Chapter_4

.

Angin berhembus kencang menggerakan helaian rambut Naruto yang tengah tertidur di atas perahu kecilnya. Tak lama, ia pun terbangun dan mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan kilauan matahari yang terbit di pagi hari. Merasa jika pandangannya sudah kembali cerah, Naruto kemudian melihat keadaan sekitar.

"Shit, seberapa luas lautan ini sebenarnya." umpatan secara spontan keluar dari mulutnya ketika menjumpai pemandangan yang sama, yakni lautan lepas.

"hah~ sudah tujuh hari, ya."

Akan tetapi rasa kesalnya langsung menguap ketika mengingat apa yang sudah di laluinya selama seminggu ini. Karena eksperimen yang memakan waktu hampir lima tahun lamanya, sudah mencapai tahap akhir dan sekarang hanya tinggal menguji coba hasilnya.

"Tou-san..." gumamnya sedih dengan tangan terkepal mengingat sosok Ayahnya yang bertempur mengandalkan teknik yang sudah ia kembangkan ini.

Naruto kemudian mendongakan kepalanya memandang hamparan langit sambil menghembuskan nafasnya secara perlahan, hingga berjam-jam telah berlalu hanya ia gunakan untuk melamun.

Saat pikirannya kembali jernih dan sadar kalau hari sudah semakin siang, ia pun langsung berkonsentrasi dengan chakranya pada suatu bidang yang ia lihat jauh di depan dan membayangkan rangkaian aksara fuin hasil modifikasinya.

"Baiklah.. ini dia." Naruto berujar optimis dengan aksara fuin yang terangkai sempurna dibenaknya.

[Hiraishin]

Sring!

Tepat setelah Naruto melepas sejumlah chakra pada jutsunya, ia dan perahu kecilnya langsung menghilang tertelan sebuah distorsi selama sepersekian milidetik dengan meninggalkan seberkas kilatan emas. Tanpa membutuhkan perantara apapun.


Di wilayah perairan lain dengan angin dan ombak yang hampir tidak terasa di tempat ini. Tercipta seberkas kilatan emas dari ketiadaan yang memunculkan Naruto beserta perahu kecil yang ditungganginya dalam waktu yang hampir bersamaan dari saat dirinya menghilang.

Ia membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali untuk memastikan kalau dirinya tidak salah melihat. Kini di sekelilingnya terdapat lautan dengan ombak yang lebih tenang dan angin yang berhembus pelan.

"Tidak diragukan lagi.."

"Ini.."

"Berhasil–!"

Blyuuuurrr!

Belum sempat Naruto merayakan keberhasilannya, sebuah gelombang air besar setinggi belasan meter muncul ke permukaan laut di hadapannya. Ia pun memandangi pilar air tersebut dengan pandangan malas karena tahu siapa penyebabnya.

Brasshh

Seekor belut berukuran tidak normal terlihat ketika air disekitar tubuhnya berjatuhan.

"GROOOAARH!"

Monster itu mengaum dengan keras yang mengakibatkan badai kecil disertai air liur yang beterbangan ke arah pemuda yang berdiri tegak di atas perahu kecil.

"Monster laut." sang pemuda yang tidak lain adalah Naruto bergumam datar dengan bibir yang membentuk garis lurus. Nafas monster itu membuat rambutnya berkibar dan memperlihatkan iris hitam kelam di sebelah kiri matanya.

Tanpa peringatan, belut raksasa itu melesat maju dan membuka rahang besarnya mengarah ke arah Naruto. Pandangan meremehkan terlihat di mata sang monster ketika melihat Naruto tidak bergeming sama sekali.

Buuummm!

Ombak besar pun tercipta ketika rahang besar itu dengan ganas menangkap Naruto beserta perahunya. Akan tetapi gerakan mulut monster itu berhenti dikunyahan yang ke tiga, karena tidak menemukan cita rasa apapun dari daging yang dia makan.

"GRROOOORH!"

Belut raksasa itu menggeram marah dan kembali mengaum dengan keras. Patahan kayu rusak yang tidak dia kunyah sampai halus, dimuntahkan olehnya.

"Kaze no kokyu..."

Shwuuss

Monster itu segera membalikan tubuhnya karena merasakan keberadaan yang mengancam. Akan tetapi sebelum dia sempat melakukannya, sebuah gelombang angin berbentuk bulan sabit yang lebar nan tajam melesat dengan kecepatan tinggi menembus pangkal lehernya begitu saja layaknya pisau memotong mentega.

Tanpa sempat bereaksi dengan apa yang terjadi, Monster itu mematung seketika dengan kepala yang terlepas dari tempatnya.

[Engetsu Giri]

Byuuurrrrr

Laut bergelombang dengan ombak yang menyapu ke segala arah ketika kepala belut raksasa itu terpisah dari badan dan terjatuh ke bawah.

Terlihat tebasan angin itu berasal dari Naruto yang saat ini tengah melayang di udara menggunakan manipulasi elemen angin yang membentuk tornado diseputar kakinya. Dan sebilah katana angin yang terkonsentrasi padat tergenggam di tangan kanannya.

Monster laut itu hanya berhasil memakan perahunya saja, karena Naruto sudah terlebih dahulu berteleport dengan Hiraishin menuju titik buta dan membuat sebilah katana dari chakra angin untuk melepaskan sebuah teknik yang ia ciptakan sendiri.

Sebuah teknik yang ia temukan pada waktu berlatih memanipulasi elemen angin lebih lanjut dan tidak ada seorang pun yang mengetahuinya bahkan Ace, Sabo dan Luffy sekalipun. Karena Naruto selalu berlatih seorang diri sejak pertama kali membuka mata di dunia ini.

Walaupun alasan sebenarnya dibalik semua yang Naruto lakukan karena rasa penyesalan yang tidak hilang di lubuk hatinya. Begitu menyakitkan hingga dirinya tidak ingin merasakannya lagi.

Mengapa dulu dirinya bertindak bodoh? Mengapa dirinya baru menyadari potensinya selama ini? tapi waktu yang telah berlalu hanya bisa dikenang karena mau bagaimana pun cara yang dilakukan, ia tidak akan bisa merubah masa lalu.

"Akan kucoba meneruskan impianku di dunia ini. Sebuah tempat dimana semua orang tertawa tanpa adanya beban." Naruto melihat kedua tangannya yang sudah melalui begitu banyak pertarungan sebelumnya.

'yah, itupun kalau aku tidak mati duluan.'

Ia dengan terpaksa segera mengakhiri acara bersantainya ketika insting terlatihnya mendeksi adanya bahaya.

Dan benar saja, sebuah pilar air naik ke permukaan namun kali ini jauh lebih besar dari sebelumnya dan pilar air tersebut berada tepat di bawah Naruto yang masih melayang di udara.

Splash!

"GROOOOAAGHH!"

Puluhan ton air bercipratan saat rahang raksasa itu terbuka lebar dengan taring besar nan tajam yang siap mengoyak mangsanya. Bahkan hanya di bandingkan dengan taringnya saja Naruto tampak sebesar ukuran semut.

[Hiraishin]

Naruto memutuskan untuk berteleport ke tempat yang agak jauh karena tidak sempat memikirkan cara lain ketika melihat monster laut sebesar itu. Kurang dari sedetik kemudian, Naruto kembali muncul di tempat lain dengan berpijak pada permukaan air. Jaraknya saat ini terpaut belasan meter dari monster laut yang tengah menerkam udara kosong.

"heh~ besar sekali.."

Dengan gerakan pelan, Naruto mengambil sebuah gulungan dari balik jubahnya. Dibukanya gulungan tersebut dan asap tipis tercipta mengeluarkan sebuah benda yang menunjukan identitas dirinya sebagai seorang shinobi, yakni Hitai ate. Ia melihat dengan pandangan sendu ikat kepala di tangannya, meskipun hanya tiruan tapi itu sudah cukup baginya.

Splash!

Namun, monster laut di sana sepertinya tidak ingin membiarkan dirinya bernostalgia. Ia pun segera memasang Hitae ate berlambang konoha tersebut di kepalanya.

"GRRRR!"

Monster raksasa itu langsung berenang dengan kecepatan tinggi setelah tubuhnya kembali ke permukaan air, disertai geraman berbahaya yang terdengar darinya.

Naruto yang melihat itu tentu tidak tinggal diam. Sebilah katana sepanjang 150 cm kembali terbentuk di tangan kanannya dan memasang kuda-kuda dengan kaki yang menyamping serta hembusan nafas yang begitu tenang.

"Kaze no Kokyu..."

Swinngg

Tanpa membuang waktu, Naruto langsung melesat dengan kecepatan yang melebihi laju lesatan peluru tanpa menimbulkan suara di langkah kakinya. Bahkan siluetnya pun sulit untuk diikuti mata biasa sampai-sampai hanya jejak riak air saja yang kelihatan.

Monster raksasa itu dibuat kebingungan melihat mangsanya menghilang dari penglihatan. Tanpa menyadari kalau mangsa yang dia cari-cari sudah berdiri tegak di atas tubuh besarnya.

[Kazeki Atari]

Jrass!

Naruto mengayunkan tangannya memotong sisik hingga menembus daging monster laut berukuran puluhan meter hanya dalam satu kedipan mata. Ayunan tangannya membawa hembusan angin hangat yang lembut namun mematikan.

Tanpa suara jeritan, kepala dari monster berukuran puluhan meter tersebut meninggalkan tubuh panjangnya.

"hmm, tidak buruk." Naruto menilai hasil dari teknik berpedangnya. Bisa ia lihat dua korban pertama tekniknya satu belut raksasa dan satu ular berkepala ikan, terpenggal dengan rapi.

Ombak mulai mereda dan angin kembali berhembus pelan. Air laut yang tadinya berwarna biru jernih berubah menjadi merah di area sekitar bangkai monster laut.

Blup Blup

Seolah tidak membiarkan Naruto beristirahat, air di dekat bangkai tersebut berada mulai bergejolak di ikuti kepala-kepala raksasa bersisik yang bermunculan ke permukaan air.

"Y-yang benar saja.."

Naruto menjadi lemas seolah kehilangan tenaga dengan apa yang dia lihat saat ini. Belasan, puluhan, bahkan ratusan monster laut mulai memenuhi tempat ini.

"Grrrr..."

"Khsss..."

Monster-monster itu mulai mendekat untuk berebut bangkai monster yang ada. Dan selang beberapa detik, setelah bangkai tersebut sudah habis mereka langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Naruto yang melayang di udara.

"Oh shit." Naruto mengumpat karena ketahuan ingin kabur. Melihat jumlah mereka yang terlalu banyak, ia tidak yakin mampu menghabisi mereka semua meski dengan all-out sekarang.

"GRROOOAAR!"

Naruto dipaksa untuk menghindar ke samping saat ada satu monster laut yang berhasil mencapainya.

"haa~.."

Terbesit di pikirannya untuk kembali menggunakan Hiraishin, akan tetapi ia kesulitan untuk berkonsentrasi terhadap suatu bidang yang jauh sebab ada begitu banyak yang mengganggunya. Bahkan ia saat ini tengah sibuk menghindar sambil membagi fokus dengan kontrol jutsu tornado terbangnya.

"Grrrrrhh..."

"yare yare..." sepertinya mau tidak mau ia harus memberikan mereka sebuah peringatan.

Skip Time

Hanyut terbawa arus di lautan. Itulah yang terjadi pada Naruto semenjak meninggalkan perairan East Blue. Ia terapung di permukaan laut seperti botol berisi kertas yang terombang ambing oleh ombak, dikarenakan perahu kecil yang ditungganginya sudah hancur akibat terjangan para monster laut yang memangsanya.

Jika melihat agak jauh ke belakang, terpampang pemandangan yang membuat siapapun bergidik takut dan sulit untuk mempercayainya. Puluhan, bahkan ratusan tubuh monster raksasa berbagai ukuran terapung dipermukaan air dalam kondisi yang terpotong menjadi beberapa bagian, bahkan ada yang tubuhnya masih utuh namun kepalanya hancur parah.

Darah mengalir deras dari tubuh mengenaskan monster-monster itu yang membuat air biru jernih disekitar menjadi semerah darah.

"hahh~ menyusahkan saja." gumaman datar terdengar dari korban sekaligus dalang atas kejadian tersebut ditengah kondisinya yang mengapung dipermukaan air laut dan terbawa arus ombak yang ada.

Meski begitu, tidak ada raut ketakutan sedikitpun yang terlihat darinya.

Dan kini, Naruto tengah berbaring seolah-olah air laut dibawahnya adalah hamparan rumput yang empuk, dan jika ada orang lain yang melihatnya sudah pasti akan menganggapnya seperti mayat yang hanyut di permukaan laut.

"hahh~" entah sudah keberapa kalinya Naruto menghela nafas hari ini, yang pasti ia merasa lelah dengan semua ini. Sudah tujuh hari ia berlayar, entah harus bersyukur atau tidak tapi inilah yang ia temui.

"Kenapa aku malah sampai di Calm Belt." ya, ia ingat pernah mendengar sedikit tentang perairan yang dipenuhi monster laut dan kini ia sudah membuktikannya sendiri.

Diliriknya kanan dan kiri, masih saja ada monster laut yang berkeliaran didekatnya namun kali ini mereka hanya lewat begitu saja setelah melihatnya. 'Mereka sudah belajar rupanya.' batin Naruto santai dan meluruskan pandangannya melihat hamparan langit biru cerah dengan awan yang bergerak pelan tertiup angin.

Ia terlalu lelah saat ini. Bahkan Hitae ate yang susah payah ia buat, sudah terjatuh menghilang entah kemana.. dan parahnya lagi dirinya baru sadar akan hal itu.

Ombak terus menghanyutkannya dengan Naruto yang hanya diam terlarut dalam pikirannya sambil menatap cakrawala dan dengan pasrah mengikuti kemanapun ombak membawanya, hingga setelah beberapa jam kemudian perhatiannya teralihkan menuju pesisir pantai serta hutan hijau lebat yang ia lihat di kejauhan.

"yah, sepertinya ombak laut ini sedang baik padaku." Naruto bergumam pelan sambil berenang menuju daratan yang ia lihat dengan lengkungan tipis disudut bibirnya.


Amazon Lily

Hiruk pikuk keramaian dari wanita-wanita yang berlalu lalang di jalanan, dengan hanya pakaian minim yang menutupi tubuh indah mereka. Tidak ada seorang pun lelaki yang terlihat di antara keramaian tersebut karena pulau ini dipimpin oleh seorang Ratu dan tradisi yang melarang adanya laki-laki sehingga tempat ini biasa disebut sebagai pulau wanita.

"Wah, aku mau yang ini."

Salah seorang diantara mereka memesan sebuah makanan yang dijual di kedai pinggir jalan dan setelah beberapa saat menunggu pesanannya pun akhirnya datang.

"Ini." sang penjual menyodorkan pesanan yang sudah matang kepada pelanggan.

"hihihi~ ikan bakar ini lucu sekali. Terima kasih." sang pelanggan menerimanya dengan gembira setelah membayar kemudian kembali berkumpul bersama teman-temannya.

"Maaf membuat kalian menunggu."

Beberapa wanita yang melihatnya datang sambil meminta maaf, segera menggelengkan kepala.

"Tidak apa-apa Margaret-san."

Wanita yang dipanggil Margaret terlihat tersenyum dan menyamakan langkah kakinya bersama teman-temannya.

"Hebihime-sama pasti sudah kembali, sebaiknya kita segera berkumpul untuk menyambutnya."

"Ya."

Mereka kemudian berjalan bersama sambil mengobrol ringan menuju ke sebuah bangunan yang paling megah di pulau ini, yaitu Istana Kuja.


Di sebuah ruangan yang luas nan elegan, seorang wanita cantik dengan surai hitam lurus yang tergerai indah duduk dengan anggun di kursi singgasana Istana, ditemani wanita bersurai hijau yang tergerai disebelah kirinya dan wanita besar bersurai oranye disebelah kanannya. Mereka adalah tiga bersaudara, Boa Hancock, Boa Sandersonia dan Boa Marigold.

Sementara didepan mereka bertiga berdiri seorang nenek tua bertubuh kecil dengan raut wajah yang terlihat serius.

"Hebihime-sama, apa yang terjadi." ia bertanya dengan khawatir sebab Hancock dan kedua saudaranya hanya diam saja setelah kepulangan mereka dari tugas Shichibukai.

"Nyon-baa, apakah terjadi sesuatu di pulau ini?" Hancock hanya mengabaikan pertanyaan dari nenek tua itu dan bertanya dengan nada yang terdengar cemas. Wajah cantiknya pun sedikit murung karena teringat dengan masa lalunya yang kelam.

""Onee-sama...""

"Pulau ini baik-baik saja, Hebihime-sama. Memangnya apa yang membuatmu sampai seperti ini?" Nyon menjelaskan situasi dan kembali bertanya.

"Sonia."

Mengerti dengan panggilan Kakaknya, Sandersonia mulai menceritakan tentang lautan Calm Belt didekat pulau ini berubah menjadi semerah darah dengan potongan dan bangkai ratusan monster laut yang mengapung memenuhi permukaan.

"Jika dilihat dengan teliti luka monster-monster itu masih mengeluarkan darah segar, yang artinya kejadian ini belum lama terjadi." Sandersonia mengakhiri ceritanya dengan menunjukan barang bukti berupa lempengan besi berlambang daun yang mereka temukan tergeletak diatas papan kayu yang terapung.

Nyon menahan nafas setelah mendengarnya dan dengan pelan menerima barang yang mereka temukan. Melihat keseriusan diwajah Sandersonia dan Hancock yang menjadi murung sudah cukup untuk membuatnya percaya.

"Simbol apa ini?" Nyon bergumam bingung karena baru kali ini ia melihat gambar yang ada di benda yang ia pegang.

"Entahlah.. Sonia, Mari kalian bawa pasukan dan sisir kawasan terluar pulau ini." perintah Hancock tegas.

""Baik Onee-sama!""


Di suatu tempat yang dipenuhi pepohonan lebat. Berjalan seorang pemuda dalam balutan jubah hitam berkerah tinggi yang menutupi leher sampai lututnya sehingga hanya kepala dan kakinya saja yang kelihatan.

Pemuda bersurai pirang itu melangkahkan kakinya dengan tenang dan santai untuk menikmati pemandangan alam di siang hari yang cerah ini. Surai pirang beserta jubah hitamnya berkibar pelan seirama dengan hembusan angin yang menerpa.

Tap

Akan tetapi, langkah kakinya terhenti ketika menemukan sebuah jalan setapak yang terlihat terawat dengan baik.

"Apakah ada orang di pulau ini?" gumam Naruto bingung dengan apa yang dia temukan. Namun ia tak mau mengambil pusing dengan hal itu dan melanjutkan langkahnya mengikuti jalan setapak yang ada.

Drap

Drap

Suara orang yang berlari terdengar semakin keras dari arah depan. Naruto yang sadar akan apa yang didengarnya kembali menghentikan langkah kakinya dan menunggu siapapun yang akan datang.

Tak lama kemudian di depan sana terlihat seorang wanita bersurai pirang sebahu yang berlari semakin cepat saat melihatnya dan juga ada seekor ular besar yang melingkar di leher wanita itu.

"Jangan lari kau penyusup!" serunya dari kejauhan.

"Ya!"

Naruto mengakui kalau dirinya memang datang seperti penyusup dan membalas singkat teriakan dari wanita itu. Bisa ia lihat wanita itu hampir saja terjatuh dan terlihat marah dengan menyiapkan anak panahnya. 'Apa aku salah bicara?'

Tap

Dan saat wanita itu berada tepat di hadapan sang penyusup, dia segera mengarahkan anak panahnya agar sang penyusup mau menurutinya secara baik-baik, setidaknya itulah yang ingin dia lakukan tetapi tubuhnya tidak merespon sama sekali.

'A-ada apa dengan tubuhku?!'

Wanita itu berdiri mematung dengan pipi yang merona begitu melihat dengan jelas wajah sang penyusup. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mata sejernih lautan yang terasa menghanyutkan dirinya.

Di sisi Naruto, saat ini ia hanya bisa menggaruk belakang kepalanya karena tidak mengerti dengan tingkah wanita yang tadinya ingin menangkapnya malah berdiri diam sambil menatapnya dengan wajah memerah. 'Ada apa dengan orang ini?'

Syut!

Sebuah lesatan anak panah dari seseorang menghancurkan suasana di antara mereka dan melaju dengan kecepatan angin mengarah tepat ke kepala Naruto. Namun orang yang menembakan anak panah tersebut dibuat kecewa ketika penyusup yang menjadi sasarannya dapat menangkap anak panahnya dengan mudah.

Ia pun kembali menembakan anak panahnya sebanyak tiga kali dan dapat ia lihat sang penyusup kembali menghindarinya dengan melompat ke belakang. Ia merasa khawatir saat melihat temannya yang berdiri kaku di sana dan langsung menghampiri wanita bersurai pirang sebahu itu selagi ada kesempatan.

"Margaret-chan!" serunya sambil menyentuh pundak temannya.

"Eh!"

Orang yang dimaksud nampak terkejut ketika ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya.

"Kau tidak apa-apa?"

Margaret segera tersadar dari lamunannya dan menjawab pertanyaan dari wanita bersurai hitam yang ada disampingnya. "A-ah Ran-san a-ku tidak apa-apa."

"Baiklah, tetap waspada." tegur Ran sedikit mengingatkan dan mengalihkan direksinya memandang tajam ke arah pemuda bersurai pirang yang terlihat tidak mau menyerang. 'Siapa dia?' ia merasa ada hal yang berbeda dari pemuda itu.

"A-angkat tanganmu! dan i-ikutlah dengan kami!" ucap Margaret dengan sedikit tergagap dan mengarahkan anak panahnya kepada pemuda pirang yang berdiri dihadapan mereka.

Naruto masih berdiri tenang melihat dua wanita dihadapannya yang mengarahkan busur mereka padanya, dan dengan sedikit malas mengangkat kedua tangannya setinggi kepala, "Baiklah."

Melihat penyusup itu yang mau menurut dengan damai, Ran pun segera mengeluarkan sebuah borgol.

"Berikan tanganm–eh?!" bentaknya dan langsung dibuat terkejut ketika penyusup itu kembali menurut tanpa mencoba memberontak sedikitpun tapi ia segera mengendalikan dirinya dan memasang borgol ke kedua tangan si penyusup.

"Kita mau kemana?" Naruto bertanya sambil mengekor di belakang mereka berdua dengan tangan yang terborgol.

"Diamlah dasar tidak tahu diri. Kau ini sekarang sudah jadi tahanan maka dari itu jangan banyak bicara!"

Ran tidak habis pikir bagaimana bisa pemuda ini bersikap santai seolah tidak terjadi apapun. Dilihatnya wajah tenang sang penyusup itu, namun entah kenapa ia merasa wajahnya tiba-tiba menghangat dan jantungnya berdetak lebih kencang. Ia merasa dirinya seolah tertarik untuk melihatnya dari jarak yang lebih dekat.

'A-apa yang kupikirkan?! Ran tenangkan dirimu, aku harus tetap waspada terhadapnya.'

Ran segera menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan hal aneh yang baru saja ia pikirkan. Ia teringat dengan pesan Sandersonia yang menyuruh semua anggota bajak laut Kuja untuk menyisir kawasan terluar pulau karena ada hal yang mencurigakan. Oleh karena itu ia tidak boleh lengah.

"Ran-san, ada apa?" tanya Margaret melihat temannya bersikap aneh. Ia berjalan dengan pandangan lurus kedepan tanpa menoleh sedikitpun kebelakang karena ketika ia melihat pemuda pirang itu, entah kenapa ia merasakan sesuatu yang berbeda dan dirinya belum siap dengan hal itu.

"Ah, tidak apa-apa. Ayo kita bergegas."

"Baik."

Dengan begitu Margaret dan Ran mempercepat langkah kakinya, namun merasa jika tahanan mereka masih berjalan lambat Ran kemudian sedikit menoleh kebelakang untuk memastikan, dan benar saja dia masih berjalan dengan santainya.

"Hei penyusup tidak tahu diri! Jalanlah lebih cepat!"

"ya, ya."

Naruto meski dengan perasaan enggan, ia segera menyamakan langkah kakinya dengan dua wanita didepannya. Di tempat yang baru ini dirinya sadar harus mengambil keputusan dengan hati-hati dan damai tanpa seorangpun yang tersakiti adalah pilihan terbaik.

Drap

Drap

Drap

Dahi Naruto mengernyit seketika, saat melihat wanita-wanita itu berjalan semakin cepat sampai-sampai mereka berdua tengah berlari saat ini.

""Hei penyusup cepatlah!"" seru Ran dan Margaret hampir bersamaan tanpa menoleh ke belakang.

'Apa-apaan.. mereka berniat menangkapku atau tidak?' bisa Naruto lihat kedua wanita itu sudah berada cukup jauh di depan. Ia merasa sedang sial hari ini dan dengan terpaksa ikut mempercepat langkah kakinya karena hanya mereka berdua orang yang ia temui di pulau ini.

""hihihi~""

"Cih."

Tawa halus menggema di dalam hutan. Dengan Margaret dan Ran yang berlarian di bawah teriknya matahari dihiasi senyum yang mengembang diwajah mereka, bersama Naruto yang terlihat seperti sedang mengejar mereka berdua.

.


Info seni pedang Naruto

- Kaze no Kokyu : Engetsu Giri/Tebasan bulan sabit

- Kaze no Kokyu : Kazeki Atari/Hembusan angin musim semi

Seperti yang kalian ketahui saya mengambil sedikit unsur KnY dan karena saya ga terlalu hapal jadilah saya buat jurus karangan sendiri.