Uchikaze Muzuko-M.A.P: Makasih atas respon baiknya

Wokeh. Sudah up nih :D

Namikaze cloud: jiah wkwkwk

siap! Half udh up nih :D

Guest: mantap! makasih reviewnya :D

danielkeanumadegani: sudah up ni gan :)

wokeh, sangkyuu reviewnya!

Guest: Haha, makasih atas respon baiknya :D

Teguh: Wokeh. Sudah up ni :D

Ari Putra Bakati: wah, kayaknya ga mungkin, maaf reader-san.

Tapi sebagai gantinya author buat one-shot naruto ama kurumi. Murni romance :D

Miji695: mustahil kayaknya hehe :D

tapi bakal up terus :D

alivemikasa1: Ma, nanti juga akan ketahuan siapa ntu makhluk seiring chapter berjalan :D

Anastasia-hime: Maaf atas keterlambatan up-nya.

Yah, di fic ini Origami bukan anggota AST dari awal. Untuk penggantinya masih dari karakternya date a alive dan nanti akan dijelaskan seiring chapter berjalan.

Jadi tak menerima request dahulu, maaf reader-san :D

Wah, makasih respon baiknya. Semoga kamu dan semua warga indonesia sehat selalu!

Tak apa kepanjangan. Author juga senang baca responnya wkwkw :D

dlucifer35: untuk personality Origami, tidak semua orang bisa sama seiring waktu berjalan, jadi tunggu saja di beberapa chapter yang akan datang :D

Hehe, author senang kalau reader-san semakin penasaran dengan cerita ini ke depannya

Rizqa12: Well, itu sudah tercapai di chapter ini

Lihat saja reaksi Shido contohnya :D

Semuanya, maaf atas keterlambatan update cerita ini.

Karena ya author tidak ingin terburu-buru dalam menulis fanfic, biar enak gitu, hehe :D

oke, tanpa basa-basi silahkan baca Half Chapter 4 di bawah ini :D

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 4: New Player

Half

Summary:

{Dia adalah seorang Devil Hunter, pekerjaannya membasmi makhluk supranatural yang mengincar nyawa manusia. Namanya Uzumaki Naruto. Kegiatan barunya? Melindungi para Spirit dari ancaman yang mengintai mereka.}

Disclaimer:

{Semua yang muncul di fic ini murni milik pemilik aslinya. Kecuali alur tentu saja.}

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

{Chapter 4 : New Player}

.

.

.

.

.

Keesokan harinya, Shido, Tohka, Kaguya, Yuzuru, dan Naruto, bersama-sama menuju sekolah sambil berjalan beriringan di trotoar. Mereka terkadang terlibat percakapan dengan mengangkat suatu topik seperti saat ini.

"Kesenangan. Tiada yang lebih baik daripada berangkat ke sekolah di bawah langit yang cerah," kata Yuzuru.

"Aku setuju." Naruto berseri.

"Um, cuaca cerah itu memang bagus," ujar Tohka.

"Yeah... yang dikatakan Yuzuru ada benarnya juga." Kaguya terpaksa mengakuinya.

Yuzuru melirik ke arah kembarannya dengan seringai tipis di wajahnya. Kaguya dibuat kesal saat menyadari itu.

"Apa?"

Seringai Yuzuru semakin melebar.

"Apa?!"

Shido sweatdrop. "Sudah, Yuzuru, jangan goda lagi Kaguya."

Sang Dark Slayer terkekeh, mendapat geraman dari Kaguya.

"Kau jangan ikut-ikutan."

"Maaf, maaf. Habis melihat sikap kalian mengingatkanku pada adik-adikku. Sering bertengkar di saat ada kesempatan."

Hal tersebut membuat Tohka dan Yamai Bersaudara penasaran.

"Naruto, kau punya adik?"

Naruto berkedip, menggaruk tengkuknya dengan tawa gugup lepas dari mulutnya.

"Benar juga, aku lupa menjelaskan soal ini. Aku punya dua adik yang kutinggalkan di Kota Redgrave. Kembar sama seperti Kaguya dan Yuzuru. Namanya Dante dan Vergil, usia mereka seumuran dengan kalian yakni 17," jelasnya.

Yuzuru mengelus dagunya. "Terungkap. Itu menjelaskan mengapa Naruto terlihat memancarkan aura kedewasaan disamping usianya yang masih muda."

Naruto sweatdrop. "Tunggu, apa?"

"Aku tidak bisa bilang untuk tidak setuju." Shido terkekeh.

"Sungguh, Shido? Sungguh?"

"Hmm, sebenarnya yang dikatakan Yuzuru ada benarnya juga."

Naruto menghela nafas. "Aku butuh teman yang lebih baik."

Shido, Yuzuru, dan Tohka, tertawa geli mendengar respon Naruto. Sementara Kaguya mengelus dagunya sendiri.

'Hmm, pantas dia membiarkanku menang. Sikapnya 11:12 dengan Shido jika begitu.'

Dia kebingungan.

'Tidak. Tidak. Naruto tidak mengalah. Aku mengalahkannya secara adil saat kita adu panco kemarin.'

Setahu salah satu [Children of Typhoon] itu, Naruto adalah 'manusia' jadi kenyataan kalau dia lebih kuat dari Spirit terdengar konyol dan lucu bila dipikirkan terlalu lama.

'Kaguya, Kaguya. Terkadang imajinasimu unik juga. Mana mungkin manusia seperti Naruto bisa memiliki kemampuan fisik melebihi Spirit.'

Jika boleh dibandingkan antara Yoshino, Tohka, Kotori, dan Yamai Bersaudara. Tohka bisa dibilang memiliki fisik yang paling tinggi pertama, disusul Yamai Bersaudara, Kotori, lalu Yoshino. Itu menurut pemikiran Kaguya sebetulnya. Jadi bisa saja dugaannya salah.

Ketika lampu lalu lintas masih hijau, kelimanya menunggu bersama pengguna jalan lain seperti pria pekerja kantoran, ibu dan anaknya yang memegang bola, terakhir tiga siswi dari sekolah lain. Mereka berdiri di tepi zebra cross sembari menyaksikan kendaraan roda dua maupun roda empat melintas di jalan raya. Selama beberapa saat, Naruto mendapat berbagai komentar yang membuatnya malu secara diam-diam.

"Lihat wajah laki-laki itu."

"Hihi, lucu ya pipinya."

"Iya, jadi pengen cubit deh."

Naruto berusaha fokus melihat ke depan meskipun sadar siapa yang dibicarakan tiga siswi itu, mengabaikan senyuman aneh dari Yuzuru dan Kaguya.

"Sama-sama." Kurama menyeringai.

'Aku benci kau.'

Shukaku terkekeh. "Tidak baik menolak kenyataan."

"Tepat sekali," timpal Son Goku.

"Ayolah, Naruto. Jangan malu begitu," ujar Gyuki.

"Wajahmu memang imut, Naru-chan." Matatabi tertawa kecil.

'Jangan kau juga, Matatabi.'

"Ya, jangan malu begitu, Naruto."

'Aku sangat benci kau, Kurama.'

"Jujur, aku malu terlahir di keluarga ini." Kokuo menghela nafas.

"Sabar/No komen." Choumei dan Saiken berbicara serentak.

"Zzz..." Sang Sanbi masih nyenyak tidur.

Akhirnya setelah lampu lalu lintas berubah menjadi merah, mereka semua berjalan melewati zebra cross dan berpisah ke arah yang berbeda. Seperti lima orang ini yang bertujuan menuju Raizen High School. Ketika tiba di depan RHS, Origami terlihat berdiri di samping gerbang sambil menyelipkan satu tangannya ke saku celananya.

"Salam. Selamat pagi, Master Origami."

"Selamat pagi Origami!"

"""Pagi, Origami."""

Origami mengamati kelimanya satu per satu lalu membuka mulutnya.

"Selamat pagi juga." Dia masih ingin bicara. "Ngomong-ngomong, bisakah kalian tinggalkan kami berdua? Ada hal yang ingin kutanyakan dengan Naruto tapi secara empat mata."

Paham, Shido, Tohka, Kaguya dan Yuzuru, pergi meninggalkan keduanya. Namun, untuk sekian kalinya Naruto mendapat senyum geli dari Yamai Bersaudara. Dia sweatdrop.

'Abaikan saja, Naruto. Abaikan.'

Naruto menghela nafas, tersenyum tipis pada Origami.

"Jadi, hal apa yang ingin kau bicarakan denganku, Origami?" tanyanya.

Origami memastikan pandangan matanya sejajar dengan pandangan mata Naruto.

"Ada barang yang harus kubeli setelah waktu sekolah berakhir. Aku ingin kau menemaniku ketika membelinya."

"Denganku saja?" Dia menunjuk dirinya sendiri.

Origami mengangguk.

"Ini hanya ajakan dari teman. Tak ada maksud khusus," ungkapnya.

"..."

Berpikir ini adalah ajakan untuk 'jalan-jalan' saja, Naruto menjawab dengan anggukan kepala.

"Tentu. Tidak masalah."

"Bagus. Mari kita ke kelas."

Dengan begitu, Origami bergerak ke suatu arah. Naruto berkedip lalu mengikutinya dari belakang.


Saat jam istirahat berlangsung, Naruto, Shido, Tohka, meletakkan kotak makan siang mereka ke atas meja. Ketiganya bersamaan membuka penutup lalu mengucapkan "Selamat makan." sebelum menyantap isi dari bekal tersebut.

Selagi makan, Shido sempat menatap Naruto yang tampak mengamati keluar jendela dengan senyuman. Perasaan campur-aduk mulai dirasakan olehnya.

'Karena kita teman, sudah seharusnya kita terbuka satu sama lain bukan?'

Dia sudah bertekad untuk menanyakan soal monster, atau makhluk non-natural, pada Naruto hari ini juga. Tentunya saat hanya ada mereka berdua saja. Bagaimanapun juga, kehadiran supernatural adalah sesuatu yang mengejutkan, dan sebisa mungkin dia ingin tahu lebih banyak sebelum memberitahu Tohka dan yang lainnya.

'Maka dari itu, sementara Naruto memberitahuku hal-hal terkait supernatural, aku akan menjelaskan soal Spirit dan organisasi yang melindungi mereka alias [Ratatoskr] padanya. Bukankah itu terdengar adil, benar?'

Dibesarkan dan dididik agar memiliki kepribadian baik, dia jadi mempunyai pola pikir bahwa selama hubungan tulus terjalin antara satu dengan yang lainnya, maka rasa benci takkan pernah muncul di hati siapapun juga. Karenanya, Shido beranggapan jika dia jujur pada Naruto, maka Naruto akan jujur juga kepadanya.

Setidaknya itu yang ada di pemikiran Shido. Walau demikian masih ada sedikit keraguan di hatinya. Entah dia sadar atau tidak.

"Mu? Shido, kenapa dari tadi kau mengamati Naruto?"

Dia tersentak mendengar kata-kata Tohka.

"Ah, bukan apa-apa. Aku hanya... ingin minta kentang gorengnya, tapi bingung karena takutnya itu makanan favoritnya," jelas Shido gugup.

Tohka [ohh] lalu mengangguk.

"Serahkan padaku."

"Eh, Tohka? Kau tidak perlu-"

"Naruto! Shido mau minta kentang gorengmu!"

Sang Dark Slayer nyaris melompat dari kursinya ketika mendengar suara nada tinggi, mengalihkan perhatian pada Tohka yang senyam-senyum seakan tak memiliki salah apapun.

"Tolong lain kali jangan berteriak di telingaku. Sungguh." Ia sweatdrop.

"Hehe, maaf, Naruto." Tohka cengengesan.

Naruto menghela nafas lalu beralih ke Shido.

"Kau boleh ambil beberapa kentang gorengku, Shido," katanya.

"A-Ah iya, terima kasih."

Naruto berseri. "Sama-sama."

Tohka mengernyitkan dahinya saat menyadari sesuatu.

"Hmm, Origami belum kembali juga. Aneh."

Shido berkedip kemudian mengedarkan pandangan. "Huh benar juga. Tidak biasanya dia selama ini."

"Memangnya dia ke mana?"

"Oh! Kau belum tahu ya Naruto. Origami kalau waktu istirahat itu suka–hmmph?!"

Naruto sweatdrop saat Shido menutup mulut Tohka menggunakan tangannya. Tidak habis pikir dengan tingkah laku mereka yang aneh menurut pemikirannya.

"Origami sering terlibat dengan kegiatan sekolah. J-Jadi ada saat-saat di mana dia meluangkan waktunya bersama beberapa guru untuk membahas hal-hal penting. Bisa dibilang Origami merupakan contoh murid teladan di sini."

Naruto [Ohh] lalu mengangguk, beralih menatap keluar jendela lagi sambil menghabiskan makan siangnya. Walau dirinya penasaran penasaran mengapa Shido tidak mau menatap wajahnya secara langsung ketika berbicara.

"Tentang sikapnya-"

'Tidak perlu, Kurama. Shido terlihat jelas menyembunyikan sesuatu dariku tapi aku paham mengapa dia bersikap seperti itu.'

"Kau tahu kalau aku hanya bercanda padamu, benar?"

'Aku tahu.'

Dia mendengar tawa sang Kyuubi di pikirannya.

Mereka lalu menyimpan kotak bekal ke tasnya masing-masing. Tidak lama kemudian, Origami memasuki kelas seraya membawa plastik berisi beberapa botol air saat mendekati meja Naruto, Tohka dan Shido. Dia pun membagikan itu pada ketiganya.

"Aku membawakan air untuk kalian."

""Terima kasih, Origami.""

"Sama-sama."

Shido dan Tohka membuka penutup botol lalu minum dengan perlahan. Mencoba menutup perbuatan mereka, Naruto keheranan saat menyadari segel botol airnya telah terbuka.

"Origami, maaf tapi, kenapa botol airku sudah kebuka penutupnya?"

"Aku barusan minum dari situ."

Naruto melongo sementara Shido tersedak air minumnya sendiri. Hanya Tohka yang menatap heran Origami.

"Tadi saat pinjam pulpen kulihat ada botol air di tasmu."

"Aku sempat membuka penutup botolmu tadi untuk dijadikan lelucon. Jangan dibawa serius."

'Orang waras manapun pasti akan menganggap serius kata-katamu itu.'

Shido dan Naruto tidak sadar memiliki pemikiran yang sama.

Bel sekolah berbunyi nyaring pertanda pelajaran berikutnya akan segera dimulai. Naruto, Shido, Tohka, merapikan meja mereka ke tempat semula sebelum duduk di kursinya masing-masing. Tak berselang lama kelas ini kedatangan seorang guru.


"Kudengar dari Origami dirimu ingin berbicara empat mata denganku. Benar begitu, Reine-sensei?"

Sudah beberapa menit semenjak waktu sekolah berakhir, sang Dark Slayer diminta ke ruang fisika terlebih dahulu oleh Origami sebelum pergi menemaninya menuju suatu tempat. Saat ini Naruto tengah duduk berhadapan dengan Reine ditemani teh dan juga kopi.

Dia mengangguk. "Aku ingin membahas sesuatu yang penting. Ini menyangkut keselamatan Shido, Tohka dan yang lainnya."

"..."

Naruto terdiam sejenak, mulutnya terbuka.

"Aku mendengarkan," katanya.

"Sebelumnya sudah sejauh mana pengetahuanmu tentang [Underworld]?"

"Aku tidak akan bilang aku tahu banyak. Mengapa?"

"Pernah mendengar [Purgatory]?"

"..."

[Purgatory]. Tentu saja Naruto pernah mendengar nama itu. [Purgatory] bisa dibilang wilayah mengerikan karena banyak demon berbahaya dilempar dan disekap di sana. Sang Dark Slayer tidak tahu pasti seberapa besar ancaman demon-demon itu, karena untuk beberapa alasan, catatan yang ditinggalkan Sparda tak sampai menjelaskan secara detail mengenai [Purgatory].

"Dari yang kutahu, itu adalah area berbahaya yang memenjarakan berbagai demon mengerikan."

"Begitu. Ini akan mempermudah penjelasanku. Sebenarnya..."

Sang Dark Slayer mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan wanita dengan kantung mata itu. Usut punya usut, rupanya ada makhluk tertentu yang akan mengincar gadis-gadis unik yang hidup disekitar Shido. Makhluk ini memiliki beberapa julukan, salah satunya [The Wicked One].

"Reine-sensei, maaf tapi, boleh kuanggap kau tahu nama makhluk itu?" tanyanya.

"Aku tahu. Namun, bukan berarti aku tidak ingin memberitahumu. Hanya saja jika seseorang menyebut namanya, maka makhluk itu akan terus menguntit orang tersebut sampai membuatnya gila dengan hawa keberadaannya saja," jelasnya.

Reine sadar ada kemungkinan Naruto akan kehilangan akal sehatnya karena menyebut nama makhluk itu. Bagaimanapun juga, dia adalah salah satu muridnya, maka wajar kalau Reine tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.

Naruto tertarik dengan pernyataan yang keluar dari mulut Reine. Dia pun angkat bicara.

"Kalau begitu Reine-sensei tulis saja nama makhluk itu. Nanti biar kucari sendiri informasi tentangnya."

"..."

Berkedip, Naruto menyaksikan sentuhan merah muda perlahan muncul di permukaan kulit pipi Reine.

'Kenapa... aku tidak berpikir sampai ke situ?'

Jika ada lubang, Reine ingin sekali mengubur kepalanya dalam-dalam ke sana. Stress yang dialaminya dalam memikirkan keselamatan para Spirit rupanya telah membuat pikirannya sedikit tumpul.

"Reine-sensei?"

"A-Ah, iya. Tolong tunggu sebentar."

'Bahkan nada bicaranya agak gugup. Dia benar-benar dibuat frustrasi soal ini rupanya.' Naruto prihatin.

Sebelum menerima kertas darinya, Naruto sempat menghabiskan tehnya dan menyelipkan itu ke saku celana lalu menatap Reine lagi.

"Aku tidak akan bilang semuanya akan baik-baik saja selama aku ada. Tapi aku akan berusaha semampuku untuk ikut serta dalam menjaga mereka. Shido dan yang lain maksudku," ujarnya.

Reine mengangguk. "Terima kasih. Bantuanmu benar-benar kuapresiasi. Tapi ingatlah jangan sebut nama itu."

"Aku mengerti," katanya.

Dia kemudian menyadari pukul berapa sekarang di jam dinding.

"Ngomong-ngomong, boleh aku keluar sekarang?"

"Kamu tidak perlu meminta persetujuanku untuk hal kecil seperti itu." Reine mengerutkan keningnya.

Naruto terkekeh.

"Wajar seorang murid meminta izin dulu kepada gurunya bila ingin melakukan sesuatu," candanya.

Dengan begitu, sang Dark Slayer beranjak dari tempat duduknya sebelum melangkah ke arah jalan keluar. Tidak lama pintu ruangan ini ditutup dari luar olehnya.

Selama beberapa saat, dia memperhatikan kursi yang ditempati Naruto tadi.

"..."

Perlahan, senyum tipis terlihat di wajahnya.

"Dasar," gumamnya.

Reine berkedip, menggeleng demi membuang pemikiran aneh yang dimilikinya terhadap muridnya itu. Sekarang bukan saatnya memikirkan hal semacam itu. Dia harus fokus pada tugas dari dirinya yang asli ketimbang memikirkan kesenangan pribadinya.

[Hihi, pemuda yang unik. Walau darah Devil mengalir di nadinya ia lebih tertarik pada keselamatan orang lain daripada dirinya sendiri. Sampai mengkhawatirkan keamanan anak-anakku... fufu.]

Reine meringis, merasakan kepalanya sakit karena suara di kepalanya.

'Tolong jangan lakukan itu lagi. Kepalaku pening karena ulahmu ini.'

[Aku tidak akan minta maaf. Ngomong-ngomong, bisakah aku atur pertemuanku dengan Naruto?]

"...tidak."

[Hey! Kenapa tidak boleh? Aku hanya ingin berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan salah satu putriku. Ugh, gara-gara kehilangan sebagian besar Reiryoku membuat jangkauanku tidak dapat mencapai Natsumi saat dia terjebak di Limbo. Menyebalkan]

'Kau harus fokus mengembalikan kekuatanmu. Itu yang penting.'

[Ya, Bu. Aku paham. Mau belikan popok untukku agar tidak mengompol lagi nanti malam?]

Reine mengabaikan seutuhnya suara di pikirannya.


Sesuai perkataannya, Naruto berjalan dengan Origami dalam sebuah toko yang menjual berbagai macam produk untuk kategori berbeda. Di antaranya seperti buku tulis, pulpen, pensil, dan masih banyak lagi. Tempat ini juga menyediakan beberapa mainan anak-anak meskipun tidak terlalu banyak produknya.

Sejauh ini, Naruto melihat ada satu atau tiga keluarga sedang memilih benda apa yang ingin mereka beli. Terkadang sang Dark Slayer merasa senang ketika menyaksikan kebahagiaan dan keharmonisan dari masing-masing anggota keluarga.

'Tak ada yang lebih baik daripada interaksi mereka yang saling menyayangi satu sama lain.'

Beberapa saat berlalu, keduanya naik tangga hingga menginjakkan kakinya di lantai dua. Naruto dan Origami melangkah sebentar sampai berdiri di samping dua ruang ganti beserta kursi panjang. Dia pun mengangkat sebelah alisnya saat mengamati pakaian-pakaian sederhana maupun formal berjejeran di sini.

'Menggabungkan lebih dari satu jenis produk dalam satu tempat. Unik juga ide pemilik toko ini.'

"Naruto," panggilnya.

"Ya, Origami?"

"Aku ingin melihat-lihat baju sebentar. Tolong kau jangan ke mana-mana."

Naruto berkedip, mengangguk lalu tersenyum tipis.

"Baiklah. Aku akan menunggu di sini," ujarnya.

Puas dengan jawabannya, Origami mengambil beberapa langkah ketika mendekati sisi pakaian perempuan sementara Naruto duduk di kursi panjang. Sang Dark Slayer lalu mengeluarkan ponselnya dan mencari sesuatu di internet.

'Kita lihat... apartemen yang masih kosong di Kota Tenguu. Lumayan, tapi lokasinya tidak bagus. Kalau yang ini...'

Karena tidak ingin merepotkan di Kediaman Itsuka terlalu lama, Naruto membuat keputusan untuk pindah ke tempat tinggal lain. Tentunya jika bisa, rumahnya nanti harus terletak di lokasi strategis seperti contohnya dekat dengan Raizen High School agar bisa lebih menghemat waktu perjalanan.

"Agak aneh jika kau terlambat ke sekolah hanya karena tidak ingin memanfaatkan kelebihanmu, Naruto."

'Dan menarik perhatian yang tidak diinginkan? Ayolah, Kurama. Hidup sesuai aturan tata-tertib adalah kunci agar bisa memiliki kehidupan normal.'

Kurama penasaran. "Apakah aneh jika aku penasaran kau tahu ini dari mana?"

'Aku membacanya dari salah satu buku di perpustakaan. Kenapa?'

"Huh, pantas kalau begitu."

"Oi, Kurama. Kau yang jalan sekarang," kata Son Goku.

"Cih, iya, iya."

"Tunggu dulu. Aku masih berpikir ingin buat hotel atau hanya rumah saja di Indonesia," sela Matatabi.

"Cepatlah Matatabi, aku ingin segera lewati garis start agar dapat tambahan uang dari bank."

Shukaku terkekeh. "Jangan dipaksa, Gyuki. Nanti bangkrut lagi seperti ronde sebelumnya."

Sang Hachibi mendengus.

"Kali ini aku pasti yang akan menang," ujar Choumei bersemangat.

"Semoga beruntung," kata Kokuo.

Saiken begitu puas karena memiliki kartu sertifikat perusahaan air dan perusahaan listrik.

"Zzzzz..." Isobu tidur seperti biasanya.

'Kalian main monopoli rupanya.' Naruto sweatdrop.

Tak berselang lama, Origami mendekati Naruto dengan membawa plastik berisi jenis pakaian baru.

"Aku akan ke ruang ganti. Nanti beritahu aku apakah cocok atau tidak baju pilihanku." Origami serius.

Naruto mengerutkan keningnya. "Kau yakin? Aku bukan perempuan kau tahu."

"Aku tahu. Tapi penilaian orang lain bisa bermanfaat demi menemukan kekurangan dari yang pemakainya tidak ketahui," jelasnya.

Dia berkedip, lalu tersenyum tipis menyadari yang dikatakan Origami ada benarnya juga.

"Baiklah, aku akan... berusaha semampuku untuk menilai pakaian yang kau pilih," ujarnya.

Origami mengangguk, masuk ke salah satu ruang ganti lalu menarik gorden sampai menutup. Naruto mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memutuskan bermain game.

'Salah satu syarat untuk mengalahkan [Boss] ini adalah dengan [Equip] senjata bernama [Abyss Dagger]. Jika dilihat dari statistik monster ini, kemampuan [Abyss Dagger] yang mampu memotong objek sekeras berlian sekalipun memang senjata yang tepat dipakai ketika menghadapinya.'

Naruto menekan setiap tombol di layar alat elektronik tersebut, mengeluarkan serangan normal dan jika ada kesempatan serangan spesial. Menghindar lalu menyerang bagian vital [Boss] ini yang dilakukan oleh Naruto. Selama beberapa saat perhatiannya teralihkan pada game.

Sementara itu, Origami menekan semacam earphone di salah satu telinganya, mendengar suara yang familiar.

"Origami, kau sudah di posisi?"

"Aku sedang di dekat target. Konfirmasi untuk menyerang?"

"Izin diberi–tunggu, apa?"

"Dimengerti."

Dia menekan tombol tertentu di earphone yang mematikan itu. Origami lalu mengganti pakaiannya.

'Poin yang kudapat banyak juga.'

Naruto puas dengan hasil yang diperoleh dari pembantaian [Boss], memasuki fitur [Character] dan menaikkan [Level] karakter yang dipakainya dalam game.

Gorden pun dibuka.

"Naruto, bagaimana menurutmu?"

Sang Dark Slayer menengadah dari ponselnya, melihat Origami mengenakan satu set bikini biru laut yang menonjolkan pinggang rampingnya. Namun yang lebih diperhatikan Naruto adalah aksesoris tambahan di kepala juga belakang badan Origami.

"Origami."

"Ya?"

"Kenapa kau pakai telinga dan ekor anjing palsu?"

"..."

"..."

Naruto mulai merasa tidak nyaman, terutama ketika sinar aneh muncul di mata gadis dengan tampang datar itu.

"Err, Origami?"

"..."

Sontak dia merebut paksa ikat pinggang dari celana Naruto. Alhasil sang Dark Slayer refleks memegang celananya agar tidak jatuh.

"O-Origami, tolong kembalikan sabukku. Ini tidak lucu kau tahu," katanya panik.

Ketimbang menuruti permintaannya, Origami mengikat sabuk ke leher layaknya tali dan mengambil posisi bagaikan anjing biasa lakukan.

"Woof! Woof!"

Suaranya memancing pasang mata yang kebetulan lewat.

"Mama, anjing kakak itu aneh ya."

"Sudah. Tidak usah diliat."

"Ya ampun, sampai segitunya memaksa pacarnya memakai pakaian memalukan itu."

"Benar-benar lelaki biadab. Bisa-bisanya dia."

"..."

Karena mungkin kasihan, Origami mencopot sabuk lalu menyerahkan itu pada pemilik aslinya. Dengan sisa rasa malunya, dia menerima sabuk miliknya kembali, sialnya celananya langsung melorot memperlihatkan kolor model animasi.

"Woah! Celana pendek kartun Minions edisi terbatas!"

"..."

"Woof?"

Sang Dark Slayer menangis dalam hatinya.


"Oh, kau sudah kemba-tunggu, Naruto, kenapa matamu sembab?"

Menyambut kedatangan teman lelakinya itu di ruang tamu, Shido kebingungan saat melihat ekspresi masam di wajah Naruto.

"...aku baru saja melalui hari yang buruk."

"O-Oh, begitu rupanya." Dia sweatdrop.

Naruto menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, menyadari hanya ada dia dan Shido di sini.

"Shido, kau sendirian dari tadi?" tanyanya.

Shido mengangguk, beralih ke layar TV.

"Tohka dan yang lainnya masih di rumah sebelah. Mereka akan datang saat makan malam."

Naruto [Ohh] kemudian memasuki salah satu kamar tidur di rumah ini, tidak lama keluar dengan handuk di bahunya. Dia melewati ruang tamu lalu bertanya pada Shido.

"Di kamar mandi ada Kotori-chan?"

"Kotori? Dia... di rumah temannya," jawabnya hati-hati.

"Ah, begitu rupanya."

Selepas dia melanjutkan tujuannya ke kamar mandi, Shido menghembuskan nafas ketika mengelus dadanya.

'Tadi hampir saja.'

Shido berkedip, menyadari bahwa sekarang hanya ada dia dan Naruto di rumah ini. Itu berarti dia mempunyai kesempatan berbicara secara empat mata dengan teman pirangnya tersebut.

'Kurasa ini waktu yang tepat untuk membahas sisi lain dunia selagi hanya ada kita berdua di sini.'

Setelah mandi dan mengganti baju, Naruto menuju ruang tamu dari salah satu kamar tidur di Kediaman Itsuka. Dia pun duduk di sebelah Shido dan menyaksikan tayangan di televisi.

"Huh, aku pernah melihat acara ini sebelumnya. Sekarang tidak terlalu lucu karena sebagian besar pemain terbaiknya pindah ke acara lain. Tapi itu hanya pendapatku saja. Bagaimana menurutmu, Shido?"

"Ya, sebenarnya aku juga setuju dengan opinimu," ujar Shido.

Naruto terkekeh lalu berbicara lagi.

"Jadi, ada sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku?"

"..."

Shido merasa gugup sebab tak menyangka dia akan tahu sebelum diberitahu olehnya. Barangkali dia tahu karena salah satu kemampuan Naruto adalah membaca pikiran?

"Ya... memang ada yang ingin kutanyakan padamu."

Respon darinya membuat Shido sweatdrop.

"Oh, benarkah? Padahal aku cuma asal menebak."

"Kau bercanda 'kan?"

"Tentu saja aku bercanda. Maaf. Maaf."

Naruto tertawa kecil lalu raut wajahnya serius. "Apapun yang kau coba tanya, aku akan menjawab sebisaku."

Shido mengangguk, memberanikan diri bertanya.

"Aku sebenarnya ingin menanyakan ini padamu tadi di sekolah, tapi sayangnya belum sempat."

"Aku mengerti. Silahkan lanjutkan."

"Um, begini, ayah dan ibuku pernah diselamatkan olehmu dari makhluk supernatural. Dan aku berterima kasih karenanya. Pertanyaanku... monster yang diketahui manusia sebagai mitos, apakah itu berarti mereka nyata?"

"..."

Sang Dark Slayer menarik nafas panjang kemudian membuangnya perlahan.

"Ya. Unicorn. Cyclop. Giant. Hanya sebagian kecil dari dunia supernatural yang hidup di antara kita. Tentunya mereka hidup di habitatnya masing-masing karena mereka tidak menyukai wilayah industri. Terlalu 'tak natural' bagi mereka."

Dia melirik ke arah Shido. "Apa ada hal lain lagi yang ingin kau tahu?"

"Tentang Limbo... apa itu sebenarnya?"

Naruto kemudian menjelaskan seperti yang pernah diucapkannya ke Tatsuo, Haruko, dan Natsumi, waktu itu. Dalam setiap kata-katanya, Naruto juga menambahkan kalau dia bukan sepenuhnya manusia, mengamati perubahan emosi di wajah Shido. Takut. Kagum. Ngeri. Masih banyak lagi selain itu. Intinya, Shido menerima penjelasan Naruto tanpa ragu sama sekali.

"Itu... aku kehabisan kata-kata sebetulnya," kata Shido.

Naruto tersenyum tipis.

"Bagi manusia yang terbiasa hidup dengan logika mungkin agak sulit menerima kenyataan ini. Apalagi fakta bahwa di sekitar mereka terdapat sesuatu yang tak dapat diungkapkan oleh ilmu pengetahuan," ujarnya.

Shido mengangguk. "Aku paham yang kau maksud. Spirit aku bisa mengerti, tapi keberadaan supernatural? Dunia ini luas sekali rupanya."

"Spirit?" Dia penasaran.

"Ah, soal itu. Biar aku jelaskan. Jadi begini..."

Naruto mendapat informasi yang sangat menarik dari Shido. Usut punya usut, rupanya gadis-gadis yang ditemuinya sering bersama Shido adalah perempuan unik dengan kemampuan yang luar biasa. Pada awalnya, mereka datang ke dunia ini disertai bencana yang disebut Gempa Luar Angkasa(Spacequake).

"Huh, jadi begitu. Anehnya Kota Redgrave belum pernah sama sekali terkena, apa namanya tadi? Spacequake."

Shido terkejut. "Sekalipun?"

"Iya." Dia mengingat sesuatu. "Tentang gempa ini, apakah tanda-tanda awalnya terjadi guncangan keras di permukaan tanah?"

"Tidak. Bukan begitu. Saat Spacequake terjadi, muncul semacam bola berputar searah jarum jam yang membesar ketika menyerap dan menghancurkan apapun di sekelilingnya."

"..."

Shido yang gugup akhirnya menggaruk pipinya. "Maaf, aku tidak terlalu pandai dalam hal deskripsi, Naruto."

"Tak apa. Tak apa. Itu menjelaskan banyak hal tentang teoriku."

"Benarkah?"

Naruto mengangguk. "Alasan mengapa Kota Redgrave belum pernah mengalami Spacequake karena tekanan energi mistis di kota itu 'menolak' bencana itu agar tidak terjadi."

Shido sweatdrop. "Err, maaf, tapi aku sama sekali tidak mengerti yang kau tanyakan."

"Maksudku, Kota Redgrave dikelilingi semacam barrier yang tidak sengaja tercipta karena dikelilingi energi mistis kota itu sendiri, sehingga menahan energi asing untuk bisa masuk dan berkembang di dalamnya."

"Oh, begitu rupanya."

Akhirnya Shido paham yang dibicarakan Naruto.

"Tunggu dulu, berarti selama ini kejadian aneh sering terjadi di kotamu?" katanya.

Naruto tertawa gugup. "Ya. Begitu lah."

Shido penasaran.

"Lantas siapa yang menyelesaikan hal supernatural di Kota Redgrave?" tanyanya.

"Kami bertiga."

"..."

"Kau dan saudaramu?"

"Ya. Paranormal Investigator. Pernah dengar?" tanya Naruto.

Lucunya, Shido merasa heran dengan pekerjaan Naruto.

"Itu legal?"

"Hanya bisnis keluarga."

"Kalian memburu hantu setiap saat?"

Sang Dark Slayer sweatdrop.

"Tidak. Kami memburu makhluk yang mengancam nyawa manusia. Tapi hanya kategori berbahaya. Jika mereka cuma mau hidup normal, kami akan mengabaikannya," ujarnya.

Shido [Ohh] dan terkesan dengan pekerjaan keluarga teman pirangnya itu.

"Kedengarannya seperti pekerjaan mulia," pujinya.

Naruto tersenyum tipis. "Terima kasih atas perkataan baikmu."

Shido berseri, tapi kemudian mengingat sesuatu.

"Naruto, sebelumnya aku minta maaf jika pertanyaan yang ini agak tidak sopan, boleh aku teruskan?"

"Ajukan saja. Memangnya kau ingin bertanya apa lagi?" Dia penasaran.

"Kau punya kekuatan seperti apa?"

Naruto tersenyum, beranjak dari sofa lalu mendekati dinding terdekat, mengejutkan Shido ketika Yamato terwujud digenggamannya.

"Biar kutunjukkan salah satu kemampuanku."

Dengan santai, Naruto menarik Yamato dari sarung pedangnya lalu melakukan beberapa tebasan yang menghasilkan portal sebelum menutup kembali tidak lama kemudian. Dia pun menghilangkan Yamato dari realitas.

"Bagaimana menurutmu?"

"..."

"Oh... bagus."

"Ya, tapi kau jangan–Shido?"

Dia sweatdrop saat Shido tiba-tiba tak sadarkan diri.

"Kurasa aku terlalu berlebihan tadi."

Deg.

Sang Dark Slayer tersentak, menengok ke jendela karena merasakan tekanan Demonic Power dari luar rumah. Samar, tapi masih bisa dirasakannya.

'Aku kira di kota ini hanya ada youkai. Dugaanku salah rupanya.'

Naruto melirik ke arah Shido, api biru menyelimutinya sebelum padam memperlihatkan satu set pakaian yang biasa dikenakannya ketika 'berburu'.

"Maaf Shido, tapi aku ada tugas," gumamnya.

Dengan begitu, dia membuka portal yang menutup saat dirinya telah masuk.


"Haah, senangnya bisa dapat diskon."

Di bawah langit yang perlahan gelap, seseorang berjalan di trotoar sambil membawa plastik berisi bahan makanan. Dia adalah Takamiya Mana. Adik kandung dari Itsuka Shido.

Saat ini, Mana sedang senang karena mini-market yang sering dikunjunginya terdapat diskon potongan harga setiap pembelian beberapa bahan makanan tertentu. Dengan demikian, dia bisa menghemat pengeluaran agar tidak mengalami keborosan.

Mana mengerutkan keningnya.

"Aku baru kepikiran, bagaimana keadaan Nii-sama ya? Dan entah mengapa kehadiran Spirit lain belum muncul juga. Aneh," gumamnya.

Beberapa bulan yang lalu, Mana yang masih menjadi bagian dari [DEM] dan ditugaskan sementara waktu di [AST], bertemu kakaknya pasca kemunculan Spirit dengan nama kode [Nightmare] alias Tokisaki Kurumi. Waktu itu Kurumi berencana merebut Reiryoku dalam jumlah besar pada tubuh Shido untuk tujuan pribadinya. Beruntung berkat kerjasama Mana, Origami, Tohka, dan Kotori. Mereka berhasil menggagalkan rencana Kurumi bahkan sampai memukul mundur dirinya.

Tidak lama setelah peristiwa tersebut, Mana membuat keputusan untuk membelot dari [DEM] dan bergabung ke [Ratatoskr]. Dengan demikian, Mana bisa leluasa menjaga satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa. Apalagi ketika kedua orang tua kandung mereka telah tiada. Maka sudah sewajarnya Mana berkeinginan melindungi Shido, sebagaimana Shido yang pasti akan menjaganya juga.

'Huh?'

Keheranan dirasakan Mana saat mengamati kondisi sekelilingnya. Seingatnya, Mana tadi sedang melangkah di jalur khusus pejalan kaki, tapi mendadak dia sekarang berada dalam terowongan yang tampak tua bila dilihat dari kondisi lapisan dindingnya. Terutama penerangan di sini tidak terlalu terang meskipun semua lampu berfungsi dengan normal.

'Jangan panik, Mana. Seharusnya setiap tempat apapun pasti ada jalan keluarnya. Yang harus kau lakukan sekarang adalah menemukannya saja.'

Menarik nafas panjang kemudian membuangnya perlahan, Mana lalu menggerakkan kakinya ke depan sembari mengedarkan pandangan, merasa waspada dengan ancaman yang mungkin akan menyerangnya secara tiba-tiba. Dia menelusuri terowongan ini tanpa ragu sama sekali. Saat telah mengambil beberapa langkah, Mana memasang earphone khusus dari saku celananya lalu menekan tombol untuk mengaktifkannya.

"Petugas Takamiya melapor ke Fraxinus, ganti."

Dia menunggu jawaban balik, tapi yang didengarnya hanya suara menyerupai radio rusak.

"Petugas Takamiya melapor ke Fraxinus, ganti."

Tetap saja tak ada jawaban.

Mana mengerutkan keningnya, mencopot earphone lalu menyimpan itu ke tempat semula. Dia pun mengeluarkan ponselnya dan memeriksa jaringan sinyal.

'Unknown? Begitu. Itu berarti aku tidak sedang berada di kawasan Kota Tenguu saat ini.'

Mana tidak tahu siapa yang melakukan ini padanya. Mustahil ulah Spirit. Karena semenjak kehadiran Yamai Bersaudara sebulan yang lalu, sampai sekarang belum ada tanda-tanda kemunculan Spirit baru. Anehnya, Mana entah mengapa merasa ada sesuatu... atau seseorang, mengawasinya dari sudut yang tak diketahuinya di terowongan ini.

Setibanya di paling ujung, Mana mengerutkan keningnya saat membaca suatu tulisan di dinding dalam penglihatannya.

Apakah kamu takut dengan Kegelapan?

"..."

Mana menggenggam gelang di tangan kirinya. Itu perlahan mengambil bentuk sarung tangan mekanik yang menghunuskan pedang laser biru. Berbalik, Mana memperhatikan setiap lampu di terowongan ini mulai padam satu demi satu. Hal tersebut membuatnya waspada karena sekarang semuanya menjadi gelap.

"..."

Tak ada bunyi apapun yang Mana dengar selain detak jantungnya. Itu benar-benar sepi meskipun kegelapan menemaninya.

"..."

Tiba-tiba suara mendesis terdengar dan Mana langsung mengayunkan senjata canggihnya ke belakang. Sesaat tak ada suara apapun, sampai suara yang sama terdengar lagi kemudian Mana melakukan tebasan vertikal ke atas. Keheningan melanda situasinya sejenak.

"..."

Jika bukan karena latihan militernya mungkin Mana sudah putus-asa saat ini. Meski benci mengakuinya, pengalamannya ketika menghadapi Kurumi juga membantu menenangkan pikirannya. Bagaimanapun juga, Tokisaki Kurumi merupakan satu-satunya Spirit yang pernah membuat Mana takut walau sekarang sudah tidak lagi.

'Apa sudah selesai?'

Sontak semua lampu tiba-tiba menyala menyebabkan Mana merasa mual dengan apa yang disembunyikan kegelapan. Dalam penglihatannya, dua ular jenis kobra hitam-putih terpenggal di bagian kepala, tetapi Mana lebih memperhatikan sekumpulan lintah keluar dari leher kedua 'hewan' melata tersebut. Mereka bergerak di dinding terowongan lalu sebagian lintah melompat ke arah Mana.

Tanpa ragu, Mana langsung menebas lintah yang mencoba menempel padanya. Namun, bukannya berkurang, jumlah lintah malah semakin banyak menyebabkan beberapa itu mendarat di bahu dan leher Mana. Dia yang merasa tidak nyaman menekan tombol khusus di gagang pedang laser-nya sebelum berputar 180°. Hasil dari perbuatan Mana menciptakan pusaran energi biru yang menebas objek mistis di sekitarnya.

Perlahan berhenti, Mana lalu mengamati semua 'hewan abnormal' itu sudah tergeletak tak berdaya di bawah, mengabaikan potongan tubuh mereka yang berceceran ke mana-mana.

'Hewan? Tapi mengapa bentuk mereka semengerikan ini?'

Dia jelas kebingungan. Karena dilihat dari manapun juga, seperti ada sesuatu yang ganjil tentang 'hewan-hewan' ini. Sejujurnya, mereka lebih mirip ke... monster, menurut pemikiran adik dari Itsuka Shido itu.

"Pertunjukan yang mengesankan. Aku beri A untuk performamu."

Seketika Mana melirik ke arah sumber suara, menyipitkan matanya pada sosok berpenampilan seluruhnya gelap yang berdiri secara terbalik di langit-langit terowongan. Meski begitu, Mana masih bisa melihat sepasang iris matanya berwarna ungu tanpa pupil sama sekali.

"Membawaku? Lebih tepatnya menculikku. Atas alasan apa kau melakukan ini?"

Dia melompat turun dengan posisi tubuh yang normal layaknya manusia ketika berdiri. Mana tersentak saat menyadari hanya ada mereka berdua di sini.

"Jangan terkejut begitu. Memunculkan dan menghilangkan anak-anakku bukanlah hal yang sulit bagiku kau tahu."

Mana benar-benar merasa jijik.

"Dan untuk pertanyaanmu, kau adalah... umpan, sebab aku berencana menarik perhatian seseorang. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai."

Seakan keinginannya menjadi kenyataan, sebuah portal tercipta di langit-langit terowongan sebelum tertutup saat seseorang jatuh di antara keduanya.

Sosok itu bertepuk tangan secara meriah.

"Bravo! Bravo! Selamat datang di [Domain] milikku yang sederhana ini, Uzumaki Naruto!"

Mana kaget.

'Naruto? Kalau tidak salah dia kan...'

Dia tahu kalau seseorang bernama Naruto tinggal di Kediaman Itsuka bersama kakaknya dan para Spirit. Namun, baru sekarang dia bertemu dengan orangnya secara langsung. Karena beberapa hari yang lalu dia di luar negeri dalam misi khusus. Yakni mengawasi pergerakan [DEM].

"Kenapa aku tidak terkejut mengetahui kau tahu tentang diriku." Naruto menyipitkan matanya.

Sosok itu terkekeh.

"Kau cukup terkenal. Di kalangan demon tentunya. Tapi aku hanya bermaksud memancingmu keluar karena menghadapimu sekarang... bukanlah ide yang sangat bagus. Jujur, aku masih ingin hidup kau tahu."

Sosok itu perlahan mencair begitu pula dengan terowongan yang mulai roboh.

"Aku menantikan pertemuan kita berikutnya, Dark Slayer."

Hanya itu yang terakhir mereka dengar sebelum berdiri di trotoar. Namun, Mana menyadari Naruto menyarungkan katana khusus ke sarung pedang yang terselip di sisi celananya.

'Darimana pedang itu muncul? Aku tidak melihatnya sama sekali tadi.'

Sementara Naruto, dia memikirkan hal lain.

'Seharusnya dengan luka separah itu dia akan sadar berhadapan dengan siapa.'

Kemudian, Mana sempat melihat ada semacam barrier biru menjaganya dan Naruto lalu lenyap dari realitas, merasa penasaran.

"Penghalang tadi kau yang buat?"

Naruto berseri. "Ya begitulah."

Dia menyadari sesuatu dari Mana.

"Kau terluka. Mau kusembuhkan?" tawarnya.

Mana berkedip, lalu tersenyum.

"Maaf merepotkan."

"Sama sekali tidak." Naruto tertawa kecil.

Saat dia memegang bahunya, Mana mengamati aura keemasan menyelimutinya dari kepala hingga ujung kaki, perlahan semua lukanya menutup dan kondisi tubuhnya kembali seperti semula. Naruto menurunkan tangannya, sekilas tertarik ketika mengamati senjata yang tercipta dari ilmu pengetahuan di tangan Mana.

'Teknologi manusia sudah berkembang pesat rupanya. Aku penasaran apa yang dipikirkan ayah jika melihat ini.'

"Terima kasih, Naruto-san. Namaku Takamiya Mana. Kau ini temannya Nii-sama, benar?"

Dia berkedip, teringat percakapannya dengan Shido waktu itu.

"Oh, kau punya dua adik rupanya."

"Huh? Kau mengenal Mana?"

"Pantas aku merasa familiar. Kau adiknya Shido rupanya. Sepertinya sulit membedakan kalian... jika bukan karena jenis kelamin yang berbeda," katanya.

Mana tertawa kecil, menekan tombol di gagang pedang laser-nya sebelum itu kembali ke bentuk gelang. Dia keheranan saat memperhatikan bangunan-bangunan dalam penglihatannya nampak terbengkalai dan tidak terurus secara semestinya. Lebih dari itu, akar demi akar tanaman merambat di sepanjang jalan sampai menyelimuti kendaraan roda dua maupun roda empat, halte bus, bagian luar beberapa gedung pencakar langit, dan masih banyak lagi. Jika ada hal yang membuatnya tidak nyaman, yakni kondisi pemukiman penduduk yang seharusnya dipenuhi orang-orang dengan canda tawa dan raut wajah bahagia, sekarang seperti wilayah menyeramkan layaknya setting dari film horror.

'Ini Kota Tenguu, 'kan? Tapi kenapa menjadi seperti ini?'

Seolah sadar yang ada di pikiran Mana, Naruto lalu menjelaskan.

"Kita masih berada di Limbo. Tapi jangan khawatir. Aku tahu jalan keluar dari dunia ini."

'Ah, pantas. Jadi ini Limbo.'

Walau mengenal Naruto lewat data informasi dari [Fraxinus], berbincang dengan orangnya secara langsung bukan pengalaman yang buruk bagi Mana. Karena dia percaya orang-orang yang dikenal kakaknya pasti pada baik semua. Buktinya saat ini, kedatangan Naruto membuat sosok itu ketakutan bila diperhatikan dari kata-katanya. Maka wajar jika Mana memiliki tanggapan positif tentang pemuda pirang itu.

Sang Dark Slayer lalu menatap ke kejauhan, menyipit saat memperhatikan portal yang tak asing dengan jarak yang cukup jauh di sana. Dia pun beralih pada gadis di sampingnya.

"Mana, aku akan membuat jalur keluar untukmu. Tapi aku tidak akan ikut karena ada urusan lain. Mengerti?"

Mana mengangguk, tidak tahu urusan apa yang dibicarakan Naruto tapi kedengarannya serius.

"Aku mengerti. Semoga berhasil, Naruto-san."

Sang Dark Slayer tersenyum.


Perlahan membuka kelopak matanya, Shido melihat wajah Tohka, Yoshino, dan Yamai Bersaudara, menyadari dirinya masih di ruang tamu. Keempat Spirit itu menghembuskan nafas dan ekspresi lega nampak di wajah kelompok gadis unik ini.

"Shido, kau baik-baik saja?"

"Kegembiraan. Yuzuru lega melihat Shido sudah siuman."

"Nasib baik, Shido-kun, telah sadar. Yoshino dan Yoshinon tadi panik kau tahu."

Shido merasa tidak nyaman karena telah membuat mereka cemas dengan kondisinya. Sambil tersenyum, dia pun menjelaskan.

"Maafkan aku karena telah membuat kalian cemas. Tapi aku baik-baik saja. Sungguh."

Mereka senang mendengarnya.

"Syukurlah kalau Shido-san baik-baik saja." Yoshino berbicara.

Kaguya penasaran. "Lalu, apa yang kau alami sampai membuatmu pingsan, Shido?"

Shido menggaruk pipinya, tertawa canggung sembari berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk memberitahu mereka tentang alasan dibalik pingsannya tadi.

"Err, sebenarnya ini karena..."

Mereka mendengar bunyi bel dari arah luar rumah.

"Biar aku saja."

Tohka menampilkan senyum lebar dan bergegas menuju pintu, dari sikapnya dia mungkin tahu siapa yang datang. Tak lama kemudian, Tohka kembali ke ruang tamu bersama Origami, Kotori(pita hitam), Reine. Ketiganya memakai pakaian kasual.

"Kudengar kau sempat pingsan. Apa yang terjadi, Shido?"

Walau ekspresinya tenang, Origami terdengar khawatir karena ini menyangkut teman dekatnya.

Shido terkekeh gugup.

"Aku akan jelaskan. Tapi sebelumnya bagaimana keadaan di Fraxinus?" tanyanya.

"Soal itu kau tidak perlu khawatir. Kami belum mendapat tanda-tanda kemunculan Spirit baru."

Kotori belum selesai bicara, tapi di akhir nadanya terdengar gugup.

"Untuk sekarang, kau lebih baik beristirahat. K-Kalau kau nanti sakit kami juga yang repot."

Shido mengangguk, mengamati setiap perempuan di sekitarnya.

"Tentang pingsanku tadi. Sebenarnya itu karena..."

Mereka mendengarkan secara seksama. Terutama di bagian ketikan Naruto memberitahu Shido tentang kenyataan bahwa selama ini umat manusia hidup bersama makhluk supranatural. Mereka juga terkejut mengetahui Naruto adalah manusia setengah Devil. Kecuali Reine yang memang sudah tahu dia itu siapa.

'Atas alasan apa kamu mengungkapkan identitasmu secepat ini, Naruto?'

Dia tidak menyangka Naruto akan senekat itu. Padahal dari kelihatannya, Naruto bukan orang yang suka sembarangan dalam mengambil keputusan.

[Memangnya kenapa? Bagus kalau dia mau jujur. Itu berarti dia percaya dengan anak-anakku. Seperti mereka yang akan percaya padanya. Hubungan tanpa kehadiran rahasia itu bagus dalam jangka panjang kau tahu]

'Aku hanya takut kalau yang lainnya memusuhi Naruto karena hal ini.'

[Fufu, kau menyukainya?]

'Kau-tentu saja tidak. Hubungan kami hanya sebatas murid dan guru. Tidak lebih dari itu.'

Rasa malu dirasakan Reine. Karena dari semua hal, dia malah menyebut yang paling memalukan pada dirinya yang asli. Padahal yang dia takutkan jika mereka membenci Naruto, itu akan berakibat fatal pada perlindungan mereka sendiri.

[Ohohoho. Kau mesum terhadap muridmu sendiri rupanya. Tak patut. Tak patut.]

'Terserah. Dan sudah kubilang jangan bicara tiba-tiba di kepalaku.'

[Tidak akan, buu, sampai kau mengizinkanku meminjam tubuhmu untuk berbicara dengan Naruto. Tubuhku saat ini sedang 'tidur' karena mengumpulkan Reiryoku jadi mustahil aku menemuinya dalam penampilan asliku]

Sadar dia akan merasakan migrain jika tidak menuruti permintaannya, Reine akhirnya menyerah.

'Baiklah. Aku... mengizinkanmu. Tapi nanti bicaranya.'

[Yatta! Terima kasih Reine!]

'Ya. Sama-sama.'

[Jangan khawatir. Kau boleh menjadi istrinya juga. Bye ero-sensei!]

'Berhenti mengatakan yang aneh-aneh!'

Karena di sekitarnya banyak orang, Reine menahan emosinya saat ini.

Kotori berdeham, melipat lengannya di depan bajunya.

"Dengan begini, kurasa wajar kita menjaga jarak dengannya mulai dari sekarang," katanya.

Sebagian besar perempuan di sini kebingungan.

"Um, untuk apa kita menjauhi Naruto, Kotori?"

"Keheranan. Menurut Yuzuru yang dikatakan Kotori sama sekali tidak masuk akal."

"Benar. Aku sependapat dengan Yuzuru."

"Ano, mungkin Naruto-san bukan sepenuhnya manusia, tapi dia selalu bersikap baik pada kita."

"Yoshinon setuju dengan pernyataan Yoshino. Naruto-kun bukan orang buruk. Percayalah Kotori-chan."

"Menurut pengamatanku, Naruto memang bisa dipercaya seutuhnya, Komandan Itsuka."

Shido melirik ke arah Kotori.

"Kotori, apakah Naruto pernah melakukan hal buruk saat di dekat kita? Tolong percayalah seperti kami kalau Naruto itu tidak jahat," mohonnya.

"..."

Kotori mengamati satu per satu wajah Tohka, Yuzuru, Kaguya, Yoshino, Yoshinon, Origami, Shido. Mereka terlihat serius dan percaya kalau Naruto tidak seperti yang dipikirkannya, bahkan setelah mengetahui identitasnya sebagai Demi-Devil. Dia pun beralih pada Reine.

"Reine?"

"Mereka yang sering berinteraksi dengan Naruto, Kotori."

Jawaban singkat itu sudah cukup membuat Kotori termenung. Karena jika dipikirkan baik-baik, dia tidak pernah mencoba mendekati Naruto dan berusaha mengenalnya lebih baik.

'Apakah mungkin... selama ini aku telah salah menilai Naruto?'

Seketika sebuah pusaran yang perlahan melebar muncul di ruangan ini. Tohka, Yoshino, Yamai Bersaudara, Kotori, dan Origami, berdiri membelakangi Shido dengan tujuan melindunginya dari apapun yang akan keluar dari portal. Aksi mereka sia-sia karena melihat dua orang yang familiar, dengan salah satunya melompat dari itu.

"Aku pulang!"

"Mana?! Tunggu, Naruto, kenapa dia bisa-"

Kepala Naruto nongol dari portal.

"Aku tidak akan lama. Oke? Sampai jumpa lagi!"

Naruto menyengir sebelum portal menutup. Orang-orang di Kediaman Itsuka sweatdrop dengan tingkah laku sang Dark Slayer yang tidak terduga.

Menghela nafas, Shido beralih pada Mana yang berseri.

"Ceritanya panjang, Nii-sama. Nanti aku jelas-eh, ke mana Origami-san?"

Mereka baru sadar kalau Origami tidak ada bersama mereka.


Tepat saat portal menutup, Naruto tidak menduga Origami akan nekat ikut bersamanya. Naruto bisa saja membuka portal lain untuk membawanya pulang, tapi Origami menolak dan bersikeras menemaninya. Hingga akhirnya Naruto dan Origami berjalan beriringan dalam kedalaman hutan di sebuah pulau yang nampak tak berpenghuni. Sebelum menelusuri lebih jauh, mereka sempat melihat beberapa mayat mengambang dan bangkai helikopter di laut, entah siapa yang melakukan itu. Namun, sang Dark Slayer merasakan hawa Demonic di sebagian area di pulau ini, menandakan bukan ulah manusia yang menyebabkan hal mengerikan tersebut.

Naruto melirik ke arah Origami.

"Dengar, Origami, apapun yang terjadi nanti aku ingin kau tetap sedekat mungkin padaku. Demi keselamatanmu jangan sampai menjauh," ujarnya.

Mengangguk, Origami menggenggam satu tangan Naruto lalu memegangnya erat.

"Seperti ini?"

Dia sweatdrop.

"Bukan. Bukan seperti itu. Yang kau lakukan adalah tindakan yang hanya boleh dilakukan sepasang kekasih. Kita bahkan bu-"

Dia terkejut saat perempuan berambut putih itu menarik tangannya sehingga sekarang wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter. Dari jarak sedekat ini, Naruto mungkin dapat mencium Origami jika maju sedikit saja. Origami mengerutkan keningnya.

"Kenapa tidak? Apakah... aku tidak menarik bagimu?"

"...kau akan dalam bahaya jika berhubungan denganku."

Ini memang benar. kenyataannya, tidak sedikit demon yang mengincar Naruto, Dante, Vergil, akibat keputusan Sparda yang lebih memihak umat manusia ketimbang bangsanya sendiri. Beruntung, mereka bisa mengatasi para makhluk yang mencoba mengincar nyawa mereka setiap saat. Tapi, bagaimana jika nanti giliran orang terkasih mereka? Dia tidak ingin jika pasangannya terancam hanya karena dendam masa lalu yang mungkin tak akan pernah pudar. Ayahnya saja yang seorang Devil mudah mencintai wanita manusia, apalagi dia yang seorang Demi-Devil.

"Tidak masalah."

"Huh?"

Origami memastikan matanya berjumpa dengan mata Naruto. Sekarang dua pasang mata dengan warna iris serupa saling pandang.

"Mengingat pekerjaanmu sebagai Paranormal Investigator, wajar jika ada satu atau tiga makhluk yang menaruh dendam padamu. Meski begitu... aku percaya, bahaya apapun yang akan terjadi nantinya, kau pasti dapat melindungiku, Naruto," katanya tanpa ragu.

'Jika bukan karena kau, aku mungkin tidak akan pernah hidup. Bagaimana bisa aku tidak menyukai orang yang pernah menyelamatkan hidupku?'

Sang Dark Slayer tercengang, menyadari gadis ini serius dengan perkataannya. Bohong kalau dia tidak memiliki ketertarikan terhadap Origami. Walau sikapnya aneh itu pun.

"Kalau begitu... besok? Di taman pukul 10?"

Origami terdiam sejenak lalu mengangguk. "Aku mengerti."

Dia tersenyum simpul.

Meneruskan perjalanan yang sempat tertunda, mereka tersentak ketika melihat sejumlah mayat mengenakan suit hitam dan helmet tergeletak di tanah dengan kondisi yang mengenaskan. Beberapa di antaranya seperti dada berlubang, separuh badan tiada, dan mata yang melepuh seperti terbakar api sangat panas. Kengerian semacam ini mungkin hal baru bagi Origami, tapi tidak untuk Naruto.

"Siapa?"

Naruto mengeraskan ekspresinya.

"Demon," katanya.

"..."

Naruto menekuk lututnya, mengambil tanda pengenal dari salah satu mayat itu sementara Origami berdiri di belakangnya.

"Andres Steward, wakil tim Alpha, Deus Ex Machina," bacanya.

"DEM?"

Berdiri, Naruto beralih pada Origami dengan ekspresi penasaran.

"Kau tahu sesuatu tentang DEM?"

Origami mengangguk.

"[DEM] adalah organisasi yang memburu Spirit dengan cara apapun. Bisa dibilang rival dari [Ratatoskr] yang bertujuan melindungi Spirit dan membuat mereka nyaman tinggal di dunia ini. Itu mengingatkanku, apakah-"

Naruto menggeleng.

"Aku baru tahu tentang eksistensi Spirit saat bertemu Natsumi-chan, meski tidak sengaja, dan lengkapnya ketika pindah ke Kota Tenguu. Sama sepertimu, aku juga penasaran mereka berasal dari mana."

"Begitu. Aku mengerti."

Origami sempat berpikir Spirit adalah bagian dari dunia supranatural setelah mengetahui mereka diam-diam hidup berdampingan dengan umat manusia. Namun, sepertinya dugaannya salah jika pernyataan Naruto benar adanya.

Menyadari ada jejak langkah kaki ke suatu arah, mereka membuat keputusan untuk mengikuti itu hingga tiba di depan sebuah batu besar setinggi manusia dewasa. Keduanya memperhatikan ada bercak darah yang membentuk garis menurun di batu ini. Lalu, Naruto menyentuh darah dari atas hingga ke bawah menggunakan jari telunjuknya sampai merasa menekan sesuatu. Beberapa saat berlalu objek keras tersebut terbelah memperlihatkan lapisan besi yang menurun sehingga membentuk semacam tangga rahasia. Mereka melirik satu sama lain sebelum mengangguk, berjalan turun dan sempat menengok ke belakang di mana jalan masuk tadi telah tertutup.

"Jangan khawatir. Aku masih bisa membuat jalan keluar lain untuk kita."

"Aku percaya padamu."

Mereka meneruskan perjalanan yang sempat tertunda. Sejauh ini, mereka hanya melihat banyak ruangan yang pintunya rusak dengan menyediakan pemandangan potongan tubuh manusia dalam jas lab baik dari jenis kelamin wanita maupun pria. Itu berarti tempat ini dapat dikatakan sebagai fasilitas rahasia tersembunyi milik organisasi [DEM]. Pertanyaannya, apa yang mereka kerjakan di sini?

'Tempat ini, kalau tidak salah ada di laporan Mana. Jika benar maka...'

Naruto menyadari Origami memperhatikan salah satu pintu yang berbeda dengan yang lainnya. Karena terdapat hologram yang bertuliskan [Material A] di atas pintu ini.

"Naruto, boleh kupinjam tanda pengenal yang kau ambil tadi?"

"Oh, boleh saja."

Menerima barang yang dibicarakan dari Naruto, Origami mendekatkan itu pada layar digital aka [Sensor Pengenal] di samping pintu tersebut.

[Akses Ditolak]

Origami berkedip saat menyadari sesuatu.

'Mungkin harus milik ilmuwan yang bekerja di sini baru bisa terbuka.'

Dengan begitu, Origami berlari ke area lain sementara Naruto keheranan dan cemas.

"Origami! Kau mau ke mana?!"

"Jangan mengikutiku! Aku tidak akan lama!"

Hanya itu respon yang didapatnya.

Naruto menghela nafas, menatap pintu dalam penglihatannya dengan alis terangkat sebelah. Dia pun menyelipkan tangannya ke celah pintu yang lebih mirip lift itu sebelum terbuka paksa olehnya.

"Akhirnya kita bertemu juga Narucchi!"

Dalam penglihatannya, seorang gadis berambut abu-abu pendek dengan iris mata biru tampak antusias menyapa Naruto. Pakaian yang dikenakannya menyerupai biarawati dengan beberapa perubahan kecil. Seperti kain semi-transparan berwarna tinta, kerah gaun berbentuk ujung pena, dan bagian tengah bajunya berpola seperti panel manga. Dia juga memakai sepatu bot hitam panjang bertali dan kerudung hitam yang melekat pada pena dan kemoceng. Ada juga salib emas yang terhubung ke tali manik-manik, mengelilingi sisi lain pakaiannya.

Naruto tercengang.

"Baik... ini tidak seperti yang kuharapkan. Siapa namamu?"

Gadis itu berkedip lalu tertawa kecil.

"Bodohnya aku. Namaku Honjou Nia. Salam kenal, Uzumaki Naruto. Dan alasanku mengetahui dirimu karena..."

Sebuah buku muncul di tangan Nia. Buku yang nampaknya kuno dengan cover berwarna coklat.

"...bantuan [Rasiel]-chan! Yah, meski tampilannya sedikit tua, tapi buku ini adalah super powerful search engine bagi siapapun yang memilikinya. Saat kucari tentang makhluk supernatural, aku menemukan namamu di kategori Demi-Devil. Dan dari situ, aku bisa tahu kau akan kemari."

"..."

Nia menyadari tatapan aneh dia padanya. Alhasil membuatnya panik.

"A-Aku bukan penguntitmu atau semacamnya. Sungguh... tolong berhenti melihatku dengan tatapan seperti itu!"

Sang Dark Slayer sweatdrop, tapi di sisi lain dia merasakan aura yang sama seperti Tohka, Yoshino, Kotori, dan Yamai Bersaudara, dari perempuan ini.

"Aku mengerti. Boleh kuanggap kau adalah Spirit?"

Lega, Nia mengangguk antusias.

"Yep. Aku adalah Spirit. Jadi bisa tolong lepaskan aku dari kursi ini? Tangan dan kakiku terasa pegal kau tahu."

Naruto mendekatinya lalu memegang rantai di sekitar kursi yang terhubung dengan kaki dan tangannya.

"Aku ingin kau diam dan jangan bergerak sedikitpun."

"Oke, Pak!"

Naruto tertawa kecil sementara Nia berseri. Dilihat dari sikapnya, jelas sekali Nia memiliki selera humor yang tinggi.

Dia kemudian menarik rantainya sampai terputus tanpa kesulitan yang berarti. Nia turun dari kursi dan melakukan peregangan sejenak.

"Ah, leganya bisa berdiri juga setelah sekian lama."

"Sekian lama? Memangnya sudah berapa lama kau di tempat ini?"

Nia mengangkat bahu. "Entah. Aku juga tidak terlalu ingat."

Sang Dark Slayer mengerutkan keningnya, merasa curiga dengan kenyataan lain tentang tempat ini. Jika fasilitas rahasia ini tempat penelitian, maka itu berarti yang mereka teliti adalah...

Keduanya mendengar langkah kaki dan melihat Origami berjalan mendekati mereka sambil membawa sesuatu. Seperti tanda pengenal lain.

"Origami. Kau datang juga. Dengan begini kita bisa langsung pulang."

"..."

Origami memperhatikan Nia yang melambai padanya, beralih pada Naruto.

"Nia adalah Spirit. Sama seperti Tohka dan yang lainnya," katanya.

"Aku mengerti. Perkenalkan, namaku Tobiichi Origami."

"Honjou Nia. Salam kenal, Origamicchi," sapanya ceria.

Dia mengangguk, menatap tanda pengenal yang baru saja diambilnya dari mayat salah satu ilmuwan dengan pangkat tinggi. Wajahnya sedikit merah karena sadar akan sesuatu.

'Naruto tidak sepenuhnya manusia. Itu berarti wajar jika dia bisa membuka paksa pintu apapun dengan fisiknya yang di atas rata-rata manusia normal.'

Naruto kebingungan dengan tingkah lakunya yang diam. Namun, harus dia akui kalau Origami tampak imut saat ini.

'Huh? Tunggu sebentar. Hawa demon itu menghilang?'

Dari sekian banyak demon yang dihadapinya, ada juga demon dengan tujuan membuat keributan saja supaya rasa bosan mereka teratasi. Mungkin tipe demon itu yang muncul di pulau ini.

"Naruto, kita langsung pergi?" tanyanya.

Dia beralih ke Origami, sadar terlalu lama di sini hanya akan membuang waktu mereka saja.

"Ya. Omong-omong, rumahmu di mana, Nia?"

"Oh, rumahku di Kota Tenguu. Kenapa?"


Dalam ruang tamu di Kediaman Itsuka, mereka yang menunggu kedatangan seseorang melihat sebuah portal terwujud, menutup ketika dua orang yang familiar dan satu gadis berpenampilan biarawati muncul di antara mereka. Mereka terkejut bukan main.

"Semuanya, namanya Honjou Nia dan dia adalah Spirit sama seperti kalian." Origami berbicara.

Nia menyengir pada mereka semua.

"Salam kenal!"

Shido menatap Naruto yang menatap balik.

"Nanti kujelaskan, Shido."

"O-Oke. Aku bisa menunggu. Bagaimana kalau kita makan malam dulu?"

Tak ada yang protes dengan pernyataannya.


Di ruangan megah yang letaknya tak diketahui, empat suara terdengar tanpa terlihat pemiliknya karena disembunyikan kegelapan.

"Aku penasaran bagaimana rasanya sekarat."

"Diam kau! Kau mudah karena hanya mengacak fasilitas manusa itu sementara aku? Apakah kau tahu betapa menyakitkannya semua organ dalam terpotong menjadi bagian terkecil hanya karena beberapa tebasan?!"

"Heh. Kau sendiri yang bilang ingin menjadi umpan."

"Cih, dasar half-breed sialan. Awas saja kau."

"Kau boleh membalasnya saat tuan kita menyuruhmu melakukannya. Untuk sekarang diam dan tunggu perintah berikutnya."

"Maa, maa, jangan pada marah begitu. Lihat sisi baiknya, sekarang Spirit itu telah jatuh ke tangan salah satu 'target' kita. Dengan begini kita bisa mengambil [Beelzebub] darinya kapan saja."

Sontak sebuah bola yang lebih mirip mata dengan iris merah tanpa pupil muncul di antara mereka. Keempatnya lalu bersujud seakan itu adalah sesuatu yang melebihi derajat mereka.

"Aku memiliki tugas lain untuk kalian."

Semuanya mendengarkan dengan seksama.


T-B-C


A/N: Hello reader-san sekalian! Bagaimana chapter kali ini? Bagus? Atau masih ada yang kurang? Silahkan berkomentar :D

Nampaknya hubungan Naruto dan yang lainnya semakin baik-baik saja. Salah satunya Kotori yang mungkin sudah tidak menganggap Naruto itu berbahaya.

Waduh, kelihatannya Mio menyusahkan Reine dengan sikapnya huh? wkwkwk

Wuhuu! Kemunculan Honjou Nia akhirnya tiba :D

Dan ikatan Origami dan Naruto semakin dekat. Berarti diakah yang menjadi kekasih pertama dari sang Dark Slayer?

Terungkap bahwa ada kelompok yang mengincar [Angel] atau versi lainnya, [Daemon]?

Terakhir, selamat ulang tahun negeriku tercinta :D

Oke, sampai jumpa di chapter berikutnya reader-san sekalian!