Chaldea Academy

Disclaimer:

Various Animanga and Movies

Genre; Action, Fantasi, Friendship, DLL

Warning: Typo, OOC, School Theme, dan banyak kesalahan lainnya. Multi-Crossover.

Start Story

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Darth Revan, seorang yang tampaknya seorang pria kini sedang berjalan di lorong rumah sakit. Entah mengapa langkah kakinya membawa dirinya menuju ke tempat ini, penampilannya yang mencolok dengan baju jubah bertudung hitam serta sebuah helm baja membuat beberapa staf memperhatikannya untuk sesaat. Ia ke sini bukan seperti membutuhkan perawatan atau apa.

"Revan, ada apa? Cukup jarang melihatmu di tempat seperti ini," ujar seseorang di belakangnya. Ia langsung menoleh, hanya untuk melihat seorang pria dengan janggut dan kumis rapi yang mengenakan seragam Scrub, jelas kalau dia habis melakukan pembedahan atau semacamnya, "Aku pikir biasanya kau akan bermeditasi di saat seperti ini."

Revan hanya mendengus, dengan topeng yang menutup seluruh wajahnya tak ada yang tahu seperti apa ekspresinya sekarang, "Biasanya begitu, tapi ada sesuatu yang menggangguku saat ini," jawabnya dengan suara yang samar-samar dibalik topeng sehingga menambah kesan seram padanya. Namun, Pria itu hanya menaikkan alisnya.

"Dan apa itu?" tanyanya.

Revan hanya terdiam saja selama beberapa saat sembari memandang pintu tempat pria itu tadi keluar, "Bagaimana keadaan gadis itu?" Revan bertanya membuat pria itu memiringkan kepalanya karena Bingung, tak biasanya seorang Revan akan repot-repot bertanya tentang keadaan seseorang apalagi orang yang tidak dia kenal bahkan sampai datang ke rumah sakit. Namun, ia hanya mengabaikan hal yang menurutnya sepele itu.

"Tidak terlalu baik. Untuk saat ini, kami telah berhasil menutup sebagian lukanya," jawabnya seraya melangkah pergi dari sana dan memberikan isyarat pada Revan untuk mengikutinya, rupanya mereka hanya pergi mendekat ke sebuah mesin penjual minuman.

"Lalu, apa masalahnya, Strange?" tanyanya lagi. Pria yang dipanggil Strange itu hanya menatapnya untuk sesaat, sebelum akhirnya ia duduk untuk merentangkan kakinya yang terasa pegal. Entah dari mana, si dokter itu mengeluarkan sebuah kertas yang sepertinya berisi laporan medis dan menyerahkan itu pada Revan.

Revan hanya membacanya sebentar, ia mulai mengerti seperti apa permasalahan yang dialami oleh gadis yang dia selamatkan malam itu, "Yah, kau benar. Ini cukup buruk," walaupun ia bukan seorang dokter, tapi sebagai seorang petarung yang berpengalaman dia tahu kalau kondisi semacam ini tak terlalu bagus ... Yah, untuk saat ini.

"Kami telah berhasil mengeluarkan racun dari tubuhnya, tapi masih ada beberapa luka fatal di sana terutama matanya yang telah dirusak dengan parah," Strange menghela nafas. Dengan teknologi di Chaldea, bukan hal yang sulit untuk melakukan transplantasi mata ataupun membuat mata buatan, hanya saja Mata Ruby lah yang membuatnya istimewa sehingga telah sejak lama diawasi olehnya, "Tindakan medis yang biasanya tidak akan cukup untuk menangani ini, kami membutuhkan Full Potion untuk mengatasi masalah Mata gadis itu. Hanya saja ..."

"Aku tahu, kita telah kehabisan stok," menyedihkan, walaupun telah membatasi penggunaan Full Potion untuk jenis Cedera yang sangat parah, tapi tetap saja mereka malah kehabisan di saat yang tidak tepat seperti ini, "Jika seperti itu, segera lakukan stok ulang saja," ujarnya dengan nada suara yang acuh tak acuh.

Strange hanya menghela nafas seraya memijat kepalanya, "Itu yang awalnya ingin kulakukan, aku juga telah berbicara dengan Penguin Logistic tapi mereka mengatakan untuk saat ini pengiriman Potion dari Tempest akan tertunda untuk waktu paling cepat adalah seminggu," jawabnya. Ia tidak menanyakan detail apa yang menyebabkannya, tapi dia menduga sepertinya mereka juga harus mengekspor ke tempat lain atau semacamnya

Ia menyandarkan kepalanya dengan raut wajah lelah dan mata yang setengah tertutup seperti orang yang sedang banyak pikiran, "Huft, Belakangan ini entah mengapa Jumlah serangan para makhluk itu menjadi agak meningkat, begitu pula dengan korban dari pihak kita dan warga sipil yang mengalami luka serius," ujarnya yang terlihat lelah.

"Strange, kita perlu bicara," panggil seorang dari arah samping. Si pemilik nama langsung menoleh, dan mendapati seorang wanita berambut abu-abu pucat dengan telinga kucing. Untuk suatu alasan, entah mengapa wajahnya terlihat merengut seperti seorang yang sedang kesal.

"Dokter Kal'tsit, ada apa? Kau seperti terlihat kesal. Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Strange yang mempersilahkannya untuk duduk. Namun, sepertinya wanita itu menolaknya dengan hanya berdiri sembari bersedekap. Yah, masih mempertahankan raut wajahnya itu.

"Di mana kepala sekolah? Beri tahu aku," tanya Kal'tsit, walaupun yang barusan itu tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan tapi lebih ke arah memerintah. Strange hanya terdiam sebentar, sebelum akhirnya ia membuka mulutnya untuk menjawab, "Seharusnya di saat seperti ini dia berada di kantornya."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kal'tsit lalu membalikkan badannya dan langsung melangkah pergi dari sana. Namun, baru beberapa langkah saja ia tiba-tiba berhenti dan sedikit menoleh kepada Strange, "Oh iya, gadis itu saat sedang mengalami masa kritisnya sehingga membutuhkan perawatan yang lebih intensif. Aku ingin saat ini kau tidak yang mengurus prosedurnya menggantikanku," ujarnya langsung pergi dari sana tanpa berkata lebih banyak lagi.

Mengetahui maksud dari rekan dokternya, Strange hanya mengangguk dan menghela nafas sebelum akhirnya ia bangkit dari tempat duduknya, "Baiklah, Revan, sepertinya masa istirahatku sudah selesai," ujarnya yang hanya dibalas anggukan singkat oleh yang punya nama. Tanpa menunggu, dia langsung kembali ke ruangan tadi meninggalkan Revan di sana.

Si pria topeng itu juga pergi dari sana, di kepalanya ia memiliki banyak hal yang mengganggu pikirannya terkait dengan gadis yang ia selamatkan malam itu, "Semoga kau selamat, gadis kecil. Aku yakin, ada alasan mengapa Force membimbingku padamu," ia adalah seorang yang sangat bebas, tidak terikat oleh aturan terang dan gelap di dunianya tapi ia masih mengikuti petunjuk yang dirinya dapat dari dalam Force, dan pada malam itu ia merasa dibimbing pada gadis yang selamatkan itu, hal ini juga dia rasakan sampai sekarang, "Gadis itu ... Force terasa kuat dengannya walaupun samar-samar," gumamnya sembari berlalu pergi dari sana

.

.

.

.

.

Seorang pria tua dengan setelan hitam kini tengah berdiri di tepi jendela sembari memegang secangkir kopi, matanya sedari tadi terus memperhatikan sekumpulan individu berbagai usia yang berlalu lalang di lapangan depan Academy. Ia menghela nafas, matanya beralih pada secarik kertas yang melayang-layang di depannya, "Well, Bocah dari Elemental Nation itu telah berhasil direkrut. Seperti biasa, butuh bukti nyata agar mereka mau percaya," ujarnya. Namun, ia memaklumi hal seperti itu karena bagaimanapun juga hal seperti ini adalah sesuatu yang sulit dipercaya, belum salah satu sifat manusia yang kurang dia sukai.

Pada dasarnya, mereka sama sekali tidak ingin mempercayai pada apa yang mereka takuti sehingga kadang kala akan menolak keras sesuatu itu, bahkan mereka akan senang jika mendengar sesuatu kebohongan yang mereka inginkan. Yah, inilah yang terkadang sering kali menjadi penghalang dalam usaha perekrutan, tunggu sampai semua telah terjadi dan orang sekitar mereka menjadi korban barulah akan mempercayai hal ini. Namun, saat semua itu terjadi tentunya sudah terlambat, bukan? Menyebalkan, setiap saat selalu saja seperti ini, tapi setidaknya kali ini dia mendapatkan hasil rekrutan yang bagus, ditambah lagi pihak Konoha bersedia untuk melakukan kerja sama dengan mereka sehingga bisa menjadi pembuka jalan antara mereka dengan desa-desa berpengaruh di sana.

Ia menyesap kopinya dan kembali duduk di kursinya, setidaknya untuk saat ini dia bisa sedikit bersantai. Namun, tiba-tiba saja dia merasakan bulu kuduknya merinding karena sesuatu, serta niat membunuh yang datang dari balik pintu ... Brakk! ... Kedua di depannya langsung terbuka keras dengan sendirinya, menampilkan seorang wanita berpakaian berwarna hijau dengan jubah dokter yang tak lain adalah Kalt'sit.

Dari raut wajahnya, dia terlihat tampak sangat marah dengan pupil matanya yang menyempit layaknya kucing yang mengawasi mangsanya, seekor monster aneh juga terus mengikutinya dari belakang di saat Kal'tsit terus melangkah mendekati kepala sekolah itu. Seperti majikannya, mata si monster terus mengawasi Zelretch. Si pria hanya menghela nafas, biasanya jika seperti ini pasti ada sesuatu, "Dr, Kal'tsit. Jarang melihatmu di sini, apa ada masalah yang terjadi?" tanyanya.

Brakk!

Namun, tanpa diduga jawaban yang dia dapat hanyalah sebuah gebrakan keras di atas meja kerjanya, jangan tanya seberapa kuat kekuatan tangannya karena meja itu sampai retak dan hampir terbelah dua. Beruntungnya, dia masih bisa menyelamatkan cangkir kopi miliknya, "Kaulah masalahku, Zelretch!" bentak Kalt'sit. Sementara itu, orang yang dimaksud hanya berkedip beberapa kali seolah tak tahu apa yang terjadi sehingga membuat wanita itu semakin kesal.

"Dokter apa ada sesuatu yang salah?" tanya Zelretch lagi.

"Satu-satunya hal yang salah di sini adalah isi kepalamu!" bentak Kal'tsit. Yah, jelas sekali kalau dia terlihat sangat marah sekarang ini karena apa yang dilakukan Zelretch, "Kau tahu betul stok Full Potion yang kita miliki itu terbatas, tapi kau dengan entengnya membagikannya pada korban sipil dari serangan itu. Kita ini organisasi keamanan dunia, bukannya kelompok amal tanpa pamrih," lanjutnya.

Jangan salah, walaupun dia seorang dokter tapi lebih memprioritaskan pasiennya yang hidup mereka bergantung di tangannya, ketimbang korban luka yang jelas masih punya banyak harapan untuk hidup, dan baginya penggunaan obat ajaib yang dapat menyembuhkan segala hal untuk hal tak berguna bagi orang-orang itu adalah sebuah pemborosan yang tidak bisa dimaafkan.

"Dr. Kal'tsit memiliki poin yang benar di sini," semua langsung menoleh ke arah pintu, dan mendapati Strange yang berjalan masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Ia tak lagi mengenakan baju scrub yang tadi, tapi telah berganti dengan pakaian biru dan jubah merah, "Saat ini, di rumah sakit memiliki sekitar 10 orang yang masih dalam kondisi kritis karena kita kekurangan Full potion termasuk rekrutan baru. Kita tidak bisa memberikannya begitu saja pada warga sipil," ujarnya

Sebenarnya, Chaldea juga memiliki teknologi dalam bidang medis yang menunjang pengobatan siswanya dan meregenerasi bagian-bagian yang terluka hingga kembali seperti sedia layaknya Full Potion, tapi prosesnya tidak secepat itu sehingga FP hanya diprioritaskan pada siswa yang benar-benar telah mendekati ajalnya atau diberikan pada tim ekspedisi.

Zelretch kembali menghela nafas, sebagai seorang pemimpin tentunya dia harus memikirkan banyak hal dan salah satunya adalah kesulitan yang dialami oleh staff "Maaf semuanya, aku hanya ... Sedikit emosional kemarin," ujarnya. Yah, walaupun dia telah hidup lama dan telah menjadi vampir tapi sejatinya dia tetap mempertahankan hati kemanusiaannya ... Terkadang. Dirinya hanya tak tega melihat beberapa anak-anak yang menjadi korban dan harus luka yang menyakitkan sehingga memerintahkan tim yang bertugas untuk memberikan Full Potion pada mereka.

Namun, dua tak menyangka kalau hal itu akan membuat para muridnya berada dalam kondisi yang membahayakan. Mendengar ucapan Zelretch yang sepertinya merasa sedikit menyesal, Kal'tsit hanya mengacak-acak rambutnya karena tak tahu harus berkata apa, "Ck, marah-marah pun tidak akan mengembalikan persediaan Full Potion kita," ujarnya mendecak. Ia menghela nafas, mungkin untuk meringankan stress di kepalanya dan berniat untuk pergi dari sana, "Yah, sebaiknya aku kembali mengawasi pasienku sebelum Warfarin melakukan hal aneh pada mereka," keluhnya dengan raut wajah suntuk. Tanpa berbalik lagi wanita itu langsung pergi meninggalkan si kepala sekolah dan wakilnya.

Strange tersenyum geli mendengar rutukan rekan dokternya yang mengeluhkan nama salah satu staff medis Chaldea, orang yang sering menjadi sumber sakit kepala dirinya dan Kal'tsit jika tidak diawasi sebentar saja, "Yah, semoga dia tidak menjadikan salah satu pasien sebagai eksperimennya lagi," ujarnya.

Sesaat setelah Kal'tsit pergi dari sana, Strange lalu menoleh pada Zelretch dengan raut wajahnya yang berubah serius, "Lalu, bagaimana perkembangan dengan calon rekrutanmu dari dunia yang kau lihat itu?" tanyanya.

Strange tertawa puas, bahkan sampai memperlihatkan gigi-gigi putihnya. Yah, menilai dari reaksinya Strange dapat memprediksi kalau hasil yang didapat oleh Vampir tua itu cukup bagus, "Orang itu sudah setuju untuk datang. Kau tak akan percaya dia bisa bertahan dalam keadaan babak belur dari perang sebelumnya sampai tim Tsuki no Kishi tiba di sana," berita itu membuat Strange sedikit tertarik pada hal ini. Sangat jarang ada orang yang mampu bertahan terhadap makhluk itu, terlebih lagi saat tidak tahu apa-apa dan bagaimana menghabisinya.

Tak heran saat pertama kali menemukan Dunia itu dalam penglihatannya, Vampir tua itu sangat merasa bersemangat. Namun, dia masih bersabar karena sesuatu yang masih terjadi di sana, "Pantas saja dia mengatakan telah menemukan 'permata yang belum dipoles'" batin Strange. Bagaimanapun juga, orang yang dimaksud Zelretch itu berada di tingkatan yang di luar nalar untuk standar orang-orang di dunianya. Tentunya, bukan dalam hal kekuatan yang dia maksud tapi sesuatu yang lain

Ia hanya mengangkat kedua bahunya sembari berjalan ke sofa di sudut, tak memperhatikan seringai licik yang dibuat Zelretch di wajahnya, "Entah mengapa aku merasa kedepannya akan terasa menarik," ujar Zelretch.

Strange tidak terlalu memikirkan hal itu, dia masih punya banyak kerjaan untuk mengurusi kekacauan yang ditinggalkan oleh Zelretch. Belum lagi dia harus melakukan negosiasi lagi dengan pihak yang membuat Full Potion. Seketika, meja di depannya memunculkan sebuah hologram yang menampilkan seseorang, ia memiliki tampilan yang terlihat agak feminim dalam balutan pakaian berwarna hitam. Orang yang berada di dalam Hologram itu hanya menatap lurus pada Strange dengan aura wibawanya yang cukup terasa.

"Halo, Dr. Strange, apa ada sesuatu yang bisa kubantu?"

.

.

.

.

.

.

.

.


Konoha, Elemental Nation.

Sang pahlawan kini berjalan sendirian di antara gelapnya malam, dengan mata yang memancarkan tekad kuat tak sekalipun dia menoleh ke arah belakang, langkah kakinya pun seolah dengan tegas mengatakan bahwa ia telah bertekad pergi. Namun, langkah kakinya tiba-tiba berhenti dengan pandangan mata yang menatap tanah, giginya pun gemeretak seolah sedang menahan sesuatu, "Ayolah bodoh, kau sudah bertekad untuk pergi, kita juga sudah berpamitan dengan Baa-Chan, serta Kakashi-Sensei dan teman-teman. Mengapa kau masih ragu!?" ujarnya pada dirinya sendiri seraya menepuk kedua pipinya. Sepertinya masih ada sesuatu yang menahannya.

Bagaimanapun juga, tempat itu adalah tempat kelahirannya seburuk apa pun itu, tempat di mana dia bertemu dengan orang-orang yang sangat berarti baginya. Tentunya akan sulit untuk meninggalkan tempat itu untuk jangka waktu yang tidak dia ketahui, terlebih lagi dia tidak sempat untuk berpamitan dengan semuanya. Sekelebat bayangan kematian Yoshino memasuki pikirnya, membuat setitik air mata jatuh tapi dengan cepat dia menghapusnya bersamaan pula dengan keraguannya.

"Benar, tidak ada ruang untuk sebuah keraguan di hatiku. Aku harus memantapkan hatiku," baginya, kematian gadis kecil itu adalah dosanya yang tak bisa dirinya sendiri maafkan, dan untuk menebusnya maka dia harus menjadi lebih kuat lagi agar hal itu tak terjadi lagi.

"Kau yakin tidak ada yang mengikutimu?" ujar sebuah suara yang membuat Naruto langsung menoleh. Dari balik kabut, seorang wanita berambut hijau yang dia kenali sebagai Tenka muncul dan berjalan mendekatinya. Naruto hanya mengangguk sebagai jawaban, sehingga membuat Tenka tersenyum puas.

Tenka memberikan isyarat untuk mengikutinya, dan tanpa banyak bertanya Naruto langsung melakukannya. Cukup lama mereka berjalan, dan sepanjang itu tak ada satu pun di antara keduanya yang bersuara atau setidaknya membuka percakapan, sepertinya Naruto juga sibuk dengan pikirannya sendiri dan mereka juga baru kenal.

Tak lama kemudian, Mereka berdua akhirnya tiba di sebuah Padang terbuka yang cukup luas. Di sana, Naruto dapat melihat para rekan Tenka yang telah berkumpul dengan Hinata yang duduk di atas sebuah batu besar, "Taichō, aku sudah membawanya," ujarnya membuat yang lain menoleh padanya.

Hinata langsung melompat dari atas sana dan mendarat tepat di depan Naruto, Ben dan Erza juga berjalan mengikutinya dari belakang, "Kerja bagu, Tenka," ujarnya yang dibalas dengan senyuman oleh wanita itu. Matanya lalu menoleh pada Naruto yang berada di samping, "Keluarkan itu," perintah Hinata.

Mengetahui apa maksud Hinata, tanpa banyak bertanya lagi Naruto langsung mengeluarkan tiket emas pemberian Zelretch padanya. Namun, sebenarnya dia masih bingung untuk apa sebenarnya tiket ini. Jelas dia akan pergi ke Chaldea, tapi untuk apa memerlukan hal seperti ini? "Robek itu dan kau akan mengetahui kegunaannya," ujar Hinata seolah mengetahui isi pikiran Naruto.

Walaupun tak begitu mengerti, Naruto tetap mengikuti ucapan Hinata. Di saat yang sama pula, dari atas meluncur sebuah kereta lengkap dengan relnya, dalam waktu yang singkat kereta itu telah berada di depan mereka semua. Naruto hanya mengucek matanya beberapa kali, guna memastikan kalau dia tidak sedang berhalusinasi atau apa, "A-apa? Bagaimana mungkin!?" bagaimana pun juga, yang seperti ini bukanlah sesuatu yang biasa untuk dilihat.

"Jangan membuat wajah bodoh seperti itu, kau sama sekali tidak salah lihat," ujar Hinata seraya memasuki kereta itu diikuti oleh Ben dan Tenka.

Erza hanya menepuk pundak Naruto, dan menertawakan ekspresi terkejut yang Shinobi itu buat di wajahnya, "Sebaiknya kau membiasakan dirinya dengan ini, karena ke depannya kau akan melihat lebih banyak lagi," ujarnya sebelum masuk menyusul rekan-rekannya.

Naruto menghela nafas dan mengikuti mereka masuk ke dalam. Mungkin benar kata Erza, Mulai sekarang dia akan menghadap sesuatu yang berbeda oleh karena itu dirinya harus membiasakan dirinya dengan ini. Namun, sesampainya di dalam Naruto tidak bisa menahan keterkejutannya karena dibuat kagum dengan seberapa hebat tempat ini, dengan interior futuristik khusus VIP yang tentunya sangat asing baginya. Hanya 4 set tempat duduk di sana di mana masing-masingnya memiliki 2 kursi nyaman yang saling berhadapan lengkap dengan mejanya. Walaupun dia sudah pernah melihat kereta di negeri Salju, tapi yang ini jelas berada di level yang berbeda.

Melihat Hinata dan timnya sudah memilih tempat duduk mereka sendiri yang uniknya telah tertidur pulas dengan cepat, Naruto sendiri juga memilih kursi secara acak untuk dia duduki. Tak ada seorang lagi selain mereka di sana, sehingga ia bebas memilih tempat duduk, "Perjalanan akan sangat santai. Nikmati saja," pengumuman yang terdengar dari pengeras suara. Bersamaan itu pula, Naruto merasakan kalau kereta ini mulai bergerak kembali.

Secara perlahan, mata Naruto mulai terasa semakin berat. Ditambah lagi, kursi yang dia duduki ini terasah sangat nyaman sehingga membuatnya sangat rilex. Tak ingin melawan arus, Naruto akhirnya memutuskan untuk mengikuti perintah otaknya untuk beristirahat.

Namun setelah beberapa saat dia tertidur, Naruto terpaksa harus ditarik dari dunia mimpi tatkala merasakan sensasi tidak nyaman. Ia membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah sepasang mata berwarna persik dengan pupil unik berbentuk kelopak Sakura. Naruto tak tahu siapa dia, tapi yang jelas gadis berambut hitam itu dengan tidak sopannya mencolek-colek pipi Naruto dengan raut wajah penasaran, "Umm ... Kau siapa?" tanyanya penasaran. Ia tak tahu berapa lama dirinya tertidur, tapi tampaknya kereta ini sudah beberapa kali berhenti mengingat selain gadis ini ada juga penumpang lain, seperti gadis berambut pink yang sedang membaca buku di seberang sana.

"Boleh aku duduk di sana?" gadis itu tak menjawab pertanyaannya, tapi malah balik bertanya seraya menunjuk kursi yang berada di depannya. Naruto agak bingung, dia yakin di sekitarnya masih banyak tempat duduk lain tapi mengapa dia mau di sini? Setelah mencolek-colek pipinya pula. Namun, dia sendiri tidak melihat alasan untuk menolaknya ... Itu akan terdengar kasar.

Naruto hanya mengangguk saja membiarkan gadis itu duduk di sana, "Silahkan?" tanpa basa-basi lagi, si gadis itu langsung duduk di kursi dan dengan cepat langsung mengintip ke luar jendela. Namun, dengan cepat ekspresinya berubah menjadi kecewa. Yah, apa yang kau harapkan dari perjalanan antar dimensi? Jika kau menggarap pemandangan indah, maka maaf saja ini bukan sebuah tamasya. Gadis aneh itu kembali melirik Naruto, entah mengapa juga sejak tadi dia seperti orang yang sedang penasaran akan sesuatu.

Naruto juga tak begitu peduli, ia hanya melirik sebentar gadis itu dan berusaha untuk kembali tidur. Namun, sayangnya sebaik apa pun dia mencoba tapi sepertinya rasa ngantuknya telah hilang. Malahan ia sekarang ingin mengunyah sesuatu, "Sial aku lapar," gumamnya sekecil mungkin. Naruto lantas mengeluarkan sekotak Bento dari dalam tasnya yang merupakan pemberian Sakura, rupanya isinya adalah hanya 4 onigiri saja. Yah, mungkin karena kepergiannya yang mendadak sehingga gadis itu hanya bisa menyiapkan ini saja, toh dia juga tidak terlalu memperdulikan isinya.

Naruto langsung memasukkan onigiri itu ke dalam mulutnya. Namun, belum sempat itu mencapai tujuannya ia tiba-tiba berhenti tatkala matanya melirik pada si gadis yang sedari tadi masih menatapnya, dan jujur itu agak membuatnya sedikit canggung, "Kau mau?" ujarnya seraya menyodorkan kotak bentonya.

Si gadis langsung mengangguk sembari tersenyum lebar menunjukkan gigi-giginya, sebelum akhirnya dia Mengambil satu dan juga ikut memakannya, "Uwwoh, ini terasa enak. Terima kasih," ujarnya yang dibalas dengan senyuman kecil oleh Naruto. Setelah menghabiskan satu onigiri miliknya, gadis itu tiba-tiba saja mengulurkan tangannya pada Naruto sembari tersenyum, sehingga membuat Naruto agak Bingung, "Aku Hu Tao, siapa namamu, pelanggan?" ujarnya memperkenalkan dirinya yang rupanya bernama Hu Tao.

Walaupun Naruto agak bingung pada bagian pelanggan, ia tetap membalas jabat tangan Hu Tao sembari memasang senyum kecil "Aku Uzumaki Naruto, senang bertemu denganmu, Hu Tao-San," balasnya membuat gadis itu memiringkan kepalanya dan mengusap janggutnya yang sama sekali tidak ada. Mungkin saja cara bicara Naruto terasa tak terlalu asing baginya.

"Namamu dan cara bicaramu seperti orang dari Inazuma Country, apakah kau dari sana?" tanya Hu Tao yang entah mengapa menjadi sedikit bersemangat. Namun, Naruto hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban mengingat tidak ada nama seperti itu di Elemental Nation, "Kurasa tidak, aku bahkan ragu jika kita berasal dari dunia yang sama," jawab Naruto membuat gadis itu sedikit hilang semangat.

Hu Tao harus merasa sedikit kecewa, padahal dia ingin bertanya banyak hal tentang tempat itu pada Naruto dengan tujuan memperluas bisnisnya ke tempat itu, seandainya jika benar Naruto berasal dari sana. Namun, sepertinya dia harus melupakan ini untuk sementara waktu.

tanpa disadari oleh keduanya, gadis berambut pink yang sedang asik membaca buku di seberang sana itu sedikit mendongak dan melirik mereka berdua pada saat penyebutan Inazuma. Entah dia hanya tertarik atau mungkin memiliki hubungan dengan tempat itu, tapi sepertinya dia juga tak terlalu peduli dan lebih memilih untuk melanjutkan aktivitas membacanya.

Hu Tao lantas merogoh tasnya sebelum akhirnya mengeluarkan semacam brosur dari sana dan menyerahkannya pada Naruto, "Diskon peti mati Wangsheng Funeral Parlor?" ujar Naruto membaca kertas di tangannya, diiringi oleh si gadis yang mengangguk dengan antusiasnya. Yang menjadi masalahnya adalah, mengapa dia diberi kertas semacam ini?

"Benar! Sebagai ucapan terima kasih atas onigiri tadi, aku akan memberikan diskon 70% jika kau memesan sekarang tentunya dengan kualitas peti mati yang terbaik untuk pemakamanmu agar meriah," ujar Hu Tao dengan kedipan mata dan senyum bahagia, mengabaikan Naruto yang hanya bisa tersenyum kecut dengan kedutan di alisnya. Bagus, baru di perjalanan saja dia sudah bertemu dengan orang aneh yang menawarkan jasa pemakaman dengan bahagianya pada dirinya yang notabene masih hidup, seolah itu adalah reservasi pesta.

"Ano ... Maaf tapi akan kupikirkan dulu," tolaknya dengan cara halus. Hell! Dia tak membutuhkan hal semacam itu ... Tidak dalam waktu dekat. Namun, penolakan itu sama sekali tidak membuat senyum di wajah Hu Tao memudar, malahan entah mengapa dia terlihat lebih antusias daripada yang tadi, "Tidak masalah, pelanggan. Hubungi saja aku jika kau perlu jasaku," jawab Hu Tao dengan bahagianya.

"Tunggu, mengapa kau sejak tadi memanggilku pelanggan?" tanya Naruto bingung. Padahal, dia baru bertemu dengan Hu Tao dan bahkan belum melakukan transaksi apa pun dengan gadis gila ini. Hu Tao hanya memandang Naruto sejenak, sebelum dengan semangatnya ia berdiri dari sofanya, "Tentu saja, karena semua yang masih bernafas di dunia ini adalah pelangganku!" ujarnya dengan kedua tangan direntangkan seolah bangga dengan pernyataan yang sedikit aneh itu. Naruto hanya bisa Sweadrop, oke kali ini dia benar-benar yakin kalau orang di depannya itu adalah orang gila. Oh, mungkin dia sudah mengatakannya tadi.

"Perhatian para penumpang, sebentar lagi kita akan sampai di tujuan. Harap memperhatikan barang bawaan Anda dengan seksama, dan terima kasih telah menggunakan layanan Chaldea Express," Bersamaan dengan pengumuman itu, seberkas cahaya matahari menembus jendela kereta, sehingga membuat Hu Tao dan Naruto dengan antusiasnya segera memandang ke luar jendela. Namun, apa yang mereka lihat justru melampaui ekspektasi keduanya. Sebuah dunia lain belum pernah dibayangkan sebelumnya kini tengah membuat Kedua remaja itu terpesona.

"Siapa pun, cubit aku," ujar Naruto yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tentu saja, apa yang tersaji di hadapan keduanya bukanlah sesuatu yang pernah dibayangkan sebelumnya oleh mereka bahkan standar dunia masing-masing. Menanggapi ucapan Naruto, Hu Tao menarik pipi si Shinobi tapi mukanya masih menoleh ke bawah sana dengan ekspresi bodoh yang terlihat jelas di sana. Sepertinya kedua orang itu masih mengalami syok karena semua ini.

Kereta yang mereka tumpangi ini berada di langit, sehingga memperlihatkan dengan jelas sebuah pemandangan luar biasa yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Di bawah sana, terlihat jelas konstruksi bangunan futuristik dengan beberapa bangunan yang sangat tinggi. Namun, hal itu tak menghalangi untuk sangat kontras dengan alam di sekitarnya. Sungguh luas kota asal mereka berdua tidak akan bisa dibandingkan dengan yang di bawah sana, betul-betul sesuatu yang berada di luar nalar dan pikiran. Di saat Erza bilang untuk membiasakan diri dengan ini, dirinya menjadi ragu apakah dia akan bisa cepat terbiasa hal seperti itu!

"Kalian berdua!" panggil suara tegas Hinata dari arah belakang, sehingga menyadarkan dua orang itu dari kekaguman mereka yang berlarut-larut. Sontak Naruto dan Hu Tao langsung membalikkan badan ke arah Hinata. Rupanya tak hanya dia, tapi seluruh tim-nya yang entah sejak kapan telah bangun juga sudah berkumpul di sekitar mereka, "Segera periksa saku kalian dan keluarkan apa yang ada di dalam sana," ujarnya.

Tanpa banyak bertanya, Naruto langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas yang membuatnya agak bingung, "Bukankah ini sama dengan tiket yang sudah kusobek?" seingatnya setelah disobek itu telah berubah menjadi partikel-partikel cahaya dan menghilang, lagian sejak kapan itu ada di sakunya lagi? Namun, dia lebih memilih untuk melupakannya setelah mengingat tiket yang sebelumnya juga tak mau pergi dari sakunya,

Hu Tao pun juga sama. Namun, alih-alih mengeluarkan tiket juga ia malah memunculkan seekor anak ayam hidup dari sana, "Halo, ayam kecil~" sepertinya dia ingin melakukan trik sulap kecil di sana. Sayangnya, delikan tajam Hinata yang seolah mengatakan untuk serius langsung membuatnya cemberut dan mengeluarkan tiket aslinya.

"Lalu untuk apa ini, Senpai?" tanya Naruto, mengabaikan fakta bagaimana Hu Tao bisa tetap menjaga anak ayam itu tetap hidup di kantongnya. Yah, sangat menggoda untuk bertanya soal itu tapi semakin sedikit dia berurusan dengan keanehan gadis itu maka semakin baik, "Di sini tertulis Camelot," ujarnya ketika melihat suatu tulisan yang terpampang jelas di sana.

"Oh, aku juga sama di sini," timpal Hu Tao.

Sontak Hinata dan tim-nya saling memandang, sebelum beberapa di antara mereka tertawa seperti Erza dan Tenka. Naruto penasaran, apa yang lucu dari itu atau lebih tepatnya ada dengan reaksi mereka itu, "Yah, ini cukup kebetulan, ya," ujar Erza sembari memasang senyum. Di sebelahnya, Tenka memberikan anggukan singkat pada gadis berambut merah itu, "Kau benar. Sepertinya 'Dia' akan merasa sangat senang hari ini," balas Tenka.

Hu Tao memiringkan kepalanya, sama sekali tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan ini, "Apakah ada yang bisa menjelaskan padaku apa yang kalian maksud?" tanyanya yang penasaran. Naruto di sebelahnya juga sama, dirinya juga penasaran dengan maksud para seniornya itu.

Namun, Hinata hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban sehingga membuat Hu Tao agak cemberut, "Bukan sebuah masalah. Dengar, kereta ini mengantarmu sampai tujuan di mana kau harus turun. Tapi Naruto, kau untuk sekarang harus ikut dengan kami berempat," Hinata menjelaskan tapi hanya mendapatkan tatapan penasaran dari Naruto atas penjelasan yang kurang lengkap itu, "Tidak usah bingung. Ini hanya prosedur medis biasa. Karena kau sudah melakukan kontak dengan makhluk itu, kau harus melakukan pemeriksaan sebentar."

Naruto sedikit paham dan menganggukkan kepalanya. Di saat yang sama, semua orang dalam kereta dapat dengan jelas merasakan kalau kendaraan yang mereka gunakan ini telah berhenti, "Baiklah, kita turun di sini," ujar Hinata yang segera berjalan keluar bersama tim-nya serta Naruto di belakang.

"Baiklah, sampai jumpa lagi, Hu Tao-San," ucap Naruto sembari melambai pada gadis penjual peti itu yang dibalas juga dengan lambaian, sebelum akhirnya pemuda itu benar-benar meninggalkan kereta untuk menyusul Hinata DKK yang sudah lebih dulu berada di luar, "Sampai jumpa juga, pelanggan!" balas Hu Tao.


Bersambung.

Arrgh, akhirnya selesai.

Oke. Mungkin maaf yak jika kelamaan. Cukup sulit untuk membuat ini. Dan yah, mungkin ada Typo yang bertebaran di sana sini.

Pada awalnya, saya ingin berencana menampilkan plot kedatangan Character lain di Chapter ini. Tapi apa daya saya sendiri sedang buntu. Well, kebetulan sekali update kali ini berbarengan dengan tanggal lahir saya.

Oh iya, saya sengaja menskip adegan pamitan ama teman-temannya di Konoha. Yah, saya sudah berusaha membuatnya tapi tetap tidak bisa juga. Yang jelas, tak semua dari mereka ada di sana.

Untuk yang bertanya tentang cerita saya yang lain? Tenang saja, The Admiral masih dalam proses tapi agak lama karena kadang mengalami kebuntuan.

Baiklah untuk beberapa review mungkin akan saya balas

Ahmad Z99

Thanks Bre buat dukungannya. Yah, untuk kedepannya saya mungkin masih harus menyiapkan pelatihan Naruto dan siapa gurunya, tapu tidak dalam waktu dekat ini

Jaran: well, mungkin itu benar. Tapi siapa yang bisa menyangkal kalau dia adalah karakter Sith/Jedi paling keren sepanjang masa. Akan sangat menarik membuatnya melatih seseorang di sini wkwkwkw

Santo Lucifer: thank pak~

Well untuk sisanya, saya hanya bisa mengucapkan terimakasih atas dukungannya. Silahkan tanyakan apapun di kolom komentar dan saya tunggu reviewnya


Preview

Naruto sedikit terkejut ketika melihat Hu Tao lari ke arahnya dan segera bersembunyi di balik punggungnya, sorot wajahnya dengan jelas mengatakan kalau dia sedang ketakutan saat ini, "Hei ada apa!?"

Hu Tao tak menjawab dan malah menunjuk jarinya k arah pintu gerbang asrama, "Tolong aku, dia ingin membunuhku dengan dada tak manusiawi miliknya," bahkan, tubuhnya gemetaran karena takut.