danielkeanumadegani: wokeh. Udh up ni :D

RushifaID: wah benarkah? Bagus kalau begitu wkwkwk

Namikaze cloud: waaah! Sangkyu atas sambutan meriahnya :D

FCI. Kang Nasgor: halllo :D

Guest: Siap. Udh lanjut ni :)

Guest: Wokeh. Pasti gasken :D

Guest: Mantap. Udh up nih!

Miji695: Ashiaap bro :D

alivemikasa1: Siap! Makasih support-nya!
Jiah, tbc itu wajib diletakkan jadi ya gitu wkwkwk :D

dlucifer35:
Beberapa prediksi sudah betul, tapi lihat saja nanti oke :D

Yabaidesune: Siap! Udh lanjut ni :D

Rizqa12: Wokeh. Bakal lanjut ni!
Well, namanya juga ide, lagipula author tertarik dengan dmc, dal, dan tentunya naruto :D

Anastasia-hime:
Wokeh! Udh up ni.
Tentang Mio, sudah pasti tentunya :)
Tapi kalau ikatan masa lalu, sebenarnya di versi ini tidak ada demi kepentingan plot itu juga.
Btw, terima kasih atas kata-kata baiknya. Kamu juga sehat selalu ya :D
Hehe, fast up mustahil kayaknya, tapi author usahakan jumlah word akan banyak setiap kali update :)

AnharaYD: Mantap. Makasih support-nya :D
Semoga kau suka chapter ini :D

Shae Quen: Wokeh. Udh up ni
fast up kayaknya mustahil, tapi author usahakan word-nya bakal banyak :D

Walah, author senang sekali dengan respon kalian. Terima kasih banyak semuanya!

Oke, tanpa basa-basi silahkan membaca Half chapter 3 di bawah ini :D

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 3: Secret

Half

Summary:

{Dia adalah seorang Devil Hunter, pekerjaannya membasmi makhluk supranatural yang mengincar nyawa manusia. Namanya Uzumaki Naruto. Kegiatan barunya? Melindungi para Spirit dari ancaman yang mengintai mereka.}

Disclaimer:

{Semua yang muncul di fic ini murni milik pemilik aslinya. Kecuali alur tentu saja.}

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

{Chapter 3 : Secret}

.

.

.

.

.

Setelah perkenalan singkatnya, Naruto mulai mengetahui nama-nama sisa perempuan yang rupanya tinggal di samping Kediaman Itsuka. Namun, untuk alasan yang belum Naruto ketahui pasti, ada beberapa perempuan mengamati gerak-geriknya layaknya elang sedang memperhatikan mangsanya. Sang Dark Slayer berharap dua gadis itu tidak menganggapnya sebagai orang mencurigakan apalagi sampai berbahaya. Dia hanya menginginkan sekutu, bukannya musuh.

'Mungkin ada baiknya aku tidak melakukan sesuatu yang aneh selama di sini.'

Naruto maksud adalah mengeluarkan senjata dari ketiadaan misalnya.

Shukaku terkekeh. "Hal aneh, sama dengan mengayunkan katana yang mampu memotong ruang dengan sangat mudah."

"Itu normal. Kecuali saat Naruto menggunakan Yamato untuk pergi ke toilet di rumahnya dari Romania. Itu baru luar biasa." Sang Yonbi menyeringai.

"Naruto? Apakah kau demam? Wajahmu merah."

"Huh? Etoo, aku hanya tidak sengaja mengingat kebiasaan memalukanku."

Shido membentuk 'o' dengan mulutnya.

Saat ini, dia bersama yang lainnya sedang bermain Bombsquad di ponsel pintar mereka masing-masing dengan memanfaatkan fitur multi-player di game android tersebut. Hanya perlu menghubungkan jaringan hotspot dan wifi agar bisa bermain bersama-sama secara online.

Karakter Yoshino berlarian ke sana-kemari, menghindari lemparan bom dari karakter lainnya, terutama Karakter Tohka yang membabi-buta menyerang ke segala arah. Sialnya Karakter Kotori terkena salah satu ledakannya sehingga terlempar jatuh menuju jurang.

Kotori menatap kesal pelaku dibalik aksi itu. Tohka tidak sadar dengan pandangan Kotori karena fokus pada permainannya.

Di lain sisi, Karakter Yuzuru mengangkat Karakter Kaguya yang mencoba memberontak tapi usahanya sia-sia, tanpa pikir membuangnya ke jurang.

"Hey! Itu curang namanya!"

"Terhibur. Kaguya kalah karena tak tahu cara bermainnya. Ha, ha, ha."

"Apa kau bilang?!"

Shido menghela nafas, mengerutkan keningnya saat mengingat sesuatu.

'Ada baiknya setelah ini aku bertanya pada Kotori soal perempuan bernama Natsumi.'

Wajar merasa penasaran. Karena jika benar dia memiliki adik lain, sebagai yang tertua di keluarga maka sudah sepantasnya dia mengetahui keberadaan adik barunya itu.

Karakter Shido tewas ketika tak sengaja menginjak bom ranjau yang dipasang oleh Karakter Reine.

"Maaf, Shido, semua adil dalam permainan," katanya.

Shido tertawa gugup." Aku paham, Reine-san."

Sementara itu, Karakter Yoshino masih berlari secara acak saat menghindari lemparan bom dari karakter lain. Sampai akhirnya K.O. dipukul Karakter Origami yang mendapat item [Boxing Glove].

"..."

Yoshino melirik ke arah Origami dengan air mata mulai menetes.

"Nanti kutraktir oyakodon," ujarnya.

Dia tidak jadi menangis.

Sekarang tersisa lima pemain lagi. Yakni Karakter Reine, Karakter Tohka, Karakter Yuzuru, Karakter Origami dan terakhir Karakter Naruto. Karakter Tohka masih membuang bom ke segala arah sambil berlarian tidak jelas, tak sengaja mendapatkan item baru yakni bom lengket. Alhasil lemparan bom Karakter Tohka mendarat mengenai Karakter Yuzuru sebelum meledak.

Kaguya tertawa.

"Rasakan! Kerja bagus Tohka!"

Tohka berseri sedangkan Yuzuru menghela nafas.

Karakter Reine dan Karakter Naruto saling melempar bom sembari menghindar agar tidak keluar arena. Hingga akhirnya Karakter Reine membeku setelah terkena bom es dari Karakter Naruto. Karakter Naruto pun mengangkat Karakter Reine lalu melemparnya ke jurang.

"Tidak buruk."

"Terima kasih."

Tersisa hanya tiga pemain lagi, Karakter Origami langsung mengejar Karakter Tohka yang masih membuang bom dengan sembarangan, tanpa pikir panjang memukulnya setelah mengambil item [Boxing Glove] hingga K.O..

"Menang dan kalah adalah hal normal dalam permainan, Tohka," kata Origami tenang.

Tohka cemberut.

Tinggal dua pemain terakhir, Karakter Naruto melempar bom es ke arah Karakter Origami, tapi Karakter Origami berhasil menghindar lalu membalas dengan bom lengket yang sukses menempel pada Karakter Naruto. Bagian anehnya, Karakter Origami mendekati Karakter Naruto yang menyebabkan kedua itu meledak bersamaan.

"..."

Semuanya(minus Origami) kehabisan kata-kata karena tindakan mengejutkan Origami. Terutama Naruto yang tercengang seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

"Tobiichi-san, mengapa kau... melakukan itu?" tanyanya.

Origami menatap sang Dark Slayer dengan pandangan intens. Jika ada hal yang membuat Naruto heran, dirinya mendapat firasat buruk tentang dia sebelum menepis pemikiran negatif tersebut.

'Jangan berpikir seperti itu, diriku. Tidak baik berprasangka buruk dengan orang yang baru saja kau temui.'

"Jariku terpeleset," kata Origami.

Tohka, Yoshino, Yamai Bersaudara membentuk 'o' dengan mulut mereka. Reine mengangkat sebelah alisnya. Naruto, Shido dan Kotori sweatdrop.

"Um, begitu rupanya," kata Tohka.

"Etoo... jarimu nanti harus diperiksa, Origami-san," kata Yoshino khawatir.

Kaguya berkedip.

"Heeh, pantas kau kalah Origami."

"Pengertian. Ternyata kemenangan Naruto dari Master Origami hanya keberuntungan belaka, tapi selamat atas kemenangannya," puji Yuzuru.

"Khe, khe, selamat Naruto-kun! Selamat!" seru Yoshinon.

Naruto menggaruk pipinya dan tertawa gugup, tidak tahu harus merespon apa dengan situasi yang tak terduga seperti sekarang ini, tapi sesaat dia menyadari Kotori menatapnya dengan tatapan tajam sebelum mengalihkan pandangannya. Itu membuat Sang Dark Slayer penasaran akibat tingkah lakunya.

Mengamati jam dinding, Reine beralih pada mereka dan mengutarakan opininya.

"Karena hari telah malam, sudah waktunya kalian tidur agar besok tidak terlambat ke sekolah," kata Reine.

Tak ada yang protes dengan pemberitahuannya. Mereka yang tidak tinggal di Kediaman Itsuka satu per satu keluar menuju rumahnya masing-masing. Akhirnya hanya menyisakan Shido, Kotori, dan Naruto.

"Shido, aku akan tidur duluan."

"Ah, iya, Kotori."

Kotori berjalan ke kamar tidurnya tanpa melirik Naruto sama sekali. Shido menghela nafas, melirik sang Dark Slayer dengan ekspresi canggung.

"Maaf atas sikap adikku, tapi dia orangnya baik sebenarnya. Sungguh," katanya.

Naruto berseri.

"Tak apa. Aku paham," balasnya.

Anak tertua dari Keluarga Itsuka itu lega menyadari tamunya tidak tersinggung sama sekali. Dia lalu berbicara lagi.

"Kurasa agak telat mengatakan ini, tapi... selamat datang di Jepang," kata Shido.

Naruto berkedip, sekali, dua kali hingga akhirnya tertawa kecil.

"Senang bisa mendapat sambutan."


Fajar tiba diiringi kicauan burung yang terbang secara bebas di langit biru. Bagi mereka yang memiliki pekerjaan atau seorang pelajar, bangun pagi dan bersiap-siap beraktivitas merupakan kewajiban yang harus dilakukan setiap cahaya mentari bersinar. Seperti yang terjadi di Kediaman Itsuka, penghuninya sekarang sedang sarapan.

"Aku tidak menyangka kau bisa masak juga, Naruto."

"Aku belajar masak untuk adik-adikku. Karena jika tidak, kami mungkin hanya akan makan makanan tak sehat saja setiap hari."

"Tunggu, kau punya adik juga?"

"Yap, dua adik laki-laki kembar tepatnya."

"Hmm, begitu rupanya."

Pada pagi hari, Shido membuat sarapan dibantu Naruto yang rupanya pengalaman memasaknya tidak kalah darinya. Seperti yang dikatakan dia, Naruto belajar memasak agar keluarganya bisa mencerna makanan bergizi daripada makanan tak sehat. Shido tidak melihat tindakan Naruto itu buruk, bagaimanapun juga mengkonsumsi makanan sehat itu memang penting untuk kesehatan fisik. Tetap saja, Shido tidak menyangka kalau Naruto juga punya adik sama sepertinya.

"Selamat pagi Onii-chan! Selamat pagi Naruto-nii!"

Kotori(pita putih) datang ke meja makan dengan nada gembira di setiap kata-katanya. Serupa macam Naruto dan Shido, dia mengganti pakaian tidurnya dengan seragam sekolahnya usai mandi.

"Pagi, Kotori-chan."

"Pagi juga, Kotori. Sarapan akan segera siap jadi kamu tunggu saja di meja makan."

"Oke!"

Mereka mengisi tiga kursi kosong setelah meletakkan beberapa piring di meja makan, berbarengan mengucapkan "Selamat makan!" dan menyantap nasi beserta lauk pauknya. Ketiganya berbincang satu sama lain saat sarapan.

"Ne, ne, apakah nanti Naruto-nii akan satu kelas dengan Onii-chan?" tanya Kotori penasaran.

Naruto tersenyum.

"Tergantung keputusan pihak sekolah aku akan ditempatkan di kelas mana. Jadi aku tidak tahu pasti," jelasnya.

"Hmm, 'kay. Jika Naruto-nii satu kelas dengan Onii-chan itu bagus."

"Kenapa memangnya?"

"Habisnya satu-satunya teman lelaki Onii-chan sikapnya menakutkan."

Shido sweatdrop. "Tonomachi tidak seburuk yang kau bayangkan, Kotori."

Kotori menjulurkan lidahnya pada Shido.

Sang Dark Slayer tersenyum ketika memperhatikan interaksi Shido dan Kotori, mengingatkannya pada dirinya dan adik kembarnya jika mereka bertiga sedang bersama. Itu memberinya ide untuk menghubungi mereka nanti saat jam istirahat berlangsung.

Kurama berkedip. "Huh, sikap adik teman barumu ini berbeda dengan yang semalam."

'Aku juga heran sebetulnya.'

"Mungkin dia memiliki... personality disorder?" Kokuo mengatakan.

'Itu... bisa jadi.'

"Sungguh? Kukira dia punya osteoporosis," kata Son Goku.

"Kau ini, itu penyakit tulang." Saiken sweatdrop.

"Oh benarkah? Haha. Aku baru tahu."

Shukaku terkekeh.

"Monyet memang tidak bisa diharapkan."

"Datang dari penggemar DRAKOR membuatku terharu."

"Mau kuhajar?"

"Mari sini kau!"

"BERISIK KALIAN SEMUA!" Sanbi meraung.

Hanya Matatabi, Choumei, dan Gyuki yang tak membuat suara karena sibuk bermain kartu UNO.

'Haah, kalian ini.'

"Shido! Kami datang untuk sarapan! Oh iya, pagi Naruto!"

"Pujian. Kelihatannya masakan pagi hari ini lezat semua."

"Oi, Shido, kau membuat apa pagi ini?"

"P-Permisi, maaf jika merepotkan. Selamat pagi Shido-san, Naruto-san."

"Hmm, hmm, semakin meriah saja rumah ini," komentar Yoshinon.

Tohka, Yuzuru, Kaguya, dan Yoshino, masuk dari arah pintu depan lalu duduk di kursi yang kosong. Mereka mengambil nasi dan juga makanan lain yang tersedia, sadar Naruto mengenakan pakaian yang mirip dengan yang dikenakan Shido.

"Pagi juga semuanya," balas Naruto.

"Oh, benar juga. Kau hari ini masuk ke sekolah yang sama seperti kami, err, Naruto?" tanya Kaguya.

Naruto mengangguk.

"Aku di tahun kedua."

"Oh! Kalau begitu kau sama sepertiku, Shido, Kaguya, Origami dan Yuzuru," ujar Tohka antusias.

"Tepat sekali tebakanmu itu." Naruto terkekeh.

Shido tersenyum. "Kalian tahu, Naruto tadi ikut membantuku memasak sarapan."

"Woah! Benarkah?" Tohka terdengar takjub.

Naruto menggaruk belakang lehernya.

"Ini bukan apa-apa. Hanya bantuan kecil," katanya.

"Aku jadi penasaran dengan masakan Naruto-kun. Benarkan, Yoshino?"

"Um."

"Terkesima. Sepertinya Shido memiliki saingannya sendiri seperti Yuzuru dan Kaguya," ujar Yuzuru.

"Tentu saja. Shido adalah properti Yamai maka sudah sepantasnya dia mengikuti jejak kami." Kaguya terdengar bangga.

Shido tertawa gugup, kehabisan kata-kata untuk merespon pernyataan Kaguya.

Selagi menghabiskan makan pagi, Naruto merasa lega karena walau ada sedikit perasaan canggung, dia bisa berkomunikasi bersama setiap orang yang ditemuinya ini. Dia sebenarnya penasaran dengan aliran energi yang dirasakannya dari perempuan-perempuan di sekitar Shido, tapi untuk sekarang dia menahan dulu rasa penasarannya. Sebab masih ada hal lebih penting dari itu yakni mempersiapkan mental untuk hidup normal.

Tak lama setelah sarapan habis, mereka bergegas menuju sekolah.


Setibanya di Raizen High School, Naruto diminta ke ruang guru terlebih dahulu tidak seperti Shido, Tohka, dan Yamai Bersaudara, yang langsung ke kelasnya masing-masing ketika bel sekolah berbunyi. Usut punya usut, rupanya Naruto harus memberitahu kehadirannya pada guru lain sekaligus bertemu wali kelasnya agar dapat mengetahui di kelas mana dia akan diletakkan.

Sekarang, Naruto sedang berjalan bersama Reine di lorong gedung sekolah dengan maksud mengantarnya ke ruangan guru. Dalam perjalanan dua orang ini terlibat pembicaraan.

"Jadi, Reine-san mengajar juga di sekolah ini?"

"Tolong panggil aku Reine-sensei bila di sini. Soal pertanyaanmu, aku mengajar di mata pelajaran Fisika."

Naruto membentuk 'o' dengan mulutnya.

"Akan kuingat baik-baik. Ngomong-ngomong, ada satu hal yang masih membuatku penasaran."

Reine mengangkat sebelah alisnya.

"Apa itu?"

"Memangnya sudah menjadi kebiasaan semua siswi di sini untuk mengawasi murid baru?"

Sejauh ini, Naruto menyadari sebagian besar murid perempuan di Raizen High School memperhatikannya dengan berbagai ekspresi yang berbeda-beda. Namun, kebanyakan lebih suka terkikih genit dan melambaikan tangannya secara malu-malu ketika Naruto menengok ke arah mereka. Tentunya Naruto merespon dengan senyuman dan ikut melambaikan tangannya, akan tetapi dia berhenti melakukannya saat ada beberapa siswi yang pingsan akibat ulahnya.

"Mereka bersikap seperti itu karena didorong dua hal. Kesatu penampilanmu. Kedua sikapmu," kata Reine tenang.

Naruto sweatdrop.

"Ah, kurasa aku paham."

Tak berselang lama, keduanya tiba di depan sebuah pintu. Reine mengetuk selama beberapa saat sampai akhirnya terdengar balasan dari dalam.

"Masuk."

Setelah pintu dibuka olehnya, Reine beralih pada seorang wanita muda yang sudah berdiri dengan beberapa buku di tangannya. Namanya Okamine Tamae.

"Tamae-sensei, sisanya kuserahkan padamu."

"Ah iya. Terima kasih, Reine-sensei," katanya.

Reine mengangguk, meninggalkan mereka berdua sementara dia menuju ke suatu tempat, yaitu kelas yang harus diajarnya. Di lain sisi, Tamae melihat Naruto dengan senyum simpul di wajahnya.

"Perkenalkan namaku Okamine Tamae. Saya mengajar di mata pelajaran IPS dan merangkap sebagai wali kelasmu. Salam kenal, Uzumaki Naruto-kun."

"Salam kenal juga, Tamae-sensei." Naruto berseri.

Tamae senang dengan sikap yang ditunjukkan olehnya.

Lalu, dia berjalan beriringan bersama Naruto ke kelasnya. Selagi dalam perjalanan, Tamae membicarakan sejarah singkat berdirinya Raizen High School dan fasilitas-fasilitas di sekolah ini. Naruto menyimak dengan sepenuh hati dan sesekali mengajukan pertanyaan apabila dia penasaran. Contohnya seperti prestasi apa saja yang pernah diraih RHS, atau klub mana yang lebih populer dan banyak peminatnya.

Sebagai guru, Tamae menjawab setiap pertanyaan Naruto dengan rinci dan juga antusias, karena bagaimanapun juga menjelaskan sesuatu tentang Raizen High School merupakan kebanggaan tersendiri baginya.

Beberapa saat berlalu, akhirnya keduanya tiba di depan pintu sebuah kelas. Tamae masuk dan sempat meminta Naruto untuk menunggu terlebih dahulu sampai dia dipanggil masuk. Sang Dark Slayer menarik nafas panjang kemudian membuangnya perlahan.

'Tenangkan dirimu, Naruto. Kau hanya perlu beradaptasi dan semua akan baik-baik saja.'

Itulah yang ada di pikirannya.

"Silahkan masuk!"

Setelah dipanggil, Naruto berjalan masuk ke dalam dan berdiri di depan semua murid dalam kelas ini, mengedipkan matanya karena beberapa dari mereka ada yang dikenalinya seperti Origami, Shido, dan Tohka.

"Nah, Uzumaki-kun, tolong perkenalkan diri dan beberapa hal tentangmu di depan teman-teman sekelasmu."

Dia mengangguk, menampilkan senyuman di wajahnya.

"Perkenalkan, namaku Uzumaki Naruto. A-Aku menyukai seni terutama seni gambar maupun seni suara. Salam kenal semuanya."

Meski sudah berusaha, dia tetap tak dapat menghilangkan nada gugup dari suaranya. Mungkin itu diakibatkan aktivitas sosialnya sedikit tidak terasah karena baru sekarang dia menjadi bagian dari kelompok orang banyak seperti kelas.

"Salam kenal juga Uzumaki-kun/Uzumaki!"

Naruto lega karena mendapat respon positif, walau dia hanya mampu sweatdrop dengan tatapan tajam yang diterimanya dari sebagian siswa di kelas ini. Itu bukan berarti mereka membencinya, lebih mendekati rasa tidak suka sebetulnya.

Tamae tersenyum simpul.

"Nah, Uzumaki-kun, sekarang pilih tempat duduk mana yang kamu inginkan."

"Baik, Tamae-sensei," katanya.

Dia mengeratkan pegangannya pada tasnya lalu menggerakkan kakinya ke kursi kosong, terletak di sebelah jendela dan membelakangi meja Shido.

"Rupanya kita satu kelas, Naruto." Shido berseri.

"Ya, aku juga tidak menyangka sebetulnya," kata Naruto.

"Um, kau tak akan menyesal sekolah di sini. Ada banyak hal keren yang pasti kau suka nanti, Naruto!" Tohka berbicara dengan antusias.

Naruto terkekeh, menengok ke Origami lalu dirinya mengucapkan.

"Senang kita bisa satu kelas juga, Tobiichi-san."

"..."

Origami mengangguk dan beralih ke arah papan tulis.

Shido tertawa gugup. "Err, Origami memang seperti itu, tapi aku percaya dia menganggapmu sebagai temannya juga."

Naruto mengangguk.

"Aku mengerti," katanya.

Tamae kemudian mengingat sesuatu.

"Ah, benar juga. Siapa di sini yang mau menjadi relawan untuk mengantar Uzumaki-kun berkeliling sekolah?"

Beberapa siswi langsung mengangkat tangannya tapi kalah cepat dari Origami. Tamae mengangguk puas.

"Terima kasih karena telah mengajukan dirimu, Tobiichi-san. Sekarang kita akan membahas teori..."

Naruto berseri pada Origami.

"Mohon bantuannya, Tobiichi-san," katanya.

"...ya."

Kegiatan pembelajaran kelas ini pun berjalan dengan tertib.


Saat jam istirahat berlangsung, Naruto berkeliling area Raizen High School bersama Origami sesuai amanah yang diberikan wali kelasnya padanya. Lokasi yang keduanya kunjungi pertama adalah kantin. Tempat itu dipenuhi banyak murid dari kelas berbeda saat ini, tidak mengherankan mengingat setiap siswa maupun siswi yang ingin mengisi perut biasa kemari.

"Apakah kantin selalu ramai seperti ini?"

Naruto penasaran, berdiri di antara lautan murid bersama Origami yang berada di sebelahnya.

"Bisa dibilang begitu, tapi sebabnya bukan hanya karena menu yang lezat."

"Benarkah? Lalu karena apa?"

Origami menunjuk ke suatu arah dan Naruto mengikuti yang ditunjuknya. Keduanya mengamati kerumunan murid nampak mengelilingi sesuatu, sempat mendapat celah dan melihat Kaguya sedang mengadu panco dengan seorang siswa yang terlihat kekar. Kaguya menguap sementara lawan tandingnya berkeringat hebat di wajahnya.

"Hanya segitu? Aku jadi mengantuk."

"L-Lihat saja, sebentar lagi aku pasti akan mengalahkanmu, Yamai."

"Omong besar."

Dia langsung menjatuhkan tangan siswa itu ke permukaan meja tanpa kesulitan yang berarti. Aksinya menghasilkan sorakan dan tepuk tangan dari murid lain yang menyaksikan kemenangan mutlaknya.

"Hebat sekali Kaguya-chan!"

"Seperti yang diharapkan dari [Ball Crusher] kita."

"Kaguya-sama! Tolong jadikan aku budakmu!"

Naruto sweatdrop.

"Penggemarnya... banyak juga."

"Sudah seperti itu semenjak dia menantang setiap siswa yang menurutnya layak dihadapi," jelas Origami.

Kaguya menyengir saat mengamati sekitarnya, tak sengaja menatap Origami dan Naruto lalu melambai ke arah mereka berdua.

"Origami! Naruto! Kemari lah!"

Origami menatap Naruto. "Mau lanjut berkeliling atau memenuhi panggilan Kaguya dulu, keputusan ada di tanganmu."

Dia tersenyum.

"Kita ke sana saja dulu. Aku penasaran mengapa dia memanggil kita," balasnya.

Origami mengangguk, bersama Naruto melewati beberapa murid yang menyingkir untuk memberi jalan pada keduanya. Mereka berdua bertatap muka dengan Kaguya.

"Heeh, aku tidak menduga Tobiichi Origami si jenius bisa dekat dengan lelaki juga." Kaguya menyengir.

"Ini tidak seperti kelihatannya. Tobiichi-san hanya mengantarku berkeliling sekolah atas amanah wali kelas kami. Itu saja." Naruto menjelaskan.

"Oh, benarkah? Aku baru tahu. Hey, Naruto, mau adu panco denganku? Jangan khawatir aku akan membuatnya mudah bagimu."

Walaupun kekuatannya tersegel, Kaguya masih mampu menggunakan sebagian kemampuannya seperti mewujudkan [Limited Astral Dress], terbang, fisik di atas rata-rata manusia normal, dan terpenting dari itu semua mengakses [Angel]. Karenanya, wajar dia selalu menahan diri apabila terkena kontak fisik dengan manusia manapun.

Ia duduk. "Tentu. Kenapa tidak?"

"Itu baru semangat," katanya puas.

Naruto dan Kaguya berhadapan wajahnya sebelum menggenggam tangan satu sama lain.

"Siap? Mulai!" seru siswa yang kebetulan juri pertandingan ini.

Mereka berdua mengencangkan tangannya masing-masing lalu mulai saling menjatuhkan. Kedua belah pihak melakukan itu dengan wajah masih tetap berhadapan. Namun, Kaguya merasa keheranan.

'Eh? Naruto masih bertahan?'

Kaguya sudah memastikan tekanan yang dikeluarkannya cukup untuk menyebabkan rasa nyeri pada otot manusia normal, tidak lebih dari itu. Anehnya, entah mengapa Naruto tidak terlihat merasakan sakit sama sekali. Ini membuat Kaguya kesal dan tidak sadar menambah tenaga yang lebih dari seharusnya, sayangnya ekspresi Naruto masih sama dan malah nampak santai.

'Hmm, mungkin ada baiknya aku mengalah. Lagipula aku masih harus mengunjungi tempat lain di sekolah ini. Kasihan juga Tobiichi-san bila menunggu terlalu lama.'

Naruto melemaskan otot-otot lengannya dan Kaguya berhasil mengalahkannya, mengakibatkan teriakan dan sorakan dari para penggemarnya. Walaupun secara mengejutkan hanya Kaguya yang mengeluarkan keringat sementara Naruto tidak terlihat peluh sama sekali.

"[Ball Crusher] kita menang lagi!"

"Wuhuu! Kaguya-chan memang hebat!"

"Kaguya-sama! Izinkan kami melayanimu selamanya!"

Mereka berdua melepas tangannya masing-masing. Naruto tersenyum tipis pada Kaguya.

"Tangan yang kuat. Kau hebat, Kaguya," puji Naruto.

"Yeah, kau juga tidak buruk-buruk amat. Mungkin lain waktu kau yang menang, Naruto." Kaguya berseri.

Sang Dark Slayer terkekeh, mengalihkan perhatian pada Origami.

"Kau keberatan kalau aku beli makan dan minum dulu sebelum kita lanjut berkeliling?"

"Tidak juga."

Dari kantin, Naruto dengan Origami melangkah di lorong menuju lokasi berikutnya. Mereka berdua memasuki tempat yang di sekitarnya dipenuhi meja, kursi, terutama rak berisikan buku-buku dalam berbagai ukuran maupun kategori.

"Ini adalah perpustakaan di Raizen High School."

"Luas juga."

"Bila ingin meminjam buku, maksimal yang mampu dibawa setiap murid tidak boleh lebih dari lima buah. Batas pengembalian buku dihitung dari lima hari setelah murid yang dibicarakan membawa buku dari perpustakaan ke rumahnya," ungkap Origami.

Dia penasaran.

"Aku punya pertanyaan. Jika batas pengembalian buku di hari libur, bagaimana pihak sekolah menanggapinya?" tanyanya.

"Murid yang dimaksud bisa mengembalikan buku saat masuk sekolah, tapi tidak dapat meminjam sebelum lusa telah berlalu," jelas Origami.

Naruto mengangguk dan bertanya lagi. "Apakah ada kriteria yang diperlukan untuk membaca buku di sini?"

"Kau hanya perlu menulis namamu di buku pendaftaran pengunjung. Agar penjaga perpustakaan bisa tahu siapa saja yang telah masuk perpustakaan setiap harinya."

"Kedengarannya mengesankan."

Setelah puas melihat-lihat, Naruto dan Origami kembali berjalan di lorong gedung sekolah. Semula hanya ada keheningan menemani langkah kaki mereka berdua, hingga salah satunya angkat bicara.

"Naruto."

"Ya?"

"Apakah kau tahu kejadian lima tahun yang lalu saat kota ini mengalami kebakaran hebat?"

"..."

Sang Dark Slayer tidak menduga pertanyaan yang satu ini. Dia pun berbicara.

"Aku... baru mendengarnya. Memangnya apa penyebab kebakaran itu bisa terjadi?"

Walaupun tidak menunjukkannya secara langsung, Origami sedikit kecewa dengan jawaban Naruto. Namun, bukan berarti dia akan menyerah begitu saja untuk mendekatinya.

"Begitu."

"Maaf, Tobiichi-san."

"Origami."

"Huh?"

Dia menatap Naruto melalui sudut matanya.

"Panggil aku dengan nama depanku. Kita teman sekelas. Tidak perlu terlalu formal," kata Origami.

Naruto berkedip, perlahan menampilkan senyum tipis.

"Baik, Origami."

Keduanya lalu memasuki ruang kesehatan, lapangan indoor, ruangan penyimpanan peralatan olahraga, dan masih banyak lagi. Tidak lama Naruto dan Origami beristirahat sebentar di kursi panjang dekat lapangan outdoor. Naruto membagi makanan dan minumannya dengan Origami, kebetulan dia membeli lebih untuk dua orang.

"Ini untukmu."

"Padahal kau tidak perlu membagi yang kau beli padaku."

"Tidak apa. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasih karena telah mengantarku keliling sekolah."

"...baiklah. Aku terima pemberianmu."

Mereka berdua melahap roti yakisoba sambil mengamati langit cerah yang terkadang dilewati hewan-hewan bersayap. Usai habis, keduanya lalu minum dari botol air mineral sampai menyisakan setengah dari penuhnya. Naruto berkedip saat memperhatikan sesuatu di sudut bibir Origami, mengambil sebuah objek dari saku celananya.

"Ada saus di bibirmu. Sini kubersihkan."

Origami melebarkan matanya saat Naruto mengelap sisa saus di sudut bibirnya dengan sapu tangan, sentuhan merah muda perlahan muncul di pipinya.

"...terima kasih."

Naruto tersenyum dengan respon yang diterimanya, sempat menyimpan kembali sapu tangannya.

"Sama-sama," balasnya.

Walau raut wajahnya normal, sebenarnya ada kepanikan tersendiri dalam hati Naruto.

'Sial. Aku melakukannya lagi.'

Ada kalanya Naruto ingin berbuat baik pada lawan jenisnya, tapi perhatiannya terkadang disalahartikan sebagai tindakan romantis. Oleh karena itu dia berusaha untuk menahan sikap berlebihannya, walau sering gagal seperti saat ini contohnya. Bukan berarti dia tidak mau menjalin hubungan khusus dengan perempuan. Namun, mengingat aktivitas sampingannya adalah memburu makhluk supernatural, Naruto khawatir pasangannya akan mendapat bahaya setiap saat karena bisnis keluarganya.

Kemudian Origami merasakan saku celananya bergetar, mengeluarkan alat elektronik miliknya dari situ dan menatap Naruto.

"Ini tidak akan lama. Aku janji."

"Baiklah."

Sang Ace Fraxinus menjauh beberapa langkah dari Naruto sebelum meletakkan ponselnya ke telinganya. Di lain sisi, Naruto meraih telepon selulernya sendiri kemudian menghubungi nomor yang familiar.

"Naruto?"

"Hey, Vergil. Kau ada di rumah?"

"Tidak. Aku sedang menjalankan misi. Di rumah hanya ada Lady. Kenapa?"

"Aku hanya penasaran. Selama aku pergi tak ada hal aneh terjadi di rumah 'kan?"

"Semuanya aman."

"Bagus kalau begitu."

Naruto mendengar bunyi kilat dan ledakan di sebelah sana.

"Nanti kuhubungi lagi. Menghadapi pasukan mummy sambil menelpon bukan hal cerdas saat ini."

"Aku mengerti. Jaga diri kalian baik-baik." Dia terkekeh.

"Ya."

Panggilan diputus olehnya.

"Aku paham. Dalam tiga menit aku akan tiba di sana."

Origami meletakkan ponselnya ke tempat semula, memutar badan lalu menghampiri Naruto. Dia mengajukan pertanyaan.

"Naruto, aku ada urusan lain. Kau keberatan kalau aku tinggal?"

"Tidak juga. Sekali lagi terima kasih, Origami." Naruto berseri.

Origami mengangguk, tidak lama berjalan masuk ke dalam gedung sekolah meninggalkan Naruto seorang diri. Sang Dark Slayer menghembuskan nafas.

"Aku sangat yakin kemarin adalah hari pertamamu di kota ini. Bukan lima tahun yang lalu." Kurama kebingungan.

'Aku tahu, Kurama. Antara Origami salah orang, atau memang aku pernah bertemu dengannya tapi aku lupa?'

"Mustahil kau mengalami amnesia, Naruto," kata Kokuo.

'Kau benar, tapi aku jadi penasaran dengan yang dimaksud oleh Origami.'

Saat bel sekolah berbunyi, Naruto bangkit dari kursi dan melangkah menuju kelasnya.


"Naruto tidak seperti itu, Kotori."

Saat dipanggil ke ruang fisika, Shido mendapat panggilan video melalui komputer dari adiknya yang berada dalam area utama di kapal Fraxinus. Mereka berdua sekarang berdebat tentang kehadiran Naruto di Kediaman Itsuka. Satu menurutnya tidak aman membiarkannya tinggal, satunya lagi membalas kalau itu bukanlah hal buruk.

"Aku tahu yang kau maksud, Shido, tapi semakin cepat dia pindah, semakin lebih baik untuk para Spirit."

"Mungkin kau benar, tapi biarkan dia tinggal setidaknya empat hari. Tidak perlu tergesa-gesa juga."

"Kau terlalu mudah percaya dengannya. Bagaimana jika dia bukan orang baik?'

Shido mengerutkan keningnya. "Kotori, Naruto baru bersama kita sehari dan kau langsung berpikir buruk tentangnya?"

"Aku hanya memikirkan kemungkinan buruk. Ini juga demi kebaikan Tohka dan yang lainnya. Apalagi ayah dan ibu bilang eksistensinya tidak kita ketahui tak seperti Spirit."

"Apa maksudmu?"

Adiknya menjelaskan tentang pertemuan kedua orang tua mereka dengan Naruto. Usut punya usut, rupanya Haruko dan Tatsuo pernah terjebak dalam sebuah dunia asing yang merupakan 'cerminan' dari dunia manusia, di mana dihuni oleh banyak sekali monster dengan penampilan mengerikan. Entah kebetulan atau tidak, mereka berdua bertemu Naruto dan kemudian diselamatkan olehnya.

"..."

Shido tidak tahu harus merespon seperti apa, Spirit dan Spacequake masih bisa dia terima karena setidaknya umat manusia tahu bahaya Gempa Luar Angkasa. Namun, mengetahui kenyataan bahwa sesuatu semacam makhluk supernatural itu nyata dan tersembunyi dari mata dunia... sungguh kebenaran yang sangat mengejutkan baginya.

"Meski begitu... aku yakin Naruto tidak seburuk yang kau pikirkan."

Walau Shido terdengar membela teman pirangnya itu, ada sedikit nada gugup terkandung di kalimatnya, karena rupanya Naruto mengandung misteri lain yang disembunyikan darinya.

"Hooh, kau sepertinya terlihat gugup."

"T-Tentu saja. Jika dia punya rahasia... kita juga tidak jauh berbeda, tentang keberadaan Spirit dan organisasi [Ratatoskr]. Terutama info kalau aku punya adik lain bernama Natsumi. Kau tahu sesuatu soal itu?"

Tak ada respon cepat dari adiknya, setidaknya sampai dia angkat bicara beberapa saat kemudian.

"Natsumi, atau nama kodenya [Witch], adalah Spirit yang ditemukan oleh ayah dan ibu kita saat mereka ditugaskan di luar negeri. Kemampuannya masih misteri karena dia belum tiba di Fraxinus untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dia bisa dibilang Spirit yang unik karena belum menghasilkan Spacequake sama sekali."

"..."

Dia terdiam sejenak dan mulutnya terbuka.

"Aku tahu ini terdengar aneh, tapi... aku tetap percaya kalau Naruto adalah orang yang baik, disamping rahasia yang disimpannya."

"..."

"Haah, terkadang sikap baikmu itu bisa jadi pedang bermata dua bagi kita, tapi... jika kau tidak bersikap seperti ini, mungkin proses penyegelan Spirit akan sangat sulit. Nanti kuberitahu lagi soal Natsumi di rumah."

Panggilan video terputus dari sebelah sana.

Shido menghela nafas, melirik ke arah Reine yang selesai menghabiskan kopi dan meletakkan gelas kosong itu di meja.

"Reine-san, apa pendapatmu tentang... Naruto, setelah apa yang kau dengar barusan?" tanyanya.

"..."

"Aku tidak bisa bilang dia orang baik atau jahat, karena ini semua tergantung perbedaan sudut pandang. Kau beranggapan Naruto baik karena impresi pertama yang dia tunjukkan adalah laki-laki dengan tata krama normal. Sedangkan Kotori berpikir Naruto, bukan beranggapan dia orang jahat, tapi lebih ke orang mencurigakan karena sebelum bertemu kita dia telah mengetahui keberadaan Spirit walau secara tidak sengaja," jelasnya.

Reine menepuk pelan pundak Shido.

"Kotori hanya memikirkan yang terbaik untuk Tohka dan lainnya. Coba ingatlah dengan usianya yang masih muda, dia sudah memikul beban berat sebagai salah satu anggota penting di [Ratatoskr] yang mengawasi secara langsung keadaan Spirit. Bisa kau bayangkan stress yang dialaminya setiap saat?"

Shido terdiam sebentar, menyadari yang dikatakan dia ada benarnya juga.

"Mungkin... ada baiknya aku minta maaf padanya," katanya.

Reine mengangguk.

"Itu bukan keputusan buruk. Bagaimanapun juga sebagai sesama anggota keluarga, tidak boleh ada perdebatan berkepanjangan di antara kalian berdua."

Mereka berdua mendengar bunyi ketukan dari luar.

"Masuk."

Origami memasuki ruang ini setelah menutup pintu, keningnya mengerut saat mengetahui keberadaan Shido.

"Shido, maaf tapi aku ingin bicara empat mata dengan Petugas Murasame."

Menyadari ini menyangkut hal serius, Shido mengangguk lalu keluar dari tempat tersebut meninggalkan mereka berdua di dalamnya. Reine pun memulai percakapan usai menunggu beberapa saat.

"Bagaimana hasil pengamatanmu?"

"Ketimbang seseorang dengan kepribadian palsu, Naruto membiarkan emosinya melekat keluar sehingga setiap aksi yang dilakukannya memang nyata apa adanya. Sikapnya terhadap Tohka dan yang lainnya juga tidak tampak mencurigakan."

Dia terdiam sebentar guna mencerna informasi yang diterimanya, akhirnya bicara. "Dengan kata lain, kau yakin dia tidak berbahaya?"

"..."

"Aku masih harus melakukan pengawasan terhadap Naruto, untuk memastikan bahwa pengamatanku yang sebelumnya tidak salah," jelas Origami.

Reine mengangguk.

"Begitu. Kerja yang bagus. Laporan ini akan disampaikan langsung ke Komandan Itsuka," katanya.

Bel sekolah berbunyi pertanda mata pelajaran berikutnya akan segera dimulai. Reine lalu berbicara lagi.

"Untuk sekarang kembali ke kelasmu. Kita lanjutkan perbincangan ini di kapal Fraxinus, Petugas Tobiichi."

"Aku mengerti, Petugas Murasame."

Mereka berdua saling hormat sebelum Origami keluar dari ruang fisika. Reine sempat mengamati kepergian Origami, raut wajah tenangnya berubah menjadi serius.

'Aura Devil, tapi di saat bersamaan auranya juga manusia. Sebenarnya siapa kau ini, Uzumaki Naruto?'

Dia tidak tahu Naruto berada di pihak mana. Namun, satu hal yang pasti dia akan mengujinya dalam waktu dekat. Sebab sudah menjadi tugas seorang ibu untuk melindungi anak-anaknya, meskipun Murasame Reine hanya versi replika dari dirinya yang asli.


Di saat sahabatnya lelah, bulan menggantikan posisi matahari yang beristirahat untuk memberikan sinarnya pada bumi, bersamaan dengan itu langit berubah menjadi gelap. Sebagian besar orang di belahan dunia bergegas pulang setelah melaksanakan berbagai tugas, contohnya seperti dua remaja laki-laki yang berjalan di trotoar Kota Tenguu sembari membawa plastik berisikan kebutuhan dapur.

"Maaf, Naruto, aku jadi merepotkanmu."

"Santai saja, Shido. Lagipula, hanya membawa barang bawaan bukanlah hal sulit. Malah aneh jika aku tidak memberi bantuan sama sekali padamu."

Dia tersenyum simpul. "Sekali lagi terima kasih. Sungguh."

Shido dan Naruto baru saja keluar dari mini-market yang terletak di sisi lain kota ini. Karena bahan makanan di dapur tersisa sedikit, maka mereka berdua pergi ke tempat yang menyediakan keperluan semacam itu. Pada awalnya Tohka atau Yamai Bersaudara ingin ikut, tapi setelah dibujuk Shido akhirnya ketiganya menurut dan mau menunggu di rumah.

"Sama-sama. Ngomong-Ngomong, mengapa kau tidak menerima bantuan Tohka, Kaguya dan Yuzuru?" Naruto penasaran.

Shido tertawa gugup.


Setelah mengambil troli belanja, Shido dan Tohka berkeliling dalam mini-market ini hingga salah satunya sadar ada bahan yang lupa diambilnya.

"Tohka, tolong kau jaga troli untuk sebentar. Aku janji tidak akan lama."

"Um, aku mengerti. Serahkan saja padaku." Tohka antusias menjalankan tugas darinya.

Shido tersenyum, pergi ke arah lain dan kembali dengan membawa dua kemasan gula pasir. Shido melongo melihat troli diisi penuh oleh bahan makanan berlemak yang lezat tapi tidak sehat bagi tubuh.

"Shido! Malam ini kita bisa makan daging sepuasnya karena lagi diskon!"

Tohka tersenyum lebar dengan air liur mengucur deras dari sudut bibirnya.


"Kaguya, Yuzuru, aku ingin kalian mengambil mentega, telur, dan beras, sesuai jumlah yang kutulis di kertas ini sementara aku mengambil sisa bahan lainnya."

"Oke. Ini mudah sekali bagiku."

"Mengerti. Yuzuru pastikan semuanya sesuai yang diinginkan Shido."

Kali ini Shido mengajak Yamai Bersaudara untuk belanja. Namun, tidak seperti saat bersama Tohka, dia sempat menulis daftar barang yang harus dibeli dan menyerahkan itu pada keduanya agar tidak mengulangi kesalahan serupa.

Lega, Shido pergi ke area lain lalu kembali dengan membawa satu botol minyak goreng ukuran besar dan dua kaleng susu, tercengang ketika mengamati Yamai Bersaudara bertengkar sambil memegang kantung beras maupun kemasan mentega.

"Dimasukkan dulu itu mentega baru beras."

"Kebodohan. Di mana-mana benda berat di bawah baru yang ringan di atasnya."

"Kau bilang apa barusan?!"

Kaguya yang kesal menghantam muka Yuzuru dengan mentega, sontak menyeringai puas.

"Kha, kha, rasakan kemarahanku Yuzuru!"

Tidak tinggal diam, Yuzuru menampar Kaguya menggunakan karung beras, menyebabkan Kaguya terpukul mundur dan menabrak tumpukan botol saus hingga jatuh semuanya. Sekarang Yuzuru yang menyeringai puas.

"Pembalasan. Keadilan telah dilaksanakan. Ha. Ha. Ha."

Shido menutup wajahnya sendiri dengan tangannya karena malu.


"Mereka pernah membantuku, jadi aku tidak mau merepotkan mereka lagi."

"Begitu rupanya."

Keadaan jalan yang sepi sebenarnya bisa memberikan kesan angker untuk seseorang yang jalan seorang diri. Beruntungnya, Shido ditemani Naruto yang tampak santai saja ketika berjalan, tapi dia menyadari kalau teman pirangnya itu sering melirik ke objek-objek lain macam pohon, gang gelap, atau juga halte bus yang lampunya mati-nyala setiap beberapa detik. Ini seperti Naruto sedang 'melihat' sesuatu, entah apa yang dilihatnya.

"Naruto, sebenarnya dari tadi kau sedang melihat apa?"

"Huh? Oh. Aku hanya penasaran dengan area yang tampaknya tidak terjaga secara baik di sekitar sini," balasnya.

Shido [ohh] lalu fokus lagi ke jalan.

"Kenapa kau tidak bilang kalau sebenarnya ada kelompok hantu yang sering melirik ke arah kalian?" Son Goku penasaran.

'Dan membuatnya panik? Itu bukan ide bagus dan kau tahu itu.'

"Haha, kau benar juga."

Sejujurnya, semenjak tadi keduanya diawasi oleh sebagian besar makhluk halus di sekitar kawasan ini. Naruto lega karena sepertinya mereka terlalu takut untuk mendekat, tidak mengherankan, mengingat aura yang dikeluarkannya mengakibatkan para makhluk halus ini ketakutan dibuatnya.

Shukaku terkekeh. "Perempuan bermata satu melambaikan tangannya dengan malu-malu padamu. Ayo sapa dia."

'Shido bisa menganggapku aneh jika aku melakukannya.' Dia sweatdrop.

Deg.

Naruto tersentak, beralih pada Shido lalu tersenyum canggung.

"Shido, kau pulang saja duluan. Aku lupa ada satu barang lagi yang mau kubeli," katanya.

Shido berkedip. "Benarkah? Kalau begitu aku akan menemanimu."

"Tidak usah. Lagipula kasihan yang sedang menunggu di rumah. Takutnya mereka kelaparan."

Dia ada benarnya juga.

"Oh, baiklah. Hati-hati kalau begitu."

'Mungkin lebih baik aku menanyakan soal... monster, pada Naruto besok di sekolah saja. Saat hanya ada kita berdua.' Shido berpikir.

Setelah menerima plastik darinya, Shido pergi ke suatu arah yang menuju pada Kediaman Itsuka, sementara Naruto menengok ke sebuah tempat yang jauh. Tepatnya di atas bangunan tinggi.

'Auranya berasal dari tempat itu rupanya.'

Sang Dark Slayer menengok sekitar, karena tak ada orang sama sekali selain dirinya, tanpa pikir panjang dia memejamkan mata dan lenyap dalam kilat biru. Dia muncul pada atap salah satu gedung pencakar langit di Kota Tenguu, mengerutkan keningnya ke arah siluet yang mengelilingi wujudnya dengan semacam mosaik sehingga penampilan aslinya tersembunyi.

"Aku penasaran, apa yang dilakukan Demi-Devil sepertimu di kota ini."

Sosok itu berbicara, suaranya terdistorsi seperti tidak ingin siapapun tahu identitasnya. Namun, untuk Naruto, dia tahu persis siapa sosok ini.

"Penampilan dan suara bisa diubah, tapi aura yang kau pancarkan masih sama seperti saat kita bertemu pertama kali di rumah Shido. Jujur saja, aku yakin berbincang di sekolah masih lebih baik daripada di sini. Tentunya secara empat mata."

"..."

Sosok itu tidak langsung merespon, mungkin tak menduga kalau sang Dark Slayer langsung tahu siapa dirinya.

"Ketika bertemu Natsumi, apa yang kau pikirkan tentangnya?"

"Perempuan yang akan melakukan apapun untuk melindungi keluarganya."

"Itu berarti kau sudah melihat kekuatannya?"

"Kekuatan? Aku tidak melihat semacam itu darinya kecuali mengayunkan sapu..."

Naruto sekilas mendengar "Kenapa kemampuan [Haniel] tidak berfungsi?!" lalu "Menjauh kalian dasar kadal jelek!" dari anak perempuan itu.

Dia mengelus dagunya. "...benar juga, entah mengapa kemampuan Natsumi-chan tidak bisa digunakan di Limbo... boleh kuanggap kau juga tahu dunia apa itu? Karena jika tidak aku bisa menjelaskannya padamu."

"Limbo, benar? Aku mengetahui apa yang kau bicarakan. Tentunya pengetahuanku menjangkau hal-hal penting mengenai supernatural, seperti dunia para demon, Underworld contohnya."

Naruto mengangguk.

"Kalau begitu urusan kita selesai di sini. Sampai jumpa lagi di sekolah," katanya.

Sosok itu penasaran.

"Kau tidak ingin bertanya siapa aku sebenarnya?"

Dia mengangkat bahu.

"Aku tidak tertarik. Lagipula, kau memanggil aku ke sini hanya untuk berbincang tanpa membawa niat buruk. Jika ada yang membuatku penasaran tentang dirimu, tekanan energimu mirip dengan gadis-gadis lain yang sering bersama Shido... dan kenapa auramu tersambung dengan planet ini?"

Awal keduanya bertemu, Naruto hanya merasa aura sosok itu tak jauh berbeda dari Tohka dan yang lainnya. Namun, saat dia memakai wujud ini, sang Dark Slayer keheranan sebab pancaran energi bumi malah terjalin padanya. Walau lemah itu pun, seolah planet hijau-biru ini kehilangan sebagian besar kekuatan atau semacamnya.

"..."

"Tentang pertanyaanmu... sulit untuk kujawab. Akan tetapi, aku ingin tahu apa pendapatmu tentang mereka." Sosok itu berbicara lagi.

"Mereka perempuan yang hanya ingin hidup normal disamping kekuatan mistis yang mereka punya. Jujur saja, aku lebih suka menjalin hubungan baik dengan mereka ketimbang bermusuhan. Apa jawabanku memuaskanmu?" Naruto mengangkat sebelah alisnya.

"..."

"Itu lebih dari cukup."

Naruto lega.

"Bagus. Sekarang boleh aku pergi? Aku tidak ingin ketinggalan makan malam. Sungguh."

"Bahkan tanpa izin dariku kau sudah boleh pergi sebetulnya."

Dia menyengir. "Kau seorang guru, Reine-san. Wajar sebagai murid aku harus meminta izin dulu darimu."

Dalam sekejap sang Dark Slayer lenyap bersama kilat biru, meninggalkan sosok itu yang perlahan wujud fisiknya berubah menjadi Reine. Reine memperhatikan tempat dia berdiri sebelumnya, pecah menjadi serpihan kaca lalu menyatu kembali saat tiba di dalam rumahnya.

"..."

'Jika benar Naruto hanya ingin menjalin hubungan baik dengan anak-anakku... apakah mungkin aku bisa meminta bantuannya untuk menjaga mereka, setidaknya sampai diriku yang asli memulihkan kekuatan penuhnya?'

Dia tidak tahu jika Naruto akan menuruti permintaannya, tapi untuk keselamatan para Spirit tak ada salahnya untuk mencoba itu. Terutama kalau...

Monster ini menatap rendah siapapun dengan wajah terbalik, tawa mengerikannya terdengar ke seluruh permukaan bumi yang mengakibatkan pendengarnya akan tenggelam dalam kegilaan tanpa ujung.

Reine gemetar saat menggenggam bahunya sendiri.

Kebengisan itu...

Ketakutan itu...

Keputus-asaan itu...

Dalam hatinya dia berharap makhluk itu tidak pernah bangkit untuk selamanya.


T-B-C


A/N: Hello reader-san sekalian! Bagaimana chapter kali ini? Bagus? Atau masih ada yang kurang? Silahkan berkomentar :D

Seperti yang kalian lihat, sedikit demi sedikit rahasia yang disembunyikan Naruto tentang keberadaan supernatural terungkap oleh pihak [Ratatoskr], dan seperti biasa Shido dengan kepribadiannya yakin kalau Naruto bukan orang buruk, walau ada sedikit keraguan di pendiriannya. Apakah mungkin perselisihan akan terjadi antara [Ratatoskr] dan Naruto?

Dan sebagai seorang ibu(walau hanya klon) wajar jika Murasame Reine khawatir dengan keamanan anak-anaknya. Pertanyaannya, ancaman apa yang ditakutinya? Demon King? Atau ada makhluk kuat selain ras demon yang bersembunyi di kegelapan sambil menunggu kebangkitannya lagi?

Maaf jika ada kesalahan pengetikan kata atau semacamnya. Dan seperti biasa, review di tempat yang seharusnya :D

Oke, sampai jumpa di chapter berikutnya reader-san sekalian!