Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M+

Warning : Gender switch, OC, OOC, typo (s)

Genre : Hurt comfort, angst, romance, family

The Last Promises

Chapter 4. Tidak Akan Bisa

By : Fuyutsuki Hikari

Setelah selesai mengemasi barang-barang miliknya, Naruto akhirnya melangkah keluar dari kediaman keluarga Namikaze yang nyaman. Untuk beberapa saat gadis remaja itu berdiri di depan pintu gerbang. Dua buah koper berukuran besar berada di sisi kanan dan kirinya. Naruto mendongakkan kepala, menatap kediamannya dengan perasaan berat. Namun, dia mengatakan kepada diri sendiri jika sudah tidak ada jalan untuk kembali hingga sebuah langkah pun diambilnya. Menarik dua buah koper, Naruto pergi meninggalkan kediaman keluarganya.

Selama di dalam bus, Naruto memandang kosong keluar jendela. Di luar, hujan turun, membasahi bumi. Tangan kanannya diangkat, telunjuknya mulai menuliskan sesuatu di kaca jendela yang sedikit berembun. 'Maaf' dan 'Keluarga' ditulis oleh Naruto dengan huruf kanji di sana. Wanita itu menatap lama dua kata yang ditulisnya, lalu mengembuskan napas berat sebelum akhirnya menghapus tulisan itu dengan telapak tangannya.

Perlu waktu satu jam hingga akhirnya Naruto tiba di halte yang ditujunya. Beruntung hujan sudah berhenti saat dia turun. Menarik lagi kopernya, dia berjalan kepayahan melewati jalanan yang sedikit lenggang, malam ini. Naruto terpaksa menginap di apartemen kecil milik Sakura karena harus berhemat hingga bisa menyewa apartemen kecil untuk ditinggalinya.

Mengembuskan napas keras, Naruto memandang bangunan dua lantai di hadapannya. Apartemen yang ditempati Sakura tidak mewah, bahkan tergolong kecil, tapi cukup nyaman dan lingkungannya pun cukup bersih.

Tidak ada lift di sini, hingga Naruto harus bersusah payah menaiki satu per satu anak tangga dengan membawa koper besar miliknya. Keringat membasahi kening wanita itu saat koper kedua berhasil dibawanya naik. Di depan pintu apartemen bernomor dua puluh empat dia berdiri. Naruto menarik napas panjang sebelum mengetuk daun pintu beberapa kali.

Beruntung, saat dihubungi, Sakura mengatakan jika dia berada di rumah dan dengan baik hati teman dekatnya itu menawarkan apartemen kecilnya untuk Naruto tinggal sementara.

Tidak lama berselang, daun pintu terbuka. Naruto mengulum senyum terbaiknya, sementara Sakura menghambur, memberinya sebuah pelukan hangat yang sangat diperlukan oleh Naruto saat ini.

"Tdak apa-apa!" gumam Sakura di telinga Naruto. "Bukan salahmu. Kau hebat!" sambungnya saat merasakan tubuh yang lebih muda gemetar hingga sebuah isakan keluar dari mulut Naruto. Malam itu Naruto menangis hingga merasa lelah, sedangkan yang lebih tua membelai punggungnya sebagai penghiburan.

.

.

.

Matahari sudah agak tinggi saat Naruto bangun keesokan harinya. Aroma kopi menggelitik indra penciuman wanita itu. Kedua matanya mengerjap beberapa kali. Butuh beberapa detik hingga akhirnya Naruto tersadar ada dimana dirinya saat ini.

"Tuhan," ucapnya, terkesiap saat melihat jam yang menggantung di dinding apartemen Sakura. Apartemen itu memiliki luas delapan meter persegi. Hanya ada sekat yang memisahkan kamar dan dapur. Tidur, belajar, makan, semua dilakukan Sakura di kamar karena selain kamar, dapur dan kamar mandi tidak ada ruangan lain di apartemennya.

"Maaf, aku terlambat bangun!" kata Naruto sembari turun dari atas ranjang. Dia berdiri membelakangi Sakura yang tengah menyeduh kopi dan membuat roti panggang di dapur. Dengan cekatan Naruto merapikan tempat tidur, lalu menarik salah satu kopernya dari bawah ranjang untuk mengeluarkan peralatan mandi serta handuk dan pakaian gantinya.

"Santai saja," balas Sakura sembari membawa kopi dan roti panggang buatannya ke kamar.

Tanpa meminta izin, Naruto segera beranjak ke kamar mandi. Dengan cepat dia membersihkan diri lalu keluar dari dalam sana dengan pakain yang sudah diganti dan wajah yang terlihat lebih segar.

Sakura menepuk-nepuk sisi kosong di sampingnya. "Maaf hanya ada roti panggang dan kopi untuk sarapan pagi ini. Aku belum sempat belanja," ujarnya terdengar sedikit malu karena tidak bisa menjamu tamunya dengan baik.

Naruto menggelengkan kepala. "Ini sudah lebih dari cukup," ucapnya. "Terima kasih!"

"Kau sudah mengatakan 'terima kasih' beratus-ratus kali." Sakura memutar kedua bola matanya, jengah. Wanita itu sibuk mengunyah sementara tangannya menekan remote televisi untuk mengganti saluran. "Jadi apa rencanamu setelah ini?" Sakura meletakkan remote di tangannya ke atas karpet, lalu menoleh, menatap lekat lawan bicaranya.

"Mencari apartemen murah untuk kusewa dan mencari pekerjaan," jawab Naruto yang segera ditanggapi anggukan oleh Sakura. "Mungkin aku akan merepotkanmu selama satu minggu," tambahanya terdengar menyesal.

Sakura mengibaskan tangan di depan wajah. "Tidak perlu sungkan," jawabnya. "Selama ini kau juga sering membantu finansialku. Aku tidak akan lupa tentang itu," ungkapnya, memukul pelan lengan Naruto. Keduanya berbagi senyum. Keduanya tahu jika kehidupan Naruto tidak akan mudah setelah ini.

Sekarang, Naruto tidak ada bedanya dengan Sakura yang yatim piatu. Dia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan membayar biaya pendidikannya. Sakura yang sudah terbiasa prihatin sejak kecil sudah sangat terbiasa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus karena hanya dengan cara itu dia bisa memenuhi kebutuhannya yang terbilang mahal di Tokyo. Namun, bagaimana dengan Naruto? Sejak lahir, Naruto belum pernah bekerja untuk mencari uang. Kehidupannya terpenuhi, bahkan sangat berkecukupan. Apa Naruto bisa bertahan? Batin Sakura, cemas.

"Ada lowongan kerja menjadi pelayan di café seberang tempat lesku mengajar," terang Sakura. "Apa kau mau mencobanya? Mereka menerima pegawai pelajar dan mahasiswa, tapi gajinya tidak terlalu besar karena jam kerjanya singkat."

Naruto tersenyum. "Tidak masalah. Aku akan mencoba melamar pekerjaan di sana," ucapnya semangat. Dia kembali menggigit roti panggangnya dengan antusias. Jika berhasil mendapatkan pekerjaan itu, Naruto hanya perlu mencari satu pekerjaan lain untuk mendapatkan uang tambahan, pikirnya.

.

.

.

Setelah kepergian Sakura yang harus mengajar di salah satu kediaman muridnya, Naruto memutuskan tinggal beberapa saat. Dia membuka laptop miliknya dan mulai berselancar, mencari apartemen murah untuk disewanya. Setelah menghubungi tiga perantara, dia pun segera bersiap keluar untuk melihat dan membandingkan ketiga apartemen yang akan disewanya.

Apartemen pertama memiliki biaya sewa paling murah. Namun, lingkungan tempat gedung itu berdiri membuat Naruto tidak nyaman hingga akhirnya dia memilih melihat apartemen kedua yang sudah ditandainya. Apartemen kedua memiliki harga sewa paling mahal, tapi lingkungan dan bangunannya terlihat lebih muda dari bangunan apartemen sebelumnya. Naruto berjalan menuju kantor perantara yang berada di lantai satu apartemen, dan setelah berbincang sejenak dia dibawa ke lantai empat dimana ada satu kamar kosong untuk disewakan.

Gedung berlantai lima itu hanya memiliki satu kekurangan, tidak ada lift di sana hingga penghuninya harus naik turun tangga untuk mencapai kamar masing-masing. Biaya sewa tiap lantainya berbeda-bedar. Kamar yang menempati lantai paling rendah memiliki biaya sewa paling tinggi.

Naruto memang belum melihat apartemen ketiga, tapi dia sudah merasa pas untuk tinggal di tempat ini, walau harga sewanya agak lebih tinggi dari anggaran yang sudah ditetapkannya. "Nyonya, apa ada kamar kosong di lantai paling atas?" Naruto akhirnya bertanya setelah selesai melihat kamar kosong yang akan disewakan di lantai empat. "Jujur saja, biaya sewa di lantai ini sedikit tinggi untuk kantongku," terangnya tanpa merasa malu.

Wanita paruh baya itu terdiam sejenak. Untuk beberapa saat dia menimang-nimang sebelum akhirnya bicara. "Sebenarnya di lantai lima hanya beberapa kamar saja yang terisi," ujarnya. "Ada kasus bunuh diri di salah satu kamar hingga membuat beberapa penghuni ketakutan dan memilih keluar dari apartemen ini," keluhnya.

Ada jeda singkat hingga akhirnya di kembali bicara. "Aku mengatakan ini kepadamu karena tahu jika cepat atau lambat kau akan segera tahu dan aku tidak mau dicap sebagai penipu," terangnya. "Harga sewa di lantai lima hanya separuh dari biaya sewa di lantai empat. Hanya saja aku tidak bisa menjamin jika kau akan betah tinggal di salah satu kamar itu, karena menurut beberapa penghuni di lantai lima, mereka selalu diganggu oleh hantu korban."

Naruto menelan dengan susah payah. Jujur saja, dia sangat takut hantu, tapi kondisi perekonomiannya tidak mengizinkannya untuk menjadi penakut saat ini. "Aku bersedia, asal tidak menempati kamar tempat korban bunuh diri," jawabnya, bulat tekad.

Nyonya paruh baya itu mengangguk. Keduanya kembali berjalan menuju lantai lima. Sang nyonya tidak mengatakan kamar mana tempat terjadi kasus itu, karena menurutnya hal itu hanya akan membuat Naruto semakin takut jika tahu. Namun, dia bersumpah jika kamar yang akan diperlihatkannya sekarang bukan lokasi kejadian.

Naruto takjub, kamar ini memiliki luas yang sama dengan lantai di bawahnya. Ukurannya sedikit lebih besar dari apartemen Sakura, dan harganya pun jauh lebih murah. Kondisi air, pendingin dan penghangat ruangan pun sangat baik. Apalagi yang harus Naruto keluhkan?

"Bagaimana?"

"Aku akan menyewa kamar ini," ucap Naruto, mantap.

"Kalau begitu ayo ke ruanganku. Ada beberapa berkas yang harus kau isi," terangnya. "Dan mungkin aku baru bisa memberikan surat perjanjian kontrak kepadamu satu minggu lagi. Bagaimana?"

"Tidak masalah," jawab Naruto bersamaan dengan tertutupnya pintu kamar apartemen yang akan menjadi tempat tinggalnya nanti.

Naruto keluar dari dalam bangunan itu dengan perasaan ringan. Sabtu ini entah kenapa terlihat lebih cerah dari Sabtu lainnya. Terkekeh kecil, Naruto berjalan, bersenandung terus berjalan lalu berbelok menuju jalan utama. Setelah lima belas menit berjalan, akhirnya dia bisa melihat barisan pertokoan di sisi kiri dan kanan yang mengapit jalan raya selebar lima meter.

Wanita itu sudah berjalan beberapa langkah melewati sebuah mini market sebelum akhirnya kembali mundur untuk membawa pengumuman lowongan pekerjaan di sana. Tuhan, entah kenapa Naruto merasa hidupnya dipermudah.

Tanpa ragu, wanita itu berjalan masuk dan langsung menuju ke bagian kasir. "Maaf, apa lowongan pekerjaannya masih berlaku?" tanyanya, penuh harap.

Pria paruh baya di hadapannya tidak langsung menjawab. "Apa kau mahasiswa?" Dia balik bertanya dengan nada bicara kurang ramah. Setelah Naruto menganggukkan kepala, pria itu kembali bicara. "Aku memerlukan karyawan untuk bekerja shift malam di hari Senin hingga Kamis, karena tiga malam lainnya sudah ada karyawan lain yang menempati. Jam kerja dari pukul sebelas malam hingga pukul enam pagi. Gaji yang bisa kuberikan setiap minggunya sebesar tiga puluh ribu yen, lebih tinggi dari mereka yang bekerja di shift pagi dan siang. Apa kau masih tertarik?"

Naruto menganggukkan kepala. Lumayan, pikirnya. "Kapan saya bisa mulai bekerja?"

"Aku memerlukan data dirimu terlebih dahulu," jawab pemilik toko. "Kau bahkan bisa memulai pekerjaanmu hari Senin besok."

Mulus, terlalu mulus, pikir Naruto. Tuhan memang sedang berbaik hati atau ada sesuatu yang akan terjadi setelah ini?

Menggelengkan kepala pelan, Naruto berjalan keluar dari dalam toko menuju halte bus. Dia akan mengunjungi Naruto, sore ini.

Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore saat Naruto tiba di rumah sakit pusat. Dia sengaja mampir ke toko bunga untuk membeli beberapa tangkai bunga lili putih kesukaan adik kembarnya. Dan ternyata ketakutannya terjadi. Naruto mendapati ruang inap yang selama beberapa hari ini ditempati oleh Naruko sudah kosong.

Kemana?

Perasaannya langsung kacau. Dengan panik Naruto berlari menuju meja perawat. Dia kembali dikejutkan setelah mendengar jawaban dari salah satu perawat jika pasien sudah dipindahkan ke rumah sakit lain siang tadi atas permintaan orang tua pasien.

Gigi Naruto gemeretak. Kesal, dia sangat kesal sekaligus marah karena orang tuanya bertindak sejauh ini untuk menghukumnya. Berjalan dengan langkah panjang, Naruto keluar dari dalam bangunan lalu menghubungi seseorang yang diyakininya tahu kemana Naruko dipindahkan.

Panggilan itu tidak segera dijawab. Naruto mengatur napas hingga akhirnya bisa sedikit lebih tenang. Wanita itu kembali menghubungi nomor telepon genggam milik Sasuke, dan kali ini panggilan itu berbalas.

"Kenapa kau mencariku?"

Naruto bisa menangkap nada dingin dari ujung sambungan telepon. "Kemana mereka membawa Naruko?" tanyanya tanpa berbasa-basi.

Ada keheningan pendek sebelum Sasuke menjawab, "Jika kau ingin tahu, pulang ke rumahmu lalu minta maaf," tekannya. "Kau tidak akan bisa bertahan tanpa perlindungan orang tuamu, Naruto! Seorang 'Putri' sepertimu tidak akan bisa bertahan di dunia yang kersa ini. jangan keras kepala! Pulang sebelum kau menyakiti dirimu sendiri!" ucap Sasuke sebelum memutuskan sambungan telepon.

Terdiam. Tangan Naruto yang menggenggam telepon genggam terasa lemas luar biasa. Wanita itu tahu jika ini hanya bagian kecil dari hukuman yang dijatuhkan kedua orang tuanya kepada dirinya. Namun, dia tidak akan menyerah. Naruto pasti bisa menemukan Naruko dan hidup dengan baik tanpa bantuan finansial kedua orang tuanya.

.

.

.

TBC