Chapter_3

.

"Dasar brengsek! berikan padaku!"

"S-sialan! kembalikan cincin itu! Aku yang menemukannya!"

Seorang pria berambut panjang ke belakang dan mengenakan jubah bajak laut melangkahkan kakinya ke tengah keramaian. Ia menerobos begitu saja meskipun sampai membuat beberapa orang terjatuh akibat ulahnya.

"Ghahahaha! minggir kalian!" serunya sambil tertawa.

Sekumpulan orang yang tadinya meributkan sebuah cincin seketika terdiam dan berkeringat dingin karena mengenali suara tersebut. Mereka menelan ludah dengan susah payah dan sama-sama menoleh ke sumber suara yang mereka takutkan.

""B-BLUEJAM?!""

Dan benar seperti apa yang mereka pikirkan, sosok yang ditakuti karena kekejamannya dalam menyiksa siapapun kini berdiri tepat di hadapan mereka.

'Sepertinya memang benar, chakra adalah sesuatu yang langka atau bahkan tidak ada di dunia ini.' batin Naruto yang menyamar menjadi Bluejam dengan hengenya. Ia tak habis pikir kenapa dirinya bisa sampai berada di dunia yang berbeda jauh dari dunia Shinobi.

'yah, mungkin seiring dengan menjelajahi dunia ini aku akan mengetahuinya.'

Jika dilihat dari luar Naruto saat ini sedang tertawa aneh dengan hengenya, mengabaikan orang-orang yang nampak semakin ketakutan terhadapnya.

"A-apa y-yang ingin k-kau lakukan?" ucap seseorang yang berusaha menyembunyikan sebuah cincin di tangannya.

Dia saat ini tengah berlutut karena para pencari benda berharga yang lain mendorongnya ke hadapan Bluejam untuk menyelamatkan diri. Karena mereka berpikir bahwa Bluejam tertarik dengan sebuah cincin yang mereka temukan.

"Ssst berikan saja cincin itu padanya daripada nyawa kita yang akan terancam."

Mereka saling berbisik dan diam di tempat mereka berdiri tanpa ada yang berani bergerak ataupun melarikan diri. Karena mereka sadar ada sebuah pistol digenggaman tangan Bluejam.

"Ghahahaha! Apa yang kalian ketahui tentang bajak laut!" tanya Naruto dengan nada memerintah sambil memutar pistolnya. Ia saat ini sedang menirukan gaya dari orang yang menjadi hengenya.

"...?"

Hening, semua orang yang mendengarnya terdiam dengan rasa menggelitik yang berusaha mereka tahan agar tidak keluar. 'Apa dia sedang mabuk laut?' setidaknya itulah yang mereka pikirkan saat ini.

"Kalian ingin kutembak?" lanjut Naruto datar karena mereka tidak kunjung menjawab.

Salah seorang dari mereka akhirnya membuka suara karena moncong pistol tersebut terarah tepat ke kepalanya.

"B-bajak laut adalah orang-orang yang membuat keributan di lautan dan juga di daratan." jawabnya dengan hati-hati agar tidak menyinggung Bluejam.

"Begitu, ya... hanya itu?" jujur saja, Naruto merasa terhibur melihat ekspresi yang mereka tampilkan, tapi ia tidak bisa menjahili mereka lebih jauh lagi karena tidak ingin membuang waktu berharganya di tempat yang pengap dan bau ini.

"Eh?" semua orang di sekitarnya menjadi terdiam dengan wajah kebingungan.

Naruto menghela nafas pelan melihat respon dari mereka karena ia paham betul raut wajah itu, dengan begini sudah tidak ada lagi yang dapat ia cari tahu dari mereka, "baiklah, terima kasih." Ia pun berbalik badan dan melangkahkan kakinya untuk pergi.

""EEEH?!""

Akan tetapi, suara teriakan di belakangnya membuatnya menghentikan langkahnya. Ia pun sedikit menolehkan kepalanya kebelakang dan dapat ia lihat masing-masing dari mereka memandang dirinya dengan pandangan aneh.

"Apa?"

""a-ahaha, silahkan lanjutkan perjalanan Tu–""

"WOE! SERAHKAN CINCIN ITU!"

Perkataan mereka terpotong oleh teriakan seorang bocah yang memakai topi jerami dengan bekas luka jahitan kecil di bawah matanya dan sontak mengejutkan hampir semua orang. Tidak ada yang menyadari kapan dan bagaimana bocah itu bisa sampai berada di sana.

Bocah itu kini terlihat sedang mengacungkan tangannya ke arah orang yang menyembunyikan cincin.

'Sejak kapan bocah itu di sini?' batin Naruto sedikit merasa terkejut. Namun ia segera kembali ke sikap tenangnya dan mengurungkan niatnya yang baru saja ingin pergi karena tertarik untuk melihat apa yang akan terjadi.

Berbeda dengan Naruto yang bersikap tenang, orang-orang di sekitarnya justru terlihat bersikap sebaliknya. Mereka kembali berebutan cincin meski harus berkelahi, bahkan mereka sampai melupakan keberadaan Naruto yang menyamar sebagai Bluejam.

Set!

Memanfaatkan tubuhnya yang kecil, bocah itu bergerak menelusup di antara kumpulan orang yang sedang berkelahi dan mengambil cincinnya dengan menggigit tangan orang yang membawanya.

"Uagh!"

"Oe! Bocah itu mendapatkannya!" ucap salah satu pria sambil menunjuk ke arah bocah yang bergerak menjauh secara diam-diam.

"Serahkan cincin itu padaku, adik kecil." orang yang paling dekat dengan bocah itu segera menghadangnya dan meminta cincin itu secara baik-baik agar tidak perlu menyakiti bocah bertopi jerami itu.

"Bwee!" bukannya merasa takut, bocah topi jerami itu malah menjulurkan lidahnya ke arah orang yang menghadangnya.

"Dasar bocah sialan!"

Karena merasa diremehkan, pria di dekatnya berubah pikiran dan langsung menarik kepalanya. Namun pria itu dan semua orang yang ada disini dikejutkan dengan keanehan yang terjadi, bahkan Naruto nampak menyeringai tipis saat melihatnya.

""K-KEPALANYA MEMANJANG?!"" mereka terdiam dengan mata yang terbelalak terkejut.

"Shishishi... Kabuuurr!" sedangkan si pelaku yang membuat mereka semua terkejut hanya cengengesan dan langsung berlari ke hutan sekuat tenaga selagi semua orang masih sibuk dengan pikiran masing-masing.

"O-OE KEJAR BOCAH ITU! DIA MEMBAWA CINCINNYA!"

"Jangan lari kau! bocah tengik!"

Orang-orang itu segera tersadar setelah melihat benda yang mereka inginkan berada di tangan bocah itu dan merekapun serentak berlari mengejarnya.

Sepeninggal mereka, kini hanya ada satu orang yang masih berada di tempat itu. Ia adalah Naruto yang berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.

"Menarik."

Setelah Naruto berucap singkat, muncul kepulan asap yang menyelimuti seluruh tubuhnya dan setelah kepulan asap itu menghilang penampilan Naruto nampak kembali seperti sedia kala. Mata sejernih lautan di sebelah kanannya sedangkan mata kirinya berwarna hitam legam seperti langit malam. Tubuhnya tertutupi dengan jubah hitam polos yang diambilnya dari kapal Bluejam, sementara pemilik kapal dan para anak buahnya sudah ia ikat digudang kapal.

Entah apa yang akan terjadi pada mereka ia tak mau ambil pusing dengan hal itu dan melanjutkan langkahnya mengikuti ke mana bocah topi jerami itu pergi.


Di pedalaman hutan yang lebat terlihat seorang anak kecil dengan topi jerami di kepalanya sedang bersandar di salah satu pohon sambil mengatur nafasnya yang terasa memburu.

"hah.. hahh.. aku berhasil kabur.. Shishishi." ucapnya senang melihat cincin emas ditangannya. Namun kesenangannya terganggu akibat suara gemerisik yang tidak jauh darinya. Ia pun segera menoleh ke sumber suara dan bisa ia lihat semak-semak di sampingnya terlihat bergerak tidak beraturan.

"G-Gawat!" ucapnya panik karena mungkin ada seseorang yang berhasil mengejarnya dan langsung bersiap untuk berlari kembali.

"Tunggu! Luffy!"

Seorang anak yang seumuran dengannya muncul dari balik semak-semak dengan tangan yang terulur untuk menahan anak yang bernama Luffy itu agar tidak kabur.

"Tidaak! Cincin ini punyaku!.. Eh?"

"Ini kami bodoh!" ucap seorang anak lain yang baru saja keluar dari balik semak-semak.

"Oh, Sabo! Ace! Shishishi." ucap Luffy sambil memeluk mereka dengan penuh gembira.

Bletak!

"ITTEE!.. Kenapa kau memukulku Acee!" seru Luffy tidak terima dan memelototi Ace yang menjitak kepalanya tiba-tiba.

"Dasar bodoh! Kenapa kau malah berlari ke arah mereka hah!" Ace memarahi Luffy yang selalu saja bertindak gegabah dan merepotkan dirinya dan Sabo.

Kini mereka berdua sama-sama saling memelototi dengan wajah yang berubah sangar. Sementara Sabo hanya menghela nafasnya lelah karena hal ini seringkali terjadi.

"Sudahlah kalian berdua. Luffy kau dapat tidak?" ucap Sabo segera melerai mereka sebelum perkelahian terjadi.

"Shishishi ini!" Luffy seolah lupa akan kejadian tadi dan dengan semangatnya menunjukan cincin yang berhasil dia dapatkan.

""Lumayan."" Tidak ada ekspresi ketertarikan sedikitpun diwajah Ace dan Sabo karena mereka berdua mendapatkan benda yang lebih mahal daripada Luffy. Mereka berdua pun akhirnya sama-sama menyeringai ketika memikirkan sesuatu yang menarik.

"Hohoho." Sabo mengeluarkan benda yang ia dapatkan yaitu kalung emas dengan bandul berlian lalu membawa benda itu ke depan wajah Luffy seolah sedang mengejeknya.

"Haha." Ace juga melakukan hal yang sama dengan menunjukan gelang emas yang dihiasi permata berwarna-warni.

Melihat hal itu cincin di tangan Luffy terjatuh tubuhnya menjadi lemas dengan mulut yang ternganga lebar. Ia begitu terpukul karena kalah untuk kesekian kalinya. "S-sial.." gumam Luffy dengan tangis putus asa.

"..." Ace dan Sabo hanya bisa sweatdrop melihat reaksi Luffy yang lebay menurut mereka.

"Yahahaha.. kalian lucu sekali."

Suara seseorang membuat mereka terdiam dengan sikap waspada dan saling membelakangi satu sama lain termasuk Luffy setelah melihat keseriusan di wajah dua saudaranya. Benda yang tadinya saling mereka pamerkan segera disembunyikan kembali.

"Tunjukan dirimu kalau berani!" seru Sabo melihat ke segala penjuru tetapi tidak menemukan siapapun, sedangkan Ace mengamati sekitarnya dalam diam.

"Ya, tunjukan dirimu sialan! Jangan bilang kalau kau ingin benda yang kami dapa–!"

Ace dan Sabo dibuat terkejut saat mendengarnya dan langsung membungkam mulut Luffy dengan sangat erat.

"Dasar bodoh! apa kau ingin kita dalam bahaya?!" Sabo menjadi panik dengan situasinya saat ini karena Luffy secara terang-terangan malah memberitahukan benda yang berusaha mereka sembunyikan.

"Kalau begini..." ucap Ace menggantung dengan nada serius.

"Ya." balas Sabo tidak kalah serius.

"Nani?" tanya Luffy tidak mengerti.

Swuuss

Tap

Seseorang bersurai pirang terlihat muncul dari ketiadaan di hadapan mereka bertiga disertai dedaunan dan angin lembut yang membuat jubah hitam miliknya ikut berkibar pelan. Ia adalah Naruto yang dari tadi mengawasi kegiatan mereka bertiga dari atas pohon tanpa diketahui oleh mereka.

"Yo, salam kenal." ucapnya santai sambil tersenyum tipis ke arah mereka bertiga yang terlihat mematung dengan mulut yang menganga dan mata yang berbinar melihatnya.

"SUGEE! S-SIAPA KAU!" teriak Luffy takjub dengan cara orang di depannya ini muncul.

"Cih." Ace mendecih kesal meskipun ia mengakui kalau orang asing itu memang terlihat keren.

Sabo yang merasa tidak tenang setelah kemunculan pemuda itu segera merangkul kedua saudaranya dan membisikan sesuatu, "Oi, kita gunakan formasi serangan kita."

"Benar, kita tidak bisa lari." balas Ace menyeringai melirik ke arah pemuda bersurai pirang yang berdiri tenang disana.

"Shishishi.. ayo kita kalahkan dia." ujar Luffy tanpa keraguan sedikitpun.

Mereka bertiga mengangguk bersamaan. Ace kemudian naik ke pundak Sabo sedangkan Luffy naik ke pundak Ace.

'Apa yang mereka lakukan?' Naruto hanya membatin dengan sweatdrop dikepalanya, apa mereka berniat bertarung dalam keadaan seperti itu?.

""TERIMALAH SERANGAN GABUNGAN MEMATIKAN KAMI!"" teriak Ace, Sabo dan Luffy yang membuat Naruto facepalm.

"haha, majulah."

Sabo merespon dengan berlari sekuat tenaga memangkas jarak dengan Naruto. Saat sudah berada dalam jangkauan serangnya, Ace langsung membantu memberikan dorongan untuk Luffy yang menjadi ujung tombak dari serangan mereka.

""ORYAAA!"" mereka berseru penuh percaya diri bertepatan saat Luffy mengayunkan pipa besi ke kepala Naruto.

Sementara Naruto yang melihat aksi mereka serta ujung pipa yang berjarak beberapa senti lagi sebelum mengenainya hanya tersenyum ringan karena gerakan mereka terlalu lambat baginya. Ia dengan santai memiringkan kepalanya.

""N-NANI?!""

Brukk!

Sabo, Ace dan Luffy melotot tidak percaya melihat pemuda bersurai pirang ini bisa menghindarinya dengan mudah. Alhasil mereka pun terjatuh karena kehilangan keseimbangan.

"Ittee.."

"Sabo kenapa kau malah membuat kita terjatuh!" kata Ace menyalahkan Sabo.

"Itu bukan salahku! d-dia menghindarinya!" bantah Sabo sambil menunjuk Naruto dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Konoyaro! aku hampir memukul wajahnya!" Luffy berguling-guling di tanah untuk meluapkan kekesalannya.

"Kalian.. saudara bukan?" tanya Naruto dengan senyum tipis yang tidak hilang diwajahnya. Melihat mereka bertiga entah kenapa mengingatkannya dengan dirinya yang dulu.

"YA!" hanya anak bertopi jerami yang menjawab dan sisanya hanya menganggukan kepala seolah setuju dengan yang dikatakan anak bertopi jerami itu.

"Begitu, ya.. namaku Naruto umur 9 tahun."

Setelah Naruto memperkenalkan dirinya, bisa ia lihat mereka bertiga menunjukan gelagat yang aneh, antara terkejut dan tidak percaya. Namun anak yang memakai topi jerami segera berdiri sambil menunjuk dirinya sendiri dengan jari jempolnya.

"KAIZOKU OU NI ORE WA NARU! Shishishi.. namaku Luffy umur 8 tahun!" kata Luffy dengan lantang.

'hoho.. Raja bajak laut.'

"Ace, 9 tahun." kata satu-satunya anak yang tidak memakai topi sambil melipat tangan di dada.

"Namaku Sabo, umur 11 tahun. ngomong-ngomong apa kau benar berumur 9 tahun?" ucap anak bertopi hitam dengan kacamata biru yang dililitkan sekaligus bertanya. Ia merasa tidak yakin setelah melihat tubuh orang yang bernama Naruto ini.

"Tidak usah dipikirkan. Aku hanya ingin bertanya, apa saja yang kalian ketahui tentang lautan." kata Naruto dengan senyum yang luntur dan kembali ke wajah datarnya. Ia bertanya serius karena percaya dengan mereka bertiga.


5 tahun kemudian

Tanpa terasa banyak hal yang telah Naruto lalui bersama Sabo, Ace dan Luffy selama beberapa tahun terakhir ini hingga Naruto berusia 14 tahun. Selama lima tahun ini ia menjadi mengetahui banyak hal tentang dunia ini. Bajak laut, Angkatan laut dan suatu lembaga misterius dibalik semua itu yakni Pemerintah dunia.

Selama itu juga ia menjadi mengetahui sedikit tentang kondisi geografis lautan dunia, dan sekarang Naruto berada di Pulau Dawn, East Blue tepatnya di desa Foosha. Ada cukup banyak orang yang ia kenal baik di desa itu, ditambah suasana damai yang ia dambakan membuatnya tidak akan pernah merasa bosan berada di sana.

Tidak hanya itu, penampilan Naruto pun juga sedikit berubah. Rambut pirang sebahu dengan bagian depan yang menutupi mata kirinya dan tinggi badan yang bertambah sedikit menjadi 170 cm.

'Waktu berlalu begitu cepat.' gumam Naruto dalam hati dengan lengkungan tipis disudut bibirnya. Ia memandang tenang lautan luas dan perahu kecil dihadapannya.

"Oii..! Aku yang akan menjadi Raja bajak laut! Shishishi."

Naruto menoleh mendengar suara cempreng itu, bisa ia lihat Luffy, Ace, Sabo, Dadan, Makino, bahkan kepala desa dan warga desa terlihat di sana hanya untuk mengantar kepergiannya.

"Ya! akan kutunggu kalian Ace, Sabo, Luffy. Dan untuk semuanya.. TERIMA KASIH!" ucap Naruto dengan membungkukan badannya untuk menutupi liquid bening yang menetes dari matanya.

Ketika Naruto kembali menegakan tubuhnya, ia lihat baik-baik pemandangan desa dan wajah dari orang-orang yang telah menemaninya selama 5 tahun ini. Ia tidak akan melupakan mereka dan tempat yang dianggapnya sebagai kampung halaman ini sampai kapanpun.

"Kalau begitu... aku pergi dulu, minna!" ucap Naruto sebagai salam perpisahan dan menaiki perahu kecilnya.

"Jangan lupa untuk datang ke sini lagi Naruto-san."

"Sampai jumpa Naruto!"

"Ace, kau menangis."

"B-baka! aku hanya kelilipan debu."

Naruto tak kuasa untuk tidak tersenyum mendengar pembicaraan mereka. Setidaknya ia merasa sedikit tenang karena memiliki tempat untuk kembali. Dengan tubuh yang menghadap ke depan, ia pun melambaikan tangannya kepada mereka.

.