Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M+
Warning : Gender switch, OC, OOC, typo (s)
Genre : Hurt comfort, angst, romance, family
The Last Promises
Chapter 3. Bertahan
By : Fuyutsuki Hikari
Naruto menatap nanar sang ayah yang berdiri di hadapannya dengan marah. Rasa sakit di pipi tidak mampu mengalahkan rasa sakit di hati yang terasa menyesakkan. Untuk pertama kalinya Naruto mendapatkan tamparan dari sang ayah. Naruto kini bertanya di dalam hati, apa ucapannya sudah sangat keterlaluan hingga ayahnya lepas kendali?
Telunjuk Minato diangkat tinggi, di depan wajah sang putri. "Berani sekali kau bicara seperti itu kepada ayahmu!" ucapnya penuh penekanan dan marah. "Apa kau tidak sadar jika ucapanmu menyakiti hati orang tuamu?"
Naruto tidak menjawab. Dia terlalu syok dan bingung atas apa yang baru saja terjadi.
"Apa kau pikir menjadi keinginan kami memiliki putri yang sakit?" tanya sang ayah, parau. Di sampingnya, Kushina berusaha menenangkan emosi Minato. "Kau pikir dirimu hebat dengan menawarkan jantung milikmu untuk saudari kembarmu?" tanyanya lagi yang tidak bisa dijawab oleh Naruto.
Udara di sekitar mereka terasa sangat berat saat ini. Sasuke yang berada diantaranya hanya bisa berdiri, diam tanpa bisa melakukan apa pun. Ikut campur di dalam masalah keluarga Namikaze tidak bisa dilakukannya untuk saat ini.
"Apa kau pikir ayah dan ibumu tidak akan melakukan hal yang sama jika kau yang berada di posisi Naruko?"
Air mata Naruto jatuh. Gadis remaja itu memeluk dirinya sendiri, memalingkan muka, tidak mampu menatap wajah sang ayah yang marah.
"Ayah dan ibumu akan melakukan hal yang sama jika kau berada di posisi Naruko. Kalian berdua putri kami. Putri yang kami tunggu selama sepuluh tahun. Tuhan memberi kalian kepada kami walau salah satu diantaranya harus terlahir tidak sempurna. Karena itu ayah dan ibumu hanya memintamu untuk menjaga saudari kembarmu. Andai situasinya tidak seperti ini, ayah pasti tidak akan memintamu berkorban begitu besar."
"Ayah, sudah!" pinta Kushina, lirih. Ia mengusap lengan sang suami lembut, sesekali ditatapnya Naruto yang menangis dalam diam. "Naruto sudah mengerti letak kesalahannya. Ibu yakin dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama."
Minato berdesis, telunjuknya masih diangkat tinggi di depan Naruto. "Kau berani menggunakan suara tinggi kepada ayahmu sendiri," decaknya. "Kau berani melakukan hal itu sementara semua kebutuhanmu dipenuhi olehku?"
Ada jeda pendek sebelum Minato kembali bicara. "Sekarang ayah sudah tidak peduli!" ucapnya, mutlak. "Jika kau ingin bebas, kau bisa pergi dari rumah!" tekannya membuat Naruto terkejut. Pandangan mereka bertemu. Minato mendecih. "Kenapa? Kau terkejut karena ayah memberimu pilihan untuk bebas?"
Naruto tidak menjawab. Tubuhnya menggigil.
"Kau bisa pergi, tapi kau harus bertahan hidup dengan usahamu sendiri!" tegas Minato. "Aku akan menarik semua kartu kredit, kendaraan dan uang sakumu. Silahkan, kau bisa memilih, pergi dari rumah dan mandiri, atau tetap tinggal dan jaga adikmu dengan baik!"
Naruto terdiam. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab dengan penuh tekad, "Naruto pamit!" ucapnya membuat Kushina terpekik, kaget. Naruto membungkuk dalam, lalu kembali berdiri tegak. Sejenak dia melirik ke arah ruangan sang adik sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan kedua orang tua dan Sasuke di belakangnya.
"Ayah, kenapa kau bisa memberi pilihan itu?" Kushina terisak. Dadanya terasa sesak. Dia menjadi bingung sekaligus cemas. Putrinya terbiasa hidup mewah, bagaimana Naruto bisa bertahan diluar sana tanpa sokongan keluarga?
Minato tidak langsung menjawab. Pria paruh baya itu mengusap wajahnya kasar lalu mengembuskan napas panjang. "Dia pasti akan segera kembali," ucapnya sangat yakin. "Putri kita tidak akan bisa hidup tanpa sokongan keluarga. Naruto pasti menyerah dan kembali secepatnya. Jangan khawatir!"
"Bagaimana jika tidak?" Isak Kushina, menggelengkan kepala.
Minato merengkuh sang istri, dikecupnya lembut puncak kepala Kushina. Tatapannya menerawang jauh saat menjawab, "Naruto pasti akan segera kembali," janjinya, terdengar ragu.
.
.
.
Di lain sisi, Sasuke tidak bisa menahan diri untuk tidak menyusul langkah kaki Naruto yang sangat cepat. Udara di dalam paru-parunya seperti dirampok saat dia berlari cepat untuk menyusul Naruto. "Kau tidak akan meninggalkan rumah, kan?" Sasuke menarik lengan kanan milik Naruto. Napasnya tersengal, pandangan keduanya bertemu.
Di hadapannya, Naruto masih menangis. Namun, Sasuke bisa menangkap tekad di kedua bola mata tajam milik mantan kekasihnya.
"Bagaimana bisa kau bertahan tanpa bantuan finansial orang tuamu?" ucap Sasuke, berusaha menyadarkan Naruto. "Apa yang akan kau lakukan untuk mendapatkan uang? Bekerja menjadi tutor seperti Sakura?" tanyanya. "Bekerja di café seperti Ino? Apa? Apa yang akan kau lakukan?"
Naruto menggertakan gigi. Kedua tangannya terkepal erat. Bahkan Sasuke menyangsikannya bisa bertahan tanpa bantuan finansial dari kedua orang tuanya. "Aku bisa bekerja menjadi tutor atau pegawai café untuk memenuhi kebutuhanku sendiri. Aku juga memiliki tabungan untuk menyewa kamar kecil untuk tinggal. Aku bisa melakukannya. Aku sudah dewasa!"
Sasuke melepas napas yang sedari tadi ditahannya. "Naruto, sampai kapan kau akan bersikap egois?"
Keheningan menguasai untuk beberapa waktu. Keduanya berdiri di depan gedung rumah sakit saat ini.
"Orang tuamu memintamu berkorban untuk saudarimu. Mereka hanya memintamu meluangkan waktu lebih banyak untuk Naruko," terang Sasuke, tenang. "Apa kau lupa jika saudarimu sakit parah? Dia bisa meregang nyawa kapan saja. Jika hal itu terjadi, apa kau tidak akan menyesal?"
"Apa kau sedang menyumpahi adikku untuk mati?" desis Naruto, marah.
Sasuke melepas napas berat. "Bukan begitu—"
Kekehan sinis Naruto membuat Sasuke menelan kembali kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya. Pria itu menatap mantan kekasihnya dengan ekspresi tidak terbaca. "Sejak kecil aku tidak pernah mengeluh walau harus sekolah di rumah demi Naruko," kenang Naruto. "Aku tidak mengeluh saat ayah memasukkanku ke sekolah asrama wanita yang sama dengan adikku saat SMA. Aku juga tidak mengeluh saat ayah menolak keinginanku untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Aku juga tidak marah saat ayah membatasiku bermain keluar bersama teman-temanku. Apa pengorbananku masih belum cukup?"
Sasuke terdiam, tidak bisa menjawab.
"Aku bahkan menyetujui keinginanmu untuk menyembunyikan hubungan kita dari orang-orang," lanjut Naruto setelah terdiam beberapa saat. Kedua mata wanita itu mulai nanar. "Hanya karena Naruko sakit, bukan berarti kehidupanku pun harus berputar disekitarnya bukan?"
Naruto terdiam untuk mengendalikan napasnya yang mulai tidak teratur. Kepala wanita itu berdenyut sakit karena terlalu emosi. Kekehannya berubah menjadi isakan.
"Apa kau tidak akan mengubah pikiranmu lagi?"
Naruto menoleh, menatap lekat Sasuke lalu menggelengkan kepala.
"Baik," ucap Sasuke. "Jika kau tidak akan mengubah pemikiranmu, aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi," tambahnya. "Mulai sekarang kau bebas melakukan apa pun yang kau inginkan. Aku tidak akan menghalangimu lagi. Anggap saja kita tidak saling mengenal satu sama lain."
"Apa kau sedang mengancamku?" Alis Naruto saling bertatut. Dia tidak menyangka Sasuke akan bicara sedingin itu terhadapnya. "Kenapa kau juga tidak bisa mengerti aku? Apa sesalah itu jika aku menginginkan kebebasanku?"
Sasuke menggelengkan kepala. "Kau bebas mempertahankan pendirianmu itu," jawabnya. "Tapi, aku hanya berharap kau tidak menyesali keputusanmu ini," tandasnya. Sasuke menarik napas panjang. Ditepuknya pundak Naruto berberapa kali. "Semoga kau bahagia dengan keputusanmu!" tandasnya sebelum meninggalkan Naruto yang menangis di belakang punggungnya.
.
.
.
TBC
