Against the World
Disclaimer : Naruto and One Piece is not mine
Chapter_6
.
Naruto berdiri tenang dengan ekspresi khasnya sambil menatap sekeliling melalui lirikan mata, bisa ia lihat beberapa wanita yang telah membawanya sampai ke sini terlihat duduk manis di bangku penonton.
Flashback
"Ahh.. Sudah lama aku tidak makan sampai sekenyang ini."
Naruto menepuk-nepuk perutnya yang agak membuncit. Di sekitarnya, berserakan tulang belulang sisa dari hidangan yang baru saja dia makan dengan rakus. Ia pun terkekeh lucu saat mengingat kapan terakhir kali makan sebanyak ini, yang kalau tidak salah pada saat dirinya bersama tiga bocah bersaudara yang memiliki impian menjadi bajak laut.
"Syukurlah kau sudah kenyang Naruto-san." Margaret tersenyum lebar melihat wajah senang Naruto. Walau awalnya sempat canggung tapi akhirnya ia sudah mulai bisa membiasakan diri saat berada dekat dengan pemuda itu.
"Seorang laki-laki ternyata makannya sebanyak ini." gumam Aphelandra merasa takjub.
"Kau, menghabiskan 3 ekor monster babi hutan seorang diri.." Ran menelan ludah kasar melihat nafsu makan Naruto yang mengerikan.
"Woah, apa semua laki-laki sama sepertimu?" tanya Daisy.
Mendengar pertanyaan tersebut, spontan saja ke lima wanita yang lainnya memandang penasaran menunggu jawaban dari Naruto yang saat ini tengah tertawa hambar.
"yah, entahlah aku hanyalah seorang laki-laki biasa. Bukankah lebih baik kita segera bertindak sebelum ada prajurit lain yang datang?"
Perkataan dari Naruto sukses mengingatkan Aphelandra, Ran, Daisy dan Margaret dengan situasi yang sedang terjadi di pulau.
"Hmhm."
"Benar juga."
Mereka pun sama-sama menganggukan kepala dengan kecewa, sedangkan Sweet Pea dan Cosmos terlihat tidak terlalu peduli dengan hal itu.
Naruto akhirnya bisa bernafas lega karena sudah berhasil mengalihkan pembicaraan kembali ke topik semula. Sebenarnya ia bisa saja pergi dari sini kapanpun ia mau, tapi keinginannya untuk menjelajahi tempat baru membuatnya mengurungkan niat tersebut. Dan tanpa berlama-lama lagi, ia memulai rencananya bahwa ada satu atau dua wanita yang akan pergi untuk melaporkan kemunculan penyusup yang telah tertangkap dan dua wanita lain memberitakan kepada warga, sementara dua sisanya akan menjadi pengawalnya.
Flashback end
Melihat mereka sudah berada di sana, sepertinya ia tidak perlu khawatir kalau mereka akan mendapat hukuman. Naruto kembali beralih menatap Boa Hancock yang terlihat duduk dengan anggun sambil berpangku tangan. Sekarang, hanya tinggal menyelesaikan kesalahpahaman ini.
"Apa yang kalian inginkan dariku?" tanya Naruto sambil melihat bergantian ke arah Sandersonia dan Marigold.
"Kau pasti sudah tahu apa kesalahanmu, kan." Hancock membalas sambil menyibak rambut panjangnya dengan gerakan yang dibuat imut hingga memperlihatkan leher jenjangnya. Hal itu kembali mengundang tatapan nafsu dari seluruh penonton.
""KYAA!! Daisuki Hebihime-sama~!""
Lagi, sorakan penonton yang tergila-gila dengan kecantikan Boa Hancock menggema di seisi arena. Semua wanita di pulau ini nampaknya jatuh cinta dan memuja Boa Hancock. Akan tetapi hal itu tidak berdampak apapun pada Naruto, ia menatap datar iris biru gelap yang saat ini beradu tatapan dengannya.
'Sudah kuduga, aku tidak terlalu mengerti tentang perasaan wanita.' batin Naruto tidak ambil pusing dengan teriakan histeris seluruh wanita yang duduk di bangku penonton.
Boa Hancock yang menyadari pemuda pirang itu tidak terpesona dengan kecantikannya tentu saja merasa amat syok. Dilihatnya dengan teliti iris saphire tanpa ekspresi itu terasa seperti lautan dalam yang hampa, tidak ada rasa nafsu dan bahkan rasa ketertarikan terhadap lawan jenis saja tidak ada. Bagi dirinya yang sudah paham betul dengan sifat asli laki-laki, seharusnya pemuda itu akan bertekuk lutut setelah melihat pesona kecantikannya.
Namun, sesuatu yang ia lihat dari pemuda itu bertolak belakang dari apa yang ia ketahui selama ini. Hancock menyentuh dada bagian kirinya, dimana ia mendapati jantungnya berpacu tidak seperti biasa. Mungkin saja ia seperti ini karena sedang bersemangat? tapi karena apa?. Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul dibenaknya.
Alis Naruto terangkat sebelah menyadari sikap dari Boa Hancock sudah tidak se-angkuh pertama tadi. Ia mengakui kalau wanita itu memang cantik tapi ingatan tentang gadis dari clan Hyuga yang selalu bersikap aneh membuatnya sadar kalau wanita tidak sebatas penampilannya saja.
'yah, mungkin hanya Hinata saja gadis yang baik padaku di konoha.' Naruto terkekeh pelan mengingat masa lalunya yang terlalu konyol.
"Onee-sama, apa yang akan kita lakukan pada laki-laki ini?" Marigold membuka suara karena Kakaknya hanya diam saja dengan sikap yang sedikit aneh.
Hancock memijit keningnya sesaat. Melihat Sandersonia dan Marigold masih berdiri di arena, ia kemudian menyuruh mereka untuk kembali duduk di dekatnya.
"Sonia, Mari, kembali ke sampingku."
""T-tapi Onee-sama..."" Sandersonia dan Marigold tidak melanjutkan kalimatnya ketika melihat tatapan Hancock yang mengatakan tidak ingin dibantah. Mereka berdua melirik pemuda pirang itu sesaat, sebelum berjalan kembali ke tempat duduk dengan helaan nafas pasrah.
""Baik, Onee-sama.""
'Hmm?' Naruto melihat dengan rasa bingung yang tertahan.
"Ne, siapa namamu?" tanya Hancock sambil berusaha kembali ke sikap tenangnya.
"Aku?"
"Hm."
"Naruto."
Setelah mengetahui nama dari laki-laki yang baru kali ini ia temukan, Hancock kemudian berdiri dari tempat duduk dan melangkahkan kakinya yang beralaskan sepatu hak tinggi berwarna merah cerah dengan langkah yang begitu anggun dan elegan. Ia mengenakan blus merah lengan panjang yang tidak mampu menutupi bongkahan dada oversizenya. Aura feminim khas kecantikan seorang wanita terpancar begitu kental darinya sampai membuat semua pasang mata tidak mampu mengalihkan perhatian ke arah lain. Semua penonton menatap dengan jantung berdebar apa yang hendak Ratu lakukan.
"Onee-sama?"
"Apa Onee-sama ingin turun tangan langsung?"
Hancock hanya mengabaikan panggilan dari kedua Adik kesayangannya, masih melanjutkan langkahnya menuruni tangga hingga berada di lapangan dan baru berhenti saat sampai di depan Naruto. Ia kemudian membusungkan dadanya, membuat dua gumpalan lembut yang menempel di sana terlihat semakin sempurna lalu menyatukan kedua tangannya membentuk hati mengarah pada Naruto.
'Aku tidak akan percaya ada laki-laki sempurna di dunia ini. Jadilah batu, dasar menjijikan.' mata lentiknya memandang sinis pemuda pirang yang juga sedang menatapnya dengan alis terangkat.
"Uwaahh~ Hebihime-sama cantik sekali!"
"Tamat sudah riwayat laki-laki itu."
"Sayang sekali."
Semua penonton terlihat menikmati apa yang akan Hancock lakukan. Hanya beberapa wanita saja yang memandang khawatir dengan apa yang akan terjadi seterusnya.
Margaret yang melihat Naruto dalam bahaya segera berdiri dan melompat ke lapanga–
Grep!
"Jangan bodoh, Margaret." Ran yang duduk di sebelahnya dengan sigap langsung bergerak mencegahnya.
"T-tapi.."
"Apa kau tidak ingat apa yang dia katakan? bahwa kita tidak perlu khawatir padanya."
Margaret termenung sesaat, hingga akhirnya memutuskan untuk kembali duduk di sebelah Ran. Wanita-wanita lain yang berada di dekat mereka tidak mempedulikan apa yang mereka lakukan karena sibuk melihat Ratu yang saat ini akan mengubah laki-laki itu menjadi patung batu.
[Mero Mero Mellow]
Hancock menciptakan beberapa gelombang meroma lembut berbentuk hati yang melaju cepat dengan ukuran yang membesar hingga melingkupi tubuh Naruto lalu menembusnya begitu saja. Ular hitam yang mengikat tangan Naruto langsung melepaskan diri bersamaan dengan Hancock melancarkan tekniknya.
Aphelandra dan yang lain menundukan kepala dengan mata yang terpejam sedih, karena mereka tahu siapapun yang terkena teknik tersebut akan berakhir menjadi batu.
'Naruto-san!' Margaret hanya bisa berteriak dalam hati karena semuanya sudah terlambat.
Setelah gelombang lembut berwarna pink tersebut menghilang, terlihatlah Naruto yang berdiri dalam keadaan sweatdrop karena tidak ada apapun yang terjadi padanya, jangankan sakit geli saja juga tidak.
Hancock tersentak dan menatap Naruto dengan mata yang terbelalak tidak percaya, "K-kenapa kau tidak berubah menjadi batu?!"
Naruto sendiri yang mendengar teriakan wanita di depannya hanya bisa menggaruk belakang kepala. Kalau wanita ini tidak tahu, apalagi dengan dirinya dan juga kenapa ular hitam yang mengikat tangannya bisa terlepas dengan sendirinya.
""Hebihime-sama?!""
Sebagian besar penonton juga merasakan hal yang sama, semua menatap dengan pandangan terkejut dan tidak percaya meskipun ada beberapa wanita yang merasa lega.
""O-Onee-sama.."" Sandersonia dan Marigold memandang khawatir pada Kakaknya yang berdiri dengan kepala menunduk tepat di depan laki-laki itu.
Hancock mengusap wajahnya lalu menatap dalam, sosok laki-laki yang ada di depannya. "Na-Naruto, aku akan bertanya baik-baik. Apa tujuanmu datang ke sini?" Ia bisa merasakan jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya, bahkan saat ini kepalanya menjadi pusing saat melihat wajah tenang itu.
Naruto memejamkan matanya, "Jujur saja, aku hanya tidak sengaja tersesat di pulau ini."
"Kau yakin?" tanya Hancock memastikan. Sikap dan aura dari laki-laki ini entah kenapa membuatnya merasa aman dan damai.
"Mungkin."
Jawaban tidak yakin itu membuat alis mata Hancock berkedut kesal, untuk apa kalimat jujur yang dia katakan sebelumnya? meskipun merasa sedikit jengkel tapi ia harus tetap terlihat cantik dan sempurna di mata pemuda bernama Naruto ini. Dan lagi, Hancock sudah memperhatikan baik-baik setiap perilaku Naruto tidak bisa dianggap remeh olehnya, karena sejak pertama Hancock melihatnya tidak ada rasa panik sedikitpun yang terlihat darinya. Bahkan kemampuan Akuma no mi miliknya tidak bekerja pada Naruto, yang artinya laki-laki ini tidak melihat dirinya dengan rasa nafsu belaka.
'Aku tidak menyangka bisa bertemu laki-laki sepertimu, Naru.' batin Hancock dengan senyuman tulus mengembang di wajah cantiknya yang tidak dapat terlihat siapapun karena ia menutupi wajahnya yang kini memerah sempurna dengan malu-malu.
Naruto menghela nafas. Setelah melihat sekelilingnya yang hanya ada wanita ia menjadi berpikir bahwa keberadaannya di sini memang merupakan suatu kesalahan atau mungkin masuk dalam kategori kejahatan. Apalagi Hancock yang berdiri di depannya terlihat menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan hanya melihatnya melewati sela-sela jemarinya.
"yah.. Maaf telah mengganggu ketenangan kalian, kedatanganku di sini tidak memiliki maksud apapun." Naruto sedikit mengeraskan suaranya untuk mengambil alih perhatian, dan suasana yang tiba-tiba menjadi hening membuat Naruto melanjutkan,
"Tidak perlu khawatir dengan bangkai monster laut karena mereka semua kanibal, dan aku akan pergi sehingga kalian bisa kembali ke aktivitas kalian masing-masing." Naruto tidaklah bodoh untuk mengetahui apa yang membuat mereka waspada terhadapnya. Disamping efek jutsu skala besar yang membuat ratusan monster laut tewas hingga menimbulkan ombak besar, dirinya juga mengerti kalau wanita di sini terlalu memandang rendah laki-laki tanpa mengetahui kalau tidak semua laki-laki itu jahat.
'yah, setelah melihat bajak laut dan adanya perbudakan di dunia ini mereka menerapkan peraturan yang tepat.'
"Eh? Apa maksud–?!"
[Hiraishin]
Sring!
Hancock terdiam membisu tidak mampu melanjutkan kalimatnya ketika melihat pemuda spesial itu menghilang tanpa jejak dalam kilauan cahaya emas.
'K-kenapa...' ia terpaku dengan menggigit bibir bagian bawah, berusaha untuk meredam gejolak emosi didalam hatinya. Baru sebentar ia merasakan perasaan nyaman ini, semua langsung lenyap seketika bersama hilangnya sosok mengagumkan yang menebarkan rasa tenang dan damai disisinya.
'... Naruto.' Hancock menyentuh dadanya dimana ia merasakan ada sesuatu yang hilang disana.
Semua wanita menjadi bungkam tidak bisa berkata-kata saat sang pemuda bersurai pirang telah pergi tanpa sepatah katapun.
Sandersonia dan Marigold segera menghampiri Kakaknya setelah membubarkan penonton dengan sedikit paksaan.
Disuatu tempat, di mana hanya terdapat air sejauh mata memandang. Terbentuk seberkas kilatan emas dalam ketiadaan yang memunculkan Naruto dalam sekejap mata. Hempasan air tercipta ketika Naruto mendarat di permukaan dari ketinggian dengan kaki yang diselimuti pendar biru tipis chakranya.
Pandangan Naruto menyapu ke segala arah, ia hanya dapat melihat dalam jarak terbatas karena kabut yang menutupi pandangan dan tak ada seorangpun yang tertangkap digaris penglihatannya, melainkan lautan lepas dengan iklim yang terasa ekstrim. Tidak ada yang bisa disalahkan karena dirinya memang berkonsentrasi pada titik koordinat secara acak.
"Haah~"
Naruto termenung memikirkan kondisinya yang berlayar tanpa arah yang jelas, walau sebenarnya ia hanya ingin menemukan tempat yang cocok untuk membangun wilayah dimana semua orang tertawa dengan tulus. Ia tahu dan paham betul kalau impian tersebut nyatanya terlalu sulit bahkan mendekati kata mustahil untuk diwujudkan. Sepertinya, ia harus merelakan impian bodoh tersebut.
"Haha, impian menjadi Hokage sudah tidak ada lagi." gumamnya dengan hati yang dipenuhi rasa keputusasaan karena dirinya tidak memiliki apapun untuk diperjuangkan lagi.
Hari semakin gelap seiring waktu berjalan. Awan mendung mulai berkumpul disertai suara gemuruh yang menandakan akan turun hujan tidak lama lagi. Kondisi lingkungan yang semakin berbahaya tidak cukup untuk membuat Naruto bergeming dari tempatnya, ia masih setia pada posisinya yang berpijak pada permukaan laut, tanpa mempedulikan kalau rintik hujan mulai turun hingga lama-kelamaan menjadi semakin deras dan membasahi tubuhnya. Angin bertiup kencang, ombak-ombak menggulung dan suhu udara kian mendingin.
"A-pa ya-ng h-arus ku-lakukan..?"
Uap mengepul saat Naruto berbicara dengan nafas terputus. Badai yang saat ini terjadi membuat tubuhnya gemetar kedinginan sampai titik dimana sepasang kakinya yang berpijak pada air seolah tertusuk ribuan jarum sebelum akhirnya mati rasa hingga merambat perlahan ke seluruh tubuhnya yang mulai kehilangan keseimbangan.
"Ah.. Mu-ngkin ini..lah yang.. ter-baik." Naruto memejamkan mata ketika tubuhnya tidak merasakan apa-apa lagi, terbayang dalam benaknya wajah dari rekan-rekan seperjuangan yang telah gugur mendahuluinya bersama lenyapnya dunia shinobi.
'Minna, aku akan segera menyusul kalian.' kalimat terakhir terucap didalam hati lantaran mulutnya sudah terlalu kaku untuk sekedar digerakan.
Seolah mengabulkan permintaannya, ombak besar naik ke permukaan dan melaju pada lintasan dimana terdapat Naruto yang tersenyum tanpa beban tepat sebelum ombak menghantamnya.
Byuurr!
Lambat laun, chakra di kakinya telah menghilang bersama Naruto yang tercebur ke dalam lautan akibat hantaman gelombang air tinggi yang menggulung tubuhnya.
.
.
.
4 tahun kemudian..
Desa Foosha, East Blue
Sinar terik matahari menerangi pemandangan desa di mana terlihat orang-orang berkumpul mengantar keberangkatan seorang pemuda bertopi jerami yang berpakaian rompi merah dan celana biru selutut. Ia melambai dengan senyuman lebar dikala perahu kecil yang ditungganginya bergerak semakin menjauh.
"UAAA!! MINNA! AKU PASTI AKAN MENJADI RAJA BAJAK LAUT!"
Suara teriakan penuh semangat Luffy terdengar kian menjauh bersamaan dengan sosoknya yang sudah tidak terlihat lagi.
"Haih, anak nakal itu sudah besar."
"Hahaha, desa menjadi semakin sepi."
"Umu, kau benar Oji-san."
Orang-orang membubarkan diri kembali pada aktivitas masing-masing setelah Luffy menghilang dari pandangan.
Di tempat Luffy berlayar. terasa angin berhembus lumayan kencang, membuat Luffy memegangi topi jeraminya yang hampir terbawa angin.
"Tunggu aku, Naruto! Ace!" Luffy menyatukan kedua tangannya erat dengan penuh semangat.
Banyak hal yang telah ia lalui selama ini setelah keberangkatan sosok Naruto yang sudah ia anggap sebagai kakaknya. Walaupun orang itu hanya menyaksikan janji yang dirinya, Ace dan Sabo buat, tapi ia yakin kalau Naruto juga ikut berjanji. Setidaknya itu kesimpulan yang dapat Luffy pikirkan setelah menyaksikan sendiri sifat dari orang itu.
Luffy terdiam sejenak, teringat saat dimana ia mendengar kabar jika Sabo telah tenggelam karena tertembak saat sedang berlayar di lautan. Hanya segitu yang ia tahu, tapi ia bisa mencari tahu sendiri karena lautan lepas berada di hadapannya.
"Shishishi... KAIZOKU OU NI, ORE WA NARU!"
.
Arc I New Journey -End-
.
