Naruto and all characters belongto Masashi Kishimoto

This story belongs to Ayume Megumi

And edited by Ayume Natsuki

Summary : Aku telah menikah dengan seorang yang sangat menyebalkan. Bagaimana tidak, bayangkan saja jika kau sudah memiliki kekasih, tapi takdir menuntunmu untuk menikah dengan orang lain. Dan lagi suamiku itu adalah dosenku sendiri. Namanya adalah 'Uchiha' Itachi.

Pairing : ItaSaku

Warning : revenge, university life, after marriage, a little bit rate M

* My Lecturer is My Husband *

-o0o-…

.

.

.

.

.

Chapter 6

No More Time

.

.

.

.

.

Suara riuh burung-burung terdengar bersahut-sahutan, semilir angin bergerak dengan lembut membuat siapa saja yang dilaluinya merasakan ketenangan. Sang mentari pun tidak ketinggalan untuk memberikan kehangatannya pada dunia.

Dengan seluruh keindahan alam pagi ini tidak membuat gadis yang saat ini duduk bersimpuh di samping ranjang merasa tenang. Hatinya sangat kalut karena kejadian semalam dimana sang suami tercintanya, ah bukan, lebih tepatnya suami yang baru saja ia cintai, hampir saja membunuhnya dengan mencekik lehernya. Namun Kami-sama masih berada dipihak sang gadis, belum sempat nyawa satu-satunya terpisah dari raga, sang suami telah pingsan dipelukannya.

Dengan langkah gontai, Sakura mendekatkan diri ke cermin di kamar Itachi yang mampu memantulkan seluruh bayangan tubuhnya. Tangan mungilnya bergerak menyentuh area leher yang tampak memerah, 'ah masih sakit' gumamnya sambil meringis menahan sakit.

Jujur saja saat ini Sakura bingung harus mengadu kemana? Apakah mengadu ke kedua orang tuanya? Atau mengadu ke kedua orang tua Itachi? Yang pasti Sakura sudah tidak sanggup lagi menahan beban berat dalam hatinya. Sakura tidak tidur semalaman suntuk, ia hanya menangis sambil memandangi wajah Itachi yang terlelap dengan damainya.

"Anata, gomen ne, hontou ni gomenasai". Bagaikan mantra, kata maaf terus saja terujar dari bibir Sakura sampai tiba-tiba ponsel Itachi berdering dan menginterupsi permohonan maafnya. Tangan Sakura bergerak meraih ponsel dan melihat nama Sasuke terpampang pada layar. Segera saja Sakura menekan tombol hijau pada layar ponsel suaminya.

"M-moshi-moshi?" mati-matian Sakura menahan sisa isak tangis.

"Dare? Dimana aniki?" tanya suara dari seberang.

"Sakura, Haruno Sakura"

"Ah kakak ipar rupanya, dimana Nii-san?"

"Dia sedang tidur, Uchiha-san. Apa ada pesan yang perlu kusampaikan pada kakakmu?"

"Hari ini aku pulang ke Jepang karena libur semester sudah dimulai dan akan segera mengunjunginya setibaku di Tokyo. Tolong katakan pada Aniki untuk menjemputku di bandara jam 10 pagi ini. Ah ya, aku bahkan belum mengatakan selamat pada pernikahan kalian dan maaf aku tidak bisa hadir karena jadwal kuliahku semester ini sangat padat." jelas Sasuke panjang lebar.

"Tentu, akan kusampaikan pesanmu"

"Terima kasih, Haruno-san" belum sempat Sasuke menutup panggilan, suara Sakura telah menginterupsinya.

"Tunggu!" pekik Sakura dari seberang telepon.

"Hn, ada apa?"

"Tolong aku, Uchiha-san. Tolong bantu aku bicara dengan kakakmu."

Seketika kening Sasuke mengkerut mendengar permohonan seseorang yang belum lama ini telah menjadi kakak iparnya. "Apa maksudmu, Haruno-san?"

"A-ano, sebenarnya aku bertengkar dengan Itachi."

"Bukannya bertengkar adalah hal yang wajar dalam rumah tangga? Tenang saja Haruno-san, kakakku bukan tipe orang yang akan marah dalam waktu yang lama." ujar Sasuke meyakinkan.

"Tapi… kali ini kakakmu marah besar padaku, bahkan aku tidak tahu apakah aku dapat dimaafkan olehnya atau tidak? Tentu saja aku tidak pantas untuk menceritakan masalah rumah tanggaku pada orang lain, tapi aku tidak tahu lagi harus mengadu kemana? Haruskah ke orang tuaku atau ke orang tuamu? Jadi kumohon tolong aku, Uchiha-san. Aku tidak ingin… hiks… bercerai dengan Itachi." tangis Sakura pun pecah, namun tangannya tetap berusaha meredam suara isakan agar Itachi tidak terbangun.

"Tunggu, masalah apa ini? Cerai? Bagaimana mungkin Aniki sampai memutuskan untuk bercerai darimu? Bahkan penikahan kalian belum genap satu bulan."

"Semua ini salahku, semuanya salahku. Tapi kini aku sudah menyesali semuanya. Kumohon tolong aku, Sasuke-san" untuk pertamakalinya Sakura memanggil nama Sasuke.

"Tenangkan dirimu, Haruno-san. Ceritakan perlahan-lahan agar aku bisa memahami masalah kalian."

Sakura menarik nafas dalam kemudian mulai menceritakan semua permasalahan rumah tangganya dari awal pada adik iparnya. Sedangkan orang dari seberang telepon mendengarkan dengan sesekali mengepalkan tangannya untuk menahan amarah yang membuncah. Sepertinya dia juga bisa memahami amarah sang kakak.

"Itulah yang sebenarnya terjadi, Sasuke-san" Sakura mengakhiri ceitanya.

"Kau gila, Sakura. Kau selingkuh ketika kau sudah menikah?" Sasuke tidak habis pikir dengan tindakan kakak iparnya, ia sampai memanggil lawan bicaranya dengan nama kecilnya bukan nama marganya lagi.

"Aku tahu aku salah, tapi aku sudah memiliki kekasih bahkan jauh sebelum aku menikah dengan kakakmu"

"Tetap saja itu tidak bisa membenarkan perbuatanmu. Aku memang bukan laki-laki baik seperti Itachi-nii, tapi jika aku menjadi Itachi-nii aku pasti akan membunuh kekasihmu itu. Bahkan kau terang-terangan berselingkuh di depan kakak, aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati seorang suami. Apa kau tahu? Kakakku itu tidak pernah sekalipun menjalin hubungan spesial dengan wanita sebelum menikah denganmu. Tapi kau malah menjadi wanita pertama yang menghancurkan hatinya." cerca Sasuke dengan penuh emosi

"Ya, kau benar, Uchiha-san. Aku mengaku salah… Maafkan aku yang telah menghancurkan hati kakakmu, kumohon sekali ini saja bantu aku memperbaiki semuanya. Aku memilih Itachi, aku mencintainya."

"Baiklah, karena kau telah menyesali perbuatanmu, aku akan berusaha membantu. Tapi tidak ada jaminan hubungan kalian akan membaik, semua keputusan berada di tangan Aniki."

"Arigatou Sasuke-san" ucap Sakura untuk terakhir kalinya dan sambugan telepon keduanya pun terputus.

"Ukh!"

Mendengar suara rintihan membuat Sakura reflek menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Itachi mulai mengerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam onyx kelamnya. Itachi mencoba mengedarkan pandangan ke langit-langit kamar kemudian ia mendudukkan diri pada sandaran tempat tidurnya.

"Itachi, bagaimana keadaanmu? Ini pereda mabuk, minumlah…", Sakura berujar sambil mengeluarkan botol kecil berwarna coklat yang ia klaim sebagai obat pereda mabuk.

Itachi tak bergeming, kakak dari Uchiha Sasuke itu sama sekali tidak merespon perkataan Sakura, bahkan botol obat yang disodorkan oleh Sakura tak kunjung ia terima. Sorot mata Itachi tetap memandang ke depan, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Sakura. Hal itu lagi-lagi membuat Sakura dihujam ribuan sembilu. 'Ternyata sesakit ini rasanya diabaikan' batin Sakura.

Namun si gadis merah jambu tidak kehilangan akal, dia naik ke atas ranjang, tepatnya di depan Itachi. Memandang lekuk wajah indah suaminya dari dekat, Sakura menangkupkan kedua tangannya pada pipi Itachi untuk memperoleh atensi dari sang suami.

"Itachi sayang… Kumohon maafkan aku. Aku benar-benar tidak ingin kita berpisah, kumohon jangan ceraikan aku."

Sakura menatap onyx Itachi dengan sorot mata kesedihan yang terlihat sekali di mata emeraldnya. Namun Sakura lagi-lagi harus menelan kekecewaan lantaran kediaman Itachi. Sorot mata onyx itu masih kosong, entah apa yang dipikirkan Itachi. Sakura masih belum menyerah, gadis itu meraih kedua tangan Itachi menciumnya berkali-kali sambil terisak meminta maaf.

"Itachi, tolong beri aku satu kesempatan lagi. Jangan diam begini kumohon. Marahi aku, hukum aku sepuasmu, tapi tolong jangan diamkan aku." pinta Sakura.

"Aku lelah" merasa mendapat respon dari sang suami, Sakura yang tadinya menunduk dalam akhirnya mendongakkan kepala.

"Lelah?" balas Sakura kemudian.

"Lelah karena tidak kau anggap sebagai suami, lelah karena istriku telah berselingkuh dibelakangku, lelah ketika menemukan fakta bahwa perusahaan yang kupimpin collapse karena penipuan yang masih ada hubungannya dengan kekasih gelap istriku."

"Penipuan? Penipuan apa yang kau maksud, Itachi? Aku benar-benar tidak mengerti ucapanmu."

"Shimura Danzo, orang tua kekasihmu itulah yang membuat Uchiha Corporation bangkrut." ujar Itachi masih dengan raut wajah datar tanpa emosi.

Sakura cukup tersentak mengetahui fakta ini, Sai memang pernah bilang bahwa ia yakin akan melamar Sakura karena merasa kekayaannya sudah menyamai kekayaan Haruno. Tapi Sakura sungguh tidak mengetahui bahwa kekayaan yang didapat keluarga Shimura Sai merupakan hasil penipuan terhadap perusahaan milik suaminya saat ini. Sekarang Sakura paham mengapa kemarin Itachi bisa semarah itu. Pasti suaminya mengira bahwa dia terlibat dalam rencana licik keluarga Shimura.

"Dengarkan aku Itachi, sungguh aku baru mengetahui hal ini darimu. Aku sama sekali tidak terlibat, sekalipun Sai adalah kekasihku."

"Uchiha Corporation bangkrut dan Haruno tiba-tiba meminjamkan bantuan dana yang cukup besar dengan syarat aku menikah denganmu, setelah menikah kau malah mencari masalah dan berulang kali meminta cerai. Lalu sekarang, kekasihmu itu bilang akan segera melamarmu kan? Sedangkan kekayaan kekasihmu adalah hasil dari menipu perusahaanku. Kau pikir kebetulan macam apa ini?" Itachi menarik benang merah dari berbagai permasalahannya, kini ia telah mengalihkan pandangannya menatap emerald Sakura penuh dengan atensi. Keduanya saling bertatapan cukup lama sampai Sakura lah yang memutus kontak mata tersebut dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dapat ia lihat sorot kekecewaan dan kesedihan dalam mata kelam Itachi. Cukup lama mereka terdiam sampai Sakura membuka suaranya lagi.

"Kau tahu kan, ayahku adalah sahabat ayahmu. Jadi wajar saja kalau ayahku membantu perusahaanmu yang hampir bangkrut."

"Aku tidak menyalahkan ayahmu, tapi bisa saja semua ini telah kalian rencanakan. Kau, kekasihmu, dan calon mertuamu. Aku mengetahui dari ayahku, fakta bahwa sejak kecil kita memang telah dijodohkan. Bisa saja karena perjodohan itu, kau merancang sebuah rencana licik. Dan kenapa dari banyak perusahaan yang ditipu oleh Danzo adalah Uchiha?"

"Astaga… Dengar Itachi, sungguh aku tidak mengetahui apa pun. Demi Kami-Sama, aku sama sekali tidak terlibat. Bahkan menurutku Sai pun tidak terlibat. Ini murni perbuatan ayahnya."

"Bahkan sampai akhir kau masih membela kekasihmu ya, Sakura. Aku… iri." Itachi tertawa miris, menertawakan kehidupan pernikahannya yang sangat jauh dari yang ia bayangkan.

"B-bukan itu maksudku. Ahhh... baiklah baiklah, katakan saja apa yang harus kulakukan agar kau bisa percaya lagi padaku."

"Tidak ada, it's over, pernikahan kita sudah berakhir. Nanti aku akan bertemu temanku dan dia yang membawa surat cerai kita. Cukup kau tanda tangani dan semuanya selesai. Kau sudah bebas Sakura, kau bebas dariku, lalu aku akan kembali ke perusahaan dan mengembalikan semua kekayaan Haruno. Aku tidak akan mengusik kehidupanmu lagi." Itachi menatap dalam emerald Sakura

"Tidak, aku tidak ingin kita bercerai! Aku mencintaimu, Itachi!" Sakura menatap Itachi dalam, bulir-bulir air mata berjatuhan tak kunjung berhenti.

"Tolong beri aku kesempatan, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku akan menolak lamaran Sai, aku berjanji padamu. Bahkan aku akan ikut membantumu menuntut perbuatan Shimura Danzo." ucap Sakura memohon.

"Kau pikir aku mempercayai omonganmu setelah perlakuanmu padaku selama pernikahan kita? Kau pikir aku bodoh, hn? Bahkan luka di keningku belum sepenuhnya sembuh." cibir Itachi

"Aku mencintaimu"

"Omong kosong"

"Aku akan membuktikannya!"

"Jika kau bisa membuktikannya sebelum temanku datang, setahuku dia akan tiba 1 jam la-"

Perkataan Itachi terpotong karena secara tiba-tiba Sakura mencium bibirnya. Awalnya hanya kecupan ringan untuk menghentikan ucapan Itachi, tapi perlahan Sakura mengikuti instingnya untuk memperdalam ciumannya. Itachi yang masih belum sepenuhnya lepas dari pengaruh alkohol pun mengikuti alur istrinya. Matanya mulai terpejam, mencoba menikmati sensasi aneh di bibirnya yang semakin memanas. Pendingin ruangan di kamar Itachi sepertinya mulai tidak berfungsi karena temperatur di sekitar Itachi dan Sakura meningkat, keduanya bahkan mengeluarkan peluh di sisi kening yang meluncur bebas hingga jatuh di ujung dagu.

"Mmhhh…." Sakura merasa hampir kehabisan nafas karena ciuman panas dengan suaminya yang nyaris tanpa jeda.

"Jangan mengeluh setelah ini, karena kau sendiri yang memulainya, istriku." Melihat Sakura sedikit kewalahan meladeninya, Itachi menyunggingkan seringai yang jarang menghiasi wajah tampannya.

"A-apa maksudmu?"

"Ssstt! Jangan banyak tanya dan lakukan saja apa yang kau sebut dengan 'membuktikan cintamu' itu"

"E-etto…" Sakura sedikit salah tingkah karena Itachi mengelus lembut bibirnya dengan gerakan yang sedikit sensual.

"Jadi bagaimana? Kau akan memulainya atau kau perlu bantuanku untuk memulainya, istriku?."

"Hah? T-tunggu sebentar"

"Maaf nona, sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka menunggu" dengan sekali gerakan, Itachi berhasil mengubah posisi sehingga sekarang Sakura berada di bawahnya.

Tapi Sakura masih berusaha menahan tubuh Itachi dengan kedua tangannya.

"I-itachi…"

"Kemana panggilan sayangmu untukku sebelum aku siuman tadi?"

"Eh? Kau mendengarnya?"

"Tentu saja, kau kira aku sepenuhnya tidak sadarkan diri? Bahkan aku juga mendengar percakapanmu dengan Sasuke" yah walau Itachi hanya mendengarnya dengan samar-samar.

"A-apa? Jangan menatapku seperti itu"

"Dan jangan memalingkan pandanganmu saat aku menatapmu, Sakura."

Dengan mata terpejam, pandangan Sakura kembali menghadap Itachi setelah tadi sempat ia palingkan karena merasa malu ditatap secara intense oleh suaminya sendiri.

"Sekarang buka matamu, dan panggil aku dengan panggilan sayang yang kumaksud tadi."

Pipi Sakura semakin memerah sembari matanya perlahan terbuka dan ditatapnya Itachi yang berada di atasnya. Indah. Sekejap Sakura menikmati keindahan di wajah suaminya, tidak salah kalau selama ini suaminya menjadi bahan rebutan di kampus. Dan untuk pertama kalinya Sakura mengakui ketampanan Itachi yang melebihi pacarnya, Sai.

'Baiklah Sakura, kau harus bisa!' inner Sakura berteriak untuk meyakinkan dirinya sendiri.

"Anata, ai…. aishiteru" dengan senyum yang manis terpahat di wajah ayunya, Sakura berhasil menghipnotis Itachi.

Sepersekian detik nafas Itachi terhenti menyaksikan senyuman istrinya, baru kali ini ia melihat senyum yang begitu indah dari bibir manis Sakura.

"Ore mo." singkat dan jelas, Itachi membisikkan isi hatinya yang selama ini selalu disangkal oleh Sakura. Tapi tak lama kemudian bayangan Shimura Sai dan Shimura Danzo muncul dalam benak Itachi. Sakit di hatinya masih ada, meski sekarang Sakura telah memilihnya… Tidak! Mereka semua harus merasakan pembalasan Itachi, tak terkecuali gadis cantik di hadapannya ini.

"Cih!" dengan menahan amarah yang kembali membuncah, Itachi meremas sprei putih yang ada di genggamannya. Wajah yang tadi sedikit menghangat karena senyuman istrinya pun sekarang kembali tersulut amarah karena pikirannya yang masih tak karuan. Dia belum sepenuhnya terlepas dari pengaruh alkohol semalam.

"Anata, daijoubu?" menyadari perubahan mimik wajah suaminya, Sakura merasa cemas dan hatinya berkata bahwa setelah ini akan terjadi hal yang buruk.

Pandangan Itachi terfokus pada mata emerald milik Sakura, bukan pandangan yang menenangkan tapi pandangan menusuk yang seakan bisa mencabik indahnya emerald itu kapan saja.

Jantung Sakura kembali berdegup kencang, bukan degupan yang tadi ia rasakan saat merebut ciuman suaminya. Tapi…. ia takut…

"Heh, jangan cemaskan aku, lebih baik kau cemaskan dirimu sendiri setelah ini, Uchiha Sakura."

Semakin jelas seringai di wajah tampan Itachi, semakin jelas ketakutan Sakura terhadap suaminya. Andai waktu bisa diputar ulang dan kenyataan bahwa Danzo, calon mertuanya, adalah dalang dibalik semua ini bisa terungkap lebih awal. Sakura tidak perlu merasakan ketakutan dan kecemasan ini.

"Gomen…" kata maaf kembali terucap dari bibir Sakura. 'Maaf karena tidak mencintaimu lebih awal.'

Sakura kembali melakukan hal yang sama, matanya terpejam dan ia mencium bibir suaminya… lagi. Tangan yang tadi ia gunakan untuk menahan tubuh Itachi sekarang ia lingkarkan pada leher suaminya.

Ciuman yang lembut kembali memanas saat Itachi memaksa lidahnya untuk masuk dan menginvasi seluruh bagian mulut Sakura.

Seiring menutupnya mata onyx milik Itachi, ciumannya pun semakin memanas. Kedua tangannya kini beralih pada kemeja putih yang dipakai Sakura. Tanpa melepas ciumannya, tangan Itachi berhasil membuka seluruh kancing kemeja istrinya. Sakura hanya bisa pasrah karena ia menganggap ini adalah sebagian dari 'pembuktian cintanya' kepada sang suami.

Ciuman panas pun terhenti karena kedua insan butuh pasokan oksigen untuk bernafas.

'Glek!' Itachi sedikit menelan ludah saat pandangan matanya menangkap pemandangan indah di bawahnya. Sakura tampak sangat menggoda dengan pipi yang memerah dan bibir ranumnya yang basah nampak sedikit terbuka untuk mendapatkan oksigen. Ditambah lagi kemeja Sakura sudah terbuka dan mengekspos sebagian tubuh bagian atasnya yang hanya terlindungi oleh bra putih.

Sekilas Itachi melirik leher Sakura yang masih memerah, tapi sudahlah. Ia mengembalikan pandangannya pada wajah istrinya sembari berkata, "Itadakimasu".

Dengan aba-aba itu, Itachi mulai 'menikmati' istrinya, Haruno Sakura. Ah bukan, dia masih Uchiha Sakura.

.

.

.

.

.

Dari ruang tamu, jelas sekali terdengar suara decitan yang ditimbulkan antara lantai dan tempat tidur yang diyakini berasal dari kamar tamu yang letaknya berada di lantai bawah rumah Itachi, tidak jauh dari ruang tamu memang. Dan suara desahan wanita, ya kalian pasti tahu lah siapa wanita yang ada di rumah Itachi.

"Haahh…" Seorang pria dengan rambut merah terlihat lesu karena sudah terlalu lama menanti selesainya ronde permainan dari salah satu teman baiknya, pamilik rumah ini.

"Kenapa mereka melakukannya di kamar bawah sedangkan di kamar atas lebih aman dan suaranya tidak terdengar sampai kemana-mana" keluh pria yang sudah menunggu setengah jam di ruang tamu rumah Itachi sembari mendengarkan musik menggunakan earphone. Meski sudah tersumbat earphone, telinganya masih mampu menangkap dengan jelas suara berisik yang berasal dari kamar tamu.

"Cih! Andai kau bukan teman baikku, aku tidak akan rela waktu setengah jamku ini terbuang percuma. Dasar!" si pria berambut merah kembali mengumpat, dan kali ini ia memutuskan untuk menunggu di mobilnya saja. Dimasukkannya ponsel dengan wallpaper awan merah miliknya ke dalam saku celana, tentu dengan earphone yang masih tersambung dengan volume yang bisa merusak gendang telinga. Tak lupa diletakkan map, yang sedari tadi ia pegang, di atas meja ruang tamu. Map merah yang di dalamnya tercantum nama teman baiknya dan satu form lain masih belum terisi karena dari awal rencananya ia mengantar map ini untuk mengisi form yang masih kosong itu dengan data diri istri teman baiknya. Dan di bagian atasnya terdapat tulisan divorce statement.

"Seharusnya kalian tidak lupa mengunci pintu kalau ingin berbuat hal mesum di dalam rumah. Untung saja aku yang masuk, kalau pencuri bagaimana hah?" sambil melangkahkan kaki menuju pintu keluar, pria yang mengaku teman baik si pemilik rumah tetap menggerutu dan kemudian menutup (baca : membanting) pintu rumah teman baiknya.

Dengan kesal, ia menuju tempat di mana mobil merah maroon kesayangannya terparkir. Setelah masuk ke dalam mobil, ia melepas earphone yang sedari tadi tertancap di telinganya dan menekan tombol stop pada music player di ponselnya. Kemudian ia beralih menekan tombol on pada music player di mobilnya, lalu menyalakan bluetooth dari ponselnya. List lagu heavy rock yang ia pilih untuk menemaninya menunggu di dalam mobil.

"Asal kau tahu, Itachi. Aku benci menunggu." Pria itu kembali menggerutu sembari tangannya bergerak menaikkan volume music player di mobilnya.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, itu artinya pria yang ada dalam mobil merah maroon ini sudah menunggu 1 jam lamanya.

"Haaahh! Sial! Kau haru membayar mahal karena hal ini, wahai Uchiha Itachi sialan!" pria berambut merah sudah habis kesabaran. Ia membanting tubuhnya, yang terhitung mungil dikalangan kaum adam, ke sandaran kursi mobil di belakangnya. Dia frustasi karena harus menunggu terlalu lama, meski seharusnya ia baru datang pada jam 10 ini karena sebenarnya ia dan Itachi memang janjian pada jam 10. Tapi karena Itachi bilang lebih cepat lebih baik, maka temannya itu memutuskan untuk datang lebih awal. Dan sekarang ia menyesali keputusannya untuk datang lebih awal.

"I've become so numb I can't feel you there. Become so tired so much more aware" si pria mengikuti lirik lagu yang sedang diputar music playernya scara acak.

Tok! Tok!

Kaca mobilnya diketuk dari luar, tapi pria itu sengaja tidak langsung membuka kaca mobilnya dan malah melanjutkan nyanyiannya.

"I'm becoming this all I want to do is be more like me and be less like you~~"

"Hei! Cepat buka pintu mobilmu!" seru orang yang mengetuk kaca mobil.

"Hah? Apa?" pria di dalam mobil menekan tombol stop pada layar ponsel, dan membuka sepenuhnya kaca di pintu mobilnya. "Aku tidak dengar apa-apa!" ia sengaja mengeraskan suaranya seakan menyindir orang yang menunggu di luar mobilnya.

"Sial! Kenapa kau tidak menelfonku kalau kau sudah ada di sini? Cepat buka pintu sebelah!"

Dengan menyuruh seenak jidat, orang yang menunggu di luar mobil tadi pindah ke sisi sebelah kiri mobil. Pria di dalam pun menekan pintu otomatis sehingga pintu mobil di sebelah kirinya terbuka dan masuklah orang tadi.

"Kau sudah mengunci pintu rumahmu? Kalau tidak, bisa-bisa aku mencuri semua barang-barang yang ada di rumahmu. Termasuk istrimu." sindir si pria lagi.

"Heh, ambil saja kalau kau mau. Aku sudah tidak peduli."

"Kau yakin akan menceraikannya, Itachi? Tapi nadamu seperti tidak merelakannya pergi. Apa karena kau sudah 'menikmatinya' dan kau jadi berubah pikiran?" si pria rambut merah mulai menyalakan mesin mobilnya.

Raut wajah orang yang ada di kursi penumpang, yang diketahui ia adalah Itachi, berubah canggung.

"Bagaimana kau bisa tahu? Heh, tentu saja aku tahu. Aku sudah menunggu di sini sejak satu jam yang lalu." pria yang duduk di kursi kemudi seolah bisa menebak apa yang ada di pikiran sekaligus menjawab pertanyaan yang muncul dari raut muka teman di sebelahnya. Ia sudah hafal betul sifat dan karakter Itachi, jadi tanpa bersuara pun ia bisa mendengar kata-kata yang ada di pikiran teman baiknya ini.

"Dan asal kau tahu, setengah jam pertama aku menunggu di ruang tamu lalu setengah jam berikutnya baru aku menunggu di dalam mobil." pria yang merupakan sahabat Itachi itu pun mulai mengarahkan mobilnya keluar dari halaman rumah. "Kita langsung menuju tempat yang sudah ditentukan kan, Itachi?"

"Hei Sasori, kau tidak dengar apa-apa kan dari ruang tamu?" wajah Itachi sedikit menahan malu menanyakan hal itu pada sahabatnya, si pria berambut merah.

"Apanya yang tidak dengar apa-apa, aku mendengar semuanya, bodoh!" Sasori berhasil menyebut Itachi bodoh karena selama ini ia hanya berhasil menyematkan sebutan 'bodoh' pada temannya yang lain, tidak pada Itachi.

"Cih! Jangan kau beberkan pada yang lain atau nyawamu taruhannya." Itachi mengancam sambil menahan malu yang amat sangat.

"Jadi kau sudah berani mengancamku, Uchiha-bodoh-san?"

"Berhenti menyebutku bodoh, bodoh!"

"Tidak kusangka, kepintaranmu semakin menurun karena menikah."

"Diam kau play boy level dewa."

"Bukan karena aku bekerja dengan wanita-wanita cantik kau jadi menyebutku play boy. Mereka hanya bonekaku."

"Boneka yang siap kau kencani setiap saat."

"Sial kau! Kalau saja kau tidak menikah mungkin aku sudah mengencanimu juga."

"Jadi kalau aku kencan dengamu, kau akan jadi seme atau uke? Tidak mungkin kan pria baby face sepertimu jadi seme?"

"Tidak menutup kemungkinan juga pria dengan rambut panjang nan indah sepertimu menjadi uke."

"Masih ada Deidara, pria dengan rambut panjang nan indah yang masih menjomblo."

"Tidak mau, dia terlalu bodoh."

Hahahahaha!

Tawa keduanya pun pecah dan suasana kembali mencair.

"Sial kau Itachi, jangan mentang-mentang kau sudah menikah lalu kau bisa mengejekku seperti itu."

"Siapa yang memulainya terlebih dahulu?"

"Siapa suruh kau 'menikmati' istri yang akan kau ceraikan hah?"

"Entahlah, aku masih sedikit mabuk."

"Karena tadi malam?" mobil Sasori berhenti karena lampu merah.

"Ya, kau tahu kan toleransiku terhadap alkohol sangat rendah. Bahkan sampai sekarang aku masih pusing."

"Dasar payah, kenapa kau tidak minum pereda mabuk?"

"Aku lupa meletakkannya di mana?"

"Kau benar-benar bertambah bodoh sejak menikah, Itachi. Tunggu di sini sebentar aku akan cari apotek." Sasori kembali melajukan mobilnya karena lampu sudah kembali hijau.

"Tunggu, jam berapa sekarang?"

"Sepuluh lebih delapan menit. Memangnya ada apa?"

"Sasori, bisakah kita ke bandara sebelum ke tempat pertemuan? Sasuke memintaku untuk menjemputnya di bandara jam 10 pagi."

"Kau benar-benar menyusahkanku hari ini, Itachi. Siapkan dirimu, kita akan tiba di bandara sepuluh menit lagi dengan kecepatan penuh. Entah kenapa aku bisa mendengar cacian Sasuke meski belum bertemu dengannya." dengan aba-aba itu pun Sasori segera menambah kecepatan mobilnya.

"Aku mengandalkanmu, Sasori."

"Sial kau!"

Mereka berdua pun melesat menuju bandara, sebelum semuanya terkena umpatan kebencian dari Sasuke.

.

.

.

.

.

Sementara itu di rumah Itachi…

"Emmm…" mata emerald dari wanita cantik bermahkota soft pink mulai terbuka. Wanita itu pun mencoba menghimpun kembali kesadarannya. Matanya masih sangat berat karena semalam tidak tidur dan kali ini pun dia tidur hanya sekitar 15 menit.

"Aku… ada di kamar Itachi?" gumamnya pada diri sendiri.

Sedetik kemudian ia mengingat kejadian sebelum ia terlelap tidur.

"Astaga! Aku benar-benar sudah menjadi Uchiha Sakura. Aduh, bagaimana ini? Baju? Di mana bajuku?" Sakura mengedarkan pandangannya untuk mencari baju yang sebelumnya ia tanggalkan, seingatnya tadi Itachi membuang begitu saja baju-bajunya.

"Ternyata di sini, suamiku sudah melipatnya dengan rapi. Ah, bukan, maksudku Itachi sudah melipatnya dengan rapi." entah kenapa Sakura jadi malu sendiri menyebut Itachi dengan sebutan suamiku.

Tak perlu waktu lama bagi Sakura untuk memakai kembali bajunya. Meski Itachi tidak ada di rumah, Sakura tidak terlalu khawatir karena memang dari awal Itachi sudah bilang kalau temannya akan menjemputnya.

"Aku bahkan belum mengenal semua teman Itachi, lebih baik mulai sekarang aku mencoba mengenali siapa saja yang dekat dengan suamiku. Ah maksudku Itachi. Bila suatu saat ada hal yang tidak diinginkan, aku bisa minta bantuan mereka."

Dengan pikiran yang mulai tenang, Sakura melangkahkan kaki keluar dari kamar Itachi menuju ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu, ia melihat sebuah map merah yang ada di atas meja.

"Sepertinya ini bukan milik Itachi" karena penasaran, Sakura membuka isi map merah itu.

Dia sedikit terkejut melihat judul dari surat yang ada di dalamnya, divorce statement. Sakura masih mencoba berfikir positif, tapi semua pemikiran positif itu lenyap saat ia membaca isi dari surat itu. Dimana ada data diri Itachi dan ada form kosong dengan bagian nama saja yang terisi, dan di bagian nama itu tertera namanya. Bahkan di bagian akhir surat, ada tanda tangan persetujuan dan nama Uchiha Itachi di bawahnya, namun sebelahnya lagi masih kosong belum tertandatangani. Hanya saja sudah ada nama Haruno Sakura di sana.

"Itachi… kau masih tetap berusaha menceraikanku." entah itu sebuah pernyataan atau pertanyaan yang keluar dari mulut Sakura setelah membaca isi surat dalam map merah.

Kakinya lemas dan ia terduduk di sofa empuk yang ada di ruang tamu, air mata yang ia kira sudah kering ternyata masih bisa menetes melewati pipi mulusnya.

Ting tong!

Belum puas Sakura menangisi keputusan suaminya, bel pintu di rumahnya berbunyi.

Ting tong ting tong ting tong!

"Siapa sih? Tidak sabaran sekali!" Sakura mengumpat sembari menyeka sekilas air mata yang jatuh di pipinya. "Iya tunggu sebentar…!" teriaknya mendengar bel pintu yang tak kunjung berhenti berbunyi.

Cklek!

Sakura pun membuka gagang pintu dan betapa kagetnya dia melihat siapa tamu yang datang.

"S-sai?"

"Hai, sayang…" senyum Sai, pria yang bertamu ke rumah Sakura, dengan mata yang menyipit. Seperti senyum yang dipaksakan.

"H-hai, Sai. B-bagaimana kau bisa tahu… rumah baruku?" tanya Sakura terbata-bata, bahkan ia belum sempat menaruh map merah yang baru saja ia baca isinya. Mengetahui siapa yang datang, reflek Sakura menyembunyikan map merah itu di belakang punggungnya.

"Jadi ini rumah barumu? Kukira ini rumah milik Uchiha Itachi, karena tetangga di sebelah rumahmu berkata begitu."

"E-etto, maksud mereka ini memang rumah Uchiha Itachi sebelumnya, tapi sekarang sudah menjadi milikku karena aku sudah membelinya. Aku belum sempat mengunjungi tetanggaku jadi mereka belum mengenalku." ucap Sakura mencoba mengarang cerita.

"Ah, jadi begitu. Mereka belum mengenalmu tapi mereka tahu nama Uchiha Sakura. Bagaimana nama margamu bisa berubah menjadi marga orang yang memiliki rumah ini sebelumnya?"

"A-ano, ehm… ja-jadi begini…"

"Sudahlah Sakura, kau tidak perlu membohongiku lagi." Sai pun memotong perkataan Sakura. "Aku sudah tahu semuanya, jadi jangan berlagak polos di hadapanku."

"Aku bisa menjelaskan semuanya, Sai. Aku mohon dengarkan a-"

Dhuugg!

Sakura pun pingsan setelah tengkuknya dihantam keras oleh tangan Sai. Tubuh Sakura yang limbung pun jatuh ke dalam pelukan Sai, map merah yang Sakura pegang pun ikut terjatuh. Isinya jatuh berantakan di atas lantai dan mata Sai berhasil menangkap tulisan divorce statement yang ada di salah satu kertas.

"Baiklah Sakura, mari kita lihat siapa yang bisa memenangkanmu kali ini."

Sai menggendong tubuh lunglai Sakura dan beberapa pesuruh Sai membereskan map dan isinya yang berantakan lalu mereka semua menuju mobil hitam yang terparkir di depan rumah Itachi. Sedetik kemudian mobil itu pun melaju kencang, meninggalkan rumah yang sudah kosong tak berpenghuni.

.

.

.

.

.

Sementara itu di tempat lain…

"Mereka semua sudah bergerak, kita siapkan semua sesuai rencana."

"Baik!"

To be continue