tua dari Shido.

"Sebelum pulang aku sempat membelinya di koperasi sekolah. Mengenai registrasinya, Tamae-sensei bilang sudah diurus oleh ayah dan ibu."

"Begitu. Meski aku masih berpikir itu bukan ide bagus membiarkan orang asing tinggal bersama kita..."

"Kau bicara apa, Kotori?"

"Hm? Oh, tak ada apa-apa."

Meski demikian, pemikiran Kotori melayang pada skenario terburuk tentang orang itu. Hal ini dikarenakan dengan entengnya kedua orang tuanya membiarkan seseorang tinggal bersama mereka nantinya di rumah mereka. Walaupun hanya sementara waktu itu bisa saja menjadi masalah untuk ke depannya.

Bukan tanpa alasan dia berpikir seperti itu, sebagai komandan kru kapal [Fraxinus], sudah menjadi tugasnya untuk memastikan keselamatan para Spirit dari orang-orang yang tak bertanggung jawab dan takutnya berkeinginan menggunakan mereka.

Bagaimana jika orang asing itu menemukan keanehan tentang gadis-gadis yang tinggal di sini? Dapat dipastikan akan kacau urusannya jika sampai eksistensi para Spirit ketahuan hanya karena kesalahan kecil.

Namun, Kotori akan menghormati keputusan yang dipilih kedua orang tuanya. Tentunya secara diam-diam dia akan meminta seseorang untuk mengawasi orang asing itu dari jarak dekat. Pastinya mereka harus seseorang yang dapat dipercaya, dan Kotori tahu beberapa orang yang tepat menjalankan tugas ini.

'Mungkin Origami dan Reine bisa membantuku soal ini. Terutama ketika dia akan bersekolah di Raizen High School. Seharusnya mudah bisa mengawasinya.'

Shido merasakan saku celananya bergetar, mengeluarkan barang elektroniknya dari sana dan memeriksa pesan yang tertera di layar itu.

"Aku harus pergi. Kenalan yang dibicarakan ayah dan ibu telah tiba di di bandara."

Kotori berkedip.

"Oh, benarkah? Hati-hati kalau begitu."

Shido mengangguk, menghabiskan hamburgernya yang tersisa sedikit sebelum berdiri dari kursi. Dia bergegas menuju kamar tidurnya dan menutup pintu dari dalam. Usai mengganti baju, Shido keluar dari kamar dan berjalan melewati meja makan, memberitahu yang lain tentang kepergiannya.

"Aku ada urusan sebentar di luar. Janji tidak akan lama."

"Oke!/ Ya!/ Hati-hati Shido-san./Berhati-hatilah, Shido-san./ Ungkapan. Hati-hati di jalan, Shido."

Shido tersenyum simpul, walau diam-diam sweatdrop saat mengamati kondisi Tohka dan Yamai Bersaudara. Dia pun berangkat usai memakai sepatu dan sempat menutup pintu utama rumah dari luar.

Selepas keberangkatannya, Tohka mengalihkan pandangan pada jam dinding dan memperhatikan pukul berapa saat ini. Sang Spirit Energi sadar acara apa yang akan tayang sebentar lagi.

"Yoshino, acara drama kegemaran kita akan segera dimulai. Ayo kita menontonnya bersama-sama," ajaknya dengan antusias.

Yoshino mengangguk, menatap khawatir keadaan Tohka.

"Um, tapi keadaan Tohka-san–"

"Aku baik-baik saja. Jangan cemas."

Tohka turun dari kursi, baru beberapa langkah sudah miring badannya sampai kehilangan keseimbangan. Dia mencoba berdiri tapi entah mengapa terasa sulit.

"Wah! Kau kenapa, Tohka?"

"Penasaran. Kenapa badan Tohka jadi gemuk?"

Kaguya dan Yuzuru turun dari kursi, sama seperti Tohka mereka mulai miring badannya sampai kehilangan keseimbangan juga.

"Eh?! Kenapa aku ikutan gemuk juga?!"

"Kebingungan. Yuzuru benar-benar heran dengan situasi ini."

Nampaknya Kaguya, Yuzuru, Tohka, baru sadar tubuh mereka besar mirip bola. Mereka sama-sama berusaha untuk bangkit tapi malah berputar searah jarum jam di tempatnya.

"Wah! Bagaimana ini! Yoshino, tolong bantu aku!"

"Hey! Tolong aku dulu!"

"Memohon. Yuzuru meminta tolong juga."

Yoshino dan Kotori sweatdrop.

"Um, kurasa kita harus membantu mereka, Kotori-san."

"Y-Ya, aku rasa kau benar."


Sebuah taksi meluncur di jalan ini, di kursi penumpang, terdapat dua remaja laki-laki yang berbincang satu sama lain.

"Jadi meskipun tidak ikut klub, itu tidak akan mempengaruhi kelulusan murid di Raizen High School?"

"Ya begitulah, tapi sebagai gantinya mereka tidak boleh mendapat nilai C di tiga mata ujian akhir."

Berada di Jepang adalah pengalaman unik bagi Naruto. Tentunya bukan berarti dia belum pernah kemari, tapi waktu itu dirinya hanya berlibur saja bersama adik kembarnya selama beberapa hari di Kyoto. Namun untuk kali ini, sang Dark Slayer berencana lebih dari sekedar tinggal di negeri sakura tersebut, yakni mengasah kembali kemampuan akademiknya.

Saat ini, Naruto sedang bersama anak tertua di Keluarga Itsuka yang bernama Itsuka Shido. Dia ramah seperti kedua orang tuanya. Kemungkinannya besar bila Haruko dan Tatsuo telah membesarkan Shido dengan sangat baik.

"Begitu rupanya. Kedengarannya sepadan."

Saat terlibat percakapan bersama pemuda pirang ini, Shido merasa sedang berbicara pada seseorang yang tidak sesuai umurnya. Bukan berarti dia kekanakan, jauh dari itu, dia seperti seseorang yang layak dijadikan contoh pemuda dengan etika baik dan berpengetahuan luas.

"Aku juga berpikir seperti itu." Shido tersenyum.

Naruto terkekeh. "Senang bisa satu pendapat. Ngomong-ngomong, kau tinggal sendirian?"

Shido menggeleng.

"Aku tinggal bersama adikku, namanya Kotori."

"Oh, kau punya dua adik rupanya."

"Huh? Kau mengenal Mana?" Dia kebingungan.

"Mana? Bukannya adikmu yang lain namanya, Natsumi?"

"..."

"..."

Kecanggungan melanda situasi keduanya. Ada keheningan sejenak di antara mereka berdua. Sampai akhirnya, Shido angkat bicara.

"Aku tidak punya adik yang namanya Natsumi."

"O-Oh, begitu rupanya. Aku mengerti."

Mereka mengalihkan pandangan ke depan, tidak bicara tapi pikiran mereka malah sebaliknya.

'Sebenarnya apa yang ayah dan ibu katakan pada Naruto?'

'Aneh. Aku pikir Natsumi juga adik Shido saat kami bertemu di Limbo waktu itu.'

Tak berselang lama, taksi itu berhenti di samping sebuah rumah. Naruto keluar dari taksi bersama Shido, setelah membayar jasa si pengemudi mereka membawa koper dan ransel menuju Kediaman Itsuka.

"Err, kau tidak perlu membawa barang-barangku, Shido. Aku jadi tidak enak," ujar Naruto.

"Tak apa. Kau adalah tamu jadi wajar sebagai tuan rumah aku membantumu," kata Shido.

Tiba di depan pintu rumah, Shido mengetuk selama beberapa kali, tak lama dibuka oleh seorang wanita muda berambut kelabu, mengenakan kacamata dengan raut wajah seperti menahan kantuk setiap saat.

Naruto mengakui dia wanita yang cantik.

"Shido, kau pulang juga."

"Reine-san? Sedang apa kau di sini?" Shido penasaran.

Murasame Reine menjawab. "Kotori memanggilku dan Origami untuk membantu yang lain dengan... masalah mereka."

Dia menyadari kehadiran pemuda pirang di sampingnya.

"Namaku Murasame Reine, salam kenal," ucapnya.

Sadar dari lamunannya, Naruto membungkuk sejenak sebelum menegakkan badannya.

"Namaku Uzumaki Naruto. Salam kenal juga, Murasame-san."

Reine berkedip.

"Memanggil nama depanku seperti Shido pun tak apa. Aku tak terlalu menyukai formalitas."

"Akan kuingat baik-baik untuk ke depannya." Naruto tersenyum.

Ketiganya melangkah masuk setelah menutup pintu, memasuki ruang tamu dan Naruto mendapat pemandangan yang tidak disangka. Yakni seorang gadis berpenampilan mirip boneka sedang menekan perut gemuk gadis dengan rambut jingga. Aksinya membuat gadis yang dibicarakan mengeluarkan gas dari mulutnya sampai ramping kembali.

Semua Bijuu sweatdrop dengan yang dilihat mereka. Kehabisan kata-kata untuk berkomentar.

"Bersyukur. Terima kasih atas bantuanmu, Master Origami."

Gadis yang bernama Origami itu mengangguk, matanya melebar saat melihat kehadiran pemuda berambut pirang di antara Shido dan Reine.

'Dia... Dia...'

Di sisi lain, sang Dark Slayer memperhatikan sebagian perempuan di sini memiliki penampilan unik. Namun tak hanya itu, dia juga dapat merasakan energi mirip Natsumi dari mereka, tapi lemah seperti terhalang atau tersegel sesuatu.

Shido keheranan. "Sebenarnya apa yang terjadi di sini?"

"Nanti aku jelaskan, Shido. Untuk sekarang, siapa teman barumu itu?" tanya Kotori penasaran.

Dia menyadari semua pasang mata mengarah kepadanya. Dengan senyuman perlahan mengembang di wajahnya, Naruto memperkenalkan dirinya sekali lagi.

"Namaku Uzumaki Naruto. Salam kenal semuanya."


T-B-C


A/N: Hello reader-san! Bagaimana dengan chapter kali ini? Semoga dapat menghibur kalian :D

Wah! Author jadi terharu karena masih ada yang menanti cerita ini. Terima kasih semuanya :D

Seperti yang kalian lihat, di chapter ini adalah pertemuan pertama Naruto dengan Shido dkk. Dan sepertinya Naruto akan diawasi... untuk sementara waktu, setidaknya sampai dia bisa membuktikan kalau dia bukan musuh yang akan mengancam para Spirit.

Tentang masa lalu Naruto sebenarnya tidak jauh berbeda dari versi Half sebelumnya, yang membedakan hanya wujud [Bijuu Arms] yang bentuknya ada sedikit perbedaan.

Bagi yang menanyakan di sini Naruto memakai chakra atau bukan, dia memakai murni mana. Sebenarnya sudah dijelaskan di Half versi sebelumnya alasan mengapa Naruto tak mampu menggunakan chakra. Tapi jika ada yang belum tahu author akan jelaskan lagi.

Dewa-Dewi Izanami dan Izanagi memberikan dua permintaan untuk Naruto pada saat PDS4 berakhir. Dia diberikan hak khusus tersebut dikarenakan telah berhasil menyelesaikan tugasnya sebagai anak ramalan di dimensi shinobi.

Keinginan pertama, Naruto ingin kembali ke dunia yang di mana adalah alam semesta DMC, tapi di versi remake ini adalah alam semesta DMC dan Date a Live. Mereka mengabulkannya dengan catatan Naruto akan kehilangan akses chakra, disebabkan 'bumi' di alam semesta DMC dan Date a Live itu 'hidup', dan tak menyukai adanya kehadiran energi lain dari luar alam semesta DMC dan Date a Live.

Alaya aka [Will of Planet] maksud author. Tapi kayaknya hanya pembaca yang pernah membaca Half versi sebelumnya yang bakal paham.

Tapi untuk versi remake ini, akan ada perubahan besar tentang eksistensi 'bumi'. Mengapa? Sebenarnya ada alasannya, dan itu menyangkut alasan mengapa para Spirit bisa tercipta. Tentunya nanti akan dijelaskan di chapter-chapter berikutnya :D

Keinginan kedua Naruto pakai untuk membawa para Bijuu bersamanya, tapi perlu diketahui kalau mereka hanya pecahan chakra dari yang aslinya(kecuali Kurama), maka dari itu mereka berubah menjadi [Bijuu Arms], sejenis senjata yang mirip dengan [Devil Arms]. Bisa dibilang [Bijuu Arms] tipe Kurama lebih kuat dari [Bijuu Arms] lain karena alasan itu juga.

Nah jika ada yang masih nanya lagi soal di atas, bisa pm kalau mau.

Well, untuk alur, author akan memulainya dengan Spirit berbeda. Jadi akan ada Spirit lain yang muncul duluan sebelum debut Izayoi Miku.

Maaf jika ada kesalahan typo atau semacamnya. Peace :D

Dan seperti biasa, review di tempat yang seharusnya :D

Oke, sampai jumpa di chapter berikutnya reader-san sekalian!