Dislcaimer :
Naruto Masashi Kishimoto
Highschool DxD Ichiei Ishibumi
Dan unsur-unsur lain dari anime, novel, game, buku, dll adalah milik creator mereka masing-masing, not me.
Warning : Bahasa, Tanda baca, Typo, Many Element from Anime, Novel, books, etc
.
.
.
.
.
Prologue
Dunia bunga. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan bunga merah muda yang terus bermekaran dan lenyap tanpa henti, tanpa batas, tanpa akhir.
Seorang pria paruh baya dengan pakaian serba putih tengah duduk diatas satu-satunya tower yang menjulang tinggi diantara hamparan bunga itu.
Ia sedang menutup matanya, seperti menikmati hari, menikmati musim panas abadi dengan langit cerah.
"Kau datang rupanya, aku sudah menunggumu..."
Pria itu berbicara tanpa membuka matanya, apalagi menggerakkan badannya.
Dibelakangnya, sebuah retakan dimensi terbuka. Sebuah 'mata' terlihat dari dalam retakan dimensi itu, tetapi begitu singkat karena langsung ditutupi oleh siluet 'manusia' yang keluar dari retakan itu.
Seorang pria berambut pirang dengan jubah ber hoodie dengan warna putih - biru yang tertutup bagian badan atasnya sedangkan bagian bawahnya terbuka, menampakkan celana panjang dengan warna biru gelap dengan sepatu hitam. Ia juga membawa tongkat hitam dengan ornamen berbentuk mirip jarum jam dikedua sisinya.
"Selamat datang di taman kecilku ini, raja dari negeri yang telah lama hancur." Ujar pria tadi sambil berdiri dan membalikkan badannya.
"Penyihir bunga, Merlin, aku baru pertama bertemu denganmu, namun ternyata mulutmu tajam juga yah?" Balas pria pirang itu ringan.
"Haha, maaf-maaf, kebiasaanku, jadi apa kau ingin mampir minum teh disini? D—"
"Jangan panggil aku lagi dengan nama itu, nama itu sudah terkubur jauh didasar lautan bersama waktu itu." Potong pria itu cepat.
"Oya, aku mengerti, lalu bagaimana aku harus memanggilmu sekarang?" Tanya Merlin memasang wajah bingung.
"Naruto... Hanya itu saja, itu nama yang kupakai sekarang." Balas pria yang memproklamirkan dirinya sebagai 'Naruto' itu.
"Nama yang simpel, baiklah, aku akan memanggilmu Naruto... Jadi, kenapa kau kemari? Ini bukan karena aku yang selalu mengintipmu bukan?"
Naruto terkekeh kecil. Ia sama sekali tidak berniat untuk mempermasalahkan hal tersebut. Meskipun ia mengakui Merlin adalah teleskop merepotkan yang bisa melihat hampir semuanya dimasa sekarang, namun baginya yang tidak memiliki hal yang memalukan untuk dilihat, ia tidak terlalu memikirkannya.
Ia bahkan mampu melihat kedalam 'workshop' yang dikerjakan oleh Naruto dalam waktu yang sangat lama.
Namun ia juga semakin menyeringai.
"Penyihir bunga, waktunya telah tiba! Aku akan mengambilnya! Gelar 'Grand' darimu!!!" Naruto berucap keras dengan wajah sombong.
Merlin hanya melongo melihatnya. Ia menoleh kekiri dan kekanan lalu menunjuk dirinya sendiri dengan wajah yang sama.
"Aku? Grand dariku? Seingatku kau tidak punya riwayat sebagai peny—"
"Diaaam!! Jika Iblis yang bermalas-malasan sepertimu bisa menjadi 'Grand', begitu juga aku bukan?!!"
Naruto memotong ucapan Merlin dengan wajah kesal.
Merlin tertawa kecil melihatnya. "Kau menjadi terlalu terikat pada tubuhmu yah? Kau sedang mencoba menggali kembali masa lalumu?"
Tawa Naruto berhenti. Ia lalu mengangguk kecil. "Yah, aku hanya ingin merasakan hidup menjadi manusia untuk sekali lagi, emosiku mungkin sudah tumpul sekarang, namun aku hanya ingin memulai perjalananku kembali... "
Merlin terdiam, meski wajahnya tenang, namun terdapat sedikit sorot mata kasihan disana.
"Hei! Jangan kasihani aku, sekarang katakan padaku! Kau mau menyerahkan 'Grand' mu atau tidak ha?!" Naruto segera tersadar dan meneriaki Merlin dengan wajah kesalnya.
"Ahhahaha, baiklah-baiklah, sebelumnya aku lihat kau memiliki sihir ruang yang bagus, boleh aku menunjukkan punyaku?" Tanya Merlin.
Naruto terlihat berpikir sebentar lalu mengangguk.
Merlin berjalan ke pinggir tower dan menggerakkan tongkat kayunya.
"Aburacadabura...".
Ia lalu meletakkan tongkatnya. "Maju dan lihatlah, bagaimana komentarmu?"
Naruto juga maju ke pinggir tower dan menatap kebawah. Ia melihat sebuah lingkaran—portal sihir. Ia bisa melihat sungai disisi lain portal itu.
Naruto menajamkan matanya sebentar lalu menutupnya.
"Hm, kau benar-benar penyihir pemula! Lihatlah portalmu, kau kekurangan aspek—"
Duk! "Bye-bye!"
"Eh?"
Naruto segera membuka matanya saat ia merasakan angin kencang menerpa kulitnya. Tidak, bukan angin kencang yang berhembus padanya, ialah yang justru menerpa udara. Ia juga merasakan hangat dipunggungnya.
"Dasar penyihir sialan!!!"
Ia melotot saat melihat sosok Merlin yang sedang tersenyum diatas tower sambil melambaikan tangannya.
"Bye-bye!! Lain kali bawa oleh-oleh sebelum ngomel okee!!!"
Sebelum Naruto sempat membalas, ia telah berada disisi lain portal.
Byurrr!!! Blurrppp*
"Puah...!!! Onore Merlin!!"
Disisi lain, Merlin hanya tertawa kecil melihat Naruto terjatuh dan gelagapan di sungai.
"Jangan mengharap jalan pintas, semoga kau bisa bertemu dengan 'teman' lamamu..."
Naruto terbatuk-batuk kecil karena air lalu berjalan kearah jalan setapak yang berada tak jauh. Ia menatap kearah sebuah tembok yang berada di kejauhan.
Meski jauh, ia bisa melihat betapa tinggi dan putih berkilauannya tembok atau lebih tepat disebut benteng itu.
"Kota terdekat huh? Atau bahkan negara?" Gumamnya.
Ia memang tidak melihat peradaban lain sejauh mata memandang kecuali kota atau negara apapun itu. Hanya ada padang rumput dan pepohonan yang rimbun yang seperti berkelompok-kelompok disekitar kerajaan itu.
"Aku punya firasat yang buruk mengenai ini."
Bagaimanapun, manusia memiliki sifat untuk selalu memanfaatkan ruang kosong yang mereka punya. Namun kota atau negara itu membentengi diri mereka sedemikian rupa, dan tidak ada peradaban lain disekeliling mereka.
Clack! Clack!
Perhatian Naruto teralihkan oleh suara langkah logam yang datang dari jauh.
Ia melihat dua ekor kuda 'logam' yang sedang menarik sebuah kereta kuda. Dalam sekali lihat saja ia bisa tahu kalau kuda itu adalah mesin, dan dilapisi oleh tembaga yang bisa dilihat dari warnanya.
"Apakah anda butuh tumpangan, tuan?" Kereta kuda itu berhenti di depan Naruto.
"Anu... Eh? Ini kereta kuda? Tidak kusangka aku bisa melihat yang seperti ini!".
"Dunia sudah berkembang terlalu jauh yah? Sudah cukup lama... "
Naruto mengamati sebentar kereta kuda itu. Benar-benar 'kereta' yang terbuat dari tembaga berlapis besi. Sepasang rodanya juga tembaga yang dikuatkan dengan lapisan karet yang lumayan tebal.
Bahkan dua ekor kudanya ternyata juga adalah terbuat dari tembaga yang dengan campuran yang rumit!
"Hm... teknologi yang menarik... tapi sangat tidak efisien..."
"Pak! Kalau boleh tahu, darimana asal kereta kuda ini?" Tanya Naruto penasaran.
"Huh?"
Pria tua itu memandang Naruto dengan wajah heran. Seperti memandang manusia gua yang tidak pernah keluar selama 10.000 tahun.
'Mungkin dia mengujiku' begitulah pikir pak tua itu.
"Camelot membeli kereta-kereta ini dari SIN, mereka dijual murah, bisa lebih cepat dari kuda biasa, dan tidak lelah untuk mengemudikannya!" Jelas Pak tua itu sambil berbangga, menunjukkan bagaimana orang tua sepertinya bisa mengemudikan kereta kuda ini dengan mudah.
"Camelot? Jadi itu nama kotanya? Tapi SIN? Hm, aku tidak melihatnya didekat sini, pasti peradaban yang sangat jauh dari sini, namun berarti masih ada peradaban lain di belahan planet ini." Pikirnya.
Ia mengangguk pelan dan membuka pintu kereta kuda itu.
Naruto kemudian masuk. Interiornya cukup bagus dengan dua buah kursi panjang yang saling berhadapan dan empuk. Dan di dalamnya ternyata cukup dingin.
"Begitu, tembaga memang bisa menghantarkan panas dengan sangat baik, lalu dengan lapisan khusus untuk membantu menjaga suhu didalam tetap dingin... Dan lapisan kedap suara..."
Naruto membuka sedikit pintu kereta kuda itu.
Clack! Clack! Clack!
"Sudah kuduga, kereta ini tidak efisien, pasti bising sekali diluar sana..."
Naruto mengambil sebuah kertas yang berada di kursi yang ia duduki. Itu sebuah peta yang terlihat kusam.
Peta itu seperti menunjukkan wilayah belahan dunia, anehnya, hampir setengah bagian peta diwarnai lebih gelap dari sebelahnya.
"Apa ini daerah yang belum ditemukan? Atau...?"
Naruto membaca peta itu lebih lanjut. Dibagian yang lebih terang, bagian dimana Camelot termasuk kedalamnya, ada tujuh nama lain yang tersebar hampir berjauhan satu sama lain.
"Delapan negara yang saling berjauhan dan tersebar di sebagian belahan dunia, sesuatu telah terjadi di dunia ini..."
Ia lalu kembali memfokuskan bacaanya pada wilayah yang ia tuju saat ini.
"Hm... begitu, saat ini aku berada di wilayah Camelot, yang dipimpin oleh Lion King..."
Ia lalu melihat-lihat wilayah lain beserta penjelasan singkat mereka. Kali ini ke Negara dimana kata SIN muncul, asal dari kereta kuda yang ia tumpangi saat ini.
"Huh? Tidak ada penjelasan disini?" Gumam Naruto heran. Ia tidak melihat penjelasan apapun dari kota dengan nama SIN itu.
Ia lalu mengedarkan pandangannya ke bagian lain. "Celestial Garden... Kota benteng surgawi, melayang diantara langit dan bumi...?"
Lalu ia mengalihkan ke bagian lainnya yang berada di belahan lain yang terpisah lautan. "Kota benteng laut? Sriv—"
Sebelum sempat menyelesaikan bacannya, Naruto terbentur atap dengan keras setelah kereta kuda itu tiba-tiba berhenti.
Ia segera meletakkan peta itu dan membuka pintunya untuk melihat apa yang terjadi.
"Huh?!"
Ia melihat belasan orang dengan pakaian cokelat kusam tengah mengepung kereta kudanya ditengah rindangnya pepohonan.
"Bandit..." Ujar pria tua yang mengemudikan kereta kuda itu sambil terburu-buru merogoh saku-sakunya. "Eh?"
Para bandit itu mengeratkan senjata mereka saat melihat Naruto yang berdiri didepan kereta kuda yang akan mereka jarah.
Bandit yang memiliki tubuh paling besar menggerakkan tangannya memberi kode. Di belakang, beberapa orang bandit kelas penyihir mulai menyiapkan sihir mereka.
Ia mengamati dengan seksama. Dilihat dari pakaian berupa jubah ber hoodie, lalu sebuah tongkat, bisa dipastikan sosok dihadapannya itu adalah seorang penyihir. Tetapi, ia memiliki aura yang mengerikan.
"Pak tua, maafkan aku, tapi aku butuh bantuanmu, bisakah kau bertarung melawan bandit-bandit ini?"
"Ehh?!!"
Semua yang mendengar ucapan Naruto melebarkan mata mereka. Apa orang ini sudah gila? menyuruh orang tua yang bahkan sudah kepayahan berjalan untuk bertarung?
"Are? Apa kalian takut? Bagaimana jika kau berhasil membunuh orang tua itu, aku akan memberimu akses ke gudang harta Camelot?" Ujar Naruto menyeringai.
"G-gudang harta? M-memangnya siapa kau?!"
"Aku adalah 'Grand' Magician lho! Aku bisa dengan mudah memberikan kalian kekayaan seumur hidup jika aku mau..." Ujar Naruto berbohong untuk memancing mereka.
Pimpinan bandit itu memasang benda mirip kacamata khusus yang hanya menutupi mata kirinya.
"No Identity... Physical : 1500, Magic : 5000, Soul : 1/0."
"Huh? Skor fisiknya rata-rata, sihirnya benar-benar tinggi, tapi jiwanya... mentalnya, apa ini? Apa dia memang benar-benar ''Grand?'' Ia menilai skor yang dimiliki oleh Naruto dari kacamata.
Di dunia ini kau bisa menilai seseorang melalui tiga 'skor atau nilai' yang dapat dilihat melalui sihir khsusus atau alat sihir.
Nilai tersebut ditentukan dari tiga kategori yaitu kekuatan fisik, sihir, dan mental/jiwa. Rata-rata manusia biasa hanya memiliki 3000 gabungan dari ketiga nilai itu.
Namun pria dihadapannya ini...
Ia lalu mendengus. Jika benar penyihir itu adalah 'Grand', maka tak salah menerima tawarannya.
"Hanya menghadapi pria tua dengan kekuatan fisik 450, jiwa 600, dan sihir 300, ini akan sangat mudah."
"Cih, baiklah! Pak tua! Kemari kau! Biar ku belah tulangmu!"
"A-apa yang k-kau fikirkan anak muda? A-aku ini sudah t-tua... A-aku bahkan tidak kuat lagi berjalan terlalu lama..." Ujar Orang tua itu ketakutan.
"Aku bisa melihat kalau kau sering diganggu bandit tanpa bisa melawan, pak tua, izinkan aku membantumu!"
"Sense of Justice!!" Naruto menggumamkan sihirnya.
Deg!
Dalam sekejap pria tua itu melebarkan matanya. Ia mengeratkan kepalan tangannya dan turun dari kuda mesinnya.
Tiba-tiba ia merasa termotivasi untuk mengakhiri ketidakadilan yang selama ini ia terima dari penjarahan para bandit itu. Ia bahkan merasa bisa mengabaikan tubuh rentanya itu.
"Kau siap, pak tua?." Tanya Naruto.
"Para bandit sialan! Serahkan mereka padaku!!" Pak tua itu berlari kearah pimpinan bandit yang terkejut itu sementara Naruto mengetukkan tongkatnya.
Tubuh pak tua itu terlihat semakin meningkat, otot-otot tuanya kembali mengencang dan tubuh rentanya semakin berkembang dan, ketika ia sampai di depan pimpinan bandit itu, ia bahkan sudah bisa disebut sebagai raksasa dengan tubuh setinggi hampir 2 meter penuh otot.
"A-apa ini?" Kaget pimpinan bandit itu melihat sesuatu yang berubah di matanya.
"Fisik 250... 500... 1000... 2000... 4000... 8000!?"
"Justice Punch!!!" Pria tua itu menghantam pimpinan bandit dengan pukulan tangan kanannya.
Ia langsung terlempar menghancurkan beberapa pepohonan dan menghantam tanah dengan keras hingga menciptakan kawah lebar.
Para anggota bandit hanya melongo melihat pimpinan mereka tumbang hanya dengan satu pukulan.
"... Bandit berhak menindas mereka yang melewati 'wilayahnya'? Sejak kapan ini milik kalian?" Pria tua itu menatap horror para bandit lain.
"P-pergi dari sini!"
"Sense Of Justice, membangkitkan keinginan melawan ketidakadilan, selain itu, melawan penyebab ketidakadilan itu, akan memperoleh penggandaan kekuatan fisik sebanyak 5 kali, salah satu sihir terkuatku, tak kukira akan berguna, tapi itu tadi memakan banyak sekali Mana..." Gumam Naruto dengan nada kelelahan.
Ia melihat pria tua tadi yang celingak-celinguk dengan tubuhnya yang mulai kembali ke ukuran semula. Beberapa menit terbengong, akhirnya pria tua itu segera menyadari Naruto.
"T-terimakasih tuan penyihir! J-jika tidak ada tuan... B-berapa aku harus membayar anda?!" Ujar pria tua pengemudi kereta kuda itu.
Naruto terlihat berpikir sebentar. "Bagaimana kalau melanjutkan mengantarkanku saja ke kota terdekat? Gratis tentunya hehe..." Balasnya sambil tersenyum.
"T-tentu saja, silahkan naik!!"
Naruto mengangguk dan memakai kembali hoodienya. Ia masih dipenuhi sejuta pertanyaan. Penyebab mengapa peradaban manusia terpisah-pisah dan dinyatakan dalam satu sisi planet, pasti ada sesuatu dibaliknya. Sesuatu yang menyebabkan lenyapnya setengah peradaban dibalik sisi lainnya.
"Oyah! Memang sejak awal aku tidak punya uang sih, mungkin ini keberuntunganku haha."
To Be Continued...
Hallo Minna-san, genki desuka?
Well, disini saya mencoba membuat fanfic yang 'bebas' dengan menggabungkan berbagai elemen-elemen besar dari narutoverse, nasuverse, dxdverse, sedikit dari hoyoverse dan beberapa fiksi lainnya. Jadi mungkin ada elemen seperti power system (NNT) atau karakter-karakter dari berbagai fiksi yang akan muncul disini.
Kebebasan yang ingin saya tulis disini mirip dengan 'kebebasan' yang saya rasakan saat bermain Genshin Impact, yaitu region based adventure (entah apalah itu :v) Jadi disini Naruto dengan tujuan pribadinya akan berkelana secara bertahap dari region ke region, yang pertama adalah Camelot, lalu SIN, dua itu dari nasuverse. Dan level teknologi disini bervariasi antar region.
Dan Naruto disini akan bermain role sebagai OP Support entah itu 'buff' atau 'debuffer'. Not everything about damage okey? Basically, a rich copy of Merlin.
Dan yang terakhir, ide ini muncul karena kemarin laptop saya artifact saat mau up fict satunya, jadinya semua yang saya kerjakan di laptop itu masih terjebak sampai entah kapan, jadinya saya nulis ini saja untuk melepas migrain.
Thats all, see ya next chap!
