Trigger warning : abuse, self harm, violence

Please skip bab ini jika kalian memiliki trauma dengan konten-konten di atas!

.

.

.

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M+ (Mature Content!)

Genre : Hurt Comfort, Family, Angst, Romance, Mature

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya!

.

.

.

The Last Promise

Bab 6. Bisikan

By : Fuyutsuki Hikari

Tubuh Naruto seketika membeku saat sebuah telapak tangan besar membekap mulut wanita itu sementara satu tangan lainnya menarik paksa Naruto masuk ke dalam ruang ganti karyawan yang berada di sisi kanan lorong. Dengan kasar tubuh wanita itu dihempaskan ke atas lantai. Naruto menjerit, berusaha meminta tolong dengan kekuatan yang dimiliki sementara pria yang membekapnya menyeringai, menatap tubuh wanita itu dengan pandangan penuh nafsu.

"Teriak saja!" ucap pria itu, pria sama yang berusaha menggoda Naruto di dalam bar tadi. Dia memiringkan kepala ke satu sisi lalu bergerak cepat saat mangsanya mulai berdiri dan berlari untuk melarikan diri.

Sebuah tamparan didaratkan telapak tangan pria itu ke pipi kiri Naruto. Tawa Kisame menggema, puas saat mangsanya gemetar ketakutan karenanya.

Untuk kedua kali tubuh Naruto dibanting ke atas lantai. Air mata wanita itu jatuh, tenggorokannya sakit karena terlalu banyak berteriak. Tubuhnya kembali membeku saat telapak tangan pria itu menyentuh tubuhnya. Naruto ingin berteriak, dia ingin memukul, tapi tubuhnya membeku, otaknya terasa kosong. Takut, marah dan jijik berbaur menjadi satu.

"Kenapa tidak berteriak?" Kekeh pria itu, mengendus leher Naruto. Tangannya semakin lancang menyentuh bagian-bagian tubuh mangsanya. "Ayo teriak! Siapa yang akan menyelamatkanmu—" belum selesai pria itu bicara, seseorang menarik leher kemejanya hingga pria itu jatuh terjerembap, begitu keras hingga menimbulkan suara hantaman di ruangan tersebut.

Kisame melotot, marah menatap seorang pria yang kini berdiri menjulang di hadapannya. "Sialan!" makinya sembari berusaha berdiri. Namun, usahanya gagal saat sebuah tendangan mendarat sempurna di perut pria itu.

Di hadapannya, Neji berdiri, menatap tanpa ekspresi Kisame yang mengerang kesakitan di atas lantai. Dari arah belakang, seorang wanita muda berpakaian pelayan dating tergesa-gesa untuk menolong Naruto. Ia menyambar sebuah jaket yang disampirkan di sandaran kursi terdekat, lalu memakaikannya ke pundak Naruto yang masih gemetar.

"Berani sekali kau menghajarku!" teriak Kisame. "Kau tidak tahu siapa aku?"

Neji tidak menjawab. Ia melemaskan jari-jari tangannya dengan santai.

"Pelacur itu menjual dirinya kepadaku," ucap Kisame, terdengar pongah. "Kenapa kau ikut campur urusan kami?"

"Jika dia dengan sukarela menjual dirinya kepadamu, kenapa dia harus berteriak meminta tolong?" Neji balik bertanya, menunjuk Naruto tanpa melihat wanita itu. Tatapan Neji terarah lurus kepada Kisame, sedangkan Tenten menyipitkan mata, memeluk tubuh gemetar Naruto, erat.

Perlahan Neji mengangkat dagu. Sikap mendominasinya membuat Kisame sedikit gugup. "Menurutmu, apa yang akan dilakukan Tuan Hoshiaki jika tahu putra sulungnya melakukan pelecehan seksual terhadap seorang pelayan klub malam?" Pertanyaan itu diucapkan Neji dengan suara tenang. Tidak ada penekanan dalam nada bicaranya, tapi Kisame tahu jika pria dihadapannya ini tidak main-main.

"Aku tidak melakukan pelecehan seksual!" teriak Kisame, membela diri. "Dia secara sukarela menjual tubuhnya kepadaku demi uang. Lagipula, apa yang kauharapkan dari wanita-wanita miskin seperti mereka?" Ia menunjuk ke arah Tenten dan Naruto. Pandangannya menatap nyalang ke kedua wanita itu.

"Mereka pasti bekerjasama untuk menjebakku," ia menambahkan dengan kebencian menyala-nyala. Namun, lawan bicaranya hanya mendesah pelan.

Perlahan Neji membungkukkan tubuh. Ekspresinya berubah dingin saat bertanya, "Apa kau cukup sadar untuk mengenali siapa aku?" tanyanya.

Kisame terdiam. Pria itu mulai mengingat-ngingat siapa pria muda di hadapannya. Beberapa detik berlalu, seketika kedua bola mata Kisame membulat, pria itu terbelalak, begitu kaget hingga mulutnya terbuka lebar.

Senyum puas Neji terukir. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jeansnya. "Melihat reaksimu, aku yakin kau tahu siapa aku dan apa pekerjaan keluargaku," ucapnya. "Ayahmu sangat dekat dengan keluargaku, dan aku yakin kau bisa menebak siapa yang akan lebih dipercaya oleh ayahmu."

Kisame mendesis, untuk terakhir kalinya dia menatap penuh benci terhadap Naruto lalu berdiri dan pergi dari ruangan itu membawa kemarahannya serta.

.

.

.

"Apa kau baik-baik saja?" Neji menatap kedua wanita itu bergantian sebelum akhirnya perhatian pria itu tertuju lurus kepada Naruto. Dalam keheningan, ia berusaha mengingat-ingat, dimana pernah bertemu wanita berambut pirang itu sebelumnya?

Naruto mengangguk. "Terima kasih sudah membantuku!" ucapnya, lirih nyaris tidak terdengar.

"Kau harus mengucapkan terima kasih kepada temanmu itu," kata Neji, menunjuk Tenten dengan dagunya. "Dia berlarian meminta tolong untukmu."

Neji mengangguk beberapa kali sebelum kembali bicara. "Jika kalian memiliki pekerjaan lain yang lebih aman, ada baiknya kalian meninggalkan pekerjaan ini. Ada terlalu banyak orang jahat di sini. Kalian mengerti maksudku, kan?"

Tenten dan Naruto tidak menjawab.

"Bukan berarti aku menghina atau menyepelekan pekerjaan kalian, tapi wanita muda seperti kalian sangat rentan menjadi korban kejahatan," sambungnya setelah terdiam beberapa saat.

Neji melepas napas panjang setelahnya. "Aku pergi dulu." Pria itu segera berlalu pergi tanpa menunggu jawaban. Neji menatap langit-langit lorong, senyumnya tersungging saat melihat ada beberapa kamera CCTV terpasang di sana.

Ia kembali melangkah, mencari penanggung jawab untuk meminta rekaman CCTV malam ini. Ada baiknya berjaga-jaga, pikir Neji.

.

.

.

Setelah mendapatkan izin, Naruto pun memutuskan untuk pulang ke apartemen sederhananya. Pandangan wanita itu terlihat kosong. Lelah, Naruto menyandarkan punggung ke sisi ranjang. Air matanya jatuh, tidak bisa membayangkan jika tadi Tenten tidak pergi mencari seseorang untuk menolongnya.

Naruto tidak bisa menampik jika hidupnya sangat sulit setelah keluar dari rumah. Namun, lagi-lagi ego tingginya membuat wanita itu enggan untuk kembali untuk meminta maaf. Ada sedikit perasaan diabaikan terselip ke dalam hatinya.

Air mata itu masih jatuh saat pandangan Naruto menangkap sebuah pisau buah yang tergeletak di atas meja. Pandangan kosongnya tertuju lurus ke benda berkilat itu.

Mati saja!

Sebuah suara wanita terdengar jelas di telinga Naruto. Mendesak, merayunya untuk mengakhiri hidup.

Kau tidak berharga. Keluargamu tidak menyayangimu. Tidak ada yang membutuhkanmu di dunia ini. Jadi kenapa kau tidak memilih mati saja?

Suara itu kembali datang, membuat Naruto memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar.

Ayo mati! Kau akan lebih bahagia setelah mati.

"Aku tidak mau mati!" Naruto menggelengkan kepala. Isakannya terdengar semakin keras di dalam ruangan apartemennya yang sunyi. "Aku mau hidup!" sambungnya lirih, untuk dirinya sendiri.

Hening lagi. Suara jam dinding bergema di dalam ruangan itu, menemani tangis Naruto yang tersengar memilukan. Isakan lelah penuh kesakitan itu terus menggema, sementara suara merdu wanita muda asing sesekali terngiang di telinganya.

Ayo mati! Suara itu kembali bicara, lebih mendayu, lebih merayu.

Dalam gerakan lambat, Naruto mengangkat kepalanya, lalu bergerak untuk mengambil pisau buah di sana. Naruto berlutut, pandangannya kini tertuju lurus ke pisau yang ada di dalam genggamannya.

Tidak akan sakit! Suara itu berjanji dengan sangat manis.

Ambil! Cepat akhiri hidupmu!

Naruto menelan dengan susah payah. Air mata wanita itu kembali jatuh. Tangan kanannya yang menggenggam gagang pisau kini gemetar. Perlahan, sangat perlahan tangan kiri Naruto diangkat, sementara ujung pisau diletakkan di nadi tangan kirinya.

"Tidak akan sakit?"

Tidak akan sakit! Janji suara itu.

Cepat lakukan! Ingat hidupmu tidak berharga!

.

.

.

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it

Pairing : SasuFemNaru

Rated : M+

Warning : Gender switch, OC, OOC, typo (s)

Genre : Hurt comfort, angst, romance, family, abuse

The Last Promises

Chapter 6.2 Bisikan

By : Fuyutsuki Hikari

Ruang kerja milik Sasuke berukuran sedang. Namun, segala sesuatu yang ada di tempat itu dipasang secara efisien, tidak berlebihan. Warna putih dan hitam mendominasi. Dua buah rak buku berukuran besar berdiri kokoh di sisi kanan ruangan, sementara meja kerja sang pemilik ruangan diletakkan membelakangi jendela besar yang memiliki pemandangan Kota Tokyo.

Untuk beberapa saat, keheningan menguasai ruangan itu, sementara sang pemilik sibuk memeriksa dokumen di tangan, sedangkan sang tamu terdiam, memasang pose berpikir. Salah satu pewaris Hyuuga Corp itu sempat meragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya bertanya dengan nada tidak yakin, "Sasuke, apa keluarga Namikaze bangkrut?"

Yang ditanya segera menghentikan kegiatannya. Satu alis Sasuke diangkat tinggi saat mata tajam miliknya menilik kedalaman netra milik Neji. Sebuah pengamatan singkat yang cukup membuat Sasuke yakin jika rekan kerja sekaligus teman baiknya itu tidak sedang bercanda saat ini. "Setahuku baik-baik saja," jawabnya kembali memusatkan atensinya kepada lembar demi lembar dokumen yang tengah dia periksa.

Neji melepas napas yang sedari tadi ditahannya. Tuhan, mendapat tatapan tajam dari Sasuke berhasil membuatnya berkeringat walau tengah berada di dalam ruangan berpendingin udara. Neji melonggarkan dasi satin berwarna abu tuanya lalu menyandarkan punggung ke sandaran sofa sementara satu kakinya diangkat, ditopang ke satu kaki yang lain.

"Jika mereka tidak bangkrut, lalu kenapa Naruto bekerja di club malam?" gumamnya setengah berbisik, tapi masih bisa ditangkap dengan baik oleh Sasuke.

Dokumen di tangan Sasuke terlepas. Rahang pria itu menegas saat bertanya dengan nada dingin yang menjadi ciri khasnya, "Apa maksudmu?"

Pertanyaan itu tidak langsung dijawab. Neji menggaruk ujung hidungnya sebelum kembali ke mode serius. Tubuhnya dicondongkan ke depan, jemarinya saling bertatut. "Malam minggu lalu dia nyaris diperkosa di sebuah club malam," terang Neji. Pria itu bisa merasakan udara di sekitarnya memberat dalam waktu singkat.

Wajah Sasuke yang tanpa ekspresi membuat Neji sedikit gugup. Seolah ialah yang menjadi pelaku kejahatan itu.

"Apa kauyakin jika wanita itu Naruto?"

Neji menganggukkan kepala pelan lalu lanjut bicara, "Awalnya aku tidak langsung mengenalinya karena dia mengenakan topeng. Namun, topengnya terlepas dan aku menjadi yakin jika wanita yang kuselamatkan itu benar Namikaze Naruto."

Pria itu kembali menjeda untuk menarik napas dalam. "Awalnya aku masih tidak yakin, tapi beberapa kali aku pernah melihat putri sulung Namikaze di beberapa acara, jadi aku tidak mungkin salah mengenali orang."

Keheningan kembali meraja setelah Neji selesai bicara. Kegugupan kembali melanda Neji yang saat ini tengah mendapatkan tatapan sangat tajam dari Sasuke.

"Hei, maaf karena aku tidak segera memberitahumu. Namun, kau juga harus bisa mengerti jika aku harus merasa sangat yakin terlebih dahulu sebelum mengatakan hal ini karena jika salah mengenali, aku bisa mendapat masalah."

Sasuke tidak menjawab.

"Yang membuatku tidak mengerti, kenapa Naruto bisa bekerja di tempat seperti itu? Aku pikir keluarganya bangkrut, tapi kenapa tidak ada berita nasional yang membahasnya?" Neji bertanya kepada dirinya sendiri. Pria itu memiringkan kepala ke satu sisi saat kembali bicara, "Apa Naruto dipaksa seseorang untuk bekerja di sana?" tanyanya.

Sikap diam Sasuke membuat Neji menekuk kening dalam. Sekarang ia yakin jika temannya itu mengetahui sesuatu. "Sasuke, belakangan ini sikapmu sedikit berbeda dari biasanya," ucapnya, hati-hati. "Apa ini ada kaitannya dengan Naruto? Bukankah dia sahabat kecilmu?"

"Dia mantan kekasihku."

Jawaban Sasuke berhasil membuat kedua bola mata Neji membulat sempurna. Neji ingin sekali bertanya lebih jauh, tapi dengan sekuat tenaga dia menahan mulutnya untuk terbuka.

"Aku memaksanya menyembunyikan hubungan kami demi kebaikan Naruko."

"Sialan!" maki Neji, pelan. Kepalanya digelengkan pelan. Neji tidak menyangka jika Sasuke bisa bersikap sebrengsek itu. Dengan tidak sabar Neji menyeruput minuman dinginnya lalu bertanya sembari mengangkat gelasnya ke arah Sasuke. "Apa kau memiliki hubungan khusus juga dengan Naruko hingga kau meminta Naruto menyembunyikan hubungan kalian?"

Tidak ada jawaban.

"Brengsek!"

"Beberapa tahun yang lalu Naruko mengatakan jika dia menyukaiku, tapi aku menolaknya," kata Sasuke membuat Neji menelan kembali makian yang sudah siap dilontarkannya untuk Sasuke. "Kau pikir bagaimana reaksi Naruko jika tahu aku menyatakan perasaan kepada Naruto beberapabulan setelah aku menolaknya?"

Ah, kali ini Neji tidak bisa membayangkannya. Bukankah Naruko memiliki penyakit jantung? Tanyanya di dalam hati. Ia mungkin berteman dekat dengan Sasuke, tapi Neji tidak terlalu tahu terlalu dalam mengenai hubungan Sasuke dengan keluarga Namikaze. Mereka hanya sebatas tahu, tidak lebih.

"Tapi apa kau pernah membayangkan bagaimana perasaan Naruto jika tahu adik kembarnya juga menyukaimu?" Neji bertanya dengan ekspresi tidak percaya. "Apa benar kau memilih merahasiakan hubunganmu dengan Naruto dari semua orang karena tidak mau menyakiti Naruko? Atau kau takut jika Naruto tidak mau bersamamu?"

Neji berdecak. Sikap diam Sasuke menjawab pertanyaanya. "Baiklah, aku tidak akan menghakimimu untuk hal itu, tapi aku harap kau bersedia menemui Naruto dan membantunya."

Helaan napas Neji terdengar begitu keras setelah ia mengusap wajahnya, gelisah. "Malam itu jika bukan karena Tenten memintaku untuk menolong temannya, aku tidak tahu bagaimana nasib Naruto saat ini." Secara sengaja Neji memberi penekanan pada kalimat akhirnya, berharap Sasuke terketuk untuk ikut campur.

"Tidak ada salahnya untuk membantu mantan kekasihmu, kan?"

"Bagaimana jika dia yang tidak mau dibantu?"

Kedua alis Neji bertemu.

"Naruto memutuskan keluar dari Kediaman Namikaze. Dia memutuskan untuk mendapatkan uang hasil keringatnya sendiri. Setelah tahu alasannya, apa kau tetap akan memintaku untuk menolongnya?"

Neji bersumpah, ini kalimat terpanjang yang pernah diucapkan Sasuke kepadanya.

"Kenapa aku harus menolong seseorang yang secara sadar melepas semua miliknya secara sukarela?"

"Baiklah," kata Neji, pada akhirnya memilih untuk menyudahi. Pria itu tidak bisa memaksa Sasuke. Ini diluar kuasanya.

.

.

.

Untuk beberapa saat, tatapan Naruto tertuju ke pergelangan tangan kirinya yang tertutup oleh kain lengan panjang yang dia kenakan, malam ini. Sudut mulutnya diangkat naik, tipis hingga nyaris tidak terlihat. Malam itu untuk pertama kalinya Naruto menyakiti dirinya sendiri, berharap rasa sakit yang dia rasakan berhasil mengalahkan rasa sakit hati yang menyelimutinya. Dan berhasil, untuk beberapa saat rasa sakit itu berhasil mengalahkan rasa sakit hatinya. Rasa sakit lain menjadi obat rasa sakit. Namun, kenapa setelahnya dia merasa kosong?

Naruto mengembuskan napasnya dengan perasaan lelah. Suasana hening di sekitarnya membuat wanita itu melamun sangat jauh hingga tidak menyadari datangnya seorang pria yang kini berjalan menuju ke meja kasir.

"Rokok."

Pandangan Naruto masih terlihat kosong saat kata pendek itu diucapkan kepadanya hingga sebuah gebrakan keras pada meja kasir membuatnya tersadar. Naruto mengerjapkan mata yang segera disipitkan sempurna saat mengenali sosok pria yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.

"Rokok." Sasuke menunjuk dengan dagunya. Kedua netra tajamnya mengawasi pergerakan Naruto yang secara terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya akan kehadiran dirinya.

Dengan tidak ramah Naruto menyodorkan satu bungkus rokok dengan merk yang biasa dibeli oleh Sasuke, lalu mengangkat satu alisnya tinggi saat pria itu memberikan selembar uang untuk membayar barang beliannya.

"Kenapa kau ada di sini?" Naruto bertanya tanpa menatap Sasuke. Jemari lincah wanita itu menari di atas tombol mesin kasir lalu menyodorkan sejumlah uang kembalian kepada Sasuke. "Jangan memberiku alasan jika kau tidak sengaja melintas di daerah ini," sambungnya masih tanpa menatap lawan bicara. "Karena aku tidak akan percaya alasan itu."

Kini pandangan mereka bertemu. Naruto menggertakkan gigi, kesal melihat ekspresi meremehkan Sasuke.

"Apa maumu?"

Sasuke mengendikkan bahu. "Aku hanya mau beli rokok," ucapnya sebelum melenggang pergi, meninggalkan Naruto yang hanya bisa menatap punggung lebar Sasuke dengan mulut dibuka lebar.

"Dasar tidak jelas!" gumamnya, kesal. Lagi, Naruto menatap pergelangan tangan kirinya yang tertutup lalu menoleh, menatap keluar jendela kaca besar toko tempatnya bekerja. Tidak mungkin rasanya jika Sasuke khawatir, pikir wanita itu, tersenyum miris. Sasuke pasti hanya ingin tahu seberapa menderitanya Naruto saat ini.

.

.

.

TBC

Sampai sini dulu yah. The Last Promise bukan long fanfic, pendek aja, paling 10 sampe 12 bab juga udah beres. Semoga bisa asap. Amien. ^^

Sampai jumpa di bab selanjutnya. ^^