20 tahun yang lalu, jika ia ditanya apa itu bahagia maka ia akan dengan lantang menjawab kebahagiaannya sudah mati. Mengalir bersama darah orang tua dan kerabatnya yang kini hanya bisa menonton kebahagiannya dari atas. Menunggu hingga datang saatnya mereka harus menjemput sang Uchiha.

Ia bukan lagi yang terakhir, gelar itu sudah diturunkan pada putri semata wayangnya yang kini tidur dengan nyaman dalam kamar apartemen kecil mereka. Mereka tidak akan lama tinggal disini, hanya tinggal menunggu waktu hingga rumah yang sudah ia rencanakan rampung. Sepanjang sore ia menghabiskan waktunya membahas hal ini sembari menyeret istri pinknya itu.

Matanya beralih kepada perempuan yang kini tidur di sisi kirinya, menikmati sentuhan tangannya yang hangat dengan wajah damai meski mulutnya sedikit terbuka. Ia pasti lelah sekali. Belasan tahun ditinggal oleh suaminya mengurus anak mereka seorang diri. Rasanya Sasuke ingin menampar dirinya sendiri.

Belasan tahun ia berjuang sendirian tanpa sekalipun mengeluh, hingga Sasuke sendiri tidak sadar bahwa Sakura juga bisa lelah. Tak peduli kekuatan yang ia miliki, Sakura bisa saja jatuh sakit seperti hari ini. Ditambah lagi beban yang ia tinggalkan bukan hanya seorang anak melainkan juga beban finansial.

Sasuke mendecih kesal memikirkannya. Sakura sedang mencicil rumah yang baru saja ia hancurkan. Sejak kapan Uchiha mencicil rumah?

Sebelum dibantai, klannya menjadi salah satu yang paling kaya di Konoha. Kini semua uang itu berada di tabungannya dan istri bodohnya itu sama sekali tidak menggunakan uang yang ia tinggalkan dan malah bekerja banting tulang hanya untuk sebuah rumah. Dengan uang di tabungannya, ia bisa memberikan mereka lima puluh rumah jika ia mau.

"Bodoh." Umpatnya kepada perempuan yang menggenggam seluruh hatinya itu.

"Aku dengar." Suara serak Sakura membuatnya sedikit berjengit. Ia yakin sekali perempuan itu sudah tidur tadi.

"Baguslah kalau begitu." Ia melepas pelukannya pada istrinya itu dan menatap langit-langit di atasnya.

Kesal. Jelas ia kesal, bukan pada istrinya melainkan pada keadaan yang membuatnya harus jauh dari keluarganya. Jika ia boleh memilih tentu ia memilih tinggal bersama keluarganya dan tidak pergi-pergi lagi. Menikmati harinya di rumah menunggu istrinya pulang dan melatih putrinya ketika ia pulang dari akademi.

"Sasuke-kun jahat sekali." Cicit Sakura di sebelahnya. Ia menaikkan sebelah alisnya bingung atas perubahan emosi yang tiba-tiba ini. "Masa hanya karena aku tidak tahu kalau suamiku kaya raya, Sasuke-kun mengataiku bodoh. Aku kan memang tidak tahu."

"Pertanyaannya, bagaimana bisa kau tidak tahu?" Ia memijat ujung hidungnya kesal. Ia sudah tidak paham lagi bagaimana mungkin kesalahpahaman ini bisa terjadi. Sebelum pergi ia sudah memberikan pesan yang cukup jelas.

"Bagaimana aku bisa tahu? Sebelum pergi Sasuke-kun hanya mengatakan untuk menggunakan tabunganmu sesuai keinginanku!" Debatnya.

"Aku tidak akan mengatakannya jika memang uangnya tidak berlebih, kan?" Balasnya lagi.

Kali ini hening mengisi kamar pasangan suami istri itu. Sakura masih mengerucutkan bibirnya tidak suka suaminya mengatakan hal yang benar sementara Sasuke menghela nafasnya bingung. Ia menikahi Haruno Sakura, murid terpintar di angkatan mereka namun entah mengapa ia merasa seperti menikahi Naruto. Bodoh sekali.

"Aku kan tidak berpikir seperti itu." Sakura akhirnya mengangkat tubuh bagian atasnya hingga kini kepalanya berada beberapa jengkal di atas wajah Sasuke. "Setiap hari yang aku pikirkan hanya saat ini kau dimana? Apakah hari ini kau bisa menginap di suatu tempat atau tidur di tanah? Apakah kau sudah makan dengan baik? Adakah orang yang mengganggumu hari ini? Mana sempat aku memikirkan berapa banyak uang yang kau simpan dalam tabunganmu!"

Sakura memejamkan matanya merasakan tatapan bersalah yang dilayangkan Sasuke ke arahnya. Bukannya ia tidak peduli terhadap keadaan finansial Sasuke. Ia sangat peduli. Bagaimana jika ia menggunakan uang pria itu lalu tiba-tiba suaminya kelaparan dan tidak punya uang untuk membeli makanan. Dengan jarangnya Sasuke pulang ke desa, Naruto kesulitan untuk menandatangani upah untuk misi jangka panjangnya. Selama Sasuke belum pulang maka misi dikatakan belum berakhir.

Dengan pikiran seperti itu, Sakura memutuskan untuk menyimpan segala berkas yang ia butuhkan untuk mengambil uang Sasuke di lemarinya yang paling bawah. Tidak pernah sekalipun ia buka.

"Aku ini keturunan Uchiha terakhir, tentu saja klanku meninggalkan uang yang jumlahnya tidak sedikit." Sasuke kembali menarik Sakura dalam pelukannya.

"Bukan itu yang aku pikirkan." Sakura menyembunyikan wajahnya di pundak Sasuke merasakan tubuhnya sedikit bergetar menahan tangis.

Segala rasa rindu, khawatir, dan takut yang sebelumnya berhasil ia simpan baik-baik kini meledak keluar. Tentu ia tahu suaminya adalah salah satu shinobi terkuat sepanjang masa, bukan berarti ia tidak akan khawatir. Dalam hatinya ia selalu berdoa agar suaminya yang terkadang menyebalkan ini bisa kembali dengan selamat.

Sasuke mengeratkan pelukannya merasakan istrinya yang cengeng sebentar lagi akan menangis. Tanpa sadar bibirnya membentuk seringai. Siapa yang menyangka kepala Rumah Sakit Konoha yang begitu ditakuti itu sebenarnya sangat cengeng?

"Aku tahu." Gumamnya. "Maafkan aku."

"Karena sudah mengataiku bodoh?" Wanita itu mendongakkan wajahnya, menunjukkan wajahnya yang

"Karena sudah mengataimu bodoh." Setuju Sasuke. Sakura kembali menyembunyikan wajahnya di bahu Sasuke menikmati kehangatan yang ditawarkan pria itu. "Dan karena aku sudah meninggalkanmu." Imbuhnya.

"Aku yang mengatakan bahwa aku tidak masalah jika kau harus pergi." Sakura kembali mendongakkan wajahnya. Kali ini raut serius terpapar membuat Sasuke tanpa sadar menarik hidung mungilnya itu.

"Aku tahu." Kekehnya. "Bukan berarti kau suka dengan situasi seperti ini, kan?"

Sakura terdiam. Tidak pernah sekalipun ia berpikir bahwa Sasuke akan memikirkannya seperti itu. Selama ini yang ia pikirkan hanya jika Sakura mengatakan bahwa ia tidak masalah ditinggal, maka pria itu bisa pergi tanpa harus merasa bersalah.

"Dengan kekuatan yang aku miliki memang ada tanggung jawab yang tidak bisa dihindari. Aku dan kau sama-sama tahu itu." Sakura menganggukkan kepalanya, sadar betul atas tanggung jawabnya di desa. Beban yang ia pikul demi keselamatan masyarakat yang jauh lebih penting dibanding kebahagiaan mereka.

"Tapi aku juga punya tanggung jawab kepada keluargaku. Kau, dan Sarada."

Wajahnya menghangat ketika ia menatap mata Sasuke yang balas menatapnya begitu sarat akan cinta. Tahun demi tahun ia lewati dengan hanya bisa membayangkan kehadiran pria itu kini bagai obat yang menyembuhkan rindunya. Tanpa sadar isakan sudah memenuhi ruangan membuat Sasuke kembali tersenyum.

"Kau adalah ibu yang sempurna bagi Sarada, jika bukan karena kau maka ia tidak akan tumbuh sebaik itu. Karena itu izinkan aku sebagai ayahnya dan juga suamimu untuk sesekali ikut andil dalam kehidupan kalian."

"Aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu." Lirihnya.

"Aku tahu." Sasuke mengelus pergelangan tangan Sakura dengan sayang. "Aku juga tahu bahwa untuk beberapa waktu ini aku masih harus pergi dari kehidupan kalian. Karena itu, biarkan aku membantumu dengan cara yang kubisa. Meringankan bebanmu dan melindungimu dari jauh."

"Maafkan aku." Sakura memeluk leher Sasuke erat-erat, enggan melepaskannya lagi. Ia mencintai pria ini, begitu mencintainya hingga ia tak yakin bisa berdiri dengan tegak esok ketika pria itu harus pergi lagi dari kehidupannya.

"Maafkan aku." Bisik pria itu sembari sesekali mencium pucuk kepala wanita pink kesayangannya itu.


[Author Note]

Hello fellow Sasusaku fandom, apa kabarnyaa? Masih ramaikah? Kalau dilihat dari banyaknya fanfic kayaknya udah nggak seramai dulu lagi dan banyak yang udah pindah lapak juga yaa. Anyway, I'm just glad to have sasusaku fanfic to read hehehe.