Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+
Warning : Gender switch, OC, OOC, typo (s)
Genre : Hurtcomfort, angst, romance, family
The Last Promises
Chapter 2. Beri Aku Kebebasan
By : Fuyutsuki Hikari
Sebuah ketukan pelan di daun pintu membuat Naruto sejenak menghentikan kegiatannya. Ia melirik sekilas lalu berkata keras, "Masuk!"
Tidak lama berselang suara derit pintu terdengar, dengan hati-hati Naruko menutup pintu di belakangnya dan beranjak untuk duduk di sisi ranjang kakak kembarnya. Ia terdiam untuk beberapa saat, tersenyum melihat Naruto yang memasang ekspresi serius saat membaca sebuah novel di tangan. "Apa kau bertengkar dengan Sasuke?"
Satu alis Naruto diangkat naik. Ia meletakkan novel di tangannya di atas ranjang, ditatapnya Naruko lurus. "Kenapa bisa berpikir seperti itu?"
Naruko mengendikkan bahu. "Sejak Sasuke menginap di sini beberapa hari yang lalu, aku tidak pernah melihat kalian bertegur sapa."
Sial, apa sangat terlihat? Naruto bicara di dalam hati. Sesungguhnya itu sebuah pertanyaan bodoh. Tentu saja akan sangat terlihat, karena baik dirinya dan Sasuke sama-sama memasang sikap dingin saat bertemu, keduanya memilih untuk tidak melakukan interaksi apa pun, bahkan untuk saling menyapa saja keduanya enggan.
Sasuke tidak menjawab keinginan Naruto beberapa hari yang lalu, sementara Naruto masih belum ingin menegaskan masalah hubungan mereka karena malas untuk bicara dengan Sasuke. Sungguh, ia merasa serba salah.
"Kami bertengkar kecil," jawab Naruto, sekenanya.
"Apa karena masalah hati?" tanya Naruko, membetulkan posisi duduknya di atas ranjang. Ia terkekeh saat saudari kembarnya memberikan tatapan tajam. "Kalian selalu bersama, bukan tidak mungkin jika diantara kalian memiliki perasaan romantis untuk satu sama lain."
Naruko mengeluarkan napas panjang saat kakaknya tidak memberikan jawaban. Ia mengelus punggung Naruto, lembut. "Tidak ada salahnya mencintai sahabat sendiri." Naruko terdiam sejenak, menelisik reaksi sang kakak, tapi tidak ada apa pun di sana. "Kak, apa kau menyukai Sasuke?"
Naruto menoleh. Ditatapnya lekat yang lebih muda. "Apa kau menyukai Sasuke?" Ia bisa melihat keragu-raguan di kedua mata sang adik, hingga akhirnya sebuah anggukan kecil. Lalu untuk apa Naruko bertanya seperti itu kepadanya tadi?
"Apa salah jika aku menyukai Sasuke?"
Naruto menggelengkan kepala. "Tidak salah. Perasaanmu terhadapnya valid." Ia mengakhiri ucapannya dengan senyuman. Tangan kanan Naruto terulur, mengusap puncak kepala sang adik, pelan.
"Aku hanya bisa memendam perasaanku," aku Naruko kemudian. Perlahan wajahnya mulai memucat. "Aku merasa jika Sasuke lebih menyukaimu, dan aku rasa aku tidak akan memiliki kesempatan untuk bersamanya."
Ia menjeda, mengambil napas panjang. Senyum rapuh itu diberikan kepada Naruto. "Selama ini aku selalu menjadi beban kalian, dan entah sampai kapan akan seperti itu. Kak, apa kau tidak ingin terbang bebas?" tanyanya, tiba-tiba. "Maksudku, apa kau tidak mau melakukan apa yang selama ini kau inginkan?"
Naruto masih tidak menjawab.
"Dua tahun lagi kau lulus, apa yang akan kau lakukan setelah itu?" tanyanya. "Mencari pekerjaan di kota ini? Bekerja di kantor ayah? Jika kau melakukannya untuk bisa menjagaku, aku harap kau mengurungkan niat itu. Aku sudah cukup dewasa untuk mengurus diriku sendiri. Penyakitku bukan sesuatu yang harus mengikat orang-orang untuk berada di sisiku dua puluh empat jam. Aku tidak mau menjadi bebanmu, jadi kau bebas jika ingin terbang setinggi yang kau inginkan."
Terdiam, Naruto berusaha meresapi ucapan adiknya hingga entah kenapa sebuah pertanyaan bernada ketus itu terucap dari mulutnya, "Apa kau sedang berusaha mengusirku?" Pertanyaan itu jelas mengagetkan Naruko. Ia bisa melihat perubahan ekspresi adiknya yang menjadi kalut juga gugup.
Naruto mengibaskan tangan di depan wajah. "Aku bercanda!" ucapnya cepat sebelum mengembuskan napas panjang. "Aku pasti akan melakukan apa yang kuinginkan setelah tahu sebenarnya apa yang kuinginkan di dalam hidupku." Ia berdecak, mencondongkan tubuhnya ke arah Naruko. "Terdengar sangat berbelit-belit, bukan?" Dua saudari itu hanya saling memandang, sebelum akhirnya percakapan itu ditutup oleh tawa lepas keduanya.
.
.
.
Minggu di pertengahan musim panas yang menyengat. Naruto menatap keluar jendela, membetulkan letak posisi kacamatanya lalu mengembuskan napas panjang sebelum mengembalikan atensi sepenuhnya ke layar laptop yang mneyala. Dengan lincah jari-jari tangannya menari diatas tuts keyboard.
"Kenapa masih membawa tugas?" Sasuke duduk di seberang meja sembari meletakkan tiga gelas kopi pesanan milik mereka, sementara Naruko izin ke toilet dan masih belum kembali. Naruto masih tidak menjawab, perhatiannya terpusat ke layar laptop yang menyala-nyala hingga membuat pria di hadapannya kesal, dan tanpa berkedip Sasuke menutup layar laptop milik Naruto. Desisan kesal terdengar, Naruto menatapnya tajam saat ini.
"Kita pergi keluar untuk bersantai, bukan untuk menemanimu menyelesaikan tugas." Sasuke mengingatkan dengan santai, kedua tangannya dilipat di depan dada. "Apa kau sengaja membawa tugas itu untuk menghindari bicara denganku?"
Naruto tidak langsung menjawab. Ia mengembuskan napas keras dan berkata, "Masalah ucapanku beberapa hari lalu—"
"Bukankah sudah selesai?" Sasuke menyerutup pelan americanonya, kedua obsidian pria itu tidak melepas kedua netra lawan bicaranya. Naruto menelan kembali sisa kalimat yang belum terucap, sementara Sasuke meletakkan kembali cangkir minumannya ke atas meja. "Hubungan kita berakhir malam itu."
Naruto hanya mengangguk, ekspresinya tidak terbaca. Siapa yang menyangka jika Sasuke akan menyetujui keputusannya dengan sangat cepat? Tidak, batin Naruto. Ia tidak perlu menyesali keputusannya, terlebih setelah tahu jika adik kembarnya memiliki perasaan yang sama terhadap Sasuke.
"Apa tugasmu masih banyak?"
Naruto tersentak saat merasakan sapuan udara di belakang pundaknya. Sepasang tangan melingkar erat di dada. "Kau mengagetkanku!" keluhnya membuat Naruko terkekeh lalu duduk di samping yang lebih tua. "Bisakah kau menunda tugasmu? Aku ingin kita menghabiskan waktu bersama hari ini," mohonnya, menatap Naruto dengan kedua mata bulatnya.
Yang lebih tua tentu tidak bisa menolak. Naruto mengembuskan napas panjang. Ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, menyimpan pekerjaan yang sudah diketiknya sebelum mematikan laptop dan memasukkan benda itu ke dalam tas punggungnya. Menatap jauh ke luar jendela, ia menyesap cappuccino dingin miliknya. Naruto tidak mengatakan apa pun sementara adik kembarnya berbicara dan tertawa lembut bersama Sasuke.
"Bagaimana kalau kita pergi ke Disneyland?"
Ucapan Naruko membuat Naruto mengernyit. Ia menunjuk keluar jendela. "Diluar sangat panas," ucapnya, mengingatkan.
Mulut Naruko mengerucut. "Aku bisa memakai topi," sahutnya, menunduk, sedih. Naruko menatap jemari tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan. Sulit baginya mendapat izin untuk pergi bermain di udara panas atau dingin. Ia harus mendapat pengawasan ketat agar tidak terlalu lelah atau bahagia, karena keduanya bisa memicu kerja jantungnya secara berlebihan.
"Bagaimana jika kita pergi ke Seaworld?" tawar Naruto, berharap sang adik menyetujui usulannya.
Naruko menggelengkan kepala. "Aku tidak mau melihat ikan."
"Dan aku tidak mau melihat penyakitmu kambuh," sahut Naruto membuat Naruko menggigit bibir bawahnya. Adik kembarnya terlihat akan menangis.
"Ayo kita pergi ke Disneyland."
"Sasuke?" Naruto melotot, sementara Naruko terlihat kembali antusias.
"Aku bisa menjaganya," tandas Sasuke membuat Naruto memutar kedua bola matanya, jengah.
"Terserah," balas Naruto. Ia memasukkan barang-barang miliknya yang masih berada di atas meja ke dalam tas punggung, lalu berdiri. "Silahkan kalian pergi, tapi aku tidak akan ikut," balasnya, tegas sebelum beranjak pergi.
Naruto bukan tidak ingin mengabulkan permintaan Naruko, hanya saja udara diluar terlalu panas. Ia takut Naruko kelelahan dan antusias berlebihan saat bermain di sana. Tidak setuju bukan berarti tidak sayang, kan? Ia hanya memilih mengantisipasi sebelum sesuatu buruk terjadi.
Dan benar saja, ketakutan Naruto terjadi. Sore itu ia mendapatkan pesan dari Sasuke jika Naruko pingsan dan sekarang berada di Rumah Sakit Pusat. Naruto berlari sepanjang lorong rumah sakit, mengabaikan keringat di kening serta punggungnya yang terus menetes. Wanita muda itu bernapas terengah, melambatkan langkah kakinya saat melihat sosok kedua orang tuanya berdiri di depan ruang gawat darurat.
"Bagaimana keadaan Naruko—" Naruto terbelalak saat rasa panas akibat tamparan sang ayah mendarat di pipi kanannya. Kedua mata yang lebih muda terbelalak, menatap sang ayah dengan kilat sakit hati. Sasuke yang awalnya duduk segera berdiri, ia menarik tangan Naruto ke belakang punggungnya, menjadikan diri sebagai tameng.
"Paman, ini salahku. Kenapa menampar Naruto? Dia tidak salah."
"Jangan melindunginya!" balas Minato, geram. Mata pria itu berkilat marah, sementara Kushina hanya bisa terduduk, menangis, meratapi kondisi putrinya yang hingga detik ini masih belum ada kabar. "Sebagai seorang kakak seharusnya kau bisa melindungi Naruko!" sambung, Minato, menyalahkan. "Ayah mempercayakan Naruko kepadamu karena percaya, tapi kau lagi-lagi mengkhianati kepercayaan ayah!"
Naruto tidak langsung menjawab. Ia memilih membuang muka, menahan panas air mata yang siap keluar kapan saja. "Aku sudah melarangnya untuk pergi ke Disneyland. Kenapa aku masih disalahkan?" balasnya, sengit. Entah kenapa ia merasa sangat marah karena dipojokkan oleh ayahnya saat ini. "Kenapa aku harus disalahkan setiap terjadi sesuatu kepada Naruko?" Naruto memiringkan wajah ke kiri saat melihat ayahnya mengangkat tangan kanan ke udara. "Tampar jika itu bisa membuat Ayah merasa lega," ujarnya, menantang.
Hening.
"Aku lelah terus disalahkan," lanjut Naruto, parau. "Bukan salahku terlahir normal sementara Naruko terlahir sakit. Jika bisa, aku bersedia menggantikan posisinya, tapi bukankah itu mustahil?"
Minato tidak menjawab.
"Atau jika Ayah dan Ibu mau, ambil jantungku untuk Naruko, aku tidak keberatan." Naruto terus bicara, mengeluarkan semua keluh kesah yang selama ini disimpan rapat. "Aku pun lelah, rasanya aku ingin mati saja—" dan sebuah tamparan pun kembali mendarat di pipi kanan Naruto, sore itu.
.
.
.
TBC
