.

Beginikah, rasanya kematian...

Naruto bisa merasakan tidak ada apapun di sekelilingnya, dengan dirinya yang seolah melayang di dalam kekosongan tanpa ada rangsangan yang bisa dirasakan ke lima inderanya, semua terasa hambar dan gelap. Naruto setidaknya sudah berusaha mewujudkan impian terbesarnya sebelum meninggal sehingga tidak ada lagi penyesalan yang tersisa.

Tapi, apakah benar tidak ada lagi penyesalan?

Ingin sekali Naruto tertawa saat ini. Tidak terhitung banyaknya penyesalan dalam hidupnya, dan sekarang menyesalinya pun sudah tidak ada gunanya. Karena dirinya sudah meninggal dan mungkin berada di alam baka saat ini.

"Naru-chan."

Kaa-chan?!

Sebuah suara yang begitu familiar tertangkap di indera pendengaran Naruto yang tiba-tiba kembali berfungsi. Ia tergerak untuk bergegas menghampiri suara lembut Ibunya, tetapi tidak ada apapun yang terjadi, karena Naruto tidak bisa merasakan keberadaan anggota tubuhnya yang bahkan dirinya pun tidak tahu ada atau tidak.

"Sepertinya masih belum saatnya untukmu berkumpul bersama kami, putraku."

Tou-san!

Kali ini suara Ayahnya yang terdengar. Naruto berusaha sekuat mungkin melakukan apapun yang dia bisa, walau hanya untuk sekedar melihat sosok kedua Orang tua yang sangat dia sayangi meskipun baru bertemu beberapa kali sebelumnya. Tetapi hasilnya nihil, hanya kegelapan yang menutupi penglihatan dan tidak ada reaksi positif dari tubuhnya.

Kaa-chan! Tou-san! Kalian dimana!?

Bahkan berteriak pun tidak ada suara.

"Raihlah kebahagiaanmu, Naruto. Kami selalu menyayangimu dan pasti akan ada waktunya kita dapat berkumpul bersama."

Tidak! Tou-san...

"Ibu tahu anak ibu pasti kuat! ttebane!"

Kaa-chan!.. Sial! Bergeraklah!

Naruto masih kukuh pada pendiriannya dikala suara kedua Orang tuanya mulai terdengar semakin pelan seakan menjauh darinya.

"Pasti ada hikmah dibalik mengapa kau masih diberi kesempatan untuk hidup..."

".. Naruto.."

"Naru-chan.."

""... Kami baik-baik saja dan akan selalu menyayangimu..""

Tidaak! Jangan pergi! Tou-san! Kaa-chan!

"".. Berjuanglah!""

Naruto tidak tahu lagi harus berbuat apa agar kedua Orang tuanya tidak pergi dan dapat mendengar suaranya. Tetapi semua percuma saat suara kedua Orang tuanya sudah lenyap menuju suatu tempat yang tak Naruto ketahui.

Apa yang sebenarnya terjadi?!

Naruto berteriak frustasi.

Tes'

Suara tetesan air membuat perhatian Naruto teralihkan, tetapi belum sempat Naruto mencerna apa yang baru didengarnya, perasaan sakit tiba-tiba menjalar disekujur tubuhnya.

"Ittee! –eh? Aku bisa bicar–AARGH!"

Naruto berusaha memberontak dari rasa sakit yang semakin menjadi. Lambat laun rasa sakit disekujur tubuhnya berangsur-angsur mulai menghilang, tergantikan dengan rasa dingin dan Naruto tersadar sudah dapat membuka matanya.

Langit cerah malam hari dengan kilauan cahaya bulan dan bintang, terpantul dari kedua mata Naruto. Iris saphire menenangkan di mata kanannya dan iris hitam kelam di mata kirinya.

Naruto menemukan dirinya sedang terbaring dalam kondisi basah kuyup dengan pakaian yang sama, jubah hitam dan celana compang-camping. Dia pun terbatuk beberapa kali mengeluarkan air yang menghalangi jalur pernafasannya.

"Ugh.. Aku belum mati?"

Brruussh

Naruto tersentak kecil saat sebuah semburan air berukuran sedang, mengenai wajahnya. Ia pun menoleh ke asal semburan ini berasal.

.

.


Against the World


Chapter_7

.

Angin berhembus pelan menerbangkan daun-daun pepohonan yang berguguran disuatu dataran tinggi dengan jernihnya perairan laut yang memutari tempat ini.

Semerbak aroma menyegarkan terasa memenuhi rongga hidung seseorang yang sedang bersantai di tengah cerahnya siang hari dengan awan-awan yang menghiasi hamparan langit di mana matahari bersinar terik disana.

Dia terlihat duduk tenang di rerumputan menikmati nuansa indahnya alam ditemani suara kicauan burung yang terbang bebas di angkasa.

"Fyuuushh.."

Asap hasil pembakaran tembakau terhembus perlahan darinya, dengan hembusan nafas yang terasa begitu rileks seolah tidak memiliki beban apapun. Dia kembali menghisap sebatang rokok yang terjepit disudut bibirnya, menambah perasaan damai yang kini ia rasakan.

Pakh Pakh Pakh

Suara kepakan sayap membuat pandangannya sedikit beralih dari lautan, melirik seekor burung pembawa berita yang berhenti sejenak untuk menjatuhkan sebuah koran sebelum kembali terbang menuju suatu tempat yang lain. Kedua tangan yang digunakan untuk menyangga tubuhnya di belakang, digerakan ke depan di mana koran tersebut jatuh tepat di atas tangannya.

Asap tembakau terhembus perlahan dan kembali menghisap sebatang rokok yang terjepit disudut bibirnya. Dia tersenyum tipis saat matanya bergulir melihat gambar dan tulisan yang tercetak di koran. Tetapi setelah bergulir ke halaman berikutnya, alisnya terangkat pelan dengan sendirinya, karena membaca peristiwa yang sudah cukup kadaluarsa namun baru eksis sekarang.

"Fyuussh.. Siapapun orang yang membuat berita ini, dia memiliki mata dan analilis yang tajam."


Uap hangat mengepul di dalam ruangan mewah dengan bak mandi besar yang memakan lebih dari separuh luas ruangan. Seorang wanita bersurai hitam lurus tergerai indah sampai pinggulnya, terlihat berjalan memasuki bak mandi untuk berendam melepas segala penat yang ia rasakan. Kulit putih lembut miliknya terbasuh dalam genangan air hangat yang merilekskan pikiran serta saraf-saraf tubuhnya, membuat aroma menghanyutkan memenuhi ruangan pemandian pribadi ini.

"Ahh..."

Dia menghembuskan nafasnya perlahan bersama mata lentiknya yang terpejam tenang.

"Kau ada dimana, Naruto."

Waktu terasa berjalan lambat baginya, semenjak menghilangnya kehadiran seseorang yang mengobati ketakutan dan kegelisahan dalam hatinya. Pikirannya melayang pada pertemuan tidak terduga yang membuatnya susah tertidur hingga sekarang. Ingin sekali rasanya dia bertemu kembali dengan sosok mengagumkan itu, banyak cara sudah dia lakukan tetapi tidak ada satupun yang membuahkan hasil, bahkan tidak ada informasi atau kabar apapun mengenai keberadaan sosok itu.

Tok Tok

Sebelum dia tenggelam lebih jauh dalam pikirannya, suara ketukan pintu membuat fokusnya beralih.

"Siapa?"

"Ini aku, Onee-sama." suara dari Adiknya menjawab dengan sedikit tergesa seperti baru selesai berlari.

"Oh, Sonia masuklah."

Sandersonia yang berada di luar kamar mandi segera masuk ke dalam setelah mendapatkan ijin dan pipinya bersemu merah seketika dikala lekukan tubuh langsing milik Kakaknya terlihat jelas tanpa kain yang menutupinya. Ia menjadi sangat gugup saat Kakaknya keluar dari bak mandi.

"Ada hal apa sampai mengganggu waktu pribadiku?" Hancock mengakhiri acara berendamnya, surai hitamnya tergerai ke belakang punggung menutupi bekas luka bakar yang membentuk suatu simbol. Matanya melirik sebuah koran yang ada di tangan Adiknya.

"I-ini, ada Naruto d–?!"

Hancock langsung saja merebut koran yang dibawa Adiknya begitu mendengar nama dari seseorang yang membuatnya sampai seperti ini. Dibacanya dengan teliti berita tentang seseorang yang mencuri arsip-arsip penting yang tersimpan di Markas pangkalan angkatan laut Loguetown. Seseorang yang dianggap berbahaya karena pergerakannya begitu cepat dan halus bahkan membuat Captain pangkalan disana, Smoker tidak sempat berkutik.

Matanya kembali bergulir dan terpaku pada foto dari buronan tersebut. Wajah tampan dari pemuda yang selama ini selalu menghantui mimpinya, dimana surai pirangnya terlihat berkibar dengan sepasang mata yang terpejam tenang dan lengkungan tipis di sudut bibir. Sebuah foto yang membuat hatinya menghangat hingga merambat ke wajahnya yang kini merona merah.

"Kyaa~ akhirnya kau muncul juga, Naruu~" Hancock memejamkan mata sambil menempelkan pipinya pada foto yang ada di koran. Ia merasa sangat bersyukur karena pemuda misterius yang dulu menghilang masih terlihat baik-baik saja. Walaupun kabar berita ini terjadi di dua tahun yang lalu, tapi setidaknya ini bisa menjadi petunjuk untuknya.

"Onee-sama..." Sandersonia mengembangkan senyumnya melihat Kakaknya sudah kembali ceria. Tetapi melihat wajah Kakaknya yang menjadi memerah, rasa khawatir kembali menyelimuti dirinya.

"Ayo pakailah bajumu Nee-sama, demammu masih belum sembuh."


Laut bergelombang tenang, dimana sebuah kapal berukuran sedang, terlihat melintas mengikuti arah angin dengan kepala domba yang menjadi hiasan dibagian depan kapal tersebut. Beberapa orang yang bersantai bersama di deck kapal, terdengar mengobrol ramai dengan senyuman yang lebar.

"Luffy! Coba kau lihat berita ini." pria berambut keriting dan berhidung panjang berbicara dengan heboh saat membaca isi dari koran berita. Setelah berhasil menghajar Arlong dan salah satu Captain angkatan laut yang ternyata seorang koruptor, Nezumi. Bajak laut topi jerami yang baru beranggotakan Luffy, Nami, Zoro, Sanji dan Usopp berhasil mendapat perhatian publik dan mulai diperhatikan oleh angkatan laut.

"Coba berikan padaku." Nami, wanita bersurai oranye sebahu langsung mengambil koran di tangan Usopp yang tidak berani protes sama sekali. Beberapa orang yang lain segera mendekatkan diri karena ingin ikut membaca koran berita.

"Uwaw! Nami-chwan tetap terlihat cantik di foto!" Sanji, pria bersurai pirang dengan alis melingkar memandang ke arah foto dan Nami secara bergantian, hidungnya kembang kempis dengan darah yang keluar.

"Hehe, terima kasih aku memang cantik!" Nami membalas sambil tersenyum dan membuat mimisan di hidung Sanji semakin banyak mengalir.

"Sanji! Hidungmu berdarah!" Usopp berteriak panik sambil menunjuk Sanji yang terlihat tidak mempedulikan peringatannya.

"Kyaw! Nami-chwan ijinka–!"

Plaakk!

Sanji berniat mencium, namun terlebih dahulu mendapatkan tamparan keras yang membuatnya terkapar seketika, dengan cap tangan berwarna merah di wajahnya. Dia serasa seperti baru ditampar oleh seorang bidadari.

"Semoga kau tenang." Usopp menangkupkan kedua tangan seperti sedang berdoa di samping tubuh tergeletak Sanji.

"Woi! Aku masih hidup dasar hidung panjang!"

"BWAHAHA! Kepalamu kenapa alis keriting!" pria berambut hijau pendek berjongkok tepat di samping wajah Sanji sambil tertawa mengejek.

"Marimo! Kau ingin tungkakku menyumpal mulutmu hah?!"

"Heh, coba saja kalau kau bisa! Koki amatir."

"Apa kau bilang?! Orang hilang!"

Zoro dan Sanji dengan wajah yang berubah sangar bersiap untuk berkelahi. Pedang dan kaki sama-sama melesat maju–

Bletakk!

Bletakk!

Namun, Nami tiba-tiba muncul di antara mereka membawa bogeman yang membuat mereka langsung terkapar dalam posisi tengkurap.

"Diamlah kalian dasar bodoh!"

""B-baik!"" Zoro dan Sanji serentak mengangguk patuh.

"Aku tidak ikut-ikutan!" Usopp segera mengangkat kedua tangannya ke atas saat Nami meliriknya dengan lirikan tajam.

"Shishishi... Kalian semua bodoh sekali."

Komentar dari Luffy membuat hawa mengerikan menguar dari Nami, Zoro, Sanji dan Usop. Mereka menjadi kompak secara tiba-tiba dan berjalan mendekat dengan wajah yang tertutupi bayangan rambut.

""Bisa kau ulangi, Kapten?""

"Eeeeh?! A-ada apa dengan kalian?" Luffy termundur beberapa kaki hingga mentok pada pembatas disertai keringat dingin yang bercucuran di kepalanya.

""KAU YANG PALING BODOH DISINI! DASAR BODOH!""

"OOII!.." wajah Luffy tertekuk kesal.

"Tidak hanya bodoh, tapi kau sangat bodoh..." Zoro menambahkan sambil menyeringai tipis.

"Woi! Mau sebodoh apapun, dia tetap Kapten kita." Sanji meski niatannya ingin membela Luffy, tetapi dia malah mengatakan hal sebaliknya.

"Ahahaha! Tenanglah kalian, karena Kapten Usopp ad–!"

"Kalian! DIAM!" Nami membentak menghentikan pembullyan mereka, karena Luffy sudah berjongkok suram di pojokan.

""B-baik!/Nami-chwan~!/Haa?""

"Kau kenapa Luffy?" Nami menjadi panik karena perkataan mereka bertiga termasuk dirinya mungkin menyakiti perasaan Luffy, walaupun itu memang kenyataannya.

"Burung itu, memakan makananku..." Luffy berkata pelan menunjuk seekor burung pembawa berita yang menotol semua makanan yang ada. Ia menjadi lemas karena baru sadar saat makanannya sudah habis.

""N-NANI?!""

Nami, Zoro, Sanji dan Usopp terkejut mengetahui perkataan mereka ternyata tidak dianggap oleh Luffy. Namun hal yang lebih mengejutkan lagi, makanan mereka sudah habis dimakan seekor burung.

"Oi! Burung sialan! Jangan kabur kau!" Usopp berusaha menangkap seekor burung yang sudah terbang menjauh.

"Aha! Sakeku masih utuh!" Zoro melihat botol yang dia taruh tidak berubah posisinya, segera bergerak mengamankannya.

"UAA! DAGINGKU!... SANJI!" Luffy berteriak histeris dan menoleh ke arah Sanji dengan wajah memelas meminta dibuatkan makanan lagi.

"Fyuuhh.." Sanji menghembuskan asap rokoknya dengan cool. "Bahan makanan kita sudah habis."

"NANI?!"

"Apa kalian bisa diam?! Burung itu meninggalkan dua poster buronan disini!"

Perkataan Nami berhasil menarik perhatian dan membuat ke empat pria bodoh itu mulai berjalan mendekat. Saat semua sudah berkumpul, Nami langsung menaruh dua poster yang dia temukan berjejer di lantai.

"WOAH! INI AKU!... Shishishi." Luffy menunjuk ke arah poster pertamanya bernama Monkey D. Luffy dengan harga buronan 30 juta berry.

"Kepalamu lumayan mahal Luffy." Sanji ikut merasa senang melihat poster buronan milik Kaptennya.

"Selamat Luffy! Akhirnya kau menjadi buronan." kata Usopp bangga.

"Apanya yang selamat? Kita semua menjadi terancam kau tau?!" Nami menyahut dengan sewot. Sepertinya hanya ia yang berpikiran normal di sini.

"Eeh?! Kau benar! Bagaimana ini?!" Usopp yang menyadari perkataan Nami, tiba-tiba menjadi panik.

Zoro menguap lebar lalu meminum sakenya, "Hooaamz... bukannya kau adalah kapten Usopp sang pemberani?" ucapnya dengan nada mengejek.

"A-ahaha! benar! tidak ada siapapun yang bisa membuatku takut!" Usopp tertawa keras mendengar pujian dari Zoro.

Mereka sama-sama tertawa melihat kekonyolan masing-masing, namun saat melihat poster yang terakhir, mereka berlima dikejutkan dengan harga milik pria bersurai pirang bernama 'unknown' atau tidak diketahui.

""S-Siapa orang ini?!""

Nami, Zoro, Sanji dan Usopp menelan ludah kasar melihat angka 100 juta berry tertera di poster seseorang yang baru mereka lihat kali ini, dengan kata lain bukankah harga kepala pertama orang ini terlalu mahal? Akan tetapi, berbeda dengan Luffy yang menganga lebar diikuti mata berbinar kagum karena mengenali wajah yang tercetak di poster.

"Shishishi..."

"Apa kau mengenalnya, Luffy?" Nami bertanya penasaran ketika melihat Luffy justru bertambah semangat.

"Orang itu..."

"Siapa?" tanya Usopp antusias.

"Adalah..." Luffy masih menjeda kalimatnya.

Bletak!

"ITTEE!"

"Cepat katakan bodoh!" Nami menjitak kepala Luffy dengan tidak sabar. Zoro dan Sanji hanya diam, namun perempatan kekesalan tercetak jelas di kepala mereka.

"Saudaraku, Uzumaki Naruto!"

"B-bagaimana bisa?!" Nami melihat bergantian dari poster ke Luffy, ia melihat perbedaan yang cukup jauh dimana wajah pria bernama Naruto ini terlihat menarik sedangkan Luffy terlihat bodoh.

Sanji mengambil koran yang tadi belum selesai mereka baca lalu membuka halaman berikutnya. Berita yang tertulis disini membuatnya sedikit terkagum, "Oi oi! Apa-apaan orang yang bernama Naruto ini."

"Ada apa, alis keriting?" Zoro yang penasaran mendekatkan wajahnya untuk melihat apa yang Sanji temukan, diikuti Nami dan Usopp yang juga penasaran.

"Dua tahun yang lalu...?"

Semua menjadi terdiam merasa aneh melihat berita seperti ini baru muncul sekarang, namun tak bertahan lama karena mereka tidak ingin mengambil pusing akan hal itu.

Zoro menyeringai tertarik, "Heh.. Mencuri di markas pangkalan angkatan laut?"

"Orang ini hebat!" Nami memandang intens foto yang ada di koran.

"Shishishi... AKU TIDAK AKAN KALAH!" Luffy menyatukan tangannya bersemangat. Ia tidak boleh tertinggal jauh dari kedua Kakaknya, Ace dan Naruto yang mendapatkan harga buronan lebih mahal darinya.

"Loguetown, kita juga sebentar lagi akan sampai di sana!" Usopp berkata pesimis karena berita di koran mengatakan penjagaan telah diperketat namun ke tiga pria yang berdiri di dekatnya justru merasa tertantang.

"UOOOHH! KITA AKAN MENERUSKAN PERJALANAN MENUJU GRAND LINE!" Luffy berteriak penuh semangat.

"Heh! Kemanapun kau pergi, aku akan mengikutimu!" Zoro tersenyum tipis sambil memejamkan mata.

"Fyuuhh.. Jangan lupakan juru masak yang hebat ada di sini." Sanji menghembuskan asap rokoknya dengan cool, "Benar kan? Nami-chwan!" lanjutnya sambil bergaya romantis pada Nami.

"Apa boleh buat.." Nami hanya bisa menggeleng pelan melihat semangat mereka bertiga.

"Aarh! Sialan.. Kalau begitu kapten Usopp akan menjamin keselamatan kalian! Wuahahaha!"

"Baiklah, kita kumpulkan persediaan dan mencari barang sesuai kebutuhan. Tapi aku yang akan mengatur uangnya."

""SIAP!""

Usopp lantas berlari ke tempat kemudi kapal diikuti Nami yang mengecek uang yang ada, sedangkan sisanya hanya berdiri dekat pembatas melihat jauh ke arah depan dimana bayangan perkotaan mulai terlihat semakin jelas. Seringai semangat mengembang di wajah mereka masing-masing.


Disuatu pulau terpencil yang letaknya terkesan misterius, terlihat seseorang yang berjalan pelan mendekati laut dangkal dimana terdapat seekor lumba-lumba berukuran dua kali besar tubuhnya yang menunggunya dengan riang.

"Fyuussh... Tenanglah anjing kecil."

Bukan tanpa alasan dia menganggapnya seperti itu, dikarenakan perilaku ikan ini memang lebih condong ke anjing.

"Guk guk!" lumba-lumba menjawab riang dengan gonggongan pelan saat Naruto menghentikan langkah di depannya.

Jubah putih berlengan pendek yang menutupi kaos hitam lengan panjangnya, melambai pelan bersama rambut pirang sebahu yang menari tertiup angin, dan setelan bawah berupa celana jeans abu-abu. Tangannya terulur untuk mengelus kepala lumba-lumba yang terlihat merasa senang dengan mendekatkan diri padanya.

Naruto kembali menghisap rokok yang terjepit disudut bibirnya dan menghembuskan asap hasil pembakaran tembakau secara perlahan.

"Fyuushh.. Saatnya kita pergi, Kobe."

"Guk!"

Lumba-lumba yang diketahui bernama Kobe langsung menunduk membiarkan Naruto untuk menaiki punggungnya. Setelah itu tanpa menunggu perintah lebih lanjut Kobe langsung berenang di permukaan air mengarungi lautan lepas dengan Naruto yang berdiri tenang di atas punggungnya.

"Fyuusshh..."

Naruto tersenyum tipis merasakan semilir angin yang menerpanya sambil merokok dengan santai, mengamati keindahan lautan yang memantulkan kemilau cahaya matahari terbenam.

"Guk!" Kobe mengurangi sedikit kecepatan berenangnya agar dapat lebih lama menikmati suasana tenang dan damai yang selalu ada saat bersama Tuannya.

"Fyuushh..." Naruto tersenyum tipis tidak mempermasalahkan hal itu. Berkat lumba-lumba yang ia beri nama Kobe ini, dirinya masih bisa bernafas hingga sekarang. Entah ini memang takdir atau bukan, ia diselamatkan oleh seekor lumba-lumba yang tersesat di lautan, sama seperti dirinya.

"Ada banyak misteri dalam luasnya lautan ini."

"Guk guk."

Waktu terus berjalan hingga kini hari sudah menjadi gelap dan Naruto masih berdiri santai sambil menghabiskan beberapa batang rokok persediaan terakhirnya diatas punggung Kobe yang juga menirukan kegiatan Tuannya dengan berenang santai, kecuali merokok. Mereka menikmati momen bergantinya siang menjadi malam di mana saat ini bulan bersinar terang ditemani berbagai bintang yang bertabur di langit.

"Fyuushh..."

Naruto menghembuskan asap tembakau kesekian kalinya dan membuang puntung rokok terakhir ke sembarang arah. Sudut bibirnya melengkung naik saat matanya melihat adanya daratan.

"Guk guk!" Kobe seolah mengerti apa yang dipikirkan sang Tuan, kemudian mempercepat laju renangnya menuju pulau yang terlihat di depan, hingga akhirnya dia bersama Tuannya perlahan berada di area laut dangkal pesisir pantai dan dia pun berhenti.

Naruto kemudian melompat turun dan mengelus kepala Kobe pelan.

"Guk!"

"Kerja bagus–"

Brush

Kobe mengekspresikan rasa senangnya dengan menyemburkan air di mulutnya ke wajah Naruto tanpa menyadari kalau perbuatannya sudah memotong perkataan sang Tuan.

"yah, istirahatlah Kobe. Aku akan memberimu banyak makanan besok." Naruto terlihat tidak terganggu dengan hal itu dan hanya bersikap tenang seperti biasa karena ini sudah kebiasaan peliharaannya.

"Guk guk!"

Setelah itu, Naruto dan Kobe sama-sama membalikan badan berlawanan arah melanjutkan kegiatan masing-masing.

.


Keep calm and be healthy

#PengopiHandal