Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M+

Warning : Gender switch, OC, OOC, typo (s)

Genre : Hurt comfort, angst, romance, family, abuse

The Last Promises

Chapter 5. Mengulurkan Tangan

By : Fuyutsuki Hikari

Setelah satu minggu berlalu, Naruto akhirnya bisa sedikit bernapas lega setelah kontrak sewa apartemennya selesai. Segera setelah menyelesaikan masalah pembayaran, Naruto segera pindah ke apartemen barunya. Tidak ada banyak barang yang mengisi apartemen kecil itu. Namun, untuk kesekian kali Naruto mengucapkan syukur karena masih memiliki tempat layak untuk berteduh dan berlindung.

Mengembuskan napas panjang, Naruto menyeduh mie di dalam kemasan dengan air panas. Wanita itu membawa kemasan mie yang telah ditutup ke dalam kamar yang terletak tepat di samping dapur. Naruto duduk bersila di depan meja, meletakkan mie di atas meja lalu meraih remote televisi untuk mengganti saluran.

Dia sangat beruntung karena menemukan sebuah televisi yang dibuang di depan sebuah rumah saat berjalan menuju apartemen barunya tadi. Sebelumnya Naruto sudah meminta izin kepada sang pemilik yang membuang televisi tersebut, bertanya apakah barang elektronik itu masih layak pakai atau tidak sebelum akhirnya membawa pulang ke apartemen kecilnya.

Naruto terkekeh miris. Siapa yang menyangka jika suatu hari nanti dia akan mengambil sebuah barang dari tempat pembuangan sampah milik orang lain untuk dibawa pulang?

Dia mendesah, melepas napas yang terasa menghimpit dada. Dalam kondisinya saat ini, Naruto tidak memiliki hak untuk mengeluh atau malu. Setidaknya dia tidak melakukan hal buruk untuk bertahan hidup. Dia juga bersyukur karena ternyata apartemen barunya tidak menakutkan seperti yang dikatakan oleh orang-orang. Atau mungkin Naruto yang tidak mau ambil peduli?

Wanita itu terlalu lelah untuk takut kepada hantu. Yang dilakukan Naruto saat pulang ke apartemen hanya tidur selama beberapa jam lalu bersiap pergi ke kampus setiap harinya. Atau bersiap menuju tempat kerja yang lain setelah pulang kuliah. Terus seperti itu setiap harinya.

Setelah menyantap mie dan menyeruput teh hangat, Naruto segera menyambar jaket serta tas gendongnya sebelum keluar apartemen untuk bekerja paruh waktu. Wanita itu memastikan membawa buku-buku pelajaran serta sebuah laptop untuk mengerjakan tugas saat bekerja nanti malam.

Bohong jika Naruto merasa kehidupannya tidak terasa berat, padahal baru dua bulan wanita itu meninggalkan rumah. Setelah kepergiannya dari rumah, kedua orang tuanya tidak pernah mengirimi kabar atau sekedar bertanya dimana Naruto berada sekarang? Pesan yang dikirim Naruto untuk bertanya masalah kesehatan Naruko pun tidak pernah dibalas, sementara Sasuke, pria itu seperti menghilang ditelan bumi. Namun, untuk kesekiankali wanita itu mengingatkan dirinya sendiri jika ini pilihannya. Seberat apa pun, dia harus menanggung konsekuensi dari pilihannya tersebut.

Menarik napas dalam, Naruto mendorong pintu ganda kaca café tempatnya bekerja, siang ini. Senyum cerah diberikan wanita itu saat menyapa beberapa rekan kerjanya. Dengan langkah panjang, Naruto bergegas menuju bagian belakang café untuk berganti pakaian dan memulai pekerjaannya hari ini.

.

.

.

Malam sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Naruto tiba di mini market untuk memulai shift malamnya. Dengan cepat dia berganti pakaian dan membawa tasnya ke belakang meja kasir lalu berbicara singkat dengan rekan kerjanya untuk serah terima pekerjaan. Setelah rekan kerjanya pulang, Naruto mulai merapikan dan mencatat barang-barang di dalam toko untuk dilaporkan besok pagi.

Seperti malam-malam biasanya, pembeli datang dan pergi. Kebanyakan dari mereka datang membeli rokok atau minuman keras. Beberapa diantaranya ada yang sekedar memasak mie untuk makan malam yang terlambat sebelum beranjak pulang ke kediaman masing-masing.

Naruto menarik napas dalam. Pikirannya melayang-layang. Hampir pertengahan semester, dan itu artinya dia harus memiliki uang untuk membayar uang kuliah. Lagi, wanita itu menarik napas dalam lalu mengeluarkan dengan perlahan kali ini. Kepalanya mendongak, menatap langit-langit tinggi toko. Semester ini Naruto masih memiliki uang untuk membayar, tapi bagaiman dengan semester depan?

"Aku harus mencari pekerjaan lain," gumamnya sembari merapikan barang-barang di dalam rak makanan ringan lalu kembali beranjak ke belakang meja kasir. "Tapi apa?" Naruto menggelengkan kepala pelan, berharap besok dia akan mendapatkan jalan keluar untuk masalah keuangannya.

.

.

.

Sakura tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya saat melihat kondisi Naruto, siang ini. Teman baiknya itu terlihat lebih kurus, dengan kantung mata tebal dan menghitam. Kaos yang dikenakan oleh Naruto terlihat sangat besar, membuat wanita berambut pirang itu terlihat sangat rapuh.

Telapak tangan Sakura diletakkan di atas dahi Naruto saat temannya itu sudah duduk di sampingnya. "Kau terlihat kacau," ucapnya setelah melepas telapak tangan dari dahi Naruto.

Yang diajak bicara tidak langsung menjawab. Naruto mengembuskan napas keras lalu meletakkan wajah di atas meja. Penampilannya benar-benar kacau. "Sakura, aku membutuhkan pekerjaan tambahan."

Kedua bola mata Sakura membola. "Lagi?"

Naruto mengangguk, pelan. "Aku harus mulai mengumpulkan uang untuk membayar uang kuliah semester berikutnya. Uangku hanya cukup untuk membayar biaya semester ini saja."

Sakura termenung. Naruto sudah mengambil tiga pekerjaan berbeda, dan hal itu sangat mempengaruhi kondisi fisiknya. Siapa yang tidak lelah jika setiap hari hanya memiliki tiga jam untuk tidur?

"Kondisi tubuhmu tidak akan mampu bertahan jika kau memaksakan diri seperti ini." Sakura bicara dengan nada pelan, tanpa maksud menggurui. Kekhawatiran terlihat jelas di kedua mata wanita itu. Namun, di sisi lain, dia tahu jika Naruto memerlukan pekerjaan itu untuk bertahan hidup dan tetap kuliah. "Jika mengambil pekerjaan lain, aku takut kau jatuh sakit."

Naruto terdiam. Suasana di dalam kelas masih belum ramai, sehingga keduanya masih leluasa untuk bicara. "Lalu bagaimana?" Naruto menyatukan jemari tangan dan menatap jemari yang saling bertaut itu, lekat. "Aku membutuhkan uang lebih," tambahnya.

Sebenarnya ada satu rahasia yang disembunyikan Naruto dari Sakura. Temannya itu hanya tahu jika dia memiliki tiga pekerjaan paruh waktu saat ini, padahal kenyataannya Naruto memiliki empat pekerjaan paruh waktu. Naruto sengaja merahasiakan pekerjaan keempatnya dari Sakura karena tahu jika temannya itu pasti tidak akan setuju Naruto bekerja di sana.

Jauh di dalam hati, Naruto juga was-was saat bekerja sebagai pelayan di sebuah bar kelas atas dengan pakaian terbuka, tapi bagaimana lagi? Dia memerlukan uang untuk bertahan hidup.

Sakura tidak langsung menjawab. Wanita itu menekuk kening dalam, berpikir. "Bagaimana jika aku membantumu mencari beasiswa untuk semester depan?" usulnya yang segera ditanggapi Naruto dengan penuh harap. "Jika kau bisa mempertahankan nilai yang sama seperti semester sebelumnya, aku rasa tidak akan sulit mendapatkan beasiswa dari ikatan alumni."

Wanita itu menjeda singkat sebelum kembali bicara dengan sangat antusias. "Kenapa kita tidak memikirkan hal ini dari awal?" keluhnya merasa sangat bodoh. "Dengar, sekarang yang perlu kau lakukan istirahat cukup dan belajar. Setidaknya beban keuanganmu akan sedikit berkurang jika kau berhasil mendapatkan beasiswa untuk semester depan."

Naruto menganggukkan kepala. Senyumnya terkembang dengan lebar. Sungguh, dia berharap bisa mendapatkan beasiswa itu demi kesehatan mentalnya juga, karena jujur saja, bukan hanya fisik Naruto saja yang mulai lelah, mentalnya pun sudah mulai lelah.

.

.

.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya di café, Naruto segera beranjak pergi menuju pusat kota. Dalam satu minggu, tiga hari dia bekerja sebagai pelayan di sebuah nightclub ternama di Kota Tokyo. Seperti malam-malam biasanya, Naruto mengenakan pakaian kostum kelinci yang terlihat sangat seksi. Dan seperti pelayan wanita lainnya, dia menggunakan sebuah topeng untuk menyembunyikan sebagian wajahnya. Tentu saja bukan tanpa alasan manajemen memerintahkan pelayannya menggunakan topeng untuk menyembunyikan sebagian wajah mereka, karena hal itu menjadi daya tarik tersendiri untuk pengunjung.

Naruto menatap pantulan dirinya di cermin besar dengan risih. Pakaiannya sangat terbuka, dari mulai belahan dada, punggung yang terbuka serta kaki jenjangnya yang terekspos sempurna. Beberapa kali dia bahkan nyaris dilecehkan oleh pengunjung mabuk, beruntung beberapa rekannya membantu hingga Naruto bisa selamat. Jika mendapatkan pertanyaan kenapa dia bertahan di tempat seperti ini? Jawabannya sangat sederhana, dia memerlukan uang.

Tepat pukul sebelas malam shiftnya dimulai. Senyum tidak luntur dari wajah cantik wanita itu. dengan hati-hati Naruto membawa sebuah baki dengan beberapa botol minuman dan gelas pesanan milik seorang pengunjung yang telah menanti di meja.

Hentakan musik EDM menyemarakkan suasana. Puluhan wanita dan pria berada di atas lantai dansa, menari dengan gila, sementara seorang penari wanita meliuk-liukkan badannya yang minim pakaian di atas panggung bulat.

Semakin malam suasana semakin menggila. Terkadang terjadi perkelahian kecil, dan saat itu terjadi, Naruto memilih untuk pergi ke tempat aman di belakang meja bar untuk menyelamatkan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Asap rokok mengepul, membuat Naruto sesekali menahan napas saat melewatinya. Melangkah dengan hati-hati, wanita itu berjalan menuju sebuah meja yang berada di pojok ruangan. Saat ini entah kenapa Naruto merasa sangat was-was. Rasanya dia ingin berlari pergi sejauh mungkin dari tempat yang akan ditujunya.

Mengulum senyum professional. Naruto mulai meletakkan dengan hati-hati dua botol minuman, sebuah ember kecil berisi es serta empat gelas kristal di atas meja. Ada empat orang pria dan dua orang wanita penghibur yang duduk mengelilingi meja. "Ada pesanan lain?" Naruto bertanya dengan suara sopan setelah selesai meletakkan semua barang bawaannya di atas meja.

Keempat tamu pria berusia sekitar dua puluh lima hingga tiga puluh tahun itu tidak langsung menjawab. Dalam remang cahaya, Naruto masih bisa merasakan tatapan tidak senonoh yang ditujukan kepadanya.

"Silahkan memanggil saya jika ada pesanan tambahan—"

"Berapa hargamu?" potong seorang pria berpakaian setelan jas yang sudah terlihat tidak rapi. Pertanyaan itu membuat Naruto terkesiap. Kedua matanya membola untuk beberapa saat hingga akhirnya wanita itu bisa mengendalikan diri dan balik bertanya dengan nada sopan, "Maaf, maksud Anda?"

Pertanyaan Naruto dijawab dengkusan pria tadi. "Aku ingin tidur denganmu. Katakan saja, berapa hargamu?" Pongah, pria itu membetulkan posisi duduknya. Dengan sengaja dia menjilat bibir bawahnya saat menatap Naruto.

"Saya tidak menjual tubuh," jawab Naruto, mengangkat dagu tinggi. "Jika tidak ada hal lain, saya permisi," tambahnya berlalu pergi tanpa menunggu jawaban pria tadi.

Naruto segera kembali ke belakang meja bar setelah mengantarkan pesanan. Wanita itu menggelengkan kepala pelan dan tersenyum saat bartender bertanya mengenai wajahnya yang terlihat pucat.

"Jangan dipaksakan jika kau sakit. Kau bisa istirahat tiga puluh menit di sini." Dia menunjuk sebuah ruang kosong di bawah meja bar. "Tenang saja, aku tidak akan melaporkanmu." Bartender bernama Gaara itu tersenyum lebar lalu mengedipkan mata setelah mengatakannya. "Aku sangat sibuk jadi aku tidak akan memberi tawaran dua kali."

"Terima kasih, Gaara!" ucap Naruto tulus. Wanita itu menimbang-nimbang sejenak sebelum akhirnya dia menerima tawaran Gaara lalu masuk ke bawah meja bar dan membaringkan tubuhnya di sana. Naruto tersentak kaget saat merasakan sapuan kain di wajahnya. Ia kembali mengatakan 'terima kasih' kepada Gaara yang mengulurkan sebuah selimut kecil kepadanya.

Bartender muda itu memang dikenal sangat baik. Gaara selalu menawarkan tempat bersembunyi untuk mereka yang memerlukannya. Dan karena alasan itu juga dia selalu menyimpan sebuah handuk kecil di dalam lemari untuk dipinjamkan kepada rekannya yang membutuhkan seperti Naruto saat ini.

Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi saat Naruto terbangun. Gaara hanya terkekeh saat wanita itu mengeluh, bertanya kenapa Gaara tidak membangunkannya? Namun, pria itu hanya menjawab jika Naruto memerlukan tidur saat ini, dan mengurus seorang wanita pingsan bukan keahliannya, kilah Gaara, santai.

Keduanya pun saling melempar kekehan hingga Gaara meminta Naruto untuk mencuci muka dan merapikan riasan wajah. Dengan patuh wanita itu segera pergi ke ruang ganti karyawan, tanpa menyadari ada seorang pria yang mengikutinya saat ini.

.

.

.

TBC