Disclaimer © Naruto dan High School DxD dimiliki oleh pengarang masing-masing
Waktu sudah mulai gelap
Tiga puluh menit pun berselang. Setelah Xenovia dan Irina menghabiskan semua makanannya, Naruto lalu pergi ke meja kasir untuk membayar. "Arigatou," ucap Naruto kepada sang kasir.
Setelah membayar makanannya, ia dan dua gadis dibelakangnya itu keluar dari tempat makan tersebut. Diluar restoran, Xenovia dan Irina berterima kasih kepada Naruto sembari membungkuk.
"Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih banyak, Uzumaki-san karena sudah menolong kami. Jika saja kamu tidak membantu kami, mungkin kami sudah mati kelaparan," ucap Xenovia sedikit bercanda. Walau sebenarnya dia sudah mengatakan kalimat ini dua kali, sebelumnya di dalam restoran.
Xenovia mendelik ke arah gadis disampingnya yang baru saja bersendawa ria sambil memegang perut buncitnya.
"Irinaa!"
"Oo? Hehe, arigatou, arigatou," ucap Irina cengengesan. Xenovia menghela napas.
Kenapa ia bisa punya teman seperti ini-!
"Sekali lagi, kami berterima kasih banyak, Uzumaki-san," ucap Xenovia lagi, "Mungkin dilain waktu kami akan membalas kebaikan, Uzumaki-san."
Naruto mengibas tangannya. "Iie, iie daijoubu, aku menolong kalian itu iklas jadi tidak perlu membalasnya." Lagipula mentraktir kedua gadis di depannya itu, tidak membuat uangnya habis.
Setiap minggu, ia mendapat uang jajan dari keluarganya. Selain itu, setiap malam Naruto juga bekerja part-time di salah satu supermarket sebagai seorang kasir, karena Naruto tidak ingin terlalu bergantung dengan uang pemberian keluarganya. Untuk saat ini.
Sejenak Naruto mendongak memandang langit yang mulai gelap. Tiba-tiba, rasa ingin pulang cepat terbesit dibenaknya. Apa ada sesuatu di rumahnya?
"Jaa, karena ini sudah gelap. Aku pulang dulu. Sampai jumpa lagi, Xenovia, Irina-san," ucap Naruto seraya membungkuk pelan, Naruto lalu berbalik, dan mulai melangkah untuk pulang. Tetapi, but ...
"Ano, Naru-kun." Sebelum Naruto berjalan tiga langkah, suara gadis berambut coklat terang menghentikan langkahnya.
Naruto berbalik sebentar, lalu menatap Irina yang memasang wajah gelisah. Ada apa dengannya?
"Dou shita?" tanya Naruto.
"Etto, sebenarnya ..." Irina tampak gugup, ia lalu menyodorkan sebuah kertas di tangannya kepada Naruto. Sebelum akhinya dihentikan oleh Xenovia.
"Sudah cukup, Irina. Kita sudah banyak merepotkan, Uzumaki-san," cegah Xenovia sambil memegang tangan temannya. Tampak Irina merenggut tidak suka.
"Aku tahu, Xenovia, tapi ... saat ini hanya Naru-kun yang bisa membantu kita," ujar Irina kepada teman birunya itu.
Hm?
"Lagipula kau ingin kita tidur dibawah jembatan lagi?!"
Naruto mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Irina. Ia mengerti kalau mereka ingin meminta bantuannya lagi, walau tidak tahu bantuan seperti apa. Namun, Naruto masih belum paham dengan perkataan Irina yang kedua. Dia tadi bilang, tidur dibawah jembatan, 'kan?
"Apa kalian ingin tinggal di rumahku?" tanya Naruto memastikan dan sukses menghentikan perdebatan dua gadis di depan. Mereka lalu menatapnya.
"Ti-tidak bukan begitu, Uzumaki-san," ucap Xenovia sambil mengibaskan tangannya.
Hm, apa aku salah? pikir Naruto.
"Sebenarnya ..."
Naruto memandang Irina.
"... Kami ingin Naru-kun menolong kami untuk mencari alamat ini," ungkap Irina sambil menyodorkan sebuah kertas. Naruto lalu mengambil kertas itu. Disana sudah tertera sebuah alamat rumah.
"Oh, sou ka? Jadi kalian ingin aku membantu untuk mencari alamat ini," ucap Naruto lalu melihat isi alamatnya. Naruto sedikit menyipitkan matanya, lalu menatap Xenovia dan Irina kembali.
"Baiklah, aku akan membantu kalian," katanya membuat dua gadis di depannya mengeluarkan respon berbeda, Irina senang, sedangkan Xenovia, mendesah.
"Maaf merepotkanmu, Uzumaki-san."
Naruto mengangguk. "Daijoubu." Lagian ia juga tidak keberatan, jarang - jarang ia melakukan ini. Maksudnya, menolong dua orang asing yang seperti terdampar di kota Kuoh. Hahahaha!
Itu tidak lucu Naruto.
Dan begitulah, akhirnya diceritakan Naruto mengantar dua gadis dari Vatikan itu ke sebuah alamat yang sebenarnya Naruto cukup tahu, karena ia sering pergi kesana.
Tidak perlu waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan. Saat ini Naruto beridiri didepan sebuah gerbang dari rumah besar. Di sekitar pekarangan rumah, dihiasi oleh lampu - lampu bercahaya karena hari sudah malam.
"Ini tempatnya?" Tampak Xenovia dan Irina memandang tidak percaya dengan rumah besar yang akan mereka tinggali. Disisi lain, Naruto hanya terdiam.
"Baiklah, aku hanya bisa mengantar kalian sampau disini saja, Konbanwa," kata Naruto yang mulai berjalan menjauhi Irina dan Xenovia.
"E-eh, tunggu dulu, Naru-kun," cegah Irina.
Naruto berhenti sebentar lalu menoleh ke arah Irina. "Ada apa lagi?"
"Apa kau yakin ini tempatnya?" tanya Irina yang nampak sedikit ragu.
"Iya," jawab Naruto singkat.
"A-ah, sou ka? Ba-baiklah kalo begitu dan juga terima kasih karena sudah menolong kami banyak sekali hari ini," kata Irina sembari membungkuk diikuti Xenovia.
"Arigatou."
Naruto mengangguk. "Sama - sama." Ia lalu kembali melangkahkan kakinya untuk pulang. Irina dan Xenovia memandang kepergian Naruto dengan senyuman. Mereka beruntung sekali bertemu pemuda baik seperti Naruto.
Sebelum Naruto berjalan cukup jauh, Irina melambaikan tangannya sambil berteriak keras memanggil Naruto yang berjalan kaki ditemani cahaya lampu disekitar jalan.
"Sampai jumpa lagi, Naru-kun!"
Hingga Naruto pun menghilang dari pandangan Irina dan Xenovia. "Dia pemuda yang baik," ucap Xenovia dan dibalas anggukan oleh Irina. Tidak ingin lama - lama diluar, mereka berdua pun mulai masuk dan melewati gerbang rumah yang sedari tadi terbuka itu.
Berdiri didepan pintu, Xenovia lalu menekan bel rumah. Teng! Nong! Bel berbunyi. Xenovia dan Irina lalu menunggu si penghuni rumah keluar.
Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan menampakan seorang pria mengenakan jas hitam dengan model rambut dikucir kuda. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Kami ingin menemui pemilik rumah ini."
Krieet-!
Sebuah pintu terbuka. Dibarengi dengan salam khas orang Jepang yang diucapkan ketika baru saja pulang. Salam yang memiliki arti; Aku pulang itu.
"Tadaima," ucap seorang pemuda berambut pirang kuning mengenakan pakaian sekolah baru saja sampai di apartemennya, Ya, dia Naruto.
"Okaeri." Tiba - tiba, terdengar suara anak kecil menyahuti salam Naruto dari suatu ruangan. Naruto terdiam sebentar, ia tidak salah dengar, bukan? Naruto mengenal suara ini. Siapa lagi kalau bukan ...
"Kaa-san? ucap Naruto spontan. Ia lalu melangkah ke sebuah ruangan yang bernama ruang tamu. Setelah sampai di ruang tamu, Naruto melihat sesosok gadis kecil sedang duduk di sofa sambil menggoyangkan kakinya.
Merasakan hawa keberadaan seseorang, Gadis itu menoleh dan menatap datar Naruto yang sedang berdiri bengong melihatnya. "Kau sudah pulang, Naruto?
"Kenapa lama sekali?" tanya gadis itu.
"Kenapa, kaa-san ada disini?" tanya Naruto. Ia tidak menduga ibunya ada disini. Karena tahulah, dia itu sibuk dan jarang menemui Naruto, kecuali jika ada sesuatu yang penting.
Tunggu dulu? Apa mungkin ini penyebab ia ingin cepat - cepat pulang?
"Naruto tidak suka?" tanya gadis itu, sekali lagi, dengan wajah datar. Gadis itu lalu berdiri dan berjalan ke arah Naruto, sambil merentangkan kedua tangannya. Tahu apa yang diinginkan si gadis, Naruto lalu berjongkok dan menyambut pelukannya.
Uhuy~
"Mana mungkin aku tidak menyukainya," ucap Naruto sambil memejamkan matanya. Tidak ada respon dari sang gadis. Hingga ...
Teet-!
Suara bel pintu apartemennya berbunyi. Naruto lalu melepas pelukannya dan memandang ke pintu depan. Sekarang apalagi? batin Naruto.
"Tunggu sebentar, Kaa-san," ucap Naruto lalu pergi untuk melihat siapa yang berkunjung ke apartemennya saat ini. Si gadis hanya mengangguk dan kembali duduk di sofa.
Saat Naruto sampai di depan pintu depan dan membukanya. Ia melihat seorang pria yang Naruto kenal, dibelakang pria itu terdapat dua sosok gadis yang ia temui tadi sore, tengah menatapnya terkejut.
"Uzumaki-san / Naru-kun!?"
Naruto memandang mereka datar.
"Xenovia, Irina-san ..."
TBC.
