Chaldea Academy
Disclaimer:
Various Animanga and Movies
Genre; Action, Fantasi, Friendship, DLL
Warning: Typo, OOC, School Theme, dan banyak kesalahan lainnya. Multi-Crossover.
Start Story
.
.
.
.
.
.
(Note: saya melakukan beberapa perubahan pada Chapter 1, jika kalian Melihat pembukaan pada Chapter ini, maka kalian akan bisa menebak seperti apa perubahan yang saya lakukan.
silahkan nikmati~
.
.
.
.
Dua hari semenjak kejadian itu berlangsung, dan selama itu pula Naruto terus termenung sendirian dan menjauhkan dirinya dari orang lain, ia seperti berubah dari Naruto yang periang menjadi seorang yang suram. Sebenarnya, selama dua hari ini dia terus menyalahkan ketidakmampuannya untuk menyelamatkan gadis kecil itu. Teman-temannya sudah berusaha untuk menghiburnya tapi itu sama sekali tidak berguna, malahan dia hanya meminta mereka untuk membiarkan dirinya sendiri saja untuk saat ini.
Seperti yang dia lakukan saat ini, duduk atas cabang pohon dengan pakaian berwarna hitam layaknya seorang yang sedang berduka menghadiri pemakaman. Yah, sebenarnya dia memang datang ke acara itu ... Dari kejauhan, dia menyaksikan sebuah peti kecil yang dikuburkan dalam tanah. Ia tahu siapa yang ada di dalam situ, tapi dirinya merasa malu untuk datang ke sana dan melihat wajah kedua orang tua Yoshino yang sedang menangis sedih mengantar kepergian anaknya. Karena dirinyalah, gadis kecil itu mati.
Ia menyalahkan dirinya sendiri.
"Cih, apanya yang pahlawan?" gumamnya. Kini, dirinya merasa itu hanyalah sebuah gelar yang bodoh. Untuk apa itu disematkan jika dirinya saja tak berdaya kala itu?
"Naruto-Kun," panggil suara seorang gadis yang familier di telinganya. Ia hanya sedikit menoleh ke arah datangnya suara itu, seperti yang dia duga di bawah pohon ada Hinata bersama rekan setimnya dari Tim Kurenai. Naruto hanya acuh tak acuh dengan keberadaan mereka di sana, sehingga membuat gadis Hyuuga itu agak sedih dan khawatir padanya, "Rupanya benar kau berada di sini," ujarnya.
"Naruto-Kun, kami khawa-"
"Pergilah. Aku tak ingin diganggu oleh siapa pun, tidak juga olehmu,"
Namun, sebelum Hinata bisa menyelesaikan ucapannya barusan, Naruto malah menyela gadis itu dengan nada yang terkesan sedikit dingin. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun ketika mengatakan hal itu. Sepertinya, dia terlalu murung dengan rasa bersalah di hatinya. Hinata yang ingin kembali menghibur Naruto pun harus menghentikan niatnya tatkala Shino menepuk pundaknya dan menggelengkan kepalanya sebagai isyarat, "Hinata, biarkan dulu dia seperti ini. Sepertinya dia masih terpukul," ujar Shino yang berbalik ingin pergi diikuti oleh Kiba yang hanya bisa mendecih saja. Hinata hanya memandang Naruto dengan tatapan sendu sebelum akhirnya dengan ragu-ragu ia mengikuti teman-temannya.
"Kami permisi, tapi jika kau ingin membagi perasaanmu kau tahu di mana kami," ujarnya sebelum berlari mengejar rekannya, meninggalkan Naruto yang masih saja terus melanjutkan lamunannya.
Ctakh!
Namun, tak lama setelah Hinata dan kedua rekannya pergi. Sebuah kerikil tiba-tiba saja menghantam kepalanya dengan keras, sehingga Naruto langsung terjatuh dengan dengan tidak elitnya, "Siapa yang melakukan itu!?" ujarnya yang kesal seraya melihat sekelilingnya untuk mencari pelaku pelemparan barusan. Derap langkah kaki perlahan mendekat dari belakangnya. Menoleh ke sana, Naruto mendapati seorang wanita berambut merah panjang dengan seragam putih dan hitam yang sedang berjalan ke arahnya.
"Yo, Tukang suram. Apa sudah selesai merenung?" ujar gadis itu sembari bersedekap. Tak lama kemudian, dia duduk di depan Naruto sehingga membuat si pirang bingung dengan kelakuan gadis ini. Dia bahkan tidak meminta maaf dan langsung main duduk saja.
"Kau siapa?" tanya Naruto. Rasanya tipikal wajah seperti wanita ini sangat asing untuk orang-orang Konoha dan sekitarnya.
"Kau kemarin bertemu dengan rekan-rekanku, kan?" Naruto sekarang sedikit mengerti. Walaupun yang barusan tidak menjawab pertanyaannya, tapi setidaknya dari situ dia bisa tahu kalau wanita ini sepertinya adalah teman dari Ben dan Tenka. Matanya melihat lurus ke Naruto, dari ekspresinya saja kita tahu kalau dia sedang serius sekarang ini, "Namaku Erza. Langsung saja ke intinya. Tenka mengatakan kalau ada pria tua yang memberikanmu tiket, bukan?" tanya Erza.
Walaupun tak mengerti, Naruto hanya mengangguk saja sebelum mengeluarkan tiket yang selalu berada di sakunya itu dan menyerahkannya pada Erza. Sebenarnya, dia juga masih bingung ada apa dengan tiket ini, dan mengapa itu selalu kembali ke sakunya entah berapa kali dia buang? "Ben-San telah menjelaskan padaku beberapa hal, terutama tentang makhluk-makhluk itu, tapi tentang tiket ini ... Apa maksud sebenarnya? Bisakah kau menjelaskannya padaku?" tanya Naruto.
Erza melihat tiket itu dengan tatapan tertarik, sangat jarang sekali pak tua itu datang secara langsung untuk merekrut. Pasti dia melihat sesuatu yang menarik dari pemuda ini, "Pada saat kejadian itu, kau hampir mati, kan?" ujar Erza membuat Naruto tersentak karena diingatkan pada kejadian yang ia benci itu. Namun, sepertinya Erza tak berniat untuk sampai di situ walaupun menyadari raut wajah pemuda ini, "Kau bahkan tak bisa apa-apa ketika anak itu mati," Naruto menggertakkan giginya karena ucapan itu dan merasa marah, bahkan ia mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Namun, ia tahu semua itu benar adanya.
"Jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan yang menyakitkan itu, Erza-San. Dan itu juga tak ada hubungannya," ujar Naruto dengan wajah yang menunduk karena malu pada dirinya sendiri.
Erza menghela nafasnya sebelum akhirnya tersenyum dan menjawab, "Tentu saja ada hubungannya," ujarnya seraya berdiri dan memberikan isyarat pada Naruto untuk mengikutinya. Tanpa bertanya, Naruto mengikuti gadis itu dengan berjalan di sampingnya, "Kau melihat temanku dengan mudahnya menghabisi makhluk itu, kan?" tanya Erza yang hanya direspon oleh Naruto dengan sebuah anggukan.
Naruto mengangguk. Memang benar, walaupun dia dalam kondisi yang sulit untuk bertarung karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi, tapi tetap saja dirinya tak bisa menampik kenyataan kalau Mode Sage miliknya tidak bekerja untuk melawan makhluk itu, dan ini artinya bisa dibilang dia masih lemah. Di sisi lain, datang Ben dan Tenka yang dengan mudahnya menghabisinya, "Ya. Harus kuakui mereka Hebat," ujarnya. Terutama Tenka.
"Itu karena kami tahu apa yang kami hadapi dan dilatih untuk menghabisi mereka," ujar Erza. Namun, sepertinya Naruto tidak terlalu mengerti apa maksud dari gadis itu dan hanya menaikkan alisnya saja. Melihat ini, Erza memberikan tiket itu kembali pada Naruto, "Dari sudut pandang dunia kita masing-masing, kita adalah orang yang dianggap istimewa dan memiliki potensi. Karena itulah dulu aku menerima tiket itu sebagai mana kau menerimanya sekarang. Orang itu sepertinya melihat potensi besar dalam dirimu sehingga repot-repot datang menemui secara langsung."
Walaupun tak mengatakan secara jelas, tapi Naruto tahu siapa orang yang dimaksud oleh Erza barusan dan sudah pasti itu adalah pak tua yang menemuinya beberapa hari lalu, "Jadi, kalian berasal dari tempat bernama Chaldea Academy ini?" tanya Naruto yang dibalas anggukan oleh Erza.
"Ya, kami adalah siswa Chaldea yang bertugas untuk menanggulangi ancaman makhluk dari balik Layers," jawab Erza seraya menepuk pundak Naruto dan tersenyum kepadanya, "Kau terlihat begitu frustasi karena ketidakberdayaanmu dan kematian anak itu. Jadi aku akan memberikan penawaran padamu untuk belajar di Chaldea, jika kau ingin bertambah kuat. Sayang sekali jika potensi besarmu harus terbuang," ujar Erza.
Naruto terdiam, sebegitu lemahkah dirinya sehingga Erza berkata kalau dia hanya membuang potensi dirinya yang sebenarnya? Apakah tanpa sadar dia hanya puas dengan mode Sage dan terlalu bergantung pada Chakra Kurama? Memang benar, sebagai seorang ninja bisa dikatakan dirinya adalah orang yang memiliki sedikit list Jutsu untuk digunakan. Dirinya terlalu mengandalkan mode bertarungnya yang harus dia akui tidak bisa digunakan di setiap kondisi, dan sekuat apa pun mode itu tetap saja tak akan berguna jika tidak bisa dipakai seperti kemarin.
"Apa menurutmu aku bisa menjadi lebih kuat lagi di sana?" tanya Naruto.
Erza mengangguk sebagai konfirmasi dan mengatakan, "Itu tergantung dari dirimu sendiri apakah kau mampu atau tidak. Aku hanya menawarkan kesempatan," Erza membalikkan badannya, sepertinya dia sudah akan pergi dari sana. Namun, untuk sesaat dia menghentikan langkahnya, "Dengar, kau mungkin tak bisa mengembalikan nyawa yang telah hilang, tapi setidaknya kau masih memiliki kesempatan untuk mencegah nyawa lain hilang," ujarnya yang kembali melanjutkan langkahnya.
Naruto terdiam di sana, wajahnya menunduk dengan rambutnya yang sedikit menutupi wajah sehingga sulit untuk melihat ekspresinya saat ini. Ia mungkin berpikir, semua peristiwa ini telah menyadarkan dirinya kalau dia masih lemah dan membuang potensinya, bisa jadi dirinya juga terlalu cepat puas dengan kekuatan Kurama padahal itu sepenuhnya bukan miliknya sehingga basic powernya sendiri cukup tak berguna kemarin, dan itu adalah fakta yang sama sekali tidak bisa ia tampik. Seperti kata Erza, mungkin penyesalan ini tak bisa membuat anak itu hidup lagi, tapi ia ingin menjadi lebih kuat lagi agar hal seperti ini tak terjadi kembali.
Ia tak ingin ada anak-anak lain seperti Yoshino yang harus mati karena ketidakmampuannya. Naruto menatap tiket di tangannya dengan intens. Gadis itu mengatakan kalau ini adalah kesempatan dirinya untuk menjadi lebih kuat, pada awalnya dia memang ragu dengan tiket ini dan si pak tua tapi pada hari ini semua telah menjadi jelas karena ancaman itu telah menampakkan dirinya di depan matanya. Mungkin ia tak tahu apa yang menantinya di tempat Chaldea ini, tapi ia tak peduli selama hal itu bisa membuatnya menjadi lebih kuat lagi.
"Keputusan telah dibuat. Tidak ada lagi keraguan jalan untuk mundur dari ini," ujarnya seraya bergegas pergi dari sana entah mau ke mana.
Sementara itu, tanpa Naruto sadari sepertinya ada yang mengawasi Naruto dari atap salah satu rumah warga. Ia memiliki ciri seorang wanita berambut hitam pendek dengan mata berwarna ungu, sorot matanya memancarkan aura yang sangat karismatik dan tegas. Yang paling menarik adalah, dia mengenakan baju seragam yang sama dengan yang Erza kenakan barusan. Sepertinya dia juga dari Chaldea.
.
.
.
.
.
Line break
Tsunade menghela nafasnya. Biasanya ketika seorang Uzumaki Naruto masuk ke kantornya maka itu terkadang akan menimbulkan sakit kepala pada dirinya, dan sekarang itulah yang terjadi pada dirinya saat ini tapi kali ini bukan karena suara berisiknya atau protes darinya, melainkan hal tak masuk akal yang dia bicarakan, "Biar aku luruskan ini, Gaki. Kau ditawari untuk datang dan berlatih di tempat antah berantah yang kau sendiri tak tahu di mana itu, dan kau berniat untuk datang ke sana?" tanya Tsunade sembari memijit pelipisnya. Sungguh, dia tak tahu apa yang ada di pikiran anak ini.
Naruto hanya mengangguk mengiyakan sehingga membuat Tsunade menghela nafasnya. Ia sudah lelah dengan semua dokumen ini, belum lagi muncul masalah aneh kemarin dan sekarang ditambah dengan pemikiran bocah idiot di depannya ini, "Bodoh! Apa yang kau pikirkan sebenarnya!?" bentak Tsunade. Ia tak habis pikir apa yang ada di kepala Naruto? Bukankah itu terdengar aneh? Apalagi jika itu datang dari orang tak dikenal.
"Tsunade-Sama," Wanita tua itu seketika tersentak akibat panggilan itu. Sejak kapan terakhir kali Naruto memanggilnya dengan panggilan formal yang hormat? Tidak pernah. Rasanya ini yang pertama kali dia melakukan itu, "Aku mengerti ini terdengar aneh dan tak masuk akal. Tapi ada sesuatu yang sulit dijelaskan mengenai alasanku untuk pergi ke tempat itu," ujar Naruto dengan raut wajah yang tegas. Sesuatu yang Tsunade ketahui akan sulit mengubahnya jika dia sudah seperti ini.
Tsunade terus menatap tajam pada Naruto, tampaknya dia memikirkan sesuatu tentang ini, "Apakah hal ini terkait dengan kejadian dua hari yang lalu dan orang-orang misterius itu?" tanya Tsunade. Saat kejadian kemarin itu, ada yang melaporkan kalau Naruto melawan sosok monster aneh di sana. Pada awalnya dia ingin ke sana untuk membantunya karena kondisi Naruto yang masih buruk, tapi tiba-tiba saja beberapa orang datang dan menghalangi mereka dan mengatakan jika di sana sangat berbahaya dan lebih baik mereka yang akan turun tangan.
Awalnya Ia sempat menentang, tapi mereka berhasil meyakinkannya kalau mengevakuasi korban reruntuhan juga sangat penting saat ini dan menjadi prioritas karena sudah ada rekan mereka yang turun tangan langsung di sana untuk membantu Naruto. Sebagai gantinya, mereka juga akan mengevakuasi korban dan hasil akhirnya mereka bisa meminimalisir Korban dikarenakan kemampuan salah satu dari kelompok itu yang dapat dengan mudah mengangkat seluruh puing-puing sekaligus.
Naruto sekali lagi mengangguk, memang ini sangat berkaitan dengan itu semua, "Ya, itu membuatku tersadar seberapa jauh batasanku sebenarnya," ujarnya membuat Tsunade hanya bisa menaikkan alisnya karena bingung dengan apa maksud dari cucu angkatnya ini. Ia tak tahu secara jelas apa yang sebenarnya terjadi di sana, Naruto juga semenjak itu menjadi sangat pendiam dan tak mau berbicara apa-apa.
"Bukankah kau sudah kuat dengan mode Sage milikmu itu, belum lagi ditambah mode Biiju yang cukup dahsyat?" ujar Tsunade yang tak mengerti. Apakah anak ini belum puas dengan kekuatan yang dimilikinya dan menjadi terobsesi pada suatu hal layaknya Orochimaru? Jika seperti itu, maka dia sendiri yang akan memukul kepalanya saat ini juga.
Namun, Naruto menggelengkan kepalanya membuat Tsunade lebih bingung lagi, "Benci mengakuinya, tapi saat itu bahkan mode Sage tak bisa berbuat banyak, makhluk itu bahkan dapat bertahan dari Rasenshuriken," bohong jika mengatakan kalau Tsunade tidak terkejut. Yang benar saja!? Mode Sage adalah kemampuan istimewa di mana penggunanya meminjam kekuatan dari alam itu sendiri, sehingga memberikan kemampuan yang luar biasa. Dan sekarang Naruto mengatakan kalau ada makhluk yang tidak memiliki efek setelah dihantam oleh mode itu? Terlebih lagi menerima Rasenshuriken seperti itu?
"Dan untuk Mode Bijuu sendiri, semua itu tak lebih dari pinjaman Chakra Kurama saja. Mungkin, akan ada waktunya aku tak akan bisa menggunakan itu setiap saat," seperti kemarin, sebenarnya dia bisa saja menggunakan Bijuu mode tapi hal itu bisa sangat berisiko mengingat dia sebenarnya belum pulih betul, dan bisa saja dia menghancurkan Konoha lagi dalam mode destruktif seperti itu. Mungkin benar dia menjadi sangat kuat dalam mode itu, tapi bagaimana jika saat yang dia takutkan itu tiba kembali?
Tsunade terdiam mendengar itu semua, ia sama sekali tidak menyangka Naruto akan dapat berpikir dewasa seperti itu. Sepertinya tanpa disadarinya mental anak ini juga berkembang menjadi lebih matang. Apa pun yang Naruto alami saat itu, sepertinya hal itu telah sedikit membuatnya menjadi agak bijak. Bagus juga, sih. Ia tersenyum seraya menghela nafas, "Baiklah jika itu keinginanmu. Aku tak punya pilihan lain lagi," sejak awal jika bocah ini sudah bertekad, maka dia tak akan bisa melarangnya bahkan jika dilarang pun sudah pasti dia akan tetap pergi. Wanita tua bangun dari kursinya dan berjalan mendekati Naruto sebelum akhirnya dia memeluknya erat.
"Walaupun aku mengizinkan kau pergi, tapi tetap saja aku khawatir kau berniat pergi ke tempat yang tak dikenal," ujar Tsunade. Jujur, dia memang sangat khawatir dengan Naruto terlebih lagi dengan kondisinya yang saat ini. Dirinya merasa kalau dia tak akan melihat anak itu lagi untuk waktu yang cukup lama, "Lalu, kapan kau akan berangkat? Supaya aku bisa mempersiapkan keperluan perjalananmu
Naruto memberikan cengiran khasnya, ia sangat memaklumi kekhawatiran dari sosok ibu baptisnya itu, "Secepatnya, kalau bisa sebelum subuh aku sudah akan meninggalkan Konoha," jawabnya membuat alis Tsunade naik. Bukankah itu terlalu terburu-buru? Ia harusnya juga berpamitan dengan guru dan teman-temannya yang lain. Namun, Naruto sendiri memiliki alasan mengapa dia secepatnya harus pergi.
Satu-satunya petunjuk yang menuntunnya pada tempat Chaldea berada adalah Erza dan rekan-rekannya, dan kemungkinan besar mereka akan akan secepatnya berangkat karena tak ada lagi keperluan yang harus mereka atasi di sini, "Gaki, setidaknya tunggulah sampai tangan buatan milikmu selesai," ujar Tsunade. Ia tak mungkin membiarkan Naruto pergi dalam keadaan seperti ini nantinya, bisa saja itu akan berisiko buatnya.
"Saya rasa itu tidak perlu," ujar suara baru yang menginterupsi mereka membuat Tsunade hampir saja melemparkan senjata ke arah pemilik suara itu. Tanpa diketahui oleh Naruto, sebenarnya wanita inilah yang mengawasinya tadi tapi sekarang dia seenaknya saja langsung masuk ke dalam kantor Hokage.
Ia tak datang sendiri, di belakangnya ada seorang pria yang Naruto kenali sebagai Ben, orang yang datang bersama Tenka waktu itu. Tampaknya, dia hanya tertarik untuk berdiri diam saja di belakang gadis ini.
Menyadari kesalahannya, wanita itu segera membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda menyesal, "Maaf telah lancang, tapi saya datang ke sini atas beberapa keperluan. Terutama hal itu juga menyangkut Uzumaki Naruto di sini," ujarnya seraya menoleh pada orang yang dia maksud. Naruto mengerti, dilihat dari pakaiannya saja dirinya dapat menyimpulkan kalau dia adalah orang dari Chaldea seperti Tenka, Ben, dan Erza.
"Suara ini ... Rasanya tak asing," batinnya. Jika tak salah ingat, ini adalah suara yang dia dengar setelah kejadian itu tapi dirinya tak bisa menoleh ke belakang karena sedang kaku tubuhnya. Mungkinkah dia orang Tenka panggil KaichÅ? Entahlah, dia juga tak terlalu peduli
"Bicaralah!" ujar Tsunade dengan nada tegas dan berwibawa.
Gadis itu mengangguk dan mengeluarkan sebuah cairan aneh berwarna Aquamarine, "Tapi sebelum itu, minumlah ini," ujarnya seraya menyodorkan botol di tangannya pada Naruto. Baik Tsunade maupun Naruto agak ragu dengan itu. Jangan salah paham, tapi sebagai seorang Shinobi terlatih mereka tak bisa begitu saja menerima barang aneh yang belum jelas apa itu, terlebih lagi dari orang asing.
Seolah menyadari hal ini, gadis itu lantas merentangkan satu tangannya ke samping. Ia sedikit melirik pada Ben yang berdiri di belakangnya, "Ben, Lakukanlah," entah apa tapi Naruto tak mengerti apa maksud dari wanita ini? Namun, Ben yang sepertinya tahu akan maksudnya jelas memiliki raut keraguan di wajahnya, dan hal ini tentunya tak luput dari perhatian Naruto.
Ben lantas menghela nafasnya dan mengambil benda aneh yang tersemat di pinggangnya. Dan ketika dia memencet tombol di sana, sebuah bilah plasma berwarna hijau muncul dari benda itu. Hal ini agak mengingatkan Naruto akan Raiiji, hanya saja kali ini memiliki 2 bilah tambahan yang berperan sebagai Cross-Guard dan mengeluarkan suara yang mendedas. ( Seperti lightsaber Sith miliknya di Film, hanya saja ini berwarna Hijau)
Melihat Ben yang mengeluarkan senjata miliknya, tentu saja membuat Tsunade menatap tajam pada mereka dan memasang posisi siaga jika saja mereka berniat menyerangnya. Sebaliknya, gadis itu santai seperti tidak akan terjadi apa-apa. Ben lantas mengangkat Lightsaber miliknya tinggi-tinggi, dan dan mengayunkannya ke arah tangan gadis itu sehingga dalam satu tebasan saja tangannya langsung putus dan jatuh begitu saja ke lantai, tanpa darah yang mengotori lantai.
Kedua Shinobi yang melihat kejadian barusan hanya melotot tak percaya dengan apa yang mereka saksikan, "Apa yang baru saja kau lakukan, bodoh!?" bentak Tsunade yang tak habis pikir dengan kelakuan orang ini yang dengan santainya membuang anggota tubuhnya..
"Santai saja, itu hanya tangan,"
"SANTAI SAJA GUNDULMU," Naruto tak habis pikir, apa yang ada di kepala gadis ini!? Tangannya baru saja dipotong, loh! Dan dia masih dengan tenang mengatakan untuk santai saja?! Serius, dia ini gila atau apa.
Sementara itu, Ben yang merupakan pelaku pemotongan itu hanya mengalihkan pandangannya dengan gugup tatkala mendapat tatapan intens dari Tsunade, "Kumohon, jangan menatapku seperti itu, dialah yang akan memotongku jika tak menuruti kata-katanya," batin Ben yang tak berani bersuara. Sejujurnya, dia adalah korban Bullying dari teman-temannya di team. Mereka adalah preman pasar dengan skin wanita cantik, sehingga kerap kali mereka menindasnya.
Namun, si gadis yang tangannya buntung itu sama sekali menunjukkan kepeduliannya pada tangannya, "Ini kulakukan agar kalian tak ragu, " ujarnya membuat Tsunade dan Naruto semakin bingung. Yah, bukan berarti kau bisa begitu saja memotong tangan mu. Sesaat kemudian, ia mulai meminum cairan itu hingga tak bersisa sedikit pun. Secara sekilas, tubuh gadis itu bersinar sedikit. Namun, yang paling mengejutkan adalah tangannya yang tumbuh kembali cacat sedikit pun seolah itu tak pernah terlepas dari sana.
Mulut Tsunade menganga lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan di depan matanya. Sungguh, selama bertahun-tahun pengalamannya sebagai ninja medis ia sama sekali belum pernah melihat yang seperti ini, "Sial. Sekarang aku merasa seperti orang bodoh ketika berusaha membuat tangan buatan itu," ujarnya seraya mengambil sebotol sake dan meneguknya sampai habis dalam satu putaran. Sial! Ini terlalu banyak untuk diambil.
Gadis itu kembali mengambil botol cairan yang sama dan menyerahkannya pada Naruto. Namun, kali ini bocah itu menerimanya tanpa keraguan sedikit pun seperti sebelumnya. Naruto langsung meneguk minuman itu, dan seperti yang terjadi pada gadis aneh ini, tubuhnya juga bersinar untuk sesaat sebelum disusul dengan tangannya yang tumbuh kembali, "Woah, ramuan ini benar-benar luar biasa," ujarnya yang kagum. Serius, ia merasa bukan hanya tangannya yang kembali tumbuh tapi tubuhnya serasa bugar dan penuh energi untuk saat ini
Ia bahkan mencoba untuk menggerakkan tangannya dan meninju udara dengan itu untuk mengujinya, "Terasa seperti tanganku yang sebelumnya," gumamnya yang tak bisa untuk tak kagum. Tidak ada bekas jahitan, dan tak ada pula bekas luka yang terlihat buruk. Ini benar-benar sempurna, "Aku sangat berterima kasih, Eto ..." sepertinya dia baru sadar kalau gadis ini belum memperkenalkan namanya.
"Sakaguchi Hinata, Kapten dari Ben di sana. Dan tak masalah, kau membutuhkan anggota tubuh yang lengkap untuk datang ke Chaldea," jawab Hinata seraya memperkenalkan dirinya sebagai seorang kapten dari teman-temannya. Sesaat kemudian, dia mengeluarkan benda bulat dari sakunya dan meletakkan itu di lantai, "Sepeeti kataku tadi, kami di sini karena memiliki keperluan yang mesti disampaikan pada pemimpin di sini," lanjutnya dengan ekspresi serius yang dibalas anggukan oleh Tsunade.
Tiba-tiba penutup dari benda di lantai itu bergeser menjadi empat bagian, dan memunculkan sebuah hologram dari sosok yang agak familiar bagi Naruto. Ya benar, ini adalah pak tua yang beberapa hari lalu datang padanya, tidak salah lagi, "Salam, Lady Tsunade. Maaf jika kurang sopan karena hanya berbicara melalui pesan seperti ini, tapi keadaanlah yang membuatku terpaksa," ujar pak tua itu seraya sedikit menunduk. Entah sadar atau tidak, pak tua ini memiliki seringai samar di bibirnya, "Aku memiliki sebuah penawaran padamu,"
Namun, tampaknya Tsunade tak terlalu mempermasalahkan hal sepele seperti itu, dia lebih tertarik ingin apa yang akan pak tua ini sampaikan, "Baiklah, mari kita dengarkan," ujarnya seraya memangku kepalanya dengan kedua tangannya. Tapi tetap saja, sorot mata dan ekspresinya jelas menandakan kalau dia sedang sangat serius sekarang ini.
Line Break
Sementara itu, di saat yang sama kini Erza Scarlet tengah memandangi sebuah pusara. Yah, cukup aneh memang mengingat dia berasal dari dunia yang berbeda dan bahkan tidak pernah ke sini sebelumnya. Namun, anehnya tanpa sadar dia sudah melangkahkan kakinya menuju makam dari orang yang tidak dia kenal ini, "Siapa sebenarnya kau?" Gumamnya yang merasa bingung. Ia tak mengerti, mengapa air matanya tiba saja mengalir dengan sendirinya.
Ia duduk berlutut sembari mengusap nama yang tertera di makam itu. Sungguh, dia tak mengerti mengapa dia terus-terusan mengeluarkan air mata bahkan sampai matanya memerah. Entah mengapa juga, dia merasa ingin sedikit berlama-lama di sini padahal orang yang dikuburkan di sini bahkan bukan kerabatnya.
.
.
.
.
Di sini bersemayam Namikaze Minato, seorang pahlawan dan pemimpin yang hebat. Pengorbanan maupun jasanya akan selalu diingat oleh tunas baru Konoha.
.
.
.
Erza tersenyum membaca kata-kata yang tertulis pusara itu, "Sepertinya kau pemimpin yang dicintai oleh rakyatmu, ya," ujarnya. Namun, mengetahui fakta bahwa orang ini telah mati entah mengapa membuat hatinya serasa sakit. Dia memang suka menaruh penghormatan pada para pejuang hebat, tapi yang ini terasa berbeda.
Kesedihan, mengapa dia merasakan perasaan aneh itu untuk orang yang sama sekali tidak dia kenal. Apa yang sebenarnya terjadi, "Mungkinkah aku terpapar radiasi sehingga bertingkah aneh?" ujarnya, tapi seingat dirinya kali ini ia sama sekali tidak mendekati lokasi munculnya makhluk itu sehingga agak aneh jika dia juga terpapar radiasi, bahkan mereka pun telah dilatih untuk menangkal radiasi makhluk itu, "Sepertinya aku harus memeriksakan diri di madam Kal'tsit nanti," lanjutnya seraya menyatukan kedua telapak tangannya. Yah, tidak sopan dia sudah datang ke sini tapi tak memberikan doa. Dan juga ... Rasanya dia ingin sekali melakukannya.
"Siapa kau dan sedang apa di sini?" sebuah suara asing muncul di belakangnya dan agak membuatnya terkejut. Ia segera menoleh ke asal suara itu, hanya untuk melihat seorang pria berambut perak yang menutupi wajahnya dan membawa sebuket bunga. Tampaknya dia juga ingin berziarah ke sini.
Erza tak menjawab pertanyaan itu, dia berpikir orang ini pasti kerabat dari Namikaze Minato atau semacamnya, dan itu serasa membuatnya malu ketika ada yang memergokimu berada di makam kerabat orang lain, "Kutanya sekali lagi, apa yang kau lakukan di makam guruku?" tanya Kakashi dengan mata yang menyipit, ia dengan intens memperhatikan Erza dari atas ke bawah. Namun, rambut merah dari Gadis itu sepertinya agak menarik perhatiannya, "apa dia keturunan Uzumaki?" batinnya.
Erza tak tahu harus berkata apa, dia merasa sangat malu. Tidak mungkin, kan, dia menjawab kalau dirinya secara tanpa sadar datang kesini? "Err ... I-itu" ia sedikit tergagap, salah jawab sedikit maka dia akan dianggap sebagai orang yang mencurigakan.
Namun, Kakashi tiba-tiba hanya mengangkat kedua bahunya seolah tak peduli dan mengatakan, "Sudahlah, biasanya juga ada orang asing yang datang ke sini untuk mendoakannya," memang benar, popularitas Minato bisa dibilang sangat populer di antara warga Konoha sebagai orang yang berperan penting dalam perang dunia Shinobi ke-tiga walaupun itu sudah lama berlalu, "Kau mungkin hanya kerabat jauh dari istrinya," ujarnya seraya meletakkan buket bunga itu di makam.
Erza hanya menghela nafasnya, syukurlah ia tak dicurigai yang macam-macam oleh orang ini. Akan buruk bagi jalannya tugas mereka saat ini. Yah, ia dan timnya telah ditugaskan untuk bernegosiasi menjalin kerja sama oleh kepala sekolah mereka, dan sekarang sepertinya Hinata dan Ben tengah melakukan itu, "Aku hanya mengagumi pejuang seperti orang ini. Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu," ujarnya sedikit membungkukkan badan sebelum akhirnya pergi dari sana dengan tergesa-gesa. Namun, dalam hatinya Erza memikirkan beberapa hal kecil. Mengapa dia bisa seperti ini? Terutama pada ucapan Kakashi barusan.
Namun tanpa disadari Erza, Kakashi terus memperhatikannya dengan seksama. Ia juga merasa ada yang aneh dengan gadis itu, "Tidak biasanya para peziarah sampai menangis seperti itu," ujarnya.
.
.
.
.
Line Break
Di tengah gelapnya hutan yang hanya disinari purnama, sesosok gadis kini tengah berlari di antara pepohonan. Ia tampak sangat kelelahan tapi tak bisa untuk berhenti berlari, dan ada beberapa luka di tubuhnya yang membuatnya kesulitan, tapi yang paling parah adalah mata yang memiliki luka melintang yang dalam dan mengeluarkan darah. Tampaknya itu telah buta.
"Bajingan! Terkutuklah kau Salem," ini seharusnya menjadi misi pembasmian Beowolf yang sederhana dan mudah, sehingga dirinya saja sudah cukup. Namun, yang tidak dia ketahui itu adalah sebuah jebakan. Misinya telah disabotase untuk memancingnya ke sini, di mana seorang gila yang ditugasi untuk membunuhnya telah menunggu.
Ruby seketika berhenti tatkala di depannya hanyalah sebuah jalan buntu, giginya gemetaran. Sepertinya ia mengalami serangan panik saat ini, tak tahu harus ke mana. Takut? Ya itu juga disertai dengan kemarahannya terhadap semua ini, "Hahahaha, sekarang kau tidak bisa lari kemana-mana lagi, mawar kecil," tawa gila terdengar dari balik bayang-bayang hutan.
Senyum gila yang menghiasi wajahnya seolah menyiratkan kalau ia sangat puas melihat Ruby terpojok, layaknya seekor kelinci lari yang berusaha dari predatornya tapi hanya bisa berputus asa pada akhirnya, "Tyrian," desis Ruby menyebut nama itu dengan racun di mulutnya, seolah ini adalah hal paling menjijikkan di dunia.
Ruby mengambil Crescent Rose miliknya dan menggunakannya dalam mode sabit. Sekarang, ia tak bisa lari lagi mau tak mau ia harus melawan walaupun dalam kondisi yang sudah parah sekarang ini. Melihat itu, Tyrian melebarkan seringai maniaknya, "Sekarang~ kau harus mati di sini, Red. Matamu berbahaya untuk Dewiku," ujarnya seraya mengeluarkan senjata miliknya, berupa satu set bilah ganda pada masing-masing pergelangan tangannya.
Ruby langsung melesat maju dan berusaha memberikan tebasan secara horizontal pada Tyrian. Namun, pria gila itu dengan mudahnya menghindari serangannya dengan cara melompat. Tidak, bahkan jika Tyrian tidak menghindar pun tebasan itu tidak akan mengenainya, ia melakukan itu hanya untuk bersenang-senang. Well, sepertinya dikarenakan matanya yang kini buta membuat persepsi jaraknya menjadi kacau, belum lagi tubuhnya yang terluka
Tyrian yang masih berada di udara langsung memutar badannya dan mendaratkan sebuah tendangan ke wajah Ruby, sehingga membuat gadis itu terdorong beberapa meter saja, "tidak ada gagak tua yang akan menolongmu lagi, keci~ khhahahhah!" seringai gilanya itu berubah menjadi haus darah.
Ruby berusaha bangkit tapi sepertinya senjatanya kini tak berada di tangannya, ia menoleh ke sana ke mari untuk mencarinya dan mendapati itu berada tak jauh darinya, seketika ia langsung berlari ke sana untuk mengambilnya. Namun, "A-apa!" tangannya tiba-tiba gemetaran dan mulai terasa sakit di seluruh tubuhnya. Ia juga sudah mulai sulit untuk bernafas sehingga jatuh berlutut.
Tyrian tampak puas melihat hal itu, ia menendang Sabit milik Ruby sejauh mungkin agar gadis itu tampak berputus asa dan berjalan mendekatinya, ekor hitamnya melambai-lambai seolah mencerminkan perasaannya yang sedang senang, "Suka racun baruku, Red? Itu tidak langsung membunuh tapi akan melakukannya secara perlahan," ujarnya seraya menyesuaikan tingginya dengan Ruby yang berlutut. Seharusnya dia tahu itu kalau dirinya tadi sempat tergores ekor Tyrian
Gadis itu memandang Tyrian dengan sorot kebencian murni di matanya yang tinggal satu. Jika seandainya tatapan bisa membunuh, maka Tyrian pasti sudah mati sekarang ini. Namun, sayang sekali karena di sini dialah yang tidak diuntungkan, "Aku akan membuatmu membayar mahal, Tyrian!" ucap Ruby. Namun, hal itu hanya membuat Tyrian terlihat semakin senang dan tertawa kegirangan.
"Coba saja, Red~" ujar Tyrian dengan seringai gila yang semakin melebar. Ia lalu mencabut salah satu bilah miliknya dan memegang itu layaknya sebuah pisau, "Tapi sekarang, biarkan aku membuat sebuah seni terlebih dahulu," lanjutnya seraya menempelkan ujung pisau di kening Ruby.
Secara perlahan, Tyrian mulai mengiris kulit Ruby secara melintang hingga ke matanya sehingga membuat gadis itu menjerit kesakitan dikarenakan ujung pisau yang merobek matanya secara perlahan. Kini, kedua matanya telah buta dengan cara yang keji, "Arghhh!" Tyrian merasakan kepuasan yang sulit dijelaskan ketika mendengar jeritan Ruby yang terasa sangat indah di telinganya. Lagi! Dirinya ingin lagi.
Baginya ini adalah seni, membunuh secara cepat bagiannya adalah sebuah kesia-siaan karena tak bisa menikmati penderitaan korbanmu... jrashh ... Tyrian sekali lagi kembali memberikan sebuah sabetan yang sama pada mata gadis malang itu, hanya saja kali ini dengan tempo yang lebih cepat.
Pria gila itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi sepertinya dia siap untuk mengakhiri seni indahnya itu. Namun, "Apa-apaan ini!?" ketika baru akan menghujamkan pisau itu tiba saja tangannya tak mau bergerak dan tubuhnya melayang di udara secara ajaib, "Siapa yang melakukan ini?! Apa itu kau Ozpin!?" ia tidak mempedulikan dirinya yang melayang, tapi marah karena ada yang mengganggu pekerjaan seninya.
"Sayangnya aku tidak kenal siapa itu Ozpin," suara yang samar-samar dan terkesan dingin muncul dari belakangnya. Ia menoleh ke sana, mendapati seorang pria yang muncul dari balik bayang-bayang malam. Ia memakai semacam helm baja dan tudung hitam yang menutupi kepalanya serta jubah hitam. Di tangannya, ia memegang sebuah gagang silinder sedangkan tangan yang satu lagi terulur ke arah Tyrian, "Tapi sepertinya kau sangat senang dengan kegiatanmu," ujarnya
"Revan, gadis itu yang kita cari," ujar suara dari alat Komunikasi miliknya.
Revan terdiam untuk sesaat, dengan topeng yang menutupi wajahnya akan mustahil untuk melihat ekspresinya, "Maaf tapi aku punya urusan dengan anak itu," dengan gerakan tangan yang sederhana, Revan mengirim Tyrian terbang ke sebuah pohon besar dan menabraknya dengan keras sehingga pohon tumbang ... bzing ... Seketika gagang silindernya mengeluarkan bilah ungu yang mendengung layaknya lebah dan terlihat sangat panas. Yah, jelas sekali kalau itu adalah sebuah Lightsaber.
Tyrian berusaha bangkit dengan tatapan marah yang diarahkan pada Revan, "Oh jangan khawatir, aku melanjutkannya setelah mengurusimu!" ia langsung melesat ke arah pria misterius itu dengan senjata yang siapa membelah Revan kapan saja. Namun, Revan dengan santainya tetap berdiri di sana seolah tak takut dengan serangan itu.
Revan sedikit mengangkat Lightsaber miliknya, dan langsung melemparkannya ke arah Tyrian sehingga membuat pria gila itu seketika terjerembap ke tanah, rupanya lemparan Lightsaber itu mengincar kakinya dan membuat itu putus, "Sudah kubilang, kan? Aku memiliki urusan dengan anak itu," ujar Revan sembari berjalan perlahan ke arah pria gila yang sekarang jatuh itu.
Untuk pertama kalinya, Tyrian menunjukkan ekspresi takutnya akan horor yang sesungguhnya. Dengan kakinya yang sekarang buntung, ia berusaha merangkak menjauh dari Revan yang tampaknya memiliki gagang Lightsaber lain di tangannya, dan benar saja ketika dia mengaktifkannya sebuah bilah berwarna merah muncul di sana, "K-Kumohoh biarkan aku hidup! Kakiku sudah tak ada lagi, sekarang aku tak bisa apa-apa," dia memohon dengan air mata di pipinya.
Namun, Revan sama sekali tidak peduli. Ia semakin dekat dengan Tyrian, bilah merah di antara gelapnya hutan membuatnya terlihat seram. Bunyi dengungan mengiringi ayunan Lightsaber nya ketika pria itu memotong tangan Tyrian satu persatu tanpa bekas kasih, "Kau salah jika memohon belas kasih pada seorang Sith," Tubuh tangan dan kaki itu gemetaran menatap Revan dengan kebencian dan ketakutan, padahal niat awalnya adalah untuk menjebaknya tapi sayangnya itu tak berhasil, "Lagian aku tidak akan tertipu pada trik seperti itu," batinnya.
Revan mendekatkan Lightsaber pada leher Tyrian yang dapat merasakan panasnya bilah itu ketika mendekati kulitnya, sepertinya dia akan segera mengakhiri ini sekarang juga, "Sekarang, kau tampaknya menikmati melakukan itu pada gadis kecil di sana, bagaimana jika kau mencoba juga seni yang kau bilang itu, "ekspresinya semakin Horor, ia berusaha bergerak untuk menghindari bilah itu demi hidupnya, bahkan air matanya sampai keluar sekarang ini.
Sedikit demi sedikit, bilah merah itu mulai menggali ke dalam daging leher Tyrian dan memberikan rasa sakit dan panas yang luar biasa pada pria gila itu. Kematiannya perlahan, dan itu terasa sangat buruk baginya untuk tersiksa seperti itu bahkan ketika kepala itu telah terputus dari jasadnya sepertinya kesadaran Tyrian masih ada dan merasa tersiksa, suaranya serak-serak ingin mengucapkan sesuatu tapi sepertinya itu hanyalah kata kutukan saja. Namun, Revan sama sekali tidak peduli pada jiwa yang mati itu dan lebih memilih untuk pergi berjalan ke arah Ruby yang sepertinya tak sadarkan diri.
Tangannya diulurkan ke belakang, sesaat kemudian Lightsaber yang baru saja dia lemparkan itu terbang kembali ke tangannya dengan sendirinya.
Ia berlutut dan memeriksa keadaan Ruby dengan seksama. Harus dia akui, gadis ini cukup kuat untuk masih bertahan dari semua luka yang dia alami sekarang, begitu banyak luka sabetan di tubuhnya, juga tampaknya ada beberapa tulang yang patah, dan yang paling parah adalah kedua matanya yang dibuat buta dengan cara yang keji, "Keadaannya sangat buruk," gumamnya, sayang sekali dia tidak membawa full potion sebelum berangkat ke sini.
"Strange, kau dengar?" ujarnya entah pada siapa, sepertinya itu ditujukan pada orang di sisi lain yang terhubung dengan alat komunikasinya, "Segera gunakan Rayshift untuk menarik kembali kami, Denlier tidak akan sempat. Dan segera siapakah regu medis di sana," ujarnya seraya mengangkat tubuh lemah gadis itu. Sesaat kemudian, sinar kebiruan muncul dari atas langit dan membanjiri mereka berdua. Tubuhnya keduanya secara perlahan berubah menjadi partikel cahaya dan dengan cepat naik ke atas, menghilang tanpa jejak sedikit dan hanya menyisakan tubuh tak bernyawa Tyrian dan sabit milik Ruby.
To be continued
Huft, akhirnya selesai juga. Yah, saya tidak berpikir akan memakan waktu selama ini. Tapi akhirnya bisa selesai juga.
Well, saya tidak menyangka kalau versi remake mendapatkan tanggapan yang lebih bagus dari sebelumnya.
Oke, mari kita bahas sedikit tentang beberapa hal di sini. Kalian melihat Scene Erza di atas? Pastinya. Saya sengaja mengambil beberapa referensi dari Author lain dengan fic keren mereka untuk tujuan lain saya di sini. Yah, anggap aja ini semakin Easter egg yang mesti dipecahkan.
Selanjutnya, mari kita balas ulasan dari beberapa orang yang telah bertanya.
FF. Agus-Kun
Hmm, ulasan yang sangat berbobot dan menarik. Harus saya akui ini.
Pada bagian awal pertanyaan kamu, saya menggunakan kata-kata kiasan sebagai pembuka, dan bukannnya bermakna secara Harfiah jadi saya rasa itu tidak perlu dipermasalahkan.
Lalu, yah kamu tepat dengan hal kelelahan Naruto. Memang dia masih cukup kuat dengan basic mode tapi bagaimana jika ada makhluk yang bisa bertahan dari basic mode nya? Inilah yang ingin saya sampaikan pada para pembaca
Dan terima kasih atas ulasan bagusnya, saya menunggu untuk yang selanjutnya...
Uchiha D Itachi
Terima kasih atas dukungannya, saya akan mempertimbangkannya karena harus menyusun plot dan alasan mengapa dan bagaimana dia datang.
Likiya jin
Nggak apa kalau mau blak-blakkan, yang bikin saya kesal itu jika saya update lain tapi malah ditanya fic lain.
Naruto bukan coba-coba tapi emang dia dalam situasi dan kondisi yang buruk. Jika kamu notis terhadap apa yang dikatakan Kurama, maka kamu mungkin akan sadar maksudnya apa. Karena mereka muncul itu membawa semacam radiasi. Oke, mungkin kamu sudah sadar.
Bayangkanlah seperti ini, misalnya kamu dalam suatu pertarungan atau atlet pencak atau semacamnya. Dalam situasi seperti ini seseorang diharuskan tetap tenang agar bisa mencari jalan keluar dari situasi tersebut. Namun, saat para makhluk itu muncul mereka membawa semacam radiasi yang mempengaruhi pikiran seseorang yang membuatnya panik, tergesa-gesa, sehingga menurunkan kemampuan bertarung mereka. Dalam kondisi marah pun seseorang tak akan bisa mengeluarkan 50% kekuatan mereka. Jadi semacam itulah kondisi yang dialami Naruto.
Walaupun kuat, tapi kalau tidak bisa berpikir tenang dan dikuasai sedikit amarah maka kekuatan itu akan sedikit tak berguna.
Saa~ terimakasih atas pertanyaannya. Sya nantikan yang lain
Santo Lucifer dan Ahmad Z99
Terima kasih atas Review kalian berdua. Jujur saya menikmatinya dan membuat saya lebih percaya diri dengan versi yang ini.
Dan yang terakhir.
Uwoooooh! Kagak nyangka banget dapat review dari author Legend kek pak Archana. Merasa terhormat saya pak wkwkwk
Terimakasih Paisen, emang versi yang pertama itu amburadul banget.
Di sisi lain juga saya ingin menunjukkan pada pembaca kalau Naruto itu juga manusia jadi nggak sempurna dan bisa di segala sisi.
Dia terlalu mengabaikan potensi masa mudanya hanya untuk mengejar Sasuke.
Oke, mungkin itu dulu dari saya.
Bye bye~
