Chapter_5

.

Kerajaan wanita, adalah kerajaan yang terletak di puncak tertinggi gunung yang berada di tengah hutan pulau Amazon Lily. Gunung tersebut memiliki lubang besar dimana menjadi tempat berdirinya Kerajaan dan desa yang dikelilingi benteng di tepian kawah gunung.

Di kaki gunung tersebut, tepatnya di depan pintu masuk menuju kerajaan dan desa, terlihat empat orang wanita dengan ular di masing-masing pundak yang tengah membincangkan sesuatu.

"Aphelandra, Daisy apa kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan?" Sweet Pea, wanita berperawakan besar dengan rambut yang dikuncir ke atas bertanya kepada wanita berbadan paling tinggi yang memakai topi berlambang bajak laut Kuja.

"Ya, di pesisir lautan pulau ini aku dan Daisy melihat banyak sekali bangkai monster laut yang terbawa ombak, padahal lautan Calm Belt ini seharusnya hampir tidak ada ombaknya." wanita yang dipanggil Aphelandra memberitahukan hasil patrolinya bersama wanita berambut oranye tebal yang sedang duduk di sebelahnya.

"Bagaimana dengan kalian?" tanya Daisy kemudian, kepada dua wanita yang berperawakan besar.

"Maaf kalau mengecewakan kalian, kami tidak menemukan apa-apa.." Sweet Pea menjawab lesu sementara wanita di sebelahnya yang bernama Cosmos hanya menjawab dengan gelengan kepala sambil memakai kembali topi bajak laut Kuja yang baru saja dia bersihkan dari debu.

"Begitu, ya. hanya tinggal menunggu informasi dari Margaret dan Ran yang belum terlihat."

Setelah mereka memutuskan untuk menunggu, mereka hanya terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing, hingga Daisy berinisiatif untuk memecah keheningan dengan menyuarakan apa yang ada dipikirannya.

"Apa kalian tahu siapa orang yang sudah membunuh monster laut sebanyak itu?"

Aphelandra, Sweet Pea dan Cosmos lantas menggelengkan kepala karena tidak tahu siapa gerangan orang yang dengan nekatnya bertarung di tengah lautan Calm Belt. Bahkan bajak laut penghuni pulau ini yang biasa melintas dan sudah masuk ke dalam jajaran Shichibukai masih memerlukan bantuan Raja laut bernama Yuda, jenis monster laut paling beracun hingga monster lain pun tidak berani mendekat.

Jika bajak laut lain atau angkatan laut sudah pasti akan berpikir dua kali untuk mengarungi lautan Calm Belt, kecuali membawa sesuatu yang dapat melindunginya dari serangan monster laut atau dengan memiliki kekuatan yang besar.

Karena hal tersebut, sebuah pertanyaan yang serupa timbul di kepala mereka masing-masing, "Apakah orang itu masih hidup?"

Mereka khawatir kalau pelaku tersebut masih hidup berarti dia bukan orang sembarangan dan akan menjadi ancaman berbahaya bagi ketentraman pulau.

Drap

Drap

Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat dan sontak saja mengalihkan perhatian mereka berempat.

"Ada yang datang."

Mereka berempat mengangguk bersamaan dan mengambil posisi siaga dengan ular masing-masing yang di rubah menjadi busur.

Tak lama kemudian, dari dalam lebatnya hutan keluar dua orang wanita yang tengah berlari dari kejaran orang yang baru kali ini mereka lihat, dengan kata lain seorang penyusup!

"Margaret! Ran! Menunduk!"

Aphelandra langsung mengambil tindakan dengan mengarahkan anak panahnya ke arah si penyusup. Sweet Pea, Daisy, Cosmos juga segera bertindak dengan anak panah yang siap dilesatkan.

"Tunggu dulu, minna! Dia datang secara damai!"

Ucapan dari Margaret tak lantas membuat mereka berempat tenang dan masih dengan posisi yang sama. Melihat Ran dan Margaret yang tidak mau menyingkir, mereka pun terpaksa untuk menunggu sampai Ran dan Margaret menjauh dari sang penyusup.

Tap

Sesampainya Ran dan Margaret di tempat Aphelandra berkumpul, mereka berdua langsung menahan mereka berempat yang ingin bergerak membunuh pemuda pirang dibelakang dan menjelaskan situasi jika penyusup yang mereka bawa di sana datang dengan damai.

Mendengar penjelasan tersebut dan melihat kondisi mereka berdua tidak terluka sedikitpun Aphelandra, Sweet Pea, Daisy, Cosmos akhirnya percaya meski belum menurunkan kewaspadaan karena ada hal yang mengganggu dipikiran mereka.

Sweet Pea mendekat dan bertanya dengan suara pelan agar tidak terdengar si penyusup, "Apa kalian belum melihat keadaan di pesisir pantai? Orang yang kalian bawa itu berbahaya karena dia pasti pelakunya." ia berkata demikian karena kemunculan orang asing itu bertepatan dengan keresahan yang sedang terjadi di pulau ini.

Ran dan Margaret mengernyitkan dahi lalu menggeleng bersamaan, ""Belum.""

Aphelandra menghela nafas karena sudah menduganya dan kemudian menjelaskan tentang bangkai monster laut yang tanpa sebab yang pasti terbawa oleh ombak hingga ke tepi pantai.

Sementara dengan si penyusup yang tidak lain adalah Naruto. Ia saat ini hanya bisa berdiri diam dengan tangan masih diborgol karena mereka semua tengah asik mengobrol dan mengabaikan keberadaannya.

Khryuuuk

Namun, perutnya tiba-tiba bergemuruh seolah mengingatkannya kalau hari ini dirinya belum makan apa-apa. Akibat suaranya cukup nyaring, Naruto merasa seluruh pasang mata kini melihat ke arahnya.

"Etto... apa kalian memiliki makanan? Tenang saja aku pasti akan membayarnya." Naruto merasa agak malu karena perutnya berbunyi di saat yang tidak tepat.

Namun reaksi yang Naruto dapatkan justru membuatnya merinding, mereka berenam tidak mengindahkan perkataannya dan malah menatapnya dengan pandangan menyelidik dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, kecuali dua wanita yang membawanya ke sini menatapnya dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Tawa halus yang terasa mengejek terdengar dari mereka.

"Apa." Naruto menjadi sedikit kesal karenanya.

"Ne, siapa kau?" tanya Aphelandra.

"Naruto."

"Kenapa kau tidak memiliki gumpalan yang empuk seperti kami?" tanya Daisy sambil memegangi dadanya.

"Jelas tidak karena aku laki-laki." balas Naruto cepat sambil mengalihkan pandangan. Ia adalah laki-laki normal yang pasti akan tergoda dengan pemandangan wanita-wanita di hadapannya yang hanya memakai dalaman, apalagi salah satu dari mereka malah memainkan dadanya sendiri tepat di hadapannya.

Untung saja dirinya bukan laki-laki rendahan dan Naruto yakin pengalaman semasa hidupnya bukan untuk hal-hal seperti ini, oleh karena itu ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan membuang pikiran kotor yang baru saja melintas.

""APA!""

Naruto mengernyit melihat mereka seterkejut itu setelah mengatakan kalau dirinya seorang laki-laki. Ada yang aneh dengan ini.

"Ada apa dengan laki-laki?" Naruto bertanya penasaran.

"Pulau ini melarang adanya laki-laki! Siapapun yang melanggarnya akan di hukum dengan berat. B-bagaimana ini?" jelas Ran dengan panik.

"Kalau begitu kita harus membunuhnya sebelum Hebihime-sama mengetahuinya." kata Sweet Pea memberikan solusi dan didukung oleh yang lainnya kecuali Ran dan Margaret yang nampak tidak setuju.

"J-jangan! kita pikirkan jalan lain saj–?!" Margaret dengan segera menutup mulutnya dengan kedua tangan karena dirinya mengatakan hal barusan secara tidak sengaja. 'Uhh... dasar mulut bodoh.'

"Jangan bodoh, apa kau ingin kita semua mati, Margaret?!" bentak Cosmos.

"T-tapi–"

"Tunggu sebentar, Nona sekalian." ucap Naruto memotong pembicaraan dan dengan tangan yang masih terborgol berjalan mendekat ke arah mereka berenam. Ia tidak suka ini, "Hukuman apa yang kalian maksud sampai bisa mengancam nyawa kalian? dan kau terima kasih sudah mencoba melindungiku, tapi itu tidak perlu." lanjut Naruto yang kini sudah berdiri di samping Margaret.

"E-eh?! A-aku tidak b-berusaha melindungimu!" Margaret nampak tersentak ketika menyadari Naruto ada di sampingnya dan dengan terburu-buru ia menjauh dari Naruto dan bersembunyi di belakang tubuh Aphelandra yang nampak kebingungan. Sedangkan Ran yang melihat mereka hanya mendengus dengan sebal.

Aphelandra, Daisy, Sweet Pea, Cosmos terheran melihat sikap Margaret dan Ran yang terlihat berbeda dari biasanya meskipun Ran masih terlihat tegas tapi mereka tahu ekspresi di wajahnya tidak berbeda jauh dari Margaret.

Tetapi mereka berempat mengesampingkan hal itu karena situasinya sedang tidak tepat dan sama-sama memperhatikan Naruto yang terlihat santai dengan aura menenangkan yang terpancar darinya. Melihat sikap sang penyusup yang seperti itu, merekapun akhirnya menarik kembali senjata mereka.

Naruto menjadi malu karena sepertinya dirinya terlalu percaya diri lalu berdehem pelan untuk memperbaiki sikap. "Ekhem, jadi..?"

Aphelandra, Ran, Daisy, Cosmos, Sweet Pea, Margaret saling memandang ke arah satu sama lain sesaat, lalu mengangguk bersamaan.

"Hebihime-sama tidak segan menghukum siapapun tanpa pandang bulu. Bagi siapapun yang terlihat bersama laki-laki maka laki-laki itu harus di bunuh dan wanita yang bersamanya akan di hukum." Ran menjelaskan secara garis besar.

"Dengan kata lain, hanya ada wanita di pulau ini." singkat Naruto dan dibalas dengan anggukan kepala oleh mereka berenam.

"Baiklah, kalian tidak perlu khawatir di hukum dan cukup ikuti apa yang akan kukatakan."

"Bagaimana kami bisa mempercayaimu?"

Terlihat jika tidak hanya Cosmos saja yang meragukan kemampuan Naruto. Aphelandra, Sweet Pea dan Daisy juga sama, kecuali Ran dan Margaret yang menaruh harap pada Naruto.

Pyar!

Mengerti mereka meragukannya, Naruto hanya mengendikan bahu tidak peduli dan melebarkan tangannya bersamaan dengan borgol di tangannya yang hancur layaknya kaca yang pecah.

"K-kuat sekali." gumam Aphelandra takjub.

"B-baiklah kami percaya." Cosmos menarik kembali kata-katanya.

"Bagus..."

Roda di otak Naruto berputar dengan cepat menyusun berbagai rencana. Jalan paling aman adalah dirinya menyamar dengan jutsu Oirokenya, akan tetapi ia terlalu malas dengan rencana ini karena dirinya merasa seperti orang bodoh dan pasti akan di cap sebagai orang mesum atau orang jadi-jadian oleh mereka. Kalau begitu ia akan menggunakan rencana lain.

"Dengarkan baik-baik–"

Namun, Naruto segera menghentikan kalimatnya karena mengingat kondisi perutnya sedang meronta kelaparan, "Tapi sebelum itu, bisakah kalian memberikanku makanan?" lanjut Naruto sambil mengeluarkan sebuah kantung kecil lalu ia lempar acak ke arah mereka.

"E-eh!"

Margaret terkejut karena kantong tersebut terlempar padanya lalu berusaha menangkapnya dengan sedikit gugup.

Aphelandra dan yang lainnya melihat penasaran ke arah benda yang ada di tangan Margaret. Saat Margaret membukanya, terlihatlah kepingan koin emas yang berjumlah sekitar dua puluh.

Naruto tersenyum canggung melihat mereka hanya terdiam, sepertinya jumlahnya terlalu sedikit di pulau ini.

"Maaf, hanya segitu yang kupunya saat ini."

"Ti-tidak, ini terlalu banyak Naruto-san." Margaret segera membantah melihat wajah Naruto terlihat murung. Ia berkata jujur karena satu koin emas saja, sudah bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup selama satu minggu di pulau ini.

"Kau yakin ingin menyerahkan uang sebanyak ini? Bukannya hanya ini uang yang kau miliki?" Ran merasa tidak tega melihat kondisi pemuda misterius itu.

"Ck, ambil saja uang itu dan bawakan saja aku makanan." Naruto langsung duduk dan memandang mereka dengan tajam.


Arena Persidangan

Seluruh penduduk pulau menjadi ramai membincangkan topik hangat yang baru-baru ini beredar tentang ditemukannya ratusan bangkai monster laut yang mengambang dipermukaan air dan sebagian besar bangkai tersebut terbawa arus ombak hingga ke pesisir pantai pulau ini.

Mereka semua merasa marah dan senang ketika mendengar kabar pelaku yang mencemari pantai indah rumah mereka sudah tertangkap dan akan di eksekusi secepat mungkin.

Penduduk yang semuanya terdiri dari wanita tersebut berbondong-bondong menuju ke Arena persidangan dengan berbagai macam ekspresi, bahkan ada beberapa yang membawa makanan ringan, namun yang pasti banyak diantara mereka membawa ular besar di pundak.

Dalam waktu singkat, podium penonton sudah dipenuhi oleh para wanita yang ingin melihat secara langsung siapa pelaku itu dan bagaimana dia di eksekusi.

Seluruh penonton melihat dengan pandangan penuh harap ke pusat arena dimana terdapat podium khusus yang terhubung langsung dengan lapangan eksekusi. Podium khusus tempat sang Ratu dan dua saudaranya menonton eksekusi sedangkan podium penonton biasa berada di pinggiran terpisah dengan jembatan yang dibawahnya terdapat jurang berisikan jarum tajam yang tak terhitung jumlahnya.

Sorakan dan teriakan jatuh cinta dari warga pulau terdengar riuh ketika melihat sang Ratu yang memiliki kecantikan tidak tertandingi berdiri dari tempat duduknya.

""KYAAA! Hebihime-sama~!""

Boa Hancock tersenyum singkat dan saat itu juga banyak dari penonton yang ambruk dengan wajah merah dan juga asap yang mengepul dari ubun-ubun. Ia lalu mengangkat sebelah tangannya menyuruh penonton untuk diam.

Seluruh penonton yang ada langsung mengerti dan mereka semua langsung diam tanpa banyak bicara lagi. Keheningan pun tercipta hanya dengan gerakan tangan.

"Selamat datang di arena eksekusi, kali ini kita kedatangan tamu tak diundang yang dengan lancang merusak pemandangan di pulau ini." Boa Hancock mulai menyampaikan pesannya, dia berbicara dengan tegas dan terdengar jelas bagi setiap penonton.

"Oleh karena itu, orang berbahaya ini harus di hukum berat atas tindakannya. Kalian sudah tidak sabar ingin menyaksikannya bukan?"

""YA!!"" jawaban yang terdengar penuh amarah menggema di seisi arena.

"Habisi dia!"

"Jadikan dia makanan monster laut!"

"Penggal saja kepalanya!"

Boa Hancock tidak bisa menahan seringaiannya saat melihat antusiasme dari para warga. Dengan ini rasa cemas yang ia rasakan sebelumnya, sudah menghilang karena orang yang membantai monster laut itu sudah tertangkap dan ia akan melihat identitasnya sebentar lagi.

"Kalau begitu..."

".. Prajurit! Seret orang itu ke dalam!" perintah Hancock tegas tanpa menutupi seringainya dengan diiringi sorakan meriah dari para penonton.

Cklek!

Kriieet!

Gerbang utama arena terbuka, semua pasang mata terpusat ke arah dimana terdapat dua wanita yang membawa seseorang tak dikenal. Setelah sosok mereka melewati gerbang, kini terlihatlah Aphelandra bersama Sweet Pea yang datang bersama seseorang berjubah hitam dengan kepala tertutupi karung menuju ke tengah arena.

"Siapa orang itu? Aku tidak pernah melihatnya."

"Yang pasti dia adalah penjahat! kita lihat saja apakah dia bisa bertahan atau tidak."

"Ngomong-ngomong apa kalian mau bertaruh?"

Sorakan penonton terdengar semakin meriah. Semua pasang mata menanti dengan tidak sabar siapa gerangan yang ada dibalik penutup kepala tersebut.

Aphelandra dan Sweet Pea membungkuk hormat setelah sampai di hadapan Boa Hancock, menunggu perintah.

"Hm, kalian boleh pergi."

""Baik, Hebihime-sama.""

Boa Hancock menatap dengan angkuh lalu menyuruh Boa Sandersonia dan Boa Marigold untuk mengatur jalannya eksekusi, sementara dirinya kembali duduk dengan elegan sambil berpangku tangan, dan mengawasi sosok yang berada ditengah lapangan arena.

"Sonia, Mari.. buka penutup kepalanya."

Boa Hancock memerintah dengan di ikuti sebuah senyuman indah diwajahnya dan membuat seluruh penonton kembali meriah dengan sorakan yang berpaling memuji kecantikan Boa Hancock.

""Baik, Onee-sama.""

Sandersonia dan Marigold pun berjalan menuruni tangga sampai ke tengah lapangan, kemudian membuka karung dikepala seseorang berjubah hitam yang berdiri dengan bertumpu pada lututnya sedangkan tangannya terikat ular dibelakang.

Set!

"ah haha... halo nona-nona." Naruto tersenyum canggung saat mengetahui seluruh pasang mata warga pulau ini tertuju padanya.

""N-NANI?!""

"Tunggu sebentar! Dia adalah, laki-laki!"

Teriakan dari nenek Nyon membuat seluruh penonton serentak menahan nafas. Mereka semua memandang dengan takut saat melihat sang Ratu kembali berdiri dari tempat duduknya, karena kali ini ekspresi yang ada diwajah cantiknya bertolak belakang dari sebelumnya.

Boa Hancock maju beberapa langkah. Tertangkap di matanya sesosok pemuda bersurai pirang yang memakai jubah dengan bawahan celana panjang compang camping dan terlihat tidak memiliki niatan hidup. Ia tidak bisa melihat wajah pemuda itu karena tertutupi oleh bayangan rambutnya.

"Laki-laki, aku akan bertanya padamu.." Hancock menjeda kalimatnya. Dilihatnya pemuda yang berlutut di tengah arena dengan pandangan merendahkan. Ia merasa kurang yakin kalau pemuda itu adalah dalang dibalik tewasnya ratusan monster laut, tapi ia harus memastikannya terlebih dahulu.

"Bagaimana kau bisa sampai di pulau ini?"

Naruto menoleh melihat seseorang yang bertanya padanya, tanpa disangka hal itu membuat pandangan matanya bertemu dengan iris biru gelap yang melihatnya dengan pandangan merendahkan.

'Jadi, wanita itu yang mereka panggil hebihime. Dia terlihat angkuh.'

Bisa Naruto lihat wanita yang saat ini tengah menatapnya memiliki tubuh proporsional dengan rambut hitam panjang melewati pinggang lebarnya.

Brakk!

Marigold membenturkan gagang tombaknya ke lantai, "Cepat jawab pertanyaan dari Onee-sama!"

"Ssst~Apa kau takut? Ne, shounen~" desis Sandersonia mengejek.

Perhatian Naruto beralih dengan melirik dua wanita yang ada di dekatnya, mendengar panggilan onee-sama barusan ia menjadi paham kalau mereka bertiga ternyata adalah saudara.

"Ah, aku hanya tidak sengaja tersesat saat sedang menangkap ubur-ubur." sepertinya ia sedang dijadikan tersangka kali ini seolah dirinya telah melakukan kejahatan yang begitu besar, ia tahu itu karena peraturan aneh yang melarang adanya laki-laki di sini.

"T-tidak sengaja?!"

"Menangkap ubur-ubur?!"

Seluruh penonton menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Dasar pembohong, kau pasti punya tujuan, kan?" Hancock kembali bersuara, setelah kembali duduk di atas ular berwarna putih dan merah muda yang ia jadikan seperti kursi.

"Entahlah." Naruto menjawab singkat sambil menegakan tubuhnya.

"Laki-laki itu berdiri!"

"Apa yang ingin dia lakukan?"

Seluruh penonton menatap antusias karena baru kali ini mereka melihat makhluk yang bernama laki-laki.

"Hmph, semua laki-laki sama saja." Hancock bergumam pelan, namun apa yang ia katakan masih bisa didengar oleh Naruto.

""Onee-sama.""

Berbeda dengan Hancock yang terlihat menikmati suasana, Sandersonia dan Marigold justru merasa geram dengan tingkah santai pemuda ini.

.

.


Sedikit penjelasan. Sejauh ini Naruto masih berusia 14 tahun dan Luffy 13. Naruto udah berlayar duluan dan Luffy masih nunggu 4 tahun lagi karena janjinya yang akan berlayar saat genap 17. Aslinya sih nanti entah di ch berapa akan ada penjelasan tapi ya saya kasi tau sedikit biar anda sekalian kagak miss dengan alur cerita.

Saya sadar banyak typo di fic saya ini apalagi di ch awal. Jadi kalo ada yang ingin mengutarakan kritikan yang kalian pendam selama ini silahkan tulis aja di reviw, semakin ngegas akan membuat saya semakin terhibur hehe.

Sekian dan Terima kasih