DO NOT COPY, EDIT, AND REPOST

.

Disclaimer: All casts belong to themselves and God. All Dragons mentioned are based on A Children Book (How to Train your Dragon) by Cressida Cowell. The story plot belongs to Kileela (Author).

.

Dragon Mentioned:

Byun Baekhyun as Belle (The Ruby Riders)

Owner of a Light Fury (Lily)

Park Chanyeol as King Cedric Alvey (The Prixor)

Owner of a Night Fury (Toothless)

Oh Sehun as Royal Advisor Oh (The Prixor)

Owner of a Dramillion (Vivi)

Kim Jongin as General Kai (The Prixor)

Owner of a Skrill (Flash)

Kim Junmyeon as Duke Suho (The Prixor)

Owner of a Snow Wraith (Pharos)

Kim Jongdae (The Ruby Riders)

Owner of a Razorwhip (Shine)

Do Kyungsoo (The Ruby Riders)

Owner of a Singetail (Ergos)

Kim Minseok (The Ruby Riders)

Owner of a Triple Stryke (Mizzi)


Pineham, 1561

Lolongan serigala yang menggaung gagah menghiasi keheningan pada sebuah malam ketika sekelompok pria berbaju serba hitam membelah langit bak angin di bulan Juni. Mereka membentuk formasi kite dengan sang raja dan naga kebanggaannya berada di ujung barisan terdepan, memimpin naga serta pengendara yang lain.

Sang Night Fury tampak terbang menembus awan dengan tenang, sesekali mendongakkan kepalanya kebelakang untuk menuntut usapan sayang di kepala dari sang raja yang tentu saja, memberikannya secara refleks seolah hal tersebut sudah ratusan bahkan ribuan kali mereka lakukan. Hewan penyembur api selegam malam itu mengeluarkan suara dengkuran senang sesaat ketika telapak tangan lebar sang raja dengan sayang mengusap ujung kepalanya, mengundang kekehan dari pria tampan yang berada di puncak kepemimpinan Aistagalla tersebut.

Toothless sang Night Fury, merupakan Alpha dari seluruh naga yang berada dibawah kepemilikan kerajaan Aistagalla. Dari ujung timur Flatburgh hingga ujung barat Wildwall dimana batas terakhir Aistagalla berada, seluruh naga yang hidup akan mematuhi dan menurut terhadap panggilan Toothless.

Tentu saja ini bukanlah mustahil, setiap naga yang hidup dibawah kerajaan Aistagalla haruslah terdaftar secara resmi dan haruslah memiliki sertifikat resmi kerajaan. Setiap naga yang baru ditemukan, atau baru menetas akan melalui proses cukup panjang di Dragon Port, salah satunya adalah di 'didik' secara langsung oleh sang Alpha.

Dragon Port merupakan tempat penampungan naga yang langsung berada dibawah pengawasan raja. Seluruh dunia sudah mendengar tempat ini dan disebut-sebut sebagai tempat penampungan dan perawatan hewan penyembur api terbesar diseluruh dunia.

Sehingga setiap naga baik yang nafasnya masih berhembus maupun tidak, haruslah terdaftar secara resmi dan memiliki naga tanpa melalui pelatihan di Dragon Port bisa dikatakan sebagai tindakan criminal. Karena ya, naga bukanlah hewan sembarangan dan memiliki potensi yang besar untuk menimbulkan kekacauan dan bencana jika tidak terlatih.

Toothless memiliki peran yang cukup besar dalam mendisiplinkan naga-naga yang tidak teratur. Dengan plasma blast yang selalu tepat sasaran, kecepatan luar biasa dan kemampuan ekolokasi yang tidak pernah meleset, Night Fury adalah salah satu jenis naga yang berada di puncak hirarki hewan penyembur api. Tidak hanya itu, warnanya yang hitam legam membuatnya mudah untuk bersembunyi di langit malam kemudian mengejutkanmu dengan tembakannya yang tidak pernah meleset dan jangan lupakan fakta bahwa Night Fury adalah jenis naga yang sangat-sangat langka.

Namun semua itu hanyalah diluar saja, Toothless tidak lebih seperti bayi raksasa jika berhadapan dengan sang raja. Well, bisa dibilang keduanya adalah bayi raksasa. Raja Chanyeol adalah seseorang yang hangat dan cukup manja jika berada di sekitar orang-orang terdekatnya. Mungkin itulah yang membuat raja Chanyeol dan naganya sangat dekat dan mampu membangun ikatan yang erat dalam waktu singkat.

Mereka saling memahami.

Dibelakang mereka sebelah kanan adalah sang Jenderal Kim Jongin yang tengah focus menatap ke depan dan sesekali mengedarkan matanya ke sekeliling, memastikan tidak ada gangguan sejauh mata memandang. Sang Skrill, Flash yang sebenarnya masih belum 100% menyelesaikan pelatihannya tampak tegang entah mengapa. Hal ini terlihat dari percikan petir yang sesekali mengkilat keluar dari tanduk-tanduk tajam dikepalanya.

Sebenarnya kenyataan bahwa Flash masih tampak tegang dan berusaha keras terbiasa dengan lingkungannya adalah hal yang sangat wajar. Skrill merupakan jenis naga yang sangat kuat, rumor mengatakan bahwa Skrill adalah satu-satunya lawan sebanding Night Fury. Tembakan petir yang mereka keluarkan melalui mulut sama kuatnya dengan plasma blast milik Night Fury. Namun, sebagai naga milik seorang Jenderal militer tentu Skrill memiliki kelebihan yang menguntungkan bagi pertahanan Aistagalla. Berdampingan dengan Night Fury di medan perang, Toothless dan Flash hampir mustahil untuk ditaklukkan.

Selain itu mereka juga terkenal sangat cerdas dan sulit untuk dilatih. Sehingga tidak heran, setelah hampir 6 tahun masa latihannya, Flash masih terbilang cukup agresif dibanding naga-naga lain milik The Prixor. Ia tidak akan membiarkan siapapun selain Jongin, sang raja serta dua anggota lain The Prixor melewati batas tiga meter untuk mendekat.

Disamping sang Jenderal, Duke Suho yang merupakan pemimpin ibukota Highshire tengah duduk dengan gagah sembari sesekali mengusap leher Pharos, Snow Wraith kesayangannya. Naga putih yang berasal dari daerah paling dingin di dunia itu tampak tenang dan menjaga kecepatan terbangnya agar tidak mendahului sang alpha, seperti yang biasa mereka lakukan saat latihan. Snow Wraith adalah salah satu naga yang berasal dari strike class, sama seperti Toothless dan Vivi. Namun, naga kesayangan sang Duke adalah satu-satunya yang berasal dari daerah bersalju. Bisa dibilang, melatih Pharos adalah hal yang tidak mudah. Membiasakan Pharos dengan suhu yang tidak sama seperti tempatnya berasal tentu adalah tantangan yang cukup besar, dan cukup kacau. Pharos hampir membumihanguskan Dragon Port karena kemampuannya mendeteksi panas tubuh manusia, sehingga ia mengira semua yang ada disekitarnya adalah musuh. Tetapi semua itu adalah masa lalu, sudah hampir delapan tahun berlalu dan belum ada satupun kecelakaan yang diakibatkan oleh naga 'salju' sang Duke. Pharos bahkan terbilang merupakan yang paling tenang dan jinak diantara ketiga naga lain. Ia bahkan membiarkan para pelayan di masion sang Duke mengusap kepalanya sesekali dengan seember ikan salmon sebagai gantinya.

Di bagian paling akhir barisan adalah sang penasihat Oh Sehun dan Dramillionnya, Vivi yang tengah terbang dengan tenang.

Baiklah, mungkin terlalu tenang karena kini sang penasihat tengah memeluk leher sang naga sembari menyenderkan kepalanya nyaman. Kedua matanya terpejam akibat rasa kantuk yang luar biasa, hingga ia memasrahkan kendali kemudi pada Vivi. Dramillion biru itu kini tengah dalam mode kamuflase nya, sehingga dari kejauhan Sehun akan terlihat seperti melayang ditengah langit. Vivi adalah seekor naga yang menggemaskan, well tentu saja bukan dari segi penampilan karena tiga tanduk tajam di kepalanya sudah cukup membuat siapapun melangkah mundur. Dramillion milik Sehun adalah naga termuda diantara naga-naga The Prixor lain, sama seperti pemiliknya. Keduanya sering dijuluki 'bayi' The Prixor, karena sisi manja dan menggemaskan yang terkadang muncul tanpa mereka sadari. Tentu saja, Sehun jarang melakukan hal tersebut karena ia memiliki posisi yang cukup tinggi di kerajaan. Namun Vivi? Tidak ada yang melarangnya menjadi manja dan menggemaskan, sehingga tak heran jika tiba-tiba kalian melihatnya meringkuk di pelukan Pharos atau bahkan Toothless yang ukurannya sedikit lebih kecil dari Vivi.

"Jenderal, bisa kau ingatkan aku siapa yang memberi ide agar Oh Sehun berjaga malam ini?", suara berat sang Raja memecahkan keheningan diantara mereka. Raja tampan itu kini tengah membalikkan sedikit punggungnya kebelakang untuk mengecek anggota yang lain.

Hanya untuk menemukan sang penasihat yang tengah mengarungi alam mimpi meskipun ia mengemban tugas untuk berjaga di perjalanan malam itu.

Berjaga adalah sebuah kata yang digunakan bagi anggota yang berada di barisan paling belakang dalam formasi Kite. Berada di barisan paling belakang, ia haruslah selalu waspada akan serangan karena posisinya yang menguntungkan untuk melihat kesegala sisi formasi. Biasanya sang jenderal, duke dan penasihat akan bergantian untuk posisi berjaga karena tentu saja, sang raja akan selalu berada di barisan terdepan. Namun, tampaknya malam ini memilih sang penasihat bukanlah ide yang bagus.

Dengusan kecil terdengar dari sang jenderal sesaat setelah pria tampan itu menolehkan kepalanya, mengikuti pandangan sang raja.

"Anda, Yang Mulia", jawab Jongin santai, sekelebat air wajahnya tampak mengejek.

Helaan nafas pelan lolos dari hidung sang raja, sebelum pimpinan Aistagalla itu menggeleng tidak percaya. Satu tangannya tampak memijat kening dengan pelan untuk menghalau pusing yang mungkin akan segera tiba.

Merasakan energi yang kurang baik dari sang raja, Toothless akhirnya ikut menolehkan kepala dan menatap pemiliknya dengan mata hijau yang melebar lucu. Seolah berusaha menghibur Chanyeol meskipun tentu saja si night fury tidak tahu bahwa rasa kesal sang raja hanyalah main-main.

Tangan besar itu kembali memberikan usapan sayang pada kepala sang naga, yang ditengah-tengah usapan tersebut tengah memberikan isyarat pada Flash melalui mata hijaunya. Sepasang kristal hijau lebar itu beradu pandang dengan sepasang lain yang berwarna keemasan. Geraman pelan keluar dari mulut Toothless bersamaan dengan ledakan petir yang tiba-tiba membelah langit.

Itu adalah Flash yang mengeluarkan tembakan petirnya secara tiba-tiba atas perintah Toothless, mengagetkan keempat pria dewasa yang ada disana. Tidak terlalu besar agar tidak melukai mereka memang, namun cukup besar untuk memberikan sedikit kejutan jantung. Terutama bagi sang jendral yang berada paling dekat dengannya.

Benar, termasuk Sehun yang kini tergagap dan menegakkan badan dengan cepat.

"A…apa? Ada apa? Vivi?", pekiknya. Kedua tangan berpegangan erat pada leher sang naga yang kini sudah kembali menampakkan wujudnya.

Alih-alih api, segerombolan naga dan peperangan, keheningan lah yang menyapa Sehun. Membuatnya mengernyit heran, dan mengedarkan mata yang sudah ditinggal sepenuhnya oleh rasa kantuk.

"Tidurmu nyenyak, Penasihat Oh?".

Glek…

Itu adalah suara sang raja, yang sudah memergoki 'dosa besar' sang penasihat.

Sehun menelan ludahnya yang tiba-tiba serasa seperti bola kasti dan tersendat di tenggorokan. Kekehan gugup lolos dari bibir merahnya sembari menggulirkan pandangan pada sang raja dan Toothless, yang kini tengah menatap tajam pada sang penasihat.

"M…maaf Yang Mulia", ujarnya pelan. Hanya kalimat permintaan maaf yang mampu ia ucapkan, mengingat sang raja bisa berubah menjadi sosok yang amat mengerikan ketika sedang marah.

"Bersiagalah penasihat Oh, Pineham sudah didepan mata", titah sang raja yang memutuskan untuk menyudahi penderitaan Sehun. Merasa bahwa hukuman dari Toothless dan Flash sudahlah cukup.

"Baik, yang mulia".

Tak hanya bagi sang penasihat, namun juga bagi kedua anggota lain dan para naga mereka.

Pineham sudah dekat, yang berarti tujuan mereka sudah semakin dekat dan waktu bermain-main telah usai.

.

"Katakan Duke Rayford, apakah naga ku terlihat berwarna putih?".

Suara sang raja terdengar dingin, menusuk hingga ke hati siapapun yang mendengar.

Keempat pria muda berpakaian serba hitam berbahan kulit mahal tampak berdiri tegap mengelilingi sang Duke, dengan pimpinan mereka, sang raja dari seluruh penjuru Aistagalla yang menyenderkan tubuh gagahnya pada sofa empuk berwarna merah yang berada di tengah ruangan.

Sang Duke yang merupakan pria paruh baya dengan rambut putih hampir memenuhi kepalanya tampak berdiri dihadapan sang raja muda, kepala tertunduk dalam. Kedua kristal cokelatnya sesekali beralih pada si night fury yang juga menatapnya dengan garang. Sesekali geraman keluar dari mulutnya.

Tak hanya sang Duke, naga Gronckle nya yang berwarna cokelat juga tampak bergidik dibalik tubuh paruh baya tersebut. Sekali saja ia melakukan gerakan yang ceroboh, maka plasma blast Toothless akan mementalkannya keluar jendela.

"A…ampuni hamba yang mulia, sungguh pesan itu bukanlah sebuah ancaman. H…hamba hanya memastikan keadaan agar tidak terjadi kesalahpahaman", ujar Duke Rayford tergagap.

Chanyeol mendecih, sebelum menyilangkan kedua kaki panjangnya. Keningnya yang tak tertutupi rambut mengkerut dalam, menunjukkan bahwa emosinya sudah hampir berada di puncak.

Hal ini sejujurnya bukanlah sesuatu yang berlebihan.

Naga adalah hewan yang dianggap berbahaya, dan proses Chanyeol membuat mereka menjadi hewan yang resmi dibawah perlindungan kerajaan bisa dibilang cukup alot dan panjang.

Kritikan datang dari berbagai penjuru, menganggap Chanyeol yang kala itu masih menjadi putera mahkota dipertanyakan kemampuannya dalam memimpin kerajaan. Bahkan sampai sekarang pun, meskipun Chanyeol sudah membuktikan segala janji dan sumpahnya untuk menjaga Aistagalla, masih ada pihak-pihak yang menganggap keputusan Chanyeol untuk bekerjasama dengan naga adalah hal yang terlalu berbahaya. Sehingga, secuil rumor tidak menyenangkan mengenai naga, terlebih Toothless, tentu akan menimbulkan polemik yang cukup panas dikalangan masyarakat yang masih anti terhadap naga.

"Mengirimkan surat itu kepadaku adalah memancing sebuah kesalahpaman, Duke Rayford", pungkas sang raja. "Kau bukan hanya menghina Toothless yang merupakan naga seorang raja, kau juga menuduh rajamu melakukan sebuah Tindakan criminal. Menurutmu itu masuk akal?".

Semakin detik berlalu, semakin dalam tundukan kepala sang duke. Seolah meruntuki dirinya sendiri yang baru tersadar atas kebodohan yang ia lakukan.

"Raja Cedric mencuri darimu? Menurutmu apa yang bisa ia ambil dari mansion yang paviliunnya bahkan hampir roboh ini?", kali ini adalah Jongin yang juga tak kalah menyeramkan. Menurutnya semua kerepotan ini tidaklah seharusnya terjadi jika duke ceroboh ini tidak mengirimkan surat resmi berisi ancaman terhadap kerajaan dan sang raja sendiri.

"H…hamba tidak berfikir sampai kesana, Jenderal Kim. Yang hamba pikirkan hanyalah night fury berwarna putih yang melintasi mansion. D…dan Toothless adalah satu-satunya night fury yang ada di seluruh dunia"

"Night Fury diberi nama 'night fury' karena spesies mereka terkenal memiliki warna kulit segelap malam dan kemampuan mereka adalah bersembunyi dibalik kegelapan. Bukan begitu Duke Rayford?", ujar Chanyeol. Kedua tangannya menyilang didepan dada, tatapan matanya masih sangat tajam meskipun suaranya sudah terdengar lebih tenang.

Ada hal lain yang lebih mengganggu pikirannya kini, alih-alih tuduhan konyol yang diberikan sang duke pada Toothless dan dirinya.

Sungguh Duke paruh baya tersebut sudah tidak berkutik di tempatnya berdiri. Ia hanya bisa menunduk dalam, bahkan kedua penjaga yang berdiri didepan pintu pun tak dapat berbuat apapun untuk menyelamatkan tuannya.

Meskipun mereka bekerja untuk sang duke, namun mereka terlebih dahulu mengabdi pada raja dan apabila jenderal militer juga hadir di ruangan yang sama maka komando dari sang jenderal lah yang harus mereka dengar.

"Katakan Duke Rayford, kau melihat Toothless berwarna putih?", kali ini adalah Duke Suho yang berjalan mendekat dan berdiri di samping sofa tempat sang raja tengah duduk. Berusaha menenangkan suasana mencekam yang sedang tadi terjadi.

Pimpinan ibukota Highshire tersebut menganggap ancaman ini tidaklah perlu karena semuanya hanya buah dari kesalahpahaman. Namun, ia pun tak dapat mengabaikan titah rajanya yang agaknya jauh lebih sensitive apabila berurusan dengan naga.

Terutama Toothless.

"Benar Duke Suho. Aku bersumpah. Ia sama seperti Toothless!", Duke Rayford memekik kencang sembari menunjukkan jarinya pada Toothless, membuat sang night fury sontak menggeram sembari menyipitkan mata. Pria paruh baya itu Kembali mundur akibat peringatan dari sang naga.

"Toothless, tidak apa-apa", itu adalah Chanyeol yang kini beranjak berdiri dengan perlahan sembari mengusap kepala hewan kesayangannya tersebut sesaat. Kedua Langkah kaki panjang itu kemudian berjalan pelan menuju jendela, kerutan di keningnya masih bertengger disana. Membuat wajah tampan itu terlihat serius.

Kini tubuh berotot itu bersandar pada bingkai jendela, sejurus kemudian tatapan matanya menghujam tepat pada manik sang duke.

"Light Fury", ujar sang raja.

"Y…ya yang mulia?", sang duke tergagap.

"Mereka menyebutnya Light Fury. Sama seperti Night Fury mereka memiliki kemampuan yang hampir sama. Yang membedakan mereka hanyalah ukuran dan warna kulitnya", sang raja menjeda sejenak ucapannya sebelum kembali menegakkan badan. "Yang kau lihat semalam, adalah light fury, Duke Rayford dan aku bisa berjanji bahwa naga itu bukanlah milik Aistagalla".

Mendengar ucapan itu, seketika keenam pasang mata yang ada disana melebar kaget kearah sang raja. Penasihat Oh perlahan melangkahkan kakinya untuk sedikit mendekat, kemudian mengusapkan tangannya pada kepala Toothless yang kini tampak jauh lebih tenang.

Seolah hewan sehitam malam itu dapat menangkap dan menarik energi yang dikeluarkan oleh sang raja.

"Berusaha menerobos masuk mansion seorang Duke dan mengendarai naga illegal. Agaknya teman kecil kita bisa terancam untuk mendekam setidaknya 20 tahun di penjara Winter Pits".

"Benar Penasihat Oh, namun kita tidak bisa ceroboh untuk memutuskan lebih jauh", kali ini adalah sang pimpinan Highshire yang lagi-lagi berusaha untuk tidak menyulut keributan. Duke Suho memang adalah yang tertua diatara keempat pria muda tersebut, dan sama seperti Pharos ia adalah yang paling tenang dan bijaksana.

"Duke Suho benar, kita tidak tahu apakah teman kita ini benar-benar 'kecil' atau ia adalah bandit naga seperti yang kita hadapi di Freya tahun lalu", ujar sang raja. Kini dikepalanya berkecamuk berbagai pertanyaan yang ia bahkan tidak tahu bagaimana cara memecahkannya.

Sang raja berada dalam dilemma dimana ia sungguh ingin menyelamatkan naga malang yang mungkin hanya dijadikan alat tersebut atau ia harus mengejar dan menghabisi segerombolan perampok ini seperti yang sudah ia lakukan sebelumnya.

"Mohon ampuni hamba atas kesalahpahaman ini yang mulia. Namun, hamba mungkin dapat membantu anda sebagai permintaan maaf atas tuduhan ceroboh yang sudah hamba lakukan".

Duke Rayford kembali membuka suara, kali ini dengan lebih percaya diri mengingat suasana sudah lebih tenang dibanding beberapa menit sebelumnya.

Sang raja hanya menaikkan satu alis dengan tampan sembari menatap pada sang duke. Kedua tangannya masih setia terlipat didepan dada. Menanti apa yang akan dikatakan oleh pimpinan Pineham tersebut selajutnya.

Alih-alih mengeluarkan suara, pria paruh baya tersebut perlahan mengulurkan tangan yang sedari tadi terlipat sempurna didepan tubuhnya. Ketika telapak tangan yang mulai mengeriput tersebut terbuka, keempat pasang mata pria muda disana disuguhkan dengan sebuah kalung dengan bandul berbentuk light fury dengan hiasan plasma blast dari berlian safir yang berkilauan.

"Aku menemukan ini di tempat naga itu kabur. Bisa kupastikan ini adalah milik pengendaranya".

Dengan hati-hati Toothless menegakkan tubuh untuk mengendus benda tersebut sebelum menoleh dan matanya bersibobok dengan sepasang lain milik sang raja. Isyarat bahwa benda tersebut aman dan sang raja bisa menyentuhnya.

Perlahan namun pasti, sang raja berjalan mendekat dan menerima kalung tersebut. Mata setajam elangnya berusaha mengamati setiap detail dari benda berhias safir yang bisa dipastikan bukanlah benda murahan.

"Kau yakin ia adalah pencuri, Duke Rayford?", ujar Chanyeol.

"Ya yang mulia. Mereka berhasil mencuri sekantung koin emas dari brankas dan persediaan gandum yang baru saja dipanen".

Sang raja muda hanya menggumam, berusaha memahami semua informasi yang baru saja ia dapatkan.

Light fury dan safir biru.

Entah kenapa sesuatu dalam diri sang raja mengatakan bahwa kali ini, ia berhadapan dengan seseorang yang berbeda dari mereka yang biasa bertempur dengannya di medan perang.


Suara ayam berkokok telah menggema di kejauhan, pertanda bahwa matahari sudah mulai menyingsing.

Sepasang kaki pria paruh baya pimpinan Pineham selama 15 tahun itu tampak menyeret menuju ruangan kerjanya. Sang raja baru saja meninggalkan Pineham sekitar satu jam yang lalu dan duke Rayford tidak pernah merasa lebih lega dari hari ini.

Ia tahu sang raja bukanlah seseorang yang bengis dan tidak berhati. Namun melihat amarahnya tadi, sang duke seolah pesimis ia takkan melihat hari esok.

Helaan nafas Lelah lolos dari mulutnya, ia bahkan tidak sempat memejamkan mata semalaman dan harus menghadiri pesta tanam para petani sekitar tiga jam lagi. Banyak hal yang belum ia kerjakan dan pidato belum ia siapkan.

Sehingga alih-alih menggunakan sisa waktunya untuk tidur, sang duke memutuskan untuk membereskan pekerjaannya yang tertunda akibat insiden yang menahannya selama dua hari berturut-turut.

Meskipun begitu rasa lega luar biasa akhirnya bisa ia rasakan. Ia sungguh tidak tahu bagaimana mengatasi kerugian yang terjadi atas pencarian tersebut. Namun, berkat rajanya yang amat murah hati mememberikan bantuan sebesar dua kali lipas atas apa yang dicuri dari Pineham, akhirnya sang duke dapat Kembali bernafas lega.

Semua itu adalah persediaan makanan mereka selama musim dingin, dan Pineham tidaklah semakmur wilayah lain. Sehingga kehilangan berkarung-karung gandum agaknya mampu membuat rakyatnya menderita selama beberapa waktu.

KLEK

"Kulihat anda mengadu pada yang mulia raja, Tuan Walls".

Baru saja ketika pintu kayu itu tertutup, sang duke sudah disambut oleh suara seorang lelaki yang terdengar lembut dan tenang di pagi yang dingin tersebut.

Perlahan, pria paruh baya itu membalikkan badan dan benar saja.

Kini ia tengah berhadapan dengan seorang lelaki mungil yang kini tengah berdiri sembari menyandarkan separuh tubuhnya pada meja kerja sang duke. Kedua tangannya melipat sempurna di dada dengan sepasang manik berwarna biru indah yang seolah bersinar terang dalam gelap.

Rambut berwarna putih itu berkibar indah ditiup angin yang menerobos masuk melalui jendela ruang kerjanya yang kini sudah tidak terbentuk dengan serpihan kaca dimana-mana.

Dalam hati sang duke merutuki dirinya dan para penjaga yang gagal mendengar suara ketika lelaki dihadapannya ini menghancurkan jendela. Sang raja bisa saja langsung menangkap lelaki bersurai putih itu.

"Kau! Apa yang kau lakukan disini pencuri?", hardiknya.

Kekehan lembut keluar dari bibir yang kini tertutupi cadar tembus pandang berwarna hitam.

Dari tempatnya berdiri, sang duke bisa melihat bahwa lelaki dihadapannya adalah seseorang yang sangat menawan meskipin bagian hidung hingga dagunya terhalangi oleh cadar. Rambut putihnya yang menutupi kening dan sedikit jatuh mengenai kelopak matanya bahkan tak mampu menyembunyikan kilatan emosi yang dipancarkan oleh sepasang manik biru safirnya.

Benar, sepasang mata lelaki itu mengingatkan akan kalung safir miliknya yang kini sudah berada di tangan yang tepat.

Ketika Penasihat Oh menyebut pencuri ini teman kecil, sepertinya ia tidaklah salah. Lelaki dihadapannya ini memang memiliki ukuran tubuh yang mungil dan ramping.

"Aku hanya ingin mengambil milikku yang berada di tanganmu, tuan Walls", ujar lelaki itu tenang. Tiada emosi sama sekali di suaranya, namun kilatan mata itu seolah memberikan ribuan sumpah serapah padanya.

Sang lord mendecih, dalam hati menertawakan ucapan keberanian lelaki kecil dihadapannya.

"Sungguh tidak tahu malu, setelah mengambil seluruh kebutuhan rakyatku. Kini kau dengan berani meminta hal kecil yang kau tinggalkan itu?".

Agaknya ucapan sang duke menyulut sesuatu yang sejak tadi ditahan oleh si mungil. Hal ini terlihat dari bagaimana kedua tangannya mengepal hingga buku-buku jemari lentik itu memutih.

Perlahan ia melangkah mendekati sang duke, membuat pria paruh baya itu melangkah mundur. Aura membunuh yang menguar dari tubuh mungil itu sedikit mampu membuatnya bergidik.

Ia memang seorang petarung dahulu, namun kini ia hanyalah pria yang sudah mulai tergerus usia. Bertarung bukanlah makanan sehari-harinya lagi. Meskipun lelaki dihadapannya memiliki tubuh yang jauh lebih mungil, namun ia dapat merasakan kekalahan apabila memprovokasinya.

"Hal kecil kau bilang?", suara itu mulai merendah. Aura tenang yang sejak tadi ia tampilkan seolah terlempar keluar jendela.

"Benar, hal kecil tidak berharga yang tidak sebanding dengan yang ambil dariku!", hardik sang duke. Suaranya menggema kencang di ruangan.

Segalanya terjadi dengan cepat setelah itu. Hanya dalam satu kedipan mata, si lelaki mungil bersurai putih itu sudah tepat berada dihadapan sang duke. Satu tangannya terulur dan jemari lentik itu melingkari lehernya.

Menekan leher pria paruh baya dihadapannya tanpa ampun. Kilatan mata biru sang pencuri cantik seolah mampu menusukkan ribuan belah pedang yang menyakitkan.

"Katakan itu sekali lagi, pak tua dan ucapkan selamat tinggal pada dunia mu yang tak berguna ini".

Kekehan tersengal merupakan jawaban dari sang duke. Ia menyeringai sembari balas menatap manik biru dihadapannya.

Menantang maut.

"Bunuh aku, karena setelah itu adalah giliranmu. Uhuk…", sang duke tercekat. Sedikit memejamkan mata kemudian untuk menahan rasa sesak yang menjalar dari tenggorokan hingga ke dada akibat kurangan asupan oksigen dalam tubuh. "Yang mulia… R…raja akan menemukanmu… Ia akan menemukanmu melalui kalungmu".

Agaknya, kalimat itu adalah penyelamat sang duke. Karena sesaat setelah si lelaki mungil mendengarnya, duke Rayford merasakan cekikan di lehernya mengendur dan si surai putih berjalan mundur perlahan.

Kilatan biru di matanya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

Menyaksikan bagaimana si lawan mulai lengah, sang lord diam-diam membuka pintu kayu yang berada tepat di belakangnya agar para penjaga dapat mendengar jelas apa yang terngah terjadi.

"Benar, benda kecilmu itu sudah berada di tangan yang mulia raja. Kau mencarinya di tempat yang salah, istana Talverton adalah tujuanmu selanjutnya, pencuri manis", ujar duke Rayford sembari mengusap lehernya yang kini membekas merah. Meskipun begitu, seringaian tetap dapat ia tampilkan.

Geraman frustasi terdengar dan lelaki mungil itu tampak menarik keluar pedangnya yang sedari tadi tersimpan manis di punggung.

Pedang berhias permata biru itu berkilat indah diterpa sinar matahari yang sedang dalam perjalanan menuju singgasananya.

Mata elang sang duke dengan cekatan memperhatikan gerakan jemari lentik itu yang siap menghunuskan pedang kearahnya. Dengan secepat yang ia bisa, tubuh tuanya mulai menghindari dan teriakan sekuat tenaga ia keluarkan.

Benar, ia tidak bisa mati sekarang.

"PENJAGA! PENJAGA!", teriakan lantang yang lolos dari mulut sang duke tampaknya berhasil menarik perhatian para penjaga yang memang siaga di sekitar ruangan kerja tersebut. Tak lama kemudian suara derap Langkah kaki mulai terdengar memenuhi Lorong, sang pencuri manis merasakan bahwa setidaknya ada delapan dari mereka.

Rasa amarah yang kini tengah menghujaninya tetaplah tidak lebih besar dari akal sehat yang terus berteriak di telinganya untuk segera pergi.

Si surai putih sadar, ia tidak akan selamat jika ia berpegangan pada ego untuk membunuh pak tua angkuh dihadapannya. Dengan gerakan cekatan, Baekhyun mengayunkan pedangnya dan menitikkan tepat di paha sang duke.

Seketika cipratan darah mengalir keluar dibarengi dengan teriakan kesakitan Duke Rayford. Luka itu tidak terlalu dalam, namun cukup memberikan efek mengejutkan untuk si paruh baya. Setelah merasa urusannya beres, dengan cepat si surai putih berbalik dan melangkah menuju jendela tempat ia masuk tadi.

Siulan melengking lolor dari bibir merahnya, dan dalam hitungan detik duke Rayford melihat naga itu. Naga yang membuatnya bersitegang dengan sang raja.

Light fury.

Segalanya terjadi dengan cepat, ia mendengar para penjaga masuk kedalam ruangan dan berusaha mengejar pencuri bersurai putih tersebut dan beberapa yang lain tengah membantu dirinya untuk menghentikan darah yang mengalir deras dari paha.

Namun tentu saja, mereka terlambat.

Pencuri cantik itu melompat dengan lincah ke punggung sang naga dan untuk terakhir kalinya sepasang manik biru sang pencuri dan sepasang manik biru lain yang lebih besar melirik tajam kearanya.

Sebelum kedua sosok itu menghilang dibalik plasma blast yang ditembakkan oleh sang light fury.


Matahari sudah bersinar dengan terang ketika tiga orang lelaki dengan tinggi yang hampir sama tengah berdiri di sebuah padang rumput. Naga mereka tampak bersender nyaman sembari membiarkan pemiliknya mendiskusikan entah apa.

Ketiga lelaki itu tampak mengenakan pakaian berwarna hitam yang terbuat dari kulit mengkilap. Wajah tampan mereka tampak tertutupi cadar tembus padang meskipun udara disekitar masih cukup panas meskipun musim dingin sudah di ambang pintu.

Mereka terlihat tengah menanti, menanti sesuatu atau seseorang yang tak kunjung Kembali ke tempat pertemuan yang dijanjikan. Detik yang berlalu cukup membuat hati mereka semakin berdebar dengan rasa gelisah.

Kilasan kejadian yang tidak mereka inginkan berusaha dihalau sebisa mungkin. Para naga adalah penangkap energi yang baik, mereka akan dengan cepat merasakan perubahan emosi pemiliknya dan akan berubah siaga dengan cepat.

Tiga naga yang panik dan tiga pemilik yang panik bukanlah sebuah hal yang baik, terutama jika kau adalah orang yang baru saja melakukan tindakan illegal di tanah asing.

"Apakah menurutmu mereka menangkap Baekhyun?", itu adalah suara salah satu lelaki dengan mata kucing yang mereka panggil Jongdae. Lelaki itu tampak gelisah sembari sesekali menendang-nendang batu di bawahnya.

"Sudah kubilang membiarkan dia pergi sendiri bukanlah ide bagus. Baekhyun akan membunuh pak tua itu dalam sekejap dan ia akan terkena masalah", salah satu dari ketiganya yang bermata bulat menyahut. Rambut hitamnya berkibar diterpa angin membuatnya sesekali menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata.

"Aku setuju dengan Kyungsoo. Meninggalkan Baekhyun sendirian agar tidak menarik perhatian bukanlah ide bagus. Oh Tuhan".

Mendengar omelan kedua temannya, Jongdae perlahan mengeluarkan helaan nafas yang cukup kencang. Merasa kesal dengan mereka yang seolah tiba-tiba mengomelinya.

"Ya benar, kenapa tidak kalian katakan itu padanya tadi dan malah mengomeliku?".

Ucapan Jongdae sontak menerima tatapan tajam dari kedua temannya, membuat pria tampan itu bungkam dan memutuskan untuk menjatuhkan tubuh diatas Shine, naga razorwhip nya yang kini menolehkan lehernya dan mengistirahatkan kepala pada paha sang pemilik.

"Kita harus menyusulnya", itu adalah Kyungsoo. Yang memecahkan keheningan mereka di beberapa menit terakhir. Tubuh mungil itu sudah bersiap untuk melompat menaiki punggung Ergos, naganya yang kini sudah berdiri tegak. Seolah bisa merasakan rasa gelisah yang dirasakan pemiliknya.

"Kyungsoo, selanjutnya kita semua yang akan berada dalam masalah dan tidak ada yang merawat anak-anak itu!", Ucap Minseok sembari melangkah cepat untuk mendekati temannya. Berusaha menyadarkan lelaki bermata bulat itu.

Memang diantara mereka bertiga, Kyungsoo adalah yang terdekat dengan Baekhyun. Mereka berdua sudah seperti saudara kembar yang selalu bersama sejak lahir. Bisa dibilang, ayah Kyungsoo adalah sahabat dari ayah Baekhyun. Sehingga keduanya sudah tak terpisahkan sejak hari pertama di dunia.

"Aku tidak bisa membiarkan Baekhyun dalam bahaya…".

"Sadarlah kalian!", hardik Jongdae. Menghentikan pertengkaran yang mungkin akan segera terjadi. "Bertengkar seperti ini tidak akan menyelamatkan Baekhyun. Dan kau Kyungsoo…", kali ini mata kucing Jongdae menatap tajam kearah temannya. "Berhentilah berbuat gegabah. Baekhyun akan baik-baik saja".

Benar saja, sesaat setelah Jongdae mengeluarkan kalimat itu ketiganya dikagetkan oleh suara ledakan di langit tepat diatasan mereka. Secara reflek, keenam pasang mata disana mendongak. Melihat darimana asal ledakan itu berasal.

Oh kalian tidak tahu bagaimana nafas lega dihembuskan oleh ketiganya ketika melihat sang light fury yang baru saja menembakkan plasma blastnya. Di punggung si naga putih, sang pemilik tengah menatap kearah mereka.

Namun anehnya, bukan tatapan bahagia yang mereka dapatkan.

.

"Tidak! Tidak Baekhyun! Kita tidak akan menyerang istana Talverton. Apa kau sudah gila?".

Keempat lelaki itu kini tengah terbang melintasi langit biru dengan kecepatan sedang. Baekhyun, yang berada di barisan terdepan kini tengah berdebat dengan Kyungsoo yang tengah terbang bersama sang naga, disampingnya.

Mereka tentu tidak salah ketika menangkap kilatan amarah di mata biru pimpinannya. Bagimana jemari terus memegang erat gagang pedangnya, seolah siap menyerang siapapun yang berani mencari masalah.

Tanpa banyak bicara, ketiga lelaki tersebut dengan cepat menaiki naganya masing-masing untuk menyusul sang pimpinan yang sudah menyentak Lily, sang light fury, dengan pelan untuk terbang mendahului.

Sungguh mereka tidak menyangka bahwa keterdiaman Baekhyun kali ini menandakan sesuatu yang amat buruk.

Benar, jika kalung Baekhyun berada di tangan sang raja bukanlah hal buruk, entah apalagi hal buruk yang bisa terjadi pada mereka.

Tentu saja mereka sudah mendengar Raja mereka. Sebagai warga Aistagalla, tentu keempatnya sering mendengar nama King Cedic Alvey dielu-elukan di seluruh penjuru kerajaan.

Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang gagah, otaknya yang cerdas dan hatinya yang mulia semua itu adalah yang mereka dengar dalam tiap misi yang tengah dijalankan.

Meskipun begitu, mereka belum pernah secara langsung bertemu dengan sang Raja. Kelompok mereka memiliki kesamaan dengan kelompok sang raja, mereka sama-sama pengendara naga dan amat menyayangi hewan penyembur api tersebut.

Hanya tentu saja, mereka berada di sisi yang agak berbeda.

"Aku tidak bisa kehilangan kalung itu Soo, kau tahu itu", ujar Baekhyun pelan. Suaranya terdengar tenang meskipun banyak hal tengah berkecamuk dalam pikirannya kini.

"Baekhyun, menyerang Talverton sama saja kau menyerahkan dirimu untuk dipenjara! Mereka akan menahan Lily dan memisahkan kalian", kali ini Minseok memutuskan untuk menengahi perdebatan kedua sahabat didepannya.

Ia harus membantu Kyungsoo menyadarkan Baekhyun.

Bahwa kali ini, keputusannya adalah keputusan yang sangat gegabah.

Si surai putih perlahan menunduk ketika mendengar suara naganya disebut. Bersamaan dengan sepasang manik biru sang naga putih yang kini tengah mendongak untuk menatapnya.

Baekhyun tersenyum, mengusap sayang kepala Lily diikutin gumaman yakin.

"Tidak, aku tidak menyerang istana Talverton. Aku hanya akan menemui raja untuk bernegosiasi dan aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Lily".

"Dan kau yakin hal itu berhasil karena?", Ujar Jongdae.

"Karena aku mendengar Raja Cedric adalah seorang pria tampan dengan hati yang tampan", kekehan lolos dari bibir Baekhyun. Ia menggulirkan pandangan pada ketiga lelaki lain sembari tersenyum dibalik cadar hitam tembus pandangnya. Meskipun mereka tahu senyuman itu adalah senyuman mengejek.

"Aku akan berhati-hati, kalian hanya perlu menungguku seperti tadi", Baekhyun sedikit menjeda ucapannya. Tatapan mata tajam itu melembut. "Hanya itu satu-satunya kenangan ayah yang kumiliki, kumohon izinkan aku untuk memperjuangkannya".

Tampaknya itu berhasil, karena kini ketiganya terdiam. Seluruh gestur penolakan seolah menguap diterpa angin digantikan dengan tatapan lembut yang ditujukan pada si surai putih.

"Aku akan membunuhmu dan mendoakanmu masuk neraka jika kau dalam masalah", ujar Kyungsoo akhirnya. Nada bicaranya terdengar acuh, namun tatapan matanya amatlah lembut. Seolah memancarkan rasa sayang luar biasa pada sahabatnya.

"Aku berjanji".


Highshire, Talverton Palace, 1561

Malam tengah menjemput ketika sang raja tengah berjalan dengan malas keluar dari kamar mandi. Hari ini sangatlah melelahkan dan sang raja belum bisa menghilangkan kalung dengan safir biru itu dari kepalanya.

Ia sudah memanggil beberapa ahli perhiasan terbaik di seluruh penjuru Aistagalla untuk memeriksa benda tersebut. Semuanya memberikan jawaban yang sama, bahwa kalung itu terbuat dari emas putih murni dengan safir asli yang harganya bisa dipastikan fantastis.

Seorang pencuri memiliki perhiasan semacam itu tentu adalah hal yang mustahil. Tentu saja ia mencuri untuk bertahan hidup, namun disaat bersamaan ia juga adalah pemilik sebuah perhiasan mahal dan seekor light fury.

Sungguh sang raja tidak dapat menemukan benang merah dari semua pengetahuan yang seharian sudah berusaha ia kumpulkan.

"Selamat malam Toothless", senyuman tampan terkembang di wajah orang nomor satu Aistagalla tersebut ketika melihat sang naga tengah meringkuk diatas lantai marmer yang dilengkapi penghangat dibawahnya.

Benar, Toothless tidak akan bisa tidur di hawa yang dingin. Sehingga Chanyeol berusaha melakukan yang teraik untuk memuat night fury nya tetap hangat.

Meskipun ya, ia harus mengeluarkan banyak uang untuk menciptakan lantai marmer penghangat itu khusus untuk sang naga.

Toothless hanya mendengus pelan kemudian tampak memejamkan mata, bersamaan dengan sang raja yang meniup lilin di samping tempat tidurnya. Membuat ruangan menjadi gelap dan hanya dihiasi remang-remang cahaya dari perapian.

Ditemani oleh pikiran yang tengah berkecamuk dikepalanya, sang raja perlahan dilahap oleh rasa kantuk dan Lelah setelah seharian menghabiskan waktu memecahkan misteri yang baru ia dapat.

Hanya butuh beberapa menit, akhirnya ruangan mewah di sayap barat kerajaan Talverton itu dipenuhi suara dengkuran halus dari sang raja yang sedikit bersautan dengan suara nafas Toothless.

Hanya saja, semua itu hanya terjadi selama beberapa jam.

Karena tepat ketika Grand Clock menunjukkan pukul tiga pagi, suara ledakan di angkasa membangunkan sang raja dari tidur lelapnya. Dengan cepat, tubuh gagah berbalut kemeja tidur putih dan celana Panjang hitam itu melonjak bangun.

Tanpa perduli dengan bagian dada berototnya yang sedikit terekspos dengan udara malam yang dingin, raja tampan itu beranjak menuju pintu kaca besar yang langsung membawanya ke balkon.

Diikuti Toothless yang tampaknya juga terbangun karena merasakan bahaya.

Serta mencium bau naga asing yang tengah memasuki teritorinya.

Geraman marah yang terdengar dari dalam tubuh Toothless dan bagaimana nag aitu tanpa berhenti menatap keluar jendela cukup menjadi pertanda bagi Chanyeol bahwa bahaya tengah mengancam dan seseorang atau sesuatu tengah menyerang kerajaan.

"Cari dia, kawan", Ujar Chanyeol sembari menatap Toothless yang kini menegakkan tubuh bagian atasnya. Hidungnya tak lepas mengendus-endus udara disekitarnya.

BRAK

Tidak menunggu lama, sang raja membuka lebar pintu balkon dan melompat naik ke punggung Toothless. Rasa kantuk sepenuhnya lenyap ketika sang night fury melompat dan terbang dengan gagah di angkasa.

Kulitnya yang segelap malam menyatu dengan langit, terbang mengelilingi istana Talverton yang luas.

Sang raja yang berada di punggungnya pun tak lepas menoleh ke sekitar, mencari darimana asal suara tersebut. Hanya satu yang sedikit menggelitik perasaan Chanyeol.

Tidak ada satupun penjaga, atau tim pengendara naga yang keluar.

Seolah hanya dirinya dan Toothless yang dapat merasakan kehadiran bahaya itu sendiri.

Suasana disekitar istana mewah itu sangatlah sepi, hanya suara serangga malam yang terdengar sejauh mata memandang.

Mereka menghabiskan 10 menit terbang berkeliling dan belum ada tanda-tanda bahaya itu Kembali muncul. Chanyeol hampir menyerah dan memutuskan untuk Kembali ke istana dan melanjutkan istirahatnya.

'Benar, mungkin hanya mimpi', batin sang raja.

Namun, baru saja pemikiran itu melintasi kepala tampan sang pimpinan Aistagalla tiba-tiba suara geraman amarah Toothless Kembali.

Naga hitam itu tiba-tiba melesat dengan cepat dan terbang semakin tinggi seolah ia baru saja menemukan bau asing yang sempat hilang tadi.

Saat itulah Chanyeol melihatnya.

Sosok putih itu tengah melesat dengan cepat didepan Toothless, seolah memancing sang night fury untuk mengejarnya.

Sang raja menyipitkan mata, berusaha untuk melihat dengan jelas benda putih apa yang sebenarnya mengganggu ketenangan malam mereka. Mereka terlalu jauh, namun Chanyeol dapat menyimpulkan bahwa itu adalah seekor naga.

Seekor… Light Fury.

BLAM!

Toothless menembakkan plasma blastnya kearah naga putih itu. Tetapi dengan lincah sang naga menghindari tembakan tersebut dan Kembali melesat cepat. Kali ini ia mengurangi ketinggiannya dan terbang semakin rendah.

Chanyeol Kembali menyipitkan mata, kali ini penghihatannya semakin jelas dan semakin jelas karena tampaknya sang naga putih mulai kehilangan tenaganya untuk terbang lebih lama.

Meskipun mereka adalah jenis naga yang hampir sama, namun endurance seekor night fury jauh lebih tinggi dibanding seekor light fury. Menjelaskan kenapa Toothless mampu mengejar naga putih itu masih dalam kecepatan yang sama di waktu yang lama.

Lima menit berlalu ketika akhirnya naga putih itu semakin memelan dan Chanyeol dapat melihat sesosok lelaki mungil bersurai putih yang ternyata mengendarai sang naga putih.

Saat itulah Chanyeol dapat menangkap apa yang tengah terjadi.

Pencuri itu, dengan si light furynya dengan berani menarik sang raja keluar dari istana entah untuk tujuan apa. Namun keberanian itu cukup di apresiasi oleh Chanyeol.

BLAM

Satu lagi tembakan plasma blast dikeluarkan oleh Toothless dan kali ini si light fury sedikit terguncang akibat getaran dari tembakan tersebut.

Naga putih itu perlahan memelan dan mendarat tepat di sebuah lapangan berumput lebar yang merupakan tempat lepas landas dan mendarat para naga. Melihat hal tersebut sebagai kesempatan, Chanyeol memacu Toothless agar terbang lebih cepat dan beberapa detik kemudian tubuh gagah Toothless menyentuh tanah dengan geraman yang mampu menggetarkan jiwa siapapun yang mendengar.

Saat itulah Chanyeol melihatnya secara jelas.

Lelaki itu memiliki surai berwarna putih lembut yang membingkai wajah indahnya. Kedua matanya berwarna biru, mengingatkan Chanyeol akan safir yang menggantung di leher kokohnya dan mata dari sang light fury yang kini juga tengah menggeram kearah Toothless.

Lelaki itu amat mungil, dengan tubuh ramping namun berisi di tempat yang tepat seperti ehem, pahanya. Sang raja berusaha keras agar tidak menatap paha itu terlalu lama karena sungguh, celana kulit mengkilap itu tidak membiarkan sedikitpun ruang untuk Chanyeol berimajinasi.

Pakaian itu melekat sempurna di tubuh sang pencuri manis, dan oh Tuhan apakah lelaki itu mengenakan pakaian tembus pandang dibalik jas hitamnya?

Karena kini Chanyeol disuguhkan dengan pemandangan dada seputih susu yang mulus dibalik pakaian hitam tersebut.

Glek.

Sekuat tenaga pimpinan Aistagalla itu menelan ludah.

Ia sudah puluhan kali bertemu dengan penjahat dengan paras luar biasa dan tubuh luar biasa. Namun ini adalah pertama kali ia benar-benar teralihkan dan merasakan debaran jantung luar biasa akibatnya.

Seringaian manis mengembang pada bibir merah dibalik cadar tembus padang tersebut. Mata biru Baekhyun menatap tajam pada sang raja. Seperti predator yang mengunci mangsanya.

Dengan perlahan ia berjalan mendekat, tubuhnya bergerak dengan pelan namun sangat indah. Bak penari waltz paling handal di dunia. Rambut putih itu berkibar diterpa angin, menampilkan mata biru indahnya secara jelas.

Sang raja seolah terpaku di tempatnya, ia bahkan tidak dapat mengucapkan kata-kata ancaman yang suda disiapkan saat ia berhasil menangkap pencuri pengendara light fury itu. Namun ini, ia seperti disihir, tak sanggup berkutik melihat kecantikan dihadapannya.

Chanyeol bersumpah, lelaki dihadapannya adalah makhluk tercantik yang pernah ia temui. Begitupun dengan naga putihnya.

Keduanya bak sihir yang mampu menghipnotis sang raja.

Semakin dekat tubuh mungil itu padanya, semakin jelas pula Chanyeol menatap parasnya. Meskipun separuh wajah itu tertutup cadar, namun hal itu tak cukup menyembunyikan kecantikan si surai putih.

Satu Langkah.

Dua Langkah.

Tiga Langkah.

Empat Langkah.

Grep.

Tepat di Langkah kelima, kedua tangan dengan jemari lentik itu terulur.

Dengan lembut jemari itu menyentuh dada berotot sang raja dan merambat naik, sembari sesekali memberikan elusan lembut yang meninggalkan sensasi panas pada kulit sang raja meskipun angin malam itu berhembus cukup dingin.

Tubuh mungil itu sedikit berjinjit, berusaha menyetarakan manik birunya dengan manik hazel milik pimpinan Aistagalla tersebut. Kedua telapak tangan mulusnya kini dengan lembut mengusap leher kokoh sang raja.

"Apa yang seorang raja lakukan diluar sendirian malam ini mm?", bisik Baekhyun tepat di telinga lebar Chanyeol.

Suara lembutnya membuat Chanyeol bergidik.

"Kau, kau siapa?".

Itu adalah kalimat pertama yang dengan susah payah Chanyeol ucapkan.

Bagaimana tidak, jarak mereka kini sungguh dekat.

Sangatlah dekat hingga orang nomor satu di Aistagalla itu mampu merasakan hembusan nafas sang surai putih tepat di depan bibirnya.

"Aku adalah mimpi buruk terindahmu, rajaku", bisiknya lagi.

Bulu kuduk Chanyeol meremang merasakan belaian nafas itu dan sentuhan cadar yang sesekali menggesek kulitnya.

Usapan itu kini beralih pada rahang tegas sang raja, kedua mata mereka beradu diiringi debaran didalam dada bak tabuhan music di pesta dansa.

Detik berlalu dengan cepat, ketika bibir merah yang tertutupi cadar itu perlahan mendekat dan semakin dekat.

Hembusan nafasnya terasa hangat menerpa bibir tebal sang raja.

Deg…

Deg…

Deg…

Grep.

"Terimakasih tampan", ujar suara itu dibarengi kikikan manis.

Seluruh kehangatan yang baru saja melingkupinya mendadak menghilang, membuat sang raja dengan cepat membuka mata.

Hanya untuk mendapat sosok mungil itu kini sudah bertengger nyaman diatas punggung light fury nya, dengan kalung safir biru familier yang tadi melingkari leher Chanyeol di genggamannya.

"Sampai jumpa lagi, Yang mulia", ujar sang lelaki bersurai putih. Senyuman manis dan satu kedipan mata ia berikan, sebelum tangannya memberikan tepukan pelan pada leher si light fury. Isyarat untuk segera terbang.

Karena ya, sang raja masih mematung ditempatnya seperti tersihir. Ini adalah saat paling tepat baginya untuk melarikan diri. Mengabaikan si night fury yang masih menggeram marah namun tak dapat berbuat apapun karena sang raja tak kunjung memberikan perintahnya.

.

.

.

To Be Continued


Helloooooooo semuaaa! Long time no see! I'm baack! Apakah masih ada yang ingat aku dan FF ku?

Maaf banget aku hiatus hampir setahun, kemarin aku sempet ribet sama kuliahku dan syukurlah aku udah lulus sekarang jadi bisa kembali nulis FF lagi! Jangan khawatir, aku bakal temenin kalian dan bantu ngobatin kangen kalian sama ChanBaek yang lagi serve negaranya.

Mari menunggu bersama!

Btw, akhirnya ini chapter satu dari A ride to our future sudah rilis! maaf ya kalau tulisanku jelek / aneh, karena udah lama ga nulis jadi agak rusty nih kemampuanku hehe.

Tapi semoga masih tetap dapat menghibur kalian yaa!

Anyway terimakasih banyak buat kalian yang masih suka nanyain aku dan nanyain karya-karyaku bahkan masih suka review di HOTO maupun Tightrope.

Juga terimakasih banyak bagi yang sudah membaca ceritaku, favorite dan selalu review.

Gimana menurut kalian soal chapter satu ini? Apakah aneh? Haruskah aku lanjutkan?

Hehe aku tunggu review kalian yaa..

PS: Bagi kalian yang belun nonton How to Train Your Dragon, aku sarankan buat kalian nonton karena super duper bagus dan supaya kalian bisa bayangin naga-naga gemes yang akan aku ceritakan.

Oke sekian cuap-cuapnyaa, sampai jumpa minggu depan!

Love ya!

-Love, Kileela